1
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA
NIRWANA (Oreochromis niloticus L)
DI BALAI PENGEMBANGAN DAN PEMACUAN STOK
IKAN NILA DAN MAS (BPPSINM) WANAYASA
PURWAKARTA
TUGAS AKHIR
SELTIMULIANA
1422010176
JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE KEPULAUAN
PANGKEP
i
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA NIRWANA
(Oreochromis niloticus L) DI BALAI PENGEMBANGAN DAN
PEMACUAN STOK IKAN NILA DAN MAS (BPPSINM)
WANAYASA PURWAKARTA
TUGAS AKHIR
SELTIMULIANA
1422010176
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing:
ii INGKASAN
SELTIMULIANA. Teknik Pemeliharaan Larva pada Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus L.) Di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Nila dan Mas (BPPSINM) Wanayasa Purwakarta dibimbing oleh Nur Rahmawaty Arma dan Yani Narayana.
Sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat ikan, maka tingkat kebutuhan akan daging ikan semakin meningkat. Ketersediaan sumberdaya perairan yang luas dan sumberdaya manusia yang melimpah merupakan modal dasar untuk meningkatkan dan mengembangkan pembangunan perikanan di Indonesia. Salah satu upaya pengembangan budidaya perikanan di Indonesia adalah mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar khususnya ikan nila, mengingat spesies ikan nila memiliki perkembangbiakan cepat dan ketahanan tubuh yang baik serta ikan nila dapat dipelihara dengan teknologi yang sederhana.
Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui cara pemelihraan Larva sehingga mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam teknik pemeliharaan Larva ikan nila. Selain itu penulis tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang teknik pemeliharaan larva dalam pembenihan ikan nila, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan usaha ikan nila.
Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan PKPM yang dilaksanakan pada 10 Februari sampai dengan 10 Mei 2017 di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Nila dan Mas (BPPSINM) Wanayasa, Kabupaten Purwakarta Jawa Barat.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas induk yang digunakan baik, dengan rata-rata jumlah telur 1515 butir, tingkat pembuahan (86,48%) dan tingkat penetasan (84,18%). Kelangsungan hidup larva dan benih selama pemeliharaan tergolong tinggi yaitu rata-rata 87,60 %, dan pertumbuhan tergolong baik yaitu larva dari panjang 0,7 cm menjadi 2,56 cm dan berat dari 0,023 g menjadi 0,28 g, sedangkan pertumbuhan benih dari panjang 2,56 cm menjadi 3,19 cm dan berat dari 0,28 g menjadi 0,64 g. Komposisi nutrisi pakan tepung untuk pemeliharaan larva dan benih tergolong baik dan dapat mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva dan benih, dengan dosis pemberian 20% dan 15% biomassa, frekuensi pemberian 3 kali/hari. Parameter kualitas air berada pada kisaran yang layak dengan kisaran suhu 27–29 oC, oksigen terlarut 5-8 mg/l, dan pH 6,6–7,3.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunianya sehingga penulis dapat menyusun Tugas Akhir, dengan judul Teknik Pemeliharaan Larva pada Ikan Nila Nirwana (Oreochromis
niloticus L.) Di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Nila dan Mas
(BPPSINM) Wanayasa Purwakarta yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2017. Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan.
Dengan selesainya Tugas akhir ini, penulis menghanturkan doa, rasa hormat, serta terima kasih yang sebesar-besarnya sebagai penghargaan atas segala bimbingan dan bantuan yang penulis peroleh dalam penyusunan Tugas akhir ini kepada:
1. Dr. Nur Rahmawaty Arma, S.Pi., M.Sc. selaku pembimbing pertama dan Dr. Ir. H.Yani Narayana, S.Pi., M.Si, selaku pembimbing kedua yang memberikan bimbingan dalam menyusun Tugas akhir ini.
2. Ir. Rimal Hamal, MP. selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan beserta seluruh staf jurusan.
3. Ir. H. Bustamin M.P selaku penasehat akademik yang telah banyak memberikan motivasi.
4. Dr. Ir. H. Darmawan, MP. selaku Direktur Politeknik Petanian Negeri Pangkep. 5. Kedua orang tua tercinta serta keluarga besar yang telah memberikan motivasi dan
iv
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan. akhirnya penulis berharap Tugas akhir ini mendapat respon positif dari berbagai pihak.
Mandalle, Juli 2017
v
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN i
RINGKASAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL. viii
DAFTAR GAMBAR ix
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Ikan Nila Nirwana... 3
2.2. Asal Usul Ikan Nila Nirwana ... 3
2.3. Morfologi Ikan Nila Nirwana ... 4
2.4. Habitat Ikan Nila Nirwana ... 5
2.5. Kebiasaan Makan ... 6 2.6. Proses Reproduksi ... 6 2.7. Pengelolaan Induk ... 7 2.7.1. Persiapan Induk ... 7 2.7.2. Persiapan Kolam... 7 2.7.3. Penebaran Induk ... 8 2.7.4. pemijahan ... 9 2.7.5. Penetasan ... 9
2.8. Pengolahan Kualitas Air ... 10
2.9. Pengolahan Pakan ... 10
2.10 Pemanenan Larva ... 11
vi III METODE
3.1. Waktu dan Tempat ... 13
3.2. Alat dan Bahan ... 13
3.3. Metode Pengumpulan Data ... 14
3.3.1 Data primer ... 14
3.3.2 Data Sekunder ... 14
3.4. Metode Pelaksanaan ... 15
3.2.1 Persiapan Kolam Pemijahan... 15
3.4.2 Penebaran Induk ... 15
3.4.3 Pemijahan ... 16
3.4.5 Penetasan ... 17
3.4.6 Pemeliharaan Larva ... 18
A. Persiapan Kolam Pemeliharaan Larva ... 18
B. Pemanenan Larva dari Kolam Pemijahan ... 18
C. Pemeliharaan Larva Pada Kolam Pendederan... 19
3.4.7 Pengukuran Parameter Kualitas Air ... 20
3.5 Parameter yang diAmati dan Analisa Data... 20
3.5.1 Parameter yang Diamati ... 20
3.5.2 Analisa Data ... 20
a. Fekunditas Telur... 21
b. Tingkat Penetasan Telur (HR) ... 21
c. Tingkat Kelangsungan Hidup / Sulvival Rate (SR) ... 21
d. Dosis pakan ... 22
e. Frekuensi Pemberian Pakan ... 22
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Telur yang Dihasilkan ... 23
4.2 Tingkat Kelangsungan Hidup Larva dan Benih ... 23
4.3 Pertumbuhan Larva dan Benih ... 24
4.4 Pengelolaan Pakan Larva dan Benih ... 27
vii
V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 30
5.2 Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 31
LAMPIRAN ...33
viii
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Ciri-ciri induk jantan dan betina ... 8
2. Alat yang digunakan pada kegiatan pemeliharaan larva dan benih ... 13
3. Bahan yang digunakan pada kegiatan pemeliharaan larva dan benih ... 14
4. Perbedaan induk jantan dan betina ... 16
5. Jumlah, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan telur ... 23
6. Tingkat kelangsungan hidup larva dan benih ... 24
7. Parameter pakan larva dan benih ... 27
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Perbedaan organ urogenital jantan dan betina ... 15 2 Grafik pertambahan panjang dan berat larva ikan nila (O.niloticus.L)
selama pemeliharaan di kolam pendederan I ... 25 3 Grafik pertambahan panjang dan berat benih ikan nila (O.niloticus.L)
1
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus L) adalah salah satu ikan air tawar yang banyak dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat, telah dikenal sejak tahun 1970 dan terus mengalami perkembangan, sehingga memegang peranan penting dalam peningkatan perekonomian masyarakat, bahkan perkembangan budidayanya dapat mengalahkan ikan lain yang sudah lebih dahulu hadir di Indonesia. Prospek pasar ikan nila sangat terbuka lebar dan setiap tahun semakin meningkat permintaanya, baik untuk pasar lokal maupun pasar luar negeri.
Ikan nila merupakan spesies yang penting dalam perikanan budidaya yang saat ini telah berkembang pesat. Ikan tersebut merupakan pemakan segala (omnivore) yang mudah berkembangbiak, sangat toleransi terhadap lingkungan serta tahan terhadap serangan penyakit. Begitu populernya ikan nila dan berbagai kelebihannya dibandingkan dengan jenis-jenis ikan lain sehingga saat ini sangat mudah ditemukan diseluruh pelosok tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa nila memiliki prospek usaha yang cukup menjanjikan (Amri dan Khairuman 2008).
Seiring dengan perkembangan usaha budidaya pembesaran ikan nila berdampak pada kebutuhan benih sehingga permintaan benih ikan nila terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Kendala utama dalam pengembangan budidaya ikan nila adalah ketersediaan benih yang terbatas. Permasalahannya terletak pada kualitas benih, ketepatan waktu dan ukuran yang tidak seragam, serta pasokan benih secara berkesinambungan. Usaha budidaya ikan nila membutuhkan ketersediaan benih secara berkelanjutan. Ketersediaan benih berkelanjutan dapat dicapai melalui usaha pemijahan ikan secara alami maupun secara buatan.
2 Balai Pengembangan dan Pemacuan stok ikan Nila dan Mas Wanayasa merupakan salah satu balai yang telah lama mengembangkan varietas ikan nila dan ikan mas khususnya ikan nila Nirwana, dan merupakan salah satu balai milik pemerintah yang ditugaskan untuk memproduksi benih-benih unggul ikan nila Nirwana. Oleh karena itu balai ini dipilih sebagai lokasi melakukan kegiatan pemeliharaan larva ikan nila.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Laporan Tugas Akhir dibuat dengan tujuan untuk mengetahui teknik pemeliharaan larva ikan nila menghasilkan benih yang berkualitas.
Manfaat dari kegiatan ini adalah dapat menambah wawasan kompetensi mahasiswa dalam berkarya di masyarakat khususnya mengenai teknik pemeliharaan larva ikan nila di BPPSINM Wanayasa purwakarta.
3
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Ikan Nila Nirwana
Sistematika ikan nila Nirwana tidak jauh berbeda dalam pengelompokan sistematikanya dengan jenis nila lainnya, karena nila Nirwana hanya berbeda pada rekayasa genetikanya. Menurut (Trewavas 1980). Sistematika ikan nila adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes Sub kelas : Acanthoptherigii Ordo : Percomorphi Sub-ordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis niloticus L
2.2. Asal Usul Ikan Nila Nirwana
Nama “Nirwana” berasal dari singkatan Nila Ras Wanayasa. Lokasi pemuliaan genetik untuk memperbaiki performanya Wanayasa, salah satu Kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Di Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI). Asal usul ikan nila Nirwana ini terkait langsung dengan jenis ikan nila Gif dan ikan nila Get, karena merupakan hasil seleksi famili dari ikan nila Gift (Genetic Improvement of Farm Tilapia) dan nila Get (Genetically Enhanced Tilapia) (Judantari et al. 2008).
4 Benih-benih yang dihasilkan selanjutnya diseleksi secara ketat terkait performa kesempurnaan tubuh dan pertumbuhannya. Saat ini dalam kurun waktu tiga tahun telah didapatkan dua generasi induk (F1 dan F2). Induk penjenis dari ikan nila tersebut akan dicapai pada generasi ke-3 atau F3. Selama proses berlangsung, ikan-ikan tersebut dipelihara secara terkontrol, cukup pakan dan kepadatan rendah agar karakteristik genetiknya dapat tereksploitasi dengan baik. Dari hasil monitoring yang berkelanjutan di lapangan, performa ikan tersebut dari generasi ke generasi menunjukkan peningkatan yang signifikan. (Judantari et al. 2008).
2.3. Morfologi Ikan Nila Nirwana
Secara umum sosok nila Nirwana tidak berbeda jauh dari nila biasa (nila hitam). Namun, bentuk tubuh nila Nirwana relatif lebih lebar dengan panjang kepala lebih pendek, sehingga terlihat lebih gemuk dan lebih berisi dibandingkan nila jenis lainnya. (Judantari et al. 2008).
Selanjutnya dijelaskan lagi bahwa secara umum warna tubuh nila Nirwana hitam dengan ujung sirip kemerahan. Warna punggung dan overculumnya abu-abu kehijauan, sementara warna perut putih keabu-abuan. Daya tahan terhadap sejumlah parameter air adalah : suhu (22–23°C); pH 5–8,5; oksigen terlarut >2 mg/I; dan salinitas 0–15 permil.
5 2.4 Habitat Ikan Nila Nirwana
Habitat artinya lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau hewan hidup dan berkembangbiak. Ikan nila hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa, tetapi karena toleransinya yang luas terhadap salinitas sehingga ikan ini dapat pula hidup dan berkembang biak di perairan payau dan air laut (Kordi 2004 dalam Zhulmarham 2011). Selanjutnya dinyatakan bahwa nilai pH air tempat hidup ikan nila berkisar antara 6–8,5 ppm, namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7–8 ppm dan ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m di atas permukaan laut) dengan suhu 23oC.
Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14–38ºC dan dapat memijah secara alami pada suhu 22–37ºC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimal bagi ikan nila adalah 25–30ºC. Pertumbuhan ikan nila biasanya akan terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14ºC atau pada suhu tinggi 38ºC. Ikan nila akan mengalami kematian pada suhu 6ºC atau 42ºC (Sucipto dan Prihartono 2007).
Menurut Khairuman dan Amri (2008), Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan, sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di dataran tinggi yang berair tawar. Habitat ikan nila cukup beragam, dari sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam hingga tambak.
6 2.5 Kebiasaan Makan
Menurut Amri dan Khairuman (2003), ikan nila tergolong ikan pemakan segala (Omnivora), sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan dan tumbuhan. Larva ikan nila makanannya adalah, zooplankton seperti Rotifera
sp.,Daphnia sp., serta alga atau lumut yang menempel pada benda-benda di habitat
hidupnya. Apabila telah dewasa ikan nila diberi makanan tambahan dapat berupa, dedak halus, bungkil kelapa, pelet, ampas tahu dan lain–lain. Ikan nila tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein 20–25 % (Arie 2009).
2.6 Proses Reproduksi
Pembenihan adalah suatu tahap kegiatan dalam budidaya yang menentukan tahap kegiatan selanjutnya, yaitu pembesaran atau suatu kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk menghasilkan benih dan selanjutnya benih yang dihasilkan menjadi komponen input bagi kegiatan pembesaran (Effendi 2004). Pembenihan menyangkut dua hal yaitu “Breeding dan Seeding”. Breeding yaitu segala perlakuan atau treatment terhadap induk sehingga menghasilkan larva. Sedangkan Seeding adalah penanganan mulai dari larva sampai dengan benih yang siap untuk dipasarkan (Hayati 2014).
7 2.7 Teknik Pembenihan Ikan Nila Nirwana
2.7.1 Persiapan Induk
Induk ikan merupakan sarana produksi yang penting dalam usaha pembenihan. Induk merupakan pangkal yang menentukan mutu benih yang akan dihasilkan. Induk ikan nila harus dari galur (varietas) yang murni dan unggu. Sebagai stok awal tidak boleh keturunan F1 dari suatu galur.menurut hukum Mendel, bila keturunan F1 dikawinkan, akan di hasilkan keturunan yang sangat bervariasi sifatnya. Tanda-tanda induk yang mempunyai kualitas baik antara lain : badan sehat, bentuk badan normal, sisik besar dan tersusun rapih, kepala relatif kecil dibandingkan dengan badannya, berwarna mengkilap, gerakan lincah, serta mempunyai respon yang baik terhadap pakan tambahan. (Suyanto 2010)
2.7.2 Persiapan Kolam
Kolam yang digunakan untuk pendederan nila Nirwana disesuaikan dengan ketersedian lahan. Kolam yang digunakan untuk pendederan bisa berupa kolam tanah dengan pematang dari semen. Kolam tersebut harus dapat menampung air dengan baik dan tidak bocor serta mudah dikeringkan. Konstruksi dasar kolam diusahakan miring ke arah pengeluaran air agar pada saat panen kolam dapat dikeringkan total. (Judantari et al. 2008).
Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam di cangkul dan diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100–150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikan pH kolam menjadi 7,0–8,0 dan juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya, kolam diberi pupuk organik sebanyak
8 300–1.000 kg/ha. Pupuk urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha. Setelah kolam pemijahan siap, dilakukan pengisian air secara bertahap setinggi 5–10 cm dan dibiarkan selama 2–3 hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam, kemudian ditambahkan air lagi sampai ketinggian 80–100 cm. (Suyanto 2010)
2.7.3. Penebaran Induk
Setelah kolam dipersiapkan, induk ikan nila Nirwana dapat ditebarkan. Jumlah induk yang ditebarkan tergantung luas kolam. Jumlah induk ikan nila Nirwana, dikenal dengan sebutan paket, biasanya terdiri dari 300 ekor betina dan 100 ekor jantan per paket. Untuk 1 paket induk nila Nirwana, sebaiknya kolam yang digunakan seluas 200–500 m² dengan pematang tembok. (Judantari et al. 2008).
Untuk membedakan antara induk jantan dengan induk betina dapat dilihat dari ciri-ciri masing-masing jenis kelamin yakni seperti tertera pada Tabel 1 Tabel 1. Ciri-ciri induk nila jantan dan betina
Ciri-ciri Induk Jantan Induk Betina
Bentuk tubuh lebih tinggi dan membulat
lebih rendah dan memanjang Warnah tubuh lebih cerah lebih gelap
Jumlah lubang kelamin Satu lubang untuk mengeluarkan sperma sekaligus air seni
dua lubang untuk
mengeluarkan telur dan untuk mengeluarkan air seni
Bentuk kelamin tonjolan agak meruncing
tidak menonjol dan berbentuk bulat
Warna sirip ekor didominasi merah hitam Sumber : (Amri dan Khairuman 2007)
9 2.7.4. Pemijahan
Induk-induk ikan nila Nirwana biasanya akan memijah setelah hari ketujuh sejak penebaran induk. Pemijahan terjadi di lubang-lubang (lekukan berbentuk bulat) berdiameter 30–50 cm di dasar kolam yang merupakan sarang pemijahan. Ketika pemijahan berlangsung, telur yang dikeluarkan induk betina dibuahi sperma induk jantan. Selanjutnya, telur yang sudah dibuahi tersebut dierami induk betina di dalam mulutnya. Induk betina yang sedang mengerami telurnya biasanya tidak makan. Karena itu, seminggu setelah induk ditebar, jumlah pakan tambahan yang diberikan dikurangi sekitar 25% dari jumlah semula. (Khairul dan Khairuman 2003).
2.7.5 Penetasan
Penetasan telur sangat dipengaruhi oleh parameter kualitas air misalnya suhu, ph, dan oksigen terlarut. Suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah akan mengakibatkan telur tidak akan menetas. Menurut Suyanto (2009), mengatakan suhu yang terlalu tinggi, dapat menghambat proses penetasan bahkan dapat menyebabkan kematian. Ikan nila mempunyai kebiasaan mengerami telurnya sebelum menetas. Telur-telur yang telah dibuahi dierami di dalam mulut induk betina kemudian menetas 4–5 hari. Telur yang sudah menetas disebut larva (Amri dan Khairuman 2003).
10 2.8 Pengolahan Kualitas Air
Pengukuran dan pemeriksaan kualitas air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Suhu, dilakukan dengan menggunakan termometer yang dimasukan ke dalam kolam yang berisi air sehingga suhu dapat dibaca. Frekuensi pengukuran dilakukan dua kali per hari pada pukul 06.00 dan 14.00 wib. Pengukuran PH air, dilakukan dengan menggunakan kertas indikatorlakmus atau pH meter. Frekuensipengukuran dilakukan dua kali per hari pada pukul 06:00 dan 14:00 wib. Oksigen terlarut, dilakukan dengan cara menggunakan DO meter atau
titrasi metodewinkler. Debit air, dilakukan dengan mengukur volume air masuk ke
dalam wadah penampungan dibagi waktuyang dibutuhkan dalam satuan liter per detik. Ketinggian air, dilakukan dengan mengukur jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaanair, menggunakan penggaris atau papan skala dalam satuan sentimeter (cm). Kecerahan air, dilakukan dengan menggunakan
secchi disk berupa piringan berwarna putih bergaris hitam yang diberi tali/tangkai
dan dimasukan kedalam wadah pemeliharaan. Ukuran kecerahandinyatakan dengan mengukur jarak antara permukaan air kepiringan saat pertama kalipiringan tidak terlihat, piringan dimasukkan ke dalam air kemudian diangkat sampai terlihatkembali dan dirata-ratakan, dinyatakan dalam sentimeter (Arie 2010).
2.9 Pengolahan Pakan
Pakan yang dimakan ikan terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Dalam praktiknya, pakan alami sudah terdapat secara alami dalam perairan kolam tempat pemeliharan ikan. Pakan alami sangat bagus diberikan pada ikan yang masih dalam stadia benih. Sedangkan pakan buatan diramu dari beberapa bahan baku yang
11 memiliki kandungan nutrisi spesifik. Bahan baku diolah secara sederhana atau diolah di pabrik secara masal dan menghasilkan pakan buatan berbentuk pellet, tepung, remeh atau crumble dan pasta (Sutanmuda 2008).
Menurut Stickney (1979) dalam Pelawi (2003), energi yang terkandung dalam pakan yang berasal dari non-protein dapat mempengaruhi jumlah protein yang digunakan untuk pertumbuhan.
Jika pakan kekurangan energi yang berasal dari non-protein maka sebagian besar protein yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan, akan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sebaliknya jika energi dalam pakan terlalu besar maka keadaan ini akan membatasi jumlah pakan yang dimakan oleh ikan yang selanjutnya akan membatasi jumlah protein yang dimakan sehingga pertumbuhan menjadi rendah. Ikan nila tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein 20–25 % (suyanto 2009).
2.10 Pemanenan Larva
Pemanenan dilakukan dengan cara mengeringkan total kolam. Pengeringan kolam dilakukan secara bertahap, yang dimulai pada saat menjelang subuh. Pada pagi hari air kolam tersisa hanya pada bagian saluran tengah atau kamilir saja. Biasanya benih berkumpul di saluran tersebut. Agar benih tidak stres, sebaiknya air dialirkan masuk sedikit. Benih-benih ditangkap secara hati-hati dengan menggunakan ayakan atau seser. Selanjutnya ditampung di tempat khusus dalam happa atau waring yang ditempatkan di selokan yang airnya mengalir atau di kolam, dan dibiarkan selama 30 menit sampai benih berenang normal. Selanjutnya benih
12 dihitung dengan cara ditakar dengan menggunakan literan, kemudian diangkut atau ditebarkan ke kolam lain yang telah disiapkan. (Judantari et al. 2008).
2.11 Pendederan
Pendederan adalah kegiatan pemeliharaan sebelum pembesaran, pendederan dapat dilakukan di kolam khusus untuk pendederan. Pendederan ikan nila dilakukan dalam dua tahap : pendederan satu dan pendederan dua. Pendederan satu adalah pemeliharaan benih yang berasal dari hasil kegiatan pembenihan berukuran 1–3 cm dan dipelihara selama 2–3 minggu sehingga mencapai ukuran 3– 5 cm per ekor. Pendederan dua adalah pemeliharaan benih hasil pendederan satu (ukuran 3–5 cm) menjadi ukuran 5–8 cm dengan lama pemeliharaan kurang lebih 3 minggu. Tujuan dilakukan pendederan adalah untuk memperoleh ikan berukuran seragam, baik panjang maupun berat, serta untuk memberi kesempatan benih mendapatkan makanan sehingga pertumbuhann ya akan sama. Padat penebaran yang dianjurkan untuk pendederan satu sebanyak 75-100 ekor/m²; pendederan dua 50 ekor/m². Biasanya setelah pendederan dua langsung dilakukan pembesaran. (Judantari et al. 2008)
13
III METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Tugas Akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa yang dilaksanakan pada tanggal 10 Februari sampai 10 Mei 2017 yang bertempat di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Nila dan Mas (BPPSINM) Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan selama kegiatan dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3 berikut ini.
Tabel 2 Alat yang digunakan pada kegiatan teknik pemeliharaan larva ikan nila (O. niloticus L) di BPPSINM Wanayasa
No. Alat Jumlah Spesifikasi Kegunaan
1. Kolam pemijahan
1 unit (29 x 25 x 1,5) m3
untuk pemijahan induk 2. Kolam larva 2 unit (21 x 6 x
1,8) m3
untuk pemeliharaan larva 3. Jaring sortir 1 unit untuk menyortir larva 4. Jaring
penampungan
1 unit untuk menampung induk dan larva
5. Blong 4 buah 50 liter untuk mengangkut induk 6. Ember kecil 3 buah 5 liter untuk mengangkut larva
dan pakan
7. Scopnet 2 buah untuk mengambil larva pada saat panen larva
8. Penggaris 1 buah Cm untuk mengukur induk 9. Cangkul 2 buah untuk memperbaiki kemalir
dan kobakan 10. 11. Serokan Cantingan 3 unit 1 unit
untuk pengolahan dasar kolam
14 Tabel 3 Bahan yang digunakan pada kegiatan teknik pemeliharaan larva ikan
nila (O. niloticus L) di BPPSINM Wanayasa
No Bahan Jumlah Spesifikasi Kegunaan
1. Induk nila 1400 ekor yaitu Jantan 700 ekor, Betina 700 ekor induk jantan 250-300 gr dan betina 200 gr untuk menghasilkan larva dan benih nila yang berkualitas
2. Pakan induk 1 % dari berat biomassa pelet terapung dengan diameter 5 mm untuk mempercepat kematangan gonad 3. 4. Pupuk Organik Kapur 50 kg 6,3 kg kotoran ayam dan sekam padi dengan dosis 400 gr/m2 kapur tohor dengan dosis 50 gr/m2 untuk menumbuhkan pakan alami untuk menetralkan pH tanah
5. Garam dapur 0,63 kg 5 pm untuk pencegahan penyakit
3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara melakukan penghitungan dan pengukuran selama pelaksanaan kegiatan pemeliharaan larva ikan nila di BPPSINM Wanayasa.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui wawancara dengan pembimbing atau teknisi lapangan, serta studi pustaka yang relevan dengan kegiatan.
15 3.4 Metode Pelaksanaan
3.4.1 Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan terlebih dahulu dikeringkan dengan cara mengeluarkan air melalui saluran pengeluaran. Setelah air mulai surut dan kering dilakukan pembersihan dasar kolam lalu dilakukan pengolahan tanah dasar kolam dengan menggunakan sorongan kayu dan sorongan karet, serta perbaikan konstruksi kolam. Setelah itu dilakukan pemupukan dengan pupuk organik dengan dosis 500 g/m2 dan
dikeringkan selama 1–2 hari. Kemudian dilakukan pengisian air setinggi 75–100 cm. Pemasangan pintu pemasukan, pemasangan kran untuk mengatur volume air, dan untuk saluran pengeluaran, pemasangan hapa untuk menghindari lolosnya larva maupun induk pada saat pemanenan.
3.4.2 Penebaran Induk
Induk yang ditebar di dalam kolam pemijahan sebanyak 1400 ekor yaitu 700 ekor jantan dan 700 ekor betina atau perbandingan 1:1. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dengan mengamati organ urogenitalnya (Gambar 2). Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah yaitu pada pukul 07:00−09:00.
♀ ♂
16 Perbedaan induk jantan dan betina dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri seperti pada Tabel 3.
Tabel 4 Perbedaan Induk Jantan dan Betina
Ciri-ciri Jantan Betina
Bentuk tubuh lebih tinggi & membulat lebih rendah & memanjang Warnah tubuh lebih cerah lebih gelap
Warna ujung sirip kemerah-merahan/terang merah /pucat Warna perut gelap/kehitaman Putih
Warna dagu kehitaman/kemerahan Putih
Bentuk meruncing bulan sabit
Kelamin
Gerakan gesit/lincah Lamban
Jika perut dipijat keluar cairan putih tidak keluar apa-apa
3.4.3 Pemijahan
Metode pemijahan ikan nila yang dilakukan di BPPSINM Wanayasa adalah pemijahan secara alami. Induk-induk ikan nila yang ditebar di kolam pemijahan biasanya tidak langsung memijah, tetapi memerlukan waktu untuk mendapatkan pasangan dan menyiapkan tempat untuk memijah. Induk jantan membuat sarang berupa cekungan di dasar kolam sebagai tempat pemijahan. Cekungan berbentuk bulat, cekung dengan garis tengah ± 30–50 cm atau tergantung ukuran induk ikan. Setelah cekungan selesai dibuat, pasangan induk ikan nila melakukan pemijahan pada siang hari pada pukul 09.00−15.00.
Selama proses pemijahan induk betina berada di dalam cekungan kemudian induk jantan mendekati induk betina dan pada saat itu induk betina mengeluarkan telurnya. Telur-telur itu tersimpan dalam cekungan dan dalam waktu yang bersamaan induk jantan menghamburkan spermanya dan terjadilah pembuahan. Telur yang telah dibuahi lalu dimasukkan ke dalam mulut induk betina, selama betina menyimpan telur di dalam mulutnya induk betina tidak makan sehingga
17 kelihatan kurus. Telur menetas setelah 2 hari, larva yang baru menetas masih mengandung kantong kuning telur. Ukuran larva yang baru menetas antara 0,9−1 mm. Larva ini masih terus tinggal di dalam mulut induknya sampai 5−7 hari sampai kuning telurnya terserap habis. Setelah itu larva mulai mencari makan di luar mulut induknya.
Telur yang diamati adalah telur yang diambil dari dalam mulut induk kemudian ditetaskan di dalam akuarium. Jumlah telur rata-rata yang diperoleh pada setiap induk adalah 1515 butir. Tingkat pembuahan telur (fertilisation rate, FR) rata adalah 86,48% dan tingkat penetasan telur (hatching rate, HR) rata-rata adalah 84,18% (Tabel 5). Jumlah, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan telur yang diperoleh dari hasil kegiatan ini menunjukkan nilai yang tinggi, hal ini sesuai dengan penjelasan Suyanto (2009), yang menyatakan bahwa jumlah dan tingkat penetasan telur ikan nila rata-rata adalah 1000–2000 butir/induk, dengan tingkat pembuahan 80,50–99,31% dan tingkat penetasan 70,66–85,30%.
3.4.5 Penetasan Telur
Kegiatan penetasan telur dilakukan secara sampling dengan menggunakan akuarium. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pembuahan dan tingkat penetasan telur. Sampling dilakukan dengan menangkap 3 ekor induk dari kolam pemijahan, kemudian telur diambil dari dalam mulut induk kemudian ditetaskan di dalam akuarium. Jumlah telur, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan telur dihitung selama kegiatan ini.
18 3.4.6 Pemeliharaan Larva
A. Persiapan Kolam Pemeliharaan Larva
Kegiatan persiapan kolam pemeliharaan larva meliputi pengeringan, perbaikan konstruksi kolam, pemupukan (dosis 500 g/m2), pengapuran (dosis 250 g/cm2), dan pengeringan. Pengeringan pada musim kemarau relatif singkat 2–4 hari. Bersama dengan pengeringan kolam dapat dilakukan perbaikan pematang, saluran air, pintu air dan pengolahan dasar kolam. Saringan air dicopot, dibersihkan dan diperbaiki kemudian dipasang kembali.
Setelah kering, kolam dipupuk untuk menumbuhkan pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh larva ikan nila. Pemupukan menggunakan pupuk organik berupa kotoran ayam dan sekam padi. Jumlah dan dosis disesuaikan dengan tingkat kesuburan perairan. Sebagai patokan, umumnya digunakan pupuk kotoran ayam dan sekam padi dengan dosis 500 g/m2.
B. Pemanenan Larva dari Kolam Pemijahan
Larva yang baru berumur 7 hari setelah menetas dipanen dari kolam pemijahan pada pagi hari pada saat cuaca masih dingin agar dalam pemanenan larva tidak kepanasan yang dapat menyebabkan stres dan mati. Pemanenan dilakukan dengan cara panen sebagian dengan menggunakan ancho yang terbuat dari bambu dan dilengkapi dengan hapa. Panen larva dilakukan dengan cara mengitari kolam pemijahan, larva dipanen dengan menggunakan ancho pada pinggiran kolam . Larva yang terambil dengan ancho dipindahkan ke dalam ember yang berisi air dengan menggunakan scoopnet. Selanjutnya jika ember yang terisi larva tersebut sudah penuh, maka larva dipindahkan ke kolam penampungan yang dilengkapi dengan waring ukuran 1m x 1m yang berada dalam hapa ukuran 2m x1m.
19 Kemudian larva dihitung untuk selanjutnya dimasukkan dalam ember yang telah diisi air dan siap untuk ditebar ke kolam pendederan I.
C. Pemeliharaan Larva pada Kolam Pendederan
Pada tahap pendederan I, larva ditebar dengan kepadatan 600 ekor/m². Pakan yang diberikan adalah tepung halus dengan dosis 20% dari biomassa, frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari. Kualitas air dikontrol agar tetap sesuai dengan kebutuhan hidup larva. Lama pemeliharaan adalah 25 hari. Ukuran larva pada akhir pemeliharaan berkisar 2−3 cm.
Pada tahap pendederan II, larva ditebar dengan kepadatan 500 ekor/m². Pakan yang diberikan adalah tepung halus dengan dosis 15% dari biomassa, frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari. Kualitas air dikontrol agar tetap sesuai dengan kebutuhan hidup larva. Lama pemeliharaan adalah 30 hari. Ukuran larva pada akhir pemeliharaan berkisar 3−5 cm.
Selama pemeliharaan di kolam pendederan, panjang dan berat larva dan benih diukur setiap minggu untuk menghitung tingkat pertumbuhan. Tingkat kelangsungan benih dihitung pada awal dan akhir pemeliharaan di kolam pendederan I dan II.
Dosis pakan larva adalah suatu ketentuan yang menjadi acuan dalam proses pemberian pakan larva ikan nila. Jenis pakan yang diberikan adalah pakan bentuk tepung, dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari. Pakan tambahan dapat diberikan dengan dosis 20 % per hari dari bobot berat biomassa larva. Selama proses pemeliharaan larva ikan nila, maka dilakukan pemberian pakan pada larva ikan nila pada umur 4 hari setelah penebaran pada pendederan pertama (1). Dosis pakan tersebut dapat dihitung dengan cara berat biomassa dikali dengan 20%. Misal, dosis
20 pakan adalah 20% maka jumlah pakan yang diberikan adalah:Jumlah pakan larva= Bobot biomassa (kg) kali 20 %.
3.5.4 Pengukuran Parameter Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur selama melaksanakan kegiatan terdiri dari pH, suhu, dan oksigen terlarut. Parameter ini diukur sekali seminggu pada pagi dan sore hari.
3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data 3.5.1 Parameter yang Diamati
Parameter yang diamati meliputi parameter telur (jumlah/fekunditas, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan), parameter larva (panjang tubuh, berat, jumlah), parameter benih (panjang, berat, jumlah), parameter pakan benih (jenis, dosis, frekuensi, waktu pemberian), parameter kualitas air (pH, suhu, oksigen terlarut).
3.5.2 Analisis Data
Metode analisa data yang digunakan adalah metode deskriptif dan kualitatif yang bersumber pada data primer dan data sekunder yang didapatkan selama kegiatan berlangsung.
21 a. Fekunditas Telur
Fekunditas Telur ikan nila yang bersifat Mouth breeder disebut breeding adalah jumlah telur yang sedang dierami dalam mulutnya (Yudasmara 2014).
b. Tingkat Penetasan Telur
. Daya tetas telur atau fertilisation rate (FR) atau persentase telur yang menetas setelah terbuahi berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan pemijahan (Effendi 1997).
Daya tetas telur dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Jumlah yang menetas
HR(%) = x 100% Jumlah telur terbuahi
c. Tingkat Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup atau survival rate (SR) dinyatakan sebagai perentase jumlah ikan yang hidup selama jangka waktu pemeliharaan dibagi dengan jumlah ikan yang ditebar (Effendie 1979).
Dihitung menggunakan rumus:
SR = Nt x 100 % No
Dimana : Nt :Adalah jumlah ikan pada akhir pemeliharaan No :Adalah jumlah ikan pada awal pemeliharaan
22 d. Tingkat Pertumbuhan
Pertumbuhan mutlak adalah laju pertumbuhan total ikan selama kegiatan pemeliharaan. Pertumbuhan mutlak ditunjukkan dalam satuan gram/hari dengan rumus: 𝑊𝑚 = 𝑊𝑡− 𝑊0 Keterangan: Wm : Pertumbuhan mutlak Wt : Bobot akhir W0 : Bobot awal
e. Dosis pakan Larva dan benih
Menurut Hanif (2006) dosis pakan larva dan benih adalah jumlah pakan yang diberikan berdasarkan 20% dan 15% dari bobot biomassa larva dan benih.
Dosis pakan (kg) = Biomassa (kg) x % pakan
f. Frekuensi Pemberian Pakan Larva dan Benih
Menurut Hanif (2006) pada proses pemeliharaan larva dan benih dosis pakan yang diberikan sesuai dengan dari bobot biomassa, dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali per hari.