• Tidak ada hasil yang ditemukan

Validasi Data Pengamatan Pararel : Automatic Weather Station (AWS) dan Pengamatan Manual di Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar Tahun 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Validasi Data Pengamatan Pararel : Automatic Weather Station (AWS) dan Pengamatan Manual di Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar Tahun 2019"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Buletin GAW Bariri

p – ISSN : 2721 – 7752 | e – ISSN : 2721 – 9704 Buletin GAW Bariri (BGB) Volume 2 | Nomor 2 | Desember 2021 : 79 – 87

Validasi Data Pengamatan Pararel : Automatic Weather Station (AWS) dan Pengamatan Manual di Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar Tahun 2019

Validation of Parallel Observation Data : Automatic Weather Station (AWS) and Manual Observation at the Hasanuddin Meteorology Station, Makassar in 2019

Heru Tribunowo Fitri*

1Pusat Database, BMKG, Jl. Angkasa I No.2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720

*Email: [email protected]

Naskah Masuk: 31 Agustus 2021 | Naskah Diterima: 21 Desember 2021 | Naskah Terbit: 31 Maret 2022

Abstrak. Pengamatan paralel diartikan sebagai dua pengamatan suatu parameter dalam satu periode waktu dengan instrumen yang berbeda. Pengamatan yang dilakukan hingga saat ini sebagian besarnya masih menggunakan alat – alat manual. Pada proses pengecekan kebenaran data pengamatan (validasi) seringkali ditemukan kesalahan baca (paralaks) dan data kosong akibat kerusakan alat ataupun kelalaian pengamat. Kondisi semacam ini menjadikan hambatan bagi kegiatan analisis serta prediksi cuaca dan iklim. Salah satu solusinya adalah otomatisasi pengamatan. Salah satu bagian penting dari proses transisi pengamatan atau pengukuran manual ke pengamatan otomatis tersebut adalah adanya dokumentasi dan deskripsi bias antara data pengamatan otomatis dengan data pengamatan manual. Dalam otomatisasi pengamatan, perlu dilakukan paralelisasi pengamatan pada periode tertentu. Seluruh data harus memenuhi syarat kendali mutu dengan metode yang seragam dan teruji homogenitasnya. Software R dipakai untuk melakukan analisis data validasi pengamatan paralel yang menghasilkan informasi grafis seperti bar chart, boxplot, dan scatterplot untuk dianalisis dan diambil kesimpulan seberapa representatif data AWS sebagai data otomatis terhadap data manual dari pengamatan konvensional. Sebaran data AWS dan manual menunjukkan masih adanya perbedaan. Data AWS cenderung lebih rendah dari data manual untuk semua parameter kecuali Suhu Minimum dan Curah Hujan data AW S lebih tinggi dari data manual. Selisih nilai data AWS dan manual yang masih relatif besar menggambarkan bahwa data AWS belum dapat merepresentasikan data manual sehingga otomatisasi pengamatan secara menyeluruh belum dapat dilakukan.

Kata Kunci: Validasi, Data, Pengamatan Pararel

Abstract. Parallel observations are defined as two observations of a parameter in one time period with different instruments. Most of the observations made to date are still using manual tools. In the process of checking the truth of the observation data (validation) often found reading errors (parallax) and blank data due to equipment damage or observer negligence.

Such conditions create obstacles for weather and climate analysis and prediction activities.

One of the important parts of the process of transitioning manual observations or measurements to automated observations is the documentation and description of the bias between automatic observation data and manual observation data. This is as suggested by WMO that in the automation of observations, it is necessary to parallelize observations over a certain period. All data must meet the quality control requirements with a uniform method and

(2)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

tested for homogeneity. WMO establishes clear requirements that the automation of meteorological observations requires parallel observations over a certain period of time. R software is used to analyze parallel observation validation data that produces graphical information such as bar charts, boxplots, and scatterplots to be analyzed and concluded how representative AWS data is as automatic data against manual data from conventional observations. The distribution of AWS and manual data shows that there are still differences.

AWS data tends to be lower than manual data for all parameters except Minimum Temperature and Precipitation. AWS data is higher than manual data. The difference in the value of AWS data and manuals which are still relatively large illustrates that AWS data cannot yet represent manual data so that overall automation of observations cannot be carried out.

Keywords: Validation, Data, Parallel Observation

Pendahuluan

Data meteorologi umumnya diperoleh melalui serangkaian cara dan metode pengukuran baku baik menggunakan alat pengukur maupun pengamatan manual terstandar. Seiring dengan kemajuan teknologi terjadi peralihan dari sistem manual menuju sistem otomatis. Pengamatan alat otomatis menurut World Meteorological Organisation (WMO) adalah pengamatan yang diperoleh dari peralatan yang dapat merekam dan mengirim data secara otomatis dengan menggunakan Automatic Weather Station (AWS) [1]. Sedangkan pengamatan manual adalah pengamatan pada peralatan yang data hasil pengamatannya dicatat secara manual oleh pengamat meteorologi. Salah satu bagian penting dari proses transisi pengamatan atau pengukuran manual ke pengamatan otomatis tersebut adalah adanya dokumentasi dan deskripsi bias antara data pengamatan otomatis dengan data pengamatan manual [2].

Pengamatan paralel diartikan sebagai dua pengamatan suatu parameter dalam satu periode waktu dengan instrumen yang berbeda, konvensional/manual dan otomatis. WMO menetapkan persyaratan yang jelas untuk stasiun otomatis, bahwa dalam otomatisasi pengamatan meteorologi diperlukan pengamatan paralel dalam jangka waktu tertentu. Ini dimaksudkan sebagai quality control untuk memastikan homogenitas data historis. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data pada alat otomatis dan manual bersifat homogen atau tidak. Selain itu juga untuk mengidentifikasi perbedaan yang terjadi antara data manual dan otomatis. Dengan validasi pengamatan paralel dapat diperoleh informasi suatu data untuk dapat dilakukan koreksi ataupun evaluasi sehingga data tersebut valid atau berkualitas baik [3].

Pengamatan yang dilakukan hingga saat ini sebagian besarnya masih menggunakan alat – alat manual.

Pada proses pengecekan kebenaran data pengamatan (validasi) seringkali ditemukan kesalahan baca (paralaks) dan data kosong akibat kerusakan alat ataupun kelalaian pengamat. Kondisi semacam ini menjadikan hambatan bagi kegiatan analisis dan prediksi cuaca dan iklim. Salah satu bagian penting dari proses transisi pengamatan atau pengukuran manual ke pengamatan otomatis tersebut adalah adanya dokumentasi dan deskripsi bias antara data pengamatan otomatis dengan data pengamatan manual. Hal itu sebagaimana disarankan oleh WMO bahwa dalam otomatisasi pengamatan, perlu dilakukan paralelisasi pengamatan pada periode tertentu. Seluruh data harus memenuhi syarat kendali mutu (quality control/QC) dengan metode yang seragam dan teruji homogenitasnya. Informasi dari pengukuran paralel sangat penting dalam menghasilkan dataset yang realistis dan tervalidasi untuk metode homogenisasi dan dengan demikian dapat diperkirakan kontribusi perubahan non – iklim terhadap ketidakpastian pada data. Data historis iklim yang panjang dari pengukuran instrumental biasanya dipengaruhi oleh perubahan non – iklim, misalnya, relokasi dan perubahan instrumentasi, tinggi instrumen atau proses pengumpulan data dan prosedur pengolahan data lanjutan. Ini disebut inhomogenity yang dapat mendistorsi sinyal perubahan iklim dan dapat menghambat penilaian lebih obyektif terhadap tren dan variabilitas iklim pada suatu tempat. Cara langsung untuk mempelajari

(3)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

pengaruh perubahan non – iklim pada distribusi dan bias data tersebut adalah analisis data pengukuran paralel yaitu pembandingan dua atau lebih deret waktu hasil pengamatan manual dan otomatis [2].

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan, diantaranya cacat instrumen dan metode observasi yang berbeda. Untuk itulah diperlukan validasi. Validasi diartikan sebagai suatu tindakan pembuktian dengan metode yang tepat, dalam hal ini pada suatu data, sehingga data tersebut berkualitas baik. Validasi merupakan bagian penting dari upaya untuk meningkatkan kualitas mutu suatu data [4].

Metode Penelitian

Upaya untuk mengolah data menjadi informasi biasa disebut dengan analisis data, tujuannya agar karakteristik atau sifat – sifat data tersebut dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah – masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian [5]. Dengan demikian, teknik analisis data dapat diartikan sebagai cara melaksanakan analisis terhadap data, dengan tujuan mengolah data tersebut menjadi informasi, sehingga karakteristik atau sifat – sifat datanya dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah – masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian, baik berkaitan dengan deskripsi data maupun untuk membuat induksi, atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi (parameter) berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik).

Analisis data bertujuan untuk mendeskripsikan data, biasanya dalam bentuk frekuensi, ukuran tendensi sentral maupun ukuran dispersi, sehingga dapat dipahami karakteristik datanya [6]. Selain itu juga untuk membuat induksi atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi, atau karakteristik populasi berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik). Kesimpulan yang diambil ini biasanya dibuat berdasarkan pendugaan (estimasi) dan pengujian hipotesis.

Langkah dan prosedur analisis data dapat diuraikan sebagai berikut [7] :

a) Tahap mengumpulkan data, dilakukan melalui instrumen pengumpulan data.

b) Tahap editing, yaitu memeriksa kejelasan dan kelengkapan pengisian instrumen pengumpulan data.

c) Tahap koding, yaitu proses identifikasi dan klasifikasi dari setiap pertanyaan yang terdapat dalam instrumen pengumpulan data menurut variabel – variabel yang diteliti.

d) Tahap tabulasi data, yaitu mencatat atau entri data ke dalam tabel induk penelitian.

e) Tahap pengujian kualitas data, yaitu menguji validitas dan realiabilitas instrumen pengumpulan data.

f) Tahap mendeskripsikan data, yaitu tabel frekuensi dan/atau diagram, serta berbagai ukuran tendensi sentral, maupun ukuran dispersi. tujuannya memahami karakteristik data sampel penelitian.

g) Tahap pengujian hipotesis, yaitu tahap pengujian terhadap proposisi – proposisi yang dibuat apakah proposisi tersebut ditolak atau diterima, serta bermakna atau tidak. Atas dasar pengujian hipotesis inilah selanjutnya keputusan dibuat.

BMKG mengoperasikan instrumen observasi otomatis yang biasa disebut AWS berjumlah ±360 unit dengan beberapa jenis atau sebutannya dan terintegrasi dalam sistem aplikasi database AWSCenter.

Dari 360 unit AWS tadi 59 unit diantaranya adalah AWS Digitalisasi terletak di Stasiun/UPT, salah satunya adalah Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar. Data yang digunakan adalah data synoptik dan data AWS per – jam untuk unsur Suhu Bola Kering, Suhu Maksimum, Suhu Minimum, Arah Angin, Kecepatan Angin, Tekanan Udara, dan Kelembapan Udara. Sementara data Curah Hujan menggunakan data per – tiga jam, dalam periode pengamatan Januari – Desember 2019.

Data dari peralatan otomatis dan manual dipasangkan sesuai bulan, tanggal dan jamnya masing – masing. Setiap parameter data cuaca memiliki ketersediaan data yang berbeda – beda, sehingga hasil dari proses pemasangan data (pairing data) juga menghasilkan ketersediaan data terpasang (paired) berbeda – beda pula.

(4)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

Dalam kajian ini, software R dipakai untuk melakukan analisis data validasi pengamatan paralel yang script – nya di create oleh tim Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG dan digunakan oleh Pusat Database BMKG sebagai bagian software pendukung dalam melakukan validasi data pengamatan paralel. Hasil dari running data akan ditampilkan dalam grafik batang untuk ketersediaan data dan data outlier, grafik boxplot akan menampilkan selisih nilai data AWS dan data manual, sementara grafik scatterplot akan menampilkan sebaran data AWS dan data manual. Selain itu juga dihitung nilai RMSE yang ditampilkan dalam bentuk grafik. RMSE merupakan parameter yang digunakan untuk mengevaluasi nilai hasil pengamatan terhadap nilai sebenarnya [8]. Semua informasi grafis tersebut akan dianalisis untuk dapat diambil kesimpulan seberapa representatif data AWS sebagai data otomatis terhadap data manual dari pengamatan konvensional sebagai observasi utama yang selama ini berjalan [9 – 10].

Gambar 1. Program R

Hasil dan Pembahasan

Berikut ketersediaan data manual, AWS dan yang terpasang (paired) :

Tabel 1. Ketersediaan Data Manual, AWS, dan Terpasang (Paired) dalam persen (%)

Parameter Manual AWS Paired

Suhu Udara Rata – rata 100 100 100

Suhu Maksimum 100 100 100

Suhu Minimum 97 99 96

Kelembaban Udara 100 100 100

Tekanan Udara 91 100 91

Arah Angin 100 100 100

Kecepatan Angin 100 100 100

Curah Hujan 100 100 100

Suhu Udara Rata – rata/ Bola Kering

Tabel 1 dan Gambar 2 grafik batang menunjukkan ketersediaan data suhu udara rata – rata/ bola kering secara keseluruhan untuk data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Secara umum sebaran data dengan scatterplot pada Gambar 2 menunjukkan adanya kesesuaian data. Ini terlihat dari sebaran data yang mengikuti garis diagonalnya. Penyimpangan data sangat sedikit dan selisih nilai data relatif kecil dengan data AWS cenderung lebih rendah dari data manual. Sejalan dengan penelitian menurut Aprilliana [9] bahwa antara data AWS dan data sinoptik tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi.

(5)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

Gambar 2. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data suhu udara rata – rata/ bola kering

Suhu Maksimum

Tabel 1 dan Gambar 3 grafik batang menunjukkan ketersediaan data suhu maksimum juga cukup lengkap dengan data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Grafik boxplot pada Gambar 3 selisih data suhu maksimum AWS dan manual menunjukkan selisih yang cukup besar antara – 2oC hingga – 8oC. Kondisi ini menggambarkan tidak adanya kesesuaian antara data AWS dan data manual. Sementara sebaran data dengan scatterplot menunjukkan bahwa data AWS lebih rendah dari data manual.

Gambar 3. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data suhu maksimum

Suhu Minimum

Tabel 1 dan Gambar 4 grafik batang menunjukkan ketersediaan data secara keseluruhan untuk data manual 97%, AWS 99% dan disandingkan (paired) 96%. Grafik boxplot pada Gambar 4 selisih data suhu maksimum AWS dan manual menunjukkan selisih nilai positif antara 1oC hingga 5oC, dan yang tertinggi di September dan Oktober. Ini memberi gambaran bahwa data AWS lebih tinggi dari data manual. Grafik scatterplot juga memperkuat gambaran diatas sehingga memberi kesimpulan bahwa data AWS suhu minimum belum merepresentasikan suhu minimum data manual.

Gambar 4. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data suhu minimum

(6)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

Kelembapan Udara

Tabel 1 dan Gambar 5 grafik batang menunjukkan ketersediaan data secara keseluruhan untuk data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Sebaran data pada Gambar 5 menunjukkan bahwa saat siang hari kelembaban udara data AWS lebih tinggi dari data manual, sementara di malam hari terjadi kebaikannya, kelembaban udara data manual lebih tinggi dari data AWS. Secara umum terjadi sedikit sekali penyimpangan data dengan selisih nilai data yang juga relatif kecil.

Gambar 5. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data kelembapan udara

Tekanan Udara

T Tabel 1 dan Gambar 6 grafik batang menunjukkan ketersediaan data untuk data manual 91%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 91%. Sebaran data pada Gambar 6 dengan scatterplot secara umum linier antara data AWS dan manual di garis diagonal. Artinya bahwa kondisi itu menggambarkan ada kesesuaian pola data AWS dan manual meski ada dua titik outlier di Agustus dan September.

Gambar 6. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data kelembapan udara

Arah Angin

Tabel 1 dan Gambar 7 grafik batang menunjukkan ketersediaan data untuk arah angin cukup lengkap dengan data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Boxplot Gambar 7 data arah angin AWS memiliki selisih lebih besar dari data manual, yang artinya bahwa ada perbedaan arah angin data AWS dengan data manual. Perbedaan selisih data mencapai 20o yang artinya jika data manual menunjukkan arah Timur maka data AWS menunjuk ke arah Tenggara. Sementara sebaran data menunjukkan arah angin kedua data cenderung bervariasi dengan kecepatan angin dominan 1,5 – 4,5 m/s.

(7)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

Gambar 7. Ketersediaan data, boxplot dan scatterplot sebaran data arah angin

Kecepatan Angin

Tabel 1 dan Gambar 8 grafik batang menunjukkan ketersediaan data untuk arah angin cukup lengkap dengan data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Seperti di arah angin, sebaran penyimpangan data pada Gambar 8 juga terjadi pada kecepatan angin terutama pada data manual kecepatan angin yang tinggi sementara data AWS lebih rendah sehingga memiliki selisih yang signifikan. Secara umum kecepatan angin data AWS lebih rendah dari data manual dengan dominan kecepatan >7,5 m/s.

Gambar 8. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data kecepatan angin

Curah Hujan

Tabel 1 dan Gambar 9 grafik batang menunjukkan ketersediaan data untuk arah angin cukup lengkap dengan data manual 100%, AWS 100% dan disandingkan (paired) 100%. Gambar 9 boxplot memperlihatkan perbedaan selisih nilai data yang cukup besar terjadi di Januari ±4mm, sementara untuk bulan lainnya relatif kecil. Secara umum sebaran data menunjukkan curah hujan data manual lebih rendah dari data AWS dengan dominan hujan pada rentang 0 – 10 mm untuk kedua data.

(8)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

Gambar 9. Ketersediaan data, Boxplot dan scatterplot sebaran data curah hujan

Kesimpulan

Secara keseluruhan tingkat ketersediaan data AWS dan manual terbilang cukup baik dan lengkap hanya tekanan udara data manual yang tersedia 91%. Sebaran data dan selisih nilai data AWS dan manual relatif rendah dan linier pada garis diagonal pada semua parameter. Namun penyimpangan dan selisih nilai data cukup signifikan masih terdapat pada beberapa parameter seperti Suhu Maksimum dan Suhu Minimum. Ketersediaan data yang lengkap pada data AWS dan manual serta perbedaan data yang relatif rendah bisa saja dimungkinkan bahwa pengamatan manual/ konvensional juga menggunakan data otomatis dalam hal ini AWS sehingga perlu dilakukan klarifikasi dan konfirmasi ke stasiun bersangkutan terkait metode pengamatan synoptik yang dilakukan. Masih adanya penyimpangan selisih dan sebaran data ini menggambarkan bahwa data AWS belum dapat merepresentasikan data manual.

Daftar Pustaka

[1] Pramagusta, A. P., Putra, M., Santoso, B., & Ridho, M. S. (2020, Maret). Rancang Bangun Sistem Sensor True Wind untuk Automatic Weather Station di Kapal. In Prosiding – Seminar Nasional Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati Bandung (pp. 121 – 134).

[2] Zukhrufiana, F.S., et al. (2019) Analisis Bias Data Observasi Paralel di Stasiun Klimatologi Mempawah Kalimantan Barat. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 20 No.1, 2019, Puslitbang, BMKG, Jakarta.

[3] Pusat Database, 2020, Laporan Validasi Data Pengamatan Paralel – AWS Digi 2019, BMKG, Jakarta.

[4] Ying, Wang.,Xiaoning, Liu., Xiaohui, Ju., 2006. Differences between Automatic and Manual Meteorological Observation. National Meteorological Information Center, Beijing, China.

(9)

Validasi Data Pengamatan Pararel ……….……….……... Heru Tribunowo Fitri

[5] Priyastama, R. (2020). The Book of SPSS: Pengolahan & Analisis Data. Anak Hebat Indonesia.

[6] Jogiyanto Hartono, M. (Ed.). (2018). Metoda Pengumpulan dan Teknik Analisis Data.

Penerbit Andi.

[7] Saleh, S. (2017). Analisis data kualitatif.

[8] Lareno, B. (2015). Analisa dan Perbandingan akurasi model prediksi rentet waktu arus lalu lintas jangka pendek. CSRID (Computer Science Research and Its Development Journal), 6(3), 148 – 158.

[9] Aprillina, K. et al. (2017) Kajian Awal Uji Statistik Perbandingan Suhu Udara dari Peralatan Pengamatan Otomatis dan Manual. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 18 No.1, 2017, Puslitbang, BMKG, Jakarta.

[10] Suhartono. 2008 Analisis Data Statistik Dengan R. Lab. Statistik Komputasi, ITS, Surabaya.

Gambar

Tabel 1 dan Gambar 2 grafik batang menunjukkan ketersediaan data suhu udara rata – rata/ bola kering  secara  keseluruhan  untuk  data  manual  100%,  AWS  100%  dan  disandingkan  (paired)  100%
Gambar 2. Ketersediaan data dan scatterplot sebaran data suhu udara rata – rata/ bola kering
Tabel  1  dan  Gambar  5  grafik  batang  menunjukkan  ketersediaan  data  secara  keseluruhan  untuk  data  manual  100%,  AWS  100%  dan  disandingkan  (paired)  100%
Gambar 7. Ketersediaan data, boxplot dan scatterplot sebaran data arah angin
+2

Referensi

Dokumen terkait

Yield kandungan lipid/minyak dan asam lemak hasil ekstraksi Bligh-dyer dan Bligh-dyer Modifikasi menunjukkan bahwa kedua metode ini lebih efektif digunakan untuk

Pasal 5 mengatur pemberian paspor-paspor Republik Indonesia -Asing, yaitu kepada mereka yang bukan warga-negara Indonesia dan orang-orang asing yang oleh karena keadaan, didalam

Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek.. tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang

Laporan Pencapaian Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.. Medan:

Bila akan merubah range MULTIPLIER atur dahulu masukan DC pada posisi Off, pastikan bahwa tegangan dan renge aman digunakan, jika ini tidak terpenuhi dapat merusak komponen

Umbi keladi dapat diolah menjadi produk tepung yang lebih luas penggunaannya yaitu dapat digunakan sebagai bahan baku sop, biskuit, roti, minuman beralkohol, makanan bayi dan

Penghitungan terakhir, menurut agama Zoroaster, juga hanya berupa tiga hari “penyucian” di dalam logam yang meleleh dan setelah itu roh-roh terkutuk bangkit dari neraka dan seluruh

Oleh karena itu, PT.Tjipta Rimba Djaja menetapkan kebijakan bahwa untuk lapisan permukaan kayu lapis, perusahaan lebih mengutamakan pemakaian kayu dari jenis meranti, karena kayu