• Tidak ada hasil yang ditemukan

: CMO (Chief Marketing Officer)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ": CMO (Chief Marketing Officer)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

(2)

TRANSKRIP WAWANCARA

Nama : Susanna Angraini

Jabatan : CMO (Chief Marketing Officer)

Tanggal : 18 Mei 2020

Jenis Wawancara : Via Online (Zoom) Peneliti (P) / Narasumber (N)

P Selamat siang Bu Susan perkenalkan namaku Dharma Kalyana. Aku mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara. Terima kasih sudah meluangkan waktunya buat saya bisa interview untuk skripsi saya terkait dengan perusahaan Gibby.

N Dengan senang hati Dharma.

P Sebelumnya, Bu mau tanya dong awal mulanya berada di perusahaan Gibby itu gimana ya?

N Awal mulanya kebetulan saya backgroundnya sebenernya bergerak di bidang di consumer goods. Setelah itu saya mencoba bisnis sendiri, jadi saya startup f&b restoran chain. Dari bisnis itu, saya rasa bahwa ada opportunity untuk buat app sendiri, buat startup sendiri. Sempat kepikiran tuh sama teman-teman mau startup sendiri. A long the way memang enggak gampang ya mungkin saat ini terutama di tech. Yang paling susah adalah sebenarnya karena cari fintech nya. Jadi saat itu ide saya dan partner waktu itu tuh jadi enggak sempet direalisasikan karena kendala itu. A long the way ternyata ketemu dengan teman-teman yang sekarang yaitu ada Daniel sama Yunita yang kebetulan memang udah melakukan startup ini tapi mereka harus pivot. Jadi sebelumnya udah ada Gibby yang lama tuh yang bentuknya jastip dan mereka lagi mau pivot tuh. Terus kita ketemu ngobrol-ngobrol eh kenapa nggak join aja. Jadi ide aku yang awal itu memang somehow ada irisannya dengan Gibby yang sekarang ini. Jadi oke deh kita mulai kita cobain bikin yang baru ini. Nah itu kira-kira pertengahan 2019.

P Berarti sebelum-sebelumnya itu apakah pernah menjabat sebagai marketing dulu atau memang cuma fokus di customer goods saja?

(3)

N Oke, di consumer goods itu memang pengalamanku itu memang di commercial. Jadi di sales and marketing. Mostly memang di bidang itu.

P Pertama kali masuk berarti Gibby ini belum rebranding ya bu?

N Belum-belum. Masih dengan logo lama.

P Berarti ibu terkait secara langsung mengenai rebranding Gibby ya bu?

N Iya betul.

P Lalu megapa ibu memilih untuk bisnis model social commerce? Kan banyak nih bu yang lain, mengapa pilin social commerce?

N Jadi sebenernya terus terang. Ide social commerce ini untuk Gibby yang baru ya, itu sebenernya engga purely dari founder kita Daniel dan Tata, tapi itu ada satu ide juga dari investor kita. Dia yang kasih challenge. Jadi salah satu reason kita pivot adalah menurut mereka social commerce akan menjadi the next wave nih di Indonesia. Format Gibby yang sebelumnya yang jastip, engga punya market size yang big enough atau sustainable enough untuk jalan. Dengan platform yang ada, dia kasih challenge pivot ke social commerce. Dan akhirnya mungkin kita juga belajar ya. Ya mungkin kita belajar insightnya juga dari China kan, seperti apa sih social commerce itu.

Dan ternyata setelah kita pelajari lebih dalam, memang Indonesia itu market yang pas banget untuk jadi the next country yang bisa embrassed social commerce. Mengapa? Karena nature peoplenya, dengan kebiasaan- kebiasaannya dan ga lupa sizenya Indonesia itu gede banget interm of population. Technology savey mungkin engga sesavey di China. Tapi penetrationnya udah lumayan besar. Kalau kamu liat sendiri social media, dan lain-lain itu lumayan tinggi. Kayaknya chancenya the next wave untuk social commerce, Indonesia can be the next country.

P Lalu gimana caranya ibu untuk membangun citra merek Gibby yang baru karena kan memang pivotnya ini cukup ekstrim ya. Dari jastip ke social commerce kan jauh sekali gitu, mungkin apa ada strategi gimana caranya bangun citra merek Gibby yang baru bu?

(4)

N Dari awal sebenarnya kita sempat research dulu ya. Untuk platform yang baru social commerce, target market kita siapa sih gitu kan. Nah kita came up dengan target market dulu nih yang pertama supaya kita tuh bisa sesuai dan masuk dengan target market kita lah ya. Target marketnya kita agree bahwa untuk Gibby yang baru social commerce ini kita akan menyasar young generation dari umur 18-35 untuk primary targetnya. Mostly yang effective 24-35 atau bisa dibilang first jobber, yang baru lulus kuliah, yang baru kerja, executive muda, dan lain-lain. Tapi kalau diliat sebenarnya along the way secondary targetnya itu pun banyak yang diluar group age itu.

Contoh misalnya 45 keatas itu juga ada or even younger anak SMA, SMP itu ada. Cuma jumlahnya paling banyak 80% itu adalah yang 24-35. Ada

reasonnya mengapa mereka paling banyak, mengapa? Mungkin kalau diliat dari buying power yang umur 45 keatas, mungkin buying powernya lebih besar. Tapi penetrasi technology, mau learning something yang baru dan lain-lain itu happen di age group 24-35. Nah mulai dari target market itu, terus kita mulai evaluasi kan dari Gibby ini apakah kita udah cukup sesuai dengan target market atau belum. Yang pertama kali diliat orang kan pasti logo, our page, dan itu akan.. kalau kenalan sama orang kan pertama liat dulu mukanya, nah kita musti tentuin dulu nih mukanya kayak gimana gitu kan. Setelah kita access dari yang lama, kayaknya kurang cocok dengan target market yang baru. Dan visi, nilai-nilai yang kita ingin bawa di yang baru pun sudah agak sedikit berbeda dengan yang lama. Akhirnya kita ganti, kita research juga valuenya apa aja. Kita mau valuenya to be young, creative, fleksibel, open, apply to all. Nah kalau yang lama logonya itu lebih talking about credibility karena kan jastip ya. Harus terpercaya trusted. Jadi warnanya itu lebih ke biru, hijau jadi kesannya lebih ke institusi lah. Nah untuk social commerce, kita harus friendly, open, karena talking about social community jadi kita ganti warnanya itu jadi yellow. Yellow means open, netral, terus fun, active, creative karena ini ide baru kan. Hopefully mereka juga bisa get the idea. Jadi kita ganti tuh visualnya, jadi kira-kita itu

prosesnya kita mulai dengan research dulu target market dan kita evaluasi dari yang sekarang brand asset kita ada yang perlu diganti atau engga terus kita rework termasuk communication, key visual, dan lain-lain. Terus setelah itu kita test lagi ke segmented target market kita apakah sudah sesuai atau belum dan setelah dapat konfirmasi, yaudah kita let go dengan yang baru.

Berarti ada perubahan di visual logo, dan juga bisnis modelnya gitu ya bu ya. Tetapi nama Gibby sendiri tidak di rubah mungkin ada alasan tertentu bu?

Iya, terus terang ternyata setelah kita ganti ke yang baru ternyata Gibby itu ada koneksinya walaupun ini tidak secara sengaja ya. Tapi ternyata memang ada koneksinya jadi kita engga ganti juga. Jadi sebelumnya terus terang Gibby itu engga ada meaningnya tuh untuk yang jastip. Jadi tuh lebih ke

(5)

namanya catchy as a brand. Nah untuk yang baru ini, sebenarnya ini kan content platformnya itu kan bentuknya content heavy di mana kita pengen dari konten ini, orang bisa share pengalamannya dia, experiencenya dia. Nah kita sempet nyari kan brandnya apakah masih cocok atau engga. Sebenarnya Gibby masih bisa dianggap a short term of version Gibberish. Gibberish itu basicly omongan orang lah ya. Mungkin omongan ini kalau untuk orang lain tuh mereka engga ngerti tapi untuk orang-orang yang di komunitas yang sama itu mungkin sangat berarti lah ya. Contoh deh komunitas sepeda.

Komunitas ini sedang ngomongin tentang swift. Dharma tau ga swift?

Gatau bu.

Gatau kan. Nah berarti kesannya saya ngomong Gibberish kan ngomong kosong gitu kan. Itu kalau untuk komunitas olahraga sepeda atau lari, itu lagi hot topic banget. Contoh nih, sekarang kan kita engga bisa olahraga di luar ya tapi tetap pingin tetap naik sepeda. Nah itu ada appsnya yang bisa di connect ke sepeda, jadi kamu sepedaan di rumah tapi itu ada seolah-olah kamu sepedaan di luar. Terus ada pengukurannya dan lain-lain nah itu swift.

Nah itu informasi informasi seperti itu, itu ada di grup komunitas saat ini.

Tapi nggak tersedia di tempat lain kan? Nah story kayak gini ada di Gibby platformnya. The first social commerce. Jadi dari content bisa di tag informationnya tentang Gibberish things itu which is sangat berguna lah untuk target marketnya sebenarnya ya. Plus bisa di tag itemnya jadi bisa dibeli juga dan jadi konten shopping atau content commerce.

Lalu untuk Gibby sendiri, mungkin keunggulannya dari Gibby itu apa dibanding aplikasi aplikasi lain?

Oke. Nah ini mungkin hal yang paling penting yang mungkin kita start dari awal. Kenapa sih musti ada Gibby? Dan Gibby ada disini untuk solve the problem sekarang orang-orang ingin misalnya mendapatkan suatu barang, suatu experience. Di platform yang sekarang, itu tuh journeynya tuh panjang banget. Contoh ya misalnya saya mau sesuatu deh. Biasanya saya lihat di social media misalnya bisa dari YouTube bisa dari Instagram dari Facebook itu temanku bilang oh ya beli barang ini dan lain-lain bagus banget

kegunaannya tapi saya mau beli itu susah karena dari contoh lah ya dari platform itu mau YouTube, blog lah dan segala macam saya harus pindah tuh ada ke website, ada keWhatsApp, ada ke marketplace gitu kan. Itu stepnya banyak banget sampai saya mau jadi beli itu kadang-kadang nggak jadi beli malah lupa. Nah Gibby datang dengan offer yang menyediakan kemudahan supaya prosesnya itu cepat. Dari lihat kontennya ada itemnya di situ bisa langsung diklik bisa langsung cek out. Jadi gausah pindah-pindah platform dan lain-lain. Plus pembayarannya juga di tempat yang sama, jadi aman.

(6)

Kalau untuk saat ini kekurangannya Gibby itu apa Bu? Misalnya mungkin dari programnya atau mungkin dari sistem belakangnya atau mungkin dari aplikasinya mungkin di manapun karena kan ini kan baru rebranding banget nih pasti kan masih ada perjalanan yang mungkin akan dilakukan untuk menjadi lebih baik lagi gitu.

Iya betul. Terus terang memang kita masih tetap melakukan continuous improvement ya. Ini masih panjang jalannya untuk menjadi benar-benar seperti yang kita mau. Saat ini mungkin beberapa kendala: 1 sebagai apps yang baru, pemasaran atau building awareness itu penting banget dan itu kita belum bisa kita lakukan full terutama sekarang ada PSBB juga karena ada pandemic ini banyak plan kita yang terhold juga. Jadi kita lumayan harus sedikit kreatif la untuk melakukan itu. Kedua, ada satu hal lagi additional benefit yang sangat crucial di Gibby yaitu untuk affiliated marketing . Nah ini belum 100% ada dan lengkap ataupun journeynya belum seperti yang kita mau di platform yang sekarang. Jadi itu memang kita lagi build akan kita lakukan terus-terusan. Jadi dua itu yang jadi PR kita nih sekarang.

Kalau untuk strategi marketing kan yang kita tahu banyak ya Bu. Apakah Gibby itu pernah beriklan Bu?

Ya. Oke. Ikaln mostly sekarang kita fokus di social media channel. Terus selain iklan di social media chanel di platform-platform atau channel- channel yang ada, kita juga melakukan grastood lah. Grastood ini lebih ke pendekatan ke komunitas. Supaya kita bisa nargetin target market kita secara langsung which is komunitas-komunitas itu lewat komunitas leadernya dan akuisisinya bisa lebih cepat.

Baik bu, itu tadi masalah advertisingnya. Tujuan advertising itu dibentuk apa bu? Untuk awareness kah atau untuk apa?

Oke jadi di awal sudah pasti kita untuk increase awareness ya. Karena kan kita apps yang baru launching. Sebelum kita masuk ke information feature dan lain-lain, itu kita harus increase awarenessnya dulu seperti Gibby itu apa sih? Gitu. Ke target market kita sih. Tujuannya ya untuk increase awareness.

Konten-kontennya itu seperti apa bu untuk menambah awareness? Apakah hanya informasi tentang Gibby atau mungkin tentang program-program Gibby?

Yang main communicationnya sebenarnya satu untuk increase awareness itu Gibby introduction ya. Jadi Gibby itu apa, dan lain-lain karena kebetula Gibby ini platform yang cukup baru lah di Indonesia. Berikutnya kita juga ada campaign, ada big campaign dan ada juga campaign-campaign kecil.

Nah ini yang kita masukkin juga sebagai konten dan terakhir promotion. Jadi product offers dan lain-lainnya itu ada tiga macam yang kita jalankan.

Lalu media apa saja yang digunakan untuk advertising Gibby ini?

(7)

So far, kita memang fokus semuanya di digital marketing ya saat ini. Karena kita platform berbasis aplikasi. Saat ini kita belum banyak main di non- digital. Jadi kita benar-benar fokus di social media channel saat ini. Social media channel mostly di Instagram, Facebook, Youtube. Cita-cita saya nanti masuknya ke TikTok. Tapi belum ya, karena kebetulan target market kita lumayan muda umurnya dan saat ini apps yang lagi gandrungi anak-anak muda adalah TikTok ya. Jadi kayaknya perlu ada establishment di sana juga nantinya kesana. Cuma kita lagi set groundnya dulu untuk social media channel. Kita pun ada Grastood activities yang kita mau touch langsung nih target market kita lewat community plus lewat newsletter juga. So direct marketingnya itu.

Apakah boleh tau bu untuk budgetnya advertising Gibby itu berapa?

Oke, budget berapa terus terang kita belum ada di dalam tahap yang budgeted plan. Karena kita memang lagi sekarang ke market dan lain-lain.

Jadi mungkin kita investnya masih di luar norm yang seharusnya kita

lakukan. Kita juga lagi mencoba dan learn tipe investasment apa yang efektif buat Gibby saat ini. Antara 5-15% nah kita lagi mencoba the right number untuk marketing budget.

Oke, lalu untuk sales promotionnya itu berarti pasti ada di aplikasi ya bu?

Ya betul, karena itu penting ya. Dari elemen marketing dari dulu 4P sampai sekarang 7P itu promotion tetap ada. Itu penting. Itu salah satu faktor consumer makes decision. Jadi kita bekerja sama dengan brand partner kita saat ini untuk selalu bisa memberikan best offer untuk consumer kita di Gibby. Jadi mungkin kalau bisa diliat tiap minggu atau tiap beberapa hari kita tuh ada beda-beda tuh offernya. Misalnya contoh kita sempat melakukan promosi dengan 5days croissant ya. Itu buy 6 get 6 itu cuma ada di Gibby.

Jadi hal-hal kayak gitu, kita coba adain terus di Gibby. Itu sebelumnya, nah saati ini nih kita lagi PSBB, lagi social distancing, kita melakukan hal yang baru lagi.

Berarti live shopping ini termasuk program yang baru ya?

Ya betul. Ini program yang baru yang akan kita lakukan minggu ini. Nah ini kita lagi pelajari, semoga ini bisa jadi suatu pilar strategi kita yang baru juga.

Nah untuk public relations, apakah Gibby melakukan tools public relations?

Ya, saat ini memang kita belum melakukan banyak PR. PR event dan lain- lain karena masih sangat terbatas dengan sisi komunitas dan beberapa partner, public figure lah ya. Belum semuanya sesuai dengan plan kita.

Karena kita akan siapkan untuk nanti grand launching kita.

(8)

Berarti ini masih soft launching ya bu ya? Untuk rebrandingnya?

Iya betul.

Lalu apakah Gibby sendiri melakukan personal selling atau tidak bu?

Ok personal selling bisa dibilang lebih ke approach ke communities dan brand partners ya. Jadi saat ini, di ekosistem kita, kita melihat ada dua part yang lumayan penting untuk Gibby. Yang pertama brand partners, terutama saat ini kita lagi fokus ke local brands, untuk memajukan local brands. Local brands ini to be honest mereka punya basis komunitas dan juga loyal usernya juga. Nah jadi selain ke mereka, kita juga approach ke community-

community. Mungkin bisa dibilang personal selling, tapi lewat communities.

Mengapa kita melakukan ini? Karena mungkin sedikit lebih kayak jump start ya supaya increase awareness dan increase number of usernya juga langsung bisa banyak sesuai dengan yang memang kita targetin.

Kalau misalkan berbicara tentang personal selling, apakah memang kalau ada promo-promo, apakah ada grup sendiri untuk memberikan informasi langsung gitu kepada user Gibby bu?

Jadi dari semua user yang memang sudah masuk sebagai user di aplikasi. Itu biasanya kita setiap ada information, kita blast ada beberapa cara nih. Kalau di apps sendiri kan memang bisa dari notification. Bisa ada keluar

notification. Jadi itu personal and targeted. Yang kedua ada typical line yang kita pakai yaitu newsletter. Nah newsletter ini to be honest kita bisa blast ke semua user kita, or kita mau pilih nih misalnya yang di Jakarta aja karena memang promonya promo Jakarta atau Jabodetabek atau Nasional.

Kalau untuk pemasaran digital, apa saja yang sudah pernah dilakukan sama Gibby?

Untuk pemasaran digital, so far selama ini yang kita lakukan adalah facebook dan Instagram ads. Masih fokus disitu sih saat ini.

Lalu konten-konten apa saja bu untuk pemasaran digital biasanya bu?

Ataukah memang sama dengan advertising?

Oke. Memang sebenarnya apps kita ini apps yang full of content ya. Jadi konten yang kita pakai sebenarnya untuk pemasaran digital ada beberapa macam. Yang pertama untuk increase awareness, of course kita ada konten yang menjelaskan atau introduce Gibby itu apa untuk platform itu. Dan ini kita bekerja sama juga tidak cuma kita, tapi ada brand partner juga yang bantu. Yang kedua campaign ya. Yang tadi aku bilang. Saat ini kita ada campaign helpfromhome. Nah itu ada konten-konten yang sesuai dengan itu juga yang kita pakai juga. Yang ketiga ada konten promotion offer itu dari Gibby. Sebenarnya ada juga yang keempat, yaitu konten-konten yang memang dari user generated konten yang kita naikkin. Mungkin mirip

(9)

seperti TikTok lah ya kan banyak nih konte-konten yang diciptakan oleh masing-masing user dan itu sangat menarik. User itu pun dua bisa brand partner yang memang dari brand owner atau juga dari regular user yang kasih product review dan lain-lain. I think kita juga bisa pakai.

Kalau misalnya berbicara efektivitas. Apakah memang advertising atau pemasaran digital yang dilakukan sekarang sudah cukup efektif atau belum?

To be honest belum sama sekali. Jadi kita run to grownya ini masih sangat besar, whitespacenya juga masih sangat besar. Jadi kita belum touch seluruhnya yang kita mau. Mungkin terkendala juga dengan keadaan yang sekarang ya saat ini sedang social distancing dan lain-lain. Cuma of course kita inginnya ini lebih efektif lagi dan masih bisa di amplify lebih besar lagi dengan skala yang besar.

Lalu kedepannya apakah memang akan mencoba untuk memilih media- media lain untuk beriklan?

Ya. Pastinya begitu. Jadi mungkin kita akan tetap melakukan pengembangan dalam strategi marketing, reaching more market channel. Selain itu setelah kita coba melakukan strategi marketing, kita juga akan melakukan do research dulu evaluasi, analisa apakah ini cukup efektif atau engga. Kalau memang efektif, kita akan increase skillnya jadi lebih besar lagi. Kalau memang ternyata belum sesuai dengan target kita, maka kita akan keep trying more channel.

Lalu sampai saat ini strategi-strategi apa yang sudah berjalan dam mungkin sudah dititik berhasil dari proses rebrandingnya sampai sekarang?

Mugnkin salah satu strategi yang lumayan bikin kita happy dan akan terus- terusan kita lakukan itu adalah penetrasi dengan komunitas. Jadi kita menemukan brand partner kita dengan drive community. Karena drive community ini basicly jadinya tuh benar-benar totally efektif accuisition dan juga eksekusi hingga check out. Jadi untuk drive community itu penting banget.

Apakah nanti kedepannya strategi-strategi yang belum dilakukan akan kemungkinan dilakukan bu kedepan? Mungkin untuk public relation?

Ya betul. Terus tenag saat ini especially dengan kondisi yang saat ini we don’t know what we don’t know ya. Jadi memang kita punya big plan untuk grand launch, tapi saat ini mungkin beberapa akan kita tweak sedikit supaya bisa mengikuti keadaan saat ini. Nah nantinya, full ground of marketing memang ada plannya. Semoga bisa dengan segera.

Berarti keadaan saat ini bisa menjadi salah satu ancaman dalam menjalankan planningnya?

Mungkin salah satu hambatan ya. Dan nantinya kita harus tetap evaluasi apakah keadaan market akan masih sesuai dari sebelumnya atau memang kita harus adjust strategi kita.

(10)

Bu, apakah ada strategi baru yang mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat ini bu?

Ya salah satunya yang tadi aku mention tentang live shopping. Memang live shopping ini sebenarnya ada di grand plan kita tapi bukan sekarang. Which is nantinya kita inginnya memang bisa live streaming di platform kita. Tapi karena adanya PSBB ini, terpaksa kita akan lakukan segera walaupun platform kita sebenarnya belum ready untuk itu. Jadi kita lakukan live itu di platform lain, which is itu di Instagram Live. Tapi nanti kita akan sekalian thread ini sebagai awareness juga untuk build awareness juga.

Kalau menurut pandangan ibu sendiri, inginnya Gibby ini diingat seperti apa di masyarakat Indonesia. Mungkin brand positioningnya itu seperti apa bu?

Oke. Kita sebenarnya ingin Gibby itu sebagai the first platform atau sebagai acuan bagi consumer untuk mereka melakukan atau mencari informasi atau experience yang mereka mau. Jadi the first reference untuk mereka untuk mendapatkan barang atau experience itu di Gibby.

Oke bu, terima kasih banyak untuk waktunya bu. Pertanyaannya itu saja.

Terima kasih Dharma. Sama-sama stay healthy, stay safe.

Stay healthy dan stay safe juga bu.

(11)

TRANSKRIP WAWANCARA

Nama : Daniel Wijono

Jabatan : CEO (Chief Executive Officer) Tanggal : 17 Mei 2020

Jenis Wawancara : Via Online (Telepon seluler)

Peneliti (P) / Narasumber (N)

P Selamat sore Pak perkenalkan nama saya Dharma Kalyana, saya mahasiswa universitas multimedia Nusantara terima kasih ya Pak untuk waktunya sudah diluangkan untuk interview mengenai skripsi terkait dengan PT. Gibby.

Sebelumnya boleh ceritain dulu gak pak proses awal terbentuknya gigi itu seperti apa ya?

N Oh, oke. boleh mungkin saya cerita sedikit ya. Gibby itu sebetulnya

terbentuknya itu sebenarnya di tahun 2016 jadi itu mulai pertama kali PTnya dibuat itu di 2016 sebetulnya idenya sendiri pun udah ada mungkin di tahun 2015 akhir gitu tapi kita baru jalanin di 2016. Ide awalnya sebetulnya simple itu dari saya dan partner saya itu biasanya kalau kita waktu itu masih sering traveling gitu ya kita suka dititipin sama orang tuh. Awalnya mungkin kita lihat barang-barang yang menarik mungkin di luar kota, luar negeri gitu terus tiap kali kita tawar tawaran itu selalu laku. Jadi kita pikir ini sebetulnya ada demand nih untuk titik-titik barang gitu terus kenapa coba di bisnis ini secara formal pakai aplikasi gitu. Jadi ide awalnya tuh di situ jadi kita pindahkan dari tadinya kita cuman manual lewat Whatsapp, kita mau pakai aplikasi. Pada waktu itu tuh sebetulnya bisnis atau jasa titip itu belum begitu populer pada waktu itu di tahun 2015-2016 udah ada tapi belum populer yang begitu ya. Terus akhirnya di 2016 kita formalissasikan terus kita mulai buat aplikasinya. Tapi terus terang, waktu itu saya sama partner saya tuh juga masih ada gawe-gawean yang lain gitu jadi kita engga melakukannya dengan full-time. Jadi prosesnya akhirnya cukup lama kemudian karena ini kan sesuatu yang baru, saya dan partner juga bukan dari background IT, jadi prosesnya lumayan lama karena semuanya itu kita belajar dari awal, mulai dari programmingnya, mulai dari designnya, dan lain-lain. Terus karena kita engga melakukannya dengan full-time tuh jadinya agak lebih lama di awal.

Dan appsnya udah 90% jadi, tapi hanya kita berdua saya dan partner dan

(12)

melakukannya dari rumah. Jadi kita waktu Appsnya udah jadi, karena waktu itu kita cuma bayar developer, jadi sesudahnya kita juga bingung ini gimana jalaninnya nih, gak ada tim marketing, gak ada tim sales, gak ada tim technology, dan lain-lain. Jadi waktu itu akhirnya kita mulai cari partner.

Jadi di 2017, kita mulai dapet partner satu persatu. Setiap kita dapat partner baru, kita rombak sedikit appsnya, terus rombak lagi bisnis modelnya, gitu- gitu terus deh. Sampai akhirnya, benar-benar launching itu di 2019. Wow, jadi 2018 akhirnya kita pikir, oke kita lakukan dengan full-time deh. Jadi saya dan partner semua itu nyebur dengan full-time terus 2018 itu mungkin Agustus gitu kali ya, sekitar bulan-bulan itu deh kita lakuin dengan full-time, akhirnhya di 2019 Februari, itu aplikasi Gibby yang pertama itu resmi dirilis.

Pada waktu itu Gibby sebagai aplikasi jastip atau jasa titip.

Tapi yang sekarang ini, Gibby sudah berganti ya pak? Sudah rebranding ya?

Sudah. Jadi yang kamu mungkin tahu sekarang, Gibby yang sekarang itu sebenernya udah rebranding jadi proses rebranding itu sebetulnya terjadi di mungkin sekitar bulan Agustus atau September 2019. Jadi kita tadi kalau misalnya tadi seperti yang saya bilang itu Gibby yang awal versi satunya itu kita benar formal launching di awal 2019, ini di pertengahan tahun 2019 sekitar September atau Agustus ini di pertengahan tahun 2019, September sekitar Agustus-September itu kita rebranding diganti menjadi aplikasi Gibby yang social commerce jadi bukan lagi menjadi aplikasi yang jasa titip.

Tujuannya Gibby melakukan rebranding itu apa Pak?

Oke jadi sebetulnya waktu kita launching Gibby yang aplikasi jastip itu memang kita ada bisnisnya gitu ya tapi ternyata kendala yang ada itu juga cukup besar sehingga kita juga akhirnya memutuskan untuk mengganti bisnis model. Mengapa? Karena bisnia jastip itu terus terang agak susah di formalisasikan itu karena selalu ada pertanyaan mengenai Bea cukai nya tuh gimana gitu karena memasukkan barang atau barang-barang titipan dari luar negeri kalau yang dari luar kota itu nggak masalah. Kalau yang dari luar negeri itu peraturannya kan lumayan ketat dan udah gitu ya kita agak susah nya jadi user-user kita itu banyak juga yang mungkin tidak mau terlalu ketahuan gitu ya. Karena mereka merasa ini sebetulnya bisnis mereka jasa titip membelikan dari luar terus ambil fee tapi mungkin dianggapnya di sini jadinya harus bisa bayar Bea cukai yang cukup mahal. Nah itu jadinya akhirnya kita merasa bahwa mungkin bisnis jasa titip itu akan selalu ada demandnya selalu ada, tapi akan susah di formalisasikan. Jadi, kita juga untuk bikin apps untuk apa segala tuh orang akan enggan memakai karena itu tadi takut isu bea cukai dan lain-lain itu. Mungkin kita anggap untuk mengscale-up bisnis itu akan lebih susah.

(13)

Lalu kenapa memilih social commerce pak? Rebrandingnya dari jastip ke social commerce kan itu kan terlihatnya cukup berbeda ya. Jadi kenapa langsung meloncat nya ke social commerce pak?

Sebetulnya secara engine belakangnya itu sebetulnya nggak terlalu banyak berubah karena kita sebenernya waktu jastip pun sudah ada commercenya kan udah ada jual beli nya gitu kan. Cuma bedanya jual belinya dipakai dengan sistem seperti PO gitu ya. Kalau yang social commerce itu

sebetulnya kita melihat trend pada waktu itu. Karena trend social commerce yang terbesar terjadi di Cina dan itu sedang booming sekali. Karena gimana pun juga kita sadar bahwa social activity yang terjadi di sosial media seperti WhatsApp, Instagram dan lain-lain itu dengan e-commerce itu eventually akan bergabung akan tergabung menjadi satu. Karena itu yang sudah terjadi di China di mana aplikasi Wechat dan lain-lain itu udah isinya semua udah bisa beli barang dan lain-lain itu udah integrated dengan bagus banget gitu.

Nah waktu di Indonesia dan yang di negara-negara lain itu memang belum kejadian mungkin Instagram dan Facebook itu sudah mulai mencoba tapi memang belum ada bahkan pemain besar seperti Tokopedia dan lain-lainnya ternyata belum ada yang bisa mengintegrasikan dengan sempurna jadi kita merasa itu mungkin ada peluang di situ dengan kita juga tidak perlu merubah engine aplikasi kita dengan secara masif gitu. Jadi akhirnya itu yang kita lakukan kita rebranding menjadi social commerce dan kita mencoba mengambil yang aspek sosial nya di dalam aplikasi kita itu.

Kalau yang saya lihat kan berarti kan perubahannya ada bisnis model juga ada tapi engine ya nggak terlalu berubah tetapi nama Gibby sendiri itu nggak dirubah Pak saat rebranding mungkinkah ada alasan tertentu pak?

Ya jadi nama Gibbynya sendiri itu kita ga rubah. Karena beberapa hal sebetulnya. Jadi walaupun secara logo dan lain-lain itu berubah, tapi pada waktu itu karena kita juga satu kita suka dengan namanya kedua itu juga kan PTnya apa segala tuh sudah terbentuk gitu kan sudah ada shareholdernya, ada partnernya, dan lain-lain. Jadi untuk merubah itu segala macam itu ada biaya dan membutuhkan waktu yang cukup lama jadi karena kita waktu itu juga baru launching dan belum begitu lama jadi akhirnya kita memutuskan kita nggak usah ganti deh, kita go ahead same name just rebranding dengan bisnis model baru dengan logo baru dengan warna dan lain-lainnya semua baru biar lebih muda gitu lah.

Lalu gimana pak buat tanggapan dari customer lama mungkin melihat bisnis model Gibby yang baru? Apakah mungkin ada tanggapan dari customer lama gitu Pak?

Ya terus terang gini, sebetulnya secara target market itu cukup beda ya, karena yang lama itu kan target market kita lebih spesifik para jastiper gitu atau orang yang mau titip beli gitu. Waktu di awal terus terang itu agak terjadi kebingungan. Customer yang lama itu coba aplikasi baru aplikasi

(14)

baru nya cukup menarik tapi mungkin tidak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan gitu kalau untuk jastip gitu. tapi lama-lama ya kita memang sudah menargetkan target market yang berbeda jadi nggak masalah sih.

Kalau brand positioning GB sendiri Pak boleh diceritain nggak mau dikenal sebagai apa sih GB di mata masyarakat Indonesia khususnya?

Oke. Sebetulnya kita sekarang positioningnya itu sebagai social commerce company. Memang ini perusahaan startup gitu jadi bisnisnya juga

perusahaan berbasis teknologi, jadi semuanya itu serba aplikasi. Kita tidak bisa bertransaksi menggunakan website jadi semuanya harus mengenai melalui HP atau mobile. Terus kalau positioning-nya sendiri untuk brandnya itu memang kita tidak mau bersaing head to head social media aplikasi yang besar seperti Facebook atau Instagram dan lain-lain dan juga kita nggak mau bersaing head to head untuk yang di e-commernya dengan misalnya

Tokopedia, Shopee dan yang lain-lain. Jadi memang kita mencari market kita sendiri itu di mana demandnya yang kita rasa memang ada dan kita bisa penuhin tanpa harus misalnya burn money a lot just to get promotion seperti waktu di awal Tokopedia dan shopee dan lain-lain itu.

Saat rebranding itu mungkin ada kendala atau ada masalah gitu Pak boleh diceritain?

Waktu rebranding di awal itu lumayan susah terus terang. Karena ya memang kita punya terdapat beberapa tuh punya pendapat yang berbeda bahkan mulai dari awal dari bisnis model, dari logo, dari warna, dari apa gitu tapi cukup menarik artinya mungkin pandangan teman-teman pun yang lebih muda pun juga mungkin berbeda dengan pandangan temen-temen yang lebih senior gitu ya. Jadi tapi akhirnya kita semua setuju dan kita cukup happy sih dengan yang sekarang.

Lalu pandangan bapak secara pribadi mengenai Gibby yang baru ini seperti apa Pak?

Menurut saya Gibby yang baru itu sebetulnya sangat menarik gitu ya.

Positioning-nya juga bisa cukup unik gitu. Jadi memang kalau orang bisa lihatnya oh ini jadi bisa seperti sosial media ya? bisa posting konten ya? Gitu misalnya. Yes betul. Oh tapi bisa langsung beli barang juga ya? gitu seperti e-commerce? Ya betul. Tapi itu kan sebetulnya hanya fitur gitu ya. Tapi sebetulnya positioning dari pada brandnya sendiri atau apanya sendiri tuh sebetulnya harus kita yang drive itu sendiri. Misalnya kalau di Gibby itu sebenarnya kita positioningnya adalah mematchingkan antara brand-brand terutama brand brand lokal gitu terus juga yang dibantu dengan para influencer atau KOL (Key Opinion Leader) atau yang kita sebutnya gibster gitu. nah jadi mereka yang membantu mempromosikan barang-barang dari band-band lokal sebut dan juga ada 1 aspek lagi yang cukup menarik dan ini memang tidak semua aplikasi ada yaitu dengan afiliasi komisi atau affiliated marketing nya itu bahwa yang share itu bisa mendapatkan komisi. Jadi itu

(15)

kita harapkan bisa menjadi satu insentif untuk orang mau men-share kepada social network mereka. Itu balik lagi ke core bisnis model yaitu sosial commerce yaitu commerce yang sebetulnya timbul karena social network nya itu ya.

Apakah strategi Gaby kedepannya untuk mencapai tujuan utama tadi Pak Kalau saat ini sebetulnya seperti yang saya bilang itu strategi kita itu adalah mencoba membantu brand brand lokal dan ini kebetulan memang timing-nya juga bersamaan dengan pandemic ini gitu ya. Banyak brand brand lokal yang juga tiba-tiba semua jadi aktif berjualan itu dan mereka pun jadi lebih

terbuka menggunakan segala macam channel baru gitu ya jadi cukup

menarik dan kita juga tujuan kita sebenarnya kan memang membantu brand- brand lokal ini yang menurut kita juga udah cukup banyak dan cukup bagus bagus untuk mereka bisa berjualan dengan atau bisa maju mempromosikan produk-produk mereka dengan cara yang baru yang lebih unik dan mungkin itu juga kita yang kita coba bantu dengan matching-in dengan tadi para gibster tadi.

oke deh kalau satu lagi pak terakhir kalau misalkan ke depan apakah ada terpikir akan membuat ekstensi merk gitu pa membuat produk baru atau mungkin membuat merek baru gitu anak perusahaan atau gimana?

Sebetulnya kemarin ini, itu secara tidak sengaja tadinya itu sudah terjadi.

Jadi karang selain itu kita punya yang namanya Gibbyfresh. Jadi Gibbyfresh itu menawarkan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari sayur-mayur, buah- buahan, bumbu, sembako dan lain-lain. Itu yang dilakukan di dalam aplikasi Gibby. Jadi itu sebabnya kalau mau dibilang sebagai anak perusahaan mungkin bisa juga. Jadi Gibbyfresh itu sekarang sudah berjalan selama 1 bulan ini kebetulan dan sudah cukup banyak juga transaksinya. Tapi emang karena kita terhitung masih baru, jadi masih secara volume dan lain-lainnya masih jauh lebih kecil dibandingkan yang kompetitor yang sudah ada seperti misalnya happfresh dan lain. Tapi tidak menutup kemungkinan jadi kalau kamu tanya memang bisa saja terjadi ada branding baru di branding baru yang selama masih mendukung dan satu sinergi dengan brand utamanya oke deh Pak itu aja sih pertanyaan dari saya oke ya terima kasih banyak ya pak buat waktunya.

Baik sama-sama. Sukses untuk skripsinya.

(16)

TRANSKRIP WAWANCARA

Nama : Christina Harjanto

Jabatan : CBO (Chief Business Officer) Tanggal : 17 Mei 2020

Jenis Wawancara : Via Online (Telepon seluler)

Peneliti (P) / Narasumber (N)

P Halo selamat siang Bu, perkenalkan nama saya Dharma Kalyana, saya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Terima kasih bu buat waktunya sudah disediakan untuk wawancara mengenai skripsi saya terkait dengan perusahaan Gibby.

N Oke.

P Sebelumnya, Bu mau tanya dong awal mulanya berada di perusahaan Gibby?

N Oke jadi saya join di Gibby itu tahun 2018 akhir. Itu bulan November.

Kebetulan itu foundernya atas nama ibu Yunita itu teman saya. Dia waktu itu datang ke saya came up with the idea bahwa dia mau bikin aplikasi jastip.

Kebetulan dia juga tau bahwa saya sudah berbisnis sendiri. Salah satu bisnis yang saya jalanin itu berkaitan dengan jastip. Akhirnya diajakin join untuk gabung ke Gibby karena waktu itu team Gibby masih belum ada teamnya sama sekali baru foundernya. Foundernya Yunita sama suaminya Daniel.

Waktu itu aku lihat bisnis plannya segala macam, terlihatnya menarik sekali karena kebetulan memang solusi yang ditawarkan oleh aplikasi itu sendiri adalah gimana caranya Gibby itu bisa solve problem dari para jastip. Itu konsep awalnya. Setelah itu aku join, kita berusaha untuk kembangin aplikasi jastip itu. Awal itu aku masuk bulan November, teamnya baru bertiga abis itu nambah tim tech akhirnya. Team tech untuk ngebuild up aplikasinya. Kurang lebih sih perjalanannya kurang lebih cuma gitu aja sih untuk join awal bisnisnya seperti itu.

Berarti sebelumnya belum pernah menjabat sebagai bisnis officer atau mungkin udah pernah menjabat sebelumnya?

(17)

Kalau saya itu dulu sebelum berbisnis sendiri, aku kerja di bank di BCA itu kurang lebih 7 tahun dengan berbagai macam posisi sih kebetulan. Sebagai Account Officer, kalau Account Officer itu lebih menghandle kredit. Jadi tuh kurang lebih tuh orang banyak kayak konsultasi bisnis, konsultasi keuangan, udah gitu untuk mengembangkan bisnisnya gimana sih, terus sama intinya pemberian modal kerja. Itu yang sebagai Account Officer. And then, abis itu aku masuk ke bisnis credit card yang kartu kredit yang di Bca itu untuk business acquiring. Jadi business acquiring itu lebih sifatnya kalau aku merekrut kebetulan dapatnya cabang BCA sama integrated sama company contohnya Honda, Carefour yang waktu itu kita keluarin kartu kalau pernah ingat kartu kredit BCA itu pernah kerja sama dengan Carefour yang

sekarang sama Mega. Dulu awalnya itu di BCA dulu, bagian aku tuh yang mendevelop produknya sampai bisnisnya seperti apa sampai penjualannya.

Jadi A-Znya lah, di BCA tuh kalau sifat kerjanya seperti itu. Dari develop product, kita design juga masalah bisnis plannya, profit and lossnya,

impelemen ke lapangannya, sampai previewnya di satu tim. Itu aku 7 tahun begitu.

Kalau berbicara tentang rebranding nih bu, Gibby sudah melakukan rebranding dari jastip ke social commerce. Bicara tentang target market, apakah berubah atau tidak bu?

Pasti. Target marketnya pasti jadi berubah banget. Karena bentuk bisnisnya berubah, pasti yang paling dasar secara bisnis target market itu berubah banget. Karena dulu itu kalau jastip kan yang menjalankan itu kebanyakan mereka around umurnya itu 28-40 di mana mereka kebanyakan pekerjaannya itu ibu rumah tangga atau yang pernah kerja sehabis itu mereka punya

experience kerja kalau yang jastip. Jadi lebih mature untuk target marketnya jastip. Kalau social commerce kan totally different kan, kita mengarahnya ke anak muda.

Jadi yang berubah apa saja bu? Selain target market?

Banyak yang berubah. Jadi contohnya kalau secara bisnisnya sendiri kalau waktu jastip kita secara platform itu kita bisa langsung monetize. Mengapa?

Karena basicly kita salah satunya mengapa kita masuk ke jastip, ujung- ujungnya semua bisnis kan kita mau cari profit. Kalau jastip itu lebih gampang, mengapa? Karena kita ngebuild aplikasi untuk jastiper dan

jastipernya sendiri jadi willing untuk bayar mereka memakai sistemnya kita.

Segampang itu deh gitu waktu jastip. Tetapi beda ceritanya nih kalau

misalnya social commerce. Kalau social commerce berarti diawal kita sudah harus tau bahwa oh ini kita akan burn money secara bisnisnya. Mengapa?

Karena basicly kita akan ngebuild di mana kan ada social partnya. Social partnya ini kan adalah gimana ceritanya aplikasi Gibby itu banyak bisa dishare, dimanfaatkan orang untuk melakukan review segala macam. Nah itu

(18)

social partnya itu kita tidak akan bisa making money. Di mana pasti orang akan menggunakan dan melihat dengan aplikasi yang lain adalah di mana mereka bisa share itu semuanya sifatnya free platform gitu kan. Kedua commercenya sendiri kebetulan di Indonesia kalau yang commercenya common itu juga sama. Kita belum bisa monetize. Mengapa? Karena basicly biaya untuk kita provide apps kita untuk commerce sama yang mereka pakai itu sebenarnya ada biayanya yang sebenarnya kita secara aplikasi absorb lah.

Contohnya biaya payment segala macam kita kan ada kena charge kan.

Basicly, itu secara aplikasi jadi untuk ujung-ujungnya making money, monetize appsnya itu sendiri udah jadi beda banget. Di mana waktu itu kalau misalnya kita yang di jastip itu okay base by transaction kita bisa monetize itu udah clear. Tapi kalau di social commerce ini, kita musti provent secara usernya itu banyak dulu, mereka willing untuk share, bentuk bisnisnya sendiri aja di Indonesia tuh masih baru. Jadi kita masih musti provent social commerce itu working lah istilahnya begitu. Secara bisnisnya itu sendiri ini di Indonesia belum banyak aplikasi yang bisa membuktikan bahwa social commerce product fitnya itu pas di Indonesia atau engga. Jadi kita masih harus membuktikan itu dulu, berarti dengan pembuktian itu, kita harus burn money dulu.

Terus sejauh ini, bagaimana pendapat ibu dengan Gibby yang baru?

The new Gibby. Sebenarnya marketnya jauh lebih besar dibandingin aplikasi yang jastip. Karena kenapa? Satu aplikasi jastip itu kita sangat-sangat tau target market kita siapa dan kebetulan untuk mengaplikasikan mereka ke dalam app itu juga setelah kita coba ternyata engga semudah itu. Mengapa?

Karena basicly ketika mereka masuk ke dalam aplikasi, si jastiper ini tidak mau open untuk komisi lah ya. Intinya mereka itu sangking nishnya, mereka tidak mau share oh saya punya grup jastip saya sendiri. Kalau saya masukkin ke aplikasi, grup jastipnya saya bisa belanja di grup jastip lain dong. Jadi mereka mainnya udah main per komunitas kalau jastiper itu. Jadi kita itu untuk narik mereka untuk masuk dengan membawa teamnya mereka sendiri cukup kesulitan. Mereka inginnya adalah dengan aplikasi Gibby jastip mereka mendapatkan market baru. Jadi waktu itu challengingnya cukup besar banget untuk masukkin usernya. Tapi kalau aplikasi Gibby yang baru, sebenarnya marketnya besar banget, dan marketnya ini belum ada yang bisa pecahin dalam satu aplikasi. Belum bisa di provent oh ini berhasil gitu. Nah itu sebenarnya challenge buat Gibby tapi sebenarnya market itu sudah terbuild cuma belum terbiasa untuk masuk ke aplikasi yang social commerce. Mereka baru terbiasa di aplikasi-aplikasi atau platform yang bersifat social dan mereka membuat aplikasi social itu menjadi commerce dengan ada sedikit commercenya. Cuma basicly, marketnya aplikasi Gibby itu sendiri sangat besar sekali sih sebenarnya. Jadi usernya itu, karena gini,

(19)

mungkin aku ceritaiin latar belakangnya dulu kali ya. Supaya agak enak nyambungnya. Jadi gini, aplikasi commerce itu kenapa sih kita Gibby bikin?

Mengapa awalnya kita pindah dari jastip ke social commerce ini sendiri.

Karena jadi gini, jadi pas waktu itu kita ngeliat nih waktu pas kita jastip, kita itu sudah banyak fitur-fitur yang sebenarnya itu kita udah mengarah ke social commerce secara tidak sadar. Jadi waktu itu kita sudah preparing kayak live streaming karena memang kebetulan waktu itu jastip pas di toko biasanya mereka mau di Jepang, New York, segala macam. Dibayangin aja cuma eh nitip product A, sebenarnya yang kita incar itu gimana bisa rasaiin live streaming langsung di Ginca misalnya. Nah itu lah experience yang mau kita build di Gibby versi pertama. Abis itu secara tidak sadar kita tuh udah ngebuild memang si platform ini tuh benar-benar kayak social commerce.

Tapi pas kita bicara dengan investor, mereka coba menantang kita dalam artian oke coba berpikir lebih luas. Kalau misalnya jastip, marketnya kan cuma itu. Gamau nih gedein aja? Karena semua orang cara jualannya beda- beda tapi tidak selalu dibilang jastip. Kenapa ga diopen for all market? Nah kita berpikir iya juga. Karena kebetulan yang kita lihat nih di negara-negara yang penduduknya cukup banyak, misalnya di China, di India, segala macam, social commerce itu jalan banget. Kenapa sih jalan banget? Karena gini, sekarang itu kalau dilihat marketnya itu sudah berubah banget. Kalau misalnya dibilang commerce yang sifatnya upload barang, itu sudah menjadi old type commerce. Jadi orang tuh mencari gimana ceritanya penjualannya itu lebih fun, lebih addicted, lebih impulsive juga. Nah itu bisa disajikannya lewat social commerce sebenarnya. Kenapa jadi kita membuat channel penjualan dengan fun segala macam di mana mereka bisa lihat review dan langsung buy. Itulah habbit yang sudah tercipta cukup lama sebenarnya di China, di India itu sebenarnya cukup lama. Di Indonesia sebenarnya habbit itu sudah terbentuk, tapi mereka masih pakai platform yang berbeda-beda ada yang pakai Instagram pindah ke commerce, dari Youtube pindah ke commerce. Jadi sebenarnya ujung-ujungnya mereka ini sekarang semua orang suka melakukan review memang habbitnya negara kita suka melakukan review, suka melakukan sharing gitu ya dan mereka making money dari situ. Dari mereka cuma ngeshare, mereka making money. Nah jadinya kenapa kita pindah social commerce dan kita yakin social commerce itu bisa besar karena kita sudah research dulu di negara lain seperti apa habbitnya. Terus kita juga sudah memperhatikan marketnya di Indonesia itu sudah berubah dan belum ada platformnya juga. Karena intinya basicly gini sih, aplikasi yang berhasil tuh kadang-kadang bukannya terlalu complicated untuk masalah konsep gitu, tapi dalam arti adalah bagaimana si aplikasi itu bisa memecahkan suatu masalah dan terbukti dengan cara yang lebih simpel.

Jadi contohnya kayak si Canva. Canva itu aplikasi yang sekarang sangat berhasil banget. Mengapa? Karena basicly, dia mensimpelkan proses yang

(20)

dari orang gabisa adobe segala macem, pusing, lama, buttonnya ada di mana- mana menjadi satu aplikasi yang simpel. Sama kayak Gojek gitu.

Gimana caranya kita mensimpelkan cara pesan ojek, trusted, gausah pakai acara nego segala macam, dengan gampang kita bisa dapatin tarif di satu aplikasi. Nah itu sebenarnya Gibby mau kasih. Jadi kita pengen benar-benar ingin memecahkan masalah dengan solusi yang simpel banget. Gimana caranya kalian yang jualan di Instagram, Youtube, dan tidak terjadi penjualan disitu, langsung aja masuk ke aplikasi yang sifatnya sudah menggabungkan. Kalian bisa sharing, kalian juga bisa langsung jualan barangnya. Dan along the way, yang sekarang Gibby baru ini adalah yang affiliated marketing . Jadi intinya dari Gibby itu akan ada di affiliated marketing . Intinya kita mau pecahin apa sih? Sebenarnya gini, semua orang bisa bisnis, semua orang bisa buka usaha, tapi bukan kayak dulu lagi yang mereka itu harus berpikir gw mau mulai usaha berarti harus punya modal, gw mau mulai usaha berarti gw harus punya barang. Nah pemikiran itu sudah ketinggalan zaman lah. Gibby yang baru dengan affiliated marketing sebenarnya itu adalah market yang sebenarnya demandnya tinggi. Karena sekarang semua orang pengen bisnis gimana caranya bisa cepat, gw mau mulai anytime tanpa modal. Nah dengan affiliated marketing , gimana yang ini juga belum bisa orang di Indonesia belum terbiasa. Dengan affiliated marketing , mereka benar-benar tidak ada barang, mereka benar-benar cuma share aja mereka dapat komisi, ketiga barangnya original dan langsung dari brand. Bedanya Gibby dengan aplikasi yang lain apa sih? Kita barangnya benar-benar dari brand bukan dari seller. Jadi tidak melewatkan beberapa tahap distribusi yang makin lama harganya makin mahal tuh. Tapi kita langsung ke brand di mana stocknya akan selalu ada dan barangnya selalu original. Karena untuk customer satisfaction intinya itu barangnya original.

Gimana di online shop sekarang banyak banget barang-barang yang kita belum tahu itu asli atau engga. Intinya kita mau menyelesaikan masalah itu.

Kalian di Gibby adalah sesimpel kalian suka mereview, men-share, mau berbisnis, tapi tidak punya barang, lu bisa mulai di Gibby. Memang intinya Gibby itu di afilliated marketing. Cuma seneng bikin konten, ngereview, segala macam, why not making money?

Bisa di Gibby juga. Jadi intinya marketnya itu besar banget makanya. Jadi karena semua orang itu bisa making money di Gibby. Intinya sebenarnya itu sih. Kita inginnya semua orang dengan gampang membuat bisnis di Gibby.

Apakah ada rencana strategi ekstensi merek kedepan bu untuk membuat produk lain atas nama Gibby?

Sebenarnya untuk ekstensi merek, itu kita pasti akan jalanin. Yang pasti di Gibby itu tidak akan hanya platform only karena kita punya beberapa strategi di mana kita akan build anak perusahaan atau bukan anak

perusahaan. Intinya kita dalam satu chain kita bisa provide everything. Pasti ada karena kita sudah kepikiran juga sih.

(21)

Oke bu terima kasih untuk waktunya.

Oke sama-sama.

(22)

TRANSKRIP WAWANCARA

Nama : Dr. Lasmery RM Girsang, S.IP., M.Si.

Jabatan : Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UBM Tanggal : 1 Juni 2020

Jenis Wawancara : Via Online (Whatsapp Video Call)

Peneliti (P) / Narasumber (N) P Selamat sore bu Lasmery.

N Iya selamat sore.

P Perkenalkan nama saya Dharma Kalyana. Saya mahasiswa ilmu komunikasi 2016 dari Universitas Multimedia Nusantara.

N Oke, salam kenal. Oke Dharma apa yang saya bisa bantu nih?

P Oke bu, saya mau tanya bagaimana tanggapan ibu karena ibu sudah menekuni bidang ilmu komunikasi. Bagaimana tanggapan ibu mengenai strategi Integrated Marketing Communication di sebuah perusahaan?

N Oke. Integrated Marketing Communication sekarang sudah menjadi sarana yang wajib ditengah maraknya e-commerce atau marketing digital. Jadi, mau tidak mau semua sudah terintegrasi. Tidak bisa lagi satu tool, satu tool, satu tool dipakai untuk promosi atau menjual produk. Sekarang perusahaan harus berpikir semua tool yang ada itu bisa bersinergi. Makanya menjadi IMC atau Integrated Marketing Communication. Itu sih poinnya.

P Sebelumnya saya ceritakan dulu penelitian saya tentang strategi IMC pasca rebranding di perusahaan Gibby. Gibby adalah salah satu perusahaan

berbasis aplikasi yang dulunya hanya untuk jasa titip. Tapi pada pertengahan 2019 mereka melakukan rebranding dan saya ingin meneliti IMC pasca rebrandingnya. Hasil penelitian saya, perusahaan Gibby untuk tool advertising mereka menggunakan sarana Facebook dan Instagram ads bu.

Mereka memiliki 3 jenis konten tentang introduction about Gibby, sales promotion, dan juga campaign yang sudah dijalankan maupun akan dijalankan. Apakah ini sudah cukup ideal menurut ibu?

(23)

N Oke. Saya sambil mempelajari situsnya. Saya melihat Gibby ada di “swa”

yang tentang bisnis ya. Itu yang saya lihat yang paling menarik istilahnya itu jastiper ya untuk orang yang melakukan jasa titip. Konsumennya juga dinamakan dengan gibster. Nah saya rasa, kalau mereka sampai menamakan konsumen mereka sudah berhasil melakukan rebranding. Walaupun 2016 baru mengembangkan aplikasinya, dan di 2019 sudah melakukan

rebranding, ketika mereka menggunakan sampai menamai konsumen atau calon konsumen mereka dengan istilah tertentu nah itu sudah masuk branding yang mereka coba tawarkan ke konsumen mereka. Sebentar saya sambil mencari nama yang tadi itu. Nah itu satu. Rebrandingnya dapat. Nah kemudian ketika mereka melakukan kampanye melalui media sosial dengan personal shopper atau gibster kemudian para jastiper nah itu berarti branding yang sudah dapat dulu di benak konsumen. Itu pasti diupayakan dengan campaign-campaign tertentu. Dan satu lagi sales promotion sudah dapat banget dengan mereka menggunakan istilah personal shopper yang disebut gibster. Mereka sudah menancapkan hal-hal yang dominan yang akan mereka kerjakan dahulu dan semoga ini bisa terintegrasi.

P Kalau untuk sales promotionnya saya mau tanggapan ibu. Dari hasil wawancara, pihak Gibby memberitahukan saya bahwa Gibby akan terus berusaha untuk promosi setiap dua hari atau setiap seminggu di aplikasinya.

Mereka itu kerja sama dengan sebuah brand supaya produknya ini yang dijual diskon ini hanya dijual di aplikasi Gibby. Menurut ibu, apakah promo ini sudah cukup ideal atau belum bu?

N Nah sebagai startup harus maintain serutin mungkin. Jangan sampai

kehilangan momen. Oleh karena itu, promosi dilakukan seintensif mungkin itu menurut saya sangat baik. Supaya tadi dengan banyaknya info yang sudah seliwir kemana-kemana semua aplikasi-aplikasi. Tadi yang seperti saya singgung di chat, bahwa ini bisa dikatakan sebagai inisiator di mana satu aplikasi menyediakan tidak hanya produk tetapi kemudahan untuk melakukan pembelian sebagai macamnya di satu aplikasi nah itu bagus sekali. Jadi promosinya harus memang gencar dilakukan supaya tidak kehilangan momen sebagai ciri khas dari cara promosi perusahaan tersebut.

P Baik bu. Berlanjut ke tool personal selling. Hasil wawancara saya, Gibby ini berusaha untuk melakukan penetrasi ke komunitas-komunitas yang ada untuk mendapatkan lebih banyak awareness dan user. Apakah strategi personal selling ini ideal bu?

N Hmm bisa saja. Personal selling memang kita maknai sebagai upaya yang dilakukan oleh person to person. Namanya juga personal, pembelian langsung. Pembelian langsung ini kan dulu konsep lamanya door to door.

Sekarang dengan menggunakan gadget, dengan menggunakan Internet, tentunya bisa dilakukan jauh lebih mudah untuk bisa menjangkau segmen ataupun konsumen atau lainnya secara persuasif. Memang harus ada

(24)

kelihatan soft sellingnya juga. Itu membantu ketika personal selling gencar dilakukan. Nah karena kita orang komunikasi kan kita tidak hanya sekedar melihat sisi pemasaran. Karena Marketing Communication kan lebih kepada perencanaan jangka panjang dan bagaimana cara menjual produk juga dilengkapi dengan soft sellingnya. Disini saya rasa kelebihan yang membedakan kita orang komunikasi dengan pemasaran murni. Semoga dengan personal selling yang dilakukan itu bisa diback up dengan promosi yang baik sehingga brandingnya sudah tertancap di benak konsumen. Nah hingga bagiamana perusahaan ini bisa melakukannya secara kontekstual saja.

P Oke bu. Nah dari yang tadi bu sekarang saya ingin berlanjut ke tool public relations bu. Hasil wawancara saya, Gibby mengatakan bahwa mereka belum bisa menemukan sosok yang ideal untuk menjadi public relations Gibby bu. Saya mau bertanya kepada ibu, bagaimana tanggapan ibu apakah ketika satu tools tidak dijalankan apakah akan berpengaruh banyak atau tidak bu? Mungkin pertimbangannya Gibby ini masuk baru rebranding dan startup baru di Indonesia yang mungkin masih mengesampingkan tools public relation.

N Nah saya kok setuju dengan itu ya. Karena ini adalah perusahaan startup murni bisnis, bagaimana sepertinya public relation belum terlalu bermain disini karena mereka masih menancapkan pangsa pasarnya dulu. Ketika mereka sudah mendapatkan branding, mereka bisa maintain promosinya itu sudah bagus. Sekarang tinggal bagaimana public relation bisa dilibatkan atau tidak. Saya rasa public relations secara murni seperti perusahaan mungkin tidak terlalu kontekstual dan tidak terlalu tepat. Mengapa tidak

menggunakan Marketing Communication saja? Jad memang ini adalah pilihan dari perusahaan. Apabila perusahaan itu masih dalam tahap baru dan masih berkembang mungkin mereka lebih banyak menargetkan pada

penjualan. Jadi tidak heran ketika public relation belum terlalu bermain. Lain halnya ketika perusahaan membutuhkan penanganan reputasi atau

penanganan brand image kedepannya bagaimana seperti Unilever. Seperti yang kita lihat dia memiliki banyak lini produk dan tidak mungkin

perusahaan sebesar itu dan se-establish begitu lama tidak mungkin tidak memiliki public relations. Nah jadi memang perlu kita lihat konteks core business, produk, atau konten yang dominan sehingga itu menjadi kebijakan perusahaan untuk menggunakan tools yang mana termasuk penggunaan tools public relation.

P Baik bu. Satu tools lagi yang belum dibahas bu yaitu direct and digital marketing. Dari hasil wawancara, pihak Gibby mengatakan bahwa Gibby memiliki konsep yang sama dengan advertising. Jadi konten-konten yang mereka sebar di newsletter atau direct email juga tetapi kontennya sama.

Apakah menurut ibu akan ada rasa bosan di benak konsumen?

(25)

N Jadi saya sempat searching. Sebelumnya saya tanya kompetitornya siapa.

Artinya saya ingin juga melihat perbandingan sebuah perusahaan bisnis startup ini mengembangkan konten mereka. Kalau ternyata tidak banyak berbeda, artinya memang namanya juga perusahaan baru. Tadi sempat saya sebutkan brand yang berbeda yaitu Shopee. Kenapa? Shoppe ini langsung mencolok di benak khalayak mengapa? Karena promosinya luar biasa.

Besar-besar gitu ya. Baik di televisi maupun online gitu ya dengan fitur yang menarik kemudian promo yang besar segala macam. Itu sudah melekat sekali di benak konsumen. Nah persoalannya kalau anda lihat tampilan fitur Shopee itu menarik ya. Full, lengkap, menarik semuanya bagus. Nah saya piker semua bisnis startup akan berupaya untuk mencoba menarik perhatian dari calon konsumennya dengan tampilan konten gitu ya. Nah mengapa ini tidak justru juga menjadi peluang dari sebuah perusahaan bisnis startup untuk “jor-joran” disini. Sehingga orang akan cepat berbalik ke Gibby ini gitu. Jadi anda sendiri melihat kok kontennya biasa-biasa saja atau sama, ini mungkin bisa menjadi salah satu masukkan anda kepada perusahaan yang anda teliti. Bagaimana teknisnya itu urusan perusahaan. Tetapi kita sebagai peneliti atau pengamat sudah bisa melihat bagian ini loh yang masih kurang.

Justru bagian ini yang harus bisa dikembangkan perusahaan tersebut ke depan sebagai startup.

P Dengan semua konsep yang ada yang sudah dilakukan oleh Gibby. Mungkin apakah ada saran dari ibu yang bisa disampaikan kepada perusahaan bu?

N Dari IMC kita bisa catat yang kurang dan belum maksimal itu direct and digital marketing dan public relations yang belum dijalankan. Jadi ini pekerjaan rumah untuk perusahaan. Bagaimana kita bisa melihat “dapur kerjanya” untuk bagian ini? Apakah Dharma sudah mendapatkan pernyataan dari perusahaannya bahwa direct and digital marketingnya belum optimal?

P Kemarin itu saya menanyakan bagaimana tentang efektivitas dari advertising dan juga direct and digital marketing apakah efektif atau tidak? Dari pihak Gibby menjawab bahwa masih belum efektif dan masih jauh dari harapan yang sudah ditetapkan. Seperti itu bu. Mungkin juga masalah yang ada di budgeting. Ketika saya bertanya tentang budgeting apakah ada budgeting tersendiri untuk advertising atau direct and digital marketing? Mereka menjawab bahwa kalau kita sedang kalau misalnya ada rencana apa yuk kita jalanin jadi tidak ada budget tertentu untuk advertising dan direct and digital marketing.

N Nah oke. Nah kalau mereka masih dengan konsumen bisnis startup mereka harus bersiap dengan teknologi. Dan teknologi tidak main-main ya.

Teknologi ini butuh cost yang tinggi kalau mau bergerak semua lini termasuk direct and digital marketingnya. Sayang ketika direct and digital marketingnya tidak ikut berkembang ya sejalan dengan tools-tools lainnya.

Kalau public relations oke lah, public relations kan itu istilahnya mohon

(26)

maaf hanya satu orang dari jubir perusahaan. Itu bisa dibentuklah. Tapi kalau platformnya digital, mau tidak mau direct and digital marketing ini syarat mutlak ya. Karena ini kan bergerak dibidang teknologi seperti ini bagaimana bisa menjangkau konsumennya kalau tidak dengan kekuatan teknologi. Menurut saya itu.

P Apalagi dengan konten-konten yang sama dengan advertising seperti diulang-ulang ya bu.

N Iya betul. Advertisingnya jalan jadi tinggal direct and digital marketingnya saja. Selain teknologi juga diperlukan SDM dan teknologi pun merupakan ciptaan dari SDMnya.

P Oke baik bu terima kasih banyak ya bu. Selamat sore.

N Oke baik Dharma. Selamat sore. Sukses ya.

P Terima kasih ibu.

(27)

DOKUMENTASI

LOGO GIBBY PRA REBRANDING

LOGO GIBBY

PASCA REBRANDING

(28)

GIBBY PROFILE DECK

(29)
(30)
(31)

FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI / TUGAS AKHIR

Semester : Delapan (8)

Nama Mahasiswa : Dharma Kalyana

NIM : 00000015142

Nama Dosen Pembimbing : Dr. Indiwan Seto Wahjuwibowo, M.Si.

Tanggal Konsultas i

Agenda / Pokok Bahasan

Saran Perbaikan Paraf Dosen Pembimbing 28/02/ 2020 Bimbingan Judul

Skripsi

17/03/2020 Bimbingan Bab I Data yang digunakan harus data yang terbaru

20/03/2020 Bimbingan Bab II Kerangka pemikiran masih belum tepat 22/04/2020 Bimbingan Bab III Baca buku Robert K.

Yin jangan kutip dari buku lain

06/05/2020 Bimbingan Revisi Bab I-III

Cek ulang typo dan pahami analisis data untuk studi kasus 19/05/2020 Bimbingan Bab IV Latar belakang

perusahaan dimasukkan ke proses rebranding 30/05/2020 BImbingan Bab V Kesimpulan masih

tercampur dengan saran harus dipisah 05/06/2020 Bimbingan Revisi

Bab IV-V

Cek turnitin dan perbaiki kesimpulan

Catatan: Form ini wajib dibawa pada saat konsultasi & dilampirkan di dalam laporan skripsi / TA

Tanda Tangan Pembimbing

(Dr. Indiwan Seto Wahjuwibowo, M.Si.)

(32)

FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI / TUGAS AKHIR

Semester : Delapan (8)

Nama Mahasiswa : Dharma Kalyana

NIM : 00000015142

Nama Dosen Pembimbing : Dr. Indiwan Seto Wahjuwibowo, M.Si.

Tanggal Konsultas i

Agenda / Pokok Bahasan Saran Perbaikan Paraf Dosen Pembimbin g

13/06/2020 Final Revisi Cek ulang typo dan pahami keseluruhan skripsi

Catatan: Form ini wajib dibawa pada saat konsultasi & dilampirkan di dalam laporan skripsi / TA

Tanda Tangan Pembimbing

(Dr. Indiwan Seto Wahjuwibowo, M.Si.)

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi kalau hanya sekedar prasangka adanya kemanfaatan atau prasangka adanya penolakan terhadap kemazdaratan, maka pembinaan hokum semacam itu adalah

Definisi Flowchart Bagan alir (flowchart) adalah bagan (chart) yang menunjukkan alir (flow) di dalam program atau prosedur sistem secara.. Dalam siklus ini terdapat dua

Sidayu Sido Prima di Provinsi Jawa Timur karena telah MEMENUHI seluruh norma penilaian untuk setiap verifier pada Standar Verifikasi Legalitas Kayu yang tercantum

No No Pendaftaran Nama Kualifikasi Akademik ttd.

Guru dan stakeholder lainnya belum mampu memanfaatkan berbagai sarana dan menjadikan PSBG sebagai bengkel penempah guru yang professional sampai pada

Hal ini dilakukan karena peneliti (sebagai alat) dapat mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu, hanya “manusia

asam basa, pembelajaran menggunakan model problem solving efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi asam basa dan keterampilan

Citra dari museum yang ingin ditampilkan yaitu menyenangkan, nyaman, bersih dan dengan memadukan konsep edukasi yang modern sehingga museum akan menggunakan fasilitas yang