INOVASI TEKNOLOGI MENDUKUNG SISTEM INTEGRASI TERNAK DENGAN KELAPA SAWIT DI KALIMANTAN TENGAH

12  Download (0)

Full text

(1)

INOVASI TEKNOLOGI MENDUKUNG

SISTEM INTEGRASI TERNAK DENGAN KELAPA SAWIT

DI KALIMANTAN TENGAH

ERMIN WIDJAJA, BAMBANG NGAJI UTOMO danMUHRIZAL SARWANI

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah Jl. G. Obos Km 5 Palangkaraya 73111

ABSTRAK

Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah dengan luas yang sudah tertanam pada tahun 2004, 275.356 ha dan sudah ada 23 buah pabrik pengolahannya mempunyai potensi pendukung untuk pengembangan ternak kaitannya dalam hal penyediaan sumber pakan. Melihat potensi tersebut BPTP Kalteng telah melakukan serangkaian pengkajian dari tahun 1999-2004 untuk menghasilkan teknologi pakan dari limbah pabrik kelapa sawit yang mampu menunjang peningkatan produksi ternak baik untuk ternak ruminansia maupun non ruminansia, yaitu teknologi pakan untuk sapi, domba dan ayam potong. Limbah yang digunakan sebagai pakan adalah limbah solid sawit dari pengolahan CPO dengan pertimbangan harga murah, produksi melimpah rata-rata 20 ton/hari/pabrik, kandungan nutrisinya (PK: 12,63-17,41%), kontinyu dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Bahan pakan lain yang berpotensi sebagai sumber pakan ternak, yaitu bungkil inti sawit (BIS) dan limbah perkebunan yang berupa daun dan pelepah sawit. Solid sawit untuk pakan sapi dan domba mampu meningkatkan rata-rata PBHH menjadi 0,8 kg ekor-1 hari-1 dan 0,083 kg ekor-1 hari-1. Sedangkan untuk ayam potong dihasilkan pakan yang murah dengan harga untuk pakan “pellet” Rp.1.850,- dan pakan mash Rp.1.800,- (kalkulasi harga tahun 2003) dan mampu memberikan rata-rata berat hidup akhir pada umur 35 hari sebesar 1,8 kg. Sebagai pakan sapi telah diaplikasikan baik perorangan maupun perusahaan, diantaranya peternak pada kelompok tani plasma kelapa sawit, sedang beberapa perusahaan swasta yang telah memanfaatkannya adalah PT. Sabut Mas Abadi melalui kegiatan penggemukan sapi potong di dekat pabrik kelapa sawit, PT. Korin III yang mengembangkan sapi PO sebanyak 200 ekor di kawasan HTI, PT. Sulung Ranch mengembangkan sapi Bali dengan pola breeding dan penggemukan yang direncanakan sebanyak 1000 ekor (saat ini baru ada 90 ekor) dan dikembangkan secara terintegrasi dengan kelapa sawit. Untuk pakan unggas (ayam potong) ada pihak swasta yang tertarik untuk merealisasikan dalam bentuk pabrik pakan mini dan sekarang dalam taraf studi lapangan. Dengan demikian bukan tidak mungkin di masa mendatang Kalimantan Tengah akan mampu berswasembada ternak. Model pengembangan ternak ruminansia yang cocok adalah secara terintegrasi dengan kelapa sawit terkait dengan efisiensi usahatani dan untuk itu diperlukan dukungan dan komitmen dari berbagai pihak.

Kata Kunci: Ternak, Teknologi Pakan, Limbah Kelapa Sawit PENDAHULUAN

Tantangan penyediaan pangan asal hewan dirasakan semakin kuat, terlebih lagi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 115/MPP/Kep/II/1998 tanggal 27 Pebruari 1998 tentang jenis barang kebutuhan pokok masyarakat. Dalam keputusan tersebut, daging sapi, daging ayam dan telur masuk dalam jenis barang kebutuhan pokok masyarakat (SEMBAKO) yang berarti kecukupan dan ketersediaan bahan pangan tersebut harus mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh (DINAS KEHEWANAN PROVINSI

KALIMANTAN TENGAH, 2001).

Kalimantan Tengah yang terdiri dari lahan kering 7,7 juta hektar dan pasang surut 5,8 juta hektar, berpotensi untuk pengembangan peternakan baik dalam skala menengah maupun besar. Kebijakan pembangunan peternakan di Provinsi Kalimantan Tengah dewasa ini lebih ditekankan pada upaya untuk berswasembada daging. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya program-program terobosan yang mampu memacu peningkatan produktivitas dan reproduktivitas ternak, mengingat saat ini menurut DINAS

KEHEWANAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

(2005) produksi lokal hanya bisa mensuplai 45-50%, sementara sisanya masih mendatangkan ternak dari luar Kalimantan

(2)

Tengah, untuk ternak sapi sebesar 10.000-13.000 ekor setiap tahunnya.

Ternak sapi masih menjadi komoditas utama di Kalimantan Tengah dalam pemenuhan kebutuhan daging daerah, hal ini tercermin dari jumlah ternak yang dipotong paling tinggi setiap tahunnya. Rata-rata dalam lima tahun terakhir 11.842 ekor sapi dibandingkan ternak lainnya (kerbau: 223,9 ekor; kambing: 1.402 ekor; domba: 77 ekor dan babi: 5.598 ekor).

Permasalahan yang dihadapi adalah produktivitas dan populasi sapi rendah, penyediaan bibit masih sangat kurang, baik jumlah maupun mutu. Kondisi ini erat kaitannya dengan angka kelahiran yang rendah, yaitu 13,24% sedangkan parameter angka kelahiran nasional 19,28% dan jarak beranak (calving interval) yang panjang (rata-rata > 15 bulan). Pemberian pakan oleh peternak yang hanya rumput alam dimana kandungan nutrisinya rendah (UTOMO, 2001) diduga

berdampak luas bukan hanya pada pertambahan berat badan saja, juga pada reproduktivitas ternak. Pertambahan bobot hidup harian ternak rendah di bawah 250 g ekor-1 hari-1 (U

TOMO, 2001) dan kondisi fisik

hewan (induk) skornya di bawah standar sehingga tidak menjamin kebuntingan yang tinggi (fertilitas rendah). Selain itu juga memberikan dampak pada bobot lahir yang rendah, pertumbuhan agak lambat, umur beranak pertama relatif lama, bobot hidup atau bobot potong sapi dewasa menjadi rendah. Permasalahan lain, tingginya angka kematian anak yang diduga juga akibat kekurangan gizi. Kondisi ini mengakibatkan laju peningkatan populasi ternak berjalan lamban, bahkan pada tahun 2002 dilaporkan mengalami penurunan 6,6%. Sedangkan pada ternak unggas khususnya ayam potong, harga pakan pabrik yang tinggi sementara harga produk berfluktuasi menjadi masalah utama di tingkat peternak dengan tidak mengecilkan faktor yang lain misalnya masalah penyakit.

SUMBERDAYA PAKAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN TERNAK DI

KALIMANTAN TENGAH

Salah satu faktor dominan suksesnya pengembangan ternak adalah ketersediaan sumber pakan baik secara kuantitas maupun

kualitas. DIWYANTO et al. (1996) menyatakan

bahwa sebagai negara tropis di kawasan katulistiwa dengan areal yang cukup luas, maka persediaan bahan pakan sebetulnya bukan merupakan kendala dalam usaha peternakan sapi potong. Banyak potensi bahan baku pakan lokal yang belum diolah atau dimanfaatkan secara maksimal antara lain berupa limbah industri perkebunan, tanaman pangan, dll.

Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berkembang dengan pesat, dimana pada tahun 2004 sebagaimana dilaporkan oleh DINAS PERKEBUNAN KALIMANTAN TENGAH

(2004) ada 71 buah perusahaan besar swasta (PBS) kelapa sawit yang tersebar di 6 kabupaten dengan target area seluas 697.337 ha dan saat ini sudah tertanam 275.356 ha. Sedangkan saat ini jumlah pabrik kelapa sawit yang sudah beroperasi sebanyak 23 buah. Hal ini mempunyai potensi yang besar untuk mendukung pengembangan peternakan, yaitu dengan tersedianya limbah perkebunan dan pabrik kelapa sawit (PKS) yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pengembangan ternak disesuaikan dengan kondisi sumber daya lokal perkebunan, seperti ternak ruminansia sangat potensial untuk dikembangkan pada areal perkebunan kelapa sawit karena kebutuhan pakan dapat dicukupi dari vegetasi perkebunan kelapa sawit yang berupa rumput liar dan cover crop yang dapat menjadi sumber hijauan pakan ternak, selain itu dapat juga dicukupi dari daun dan pelepah kelapa sawit, sedangkan sebagai pakan konsentratnya dapat memanfaatkan hasil samping dari PKS. STONAKER (1975) menjelaskan bahwa pada umumnya hijauan di daerah tropis memiliki kualitas rendah, pernyataan ini didukung oleh hasil kajian UTOMO (2001) di Kalimantan Tengah,

sehingga pemberiannya pada ternak perlu suplementasi konsentrat.

Hijauan makanan ternak

Menurut informasi dari Dinas Kehewanan Kalimantan Tengah yang didasarkan pada hasil penelitian dari Dirjen Peternakan menyebutkan bahwa penyediaan rumput di Kalimantan Tengah sebenarnya tidak begitu masalah artinya masih belum kekurangan (PALILU,

(3)

dijadikan sebagai pakan ternak adalah rumput pahitan, krakapan, patikan, wedusan, prenthulan, kenthangan, teki, dan trinyo. Selain itu juga ada rumput kumpai yang banyak dijumpai di daerah berair (UTOMO, 2001). Dari

hasil monitoring produksi sebagaimana dilaporkan oleh UTOMO (2001) selama 4 bulan secara ubinan dihasilkan produksi rumput alam (berat basah) rata-rata 8,15 kg/25 m2 atau

diperkirakan 3.260 kg/ha. Di beberapa tempat rumput unggul sudah dibudidayakan secara luas, misalnya di Kecamatan Basarang dan Pangkoh, masyarakat sudah mengembangkan rumput unggul walaupun sebagian mereka ada yang tidak memiliki ternak namun mereka mengembangkan rumput untuk dijual kepada yang memiliki ternak.

Kawasan perkebunan kelapa sawit cocok untuk pengembangan ternak karena

ketersediaan hijauan pakan yang cukup melimpah, selain vegetasi yang tumbuh di sekitar kebun sawit, hijauan yang berupa daun kelapa sawit dan pelepahnya dengan kandungan nutrisi sebagaimana tersaji pada Tabel 1, berdasarkan hasil penelitian bisa menjadi sumber pakan serat bagi ternak ruminansia (MATHIUS, 2003).

Limbah pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Tengah

Industri pengolahan minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) di Kalimantan Tengah menghasilkan beberapa hasil samping yang dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu limbah padat dan limbah cair sebagaimana disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Kandungan nutrisi dari limbah perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan rumput gajah

Limbah perkebunan kelapa sawit1) Uraian

Daun tanpa lidi Pelepah Rumput gajah

2) Kandungan nutrisi: Bahan kering (%) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (Ca) (%) Fosfor (P) (%) Energy (kkal/kg) Produksi (kg/BK/ha/tahun) 46,18 14,12 4,37 21,52 0,84 0,17 4.461 658 26,07 3,07 1,07 50,94 0,96 0,08 4.841 1.640 81,08 14,26 2,76 22,34 0,07 0,01 171,24 (kal/100 g)

Sumber: 1) MATHIUS (2003); 2)UTOMO et al. (2004a)

Tabel 2. Komposisi limbah yang dihasilkan pada pengolahan minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan

minyak inti sawit (PKO) di Kalimantan Tengah

Kisaran produksi Deskripsi

% Ton/hari

Tandan buah segar (TBS) Crude palm oil (CPO) Limbah cair

Limbah padat

Tandan buah kosong (TBK) Serat perasan buah (SPB) Kernel

Bungkil inti sawit (BIS) Cangkang Solid Limbah lain 100 23 85 16 26 4 2,2 6 3 13,5 600-700 138-161 51-59,5 96-112 156-182 24-28 13,2-15,4 36-42 18-21 81-94,4 Sumber: WIDJAJA (2005)

(4)

Beberapa macam limbah yang berpotensi sebagai pakan ternak adalah bungkil inti sawit dan solid sawit. Namun bungkil inti sawit oleh pabrik bukan merupakan hasil samping (limbah) yang dibuang tetapi dijual, lain halnya dengan limbah solid sawit, oleh pabrik dibuang di sekitar perkebunan untuk digunakan sebagai pupuk dan oleh manajemen pabrik limbah tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Limbah solid sawit

Solid (bahasa jawa “blondho sawit”) mempunyai konsistensi lunak seperti ampas tahu namun berwarna coklat kegelapan. Masih mengandung 1,5% minyak CPO sehingga dalam udara terbuka mudah menjadi tengik (rancid). Apabila dibiarkan pada udara terbuka selama 2-3 hari akan muncul yeast dan berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi yang utama adalah Monilia sp. dan Candida sp. dan sudah dipastikan bahwa yeast tersebut tidak termasuk yang berbahaya (WIDJAJA, 2005b). Walaupun pada permukaan solid sawit ditumbuhi dengan yeast, namun bagian

dalamnya tidak dan relatif tidak berubah warna dan konsistensinya.

Berdasarkan hasil analisa laboratorium, kandungan nutrisi solid sawit yang diperoleh dari beberapa PKS di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 3. Kandungan nutrisi solid sawit bervariasi akibat perbedaan usia tanaman kelapa sawit yang dipanen terutama pada kandungan serat kasarnya. Rata-rata produksi sementara ini 20 ton/hari, dengan jumlah pabrik yang ada sementara ini 23 buah, dengan demikian akan menghasilkan limbah solid sawit sekitar 460 ton/hari yang dapat mencukupi kebutuhan pakan bagi 46000 ekor sapi. Dengan demikian solid sawit menjadi alternatif terbaik untuk dijadikan sumber pakan tambahan ternak khususnya untuk ternak ruminansia karena murah, kandungan nutrisinya cukup baik, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, aman bagi ternak dan dihasilkan secara berkesinambungan (kontinyu).

Tabel 3. Kandungan nutrisi solid sawit

No Kandungan nutrisi Jumlah No Jenis asam amino Jumlah (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Bahan kering (%) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Energi bruto (kkal/kg) Ca (%) P (%) Karoten (IU) NDF (%) ADF (%) Hemiselulosa (%) Selulosa (%) Lignin (%) Silika (%) 81,65 – 93,14 12,63 – 17,41 7,12 – 15,15 9,98 – 25,79 3217,00 – 3454,00 0,03 – 0,78 0,00 – 0,58 109,75 58,58 53,33 5,25 26,35 22,31 4,47 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. Aspartat Glutamat Serina Glisina Histidina Arginina Treonina Alanina Prolina Tirosina Valina Metionina Sisteina Isoleusina Leusina Fenilalanina Lisina 0,89 1,00 0,50 0,01 0,10 0,20 0,08 0,61 0,06 0,42 0,43 0,92 0,33 0,51 0,31 0,37 0,40

(5)

Bungkil inti sawit

Selain limbah solid sawit, di Kalimantan Tengah ada 3 buah pabrik kelapa sawit yang menghasilkan hasil samping dari pengolahan palm kernel oil (minyak inti sawit) berupa bungkil inti sawit, yaitu di Kotawaringin Barat ada 2 buah dan di Kabupaten Barito Utara ada 1 buah.

Bungkil inti sawit (BIS) mempunyai kandungan nutrisi yang lebih baik daripada solid sawit (Tabel 4). Produksi rata-rata sekitar 40 ton/hari/pabrik. Bahan pakan ini sangat cocok terutama untuk pakan konsentrat ternak ruminansia, namun menurut MATHIUS (2003)

penggunaannya sebagai pakan tunggal dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, oleh karenanya perlu diberikan secara bersama-sama dengan bahan pakan lainnya. ARITONANG (1985) melaporkan

penggunaan BIS sebagai bahan campuran pakan pada babi memberikan hasil yang baik. Disamping itu juga bisa dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak unggas sebagaimana dilaporkan oleh WIDJAJA (2005a). Bungkil inti sawit saat ini sudah secara luas dimanfaatkan oleh perusahaan peternakan. Indikasi ini terlihat dari banyaknya permintaan dari luar Kalimantan Tengah. Perusahaan tersebut biasanya memanfaatkannya sebagai salah satu bahan pakan konsentrat sapi untuk pemeliharaan dengan tujuan penggemukan atau pada pemeliharaan sapi perah. Dengan demikian BIS bisa menjadi alternatif lain selain solid sawit sebagai sumber pakan konsentrat untuk ternak di Kalimantan Tengah.

Tabel 4. Hasil analisa proksimat terhadap

kandungan nutrisi bungkil inti sawit dan dedak padi

Bahan pakan Kandungan nutrisi BIS1) Dedak2) Bahan kering (%) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (Ca) (%) Fosfor (P) (%) Energi(kkal/kg) 91,83 16,33 6,49 36,68 0,56 0,84 5.178 91,00 11,10 11,95 13,00 0,08 1,00 2.820

Sumber: 1) WIDJAJA (2005a); 2) UTOMO et al. (2004a)

HASIL PENGKAJIAN TEKNOLOGI PAKAN DARI LIMBAH PABRIK KELAPA SAWIT OLEH BPTP KALTENG

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah sebagai ujung tombak dari Badan Litbang Pertanian yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan serangkaian kegiatan pengkajian dari tahun 1998–2004 yang diantaranya dilakukan dalam bentuk kegiatan kerjasama dengan salah satu perusahaan daerah di Kalimantan Tengah, untuk menghasilkan berbagai komponen teknologi pakan dengan menggunakan bahan baku dari hasil samping (limbah) pabrik kelapa sawit yang nantinya diharapkan untuk mendukung pengembangan ternak baik ternak ruminansia maupun unggas yang berbasis kelapa sawit di Kalimantan Tengah.

Fokus kegiatan adalah pada pemanfaatan limbah solid sawit sebagai pakan ternak dengan pertimbangan bahwa limbah tersebut produksinya melimpah sehingga ada kecenderungan pihak pabrik kelapa sawit (PKS) agak kesulitan untuk membuangnya dan dikhawatirkan dapat mengganggu lingkungan serta berpotensi munculnya konflik horizontal dengan masyarakat sekitarnya. Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa limbah tersebut memang bisa digunakan untuk pakan ternak terlebih lagi didukung dengan kandungan nutrisinya yang relatif bagus.

Apabila limbah solid sawit ini dapat dimanfaatkan secara luas sebagai pakan ternak, selain untuk meningkatkan produktivitas ternak, paling tidak bisa ikut membantu mengatasi permasalahan lingkungan yang kemungkinan bisa saja terjadi akibat pembuangan limbah solid sawit yang sembarangan.

Inovasi teknologi pakan yang disajikan meliputi teknologi pakan untuk ternak ruminansia dan unggas. Pengembangan ternak yang didekatkan pada perkebunan kelapa sawit bukan hanya dengan ternak ruminansia saja, namun ternak unggas pun sangat potensial untuk dikembangkan, mungkin oleh karyawan PKS atau perkebunan terkait dengan ketersediaan sumber pakan dari PKS dan sudah barang tentu akan membantu meningkatkan penghasilan dari diversifikasi usaha.

(6)

Teknologi pakan untuk sapi potong

Pemberian solid sawit ditujukan sebagai pakan tambahan ternak selain rumput, diberikan pada ternak sapi dengan tujuan penggemukan dan untuk tujuan flushing, yaitu pemberian pakan pada periode-periode tertentu disesuaikan dengan status fisiologis ternak. Penggemukan

Limbah solid sawit diberikan dalam bentuk segar secara tunggal langsung dari pabrik sebagai pakan tambahan ternak. Solid sawit diberikan pagi dan sore hari sebelum diberikan rumput.

Solid sawit yang datang dari pabrik langsung diberikan pada ternak tanpa ada perlakuan khusus. Pada ternak sapi yang biasanya diberikan pakan tambahan (misal dedak) biasanya langsung mau memakannya, namun pada sapi yang tidak pernah diberikan pakan tambahan biasanya harus dilatih terlebih dahulu. Berdasarkan pengamatan di lapang, umumnya sapi-sapi langsung mau memakannya, apalagi sapi Bali. Sapi lebih menyukai solid sawit yang baru saja datang dari pabrik karena masih hangat dan baunya masih harum.

Pemberian solid sawit dalam jumlah cukup (ad libitum) memberikan pertambahan bobot hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan diberikan secara terbatas (Tabel 5). Dari pengamatan tidak menunjukkan efek yang negatif, malah berdasarkan laporan peternak, kulit sapi menjadi lebih halus (memes). Selain itu pemberian solid dapat mengurangi jumlah rumput yang diberikan sebesar 25% dari rata-rata 20 kg ekor-1 hari-1 menjadi 15 kg ekor-1

hari-1, sedangkan jumlah kotoran yang

diproduksi berkurang 37% dari rata-rata 8 kg ekor-1 hari-1 menjadi 5 kg ekor-1 hari-1.

Dari hasil analisa finansial (Tabel 6) menunjukkan bahwa pemberian solid sawit untuk tujuan penggemukan sapi potong masih lebih menguntungkan dibandingkan tanpa diberikan pakan tambahan solid sawit. Pemanfaatan limbah solid sawit sebagai pakan tambahan untuk tujuan penggemukan masih lebih menguntungkan, karena biaya transportasi pengambilan limbah tersebut dapat tertutupi dari peningkatan bobot hidup ternak (UTOMO dan WIDJAJA, 2004). Keuntungan akan lebih meningkat apabila penggemukan dilakukan dalam skala besar (20-30 ekor). Umumnya PKS lokasinya jauh berada di tengah perkebunan kelapa sawit sehingga jauh juga dari pemukiman penduduk sehingga pengambilan limbah solid sawit memerlukan biaya transportasi.

Tabel 5. Kenaikan bobot hidup sapi PO jantan yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan

pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Kenaikan rata-rata bobot hidup

No Perlakuan Bobot hidup awal

(kg/ekor) Bobot hidup akhir (kg/ekor) (kg ekorPBHH -1 hari-1)

I Solid segar ad libitum + rumput alam 211,4 274,4 0,77

II Solid segar 1,5% bahan kering dari

BB ternak + rumput alam 234,4 267,7 0,44

III Bioplus + rumput alam 183,4 207,0 0,31

IV Rumput alam tanpa solid 315,6 334,6 0,22

(7)

Tabel 6. Analisa finansial (September 1999) penggemukan sapi Madura per ekor selama tiga bulan masa

pemeliharaan, di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Uraian Perhitungan Teknologi

introduksi (Rp) Pola petani (Rp) 1. Biaya:

Sapi bakalan Rumput alam Rumput alam Solid segar Obat dan bioplus Obat-obatan Tenaga kerja Perbaikan kandang Total Biaya Penerimaan

2. Penjualan sapi (PBBH 0,56 kg/hari) Penjualan sapi (PBBH 0,20 kg/hari) Penjualan pupuk Penjualan pupuk Pengolahan tanah Total penerimaan 3. Pendapatan: 4. R/C Ratio 1 x Rp 2.000.000 1 x Rp 100 x 22 kg x 90 hari 1 x Rp 100 x 16,5 kg x 90 hari 1 x Rp 100 x 3,3 kg x 90 hari 1 x Rp 20.000 1 x Rp 5.000 1 x Rp 1.000 x 90 hari Rp 10.000 261,2 kg x 0,5 x Rp 30.000 225,4 kg x 0,5 x Rp 30.000 1 x 3 kg x Rp 300 x 90 hari 1 x 4,8 kg x Rp 300 x 90 hari 1 x 2 ha x Rp 180.000 Rp 4.359.000 – Rp 2.298.200 Rp 3.870.600 – Rp 2.303.000 2.000.000 - 148.500 29.700 20.000 - 90.000 10.000 2.298.200 3.918.000 - 81.000 - 360.000 4.359.000 2.060.800 - 1,90 2.000. 000 198.000 - - - 5.000 90.000 10.000 2.303.000 - 3.381.000 - 129.600 360.000 3.870.600 - 1.567.600 1,68

Sumber: UTOMO dan WIDJAJA (2004)

Flushing

Solid sawit diberikan pada sapi dan sapi-sapi tersebut dipersiapkan untuk sinkronisasi estrus (penyerentakan birahi) dengan menggunakan preparat hormon. Menurut SETIADI et al. (1998) hasil perbaikan

reproduksi dengan program penyerentakan birahi tanpa memperbaiki kualitas pakan ternyata kurang memberikan hasil yang memuaskan, namun penyerentakan birahi yang disertai perbaikan nutrisi ternyata dapat memperbaiki kinerja reproduksi.

Dari hasil penyerentakan birahi yang dikombinasi dengan inseminasi buatan terhadap 5 ekor sapi menunjukkan 100% bunting, jadi dengan demikian CR 100% dan hanya dilakukan 1 kali IB (S/C 1). Karena hanya 5 ekor sapi yang dimonitoring, tentunya masih diperlukan pengamatan lebih lanjut dengan jumlah ternak yang lebih banyak lagi

untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. Sapi-sapi dengan gertak birahi mempunyai masa kebuntingan yang relatif normal, mereka melahirkan dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan dengan kisaran perbedaan 2-5 hari.

Teknologi pakan untuk domba

Solid sawit diberikan dalam bentuk segar dan dalam bentuk pakan lengkap atau yang dinamakan Complete Feed Block (CFB). Dinamakan CFB karena selain solid sawit sebagai bahan dasar, juga ditambahkan beberapa bahan pakan lainnya seperti bungkil inti sawit, gamal, molases, garam, dan mineral dengan kandungan protein kasar 14,3% dan TDN 64,6. Pakan dalam bentuk CFB selain kandungan nutrisinya lebih baik juga memudahkan dalam pemberian, pengangkutan

(8)

dan penyimpanan dengan daya simpan lebih lama (3 bulan).

CFB dibuat dalam dua bentuk, yaitu CFB fermentasi dan tanpa fermentasi. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan produk probiotik. Adapun untuk membentuk blok digunakan cetakan pralon ukuran 4 inci dengan ketebalan 2 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari.

Solid sawit diberikan pada domba sebanyak 1% dari bobot hidup baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk CFB, yaitu dua kali sehari pagi dan sore sebelum diberikan rumput. Ternak domba lebih menyukai solid sawit dalam bentuk CFB dibandingkan dalam bentuk segar dan memberikan pertambahan bobot hidup yang lebih tinggi terutama CFB yang difermentasi (Tabel 7). Hasil pemeriksaan darah domba yang diberi pakan CFB menunjukkan kandungan Ca darah positif, sementara yang hanya diberikan pakan rumput negatif terhadap Ca.

Teknologi pakan untuk ayam potong

Masalah klasik yang dihadapi peternak ayam potong di Kalimantan Tengah dan mungkin juga pada umumnya peternak ayam potong di Indonesia adalah harga DOC dan pakan pabrik yang mahal bahkan cenderung selalu meningkat, sementara harga produk ternak berfluktuasi sehingga peternak sering mengalami kerugian. Pada kondisi seperti ini para peternak kecil banyak yang gulung tikar, belum lagi dengan masalah penyakit. Sehingga margin keuntungan pada usaha ternak ayam potong relatif kecil dan satu-satunya jalan untuk mensiasatinya adalah dengan membuat

pakan alternatif selain pakan komersial (pakan pabrik).

Bahan pakan seperti limbah solid sawit dan bungkil inti sawit bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pakan alternatif yang murah dengan tidak mengabaikan kebutuhan nutrisi ayam bersangkutan. Untuk ternak unggas, faktor pembatas penggunaan limbah kelapa sawit sebagai bahan pakan adalah kandungan serat kasar yang relatif tinggi, namun berdasarkan hasil pengkajian pemanfaatan untuk bahan campuran pakan ayam potong pada batasan tertentu menunjukkan prospek yang bagus (WIDJAJA, 2005a).

Formula pakan untuk ayam potong yang telah dihasilkan oleh BPTP Kalteng, selain bahan pakannya solid sawit, bahan pakan lain yang digunakan adalah bungkil inti sawit, dedak, tepung ikan, bungkil kedelai, jagung, minyak CPO dan mineral. Kandungan nutrisi dari komposisi ransum tersebut untuk protein kasar 21,49% dan energinya 3117 kkal/kg.

Penampilan produksi

Pakan alternatif yang dihasilkan digunakan sebagai pakan substitusi dan bukan untuk menggantikan pakan pabrik (pakan komersial). Pakan diberikan pada ayam potong setelah berumur 2 minggu, yaitu bisa diberikan secara tunggal sampai panen atau dalam bentuk campuran yaitu 50% pakan buatan dan 50% pakan pabrik sampai panen. Pada masa DOC sampai 2 minggu masih tetap diberikan pakan pabrik. Pakan alternatif tersebut bisa dibuat dalam bentuk “pellet” atau dalam bentuk “mass”.

Tabel 7. Kenaikan bobot hidup domba lokal yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan

pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Rata-rata kenaikan bobot hidup

No Perlakuan Bobot awal

(kg/ekor) Bobot akhir (kg/ekor) (kg ekorPBBH -1 hari-1) I

II III IV

Rumput alam tanpa solid sawit

1% dari BB solid sawit segar + rumput alam 1% dari BB CFB tanpa fermentasi + rumput alam 1% dari BB CFB fermentasi + rumput alam

10,8 13,3 19 19,8 13,95 17,4 24,8 27,2 0,035 0,045 0,064 0,083

(9)

Hasil aplikasi pakan alternatif di lapangan disajikan pada Tabel 8. Walaupun memberikan bobot hidup yang lebih rendah dari pakan pabrik, namun keuntungan yang diperoleh lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena harga pakan lebih murah. Keuntungan lain, daging ayam lebih keras (seperti ayam kampung) dan angka kematian lebih rendah, serta kualitas daging menurut WIDJAJA (2005a) lebih baik.

Analisa finansial

Pemberian pakan buatan (pakan alternatif) lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan pakan pabrik, baik diberikan secara tunggal maupun secara campuran setelah ayam berumur 2 minggu sebagaimana disajikan pada Tabel 9 yang merupakan hasil dari salah satu kegiatan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Keuntungan lebih disebabkan karena harga pakan lebih murah dan angka kematian lebih

rendah. Kalkulasi harga pakan per Oktober 2003 adalah harga pakan buatan dalam bentuk “pellet” Rp.1.850,-/kg, pakan buatan dalam bentuk “mash” Rp.1.800,-/kg dan harga pakan pabrik saat itu Rp.2.500,-/kg.

Tabel 8. Performans ayam potong yang diberi

pakan buatan selama 35 hari masa pemeliharaan

Metode pemberian pakan Rata-rata bobot hidup akhir (kg/ekor) Pemberian pakan buatan tunggal

setelah umur 2 minggu 1,5

Perbandingan 50 (pakan buatan) : 50 (pakan pabrik) setelah ayam berumur 2 minggu

1,8

Pemberian pakan pabrik 100% (dari DOC sampai panen)

1,9

Sumber: WIDJAJA (2005a); UTOMO et al. (2004b)

Tabel 9. Analisa finansial pemeliharaan ayam potong skala 1000 ekor yang diberi pakan buatan dalam

bentuk pellet secara tunggal setelah ayam berumur 2 minggu dan yang diberi pakan komersial (pakan pabrik) selama 35 hari masa pemeliharan

Sumber: UTOMO et al. (2004b)

Keterangan Pakan solid (Rp) Pakan komersial (Rp)

Biaya produksi

1. DOC @ Rp 2500 x 1000 ekor

2. Pakan pelet solid Rp 1835 x 2.473 kg x 1000 ekor Pakan komersial Rp 2480 x 3.642 kg x 1000 ekor 3. Vaksin dan obat-obatan

4. Jumlah biaya produksi

Nilai produksi

1. Mortalitas pakan komersial 2. 66% dari 1000 ekor = 27 ekor

Penjualan 1.7 kg x Rp 9500 x 973 ekor 2. Mortalitas pakan introduksi (solid)

0.33% dari 1000 ekor = 4 ekor Penjualan 1.4 kg x Rp 9500 x 996 ekor 3. Penjualan kotoran

20 karung x Rp 3500 4. Jumlah pendapatan

Keuntungan

1. Keuntungan = pendapatan – biaya produksi 2. R/C Ratio = Pendapatan : biaya produksi

2.500.000 4.537.955 - 532.000 7.569.955 - 13.246.800 70.000 13.316.800 5.746.845 1.8 2.500.000 - 9.032.160 532.000 12.064.160 15.713.950 - 70.000 15.783.950 3.719.790 1.3

(10)

ADOPSI TEKNOLOGI

Respon masyarakat terutama para pelaku kegiatan peternakan sangat positif dengan hasil kegiatan yang dilakukan oleh BPTP Kalteng dalam menghasilkan teknologi pakan berbahan baku limbah kelapa sawit khususnya solid sawit. Hal ini terbukti dengan mulai banyaknya limbah kelapa sawit yang berupa solid sawit dimanfaatkan baik secara perorangan maupun perusahaan. Pihak perorangan/kelompok tani ternak yang telah memanfaatkan limbah solid sawit adalah mereka yang masuk dalam anggota koperasi plasma kelapa sawit. Keuntungan mereka adalah adanya akses untuk masuk ke PKS. Para peternak mengeluhkan adanya prosedural dari pabrik, dimana setiap pengambilan solid sawit harus ada surat pengantar dari kantor, sedangkan lokasi kantor adalah di kota dan jauh dari pabrik. Hal inilah yang menjadikan peternak enggan untuk mengambil secara perorangan dan biasanya mereka secara berkelompok karena lebih efisien. Untuk membantu peternak, pemerintah daerah Kabupaten Kotawaringin Barat pernah membantu biaya pengangkutan solid sawit sampai ke lokasi peternak dalam jangka waktu 1 tahun anggaran, demikian pula dengan salah satu perusahaan kelapa sawit pernah membantu dalam pengiriman solid namun dalam jangka waktu terbatas (1 tahun).

Perusahaan besar yang telah memanfaatkan limbah solid sawit untuk pakan tambahan sapi adalah PT. Korin III, sebuah perusahaan yang bergerak pada tanaman industri. Ada sebanyak 200 ekor sapi PO yang dipelihara di area Hutan Tanaman Industri dan setiap 2 hari sekali mengambil limbah solid sawit sebagai pakan tambahan sapi, dimana sekali pengambilan sebanyak 4 ton. Perusahaan besar lainnya adalah PT. Sulung Ranch, yaitu perusahaan breeding sapi Bali. Ada 96 ekor sapi yang dikembangkan saat ini dan dalam waktu dekat direncanakan dipelihara sejumlah 1000 ekor. Perusahaan tersebut secara rutin memanfaatkan solid sawit sebagai pakan tambahan (4 ton per 2 hari). Peternakan Sulung Ranch berlokasi di dalam area perkebunan kelapa sawit dan dari lokasi tersebut sekitar 5 km ada PKS yang diperkirakan akan beroperasi pada Desember 2005. Dengan beroperasinya pabrik tersebut, pihak Sulung Ranch tidak akan kesulitan untuk memperoleh solid sawit yang sekarang ini

harus mendatangkan dari PKS lain (PT. Gema Reksa) yang lokasi relatif jauh (Kabupaten Lamandau).

Perusahaan lain adalah PT. Sabut Mas Abadi, salah satu PKS di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah juga memanfaatkan solid sawit untuk tujuan penggemukan sapi potong yang dipelihara dekat dengan PKS (dalam satu areal pabrik). Sapi dikelola oleh koperasi PKS, sedangkan sapi disediakan oleh koperasi kebun sawit (plasma). Keuntungan berdasarkan bagi hasil untuk koperasi PKS 70% dan koperasi kebun sawit 30%.

Produk pakan ayam potong yang murah dan kandungan nutrisi yang dibutuhkan terpenuhi dengan salah satu bahan pakannya menggunakan limbah solid sawit sangat antusias disambut oleh para peternak bahkan juga oleh pihak swasta (salah satu Perusahaan Daerah di Kalimantan Tengah) melalui kegiatan kerjasama untuk dikaji lebih lanjut di tingkat pengguna dalam skala yang lebih banyak. Bahkan sudah ada pihak swasta lainnya yang tertarik untuk memanfaatkan teknologi tersebut dan berkeinginan untuk mendirikan pabrik pakan mini, sekarang ini masih dalam tahap survei lapangan. Hal ini tentunya akan menggairahkan pengembangan ternak ayam potong, karena para peternak mampu menghasilkan produk ayam yang mempunyai daya saing sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi.

PENUTUP

Pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah mempunyai potensi daya dukung yang besar terhadap pengembangan peternakan terutama dalam hal penyediaan bahan pakan, dan memberikan harapan yang cerah pada pembangunan peternakan di Kalimantan Tengah di masa mendatang. Dari hasil kajian yang dilakukan oleh BPTP Kalimantan Tengah memberikan bukti nyata bahwasanya bahan pakan limbah kelapa sawit (solid sawit) yang tersedia secara melimpah bisa dijadikan sebagai sumber pakan ternak di Kalimantan Tengah terutama untuk ternak ruminansia. Barangkali tinggal komoditas ternak dan model pengembangannya yang disesuaikan dengan

(11)

kepentingan daerah dan kondisi manajemen perkebunan di masing-masing daerah, dimana ada yang murni pengusaha besar swasta (PBS) dan ada pola inti-plasma.

Pengembangan ternak dengan berbasis kelapa sawit terutama apabila dilaksanakan secara terintegrasi akan meningkatkan efisiensi usahatani baik untuk ternaknya sendiri maupun pada tanaman kelapa sawit. Terlebih cocok untuk usaha breeding, sebagaimana banyak dikatakan bahwa usaha breeding tidak menguntungkan apabila dilaksanakan secara monokultur. Pengembangan ternak dengan tujuan breeding dan nantinya mengarah ke penggemukan oleh salah satu perusahaan di Kalimantan Tengah yang dikembangkan pada lokasi tertentu di area perkebunan kelapa sawit dan didekatnya ada PKS yang menghasilkan bahan pakan dari hasil samping pengolahan CPO, barangkali bisa menjadi salah satu contoh model integrasi ternak sapi dengan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Pola pengembangan ternak seperti itulah yang diharapkan nantinya menjadikan sistem produksi peternakan yang berkelanjutan (sustainable livestock production).

Apabila beberapa perusahaan yang ada di Kalimantan Tengah mulai mau mengusahakan ternak dengan tujuan menghasilkan bakalan seperti yang dilaksanakan oleh salah satu pengusaha swasta tersebut dengan pendekatan secara terintegrasi, sangat yakin di masa mendatang Kalimantan Tengah akan bisa berswasembada daging. Yang menjadi permasalahan adalah bahwa sebagian besar PBS kelapa sawit dalam pemberdayaan masyarakat di sekitarnya masih enggan untuk mengembangkan ternak, umumnya mereka lebih suka di bidang yang lain, misalnya sarana angkutan untuk tandan buah segar. Barangkali akibat ketidaktahuan atau kurangnya informasi bahwa pola ini apabila diterapkan dapat membantu mengangkat kesejahteraan dan memberdayakan terutama masyarakat sekitar kawasan perkebunan. Dampak positif lain yang ditimbulkan adalah mengurangi adanya konflik horizontal antara masyarakat dengan pihak perusahaan. Pengembangan ternak melalui pendekatan terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian berbasis pertanian di pedesaan, menghasilkan komoditi ekspor, memperkuat ketahanan pangan,

mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan meningkatkan penghasilan pekerja/petani.

Pengembangan ternak bisa juga dilaksanakan di luar kawasan perkebunan kelapa sawit terutama oleh petani sekitar kawasan kebun yang bukan termasuk plasma dan sebagai pakan ternak mereka bisa memanfaatkan berbagai bahan pakan yang dihasilkan oleh limbah kebun dan pabrik kelapa sawit.

Untuk terwujudnya pengembangan integrasi ternak dengan perkebunan kelapa sawit tersebut diperlukan dukungan dan komitmen dari berbagai pihak, yaitu petani (koperasi), pengusaha/investor, perbankan, peneliti, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

DAFTAR PUSTAKA

ARITONANG, D. 1985. Pengaruh cara pemberian makanan dan tingkat bungkil inti sawit dalam ransum terhadap penampilan produksi babi yang sedang bertumbuh. J. Ilmu dan Peternakan 2(1): 39-43.

DINAS KEHEWANAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH. 2001. Kebijakan dan strategi pembangunan peternakan di Kalimantan Tengah. Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi Pertanian Sub Sektor Peternakan. Palangkaraya 13-14 Nopember 2001.

DINAS KEHEWANAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH. 2005. Personal Communication. DINAS PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN

TENGAH. 2004. Potensi dan peluang investasi pengembangan perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya.

DIWYANTO, K., A. PRIYANTI dan D. ZAINNUDIN. 1996. Pengembangan ternak berwawasan agribisnis di pedesaan dengan memanfaatkan limbah pertanian dan pemilihan bibit yang tepat. J. Litbang Pertanian.

MATHIUS, I.W. 2003. Perkebunan kelapa sawit dapat menjadi basis pengembangan sapi potong. Warta Litbang. Pertanian 25(5): 1-4.

PALILU. 2004. Dinas Kehewanan Provinsi Kalimantan Tengah. Personal Communication.

SETIADI, B., D. PRIYANTO, SUBANDRIYO dan NANIEK K. WARDANI. 1998. Pengkajian pemanfaatan teknologi inseminasi buatan terhadap kinerja

(12)

reproduksi sapi Peranakan Ongole di daerah Istimewa Yogyakarta. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Bogor, 1-2 Desember 1998. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

STONAKER, H.H. 1975. Beef production system in the tropic. J. Anim. Sci. Vol. 41, No.4. UTOMO, B.N. 2001. Potential of Oil Palm Solid

Waste as Local Feed Resource for Cattle in Central Kalimantan, Indonesia. Thesis, Animal Science, Wageningen University, The Netherlands.

UTOMO, B.N. dan E. WIDJAJA. 2004. Limbah padat pengolahan minyak sawit sebagai sumber nutrisi ternak ruminansia. J. Litbang. Pertanian 23(1): 22-28.

UTOMO, B.N., E. WIDJAJA, M. SARWANI dan SAFERINIANSYAH. 2004a. Peningkatan produktivitas ternak pada program penggemukan sapi potong melalui suplementasi formula EKD (Laporan Akhir). Kerjasama Balitbangda Provinsi Kalimantan Tengah dengan BPTP Kalimantan Tengah. Palangka Raya.

UTOMO, B.N., E. WIDJAJA, A. HARTONO dan E. SINTHA. 2004b. Data Unpublished.

WIDJAJA, E. 2005a. Kandungan Kolesterol, Vitamin A dan Profil Asam-Asam Lemak Karkas Broiler Yang Diberi Solid Sawit Dalam Ransumnya. Thesis. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Figure

Tabel 1.  Kandungan nutrisi dari limbah perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan rumput gajah  Limbah perkebunan kelapa sawit 1)

Tabel 1.

Kandungan nutrisi dari limbah perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan rumput gajah Limbah perkebunan kelapa sawit 1) p.3
Tabel 2.  Komposisi limbah yang dihasilkan pada pengolahan minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan  minyak inti sawit (PKO) di Kalimantan Tengah

Tabel 2.

Komposisi limbah yang dihasilkan pada pengolahan minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) di Kalimantan Tengah p.3
Tabel 3. Kandungan nutrisi solid sawit

Tabel 3.

Kandungan nutrisi solid sawit p.4
Tabel 4.  Hasil analisa proksimat terhadap  kandungan nutrisi bungkil inti sawit dan  dedak padi

Tabel 4.

Hasil analisa proksimat terhadap kandungan nutrisi bungkil inti sawit dan dedak padi p.5
Tabel 5.  Kenaikan bobot hidup sapi PO jantan yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan  pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Tabel 5.

Kenaikan bobot hidup sapi PO jantan yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah p.6
Tabel 6.  Analisa finansial (September 1999) penggemukan sapi Madura per ekor selama tiga bulan masa  pemeliharaan, di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Tabel 6.

Analisa finansial (September 1999) penggemukan sapi Madura per ekor selama tiga bulan masa pemeliharaan, di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah p.7
Tabel 7.  Kenaikan bobot hidup domba lokal yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan  pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Tabel 7.

Kenaikan bobot hidup domba lokal yang diberi pakan tambahan solid sawit selama 3 bulan pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah p.8
Tabel 9. Analisa finansial pemeliharaan ayam potong skala 1000 ekor yang diberi pakan buatan dalam  bentuk pellet secara tunggal setelah ayam berumur 2 minggu dan yang diberi pakan komersial  (pakan pabrik) selama 35 hari masa pemeliharan

Tabel 9.

Analisa finansial pemeliharaan ayam potong skala 1000 ekor yang diberi pakan buatan dalam bentuk pellet secara tunggal setelah ayam berumur 2 minggu dan yang diberi pakan komersial (pakan pabrik) selama 35 hari masa pemeliharan p.9
Tabel 8.  Performans ayam potong yang diberi  pakan buatan selama 35 hari masa  pemeliharaan

Tabel 8.

Performans ayam potong yang diberi pakan buatan selama 35 hari masa pemeliharaan p.9

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in