SKRIPSI
ANALISIS PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI BERDASARKAN SKALA
USAHA PADA LAHAN PASANG SURUT DI DESA PULAU BORANG KABUPATEN BANYUASIN
COMPARATIVE ANALYSIS OF PRODUCTIVITY AND INCOME OF RICE FARMING BASED ON TIDAL LAND IN BORANG
ISLAND VILLAGE BANYUASIN DISTRICT
Ayu Rahmi 05011381621136
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas nikmat Allah SWT yang telah memberikan karunia serta hidayahnya, tak lupa pula sholawat beriring salam tak henti-hentinya penulis ucapkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman hingga zaman. Berkat nikmatnya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Perbandingan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Padi Berdasarkan Skala Usaha Pada Lahan Pasang Surut di Desa Pulau Borang Kabupaten Banyuasin”. Skripsi ini ditujukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Penulis menyadari tanpa bantuan dan dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak skripsi ini tidak dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Kepada Allah SWT atas berkat serta karunianya penulis dapat menyelesaikan
skripsi tepat pada waktunya.
2. Kedua orang tua, yang selalu mendo’akan, menyemangati dan telah bekerja keras untuk membiayai pendidikan Starta 1 yang saya tempuh.
3. Kakak dan ayuk saya, yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan bantuan moril maupun materil.
4. Bapak Dr.Ir. Maryadi, M.Si. selaku Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian dan seluruh dosen pengajar yang telah memberikan ilmu serta bimbingannya dalam proses perkuliahan.
5. Ibu Dr. Desi Aryani, S.P.,M.Si. selaku dosen pembimbing pertama sekaligus sebagai pembimbing akademik penulis yang selalu sabar memberikan arahan serta bimbingan selama masa perkuliahan.
6. Ibu Nurilla Elysa Putri, S.P.,M.Si. selaku dosen pembimbing kedua yang senantiasa membimbing serta memberikan arahan dalam proses penyusunan skripsi ini.
7. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Agribisnis yang telah memberikan ilmu, motivasi dan pengalaman yang bermanfaat hingga penulis mampu menyusun skripsi ini.
8. Staf tata usaha Program Studi Agribisnis yang telah membantu untuk keperluan kelengkapan administrasi selama perkuliahan hingga tugas akhir skripsi.
9. Rekan sepembimbing penulis Nur Sakinah dan Khairunnisa Ramadini yang senantiasa berbagi semangat dan membantu dalam proses penyusunan skripsi.
10. Saudari Siti Rogayah, Iqro Kurnia dan Rinov selaku sahabat penulis yang telah setia selalu membersamai penulis, berbagi tangis hingga tawa, berbagi semangat, serta motivasi, yang telah selalu ada dalam keadaan apapun dari awal perkuliahan hingga perkuliahan telah berakhir.
11. Saudari Rice Soleha, Rachel Margareta dan teman-teman Agribisnis B Palembang yang telah menjadi teman penulis yang saling menyemangati dalam hal perkuliahan maupun dalam hal penyusunan skripsi ini.
12. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan dan kelengkapan skripsi ini. Besar harapan penulis agar kelak skripsi ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Indralaya, Mei 2021
Penulis
ix Universitas Sriwijaya
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... .viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1.PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6
BAB 2.KERANGKA PEMIKIRAN ... 7
2.1. Tinjauan Pustaka ... 7
2.1.1. Konsepsi Karakteristik Petani ... 7
2.1.2. Konsepsi Usahatani ... 8
2.1.3. Konsepsi Padi ... 8
2.1.4. Konsepsi Lahan Pasang Surut ... 9
2.1.5. Konsepsi Produksi dan Produktivitas ... 12
2.1.6. Konsepsi Biaya Produksi ... 14
2.1.7. Konsepsi Penerimaan dan Pendapatan ... 15
2.1.8. Konsepsi Kontribusi Pendapatan Usahatani ... 17
2.1.9. Konsepsi Skala Usaha ... 18
2.2. Model Pendekatan ... 20
2.3. Hipotesis ... 21
2.4. Batasan Operasional ... 22
BAB 3.PELAKSANAAN PENELITIAN ... 24
3.1. Waktu dan Tempat ... 24
3.2. Metode Penelitian... 24
3.3. Metode Penarikan Contoh ... 24
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 25
3.5. Metode Pengolahan Data ... 25
x Universitas Sriwijaya Halaman
BAB 4.HASIL DAN PEMBAHASAN... 29
4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian ... 29
4.1.1. Letak dan Batas Wilayah Administratif ... 29
4.1.2. Letak Geografis ... 30
4.1.3. Topografi ... 30
4.1.4. Iklim dan Tanah ... 31
4.1.5. Kependudukan... 32
4.1.5.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur ... 32
4.1.5.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 33
4.1.5.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama ... 34
4.1.6. Sarana dan Prasarana... 35
4.1.6.1. Sarana dan Prasarana Pendidikan... 35
4.1.6.2. Sarana dan Prasarana Kesehatan ... 35
4.1.6.3. Sarana dan Prasarana Peribadatan ... 35
4.2. Gambaran Umum Usahatani Lahan Pasang Surut ... 36
4.3. Karakteristik Petani Responden ... 41
4.3.1. Usia Petani Responden ... 41
4.3.2. Tingkat Pendidikan Petani Responden... 42
4.3.3. Luas Lahan Garapan Petani Responden ... 43
4.3.4. Pengalaman Usahatani Responden ... 43
4.4. Pendapatan Petani Berdasarkan Skala Usaha ... 44
4.4.1. Biaya Produksi Usahatani ... 45
4.4.1.1. Biaya Tetap ... 45
4.4.1.2. Biaya Variabel ... 47
4.4.1.3. Biaya Produksi Total ... 49
4.4.2. Produksi dan Produktivitas ... 50
4.4.3. Harga Jual... 52
4.4.4. Penerimaan Usahatani ... 53
4.4.5. Pendapatan Usahatani ... 55
4.5. Perbandingan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani ... 57
4.5.1. Perbandingan Produktivitas Usahatani ... 57
xi Universitas Sriwijaya Halaman
4.5.2. Perbandingan Pendapatan Usahatani ... 59
4.6. Kontribusi Pendapatan Usahatani Padi ... 60
4.7. Tingkat Kelayakan Hidup Petani ... 61
4.8. Luas Lahan Minimal ... 65
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67
5.1. Kesimpulan ... 67
5.2. Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69
xii Universitas Sriwijaya
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Model Pendekatan Penelitian Secara Diagramatis ... 20
Gambar 4.1. Areal pemukiman masyarakat Desa Pulau Borang ... 36
Gambar 4.2. Areal pemukiman masyarakat Desa Pulau Borang ... 37
Gambar 4.3. Areal Persawahan Desa Pulau Borang ... 37
Gambar 4.4. Lahan Usahatani yang Rusak karena Banjir ... 52
Gambar 4.5 Hubungan tingkat pendapatan usahatani dengan standar Kebutuhan hidup layak keluarga petani ... 64
xiii Universitas Sriwijaya
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1.1.Luas lahan , produksi dan produktivitas tanaman padi di
Banyuasin I ... 4
Tabel 3.1. Persentase KHL berdasarkan klasifikasi umur ... 28
Tabel 4.1. Luas Wilayah menurut Kelurahan/Desa ... 29
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 32
Tabel 4.3. Jumlah Penduduk menurut kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Desa Pulau Borang ... 33
Tabel 4.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Desa Pulau Borang ... 34
Tabel 4.5. Prasarana Pendidikan di Desa Pulau Borang ... 35
Tabel 4.6. Prasarana Kesehatan di Desa Pulau Borang ... 35
Tabel 4.7. Prasarana Peribadatan di Desa Pulau Borang ... 36
Tabel 4.8. Perbandingan Penggunaan Input Tetap Petani Berdasarkan Skala Usaha ... 38
Tabel 4.9. Perbandingan Penggunaan Input Variabel Petani Berdasarkan Skala Usaha ... 40
Tabel 4.10. Karakteristik Petani Berdasarkan Usia ... 42
Tabel 4.11. Karakteristik Petani Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 43
Tabel 4.12. Karakteristik Petani Berdasarkan Luas Lahan Garapan ... 44
Tabel 4.13. Karakteristik Petani Berdasarkan Pengalaman Usahatani ... 44
Tabel 4.14. Rata-rata Biaya Tetap Tahun,2019 (Rp/lg/mt) ... 46
Tabel 4.15. Rata-rata Biaya Tetap Tahun 2019 (Rp/ha/th) ... 47
Tabel 4.16. Rata-rata Biaya Variabel Tahun, 2019 (Rp/lg/mt) ... 49
Tabel 4.17. Rata-rata Biaya Variabel Tahun, 2019 (Rp/ha/th) ... 51
Tabel 4.18. Rata-rata Biaya Produksi Total Usahatani Tahun, 2019 ... 52
Tabel 4.19. Rata-rata Biaya Produksi Total Usahatani Tahun, 2019 ... 53
Tabel 4.20. Produksi dan Produktivitas Padi Tahun, 2019 ... 54
Tabel 4.21. Rata-rata Penerimaan Usahatani Per Musim Tahun,2019 ... 56
Tabel 4.22. Rata-rata Penerimaan Usahatani Padi Tahun 2019 ... 59
Tabel 4.23. Pendapatan Usahatani Padi Tahun,2019 (lg) ... 60
Tabel 4.24. Pendapatan Usahatani Padi Tahun,2019 (ha) ... 62
Tabel 4.25. Hasil Analisis Uji Friedman terhadap Produktivitas ... 66
xiv Universitas Sriwijaya Halaman
Tabel 4.26. Hasil Analisis Uji Friedman terhadap Pendapatan ... 68
Tabel 4.27. Rata-rata Konribusi Pendapatan Usahatani padi berdasarkan Skala Usaha di Desa Pulau Borang ... 69
Tabel 4.28. Komponen KHL Kabupaten Banyuasin 2019 ... 70
Tabel 4.29. Rata-rata KHL Keluarga Petani Skala Usaha Kecil... 71
Tabel 4.30. Rata-rata KHL Keluarga Petani Skala Usaha Sedang ... 71
Tabel 4.31. Rata-rata KHL Keluarga Petani Skala Usaha Luas ... 72
Tabel 4.32. Rata-rata Luas Lahan Minimal Tahun 2019 ... 74
Tabel 4.33. Rata-rata Luas Lahan Minimal Secara Keseluruhan ... 76
15 Universitas Sriwijaya
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Identitas Petani Contoh Kategori Luas Lahan Kecil ... 73
Lampiran 2. Identitas Petani Contoh Kategori Luas Lahan Sedang ... 74
Lampiran 3. Identitas Petani Contoh Kategori Luas Lahan Besar ... 75
Lampiran 4. Luas Lahan Garapan Petani Skala Usaha Kecil ... 76
Lampiran 5. Luas Lahan Garapan Petani Skala Usaha Sedang ... 77
Lampiran 6. Luas Lahan Garapan Petani Skala Usaha Luas ... 78
Lampiran 7. Input Tetap Petani Skala Usaha Kecil ... 79
Lampiran 8. Input Tetap Petani Skala Usaha Sedang ... 80
Lampiran 9. Input Tetap Petani Skala Usaha Luas ... 81
Lampiran 10. Biaya Tetap Cangkul (Skala Usaha Kecil) ... 82
Lampiran 11. Biaya Tetap Parang (Skala Usaha Kecil) ... 83
Lampiran 12. Biaya Tetap Arit (Skala Usaha Kecil) ... 84
Lampiran 13. Biaya Tetap Handsprayer (Skala Usaha Kecil) ... 85
Lampiran 14. Biaya Tetap Karung (Skala Usaha Kecil)... 86
Lampiran 15. Biaya Tetap Cangkul (Skala Usaha Sedang) ... 87
Lampiran 16. Biaya Tetap Parang (Skala Usaha Sedang) ... 88
Lampiran 17. Biaya Tetap Arit (Skala Usaha Sedang) ... 89
Lampiran 18. Biaya Tetap Handsprayer (Skala Usaha Sedang) ... 90
Lampiran 19. Biaya Tetap Karung (Skala Usaha Sedang) ... 91
Lampiran 20.Biaya Tetap Cangkul (Skala Usaha Luas) ... 92
Lampiran 21. Biaya Tetap Parang (Skala Usaha Luas) ... 93
Lampiran 22. Biaya Tetap Arit (Skala Usaha Luas) ... 94
Lampiran 23. Biaya Tetap Handsprayer (Skala Usaha Luas) ... 95
Lampiran 24. Biaya Tetap Karung (Skala Usaha Luas) ... 96
Lampiran 25. Total Biaya Penyusutan Petani Skala Usaha Kecil ... 97
Lampiran 26. Total Biaya Penyusutan Petani Skala Usaha Sedang ... 98
Lampiran 27. Total Biaya Penyusutan Petani Skala Usaha Luas ... 99
Lampiran 28. Input Produksi Petani Kategori Skala Usaha Kecil ... 100
Lampiran 29. Input Produksi Petani Kategori Skala Usaha Sedang ... 101
Lampiran 30. Input Produksi Petani Kategori Skala Usaha Luas ... 102
16 Universitas Sriwijaya Halaman
Lampiran 31. HOK Skala Usaha Kecil (Musim Tanam I)... 103
Lampiran 32. HOK Skala Usaha Kecil (Musim Tanam II) ... 104
Lampiran 33. HOK Skala Usaha Sedang (Musim Tanam I) ... 105
Lampiran 34. HOK Skala Usaha Sedang (Musim Tanam II) ... 106
Lampiran 35. HOK Skala Usaha Luas (Musim Tanam I) ... 107
Lampiran 36. HOK Skala Usaha Luas (Musim Tanam II) ... 108
Lampiran 37. Biaya Tenaga Kerja Skala Kecil (Musim Tanam I) ... 109
Lampiran 38. Biaya Tenaga Kerja Skala Kecil (Musim Tanam II) ... 110
Lampiran 39. Biaya Tenaga Kerja Skala Sedang (Musim Tanam I) ... 111
Lampiran 40. Biaya Tenaga Kerja Skala Sedang (Musim Tanam II) ... 112
Lampiran 41. Biaya Tenaga Kerja Skala Luas (Musim Tanam I) ... 113
Lampiran 42. Biaya Tenaga Kerja Skala Luas (Musim Tanam II) ... 114
Lampiran 43. Biaya Variabel Benih (Skala Usaha Kecil) ... 115
Lampiran 44. Biaya Variabel Pupuk (Skala Usaha Kecil) ... 116
Lampiran 45. Biaya Variabel Pestisida (Skala Usaha Kecil) ... 117
Lampiran 46. Biaya Variabel Sewa Traktor (Skala Usaha Kecil) ... 118
Lampiran 47. Biaya Variabel Benih (Skala Usaha Sedang) ... 119
Lampiran 48. Biaya Variabel Pupuk (Skala Usaha Sedang) ... 120
Lampiran 49. Biaya Variabel Pestisida (Skala Usaha Sedang)... 121
Lampiran 50. Biaya Variabel Sewa Traktor (Skala Usaha Sedang) ... 122
Lampiran 51. Biaya Variabel Benih (Skala Usaha Luas) ... 123
Lampiran 52. Biaya Variabel Pupuk (Skala Usaha Luas) ... 124
Lampiran 53. Biaya Variabel Pestisida (Skala Usaha Luas)... 125
Lampiran 54. Biaya Variabel Sewa Traktor (Skala Usaha Luas) ... 126
Lampiran 55. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Kecil (Mt I) ... 127
Lampiran 56. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Kecil (Mt I) ... 128
Lampiran 57. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Sedang (Mt I) .... 129
Lampiran 58. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Sedang (Mt I) .... 130
Lampiran 59. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Luas (Mt I) ... 131
Lampiran 60. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Luas (Mt I) ... 132
Lampiran 61. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Kecil (Mt II) ... 133
17 Universitas Sriwijaya Halaman
Lampiran 62. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Kecil (Mt II) ... 134
Lampiran 63. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Sedang (Mt II) ... 135
Lampiran 64. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Sedang (Mt II) ... 136
Lampiran 65. Total Biaya Variabel (Rp/lg) Skala usaha Luas (Mt II) ... 137
Lampiran 66. Total Biaya Variabel (Rp/ha) Skala usaha Luas (Mt II) ... 138
Lampiran 67. Total Biaya Produksi Skala Kecil (Mt I) ... 139
Lampiran 68. Total Biaya Produksi Skala Kecil (Mt II) ... 140
Lampiran 69. Total Biaya Produksi Skala Sedang (Mt I) ... 141
Lampiran 70. Total Biaya Produksi Skala Sedang (Mt II) ... 142
Lampiran 71. Total Biaya Produksi skala Luas (Mt I)... 143
Lampiran 72. Total Biaya Produksi Skala Luas (Mt II) ... 144
Lampiran 73. Penerimaan Usahatani Skala Kecil (Mt I) ... 145
Lampiran 74. Penerimaan Usahatani Skala Kecil (Mt II) ... 146
Lampiran 75. Penerimaan Usahatani Skala Sedang (Mt I) ... 147
Lampiran 76. Penerimaan Usahatani Skala Sedang (Mt II) ... 148
Lampiran 77. Penerimaan Usahatani Skala Luas (Mt I) ... 149
Lampiran 78. Penerimaan Usahatani Skala Luas (Mt II) ... 150
Lampiran 79. Pendapatan Usahatani Skala Kecil (Mt I)... 151
Lampiran 80. Pendapatan Usahatani Skala Kecil (Mt II) ... 152
Lampiran 81. Pendapatan Usahatani Skala Kecil (Pertahun) ... 153
Lampiran 82. Pendapatan Usahatani Skala Sedang (Mt I) ... 154
Lampiran 83. Pendapatan Usahatani Skala Sedang (Mt II) ... 155
Lampiran 84. Pendapatan Usahatani Skala Sedang (Pertahun) ... 156
Lampiran 85. Pendapatan Usahatani Skala Luas (Mt I) ... 157
Lampiran 86. Pendapatan Usahatani Skala Luas (Mt II) ... 158
Lampiran 87. Pendapatan Usahatani Skala Luas (Pertahun) ... 159
Lampiran 88. Produktivitas Usahatani Skala Kecil ... 160
Lampiran 89. Produktivitas Usahatani Skala Sedang ... 161
Lampiran 90. Produktivitas Usahatani Skala Luas ... 162
Lampiran 91. Kontribusi Pendapatan Usahatani Skala Kecil ... 163
Lampiran 92. Kontribusi Pendapatan Usahatani Skala Sedang ... 164
18 Universitas Sriwijaya Halaman
Lampiran 93. Kontribusi Pendapatan Usahatani Skala Luas ... 165
Lampiran 94.KHL Laki-Laki Keluarga Petani Skala Kecil ... 166
Lampiran 95.KHL Perempuan Keluarga Petani Skala Kecil ... 167
Lampiran 96.KHL Laki-Laki Keluarga Petani Skala Sedang ... 168
Lampiran 97.KHL Perempuan Keluarga Petani Skala Sedang ... 169
Lampiran 98.KHL Laki-Laki Keluarga Petani Skala Luas ... 170
Lampiran 99.KHL Perempuan Keluarga Petani Skala Luas ... 171
Lampiran 100. Luas Lahan Minimal Usahatani Padi Skala Kecil ... 172
Lampiran 101. Luas Lahan Minimal Usahatani Padi Skala Sedang ... 173
Lampiran 102. Luas Lahan Minimal Usahatani Padi Skala Luas ... 174
Lampiran 103. Hasil Uji Friedman Perbandingan Produktivitas ... 175
Lampiran 104. Hasil Uji Friedman Perbandingan Pendapatan ... 176
Lampiran 106. Standar Kebutuhan Hidup Layak Kab.Banyuasin ... 177
Lampiran 107. Wawancara Responden dan Perangkat Desa ... 179
Lampiran 108. Prasarana Pendidikan ... 180
Lampiran 109. Prasarana Kesehatan dan Peribadatan ... 181
Lampiran 110. Proses Panen dengan Alat Tradisonal dan Laser ... 182
Lampiran 111. Hasil Panen ... 183
19 Universitas Sriwijaya Analisis Perbandingan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Padi Berdasarkan Skala Usaha pada Lahan Pasang Surut di Desa Pulau Borang Kabupaten Banyuasin
Comparative Analysis of Productivity and Income of Rice Farming Based on Tidal Land in Borang Island Village Banyuasin District
Ayu Rahmi1, Desi Aryani2, Nurilla Elysa Putri 3
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya
Jalan Palembang-Prabumulih Km.32 Indralaya Ogan Ilir 30662
A b s t r a c t
This study was conducted to: (1) examine, identify and compare the productivity and income of rice farming on tidal land based on business scale in Pulau Borang Village, Banyuasin District, (2) examine and identify the contribution of rice farming income to family income of society living in tidal land in Pulau Borang Village, Banyuasin District, (3) determine and compare the level of life feasibility of rice farmers based on KHL standards in Pulau Borang Village, (4) analyze the minimum area of land required for tidal land cultivation with an IP of 200. This quantitative study was done in the form of a survey, in which questionnaires were distributed to collect data from 45 samples.
The data were in the forms of primary data and secondary data. The results showed that (1) there was a significant difference between the average productivity and farm income obtained by each sample farmer based on the business scale, where the largest average of 41,881,533 IDR with a productivity level of 6.90. Meanwhile, the average income of small scale farmers was 4,501,783 IDR with a productivity of 7.05 and the ones of medium scale farmers was 15,133,767 IDR, with a productivity of 6.93. (2) The contribution of farm income to family income was quite significant, with highest average contribution obtained by large-scale farmers of 99.15 percent, while medium- scale and small scale farmers obtained 97.02 percent and 87.79. percent respectively.
(3) The average income of small-scale farmers was only 4.79 percent of the KHL standards, while the ones of medium-scale and large scale farmers were 13.13 percent.
and 34.65 percent. This study revealed that the average small-scale, medium-scale, and wide-scale farm income did not meet the standard of feasible life. (4) The minimum land area that should be controlled by farmers of IP 200 was 1.99 hectares for small scale, 1.55 hectares for medium scale and 1.22 hectares for the large scale. However, the land owned by small scale farmers was averagely 0.29 hectares, 0.64 hectares for medium scale farmers, and 1.39 hectares for the large scale farmers. Therefore, it was concluded that only large-scale farmers could meet their family needs, while small and medium scale farmers could not.
20 Universitas Sriwijaya Keywords: Productivity and Farming Income, Life Feasibility Standards, Minimum Land Area Requirement
.
1 Universitas Sriwijaya
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris dimana pembangunan dibidang pertanian menjadi prioritas utama dan memberikan komitmen tinggi terhadap pembangunan ketahanan pangan sebagai komponen strategis dalam pembangunan nasional. Hal ini karena lebih dari 55 persen penduduk Indonesia bekerja dan melakukan kegiatannya disektor pertanian dan tinggal dipedesaan (Badan Pusat Statistik, 2014).
Indonesia merupakan salah satu negara yang sampai sekarang masih banyak perekenomiannya bergantung pada sektor pertanian, karena itu pembangunan pertanian selalu merupakan prioritas utama sejak Pelita I sampai sekarang dengan berbagai bentuk program. Program tersebut antara lainekstensifikasi, intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan guna. Program-program ini dicanangkan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan hasil produksi di sektor pertanian, pendapatan para petani, dan tentu saja pendapatan nasional (Tuwo, 2011).
Sektor pertanian merupakan sumber mata pencaharian utama bagi mayoritas penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik tahun 2017 mencatat sebanyak 124,54 juta orang bekerja. Angka ini menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dari tahun 2016. Dari jumlah penduduk yang bekerja tersebut, sebanyak 39,68 juta orang bekerja di sektor pertanian atau bisa dipresentasekan sebanyak 31,86 persen dari total seluruh penduduk yang bekerja (Badan Pusat Statistik, 2018).
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 1,3 Persen per tahun, Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 tercatat penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 jiwa (BPS Sumatera Selatan, 2010). Hal ini mendorong perlunya pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri terutama beras (hasil olahan padi) sebagai makanan pokok masyarakat indonesia melalui peningkatan produksi hasil pertanian. Peningkatan produksi dan produktivitas padi sangat memerlukan teknologi baru yang berguna dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.
1 Universitas Sriwijaya Pembangunan pertanian Indonesia telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan dengan harapan dapat meningkatkan produksi pertanian semaksimal mungkin sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dalam mencapai kesejahteraan, peningkatan produksi pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani merupakan arah dan tujuan pembangunan pertanian (Tjakrawiralaksana, 2002).
Potensi sosial ekonomi yang merupakan kekuatan sekaligus modal dasar bagi pengembangan produksi padi di Indonesia antara lain adalah beras karena beras merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen penduduk Indonesia, usahatani padi sudah menjadi bagian hidup dari petani di Indonesia sehingga menciptakan lapangan kerja yang besar, dan kontribusi dari usahatani padi terhadap pendapatan rumah tangga petani cukup besar. Sebagai bahan makanan pokok, beras akan terus mempunyai permintaan pasar yang meningkat, sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Dari sisi petani, selama ada cukup air, petani di Indonesia hampir bisa dipastikan menanam padi. Karena bertanam padi sudah menjadi bagian hidupnya selain karena untuk ketahanan pangan keluarga, juga sebagai sumber pendapatan rumah tangga karena itu usahatani padi akan terus dilakukan petani.
Besarnya kebutuhan bahan makanan pokok padi atau beras sudah tentu selaras dengan jumlah penduduk di Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun mendorong permintaan kebutuhan beras setiap tahunnya juga akan meningkat. Begitu pula sebaliknya, permintaan beras akan menurun jika jumlah penduduk di Indonesia menurun. Hal ini berlaku jika kebutuhan beras hanya untuk dikonsumsi saja, bukan hal lain, seperti untuk diekspor baik dalam bentuk bahan baku atau hasil olahan (Prasekti, 2015). Pada tahun 2010 Indonesia merupakan negara pengkonsumsi utama beras terbesar di dunia yaitu mencaai 139 kg per kapita per tahun, sedangkan konsumsi beras China mencapai 90-100 kg per kapita per tahun (Purnomo, 2010).
Sumatera Selatan merupakan sentra produksi beras urutan keenam di Indonesia atau ketiga untuk luar jawa setelah Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Pada tahun 2008 provinsi Sumatera Selatan Menyumbang sebesar 4,82 persen produksi beras nasional (Aryani, 2009). Berdasarkan hasil penelitian
1 Universitas Sriwijaya Aryani dan Husin (2012), Menunjukkan bahwa tren luas panen, produksi dan produktivitas padi di Sumatera Selatan dari tahun 1991 sampai dengan 2010 menunjukkan kecenderungan menaik.
Lahan pasang surut di Indonesia memiliki peranan makin penting dan strategis bagi pengembangan pertanian terutama dalam hal mendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini disebabkan oleh potensi serta produktivitas lahan dan teknologi pengelolaannya sudah tersedia. Luas lahan pasang surut yang berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian khususnya tanaman padi masih tersedia cukup luas (Khodijah, 2015).
Pengadaan produksi beras dalam negeri sangat penting dalam rangka keberlanjutan ketahanan pangan nasional dengan sasaran tercapainya swasembada pangan. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diupayakan penanggulangannya melalui peningkatan intensitas pertanaman dan produktivitas lahan sawah yang ada, pencetakan lahan irigasi baru dan pengembangan lahan potensial lainnya termasuk lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut (Rainiyati, 2013).
Tipologi lahan sawah di Sumatera Selatan sedikit berbeda dengan tipologi lahan sawah pada provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Tipologi lahan sawah di Sumatera Selatan dicirikan oleh luasnya lahan sawah pasang surut, lebak, dan tadah hujan dibandingkan luas lahan sawah irigasi. Hal tersebut didukung oleh karakteristik agroekosistemnya yang cukup banyak memiliki kawasan gambut, yakni seluas 1,4 juta hektar atau sekitar 16,3 persen dari total luas wilayah provinsi setempat (Iqbal, 2007). Berdasarkan data BPS Sumatera Selatan (2011), Luas sawah di Sumatera Selatan pada 2010 seluas 785,483 hektar, dimana seluas 231,480 hektar adalah pasang surut dan 333,677 hektar adalah lebak. Sementara sisanya merupakan sawah irigasi dan tadah hujan.
Desa Pulau Borang merupakan salah satu Desa yang telah menerapkan program IP 200, dan produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan Desa lainnya di Kecamatan Banyuasin I. Untuk memperjelas tentang luas lahan, produksi dan produktivitas yang ada di Kecamatan Banyuasin I bisa dilihat di Tabel 1.1.
1 Universitas Sriwijaya Tabel 1.1. Luas lahan, produksi dan produktivitas tanaman padi di Kecamatan
Banyuasin I, Tahun 2017
No. Desa/Kelurahan Luas lahan
(ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha)
1. Sungai Rebo 312,5 1.187,5 3,8
2. Sungai Gerong 25,0 95,0 3,8
3. Mariana 216,5 1.645,4 7,6
4. Perajen 291,0 1.105,8 3,8
5. Pematang Palas 238,0 1.808,8 7,6
6. Cinta Manis Lama 55,2 209,8 3,8
7. Perambahan 60,0 228,0 3,8
8. Pulau Borang 532,2 4.044,7 7,6
9. Merah Mata 735,2 5.587,5 7,6
Sumber : Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kecamatan. Banyuasin I, 2017
Berdasarkan Tabel 1.1. diatas dapat dilihat bahwa Desa Pulau Borang merupakan Desa yang memiliki luas lahan terluas kedua di Kecamatan Banyuasin I yaitu sebesar 532,2 ha, produksi sebanyak 4.044,72 ton, dengan produktivitas 7,6 ton/ha. Desa Pulau Borang adalah Desa yang terletak pada Kecamatan Banyuasin I dengan luas wilayah 792,85 dan jumlah penduduk 1.095 jiwa, Desa Pulau Borang merupakan Daerah sawah dengan lahan pasang surut, yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani padi.
Luas lahan pertanian di Desa Pulau Borang adalah 532,2 ha yang tercatat pada Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Banyuasin I. Sistem penanaman padi di Desa Pulau Borang adalah dua kali dalam satu tahun atau biasa di sebut dengan IP 200.
Sistem penanaman IP 200 baru diterapkan di Desa Pulau Borang tetapi petani Desa Pulau Borang terus mengembangkan sistem tersebut setiap tahunnya. Sistem penanaman dua kali dalam satu tahun sudah berlangsung sejak tahun 2014. Penanaman pertama dimulai pada bulan April-Mei yang diawali dengan proses penyiapan lahan, pada ujung bulan September-Oktober adalah masa panen, kemudian dilanjutkan dengan penanaman kedua yaitu pada akhir bulan Oktober mulai menyiapkan lahan dan panen pada bulan Febuari sampai awal Maret. Cara penanaman mengunakan sistem tabur benih langsung (tabela) dan tanam mundur (tandur).
1 Universitas Sriwijaya Dari profil Desa Pulau Borang, tercatat kurang lebih 350 KK yang merupakan keluarga petani padi. Luas lahan yang dimiliki petani di Desa Pulau Borang sangat beragam. Sebagian besar masyarakat di Desa tersebut memiliki skala usaha yang kecil dengan luas dibawah 0,5 ha dan skala usaha sedang dengan luas 0,5 ha sampai 1 ha, namun adapula diantaranya yang memiliki skala usaha besar yang bisa mencapai lebih dari 1 ha. Petani yang memiliki lahan sempit akan menyebabkan usahatani tidak efisien karena semakin luas skala usahanya maka akan semakin efisien pula usahatani yang dilakukan. Namun beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa usahatani skala kecil pada dasarnya tidak lebih buruk dibandingkan usahatani skala besar, paling tidak memiliki efisiensi produksi yang sama (Susilowati dan Maulana, 2012).
Menurut Mudakir (2011) mendefinisikan lahan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang usahatani padi. Luas lahan yang dimiliki tentu saja akan berpengaruh terhadap produksi padi yang dihasilkan. Besar kecilnya produksi padi yang dihasilkan akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh. Pendapatan petani dapat berubah apabila tingkat produktivitas mengalami perubahan, apabila produktivitas turun dapat menyebabkan penurunan tingkat pendapatan petani dengan asumsi harga satuan hasil produksi tetap. Oleh karena itu, untuk melihat bagaimana tingkat produktivitas padi dapat mempengaruhi pendapatan petani dari usahatani padi, diperlukan analisis pendapatan usahatani padi (Kasih, 2019). Berdasarkan uraian di atas, hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian di Desa Pulau Borang untuk mengetahui bagaimana perbandingan produktivitas dan pendapatan usahatani padi berdasarkan skala usaha yang dimiliki petani pada lahan pasang surut.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini dirumuskan beberapa masalah yang ingin diteliti antara lain.
1. Berapa besar produktivitas dan pendapatan usahatani padi pada lahan pasang surut berdasarkan perbedaan skala usaha di Desa Pulau Borang kabupaten Banyuasin ?
1 Universitas Sriwijaya 2. Berapa besar Kontribusi Pendapatan Usahatani Padi pada lahan pasang surut di
Desa Pulau Borang Kabupaten Banyuasin ?
3. Apakah pendapatan petani padi di Desa Pulau Borang sudah memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) ?
4. Berapa luas lahan minimal yang layak diusahakan petani pada lahan pasang surut dengan IP 200 ?
1.3. Tujuan dan Kegunaan
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas maka tujuan dari penelitian ini antara lain.
1. Untuk mengetahui serta membandingkan berapa besar produktivitas dan pendapatan usahatani padi pada lahan pasang surut berdasarkan perbedaan skala usaha di Desa Pulau Borang kabupaten Banyuasin.
2. Untuk mengetahui berapa besar Kontribusi Pendapatan Usahatani Padi Terhadap Pendapatan Keluarga pada lahan pasang surut di Desa Pulau Borang Kabupaten Banyuasin.
3. Untuk mengetahui dan membandingkan tingkat kelayakan hidup petani padi berdasarkan standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Desa Pulau Borang.
4. Untuk menganalisis berapa luas lahan minimal yang layak diusahakan petani pada lahan pasang surut dengan IP 200.
Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain.
1. Sebagai tambahan informasi bagi para pengambil kebiakan mengenai perbandingan produktivitas dan pendapatan yang akan diperoleh petani sesuai skala usaha yang dimiliki masing-masing.
2. Sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan dan ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai usahatani padi di lahan pasang surut Desa Pulau Borang Kabupaten Banyuasin.
1 Universitas Sriwijaya
DAFTAR PUSTAKA
Aryani, D. 2009. Analisis Integrasi Pasar Beras di Sumatera Selatan dan Implikasi Kebijakannya. Laporan Penelitian DIPA Unsri. Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. Indralaya.
______, D dan L. Husin. 2012. Ketahanan Pangan di Sumatera Selatan Ditinjau dari Tren Produksi Beras dan Stok Beras Pedagang Serta Tingkat Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Laporan Penelitian Unggulan Kompetitif Unsri. Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. Indralaya.
Badan Pusat Statistik, 2003. Sensus Pertanian. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
_________________, 2010. Sumatera Selatan Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.
________________, 2011. Sumatera Selatan Dalam Angka 2011. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.
________________, 2014. Indikator Kesejahteraan Rakyat Indonesia. Badan Pusat Statistik Jakarta. Jakarta.
_________________, 2018. Luas Panen Padi Sawah dan Padi Ladang Tahun 2016 -2017 di Sumatera Selatan. Sumatera Selatan dalam Angka.
Palembang: BPS Sumatera Selatan.
BP3K. 2019. Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi di Kecamatan Banyuasin I. Banyuasin
Damanik, J. A., 2014. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Msaran Kabupaten Sragen. Jurnal Economics Developments Analysis [online]. Vol 3, No.1: 212 – 224.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2009. Pembenihan Tanaman.
Sumatera Selatan.
Dyas Achtin. 2010. Pengaruh produktivitas terhadap kesejahteraan petani di Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang. Skripsi. Jurusan ekonomi.
Fakultas Ekonomi. Universitas Semarang.
Farizi, A.N.A., 2018. Analisisi Pendapatan Petani Padi di Desa Kotasari Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Universitas Islam Yogyakarta. Yogyakarta.
Husin, L, dan Lifianthi. 2007. Diktat Kuliah Ekonomi Produksi Pertanian.
Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indralaya. (Tidak dipubllikasikan).
69
1 Universitas Sriwijaya Iqbal. M. 2007. Alih Fungsi Lahan Sawah dan Strategi Pengendaliannya di
Provinsi Sumatera Selatan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.
Kasih, A.C., 2019. Analisis Pendapatan Usahatani dan Biaya Pokok Produksi Padi Rawa Lebak di Desa Serijabo Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir. Skripsi. Jurusan Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.
Manwan, I., I.G. Ismail, T. Alihamsyah, dan S. Partoharjono. 1992. Teknologi Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut. Prosiding Risalah Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak. Cisarua.
Makarim, A. K., Suhartatik, E. dan Kartohardjono, 2007. Silikon: Hara Penting pada Sistem Produksi Padi. Jurnal Iptek Tanaman Pangan [online] Vol. 2, No. 2: 195-204.
Maulidya, N., 2011. Pengujian Vigor Daya Simpan dengan Metode Pengusangan Cepat Kimia Serta Pengujian Vigor Kekuatan Tumbuh pada Benih Padi (Oryza sativa L.). Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Nugraha, A.P., 2013. Pendapatan Usahatani Padi Metode System Of Rice Intensification (SRI) dan Padi Konvensional di Desa Kebonpedes Sukabumi. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Pasaribu, B., 2009. Peran Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Menunjang Tata Ruang dan Kedaulatan Pangan. Bahan Presentasi yang disampaikan pada Lokakarya Pembaruan Agraria Pertanian Nasional pada 3 September 2009 di Jakarta.
Prasekti, Y.H. Analisa Usaha Penangkar Benih Padi Ciherang di Kelurahan Tanmaan Kec.Tulungagung Kab.Tulungagung. Jurnal Agribisnis Fakultas Pertanian Unila Vol. 11 No. 13 April 2015. Unila.
Purwono dan Purnawati, H.2013. Budidaya 8 Jenis Tanaman Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Purnomo, H. 2010. Konsumsi Beras Indonesia Terbesar di Dunia.
http://finance.detik.com/read/2020/10/13/123257/1463600/4/konsumsi- beras-indonesia-terbesar-di-dunia. (Diakses Pada tanggal 2 Januari 2020).
Siregar, A.Z. 2018. Karakteristik Hama Padi Pasang Surut. Intimedia. Malang.
Sjarkowi, F. Dan M.Sufri . 2004. Manajemen Agribisnis. CV Baldat Grafiti Press.
ISBN 979-96207-1-6. Palembang.
Suratiyah, K., 2008. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
1 Universitas Sriwijaya Susilowati, S.H. dan Maulana, M., 2012. Luas Lahan Usahatani dan Kesejahteraan Petani: Eksistensi Petani Gurem dan Urgensi Kebijakan Reforma Agraria. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian [online]. Vol. 10, No.
1: 17-30.
Tjitrosoepomo, G., 2004. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tuwo, A., 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brillian Internasional.
Surabaya.