• Tidak ada hasil yang ditemukan

NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA DAN ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO (KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DAN NILAI PENDIDIKAN)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA DAN ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO (KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DAN NILAI PENDIDIKAN)"

Copied!
247
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA DAN ORANG

MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO

(KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DAN NILAI PENDIDIKAN)

SKRIPSI

Oleh :

Fitri Wulandari

K1207018

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA DAN ORANG

MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO

(KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DAN NILAI PENDIDIKAN)

Oleh:

Fitri Wulandari

K1207018

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana

Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

(3)

commit to user

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar

Sarjana Pendidikan.

Surakarta, Mei 2011

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I,

Drs. Amir Fuady, M. Hum. NIP 195207291980101001

Pembimbing II,

Dr. Andayani, M. Pd. NIP 196010301986012001

(4)

commit to user

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Rabu

Tanggal : 25 Mei 2011

Tim Penguji Skripsi:

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Dra. Raheni Suhita, M.Hum. ...

Sekretaris : Budi Waluyo, S.S, M.Pd. ...

Anggota I : Drs. Amir Fuady, M.Hum. ...

Anggota II : Dr. Andayani, M.Pd. ...

(5)

commit to user

5

ABSTRAK

Fitri Wulandari, K 1207018. NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA

HIRATA DAN ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID

PRASETYO (KAJIAN INTERTEKSTUALITAS DAN NILAI

PENDIDIKAN). Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) struktur novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah; (2) persamaan dan perbedaan struktur novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah; (3) kajian intertekstualitas antara novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah; dan (4) nilai pendidikan novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan intertekstualitas yang sebelumnya didahului dengan pendekatan struktural. Sumber data adalah novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis mengalir. Teknik validitas data yang digunakan adalah trianggulasi teori. Hasil temuan penelitian dengan kajian intertekstualitas menunjukkan bahwa kedua novel tersebut: (1) struktur kedua novel terdiri atas tema, sudut pandang, penokohan, latar, alur, dan amanat; (2) persamaan struktur kedua novel tersebut berupa tema. Kedua novel mempunyai tema yang sama yakni pendidikan. Amanat, kedua novel mengamanatkan untuk berani bercita dan berusaha keras mewujudkan cita-cita tersebut. Terkait dengan alur, kedua novel menggunakan alur maju. Penokohan dalam kedua novel memiliki persamaan yakni pada teknik karakterisasi. Baik itu Laskar Pelangi maupun Orang Miskin Dilarang Sekolah karakter tokoh tidak selalu digambarkan secara gamblang dan terperinci tetapi dapat diketahui dari dialog antartokoh dan deskripsi pengarang secara langsung. Secara fisiologis, tokoh utama dalam kedua novel memiliki jenis kelamin yang sama yakni laki-laki (Ikal dan Faisal). Secara psikologis tercermin watak tokoh utama yaitu berkemauan keras. Perbedaan kedua novel terletak pada sudut pandang. Laskar pelangi menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”, sedangkan Orang Miskin Dilarang Sekolah menggunakan sudut pandang campuran. Latar cerita dalam novel Laskar Pelangi di Pulau Belitong, Sumatera Selatan, sedangkan novel Orang Miskin Dilarang Sekolah berlatar di Semarang, Jawa Tengah; (3) dari hasil kajian intertekstualitas dapat disimpulkan bahwa novel Laskar Pelangi merupakan hipogram, sedangkan novel Orang Miskin Dilarang Sekolah merupakan teks transformasi; dan (4) nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel Laskar Pelangi dan Orang Miskin Dilarang Sekolah yaitu: nilai pendidikan religius, sosial, moral, dan kebudayaan.

(6)

commit to user

MOTTO

aku ingin hidup dalam keagungan cinta,

dan cahaya keindahan, karena keduanya,

merupakan pengejawantahan tuhan,

di situlah aku hadir, hidup,

dan aku tak kan mungkin dapat diasingkan dari wilayah hidup,

karena dengan amanah yang berkumandang itu

aku akan hidup kekal di alam baka.

(Suara Sang Guru, Kahlil Gibran)

(7)

commit to user

7

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

1. Kedua orang tuaku yang senantiasa

mendoakanku

2. Kakak-kakakku, Ayuri, Iyiq, Hoho, dan

adikku Sayang yang selalu memberikan

cinta, semangat dan doa

3. Teman-temanku, Haning, Fajar, Heri,

Salmah, Rumi, Hanimun, Desinta, Yunianto,

Adi, Kejora, Mei, Ratih, Adit, Ervin

Hariningtyas untuk bantuannya selama ini

4. Teman-teman P. BASTIND 2007

(8)

commit to user

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kepada Allah S.W.T.

yang Maha Rahman dan Rahim yang telah melimpahkan rahmat dan

Karunia-Nya, sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.

Skripsi yang berjudul Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata dan Orang Miskin Dilarang Sekolah Karya Wiwid Prasetyo (Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan), disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk

mencapai derajat Sarjana Pendidikan pada Program Studi Bahasa dan Sastra

Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan atas bimbingan dan bantuan

berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah

memberikan izin penulisan skripsi ini;

2. Drs. Soeparno, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah memberikan izin penulisan skripsi kepada penulis;

3. Drs. Slamet Mulyono, M.Pd, selaku ketua Progam Studi Bahasa dan Sastra

Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan

kesempatan studi;

4. Drs. Amir Fuady, M.Hum dan Dr. Andayani, M.Pd selaku pembimbing I dan

II yang telah sabar meluangkan pemikiran dan waktunya untuk memberikan

arahan, petunjuk, dan bimbingan dalam proses penyusunan skripsi ini;

5. Para dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas

Maret Surakarta, Prof. Dr. Herman J. Waluyo., Dr. Nugraheni Eko Wardhani,

M.Hum., Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dr. Budhi Setiawan, M.Pd., yang

telah memberikan ilmu, motivasi, dan bimbingannya selama menempuh studi;

(9)

commit to user

9

6. Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd yang telah bersedia memberikan respons terhadap

novel Orang Miskin Dilarang Sekolah;

7. Mas Wiwid Prasetyo yang telah berbagi informasi mengenai karyanya;

8. Teman-teman Mahasiswa Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

2007.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan dunia

pendidikan, pembaca, dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Surakarta, Mei 2011

Penulis

(10)

commit to user

DAFTAR ISI

JUDUL ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

DAFTAR SINGKATAN BAB I PEDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR ... 7

A. Tinjauan Pustaka ... 7

1. Hakikat Novel ... 7

2. Hakikat Pendekatan Struktural ... 29

3. Hakikat Kajian Intertekstualitas ... 31

4. Hakikat Nilai Pendidikan ... 36

B. Penelitian yang Relevan ... 42

C. Kerangka Berpikir ... 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 47

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 47

B. Bentuk dan Pendekatan Penelitian ... 48

C. Sumber Data ... 48

(11)

commit to user

11

D. Teknik Sampling ... 48

E. Teknik Pengumpulan Data ... 49

F. Teknik Validitas Data ... 49

G. Teknik Analisis Data ... 49

H. Prosedur Penelitian ... 52

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN ... 53

1) Deskripsi Data ... 53

1. Struktur Novel LP dan OMDS ... 53

2. Persamaan dan perbedaan antara Novel LP dan OMDS ... 139

3. Hubungan Intertekstual antara Novel LP dan OMDS ... 159

4. Nilai Pendidikan dalam Novel LP dan OMDS ... 141

2) Pembahasan Hasil Temuan Penelitian ... 159

3) Struktur Novel LP dan OMDS ... 159

4) Persamaan dan perbedaan antara Novel LP dan OMDS ... 205

5) Hubungan Intertekstual antara Novel LP dan OMDS ... 220

6) Nilai Pendidikan dalam Novel LP dan OMDS ... 211

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 228

A. Simpulan ... 228

B. Implikasi ... 229

C. Saran ... 231

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

commit to user

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian ... 47

(13)

commit to user

13

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Kerangka Berpikir ... 46

Gambar 2. Skema Analisis Mengalir (Flow Model of Analysis) ... 51

Gambar 3. Skema Plot Novel LP Karya Andrea Hirata ... 127

Gambar 4. Skema Plot Novel OMDS Karya Wiwid Prasetyo ... 134

(14)

commit to user

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Sinopsis Novel LP ... 233

Lampiran 2. Sinopsis Novel OMDS ... 236

Lampiran 3. Profil Andrea Hirata ... 239

Lampiran 4. Profil Wiwid Prasetyo ... 245

Lampiran 5. Artikel Internet “Mengapa Harus Novel Pendidikan?” ... 272

(15)

commit to user

15

DAFTAR SINGKATAN

LP= Laskar Pelangi (Novel)

OMDS= Orang Miskin Dilarang Sekolah (Novel)

(16)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra terdiri dari berbagai jenis, salah satunya adalah novel. Burhan

Nurgiyantoro (2005: 4) menyatakan bahwa novel sebagai suatu karya fiksi yang

menawarkan suatu dunia, yaitu dunia yang berisi suatu model yang diidealkan,

dunia imajiner, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya, seperti

peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang yang bersifat imajiner.

Mengacu pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa novel sebagai sebuah dunia

hasil rekaan pengarangnya yang dibangun oleh sebuah jalinan struktur yang

ditawarkan pengarang untuk dijadikan teladan bagi pembacanya.

Jakob Sumardjo dan Saini K.M (dalam Herman J. Waluyo) menyebutkan

tujuh unsur pembangun cerita rekaan, yaitu: plot, tema, karakter, setting, point of view, gaya, dan suasana cerita (2002: 140). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan sebuah novel menjadi lebih hidup sehingga pembaca seolah merasakan kehidupan

yang digambarkan oleh pengarang dalam suatu rangkaian peristiwa. Dengan

demikian, pembaca akan terbawa ke dalam sebuah permenungan tentang

kehidupan manusia yang ditulis pengarang. Hingga akhirnya pembaca dapat

memperoleh suatu pesan dalam kehidupan nyata.

Arifin (2009) menyatakan bahwa novel pada umumnya dianggap sebagai

karya sastra yang bersifat menghibur. Selain itu, novel sebagai salah satu bentuk

karya sastra mempunyai fungsi bermanfaat. Dikatakan menghibur karena dengan

membaca novel, seseorang bisa menikmati keindahan cerita yang terkandung di

dalam novel tersebut. Novel memiliki keindahan dalam alur cerita, konflik yang

dibangun, dan hal lain yang dituangkan dalam tema yang beragam. Tema tersebut

dapat berupa percintaan, persahabatan, kritik sosial, maupun pendidikan.

Sedangkan dikatakan bermanfaat karena novel tercipta melalui permenungan

yang sungguh-sungguh. Sehingga pembaca dapat mengambil nilai-nilai yang

bermanfaat yang terkandung di berbagai novel, salah satunya novel LP.

(17)

commit to user

2

Novel LP merupakan novel perdana dari Andrea Hirata yang memiliki banyak nilai-nilai pendidikan yang dapat dipetik. Hal ini dikarenakan novel LP menyoroti dunia pendidikan yang dikemas sangat menarik dan sarat dengan nilai

kehidupan yang bermanfaat bagi pembacanya. St. Muttia A. Husain (2010) dalam

karya tulisnya menyatakan bahwa membaca novel LP juga dapat menimbulkan kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya dengan melakukan berbagai hal

untuk mengubah dan memperbaiki kehidupan. Mengacu pendapat tersebut tak

heran jika dalam waktu singkat, LP menjadi bahan pembicaraan para penggemar novel.

Berdasarkan uraian di atas, Fajar Aryanto (2009) dalam menyatakan

bahwa dalam waktu seminggu, LP mampu terjual lebih dari satu juta eksemplar sehingga termasuk dalam best seller. Pendapat tersebut sejalan dengan Sainul Hermawan yang menyatakan bahwa novel LP menjadi novel terlaris di Indonesia serta melampaui rekor Ayat-ayat Cinta dan Saman (2009: 103). Hal ini disebabkan LP menyuguhkan sebuah cerita yang dikemas sangat menarik oleh pengarangnya. Novel ini mengisahkan semangat anak-anak kampung Gantung

Kabupaten Belitong Timur yang tak mengenal menyerah dalam berjuang meraih

cita-cita. Mereka adalah sekumpulan anak yang dijuluki Laskar Pelangi yang

hidup serba kekurangan dan penuh keterbatasan. Akan tetapi, segala

keterbatasannya itu tidak sedikitpun menyurutkan niat mereka dalam belajar dan

kemauan keras merubah nasib. Isi novel LP menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah hambatan seseorang meraih kesuksesan asalkan tetap mempunyai

cita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita-cita-citanya.

Setelah kemunculan novel LP yang fenomenal ini, kontan saja dunia sastra banyak diramaikan dengan kemunculan novel-novel sejenis, yakni novel

bertemakan pendidikan. Asrori S. Karni menyatakan bahwa kisah Ikal yang

diceritakan dengan lincah oleh Andrea Hirata telah menginspirasi jutaan orang

(2008: 1). Banyak pengarang terinspirasi untuk menulis kisah-kisah sejenis,

(18)

commit to user

pengarang yang juga terinspirasi dari novel LP adalah Wiwid Prasetyo. Beberapa karya Wiwid yang sudah terbit antara lain Orang Miskin Dilarang Sekolah, Sup Tujuh Samudra, Chicken Soup Asma’ul Husna, Miskin Kok Mau Sekolah…?!, Idolaku Ya Rasulullah Saw…!, Demi Cintaku pada-Mu, Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter, The Chronicle of Kartini, dan Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu.

Salah satu karya Wiwid yang menarik adalah novel yang berjudul Orang Miskin Dilarang Sekolah (OMDS). Novel yang terbit pertama kali pada tahun 2009 ini, kini di tahun 2011 sudah mencapai cetakan keenam dan oleh Diva Press

diberikan gelar nasional best seller. Novel ini mengangkat tema yang sama dengan novel LP, yakni masalah pendidikan yang diramu dengan persahabatan, cinta, dan fenomena sosial, khususnya masalah kemiskinan. Tak kalah dengan

novel LP, novel OMDS juga sarat dengan muatan nilai pendidikan. Novel OMDS menceritakan kegigihan seorang anak yang berasal dari golongan miskin yang

berjuang untuk dapat mengenyam pendidikan. Novel OMDS mempunyai banyak kemiripan dengan novel LP. Wiwid (2010) mengaku terinspirasi setelah membaca novel LP hingga kemudian ia bertekad untuk membuat karya yang sejenis.

Kemiripan-kemiripan antara dua novel tidak hanya ditemui pada novel LP dan OMDS saja. Dalam khazanah sastra Indonesia tidak jarang ditemui banyak karya dalam berbagai genre yang mempunyai kemiripan. Hal ini bukan berarti

bahwa karya yang lahir kemudian merupakan hasil penjiplakan dari karya

sebelumnya. Pradopo (dalam B. Trisman) menyatakan bahwa kelahiran suatu

karya sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaan karya-karya satra yang

mendahuluinya yang pernah diserap oleh sang sastrawan (2003: 81). Jadi, pada

mulanya sastrawan dalam menciptakan karyanya melihat, meresapi, dan

menyerap teks-teks lain yang menarik perhatiannya, baik yang dilakukan secara

sadar maupun tidak sadar. Ia menggumuli konvensi sastranya, konvensi

estetiknya, gagasan yang tertuang dalam karya itu, kemudian

mentransformasikannya ke dalam suatu karangan, karyanya sendiri. Pengkajian

terhadap dua karya sastra atau lebih tersebut sering disebut dengan pengkajian

(19)

commit to user

4

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya ditulis,

ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Menurut A. Teeuw (dalam

Rachmat Djoko Pradopo, 1995: 126) karya sastra itu merupakan response pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Intertekstualitas merupakan salah satu sarana

pemberian makna kepada sejumlah teks, dengan cara membandingkan dan

menemukan hubungan-hubungan kebermaknaan antara teks yang ditulis lebih

dulu (hipogram) dengan teks sesudahnya (teks transformasi).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo dengan menggunakan pendekatan intertekstualitas yang diawali dengan pendekatan struktural. Untuk

mengetahui struktur yang terdapat dalam novel LP dan OMDS, peneliti perlu mengkaji unsur intrinsiknya yang berupa: tema, penokohan, latar, alur, sudut

pandang, dan amanat. Hal ini penting dilakukan sebagai langkah awal untuk

memenuhi kebutuhan makna karya sastra yang dilihat dari segi karya itu sendiri.

Dengan pendekatan struktural, karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang

otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembacanya.

Dalam penerapannya, pendekatan ini memahami karya sastra secara close reading (membaca karya sastra secara tertutup tanpa melihat pengarangnya dan berbagai

konteks di luar karya itu sendiri). Dari hasil pendekatan struktural akan terlihat

jelas struktur yang membangun novel tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan

pendekatan intertekstualitas. Dari pendekatan intertekstualitas ini akan dapat

diketahui perbandingan struktur kedua novel serta persamaan, perbedaan, nilai

pendidikan, dan hubungan intertekstualitas antara novel LP dan OMDS. Oleh karena itu penelitian ini berjudul “Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

dan Orang Miskin Dilarang Sekolah Karya Wiwid Prasetyo (Kajian

Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan

(20)

commit to user

1. Bagaimanakah struktur novel novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo?

2. Persamaan dan perbedaan apa yang terdapat dalam struktur novel LP karya Andrea Hirata dan novel OMDS karya Wiwid Prasetyo?

3. Bagaimanakah hubungan intertekstualitas antara novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo?

4. Bagaimanakah nilai pendidikan novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo?

C. Tujuan Penelitian

Bertolak dari rumusan masalah di atas, tujuan dalam penelitian ini

sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan struktur novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo.

2. Mendeskripsikan persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam struktur

novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo.

3. Mendeskripsikan hubungan intertekstualitas antara novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo.

4. Mendeskripsikan nilai pendidikan novel LP karya Andrea Hirata dan OMDS karya Wiwid Prasetyo.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kontribusi

secara teoretis dan praktis.

1. Manfaat teoretis

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi bidang

kajian sastra yakni memperkaya masalah telaah sastra khususnya pendekatan

intertekstualitas dan nilai pendidikan dalam novel.

2. Manfaat Praktis

(21)

commit to user

6

Hasil penelitian ini memberikan gambaran atau deskripsi mengenai

struktur novel LP dan OMDS. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai struktur kedua novel

sehingga dapat membantu siswa melakukan apresiasi terhadap kedua novel.

b. Bagi guru

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran teori

dan apresiasi sastra dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas

XI SMA, khususnya pada Kompetensi Dasar menjelaskan unsur-unsur

intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan.

c. Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pembanding atau

referen bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sastra dengan

permasalahan yang serupa, yaitu mengenai kajian intertekstualitas dan nilai

(22)

commit to user

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Hakikat Novel

a. Pengertian Novel

Novel merupakan jenis karya sastra yang tergolong baru. Herman J.

Waluyo (2002: 36) menyatakan “novel berasal dari bahasa latin novellas yang kemudian diturunkan menjadi novies yang berarti baru”. Perkataan baru ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa novel merupakan jenis cerita fiksi yang

muncul belakangan dibandingkan cerita pendek dan roman. Karena muncul

belakangan, novel pun juga menawarkan hal-hal yang baru yang membedakan ia

dengan roman dan cerpen. Apabila dalam roman dikisahkan sebagian besar dari

kisah hidup manusia, maka dalam novel dikisahkan beberapa episode kehidupan

manusia. Sedangkan dalam cerita pendek hanya salah satu episode kehidupan saja

yang dikisahkan. Dengan begitu jelaslah perbedaan novel dengan bentuk karya

sastra yang lain.

Henry Guntur Tarigan (1993: 164) berpendapat “novel adalah suatu cerita

dengan suatu alur yang cukup panjang, berisi satu buku atau lebih, yang

mengisahkan tentang kehidupan dan bersifat imajinatif”. Mengacu pendapat

tersebut, novel memang merupakan sebuah karya sastra yang bersifat imajinatif

yang merupakan hasil pengimajian pengarangnya. Imajinasi pengarang kemudian

dituangkan ke dalam sebuah jalinan cerita yang cukup panjang dengan banyak

detail cerita. Itulah yang disebut dengan novel.

Hal ini diperkuat lagi oleh Burhan Nurgiyantoro (2005: 4) yang

mengungkapkan “novel sebagai suatu karya fiksi yang menawarkan suatu dunia,

yaitu dunia yang berisi suatu model yang diidealkan, dunia imajiner, yang

dibandingkan melalui berbagai unsur intrinsiknya, seperti peristiwa, plot, tokoh

dan penokohan, latar, sudut pandang dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja

bersifat imajiner”. Mengacu pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa novel

sebagai sebuah dunia hasil rekaan pengarangnya, di mana ia dibangun oleh sebuah

(23)

commit to user

8

jalinan struktur yang ditawarkan pengarang untuk dijadikan teladan bagi

pembacanya.

Herman J. Waluyo (2002: 37) mengemukakan ciri-ciri yang ada dalam

sebuah novel, yaitu adanya: (a) perubahan nasib tokoh cerita; (b) ada beberapa

episode dalam kehidupan tokoh utamanya; dan (c) biasanya tokoh utama tidak

sampai mati. Senada dengan Herman J. Waluyo, Abrams (dalam Burhan

Nurgiyantoro, 2005: 11) menyatakan bahwa “novel mengemukakan sesuatu

secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan

lebih melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks”. Dalam hal ini

berarti mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel itu Mengacu dua

pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa novel memang berbeda dengan karya

sastra yang lain. Novel cenderung menitikberatkan kompleksitas yang di

dalamnya memungkinkan adanya penyajian yang panjang lebar mengenai tokoh

dan segala konflik yang dialaminya.

Sebagai suatu karya sastra, novel mengandung nilai-nilai moral yang

berguna bagi pembacanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Herman J. Waluyo

(2002: 37) “novel bukan hanya alat hiburan, tetapi juga sebagai bentuk seni, yang

mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan nilai baik buruk (moral) dalam

kehidupan ini dan mengarahkan kepada pembaca tentang pekerti yang baik dan

budi luhur”. Mengacu pendapat di atas maka novel selain menawarkan sebuah

seni atau alat hiburan, novel juga mempunyai misi untuk pembacanya yakni untuk

mendidik pembaca melalui kisah-kisah yang disuguhkan dalam novel.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa novel adalah jenis cerita fiksi yang tergolong baru, yang

menyuguhkan suatu cerita dengan suatu alur yang cukup panjang dengan

memasukkan berbagai unsur intrinsik di dalamnya, yang meliputi tema, alur,

penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat.

b. Struktur Novel

Suatu karya fiksi terwujud karena disusun dengan meramukan berbagai

unsur di dalamnya. Zulfahnur (1996: 24) menyatakan “pengorganisasian berbagai

(24)

commit to user

fiksi yang menarik dan bermakna disebut struktur fiksi”. Maka dengan kata lain

hal tersebut berlaku juga dengan novel. Novel sebagai salah satu bentuk karya

sastra juga tersusun atas sebuah struktur. Ada banyak pendapat mengenai struktur

sebuah novel.

Jakob Sumardjo dan Saini K.M (dalam Herman J. Waluyo) menyebutkan

tujuh unsur pembangun cerita rekaan, yaitu: plot, tema, karakter, setting, point of view, gaya, dan suasana cerita (2002: 140). Sementara itu Marjorie Boulton membagi cerita rekaan menjadi enam unsur, yakni: point of view, plot, character, percakapan, latar dan tempat kejadian, dan tema yang dominan (dalam Herman J.

Waluyo, 2002: 139).

Burhan Nurgiyantoro (2005: 23) mengatakan “unsur-unsur pembangun

sebuah novel secara garis besar dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur

intrinsik dan unsur ekstrinsik”. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang

membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya

sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai

jika orang membaca karya sastra. Unsur-unsur intrinsik sebuah novel adalah

unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan

antarberbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Di lain

pihak, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu,

tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya

sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang

mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi

bagian di dalamnya.

Senada dengan Burhan Nurgiyantoro, Zulfahnur juga menyatakan bahwa

sebuah karya fiksi dibangun oleh dua unsur yakni unsur ekstrinsik dan intrinsik.

Unsur ekstrinsik yang meliputi permasalahan kehidupan, falsafah, cita-cita,

ide-ide dan gagasan serta latar budaya yang menopang kisahan cerita. Sedangkan

unsur intrinsik (unsur dalam dari sebuah fiksi) terdiri atas tema dan amanat, alur,

perwatakan, sudut pandang, latar, dan gaya bahasa (1996: 24 – 25). Wahyudi

Siswanto juga membagi unsur intrinsik atas alur, tokoh, watak, penokohan, latar,

(25)

commit to user

10

(2000: 77) menambahkan “faktor ekstrinsik adalah segala faktor luar yang

melatarbelakangi penciptaan karya sastra yang meliputi tradisi dan nilai-nilai,

struktur kehidupan sosial, keyakinan dan pandangan hidup, suasana politik,

lingkungan hidup, agama dan sebagainya”. Wellek dan Warren (1990: 75 – 130)

menyebutkan adanya empat faktor ekstrinsik yang saling berkaitan dengan makna

karya sastra, yaitu biografi pengarang, psikologis, sosial budaya masyarakat, dan

filosofis.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah karya sastra

(novel) dibangun atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan

unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, meliputi tema, penokohan, latar,

sudut pandang, alur, amanat, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik merupakan faktor

luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra yang meliputi tradisi dan

nilai-nilai, struktur kehidupan sosial, keyakinan dan pandangan hidup, suasana politik,

lingkungan hidup, agama dan sebagainya. Kedua unsur ini bersama-sama

membangun sebuah struktur karya fiksi khususnya novel. Telaah struktur novel

pada penelitian ini dibatasi pada unsur-unsur yang penulis rasa cukup penting

yang berkaitan dengan kajian novel dengan menggunakan pendekatan

intertekstualitas yaitu tema, sudut pandang, penokohan, latar, alur, dan amanat.

a. Tema

Tema merupakan salah satu unsur dalam karya sastra. Panuti Sudjiman

(1984: 50) menyatakan bahwa tema adalah gagasan, ide, atau pilihan utama yang

mendasar suatu karya sastra. Sangidu (1995: 154) menyatakan “tema adalah apa

yang menjadi persoalan utama di dalam sebuah karya sastra”. Sedangkan

Zainuddin Fananie (2000: 84) menyatakan “tema adalah ide, gagasan, pandangan

hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra”. Brooks, Purser, dan

Waren (dalam Henry Guntur Tarigan) mengemukakan bahwa tema adalah

pandangan hidup yang tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai

tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu

karya sastra (1993: 125). Mengacu beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan

(26)

commit to user

Sebagai sebuah gagasan dasar, tema merupakan sesuatu yang netral, belum

ada sikap, belum ada kecenderungan untuk memihak. Oleh karena itu persoalan

apa saja dapat dijadikan tema di dalam sebuah karya sastra. Zainuddin Fananie

menyatakan bahwa karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka

tema yang diungkapkan dalam karya sastra bisa sangat beragam (2000: 84). Tema

bisa berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi, tradisi yang

terkait erat dengan masalah kehidupan. Senada dengan Zainuddin Fananie,

Herman J. Waluyo (2002: 142) juga menyatakan “tema adalah masalah hakiki

manusia, seperti misalnya cinta kasih, ketakutan, kebahagiaan, kesengsaraan,

keterbatasan, dan sebagainya”. Mengacu pendapat di atas maka dapat disimpulkan

bahwa pesoalan apa saja dapat dijadikan sebagai tema dalam sebuah karya sastra.

Di dalam sebuah cerita rekaan terdapat banyak tema. Oleh karena itu tema

dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yang berbeda tergantung dari segi

mana penggolongan itu dilakukan. Di dalam kajian teori ini, dipaparkan

jenis-jenis tema dipandang dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley. Berikut

adalah penjelasan tentang tingkatan tema menurut Shipley (dalam Burhan

Nurgiyantoro, 2005: 80 – 81) yang meliputi tema tingkat fisik, tema tingkat

organik, tema tingkat sosial, tema tingkat egois, dan tema tingkat devine.

1) Tema tingkat fisik. Tema ini lebih banyak mengarang dan ditujukan oleh

banyaknya aktivitas fisik daripada tokoh cerita bersangkutan.

2) Tema tingkat organik (kejiwaan). Tema ini menyangkut aspek kejiwaan tokoh

cerita.

3) Tema tingkat sosial (makhluk sosial). Tema ini menyangkut masalah sosial,

ekonomi, politik, budaya, perjuangan, cinta kasih, propaganda, hubungan

atasan bawahan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lain.

4) Tema tingkat egois (persona). Manusia sebagai makhluk individu senantiasa

menuntut pengakuan hak individualitas. Tema ini antara lain mengangkat

masalah martabat, egoistis, harga diri, sifat batin, misalnya jati diri atau sosok

kepribadian seseorang.

(27)

commit to user

12

pencipta alam, masalah religiusitas, atau masalah yang bersifat filosofis seperti

pandangan hidup, visi, dan keyakinan.

Selain itu, Burhan Nurgiyantoro juga menggolongkan tema dari tingkat

keutamannya, yaitu: tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna

pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Sedangkan

tema minor bersifat mendukung atau mencerminkan makna utama keseluruhan

cerita (2005: 82 – 83) Senada dengan Burhan Nurgiyantoro, Marjorie Boulton

(dalam Herman J. Waluyo) juga menyebutkan adanya tema dominan (sentral) dan

tema-tema lainnya (2002: 144). Mengacu beberapa pendapat di atas maka dapat

disimpulkan bahwa di dalam sebuah karya sastra bisa mengandung banyak tema.

Adanya beberapa tema dalam sebuah karya sastra justru akan menunjukkan

kekayaan karya sastra tersebut.

Sebagai sebuah karya imajinatif, tema dapat diungkapkan melalui berbagai

cara. Menurut Zainuddin Fananie, tema dapat diungkapkan melalui dialog

tokoh-tokohnya, melalui konflik-konflik yang dibangun, atau melalui komentar secara

tidak langsung (2000: 84). Dari pendapat Zainuddin Fananie tersebut dapat

dimakanai bahwa tema yang baik pada hakikatnya adalah tema yang tidak

diungkapkan secara langsung dan jelas. Tema bisa disamarkan sehingga

kesimpulan tentang tema yang diungkapkan pengarang harus dirumuskan sendiri

oleh pembaca.

Bertolak dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tema di dalam

sebuah karya sastra merupakan hal yang sangat penting. Tema merupakan

gagasan utama yang membangun dan membentuk sebuah cerita dalam suatu karya

sastra. Tema merupakan dasar bagi seorang pengarang untuk mengungkapkan

permasalahan dalam sebuah cerita yang dapat diungkapkan baik secara langsung

maupun tidak langsung.

b. Sudut Pandang atau Point of View

Sudut pandang atau disebut juga point of view merupakan salah satu unsur novel yang digolongkan sebagai sarana cerita. Herman J. Waluyo (2002: 184)

(28)

commit to user

mendefinisikan sudut pandang itu sebagai cara dan atau pandangan yang

dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar,

dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada

pembaca.

Sementara itu Booth (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2001: 249)

mengemukakan bahwa sudut pandang adalah teknik yang dipergunakan

pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya untuk

dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. Burhan Nurgiyantoro (2005:

250) memberikan pengertian tentang sudut pandang “sudut pandang adalah

strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk

mengemukakan gagasan dan ceritanya”. Mengacu beberapa pendapat di atas maka

dapat disimpulkan secara sederhana bahwa sudut pandang adalah cara pandang

pengarang dalam menyajikan sebuah cerita.

Pemilihan sudut pandang harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh

pengarang. Menurut Stevick (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2005: 251) “sudut

pandang mempunyai hubungan psikologis dengan pembaca”. Maksud dari

pengertian di atas bahwa pembaca membutuhkan persepsi yang jelas tentang

sudut pandang cerita. Pemahaman pembaca pada sudut pandang akan menentukan

seberapa jauh persepsi dan penghayatan, bahkan juga penilaiannya terhadap novel

yang bersangkutan

Usaha pembagian sudut pandang telah dilakukan oleh banyak pakar sastra.

Burhan Nurgiyantoro (2005: 256 – 266) membedakan sudut pandang menjadi

tiga, yaitu sudut pandang persona ketiga “Dia”, sudut pandang persona pertama

“aku”, dan sudut pandang campuran.

1) Sudut pandang persona ketiga “Dia”

Sudut pandang persona ketiga “Dia” yaitu pengisahan cerita yang

mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya “dia”, narator adalah

seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan

menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Hal ini akan mempermudah

(29)

commit to user

14

Sudut pandang ini dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu “Dia” Mahatahu dan “Dia”

terbatas (“dia” pengamat).

Dalam sudut pandang “Dia” Mahatahu, cerita dikisahkan dari sudut

pandang “dia”, namun pengarang, narator , dapat menceritakan apa saja hal-hal

yang menyangkut tokoh “dia” tersebut. Narator mampu menceritakan sesuatu baik

yang bersifat fisik, dapat diindra, maupun sesuatu yang hanya terjadi dalam hati

dan pikiran tokoh. Lebih dari itu, ia tak hanya mampu melapor dan menceritakan

kisah tentang tokoh-tokoh saja, melainkan juga dapat mengomentari dan menilai

secara bebas dengan penuh otoritas, seolah-olah tak ada satu rahasia pun rahasia

tentang tokoh yang tidak diketahuinya.

Sedangkan dalam sudut pandang “Dia” terbatas (“Dia” pengamat),

pengarang hanya melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir dan

dirasakan oleh tokoh cerita, namun hanya terbatas pada seorang tokoh saja.

Pengarang tidak “mengganggu” dengan memberikan komentar dan penilaian yang

bersifat subjektif terhadap peristiwa, tindakan, ataupun tokoh-tokoh yang

diceritakannya. Ia hanya menjadi pengamat, observer, melaporkan sesuatu yang dialami dan dijalani oleh seorang tokoh yang bertindak sebagai pusat kesadaran.

2) Sudut pandang persona pertama “aku”

Sudut pandang persona pertama “aku” yaitu pengisahan cerita yang

mempergunakan sudut pandang persona pertama, gaya “aku”. Posisi narator

adalah ikut terlibat dalam cerita, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri,

mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui, didengar, dan dirasakan,

serta sikapnya terhadap tokoh lain kepada pembaca. Pembaca menerima apa yang

diceritakan oleh si “aku”, maka pembaca hanya dapat melihat dan merasakan

secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si “aku” tersebut. Dalam

sudut pandang ini, sifat kemahatahuannya terbatas. Sudut pandang persona

pertama dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan peran dan

kedudukan si “aku” dalam cerita, yakni “aku” tokoh utama dan “aku” tokoh

(30)

commit to user 3) Sudut pandang campuran

Sudut pandang campuran yaitu penggunaan sudut pandang lebih dari satu

teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain

untuk sebuah cerita yang dituliskannya. Misalnya campuran “Aku” dan “Dia”.

Penggunaan kedua sudut pandang tersebut terjadi karena pengarang ingin

memberikan cerita secara lebih banyak kepada pembaca. Si “aku” adalah tokoh

utama protagonis, dan ini memungkinkan pengarang membeberkan berbagai

pengalaman batinnya. Namun, jangkauan si “aku” terhadap tokoh lain terbatas,

tak bersifat Mahatahu. Padahal, pembaca menginginkan informasi penting dari

tokoh-tokoh lain, atau narator yang ingin menceritakannya kepada pembaca,

terutama yang dalam kaitannya dengan tokoh “aku”. Agar hal itu dapat dilakukan,

pengarang sengaja beralih ke sudut pandang yang lain yang memungkinkan

memberinya kebebasan, dan teknik ini berupa “Dia” Mahatahu. Dengan demikian

pembaca memperoleh cerita secara detil baik dari tokoh “aku” maupun “dia”. Hal

ini juga berarti pembaca menjadi lebih tahu tentang berbagai persoalan hubungan

tokoh-tokoh tersebut daripada tokoh-tokoh itu sendiri.

Selain itu, Herman J. Waluyo (2002: 184 – 185) juga membagi sudut

pandang menjadi tiga, yaitu teknik akuan, teknik diaan, dan teknik pengarang

serba tahu.

1) Teknik akuan

Teknik akuan menempatkan pengarang sebagai orang pertama dan

menyebut pelakunya sebagai “aku”. Panuti Sudjiman menambahkan, pencerita

akuan cepat membina keakraban antarcerita dan pembaca. Namun, ada semacam

keterbatasan yang disebabkan sudut pandangnya yang bersifat sepihak (1984: 73).

Pencerita akuan secara langsung dan dengan bebas dapat menyatakan sikap,

pikiran, dan perasaannya sendiri kepada pembaca, tetapi tentang tokoh-tokoh lain

ia hanya dapat memberikan pandangan dari pihaknya sendiri. Ia tidak dapat

menduga dalam-dalam sikap dan pikiran tokoh yang lain. Sebaliknya karena ia

harus membatasi penceritaan dengan cara memandang segala sesuatu dari satu

(31)

commit to user

16

2) Teknik diaan

Teknik diaan menempatkan pengarang sebagai orang ketiga dan menyebut

pelaku utamanya sebagai “dia”.

3) Teknik pengarang serba tahu (omniscient narrative)

Teknik pengarang serba tahu menempatkan pengarang sebagai pencerita

segalanya dan memasuki sebagai peran yang bebas. Panuti Sudjiman

mengibaratkan teknik ini, seolah-olah pengarang berdiri di atas segala-galanya

dan dari tempatnya yang tinggi itu ia dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi,

bahkan dapat menembusi pikiran dan perasaan para tokoh (1984: 73 – 74).

Dengan sudut pandang ini si pencerita dapat berkomentar dan memberikan

penilaian subjektifnya terhadap apa yang dikisahkannya itu. Ketiga jenis metode

ini dapat dikombinasikan oleh pengarang dalam suatu cerita rekaan dengan tujuan

untuk membuat variasi cerita agar tidak membosankan.

Menurut Panuti Sudjiman (1984: 72) penggunaan sudut pandang yang

berbeda menghasilkan versi yang berbeda dari peristiwa atau rentetan peristiwa

yang sama, dan menyajikan rincian yang berbeda dari peristiwa yang sama. Lebih

lanjut ia mengungkapkan bahwa seorang pencerita harus menentukan sudut

pandang; ia harus menentukan dari sudut mana (atau siapa) sebaiknya cerita itu

dihidangkan. Pemilihannya itu didasarkan faktor-faktor tertentu, seperti suasana

cerita, kategori, atau jenis ceritanya, serta maksud tujuan cerita.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan

sudut pandang dalam cerita rekaan menjadi sangat penting karena akan

berpengaruh terhadap penyajian cerita. Sudut pandang difungsikan pengarang

untuk sarana penyajian tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa dalam cerita

rekaan kepada pembaca. Sudut pandang haruslah diperhitungkan kehadirannya,

bentuknya, sebab pemilihan sudut pandang akan berpengaruh terhadap penyajian

cerita.

c. Penokohan

Berbicara tentang sebuah cerita tentu tidak terlepas dari tokoh karena

tokoh merupakan unsur yang penting dalam cerita. Atar Semi (1993: 36)

(32)

commit to user

yang kehadirannya dalam sebuah fiksi amat penting dan bahkan menentukan

karena tidak mungkin ada suatu karya fiksi tanpa adanya tokoh yang diceritakan

dan tanpa adanya tokoh yang bergerak yang akhirnya membentuk alur cerita.

Dalam pembicaraan sebuah fiksi, sering dipergunakan istilah-istilah

seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan

karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama.

Menurut Burhan Nurgiyantoro istilah-istilah tersebut ada yang pengertiannya

menyaran pada tokoh cerita, dan pada “teknik” pengembangannya dalam sebuah

cerita (2005: 164 – 165). Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita.

Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti

yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang

tokoh. Penokohan dan karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan

karakter dan perwatakan, menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu

dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Jones (dalam Burhan

Nurgiyantoro, 2005: 165) menyatakan “penokohan adalah pelukisan gambaran

yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita”. Mengacu

pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah

penempatan/pelukisan/penyajian tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak

tertentu.

Watak-watak tertentu inilah yang akan menghidupkan tokoh di dalam

cerita. Herman J. Waluyo (2002: 171 – 172) menyatakan bahwa pendeskripsian

watak tokoh dengan tiga dimensi, yaitu dimensi fisik, dimensi psikis, dan dimensi

sosiologis. 1) Dimensi fisik, artinya keadaan fisik tokohnya yang meliputi: usia

(tingkat kedewasaan), jenis kelamin, keadaan tubuh (tinggi, pendek, pincang,

gagah, tampan, menarik, dan sebagainya), ciri-ciri wajah (cantik, jelek, keriput,

dan sebagainya , dan ciri khas yang spesifik; 2) Dimensi psikis dari tokoh

melukiskan latar belakang kejiwaan, kebiasaan, sifat dan karakteristiknya, seperti

misalnya mentalitas, ukuran moral, dan kecerdasan, temperamen, keinginan, dan

perasaan pribadi, serta kecakapan dan keahlian khusus; 3) Dimensi sosiologis

menunjukkan latar belakang kedudukan tokoh dalam masyarakat dan hubungan

(33)

commit to user

18

dalam masyarakat, pendidikan, pandangan hidup, kepercayaan, agama, ideologi,

aktivitas sosial, organisasi, kesenangan, suku bangsa, keturunan dan sebagainya.

Tokoh-tokoh cerita tidak begitu saja secara serta merta hadir kepada

pembaca. Mereka memerlukan sarana penyajian yang memungkinkan

kehadirannya. Ada beberapa metode penyajian watak tokoh atau metode

penokohan. Atar Semi (1993 : 39 – 40) menyampaikan ada dua macam cara

dalam memahami tokoh atau perwatakan tokoh-tokoh yang ditampilkan yaitu

secara analitik dan secara dramatik. 1) Secara analitik, yaitu pengarang langsung

menceritakan karakter tokoh-tokoh dalam cerita; 2) Secara dramatik, yaitu

pengarang tidak menceritakan secara langsung perwatakan tokoh-tokohnya, tetapi

hal itu disampaikan melalui pilihan nama tokoh, melalui penggambaran fisik

tokoh dan melalui dialog.

Senada dengan Atar Semi, Herman J. Waluyo (2002: 164) mengatakan

bahwa pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk

menampilkan tokoh-tokohnya yaitu metode analitis, metode tidak langsung, dan

metode kontekstual. (1) Metode analitis: pengarang langsung mendeskripsikan

keadaan tokoh itu dengan terinci (psikis, fisik, dan keadaan sosial); (2) Metode

tidak langsung: penokohan secara dramatik ini biasanya berkenaan dengan

penampilan fisik, hubungan dengan orang lain, cara hidup sehari-hari, dan

sebagainya. Lukisan watak tokoh dalam metode ini tidak diberikan langsung oleh

pengarang, tetapi harus disimpulkan sendiri oleh pembaca; dan (3) Metode

kontekstual: metode yang menggambarkan watak tokoh melalui konteks bahasa

atau bacaan yang digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh tersebut. Dalam

metode ini penggambaran watak digambarkan secara panjang lebar melalui

tingkah laku dari tokoh-tokohnya

Panuti Sudjiman (1984: 23 – 27) menyatakan bahwa terdapat dua cara

penyajian watak tokoh yaitu metode analitis dan metode tak langsung. 1) Metode

analitis, metode langsung, metode perian, atau metode diskursif yaitu metode di

mana pengarang dapat memaparkan saja watak tokohnya, tetapi dapat juga

menambahkan komentar tentang watak tersebut. Cara yang mekanis ini

(34)

commit to user

pembaca. Pembaca tidak dirangsang untuk membentuk gambarannya tentang si

tokoh; 2) Metode tak langsung, metode ragaan, metode dramatik yaitu metode

penyajian watak tokoh di mana pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh dari

pikiran, cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang, bahkan juga dari

penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh. Ketiga

metode ini pada umumnya dipakai bersama-sama dalam sebuah karya sastra, atau

dua di antaranya berkombinasi, kadang-kadang dengan penggunan salah satu

metode secara dominan

Zainuddin Fanani (2000: 87 – 92) juga mengungkapkan bahwa ada 2

model cara mengekspresikan karakter tokoh yang dipakai pengarang yaitu melalui

tampilan fisik dan secara tidak langsung. (a) Tampilan Fisik yakni pengarang

menguraikan gambaran fisik tokoh, termasuk di dalamnya uraian mengenai

ciri-ciri khusus yang dipunyai tokoh. Dalam hal ini, pengarang biasanya menguraikan

pula secara rinci perilaku, latar belakang, keluarga, kehidupan tokoh pada bagian

awal cerita. Model ini dalam telaah sastra sering disebut dengan istilah analitik,

yaitu tokoh-tokoh cerita sudah dideskripsikan sendiri oleh pengarang; (2)

Pengarang tidak secara langsung mendeskripsikan karakter tokohnya. Dalam

model ini, karakter dibangun melalui kebiasaan berpikir, cara pengambilan

keputusan dalam menghadapi setiap peristiwa, perjalanan karir, dan hubungannya

dengan tokoh-tokoh lain, termasuk komentar dari tokoh yang satu ke tokoh yang

lainnya.

Mengacu beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa secara

garis besar ada dua cara metode penyajian watak tokoh atau metode penokohan,

yaitu: 1) metode analitik, metode langsung, metode perian, atau metode diskursif

yaitu pengarang langsung mendeskripsikan keadaan tokoh itu dengan terperinci

(psikis, fisik, dan keadaan sosial); 2) metode dramatik, metode tak langsung,

metode ragaan yaitu pengarang tidak menceritakan secara langsung perwatakan

tokoh-tokohnya, tetapi pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh dari pikiran,

cakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang, bahkan juga dari

(35)

commit to user

20

Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat diklasifikasikan dalam

beberapa jenis. Herman J. Waluyo (2002: 167 – 168) mengklasifikasikan tokoh

menjadi beberapa macam, antara lain berdasarkan peranannya terhadap jalan

cerita, terdapat tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. 1) Tokoh protagonis,

yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada satu atau dua tokoh protagonis

utama yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai

pendukung cerita; 2) Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada

seorang tokoh utama yang menentang cerita dan beberapa figur pembantu yang

ikut menentang cerita; dan 3) Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu baik untuk

protagonis dan untuk tokoh antagonis

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2005: 176 – 194) tokoh-tokoh dalam

sebuah fiksi dapat dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan, tokoh

protagonis dan tokoh antagonis, tokoh sederhana dan tokoh bulat, tokoh statis dan

tokoh berkembang, tokoh tipikal dan tokoh netral.

a) Tokoh utama dan tokoh tambahan

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel

yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Tokoh

tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam

cerita, dan itu pun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek.

b) Tokoh protagonis dan antagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh baik yang mendatangkan simpati para

pembacanya, yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero, tokoh yang

merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita.

Penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis, atau tokoh jahat yaitu yang

menimbulkan perasaan antipati dan benci pada pembacanya.

c) Tokoh sederhana dan tokoh bulat

Tokoh sederhana, dalam bentuknya yang asli adalah tokoh yang hanya

memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja. Tokoh

sederhana boleh saja melakukan berbagai tindakan, namun semua tindakannya itu

(36)

commit to user

itu. Tokoh bulat, kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkapkan berbagai

kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya.

d) Tokoh statis dan tokoh berkembang

Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami

perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya

peristiwa-peristiwa. Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan

perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa

dan plot yang dikisahkan. Tokoh berkembang secara aktif berinteraksi dengan

lingkungan sehingga akan mempengaruhi sikap, watak dan tingkah lakunya.

e) Tokoh tipikal dan tokoh netral

Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan

individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau

kebangsaannya, atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili. Tokoh netral

merupakan tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar

merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan berinterksi dalam dunia fiksi.

Tokoh netral dihadirkan semata-mata demi cerita, atau bahkan tokoh inilah yang

sebenarnya mempunyai cerita, pelaku cerita, dan yang diceritakan. Kehadirannya

tidak berpretensi untuk mewakili atau menggambarkan sesuatu yang di luar

dirinya, seseorang yang berasal dari dunia nyata.

Berdasarkan uraian mengenai penokohan di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa penokohan merupakan faktor yang penting di dalam sebuah cerita.

Penokohan sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan,

menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu

dalam sebuah cerita. Penokohan inilah yang sebenarnya merupakan batang dari

sebuah cerita. Dalam menampilkan tokoh-tokohnya, pengarang berusaha

menjadikannya seperti hidup, yang mempunyai perasaan, memiliki etika, dan

keterikatan pada lingkungannya, sehingga menjadikan sebuah novel terasa hidup.

d. Latar atau setting

Dalam karya sastra, latar merupakan satu elemen pembentuk cerita yang

sangat penting, karena elemen tersebut akan dapat menentukan situasi umum

(37)

commit to user

22

memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas”. Mengacu pendapat tersebut,

konret dan jelas dipandang penting untuk memberikan kesan realistis kepada

pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh ada dan

terjadi. Maksud pernyataan tersebut adalah penggambaran seorang pengarang

tentang latar tempat dan waktu dimaksudkan agar pembaca dapat memahami

secara jelas tempat dan waktu terjadinya peristiwa yang digambarkan oleh

pengarang.

W. H. Hudson (dalam Herman J. Waluyo) menyatakan bahwa pada novel,

latar membentuk suasana emosional tokoh cerita, misalnya cuaca yang ada di

lingkungan tokoh memberi pengaruh terhadap perasaan tokoh cerita tersebut

(2002: 198). Ia juga menyatakan bahwa latar adalah keseluruhan lingkungan

cerita yang meliputi adat istiadat, kebiasaan dan pandangan hidup tokohnya serta

selalu berkaitan dengan waktu, tempat penceritaan, tempat terjadinya cerita,

misalnya siang, malam atau pagi, hari, bulan atau tahun, di desa, kota, atau

wilayah tertentu, di pantai, gunung, danau, sungai atau lingkungan masyarakat

tertentu dan sebagainya.

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2005: 227 – 235) “latar dalam novel

menyangkut keterangan mengenai sosial budaya, tempat dan waktu di mana

peristiwa itu terjadi”. Unsur latar dibedakan menjadi tiga unsur pokok, yaitu:

tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur tersebut, walaupun masing-masing

menawarkan permasalahan yang berbeda-beda dan dapat dibicarakan secara

sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan

yang lain.

1) Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan

sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa

tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu mungkin lokasi tertentu tanpa nama

jelas. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah

mencerminkan atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan

geografis tempat yang bersangkutan. Masing-masing tempat tentu saja memiliki

(38)

commit to user 2) Latar waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya

peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut

biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat

dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Latar waktu dalam fiksi dapat menjadi

dominan dan fungsional jika digarap secara teliti, terutama jika dihubungkan

dengan waktu sejarah. Pengangkatan unsur sejarah ke dalam karya fiksi akan

menyebabkan waktu yang diceritakan menjadi bersifat khas, tipikal, dan dapat

menjadi sangat fungsional, sehingga tak dapat diganti dengan waktu yang lain

tanpa mempengaruhi perkembangan cerita. Latar waktu menjadi amat koheren

dengan unsur cerita yang lain.

3) Latar sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku

kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.

Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup

yang cukup kompleks. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat,

tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, juga berhubungan

dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

Latar sosial memang dapat secara meyakinkan menggambarkan suasana

kedaerahan, local color, warna setempat daerah tertentu melalui kehidupan sosial masyarakat. Selain itu dapat pula berupa penggunaan bahasa daerah atau

dialek-dialek tertentu. Di samping penggunaan bahasa daerah, masalah penamaan tokoh

dalam banyak hal juga berhubungan dengan latar sosial.

Walaupun latar dimaksudkan untuk mengidentifikasi situasi yang

tergambar dalam cerita, keberadaan elemen latar hakikatnya tidaklah hanya

menyatakan di mana, kapan, dan bagaimana situasi peristiwa berlangsung.

Zainuddin Fananie berpendapat bahwa selain menyatakan di mana, kapan, dan

bagaimana situasi peristiwa berlangsung, latar berkaitan juga dengan gambaran

tradisi, karakter, perilaku sosial, dan pandangan masyarakat pada waktu cerita

ditulis (2000: 97 – 98). Mengacu pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa dari

(39)

commit to user

24

antara perilaku dan watak tokoh dengan kondisi masyarakat, situasi sosial, dan

pandangan masyarakatnya. Di samping itu, kondisi wilayah, letak geografi,

struktur sosial juga akan menentukan watak-watak atau karakter tokoh-tokoh

tertentu. Karena itu fungsi latar dalam sebuah karya tidak bisa dilepaskan dari

masalah yang lain seperti tema, tokoh, bahasa, medium sastra yang dipakai, dan

persoalan-persoalan yang muncul yang kesemuanya merupakan satu bagian yang

tidak terpisahkan. Hal ini diperkuat oleh Montaque dan Henshaw (dalam Herman

J. Waluyo) yang menyatakan tiga fungsi latar, yaitu: mempertegas watak para

pelaku, memberikan tekanan pada tema cerita, memperjelas tema yang

disampaikan (2002: 198).

Kenney (dalam Herman J. Waluyo, 2002: 198). juga menyebutkan tiga

fungsi latar, yaitu: sebagai metafora, sebagai atmosphere, dan sebagai unsur dominan yang mendukung plot dan perwatakan. 1) Sebagai metafora (setting spiritual) yang dapat dihayati pembaca setelah membaca keseluruhan dari cerita.

Setting ini mendasari waktu, tempat, watak pelaku, dan peristiwa yang terjadi; 2) Sebagai atmosphere atau kreasi, yang lebih memberi kesan dan tidak hanya memberi tekanan kepada sesuatu; 3) setting sebagai unsur yang dominan yang mendukung plot dan perwatakan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa latar atau

setting adalah keseluruhan lingkungan cerita dan peristiwa dalam suatu karya fiksi baik itu lingkungan tempat, waktu, sosial maupun segala sesuatu yang menjadi

latar belakang terjadinya peristiwa. Di mana kesemuanya mempunyai peran

tersendiri dalam mendukung struktur utuh cerita.

e. Alur atau Plot

Alur merupakan bagian penting dalam suatu fiksi. Ia adalah penghubung

suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Siti Sundari (dalam Zainuddin Fananie,

2000: 93).) memberikan batasan mengenai alur, “alur merupakan keseluruhan

rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita”. Stanton (dalam Burhan

Nurgiyantoro, 2005: 113). mengemukakan ”plot adalah cerita yang berisi urutan

kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat,

(40)

commit to user

Senada dengan Stanton, Atar Semi juga menyatakan bahwa alur adalah

struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi

fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi

(1993: 43). Alur merupakan suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang

merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik

yang terdapat di dalamnya. Alur memegang peranan penting dalam sebuah cerita

rekaan. Selain sebagai dasar bergeraknya cerita, alur yang jelas akan

mempermudah pemahaman pembaca terhadap cerita yang disajikan. Mengacu

beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa alur adalah keseluruhan

rangkaian kejadian dan tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat,

peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain

Plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan sudut

tinjauan atau kriteria tertentu. Burhan Nurgiyantoro (2005: 153 – 163)

mengemukakan pembedaan plot yang didasarkan pada tinjauan dari kriteria urutan

waktu, jumlah, kepadatan, dan isi. Berdasarkan kriteria urutan waktu, plot

dibedakan menjadi dua kategori, yaitu kronologis dan tak kronologis. Kategori

kronologis disebut sebagai plot lurus; maju; atau progresif, sedang kategori tak

kronologis disebut sebagai plot sorot balik; mundur; flash-back; atau regresif. Alur maju atau progresif, terjadi jika cerita dimulai dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa; alur mundur atau regresif atau flash back, alur ini terjadi jika dalam cerita tersebut dimulai dari akhir cerita atau tengah cerita kemudian

menuju awal cerita.

Istilah plot tunggal dan subplot digunakan untuk menilik plot berdasarkan

kriteria jumlah. Karya fiksi yang berplot tunggal biasanya mengembangkan

sebuah cerita dengan menampilkan seorang tokoh utama protagonis sebagai hero.

Namun sebuah fiksi dapat saja memiliki lebih dari satu alur cerita yang

dikisahkan, atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan

hidupnya, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Alur semacam itu

menandakan adanya sub-subplot.

Burhan Nurgiyantoro (2005: 160) juga membagi alur berdasarkan

Gambar

Tabel 1. Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian ................................................
Gambar 1. Kerangka Berpikir .........................................................................
Gambar 1: Kerangka Berpikir
Tabel 2: Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian commit to user
+5

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana bentuk gaya bahasa metafora yang dipakai dalam novel Laskar. Pelangi karya

(3) Analisis intertekstualitas menemukan bahwa (a) teks LP sebagai hipogram, sedangkan teks 5B sebagai transformasi dan (b) nilai-nilai pendidikan yang ditransformasikan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalimat atau wacana yang mengandung hubungan intertekstualitas nilai pendidikan pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan 5

diri sastrawan seperti kapan, dan di mana dia dilahirkan, pendididkan sastrawan, agama, latar belakang sosial budayanya, juga pandangan kelompok sosialnya. Pendekatan

Adapun data penelitian ini berupa kutipan pernyataan atau kalimat-kalimat yang mengandung nilai moral yang terdapat dalam novel tetralogi Laskar Pelangi karya

Uraian di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan termasuk ke dalam kelas sosial atas atau menempati kedudukan yang tinggi,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, ditemukan 76 kalimat yang mengandung metafora dan 87 metafora yang terdapat dalam kalimat: 1 analisis

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Orang Miskin dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo.. Metode yang digunakan