TINGKAT ASERTIVITAS PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI BULLYING DAN IMPLIKASINYA BAGI BIMBINGAN DAN
KONSELING
(Studi Deskriptif pada peserta didik kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
oleh
NADIYA TRIANI NIM 1001444
DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
TINGKAT ASERTIVITAS PESERTA DIDIK YANG
MENGALAMI BULLYING DAN IMPLIKASINYA BAGI
BIMBINGAN DAN KONSELING
(Studi Deskriptif pada Peserta Didik Kelas VII dan VIII
SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
oleh Nadiya Triani
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan
Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
© Nadiya Triani 2015 Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2015
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
NADIYA TRIANI
TINGKAT ASERTIVITAS PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI
BULLYING DAN IMPLIKASINYA BAGI BIMBINGAN DAN KONSELING
(Studi Deskriptif pada Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)
disetujui dan disahkan oleh pembimbing:
Pembimbing I
Dra. Hj. S. W. Indrawati, M.Pd., Psi. NIP 195010101980021001
Pembimbing II
Dra. Hj. Aas Saomah, M.Si. NIP 196103171987031002
Mengetahui
Ketua Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
ABSTRAK
Nadiya Triani (2015). Tingkat Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami Bullying dan Implikasinya Bagi Bimbingan dan Konseling (Penelitian Deskriptif di Kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perilaku bullying di lingkungan sekolah yang berdampak pada kegagalan peserta didik mengembangkan diri dan membangun hubungan interpersonal dengan teman sebaya, sehingga membuat peserta didik memperlihatkan perilaku phobia sekolah dengan menolak untuk datang ke sekolah. Penelitian ini bertujuan agar diperolehnya gambaran tingkat asertivitas peserta didik kelas VII dan VIII yang mengalami bullying. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan menyebarkan instrumen kepada peserta didik. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket tingkat asertivitas peserta didik. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII dan VII SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang diambil dengan teknik purposive sampling, sejumlah 208 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistika deskriptif untuk mengetahui gambaran umum tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying menggunakan Microsoft Excel 2010. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan: (1) Gambaran tingkat asertivitas peserta didik kelas VII dan VIII SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang mengalami bullying menunjukkan sudah berada pada kategori tinggi (2) Secara umum kemampuan yang telah dicapai oleh peserta didik adalah kemampuan berkomunikasi secara verbal yang mengandung pesan dan kemampuan menyampaikan pemikirannya secara langsung dan tegas (3) Aspek yang memiliki tingkat pencapaian paling rendah adalah kemampuan berkomunikasi secara non verbal yang mengandung pesan dan kemampuan untuk diterima di lingkungan sosial.
ABSTRACT
Nadiya Triani (2015). Assertion Level of Students Who Got Bullied and the Implication for Guidance and Counseling (Descriptive Research on Grade VII and VIII SMPN 29 Bandung Class of 2014/2015)
This research is based on the rise of bullying in the school environment which resulted students’ failure to developing themselves and developing interpersonal relationship with another peer, that make students showing school-phobic behavior with refusing to go to school. The last research showing that there is connection between assertive behavior and tendency to be a bullying victim. The purpose of this research is to get an overview about assertion level of students (VII & VIII grader) who got bullied. This research using descriptive-quantitative method with distributed questionnaire to the students. The questionnaire in this research is about assertion level of students who got bullied. The subject of this research is students VII & VIII grader SMPN 29 Bandung class of 2014/2015 which selected by purposive sampling technique, that only students who got bullied.Statystical hypothesistesting using descriptive statystic for revealing an overview of assertion level of the tudents who got bullied using Microsoft Excel 2010. The result of this research showing: (1) The overview of assertion level of students who got bullied is showing on high level (2) Commonly, the ability that has been reached by the students is effective verbal communication and ability to present their ideas directly and firmly (3) The lowest aspect that they achieved is effective nonverbal communication and ability of being accepted in the society.
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... iii
UCAPAN TERIMA KASIH... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR... xii
DAFTAR BAGAN... xiii
DAFTAR GRAFIK... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian... 1
1.2.Rumusan Masalah Penelitian... 4
1.3.Tujuan Penelitian... 4
1.4.Manfaat Penelitian... 5
1.5.StrukturOrganisasi Skripsi... 5
BAB II TINGKAT ASERTIVITAS PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI BULLYING DAN IMPLIKASINYA BAGI BIMBINGAN DAN KONSELING 2.1.Asertivitas... 6
2.1.1. Pengertian Asertivitas... 6
2.1.2. Perbedaan Perilaku Asertif dan Perilaku Lainnya... 7
2.1.3. Aspek Perilaku Asertif... 8
2.1.4. Komponen Perilaku Asertif... 11
2.1.5. Faktor yang Memperngaruhi Perilaku Asertif... 13
2.2.Bullying... 14
2.2.1. Pengertian Bullying... 14
2.2.2. Bentuk Perilaku Bullying... 15
2.2.3. Karakteristik Pelaku Bullying... 17
2.2.4. Karakteristik Korban Bullying... 18
2.2.5. Faktor Penyebab Perilaku Bullying... 20
2.2.6. Dampak Perilaku Bullying... 23 2.3.Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya untuk
Meningkatkan Asertivitas Peserta didik Korban Bullying...
2.3.1. Konsep Bimbingan dan Konseling... 24
2.3.2. Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Meningkatkan Asertivitas Peserta didik Korban Bullying... 26
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Populasi dan Sampel... 27
3.2.Pendekatan dan Metode Penelitian... 27
3.2.1. Pendekatan Penelitian... 29
3.2.2. Metode Penelitian... 29
3.3.Definisi Operasional Variabel... 29
3.3.1. Asertivitas... 29
3.3.2. Bullying... 31
3.4.Pengembangan Instrumen Penelitian... 32
3.4.1. Jenis Instrumen... 32
3.4.2. Pengembangan Kisi-Kisi Instrumen... 32
3.4.3. Pedoman Penyekoran (Scoring)... 35
3.4.4. Uji Coba Alat Pengumpul Data... 35
3.4.4.1. Uji Kelayakan Instrumen... 35
3.4.4.2. Uji Keterbacaan... 36
3.4.5. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen... 36
3.4.5.1. Uji Validitas Item... 36
3.4.5.2. Uji Reliabilitas Item... 38
3.5.Teknik Pengumpulan Data... 39
3.6.Teknik Analisis Data... 39
3.6.1. Verifikasi Data... 39
3.6.2. Pengelompokan dan Penafsiran Data Tingkat Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami Bullying... 39
3.7.Prosedur Penelitian... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Temuan... 41
4.1.1. Gambaran Umum Tingkat Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami Bullying Kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015...
41 4.1.2. Gambaran Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami
Bullying Berdasarkan Aspek dan Indikator Asertivitas
Peserta Didik Kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015...
4.2. Pembahasan... 60
4.2.1. Gambaran Umum Asertivitas Peserta Didik Korban Bullying Kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015... 60 4.2.2. Rancangan Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Mengembangkan Asertivitas Peserta Didik Korban Bullying Kelas VII dan VIII SMP Negeri 29 Bandung... 70 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1. Kesimpulan ... 72
5.2. Rekomendasi ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 74
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Penelitian
Maraknya pemberitaan-pemberitaan di media cetak, maupun elektronik mengenai aksi bullying di lingkungan sekolah menjadi bukti bahwa disadari atau tidak, aturan tentang bullying di sekolah masih terabaikan. Tindakan bullying bertentangan dengan UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yang di dalam pasal 54 menyebutkan jika sekolah harus menjadi zona anti kekerasan. Namun kenyataannya, aksi yang tidak terpuji tersebut masih terjadi.
Menilik kepada beberapa fenomena yang terjadi diantaranya, kasus yang terjadi di Jakarta yang dilansir oleh Tempo Online, Kamis (26/7/2012). Kasus ini terjadi saat masa orientasi Peserta didik SMA Don Bosco yang melenceng dari aturan. Dalam hal ini memasukkan unsur bullying fisik, mengakibatkan peserta didik baru tersebut mengalami luka berat dan trauma lalu menolak untuk pergi ke sekolah karena ketakutan bertemu senior yang mem-bullynya. Bahkan kasus lain yang dilansir oleh Republika Online edisi Selasa, 29 November 2011 di Klaten, belasan peserta didik SDN 1 Tumpukan, mogok sekolah karena takut di-bully rekannya, sehingga melakukan aksi mogok sekolah (Republika Online, 2011). Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis di SMPN 29 Bandung, terdapat beberapa peserta didik kelas VII yang mogok sekolah disebabkan oleh tindakan-tindakan kekerasan yang bersifat mengancam dari teman satu kelasnya. Perilaku
bullying tersebut begitu berpengaruh terhadap tindakan peserta didik dan
menghambat peserta didik dalam belajar, khususnya keterampilan problem
solving yang tepat dalam merespon suatu kondisi. Terbukti banyak Peserta didik
berkembang, bahkan negara maju pun masih mengalami masalah yang serupa sehingga masalah ini merupakan masalah global atau mendunia.
Menurut Tattum (dalam Rigby, 2007, hlm. 72) bullying adalah keinginan untuk menyakiti dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan, yaitu orang yang lebih kuat menjadikan orang yang tidak memiliki kekuatan sebagai korbannya dan perlakuan ini terjadi berulang-ulang secara tidak adil. Praktek bullying ini merupakan salah satu dari banyaknya isu di dunia pendidikan yang permasalahannya tak kunjung reda. Sekolah yang semestinya memberikan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik malah menjadi tempat tumbuhnya praktik-praktik kekerasan. Karena bullying ini merupakan suatu tindakan yang merugikan, tentunya efek negatifnya tak bisa dihindari. Apalagi jika bullying dilakukan dengan emosi dan kecewa terhadap korban, dan bukan bersifat candaan. Bullying ini akan berakibat kepada ketidakmampuan peserta didik yang menjadi korban untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dengan teman sebayanya. Slavin (2011, hlm. 182) mengemukakan bahwa ketidakmampuan mempertahankan atau membina hubungan interpersonal ini disebabkan oleh tidak adanya penerimaan sosial dari lingkungan di sekitarnya. Hal ini menyebabkan peserta didik memiliki perilaku menarik diri, dan rendah harga diri. Beberapa peserta didik bahkan sampai memperlihatkan phobia sekolah dengan menolak untuk datang ke sekolah atau melarikan diri dari sekolah.
mereka di sekolah. Salah satu penyebab ketidakberhasilan pengembangan diri dan emosi peserta didik adalah maraknya fenomena bullying.
Perilaku asertif menurut Alberti & Emmons (2002, hlm. 12) merupakan suatu bentuk pola interaksi manusia berupa perilaku menegaskan diri sendiri yang positif yang mengutamakan kepuasan hidup pribadi namun juga tetap meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain. Individu yang bersikap asertif adalah individu yang tegas menyatakan perasaan mereka, meminta apa
yang mereka inginkan, dan mampu mengatakan “tidak” tentang suatu hal. Individu tersebut bertindak dengan tegas. Sebagaimana yang dikemukakan Lloyd (1991, hlm 34), perilaku asertif adalah perilaku yang bersifat aktif, langsung, dan jujur. Perilaku asertif mampu mengkomunikasikan kesan respek kepada diri sendiri dan orang lain sehingga dapat memandang keinginan, kebutuhan, dan hak kita sama dengan keinginan, kebutuhan, dan hak orang lain, atau bisa diartikan juga sebagai gaya wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur, dan penuh dengan respek saat berinteraksi dengan orang lain.
Penelitian dari Christina tahun 2011 menjelaskan bahwa perilaku bullying memberikan banyak dampak negatif yaitu memperburuk penyesuaian sosial, phobia sekolah, dan mengurangi kepercayaan diri. Dari hasil penelitian yang dipaparkan oleh Hikmatunnisa pada peserta didik kelas VIII di SMP Pasundan 3 Bandung pada tahun 2011 menjelaskan bahwa sebenarnya self-esteem peserta didik korban bullying berada pada kategori tinggi, namun tidak pada seluruh aspek. Novalia dan Dayakisni melalui penelitiannya tahun 2013 mengemukakan bahwa ada hubungan antara perilaku asertif dengan kecenderungan menjadi korban
bullying, karena dengan mereka berperilaku asertif, mereka akan mampu mengatakan
terdahulu mengungkapkan terdapat hubungan yang signifikan antara korban bullying dan tingkat asertivitas yang dimiliki peserta didik tersebut.
Peserta didik yang memiliki asertivitas yang rendah memilki banyak ketakutan irasional yang meliputi sikap cemas dan tidak mampu mempertahankan hak-hak pribadinya, sama halnya dengan peserta didik korban bullying yang tidak mampu menunjukkan perasaan untuk melawan dan membela hak-haknya karena takut si pelaku semakin mem-bully dirinya. Dari hasil penelitian Nilia pada Peserta didik kelas VII SMPN 1 Jatigede tahun 2010 juga menjelaskan bahwa meskipun sebagian besar peserta didik sudah mampu bersikap asertif terhadap bullying, tetapi sebagian lainnya masih ada yang kurang mampu bersikap asertif terhadap
bullying, sehingga masih memerlukan dukungan dan bimbingan dari berbagai
pihak.
Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana tingkat asertivitas peserta didik yang pernah mengalami
bullying pada populasi dan lingkungan yang berbeda. Hal tersebut Penulis tuangkan dalam judul penelitian: “Tingkat Asertivitas Peserta didik yang Mengalami Bullying dan Implikasinya Bagi Bimbingan dan Konseling”.
1.2.Rumusan Masalah Penelitian
Seperti yang telah diuraikan dalam beberapa fenomena di atas, perilaku asertif berkaitan erat dengan banyaknya permasalahan bullying yang muncul di sekolah. Dengan demikian dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana tingkat asertivitas peserta didik yang pernah mengalami bullying. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang dijabarkan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1) Bagaimanakah gambaran umum tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015?
3) Bagaimanakah implikasi dari gambaran umum tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 bagi bimbingan dan konseling?
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai tingkat asertivitas yang dimiliki oleh remaja yang mengalami bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 sehingga dapat ditemukan implikasinya bagi bimbingan dan konseling, dan dijabarkan sebagai berikut:
1) Gambaran objektif tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami
bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015
2) Gambaran objektif tingkat asertivitas peserta didik per aspek yang mengalami bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015
3) Implikasi gambaran umum tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 bagi bimbingan dan konseling berupa rumusan rancangan pelaksanaan layanan BK bagi peserta didik yang memiliki tingkat asertivitas rendah
1.4.Manfaat Penelitian
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Memberikan masukan informasi kepada pihak sekolah tentang gambaran tingkat asertivitas peserta didik yang menjadi korban bullying
2) Memberikan masukan kepada pihak bimbingan dan konseling, dalam rangka pengembangan program bimbingan dan konseling khususnya dalam meningkatkan asertivitas peserta didik yang menjadi korban bullying.
3) Memperluas bidang kajian dasar konseptual dalam rangka pemahaman individu.
Struktur penulisan skripsi mengenai Tingkat Asertivitas Peserta didik
yang Mengalami Bullying dan Implikasinya Bagi Bimbingan dan Konseling
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2004 hlm. 55). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII dan VIII di SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang terletak di Jalan Geger Arum no. 11A Kecamatan Sukasari Bandung sebanyak delapan belas kelas dengan jumlah keseluruhan siswa 696 dengan rincian yang dijabarkan dalam tabel 3.1 berikut. Penetapan populasi di kelas VII dan VIII didasari asumsi bahwa siswa kelas VII dan VIII adalah yang paling banyak menerima tindakan bullying.
Tabel 3.1
Jumlah Siswa Kelas VII dan VIII SMPN 29 Bandung
Tahun Ajaran 2014/2015
KELAS Jumlah Siswa
VII-A 39
VII-B 38
VII-C 39
VII-D 39
VII-E 39
VII-F 39
VII-G 39
VII-H 38
VII-I 38
VIII-A 39
VIII-B 38
VIII-C 39
VIII-D 39
VIII-E 39
VIII-F 39
VIII-G 39
VIII-H 38
VIII-I 38
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2004 hlm. 56). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik penentuan sampel degan pertimbangan tertentu. Dalam hal ini siswa yang dijadikan sampel penelitian yaitu hanya siswa yang menjadi korban bullying di sekolah.
Pengambilan sampel dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap pertama yang dilakukan adalah melakukan studi pendahuluan. Dalam studi pendahuluan disebarkan angket yang berisi 50 pertanyaan tentang perilaku
bullying yang banyak terjadi di sekolah dengan menggunakan empat alternatif
jawaban, yaitu “Tidak Pernah”, “Jarang”, “Sering”, dan “Selalu”. Setelah dilakukan pengolahan data dari angket pendahuluan didapatkan jumlah siswa korban bullying yang akan menjadi sampel penelitian yang dijabarkan dalam tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2
Jumlah Sampel Penelitian Kelas VII SMPN 29 Bandung
Tahun Ajaran 2014/2015
KELAS Jumlah Siswa
3.2.Pendekatan dan Metode Penelitian
3.2.1. Pendekatan Penelitian
Penelitian diakukan dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dan pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan angka-angka secara numerikal yang digunakan dalam mengungkap tingkat asertivitas siswa korban bullying.
3.2.2. Metode Penelitian
Metode yang dipergunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif, yaitu suatu metode untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang suatu permasalahan yang terjadi dengan cara mengolah, menganalisis, menafsirkan, dan menyimpulkan data hasil penelitian. Metode deskriptif digunakan karena bermaksud mendeskripsikan, menganalisis dan mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam mengenai tingkat asertivitas siswa korban bullying.
3.3.Definisi Operasional Variabel
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu Asertivitas dan perilaku Bullying.
3.3.1. Asertivitas
Asertivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa korban bullying di SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 untuk berperilaku tepat dalam mempertahankan hak-hak pribadi dan mengungkapkan segala bentuk pikiran, perasaan, keinginan, dan keyakinan dengan jujur dan tidak merugikan pihak lain.
Aspek-aspek perilaku asertif dalam kunci pokok perilaku asertif adalah sebagai berikut:
a. Mengekspresikan diri secara penuh
b. Menghormati kepentingan orang lain
Individu asertif dapat menerima keadaan orang lain dengan terbuka tanpa harus memaksakan kehendak kepada orang lain dan tetap menunjukan rasa hormat akan pendapat orang lain.
c. Langsung dan tegas
Individu asertif mampu untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara langsung tanpa perantara orang lain dan mampu menyatakan keinginan dan sesuatu yang tidak diinginkannya dengan tegas tanpa cemas atau khawatir.
d. Jujur dan terbuka mengatakan kebutuhan perasaan dan pikiran apa adanya Individu asertif mampu mengatakan perasaan dan pikirannya apa adanya dan selalu melakukan tindakan dengan jujur dan terbuka tanpa merasa takut dan malu.
e. Menempatkan orang lain secara setara dalam suatu hubungan
Individu yang asertif dapat menempatkan orang lain setara dengan dirinya tanpa merendahkan orang lain dalam suatu hubungan.
f. Komunikasi verbal yang mengandung isi pesan (perasaan, fakta, pendapat, permintaan, batasan-batasan)
Individu asertif mampu mengekspresikan dirinya melalui perkataan yang diucapkan dan mengandung pesan yang dapat dimengerti oleh lawan komunikasinya. Pesan tersebut dapat berupa perasaan secara jujur, fakta yang terjadi, dan pengungkapan kebutuhan. Individu asertif selalu mempertimbangkan isi kalimat sehingga tidak membuat lawan bicara menjadi terancam.
g. Komunikasi non-verbal yang mengandung bentuk pesan (kontak mata, suara, postur, ekpresi, wajah, gerak tubuh, jarak fisik, waktu, kelancaran bicara, mendengarkan).
gerak tubuhnya, jarak fisik dengan lawan bicaranya sekaligus menjadi pendengar yang baik.
h. Dapat diterima secara sosial
Individu asertif adalah individu yang fleksibel yang dapat mengekspresikan diri, berkomunikasi, dan menyesuaikan diri dengan keadaan kondisi lawan bicaranya. Serta menghormati orang lain sehingga dapat diterima oleh lingkungan sosial misalnya keluarga, teman, sahabat dan masyarakat pada umumnya.
(Alberti & Emmons, 1995)
3.3.2. Perilaku Bullying
Bullying dalam penelitian adalah suatu perilaku atau tindakan yang
dilakukan oleh teman sebaya atau kakak kelas yang dipersepsi oleh siswa menggunakan unsur kekerasan baik secara fisik, verbal maupun secara relasional. Terdapat tiga jenis bullying yaitu:
a. Bullying fisik, yakni perilaku bullying yang melibatkan penggunaan
kekerasan fisik oleh pelaku yang sengaja dilakukan untuk menyakiti atau mengintimidasi korbannya. Contohnya menendang, menampar, meludahi, memukul, atau memalak anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, merusak serta menghancurkan barang-barang milik anak yang tertindas.
b. Bullying verbal, yakni perilaku bullying dengan menggunakan lisan atau
katakata sebagai senjata pelaku, biasanya berupa julukan nama, kritik kejam, ejekan atau penghinaan (baik yang bersifat pribadi maupun rasial), gosip dan lain sebagainya. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman, dan lain-lain. c. Bullying relasional, upaya-upaya untuk melemahkan harga diri si korban
(Coloroso, 2006)
3.4.Pengembangan Instrumen Penelitian
3.4.1. Jenis Instrumen
Pada penelitian, penulis menggunakan data primer yang diambil dari alat ukur berupa kuesioner, yang digunakan sebagai alat pengumpul data dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien untuk mengetahui apa yang diharapkan dari responden (Sugiyono, 2010 hlm. 142). Tipe kuesioner yang digunakan adalah Self-Administrated Questionnaire, yaitu kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Terdapat dua alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data subjek penelitian, yang pertama yaitu alat ukur pengalaman perilaku bullying yang digunakan dalam studi pendahuluan untuk mendapatkan sampel siswa korban bullying, yang kedua yaitu alat ukur asertivitas siswa.
3.4.2. Pengembangan Kisi-kisi Instrumen
Penelitian mengenai tingkat asertivitas siswa korban bullying ini
menggunakan data primer yang diambil dari alat ukur berupa angket yang digunakan sebagai alat pengumpul data sekaligus alat ukur untuk mencapai tujuan penelitian.
Tabel 3.3
Kisi-Kisi Instrumen
Pengungkap Data Siswa Korban Perilaku Bullying
(Rahayu, 2011)
Aspek Indikator Sub Indikator Item
Penindasan Fisik Ditendang 1, 2, 3
Ditampar 4, 5
Diludahi 6, 7, 8
Dipukul 9,10
Dipalak 15,16
Barang kepunyaan dirusak/dihancurkan 11, 12,
13, 14 Penindasan
Verbal
Diberi julukan nama 17, 18
Dikritik dengan kejam 19, 20,
21 Diberi ejekan/hinaan yang bersifat pribadi 22, 23 Diberi ejekan/hinaan yang bersifat rasial 24, 25
Digosipkan 25, 26,
27
Dirampas/ diancam 28, 29
Ditelepon dengan kasar 30, 31,
32 Dikirimi email/pesan singkat yang
mengintimidasi
33, 34, 35 Dikirimi surat kaleng yang berisi ancaman 36, 37 Penindasan
Relasional
Diabaikan 38, 39,
40
Dikucilkan Pandangan yang
agresif Mendapatkan pengecualian/penghinaan Cibiran
Sementara untuk kisi-kisi instrumen yang digunakan untuk mengungkap tingkat asertivitas yang dimiliki siswa korban bullying dikembangkan dari teori yang dikemukakan oleh Alberti & Emmons (1995) yang dijabarkan dalam definisi operasional variabel penelitian dan disajikan dalam tabel 3.4. Kuesioner tingkat asertivitas siswa korban bullying ini menggunakan skala yang secara tegas memberikan pernyataan atau pilihan jawaban yaitu “Ya” atau “Tidak”. Skala ini digunakan jika ingin mendapatkan jawaban yang jelas terhadap permasalahan yang dipertanyakan.
Tabel 3.4
Kisi-Kisi Instrumen
Pengungkap Data Tingkat Asertivitas Siswa Korban Bullying
Aspek Indikator Item Total
Mengekspresikan diri secara penuh
Dapat mengekspresikan diri tanpa takut akan tekanan
1, 2, 3, 4
4 Dapat mengkomunikasikan keinginan,
perasaan, dan pikiran tanpa takut tekanan
5, 6, 7, 8
4 Menghormati
kepentingan orang lain
Dapat menerima keadaan orang lain dengan terbuka tanpa memaksakan kehendak
9, 10, 11, 12
4 Dapat menunjukkan rasa hormat akan
pendapat orang lain secara langung tanpa perantara orang lain
17, 18, 19
3 Mampu menyatakan keinginan dan
ketidakinginan dengan tegas
20, 21, 22, 23 4 Jujur dan terbuka Mampu mengatakan perasaan secara jujur
dan apa adanya
24, 25, 26, 27 4 Mampu mengungkapkan pikiran secara
jujur dan terbuka
Mampu menempatkan dirinya setara dengan orang lain
31, 32, 33
3 Mampu untuk tidak memandang rendah
orang lain
Mampu mengekspresikan diri melalui perkataan yang dapat dimengerti lawan bicara
37, 38, 39
yang diucapkan sehingga tidak terdengar
Mampu menatap lawan bicara ketika berkomunikasi
43, 44, 45
3 Mampu berbicara dengan intonasi suara
yang tepat, tidak terlalu lantang dan tidak terlalu lirih
46, 47, 48
3 Mampu mengatur kelancaran berbicara
sehingga tidak terdengar gugup
49, 50, 51
3 Mampu menjaga keseimbangan postur dan
gerak tubuh dengan lawan bicaranya.
52,53, 54
3 Mampu menjadi pendengar yang baik bagi
lawan bicara
55, 56, 57
3 Dapat diterima
secara sosial
Mampu memposisikan dan menyesuaikan diri sesuai keadaan dan kondisi
58, 59, 60, 61,
62 5
Mampu menyesuaikan cara
berkomunikasi sesuai keadaan dan kondisi lawan bicara
63, 64, 65
3
TOTAL 65
Instrumen yang terlah dibuat kemudian di-judgement oleh tiga orang pakar/ahli yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan instrumen tersebut dari segi bahasa, isi, dan konstruk dari setiap item pernyataan. Hasil judgement dari ketiga ahli tersebut menghasilkan sebuah pertimbangkan yang akhirnya menjadikan instrumen layak digunakan dalam penelitian dan dijadikan landasan dalam penyempurnaan alat pengumpul data yang telah dibuat.
3.4.3. Pedoman Penyekoran (Scoring)
Instrumen tingkat asertivitas siswa korban bullying menggunakan skala “Ya” dan “Tidak” yang setiap itemnya diasumsikan memiliki bobot nilai 1 untuk pilihan jawaban Ya dan bobot nilai 0 untuk setiap pilihan jawaban “Tidak”. Kriteria penyekoran instrumen ini dijabarkan dalam tabel 3.3 sebagai berikut:
Tabel 3.5
Kriteria Penyekoran Istrumen
Tingkat Asertivitas Peserta Didik Korban Bullying
Pernyataan Skor Alternatif Respon
Ya Tidak
Positif (+) 1 0
Negatif (-) 0 1
3.4.4.1. Uji Kelayakan Instrumen
Sebelum pelaksanaan uji coba instrumen, instrumen tingkat asertivitas peserta didik yang telah disusun ditimbang kelayakannya terlebih dahulu oleh pakar, dalam hal ini 3 dosen departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP UPI, yaitu bpk. Dr. Amin Budiamin, M. Pd., ibu Dr. Ipah Saripah, M. Pd., dan bpk. Nandang Budiman, S. Pd., M. Si. Kegunaan dari penimbangan kelayakan ini adalah untuk melihat kesesuaian antara rumusan pertanyaan dan indikator yang diukur oleh butir pernyatan berdasarkan variabelnya. Selain itu, penimbangan juga bertujuan untuk menimbang instrumen yang akan digunakan dari segi bahasa, konstruk, maupun isi. Selanjutnya, hasil penimbangan terhadap isntrumen tesebut dapat dijadikan acuan dalam menyempurnakan instrumen asertivitas peserta didik yang telah disusun.
Merujuk pada hasil penimbangan pertama, kedua, dan ketiga hampir seluruh item pada instrumen asertivitas peserta didik termasuk memadai. Hanya 4 item yang harus dibuang dari total 65 item, yang disajikan dalam tabel berikut. Terdapat juga beberapa saran perbaikan dari penimbang mengenai redaksi pernyataan yang harus lebih kontekstual dan efektif.
Tabel 3.6
Hasil Uji Kelayakan Item
KESIMPULAN ITEM JUMLAH
Memadai 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 29, 30, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 43, 45, 46, 47, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65
61
Tidak Memadai 13, 33, 44, 48 4
3.4.4.2.Uji Keterbacaan Item
instrumen oleh responden peserta didik kelas VIII sebelum digunakan dalam penelitian. Hasil uji keterbacaan oleh tiga orang peserta didik menunjukkan bahwa seluruh item daat dipahami dengan baik.
3.4.5. Uji Validitas dan Reliabilitas
3.4.5.1.Uji Validitas Item
Uji validitas berkenaan dengan tingkat ketepatan dari masing-masing item dalam instrumen. Untuk menguji validitas butir pertanyaan dalam instrumen dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi biserial titik (point biserial). Korelasi biserial titik merupakan salah satu bentuk korelasi dari Pearson yang digunakan dalam situasi khusus, yaitu mengkorelasikan satu ubah prediktor yang bersifat dikhotomis (biner atau binomial) dengan salah satu peubah kriteia yang berskala interval atau rasio (Furqon, 2008 hlm. 107). Pengujian validitas dilakukan dengan batuan pengolahan data statistik menggunakan program
Microsoft Excel 2010.
Adapun langkah uji validitas instrumen adalah dengan menghitung koefisiwen korelasi skor setiap butir item dengan rumus Korelasi Biserial Titik, yaitu:
√
(Furqon, 2008, hlm. 108) Keterangan:
rpbis = koefisien korelasi biserial titik
Mp = rata-rata kelompok p (kelompok kesatu) Mt = rata-rata seluruh subjek
St = simpangan baku untuk seluruh subjek p = proporsi subjek kelompok satu
q = proporsi subjek kelompok dua
item, maka dilanjutkan pada langkah membandingkan besar nilai thitung dengan ttabel dengan kriteria sebagai berikut.
Jika thitung > ttabel maka item tersebut valid, dan Jika thitung < ttabel maka item tersebut tidak valid.
Untuk menentukan skor thitung (milai signifikansi), maka digunakan rumus sebegai berikut.
√ √ Keterangan:
t = harga thitung untuk signifikansi r = koefisien korelasi
n = banyaknya sampel
Perhitungan validitas butir item menggunakan bantuan perhitungan program
Microsotf Excel 2010 dan dari 61 butir pertanyaan didapatkan hasil sebanyak 46
butir item yang valid dan 15 butir item yang tidak valid, yang disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 3.7
Hasil Uji Validitas Item
KESIMPULAN ITEM JUMLAH
Valid 2, 3, 6, 7, 10, 11, 12, 15, 16, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 31, 32, 35, 36, 38, 39, 40, 43, 45, 46, 47, 49, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61
46
Tidak Valid 1, 4, 5, 8, 9, 13, 14, 17, 18, 29, 30, 34, 37, 44, 50
15
3.4.5.1.Uji Reliabilitas Item
Uji reliabilitas alat ukur atau instrumen dalam penelitian ini dilakukan dangan menggunakan rumus Kuder-Richardson 21 (K-R21) yang dinyatakan sebagai berikut.
Adapun tolak ukur menentukan koefisien reliabilitasnya dengan menggunakan kriteria interpretasi r yang dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut.
Tabel 3.8
Interpretasi Reliabilitas
Koefisien Reliabilitas Kriteria Reliabilitas
>0.900 Sangat Reliabel
0.700-0.900 Reliabel
0.400-0.700 Cukup Reliabel
0.200-0.400 Kurang Reliabel
< 0.200 Tidak Reliabel
(Sugiyono, 2004) Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus tersebut, terungkap bahwa reliabilitas instrumen pengungkap data tingkat asertivitas peserta didik korban bullying sebesar 0,760 yang berada pada kategori Reliabel. Dengan demikian instrumen ini dapat digunakan untuk mengungkap tingkat asertivitas peserta didik korban bullying.
3.5.Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal ini, ditempuh prosedur sebagai berikut:
a. Menetapkan jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian
b. Mengecek instrumen penelitian serta menyebarkan kepada siswa yang menjadi anggota subjek penelitian, termasuk menjelaskann petunjuk pengisian instrumen
d. Melakukan cek ulang untuk memeriksa kelengkapan identitas dan jawaban siswa pada setiap lembar jawaban
e. Menghitung hasil pekerjaan siswa pada setiap lembar jawaban dan memberi skor-skor untuk memperoleh hasil penelitian.
3.6.Teknik Analisis Data
3.6.1. Verifikasi Data
Kegunaan verifikasi data adalah untuk memeriksa kelengkapan instrumen, pra dan pasca disebarkan kepada responden. Pada tahap verifikasi ini juga dilakukan pengecekan kelengkapan data responden dan kelengkapan jawaban di tiap soal dalam instrumen tingkat asertivitas peserta didik. Hasil verifikasi data menunjukkan bahwa keseluruhan instrumen yang telah diisi responden layak untuk diolah.
3.7.Prosedur Penelitian
3.7.1. Penyusunan Proposal Penelitian
Sebelum proposal penelitian dibuat, terlebih dahulu ditentukan permasalahan yang akan diteliti, selanjutnya penulis menyusun proposal penelitian. Penyusunan proposal penelitian merupakan langkah awal dari proses penelitian yang akan dilakukan.
Lingkup bahasan proposal penelitian mencakup bahasan tentang; latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis, definisi operasional variabel, kerangka teoritis, metode penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik dan instrumen penelitian, analisis data, dan prosedur penelitian.
3.7.2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan guna menjawab penelitian yang diajukan.
3.7.3. Permohonan Ijin Penelitian
pengumpulan data. Perijinan penelitian diperoleh dari Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Direktorat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia, dan Kepala SMPN 29 Bandung.
3.7.4. Pelaksanaan Pengumpulan Data
Pengumpulan data berupa penyebaran angket yang dilakukan di kelas VII dan VIII SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengecek alat pengumpul data dan mengecek kelengkapan pedoman. b. Mengecek siswa yang menjadi sampel dalam penelitian dan menjelaskan
maksud kedatangan peneliti.
c. Menjelaskan petunjuk pengerjaan angket kepada siswa, kemudian siswa mengisinya.
d. Mengumpulkan angket setelah siswa selesai mengerjakan.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab V menyajikan simpulan dan rekomendasi dari penelitian. Kesimpulan merupakan integrasi dari hasil kajian teoritis, empiris, dan perbandingan dengan penelitian sejenis. Rekomendasi ditujukan keapda guru pembimbing sekolah dan peneliti selanjutnya.
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari bab sebelumnya, kesimpulan yang merupakan hasil akhir dari berbagai proses penelitian yang sudah dilakukan yaitu sebagai berikut:
1) Gambaran tingkat asertivitas peserta didik kelas VII dan VIII SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang mengalami bullying menunjukkan sudah berada pada kategori tinggi, yang berarti peserta didik sudah bisa perperilaku asertif secara optimal.
2) Secara umum kemampuan yang telah dicapai oleh peserta didik adalah kemampuan berkomunikasi secara verbal yang mengandung pesan dan kemampuan menyampaikan pemikirannya secara langsung dan tegas. Aspek yang memiliki tingkat pencapaian paling rendah adalah kemampuan berkomunikasi secara non verbal yang mengandung pesan dan kemampuan untuk diterima di lingkungan sosial.
3) Rancangan layanan bimbingan dan konseling yang disusun mengarah pada pendekatan preventif dan developmental (perkembangan)
5.2.Rekomendasi
Berdasarkan keterbatasan hasil penelitian dikemukakan rekomendasi sebagai berikut:
Data hasil penelitian memberikan gambaran umum mengenai tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying di SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang sudah berada di kategori tinggi, yang berarti sebagia besar peserta didik sudah mampu bersikap asertif secara penuh namun masih ada sebagian kecil peserta didik yang tingkat asertivitasnya berada pada kategori sedang dan rendah, yang artinya masih belum mampu bersikap asertif secara penuh. Tingkat asertivitas peserta didik korban bullying tersebut memberi makna adanya asertivitas peserta didik korban bullying masih memerlukan dukungan dan bimbingan yang bersifat pengembangan dari berbagai pihak.
Bagi pelaksana layanan bimbingan dan konseling SMP Negeri 29 Bandung, tingkat asertivitas peserta didik yang mengalami bullying daat dimanfaatkan sebagai salah satu pertimbangan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan melibatkan partisipasi personil sekolah dan peserta didik dapat berpartisipasi secara langsung dan merasakan manfaat layanan bimbingan dan konseling yang diberikan.
Guru pembimbing diharapkan dapat mengembangkan program berdasarkan identifikasi kebutuhan. Upaya yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan asertivitas peserta didik yang mengalami bullying dilakukan dengan pelatihan asertif melalui teknik bermain peran, latihan komunikasi asertif, atau meniru model-model sosial.
5.2.2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian mengambil sampel dari sekolah yang berada di pinggiran kota, diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengambil sampel di daerah pusat perkotaan, atau di pedesaan.
DAFTAR PUSTAKA
Alberti, R dan Emmons, R. (1995). Your Perfect Right: A Guide To Assertive
Living. California: Impact Publishers, Inc.
Anderson, Craig A., and Nicholas L. Carnagey. (2004). "Violent evil and the general aggression model." The social psychology of good and evil: 168-192.
Atlas, R., Pepler, D. J., Craig, W. (1998). Observations of Bullying in the
Classroom. American Journal of Educational Research, 92, 86-99.
Azwar, S. (2012). Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Back, Ken and Back, Kate. (1999). Assertiveness at Work: A Practical Guide to
Handling Awkward Situation.UK: McGraw-Hill Professional
Bernard, H.W., & Fullmer, D.W. (1969). Principle of Guidance. New York: Harver & Row Publishers
Byrne, Brendan. (1994). Coping With Bullying in Schools. London: Cassels Christina, Vina. (2011).Dampak Psikologis Remaja Korban Bullying. Skripsi,
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
Coloroso, Barbara. (2006). Penindas, Tertindas, dan Penonton (The Bully, The Bullied and The Bystander). Collins Living.
Coloroso, Barbara. (2007). Stop Bullying. Jakarta: Penerbit Serambi Ilmu Semesta..
Craig, W. M., & Pepler, D. J. (1998). Observations of bullying and victimization in the school yard. Canadian Journal of School Psychology, 13(2), 41-59.
Dayakisni, Tri & Novalia. (2013). Perilaku Asertif dan Kecenderungan Menjadi
Korban Bullying. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Universitas
Muhammadiyah Malang. 1, (1), 169-175.
Fensterheim, H. & Baer, J. (1980). Jangan Bilang Ya Bila Anda Akan
Mengatakan Tidak. Jakarta: Gunung Jati.
Furqon. (2008). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Gunarsa, D.S. (2007). Konseling & Psikoterapi. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia Hikmatunnisa, Soraya. (2011). Profil Self-Esteem Siswa Korban Bullying di
Sekolah (Studi Deskriptif Terhadap Siswa kelas VIII SMP Pasundan 3 Bandung Tahun Ajaran 2010/2011). Skripsi, Universitas Pendidikan
Indonesia.
Khairiah, Siti. dkk. (2012). Korelasi Antara Perilaku Bullying dan Tingkat
Self-Esteem pada Pelajar Dua Buah SMPN di Surabaya. [Online PDF].
Tersedia:
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/PERILAKU%20BULLYING%20%20 DAN%20TINGKAT%20SELF-ESTEEM_Khairiah.pdf. (Diakses 14 Maret 2014)
Lange, J.A. & Jakubowski, P. (1976). Responsible Assertive Behavior:
Cognitive/behavioral Procedures for Trainers. Research Press.
Levianti. (2008). Konformitas dan Bullying pada Siswa. Jurnal Skripsi Fakultas Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. Vol. 6 No.1 Juni 2008 (hal. 1 – 9)
Leathwood, C. & O'Connell, P. (2003) 'It's a struggle': the construction of the
'new student' in higher education , pp 597-615 in Journal of Education
Policy, 18(6)
Lloyd, S. (1991). Mengembangkan Perilaku Asertif Yang Positif. Jakarta: Binarupa Aksara.
Nilia, Yenny. (2010). Profil Asertivitas Siswa Terhadap Bullying Berdasarkan
Jenis Kelamin (Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas VII SMPN 1 Jatigede Tahun Ajaran 2009/2010). Skripsi, Universitas Pendidikan
Indonesia.
O’Connell, J. (2003). Bullying At School. California: Departement of Education.
Pietrofesa J. J., Leonard G., Hoose W. H. V. (1978). The Authentic Counselor Set. CENGAGE Learning.
Quiroz, H. C., et. al. (2006). Bullying in schools: Discussion activities for school
communities. Retrieved from National School Safety Center website:
http://www.schoolsafety.us
Rathus, S.A. & Nevid, J. S. (1980). Behavioral Therapy Strategies of Solving
Problem in Living. New York: A Signet Book.
Rathus, S.A. & Nevid, J. S. (1982). Adjustment and Growth: The Challenges of
Life. New York: CBS College Publishing
Riauskina, I.I., Djuwita, R., & Soesetio, S.R. (2005). ―Gencet-gencetan‖ di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, scenario, dan dampak ―gencet-gencetan. Jurnal Psikologi Sosial, 12(01), 1-13.
Rigby, K. (2003). Addressing Bullying in School: Theory and Practice. Australia
Institute of Criminology: Trend & Issues in Crime and Criminal Justice. No. 259
Rigby, K. (2007). Bullying in schools. Melbourne: Australian Council for Educational Research.
Rosita, Herni., (tt). Hubungan antara Perilaku Asertif dengan Kepercayaan Diri
pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi, 4, (3), 5 – 7.
Sejiwa. (2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan
Sekitar Anak. Jakarta: Grasindo.
Soendjojo, D. (2009). Mengajarkan asertifitas pasa remaja. Jurnal Psikologi. 4,
(3), 5 –7.
Slavin, Robert. (2011). Psikologi Pendidikan Jilid 2. Jakarta: Indeks.
Smith, P., Y. Morita, J., Junger-Tas, D., Olweus, R., Catalano, & P. Slee (eds.). (1999). The nature of School Bullying: A Cross-National Perspective. London and New York: Routledge.
Spade, JA. (2007). The Relationship Between Student Bullying Behaviors and
Self-Esteem. A Dissertation. College of Bowling Green State University.
Stein & Howard. (2002). Ledakan EQ; 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional
Meraih Sukses.(terjemahan). Bandung: Kaifa.
Winkel, W.S,. (2005). Bimbingan dan Konseling di Intitusi Pendidikan, Edisi
Nadiya Triani, 2015
Lampiran A
Administrasi Penelitian
1.
SK Pengangkatan Dosen Pembimbing
2.
Surat Ijin Melakukan Penelitian
Nadiya Triani, 2015
Lampiran B
Instrumen Penelitian
1.
Validasi Judgement Instrumen
2.
Rekapitulasi Validasi Instrumen
Nadiya Triani, 2015
Lampiran C
Nadiya Triani, 2015
Nadiya Triani, 2015
Nadiya Triani, 2015
Lampiran F
Nadiya Triani, 2015
Kisi-kisi Instrumen
Tingkat Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami Bullying
(Post-Judgement)
Aspek Indikator Item Total
(+) (-)
Mengekspresikan diri secara penuh
Dapat mengekspresikan diri tanpa takut akan tekanan
1, 2, 4 3
4 Dapat mengkomunikasikan keinginan,
perasaan, dan pikiran tanpa takut tekanan
6,7 5,8 4 Menghormati
kepentingan orang lain
Dapat menerima keadaan orang lain dengan terbuka tanpa memaksakan kehendak
12 9, 10,
11 4
Dapat menunjukkan rasa hormat akan pendapat orang lain secara langung tanpa perantara orang lain
16 17, 18 3 Mampu menyatakan keinginan dan
ketidakinginan dengan tegas
19, 20, 22
21
4 Jujur dan terbuka Mampu mengatakan perasaan secara jujur
dan apa adanya
23, 24, 25, 26
- 4 Mampu mengungkapkan pikiran secara
jujur dan terbuka
Mampu menempatkan dirinya setara dengan orang lain
30 31
2 Mampu untuk tidak memandang rendah
orang lain
Mampu mengekspresikan diri melalui perkataan yang dapat dimengerti lawan bicara
35 36, 37 3 Mampu mempertimbangkan isi kalimat
yang diucapkan sehingga tidak terdengar seperti ancaman
Mampu menatap lawan bicara ketika berkomunikasi
41 42
2 Mampu berbicara dengan intonasi suara
yang tepat, tidak terlalu lantang dan tidak terlalu lirih
- 43, 44 2 Mampu mengatur kelancaran berbicara
sehingga tidak terdengar gugup
Nadiya Triani, 2015
gerak tubuh dengan lawan bicaranya. Mampu menjadi pendengar yang baik bagi lawan bicara
51, 52, 53
- 3 Dapat diterima
secara sosial
Mampu memposisikan dan menyesuaikan diri sesuai keadaan dan kondisi
54, 55 56, 57, 58 5 Mampu menyesuaikan cara
berkomunikasi sesuai keadaan dan kondisi lawan bicara
59, 60 61
3
Nadiya Triani, 2015
INSTRUMEN TINGKAT ASERTIVITAS PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI BULLYING
NAMA LENGKAP: KELAS:
Dibawah ini terdapat pernyataan yang menggambarkan perilaku adik-adik dalam proses belajar di sekolah, kemudian isilah dengan memberi tanda ceklis (√) pada kotak yang telah disediakan, sesuai dengan keadaan adik-adik setuju/melakukan atau tidak, dengan pernyataan tersebut. Pilihan jawabannya adalah:
YA : SETUJU/MELAKUKAN hal tersebut
TIDAK : TIDAK SETUJU/TIDAK MELAKUKAN hal tersebut
Jawablah setiap pernyataan dan jangan sampai ada yang terlewat. Adik-adik tidak perlu merasa ragu untuk menjawab karena tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban adalah benar.
Selamat mengerjakan!
No. Item YA TIDAK
1. Saya melakukan hal apapun sesuai dengan keinginan 2. Saya tampil apa adanya
3. Saya takut mengekspresikan pemikiran kepada teman-teman 4. Saya tidak peduli dengan perkataan teman-teman
5. Saya malu untuk mengatakan perasaan kepada teman-teman 6. Saya tidak takut mengungkapkan keinginan kepada teman-teman 7. Saya berani mengemukakan pemikiran kepada teman-teman 8. Saya tidak mau berdebat dalam diskusi karena takut dimusuhi
teman-teman yang lain
9. Saya lebih memilih pulang ke rumah dan beristirahat daripada membantu teman mengerjakan PR
10. Saya marah jika ada teman yang menolak ajakan saya 11. Saya mau berbicara dengan orang yang tidak sepaham
12. Saya mau bermain dengan teman yang status sosialnya lebih rendah dari saya
13. Saya mengganggap pendapat teman-teman kurang penting
14. Saya merasa perlu memperbaiki pendapat orang yang tidak sepaham dengan saya
15. Saya merasa perlu mendengarkan orang yang tidak sependapat dengan saya
Nadiya Triani, 2015
17. Saya meminta bantuan teman untuk menyampaikan ucapan kepada teman-teman
18. Saya takut untuk bertanya kepada guru jika ada materi pelajaran yang tidak dipahami
19. Saya menolak ajakan teman untuk bolos sekolah
20. Saya langsung mengatakan keinginan saya kepada teman-teman 21. Saya tidak bisa menolak ketika dimintai uang jajan oleh
teman-teman
22. Saya berani mengajak teman untuk mengerjakan PR bersama-sama 23. Saya mengungkapkan perasaan apa adanya
24. Saya berkata sesuai dengan apa yang saya lihat
25. Saya menyatakan pendapat berdasarkan fakta yang ada
26. Saya tidak melebih-lebihkan dalam bercerita tentang diri sendiri 27. Saya berani mengatakan keberatan terhadap pendapat teman-teman 28. Saya menutupi apa yang saya rasakan
29. Saya diam meskipun membutuhkan bantuan teman 30. Saya menganggap diri sendiri dan semua teman itu sama 31. Saya merasa malu berada di dalam lingkungan teman-teman
sekelas/sepermainan
32. Saya menghindari sikap memilih-milih teman
33. Saya mempertimbangkan keadaan fisik seseorang dalam memilih teman
34. Saya merasa lebih baik dalam pelajaran daripada teman-teman yang lain
35. Saya mampu mengutarakan pendapat sendiri
36. Saya sulit mengatakan apa yang dibutuhkan kepada teman-teman 37. Saya gugup berbicara di depan orang banyak
38. Saya berfikir sebelum mengungkapkan sesuatu kepada teman-teman 39. Saya ingin orang tidak merasa terancam dengan perkataan saya
40. Saya berusaha membuat orang nyaman dengan perkataan saya 41. Saya menatap lawan bicara ketika sedang mengobrol
42. Saya merasa kurang berani menatap mata lawan bicara 43. Saya gugup ketika berbicara dengan teman-teman
44. Saya merasa ketika berbicara suara saya terdengar lantang sampai keluar
45. Saya merasa malu berbicara di depan kelas
46. Saya perlu berlatih berkali-kali agar tidak gugup berbicara di depan umum
47. Saya berbicara dengan lancar kepada teman-teman 48. Saya berani berdekatan dengan orang yang diajak bicara 49. Saya menunduk bila sedang berinteraksi dengan teman-teman 50. Saya tidak berani menengadahkan kepala ketika berbicara dengan
Nadiya Triani, 2015
51. Saya berusaha mendengarkan yang diucapkan lawan bicara meskipun tidak menarik
52. Saya berusaha mendengarkan teman-teman yang tidak sepaham 53. Saya menyimak teman-teman yang membahas hal tidak penting
bagi saya
54. Saya mudah memposisikan diri ketika berada di lingkungan baru 55. Saya merasa bahwa teman-teman menyukai saya
56. Saya sulit beradaptasi dengan situasi baru 57. Saya suka menyendiri
58. Saya tidak diajak dalam pembentukan kelompok belajar 59. Saya mencari topik pembicaraan sesuai dengan lawan bicara 60. Saya dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang yang jauh
lebih tua
Rekap Hasil Judgement
Instrumen Tingkat Asertivitas Peserta Didik yang Mengalami Bullying
No. Item
2. Saya tampil apa adanya Saya tampil apa adanya
3. Saya takut mengekspresikan pemikiran saya kepada orang lain
Saya takut mengekspresikan pemikiran kepada teman-teman 4. Saya tidak peduli dengan
perkataan orang lain tentang saya
Saya tidak peduli dengan perkataan teman-teman
5. Saya malu untuk mengatakan perasaan kepada orang lain
Saya malu untuk mengatakan perasaan kepada teman-teman
6. Saya tidak takut mengungkapkan keinginan kepada orang lain
Saya tidak takut mengungkapkan keinginan kepada teman-teman 7. Saya berani mengemukakan
pemikiran kepada orang lain
Saya berani mengemukakan pemikiran kepada teman-teman 8. Saya tidak mau berdebat dalam
diskusi karena takut berakibat buruk pada pertemanan
Revisi: Kalimat terdengar ambigu dan kurang spesifik
Saya tidak mau berdebat dalam diskusi karena takut dimusuhi teman-teman yang lain
9. Saya cenderung mendahulukan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan orang lain
Revisi: Disebutkan contoh konkrit dari “mendahulukan kepentingan pribadi”
10. Saya marah jika ada teman yang yang menolak ajakan saya
Saya marah jika ada teman yang menolak ajakan saya
11. Saya tidak mau berbicara dengan orang yang tidak sepaham dengan saya sama, lebih tinggi atau rendah
Saya mau bermain dengan teman yang status sosialnya lebih rendah dari saya
13. Saya menaruh rasa hormat kepada setiap orang
Saya mengganggap pendapat teman-teman kurang penting
Saya merasa perlu memperbaiki pendapat orang yang tidak sepaham dengan saya
16. Saya merasa perlu mendengarkan orang yang tidak sependapat dengan saya
Saya merasa perlu mendengarkan orang yang tidak sependapat dengan saya
17. Saya berani mengatakan sesuatu tanpa perantara orang lain
Saya berani mengatakan sesuatu tanpa perantara teman-teman
18. Saya meminta bantuan teman untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain
Revisi: penggunaan kata „sesuatu‟ tidak spesifik
20. Saya menolak ajakan teman untuk melakukan sesuatu yang tidak saya senangi
Saya langsung mengatakan keinginan saya kepada teman-teman 22. Saya tidak bisa menolak ketika untuk melakukan sesuatu bersama-sama sesuai dengan perasaan saya
Revisi:
Saya mengungkapkan perasaan apa adanya
25. Saya mengatakan sesuatu sesuai dengan apa yang saya lihat
Revisi:
Saya berkata sesuai dengan apa yang saya lihat
26. Saya menyatakan pendapat berdasarkan fakta yang ada
Saya menyatakan pendapat berdasarkan fakta yang ada
27. Saya tidak melebih-lebihkan dalam bercerita tentang diri saya
Revisi: mengganti kata „saya‟ yang kedua menjadi „sendiri‟
28. Saya berani mengatakan keberatan terhadap pendapat orang lain
Revisi: mengganti
kata „keberatan‟
menjadi „mengubah‟
Saya berani mengatakan keberatan terhadap pendapat teman-teman membutuhkan bantuan orang lain
Revisi:
menghilangkan kata „saya‟ yang kedua
Saya diam meskipun membutuhkan bantuan teman
31. Saya menganggap diri saya sendiri dan semua teman itu sama
Revisi:
menghilangkan kata „saya‟ yang kedua
Saya menganggap diri sendiri dan semua teman itu sama
32. Saya merasa malu berada di dalam lingkungan teman-teman sekelas/sepermainan
Saya menghindari sikap memilih-milih teman
35. Saya memmpertimbangkan keadaan fisik seseorang dalam memilih teman
Saya mempertimbangkan keadaan fisik seseorang dalam memilih teman 36. Saya merasa jauh lebih baik
daripada teman-teman yang lain
Revisi: spesifikasi kata „jauh lebih baik‟ dalam hal apa?
Saya merasa lebih baik dalam pelajaran daripada teman-teman yang lain
„sendiri‟ 38. Saya sulit mengatakan apa yang
saya butuhkan kepada orang lain
Revisi:
Saya gugup berbicara di depan orang banyak
40. Saya berfikir sebelum mengungkapkan sesuatu kepada orang lain
Saya berfikir sebelum
mengungkapkan sesuatu kepada teman-teman terancam dengan perkataan saya 42. Saya berusaha membuat orang
Saya berusaha membuat orang nyaman dengan perkataan saya 43. Saya menatap lawan bicara ketika
sedang mengobrol menatap mata lawan bicara
Revisi: ganti kata
Saya gugup ketika berbicara dengan teman-teman
47. Orang mengatakan suara saya tidak terdengar sampai belakang ketika berbicara di depan kelas
Revisi: ubah struktur kalimat menjadi
48. Orang mengatakan suara saya terdengar sampai keluar kelas ketika berbicara di depan kelas
Revisi: ubah struktur kalimat menjadi
Revisi: ubah struktur kalimat
Saya merasa malu berbicara di depan kelas
50. Saya harus berlatih berkali-kali agar saya tidak gugup berbicara di depan umum
Revisi:
menghilangkan kata „saya‟ yang kedua
Saya perlu berlatih berkali-kali agar tidak gugup berbicara di depan umum
51. Saya berbicara dengan lancar kepada orang lain
Saya berbicara dengan lancar kepada teman-teman
52. Saya berani berdekatan dengan orang yang saya ajak bicara
Revisi:
menghilangkan kata „saya‟ yang kedua
Saya berani berdekatan dengan orang yang diajak bicara
53. Saya menunduk bila sedang berinteraksi dengan orang lain
Saya menunduk bila sedang berinteraksi dengan teman-teman 54. Saya tidak berani menengadahkan
kepala ketika berbicara dengan orang yang badannya lebih tinggi
Saya tidak berani menengadahkan kepala ketika berbicara dengan orang yang badannya lebih tinggi
55. Saya berusaha mendengarkan dengan baik apapun yang diucapkan lawan bicara meskipun tidak menarik
Revisi:
menghilangkan kata „dengan baik‟
Saya berusaha mendengarkan yang diucapkan lawan bicara meskipun tidak menarik
56. Saya senang mendengarkan orang lain yang tidak sepaham
Revisi: mengganti kata „senang‟ menjadi „berusaha‟
57. Saya suka menyimak orang lain
Saya menyimak teman-teman yang membahas hal tidak penting bagi
Saya mudah memposisikan diri ketika berada di lingkungan baru 59. Saya merasa bahwa teman-teman
menyukai saya
Saya merasa bahwa teman-teman menyukai saya
60. Saya sulit beradaptasi dengan situasi baru
Saya sulit beradaptasi dengan situasi baru
61. Saya suka menyendiri Saya suka menyendiri
62. Teman-teman meninggalkan saya dalam berbagai kegiatan
Saya tidak diajak dalam pembentukan kelompok belajar 63. Saya mencari topik pembicaraan
sesuai dengan lawan bicara
Saya mencari topik pembicaraan sesuai dengan lawan bicara
64. Saya berkomunikasi dengan semua usia (anak-anak, remaja, dan orangtua)
Revisi: menambahkan
kata „orang lain di‟ Revisi: struktur perubahan kalimat menjadi lebih spesifik
Saya dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang yang jauh lebih tua
65. Saya dijauhi teman-teman sebaya karena cara berbicara yang seperti anak kecil/seperti orang dewasa
Revisi: Spesifikasi kata „seperti anak kecil/oran dewasa‟