11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Asas Sidang Pemeriksaan Pengadilan Terbuka Untuk Umum Sebagai Sebuah Prinsip dalam Penegakan Hukum
Paul Scholten menguraikan definisi asas-asas hukum yaitu “pikiran- pikiran dasar (grondgedachten) di dalam/ di belakang sistem hukum dan dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan maupun putusan- putusan hakim, yang berkenaan dengannya ketentuan dan keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya”. Berdasarkan definisi tersebut, tampak jelas peranan dari asas-asas hukum sebagai metakaidah berkenaan dengan kaidah-kaidah perilaku (Rimdan, 2012:48).
Lebih lanjut J. J. H Bruggink menjelaskan, bahwa asas-asas hukum memiliki fungsi ganda sebagai fondasi dari sistem hukum positif dan sebagai batu uji kritis terhadap sistem hukum positif (Rimdan, 2012:49). Sejalan dengan hal tersebut, Sudikno Mertokusumo menjelaskan bahwa asas-asas hukum (rechtsbeginsellen) adalah pokok pikiran bersifat umum yang menjadi latar belakang dari peraturan hukum konkret (hukum positif). Begitu pula Satjipto Rahardjo menjelaskan, bahwa asas hukum adalah jiwanya peraturan hukum, karena ia adalah dasar lahirnya peraturan hukum, ialah rasio legisnya peraturan hukum. Oleh sebab itu, Riduan Syahrani menyimpulkan, asas hukum dapat ditemukan dan disimpulkan langsung ataupun tidak langsung dalam peraturan-peraturan hukum yang pada hakikatnya mengandung unsur- unsur asas-asas hukum yang bersangkutan (Rimdan, 2012:49).
G.W Paton, mendefinisikan secara singkat: “a principle is the broad reason, which lies at the base of rule of law" (asas adalah suatu pikiran yang dirumuskan secara luas dan menjadi dasar bagi aturan/kaidah hukum).
Dengan demikian asas bersifat abstrak sedangkan aturan/kaidah hukum sifatnya kongkrit mengenai perilaku atau tindakan hukum tertentu.
Mahadi berpendapat bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum negara Indonesia, maka wajar apabila membicarakan asas, berpendapat bahwa sumber dari segala asas hukum adalah Pancasila yang dipegang teguh sebagai kaidah dasar, sebagai suatu beginsel rechtsideologie atau asas ideologi hukum di Indonesia (Mahadi, 2003:155).
Bahwa berdasarkan teori dari Hans Kelsen yaitu Stufenbau dengan Grundnorm (basic norm) sebagai kerangka awal berpikir tentang jalinan norma sebagai mata rantai keseluruhan dari norma-norma yang secara hirarki saling berkaitan antara norma yang paling rendah dengan norma yang paling tinggi dalam hal ini UUDNRI 1945 (Ruby Hadiarti Johny, 2009:137).
Apabila dilihat dan digambarkan teori Stufenbau dari Hans Kelsen sebagai berikut:
GRUNDNORM
konkrit UUD
abstark aturan dibawahnya
penerapan hukum
Gambar 1. Skema Asas
Peraturan semakin ke bawah semakin konkrit dan paling konkrit saat penerapan peraturan, sedangkan peraturan dilihat semakin ke atas semakin abstrak dan sampai pada norma dasar yang paling tinggi yaitu yang disebut dengan Grundnorm letaknya di luar susunan Stufenbau (Ruby Hadiarti Johny, 2009:137).
Pancasila sebagai core philosophy merupakan sumber nilai bagi adanya sistem hukum yang menyebabkan keterhubungan internal dari adanya sistem. Menurut Hans Kelsen apabila menggunakan Stufenbau, secara teoretis Pancasila sebagai ide dasar pencerminan norma dasar yang
paling tinggi (grundnorm) yang mendasari penyelenggaraan peradilan di Indonesia (Ruby Hadiarti Johny, 2009:138).
Pada konteks negara Indonesia, terdapat kekuasaan kehakiman yakni kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945 demi terselenggaranya Negara hukum Republik Indonesia. Pengertian seperti tersebut merupakan bentuk pelaksanaan amanat Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 setelah amandemen ketiga tahun 2001 yang berbunyi, “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.
Amanat tersebut sebagai pelaksanaan dari Pasal 1 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945 setelah amandemen ketiga yang berbunyi “negara Indonesia adalah negara hukum,” karena salah satu prinsip negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan lembaga peradilan yang merdeka, bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan ekstrayudisial untuk menyelenggarakan gerakan peradilan guna menegakkan ketertiban, keadilan, kebenaran dan kepastian hukum yang mampu memberikan pengayoman kepada masyarakat (Ahmad Mujahidin, 2007:1).
Kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan suatu prasyarat dari negara hukum yang demokratis, sebagaimana yang dituangkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan negara, menegaskan perlunya reformasi di bidang hukum untuk menanggulangi krisis bidang hukum (Rimdan, 2012:2).
Pada penjelasan KUHAP sebagai hukum formil untuk mempertahankan dan melaksanakan aturan hukum materil (KUHP) dicantumkan tujuan pembangunan serta pembaharuan hukum dengan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat yang berkembang ke
arah modernisasi menurut tingkatan kemajuan pembangunan di segala bidang. Pembangunan di bidang hukum acara pidana bertujuan, agar masyarakat dapat menghayati hak dan kewajibannya dan agar dapat dicapai serta ditingkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing ke arah tegak mantapnya hukum, keadilan dan perlindungan yang merupakan pengayoman terhadap keluhuran harkat serta martabat manusia, ketertiban dan kepastian hukum demi tegaknya Republik Indonesia sebagai negara hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Sehingga dalam hukum acara pidana nasional Indonesia wajib didasarkan pada falsafah/pandangan hidup bangsa dan dasar negara, maka sudah seharusnya di dalam ketentuan materi pasal atau ayat tercermin perlindungan terhadap hak asasi manusia serta kewajiban warga negara.
Guna mencapai tujuan memberikan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, maka asas-asas penegakan hukum yang telah dirumuskan dalam Undang-Undag Nomor 48 tahun 2009 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang ditegaskan lagi dalam KUHAP guna menjiwai setiap pasal atau ayat agar senantiasa mencerminkan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Asas-asas tersebut di antaranya:
1. Asas Equality before the law
Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan pembedaan perlakuan;
2. Asas Legalitas dalam Upaya Paksa
Penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan hanya dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur dengan undang-undang;
3. Asas Presumption of Innocence (Praduga Tidak Bersalah)
Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak
bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memeroleh kekuatan hukum tetap;
4. Asas Remedy and Rehabilitation
Kepada seorang yang ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang dan atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti kerugian dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum, yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan asas hukum tersebut dilanggar, dituntut, dipidana dan atau dikenakan hukuman administrasi;
5. Asas Fair, Impartial, Impersonal and Objective
Peradilan yang harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan serta bebas, jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan;
6. Asas Legal Assistance
Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan memeroleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya;
7. Asas “Miranda Rule”
Kepada seorang tersangka, sejak saat dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukum apa yang didakwa, kepadanya, juga wajib diberitahu haknya itu termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasihat hukum;
8. Asas Presentasi
Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa;
9. Asas Keterbukaan
Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam undang-undang;
10. Asas Pengawasan
Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana ditetapkan oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan.
11. Asas Pemeriksaan Hakim yang Langsung dan Lisan
Pemeriksaan dalam sidang pengadila dilakukan oleh hakim secara langsung kepada terdakwa dan para saksi, kecuali diatur lain oleh undang-undang;
12. Asas Oportunitas
Penuntut Umum memiliki wewenang untuk menuntut atau tidak menuntut suatu perkara pidana demi kepentingan umum, sehingga suatu perkara pidana dapat dikesampingkan (deponir) untuk kepentinga hukum;
13. Asas Akusator (Accusator)
Kedudukan tersangka atau terdakwa sebagai subjek dalam pemeriksaan perkara pidana.
2. Pandangan Jean Baudrillard Berkenaan Dengan Simulacra Melalui Media Massa
Kedahsyatan perkembangan teknologi tidak dapat dilepaskan keterikatannya dengan situasi dan kondisi masyarakat modern masa kini, televisi menjadi bagian yang melekat erat dengan ritual kehidupan sehari-hari dengan hadirnya televisi manusia mengisolasi diri dan dengan tenang menyendiri di depan televisi.
E. Biser (Parochie en Massamedia dalam Tondowidjojo 1999) mengatakan bahwa “high-tech tertuju pada mengubah utopi-utopi kedalam realita”, namun pada televisi justru berlaku hukum yang sebaliknya; realitas sehari-hari diubah menjadi utopi-utopi. Orang memperbudak diri pada media, tidak lagi memiliki fantasi yang kreatif untuk membuat proyek kehidupan personalnya (Freddy H Istanto, 1999:103).
Sementara itu, Jean Baudrillard menyebutkan bahwa kebutuhan akan tontonan menjadi mutlak di dalam masyarakat konsumer. Berdasarkan bukunya yang berjudul In The Shadow of the Silent Majorities, Baudrillard mengemukakan bahwa masyarakat sekarang adalah masyarakat yang diam,
disebutnya sebagai massa yang diam. Massa yang diam inilah yang mendambakan secara terus-menerus tontonan (Piliang 1995:33). Pendapat tersebut menjadi jelas ketika Guy Debord menyebut masyarakat kapitalisme mutahir sebagai masyarakat tontonan (Freddy H Istanto, 1999:103).
Jean Baudrillard melalui simulacra and simulation membuat rancangan pikir yang memprediksi bahwa realitas pada akhirnya telah mati.
“Dunia Baru” yang Baudrillard sebut sebagai “Galaksi Simulacra” ternyata melanda seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali hukum (Muhammad Rustamaji, 2016:435).
Perdebatan yang disuguhkan melalui televisi dan media massa demikian, dalam pandangan Baudrillard merupakan medan yang mengkondisikan khalayak ramai untuk ditarik seluruh perhatian dan konsentrasinya ke dalam sebuah mandala layaknya black hole. Ia menyebutnya Simulacra, yaitu realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hyper-reality) (Muhammad Rustamaji, 2016:436).
Jean Baudrillard mengatakan, dunia televisi adalah dunia yang sarat pencitraan, yakni realitas sosial senantiasa dimainkan dalam sebuah ruang pencitraan. Karena itu, televisi seringkali menggambarkan realitas sosial melebihi realitas yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena kuatnya kemampuan televisi dalam melakukan pencitraan, sehingga apa pun yang dicitrakan oleh televisi sering menciptakan sebuah dunia hiper atau hiperealitas (Dewi K Soedarsono, 2012:52).
Pemikiran Baudrillard mengenai transisi historis dari modernitas ke arah posmodernitas dalam tiga tahap. Dapat disimak pandangan Baudrillard, bahwa:
“Sejak jaman Renaissance hingga kini, telah terjadi tiga kali revolusi simulacra, yaitu counterfeit, production dan simulation, yang merupakan nama yang berbeda untuk arti yang sama yaitu, imitasi atau reproduksi dari image atau objek. Pertama, image merupakan representasi dari realitas.
Kedua, image menutupi realitas. Ketiga, image menggantikan realitas yang telah sirna, menjadi simulacrum murni. Pada sign as sign, simbolika muncul
dalam bentuk irruption. Baudrillard kemudian menambahkan tahapan keempat yang disebut fractal atau viral. Kini kita pada tahapan fractal, suatu tahapan transeverything yang mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap dunia” (Muhammad Rustamaji, 2016:441).
3. Mengenai Contempt of Court dalam Siaran Langsung Suatu Persidangan Istilah Contempt of Court berasal dari kata Contempt yang artinya menghina atau penghinaan dan Court artinya pengadilan, sehingga dapat diterjemahkan sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk menghina badan pengadilan.
Definisi Contempt of Court dalam Black’s Law Dictionary adalah setiap perbuatan yang dapat dianggap mempermalukan, menghalangi atau merintangi tugas peradilan dari badan-badan pengadilan ataupun segala tindakan yang dapat mengurangi kewibawaannya atau martabatnya.
Perbuatan itu dilakukan oleh seorang dengan sengaja menentang atau melanggar kewibawaannya atau menggagalkan tugas peradilan atau dilakukan oleh seseorang dengan menjadi pihak dalam perkara yang diadili, yang dengan sengaja tidak mematuhi perintah pengadilan yang sah.
Contempt of court dalam bahasa Inggris mengandung 5 arti, yaitu (Jimly Asshiddiqie, 2015: 202) :
1) Lack of respect accompanied by a feeling of intense dislike. (noun, feeling).
2) A manuver that is generally disrespectful and contemptuous. (noun, attribute).
3) Open disrespect for a persono or thing. (noun, communication).
4) A willful disobedience to or disrespect for the authority of a court or legislative body. (noun, act).
5) The act of contemning or despising; the feeling with which one regards that whis is esteemed mean, vileor worthless disdain, scorn. (noun).
Menilik secara historis dari sistem hukumya, Contempt of Court berasal dari tradisi hukum di negara yang menganut sistem common law atau anglo saxon. Tradisi ini merupakan paham yang timbul pada abad ke-
13 di kerajaan Inggris dimana para raja memerintah dengan hak seperti Tuhan. Menurut paham ini, seorang raja terpilih mewakili Tuhan di dunia dan hanya bertanggung jawab kepada Tuhan. Setiap perlawanan atau penghinaan secara terang-terangan terhadap kekuasaan raja akan mendapat hukuman dari raja sendiri karena dianggap sebagai pribadi bukan sebagai lembaga kerajaan (Wahyu Wagiman, 2005:6).
Semua orang harus tunduk pada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi karena raja merupakan sumber hukum dan keadilan yang kekuasaannya didelegasikan kepada para aparatnya. Oleh karena itu, Contempt of Court dipandang identik dengan contempt of the king, pernyataan tersebut diperkuat oleh seorang penulis hukum Inggris pada tahun 1260, Bracton yang menyatakan “there is no greater crime than contempt and disobendience, for all person ought to be subject to the king as supreme and to his officer” (Lilik Mulyadi, 2015: 276). Bahkan pada tahun 1634, James Williamson yang melempar batu pada hakim saat sedang menjalankan tugasnya di ruang sidang pengadilan dinyatakan bersalah karena tindak pidana contempt of court. James Williamason dijatuhi hukuman potongan tangan dan potongan tangannya itu digantungkan di pintu masuk pengadilan sebagai peringatan bagi anggota masyarakat luas (Jimly Asshiddiqie, 2015: 202-203).
Pada tahun 1981, Kerajaan Inggris menerbitkan UU yang sangat kuat melindungi pengadilan dari pelbagai bentuk perlakuan yang dinilai dapat merendahkan martabat dan kehormatannya, yaitu “Contempt of Court Act 1981”. Dalam undang-undang tersebut ditentukan adanya pertanggungjawaban mutlak atau strict liability rule dimana suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai contempt of court yang dapat menggangu atau memengaruhi proses peradilan, terlepas dari ada tidaknya niat atau maksud pelaku untuk itu. UU tersebut mengatur secara ketat mengenai contempt in the face of the court, contempt by the jurors dan yang terpenting adalah contempt by publication. Oleh karena itu dalam
penerapannya, pemberlakuan contempt of court act 1981 sangat berpengaruh pada prinsip kebebasan pers (Jimly Asshiddiqie, 2015: 203).
Contempt of Court Act of 1971 di India juga melarang publikasi yang merendahkan martabat pengadilan sebagai suatu tindak pidana. Dalam sistem peradilan dibedakan antara civil contempt dan criminal contempt, yaitu (Jimly Asshiddiqie, 2015: 203) :
1. Civil Contempt sebagai “willful disobedience to any judgment, decree, direction, order, writ or other process of a court or wilfull breach of an undertaking given to a court”; dan
2. Criminal Contempt sebagai “the publication of any matter or the doing of any other act whatsoever which:
a) Scandalises or tends to scandalize, or lowers or tends to lower the authority of, any court; or
b) Prejudices, or interferes or tends to interfere with the due course of any judicial proceeding; or
c) Interferes or tends to interfere with, or obstructs or tends to obstruct, the administration of justice in any other manner”.
Begitupun di Hongkong, para hakim di semua tingkatan juga diberi kewenangan untuk menjatuhkan sanksi secara langsung dalam hal terjadi tindakan yang merendahkan martabat di pengadilan (contempt in the face of the court). Tindakan-tindakan yang dipandang merendahkan martabat pengadilan mencakup hal-hal berikut: 1) Insult a judge or justice, witness or officers of the court; 2) Interrupts the proceedings of the court; 3) Interfere with the course of justice; 4) Misbehaves in court (seperti penggunaan handphone atau alat perekam tanpa izin); 5) Juror yang meninggalkan ruangan selama persidangan tanpa permisi; 6) Disobeying a judgement or court order; 7) Breach of undertaking; dan 8) Breach of a duty imposed upon a solicitor by rules of court (Jimly Asshiddiqie, 2015:
204).
Sedangkan di Amerika Serikat, rujukan mengenai Contempt of Court juga dapat ditemukan dalam berbagai yurisprudensi dan Perundang-
undangan, termasuk Federal Rule of Criminal Procedure 42 dan USC 18.
Contempt dapat dilakukan ‘in the face of the court’ (in facie curiae) yang disebut sebagai ‘direct contempt of court’ atau di luar pengadilan yang disebut ‘indirect contempt of court’ (ex facie curiae), seperti tindakan pihak-pihak yang tidak menaati perintah atau putusan pengadilan.
Namun, berbeda dari praktik di Inggris, media komunikasi massa atau media pers mendapatkan perlindungan yang sangat kuat berdasarkan Amandemen Kesatu Konstitusi Amerika Serikat dengan pengecualian yang sangat ketat. Apabila media tersebut merupakan salah satu pihak yang berperkara di pengadilan, media pers tidak termasuk subjek hukum yang diancam oleh ketentuan contempt of court dalam memberitakan atau melaporkan suatu kasus dalam persidangan di pengadilan. Pengadilan tidak dapat memerintahkan suatu media pers untuk tidak memberitakan atau melaporkan sesuatu peristiwa aktual kepada publik yang berkepentingan.
Media cetak ataupun elektronik tidak dapat ditutup karena isi pemberitaan atau laporan yang dipublikasikannya (Jimly Asshiddiqie, 2015:204).
Di Kanada, hukum pidana diatur dalam “Criminal Code of Canada”
dan undang-undang federal dan provinsi lainnya mengenai hukum pidana.
Namun, tradisi contempt of court yang berasal dari Inggris masih terus dipraktikkan sampai sekarang menurut tradisi common law. Contempt of Court mencakup perbuatan sebagai berikut: 1) Fail to maintain a respectful attitude, remain silent or refrain from showing approval or disapproval of the proceeding; 2) Refuses or neglects to obey a subpoena; 3) Willfully disobeys a process or order of the court; 4) Interfere with the orderly administration of justice or to impair the authority or dignity of the court;
5) Officer of the court fails to perform his or her duties; 6) Sheriff and/or bailiff does not execute a writ of forthwith or does not make a return there of.
Hanya saja, dalam perkembangan sesudah disahkannya Piagam Hak Asasi Manusia (Charter of Rights and Freedoms (1982), prinsip-prinsip
‘common law’ di Kanada berkembang semakin substantif sejalan dengan
prinsip perlindungan hak asasi manusia, terutama “freedom of expression”.
Dalam kasus R vs Koptyo (1987), seorang pengacara didakwa melakukan contempt of court karena membuat pernyataan yang dikutip oleh wartawan media Globe dan Mail sesudah mengikuti sidang pembacaan putusan dalam perkara yang ditanganinya. Ia menyatakan,
“This decision is a mockery of justice. It stinks to high hell. It says that it is okay to break the law and you are immune so long as someone above you said to do it. Mr. Dowson and I have lost faith in the judicial system to render justice”. “We’re wondering what is the point of appealing and continuing this charade of the courts in this country which are warped in favour of protecting the police. The courts and the RCMP are sticking so close together you’d think they were put together with Krazy Glue (Jimly Asshddiqie, 2015: 206).
Pernyataan tersebut menimbulkan masalah di Pengadilan Ontario.
Untuk meluruskan informasi dan mengklarifikasi, pada tanggal 18 Desember 1987 ia kembali diberitakan di Harian Globe dan Harian Mail dengan menyatakan bahwa apa yang diberitakan sebelumnya memang benar pernyataannya. Akibatnya Harry Kaptyo didakwa telah melakukan contempt of court, tetapi 3 dari 5 orang hakim Ontario Court of Appeal membuat putusan dengan suara mayoritas bahwa scandalizing the court principle dalam hukum contempt of court hanya dapat diterima apabila memang terbukti adanya clear and present atau real and imminent danger to the administration of justice.
Dalam pertimbangan putusannya dinyatakan bahwa:
“As a result of their importance, the courts are bound to be the subject of comment and criticism. Not all will wetly reasoned. An unsuccessful litigant may well make comments after the decision is rendered that are not feliciously worded. Some criticism may well be founded, some suggestions for change worth adopting. But the courts are fragile flowers that will wither in the hot heat of controversy….. The courts have functioned well and effectively in difficult times. They are well-regarded in the community because they merit respect. They need not fear criticism nor need to sustain unnecessary barriers to complaint about their operations or decisions” (Jimly Asshddiqie, 2015: 207).
Oleh karena itu, dapat dikatakan jika perkembangan di Kanada mendekati praktik yang ada di Amerika Serikat yang memungkinkan media bersikap kritis terhadap kinerja pengadilan dan bahkan terhadap
putusan pengadilan. Kritik terhadap pengadilan dan putusan pengadilan hanya dapat dinilai sebagai ancaman terhadap kewibawaan pengadilan, jika pernyataan kritis itu benar-benar terbukti constitute a real and imminent danger to the administration of justice, bukan sekedar ancaman yang bersifat hipotetis. Sejak awal abad ke-20, dalam menghadapi kasus contempt of court, terutama yang terkait dengan pelaksanaan prinsip freedom of expression dan freedom of the press, prinsip ini terus dijadikan pegangan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat sampai sekarang.
Contempt of court baru dianggap ada, jika terbukti adanya a real and imminent danger to the administration of justice (Jimly Asshddiqie, 2015:
207).
Bahwa kemudian yang dipraktikkan di Amerika Serikat tersebut tentu besar pengaruhnya bagi perkembangan praktik demokrasi dan kebebasan pers, serta semangat untuk menghormati lembaga peradilan sebagai simbol kekuatan pengimbang demokrasi di seluruh dunia. Di satu pihak, demokrasi harus diimbangi oleh rule of law (dan rule of ethics).
Tetapi rule of law yang tercermin dalam independensi dan kewibawaan pengadilan serta sikap hormat kepada hakim dan lembaga peradilan juga jangan sampai menghalang-halangi kebebasan dan tuntutan akan pelayanan keadilan yang terbuka dan dapat dipercaya. Di zaman sekarang, tradisi penghormatan yang biasa diberikan terhadap hakim dan lembaga peradilan terus tumbuh dan harus menyesuaikan diri dengan tuntutan- tuntutan baru dalam perkembangan masyarakat demokratis. Di samping diperlukan perlindungan terhadap kewibawaan dan kehormatan hakim dan lembaga peradilan, tuntutan akan jaminan kebebasan berekspresi, kebebasan pers, keterbukaan, partisipasi, dan akuntabilitas publik juga terus meningkat dimana lembaga peradilan juga berkewajiban memenuhinya (Jimly Asshddiqie, 2015: 208).
Harus diakui, banyak sarjana yang menyatakan bahwa doktrin contempt of court ini tidak dikenal dalam tradisi civil law. Menurut John Henry Merryman, Rogelio Pérez-Perdomo (2007) menyatakan bahwa :
“Civil law jurisdictions have nothing comparable to the common law notion of civil contempt of court”.
Namun, dikatakan oleh Michael Chesterman, doktrin contempt of court dalam pengertian dan kewenangannya yang luas memang tidak dikenal dalam tradisi civil law. Akan tetapi, di banyak negara civil law juga diatur mengenai larangan merendahkan martabat pejabat umum, mengeritik hakim dan lembaga peradilan. Misalnya, dalam KUHP, yang berasal dari Wetboek van Strafrechts Belanda, juga diatur larangan merendahkan martabat pengadilan mulai dari Pasal 207 sampai dengan Pasal 233. Bahkan, dalam kaitannya dengan kebebasan berekspresi, ada juga doktrin dengan fungsi yang sejenis yang juga diterapkan di negara- negara civil law. Misalnya, dalam Pasal 207 dan Pasal 208 KUHP dan dalam Artikel 9-1 Kode Civil Perancis, juga diatur mengenai asas praduga tidak bersalah yang juga dikaitkan dengan publikasi. Demikian pula di Belanda dan Jerman serta negara-negara dengan tradisi civil law di Eropa Barat, semua memiliki instrumen hukum untuk melindungi kewibawaan dan kehormatan hakim dan lembaga pengadilan (Jimly Asshddiqie, 2015:
209).
Dari perkembangan yang terjadi di banyak negara, terutama di Amerika Serikat, harus dicatat adanya perubahan dalam cara pandang umat manusia tentang martabat dan kehormatan peradilan. Di satu pihak, perkembangan demokrasi tidak dapat dipisahkan dari tegaknya keadilan dan rule of law. Oleh karena itu, muncul doktrin democracy and the rule of law sebagai dua konsep yang saling berpasangan satu sama lain.
Demokrasi membuka ruang kebebasan, sedangkan rule of law menjamin keadilan dan tertib sosial. Dalam demokrasi, rakyat yang berdaulat, sedangkan dalam prinsip rule of law hukumlah yang dianggap sebagai panglima yang dikaitkan dengan istilah nomokrasi atau rechtsstaat. Bahwa keduanya dianggap saling melengkapi, maka demokrasi yang dianggap ideal adalah demokrasi yang berdasar atas hukum yang disebut dengan istilah constitutional democracy, sedangkan dari konsepsi Negara Hukum,
yang diidealkan adalah democratische rechtsstaat atau democratic rule of law (Jimly Asshddiqie, 2015: 209-210).
Puncak dari sistem negara hukum itu sendiri terletak pada doktrin mengenai Independence of Judiciary yang dipandang sebagai pilar utama negara hukum dan demokrasi. Sehingga dalam perwujudan prinsip negara hukum, kewibawaan dan kehormatan lembaga-lembaga peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi menjadi sangat penting. Tidak akan ada demokrasi tanpa hukum yang tegak dan berkeadilan. Tidak akan ada keadilan tanpa lembaga peradilan yang terpercaya dan dihormati. Karena itu, di tengah gelombang kebebasan di segala bidang kehidupan, penghormatan atas martabat dan kewibawaan peradilan perlu mendapatkan perhatian yang seksama. Sebagai akibat demokrasi dan demokratisasi, dimana-mana orang merasakan kebebasan berpendapat dan berekspresi, dan terkadang dengan cara yang sangat vulgar. Ketiga sistem norma belum terbentuk dan efektif berfungsi, kebebasan yang dibuka secara tiba-tiba melalui reformasi nasional, tidak selalu berdampak positif. Ada saja orang yang menyalahgunakan kebebasan itu untuk kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain (Jimly Asshiddiqie, 2015: 210).
Di tengah gelombang demokrasi dan demokratisasi yang luas itu, (i) muncul kebebasan yang luas dan terbuka di segala bidang kehidupan;
(ii) semakin luas pula tuntutan masyarakat akan partisipasi di segala bidang kehidupan bersama; yang (iii) diikuti oleh berkembangnya tuntutan akan akuntablitas publik yang lebih meningkat; dan (iii) tuntutan akan pelayanan professional yang juga meningkat, sehingga dibutuhkan efektifitas standar-standar etika professional yang semakin fungsional dan dapat mencegah munculnya tuntutan untuk kriminalisasi profesi yang juga menguat. Jika sistem etika professional tidak berfungsi dengan baik, dapat dipastikan tuntutan akan peningkatan mutu pelayanan akan diiringi oleh tuntutan kriminalisasi sebagai response yang logis dan rasional untuk mengawal kepentingan umum yang terabaikan oleh kualitas pelayanan
profesi yang tidak meningkat dari waktu ke waktu (Jimly Asshiddiqie, 2015: 210).
Sementara untuk memahami Contempt of Court di Indonesia, dengan mengutip buku Naskah Akademis Contempt of Court 2002 terbitan Puslitbang Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, istilah contempt of court pertama kali ditemukan dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung butir 4 alinea ke 4 yakni:
“Selanjutnya untuk dapat lebih menjamin terciptanya suasana yang sebaik-baiknya bagi penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan yang mengatur penindakan terhadap perbuatan, tingkah laku, sikap dan/atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat dan kehormatan badan peradilan yang dikenal dengan Contempt of Court. Bersamaan dengan introduksi terminologi itu sekaligus juga diberikan definisnya”.
Selanjutnya menurut Hasbullah F Syawie, contempt of court dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang sungguh secara sengaja dilakukan, yang dipandang dapat mempermalukan kewibawaan dan martabat pengadilan atau merintangi pengadilan di dalam menjalankan peradilan yang dilakukan oleh seseorang sebagai pihak yang berperkara maupun oleh orang lain yang bukan pihak dalam berperkara (Wahyu Wagiman, 2005:7).
Kemudian Luhut M.P Pangaribuan berpendapat bahwa Contempt of Court klasifikasinya bisa bersifat langsung atau tidak langsung, bersifat pidana atau perdata tergantung pada peristiwanya, Contempt of Court secara tidak langsung lebih potensial dilakukan oleh wartawan. Dalam konteks ada perilaku langsung dan tidak langsung bersifat pidana atau perdata, siapa saja dalam mengikuti sidang bersikap telah merendahkan, merusak, melecehkan wibawa pengadilan maka Hakim yang telah demikian besar (absolut) kekuasaanya diberikan oleh KUHP dan KUHAP
tidak memerlukan kewenangan tambahan
(https://www.hukumonline.com/index.php/klinik/detail/lt514052dfdcf3b/d efinisi-contempt-of-court diakses pada 10 Oktober 2018 pukul 20.58 WIB).
Mencermati beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa contempt of court dapat dilakukan oleh orang yang terlibat dalam suatu proses perkara maupun tidak, di dalam maupun diluar pengadilan, dilakukan secara aktif ataupun pasif yang ditujukan untuk mempermalukan kewibawaan dan martabat pengadilan di dalam menjalankan peradilan.
Mengamati kepustakaan common law sering dinyatakan bahwa contempt of court dapat juga diartikan sebagai setiap perbuatan atau tidak berbuat yang bermaksud mencampuri atau mengganggu sistem atau proses penyelenggaraan peradilan yang seharusnya (the due administration of justice) (Wahyu Wagiman, 2005:7-8).
Perbuatan yang dikualifikasikan Contempt of Court menurut Civil Law System yang bertujuan untuk melindungi badan-badan peradilan agar supaya menjaga efektivitas sistem peradilan berfungsi secara baik dan wajar dan diatur dalam kodifikasi perundang-undangan negara-negara yang menganut civil law. Peraturan-peraturan yang berkenaan dengan recht pleging ini tidak dengan istilah tindak pidana Contempt of Court, tetapi dikenal dengan istilah tindak pidana terhadap penyelenggaraan peradilan, oleh karena sistem Civil Law maka tindak pidana terhadap penyelenggaraan peradilan di atur dalam KUHP (Ruby Hadiarti Johny, 2009:138-139).
Mencermati buku-buku literatur tentang Contempt of Court menunjukkan bahwa ajaran Contempt of Court secara umum dibagi menjadi dua:
1) Civil Contempt of Court
Pelanggaran akibat ketidakpatuhan terhadap putusan atau perintah pengadilan perdata untuk melakukan atau melaksanakan perintah pengadilan guna manfaat atau keuntungan pihak lainnya sehingga terjadi perlawanan terhadap pelaksanaan hukum (an offence against the enforcement of justice). Sanksi terhadap civil contempt ini bersifat paksaan (coercive nature).
2) Criminal Contempt of Court
Perbuatan yang bertujuan mengganggu atau merintangi penyelenggaraan peradilan pidana, sehingga perlawanan terhadap pengadilan dan proses penyelenggaraan peradilan (an offence against the administrator of justice). Sanksi terhadap criminal contempt ini bersifat pidana (primitive nature). Barda Nawawi Arief membagi criminal contempt of court menjadi 7 kelompok, antara lain:
a) Contempt in the face the court, direct contempt in the face Gangguan di muka atau di dalam ruang sidang dapat berupa:
kata-kata jaksa atau perbuatan misalnya mengancam, menghina, serangan fisik kepada hakim, jaksa, penasihat hukum, saksi dan lain-lain.
b) Acts calculated to prejudice the fair trial indirect contempt ex facie
Perbuatan untuk memengaruhi proses peradilan yang tidak memihak ini dilakukan di luar pengadilan, antara lain:
(1) Mengancam, intimidasi, penyuapan, melakukan komunikasi pribadi dengan hakim untuk memengaruhi putusan.
(2) Mengomentari di surat kabar, majalah, televisi mengenai suatu kasus yang sedang berlangsung.
(3) Mempublikasikan sesuatu yang sifatnya memihak atau untuk memengaruhi proses peradilan yang sedang berlangsung atau yang akan datang.
c) Scandalizing in the court
Perbuatan yang memalukan atau menimbulkan skandal bagi pengadilan dengan tujuan untuk menurunkan wibawa pengadilan, seperti perbuatan tercela yang dilakukan oleh hakim.
d) Obstructing Court Officer
Mengganggu pejabat pengadilan seperti mengancam, menyerang, memukul, mengancam hakim, jaksa atau juru sita setelah meninggalkan ruang sidang.
e) Revenge acts done in the course of litigations
Berupa pembalasan terhadap perbuatan yang dilakukan selama proses pengadilan berjalan yaitu perbuatan yang ditujukan pada saksi yang telah bersaksi dari pengadilan.
f) Breach of duty by an officer of the court
Pelanggaran kewajiban oleh pejabat pengadilan seperti, petugas lembaga pemasyarakatan yang menahan dokumen atau surat narapidana yang dikirimkan kepada pengacaranya.
g) Contempt of court by advocates
Pelanggaran yang dilakukan oleh advokat, seperti mengadakan kesepakatan dnegan pihak lawan dari pihak yang dibantunya, yang dapat merugikan kepentingan pihak yang dibantunya atau berusaha memenangkan pihak yang dibantunya, meminta imbalan dengan maksud memengaruhi saksi, juru bahasa, penyidik, penuntu umum atau hakim dalam perkara yang bersangkutan.
Selain pembagian criminal contempt dan civil contempt, dalam praktik sehari-hari Contempt of court dibedakan menjadi:
1) Direct Contempt of Court
Black’s Law Dictionary mendefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan secara langsung dan di hadapam pengadilan atau di sekitar lingkungan pengadilan dengan maksud untuk merintangi atau mengganggu jalannya peradilan yang tertib. Sebagai contoh direct contempt of court adalah:
a) Di dalam ruang sidang dan selama persidangan sedang berlangsung;
b) Di dalam ruang sidang tetapi di luar persidangan;
c) Di luar ruang sidang dan gedung pengadilan, tetapi di pekarangan atau di sekitar gedung pengadilan, seperti unjuk rasa besar-besaran dengan pengeras suara yang mengganggu persidangan
2) Constructive (inderect) Contempt
Black’s Law Dictionary mendefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan tidak di depan pengadilan atau di sekitar pengadilan, tetapi bermaksud untuk merintangi atau menggagalkan administrasi peradilan dan biasanya para pihak berkenan dengan melalaikan atau penolakan para pihak untuk mematuhi perintah yang sah, keputusan atau surat keputusan pengadilan yang diberikan pada para pihak untk melaksanakan kewajibannya untuk tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh indirect contempt of court adalah:
a) Pernyataan-pernyataan yang merendahkan hakim dan pengadilan secara terbuka di media massa cetak, elektronik, atau media sosial;
b) Pernyataan-pernyataan yang merendahkan hakim melalui surat atau tulisan yang ditujukan kepada pihak-pihak lain, selain kepada hakim dan para pihak yang berpekara dan pihak-pihak yang berperan atau memberikan keterangan dalam proses persidangan peradilan, dengan tujuan mempengaruhi independensi dan imparsialitas pengadilan;
c) Keterlibatan fisik dalam kegiatan unjuk rasa dan pernyataanpernyataan terbuka advokat dan pihak-pihak yang dikalahkan oleh putusan pengadilan dengan nada merendahkan hakim dan tidak menghormati putusan pengadilan;
d) Penolakan untuk melaksanakan perintah atau putusan pengadilan;
e) Perbuatan mengganggu dan menghalang-halangan hakim dan pejabat pengadilan lainnya dalam menjalankan tugasnya;
f) Tindakan pembalasan terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh para pihak selama proses peradilan berjalan.
Selain perbedaan yang telah diuraikan di atas, terdapat juga bentuk-bentuk konstitutif dari perbuatan pidana contempt of court, yaitu:
1) Misbehaving in Court (Berperilaku Tercela dan Tidak Pantas di Pengadilan);
Pelanggaran pelaksanaan proses persidangan yang berbentuk penghinaan terhadap hakim, pemukulan/ yang dilakukan terdakwa terhadap saksi, tidak mau berdiri ketika majelis hakim memasuki ruang pengadilan ataupun penasihat hukum yang tidak menunjukkan sikap hormat terhadap pengadilan.
2) Disobeying Court Orders (Tidak Mentaati Perintah Pengadilan);
Perbuatan yang tidak mentaati perintah pengadilan yang dapat merendahkan kekuasaan, kewibawaan dan kehormatan pengadilan.
3) Scandalizing the Court (Menyerang Integritas dan Impartialitas Pengadilan);
Ruang lingkupnya meliputi tuduhan yang secara langsung ditujukan pada hakim tertentu atau pejabat pengadilan dan kritik- kritik terhadap keputusan dari pengambil keputusan.
4) Obstructing Justice (Menghalangi Jalannya Penyelenggaraan Peradilan);
Perbuatan yang ditujukan atau yang mempunyai efek memutarbalikkan, mengacaukan fungsi yang seharusnya dalam suatu proses peradilan. Hal ini merupakan gangguan terhadap proses peradilan dimana terdapat usaha untuk mengurangi kebaikan (fairness) ataupun efisiensi dari proses peradilan maupun terhadap lembaga peradilan.
5) Sub-Judice Rule (Penghinaan Terhadap Pengadilan dengan Cara Pemberitahuan/ Publikasi);
The Sub judice rule ialah suatu aturan umum yang menyatakan bahwa tidak diperbolehkan publikasi untuk mencampuri peradilan
yang bebas dan tidak memihak untuk suatu kasus yang sedang atau akan diperiksa di pengadilan. The Sub judice rule dilaksanakan berdasarkan the prejudgement principle, yaitu prinsip untuk melindungi warga masyarakat untuk memasuki sistem hukum tanpa rintangan.
Di negara-negara yang menganut sistem common law yang peradilannya menggunakan sistem juri, the sub judice rule dilaksanakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bahwa:
a) Juri mudah terpengaruh dengan pemberitaan-pemberitaan mengenai jalannya peradilan dimana mereka menjadi anggota panel.
b) Pemberitaan harus dibatasi untuk meminimalkan resiko bahwa juri mungkin akan dibelokkan dari tugas mereka.
Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa pemberitaan-pemberitaan akan memengaruhi putusan akhir dari juri yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas keputusan yang diambil dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan.
Menurut Jimly Asshiddiqie, perbuatan yang dikualifikasikan sebagai contempt of court tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja.
Namun, untuk kepentingan pengaturan mengenai contempt of court, perbuatan dimaksud perlu dibatasi hanya sepanjang yang dilakukan oleh:
1) Pejabat negara atau pejabat pemerintahan yang harus saling menghormati antar pejabat negara, baik (a) yang terlibat dalam proses persidangan di pengadilan, maupun (b) yang tidak terlibat dalam proses persidangan di pengadilan;
2) Penyandang profesi yang harus saling menghormati antar profesi, terutama para advokat dan jaksa penuntut, baik (a) yang terlibat dalam proses persidangan di pengadilan, maupun (b) yang tidak terlibat dalam proses persidangan di pengadilan;
3) Jurnalis dan pengelola industri media yang memberitakan atau mempublikasikan informasi tentang dan yang berasal persidangan di pengadilan;
Berdasarkan ketentuan KUHAP, pasal-pasal yang dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan Contempt of Court adalah:
1) Pasal 217 yang menentukan, (1) Hakim ketua sidang memimpin pemeriksaan dan memelihara tata tertib di persidangan; (2) Segala sesuatu yang diperintahkan oleh hakim ketua sidang untuk memelihara tata tertib di persidangan wajib dilaksanakan dengan segera dan cermat;
2) Pasal 218 yang menentukan, (1) Dalam ruang sidang siapa pun wajib menunjukkan sikap hormat kepada pengadilan; (2) Siapa pun yang di sidang pengadilan bersikap tidak sesuai dengan martabat pengadilan dan tidak mentaati tata tertib setelah mendapat peringatan dari hakim ketua sidang, atas perintahnya yang bersangkutan dikeluarkan dari ruang sidang; (3) Dalam hal pelanggaran tata tertib sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bersifat suatu tindak pidana, tidak mengurangi kemungkinan dilakukan penuntutan terhadap pelakunya;
3) Penjelasan Pasal 218 ini menyatakan bahwa tugas pengadilan luhur sifatnya, karena tidak hanya bertanggung jawab kepada hukum, sesama manusia dan dirinya, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, setiap orang wajib menghormati martabat lembaga ini, khususnya bagi mereka yang berada di ruang sidang sewaktu persidangan sedang berlangsung bersikap hormat secara wajar dan sopan serta tingkah laku yang tidak menyebabkan kegaduhan atau terhalangnya persidangan.
Dalam peraturan Perundang-undangan lainnya, seperti misalnya, Keputusan Menteri Kehakiman No.01/M.01.PW.07.03 Th.1982 tentang Pedoman Pelaksanaan KUHAP juga menyinggung tentang kemungkinan adanya Contempt of Court, sehingga perlu diberikannya kewenangan bagi
hakim yang memeriksa perkara di persidangan untuk menjaga ketertiban selama sidang berlangsung. Dalam Keputusan ini ditegaskan bahwa KUHAP mengisyaratkan adanya keharusan sifat terbuka dalam sidang- sidang pengadilan. Hal ini dianggap mencerminkan asas demokrasi di bidang pengadilan dan tidak dapat dilepaskan dari fungsi pers untuk mengadakan pemberitaan, reportase tentang jalannya peradilan. Dalam persidangan pengadilan yang terbuka itulah pemeriksaan dijalankan seobjektif mungkin dan dihadiri oleh khalayak ramai dengan tertib agar dapat mengikuti atau mengawasi jalannya pemeriksaan.
Kemudian ketentuan dalam KUHP yang dapat dikaitkan dengan pengertian perbuatan Contempt of Court terdapat dalam 18 pasal, yaitu (Jimly Asshiddiqie, 2015: 213):
1) Pasal 207, pernyataan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia;
2) Pasal 208, perbuatan menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum suatu tulisan atau lukian yang memuat penghinaan terhadap suatu penguasa atau badan umum;
3) Pasal 209, perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang pejabat dengan maksud menggerakkannya untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya;
4) Pasal 210, perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seorang hakim, penasihat atau adviseur;
5) Pasal 211, perbuatan memaksa seorang pejabat untuk melakukan perbuatan jabatan atau untuk tidak melakukan perbuatan jabatan yang sah;
6) Pasal 212, perbuatan melawan seorang pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah;
7) Pasal 216, perbuatan tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut Undang-Undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu;
8) Pasal 217, perbuatan menimbulkan kegaduhan dalam sidang pengadilan;
9) Pasal 220, pengaduan palsu;
10) Pasal 221, menyembunyikan orang yang melakukan tindak pidana;
11) Pasal 222, mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk kepentingan pengadilan;
12) Pasal 223, melepaskan atau memberi pertolongan ketika meloloskan diri kepada orang yang ditahan atas perintah penguasa umum, atas putusan atau ketetapan hakim;
13) Pasal 224, perbuatan sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut Undang-Undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban;
14) Pasal 233, perbuatan merusak/menghilangkan barang bukti;
15) Pasal 242, keterangan palsu;
16) Pasal 420, seorang hakim yang menerima hadiah atau janji;
17) Pasal 422, seorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana, menggunakan sarana paksaan baik untuk memeras pengakuan maupun untuk mendapatkan keterangan; dan
18) Pasal 522, saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum.
Sifat terbukanya suatu proses peradilan bukanlah terletak pada kenyataan adanya orang yang keluar masuk ruang sidang pengadilan, tetapi terletak pada pemberitaan atau publikasi oleh media yang bebas pers dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun demikian, dari segi yang lain, pemberitaan dan publikasi yang bebas dan terbuka itu juga jangan sampai menyebabkan prinsip fair administration of justice menjadi terganggu. Persidangan terbuka demi keadilan menangkut hak seseorang untuk diadili secara terbuka, tetapi juga tidak boleh mengakibatkan ia diadili oleh “publik” melalui trial by the press. Oleh sebab itu, hakim ketua sidang diwajibkan menjaga jalannya persidangan dengan tertib. Ketertiban di ruang sidang pengadilan tidak boleh
dilanggar oleh siapapun. Para pelaku pelanggaran tata tertib persidangan dapat diancam sebagai tindak pidana menurut ketentuan Pasal 218 KUHAP.
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran Keterangan:
Pengaturan asas sidang pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum dapat ditemukan dalam Pasal 153 ayat (3) KUHAP, Pasal 195 KUHAP dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mulanya hanya dimaknai sebatas ruang sidang pengadilan, namun seiring perkembangan teknologi informasi, persidangan suatu perkara dapat disiarkan melalui media televisi secara langsung (live) atau siaran tidak langsung (ulang). Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan pemberitaan atau kritik/komentar terhadap suatu perkara yang disidangkan dan berpotensi menggiring pada perbuatan Contempt of Court.
Oleh karena itu, peneliti berusaha menelaah bagaimana perluasan yang terjadi pada asas Asas Sidang Pemeriksaan Pengadilan
Terbuka Untuk Umum
Pemaknaan sebatas ruang sidang
Pengadilan
Dasar hukum : - Pasal 153 ayat (3)
KUHAP
- Pasal 195 KUHAP - Pasal 13 Undang-
Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
Seiring perkembangan teknologi informasi, persidangan suatu perkara disiarkan melalui media televisi secara langsung (live) atau siaran tidak langsung (ulang)
Muncul pemberitaan atau kritik/komentar terhadap suatu perkara yang disidangkan secara terbuka melalui media massa
Perbuatan Contempt of Court
Bukan perbuatan Contempt of Court
sidang pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum dan apa akibat yang ditimbulkan dari perluasan asas tersebut.