commit to user
i
PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM
PENYERAPAN TENAGA KERJA
DI KABUPATEN CILACAP
Skripsi
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian
di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Jurusan/Program Studi
Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis
Oleh :
Fahmi Iqlima Safangatun
H0307048
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
commit to user
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan
penelitian dan menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik dan lancar, serta
dapat mempersembahkannya kepada orangtua serta orang-orang yang penulis
sayangi.
Pelaksanan penelitian dan penulisan skripsi adalah suatu rangkaian proses
yang tidak terlepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Suntoro, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Ir. Agustono, MSi selaku Ketua Jurusan Program Studi Sosial Ekonomi
Pertanian/Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ibu Ir. Sugiharti Mulya Handayani, MP selaku Komisi Sarjana Jurusan Sosial
Ekonomi Pertanian/Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
4. Ibu Dr. Ir. Sri Marwanti, MS selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan, arahan dan masukan yang sangat berharga dalam
penulisan skripsi ini, serta pengertian dalam proses konsultasi sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.
5. Ibu Wiwit Rahayu, SP. MP selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang
dengan sabar telah membimbing, memberikan masukan dan arahan yang
sangat bermanfaat bagi penulis.
6. Bapak Prof. Dr. Ir. Darsono, MSi selaku dosen penguji, terima kasih atas
saran, nasehat, masukan dan arahannya.
7. Ibu Erlyna Wida Riptanti, SP. MP selaku Pembimbing Akademik yang selalu
memberikan pengarahan, nasehat dan petunjuk kepada penulis selama proses
belajar di Fakultas Petanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
8. Seluruh Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
commit to user
iv
9. Seluruh karyawan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaikan segala urusan
administrasi berkenaan dengan proses belajar dan penulisan skripsi.
10.Kesbangpol, BAPPEDA, BPS, Disosnakertrans, Dispertanak Kabupaten
Cilacap yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan
penelitian.
11.Bapak Mulyareja (alm) dan Ibu Rukinah selaku orangtua sekaligus teladanku,
terima kasih atas segala cinta, kasih, sayang, dukungan, semangat, nasehat dan
doa yang tiada pernah putus, cucuran keringat dan air mata yang mengiringi
setiap langkahku. Saat bagiku untuk membahagiakan kalian adalah ketika aku
telah benar-benar menjadi manusia.
12.Keenam kakakku Sri Rohayati, Dwi Atikah, Muhrodin, Hari Kuncoro, Yusuf
Subardan dan Muslihudin, terimakasih atas segala kasih sayang, teladan,
perhatian dan dukungan serta doa untuk Ene.
13.Keenam kakak iparku Watno Yuanto, Purnama, Uripyatun, Yabni Aristianti,
Leni Ruswiati dan Eni Pujisetyawati, terima kasih atas kasih sayang,
dukungan, doa, nasehat dan semangatnya.
14.Muhammad Hanifudin, ST, Hidayat Ali Muhsin, SP, Feti Fatimatuzzahro,
Tamalia Umaroyani Pratiwi, Tubagus Eling Kinayungan, Ainaya Alfatihah
Fikrul Haq, Zidan Ahsan Fikrul Haq, Hazieq Arfa Mubarok, Hibatullah Azkya
Najib Maula, Harjunawijaya Prabu Nusantara, Akmal Maulidina Rabbani,
Feyruz Rameyza Althafunnisa, terima kasih atas kasih sayang, dukungan dan
doanya untuk Lik Ima.
15.Mas Taufik Masruri, ST penyemangatku terima kasih untuk inspirasi,
semangat, motivasi, doa, silaturahmi dan kebersamaannya.
16.Anwarudin Abdul Majid, ST terima kasih atas segala perhatian, pengertian
dan kesabaran mendengarkan semua keluh kesahku.
17.Keluarga besar Agrobisnis, khususnya Hibitu terima kasih atas
kebersamaannya selama menempuh kuliah dan praktikum-praktikum,
commit to user
v
18.Sahabat-sahabatku sekaligus saudaraku tercinta Agnes, Dian, Dini, Nian,
Vina, Eni, Nisa, Elisabet dan Widy yang selalu menemani dalam suka dan
duka, terima kasih atas perhatian, semangat dan doanya, semoga kebersamaan
kita bisa untuk selamanya, amin.
19.Kakak-kakak tingkat, Mas Habib, Mb Ephi, Mb Vita, Mas Marco, Mas Nico
terima kasih atas masukan dan bantuannya selama kuliah dan penulisan
skripsi.
20.Mama ina, Aufa, Mba Meriza, Ratih, Frederica, Damas, Rinda, Putri, Mba
Erly, Mba Silvi, Ayah Didik dan teman-teman kost mayasari yang selalu
menemani di rantau.
21.Segenap pengurus BM periode 2008, khususnya divisi P3 terima kasih atas
kebersamaan dan pengalamannya dalam berorganisasi.
22.Mas Joko dan Mas Yanto yang telah membantu dalam urusan perbanyakan
makalah dan fotocopy lainnya.
23.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu dalam proses penulisan sktripsi ini, terima kasih atas segala
bantuannya.
Tiada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan
skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf atas
segala kekurangan dan penulis mengharapkan kritik serta saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Surakarta, April 2011
commit to user
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
RINGKASAN ... xii
SUMMARY ... xiii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 7
II. LANDASAN TEORI ... 8
A. Penelitian Terdahulu ... 8
B. Tinjauan Pustaka ... 10
1. Pembangunan ... 10
2. Pembangunan Ekonomi ... 12
3. Pembangunan Ekonomi Daerah ... 13
4. Pembangunan Pertanian ... 14
5. Peranan Sektor Pertanian dalam Pembangunan ... 14
6. Tenaga Kerja... ... 15
7. Shift Share ... 18
8. Proyeksi Tenaga Kerja ... 21
C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah ... 23
D. Asumsi-Asumsi ... 27
E. Pembatasan Masalah ... 27
F. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel ... 27
III. METODE PENELITIAN ... 30
A. Metode Dasar Penelitian ... 30
B. Metode Pengambilan Daerah Penelitian ... 30
C. Jenis dan Sumber Data ... 31
D. Metode Analisis Data ... 31
IV. KONDISI UMUM KABUPATEN CILACAP ... 35
A. Keadaan Alam ... 35
commit to user
vii
2. Topografi ... 36
3. Luas Penggunaan Lahan ... 36
4. Jenis Tanah ... 38
5. Keadaan Iklim ... 40
B. Keadaan Penduduk ... 40
1. Jumlah, Kepadatan dan Pertambahan Penduduk ... 40
2. Komposisi Penduduk ... 41
a. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 41
b. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur ... 42
c. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 44
d. Komposisi Penduduk Menurut Keadaan Rumah Tangga .. 45
C. Keadaan Kesempatan Kerja ... 47
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54
A. Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja ... 54
B. Pertumbuhan Kesempatan Kerja Sektor Pertanian ... 56
C. Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian Untuk Lima dan Sepuluh Tahun Yaitu Tahun 2010 sampai Tahun 2014 dan Tahun 2019 ... 61
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67
A. Kesimpulan ... 67
B. Saran ... 67
commit to user
viii
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1. Distribusi Kontribusi PDRB Kabupaten Cilacap Tahun
2005-2009 menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 (dalam
%) ... 3
2. Banyaknya Tenaga Kerja menurut Jenis Pekerjaan di
Kabupaten CIlacap Tahun 2009 ... 4
3. Perkembangan Penduduk yang Bekerja menurut Lapangan
Usaha Utama di Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009
(dalam %) ... 5
4. Penggunaan Lahan di Kabupaten Cilacap Tahun 2009 ... 37
5. Jenis Tanah, Batuan Induk dan Fisiografi Tanah di
Kabupaten Cilacap ... 39
6. Jumlah, Kepadatan dan Pertambahan Penduduk Tahun
2005-2009 di Kabupaten Cilacap ... 40
7. Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin Tahun
2005-2009 di Kabupaten Cilacap ... 42
8. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur Tahun
2005-2009 di Kabupaten Cilacap (Jiwa) ... 43
9. Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Tahun
2005-2009 di Kabupaten Cilacap ... 44
10. Banyaknya Rumah Tangga, Rumah Tangga Pertanian dan
Rumah Tangga Tani Gurem menurut Kecamatan Tahun
2003 di Kabupaten Cilacap ... 46
11. Perkembangan Penduduk Usia Kerja yang Bekerja menurut
Lapangan Usaha Utama di Kabupaten Cilacap Tahun
2005-2009 ... 49
12. Pertumbuhan Kesempatan Kerja menurut Lapangan Usaha
Utama di Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009 (dalam %) ... 50
13. Persentase Penduduk yang Bekerja pada Sektor Pertanian di
Kabupatem Cilacap Tahun 2005-2009 ... 51
14. Banyaknya Pencari Kerja yang Terdaftar pada Kantor
Disosnaketrans menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten
Cilacap Tahun 2005-2009 (Jiwa) ... 52
15. Banyaknya Penyaluran Tenaga Kerja Antar Daerah dan
Antar Negara yang Terdaftar pada Kantor Disosnakertrans
commit to user
ix
16. Angka Pengganda Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Tenaga
Kerja Sektor Pertanian di Kabupaten Cilacap Tahun
2005-2009 ... 54
17. Pertumbuhan Kesempatan Kerja Sektor Perekonomian di
Kabupaten Cilacap ... 57
18. Komponen Pertumbuhan Kesempatan Kerja Sektor
commit to user
x
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1. Kerangka Teori Pendekatan Peranan Sektor Pertanian dalam
commit to user
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. PDRB ADHK 2000 Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009
(Milyaran Rupiah) ... 69
2. Penduduk Usia Kerja yang Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha Utama di Kabupaten Cilacap Tahun 2004-2009... 70
3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009 ... 71
4. Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin Tahun 2005-2009 ... 72
5. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur Tahun 2005-2009 ... 73
6. Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Tahun 2005-2009 ... 74
7. Angka Pengganda Tenaga Kerja ... 75
8. Analisis Shift Share ... 76
9. Komponen Pertumbuhan Kesempatan Keja Sektor Perekonomian ... 77
10. Peta Kabupaten Cilacap ... 78
11. Dokumentasi Penelitian ... 79
commit to user
xii
RINGKASAN
Fahmi Iqlima Safangatun. H0307048. 2011. Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Cilacap. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Sri Marwanti, MS dan Wiwit Rahayu, SP. MP. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Kabupaten Cilacap merupakan Kabupaten terluas di Propinsi Jawa Tengah dan memiliki kultur pertanian yang kuat di masyarakatnya serta sektor pertanian merupakan sektor andalan dalam penyerapan tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap serta komponen pertumbuhan kesempatan kerja selama tahun 2005-2009 dan menganalisis proyeksi kesempatan kerja sektor pertanian untuk lima dan sepuluh tahun ke depan (tahun 2010-2014 dan tahun 2010-1019) di Kabupaten Cilacap.
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Metode pengambilan daerah penelitian adalah dengan cara sengaja yaitu di Kabupaten Cilacap dengan pertimbangan bahwa potensi yang dimiliki Kabupaten Cilacap yang cocok untuk mengembangkan sektor pertanian, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Cilacap dan jumlah tenaga kerja yang terserap di Kabupaten Cilacap menempati urutan tertinggi. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari BPS, BAPPEDA, Disosnakertrans dan Dispertanak.
Data dianalisis dengan (1) Analisis Angka Pengganda Tenaga Kerja, (2)
Analisis Shift Share, (3) Analisis Proyeksi Pure Forecast.
commit to user
xiii
SUMMARY
Fahmi Iqlima Safangatun. H0307048. 2011. The Role Of Agriculture In
Absorb Labor In Cilacap Regency. Guided by Dr. Ir. Sri Marwanti, MS and Wiwit Rahayu, SP. MP. Faculty Of Agriculture, Sebelas Maret University Surakarta.
Cilacap Regency is the wider regency in Central Java Province and it has great agricultural beside that agriculture sector is mainstay sector in absorb labor. This study aims are to analyze the role of agriculture sector in absorb labor in Cilacap Regency, knowing the growth component of labor to get job within 2005-2009 and analyze the prediction of chance to get job in agriculture sector for five and ten years later (2010-2014 and 2010-2019) in Cilacap Regency.
The basic method used in this research is analytical descriptive. The method to determine the location of the research done by purposive (deliberately) is Cilacap Regency based on the potency that Cilacap Regency has good for developing agriculture sector, the contribution of agriculture sector toward Gross National Product (PDRB) in Cilacap Regency and the highest rank of labor quantity absorbent. Data used in this aims is secondary data were obtained from BPS, BAPPEDA, Disosnakertrans and Dispertanak.
Data analyze with (1) multiplier effect of labor (2) shift share analyze (3) pure forecast analyze.
Keterangan : (1). Mahasiswa Fakultas Pertanian UNS dengan NIM H0307048 (2). Dosen Pembimbing Utama
(3). Dosen Pembimbing Pendamping
PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA
DI KABUPATEN CILACAP
FAHMI IQLIMA SAFANGATUN(1)
Dr.Ir. SRI MARWANTI, MS(2) WIWIT RAHAYU, SP. MP(3)
ABSTRAK
Penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian dan proyeksi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian untuk lima dan sepuluh tahun ke depan di Kabupaten Cilacap. Metode dasar penelitian adalah deskriptif analitik. Penelitian dilakukan di Kabupaten Cilacap. Jenis data adalah data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah (1) Analisis Angka Pengganda Tenaga Kerja,
(2) Analisis Shift Share, (3) Analisis Proyeksi Pure Forecast. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) Peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap dilihat dari nilai angka pengganda tenaga kerja rata-rata selama lima tahun sebesar 2,54 yang berarti bahwa setiap terjadi peningkatan tenaga kerja sebanyak 1 tenaga kerja di sektor pertanian, maka akan membuka kesempatan kerja total di wilayah Kabupaten Cilacap sebanyak 2 sampai 3 tenaga kerja. (2) Pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten Cilacap berdasarkan komponen pertumbuhan nasional bernilai positif, komponen pertumbuhan proporsional bernilai negatif yang berarti pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian termasuk ke dalam kelompok lamban dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah bernilai positif yang berarti pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian Kabupaten Cilacap termasuk ke dalam sektor yang memiliki daya saing yang baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian di wilayah lain. Pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian Kabupaten Cilacap dilihat dari nilai pergeseran bersih positif yang berarti pertumbuhan sektor pertanian termasuk ke dalam kelompok maju (progresif). (3) Proyeksi kesempatan kerja untuk lima dan sepuluh tahun ke depan menunjukkan nilai positif yang berarti kesempatan kerja sektor pertanian pada 5 dan 10 tahun ke depan cenderung meningkat.
Kata kunci : Sektor Pertanian, Tenaga Kerja, Angka Pengganda Tenaga Kerja,
commit to user
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan nasional di Indonesia memiliki tujuan yaitu berusaha
mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Pembangunan ini tidak
terlepas dari pembangunan masing-masing daerah, yang merupakan bagian
integral dalam upaya mencapai sasaran nasional. Pembangunan di setiap
daerah, baik di kota maupun kabupaten berlangsung secara terus-menerus dan
setiap daerah berusaha memajukan daerahnya sesuai dengan sumber daya
alam, sumber daya manusia dan sumber daya lain yang dimiliki oleh setiap
daerah. Seiring dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, menempatkan otonomi
daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab, sehingga setiap daerah
kabupaten memiliki kewenangan dan keleluasaan untuk menyusun serta
melaksanakan kebijakan pembangunan daerah yang sesuai dengan kondisi,
potensi dan aspirasi masyarakat. Setiap pemerintah daerah harus dapat
menetapkan kebijakan yang dapat mendukung tercapai pembangunan daerah
dan kesejahteraan masyarakat.
Arsyad (2009), mengemukakan bahwa masalah pokok dalam
pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap
kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi
sumberdaya manusia, kelembagaan dan sumberdaya fisik secara lokal
(daerah). Proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan
merangsang peningkatan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan penduduk harus
diimbangi dengan pertumbuhan kesempatan kerja, sehingga pertumbuhan
penduduk tidak menjadi kendala dalam pembangunan ekonomi daerah. Laju
pertumbuhan penduduk yang tinggi dan rendahnya kinerja pembangunan
sumber daya manusia tidak memungkinkan penciptaan kesempatan kerja
yang memadai dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja, sehingga
dapat menyebabkan angka pengangguran meningkat. Pernyataan tersebut
commit to user
diperkuat oleh Simanjuntak (1985), yang berpendapat bahwa jumlah
penduduk dan angkatan kerja yang besar serta laju pertumbuhan penduduk
yang tinggi sebenarnya tidak perlu menjadi masalah bila daya dukung
ekonomi yang efektif di daerah itu cukup kuat dalam memenuhi berbagai
macam kebutuhan masyarakat termasuk penyediaan kesempatan kerja.
Pembangunan daerah memerlukan tenaga kerja sebagai salah satu
modal utama sebab tenaga kerja merupakan sumber daya dominan, baik
dilihat dari sisi kegiatan produksi maupun dari sisi pemanfaatan hasil-hasil
pembangunan. Di satu sisi, tenaga kerja diharapkan mempunyai kualitas
untuk menjamin tingkat produktivitas yang tinggi dan di sisi lain, pekerja
harus mendapatkan perlindungan yang memadai agar ia memperoleh
hak-haknya, baik sebagai pekerja maupun memenuhi peran sebagai anggota
masyarakat. Jumlah penduduk yang semakin meningkat, berkaitan erat
dengan jumlah angkatan kerja yang semakin meningkat pula. Jumlah
lapangan kerja yang tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja
menandakan bahwa pembangunan di suatu daerah belum berjalan secara
efektif.
Kabupaten Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah
dengan luas wilayah Kabupaten Cilacap sekitar 6,94% dari total wilayah Jawa
Tengah. Kabupaten Cilacap mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang
terbagi menjadi 24 Kecamatan, 269 desa dan 15 Kelurahan. Kabupaten
Cilacap merupakan wilayah dengan corak sosiokultural yang dicirikan
dengan luasnya daerah pedesaan dan kultur agraris dalam kehidupan
masyarakatnya. Keadaan topografi Kabupaten Cilacap sangat beragam mulai
dari dataran rendah dengan ketinggian 6 meter diatas permukaan laut hingga
dataran tinggi dengan ketinggian 198 meter diatas permukaan laut. Kondisi
topografi yang beragam menyebabkan Kabupaten Cilacap memiliki potensi
untuk mengembangkan berbagai macam budidaya pertanian (BPS Kabupaten
Cilacap, 2010).
Sektor pertanian mempunyai peran penting dalam memberikan
commit to user
pertanian akan terus berjalan selama manusia masih memerlukan makanan
untuk mempertahankan hidup dan masih memerlukan hasil pertanian sebagai
bahan baku dalam kegiatan industri. Pembangunan pertanian di Indonesia
diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan
pangan dan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor dan pendapatan
petani, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pemerataan.
Sektor pertanian di Kabupaten Cilacap terbagi ke dalam lima subsektor
yakni subsektor tanaman pangan, subsektor perkebunan, subsektor
kehutanan, subsektor peternakan dan subsektor perikanan. Sektor pertanian
di Kabupaten Cilacap sebagai salah satu sektor yang berkembang di
Kabupaten Cilacap dan sebagai salah satu pendukung keberhasilan
pembangunan ekonomi daerah. Indikator keberhasilan pembangunan
ekonomi daerah salah satunya adalah nilai Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Berdasarkan nilai PDRB tersebut dapat diketahui bahwa sektor
pertanian memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap PDRB
Kabupaten Cilacap yaitu menempati urutan ketiga setelah sektor industri
pengolahan dan sektor perdangan, hotel dan restoran. Nilai distribusi
kontribusi PDRB Kabupaten Cilacap tahun 2005-2009 menurut lapangan
usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Kontribusi PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009 menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 (dalam %)
Lapangan Usaha Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian
2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan
4. Listrik dan Air Minum 5. Bangunan
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Angkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan
commit to user
Tabel 1 menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap
PDRB Kabupaten Cilacap relatif besar, yaitu sebesar 13,48% (2005), 13,17%
(2006), 13,21% (2007), 12,9% (2008) dan 13,25 (2009), serta menempati
urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan,
hotel dan restoran. Kabupaten Cilacap dikenal sebagai kawasan industri,
tetapi bidang pertanian masih memberikan sumbangan dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Walaupun kontribusi sektor pertanian berfluktuatif
dan cenderung menurun dari tahun 2005 hingga 2009, sektor ini tetap
menjadi salah satu sektor yang mempunyai peranan penting bagi Kabupaten
Cilacap. Besarnya kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Cilacap didukung
dengan luas lahan sawah yang relatif luas yaitu 63.093 Ha yang digunakan
untuk budidaya padi dan majunya subsektor perikanan di Kabupaten Cilacap,
sehingga sektor pertanian di Kabupaten Cilacap dapat memberikan kontribusi
yang cukup besar terhadap PDRB (BPS Kabupaten Cilacap, 2010).
B. Perumusan Masalah
Sektor pertanian di Kabupaten Cilacap memberikan kontribusi besar
terhadap PDRB. Indikator keberhasilan pembangunan suatu wilayah juga
dapat dilihat dari banyaknya tenaga kerja yang terserap dalam berbagai
bidang pekerjaan. Sektor pertanian masih memiliki kemampuan yang cukup
tinggi untuk menyerap tenaga kerja yang ditunjukkan dengan besarnya
penduduk yang bekerja di sektor pertanian.
Tabel 2. Banyaknya Tenaga Kerja menurut Jenis Pekerjaan di Kabupaten Cilacap Tahun 2009
No. Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)
1.
commit to user
Berdasarkan Tabel 2 diatas, keadaan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap
terbagi dalam beberapa jenis pekerjaan antara lain buruh tani, nelayan, buruh
industri, buruh bangunan, PNS/TNI-POLRI, pensiunan dan lain-lain.
Pekerjaan sebagai buruh tani menduduki jumlah terbesar yaitu dengan
persentase sebesar 65,50%. Selain buruh tani, pekerjaan sebagai nelayan juga
memiliki jumlah yang cukup besar yaitu 4,25% dari jumlah tenaga kerja yang
bekerja berdasarkan jenis pekerjaan di Kabupaten Cilacap. Hal ini
menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Cilacap menyerap tenaga
kerja dengan persentase tertinggi. Namun, jika dilihat dari perkembangan
penyerapan tenaga kerja menurut lapangan usaha utama, sektor pertanian dari
tahun ke tahun menyerap tenaga kerja dengan persentase yang berfluktuatif,
seperti terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perkembangan Penduduk Usia Kerja yang Bekerja menurut Lapangan Usaha Utama di Kabupaten Cilacap Tahun 2005-2009 (dalam %)
No Lapangan Usaha Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
1 Pertanian 35,91 37,53 41,48 40,06 40,57
2 Pertambangan & Galian;
Listrik,Gas & Air Bersih 1,29 0,75 1,20 1,45 0,94
3 Industri 16,40 17,18 14,32 16,23 16,51
4 Konstruksi 9,67 7,35 8,52 8,46 8,47
5 Perdagangan 21,49 19,38 17,61 19,89 18,69
6 Komunikasi 4,95 4,77 4,98 3,88 3,63
7 Keuangan 0,23 0,33 0,46 0,55 0,53
8 Jasa 9,91 12,54 11,43 9,48 10,66
9 Lainnya 0,15 0,17 0,00 0,00 0,00
Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Cilacap, 2010
Berdasarkan Tabel 3 diatas, perkembangan penyerapan tenaga kerja
sektor pertanian di Kabupaten Cilacap dari tahun 2005-2009 mengalami
fluktuasi. Meskipun berfluktuasi, sektor pertanian masih tetap menyerap
tenaga kerja yang terbesar jika dibandingkan dengan sektor lain. Namun,
belum dapat diketahui besarnya peranan sektor pertanian dalam penyerapan
commit to user
berfluktuatif dan belum dapat diketahui apakah sektor pertanian akan tetap
menyerap tenaga kerja dengan jumlah terbesar untuk tahun-tahun berikutnya.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian mengenai
peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap
serta komponen-komponen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten Cilacap. Data mengenai
jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian kemudian akan
digunakan untuk memproyeksi kesempatan kerja sektor pertanian untuk
beberapa tahun ke depan. Hal ini dilakukan supaya kedepannya sektor
pertanian Kabupaten Cilacap dapat tetap memberikan kontribusi yang besar
bagi perekonomian wilayah dan tetap dapat menyerap tenaga kerja tertinggi.
Agar hal tersebut dapat terlaksana, maka membutuhkan suatu upaya
perencanaan pembangunan seperti perencanaan pembangunan sektor
pertanian, khususnya perencanaan pengembangan kesempatan kerja sektor
pertanian.
Dari uraian di atas, dapat ditarik rumusan masalah untuk penelitian ini
yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di
Kabupaten Cilacap?
2. Bagaimana pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten
Cilacap?
3. Bagaimana peranan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja untuk
lima dan sepuluh tahun ke depan (tahun 2010-2014 dan 2010-2019) di
Kabupaten Cilacap?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di
Kabupaten Cilacap.
2. Mengetahui pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten
commit to user
3. Mengetahui peranan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja untuk
lima dan sepuluh tahun kedepan (tahun 2010-2014 dan tahun 2010-2019)
di Kabupaten Cilacap.
D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi peneliti, guna menambah wawasan berkaitan dengan topik penelitian
dan mengetahui lebih mendalam mengenai keadaan wilayah dan keadaan
pembangunan Kabupaten Cilacap, serta merupakan salah satu syarat
memperoleh gelar sarjana pertanian di Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
2. Bagi pemerintah daerah Kabupaten Cilacap, sebagai sumbangan pemikiran
dan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam perencanaan
tenaga kerja, khususnya tenaga kerja di sektor pertanian.
3. Bagi pembaca, sebagai bahan informasi mengenai topik penelitian dan
commit to user
II. LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
1. Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja
Berdasarkan penelitian Amin (2007) yang berjudul ”Peranan
Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten
Semarang” diketahui besarnya peranan sektor pertanian dalam
penyerapan tenaga kerja yang diamati dengan angka pengganda
tenaga kerja. Sektor pertanian di Kabupaten Semarang masih
memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja terutama
pada tahun 2001-2003 dan pada tahun 2004-2005 peranannya semakin
menurun. Pada tahun 2002 peranan sektor pertanian adalah yang
terbesar dalam menyerap tenaga kerja. Hal tersebut dilihat dari nilai
angka pengganda yang dihasilkannya yaitu 1,85 yang berarti bahwa
setiap 1 orang yang bekerja di sektor pertanian, maka dapat membuka
kesempatan kerja sebanyak 1 sampai 2 orang di seluruh sektor.
Meskipun angka pengganda terbesar namun pertumbuhan kesempatan
kerja menunjukkan angka yang tidak terlalu besar yaitu sebesar 3,11%
dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan kesempatan kerja sektor
pertanian di Kabupaten Semarang ini mengakibatkan meningkatnya
penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan sebesar 11.459 orang.
2. Pertumbuhan Kesempatan Kerja Sektor Pertanian
Berdasarkan penelitian Santoso (2010) yang berjudul ”Peranan
Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten
Wonogiri” dengan menggunakan perhitungan Analisis Shift Share
menunjukkan bahwa nilai Pertumbuhan Proporsional di Kabupaten
Wonogiri sebesar -36.456,40. Pertumbuhan Proporsional bernilai
negatif berarti apabila terjadi perubahan kesempatan kerja pada salah
satu sektor di Kabupaten Wonogiri, maka sektor pertanian akan
dirugikan dengan adanya penurunan kesempatan kerja sejumlah
36.456 orang. Untuk komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah,
commit to user
nilainya sebesar 28.624,01. Ini berarti bahwa sektor pertanian di
Kabupaten Wonogiri mengalami kenaikan kesempatan kerja sebesar
28.624 orang apabila dibandingkan dengan sektor pertanian kabupaten
lainnya di Provinsi Jawa Tengah. Dari nilai Pertumbuhan Proporsional
dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah, diperoleh nilai Pergeseran Bersih
sebesar -7.832,39. Ini berarti progresifitas pertumbuhan kesempatan
kerja pada sektor pertanian Kabupaten Wonogiri termasuk kelompok
lamban karena Pergeseran Bersihnya bernilai negatif.
3. Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian
Berdasarkan penelitian Nareswari (2010) yang berjudul
“Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di
Kabupaten Karanganyar” untuk meneliti proyeksi kesempatan kerja
di sektor pertanian 5 dan 10 tahun ke depan yaitu dengan
menggunakan model proyeksi pure forecast bahwa nilai elastisitas
kesempatan kerja tetap yaitu -1,356266557 dan pertumbuhan ekonomi
tetap yaitu 0,219023942, dalam hal ini digunnakan asumsi bahwa
elastisitas kesempatan kerja dan pertumbuhan kesempatan kerja pada
periode analisis sama dengan elastisitas kesempatan kerja dan
pertumbuhan kesempatan kerja pada tahun 2012 dan tahun 2017,
diperoleh hasil proyeksi kesempatan kerja di sektor pertanian pada
tahun 2012 yaitu sebesar 22.044 orang. Sedangkan hasil proyeksi
kesempatan kerja di sektor pertanian pada tahun 2017 sebesar 3.784
orang. Rata-rata selama sepuluh tahun menunjukkan penurunan
kesempatan kerja yang terjadi adalah 12.465 orang tiap tahunnya.
Nilai rata-rata penurunan kesempatan kerja pada proyeksi lima tahun
berbeda dengan proyeksi sepuluh tahun. Rata-rata penurunan
kesempatan kerja per tahun pada proyeksi lima tahun sebesar 21.278
orang, lebih besar dari rata-rata penurunan kesempatan kerja per tahun
pada proyeksi sepuluh tahun, yaitu 12.465 orang. Hal ini
commit to user
tahun sebenarnya tidaklah sama. Besar penurunan kesempatan kerja
per tahun semakin lama semakin menurun.
Ketiga hasil penelitian diatas digunakan sebagai referensi dalam
penelitian ini dengan alasan bahwa melihat hasil penelitian Amin (2007),
menunjukkan bahwa angka pengganda tenaga kerja di Kabupaten
Semarang yang diperoleh tertinggi hanya sebesar 1,85. Penelitian Santoso
(2010), menunjukkan angka pertumbuhan kesempatan kerja di Kabupaten
Wonogiri berdasarkan nilai pergeseran bersih tergolong ke dalam
kelompok lamban. Penelitian Nareswari (2010), menunjukkan bahwa
proyeksi kesempatan kerja untuk lima dan sepuluh tahun ke depan di
Kabupaten Karanganyar mengalami penurunan. Penelitian-penelitian
tersebut memiliki kesamaan letak geografis yaitu di Provinsi Jawa Tengah
dan kesamaan sektor yang diteliti yaitu sektor pertanian. Selain itu,
kesamaan antara penelitian-penelitian diatas dengan penelitian ini yaitu
metode yang digunakan, dimana untuk mengetahui peranan sektor
pertanian dalam penyerapan tenaga kerja dengan menggunakan metode
angka pengganda tenaga kerja, untuk mengetahui pertumbuhan
kesempatan kerja sektor pertanian dengan menggunakan analisis shift
share dan untuk mengetahui proyeksi penyerapan tenaga kerja sektor
pertanian untuk lima dan sepuluh tahun yang akan datang dengan
menggunakan analisis pure forecast. Maka dari itu, peneliti mengambil
penelitian terdahulu tersebut untuk dijadikan referensi dan bahan
pembanding mengenai peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga
kerja di Kabupaten Cilacap apakah akan menunjukkan hasil yang sama
atau berbeda.
B. Tinjauan Pustaka
1. Pembangunan
Todaro (2000) mengemukakan bahwa pembangunan merupakan
suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk
berupaya sekeras mungkin melalui serangkaian kombinasi proses
commit to user
serba lebih baik. Adapun komponen spesifik atas “kehidupan yang
serba lebih baik” itu, bertolak dari tiga nilai pokok di atas, proses pembangunan di semua masyarakat paling tidak harus memiliki tiga
tujuan inti sebagai berikut:
a. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai
macam barang kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan,
sandang, papan, kesehatan dan perlindungan keamanan.
b. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan
pendapatan tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan
kerja, perbaikan kualitas pendidikan serta peningkatan perhatian
atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang kesemuanya itu
tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materiil, melainkan
juga menumbuhkan jati diri pribadi dan bangsa yang bersangkutan.
c. Perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi setiap individu
serta bangsa secara keseluruhan, yaitu dengan membebaskan
mereka dari belitan sikap menghamba dan ketergantungan, bukan
hanya terhadap orang atau negara bangsa lain, namun juga terhadap
setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai-nilai
kemanusiaan mereka.
Djojohadikusumo (1994) menyatakan bahwa pembangunan
merupakan proses transformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai
oleh perubahan struktural, yaitu perubahan pada landasan kegiatan
ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang
bersangkutan. Pernyataan ini diperkuat oleh Arsyad (2009) bahwa
pembangunan harus dilihat secara dinamis dan bukan dilihat sebagai
konsep statis. Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha
tanpa akhir. Pembangunan pada dasarnya merupakan proses
transportasi dan proses tersebut membawa perubahan dalam alokasi
sumber-sumber ekonomi, distribusi manfaat dari akumulasi yang
commit to user
2. Pembangunan Ekonomi
Arsyad (2009) mengemukakan bahwa pembangunan ekonomi
harus dipandang sebagai suatu proses dimana saling keterkaitan dan
saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya pembangunan ekonomi tersebut, sehingga dapat
diidentifikasi dan dianalisis dengan seksama. Dengan cara tersebut
bisa diketahui runtutan peristiwa yang timbul yang akan mewujudkan
peningkatan kegiatan ekonomi dan taraf kesejahteraan masyarakat
dari satu tahap pembangunan ke tahap pembangunan berikutnya.
Pembangunan ekonomi berbeda dengan industrialisasi dan
modernisasi. Kalau modernisasi adalah sebagai bidang khusus dalam
pembangunan, maka industrialisasi merupakan aspek khusus dari
modernisasi. Industrialisasi hanyalah suatu periode dalam suatu
negara dimana semua bidang-bidang penting yang strategis selalu
dihubungkan dengan hasil-hasil industri atau manufacturing, jadi
didasarkan pada penggunaan mesin-mesin lebih dinamis dari
modernisasi, namun cakupannya lebih sempit. Sehingga kemungkinan
terjadi modernisasi dalam suatu negara dapat dicapai tanpa banyak
industri, tetapi tidak mungkin mengadakan industrialisasi tanpa ada
modernisasi. Secara singkat dapat dikatakan hubungan antara
pembangunan, modernisasi dan industrialisasi: pembangunan adalah
sebagai bentuk dari perusahaan sosial, sedang modernisasi menjadi
bidang khusus dari pembangunan dan industrialisasi merupakan salah
satu aspek dari modernisasi (Siagian, 1989).
Tujuan pembangunan ekonomi adalah peningkatan standar
hidup penduduk negara yang bersangkutan, yang biasa diukur dengan
kenaikan penghasilan riil per kapita. Penghasilan riil per kapita adalah
sama dengan pendapatan nasional riil atau output secara keseluruhan
yang dihasilkan selama satu tahun dibagi dengan jumlah penduduk
seluruhnya. Jadi, standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali jika
commit to user
jumlah penduduk. Untuk mempengaruhi perkembangan output total
diperlukan penambahan investasi yang cukup besar agar supaya dapat
menyerap pertambahan penduduk yang berarti naiknya penghasilan
riil per kapita (Irawan, 1982).
3. Pembangunan Ekonomi Daerah
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana
pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola
sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara
pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu
lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi
(pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. Pembangunan
ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan
institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif,
perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk
dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu
pengetahuan dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru
(Arsyad, 2009).
Pola pembangunan ekonomi yang telah ditempuh oleh negara
berkembang termasuk Indonesia, beranggapan bahwa pertumbuhan
ekonomi yang pesat selalu dibarengi kenaikan dalam ketimpangan
pembagian pendapatan. Dengan kata lain bahwa antara pertumbuhan
ekonomi yang pesat dan pembagian pendapatan terdapat suatu trade
off yang membawa implikasi bahwa pemerataan dalam pembagian
pendapatan hanya dapat dicapai jika laju pertumbuhan ekonomi
diturunkan. Pertumbuhan ekonomi daerah yang tinggi selalu akan
disertai kemerosotan dalam pembagian pendapatan atau kenaikan
dalam ketimpangan. Pembangunan ekonomi yang mengutamakan
proses industrialisasi yang pesat, khususnya industrialisasi yang padat
modal, menyebabkan peningkatan dalam angka pengangguran,
terutama di daerah perkotaan dimana pusat-pusat industri baru
commit to user
4. Pembangunan Pertanian
Todaro (2000) mengemukakan bahwa secara tradisional peranan
pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan
bahkan hanya dianggap sebagai unsur penunjang semata. Berdasarkan
pengalaman sejarah yang dijalani oleh negara-negara barat, apa yang
disebut sebagai pembangunan ekonomi diidentikan dengan
transformasi struktural terhadap perekonomian secara cepat, yakni
dari perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi
perekonomian industri modern dan jasa-jasa yang serba lebih
kompleks. Dengan demikian, peranan utama pertanian dianggap
hanya sebatas sebagai sumber tenaga kerja dan bahan-bahan pangan
yang murah demi berkembangnya sektor-sektor industri yang
dinobatkan sebagai sektor unggulan dinamis dalam strategi
pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Pembangunan pertanian di Indonesia sebenarnya telah
menunjukkan kontribusi yang tinggi, bahwa peningkatan produktivitas
tanaman pangan melalui varietas unggul, lonjakan produksi
peternakan dan perikanan telah terbukti mampu mengatasi persoalan
kelaparan dalam empat dasawarsa terakhir. Pembangunan perkebunan
dan agroindustri juga telah mampu mengantarkan pada kemajuan
ekonomi bangsa, perbaikan kinerja ekspor, dan penyerapan tenaga
kerja. Selama empat dasawarsa terakhir, strategi pembangunan
pertanian mengikuti tiga prinsip penting: broad-based dan terintegrasi
dengan ekonomi makro; pemerataan dan pemberantasan kemiskinan;
dan pelestarian lingkungan hidup. Dua prinsip utama telah
menunjukkan kinerja yang baik, seperti diuraikan di atas, karena
dukungan jaringan irigasi, jalan-jembatan, perubahan teknologi,
kebijakan ekonomi makro, dan sebagainya (Arifin, 2008).
5. Peranan Sektor Pertanian dalam Pembangunan
Mubyarto (1995), Indonesia masih merupakan negara pertanian,
commit to user
perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya
penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada sektor
pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian.
Pentingnya sektor pertanian selain dilihat dari nilai produk domestik
bruto dan lapangan pekerjaan, dapat juga dilihat dari besarnya nilai
ekspor yang berasal dari pertanian.
Sektor pertanian di Indonesia memiliki kemampuan dalam
mengisi pembangunan yang dipercayai dapat menjamin pembangunan
ekonomi yang berkelanjutan. Sektor pertanian dapat memenuhi lima
syarat utama sebagai sektor andalan, yaitu tangguh, progresif,
ukurannya cukup luas, artikulatif dan responsif. Ketangguhan sektor
pertanian diindikasikan oleh kemampuannya dalam memberi
kontribusi pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung. Sektor
pertanian berpotensi progresif dan mendorong pertumbuhan ekonomi
nasional jika didukung dengan kebijaksanaan yang tepat
(Daniel, 2002).
Sumbangan atau jasa sektor pertanian pada pembangunan
ekonomi terletak dalam hal menyediakan surplus pangan yang
semakin besar kepada penduduk yang kian meningkat; meningkatkan
permintaan akan produk industri dan dengan demikian mendorong
keharusan diperluasnya sektor sekunder dan tersier; menyediakan
tambahan penghasilan devisa untuk impor barang-barang bagi
pembangunan melalui ekspor hasil pertanian terus-menerus;
meningkatkan pendapatan desa untuk dimobilisasi pemerintah dan
memperbaiki kesejahteraan rakyat pedesaan (Jhingan, 2007).
6. Tenaga Kerja
Simanjuntak (1985) dalam bukunya yang berjudul Pengantar
Ekonomi Sumber Daya Manusia mengemukakan bahwa tenaga kerja
mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, mencari
pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti sekolah dan
commit to user
bersekolah dan mengurus rumah tangga, walaupun sedang tidak
bekerja namun secara fisik dianggap mampu dan sewaktu-waktu dapat
ikut bekerja. Secara praktis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga
kerja dibedakan menurut batas umur. Di Indonesia dipilih batas umur
minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Dengan demikian
tenaga kerja di Indonesia adalah penduduk yang berumur 10 tahun
atau lebih. Penduduk dibawah 10 tahun digolongkan sebagai bukan
tenaga kerja. BPS Kabupaten Cilacap, menyatakan bahwa sejak Tahun
2007 penduduk yang tergolong tenaga kerja adalah penduduk berumur
15 tahun keatas. Hal ini disebabkan karena adanya ketentuan wajib
belajar 9 tahun, sehingga penduduk yang berumur dibawah 15 tahun
masih tergolong kelompok penduduk bersekolah.
Andayuna (2009), angkatan kerja dapat didefinisikan sebagai
bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang
sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang
produktif. Dari pengertian tersebut maka angkatan kerja dapat dibagi
dalam dua kelompok, yaitu kelompok pekerja (employment) dan
kelompok penganggur (unemployment). Menurut Simanjuntak (1985),
tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Angkatan kerja atau labor force terdiri dari golongan yang bekerja dan
golongan yang menganggur atau mencari pekerjaan. Kelompok bukan
angkatan kerja terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang
mengurus rumah tangga dan golongan lain-lain atau penerima
pendapatan. Ketiga golongan dalam kelompok bukan angkatan kerja
sewaktu-waktu dapat menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh karena
itu, golongan ini sering disebut potensial labor force.
Pengertian manpower adalah kemampuan manusia untuk
mengeluarkan usaha tiap satuan waktu guna menghasilkan barang atau
jasa, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Istilah imi
diterjemahkan menjadi tenaga kerja. Tenaga ini dikeluarkan oleh
commit to user
jaringan saraf dan panca indera sebagai sistem komunikasinya, serta
tulang dan otot, terutama pada jari, tangan, kaki dan punggung yang
menjadi alat mekanisnya (Suroto, 1992).
Todaro (2000), kesempatan kerja terbuka pada saat industri
mulai berkembang, namun pada waktu yang sama teknologi yang
hemat tenaga kerja mulai ditemukan sehingga banyak mengurangi
kebutuhan akan tenaga kerja manusia. Pengangguran penuh atau
pengangguran terbuka (open unemployment) banyak disandang oleh
pemuda berusia 15-24 tahun dan terdidik (mereka pernah mengenyam
pendidikan yang relatif tinggi) dan pengangguran terselubung
(underemployment) yaitu mereka yang hanya bekerja tidak penuh atau
secara paruh waktu dengan tingkat penghasilan yang minimum, tidak
memiliki penghasilan yang memadai dan tidak mempunyai
kesempatan kerja untuk meningkatkan pendapatannya. Tenaga kerja
putus asa (discouraged workers) yang terpaksa menyerah dan
menghentikan usahanya duduk dalam antrian panjang angkatan kerja
(labor force) untuk mencari sebuah pekerjaan permanen di sektor
formal, untuk kemudian berusaha mencari nafkah di sektor kerja
informal, sehingga mereka tidak lagi masuk dalam survei-survei
ketenagakerjaan.
Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah
geografis selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili
kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Penduduk usia
kerja adalah golongan penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang
terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Pasar kerja
adalah seluruh kebutuhan dan persediaan tenaga kerja atau seluruh
permintaan dan penawarannya dalam masyarakat dengan seluruh
mekanisme yang memungkinkan adanya transaksi produktif diantara
orang yang menjual tenaganya dengan pihak pengusaha yang
membutuhkan tenaga tersebut. Kesempatan kerja mengandung
commit to user
bekerja akibat dari suatu kegiatan ekonomi, dengan demikian
kesempatan kerja mencakup lapangan pekerjaan yang sudah diisi dan
semua lapangan pekerjaan yang masih lowong. Tenaga kerja adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun
di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa dan barang untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat ( Kartono, 1999).
Tenaga kerja (penduduk usia kerja) adalah penduduk yang
secara potensial dapat bekerja, pada umumnya yang termasuk
kelompok ini dibatasi adalah penduduk yang berusia 15-64 tahun.
Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan mereka yang tidak
bekerja tetapi siap untuk bekerja dan sedang mencari pekerjaan.
Bekerja adalah mereka yang melakukan pekerjaan untuk
menghasilkan barang dan jasa dengan tujuan untuk memperoleh
penghasilan atau keuntungan, baik bekerja penuh maupun tidak
bekerja penuh. Mencari pekerjaan (menganggur) adalah mereka yang
tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan menurut referensi
tertentu, atau mereka yang pernah bekerja /dibebas tugaskan, tetapi
sedang menganggur atau mencari pekerjaan. Setengah menganggur
adalah mereka yang bekerja akan tetapi bila dilihat dari jam kerja
yang dilakukan kurang dari yang ditetapkan, biasanya kurang dari 35
jam per minggu (Sugihardjo dan Retno, 2005).
7. Shift Share
Analisis shift share digunakan untuk menganalisis perubahan
berbagai indikator kegiatan ekonomi, seperti produksi dan kesempatan
kerja pada dua titik waktu di suatu wilayah. Dari hasil analisis ini akan
diketahui bagaimana perkembangan suatu sektor di suatu wilayah jika
dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya, apakah
bertumbuh cepat atau lamban. Dalam analisis ini diasumsikan bahwa
perubahan tenaga kerja/ produksi di suatu wilayah antara tahun dasar
dengan tahun akhir analisis dibagi menjadi tiga komponen
commit to user
growth component) disingkat PN, komponen pertumbuhan
proporsional (proporsional or industrial mix growth component)
disingkat PP dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (regional
growth component) disingkat PPW (Budiharsono, 2005).
Komponen pertumbuhan nasional adalah perubahan kesempatan
kerja/produksi dalam suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan
kesempatan kerja atau produksi nasional secara umum, perubahan
kebijakan ekonomi nasional atau perubahan dalam hal-hal yang
mempengaruhi perekonomian semua sektor dan wilayah, misalnya
devaluasi, kecenderungan inflasi, pengangguran dan kebijakan
perpajakan. Bila diasumsikan tidak terdapat perbedaan karakteristik
ekonomi antar sektor dan antar wilayah.
Komponen pertumbuhan proporsional tumbuh karena perbedaan
dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan
mentah, perbedaan dalam kebijakan industri (misalnya subsidi,
kebijakan perpajakan dan price support) dan perbedaan dalam struktur
dan keragaman pasar.
Komponen pertumbuhan pangsa wilayah timbul karena
peningkatan atau penurunan PDRB/kesempatan kerja dalam suatu
wilayah dibandingkan wilayah lain. Cepat lambatnya pertumbuhan
suatu wilayah dengan wilayah lain ditentukan oleh keunggulan
komparatif, akses ke pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial
ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut
(Lucas dan Primms, 1979 cit. Budiharsono, 2005).
Analisis shift share adalah salah satu teknik kuantitatif yang
biasa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi
daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administrasi yang
lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi. Untuk tujuan tersebut,
analisis ini menggunakan tiga informasi dasar yang berhubungan satu
sama lain yaitu: pertama, pertumbuhan ekonomi referensi propinsi
commit to user
pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian
daerah. Kedua, pergeseran proporsional (proportional shift), yang
menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu
terhadap sektor yang sama di referensi propinsi atau nasional.
Pergeseran proporsional (proportional shift) disebut juga pengaruh
bauran industri (industry mix). Pengukuran ini memungkinkan kita
untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada
industri-industri yang tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian
yang dijadikan referensi. Ketiga, pergeseran diferensial (differential
shift) yang memberikan informasi dalam menentukkan seberapa jauh
daya saing industri daerah atau lokal (local) dengan perekonomian
yang dijadikan referensi. Jika pergeseran diferensial dari suatu industri
adalah positif, maka industri tersebut relatif lebih tinggi daya saingnya
dibanding industri yang sama pada perekonomian yang dijadikan
referensi juga. Pergeseran diferensial ini disebut juga pengaruh
keunggulan kompetitif (Widodo, 2006).
Arsyad (2009), analisis shift share merupakan teknik yang
sangat berguna dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi
daerah dibandingkan dengan perekonomian nasional. Tujuan analisis
ini adalah untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja
perekonomian daerah dengan membandingkan dengan daerah yang
lebih besar (regional atau nasional). Analisis ini memberikan data
tentang kinerja perekonomian dalam tiga bidang yang berhubungan
satu sama lain yaitu:
1. Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis
perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan
perubahan pada sektor yang sama di perekonomian yang dijadikan
acuan.
2. Pergeseran proporsional (proportional shift) mengukur perubahan
relatif, pertumbuhan atau penurunan, pada daerah dibandingkan
commit to user
Pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahui apakah
perekonomian daerah terkonsentrasi pada industri-industri yang
tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan acuan.
3. Pergeseran differensial (differential shift) membantu kita dalam
menentukan seberapa jauh daya saing industry daerah (lokal)
dengan perekonomian yang dijadikan acuan. Oleh karena itu, jika
pergeseran diferensial dari suatu industry adalah positif, maka
industry tersebut lebih tinggi daya saingnya ketimbang industri
yang sama pada perekonomian yang dijadikan acuan.
8. Proyeksi Tenaga Kerja
Perencanaan tenaga kerja pada umumnya disusun berdasarkan
sasaran pertumbuhanekonomi (Gy) dan sasaran pertumbuhan
kesempatan kerja (Gn). Perencanaan tenaga kerja pada dasarnya
diarahkan untuk memenuhi jumlah dan mutu tenaga kerja yang
dibutuhkan oleh pembangunan suatu daerah, guna mencapai target
pertumbuhan ekonomi serta pengendalian tingkat pengangguran, baik
pengangguran terbuka maupun pengangguran tersembunyi. Dalam
menyusun proyeksi kesempatan kerja yang dikaitkan dengan
pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB), digunakan koefisien elastisitas
kesempatan kerja (employment output coefficient). Penggunaan
metode ini didasarkan pada pertimbangan bahwa rumus yang
digunakan dapat membantu dalam pemahaman tentang hubungan
antara jumlah angkatan kerja yang terserap di tiap sektor dengan
pertumbuhan PDRB tiap sektor yang bersangkutan serta perubahan
teknologi dalam sektor-sektor tersebut. Koefisien penyerapan tenaga
kerja (EKK= Elastisitas Kesempatan Kerja) dari masing-masing
sektor dihitung berdasarkan perbandingan antara pertumbuhan
kesempatan kerja (Gn) dengan tingkat pertumbuhan PDRB (Gy)
(Molo, 1998).
Swasono dan Sulistyaningsih (1987), perencanaan tenaga kerja
commit to user
proses pengumpulan informasi secara reguler dan analisis situasi dan
trend untuk masa kini dan masa depan dari permintaan dan penawaran
tenaga kerja, termasuk faktor-faktor yang menyebabkan adanya
ketidakseimbangan dan penyajian pilihan pengambilan keputusan
kebijaksanaan dan program aksi sebagai bagian dari proses
perencanaan (pembangunan) untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk
dapat memperkirakan permintaan tenaga kerja tidak terlepas dari
perhitungan proyeksi yang juga digunakan untuk memperkirakan atau
memproyeksikan suatu keadaan, baik keadaan tenaga kerja maupun
keadaan perekonomian. Beberapa model perhitungan proyeksi dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok dasar perhitungan yaitu:
a. Pure Forecast
Pure Forecast merupakan perhitungan proyeksi dengan
berdasarkan kejadian masa lalu. Perhitungan dilaksanakan dengan
mengamati gejala dan perkembangannya di masa lalu untuk
memperkirakan keadaannya pada masa yang akan datang.
Rumus : Lit = Lito (1+b)t
Lit = tenaga kerja pada waktu tertentu
Lito = tenaga kerja pada waktu to
b = angka konstanta (koefisien arah dari data)
t = waktu
b. Conditional Forecast
Merupakan perhitungan perkiraan jumlah tenaga kerja berdasarkan
keadaan sebab akibat (hubungan erat dua variabel), yang satu
variabel bebas dan yang lain variabel terikat, misalnya jumlah
pendapatan (Y=Output) dengan jumlah tenaga kerja (L).
Rumus : Y = a + b L
a dan b = konstanta / parameter
c. Teleological Forecast
Merupakan kebalikan dari Conditional Forecast, dengan dasar
commit to user
kerja dengan jumlah tertentu. Jumlah tenaga kerja sebagai akibat
dan jumlah output sebagai sebab.
Rumus : (Lij/Yj) t = (Lij/Yj) to + f (t)
Lij = tenaga kerja dengan jabatan I dalam industri j
Yj = produksi industri j (output j)
t = waktu
C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah
Tenaga kerja (penduduk usia kerja) adalah penduduk yang secara
potensial dapat bekerja, pada umumnya yang termasuk kelompok ini
dibatasi adalah penduduk yang berusia 15-64 tahun. Tenaga kerja
Kabupaten Cilacap terbagi menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan
kerja. Angkatan kerja adalah bagian dari jumlah penduduk yang
mempunyai pekerjaan dan yang sedang mencari kesempatan untuk
melakukan pekerjaan (tidak/belum bekerja) atau angkatan kerja
merupakan penduduk yang bekerja dan mereka yang tidak bekerja tetapi
siap untuk bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Bekerja adalah mereka
yang melakukan pekerjaan untuk menghasilkan barang dan jasa dengan
tujuan untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, baik bekerja
penuh maupun tidak bekerja penuh. Mencari pekerjaan (menganggur)
adalah mereka yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan menurut
referensi tertentu, atau mereka yang pernah bekerja/ dibebas tugaskan,
tetapi sedang menganggur atau mencari pekerjaan. Setengah menganggur
adalah mereka yang bekerja akan tetapi bila dilihat dari jam kerja yang
dilakukan kurang dari yang ditetapkan, biasanya kurang dari 35 jam per
minggu. Angkatan kerja terdiri dari golongan yang bekerja, golongan yang
mengangggur dan golongan yang mencari pekerjaan. Kelompok bukan
angkatan kerja terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang
mengurus rumah tangga dan golongan lain-lain atau penerima pendapatan.
Penduduk yang bekerja di Kabupaten Cilacap dibagi menjadi
penduduk yang bekerja di sektor pertanian dan luar sektor pertanian.
commit to user
pertumbuhan kesempatan kerja sektor lain, tingkat pertumbuhan PDRB
dan kebijakan pemerintah Kabupaten Cilacap. Untuk mengetahui peranan
sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap
berdasarkan besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian
digunakan rumus angka pengganda tenaga kerja. Rumus angka pengganda
tenaga kerja yaitu sebagai berikut:
NB N
K
Dimana : K : pengganda tenaga kerja
N : jumlah tenaga kerja di seluruh sektor
NB : jumlah tenaga kerja di sektor pertanian
Angka pengganda tenaga kerja yang diperoleh, dikalikan dengan
perubahan tenaga kerja di sektor pertanian akan dihasilkan angka
pertumbuhan kesempatan kerja total dengan rumus:
ΔN = ΔNB X K
Dimana: ΔN : pertumbuhan tenaga kerja total Kabupaten Cilacap.
ΔNB: pertumbuhan tenaga kerja sektor pertanian Kabupaten
Cilacap.
Pertumbuhan kesempatan kerja sektor pertanian terhadap
kesempatan kerja total wilayah dianalisis dengan menggunakan analisis
shift share, sehingga akan diketahui progresifitas dari sektor pertanian.
Secara matematik dapat dinyatakan sebagai berikut:
ΔYij = PNij + PPij + PPWij
Y’ij – Y ij = ΔYij = Yij (Ra – 1) + Yij (Ri – Ra) + Yij (ri – Ri)
Dimana : Ra = Y’ / Y
Ri = Y’i / Yi ri = Y’ij / Yij Keterangan:
PN : komponen pertumbuhan nasional
PP : komponen pertumbuhan proporsional
commit to user
Y : kesempatan kerja total Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 Y’ : kesempatan kerja total Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 Yi : kesempatan kerja sektor pertanian Provinsi Jawa Tengah tahun
2005
Y’i : kesempatan kerja sektor pertanian Provinsi Jawa Tengah tahun 2009
∆Yij : pertumbuhan dalam kesempatan kerja sektor pertanian
Kabupaten Cilacap
Yij : kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Cilacap pada
tahun dasar analisis (tahun 2005)
Y’ij : kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Cilacap pada tahun akhir analisis (tahun 2009)
(Ra - 1) : persentase perubahan kesempatan kerja yang disebabkan oleh
komponen pertumbuhan nasional
(Ri-Ra) : persentase perubahan kesempatan kerja yang disebabkan oleh
komponen pertumbuhan proporsional
(ri - Ri) : persentase perubahan kesempatan kerja yang disebabkan oleh
komponen pertumbuhan pangsa wilayah
Proyeksi kesempatan kerja di sektor pertanian tahun 2010 sampai
tahun 2014 dan tahun 2019 dapat dihitung dengan model proyeksi pure
forecast. Secara sederhana dibuat persamaan sebagai berikut :
Lit = Lito (1+ Gn)t
Dimana: Lit :kesempatan kerja sektor pertanian Kabupaten Cilacap tahun
akhir proyeksi
Lito :kesempatan kerja sektor pertanian Kabupaten Cilacap
tahun akhir periode dasar proyeksi
Gn : pertumbuhan kesempatan kerja
t : selisih tahun proyeksi dengan tahun akhir periode dasar
commit to user
Kerangka teori pendekatan masalah dalam penelitian ini dapat
digambarkan dalam bagan berikut ini:
Gambar 1. Kerangka Teori Pendekatan Peranan Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Cilacap
Tidak/Belum bekerja Bekerja
Sektor Pertanian Luar Sektor Pertanian
Pertumbuhan kesempatan kerja sektor
lain Kabupaten Cilacap
Tingkat pertumbuhan PDRB
Kebijakan pemerintah
Tenaga Kerja Tahun 2005-2009
Proyeksi Tahun 2014 dan 2019
Analisis Shift Share Angka Pengganda
Tenaga Kerja
Pure Forecast
Peranan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja
tahun 2014 dan 2019 di Kabupaten Cilacap PPij PPWij
PBij
Pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian
Kabupaten Cilacap Peranan sektor pertanian
dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Cilacap
Angkatan Kerja Tenaga Kerja Kabupaten Cilacap
Bukan Angkatan Kerja
commit to user
D. Asumsi-Asumsi
1. Pertumbuhan kesempatan kerja di sektor pertanian Kabupaten Cilacap
pada masa mendatang mengikuti pola pertumbuhan kesempatan kerja di
masa lampau.
2. Dalam memproyeksikan, perhitungannya menggunakan skenario
moderat, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah (Gy), pertumbuhan
kesempatan kerja (Gn) dan elastisitas kesempatan kerja (EKK) antara
periode analisis dan periode dasar dianggap tetap.
E. Pembatasan Masalah
1. Sektor yang diteliti adalah sektor pertanian.
2. Penelitian ini memusatkan pada analisis data tentang penyerapan tenaga
kerja sektor pertanian di Kabupaten Cilacap. Data yang dianalisis
adalah data penduduk usia kerja yang bekerja menurut lapangan usaha
utama tahun 2005-2009. Data tersebut kemudian digunakan sebagai
dasar memproyeksikan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian
pada tahun 2010-2014 dan 2010-2019.
F. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel
1. Sektor pertanian adalah sektor ekonomi yang dalam proses
produksinya berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dan hewan. Meliputi sub sektor tanaman bahan makanan, sub
sektor perkebunan, sub sektor peternakan, sub sektor kehutanan dan
sub sektor perikanan (BPS Kabupaten Cilacap).
2. Tenaga kerja menurut UU No. 13 Tahun 2003 adalah setiap orang
yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang
dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk
masyarakat. Tenaga kerja dapat juga diartikan sebagai penduduk yang
berada dalam batas usia kerja. Tenaga kerja disebut juga golongan
produktif. Dalam penelitian ini, jumlah tenaga kerja didekati dengan
jumlah orang yang bekerja pada suatu sektor di Kabupaten Cilacap.