• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prodi Keperawatan Bogor Poltekkes Kemenkes Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prodi Keperawatan Bogor Poltekkes Kemenkes Bandung"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN AKTIVITAS FISIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR TAHUN 2018

Anastasya Desiani Setiawan

1)

, Ida Farida

2)

e-mail : [email protected] Prodi Keperawatan Bogor Poltekkes Kemenkes Bandung

ABSTRAK

Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi dan menghasilkan manfaat kesehatan yang progresif. Apabila tidak melakukan aktivitas fisik dengan rutin dapat menyebabkan komplikasi sehingga penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aktivitas fisik pasien penderita diabetes melitus tipe II di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit PMI Bogor tahun 2018 dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Sampel yang diteliti sebanyak 78 responden menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling.

Instrumen yang digunakan adalah kuesioner International Physical Activity Questionnaires (IPAQ) yang telah d iuji validitas dan realibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien memiliki tingkat aktivitas fisik sedang sebanyak 40 orang (51%), kurang dari setengah pasien memiliki tingkat aktivitas fisik ringan yaitu cenderung melakukan aktivitas sedentari sebanyak 26 orang (33%), dan sebagian kecil pasien memiliki tingkat aktivitas fisik berat sebanyak 12 orang (16%). Diharapkan dari hasil penelitian ini perawat sebagai motivator dapat memberikan motivasi pada pasien untuk rutin dalam melakukan aktivitas fisik agar terhindar dari komplikasi.

Kata Kunci : diabetes melitus, aktivitas fisik

(2)

Description of Physical Activity on Patient Diabetes Melitus Type II at PMI Bogor 2018

Anastasya Desiani Setiawan

1)

, Ida Farida

2)

e-mail : [email protected] Prodi Keperawatan Bogor Poltekkes Kemenkes Bandung

ABSTRACT

Physical activity is a body movement produced by skeletal muscles that requires energy expenditure and produce a progressive health benefits. When not doing regular physical activity can lead to complications so important. This study aims to describe the physical activity of patients with type II diabetes mellitus in Policlinic Hospital Medicine PMI Bogor in 2018 by using descriptive research design. The samples studied as many as 78 respondents using purposive sampling technique. The instrument used was a questionnaire the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), which has been tested for validity and reliability. The results of this study showed most patients have high levels of physical activity were 40 people (51%), less than half of the patients had mild physical activity level that is likely to make a sedentary activity, there are 26 (33%), and a small proportion of patients have severe physical activity levels as much as 12 people (16%). Expected results of this research nurse as a motivator can motivate the patient for a routine physical activity in order to avoid complications.

Keywords : diabetes mellitus, physical activity

(3)

PENDAHULUAN

Sejalan dengan perkembangan zaman, pola penyakit di Indonesia mengalami pergeseran dari penyakit infeksi dan kekurangan gizi menjadi penyakit degeneratif (Suyono, 2011). Penyebab utama yang mempercepat munculnya penyakit degeneratif adalah perubahan gaya hidup yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit salah satunya adalah diabetes melitus (DM) (Nur Khasanah, 2012).

Jumlah penderita DM di seluruh dunia mencapai 200 juta, diperkirakan meningkat lebih dari 330 juta pada tahun 2025 (Corwin, 2009). Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan jumlah penderita DM terbanyak (Arisman, 2011).

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2013 kasus DM mencapai jumlah 7.6 juta di Indonesia dengan usia 20-79 tahun, dengan angka prevalensi standar WHO 5.14 %, dimana angka kematian yang diakibatkan mencapai 155.465. Menurut Tahun 2013 jumlah terbesar penderita DM terdapat di Jawa Barat dengan jumlah 32.162.328 kasus (Riskesdas, 2013). Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat, di tahun 2017 jumlah penderita diabetes melitus di Kota Bogor mencapai 2.138 orang (0,21% dari populasi).

Diabetes melitus (DM) juga biasa disebut juga sebagai The Silent Killer karena penyakit ini dapat membunuh secara diam - diam (Ramdhani, 2014).

Penyakit DM yang tidak ditangani dengan baik dan tepat dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi pada organ tubuh seperti mata, jantung, ginjal, pembuluh darah dan saraf yang akan membahayakan jiwa dari penderita diabetes (Zimmet, 2009).

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menderita DM tipe II salah satunya adalah aktivitas fisik yang rendah dan cenderung melakukan aktivitas sedentari seperti berlama-lama duduk di depan tv dan bermalas-

malasan (WHO, 2010). Kebutuhan aktivitas atau pergerakan merupakan satu kesatuan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas (Tarwoto, 2006).

Barnes (2012), menyebutkan bahwa aktivitas fisik secara langsung berhubungan dengan kecepatan pemulihan gula darah otot. Klasifikasi aktivitas fisik ringan, sedang, dan berat mengacu pada IPAQ, 2015. Saat aktivitas fisik, otot menggunakan glukosa yang disimpannya sehingga glukosa yang tersimpan akan berkurang. Pada saat itu untuk mengisi kekurangan tersebut otot mengambil glukosa di dalam darah sehingga glukosa di dalam darah menurun yang mana hal tersebut dapat meningkatkan kontrol gula darah. Aktivitas bermanfaat untuk mengurangi tingkat gula darah dan bisa mempertahankan berat badan.

Melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat mengurangi obesitas dan risiko terkena komplikasi DM (Ramdhani, 2014).

Dolongseda dalam penelitiannya menyebutkan 93,3 % mempunyai aktivitas fisik rendah dengan kadar gula darah tinggi. Berdasarkan uji statistik penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah.

Aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang dapat meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga glukosa dapat diubah menjadi energi melalui metabolisme.

Selaras dengan penelitian Nurayati dan Andriani sebagian besar respondennya mempunyai aktivitas fisik yang rendah.

Responden cenderung melakukan aktivitas sedentari dibandingkan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Namun berbeda dengan Paramitha dalam penelitiannya 89,8%

(53 orang) respondennya sudah memiliki tingkat aktivitas fisik sedang.

Oleh karena itu dilakukan penelitian

(4)

untuk mengetahui gambaran aktivitas fisik pasien diabetes melitus tipe II.

METODE

Penelitian ini dilakukan di Rumah sakit PMI Bogor. Variabel aktivitas fisik dibagi menjadi tiga kategori, yaitu ringan, sedang, dan berat. Definisi operasional aktifitas fisik mengacu pada IPAQ, 2015.

Populasi adalah semua pasien yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam.

Sampel yang diteliti adalah sebanyak 78 responden, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner International Physical Activity Questionnaires (IPAQ) yang telah diuji validitas dan realibilitas. Data dianalisis secara univariat menggunakan desain penelitian deskriptif.

HASIL

Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit PMI kota Bogor menunjukkan karakteristik responden yang bervariasi, hal ini dapat dilihat pada tabel-tabel berikut.

Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik: usia No Karakterisitik

Responden

Responden Nilai Usia

(Tahun)

1 Usia

Rata-Rata 61 Paling

Banyak 57

Setengahnya 62

Termuda 40

Tertua 79

Berdasarkan tabel 1 distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik di atas menunjukkan bahwa pada responden dengan DM tipe II, paling banyak berusia 57 tahun, dengan usia termuda adalah 40 tahun dan usia tertua adalah 79 tahun.

Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik: jenis kelamin, pendidikan, status bekerja, lama menderita.

No Karakteristik Responden

Responden Frekuensi % 1. Jenis Kelamin

- Laki-laki - Perempuan

17 59

22 78 2. Pendidikan

- Tidak Sekolah - SD - SMP - SMA - Perguruan

Tinggi

1 21 12 27 15

1 28 16 35 20 4. Status bekerja

- Bekerja - Tidak

bekerja

10 66

13 87 5. Lama

Menderita - <10 tahun - >10 tahun

47 29

62 38

Dari tabel 2 di atas didapatkan perbandingan persentase laki-laki dan perempuan jauh berbeda, sebagian besar memiliki tingkat pendidikan tinggi (tamat SMA ke atas), tidak bekerja dan durasi menderita DM tipe II < 10 tahun.

Hasil penelitian mengenai aktivitas fisik pasien diabetes melitus tipe II dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kriteria Aktivitas Fisik pada

Penyakit Diabetes Melitus Tipe II Kategori

Aktivitas Fisik

Frekuensi Presentase (%)

Ringan 24 31%

Sedang 40 53%

Berat 12 16%

Total 76 100%

Berdasarkan tabel 3 di atas, lebih dari setengah responden memiliki aktivitas fisik sedang dan sebagian kecil responden memiliki aktivitas fisik berat.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesesuaian dengan konsep teori. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa seseorang dengan usia mulai dari 40

(5)

tahun sudah terkena diabetes melitus, dan didominasi oleh responden dengan usia 57 tahun. Dalam penelitian ini, diperoleh data sebanyak 60%

responden merupakan penderita diabetes selama kurang dari 10 tahun yang berarti para responden tersebut mulai menderita diabetes melitus di usia 47 tahun. Hal ini selaras dengan pendapat Helmawati (2014), bahwa semakin bertambah usia semakin tinggi risiko terkena diabetes melitus, dikarenakan jumlah sel beta produktif semakin berkurang dengan bertambahnya usia (Arisman, 2011) Dalam penelitian ini responden dengan karakteristik jenis kelamin, penderita penyakit diabetes melitus sebagian besar adalah perempuan sebanyak 59 orang (78%) dan laki-laki sebanyak 17 orang (22%). Selaras dengan penelitian yang dilakukan Dolongseda (2017) tentang Hubungan Aktivitas Fisik Dan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Pancaran Kasih GMIM Manado. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang menderita diabetes melitus adalah perempuan sebanyak 64 orang dengan persentase 70 % dari total sampel 92 orang.

Menurut Suyono (2011) hal tersebut disebabkan perempuan memiliki LDL (low density lipoprotein) lebih tinggi daripada laki-laki. Karena perempuan memiliki hormon estrogen yang mana pada saat masa menopause dan peri- menopause hormon tersebut akan berkurang sehingga dapat menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh melonjak. LDL adalah pengangkut kolesterol tertinggi pada manusia. Berdasarkan Kemenkes (2010) tingginya kadar kolesterol dapat meningkatkan asam lemak bebas yang pada akhirnya akan merusak sel beta pankreas dan mengakibatkan kadar gula darah tidak terkendali.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa responden penderita

diabetes melitus tipe II di poli penyakit dalam RS PMI Bogor, distribusi tingkat pendidikan kurang dari setengahnya memiliki tingkat pendidikan tamat SMA sebanyak 27 orang dengan persentase 35%. Namun ditemukan responden yang tidak tamat Sekolah Dasar. Dalam tinjauan teori tidak dijelaskan keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan penyakit diabetes melitus, namun peneliti berasumsi bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memberikan penilaian mengenai pentingnya melakukan aktivitas fisik.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh pada tingkat pengetahuan, yang mana seseorang dengan tingkat pengetahuan semakin tinggi akan dapat menjaga kesehatannya.

Dalam penelitian ini didapatkan data bahwa responden penderita diabetes melitus tipe II di poli penyakit dalam Rumah sakit PMI Bogor sebagian besar atau sebanyak 66 orang dengan persentase 87% tidak memiliki pekerjaan.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nurayati dan Adriani (2017) tentang Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kadar Gula Darah Puasa Penderita Diabetes Melitus Tipe II di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo kota Surabaya, dimana sebagian besar respondennya mengaku sudah tidak bekerja setelah terdiagnosa diabetes melitus sehingga mereka lebih banyak melakukan aktivitas sedentari (duduk dan menonton televisi).

Menurut Mahendra (2008) kebanyakan penderita diabetes yang tidak aktif dan tidak memiliki pekerjaan memiliki gula darah yang tinggi. Hal ini terjadi karena resistensi insulin atau berkurangnya respon terhadap insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel- sel dalam tubuh. Namun, permeabilitas membran terhadap glukosa akan meningkat saat tubuh melakukan aktivitas fisik karena otot menggunakan glukosa yang tersimpan sehingga

(6)

glukosa dapat masuk ke dalam sel-sel otot dan menurunkan resistensi insulin (Barnes 2012).

Hasil penelitian menunjukan distribusi sampel menurut lamanya menderita diabetes melitus tipe II, sebanyak 47 orang responden menderita diabetes melitus tipe II selama 1-10 tahun dengan persentase 62%. Sejalan dengan penelitian dari Paramitha (2014) tentang Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II menyebutkan sebanyak 25 respondennya (42,4%) menderita diabetes melitus tipe 2 selama 1-5 tahun.

Lamanya menderita atau durasi penyakit diabetes menunjukkan berapa lama pasien tersebut menderita diabetes melitus sejak ditegakkan diagnosis penyakit tersebut. Durasi lamanya diabetes melitus yang diderita ini dikaitkan dengan resiko terjadinya beberapa komplikasi yang timbul sesudahnya. Peningkatan kadar glukosa darah dalam jangka waktu lama merupakan indikasi dari komplikasi kronis (Zimmet, 2009)

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian kecil responden memiliki tingkat aktivitas fisik berat (>1500 MET-s) yaitu sebanyak 12 responden dengan presentase 16 %.

Umumnya responden berusia 50 dan 52 tahun, 9 dari 12 responden merupakan perempuan. Umumnya merupakan tamat pendidikan SMA. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penderita diabetes melitus yang memiliki tingkat aktivitas berat yang seharusnya masih memiliki pekerjaan, tidak terbukti. Dalam penelitian ini sebanyak 9 dari 12 responden dengan aktivitas fisik berat tidak memiliki pekerjaan. Aktivitas yang dijalani umumnya adalah aktivitas tingkat sedang seperti olahraga, domestik rumah tangga seperti mencuci, menyapu, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, dan merapikan rumah, mengangkat beban

<20 kg serta aktivitas berjalan. Durasi

seluruh aktivitas tersebut dilakukan selama 30-240 menit dan dilakukan dengan frekuensi 3-7 kali dalam satu minggu sehingga masuk dalam kategori aktivitas fisik berat.

Lebih dari setengah responden memiliki aktivitas fisik sedang (>600 sampai 1500 MET-s), yaitu sebanyak 40 orang dengan persentase 53%. Umumnya responden berusia 57 tahun, didominasi oleh perempuan. Sebagian besar tidak bekerja, dan lama menderita diabetes

<10 tahun. Karena diimbangi dengan aktivitas fisik yang baik sehingga sebagian besar responden mampu melakukan aktivitas tingkat sedang seperti olahraga, domestik rumah tangga seperti mencuci, menyapu, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, dan merapikan rumah serta aktivitas berjalan. Durasi seluruh aktivitas tersebut dilakukan selama 30- 120 menit dan dilakukan dengan frekuensi 1-7 kali dalam satu minggu.

Kurang dari setengah responden memiliki aktivitas fisik yang ringan, yaitu sebanyak 24 orang dengan persentase 32%. Umumnya responden mengaku sudah tidak bekerja setelah terdiagnosa diabetes melitus sehingga mereka lebih banyak melakukan aktivitas sedentari (duduk dan menonton televisi) dibandingkan dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga dan lainnya. Beberapa responden masih melakukan aktivitas fisik sedang selama 10 menit dalam satu minggu dan aktivitas berjalan umumnya selama 20 menit/3 hari dan 10 menit/7 hari. Sesuai pertanyaan pada kuesioner nomor 7 tentang aktivitas duduk pada hari minggu rata-rata responden melakukannya selama 409 menit atau 7 jam.

Hasil analisis aktivitas fisik penderita diabetes melitus tipe II pada penelitian ini menunjukkan aktivitas yang baik.

Sejalan dengan penelitian dari Paramitha (2014) tentang Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II bahwa sebagian besar

(7)

respondennya memiliki tingkat aktifitas fisik sedang yaitu sebanyak 89,8% (53 orang). Sedangkan untuk responden yang melakukan aktifitas fisik berat hanya sebesar 5,1% (3 orang) dan tingkat aktivitas fisik rendah sebesar 5,1% (3 orang). Menurut Suyono (2011) kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor resiko kejadian diabetes melitus tipe II.

Berbeda dengan penelitian dari Nurayati dan Adriani (2017) tentang Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kadar Gula Darah Puasa Penderita Diabetes Melitus Tipe II di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo kota Surabaya, dimana respondennya sebagian besar mempunyai aktivitas fisik yang rendah. Rendahnya aktivitas fisik dapat mempengaruhi sirkulasi insulin sehingga masuknya glukosa ke dalam sel akan terganggu. Hal itu akan menyebabkan tidak terkontrolnya kadar glukosa darah. Melakukan aktivitas fisik secara rutin sangat penting dilakukan karena efeknya dapat mempertahankan berat badan, mengurangi obesitas, mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler dan risiko komplikasi akibat tidak terkontrolnya kadar glukosa dalam darah (Barnes, 2012).

Sejalan dengan penelitian yang telah peneliti lakukan tentang aktivitas fisik pasien diabetes melitus tipe II di RS PMI Bogor tahun 2018 menunjukkan bahwa pentingnya peran perawat sebagai motivator dimana perawat memiliki tugas untuk memberikan motivasi pada pasien diabetes melitus tipe II agar rutin dalam melakukan aktivitas fisik. Apabila perawat dapat berfungsi optimal, diharapkan aktivitas fisik yang dilakukan oleh pasien dapat meningkat sehingga kadar gula darah terkontrol dan terhindar dari komplikasi akibat penyakit diabetes melitus tipe II.

KESIMPULAN

Dalam penelitian ini didapatkan bahwa lebih dari setengah responden sudah memiliki aktivitas fisik yang baik kategori sedang atau intensitas > 600 METs – 1500 METs. Namun kurang dari

setengah responden masih memiliki aktivitas sedentari.

REKOMENDASI

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pihak terkait khususnya perawat dapat meningkatkan perannya sebagai motivator pada pasien khususnya pasien dengan diabetes melitus dengan memberi penyuluhan pentingnya aktivitas fisik agar terhindar dari risiko komplikasi DM.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan dan Praktik). Jakarta: Rieneka Cipta.

Arisman, 2011. Obesitas, Diabetes Melitus, dan Dislipidemia. Jakarta: EGC Barnes, D.E. 2012. Program Olahraga Diabetes. Yogyakarta: Citra Aji Parama Brunner & Suddarth., Suzzane C.

Smeltzer., Brenda G. Bare. 2015. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta: EGC.

Bryer, Michael., dkk. Editor Scheiber, Yasmin A. 100 Tanya-Jawab Mengenai Diabetes. Jakarta: Indeks.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3.

Jakarta:EGC.

Hastuti, Rini Tri. 2008. Faktor-Faktor Risiko Ulkus Diabetika pada Penderita Diabetes Melitus. Universitas Diponegoro Semarang.

Hidayat. (2013). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Cetakan 2. Surabaya:

Health Books.

Ilyas, E. I., 2011. Olahraga bagi Diabetes dalam: Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu bagi dokter maupun edukator diabetes. Jakarta:

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jurnal Nursing., Editor Paramitha. 2011.

Nursing The Series For Clinical Excellence (Memahami Berbagai Macam Penyakit). Jakarta : Indeks Kozier et al. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2 edisi 7. Jakarta: EGC

(8)

Mahendra, B., Diah Krisnatuti., Ade Tobing., Boy Z. A. Alting. 2008. Care Your Self, Diabetes Mellitus. Jakarta : Penebar Plus.

Notoatmojo S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi Tesis dan Instrumen Penelitian. Jakarta : Salemba Medika.

Nur Khasanah. 2012. Waspadai Beragam Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan. Yogyakarta: Laksana.

Perry & Potter. 2009. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4. Jakarta:

EGC.

Ramdhani. 2014. Sembuh Total Diabetes Dan Hipertensi Dengan Ramuan Herbal Ajaib. Cetakan 1.

Yogyakarta: Pinang Merah.

Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Robbins, Stanley L., Vinay Kumar., Ramzi S. Cotran. 2012. Buku Ajar Patologi Robbins. Jakarta: EGC.

Sastroasmoro, Sudigdo. 2010. Dasar- Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi 3. Jakarta : Sagung Seto.

Setiadi. 2013. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Soegono, Sidartawan. 2008. Hidup Secara Mandiri dengan : Diabetes Melitus. Jakarta : Balai Penerbit FK UI.

Sugiyono. 2013. Statistik Untuk Peneilitian. Bandung : C1V Alfabeta.

Sujono. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Eksokrin Dan Endokrin Pada Pankreas.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Suyono, S. 2011. Diabetes Melitus di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. IV ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Widuri, Hesti. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia (Aspek Mobilitas dan Istirahat Tidur). Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Yuliana Elin., Andrajat Retnosari. 2009.

ISO Famakoterapi. Jakarta: ISFI

Zimmet, P. (2009) Preventing Diabetic Complication: A Primary Care Prospective, Diabetes Res Clin Pract 84:107-116.

Dolongseda, FV., Masi, GN., Bataha, YB. 2017. Hubungan Aktivitas Fisik Dan Pola Makan Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Pancaran Kasih GMIM Manado.

Available from

https://ejournal.unsrat.ac.id/

index.php/jkp/article/view/2248/1805.

Helmawati, Triana. 2014. Hidup Sehat Tanpa Diabetes. Yogyakarta: Notebook Kementerian Kesehatan RI, 2013, Riset

Kesehatan Dasar.

http://www.depkes.go.id/resources/dow nload/general/Hasil%20Riskesdas%20 2013.pdf.

International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas. Six edition. 2013;

Tersedia dari:

www.idf.org/aboutdiabetes.

IPAQ. Guidelines for Data Processing And Analysis of the International Physical Activity Quistionnare (IPAQ).

2015

Kesehatan Departemen Kesehatan;

2013. Available from :http://www.depkes .go.id/resources/download/general/hasil

%20riskesdas%202013.pdf Diakses pada 23 Februari 2018

Nurayati., Adriani., Amerta Nutr. 2017.

Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kadar Gula Darah Puasa Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat: Universitas Airlangga.

Paramitha, Gumilang Mega. 2014.

Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Fakultas Kedokteran : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(9)

Riskesdas. Laporan Nasional Riskesdas 2013. Jakarta : Badan Penelitian Dan Pengembangan

World Health Organization. Global Status Report on Noncommunicable Disease 2010.2011. Available from www.who.org.

Referensi

Dokumen terkait

Penyebab atribut pelayanan yang kritis tersebut antara lain terdapat kelonggaran waktu yang digunakan dalam Blueprint Service , anggaran daerah dan pajak penerimaan daerah

Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti bahwa terdapat hubungan negatif antara persepsi tentang peran ayah dengan bentuk kenakalan remaja yang

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa education games (permainan edukatif) adalah sebuah permainan yang digunakan dalam proses pembelajaran dan dalam

grade one to six and sampling the chapters from each coursebook (2) Incorporate series of coursebooks from only one primary level with including all the chapters in

4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen

Bahan baku utama adalah bahan yang digunakan dalam jumlah yang besar dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh bahan baku lain, seperti tepung tapioka atau tepung

Gorg and Hirsch (1998: 586) mencatat adanya kontradiksi antara regulasi negara dari masyarakat kapitalis dan formasi demokrasinya, dimana power dari negara

Partisipasi masyarakat yang telah dilakukan dalam upaya pengendalian vektor DBD di Kelurahan Baturaja Lama dan Sekar Jaya adalah memelihara ikan, menaburi abate, menutup