1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi adalah perpindahan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan bantuan kendaraan yang digerakkan oleh manusia ataupun mesin. Transportasi sangat membantu manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari terutama dalam membantu menyelesaikan pekerjaan manusia. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh dalam transportasi adalah Jalan. Jalan dalam hal ini adalah bagian dari prasana transportasi darat. jalan sudah ada dari zaman dahulu sejak manusia memerlukan ruang atau area untuk berjalan dan berpindah demi memenuhi kebutuhan hidup seperti tempat tinggal dan makanan. Seiring berkembangnya zaman jalan mulai digunakan lebih luas lagi keperluannya seperti ekonomi, social, politik, dan budaya. Terlebih lagi ketika ditemukannya kendaraan beroda keberadaan jalan menjad lebih penting lagi bagi manusia. Tidak jelas dikatakan bahwa peradaban mana yang lebih dahulu membuat jalan raya.
Akan tetapi hamper semua peradaban tidak lepas dari keberadaan jalan raya.
Jalan raya dapat lebih memudahkan manusia dalam memindahkan barang atau pergi ke suatu tempat dengan lebih cepat untuk menopang kegiatn ekonomi.
Komoditi akan mengalir ke pasar dan hasil ekonomi dari suatu tempat dapat dijual kepada pasaran diluar wilayah itu. Jalan raya juga dapat meningkatkan ekonomi diwilayah-wilayah disepanjanh lintasannya. Contohnya, jalan trans Sulawesi disepanjan lintasannya bisa dibangun warung atau rest area untuk supir ataupun kendaraan umum yang melintas dijalan trans Sulawesi tersebut. Hal ini menimbulkan peputaran ekonomi didaerah yang masyarakatnya membangun warung dan bias menghidupi kebutuhan warga didaerah tersebut.
Jalan raya juga berperan penting dalam hal politik, sosial, dan budaya. Jalan dalam politik berperan untuk pergerakan massa yang akan mendukung keberhasilan kegiatan politik tersebut disuatu wilayah. Dalam hal social budaya jalan berperan penting dalam pertukaran informasi dan juga silaturrahmi yang
2
akan memperkuat dan mempererat social budaya disuatu wilayah ataupun antar wilayah. Semakin baik sarana jalan raya maka akan semakin sukses tujuan yang dicapai dalam hal politik, social, dan budaya demi terwujudnya masyarakat adil dan Makmur yang merata berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pada awalnya perkembagan jalan disetiap wilayah secara umum masih berupa jalan setapak atau jalan tanah. Pada tahun 3000SM salah satu sumber mengatakan jalan tersebut maih berupa jalan setapak dengan konstruksi sesuai dengan kendaraan beroda dan letaknya diduga antara Pegununga Kaukasus dan Teluk Persia. Seiring perkembangan pada tahun tersebut maka dibangunlah jalan raya yang menguhubungkan Mesopotamia-Mesir yang digunakan untuk aspek ekonomi dalam hal ini perdagangan maupun untuk peperangan. Dibelahan dunia lainnya banyak pembangunan jalan untuk memperluas wilayah kekuasaan demi berkembangnya suatu bangsa terutama dalam hal ekonomi.
Di Indonesia tidak ada data pasti kapan tekonologi jalan “modern”
diterapkan. Kerajaan-kerajaan besar nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kutai masih belum mengembangkan pembangunan jalan karena kondisi geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan, serta kondisi alam yang berupa hutan lebat dengan kontur pegunungan. Jadi kerajaan pada zaman dahulu lebih memilih mengembangkan teknologi pelayaran sebagai pilihan transportasi dibandingkan jalan darat. meskipun demikian, di Indonesia sudah ada jalan tanah setapak yang sangat gembur sehingga tidak dapat dilintsi pada saat musim penghujan. Hal ini ditemukan pada kerajaan-kerajaan yang berdiri dalam suatu pulau karena kegiatan perdangangan, diplomasi, maupun perang, dalam mobilisasi pasukan berhasil membuat rute yang mereka lalui dan terbentuklah jalan.
Pembangunan jalan di Nusantara bisa dikatakan jauh lebih modern pada masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1808, jendral H.W Daendels mendapat tugas untuk mempertahankan pulau jawa dari serangan Inggris. Salah satu kebijakannya adalah dengan membangun jalan raya yang membentang sejauh 1000 km dari Anyer hingga Panarukan yang dikenal degan nama Jalan Raya Pos (Groote Postweg). Dengan kondisi jalan setapak di Indonesia yang berupa jalan tanah setapak dan sangat gembur sehingga berlumpur ketika musim hujan yang
3
mengakibatkan memerlukan waktu yang lama untuk melintasinya. Maka Daendels melakukan pemadatan dan pengerasan dengan pasir dan batu agar lebih kuat dan tidak berlumpur saat musim penghujan
Setelah perkembangan yang cukup lama di bawah masa penjajahan Belanda dan setelah Indonesia meraih kemerdekaan, tanggung jawab terhadap perkembangan infrastruktur seperti jalan menjadi berpindah ke tangan Departemen Pekerjaan Umum. Meskipun pembangunan jalan yang terbilang modern semuanya dimulai dari Ibukota Jakarta, itu sudah menunjukkan bahwa Indonesia bias berkembanga dengan sendirinya dalam pembangunan tanpa bergantung pada pihak asing.
Barulah pada pertengan periode 1960-an Indonesia mengalami transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto yang dikenal juga dengan masa Orde Baru.
Pada masa itulah Indonesia mulai menerapkan system pengoperasian jalan raya dengan konsep “Jalan Tol”. Konsep ini mulai diterapkan pada pembangunan jalan penghubung Jakarta dan kota-kota disekitarnya. Jalan-jalan tersebut dibangun dengan spesifikasisangat tinggi menggunakan teknologi modern pada masa itu.
Salah satunya adalah Jalan Jagorawi yang menghubungkan Jakarta-Bogor yang termasuk jalan kelas 1 dengan spesifikasi bebas hambatan sehingga jalan ini terbebas dari macet yang biasa terjadi pada jalan konvensional. Tol Jagorawi merupakan salah satu prestasi Indonesia pada saat itu yang berhasil membangun jalan dengan spesifikasi tinggi di antara negara ASEAN lainnya. Dan menjadi awal dari pembangunan Jalan Tol yang berada di daerah lainnya di Indonesia.
Akan tetapi dalam pembangunan infrastruktur di Indoneia belum terjadi pemerataan sehingga pembangunan belum menyeluruh di wilaya Indonesia.
Masih banyak wilayah Indonesia yang bahkan jalannya belum tersentuh aspal sama sekali masih dalam bentuk tanah yang pada saat musim penghujan berubah menjadi lumpur dan genangan. Jalan seperti itu banyak kita temui pada daerah Indonesia bagian timur pada desa-desa pelosok. Sangat berbanding terbalik dengan sebagian besar desa-desa di daerah Jawa yang jalannya mulai diperbaiki sebagian sudah ber-aspal.
4
Jika pembangunan jalan sudah merata di sebagian besar wilayah Indonesia bias kita bayangkan pemerataan kesejahteraan bias terjadi. Kegiatan ekonomi bias meningkat dengan adanya sarana transportasi yang baik didaerah tersebut.
Kesehatan bias meningkat karena akses yang mudah di lalui tenaga kesehatan ke sebuah daerah. Jika semua itu terjadi akan mempengaruhi kegiatan social yang juga meningkat di daerah tersebut.
Kota Palu adalah sebuah Kota yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Kota Palu sebelah utara dan barat berbatasan dengan Kabupaten Donggala, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sigi, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Parigi Mautong. Pusat pemerintahan Kota Palu berada di Kecamatan Palu Timur. Palu dikenal juga sebagai kota lima dimensi yang terdiri atas teluk, lembah, sungai, lautan, dan pegunungan. Luas wilayah Kota Palu adalah 395,1 km2. Jumlah penduduk Kota Palu 342.754 jiwa (BPS Kota Palu, 2018).
Dengan adanya perkembangan ekonomi dan pembangunan pada suatu daerah tidak lepas dari peran insfrastruktur jalan. Jalan yang merupakan sarana penghubung antar daerah, dari daerah satu ke daerah yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat baik untuk pendistribusian barang maupun jasa. Di Jalan Diponegoro terdapat satu-satunya mall yang ada di Kota Palu semenjak bencana 2018 menghancurkan salah satu mall yang ada di Kota Palu. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi masyarakat sehingga akan meningkatkan lalu-lintas ke dan dari mall yang ada di Jalan Diponegoro. Pada ruas Jalan Diponegoro juga terdapat satu perguruan tinggi negeri (PTN) yaitu Institut Agama Islam Negeri Dato Karama Palu (IAIN) dan satu perguruan tinggi swasta (PTS) yaitu Universitas Alkhairat Palu (UNISA) sehingga pada hari kerja akan terjadi kepadatan lalu-lintas oleh mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Pada saat saat awal bencana bandara dalam keadaan rusak dan kurangnya landasan untuk helikopter sehingga pilihan pertama dan satu-satunya pada saat itu untuk menyalurkan bantuan kepada para pengungsi adalah melalui jalur darat sehingga peran jalan sangatlah penting pada saat itu.karena untuk menggunakan helikopter
5
pun pada saat itu hanya memuat beberapa saja karena daya tampung yang lebih kecil daripada truk yang biasa membawa bantuan.
Pada saat terjadi bencana 2018 Jalan Diponegoro adalah salah satu jalan yang terdampak dan belum diperbaiki hingga saat ini. Pada penanggulangan bencana jalan merupakansalah satu aspek yang sangatlah penting dalam hal distribusi bantuan dan mobilisasi jalur evakuasi. Kondisi jalan yang baik akan mendukung mitigasi bencana yang maksimal. Dalam hal penyaluran bantuan akan berlangsung cepat dan baik sehingga bias menjangkau masyarakat luas. Dengan masuknya Kota Palu sebagai kota yang rawan menjadi, akan menjadi penting peran dan fungsi sebuah jalan selain melayani lalu-lintas dengan maksimal.
Tingginya pertumbuhan lalu lintas jika tidak diimbangi dengan perbaikan mutu dari sarana dan prasarana jalan yang ada dapat menimbulkan masalah yang serius. Kerusakan pada jalan akan menjadi suatu hambatan yang amat menggangu dan juga membahayakan bagi penggunanya sendiri. Jika di biarkan begitu saja dalam waktu yang tidak lama akan menjadi kerusakan yang lebih besar lagi pada struktur jalan tersebut. Dan juga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi yang ada di daerah tersebut karena akses yang susah dijangkau.
Perbaikan dan pemeliharaan konstruksi jalan raya merupakan rangkaian kegiatan yang diarahkan agar struktur perkerasan jalan raya dapat berfungsi senyaman mungkin. Perbaikan dan pemeliharan ini perlu dilaksanakan karena mengingat sebagian tidak dapat selalu rata selama umur rencananya tanpa adanya kerusakan-kerusakan. Ada masa dimana keadaan perkerasan mulai memburuk hingga pada tingkat yang tidak layak. Pada keadaan ini diperlukan suatu perbaikan perkuatan jalan lama agar perkerasan kembali pada tingkat pelayanan yang memadai dan dapat dilewati oleh pengguna lalu lintas dengan baik.
Jalan Diponegoro merupakan jalan vital yang berada di Kecamatan Palu Barat Kota Palu dan termasuk Jalan Kelas II yang pada umumnya jalan kelas ini sesuai untuk dilewati oleh angkutan peti kemas. Jalan ini mempunyai total 13 meter lebar jalan yang terdiri dari dua lajur dengan jumlah kendaraan rata-rata 2333 kendaraan per jam pada dua lajur. Kondisi perkerasan lentur Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu saat ini mayoritas membutuhkan
6
pemeliharaan. Jalan sudah mengalami pelepasan butiran, lubang, retak, amblas serta pecah dibagian pinggir terutama pasca bencana 2018. Jalan Diponegoro adalah jalan penghubung antara Kota Palu dan Kabupaten Donggala, dan Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Sehingga diperlukan suatu upaya pemeliharaan agar jalan tetap pada kondisi baik dan tidak menjadi suatu hambatan aktivitas penggunanya. Karena itu dibutuhkan suatu penelitian untuk menganalisis kerusakan lapisan perkerasan lentur jalan. Analisis kerusakan jalan yang digunakan menggunakan metode Bina Marga Tata Cara Penyusunan Program Pemeliharaan Jalan Kota dimana analisis tersebut berupa perhitungan-perhitungan data hasil survey di lapangan. Tujuan dari analisis kerusakan jalan adalah menentukan jenis pemeliharaan jalan yang sesuai dan bisa diterapkan pada Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu agar dilakukan penanganan terhadap kerusakan yang ada dan jalan bias kembali melayani lalu lintas dengan maksimal. Oleh karena itu penulis bermaksud mengangkat permasalahan tersebut sebagai topik bahasan dengan judul “Analisis Kerusakan dan Pemeliharaan Perkerasan Lentur Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian studi kasus Analisis Kerusakan dan Pemeliharaan Lapisan Perkerasan Lentur Jalan di Kecamatan Palu Barat Kota Palu adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana analisis kerusakan perkerasan lentur pada Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu menggunakan Metode Bina Marga ?
2. Bagaimana pemilihan penanganan yang tepat untuk pemeliharaan perkerasan pada Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu
?
3. Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk penanganan kerusakan pada ruas Jala Diponegoro Kota Palu?
1.3 Batasan Masalah
1. Jalan yang menjadi obyek penelitian adalah jalan kolektor kelas II dengan Panjang 2.6 km lebar 13 meter.
7
2. Kerusakan yang ditinjau adalah kerusakan pada bagian perkerasan lentur jalan.
3. Analisis kerusakan lapisan perkerasan lentur jalan menggunakan metode Bina Marga ,Tata Cara Penyusunan Program Pemeliharaan Jalan Kota.
4. Harga satuan yang digunakan bersumber dari Standar Harga Barang Tahun 2019 dan Awal 2020 Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Nomor: 511/487/BPKAD-G.ST/2018
1.4 Tujuan
Tujuan dari penelitian studi kasus Analisis Kerusakan dan Pemeliharaan Perkerasan Lentur Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis kerusakan perkerasan lentur pada Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu menggunakan metode Bina Marga.
2. Untuk mengetahui penanganan pemeliharaan perkerasan lentur yang tepat untuk Jalan Diponegoro di Kecamatan Palu Barat Kota Palu.
3. Menentukan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk penanganan kerusakan ruas Jalan Diponegoro
1.5 Manfaat Penelitian a. Manfaat Praktis
Dapat memberikan informasi kepada pemerintah setempat khususnya Balai Pengawasan Jalan Nasional XIV mengenai penanganan kerusakan yang terjadi pada ruas Jalan Diponegoro yang harapannya setelah selesai penanganan ruas Jalan Diponegoro Kota Palu dapat melayani lalu-lintas dengan maksimal
b. Manfaat teoritis
Dapat memberikan pengetahuan lebih serta menambah wawasan tentang penanganan kerusakan perkerasan jalan.