• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKONOMI MIKRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EKONOMI MIKRO"

Copied!
391
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS

STEKOM

P Y

PENGANTAR PENGANTAR PENGANTAR

EKONOMI MIKRO

EKONOMI MIKRO

EKONOMI MIKRO

(2)

P

Y

YAYASAN PRIMA AGUS TEKNIK

UNIVERSITAS

STEKOM

PENGANTAR PENGANTAR PENGANTAR

EKONOMI MIKRO EKONOMI MIKRO EKONOMI MIKRO

mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro, Manajemen Proses, Manajemen Akuntansi dan Manajemen Resiko Bisnis. Selain sebagai dosen di Universitas STEKOM.

Dr. Budi Raharjo, S.Kom., M.Kom., MM juga mempunyai bisnis sendiri dalam bidang

perhotelan dan juga sebagai wirausaha dalam bidang pemasok unggas (ayam) beku

ke berbagai kota besar, khususnya Jakarta dan sekitarnya.

(3)

PENGANTAR PENGANTAR PENGANTAR

EKONOMI MIKRO

EKONOMI MIKRO

EKONOMI MIKRO

(4)

PENGANTAR EKONOMI MIKRO

Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom.

Dr. Mars Caroline Wibowo. S.T., M.Mm.Tech

Universitas STEKOM

9 786239 504236

(5)
(6)

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... v

Bagian I Pendahuluan ... 9

Bab1 Prinsip Utama Ekonomi ... 10

1.1 Pengertian Ilmu Ekonomi ... 10

1.2 Prinsip-Prinsip Metodologi Metodologi ... 20

1.2.1 Teori yang Benar dan dan Masuk Akal ... 22

1.2.2 Teori dan Model ... 25

1.2.3 Nilai Lebih dari Penyederhanaan ... 27

1.2.4 Manfaat Asumsi ... 28

1.2.5 Kurva Kemungkinan Produksi ... 29

1.2.6 Rasionalisme Kritis (Critical Rationalism) ... 30

1.2.7 Teori Ekonomi Positif dan Ekonomi Normatif ... 31

1.2.8 Aliran Pemikiran Ekonom ... 35

Bab 2 Manfaat Perdagangan ... 39

2.1 Pendahuluan ... 39

2.2 Pengembangan Pemahaman: Teori Keunggulan Komparatif ... 44

2.3 Efektifitas Teori Keunggulan Komparatif ... 48

2.4 Keunggulan Komparatif dan Organisasi Kegiatan Ekonomi ... 55

Bagian II Pasar dan Lembaga ... 60

Bab 3 Pedoman Dasar Tentang Pasar dan Lembaga Keuangan ... 61

3.1 Pendahuluan ... 61

3.2 Taksonomi Pasar ... 66

Bab 4 Permintaan dan Penawaran dalam Persaingan Kompetitif ... 72

4.1 Pendahuluan ... 72

4.2 Faktor-Faktor yang Menentukan Penawaran dan Permintaan ... 73

4.3 Ekuilibrium ... 89

4.4 Analisis Ekuilibrium ... 94

DAFTAR ISI

(7)

Bab 5 Ekonomi Normatif ... 106

5.1 Pendahuluan ... 106

5.2 Sifat Normatif Pasar Kompetitif ... 112

5.3 Kesediaan untuk Membayar (Willingness to Pay)- Yang Sebenarnya .. 120

Bab 6 Eksternalitas dan Batasan Pasar ... 124

6.1 Pendahuluan ... 124

6.2 Biaya Transaksi ... 127

6.2.1 Contoh Perumpamaan ... 129

6.2.2 Analisis Eksternalitas di Pasar ... 135

6.2.3 Pemahaman yang lebih Komprehensip ... 143

6.2.3.1 Eksternalitas dalam Lalu Lintas ... 148

6.2.3.2 Eksternalitas Lingkungan ... 151

6.2.3.3 Moralitas dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan ... 155

6.2.3.4 Status ... 157

6.3 Empat Kasus Batasan ... 161

Bagian III Dasar Permintaan dan Penawaran ... 177

Bab 7 Keputusan dan Perilaku Konsumen ... 180

7.1 Konsep Dasar ... 180 7.1.1 Set Pilihan dan Preferensi ... 180

7.1.2 Kurva Indiferen ... 186

7.1.3 Fungsi Utilitas ... 190

7.2 Permintaan Pasar Kompetitif ... 196

7.2.1 Solusi Grafis ... 198

7.2.2 Solusi Analitis ... 201

7.2.3 Jenis-Jenis Fungsi Utilitis ... 207

7.2.3.1 Preferensi Strictly Convex Homothetic ... 207

7.2.3.2 Pengganti Sempurna ... 210

7.2.3.3 Pelengkap Sempurna ... 213

7.2.4 Statika Perbandingan dan Struktur Permintaan Pasar ... 216

7.2.5 Perubahan Pendapatan ... 217

7.2.6 Perubahan Harga ... 217

Bab 8 Biaya ... 222

8.1 Definisi Biaya ... 222

8.2 Penanganan Biaya Secara Sistematis ... 228

(8)

Bagian IV Perilaku Perusahaan dan Organisasi Industri ... 239

Bab 9 Pandangan Kedua : Perilaku Perusahaandalam Kompetisi Usaha ... 240

9.1 Pendahuluan ... 240

9.2 Hubungan Antara Teknologi Produksi dan Struktur Pasar ... 244

9.3 Jangka Pendek versus Jangka Panjang ... 249

9.4 Perusahaan dan Pasokan Pasar ... 258

Bab 10 Perilaku Perusahaan di Pasar Monopolistik ... 263

10.1 Pendahuluan ... 263

10.2 Syarat-Syarat Terjadinya Monopoli ... 164

10.3 Maksimalisasi Keuntungan di Pasar Monopolistik ... 268

10.4 Produksi Optimal dan Keputusan Penetapan Harga dari Monopoli Tanpa Diskriminasi Harga ... 270

10.5 Diskriminasi Harga ... 271

10.5.1 Diskriminasi Harga Tingkat Pertama ... 276

10.5.2 Diskriminasi Harga Tingkat Kedua ... 283

10.5.3 Diskriminasi Harga Tingkat Ketiga ... 292

10.6 Persaingan Monopolistik ... 296

Bab 11 Prinsip Teori Permainan ... 303

11.1 Pendahuluan ... ... 303

11.2 Definisi Permainan ... 304

11.3 Elemen Teori Permainan ... 305

11.4 Permainan Bentuk Normal ... 308

11.4.1 Kesetimbangan Ganda ... 316

11.4.2 Perilaku Rasional Secara Kolektif dan Individual ... 320

11.4.3 Game Sederhana sebagai Metafora Struktural ... 322

11.5 Game Bentuk Ekstensif ... 325

11.6 Ringkasan ... 329

Bab 12 Perilaku Perusahaan di Pasar Oligopolistik ... 323

12.1 Pendahuluan ... 323

12.2 Model Duopoli Cournot ... 338

12.3 Model Cournot Linear dengan n Perusahaan ... 343

12.4 Model Duopoli Bertrand ... 344

12.5 Kesimpulan dan Ekstensi ... 348

(9)

Bagian V Lampiran-Lampiran ... 355

Bab 13 Studi Kasus ... 356

13.1 Landasan Swissair sebagai Studi Kasus Penggunaan Teori Ekonomi .... 356

13.2 Beberapa Fakta Tentang Industri Penerbangan di Eropa ... 358

13.3 Menerapkan Teori Ekonomi untuk Memahami Industri Penerbangan. . 360

13.3.1 Biaya ... 361

13.3.2 Model Linear Cournot dengan n Perusahaan ... 363

13.3.3 Ekstensi: Pilihan Jaringan, Akuisisi, dan Aliansi Strategis ... 368

13.4 Analisis Pada Kasus Swissair ... 372

13.5 Penutup ... 374

Bab 14 Lampiran: Penghitungan Matematis ... 376

14.1 Fungsi dengan Beberapa Variabel Penjelasan ... 378

14.2 Solusi Sistem Persamaan ... 383

14.3 Elastisitas ... 385

Daftar Pustaka ... 389

(10)

Bagian I

Pendahuluan

(11)

Prinsip Utama Ekonomi 1

Bab ini akan membahas :

Pemahaman status dan peran ilmiah dari teori ekonomi menurut filsafat ilmu.

Paradigma dasar ekonomi: untuk memahami fungsi masyarakat sebagai adaptasi

terhadap prinsip yang mendasari kelangkaan ekonomi.

Ilmu ekonomi sebagai metodologi, dan bukan sebagai aplikasi

Relevansi biaya peluang.

Cara berpikir dan membuat keputusan seperti seorang ekonom.

1.1 Pengertian Ilmu Ekonomi

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi keinginan manusia yang bersifat tak terbatas. (Richard G Lipsey)

Ketika seseorang mulia memahami dan menyelami studi ilmu ekonomi di dunia, dia mungkin terkejut melihat apa yang sedang dan akan terus lakukan oleh ahli ekonomi. Ilmu ekonomi merupakan ilmu yang terus berkembang mengikuti peradaban. Tentu saja, para ekonom berbicara tentang hal-hal yang berbau "ekonomi", tetapi ekonomi modern sangat beragam dan mencakup berbagai bidang, yang oleh orang awam hanya akan dikatikan dengan ilmu ekonomi semata. Berikut adalah daftar contohnya: para ekonom menghadapi pertanyaan-pertanyaan “besar” tentang sumber pertumbuhan dan siklus bisnis, kemiskinan dan dampak pengangguran, atau pengaruh kebijakan moneter terhadap perekonomian.

Secara lebih umum, mereka ingin mengetahui bagaimana pasar mengalokasikan barang dan sumber daya dan bagaimana pasar harus diatur untuk memastikan bahwa mereka berfungsi dengan baik. Bidang penelitian yang penting adalah peran pemerintah dalam perekonomian: caranya memungut pajak dan memberikan layanan. Di sisi lain, para ekonom juga terlibat dalam penanganan berbagai masalah yang terkait dengan institusi politik, seperti dampak dari sistem demokrasi yang berbeda, penyebab dan konsekuensi dari konflik politik dan militer, atau hubungan antara berbagai tingkat pemerintahan.

Mereka terlibat dalam evolusioner di bidang biologi, desain produk di pasar keuangan, sistem lelang, dan platform pasar internet; mereka bekerja dengan pengacara untuk memahami konsekuensi aturan hukum dan bekerja sama dengan para ahli filsafat.

(12)

Alasan keragaman bidang ini bermula dari evolusi definisi modern tentang ilmu ekonomi.

Ekonomi bukanlah ilmu yang mempelajari "ekonomi": ia tidak didefinisikan oleh suatu objek studi. Sebaliknya, ia mendefinisikan dirinya sendiri dengan perspektif tertentu yang darinya ia mencoba memahami dunia sosial: kelangkaan. Paul A. Samuelson (1948), salah satu ekonom paling berpengaruh di abad ke-20, memberikan definisi ekonomi yang masih paling ringkas: “Ekonomi adalah studi tentang bagaimana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa penggunaan uang, untuk menggunakan sumber daya produktif yang langka yang dapat digunakan alternatif, untuk menghasilkan berbagai komoditas dari waktu ke waktu dan mendistribusikannya untuk konsumsi, sekarang dan di masa depan di antara berbagai orang dan kelompok masyarakat." Definisi ini mungkin tidak seelegan yang dibuat oleh Richard G Lipsey tetapi memiliki keuntungan dari konkret yang lebih besar: para ekonom mencoba memahami bagaimana sumber daya digunakan untuk mengurangi kelangkaan. Oleh karena itu, ilmu ekonomi adalah metode ilmiah:

para ekonom memulai dengan premis bahwa adalah mungkin untuk memahami logika perilaku individu dan tindakan kolektif sebagai akibat dari kelangkaan. Inilah mengapa daftar contoh di atas mencakup beragam bidang. Dari kedua pakar ekonomi tersebut dapat diambil garis besar bahwa ilmu ekonomi tertuju pada satu fokus yaitu : Scarcity atau kelangkaan. Manusia berhadapan dengan inti masalah ekonomi yaitu kelangkaan.

Kapanpun seseorang memiliki dugaan bahwa kelangkaan mempengaruhi berfungsinya suatu keadaan, disinilah para ekonom memainkan perannya.

Tapi apakah kelangkaan itu? Kelangkaan adalah suatu kondisi di mana manusia tidak mempunyai cukup sumber daya untuk memuaskan kebutuhannya. Kelangkaan adalah suatu kondisi ketika sarana untuk memenuhi tujuan terbatas dan mahal. Dalam ilmu ekonomi, keinginan biasanya dipersempit pada keinginan manusia, dan sarana mencakup sumber daya dan barang yang berkontribusi untuk memenuhi keinginan tersebut. Acuan tentang keinginan menyiratkan bahwa kelangkaan berasal dari fisiologi dan juga psikologi manusia. Sistem metabolisme manusia membutuhkan asupan energi tertentu agar dapat berfungsi dan, jika asupan makanan turun di bawah ambang tertentu, manusia tidak dapat berkembang dan pada akhirnya akan jatuh sakit dan mati. Keinginan fisiologis ini bersifat objektif, dan pemenuhannya sangat diperlukan untuk kehidupan dan sering sebut dengan kebutuhan. Namun, keinginan manusia tidaklah sebatas dalam jenis ini.

Keinginan memiliki sifat yang subjektif dimana keinginan dipengaruhi oleh perasaan, pendapat dan pandangan pribadi. Selain itu keinginan memiliki sifat yang tidak mengikat dimana pemenuhan sebuah keinginan tidak harus dilakukan jika memang tidak mampu atau malah memberatkan. Mobil cepat, rumah besar, dan pakaian mewah tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup yang sehat, tetapi hanya menyenangkan. Ekonomi adalah

(13)

studi tentang bagaimana individu dan masyarakat mengelola barang dan sumber daya, yang dapat menjadi langka secara objektif maupun subjektif.

Digresi Ke 1 : Peningkatan Sumber Daya atau Kebebasan Pribadi

Filsafat ilmu sangat berperan bagi ilmu ekonomi dengan 3 landasan pokoknya, yaitu: 1) landasan ontologi, 2) landasan epistemologi dan 3) landasan aksiologi dalam mencipatakan penemuan-penemuan baru, baik ekonomi secara teoritis maupun ekonomi terapan. Temuan-temuan ilmiah di bidang manajemen produksi, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan telah mampu membawa dampak terahdap modernisasi sistem industri dan perdagangan dunia. Kemajuan teknologi pada abad ini merupakan hasil dari aktivitas intelektual manusia yang sudah maju, baik dalam sistem maupun metodenya.

Adanya perubahan teknologi ini juga berakibat langsung terhadap perkembangan drastis sistem ilmu dan teknologi.

Ilmu Ekonomi tidak hanya fokus pada kelangkaan sebagai titik awal dalam penelitian ilmiah. Filsafat seperti Buddhisme dimulai dari pemikiran yang serupa, meskipun diungkapkan dalam terminologi yang berbeda. Dua yang pertama dari apa yang disebut "Empat Kebenaran Mulia" menyatakan bahwa (1) dhukka ada dan (2) muncul dari keterikatan seseorang pada keinginan. Dhukka sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi ini mengaburkan artinya. Ini mengacu pada keinginan dan kebutuhan yang tidak selaras atau, dengan kata lain, kelangkaan. Hukum Kelangkaan (The Law of Scarcity), menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan tertentu orang harus mengorbankan sesuatu yang lebih dahulu.

Namun, menarik dicermati bahwa dorongan yang dihasilkan dari dasar pemikiran yang sama ini menunjuk ke arah yang berlawanan. Sebagian besar ekonom “Barat”

mencoba mencari tahu bagaimana kelangkaan dapat dikurangi dengan peningkatan sumber daya/sarana melalui kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dll. Reaksi intuitif terhadap fenomena kelangkaan yang mnegacu pada kebutuhan materiil:

meningkatkan sarana untuk memenuhi keinginan yang telah ditentukan. Dorongan ini bahkan tercermin dalam gagasan kebebasan individu yang pada umumnya dikonseptualisasikan dalam tradisi Barat sebagai kebebasan politik: yaitu bahwa tidak ada paksaan dari pihak luar.

Sebaliknya, reaksi terhadap kelangkaan dalam Buddhisme menunjuk kebutuhan batiniah: memenuhi keinginan agar sesuai dengan sarana atau sumber daya yang ada. Untuk memahami ini, pertimbangkan dua kebenaran mulia lainnya: (3)

(14)

penderitaan berhenti ketika kemelekatan pada keinginan lenyap dan (4) kebebasan dari penderitaan dimungkinkan dengan mempraktikkan Jalan Berunsur Delapan.

Kebebasan, menurut pandangan ini, adalah kebebasan batin: memiliki kebebasan diri melawan "kediktatoran" keinginan. Jadi bisa di katakan bahwa seorang memiliki pijakan awal yang sama, tetapi hasilnya dua kesimpulan yang sangat berbeda jauh.

Kelangkaan langsung mengarah ke salah satu alat ekonomi yang paling kuat: konsep dari biaya peluang (opportunity cost). Kelangkaan memaksa orang untuk melakukan pertukaran – keputusan sulit tentang bagaimana mengalokasikan sumber daya secara efisien. Karena sumber daya menjadi lebih langka, biaya biasanya naik. Biaya peluang muncul, karena adanya pilihan yang dilakukan individu-individu atas kelangkaan yang dihadapi. Opportunity cost tidak selalu dikaitkan dengan uang. Namun dapat dihubungkan dengan kebahagiaan, waktu, benefit yang diperoleh di masa mendatang, dan lainnya.

Untuk lebih jelasnya, misalkan si A harus memilih alternatif 'x' dari sekumpulan alternatif yang dapat diperimbnagkan dan kemudian berasumsi bahwa si A dapat memberi peringkat alternatif tersebut menurut kegembiraan dan kepuasan yang diharapkan akan dialami seseorang ketika ia memilihnya. Jika 'a1' adalah yang terbaik dan 'a2' adalah alternatif terbaik kedua, menurut ukuran ini, maka biaya peluang untuk memilih 'a1' adalah kegembiraan dan kepuasan yang diharapkan dapat dinikmati dari alternatif 'a2'.

Ini terlihat rumit dan abstrak, tapi sebenarnya tidak. Konsep biaya peluang memungkinkan seseorang untuk lebih memahami bagaimana seseorang membuat keputusan dan bagaimana seseorang 'seharusnya' membuat keputusan (perbedaan ini akan dibahas lebih mendalam nanti). Jika seseorang pergi ke bioskop, dia tidak bisa pergi ke restoran;

jika seseorang membelanjakan uangnya untuk membeli mobil baru, ia tidak akan bisa pergi liburan ke luar negeri; jika seseorang mempelajari Ilmu Ekonomi, ia tidak dapat, pada saat yang sama, mempelajari Fisika; dan seterusnya. Untuk membuat keputusan yang tepat, seseorang harus menyadari nilai yang melekat pada alternatif lain yang tidak dapat disadari. Nilai yang dihubungkan dengan alternatif terbaik berikutnya yang hilang adalah biaya peluang dari pilihan seseorang.

(15)

Digresi Ke 2 : Altruisme Efektif : Biaya Peluang dan Sumbangan

Konsep biaya peluang sangat membantu ketika mempertimbangkan konsekuensi dari segala jenis perilaku. Untuk mengilustrasikan poin ini, mari fokus pada tren terbaru yang disebut altruisme. Altruisme adalah sifat mementingkan orang lain namun terkadang mengabaikan kesehatan dan kebutuhan diri sendiri. Jelas, orang yang memiliki sifat altruisme melakukan segala kebaikan tanpa mengharapkan imbalan. Sedang pengertian altruisme efektif adalah suatu pandangan sekaligus gerakan yang menitikberatkan pengunaan penalaran dan bukti (data) ketika menentukan cara paling efektif dalam membantu orang lain. Berikut adalah contoh yang menggambarkan fenomena altruisme.

Ada seseorang lulusan dan ingin membuat perbedaan besar dalam hidupnya dengan mengabdikan kariernya untuk melakukan sesuatu yang mulia. Lulusan dengan dengan jenis motivasi ini memilih untuk berkarir di di sebuah Yayasan yang bergerak dibidang kemanuisiaan atau Lembaga amal lainnya. Namun, ini mungkin bukan ide yang paling cerdas. Misalkan lulusan tersebut akan mendapatkan upah Rp 2.000.000 dengan pekerjaan di badan amal. Sekarang, jika dia mempertimbangkan untuk berkarir di bank besar, di mana ia akan mendapatkan upah Rp 5.000.000 dan kemudian memberikan Rp 3.000.000 untuk amal. Keputusan ini menghasilkan Rp 3.000.000 yang dapat didonasikan pada kegiatan amal. KenyataAniya dia memilih bekerja di Yayasan dengan gaji 2 juta, tapi sifat altruisme yang melekat padanya mendorong dia untuk ikut menyisihkan sumbangan untuk amal sebesar mungkin Rp 500.000 - Rp 1.000.000 dari upahnya. Kemudian bagaimana nasehat yang terbaik mengenai masalah ini?

Pentingnya contoh ini bukanlah career advice (bimbingan berkarir) yang diberikan, tetapi prinsip yang dapat diperoleh darinya. Pertimbangkan versi sederhana dari masalah ini di mana seseorang ingin menyumbangkan sejumlah uang dan ingin memastikan bahwa hal itu dilakukan sebaik mungkin. Dimensi altruisme efektif menunjukkan bahwa seseorang harus berpikir dalam kaitAniya dengan biaya peluang ketika seseorang membuat keputusan: apa alternatif penggunaan uang seseorang dan seberapa banyak kebaikan yang dapat dilakukan dengan penggunaan yang berbeda? Orang kemudian harus membelanjakan rupiah berikutnya dengan cara yang akan memaksimalkan barang tambahan yang dapat dihasilkan oleh uang.

Ide tentang donasi ini mungkin terlihat seperti hemat tentang steroid, tetapi, pada kenyataAniya, ini adalah ide pengaturan yang penting untuk meringankan penderitaan.

(16)

Ada banyak bukti, misalnya, bahwa donasi sangat tidak rasional. Bantuan bencana setelah gempa bumi dan tsunami adalah contoh yang bagus. Peristiwa ini sangat mengerikan dan membuat banyak penderitaan manusia. Namun, perhatian media sering kali menciptakan “efek superstar”, di mana orang ingin membantu dan dengan demikian menyingkirkan kebutuhan lain. Pada akhirnya, program bantuan gempa bumi menghasilkan lebih banyak uang daripada yang dapat mereka keluarkan untuk meringankan penderitaan akibat gempa. Sebagai ilustrasi, jika setiap orang membelanjakan sejumlah uang tetap untuk proyek amal, maka satu rupiah tambahan untuk bantuan gempa mengurangi uang yang tersedia untuk proyek yang kurang menonjol (tetapi sama-sama mendesak). Beberapa badan amal menyadari masalah ini dan ingin menggunakan sebagian dari sumbangan yang dialokasikan untuk proyek lain, tetapi mereka sering dikritik karena melakukannya, karena orang-orang ingin memastikan bahwa uang mereka dibelanjakan "dengan cara yang benar".

Di sisi lain, bagaimana cara yang tepat untuk membelanjakan uang mereka? Jika menyelamatkan nyawa tambahan di wilayah gempa diperkirakan akan menelan biaya 5 Milyar dan kemungkinan akan menelan biaya 1 milyar, jika uang tersebut digunakan untuk pencegahan malaria di beberapa proyek sederhana, maka mungkin masuk akal untuk menerapkan prinsip-prinsip ekonomi untuk menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin. Berpikir dalam hal biaya peluang memungkinkan alokasi yang lebih rasional dari sumber daya yang langka dari perspektif paham utilitarian.

Ada tiga tingkat analisis perilaku sosial yang dipakai oleh ahli ekonomi dalam meneliti adanya fenomena kelangkaan, yaitu:

Tingkat individual: Pada tingkat individual umumnya memfokuskan pada pertanyaan tentang bagaimana individu berperilaku dalam kondisi kelangkaan. Pertanyaan tipikal adalah, misalnya, bagaimana seseorang membelanjakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan. Apakah dia akan pergi ke bioskop atau makan di restoran? Apakah dia akan menghabiskan penghasilannya untuk pakaian atau liburan? Teori Keputusan adalah bidang penelitian yang mengembangkan teori-teori tentang perilaku individu adlah salah satu contoh ilmu yang mempelajari perilaku jenis ini.

Tingkat kelompok : Biasanya, perilaku individu tidak masuk dalam perilaku jenis ini karena ada pemisahan kepentingan. Misal, jika A memutuskan untuk pergi ke bioskop malam ini, dan B ingin bertemu dengan A, maka B juga harus pergi ke bioskop. Model ekuilibrium perdagangan dan perilaku pasar atau teori permainan (game theory) adalah contoh bidang penelitian yang menyelidiki bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.

(17)

Tingkat agregat: Fenomena yang dipelajari pada tingkat agregat adalah, misalnya, inflasi, pertumbuhan, atau pengangguran. Mereka adalah hasil dari keputusan individu dan aturan yang mengatur interaksi individu dalam kelompok, tetapi analisis fenomena tertentu pada tingkat agregat biasanya abstrak dari banyak detail pengambilan keputusan individu dan interaksi agar tetap fokus pada setiap detail sehingga mampu melihat tampilan atau poin kunci keseluruhan.

Telah disebutkan bahwa perilaku individu manusia pada akhirnya menyebabkan semua fenomena sosial pada tingkat kelompok dan agregat. Individualisme-metodologis adalah posisi ilmiah yang mengharuskan semua fenomena sosial dijelaskan dengan mengacu pada perilaku individu. Menurut pandangan ini, tidaklah cukup untuk mengasumsikan bahwa hukum abstrak itu ada, yang menjelaskan, misalnya, pertumbuhan dan inflasi:

hukum ini harus berasal dari perilaku individu dalam suatu masyarakat. Individualisme- metodologis adalah posisi yang diakui secara luas di kalangan ekonom, yang karenanya pada akhirnya semua fenomena, yang dipelajari pada tingkat agregat, perlu ditelusuri kembali ke pola perilaku pada tingkat individu dan kelompok.

Digresi Ke 3 : Manusia sebagai Homo Economicus

Subyek dari ekonomi adalah manusia, manusia dalam prinsip ekonomi adalah homo economicus, yang artinya manusia itu selalu berfikir secara rasional, mementingkan diri dalam proses pemenuhan kebutuhannya. Selama ini manusia selalu berusaha mencari tahu siapa dirinya yang sesungguhnya untuk mengungkapkan berbagai motif atau dorongan dari tindakan-tindakannya melalui perilaku mereka. Dalam pencarian itu, manusia, melalui salah satu bidang dalam kehidupannya, yakni ekonomi, telah mendapati diri sebagai homo economicus atau manusia ekonomi.

Homo economicus, selain memberikan tawaran pada pencarian motif dasar manusia, juga merupakan pondasi dari bangunan ekonomi. Untuk memberi keterangan lebih lanjut, homo economicus memberi jawaban dengan memperlihatkan sifat- sifatnya: rasional, egois, terisolir, individualis, tidak memiliki masa lalu (sejarah), tidak mempunyai latar belakang (konteks), dan hanya memiliki masa depan.

Dominasi gaya ekonomi neoliberal (pasar bebas) salah satunya didukung oleh asumsi bahwa egosime dan kepentingan pribadi (self-interest) merupakan sumber utama pendorong perilaku manusia sebagai makhluk ekonomi untuk melakukan proses maksimalisasi utilitas dan laba. Dalam sistem ini, manusia kemudian diasumsikan sebagai “homo economicus”; sosok makhluk rasional yang selalu menghitung dan memprediksi pencapaian hasil dari tindakan yang akan ia ambil

(18)

(Rahmat dan Yustika, 2017:46). Dalam kegiatan ekonominya, manusia dianggap selalu menghitung berdasarkan kalkulasi untung-rugi. Setiap pilihan didasarkan pada keuntungan bersih (net-benefit) yang dihasilkan. Pilihan selalu dijatuhkan pada alternatif yang menghasilkan net benefit lebih besar. Sehingga, manusia ekonomi (Homo Economicus) adalah manusia yang selalu berusaha memaksimalkan laba.

Beberapa Ekonom menggunakan istilah tersebut secara berbeda, tetapi ada konsensus luas bahwa persyaratan minimum adalah : ekonom biasanya tidak menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan motivasi yang mendorong perilaku dengan cara deskriptif eksklusif. Pendekatan ini mengulang lagi pemahaman dari Vilfredo Pareto, John Hicks, Roy Allen, dan Paul Samuelson, yang menghilangkan konsep psikologis dari ilmu ekonomi dan mendasarkan teori ekonomi pada prinsip- prinsip pilihan rasional. Intinya adalah bahwa semua yang dapat diamati adalah pilihan individu, tetapi bukan proses mental yang memotivasi atau menyebabkan perilaku.

Yang harus diketahui adalah bahwa orang pada dasarnya mengikuti proses tahapan dalam pengambilan keputusan yang disebut hubungan preferensi. Seseorang dapat selalu membuat atau menyusun peringkat dari semua situasi/kondisi mulai dari yang paling disukai hingga yang paling tidak disukai. Hal ini merupakan cara untuk menyimpulkan preferensi individu yang diberikan pilihan yang diamati. Ini adalah model pendekatan revealed-preference dalam ilmu ekonomi, yang menunjukkan bahwa, jika perilaku mengikuti asumsi konsistensi tertentu, maka individu berperilaku seolah-olah dia memaksimalkan preferensi atau fungsi utilitasnya. Perhatikan bahwa rumusan tersebut mengatakan "seolah-olah", yang menyiratkan bahwa teori tersebut tidak mengklaim bahwa individu memiliki preferensi atau fungsi utilitas dalam piikran mereka. Pareto membenarkan pendekatan ini dalam sebuah surat dari tahun 1897: “Merupakan fakta empiris bahwa ilmu pengetahuan alam telah berkembang hanya jika mereka telah mengambil prinsip-prinsip sekunder sebagai titik tolaknya, dibandinkan hanya mencoba menemukan esensi sesuatu. [...] Oleh karena itu, ekonomi politik murni memiliki minat yang besar untuk mengandalkan sesedikit mungkin pada domain psikologi. "

Asumsi konsistensi, yang menjamin bahwa seseorang berperilaku seolah-olah dia memaksimalkan preferensi, adalah sebagai berikut: dia dapat memberi peringkat alternatif yang dapat dia pilih sesuai dengan beberapa hubungan yang mewakili preferensinya (jika saya memiliki pilihan antara brokoli dan keripik kentang, maka Saya lebih suka brokoli daripada keripik kentang). Peringkat ini unik dan stabil

(19)

dalam jangka waktu yang cukup lama. Selanjutnya, peringkatnya selesai (saya dapat memberi peringkat dua alternatif) dan transitif (jika saya lebih suka brokoli daripada keripik kentang dan keripik kentang daripada es krim, maka saya juga lebih suka brokoli daripada es krim). Preferensi semacam itu disebut pemesanan. Yang tak kalah pentingnya adalah diasumsikan bahwa individu selalu memilih alternatif terbaik yang tersedia bagi mereka ((maximization). Maksimalisasi urutan preferensi adalah inti dari paradigma pilihan-rasional, yang merupakan bagian integral dari konsep homo oeconomicus.

Harap dicatat bahwa pandangan tentang rasionalitas ini murni sebuah sarana penelitian: ini mengacu pada konsistensi peringkat dan hubungan antara peringkat dan perilaku. (Jika preferensi disimpulkan dari perilaku, maka secara konseptual tidak ada kesenjangan antara perilaku dan preferensi; yang terakhir adalah solusi untuk mensistematisasikan pilihan.) Dapat didiskusikan apakah kelengkapan dan transitivitas menangkap gagasan rasionalitas dan jika individu selalu memilih alternatif yang adalah yang terbaik untuk mereka, tetapi kedua asumsi tersebut dianggap sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan yang rasional. Konsep tersebut telah disempurnakan lebih lanjut agar dapat mencakup situasi pilihan ketika terdapat risiko dan ketidakpastian.

Ini adalah kesalahpahaman yang meluas bahwa homo oeconomicus dilukiskan sebagai aktor yang egois. Mengingat bahwa konsep di atas ingin menghilangkan pertimbangan tentang motif tindakan dari teori, ia tidak dapat, dalam bentuknya yang paling murni, mengatakan apa pun tentang keegoisan, altruisme, atau masalah keadilan, karena konsep ini merujuk pada motif individu untuk mengambil tindakan.

Harus diakui, banyak penulis menambahkan asumsi tentang struktur urutan preferensi yang dapat diartikan sebagai keegoisan terhadap teori, tetapi perlu dicatat bahwa keegoisan bukanlah bagian integral dari apa yang dikonseptualisasikan oleh para ekonom sebagai rasionalitas.

Pembahasan mendetail tentang konsep homo oeconomicus berada di luar cakupan bab pendahuluan, tetapi beberapa catatan penting. Aspek-aspek yang berbeda dari konsep tersebut telah mendapat kritik. Psikolog dan ekonom perilaku telah menunjukkan bahwa preferensi tidak perlu bersifat transitif dan bahwa individu tidak secara konsisten memilih alternatif yang terbaik untuk mereka. Selain itu, orang tidak bertindak egois dalam sejumlah situasi. Terlepas dari anomali empiris ini, konsep ini populer di bidang ekonomi. Dari sudut pandang metodologis, ini penting sebagai ide regulatif yang membantu seseorang untuk lebih memahami struktur rasionalitas terbatas dan perilaku

(20)

non-egois, bahkan jika semua orang setuju bahwa orang nyata sering menyimpang dari ideal pengambilan keputusan rasional. Perilaku rasional terikat mengikuti pola dan lebih mudah untuk mengeksplorasi pola-pola ini dengan mengacu pada standar rasionalitas penuh. Selain itu, seperti yang akan dijelaskan di seluruh bab ini, teori yang baik tidak bergantung pada asumsi "realistis" dalam pemahaman kata yang naif. Kekuatan prediksi sebuah teori yang, misalnya, menjelaskan perilaku harga di pasar bisa jadi tinggi, bahkan jika asumsi yang mendasari abstrak dari banyak faktor yang mungkin penting dalam kenyataan.

Menganggap kelangkaan sebagai paradigma eksklusif ekonomi tanpa pertimbangan lebih lanjut adalah sebuah kesalahan. Definisi ekonomi oleh Robbins (1932) dan Samuelson tidak jelas tentang peran sebenarnya yang dimainkan manusia dalam teori ekonomi.

Individualisme metodologis adalah yang, sebagian besar, membedakan ilmu ekonomi arus utama dari ilmu-ilmu lain yang juga dibangun di atas gagasan kelangkaan.

Salah satu contoh yang bagus adalah ilmu biologi evolusioner. Evolusi dalam populasi adalah hasil dari tiga prinsip dasar: (1) Ada sifat yang dapat diwariskan, (2) ada variabilitas di dalamnya, dan (3) beberapa sifat lebih adaptif daripada yang lain. Dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu mahkluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Poin krusialnya adalah bahwa ketidaksesuaian antara cara dan tujuan harus mendasari “mekanisme” evolusi, karena jika tidak, sifat dapat berkembang biak tanpa batas. Oleh karena itu, untuk memulai teori evolusi, seseorang harus mulai dari kelangkaan. Apa yang membedakan biologi evolusioner dari ekonomi bukanlah paradigma yang mendasarinya, tetapi unit studi terkecil, gen versus manusia, dan tidak masuk akal untuk menyatakan biologi evolusioner sebagai bagian dari ilmu ekonomi (walaupun ada subbidang ekonomi yang disebut ekonomi evolusioner yang menerapkan tiga prinsip di atas untuk mempelajari fenomena ekonomi dan meletakkan dasar bagi perilaku manusia). Ahli biologi evolusi membedakan antara penyebab utama dan penyebab terdekat. Menurut pandangan ini, otak manusia, dengan keinginan dan kesukaAniya, dan secara lebih umum, manusia adalah penyebab langsung dari perilaku, yang dibentuk oleh kekuatan evolusi. Ini adalah organisme yang membuat gennya lebih atau kurang beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Oleh karena itu, hukum evolusi genetik adalah penyebab utama perilaku manusia. Para ahli ekonomi mengakui bahwa otak manusia pada akhirnya dibentuk oleh evolusi, tetapi menganggap individu sebagai penyebab utama perilaku dan sebagai titik awal upaya ilmiah mereka. Seperti yang diperlihatkan di sub-bab berikutnya, pintasan ini tidak benar atau salah, baik atau buruk: ini hanya menyederhanakan analisis.

(21)

Perbedaan umum lainnya ditampilkan dalam ekonomi mikro dan ekonomi makro. Ahli ekonomi mikro mempelajari pengambilan keputusan individu pada tingkat individu dan kelompok, sedangkan ahli ekonomi makro mempelajari fenomena ekonomi pada tingkat keseluruhan. Namun, perbedaanya tidak setajam kelihatannya. Ekonomi makro secara tradisional mendalilkan keteraturan untuk agregat seperti tabungan nasional (S), yang kemudian digunakan untuk memprediksi indikatornya, misalnya, peningkatan pertumbuhan ekonomi. Misalnya dalam data bahwa sekitar 30% pendapatan nasional (Y) masuk ke tabungan (S), yang akan menghasilkan rumus tabungan adalah S (Y) = 0.3 . Y. Metode perhitungan seperti itu dapat digunakan untuk mengkalkulasi bidang atau indikator lainnya, misalnya, untuk perkiraan ekonomi (economy forecasting). Masalah dengan pendekatan ini adalah, bagaimanapun, masih belum dapat dijelaskan mengapa, rata-rata, 30% dari pendapatan nasional dihabiskan untuk ditabung. Ini bukanlah teori yang memenuhi persyaratan individualisme metodologis. Pada akhirnya, adalah individu tunggal yang membuat keputusan menabung, sehingga implikasi dari model ekonomi agregat tersebut lebih dapat diandalkan jika perilaku agregat dikaitkan dengan individu. Pengamatan ini mengarah pada apa yang disebut landasan mikro dari ekonomi makro, yaitu upaya untuk menghubungkan fenomena agregat, seperti pengangguran atau pertumbuhan, dengan pengambilan keputusan individu. Makroekonomi adalah pengertian mikro yang dietemukan dalam hal ini, jadi lebih tepat membedakan antara mikro dan makro, sebagaimana mereka dalam bahasa sehari-hari, melalui bidang aplikasinya. Ahli ekonomi makro biasanya mempelajari fenomena seperti pertumbuhan, pengangguran, siklus bisnis atau kebijakan moneter, sedangkan ahli ekonomi mikro fokus antara lain pada fungsi pasar dan institusi lain atau peran dan desain insentif dalam pengambilan keputusan ekonomi.

1.2 Prinsip-Prinsip Metodologi

Anda pernah menemukan atau membaca buku resep makanan? Bagaimanan dengan sebuah karya ilmiah? Perbedaan antara buku masak dan teori ilmiah sangat besar. Dalam buku masak, seseorang belajar memasak dengan segala sesuatu sesuai kebutuhan yang ada dalam buku yaitu peralatan dan bahan masak : wajan panas, telur, tepung, susu, soda kue dan sedikit garam untuk membuat pancake. Jika seseorang mengikuti resepnya, dia akan menciptakan makanan yang enak, tetapi dia tidak begitu mengerti mengapa makanan tersebut menjadi lezat. Sebuah karya ilmiah menjelaskan bagaimana panas mengubah struktur molekul protein yang ada dalam putih telur, bagaimana soda kue bereaksi dengan asam dan bagaimana gluten membangun jaringan elastis. Pengetahuan ini mungkin tidak memberi tahu seseorang tentang cara membuat pancake, tetapi ini dapat memberi tahu banyak hal tentang alasan yang lebih dalam mengapa resep itu bekerja.

Selain itu, informasi ini dapat digunakan untuk mengembangkan resep baru yang inovatif.

(22)

Baik buku masak maupun teori ilmiah saling melengkapi: memahami mekanisme fisik, kimia, dan biologis yang mendasari transformasi bahan menjadi makanan membantu seseorang meningkatkan resep, dan resep yang telah dikembangkan merupakan sumber insmanggaasi bagi penemuan ilmiah.

Ilmu ekonomi datang dalam bentuk buku masak dan teori ilmiah. Seorang pialang saham mungkin hanya "mengikuti naluri" tentang pilihan yang menguntungkan. Dia tidak memiliki teori eksplisit tentang fungsi pasar modal di belakang pikirannya, yang menginformasikan tentang perkembangan saham di masa depan. Seperti juru masak berpengalaman, dia hanya “merasakan” atau “melihat” saham mana yang akan menguntungkan. Penalaran ilmiah akan membutuhkan usaha untuk memahami mekanisme yang membuat satu saham berhasil dan yang lainnya gagal. Ambil contoh lain, seorang manajer sebuah perusahaan, misalnya. Ketika dia mendirikan organisasi perusahaan dan mengatur paket kompensasi karyawan, dia mungkin mengikuti aturan yang ada dan nalurinya. Pendekatan secara ilmiah tentang organisasi dan sistem kompensasi bisa jadi harus mengembangkan teori tentang konsekuensi atau desain organisasi dan efek insentif dari berbagai dampak pemberian kompensasi kepada karyawan. Teori-teori ini mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung pada masalah tertentu, tetapi seiring waktu, teori-teori ini masuk ke dalam “budaya” masyarakat dan membentuk intuisi para pembuat keputusan. John Maynard Keynes membuat poin ini dengan sangat pedas: “Gagasan para ekonom dan filsuf politik, baik ketika benar maupun salah, lebih kuat daripada yang dipahami secara umum. Memang, dunia hanya diatur oleh orang yang hanya sedikit memahami. Orang- orang praktis, yang percaya diri mereka terbebas dari pengaruh intelektual apa pun, biasanya adalah budak dari beberapa ekonom yang tidak berfungsi."

Ekonomi, sebagai ilmu sosial, mengembangkan teori-teori semacam itu. Ini bukan tujuan utama dari teori-teori ini untuk menginformasikan para pengambil keputusan tentang konsekuensi dari keputusan mereka, tetapi untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang logika interaksi ekonomi dengan mengembangkan teori-teori ilmiah. Memperdalam pemahaman seseorang tentang fungsi, misalnya, pasar tenaga kerja atau keuangan, pada akhirnya akan memungkinkan para pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Subbab berikut memberikan pengantar singkat tentang beberapa masalah-masalah filosofis yang penting dalam memahami ekonomi sebagai ilmu sosial. Sangat sulit menemukan titik temu yang tepat untuk membahas masalah-masalah fundamental ini karena, jika dibahas sebelum mulai mempelajari ilmu ekonomi sebagai pilihan pertama, maka ia membahas masalah-masalah yang masih sangat abstrak; seseorang memberikan

(23)

jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak akan ditanyakan oleh siswa. Jika seseorang memilih pilihan ke dua yaitu membahas materi di akhir mata kuliah, maka siswa akan kesulitan memahami apa yang terjadi dalam teori ekonomi dan sangat mungkin mereka akan tersesat dalam ide-ide mereka tentang relevansi dan kekuatan-keutan yang mungkin muncul. Pilihan ketiga juga kurang optimal: mengintegrasikan debat filosofis ke dalam presentasi teori. Jika seseorang menaburkan teori ekonomi dengan sedikit filosofi sains di sana-sini, kemungkinan besar dia akan kesulitan membedakan pola keseluruhan dari kumpulan detail; untuk melihat gambaran besarnya, atau situasi yang lebih luas dan lebih umum. (Pilihan keempat, tentu saja, adalah melewatkan materi sepenuhnya dan mengandalkan intuisi metodologis dan filosofis siswa.) Inilah sebabnya saya memutuskan untuk membahas beberapa dasar di awal buku ini, dengan gagasan bahwa orang tidak perlu memahami setiap detail kecil setelah pembacaan pertama. Cukup baik jika seseorang mendapatkan konsep dasar di awal dan kemudian kembali ke subbab ini nanti ketika dia memiliki pemahaman yang lebih baik tentang ekonomi. Akhirnya semua dapat dipahami dengan jelas ketika kita mengerti pemahaman awal.

1.2.1 Teori yang Benar dan Masuk Akal

Jika dikontekskan dalam ilmu sosial, maka yang mencoba dijelaskan dalam definisi teori adalah bagaimana fenomena sosial terjadi. Teori adalah prinsip umum yang kredibel secara ilmiah yang menjelaskan suatu fenomena. Teori menurut kamus Oxford didefinisikan sebagai “anggapan atau sistem ide yang dimaksudkan untuk menjelaskan sesuatu, terutama yang didasarkan pada prinsip-prinsip umum yang independen dari hal yang harus dijelaskan”. Untuk keperluan buku ini, teori didefinisikan sebagai pendekatan konseptual yang relatif luas yang membuat dugaan yang masuk akal tentang hubungan yang ada sebab-musababnya. Kapan sebuah dugaan masuk akal dan mengapa seseorang menemukan kata "masuk akal" dibanding kata "benar" dalam pernyataan di atas? Mengingat keterbatasan organ indera dan pikiran seseorang, tidak mungkin untuk mengatakan bahwa dugaan itu bahwa itu benar-benar sesuai dengan kenyataan.

Di dalam epistemologi (salah satu cabang dari filsafat yang berkaitan dengan teori pengetahuan), dijelaskan berbagai cara tentang bagaimana kita memperoleh ilmu pengetahuan, salah satunya adalah Trilema Munchhausen. Menurut trilema tersebut, pernyataan apa pun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Kenapa? Karena jika ditanya bagaimana bukti kebenaran dari pernyataan yang diberikan, maka bukti itu bisa saja ada.

(24)

Tetapi bukti-bukti itu hanya akan diperoleh berdasarkan tiga cara ini:

1. Argumen melingkar (Circularity)

Bentuk penalaran di mana kita berakhir dengan argumen yang kita buat sendiri di awal. Biasanya pembuktian tersebut berbentuk seperti ini:

A benar karena B.

B benar karena A.

Gambar 1 Argumen melingkar

Bukti berdasarkan argumen melingkar tentu saja tidak dapat diterima kebenarannya, karena asumsi yang diberikan di awal kita anggap sebagai suatu kebenaran. Padahal kebenarannya pun masih dipertanyakan. Contohnya adalah interpretasi yang salah terhadap teori evolusi yang mendefinisikan spesies yang paling cocok di lingkungan bisa bertahan hidup, dan kemudian orang berpendapat bahwa spesies yang diamati harus paling cocok dengan lingkungannya.

2. Argumen regresi tanpa batas (Infinite regress)

Membuktikan sesuatu menggunakan suatu premis di mana premis tersebut membutuhkan suatu bukti lagi, dan seterusnya hingga tak terbatas (ad infinitum).

Di dalam regresi tanpa batas, setiap pernyataan akan bergantung pada pernyataan- pernyataan lain. Jika rantai ini tidak memiliki batas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk memercayai kebenaran dari pernyataan-pernyataan yang tidak mendasar tersebut.

Mirip seperti sebuah rantai. Bila satu bagian rusak, maka seluruh komponen tidak dapat digunakan. Pun jika ada satu pernyataan yang kebenarannya diragukan, maka pernyataan-pernyataan lain di dalam rantai tersebut akan diragukan pula. (Lihat Gambar 2).

(25)

Gambar 2 Regresi tanpa batas 3. Argumen dogmatis/aksiomatik

Argumen yang tidak membutuhkan bukti lagi karena dianggap sudah cukup jelas.

Mengapa dianggap cukup jelas? Karena argumen atau pernyataan tersebut berdasarkan pada pengetahuan/pandangan yang dimiliki orang-orang tentang hal-hal tertentu. Ini mirip dengan aksioma di dalam matematika. Seperti misalnya, mengapa 1+3 = 3+1?

Itu sudah jelas, tidak perlu dibuktikan. Satu apel ditambah tiga apel jumlahnya akan sama saja dengan tiga apel ditambah satu apel. Akan tetapi argumen aksiomatik ini memiliki kelemahan. Seperti pada pernyataan, "Buah mangga adalah buah paling beraroma". Tentu saja pernyataan ini benar tanpa memerlukan bukti, hanya jika disampaikan pada orang yang sependapat dengan kita. Kebenaran berdasarkan argumen aksiomatik pada akhirnya akan bersifat relatif karena bergantung pada pandangan masing-masing orang.

Untuk semua maksud dan tujuan praktis, hanya dogmatisme yang merupakan pilihan.

Artinya kebenaran tidak bisa dicapai melalui proses penalaran ilmiah, melainkan harus bertumpu pada intuisi yang harus dipupuk oleh sumber lain. Dogmatisme, dengan alasan yang sama, juga menyiratkan bahwa setiap teori ilmiah harus dimulai dari penilaian nilai tentang prinsip-prinsip dasar yang terbukti dengan sendirinya. Kembali ke diskusi tentang teori, menyebut dugaan yang masuk akal dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sulit berkenaan dengan trilema dengan mensyaratkan standar yang jauh lebih moderat untuk menjadi konsensus bersama. Untuk mencapai konsensus di antara para ahli, setidaknya seseorang harus mencapai kesepakatan tentang dogma yang berbeda yang (mungkin secara tidak sadar) mencemari perspektif seseorang.

(26)

Digresi Ke 4 : Melampaui Nalar

Perlunya titik awal dogmatis dari setiap proyek penelitian ilmiah mengarah pada batasan bahasa dalam mengungkapkan realitas. Beberapa tradisi agama bahkan mengklaim bahwa beberapa kebenaran dapat dan harus dinilai dengan cara selain penalaran ilmiah - misalnya ketetapan wahyu - dan alasan ini bukanlah alat untuk memahami kebenaran tetapi merupakan sebuah rintangan dalam perjalanan hidup.

Pemikiran semacam ini terekspresikan dengan jelas dalam Buddhisme Zen, di mana praktik meditasi menuntun pada kondisi kesadaran suci di mana seseorang melihat dunia "sebagaimana adanya". Untuk lebih dekat dengan keadaan ini, siswa diharapkan untuk mengerjakan kōans, yang dari sudut pandang pemahaman Barat, merupakan pertanyaan yang tidak dapat dijawab atau pernyataan yang tidak berarti. Bekerja dengan mereka membantu seseorang untuk melampaui akal, yang dipandang sebagai penghalang dalam perjalanan menuju keadaan yang tercerahkan. Ide pencerahan dalam Buddhisme berbeda dengan penggunaan kata pencerahan di Barat, yang mengacu pada penggunaan nalar secara independen untuk mendapatkan wawasan tentang hakikat sejati dunia ini.

Prinsip dogmatis pertama dari sebuah teori sangat mirip dengan apa yang disebut Thomas Kuhn sebagai 'paradigma'. Paradigma berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai-nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, disiplin intelektual. Paradigma hadir pada berbagai tingkat abstraksi. Tingkat abstraksi yang paling umum dalam paradigma Barat tentang Pencerahan adalah keyakinan bahwa penggunaan nalar secara independen memungkinkan seseorang memperoleh wawasan tentang sifat sejati dunia ini (lihat digresi 4 di atas). Ilmu ekonomi neoklasik, misalnya, memiliki gagasan tentang pilihan rasional dan individualisme metodologis sebagai bagian penting dari paradigmanya.

1.2.2 Teori dan Model

Dalam ekonomi arus utama, setidaknya, teori memiliki model-model sebagai "kekuatan logis" mereka. Model adalah kumpulan asumsi dan hipotesis yang dihubungkan oleh aturan logika dan matematika. Model membuat beberapa asumsi tentang aspek realitas dan mendapatkan hipotesis dari asumsi ini dengan cara yang konsisten secara logis.

Model dapat menjadi acuan yang dapat dijadikan contoh untuk menilai sebuah sistem tertentu. Model merupakan sebuah keterangan secara terkonsep yang dipakai sebagai

(27)

saran atau referensi untuk melanjutkan penelitian empiris yang membahas suatu masalah.

Untuk memahami perbedaan antara teori dan model, lihat contoh berikut.

Asumsikan seseorang ingin mengembangkan teori tentang berfungsinya mekanisme harga di pasar. Untuk melakukannya, seseorang berpikir tentang beberapa hal, misalnya:

cara individu menjual dan membeli barang-barang mereka dan bagaimana keputusan jual beli ini menjelaskan pembentukan harga. Cara berpikir terstruktur ini adalah salah satu model yang mendasari teori seseorang.

Fungsi penting dari sebuah model, dalam konteks pembentukan teori, adalah untuk memastikan bahwa mekanisme kausal utama yang mendasari sebuah teori dibuat eksplisit dan konsisten secara logis. Lihat model berikut untuk memahami alasannya:

Model 1

Asumsi 1 : Semua manusia ada di jalanan.

Asumsi 2 : Dani adalah seorang manusia.

Hipotesis : Dani sedang duduk di rumah saya.

“Model 1” adalah model karena memiliki sekumpulan asumsi dan hipotesis, tetapi hipotesis tersebut tidak mengikuti secara logis dari asumsi tersebut. Dalam hal ini, model tersebut secara logis tidak konsisten, meskipun hipotesisnya mungkin benar secara empiris (Dani duduk tepat di sebelah saya). Intinya adalah bahwa asumsi tidak dapat menjelaskan pengamatan saya, yang membuat model tidak berguna untuk teori apa pun. Oleh karena itu, model yang konsisten merupakan kondisi yang diperlukan untuk teori yang baik.

Namun, apakah itu juga cukup? Berikut adalah contoh model yang sangat sederhana:

Model 2

Asumsi 1 : Kematian adalah kecemasan Asumsi 2 : Karl Marx sudah mati.

Hipotesis : Karl Marx sedang merasa cemas

Rangkaian asumsi dan hipotesis di atas memenuhi semua persyaratan model yang baik.

Semua asumsi dijabarkan secara eksplisit dan hipotesis mengikuti dari asumsi tersebut dengan cara yang konsisten secara logis. Apakah model itu akan menjadi bahan yang baik untuk teori kematian? Sulit membayangkan bahwa semua ahli akan setuju. Oleh karena itu, konsistensi logis jelas penting bagi penalaran ilmiah, tetapi itu tidak cukup.

Untuk mengevaluasi “kelayakan” suatu teori, seseorang membutuhkan kriteria tambahan yang “lebih lunak” seperti kecukupan, kesederhanaan, atau masuk akal.

(28)

1.2.3 Nilai Lebih dari Penyederhanaan

Kriteria penting suatu model yang baik adalah kesederhanaan atau penghematan. Salah satu prinsip yang terkenal dalam ilmu pengetahuan (atau lebih khususnya dalam sains) adalah prinsip gunting Ockham (Ockham’s razor principle). Prinsip ini menyatakan kita sebaiknya membuat asumsi tidak melebihi kebutuhan minimum. Jika terdapat lebih dari satu penjelasan untuk satu keadaan maka penjelasan yang paling sederhana yang biasanya yang paling baik, tapi tentunya semua penjelasan yang ada yang kemudian dibandingkan adalah penjelasan-penjelasan yang telah memenuhi kecukupan dalam mewakili eksperimen yang ada. Prinsip gunting Ockham dapat diaplikasikan oleh mahasiswa dalam melakukan kegiatan penelitian dan proyek sains atau ilmu pengetahuan selama pendidikan akademisnya di perguruan tinggi. Pada tahap-tahap berfikir ilmiah yang sudah dikenal selama ini, mahasiswa harus melakukan satu tahap yaitu menetapkan hipotesis. Selama ini jarang dibahas bagaimana hipotesis diformulasikan. Tentu saja hipotesis dibuat atas pengamatan, perkiraan, perkembangan dari teori-teori sebelumnya dan hal-hal itu sangat terkait dengan bidang ilmu yang sedang diteliti. Tapi bagaimana hal-hal diatas dirumuskan sehingga menghasilkan penjelasan dan teori yang baik jarang untuk dilatih.

Ada banyak sekali alternatif penjelasan yang dapat diberikan untuk suatu kejadian di alam agar terhindar dari kekeliruan. Tapi penjelasan atau teori yang paling sederhana lebih disukai daripada yang lebih kompleks karena teori yang sederhana lebih dapat diuji dan diulang-ulang sehingga mudah untuk memeriksa apakah teori tersebut keliru atau tidak. Dalam menyusun hipotesis, mahasiswa dapat menetapkan beberapa asumsi yang diperkirakan akan sesuai dengan data pengamatan yang ada. Tapi hipotesis yang baik adalah hipotesis yang memuat sejumlah asumsi yang minimum. Beberapa asumsi awal yang ditetapkan mungkin tidak diperlukan, tidak sejalan dengan teori lain yang sudah ada, atau mungkin tiak terdefinisi dengan jelas. Pengamatan yang lebih teliti untuk asumsi- asumsi yang minimum tersebut kadang tidak dapat dilakukan dalam satu kali perumusan.

Untuk itu, terkadang diperlukan proses berfikir yang beriterasi untuk menetapkan asumsi yang minimum.

Pemetaan hipotesis penelitian harus disederhanakan agar berguna. Di sisi lain, apakah ada cara yang “benar” untuk menyederhanakan? Jawaban atas pertanyaan ini bisa juga “tidak,” karena bergantung pada apa yang ingin dilakukan dengan pemetaan. Jika seseorang sedang mengendarai mobil, garis kontur tidak penting dan dapat dengan mudah mengalihkan perhatian dari informasi lain yang lebih penting. Namun, jika seseorang berencana untuk mendaki gunung, garis kontur sangatlah penting. Oleh karena itu, penyederhanaan yang baik tergantung pada tujuannya.

(29)

1.2.4 Manfaat Asumsi

Jika asumsi tidak realistis, maka mungkin orang dapat menyimpulkan bahwa asumsi tidak penting sama sekali. Pemahaman ini sebenarnya dikemukakan oleh Milton Friedman (1953, hlm. 14), salah satu ekonom paling berpengaruh pada masanya. Dia mengemukakan bahwa "Hipotesis yang benar-benar penting dan signifikan adalah jika memiliki 'asumsi' yang merupakan representasi deskriptif realitas yang sangat tidak akurat, dan, secara umum, semakin signifikan teorinya, semakin tidak realistis asumsi tersebut.”

Ada beberapa perdebatan mengenai apakah Friedman menganut pendapat ekstrim bahwa asumsi tidak penting sama sekali (disebut instrumentalisme) atau tidak, tetapi demi argumen, pertimbangkan posisi ini dan lihat ke mana arahnya. Menurut pandangan penganut paham instrumentalisme, seseorang harus menilai teori sesuai dengan validitas dan kegunaan hipotesis, sedangkan asumsi tidak relevan. Apakah posisi ini masuk akal?

Lihat model berikut.

Model 3

Asumsi : Sabuk pengaman mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal.

Hipotesis : Sabuk pengaman mengurangi kemungkinan kecelakaan fatal.

Model 3 terlihat seperti membuang-buang waktu yang tidak masuk akal dan merupakan contoh argumen melingkar, tetapi mengapa orang menganggapnya secara intuitif tidak meyakinkan? Hipotesis tersebut dapat diuji secara empiris dan didukung dengan data.

Oleh karena itu, menurut pandangan instrumentalis, teori yang dibangun di atas model ini lolos uji kegunaan. Gagasan bahwa asumsi sama sekali tidak relevan, tentu saja, cacat karena mencegah seseorang mempelajari apa pun tentang mekanisme sebab-akibat yang mendorong hipotesis, jika seseorang tidak dapat mengesampingkan model sepele di mana hipotesis dan asumsi bertepatan. Bahkan jika pikiran seseorang tidak pernah dapat memahami mekanisme sebab-akibat yang sebenarnya, dan dengan demikian ia harus puas dengan narasi dan heuristik kasar, menyatakan asumsi yang tidak relevan hanya menyisakan buku masak.

Instrumentalisme adalah pendapat yang ekstrim dan ada alasan untuk menganggap bahwa pendapat Friedman sendiri lebih seimbang. Dia berpendapat bahwa peran positive science "adalah pengembangan dari 'teori' atau 'hipotesis' yang menghasilkan prediksi yang valid dan bermakna (yaitu tidak benar) tentang fenomena yang belum diamati."

Dapat dikatakan bahwa istilah "disangkal" mengacu pada model jenis di atas yang hanya ulangan yang tidak berguna. Pada akhirnya, pembangunan teori ilmiah memiliki komponen subjektif, karena keseimbangan antara, di satu sisi, penyederhanaan yang bermakna dari

(30)

asumsi dan mekanisme kausal yang seharusnya dan, di sisi lain, kekuatan penjelas dari hipotesis tidak bisa dipastikan. Ini adalah seni dan keahlian para ilmuwan berpengalaman untuk melihat apakah sebuah teori "seimbang".

1.2.5 Kurva Kemungkinan Produksi

Untuk mengilustrasikan asumsi peran yang dimainkan dalam model, perlu kiranya mengenal konsep Kurva Kemungkinan Produksi (production-possibility frontier) yang akan dikupas lebih mendalam di Bab. 2. Dalam ekonomi modern dan kompleks, ada jutaan orang, yang semuanya bekerja, mengonsumsi barang, menikmati waktu bersama teman dan keluarga, dan sebagainya. Hubungan yang yang berliku-liku ini tidak mungkin dianalisis tanpa menyederhanakan asumsi yang membuatnya dapat dipahami oleh pikiran ilmuwan. Satu pertanyaan, yang relevan bagi para ekonom, adalah tentang "trade-off

" (pertukaran) yang dihadapi ekonomi ketika menghasilkan barang dan jasa. Trade off adalah situasi dimana seseorang harus membuat keputusan terhadap dua hal atau lebih, mengorbankan/kehilangan suatu aspek dengan alasan tertentu untuk memperoleh aspek lain dengan kualitas yang berbeda sebagai pilihan yang diambil.

Barang dan jasa diproduksi dengan semua sumber daya, sarana dan keterampilan yang tersedia. Garis kurva kemungkinan produksi digunakan untuk meringkas semua kompleksitas ini. Dalam kasus yang paling sederhana, orang membuat asumsi bahwa perekonomian dapat memproduksi cukup dua barang, 1 dan 2, yang jumlahnya ditarik sepanjang sumbu pada Gambar 1.1.

χ2

χ1 Gambar 1.1 Contoh Kurva kemungkinan produksi

(31)

Jumlah barang 1 ditarik sepanjang garis absis (sumbu horizontal) dan jumlah barang 2 sepanjang garis ordinat (sumbu vertikal). Grafik miring ke bawah pada gambar adalah batas kemungkinan produksi untuk barang 1 dan 2. Grafik tersebut menunjukkan berbagai kombinasi dari dua barang yang dapat diproduksi dalam perekonomian, dalam periode waktu tertentu.

Ilustrasi kemungkinan produksi ini bergantung pada asumsi yang disederhanakan secara drastis, tetapi memiliki dua keuntungan besar: mudah dipahami dan memungkinkan untuk menganalisis beberapa trade-off dasar yang dihadapi masyarakat. Grafiknya harus miring ke bawah, karena kelangkaan menyiratkan bahwa peningkatan produksi satu barang harus memiliki biaya peluang: peningkatan produksi satu memerlukan pengurangan produksi barang lainnya. Kemiringan fungsi adalah ukuran biaya peluang, karena mengukur dengan seberapa banyak produksi satu barang harus dikurangi, jika seseorang memproduksi unit tambahan (kecil) dari barang lainnya. Masih harus ditunjukkan seberapa berguna alat ini sebenarnya. Tujuan dari model sederhana ini adalah untuk menggambarkan fungsi dari menyederhanakan asumsi.

1.2.6 Rasionalisme Kritis (Critical Rationalism)

Rasionalisme kritis, pertama kali dikemukakan oleh Karl Popper. Popper mengajukan paham rasionalisme kritis untuk mengritisi rasionalisme yang tidak kritis. Rasionalisme yang tidak kritis itu tidak konsisten karena tidak didukung oleh penalaran atau pengalaman.

Popper berpendapat bahwa suatu teori itu merupakan suatu hipotesis atau dugaan sementara kita saja. Akan tetapi kita dapat menggunakan teori itu sebagai landasan atau titik tolak untuk mencapai pengetahuan yang benar. Oleh karena itu perlunya sikap kritis dan terbuka atas teori kita. Rasionalisme Kritis mengarah diskusi panjang antara penalaran teoretis dan empiris: hipotesis model yang salah (secara empiris) harus diuji secara empiris Pengujian-pengujian ini bisa di buktikan kesalahannya secara teori atau tidak. Kita harus siap mengganti teori kita yang lama dengan teori yang baru jika kita menemukan kesalahan dalam teori itu supaya teori itu semakin disempurnakan.

Kebenaran yang dimaksud didalam rasionalisme bukanlah kebenaran yang didasarkan metode ilmiah seperti yang kita ketahui dalam ilmu pasti. Karena ilmu pasti hanya boleh dipandang sebagai penerapan paling jelas dari metode ilmiah. Metode ilmiah itu sendiri adalah yang lebih umum. Segala gagasan yang dikenal dari kebiasaan dan pewarisan atau dari keterpihakan (kecenderungan), baru bernilai, jikalau secara metodis diperkembangkan dari intuisi murni. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang ada, dan kebenaran yang dapat dikenal, asal jiwa kita berusaha untuk membebaskan diri dari isinya semula, menghilangkan jalan dari luar kedalam dan mulai lagi dengan jalan dari dalam keluar.

(32)

Oleh karena itu kita harus memiliki sikap keragu-raguan yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari untuk menumbuhkan sikap kristis tersebut. Hal ini dikarenakan oleh keragu- raguan kita akan memberikan kita refleksi berpikir,dan oleh karena itu di dalam hal berpikir ini kita tidak ragu-ragu. Inilah suatu awal dari sikap kritis terhadap apapun untuk mencari kebenaran dari pengetahuan.

Titik lemah dari rasionalisme kritis adalah keyakinannya yang tidak diteliti terhadap falsifikasi - pembuktian bahwa suatu pandangan atau teori itu salah - yang bersifat empiris. Masalahnya adalah bahwa seseorang tidak memiliki bukti fakta secara langsung;

bahwa observasi empiris juga bergantung pada teori. Banyak data statistik, misalnya, dikumpulkan dalam sistem penghitungan nasional yang sangat kompleks dan data yang dihasilkan dalam eksperimen laboratorium bergantung pada interpretasi eksperimen.

Oleh karena itu, dari sudut pandang epistemik, falsifikasi tidak lebih atau kurang dari bukti ketidakkonsistenan logis dari dua teori yang berbeda: teori teoritis dan teori empiris.

Yang mana yang akan disangkal, sekali lagi, bergantung pada penilaian nilai atau "firasat"

para ahli.

Beberapa filsuf sains, seperti Imre Lakatos (1976), menarik kesimpulan bahwa underdetermination menciptakan "kemajuan" ilmiah sebagian besar merupakan fungsi dari bakat, kreativitas, tekad, dan sumber daya ilmuwan. “Underdetermination” adalah pandangan bahwa fakta-fakta tidakmenentukan teori, sebab tidak ada teori yang tunggal untuk suatu fakta, melainkan terdapat sejumlah teori yang sesuai (cocok atau kompatibel) dengan fakta-fakta (Southwell,2013). Bahkan karya yang lebih radikal, oleh Thomas Kuhn (1962), menunjukkan bahwa pada akhirnya kepentingan sosial dan politik menentukan kesimpulan yang diambil dari inkonsistensi di dalam atau di antara teori. Untuk mengambil jalan keluar ini dari program penalaran ilmiah, seseorang harus menyimpulkan bahwa yang terbaik yang bisa diharapkan adalah menciptakan ruang diskusi untuk debat ilmiah, di mana keberhasilan suatu argumen tidak dipengaruhi oleh uang atau kekuasaan, dan konsensus di antara para ahli dicapai dengan "wacana non- hierarkis" (Jürgen Habermas (1983).

1.2.7 Teori Ekonomi Positif dan Ekonomi Normatif

Dalam penerapannya, tidak jarang ilmu ekonomi melakukan perbandingan antara dunia sebenarnya dengan dunia yang ideal. Dunia sebenarnya adalah keadaan yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Keadaan seperti itu terkadang masih perlu perbaikan atau bahkan diganti sehingga mencapai titik tertentu yang disebut sebagai nilai ideal. Itulah yang disebut dunia yang ideal, yaitu sebuah kondisi yang sebaiknya atau seharusnya

(33)

terjadi. Oleh sebab itu muncul 2 pendekatan dalam ilmu ekonomi, yaitu pendekatan ekonomi positif dan ekonomi normatif.

Ekonomi positif dapat berupa pernyataan atau analisis positif. Ekonomi positif menjelaskan tentang hal-hal yang sesuai dengan fakta dan situasi dalam dunia ekonomi yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Jadi pendekatan positif berkaitan dengan penjelasan aktual dan ramalan. Maka hal ini mengarah pada analisis dan bukti empiris, karena kebenaran dalam sebuah pernyataan positif dapat langsung dilihat atau dibuktikan melalui peristiwa yang sebenarnya terjadi. Ekonomi positif disebut juga sebagai ekonomi hubungan sebab akibat. Ekonomi positif adalah dimensi untuk mengamati proses dan aktivitas ekonomi bersandarkan fakta tanpa subyektivitas baik dan buruk (value-free). Contoh peneitian tentang kebijakan subsidi penduduk miskin akan meningkatkan produktivitas ekonomi.

Permintaan terhadap suatu komoditas meningkat setelah harganya turun juga merupakan maklumat ekonomi positif.

Di sisi lain, normatif berarti menitikberatkan pada norma, aturan atau ketentuan yang berlaku dalam kehidupan. Ekonomi normatif dapat berupa pernyataan dan analisis normatif.

Ekonomi normatif menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan erat dengan norma, etika dan aturan keadilan. Dalam teori ini tidak mengedepankan fakta, namun mengedepankan apa yang seharusnya dilakukan agar menjadi kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Karena dalam sebuah pengambilan keputusan baik oleh pemerintah maupun swasta sebagai pelaku ekonomi, tidak cukup dengan penjelasan atas fakta dan data empiris yang relevan sekali pun. Namun hal itu terkait pula tentang “apa yang seharusnya dilakukan sebagai kebijakan terbaik?” Inilah inti dari pendekatan ekonomi normatif.

Sebagai contoh, pernyataan seperti "Anda harus menurunkan berat badan" atau "Negara harus mengurangi tarif pajak penghasilan perusahaan" adalah pernyataan normatif.

Apakah seseorang menganggapnya relevan atau tidak tergantung pada dua hal. Pertama, seseorang harus berbagi prinsip normatif dasar yang mendasari nasihat tersebut (“hidup lebih lama lebih baik daripada hidup lebih pendek”, atau “Negara harus memaksimalkan pendapatan nasionalnya”). Kedua, seseorang harus setuju dengan teori positif yang menjembatani prinsip normatif dan nasihat normatif ("orang yang kelebihan berat badan rata-rata hidup lebih pendek daripada orang kurus karena mereka memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi", atau "tarif pajak penghasilan perusahaan yang lebih rendah menarik investasi modal, yang meningkatkan pendapatan nasional”). Amartya Sen (1970) menyebut pertimbangan nilai-nilai (value judgements) dasar dan pertimbangan nilai non dasar. Pertimbangan nilai dasar hanya bergantung pada prinsip etika pertama, sedangkan pertimbangan nilai non dasar merupakan campuran dari prinsip pertama

(34)

dan teori positif. Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam bentuk- bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batasyang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.

Perbedaan antara pertimbangan nilai dasar dan non dasar mengakibatkan debat yang tak berkesudahan, karena dimungkinkan untuk memperdebatkan pernyataan positif.

Klaim bahwa tarif pajak yang lebih rendah meningkatkan investasi yang, pada gilirannya, meningkatkan pendapatan nasional, dapat diuji secara empiris, sehingga orang pada prinsipnya dapat menyelesaikan perselisihan tentang pernyataan positif (dalam arti konsensus di antara para ahli dalam wacana non-hierarki). Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu :

a. Nilai logika adalah nilai benar salah.

b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.

c. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.

Kta dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang anak dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan anak itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan alam, menonton sebuah pentas pertunjukan musik, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan pemandangan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa pemandangan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.

moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari

George Edward Moore (1903) menciptakan istilah "kekeliruan naturalistik" (naturalistic fallacy) untuk kategori kesalahan yang dilakukan seseorang ketika dia mendefinisikan

"kebaikan" (dalam arti secara intrinsik berharga) dengan sifat-sifat tertentu dari berbagai hal. Menurut Moore, kata “baik” tidak dapat didefinisikan, titik. Orang dapat mengerti kata

“baik” atau tidak dapat mengerti kata “baik”, tetap saja “baik” tidak akan bisa didefinisikan, bisa dirasakan. Ada banyak alasan kenapa Moore beranggapan “baik” tidak terdefinisikan.

Pertama, dikarenakan Moore beranggapan bahwa “baik” adalah sifat yang primer (simple).

(35)

Semua yang simple tidak bisa dianalisa, dan apa yang tidak bisa dianalisa sudah barang tentu tidak dapat diberikan definisi dengan tepat. Dengan kata lain, padanan kata dasar dari “baik” tidak ditemukan, maka tidak bisa direduksi lagi. “Baik” adalah “baik”, titik, habis perkara. Dari sini maka bisa disimpulkan, bahwa Moore, mengartikan kata “baik” diketahui secara intuitif, sudah bersumber pada naluri/hati seseorang, maka kebaikan adalah sifat

“non-alamiah” yang tidak berasal dari fakta, maka ia bukan persepsi.

Bisa jadi, misalnya, hal-hal yang menyenangkan adalah hal-hal yang "baik", dan kesenangan itu seharusnya menjadi dasar penilaian nilai seseorang (posisi yang disebut hedonisme).

Orang lain mungkin berpendapat bahwa hal-hal yang bermakna adalah hal-hal yang

"baik", dan karena itu masyarakat harus menyediakan sarana yang diperlukan untuk mempromosikan kebermaknaan. Inti dari kekeliruan naturalistik, seperti yang digambarkan oleh Moore, adalah bahwa, bahkan jika seseorang setuju pada suatu posisi tertentu, seseorang tidak dapat mendefinisikan ide kebaikan dengan mengacu pada sifat-sifat ini, karena itu bukanlah properti alami. Ini adalah "salah satu objek pemikiran yang tak terhitung banyaknya yang dengan sendirinya tidak mampu didefinisikan, karena mereka adalah istilah terakhir dengan mengacu pada apa pun yang mampu didefinisikan harus didefinisikan." (Principia Ethica).

Penalaran ilmiah tidak dapat membuktikan kebaikan benda atau tindakan; kebaikan hanya dapat muncul dengan sendirinya, misalnya, saat merasakan kebahagiaan atau kekaguman. Fakta bahwa wawasan etika berada di luar penalaran ilmiah juga dengan jelas diungkapkan oleh Wittgenstein (1998) dalam bahwa “tidak ada proposisi etis. Proposisi tidak dapat mengungkapkan sesuatu yang lebih tinggi.Jelas bahwa etika tidak bisa diungkapkan. Etika itu transendental. Memang ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mereka mewujudkan diri mereka sendiri."

Namun, dikotomi nilai-fakta tetap tidak perlu diperdebatkan. Dikotomi nilai dan fakta (fact- value dichotomy) telah diterima secara luas oleh para ekonom, yang memiliki konsekuensi penting bagi ekonomi sebagai ilmu sosial, karena diharapkan dapat membatasi peran ekonom sebagai ahli dalam pernyataan deskriptif. Para ekonom dapat mengklarifikasi dampak dari perubahan dalam sistem perpajakan, kebijakan moneter, atau kebijakan pasar tenaga kerja seperti upah minimum,dan lain-lain. Namun, ekonom bukanlah ahli dalam pertanyaan normatif dasar, tentang apa yang diinginkan oleh anggota masyarakat.

Pembagian kerja antara ekonom dan masyarakat umum, menurut pandangan ini, adalah bahwa masyarakat umum mengartikulasikan apa yang diinginkannya (dalam kerangka prinsip pertama) dan bahwa ekonom menggunakan kotak peralatannya untuk memikirkan apa yang harus dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

Good governance dalam konteks tersebut adalah imposisi politik hukum yang dikendalikan negara- negara industrial dan agen internasional (lembaga maupun Negara donor) dalam membentuk

Limbah cair yang berasal dari refinery ditampung di DCT (Dirty cooling tower) akan digabung dengan limbah dari Unloading pump house, dan limbah dari QC/laboratory

Pengawas dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang

Negara anggota PBB yang telah berulang kali melanggar asas – asas dan Piagam PBB dapat dikeluarkan dari keanggotaan PBB oleh Majelis Umum atas anjuran Dewan Keamanan. Presentasi by

Pemerintah Malaysia menargetkan pada akhir Rancangan Malaysia ke-10 (2015) populasi penduduknya yang sudah doktor akan mencapai angka 18.000 orang (meningkat 125%) dalam kurun

Hasil perhitungan secara serentak, menunjukkan bahwa nilai Fhitung 3,941 lebih besar dari nilai Ftable 3,251 dengan tingkat signifikansi F sebesar 0,028 yang nilainya lebih

Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Berdasarkan hasil analisis rata-rata nilai a* dan b* serta analisis secara visual terhadap sampel, pewarnaan menggunakan ekstrak kulit kayu angsana memberikan arah warna