• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Guru Pembimbing Khusus (GPK) dalam Sekolah Inklusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. A. Guru Pembimbing Khusus (GPK) dalam Sekolah Inklusi"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Guru Pembimbing Khusus (GPK) dalam Sekolah Inklusi 1. Pengertian Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi merupakan bentuk penerapan dari pendidikan inklusi, yaitu praktik yang memiliki tujuan untuk memenuhi hak asasi manusia untuk mengenyam pendidikan tanpa adanya diskriminasi. Hal ini dilakukan dengan memberikan pendidikan berkualitas secara menyeluruh, sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dalam lingkungan yang sama (Cartwright, 1985 dalam Astuti, 2011). Di Indonesia, pendidikan inklusi diartikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Nasichin (2003) mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah proses pembelajaran yang ditujukan agar anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan di sekolah reguler sehingga menciptakan kesempatan untuk dapat mempersiapkan diri untuk hidup bermasyarakat dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. Pada sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Hal ini dikarenakan ABK meliputi yang memiliki gangguan bicara, cacat tubuh, tuli, buta, retardasi

(2)

mental, gangguan emosional, serta anak-anak dengan intelegensi tinggi (Lukman, 2017).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 129 Ayat 3 menjelaskan bahwa:

“Peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain;

dan memiliki kelainan lain”

Oleh karena itu, program inklusi telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa agar setiap dari mereka akan mencapai keberhasilan. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Kustawan (2012) yang mengatakan bahwa, pendidikan inklusi merupakan suatu sistem pendidikan yang terbuka dan mengakomodasi seluruh kebutuhan siswa sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Tujuan pendidikan inklusi menurut Nasichin (2003) adalah untuk memberikan pendidikan bagi semua siswa yang memiliki kesulitan belajar dan siswa yang memerlukan pendidikan khusus agar potensi kogntif, afektif, dan psikomotor yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Hal ini dimaksudkan agar ABK dapat hidup secara mandiri bersama dengan anak normal lainnya. Melalui prinsip pendidikan, ABK juga diharapkan dapat turut serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Ilahi (2013) menjabarkan dua tujuan dari adanya pendidikan inklusi, yaitu:

(3)

a. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh siswa, baik mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, atau sosial maupun memiliki bakat istimewa untuk dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing,

b. Mewujudkan terselenggarakannya pendidikan yang tidak diskriminatif serta menghargai keanakeragaman seluruh peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, pendidikan inklusi membutuhkan elemen dasar sebagai benang merah. Abdurrahman (2002) menjelaskan bahwa, terdapat sembilan elemen dasar yang dibutuhkan dalam melaksanakan sekolah inklusi, yaitu:

a. Sikap guru yang positif terhadap keberagaman siswa,

b. Adanya sikap untuk saling menolong dan memberikan motivasi dalam proses belajar,

c. Pencapaian kompetensi akademik dan sosial, d. Pembelajaran adaptif,

e. Adanya saling tukar informasi antarprofesi untuk memperoleh keputusan legal dan intruksional yang berhubungan dengan siswa yang membutuhkan layanan pendidikan khusus,

f. Hidup dan belajar dalam masyarakat,

g. Terjalinnya mitra antara sekolah dan keluarga, h. Belajar dan berpikir independen,

i. Belajar sepanjang hayat.

(4)

Berkaitan dengan elemen dasar tersebut, Departemen Pendidikan Nasional (2011) menjelaskan bahwa, terdapat tiga komponen dalam pendidikan inklusi, yaitu kurikulum, guru, dan peserta didik. Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Pasal 3, jenis guru berdasarkan sifat, tugas, dan kegiatannya meliputi guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru bimbingan dan konseling/konselor.

Secara umum, kegiatan pembelajaran guru di sekolah inklusi didampingi oleh guru pembimbing khusus (GPK).

Berdasarkan penjelasan tersebut, disimpulkan bahwa sekolah inklusi merupakan suatu sistem pendidikan yang menempatkan anak siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler dalam satu kelas yang sama dimana terdapat guru kelas dan GPK dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar.

2. Pengertian Guru Pembimbing Khusus (GPK)

Menurut Rudiyati (2005), GPK merupakan tenaga inti dalam sistem pendidikan inklusi yang berperan sebagai seorang tenaga pendidik untuk memberikan pelayanan kependidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan umum.

Kamala (2014) mendefinisikan GPK sebagai seorang asisten pendidikan yang bertugas untuk mendampingi seorang siswa berkebutuhan khusus di tahun-tahun pertama sekolah. Asisten pendidikan ini mampu memahami dan menghadapi berbagai siswa dengan kebutuhan khususnya

(5)

masing-masing sehingga siswa dapat belajar di kelas reguler sambil menerima perhatian khusus yang dibutuhkan.

Lebih lanjut, dalam Peraturan Walikota Surakarta Nomor 25A tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Pasal 1 menjelaskan bahwa GPK merupakan seseorang yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi di bidang pendidikan luar biasa/pendidikan khusus yang menjalankan tugas profesinya di sekolah inklusif.

GPK merupakan salah satu komponen yang wajib dimiliki oleh sekolah inklusi. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 10 Ayat 1 menyebutkan bahwa,

“Pemerintah kabupaten/kota wajib menyediakan paling sedikit 1 (satu) orang guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif”

Lebih lanjut, dalam Peraturan Walikota Surakarta Nomor 25A tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Pasal 16 Ayat 1 yaitu,

“Satuan pendidikan yang ditunjuk Pemerintah Daerah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif wajib menyediakan paling sedikit 1 (satu) orang GPK”

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, disimpulkan bahwa guru pembimbing khusus (GPK) adalah seorang guru dengan latar belakang pendidikan khusus atau telah mendapat pendidikan khusus yang bertugas mendampingi siswa berkebutuhan khusus di sekolah guna mencapai tujuan

commit to user

(6)

3. Tugas Guru Pembimbing Khusus (GPK)

Pada umumnya, seorang GPK bekerja sama dengan guru pendidikan reguler untuk memodifikasi tugas dan materi agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain itu, GPK juga memberi bantuan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas (Evertson & Emmer, 2009) sehingga dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan sekolah inklusi memerlukan kolaborasi antara guru kelas dan GPK.

Dalam Peraturan Walikota Surakarta Nomor 25A tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Pasal 16 Ayat 4, tugas GPK meliputi:

a. Merancang dan melaksanakan program kekhususan/kompensatoris, b. Melakukan proses identifikasi, asesmen, dan menyusun program

pembelajaran bersama dengan tenaga profesional yang lain,

c. Melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik,

d. Mendampingi peserta didik PK dan PLK dalam mengikuti proses pembelajaran,

e. Membantu guru lain dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil belajar peserta didik berkebutuhan khusus,

f. Membuat laporan program dan perkembangan peserta didik, dan

g. Memfasilitasi terjadinya kolaborasi antara guru, peserta didik, orangtua, dan tenaga profesional lain dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien bagi peserta didik PK dan PLK.

Secara khusus, tugas GPK menurut Rudiyati (2005) yaitu:

(7)

a. Menyelenggarakan administrasi khusus, b. Melakukan assesmen,

c. Menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI) bagi siswa ABK, d. Memberi bimbingan khusus bagi siswa ABK,

e. Mengajar kompensatif,

f. Berkomunikasi untuk menjelaskan proses belajar di kelas, g. Mengadakan dan mengelola alat bantu ajar,

h. Melakukan konseling keluarga,

i. Mengembangkan konsep pendidikan inklusi,

j. Menjalin komunikasi dengan seluruh pihak yang berhubungan dengan pelaksanaan program pendidikan inklusi.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tugas guru pembimbing khusus (GPK) adalah untuk membantu proses pengembangan potensi ABK dalam proses pembelajaran di kelas serta berkomunikasi dengan seluruh pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program inklusi.

4. Guru Pembimbing Khusus (GPK) di Surakarta

Realitas atau kenyataan yang terdapat di lapangan mengenai guru pembimbing khusus (GPK) di Surakarta peneliti dapatkan dari hasil wawancara peneliti dengan Pak Y selaku koordinator inklusi kota Surakarta (2019). Beliau menjelaskan bahwa, awalnya guru pembimbing khusus (GPK) berjumlah lima orang pada tahun 2008-2009. Kemudian jumlah tersebut semakin meningkat, terutama pada tahun 2013 ketika Solo mencanangkan diri sebagai kota inklusi. Hingga Januari 2019, Dinas Pendidikan kota

(8)

Surakarta mencatat terdapat 136 guru pembimbing khusus (GPK) yang tersebar di 69 sekolah inklusi.

Pada sekolah swasta, terdapat dua status GPK, yakni sebagai guru tetap yayasan dan guru tidak tetap. Sementara pada sekolah negeri, pada umumnya GPK adalah seorang guru kelas, guru mata pelajaran, atau guru bimbingan konseling yang ditunjuk oleh pihak sekolah sebagai GPK. Namun, terdapat pula GPK lepas yang biasanya disiapkan langsung oleh orang tua siswa atau biasa disebut juga dengan guru tidak tetap.

Perbedaan antara guru tetap dan tidak tetap terletak pada gaji, fasilitas, serta kontrak yang dimiliki masing-masing guru. Guru tetap yang merupakan guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau penyelenggara pendidikan memiliki tunjangan yang berbeda dengan guru tidak tetap.

Tunjangan profesi mengenai guru tetap diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru Pasal 18 yang berbunyi,

“Tunjangan profesi bagi Guru yang diangkat oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang didirikan Masyarakat dianggarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru Pasal 23 juga menjelaskan bahwa, guru tetap bukan pegawai negeri sipil juga mendapat tunjangan sesuai dengan kesetaraan tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang berlaku bagi Guru pegawai negeri sipil.

(9)

Menurut hasil wawancara dengan Pak Y selaku koordinator inklusi kota Surakarta (2019), tunjangan yang diterima oleh GPK rata-rata berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000 per bulannya. Namun, hal tersebut berbeda- beda di tiap satuan pendidikan yang menyelenggarakan inklusi. Beliau mengatakan bahwa, permasalahan mengenai honor ini terkadang menjadi titik jenuh bagi seorang GPK. Oleh karenanya, hal ini menjadi salah satu alasan mengapa sarjana pendidikan khusus lebih memilih menjadi guru di sekolah luar biasa dibanding menjadi GPK dengan status yang masih belum jelas.

Idealnya, satu GPK mendampingi satu siswa. Namun, ada pula GPK yang mendampingi dua hingga tiga siswa tergantung dengan kebutuhannya.

Siswa yang mampu bersosialisasi maupun mengerjakan activity daily living secara mandiri biasanya tidak didampingi khusus oleh satu GPK. Hal ini dilakukan untuk satu tujuan, yakni siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus dapat mencapai perkembangan dan hasil belajar yang optimal.

Keberadaan GPK ini kemudian tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) yang awalnya diprakarsai oleh Bapak Yuwono. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 tahun 2009 Pasal 10 (5), KKG merupakan salah satu upaya peningkatan kompetensi GPK, dimana terdapat pertukaran informasi atau pelatihan bagi GPK. Saat ini, KKG Surakarta diketuai oleh Bapak Gigih dan rutin mengadakan pertemuan tiap satu bulan sekali.

Pertemuan rutin inilah yang menjadi sarana para GPK saling bertukar informasi dan pengalaman selama mengajar. Tak jarang, kegiatan ini diisi

(10)

dengan materi atau pelatihan kemampuan yang dibutuhkan. Dalam pelaksanannya, KKG berlokasi di tiap-tiap sekolah inklusi di kota Surakarta dan digilir setiap bulannya.

Meski demikian, hingga saat ini penggunaan istilah GPK masih berbeda di tiap sekolah. Beberapa sekolah yang peneliti temui menggunakan istilah guru pendamping khusus, meski sekarang istilah tersebut sudah tidak berlaku lagi dan telah diganti dengan istilah guru pembimbing khusus atau guru pendidikan khusus, sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

Secara spesifik, kualifikasi yang dimiliki oleh guru pembimbing khusus dan guru pendidikan khusus berbeda. Jika guru pembimbing khusus dapat berasal dari latar belakang pendidikan guru yang beragam dan telah mendapat pelatihan pendidikan khusus, maka guru pendidikan khusus setidaknya memiliki tiga hal lainnya, yaitu memiliki ijazah sarjana pendidikan luar biasa (PLB), keterampilan, serta sertifikasi sebagai tenaga pendidikan khusus.

Namun dalam keberjalanannya, tugas yang dimaksud adalah sama, yakni sebagai guru yang bertugas membantu ABK dalam proses pembelajaran di sekolah inklusi.

Tipe siswa berkebutuhan khusus yang diajar pun berbeda-beda karena tiap sekolah menyesuaikan dengan kesiapan dan kemampuan guru. Ada sekolah yang hanya menerima siswa lamban belajar, ada pula sekolah yang

(11)

menerima bermacam tipe siswa. Hal ini disebabkan ABK membutuhkan guru yang dapat menyesuaikan diri dengan kondisi dirinya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan optimal.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, realitas GPK yang ada di Surakarta mengalami perkembangan jumlah yang cukup pesat.

Hal ini juga didukung oleh adanya forum KKG sebagai sarana tukar informasi antar GPK se-Surakarta. Meski demikian, masih terdapat banyak permasalahan internal maupun eksternal sehingga dibutuhkan upaya dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas GPK yang ada di Surakarta.

B. Kompetensi Guru Pembimbing Khusus (GPK) di Surakarta 1. Pengertian Kompetensi Guru Pembimbing Khusus (GPK)

Pelaksanaan pendidikan inklusi akan efektif bila didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjalankan sekolah dan menerapkan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik peserta didik (Mulyadi, 2011). Sebagai seorang profesional, guru dituntut untuk memiliki kompetensi keguruan yang baik (Yunus, 2016).

Kompetensi berasal dari bahasa Inggris competence yang berarti kecakapan atau kemampuan. Menurut KBBI, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu). Secara istilah, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang pendidik dalam melaksanakan tugas secara profesional (Sembiring, 2008).

(12)

Kompetensi menurut Muhibbin (2000) adalah kemampuan, kecakapan, atau keadaan yang memenuhi persyaratan hukum. Lebih lanjut, Muhibbin (2000) menjelaskan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan layak dan penuh tanggung jawab.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 mendefinisikan kompetensi sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Menindaklanjuti Undang-Undang tersebut, muncul Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 172 mengatur bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Kompetensi utama yang harus dipenuhi oleh seorang GPK tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, yaitu meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Selain itu, secara khusus GPK juga berorientasi pada tiga kemampuan utama, yaitu:

a. Kemampuan umum (general ability), yaitu kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik pada umumnya. Kemampuan yang dimaksud berupa memiliki sikap dan ciri sebagai warga negara

(13)

yang berkepribadian dan religius, serta memahami konsep pembelajaran dengan baik.

b. Kemampuan dasar (basic ability), yaitu kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik berkebutuhan khusus. Kemampuan yang dimaksud diantaranya berupa kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan ABK serta dapat merancang dan mengevaluasi alat penunjang pembelajaran.

c. Kemampuan khusus (specific ability), yaitu kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik kebutuhan khusus jenis tertentu. Kemampuan ini berupa kemampuan guru untuk melakukan modifikasi perilaku serta terampil dalam mengajarkan konsep pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus jenis tertentu.

Ketiga kemampuan tersebut perlu dimiliki oleh seorang GPK. Hal tersebut disebabkan karena dalam sekolah inklusi, siswa berkebutuhan khusus bersama-sama ditempatkan dalam satu kelas dengan siswa reguler lain. Selain memiliki kemampuan untuk mendidik peserta didik berkebutuhan khusus, GPK juga memiliki tuntutan untuk dapat membina komunikasi yang baik dengan siswa lain maupun guru kelas yang ada (Rudiyati, 2005).

Penelitian ini berfokus pada kualitas guru yang tercermin dalam pemenuhan kompetensi berdasarkan aspek psikologis, yakni kompetensi kepribadian dan sosial. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tiga GPK di sekolah yang berbeda yang menjelaskan bahwa, pekerjaan mereka yang berhubungan langsung dengan peserta didik

(14)

berkebutuhan khusus namun bukan berada di sekolah luar biasa (SLB) memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan kesabaran dan kemampuan dalam menghadapi anak serta membangun hubungan kerja yang baik dengan guru kelas, pihak sekolah, maupun orang tua siswa.

Pendapat diatas juga didasari atas pendapat Wijaya dan Rusyan (1994) yang mengungkapkan bahwa, berdasarkan berbagai aspek kompetensi yaitu pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat maka jika ditelaah secara mendalam akan mencakup tiga bidang kompetensi pokok seorang guru, yakni kompetensi pribadi, sosial, dan profesional.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, pengertian kompetensi guru pembimbing khusus (GPK) adalah pemenuhan kemampuan seorang guru dalam bidang kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial serta kompetensi khusus dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus dimana guru dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa guna mengembangkan potensi siswa secara maksimal.

2. Kompetensi Kepribadian Guru Pembimbing Khusus (GPK) a. Pengertian Kompetensi Kepribadian GPK

Kepribadian berasal dari bahasa Inggris personality dan bahasa Latin persona yang memiliki arti topeng yang digunakan para aktor dalam suatu pertunjukan (Yusuf & Nurihsan, 2011). Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat khas yang dimiliki individu dan berkembang apabila individu tersebut berhubungan dengan individu lain (Asmani, 2009).

(15)

Kompetensi kepribadian menurut Ni’am (2006) adalah kemampuan kepribadian yang mantap, arif, berwibawa, serta berakhlak mulia dan menjadi telada bagi peserta didik. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 butir b, yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian GPK adalah kemampuan GPK untuk memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi peserta didik.

b. Aspek-aspek Kompetensi Kepribadian GPK

Mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kompetensi kepribadian guru dibagi menjadi lima aspek, yaitu:

1) Kepribadian yang mantap dan stabil

Kepribadian yang mantap dan stabil merupakan perilaku yang sesuai dengan norma hukum dan norma sosial serta bangga sebagai pendidik.

2) Kepribadian yang dewasa

Kepribadian yang dewasa merupakan kemandirian guru dalam bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja.

(16)

3) Kepribadian yang arif

Kepribadian yang arif merupakan perilaku yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta terbuka dalam berpikir dan bertindak.

4) Kepribadian yang berwibawa

Kepribadian yang berwibawa merupakan perilaku yang disegani dan memberi pengaruh positif bagi peserta didik.

5) Berakhlak mulia dan menjadi teladan

Berakhlak mulia dan menjadi teladan merupakan perilaku guru yang sesuai dengan norma religius dan menjadi teladan bagi peserta didik.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat lima aspek kompetensi kepribadian GPK, yaitu kepribadian yang mantap dan stabil, kepribadian yang dewasa, kepribadian yang arif, kepribadian yang berwibawa, dan kepribadian yang berakhlak mulia dan menjadi teladan.

c. Indikator Perilaku Kompetensi Kepribadian GPK

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menjabarkan indikator kompetensi kepribadian sebagai berikut:

1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia,

2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat,

(17)

3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa,

4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri,

5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Asmani (2012) menjelaskan secara mendalam indikator perilaku yang harus dimiliki berkaitan dengan kompetensi kepribadian seorang guru yaitu:

1) Mengetahui dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan keyakinan yang dimilikinya,

2) Memiliki sikap menghormati dan menghargai antarumat beragama, 3) Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma, aturan, dan sistem

nilai yang berlaku di masyarakat,

4) Mencerminkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru,

5) Menunjukkan sikap demokratis serta terbuka terhadap kritik dan pembaruan.

Sifat-sifat yang menggambarkan kompetensi kepribadian juga diungkapkan oleh Wijaya dan Ruslan (1994), yaitu:

1) Mantap dan memiliki integritas, 2) Bersifat terbuka,

3) Kreatif, 4) Berwibawa,

5) Ulet dan tekun bekerja,

(18)

6) Dapat berpikir alternatif, 7) Disiplin,

8) Berupaya memperoleh hasil kerja sebaik-baiknya, 9) Terbuka,

10) Simpatik dan bijaksana dalam bertindak.

Chaerul dan Heri (2016) menjabarkan ragam indikator perilaku guru sebagai berikut:

1) Pribadi yang Displin

Tiga hal penting dalam disiplin yaitu sikap mental, waktu, dan ketepatan. Guru yang memiliki sikap disiplin biasanya akan datang dan pulang tepat waktu, mengajar dengan penuh rasa tanggung jawab, menaati peraturan yang berlaku di sekolah, serta antusias dalam mengerjakan tugas.

2) Pribadi yang Jujur dan Adil

Guru yang jujur akan berani mengatakan tidak tahu jika belum tahu, tidak suka berdusta baik kepada dirinya maupun orang lain. Guru yang adil tidak memilah dalam memperlakukan siswa, serta menempatkan siswa sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masing-masing.

3) Pribadi Berakhlak Mulia

Guru dapat memberikan nasihat baik kepada siswanya, menjadi teladan, serta memiliki kesabaran yang tinggi.

(19)

4) Pribadi Teladan

Guru teladan dapat menjadi cermin bagi siswa, dengan selalu berusaha mempraktikkan norma agama, menghiasi wajah dengan senyum, menjaga kebersihan diri dan pakaian, serta mengingatkan siswa jika berbuat kesalahan.

5) Pribadi yang Mantap

Guru berpenampilan tenang saat mengajar, tidak mudah terpengaruh, serta sabar dan teliti dalam menghadapi setiap permasalahan.

6) Pribadi yang Stabil

Guru dapat mengendalikan emosinya sehingga tidak membawa dampak yang tidak baik bagi siswa.

7) Pribadi Dewasa

Guru yang dewasa memiliki rasa tanggung jawab dan mencerminkan kepribadian yang dewasa.

8) Pribadi yang Arif dan Penyabar

Guru berusaha untuk mengoptimalkan segala potensi siswa serta tidak mudah tersinggung dan berfokus pada penyelesaian masalah.

9) Pribadi Berwibawa

Guru memiliki pengetahuan yang luas mengenai bidangnya dan mampu mengambil keputusan secara independen.

(20)

10) Pribadi yang Memiliki Rasa Percaya Diri

Guru yang memiliki rasa percaya diri yang baik dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, serta bersemangat dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, peneliti mengelompokkan indikator perilaku pemenuhan kompetensi kepribadian GPK sesuai dengan lima aspek yang telah disebutkan sebelumnya dalam tabel berikut.

Tabel 1. Indikator Perilaku dalam Aspek-Aspek Kompetensi Kepribadian GPK

No Aspek Indikator Perilaku

1. Kepribadian yang mantap dan stabil

Tidak dipengaruhi orang lain saat membuat keputusan di kelas

Tenang saat mengajar

Dapat mengendalikan emosi dengan baik

2. Kepribadian yang dewasa

Bersikap penuh tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai guru

Terbuka dalam menerima kritik dan saran dari siswa maupun pihak lain

Mandiri dalam mengerjakan tugas

3. Kepribadian yang arif

Memberi nasehat yang bijak kepada siswa Dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman

Dapat memberi solusi bagi permasalahan di kelas

4. Kepribadian yang berwibawa

Disegani dan dihormati oleh siswa

Dikenal baik oleh tenaga pendidik lainnya Memberi pengaruh positif bagi

lingkungannya

5.

Kepribadian yang berakhlak mulia dan

menjadi teladan

Mempraktikkan norma agama saat mengajar Menjaga kebersihan diri dan pakaian saat mengajar

Menunjukkan sikap perilaku yang menjadi teladan bagi siswa

commit to user

(21)

3. Kompetensi Sosial Pembimbing Khusus (GPK) a. Pengertian Kompetensi Sosial GPK

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa, kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan siswa, sesama guru, orang tua/wali siswa, dan masyarakat.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 butir c, yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Kusmana (2011) mendefinisikan kompetensi sosial sebagai kompetensi guru dalam menjalin hubungan dengan pihak lain. Hal ini diperkuat dengan definisi kompetensi sosial oleh Arikunto (2013) yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa, kompetensi sosial GPK merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

(22)

b. Aspek-aspek Kompetensi Sosial GPK

La Fontana dan Cillesen (2002) menjelaskan bahwa, kompetensi sosial dapat dilihat sebagai perilaku prososial, altruistik, dan dapat bekerja sama. Lebih lanjut, penjabaran mengenai aspek kompetensi sosial dikemukakan oleh Braumind dalam Garmezy (1997), diantaranya yaitu:

1) Mood positif yang menetap, 2) Harga diri yang baik,

3) Memiliki tanggung jawab sosial, seperti kemampuan untuk berinteraksi dengan orang dewasa, suka menolong teman sebaya, dan kematangan moral,

4) Memiliki kemampuan kognisi sosial, seperti berorientasi pada prestasi, memiliki jiwa kepemimpinan, serta gigih dan memiliki tujuan pasti.

Draf penilaian kinerja guru yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional (2008) menjabarkan aspek-aspek yang diamati dalam uji kompetensi sosial guru, yaitu:

1) Bertindak secara objektif dan tidak diskriminatif,

2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat,

3) Dapat beradaptasi dimanapun tempat bertugas di seluruh wilayah Indonesia dengan keragaman sosial budayanya,

(23)

4) Dapat berkomunikasi secara lisan, tulisan, maupun bentuk lain dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain.

Aspek kompetensi sosial juga dapat dijabarkan melalui pengertian kompetensi sosial yang tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 Ayat 3 butir d yaitu:

1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik,

2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik,

3) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan tenaga kependidikan,

4) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik,

5) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan masyarakat sekitar.

Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa aspek kompetensi sosial terdiri atas lima, yaitu mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik, mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan tenaga kependidikan, mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik, dan mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan masyarakat sekitar.

(24)

Berbagai penjelasan yang telah disebutkan diatas akan menjadi dasar acuan peneliti dalam membuat indikator perilaku dari kompetensi sosial.

c. Indikator Perilaku Kompetensi Sosial GPK

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menjabarkan indikator kompetensi sosial sebagai berikut:

1) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi,

2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat,

3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya,

4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

UNESCO (2004) menjelaskan bahwa dalam kompetensi sosial, kemampuan lain yang harus dimiliki adalah terampil dalam mengelola perilaku dan berinteraksi dengan siswa. Selain itu, guru juga diharapkan mampu menjalin komunikasi dan kolaborasi yang baik dengan pihak lainnya.

Mulyasa (2005) menjabarkan bahwa kompetensi sosial yang dimiliki oleh seorang guru sekurang-kurangnya memiliki kemampuan untuk:

(25)

1) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat,

2) Dapat menggunakan teknologi komunikasi dan informasi,

3) Membangun komunikasi efektif dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, serta orang tua/wali peserta didik,

4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Armayni (2008) dalam instrumen penelitiannya menjabarkan indikator perilaku kompetensi sosial sebagai berikut:

1) Guru memperlakukan semua siswa secara adil, memberikan perhatian dan bantuan sesuai kebutuhan masing-masing secara objektif,

2) Guru menjaga hubungan baik dan peduli dengan teman sejawat, 3) Guru sering berinteraksi dengan siswa dan tidak membatasi

perhatian kepada kelompok tertentu,

4) Guru aktif menyampaikan informasi tentang kemajuan, kesulitan, serta potensi siswa kepada orang tua,

5) Guru berperan aktif dalam kegiatan diluar jam pembelajaran, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun masyarakat,

6) Guru berkomunikasi dengan masyarakat serta berperan aktif dalam kegiatan sosial.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, peneliti mengelompokkan indikator perilaku pemenuhan kompetensi sosial GPK sesuai dengan lima aspek yang telah disebutkan sebelumnya dalam tabel berikut.

(26)

Tabel 2. Indikator Perilaku dalam Aspek-Aspek Kompetensi Sosial GPK

No Aspek Indikator

1.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik

Berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami siswa

Memiliki kelekatan emosional dengan siswa Dapat memahami kebutuhan dan kesulitan siswa

2.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik

Memiliki hubungan kerja yang baik dengan sesama GPK

Menjalin komunikasi yang baik dengan guru kelas

Membantu guru kelas atau guru mata pelajaran dalam mengkondisikan kelas

3.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan tenaga

kependidikan

Mengenal baik para tenaga kependidikan di sekolah

Memiliki hubungan kerja yang baik dengan para tenaga kependidikan di sekolah

4.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik

Memiliki hubungan yang baik dengan orang tua/wali siswa

Bertukar informasi mengenai kemajuan maupun kesulitan siswa bersama orang tua/wali

5.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan masyarakat sekitar

Ramah dan peduli terhadap sesama Berperilaku santun dengan masyarakat

C. Usaha dan Aktualisasi dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Pembimbing Khusus (GPK)

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa guru pembimbing khusus (GPK) yang berkompeten adalah seorang guru yang memiliki kemampuan atau kompetensi khusus dalam melaksanakan profesinya sebagai guru pembimbing sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Dalam penelitian ini, kompetensi difokuskan pada dua jenis, yaitu kompetensi kepribadian dan sosial.

Meski demikian, belum ada penelitian yang menunjukkan realitas dari pemenuhan commit to user

(27)

Surakarta sendiri. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, masih terdapat berbagai permasalahan, seperti kurangnya dukungan dari sesama tenaga pendidik, sekolah, serta masyarakat mengenai program pendidikan inklusi itu sendiri atau kurangnya kemampuan dari guru itu sendiri untuk memenuhi standar kompetensi yang telah diterapkan. Padahal, pemenuhan kompetensi itulah yang menjadi tolak ukur kualitas seorang GPK.

Oleh karena itu, dibutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas GPK. Hasil penelitian Yunus (2016) di SDN 65 Katteong menunjukkan bahwa pengembangan kualitas GPK dapat dilakukan dengan cara:

1. Melakukan pembinaan rutin sebulan sekali bagi guru mengenai pengembangan mental dan karir,

2. Membuat diskusi kelompok diluar jam belajar efektif,

3. Mengikutsertakan guru dalam workshop, seminar, lokakarya, atau kegiatan pengembangan pendidikan lainnya,

4. Melengkapi sarana prasarana penunjang agar proses belajar mengajar berjalan dengan maksimal,

5. Mengawasi, memantau, dan mengevaluasi kinerja tenaga pendidik dengan memberikan bimbingan,

6. Memberikan penghargaan serta apresiasi bagi guru yang berprestasi, 7. Adanya pengawasan dari pihak sekolah, baik secara langsung maupun tidak.

Toharudin (2017) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas GPK di sekolah inklusi, yaitu:

1. Pelatihan

(28)

Guru yang telah ditetapkan menjadi GPK dapat diikutkan pada pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan kota atau kabupaten serta provinsi.

Pelatihan tersebut diselenggarakan terkait dengan metode pembelajaran dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.

2. Pendampingan teman sejawat

Pendampingan perlu diberikan agar GPK dapat saling bertukar informasi mengenai cara mengajar yang efektif serta cara menghadapi perbedaan berbagai siswa yang dihadapinya. Selain itu, adanya pendampingan teman sejawat juga membantu GPK untuk mengatasi persoalan yang pada umumnya terjadi di dalam maupun luar kelas.

3. Peningkatan sarana dan prasarana

Adanya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran di kelas merupakan kebutuhan mendasar, baik bagi GPK maupun ABK untuk mencapai proses pemahaman yang lebih baik.

4. Memperluas pengetahuan dan keterampilan

Guru sebagai seorang komunitator dituntut untuk terampil berkomunikasi, bersikap, berpengetahuan, dan memahami sosial budaya yang ada di lingkungannya sehingga senantiasa harus memperkaya dirinya sendiri.

5. Memberikan penghargaan dan sanksi hukuman

Adanya pemantauan dari pihak sekolah akan membuat sistem menjadi lebih tertata. Pemberian penghargaan bagi para GPK berprestasi akan meningkatkan motivasi kerja, begitu pula dengan pemberian sanksi yang akan membuat GPK bersungguh-sungguh dalam menjalankan pekerjaannya.

(29)

Namun dalam keberjalanannya, upaya peningkatan kualitas ini terhambat oleh berbagai faktor. Salah satu penghambat dalam menciptakan GPK yang berkualitas adalah kurangnya kesempatan untuk mengembangan profesi secara berkelanjutan. Hasil penelitian Zakia (2015) menyatakan bahwa, GPK banyak yang lebih memilih untuk bekerja di sekolah luar biasa (SLB) dibandingkan sekolah inklusi. Hal tersebut dikarenakan GPK dengan latar belakang pendidikan luar biasa (PLB) tidak mendapat tunjangan saat mengajar di sekolah inklusi. Hal ini menyebabkan penyelenggaraan sekolah inklusi yang belum optimal. Selain itu, adanya anggapan bahwa GPK hanya berfungsi sebagai tambahan dari guru yang telah ada membuat para GPK tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan berkontribusi aktif di sekolah (Zakia, 2015).

Hasil penelitian Sunanto (dalam Sunaryo, 2009) mengemukakan beberapa masalah dalam pelaksanaannya, yaitu:

1. Ketergantungan pada guru pendamping dibanding guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga kreativitas guru menjadi tidak berkembang,

2. Tidak adanya motivasi, kerja sama, dan kolaborasi antara guru kelas dan guru pendamping karena seluruh perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi belajar diserahkan sepenuhnya kepada guru pendamping,

3. Guru pendamping belum dapat melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan konsepnya.

Di Surakarta sendiri, permasalahan mengenai aktualisasi peningkatan kualitas GPK masih terhambat karena guru masih merasa terbebani dengan

(30)

mengajar ABK serta materi yang belum dikuasai sepenuhnya oleh GPK (Juwita, 2009). Untuk meminimalisir hal tersebut, dibuatlah kelompok kerja guru (KKG) yang diprakarsai oleh Bapak Yowono. Dimana, KKG tersebut berguna sebagai sarana perkumpulan rutin bagi para GPK untuk saling bertukar informasi serta pemberian materi atau pelatihan yang dapat menunjang optimalisasi pembelajaran di kelas.

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Bapak N (2019), dijelaskan bahwa pelatihan tidak hanya terbatas pada program yang telah dirancang oleh dinas pendidikan pusat maupun daerah, namun dapat juga berasa dari sekolah itu sendiri. Hal ini diperkuat dengan penjelasan dari Bapak Y (2019) yang menjelaskan bahwa, terdapat satu koordinator guru di tiap satuan pendidikan yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Harapannya, informasi akan lebih cepat menyebar serta komunikasi berjalan dengan lebih efisien. Koordinator inklusi ini dapat berupa GPK atau guru yang ditunjuk langsung oleh pihak sekolah, dapat pula kepala sekolah yang langsung menjadi koordinator di sekolah tersebut.

Penentuan kooordinator diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing sekolah.

Keberadaan KKG merupakan salah satu implementasi usaha peningkatan kompetensi GPK sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 10 ayat 6, dimana peningkatan kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui:

(31)

1. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK),

2. Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), 3. Perguruan tinggi (PT),

4. Lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya di lingkungan pemerintah daerah, Departemen Pendidikan Nasional dan/atau Departemen Agama,

5. Kelompok Kerja Guru/Kepala Sekolah (KKG/KKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), MGMP, MKS, MPS, dan sejenisnya.

Disimpulkan bahwa, terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi seorang GPK, diantaranya adalah dengan adanya pembinaan dari sekolah maupun dinas terkait, meningkatkan sarana prasarana pembelajaran di kelas, memberikan penghargaan kepada GPK, serta adanya supervisi atau pemantauan secara berkala. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas GPK harus dilakukan oleh seluruh komponen dalam sekolah inklusi, yakni dari dalam diri GPK itu sendiri, teman sejawat, sekolah, serta lingkungan masyarakat di sekitar sekolah.

D. Guru Pembimbing Khusus (GPK) dalam Teori Ekologi

Ekologi berasal dari kata oikos (habitat) dan logos (ilmu). Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara organisme dengan habitatnya serta hubungan diantara organisme itu sendiri. Teori ekologi dalam psikologi menitikberatkan pada paradigma bahwa perilaku seseorang merupakan dampak dari interaksi orang tersebut dengan lingkungannya. Oleh karena itu,

(32)

dapat disimpulkan bahwa kualitas guru pembimbing khusus (GPK) saat ini tidak terlepas dari peran lingkungan yang ada di sekitarnya.

Teori ini pertama dikemukakan oleh Bronfenbrenner (1917) yang menyatakan bahwa sistem dalam suatu lingkungan terdiri atas:

1. Mikrosistem, yaitu setting terdekat dimana individu hidup dan berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Mikrosistem yang paling dekat dengan seorang GPK dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Siswa berkebutuhan khusus yang diajar

Hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 3 ayat 1 yang berbunyi, “Setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya”,

b. Guru kelas dan guru mata pelajaran

Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 30 ayat 2 yang berbunyi, “Pendidik pada SD/MI sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas dan guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing- masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan”,

c. Siswa reguler lain yang berada di kelas yang sama.

2. Mesosistem, yaitu interaksi atau hubungan antara beberapa mikrosistem.

Hubungan ini terjadi antara GPK dan siswa berkebutuhan khusus yang

(33)

didampinginya, GPK dan guru kelas, siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler, serta hubungan antara semua pihak dalam satu kelas.

3. Eksosistem, yaitu setting sosial lain yang secara tidak langsung memengaruhi individu. Eksosistem bagi GPK meliputi peran sekolah—khususnya kepala sekolah dan/atau komite pendidikan serta orangtua siswa yang didampinginya.

Adanya kelompok kerja guru (KKG) sebagai wadah bagi para GPK saling bertukar informasi dan pengalaman secara tidak langsung juga memengaruhi diri GPK sebagai individu.

4. Makrosistem, yaitu pola perilaku atau kebudayaan dimana individu hidup.

Dalam hal ini, kualitas GPK juga dipengaruhi oleh peraturan sekolah, dinas, pemerintah, maupun negara. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 12 yang berbunyi,

“Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan inklusif sesuai dengan kewenangannya”.

Dapat disimpulkan bahwa peran serta kualitas seorang GPK tidak terlepas dari pengaruh lingkungan di sekitarnya, misalnya siswa berkebutuhan khusus yang didampinginya serta guru kelas yang membersamai saat proses belajar mengajar. Selain itu, kedudukan GPK yang berada dalam suatu institusi yang bernama sekolah, juga berpengaruh terhadap pengembangan kualitas yang dimilikinya. Lebih luas lagi, secara makro, kualitas GPK juga dipengaruhi oleh

(34)

peraturan yang dimiliki oleh pihak sekolah, dinas pendidikan, maupun pemerintah sehingga untuk meningkatkan kualitas GPK dibutuhkan peran serta dari banyak pihak.

E. Kerangka Berpikir Sekolah Inklusi

Komite Sekolah Kepala Sekolah

Orangtua Siswa Pakar Pendidikan

Guru Kelas GPK

Mengajar dalam satu kelas yang sama dan memastikan pemahaman siswa dengan optimal

Siswa Reguler Siswa ABK

Belajar di satu kelas yang sama (kelas inklusi)

Ideal

Memenuhi kompetensi kepribadian dan sosial sesuai Standar Nasional Pendidikan

Masalah

Latar belakang pendidikan yang tidak sesuai, belum adanya status kepegawaian sebagai GPK, gaji yang rendah, kurang memiliki pengetahuan mengenai inklusi dan ABK, relasi sosial dengan sesama pendidik atau tenaga kependidikan

Kompetensi Kepribadian dan Sosial GPK di Surakarta

Usaha dan Aktualisasi Peningkatan Kompetensi GPK

Memiliki hubungan langsung Menjelaskan hubungan keterkaitan

KKG

(35)

F. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran aktualisasi pemenuhan kompetensi kepribadian yang dimiliki oleh GPK di Surakarta?

2. Bagaimana gambaran aktualisasi pemenuhan kompetensi sosial yang dimiliki oleh GPK di Surakarta?

3. Bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosial GPK di Surakarta?

Referensi

Dokumen terkait

arif, kepribadian berwibawa, akhlak mulia dan keteladanan) masuk dalam kategori baik; 2) aspek kompetensi pedagogik meliputi indikator (memahami peserta didik,

berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci subkompetensi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut. 1) Subkompetensi kepribadian yang

(3) dewasa; (4) arif dan bijaksana; (5) berwibawa; (6) berakhlak mulia; (7) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (8) mengevaluasi kinerja

a. Beriman dan bertakwa, Berakhlak mulia, Arif dan bijaksana, Demokaratis, Mantap, Berwibawa, Stabil, Dewasa, Jujur, Sportif, Menjadi teladan bagi peserta didik dan

2) Kompetensi kepribadian tercermin dari kemampuan personal, berupa kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta

Kompetensi kepribadian guru adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta

Dalam kompetensi kepribadian guru harus memiliki kepribadian yang arif, berwibawa, dapat menjadi teladan bagi peserta didik, memiliki akhlak mulia, bertindak sesuai

Dalam Standar Nasional pendidikan, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi