• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Kekuasaan Presiden Dalam Membentuk Undang-Undang Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 1945

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Yuridis Kekuasaan Presiden Dalam Membentuk Undang-Undang Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 1945"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 1945

Solikhatun Septia Pradini

Prodi PPKn FKIP Universitas Ahmad Dahlan Jl. Pramuka No. 42 Sidikan Umbulharjo Yogyakarta 55161

ABSTRAK

Lembaga Kepresidenan sebagai salah satu lembaga yang memegang kekuasaan negara mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai perubahan yang terjadi terhadap lembaga ini sebagai implikasi dari berbagai perubahan yang terjadi seiiring perubahan zaman dan konstelasi bangsa dan negara. Namun, betapa pun demikian lembaga Kepresidenan harus senantiasa mampu menjalankan peranan dan fungsinya demi mewujudkan tujuan bangsa dan negara mela- lui perwujudan lembaga Kepresidenan yang aspiratif, akomodatif dan mementingkan kepentingan negara diatas segalanya berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Mekanisme check and balances diantara ketiga kekuasaan negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) harus diwujudkan demi tercapainya cita-cita bangsa dan negara.

Sehingga penulis mengambil judul “Analisis Yuridis Kekuasaan Presiden dalam Mem- bentuk Undang-Undang Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 1945”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kekuasaan Presiden dalam membentuk Undang- Undang sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan subjek pe- nelitian kekuasaan Presiden serta objek penelitian yaitu pembentukan Undang-Undang.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan yang dilakukan dengan cara pengumpulan berbagai data yang terdapat dalam buku-buku literatur, makalah, surat ka- bar, artikel ilmiah, dan peraturan perundangan yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) kekuasaan Presiden dalam membentuk Un- dang-Undang sebelum amandemen UUD 1945 sangatlah besar, hal ini dapat dilihat dari masa pemerintahan Orde Baru, kekuasaan membuat Undang-Undang ada pada Pres- iden. Perubahan yang berkaitan dengan kekuasaan Presiden dan DPR, perubahan per- tama UUD 1945 terhadap Pasal 5 dan Pasal 20 dipandang sebagai permulaan terjadinya pergeseran executive heavy ke arah legislatif heavy; 2) Sesudah amandemen UUD 1945 kekuasaan legislasi berada di tangan DPR dengan persetujuan dari Presiden (Pasal 20 ayat (1) perubahan pertama UUD 1945). Dengan demikian, telah terjadi perubahan ke- wenangan legislasi dari Presiden dengan persetujuan DPR kepada DPR dengan persetu- juan Presiden. Setelah adanya Amandemen ke-4, Presiden hanya berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada DPR untuk disetujui DPR. Kini, Dewan Perwaki- lan Rakyatlah yang memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang, sesuai pasal 20 UUD 1945.

Kata Kunci : lembaga kepresidenan, undang-undang, UUD 1945, membentuk undang-undang

PENDAHULUAN

Di setiap negara akan selalu di temu- kan bagian yang secara khusus mengatur

ketentuan-ketentuan menge nai organi sa- si negara, yaitu Undang-Un dang Dasar (UUD) atau Konstitusi. Se tiap negara

(2)

memiliki tu juan negara yang di rumuskan dalam konstitusi. Untuk me wujudkan tu- juan tersebut, negara me miliki seperangkat alat-alat atau organ negara, baik ekse kutif, legislatif, maupun yudikatif yang memiliki fungsi dan pe ranan masing-masing. UUD 1945 me nya ta kan secara eks plisit tugas dan ke wenangan Presiden yang mencakup tidak hanya bidang ek sekutif tetapi juga le- gis latif.

Adanya amandemen UUD me nye - bab kan adanya perubahan sistem pe me- rintahan di Indonesia yang membawa kon sekuensi pada kekuasaan Presiden.

Se belum amandemen, ke kuasaan Pres- iden sangat besar karena masih kurangnya pasal-pasal dalam konstitusi yang mem- batasi kekuasaan Presiden masih sangat kurang. Ketentuan konstitusional tentang kekuasaan ekse ku tif yang terbatas diper- lukan untuk me nutup kemungkinan tum- buhnya rezim oto ritarianisme yang cend- erung represif. Kegagalan rezim otoriter menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi merupakan pe lajaran yang sa- ngat berharga. Oleh ka rena itu, badan legislatif dan yudikatif pada khususnya – dibantu media massa, kampus, kelompok kepentingan pada umumnya– harus meng- kondisikan diri untuk tetap me mantau eks- pansi kekuatan ek sekutif (Presiden) agar tidak bertindak sewenang-wenang.

Berdasarkan Pasal 5 ayat (1), Pa sal 20, Pasal 21, dan Pasal 22 UUD 1945, pembentuk Undang-Undang adalah DPR ber sama dengan Presiden. Sebelum di ada - kannya Perubahan UUD 1945, titik berat pembentuk Undang-Undang ada di tangan Presiden. Namun dengan adanya refor- masi, pembentuk UU bergeser ke tangan DPR. Hal ini dapat dibaca dari Pasal 20 ayat (1) Perubahan Pertama UUD 1945

yang berbunyi: DPR memegang kekua- saan membentuk Undang-Undang. Ru- musan Pasal 20 ayat (1) ini merupakan pindahan dari Pasal 5 ayat (1) lama yang berbunyi: Presiden memegang ke ku asaan membentuk Undang-Undang dengan per- setujuan DPR. Selama kurang lebih 30 ta- hun, rumusan Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 (lama) ini ditafsirkan bahwa pembentuk Undang-Undang adalah Pre siden, sedang- kan DPR hanya lah ber setuju untuk setuju atau tidak se tuju ter hadap RUU yang di- bentuk atau disusun oleh Presiden. Seba- gaimana bunyi Pa sal 5 ayat (1) Perubahan Pertama UUD 1945 yang berbunyi: Pre- siden berhak meng ajukan RUU kepada DPR, Pre si den (Pemerintah) hanyalah mem punyai “hak” yang dapat digunakan atau ti dak di gunakan. Presiden peme- gang kekuasa an pemerintah (eksekutif), kekua saan mem bentuk Undang-Undang (legis latif) de ngan persetujuan DPR dan me ne tapkan Pe raturan Pemerintah untuk men jalankan Undang-Undang sebagai- mana mestinya.

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini diru- muskan sebagai berikut: bagaimana keku- asaan Presiden dalam membentuk undang- undang sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945?

KAJIAN PUSTAKA 1. Undang-Undang Dasar

Dalam kehidupan sehari-hari kita te- lah ter biasa untuk menerjemahkan kata

“constitution” dengan kata “Undang- Un dang Dasar”. Para penyusun UUD 1945 menganut pikiran yang menjelaskan pe- ngertian Undang-Undang Dasar yang ter-

(3)

dapat dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Dikatakan bahwa “Undang- Undang Dasar suatu negara ialah hanya sebagian dari hukumnya dasar negara itu.

Undang-Undang Dasar ialah hukum dasar yang tertulis, sedangkan di sampingnya Undang-Undang Dasar itu berlaku juga hukum dasar yang tertulis, ialah aturan- aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis.”

2. Sistem dan Cara Perubahan UUD Apabila dipelajari secara teliti me- ngenai sistem perubahan UUD atau kons- titusi di berbagai negara, setidaknya ada dua sistem yang berkembang. Yang per- tama adalah renewel (pembaharuan). Ar- tinya, apabila suatu konstitusi atau UUD dilakukan perubahan maka yang diber- lakukan adalah konstitusi yang baru secara keseluruhan. Sistem ini dianut di negara- negara Eropa Kontinental seperti Belanda, Jerman, dan Perancis. Kedua, amandemen (per ubah an), yakni bahwa apabila suatu konstitusi diubah (diamandemen), maka konstitusi yang asli tetap berlaku dan hasil amandemen tersebut merupakan bagian atau dilampirkan dalam konstitusinya. Ne- gara yang menganut sistem ini adalah ne- gara Anglo-Saxon, seperti Amerika Seri- kat (Dahlan Thaib, dkk, 2004:67).

3. Teori Pembagian Kekuasaan

Adalah John Locke yang di anggap mengintrodusir pertama kali konsep ten- tang pemisahan kekuasaan. Gagasan-ga- gasannya itu termuat dalam bukunya Two Treaties of (on) Civil Government (1690).

Locke me nyatakan, bahwa untuk meng- hindari ke pemimpinan yang totaliter (ab-

solut), maka kekuasaan negara tidak boleh terletak pada satu tangan atau satu lem- baga saja. Kekuasaan politik dalam negara ha rus dipencarkan atau dipisahkan, yaitu kepada kekuasaan legislatif (pembentuk Un dang-Undang), kekuasaan eksekutif (pe laksana Undang-Undang), dan keku- asaan yudikatif. Dalam wilayah praktis politik, prinsip Trias Politica dari Locke dan Montesquieu ini telah banyak bergeser atau berubah. Dalam konteks politik Indo- nesia misalnya, lembaga yang berwenang membentuk Un dang-Undang berdasarkan UUD 1945 se belum mengalami perubah- an, adalah DPR dengan Presiden. Setelah mengalami perubahan ke-4, prinsip pem- bagian kekuasaan yang bersifat vertikal itu tidak lagi dianut oleh UUD 1945. Seka- rang ini, meskipun bukan dalam penger- tian Trias Politica ala Montesquieu, UUD 1945 meng anut paham pemisahan keku- asaan ber dasarkan prinsip check and bal- ances antara lembaga-lembaga negara.

Berdasar UUD 1945, sistem pemerin- tahan Indonesia menganut sistem pemerin- tahan presidensiil, sebagaimana yang di jalan kan semasa Orde Baru di bawah ke - pemimpinan Presiden Soeharto. Ciri dari sistem pemerintahan presidensiil adalah adanya kekuasaan yang amat besar pada lembaga kepresidenan. Setelah diadakan amandemen UUD 1945, sistem peme- rintahan di Indonesia mengambil unsur- unsur dari sistem pemerintahan parlemen- ter dan melakukan pembaruan untuk meng hilangkan kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem presidensial.

Kekuasaan Presiden sebagai kepala negara mempunyai sejumlah hak pre- rogatif atau hak istimewa, yaitu hak yang hanya dimiliki oleh seorang kepala negara.

Hak-hak tersebut terdiri atas pelaksana dari

(4)

Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14 dan Pasal 15 UUD 1945. Ditinjau dari teori pembagian kekuasaan, maka yang di maksud kekuasaan pemerintahan ada- lah ke kuasaan eksekutif. Dalam ranah ke- kuasaan eksekutif, penyelenggaraan peme- rin tah an yang dilaksanakan Presiden dapat di bedakan antara kekuasaan penyeleng ga- raan yang bersifat umum (kekuasaan me- nyelenggarakan administrasi negara) dan kekuasaan penyelenggaraan yang ber sifat khusus (tugas dan wewenang pe merintah yang secara konstitusional terletak pada Presiden yang bersifat pre rogatif).

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kekuasaan Presiden dalam Mem- bentuk Undang-Undang Sebelum Amandemen UUD 1945

Sebelum diadakan amandemen, UUD 1945 membangun sistem politik yang memberikan kekuasaan sangat besar ke- pada Presiden (executive heavy) sehing- ga Presiden menjadi steril dari ke kuasaan kontrol dan penyeimbangan kekuatan dari luarnya karena tidak ada mekanisme check and balances yang ketat. Lembaga legis- latif (yang secara praktis didominasi oleh Presiden) memiliki atribusi dan de legasi kewenangan yang sangat be sar untuk me- nafsirkan lagi hal-hal pen ting yang ada di dalam UUD 1945 dengan peraturan pelak- sanaan atau Undang-Undang orga nik.

Oleh karena kekuasaan Presiden sa ngat besar, maka implementasi atribusi dan dele gasi ke wenangan itu sangat ditentukan oleh kehendak-kehandak Presiden yang cen derung menimbun kekuasaan secara terus-menerus.

Pasal 5 UUD 1945 menunjukan bahwa pemegang kekuasaan legilatif di Indone-

sia bukanlah DPR, melainkan Presiden.

Dalam UUD 1945 sebelum amandemen kekuasaan eksekutif dan legislatif berada ditangan Presiden. Sedangkan keduduk- an DPR sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 hanya me- negaskan bahwa pembentukan UU harus mendapatkan persetujuan bersama, antara pemerintah dan DPR. Sebelum diadakan- nya aman demen UUD kekuasaan Presiden sangat besar dalam membentuk Undang- Undang. Hal yang membuat lembaga eksekutif menjadi berkuasa begitu besar yaitu adanya 13 (tiga belas) pasal dari 37 pasal dalam UUD 1945 yang mengatur langsung tentang jabatan Presiden.

2. Kekuasaan Presiden dalam Mem- bentuk Undang-Undang Sesudah Amandemen UUD 1945

Sesudah amandemen UUD 1945, ke- kuasaan legislasi ada di tangan DPR de- ngan persetujuan dari Presiden (Pasal 20 ayat (1) perubahan pertama UUD 1945).

Dengan demikian, telah terjadi perubahan kewenangan legislasi dari Presiden dengan persetujuan DPR kepada DPR dengan per- setujuan Presiden. Selain fungsi legislasi, DPR juga memiliki fungsi anggaran dan pengawasan (Pasal 20A ayat (1) perubahan ke-2 UUD 1945). Sementara kewenangan mengajukan rancangan Undang-Undang dibahas oleh DPR dan presi den untuk mendapat persetujuan bersama (Pasal 20 ayat (2) perubahan pertama UUD 1945).

Setelah diadakannya amandemen UUD kekuasaan membuat Undang- Undang ada di tangan DPR. Presiden tidak lagi mempunyai kekuasaan besar tapi DPR yang mempunyai kekuasaan be- sar. Oleh karena itu, terjadilah pergeseran keku asaan legislatif dari Presiden ke DPR.

(5)

Presi den mempunyai kedudukan yang sederajat dengan DPR, dan dalam keada- an itu Presiden wajib bekerjasama dengan DPR dalam membuat Undang-Undang.

Fungsi pembuatan Undang-Undang dipertegas sebagai kekuasaan DPR, bukan lagi kekuasaan Presiden.

KESIMPULAN

1. Sebelum adanya perubahan UUD 1945 kekuasaan Presiden dalam membuat Undang-Undang sangatlah besar. Hal ini dapat dilihat dari masa pemerin- tahan Orde Baru (Soeharto), keku- asaan membuat Undang-Undang ada di tangan Presiden. Sesuai pasal 5 ayat (1) DPR hanya sekadar memberikan persetujuan atas Undang-Undang itu.

Per ubahan yang berkaitan dengan ke- kuasaan Presiden dan DPR, perubah an

pertama UUD 1945 terhadap Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 UUD 1945 di- pandang sebagai permulaan terjadinya pergeseran executive heavy ke arah legislatif heavy. Hal tersebut terlihat dari pergeseran kekuasaan Presiden dalam membentuk Undang-Undang yang diatur dalam Pasal 5, berubah menjadi Presiden berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang, dan DPR memegang kekuasaan membentuk Un dang-Undang (Pasal 20). Perubah- an pasal-pasal tersebut memindahkan titik berat kekuasaan legislatif nasional yang semula berada di tangan Presiden beralih ke tangan DPR.

2. Sesudah amandemen UUD 1945 ke- kuasaan legislasi ada ditangan DPR dengan persetujuan dari Presiden (Pa- sal 20 ayat (2) perubahan pertama UUD 1945). Dengan demikian, telah

Tabel 1.

Kekuasaan Presiden dan DPR dalam Membentuk UU Nama

Lembaga

Sebelum Amandemen UUD 1945

Sesudah Amandemen UUD 1945 Presiden • Kekuasaan Presiden sangat domi-

nan.

• Presiden memiliki kekuasaan yang besar dalam membentuk undang- undang.

• Menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang.

• Posisi Presiden tidak dominan.

• Membatasi beberapa kekuasaan presiden.

• Kekuasaan membuat undang-undang sepenuhn- ya diserahkan kepada DPR.

DPR • Memberikan persetujuan atas RUU yang diusulkan Presiden.

• Memberikan persetujuan atas Perpu.

• Memberikan persetujuan atas Ang- garan.

• Posisi dan kewenangannya diperkuat.

• Mempunyai kekuasaan membentuk undang-un- dang sementara pemerintah berhak mengajukan rancangan undang-undang.

• Proses dan mekanisme membentuk Undang- Undang antara DPR dan Pemerintah.

• Mempertegas fungsi DPR, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan seba- gai mekanisme kontrol antar lembaga negara.

(6)

terjadi perubahan kewenangan legis- lasi dari Presiden dengan persetujuan DPR kepada DPR dengan persetu- juan bersama. Selain memiliki fungsi le gis lasi, DPR juga memiliki fungsi ang gar an dan pengawasan (Pasal 20A ayat (1) perubahan ke-2 UUD 1945).

Se mentara kewenangan mengajukan Ran cangan Undang-Undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk menda- pat persetujuan bersama (Pasal 20 ayat (2) perubahan pertama UUD 1945).

Dari hasil Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui oleh DPR dan Pre- siden untuk menjadi Undang-Undang tidak lagi bersifat fi nal, tetapi dapat di- lakukan uji material (yudicial review) oleh Mahkamah Konstitusi atas per- mintaan pihak tertentu. Dalam pasal 24C ayat (1) UUD 1945 perubahan ke-3, disebutkan Mahkamah Konsti- tusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, yang putusannya bersifat tetap untuk menguji Undang- Undang terhadap UUD.

DAFTAR PUSTAKA

Al Rasyid. (1999). UUD 1945 Tidak Meng enal Hak Prerogatif. Jakar- ta: Kajian Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian: Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Asshiddiqie, Jimly. (2004). Format Kelem- bagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan dalam UUD 1945.

Yogyakarta: FH UII Press.

Asshiddiqie, Jimly. (2005). Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Ja- karta: Konstitusi pres.

Assidiqqie, Jimly. (2007). Pokok-pokok

Hukum Tata Negara Indonesia.

Jakarta: Gramedia.

Chamin, Asykuri Ibnu, dkk. (2002). Pendi- dikan Kewarganegaraan: Menu ju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Yogyakarta: PP Mu- hammadiyah.

Effendi, Marwan. (2005). Kejaksaan RI:

Posisi dan Fungsinya dari Per- spek tif Hukum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Farida, Siti. (2009). Kebebasan Beragama Persepektif Hukum Islam dan Hu- kum Positif Indonesia. Yogyakar- ta: Skripsi UAD, tidak diterbitkan.

Huda, Ni’matul, (2003). Politik Ketatane- garaan Indonesia: Kajian Terha- dap Dinamika Perubahan UUD 1945. Yogyakarta: UII Press.

Huda, Ni’matul. (2007). Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi.

Yogyakarta: UII Press.

Kaelan. (1993). Pancasila Yuridis Ken- egaraan. Yogyakarta: Paradigma.

Kaelan. (2002). Hukum dan Konstitusi.

Yog yakarta: Paradigma.

Kansil, CST. (1984). Pancasila dan UUD 1945. Jakarta: Pradnya Paramita.

Kansil, CST. (1986). Hukum Tata Negara Republik Indonesia. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Kusnandi, Moh. dan Harmaily Ibrahim.

(1983). Pengantar Hukum Tata Ne gara Indonesia. Jakarta: Sinar Bakti.

Mahendra, Yusril Izha. (2007). “Sistem Ketatanegaraan Pasca Amande- men UUD RI 1945”. Makalah. 22 Maret 2007.

Mahfud MD, Moh. dkk. (2008). Jurnal Konstitusi, Volume 5 Nomor 2, No- vember 2008. Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Mahfud MD, Moh. (2001). Dasar dan

(7)

Struktur Ketatanegaraan Indone- sia (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta

Mahfud MD, Moh.. (2007). Kontribusi Pemikiran untuk 50 Tahun: Retro- speksi Terhadap Masalah Hukum dan Kenegaraan. Yogyakarta: FH UII Press.

Malian, Sobirin. (2001). Gagasan Per- lunya Konstitusi Baru Pengganti UUD 1945. Yogyakarta: UII Press.

Manan, Bagir. (2003a). DPR, DPD, dan MPR dalam UUD 1945 Baru.

Yogyakarta: UII Press.

Manan, Bagir. (2003b). Lembaga Kepresi- denan. Yogyakarta: FH UII Press Manan, Bagir. (2004). Perkembangan

UUD 1945. Jakarta: FH UII Press.

Marzuki, dkk, (2006). Penelitian Hukum.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Maschab, Mashuri. (1983). Kekuasaan Eksekutif di Indonesia. Jakarta: PT Bina Aksara.

Moleong, Lexy J. (2002). Metode Peneli- tian Kualitatif. Bandung: PT Ros- dakarya.

Moleong, Lexy J. (2008). Metode Peneli- tian Kualitatif (Edisi Revisi). Ban- dung: PT Rosdakarya.

Rajak, Abdul. (1994). Buku Pintar Tata Pemerintahan Indonesia. Solo:

CV Aneka.

Sadono, Bambang. (2010). “Perda dalam Bayang-Bayang Kekuasaan Ek- sekutif” Makalah Masukan untuk Revisi UU 10 Tahun 2004. 02 Ma- ret 2010.

Siahaan, Pataniari. (2008). “Memban- gun Kerangka Politik Perundang- undangan yang Jelas dan Terarah melalui Program Legislasi Nasion- al”. Makalah. Jakarta, Medio Mei 2008.

Sinaga, Budiman NPD. (2005). Hukum Konstitusi. Yogyakarta: Kurnia Ka lam Semesta.

Soekamto, Soerjono. (1981). Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UII Press.

Subardjo. (2008). DPD: Antara Harapan dan Kenyataan. Yogyakarta: Dini Mediapro.

Surbakti, Ramlan. (1998). Reformasi Ke- kua saan Presiden. Jakarta: PT Gra sindo.

Thaib, Dahlan, Jazim Hamidi, Ni’matul Huda. (2004). Teori dan Hukum Konstitusi. Jakarta: Raja Grafi ndo Persada.

Thaib, Dahlan. (1991). Pancasila Yuridis Ketatanegaraan. Yogyakarta:

AMP YKPN.

Thaib, Dahlan. (1993). Implementasi Sis- tem Ketatanegaraan menurut UUD 1945. Yogyakarta: Liberty Tim Kajian Amandemen Fakultas Hu-

kum Universitas Brawijaya. 2000.

Amandemen UUD 1945: Antara Teks dan Konteks dalam Negara yang Sedang Berubah. Jakarta: Si- nar Grafi ka.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Aman- demennya.

UU RI No. 10 Tahun 2004 tentang Pemben tukan Peraturan Perun- dang-Undangan.

Zaini, Abdullah. (1991). Pengantar Hu- kum Tata Negara Indonesia. Jakar- ta: Pustaka Sinar Harapan.

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti memilih informan sebagai sumber data karena menurut peneliti siswa tersebut tidak pemalu karena kebetulan siswa tersebut teman adik saya yang kebetulan baru saja tamat

Rasa menyesal ini muncul karena mahasiswa menggunakan uangnya untuk membeli produk fashion yang tidak menjadi kebutuhan mendesak, padahal disi lain masih memiliki

Terpeliharanya kondisi Tramtibum yang kondusif di Jawa Tengah 360 orang Terpeliharanya kondisi Tramtibum yang kondusif di Jawa Tengah 1.350 kader. Kelompok Sasaran Kegiatan : Aparat

[r]

Wakil dari Angkutan Laut, yang ditunjuk oleh Kepala Staf Angkatan Laut, sebagai Wakil Ketua I merangkap anggota;.. Wakil dari Angkatan Darat, yang ditunjuk oleh Kepala

Pada algoritma genetika mampu mendapatkan nilai parameter optimal secara otomatis pada klasifikasi FAMB dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi untuk set data

Dalam Tinjauan pustaka ini berisi tentang fotovoltaik (Photovoltaic) yang merupakan sumber energi dari kotak pendingin (Cooling Box), elemen pendingin termoelektrik

Menimbang, bahwa Penggugat pada pokoknya mendalilkan sejak bulan Desember 1982 antara Penggugat dengan Tergugat sering berselisih dan bertengkar yang penyebabnya karena