• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Tulungagung merupakan Kabupaten yang letaknya di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Tulungagung memiliki luas wilayah 1.055,65 km2 atau sekitar 2,2% dari luas keseluruhan provinsi Jawa Timur, terbagi menjadi 19 Kecamatan, 14 Kelurahan dan 257 Desa. Secara Demografi Kabupaten Tulungagung pada tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 5.216 jiwa atau 0,51% dari semula 1.015.974 jiwa pada tahun 2014 menjadi 1.021.190 jiwa pada tahun 2015 dengan persebaran jenis kelamin Laki-laki sebanyak 497.698 jiwa dan Perempuan sebanyak 523.492 jiwa. Berdasarkan perhitungan proyeksi jumlah penduduk selama 5 tahun, didapatkan hail pada tahun 2016 sejumlah 1.029.257 jiwa, tahun 2017 sejumlah 1.035.976 jiwa, tahun 2018 sejumlah 1.042.748 jiwa, tahun 2019 sejumlah 1.049.573 jiwa, tahun 2020 sejumlah 1.056.451 jiwa dan tahun 2021 sejumlah 1.063.383 jiwa. Kabupaten Tulungagung terletak pada posisi geografis 111°43’ - 112°07’ BT dan 7°51’ - 8°18’ LS dengan titik nol derajat dihitung dari Greenwich, Inggris. Batas-batas administratif wilayah Kabupaten Tulungagung sebelah Utara adalah Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Blitar, sebelah Timur adalah Kabupaten Blitar, sebelah Selatan adalah Samudra Hindia, sedangkan sebelah Barat adalah Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo. Jarak antara Kabupaten Tulungagung dengan Kota Surabaya yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur kurang lebih 154 km ke arah Barat Daya.

Kabupaten Tulungagung memiliki fisiografi lahan dari dataran rendah, sedang hingga dataran tinggi dengan konfigurasi datar hingga pebukitan dan pegunungan. Dataran rendah merupakan daerah dengan ketinggian dibawah 500 m dari permukaan laut, daerah ini meliputi semua Kecamatan Pagerwojo dan Sendang hanya empat desa. Dataran sedang mempunyai ketinggian 500 m sampai

(2)

2 dengan 700 m dari permukaan laut, daerah ini meliputi Kecamatan Pagerwojo sebanyak enam desa dan Kecamatan Sendang sebanyak lima desa. Daerah yang memiliki wilayah terluas secara berurutan yaitu Kecamatan Tanggunggunung, Kecamatan Kalidawir, Kecamatan Sendang, dan Kecamatan Pagerwojo. Secara garis besar wilayah Kabupaten Tulungagung dapat dikelompokkan kedalam tiga bagian antara lain bagian Utara (Barat Daya) merupakan daerah pegunungan yang relatif subur, yang merupakan bagian Tenggara dari pegunungan Wilis mencakup luas area kurang lebih 25%. Bagian Selatan merupakan daerah pegunungan yang relatif tandus, namun kaya akan potensi hutan dan bahan tambang, yang merupakan bagian dari pegunungan kapur selatan Jawa Timur mencakup luas area 40%. Sedangkan bagian Tengah merupakan dataran rendah yang subur, yang dilalui oleh Sungai Brantas dan Kali Ngrowo (Parit Agung) beserta cabang- cabangnya meliputi luas area 35%.

Kabupaten Tulungagung ditinjau dari segi relief memiliki ketinggian tempat dari atas permukaan laut (dpl) dikelompokkan menjadi empat wilayah antara lain wilayah dengan ketinggian 0-100 m dpl meliputi wilayah seluas 38.527,23 Ha mencakup 36,76% dari keseluruhan luas wilayah, wilayah dengan ketinggian 100-500 m dpl meliputi wilayah seluas 64.25,89 Ha mencakup 55,82%

keseluruhan luas wilayah, wilayah dengan ketinggian 500-1000 m dpl meliputi wilayah seluas 9.479,38 Ha mencakup 7,67% keseluruhan luas wilayah, wilayah dengan ketinggian 1000 m dpl meliputi wilayah seluas 3.474,24 Ha mencakup 3,02% keseluruhan luas wilayah. Dari segi relief kemiringan tanah dapat dinyatakan dalam bentuk prosentase %. Pernyataan untuk setiap 1% kemiringan tanah (kelerengan) berarti terdapat perbedaan tinggi sebesar 1 meter dari dua tempat berjarak 100 meter. Luas lahan berdasarkan kemiringan tanah di Kabupaten Tulungagung terbagi menjadi wilayah Datar seluas 0-2% memiliki luas lahan 46.971,24 Ha dengan persentase total 40,8%, wilayah Datar-Landai seluas 2-8% memliki luas lahan 5.637,01 Ha persentase total 4,9%, wilayah Landai-Berombak seluas 8-15% memiliki luas lahan 8.317,46 Ha persentase total 7,2%, wilayah Berombak-Bergelombang Lemah seluas 15-25% memiliki luas

(3)

3 lahan 15.875,66 Ha persentase total 13,8%, wilayah Bergelombang Lemah-Kuat seluas 25-40% luas lahan 22.985,19 Ha persentase total 19,98%, sedangkan wilayah Bergelombang Kuat seluas >40% luas lahan 15.254,44 Ha dengan persentase total 13,26%. Dari data tersebut terlihat bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Tulungagung termasuk dalam kelas lereng datar (40,8%).

Struktur geologi Kabupaten Tulungagung secara garis besar terususun atas endapan tanah liat dan pasir, tuf vulkan intermediate, serta batu kapur dan napal.

Terkstur tanah terbagi menjadi 3 golongan, yaitu tekstur tanah halus meliputi wilayah seluas 43.081,08 Ha atau 40,81% dari total luas wilayah yang terdapat di Kecamatan Sendang, Ngantru, Pucanglaban, Pakel, Bandung, Campurdarat, dan Besuki. Tekstur tanah sedang meliputi wilayah 27.425,79 Ha atau 25,98% dari total luas wilayah yang terdapat di hampir semua Kecamatan kecuali Kecamatan Rejotangan. Tekstur tanah kasar meliputi wilayah seluas 35.100,36 Ha atau 33,25% dari total luas wilayah yang terdapat di Kecamatan Pucanglaban. Tekstur tanah yang ada tersebut berpengaruh besar terhadap sistem pengolahan tanah dan pertumbuhan tanaman. Tekstur tanah terebut ditentukan oleh perbandingan partikel pasir, debu dan tanah liat. Selain itu jenis tanah yang terdapat pada Kabupaten Tulungagung juga beragam. Beberapa jenis tanah itu antara lain Alluvial coklat tua berada di wilayah Kecamatan Bandung dan Kecamatan Besuki. Alluvial coklat tua kelabuan di wilayah Kecamatan Besuki, Pakel, Campurdarat, Tulungagung, Boyolangu, Pucanglaban dan Kalidawir. Assosiasi Alluvial kelabu dan Alluvial coklat kelabuan berada di Kecamatan Besuki, Bandung, Pakel, Campurdarat, Gondang, Boyolangu, Tulungagung, Kedungwaru, Ngantru, Sumbergempol, Kalidawir, dan Ngunut. Jenis tanah Litosol berada di wilayah Kecamatan Bandung, Besuki, Tanggunggunung, Boyolangu dan Kalidawir. Litosol Mediteran dan Resina berada di Kecamatan Besuki, Tanggunggunung, Sumbergempol, Pucanglaban dan Rejotangan. Jenis tanah Regosol coklat kelabuan berada di Kecamatan Ngunut, Pucanglaban, dan Rejotangan. Jenis tanah Mediteran coklat kemerahan berada di Kecamatan Gondang, Kauman, Karangrejo, Pagerwojo dan Sendang. Jenis tanah Litosol

(4)

4 coklat kemerahan berada di Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Sendang. Jenis tanah Andosol berada di Kecamatan Sendang dan Kecamatan Pagerwojo.

Wilayah Kabupaten Tulungagung terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran sepanjang tahun. Beberapa sungai tersebut memliki daerah pengaliran sungai yang cukup luas dan membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS), Kabupaten Tulungagung termasuk dalam DAS Brantas yaitu dimana terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara di Kali Brantas. Selain dialiri oleh sungai, keadaan hidrologi Kabupaten Tulungagung juga ditentukan oleh adanya waduk, dam, mata air, pompa air, dan sumur bor. Air permukaan merupakan air tawar yang terdapat pada sungai, saluran, danau/telaga, rawa, empang, dan sebagainya.

Secara garis besar DAS di Kabupaten Tulungagung terbagi menjadi dua yaitu DAS Brantas dan DAS Dlodo - Gedangan. DAS Brantas dibedakan menjadi dua Sub DAS, yang pertama adalah Sub DAS Ngrowo – Ngasinan yang menempati bagian tengah Kabupaten Tulungagung dengan pola aliran sungai yaitu Sungai Ngrowo/Parit Agung/Parit Raya sebagai sungai orde I beserta anak pecabangan sungai orde II, orde III, orde IV. Anak-anak percabangan sungai tersebut antara lain Sungai Kalidawir, Sungai Ngasinan, Sungai Gong, Sungai Klantur, Sungai Babaan, Sungai Wudu, Sungai Gondang, Sungai Bajalpicisan, Sungai Keboireng, dan lain sebagainya. Sub DAS kedua adalah Sub DAS Lahar yang menempati bagian Utara Kabupaten Tulungagung dengan pola aliran sungai utama yaitu Sungai Brantas sebagai sungai orde I beserta anak percabangan sebagai orde II, orde III dan seterusnya. Sungai yang dimaksud antara lain Sungai Catut, Sungai Boto dan lain sebagainya. DAS kedua merupakan DAS Dlodo-Gedangan yang berada dibagian Selatan Kabupaten Tulungagung, secara umum bentuk morfoloaginya miring. DAS ini memliki sistem pengairan yang bermuara dan mengalir di Samudra Hindia. Sungai yang mengalir pada DAS ini antara lain Sungai Dlodo, Sungai Kerecek, Sungai Ngelo, Sungai Urang, Sungai Molang, dan lain sebagainya. Berdasarkan batas sistem penyebarannya berbeda antara batas administrasi Kabupaten Tulungagung dengan batas penyebaran daerah tangkapan air hujannya pada sistem Sub DAS yang ada. Khususnya pada 2 Sub DAS yaitu

(5)

5 pada sistem Sub DAS Ngrowo-Ngasinan yang ekosistemnya mencakup 3 wilayah Kabupaten antara lain Kabupaten Tulungagung, Trenggalek dan Ponorogo.

Sedang pada sistem Sub DAS Lahar pengaruh ekosistemnya mencakup 3 wilayah antara lain Kabupaten Tulungagung, Blitar, dan Kediri. Berdasarkan penampakan fisiknya pada sistem DAS - Sub DAS di Kabupaten Tulungagung, secara umum dapat dibedakan menjadi daerah bagian hulu dan hilir. Daerah bagian hulu wilayah Kabupaten Tulungagung menempati kawasan perbukitan/pegunungan dan lereng Tenggara Gunung Wilis. Kawasan ini mempunyai peranan embung/bendung, waduk, tandon air, dan lain sebagainya. Sedangkan daerah bagian hilir secara umum menempati daerah dataran rendah/daerah muara sungai yang merupakan daerah pemanfaatan dan penataan air oleh aktivitas kegiatan manusia. Potensi air disini sangat besar peranannya dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan /keperluan irigasi, penyediaan air baku untuk minum, industri, perikanan dan lain sebagainya. Disamping pemanfaatan tersebut dalam rangka penataan air banyak dilaksanakan program/kegiatan pembangunan seperti pengembangan jaringan irigasi, pekerjaan normalisasi saluran, pembuatan tanggul sungai, pembuatan plengsengan dan lain sebagainya.

Klimatologi dari Kabupaten Tulungagung termasuk bertipe AW yaitu merupakan iklim dengan hujan tropis bermusim. Tipe hujan dicirikan oleh turunnya hujan bermusim pada bulan November sampai dengan bulan April, adanya musim kemarau pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober. Suhu yang dimiliki Kabupaten Tulungagung rata-rata mencapai 27°C dengan suhu rendah 24°C dan suhu tinggi 30°C. Kelembaban udara berkisar antara 74-77% dan curah hujan tahunan rata-rata berkisar 2.155 - 3.292 mm.

Potensi pengembangan wilayah yang dimiliki oleh Kabupaten Tulungagung mencakup kawasan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertambangan, industri, strategis, pesisir dan pariwisata. Pengembengan wilayah yang pertama merupakan kawasan pertanian cukup besar yang terdiri dari lahan sawah dan tegalan dengan luas total sekitar 42,93% dari luas lahan di Kabupaten Tulungagung. Hasil produksi pertanian di Kabupaten Tulungagung menunjukkan

(6)

6 trend meningkat seperti produksi padi, sayuran, ubi kayu, kedelai dan jagung.

Pengembangan wilayah yang kedua adalah sektor perkebunan yang memiliki luas kawasan yang cukup besar 7,64% dari total luas wilayah. Hasil dari perkebunan memiliki beberapa komoditi unggulan seperti kelapa, teh, karet, tembakau dan tebu yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Komoditas ini dapat diolah dan diekspor. Potensi wilayah ketiga merupakan kawasan perikanan yang memiliki produksi kurang lebih 5.895 ton/tahun. Penambahan jumlah armada dan ukuran perahu serta jenis alat tangkap yang dioperasikan. Mempunyai waduk yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan perairan umum untuk meningkatkan jumlah produksi ikan dan aneka kegiatan yang berkaitan dengan budidaya perikanan. Terdapat lahan potensial yang dapat digunakan untuk memperluas area budidaya ikan konsumsi dan ikan hias. Produksi ikan hias di Kabupaten Tulungagung makin dikenal di wilayah lain seperti Jakarta, bahkan sampai luar negeri seperti Singapura, Taiwan, Eropa dan Amerika. Wilayah keempat merupakan kawasan peternakan dengan potensi sumberdaya yang cukup besar dan tersebar di seluruh kecamatan seperti ternak sapi potong, sapi perah, kambing, domba, burung dara, ayam dan itik. Adanya dukungan potensial lahan pertanian yang cukup luas untuk penyediaan pakan ternak seperti komoditas jagung dan rumput pakan ternak. Minat, sikap dan perilaku masyarakat untuk beternak cukup tinggi. Wilayah kelima merupakan kawasan pertambangan dengan sumber daya mineral yang kaya berupa batu gamping dan batu marmer di Kecamatan Besuki dan Campurdarat, lempung/tanah liat di Kecamatan Ngunut dan Sumbergempol, pasir kali di Kecamatan Ngantru, pasir besi endapan pantai di Kecamatan Dlodo, Direng dan Pantai Sine, mangaan di Kecamatan Bandung, serta batubara di Kecamatan Besuki. Sumber daya mineral berupa bahan tambang dapat meningkatkan pendapatan daerah dan lapangan pekerjaan di Kabupaten Tulungagung. Penyebaran kawasan pertambangan yang banyak terdapat di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Wilayah selanjutnya merupakan kawasan industri yang memiliki potensi yang cukup besar terutama industri pertamabnga marmer yagn cukup terkenal di Kabupaten Tulungagung.

Keberadaan IKKR (Industri Kecil dan Kerajinan Rumah Tangga) yang potensial

(7)

7 dalam menyerap tenaga kerja. Hasil produksi pertanian (petanian lahan kering khususnya) dan perkebunan yang cukup menjanjikan dapat dimanfaatkan untuk menjadi komoditas indutri berbasis pertanian (agro-industri) yag dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai jual hasil produksi dan perkebunan.

Kabupaten Tulungagung berada di wilayah yang merupakan kawasan strategis yang memiiki pertumbuhan ekonomi pada Kecamatan Tulungagung, Kawasan Perkotaan Koridor Campurdarat-Pakel Bandung, Kawasan Perkotaan Ngunut.

Kawasan yang perlu penanganan lebih lanjut secara ekonomi yaitu kawasan tertinggal di Kabupaten Tulungagung bagian Utara (Kecamatan Sendang dan Pagerwojo) dan bagian Selatan (Kecamatan Pucanglaban dan Tanggunggunung).

Kawasan strategis wisata unggulan adalah kawasan wisata pantai dibagian Selatan Kabupaten Tulungagung terutama pantai Popoh di Kecamatan Besuki, Kawasan Waduk Wonorejo, dan Kawasan Wisata Argo Wilis. Kawasan strategis fungsional meliputi kawasan pekrotaan Tulungagung-Ngantru (Pusat Pemerintahan, Perkantoran, Perdagangan, dan Jasa), Kawasan Perkotaan Boyolangu (kawasan fungsional pendidikan), Kawasan Perkotaan Koridor Gondang-Kauman- Karangrejo (kawasan fungsional perdagangan dan jasa di Kalangbret), serta kawasan pertambangan di wilayah Selatan di Kabupaten Tulungagung yaiu Kecamatan Pucanglaban, Kalidawir, Tanggunggunung, Campurdarat, Pakel, Bandung, dan Besuki. Kabupaten Tulungagung yang terletak dikawasan peisisir juga memiliki potensi wilayah yang ditinjau dari kondisi fisik sebagian besar merupakan kawasan dengan fungsional perlindungan (perlindungan sempadan pantai) dan rawan bencana alam (rawan tsunami). Kawasan pesisir Kabupaten Tulungagung memiliki potensi pengembangan ekonomi seperti pengembangan obyek wisata dan potensi perikanan tangkap. Sebagian besar dari potensi-potensi tersebut masih belum dikelola (kondisi alami). Kawasan pesisir Kabupaten Tulungagung mempunyai potensi perikanan yang cukup besar dan sangat menunjang perikanan laut seperti adanya Tempat Pelelangan Ikan di Pantai Sidem, dekat dengan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki. TPI tersebut dikelola oleh KUD Mina Karya yang dapat membatu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan meningkatkan taraf hidup anggotanya. Selanjutnya Kabupaten Tulungagung yang

(8)

8 letaknya di wilayah yang merupakan kawasan pariwisata memiliki banyak sekali obyek wisata dan memiliki kelebihan tersendiri seperti wisata pantai, pegunungan, dan wisata budaya yang tidak kalah dengan obyek wisata terkenal lainnya di Indonesia. Beberapa obyek wisata telah dikembangkan seperti obyek wisata pantai (Pantai Popoh), wisata bendungan (Waduk Wonorejo) dan taman wisata (Pemandian Srabah, Pesanggrahan Argowilis). Akses menuju lokasi wisata pada beberapa tempat sudah dilayani oleh angkutan umum serta tersedia fasilitas penginapan bagi wisatawan. Pengelolaan terhadap beberapa lokasi wisata sudah cukup baik sehingga membuat wisatawan terasa nyaman dan ingin kembali berkunjung.

Daerah yang memiliki potensi wilayah yang sangat besar memerlukan alat transportasi yang keberadaannya sangat penting untuk menjalankan salah satu fungsi utamanya yaitu sebagai pengangkut pergerakan masyarakat untuk mengerjakan aktifitas sehari-hari dengan pelayanan yang diberikan diharapkan dilakukan secara cepat, aman, nyaman, murah dan efisien. Dengan kemudahan dan kelancaran pergerakan diharapkan fungsi keberadaan sesorang dan nilai kegunaan suatu barang dapat dimaksimalkan baik dipandang dari segi tempat (place utility) maupu segi waktu (time utility) sehingga membantu dalam mempercepat pertumbuhan suatu kota.

Pertumbuhan suatu kota atau kabupaten ditandai dengan terjadinya keragaman dan peningkatan aktifitas serta pergerakan penghuninya.

Perkembangan ruang kota atau kabupaten menjadi salah satu faktor perkembangan transportasi dan menyebabkan perubahan sistem transportasi itu sendiri serta pelayanan terhadap pengguna jasa transportasi. Jasa transportasi terus berkembang dari masa ke masa seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Penyediaan fasilitas-fasilitas transportasi diperlukan untuk melayani aktifitas dan pergerakan penduduk tersebut.

(9)

9 Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dalam sistem transportasinya menggunakan angkutan umum sebagai salah satu sarana transportasi antar kota, sehingga keberadaan angkutan umum penumpang sangat penting dan diperlukan suatu pengaturan agar dapat melayani penumpang secara maksimal. Angkutan umum yang ada di Kabupaten Tulungagung berupa ojek, becak, angkutan kota, bus kota. Bus kota mempunyai peranan yang sangat pentung dan cukup mendominasi dibandungkan angkutan umum lainnya dalam memenuhi kebutuhan transportasi bagi masyarakat untuk melaksanakan aktifitasnya. Dalam pengoperasiannya angkutan bus kota dikelola oleh Swasta dan Pemerintah. Banyaknya perusahaan Swasta yang mengelola angkutan bus kota sehingga diperlukan suatu kebijakan dari pihak pemerintah dalam hal ini Pemkab Tulungagung agar sistem dapat berjalan dengan lancar untuk mencapai pelayanan yang maksimal, salah satu kebijakan yang sangat penting yaitu mengenai penentuan tarif angkutan.

Alat transportasi khususnya angkutan umum perkotaan bus DAMRI via Sooko yang berada di Kabupaten Tulungagung ini memudahkan masyarakat yang hendak bepergian ke Kabupaten Tulungagung maupun ke Kabupaten Ponorogo.

Bus DAMRI via Sooko merupakan angkutan umum perkotaan yang jalurnya melewati trayek pegunungan. Karena tidak banyak angkutan umum perkotaan yang tersedia yang melewati jalur pegunungan. Dulunya hanya ada angkutan kota (kol) yang hanya beroperasi sekali dalam sehari, padahal kebutuhan masyarakat akan perjalanan jarak pendek sangat dibutuhkan. Bus DAMRI via Sooko beroperasi dua unit. Keduanya memiliki jadwal keberangkatan yang sama yaitu dari Terminal Gayatri Kabupaten Tulungagung dan Terminal Seloaji Ponorogo.

Dua bus DAMRI ini tidak hanya memudahkan masyarakat juga memberikan sensasi perjalanan yang mendebarkan. Jalurnya yang melewati Kecamatan Pagerwojo yang memiliki kontur naik turun dan berkelak-kelok. Selain jalur yang dilewati berkelak-kelok dan memacu adrenalin, jalur ini memberikan pemandangan yang hijau berupa pepohonan pinus dan ladang sayur khas pedesaan yang cukup memanjakan mata.

(10)

10 Penentuan tarif angkutan membutuhkan penanganan dan kebijakan yang sesuai. Karena harus dapat menjembatani kepentingan penumpang selaku konsumen dan pengusaha/operator angkutan umum. Lemahnya daya beli masyarakat seringkali menjadi alasan penundaan bahkan pembatalan perubahan tarif yang ada. Pada dasarnya penetapan tarif oleh pemerintah bertujuan untuk menjamin kelangsungan penyelenggaaraan angkutan umum perkotaan dengan mutu jasa standar keselamatan disatu pihak, juga mempertimbangkan kemampuan dan kemauan daya beli pengguna jasa. Banyak faktor yang mempengaruhi peentuan tarif, antara lain kondisi ekonomi masyarakat, fasilitas sarana dan prasarana, biaya pemeliharaan/suku cadang, harga bahan bakar, dan sebagainya.

Penelitian ini didasari atas keluhan penumpang tentang kenyamanan yang diberikan oleh bus DAMRI. Dalam hal ini kenyamanan yang dimaksud adalah ketika penumpang harus memberikan waktu/menunggu lebih lama untuk bus DAMRI dari kedua Kabupaten bertemu pada satu titik untuk memberikan jalan terlebih dahulu pada jalan dimana kendaraan tersebut tidak dapat dilalui oleh dua kendaraan secara bersamaan. Keluhan yang diberikan oleh masyarakat juga terkait kurangnya koordinasi dari kedua sopir bus. Tarif yang di tetapkan oleh bus DAMRI tersebut tidak sesuai dengan fasilitas berupa kenyamanan yang diberikan oleh pihak pengelola.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah tarif yang berlaku saat ini untuk angkutan umum khusunya bus DAMRI di Kabupaten Tulungagung telah sesuai ditinjau dari Biaya Operasional Kendaraan (BOK) menurut metode Departemen Perhubungan?

2. Apakah tarif yang berlaku saat ini untuk angkutan umum khususnya bus DAMRI di Kabupaten Tulungagung telah sesuai ditinjaui dari kemampuan penumpang Ability to Pay (ATP) dan kemauan penumpang Willingness to Pay (WTP)?

(11)

11 1.3. Batasan Masalah

1. Angkutan umum yang diamati adalah angkutan umum bus DAMRI trayek Tulungagung-Ponorogo.

2. Perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) menggunakan metode Departemen Perhubungan.

3. Penetapan tarif menggunakan pendekatan kemampuan penumpang Ability to Pay (ATP) dan kemauan penumpang Willingness to Pay (WTP)

4. Tarif angkutan bus saat penelitian sebesar Rp. 15.000,-

5. Data- data diambil selama waktu operasional bus pada hari kerja dan hari libur.

1.4. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tarif berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) menggunakan metode Departemen Perhubungan.

2. Untuk mengetahui tarif dilihat dari kemampuan penumpang Ability to Pay (ATP) dan kemauan penumpang Willingness to Pay (WTP) untuk membayar angkutan umum khusunya bus DAMRI.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Menambah pengetahuan dalam bidang Teknik Sipil khususnya mengenai evaluasi tarif angutan umum.

2. Sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan tarif angkutan umum yang sesuai berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK), kemampuan penumpang Ability to Pay (ATP), dan kemauan penumpang Willingness to Pay (WTP).

3. Sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan tarif dari segi pelayanan bagi penyedia jasa angkutan khususnya Perum DAMRI.

4. Sebagai penelitian yang diharapkan mampu mendorong penelitian berikutnya yang lebih sempurna bagi para mahasiswa, akademisi, dan pemerhati masalah angkutan pada umumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kajian geomorfologi untuk analisis potensi kekeringan Daerah Istimewa Yogyakarta secara garis besar mencakup tiga hal, yakni analisis indeks kekeringan meteorologis ,

Kondisi seperti di atas menjadikan wilayah pulau-pulau kecil di Kabupaten Halmahera Utara yakni pada gugusan Kepulauan Morotai menjadi wilayah yang kurang disentuh oleh

Kini dengan berlakunya Konvensi Hukum Laut tahun 1982, dimana ditetapkan bahwa batas wilayah negara dengan laut teritorial atau perairan kepulauan adalah garis

1. Provinsi Jambi adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki batas wilayah, penduduk, dan otonomi sesuai dengan karakter dan budaya

Sebagai negara yang memiliki wilayah yang luas dan juga garis pantai yang panjang menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah,

Penulis melakukan wawancara dengan pegawai bagian Penindakan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Bagian Selatan yang dalam hal

Adapun untuk fokus atau batasan-batasan materi dalam penelitian ini adalah menganalisa mengenai persebaran guna lahan dan potensi wilayah serta sektor basis di bagian

Kabupaten Jombang bagian utara adalah bagian dari pegunungan kapur yang memiliki tanah relatif kurang subur, sebagian besar mempunyai fisiografi yang mendatar dan