• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh. pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh. pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulisan Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, yakni memahami makna yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.

Salah satu penetapan kegiatan membaca di SMP pada mata pelajaran bahasa Indonesia, yaitu membaca pemahaman wacana. Salah satu wacana yang dimaksud yaitu wacana argumentasi yang isinya memaparkan sesuatu untuk memperkuat argumen atau gagasan. .Sebenarnya, pembelajaran membaca wacana argumentasi sudah lama diterapkan di sekolah-sekolah, termasuk di SMP Negeri 1 Madapangga. Akan tetapi, hasil yang dicapai terkadang belum memuaskan yang

(2)

dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu sarana, sistem pembelajaran yang diterapkan, dan sebagainya. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil pembelajaran membaca wacana argumentasi di sekolah ini masih bervariasi, bergantung kondisi pribadi siswa. Sementara, tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini, yaitu siswa diharapkan mampu menguasai semua keterampilan berbahasa dengan menerapkan standar penilaian rata-rata 75 (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Tujuan pembelajaran membaca adalah untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta misalnya untuk mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh

Ada empat unsur yang harus dikuasai oleh seorang pembaca, yaitu unsur psikologis, linguistik, situasi atau konteks, dan pemahaman ide yang akan diujarkan. Unsur psikologis berkaitan dengan kondisi batin pembaca. Unsur linguistik berkaitan dengan penguasaan bahasa yang dikuasi pembaca. Unsur situasi atau konteks berkaitan dengan keadaan yang ada disekitar pembaca, Unsur pemahaman ide berkaitan dengan penguasaan bahan bacaan oleh pemateri.

Pada umumnya siswa mengalami hambatan ketika mereka diberikan tugas oleh guru untuk mengemukakan pendapat di depan kelas. Mereka mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide, kurang menguasai materi yang diberikan oleh guru, kurang membiasakan diri untuk berbicara di depan umum, kurangnya rasa percaya diri pada siswa, dan kurang mampu mengembangkan keterampilan bernalar dalam berbicara. Kesulitan-kesulitan tersebut membuat mereka tidak

(3)

mampu mengungkapkan pikiran dan gagasan dengan baik, sehingga siswa menjadi enggan untuk berbicara menuangkan ide kreatifnya.

Permasalahan-permasalahan di atas, terjadi juga di SMP Negeri 1 Madapangga kabupaten Bima berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 30 Desember sampai tanggal 30 Februari 2014, ditunjukkan bahwa kualitas pembelajaran membaca pemahaman wacana argumentasi siswa di kelas tersebut tergolong masih rendah. Selain dari nilai tersebut, indikator lain yang menunjukkn bahwa keterampilan membaca siswa masih rendah dapat dilihat dari sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami bacaan. Hal ini disebabkan kurangnya rasa percaya diri, dan siswa kurang tertarik pada pembelajaran membaca pemahaman (sumber dari nilai kelas VII, wawancara dengan siswa, dan guru).

Fakta di atas menunjukkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dilaksankan guru masih kurang optimal. Menurut hasil pengamatan peneliti dan wawancara dengan siswa, serta guru, rendahnya keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga kabupaten Bima disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

1. :1. Pembelajaran membaca pemahaman wacana argumentasi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga di kabupaten Bima masih menggunakan metode konvensional.

2. Siswa kurang tertarik pada pembelajaran membaca pemahaman wacana argumrntasi.

(4)

3. Siswa mengalami kesulitan dalam menentukan pokok-pokok atau ide yang terdapat dalam membaca pemahaman wacana argumentasi.

4. Guru belum menemukan metode yang tepat untuk mengajarkan materi membaca pemahaman wacana argumentasi secara menarik, menyenangkan dan efektif bagi siswa (sumber dari observasi yang dilakuakan oleh peneliti saat pembelajaran membaca, wawancara dengan guru dan siswa)

Atas dasar kenyataan yang ada, perlu dihadirkan sebuah strategi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi siswa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pembelajaran keterampilan membaca di kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga kabupaten Bima, dibutuhkan perbaikkan yang dapat mendorong siswa secara keseluruhan agar aktif membaca. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar yaitu dengan menggunakan strategi coperative learning.

Salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa adalah strategi belajar Coperative learning.

Coperative learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari 2 orang atau lebih.

Konteks seperti itu mengharuskan siswa mengerti makna belajar, manfaat belajar, status pembelajaran, dan proses pencapaiannya. Siswa sadar bahwa hal yang dipelajarinya berguna kehidupannya. Dengan demikian, mereka

(5)

mempromosikan diri sendiri yang memerlukan sesuatu bekal untuk hidupnya.

Mereka mempelajari hal yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.

Tugas guru dalam penerapan strategi coperative learning di kelas adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan metode dan pendekatan daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk membangun sesuatu yang baru bagi anggota kelas/siswa. Pengetahuan dan keterampilan datang dari konsep yang dikatakan oleh guru.

Strategi coperative learning sebagai pendekatan konstruktif, yakni pengetahuan dibangun (dikonstruksi) manusia sedikit demi sedikit yang diberi makna melalui pengalaman nyata dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Esensi pembelajaran konstruktivisme adalah ide bahwa anak harus menemukan dan mentrasformasikan suatu

informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

(6)

Penerapan Cooperative Learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar sekaligus dapat meningkatkan harga diri. Selain itu juga dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan. Serta dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas akademik, member peluang kepda siswa yang berbeda latar belakang untuk saling bekerja saling bergantung satu sama lain atau tugas bersama. Sehingga pada akhir Cooperative Learning ini kelompok yang berprestasi akan diberikan penghargaan

Dalam dunia pendidikan pembelajaran cooperative learning telah memiliki sejarah yang panjang sejak zaman dahulukala, para guru telah mendorong siswa-siswa mereka untuk bekerja sama dlam tugas-tugas kelompok tertentu dalam diskusi, debat, atau pelajaaran tambahan. Menurut beberapa ahli bahwa cooperative learning tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, akan tetapi sangat berguna untuk menumbuhkan berfikir kritis. Jadi, cooperative learning adalah konsep yang lebih luas yang meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti termotivasi melakukan penelitian dengan judul:Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Wacana Argumentasi Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Strategi Belajar coperative learning Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi segala kendala dalam pembelajaran membaca pemahaman wacana argumentasi yang selama ini masih kurang.

(7)

B. Masalah Penelitian

1.

Identifikasi Masalah

a.

Siswa belum mengetahui cara membaca pemahaman

b.

Siswa bosan dengan strategi atau cara mengajar guru

c.

Guru belum menerapkan model pembelajaran reciprocal teaching dalam proses pembelajaran

2.

Alternatif Masalah

Berdasarkan masalah yang ada maka alternatif masalah yang peneliti tawarkan yaitu dengan menerapkan strategi coperative learning dalam proses pembelajaran

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, penulis merumuskan masalah penelitian ini, yaitu: bagaimana peningkatan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi coperative learning siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima ?

D. Tujuan Penelitian

(8)

Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan, penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi belajar coperative learning siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis.

Secara teoretis, dapat dijadikan acuan dan teori baru tentang peningkatan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi belajar coperative learning siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga.

Secara praktis, manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini, yaitu (1) bagi siswa, yaitu mengembangkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi melalui strategi pembelajaran coperative learning; (2) bagi guru yaitu memberikan sumbangan pemikiran kepada guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia dalam hal penerapan strategi coperative learning pada pembelajaran Bahasa Indonesia; memberikan sumbangan pemikiran yang berharga bagi pengembangan metodologi pengajaran, pengembangan minat; dan kemampuan siswa; dan (3) bagi peneliti lanjut, sebagai bahan pembanding dan acuan dalam menulis karya tulis yang relevan

(9)

9

Bagian ini berisi kerangka teori yang dijadikan acuan penelitian ini.

Penelitian ini dilaksanakan guna membahas permasalahan yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan teori yang merupakan kerangka landasan dalam pelaksanaannya.

Kerangka teori yang melandasi penelitian ini tersusun dalam pembahsan berikut ini.

1. Membaca

a. Pengertian Membaca

Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual, membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif.

Klein dkk., (dalam Rahiem, 2405: 13) mengemukakan bahwa membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses; (2) membaca adalah strategis, dan (3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses dimaksudkannya informasi dari teks pengetahuan yang dimiliki pembaca dan mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.

(10)

Membaca adalah kegiatan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks. Selain itu, Oka (1983: 21) berpendapat bahwa membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Tarigan (1987: 8) mengartikan membaca sebagai (a) suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain, yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis; (b) suatu proses memahami yang tersirat dalam yang tersurat melihat pikiran yang terkandung dalam kata-kata tertulis. Tingkat hubungan antara makna yang hendak dikemukakan oleh penulis dan penafsiran atau interpretasi pembaca turut menentukan ketepatan membaca.

Reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material", memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis (Finochiaro dan Bonomo dalam Tarigan,1987: 8).

Hudson (dalam Tarigan, 1987: 7) mengemukakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa tulis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 83), membaca adalah melihat serta memahami isi dari sesuatu yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati.

Selanjutnya, Nurhadi (2005: 113) mengemukakan bahwa membaca adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang

(11)

datangnya dari dalam dari pembaca dan faktor luar. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan dan bukan kemampuan yang bersifat instingtif atau naluri yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, proses membaca yang dilakukan oleh seorang dewasa (dapat membaca) merupakan usaha mengolah dan menghasilkan sesuatu melalui penggunaan modal tertentu.

Membaca memberi makna pada sebuah teks tertentu yang dipilih atau yang dipaksakan kepada yang cukup rumit, kompleks, dan aneka ragam.

Kegiatan ini adalah jenis membaca pemahaman. Membaca pemahaman adalah upaya pemaknaan terhadap bahan bacaan. Bahan bacaan yang dipahami, dan dapat dimaknai tentu menghasilkan kesimpulan terhadap hasil bacaan seseorang.

b. Tujuan Membaca

Waples (dalam Nurhadi, 2005: 136) berpendapat bahwa tujuan membaca meliputi:

1) Untuk memperoleh sesuatu yang bersifat praktis;

2) Ingin mendapat rasa lebih (self image) dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya;

3) Memperkuat nilai-nilai pribadi atau keyakinan;

4) Mengganti pengalaman estetik yang sudah usang, untuk mendapat sensasi-sensasi baru melalui penikmatan emosional bahan bacaan; dan 5) Membaca untuk menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan atau

penyakit tertentu.

(12)

Nurhadi (2205: 137) mengemukakan tujuan pembaca secara khusus, yaitu :

1) Membaca untuk mendapat informasi faktual;

2) Membaca untuk memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan bersifat problematis bagi pembaca;

3) membaca untuk memberikan penilaian terhadap karya tulis seseorang;

4) Membaca untuk memperoleh kenikmatan emosi semata: dan 5) Membaca hanya untuk tujuan mengisi waktu.

Menurut Tarigan (1987 : 9), tujuan membaca yaitu :

1) Memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts);

2) Memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas);

3) Mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita (reading for sequence or organization):

4) Menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference);

5) Mengelompokkan dan mengklasifikasikan (reading to classify);

6) Menilai dan mengevaluasi (reading to evaluance);

7) Memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).

Seseorang yang membaca dengan suatu tujuan cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan.

Dalam kegiatan membaca di kelas, guru seharusnya menyusun tujuan

(13)

membaca dengan menyediakan tujuan khusus yang sesuai atau dengan membantu mereka menyusun tujuan membaca siswa itu sendiri.

Rahiem (2005: 11) berpendapat bahwa tujuan membaca mencakup : 1) Kesenangan;

2) Menyempurnakan membaca nyaring;

3) menggunakan strategi tertentu:

4) Memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik;

5) Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya;

6) Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis:

7) Mengonfirmasikan atau menolak prediksi;

8) Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks; dan

9) Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna dan arti erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan atau intensif kita membaca. Tujuan yang jelas akan memberikan motivasi intrinsik yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar sepenuhnya akan tujuan membacanya akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritisnya mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasan dalam membacanya.

(14)

2. Membaca Pemahaman

a. Pengertian Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman adalah suatu kegiatan membaca yang dilakukan pembaca agar tercipta suatu pemahaman terhadap isi yang terkandung dalam bacaan.Dalam membaca pemahaman, seseorang harus mampu menangkap pokok-pokok pikiran yang lebih tajam hingga setelah selesai membaca,ia betul-betul memahami makna dan tujuan

Keterampilan membaca merupakan keterampilan mengembangkan kemampuan bahasa. Kemampuan membaca juga lebih banyak dikembangkan melalui bahasa tertulis, tetapi tidak bisa disangkal juga pengembangan bahasa dalam pemakaian bahasa lisan

Mengenai penelitian pemahaman, ada beberapa pendapat yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi (Wiryodijoyo, 1989: 15), yaitu:

1) Untuk menilai pemahaman harfiah dalam membaca, digunakan pertanyaan mengenai teks. Dipakai juga teks penyimpulan isi bacaan karena yang terakhir ini merupakan pusat dari proses pemahaman;

2) Tes isian dan pilihan ganda dapat mengukur keterampilan-keterampilan yang sama. Untuk mengukur pemahaman, pelaksanaan teks pemahaman berbeda-beda sesuai dengan tuntutan pelajaran yang dites.

Selanjutnya Suhendra (1992: 3) mengemukakan bahwa membaca memahami merupakan kegiatan membaca yang sesungguhnya, yang ditujukan kepada kemampuan memahami bacaan secara tepat dan cepat.

(15)

Dalam proses membaca ini, terlihat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membandingkan, menemukan, mengorganisasikan dan pada akhirnya merupakan sesuatu yang terkandung dalam bacaan.

b. Prinsip-prinsip Membaca Pemahaman

Pemahaman bacaan adalah proses kompleks yang melibatkan pemanfaatan berbagai kemampuan yang berhasil maupun yang gagal. Setelah membaca, seharusnya kita mampu mengingat informasi dalam bacaan tersebut.

Menurut Me Laughlin dan Allen (dalam Rahiem, 2005 : 3), prinsip- prinsip membaca yang didasarkan pada penelitian yang paling mempengaruhi pemahaman membaca ialah seperti yang dikemukakan berikut:

1) Pemahaman merupakan proses konstruktivitas sosial yang memandang pemahaman dan penyusunan bahasa sebagai suatu proses membangun.

2) Guru membaca yang unggul mempengaruhi belajar siswa. Guru yang unggul mengetahui pentingnya setiap siswa memiliki pengalaman kemahiraksaraan.

3) Pembaca yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca.

4) Membaca terjadi dalam konteks yang bermakna.

5) Siswa menemukan manfaat bertransaksi dengan berbagai teks pada berbagai tingkat.

(16)

6) Perkembangan kosakata dan pengajaran mempengaruhi pemahaman membaca.

7) Pengikutsertaan merupakan faktor kunci proses pemahaman.

8) Strategi dan keterampilan pemahaman bisa diajarkan.

9) Assesment (penilaian) dinamis menginformasikan pengajaran pemahaman.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemahaman

Berdasarkan faktor yang bisa mempengaruhi baik kuantitas maupun kualitas pemahaman kita terhadap materi bacaan, tampaknya yang terpenting adalah kecepatan membaca, tujuan membaca, sifat materi bacaan, tata letak materi bacaan, dan lingkungan tempat kita membaca.

3. Wacana Argumentasi

Argumentasi adalah karangan yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Jadi, karangan argumentasi memuat argumen, yaitu bukti dan alasan yang dapat menyakinkan orang bahwa pendapat tersebut memang benar (Nursisto, 2000:43). Selanjutnya, Wijaya dan Euis (2004: 182) menyatakan bahwa wacana argumentasi adalah wacana yang bertujuan membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca menyakini kebenaran itu. Pembuktiannya memerlukan data dan fakta yang meyakinkan.

Argumentasi adalah alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan (Alwi, dkk., 2005: 64). Selanjutnya, Alwi (2001: 45) menyatakan bahwa argumentasi adalah corak tulisan yang

(17)

bertujuan membuktikan pendapat penulis sehingga dapat mempengaruhi atau meyakinkan pembaca agar menerima pendapat penulis tersebut.

Argumentasi adalah merupakan sebuah uraian atau tulisan yang berusaha untuk membuktikan kebenaran sesuatu, atau untuk menolak sesuatu pendapat, sasaran yang ingin dicapai adalah mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca dan pendengar agar mereka berubah sikap dan menyesuaikan dengan sikap penulis atau pengarang. Dengan demikian, argumentasi menekankan pembuktian-pembuktian atas apa yang dikemukakan.(Syahruddin, 2009: 116). Argumentasi berbeda dengan ketiga bentuk wacana lainnya karena fungsinya bersifat pembuktian yang ilmiah atau penalaran yang susah dibantah kebenarannya. Penulis dituntut mampu menghubungkan fakta-fakta secara benar (Enre, 1994: 172). Sejalan dengan bukti yang diajukan oleh wacana argumentasi ada beberapa hal yang dikemukakan oleh Enre (1994: 172), sebagai berikut: (1) cara mengemukakan bukti mengarah kepada jenis ilmu pangetahuan yang dikenal sebagai logika yang dengan perantaraan pengetahuan tersebut dapat dikatakan secara pasti apakah suatu pernyataan sudah mantap atau sudah dipandang tepat berdasarkan dalih yang dikemukakan; (2) pendalihan atau argumen sering berhubungan dengan masalah kebijakan yang berbeda dengan fakta karena ia mencakup sesuatu yang seharusnya dilakuakan, bukan suatu kebenaran situasi yang dilihat dari segi fakta.

Wacana argumentasi adalah wacana yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan.

(18)

Wacana ini termasuk wacana yang paling sulit dibandingkan dengan wacana- wacana yang lain yang telah diuraikan terdahuu. Dalam hal ini, tidak berarti wacana argumentasi lebih penting atau lebih berharga daripada wacana yang lainnya. Akan tetapi, kesulitan tersebut muncul karena perlu adanya bukti atau alasan yang dapat menyakinkan sehingga pembaca terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat dan sifat keyakinannya. Dengan demikian, pembaca akan bertindak sesuai apa yang diinginkan penulis argumen.

Meyakinkan orang lain agar terpengaruh dan bertindak seperti yang diinginkan, tentu ada persyaratannya. Penulis argumen harus berpikir kritis dan logis serta mau menerima pendapat orang lain sebagai bahan pertimbangan. Agar dapat mengajukan argumentasinya, penulis argumentasi harus memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas tentang apa yang dibicarakan. Kelogisan berpikir, keterbukaan sikap, dan keluasan pandangan memiliki peranan yang besar untuk mempengaruhi orang lain. Ini semua, merupakan persyaratan yanga diperlukan dalam menyusun sebuah wacana argumentasi. Kecuali lebih sukar, wacana argumentasi juga lebuh berisiko.

Wacana bentuk ini berpendapat dan berusaha meyakinkan orang lain (pembaca), maka sangat mungkin untuk terjadi, penulisnya berbeda pendapat dan pandangan dengan pembaca. Masing-masing pihak memandang dari sudut yang berbeda, sehingga sikap, pandangan dan pendapatnya berlainan.Jangankan karena perbedaan sudut pandangan dengan sudut pandangan yang samapun orang bisa saja berbeda sikap dan pendapat yang

(19)

masuk akal lengkap dengan pembuktian akan mampu mempengaruhi orang lain.

Karangan argumentasi memiliki ciri-ciri sebagaimana yang dinyatakan oleh Junus (2002: 62 ), yaitu (1) sasaran utamanya adalah mempengaruhi dan mengubah sikap serta pendapat orang lain (2) merupakan tulang punggung karya ilmiah; (3) berusaha menghindari aspek emosi; (4) menunjukkan kelemahan dan kesalahan orang lain; (5) menunjukkan bukti-bukti; dan (6) kritis dan logis.

4. Strategi Belajar-Mengajar

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.

(20)

Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah- langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad),Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.

Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari

(21)

strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:

Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode- metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:

1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.

2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.

3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.

4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.

Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi.

Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya.

(22)

Pencapaian tujuan proses belajar mengajar yang maksimal tidak terlepas dari strategi mengajar yang tepat. Strategi mengajar merupakan seperangkat komponen yang harus diikuti oleh seorang pengajar dalam menyajikan materi di kelas. Adapun prosedur strategi belajar-mengajar yang dikemukakan oleh Hastuti (1997: 248) sebagai berikut:

a. Persiapkan materi yang akan diberikan kepada siswa.

b. Materi/bahan, alat pelajaran dan alat bantu mengajar telah dipersiapkan.

c. Masukan dan karakteristik pembelajar telah diidentifikasikan.

d. Bahan pengait telah direncanakan.

e. Metode dan teknik penyajian telah dipilih, misalnya ceramah, diskusi, main peran, dan sebagainya.

5. Coperative learning

Coperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.

(23)

Model pembelajaran cooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan Coperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Coperative Learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda (Slavin, 1994), dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda.

Dalam penerapan strategi pelajar cooperative learning di kelas, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk membantu suasana belajar yang kondusif bagi anggota kelas/siswa kooperatif (cooperative learning) menurut para ahli.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran kelompok dengan jumlah peserta didik 2-5 orang dengan gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang maksimal. Berikut ini merupakan beberapa pengertian pembelajaran

Depdiknas (2003:5) “Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.

(24)

Bern dan Erickson (2001:5) “Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar”.

Suprijono, Agus (2010:54) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”.

Slavin (Isjoni, 2011:15) “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”.

Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”.

Eggen and Kauchak dalam (1996:279) “Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama”.

Sunal dan Hans (2000) “Cooperative learning merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran”.

Stahl (1994) “Cooperative learning dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial”.

(25)

Kauchak dan Eggen dalam Azizah (1998) “Cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan”.

Djajadisastra (1982) “Metode belajar kelompok merupakan suatu metode mengajar.

Melihat fenomena di atas, sangatlah diharapkan guru menerapkan strategi belajar cooperative learning sebagai upaya dalam membantu meningkatkan kemampuan membaca wacana argumentasi. Dikatakan demikian, karena pendekatan ini guru dapat bertindak sebagai model dan siswa juga dapat melakukan yang telah dilakukan oleh guru. Jadi, siswa memiliki kesempatan membangun dan mengembangkan dirinya sendiri, berkreasi sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuannya.

Pengajaran coperative learning , mula-mula guru memberikan model pertanyaan, sementara siswa pada saat yang bersamaan diminta membaca teks materi, kemudian siswa ditetapkan seolah-olah menjadi guru (siswa- guru) untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa yang lain. Guru memberi model perilaku yang diinginkan pada siswanya untuk mampu bekerja sendiri dan mengubah peranan sebagai fasilitator serta mengatur siswa mulai membuat pertanyaan-pertanyaan yang aktual.

Strategi pengajaran coperative learning memiliki tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga tahap tersebut diuraikan sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

(26)

Tahap perencanaan terdiri atas empat, yaitu:

1) Memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang mungkin muncul tentang hal apa yang dibaca dan untuk meyakinkan

bahwa Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu;

2) Merangkum informasi penting dari bacaan-bacaan yang telah dibaca;

3) Memprediksi yang dibahas oleh pengarang pada pokok bahasan berikutnya;

4) Memberi tanda hal yang tidak jelas dengan paragraf yang telah dibaca;

b. Tahap pelaksanaan dan prosedur harian

Slavin (1994: 234) mengemukakan tiga tahap pelaksanaan strategi pengajaran,coperative learning yaitu :

1) Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru tidak dapat hanya memberi kemudahan untuk proses belajar siswa, tetapi guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide dalam pelaksanaan pembelajaran, guru tidak dapat hanya memberi kemudahan untuk proses belajar siswa, tetapi guru memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa untuk menjadi sadar menggunakan strategi siswa sendiri untuk belajar. Prinsip ini tampak pada kegiatan (penjelasan), merangkum (meringkas) dengan berbagai strategi masing-masing siswa untuk menemukan ide pokok seperti merangkum melakukan strategi underlining, note taking, dan sebagainya;

(27)

2) Guru memberikan siswa anak tangga yang membawa siswa kepada pemahaman yang lebih tinggi. Prinsip ini tampak pada kegiatan siswa mengerjakan (Lembar Kerja Siswa) LKS yang dapat mengantarkan siswa untuk memahami konsep yang abstrak menjadi konsep yang nyata melalui strategi analogi, perolehan kesimpulan bersama melalui kegiatan klasifikasi konsep;

3) Pembelajaran hendaknya memusatkan pada berpikir atau proses mental siswa tidak sekadar pada hasilnya. Prinsip ini ditujukan pada kegiatan pemahaman bacaan untuk menentukan konsep kunci;

4) Memperhatikan peran aktif dan inisiatif siswa. Prinsip ini tampak terlihat pada aktivitas siswa secara fisik dalam melakukan kegiatan merangkum, menyusun pertanyaan, mengklarifikasi, dan melakukan kegiatan LKS;

5) Memaklumi adanya perbedaan individual dalam kemajuan dan perkembangan.

6) Prinsip ini tampak pada pembentukan kelompok-kelompok dalam melakukan pembelajaran;

7) Scaffolding, prinsip ini tampak pada kegiatan pemodelan guru pada tahap awal melakukan pembelajaran (bimbingan bagaimana membuat pertanyaan, bagaimana merangkum, dan bagaimana menjadi siswa- guru), kemudian pada tahap-tahap berikutnya siswa sudah dilepas.

Pada tahap pelaksanaan dilakukan lima strategi, yaitu pendahuluan, menjelaskan cooperative learning, pemodelan cooperative learning,

(28)

pelaksanaan Reciprocal Teaching (membaca pemahaman wacana argumentasi), dan penutup.

Tabel 1. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Belajar cooperative learning No Tahap dan

Fokus

Pembelajaran

Tindakan/Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1 Pendahuluan Menyapa siswa dengan

ramah

Bernyanyi bersama

Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran.

Memberi kesempatan tentang hal yang belum dipahami

Menjawab sapaan guru Bernyanyi bersama

Mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan dan kegiatan pembelajaran.

Bertanya tentang hal yang belum dipahami

2 Menjelaskan Cooperative learning

Memberi pengarahan tentang kegiatan membaca pemahaman wacana arguementasi dengan strategi cooperative learning Menjelaskan prosedur

cooperative learning

Menyimak pengarahan guru

3 Pemodelan cooperative learning

Memperagakan strategi cooperative learning

Bertanya tentang hal yang, menarik dari coperative learning Mengajak siswa merenungkan

kegiatan cooperative learning

Mengamati guru sebagai model

Menjawab pertanyaan guru tentang hal-hal yang menarik

Merenungkan kegiatan strategi belajar cooperative learning

4 Pelaksanaan Mengarahkan siswa untuk Memahami ide pokok,

(29)

(tahap

membaca pemahaman wacana argumentasi)

membaca pemahaman wacana argumentasi.

Mengajak siswa memahami wacana argumentasi secara keseluruhan

Membimbing siswa untuk memaknai dan menangkap nilai- nilai yang ada

Membimbing, siswa secara individu

istilah dan isi bacaan

5 Penutup Mengadakan refleksi bersama siswa

Mengadakan refleksi bersama guru

c. Evaluasi

Tahap evaluasi ini terdiri enam langkah berikut ini.

2) Disediakan materi teks bacaan yang dapat diselesaikan dalam satu kali pertemuan.

3) Dijelaskan bahwa pada segmen pertama ada salah seorang siswa berperan sebagai guru (model).

4) Siswa ditugasi untuk membaca dalam hati teks bacaan dan untuk memudahkan siswa diminta membaca paragraf demi paragraf.

5) Siswa dapat membaca, dilanjutkan dengan membuat model pertanyaan.

6) Siswa dilatih berperan sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar sesuai konsep cooperative learning, siswa lain diminta

(30)

berpartisipasi dalam dialog dan selalu diingatkan bahwa pada segmen ini semuanya berperan sebagai guru yang sebenarnya, menuntun dialog meyakinkan siswa dengan banyak memberi umpan balik dan pujian.

7) Pada pertemuan berikutnya lebih banyak kegiatan berdialog, sehingga pada saat siswa berperan sebagai guru sudah mulai berinisiatif pada kegiatan mereka sendiri (Slavin,1994: 235-236)

B. Kerangka Pikir

Pengajaran bahasa Indonesia tingkat SMP sesuai dengan KTSP diarahkan pada penguasaan empat kemampuan utama, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan itu menjadi faktor pendukung dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan pendapat, baik secara lisan maupun tertulis, sesuai dengan konteks komunikasi yang harus dikuasai oleh pemakai bahasa.

Salah satu aspek keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah membaca, khususnya membaca pemahaman wacana argumentasi. Membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang sesungguhnya yang ditujukan kepada kemampuan memahami bacaan secara cepat dan tepat bagi siswa.

Penelitian ini difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi belajar coperative learning siswa kelas VII SMP Negeri1 Madapangga. Peneliti

(31)

mengkaji tingkat penguasaan siswa membaca pemahaman, khususnya memahami istilah-istilah, memahami ide pokok, dan memahami isi bacaan argumentasi.

Untuk mengungkap kemampuan siswa, maka penelitian ini dirancang dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaannya dilaksanakan dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat bagan berikut ini.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Membaca Pemahaman Wacana Argumentasi Bahasa Indonesia

Coperative Learning

Temuan

KTSP Tahun 2006

(32)

Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Jika strategi cooperative learning digunakan dalam pelajaran kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia maka pembelajaran dapat meningkat.”

(33)

33 A. Jenis Penelitian

Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk menggambarkan dan mengamati proses belajar siswa melalui strategi belajar coperative learning dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga. Mekanisme pelaksanaannya dengan dua siklus. Setiap siklus masing-masing dilaksanakan dengan tiga tahap, yaitu tahap (1) perencanaan, (2) tindakan dan pelaksanaan, (3) refleksi. Penelitian tindakan kelas ini merupakan salah satu upaya memperbaiki praktik pembelajaran bahasa Indonesia agar lebih bermanfaat. Dengan demikian, guru dapat mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelas dan cara mengatasi masalah tersebut.

(34)

B. Data dan Sumber Data

1. Data

Data dalam penelitian ini adalah data tes dan perilaku. Data tes diperoleh dari hasil tes belajar siswa, sedangkan data perilaku diperoleh pada saat siswa melakukan aktivitas pembelajaran melalui penerapan strategi belajar coperative learning.

2. Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah aktivitas guru dan siswa di kelas pada saat melakukan kegiatan belajar-mengajar dengan menerapkan strategi belajar coperative learning. Siswa yang dijadikan sumber data adalah kelas VII yang berjumlah 32 orang.

C. Prosedur Penelitian

1. Gambaran Kegiatan pada Siklus I a. Perencanaan Tindakan

Pada tahap ini, peneliti dan guru secara berkolaborasi melakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung yang dihadapi guru dalam pembelajaran dengan penerapan strategi belajar coperative learning yang lazim digunakan guru di kelas pada saat mengajar.

2) Merumuskan alternatif tindakan pembelajaran dengan menerapkan suatu strategi alternatif dan strategi yang lazim sebagai upaya untuk

(35)

meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan dilakukan saat perencanaan tindakan siklus I.

3) Menyusun rancangan tindakan dan skenario pembelajaran.

4) Pelatihan bagi guru untuk membuat perencanaan pembelajaran, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran dengan penerapan pembelajaran strategi belajar coperative learning, yang meliputi:

(36)

Adapun alur siklus penelitian ini digambarkan sebagai berikut ini.

Alur Siklus Penelitian

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Penerapan Strategi

coperative learning

Siklus I

Perencanaan

Pelaksanaan Observasi

Refleksi

Siklus I

Perencanaan

Pelaksanaan Observasi

Refleksi

Keberhasilan

(37)

a) Pelatihan membuat perencanaan pembelajaran yang ditekankan pada pelatihan perumusan tujuan pembelajaran.

b) Pelatihan dan memilih atau menetapkan materi yang akan diajarkan, menentukan alokasi waktu, media dan sumber belajar. Kemudian merencanakan evaluasi.

c) Pelatihan pelaksanaan pembelajaran dengan cara guru. Dilatih untuk melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan strategi belajar coperative learning, sementara peneliti mengamati selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pelatihan tersebut disesuaikan dengan rancangan yang telah disusun atau dibuat.

d) Guru dilatih untuk melaksanakan evaluasi pembelajaran, baik evaluasi proses selama pembelajaran maupun evaluasi hasil pembelajaran.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini guru dan peneliti melaksanakan tindakan dengan langkahlangkah sebagai berikut:

1) Peneliti melaksanakan pembelajaran dalam mengajarkan materi di kelas sebagai model pertama, sedangkan guru sebagai partisipan yang aktif mencermati dan mengamati atau ia berlaku sebagai pengamat terlibat.

Kegiatan ini dilakukan pada pelaksanaan tindakan siklus I.

2) Guru bertindak sebagai model kedua yang dengan melaksanakan strategi belajar coperative learning dalam mengajar, sementara itu peneliti bertindak sebagai pengamat terlibat.

(38)

3) Peneliti melaksanakan pengamatan secara komprehensif terhadap proses kegiatan strategi belajar coperative learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa oleh guru sebagai model kedua untuk memperoleh data- data empiris tentang penerapan strategi belajar coperative learning dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Data-data tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dalam melaksanakan refleksi.

c. Refleksi

Refleksi dilakukan setiap tindakan berakhir. Dalam tahap ini, peneliti dan guru mengadakan diskusi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Hal- hal yang dilaksanakan adalah (1) menganalisis tindakan yang baru dilaksanakan, (2) mendiskusikan dan membabas kesesuaian tindakan dengan perencanaan yang telah dilaksanakan dan temuan lain yang muncul selama kegiatan pelaksanaan berlangsung, (3) mendiskusikan dan menemukan pemecahan masalah apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan (4) melakukan pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh. Hasil refleksi ini dimanfaatkan sebagai masukan untuk menentukan perlu atau tidaknya tindakan pada siklus berikutnya. Tindakan pada siklus berikutnya tidak perlu dilaksanakan bila hasil pada refleksi menunjukkan keberhasilan yang signifikan.

d. Observasi

Teknik ini dilakukan untuk mengamati semua aktivitas yang dilakukan siswa dan guru pada saat pembelajaran berlangsung selama 4 kali pertemuan setiap siklus.

(39)

2. Gambaran Kegiatan pada Siklus II

Siklus II ini juga terdiri atas tiga tahap seperti halnya pada siklus I, yaitu:

a. Perencanaan Tindakan

Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I, pada tahap ini guru dan peneliti berkolaborasi melakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi kembali berbagai faktor penghambat guru dalam menerapkan strategi belajar cooperative learning berdasarkan hasil siklus I.

2) Merumuskan teknik sebagai tindak lanjut usaha peningkatan bobot kemampuan guru dalam menerapkan strategi belajar coperative learning untuk mengukur hasil belajar siswa.

3) Memilih kembali materi yang memungkinkan guru lebih leluasa dan lebih kreatif memotivasi siswa dalam belajar.

4) Peneliti berusaha mendampingi guru (sebagai model) agar usaha atau tindakan selanjutnya lebih memudahkan guru untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

5) Peneliti melaksanakan pengamatan secara khusus terhadap kemampuan dan keterampilan guru menerapkan strategi belajar coperative learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan tolak ukur pada keadaan siswa selama pembelajaran berlangsung.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

(40)

Pada tahap ini peneliti dan guru melaksanakan tindakan dengan langkah-langkah berikut :

1) Guru dan peneliti berkolaborasi melaksanakan pembelajaran dengan penerapan strategi belajar coperative learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya,

2) Peneliti bertindak sebagai pendamping juga sebagai pengamat terlibat di dalam proses pembelajaran.

3) Peneliti melaksanakan pemantauan atau pengamatan terhadap segala aspek yang mendukung dan yang menghambat pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan penerapan strategi belajar cooperative learning dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

c. Refleksi

Peneliti bersama guru mengadakan diskusi mengenai hasil pengamatan atau pemantauan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal tersebut meliputi:

1) Menganalisis hasil pengamatan dari penerapan strategi belajar cooperative learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh pada tindakan yang dilakukan.

(41)

2) Menyimpulkan hasil belajar siswa yang telah dicapai dengan menerapkan strategi belajar coperative learning.

d. Observasi

Teknik ini dilakukan untuk mengamati semua aktivitas yang dilakukan siswa dan guru pada saat pembelajaran berlangsung selama 4 kali pertemuan setiap siklus.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pencatatan

Teknik ini dilakukan dengan mencatat semua kegiatan pada saat menerapkan strategi belajar coperative learning yang dicatat oleh peneliti.

2. Tes

Siswa diberikan tes untuk mengukur keberhasilan belajar. Tes yang diberikan berbentuk esai. Semua soal bersumber dari wacana argumentasi yang diajarkan. Wacana yang disediakan sebanyak dua buah dengan masing-masing 10 soal setiap wacana. Setiap butir soal berskor 0-10. Penentuan tinggi rendahnya skor yang diperoleh siswa bergantung pada kemampuan menjawab soal sebagai wujud kemampuannya membaca pemahaman wacana argumentasi.

Tes diberikan kepada siswa setelah diterapkan strategi belajar coperative learning. Data diperoleh berdasarkan mekanisme pelaksanaan tindakan kelas, yaitu dengan melalui dua siklus yang diuraikan sebagai berikut:

E.Teknik Analisis Data

Teknik analisis data hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif untuk mengukur kemampuan membaca hasil tes penelitian (1

(42)

kali pembagian tes) setiap siklus dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai rata-rata skor/nilai berdasarkan hasil tes dengan rumus yang dikemukakan oleh Sugiyono (2004: 43), yaitu:

n MeXi

di mana:

Me = Mean (rata-rata)

Xi = Nilai X ke i sampai ke n n = Jumlah individu

Pengujian hipotesis penelitian tentang peningkatan kemampuan membaca, maka dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata hasil tes setiap siklus.

Selanjutnya, mengklasifikasi nilai rata-rata pada rentang nilai seperti berikut ini

Tabel 3.1 Format Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Kemampuan Membaca

No Interval nilai Kategori Kemampuan 1 0 - 2,4 Buruk

2 2,6 - 3,4 Sangat Rendah 3 3,5 - 5,4 Rendah

4 5,5 - 6,4 Sedang 5 6,5 - 8,4 Tinggi

6 8,5 - 10 Sangat Tinggi

(43)

Analisis kualitatif dilaksanakan sesuai dengan kecenderungan yang terjadi pada setiap siklus dengan melakukan penilaian secara verbal (aktivitas yang diamati). Selanjutnya, mengukur peningkatan kemampuan membaca setelah diajar dengan menggunakan strategi belajar coperative learning. Rumus yang digunakan, yaitu yang dikemukakan oleh Ali (1985 : 184) sebagai berikut:

100

% x

N

n

Di mana:

% = persentase

n = jumlah nilai yang diperoleh N = jumlah seluruh nilai

Data tersebut selanjutnya digunakan dalam mengukur kemampuan membaca dengan menggunakan strategi belajar coperative learning yang ditafsirkan ke dalam kalimat dengan menggunakan kategori baik, cukup, kurang, sangat kurang yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 3.2 Format Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Kemampuan Membaca pada Siklus.

No. Urut Persentase (%) Kategori Minat Baca

Siswa 1.

2.

3.

4.

76%- 100%

56% - 75%

40% - 55%

Kurang dari 40%

Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang

(44)

Pemberian kategori terhadap kemampuan siswa memudahkan guru dalam menafsirkan kemampuan membaca dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

F. Indikator Keberhasilan

. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar siswa dalam hal ini kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi dari siklus I ke siklus II dan ≥ 85% siswa dalam kelas tuntas secara klasikal yaitu skor minimal 65 dari skor ideal yaitu 100.

Tabel 3.2 Format Distribusi Frekuensi, Persentase, serta Kategori Ketercapaian Ketuntasan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Siswa pada Siklus I dan II

Nilai Kategori Frekuensi Persentase % 0 % – 64% Tidak tuntas

65% – 100% Tuntas

Jumlah 30 100

1. Mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

2. Berdasarkan kriteria hasil belajar mengenai ketuntasan kelas, yaitu 85%, data hasil penelitian pada siklus dua dianggap tuntas dimana yang tuntas mencapai 96% dari 25 orang siswa. Penelitian ini telah berhasil sesuai tujuan yang ingin dicapai, yaitu terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi belajar cooperative learning siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga.

(45)

(46)

44

Pada Bab ini membahas tentang hasil-hasil penelitian yang menunjukkan kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia melalui strategi cooperative learning siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima. Adapun yang dianalisis adalah skor hasil belajar siswa yang diberikan setiap akhir siklus secara deskriptif, data mengenai perubahan sikap siswa yang diambil dari rekaman pengamatan dan tanggapan serta refleksi yang diberikan oleh siswa baik yang tertulis maupun komentar secara lisan. Hasil dan pembahasan yang diperoleh dari dua siklus pelaksanaan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Hasil Analisis Kulitatif

a. Tahap Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:

1) Membuat skenario pembelajaran melalui metode pembelajaran cooperative learning untuk pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga.

(47)

2) Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas dan perubahan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada pelaksanaan tindakan siklus I.

3) Mempersiapkan angket respon siswa untuk mengetahui pendapat siswa terhadap tindakan yang dilakukan, yang akan diberikan pada akhir siklus 1.

4) Mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dikerjakan secara individu pada setiap pertemuan.

5) Mempersiapkan alat evaluasi berupa soal tes siklus I.

6) Mempersiapkan lembar jawaban yang akan digunakan siswa untuk menjawab soal tes siklus I.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Adapun pelaksanaan tindakan pada Siklus I ini berlangsung selama 4 kali pertemuan dengan lama waktu setiap pertemuan adalah 2 jam pelajaran. Pertemuan I sampai pertemuan III diisi dengan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan strategi cooperative learning dan pertemuan IV diisi dengan pemberian tes siklus I, dengan pokok bahasan membaca pemahaman wacana argumentasi. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

Pertemuan I

Pada pertemuan pertama ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 04/01/2014 dengan materi yang akan dibahas adalah menjelaskan pengertian membaca pemahaman wacana argumentasi.

(48)

Pada kegiatan awal, guru membuka pelajaran, memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang dicapai, mengecek kehadiran siswa, menyampaikan judul materi pokok pembahasan, dan menjelaskan sambil memberikan motivasi belajar, mengingatkan kembali tentang materi dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari- hari. Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menyajikan informasi tentang materi yang akan diajarkan dengan menggunakan alat peraga seperti kertas yang dibentuk sesuai dengan materi yang dibahas, guru memberikan permasalahan berupa LKS kepada siswa, guru membimbing pelatihan kepada siswa sampai benar-benar menguasai konsep yang dipelajari. Sebelum mengakhiri kegiatan pembelajaran pada pertemuan ini siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan/merangkum materi yang telah dibahas dan guru mengingatkan kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan II

Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 60/09/2014 dengan materi yang dibahas adalah menjelasakan tentang tahap membaca pemahaman wacana argumentasi. Secara umum, langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada pertemuan kedua hampir sama dengan kegiatan pertemuan sebelumnya, karena mengacu pada langkah-langkah kegiatan yang telah direncanakan pada RPP dengan strategi pembelajaran cooperative learning

(49)

Hal-hal yang lebih khusus pada pertemuan kedua antara lain:

a. Siswa mengingat kembali materi yang dibahas pada pertemuan I dan guru menyampaikan hasil LKS pertemuan lalu guna memotivasi siswa untuk lanjut ke pembahasan berikutnya.

b. Kegiatan pembelajaran mengacu pada RPP, dan LKS.

Pertemuan III

Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 13/01/2014 dengan materi yang akan dibahas adalah menjelaskan tujuan membaca pemahaman wacana argumentasi.

Pertemuan III ini pada dasarnya hampir sama dengan pertemuan I dan II, hanya saja nilai dari tugas yang dikerjakan siswa masih berada pada kategori rendah dan sedang hal ini disebabkan karena mereka masih malu bertanya pada guru sehingga mempengaruhi nilai mereka.

Oleh karena itu, guru melakukan perbaikan berupa menjalin keakraban yang lebih pada siswa.

Pertemuan IV

Pada pertemuan IV ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14/01/2014 tes siklus I ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam belajar dengan strategi coperative learning yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 06 Januari 2014 dengan alokasi waktu yang digunakan sama dengan pembelajaran biasanya yaitu selama 2 jam pelajaran (2 x 45 menit).

(50)

c. Tahap Observasi dan Evaluasi.

Pada siklus I tercatat aktivitas siswa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus 1

No Komponen Yang Diamati

Siklus I Persentase I II III IV (%)

1 Siswa yang hadir pada saat

proses pembelajaran berlangsung 28 29 32 T E S

S I K L U S

I

92,7

2

Siswa yang mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

25 25 26 79,1

3 Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

7 7 11 26,1

4

Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung

8 8 11 28,1

5 Siswa yang aktif mengerjakan LKS

27 27 29 86,5

6

Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, tidur dll) pada saat proses pembelajaran berlangsung

4 3 2 9,6

Berdasarkan tabel 4.1 di atas bahwa terdapat beberapa komponen yang diamati dalam mengobservasi aktivitas siswa pada Siklus I diantaranya:

(51)

1. Siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 28 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 29 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 32 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 92,7%.

2. Siswa yang mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 25 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 25 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 26 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 79,1%.

3. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 7 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 7 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 11 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 26,1%.

4. Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 8 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 8 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 11 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 28,1%.

5. Siswa yang aktif mengerjakan LKS di pertemuan I siklus I berjumlah 27 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 27 siswa, pertmuan III siklus I berjumlah 29 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 86,5%.

6. Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, tidur dll) pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 4

(52)

siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 3 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 2 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 9,6%.

Selanjutnya, pada Siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar setelah penyajian materi selama 3 kali pertemuan. Adapun stasistik skor hasil belajar bahasa Indonesia pada Siklus 1 dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut:

Tabel. 4.2 Statistik skor hasil belajar kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa indonesia kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima pada akhir siklus I

Statistik Nilai statistik

Jumlah siswa Skor ideal Nilai maksimum Nilai minimum Rentang skor Skor rata-rata Standar deviansi

32 100

80 45 35 65,62 9,734

Berdasarkan analisis deskriptif yang terangkum diperoleh informasi bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima setelah proses belaja mengajar dengan melalui strategi cooperative learning yang dilaksanakan pada siklus I adalah 65,26% dengan standar deviasi 9,734% dari skor ideal yang mungkin dicapai 100, ini menunjukan bahwa secara rata-rata kelas, tingkat

(53)

penguasaan terhadap sub pokok bahasa Indonesia yang diajar pada siklus I sebesar 65,62% dari seluruh materi yang diberikan.

Sedangkan secara individual, skor yang dicapai responden tersebar dari skor minimum 45 dari skor yang mungkin dicapai 0 sampai dengan skor maksimum 80 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,dengan rentang skor 35.Dari rentang skor yang diperoleh mengindikasikan bahwa skor perolehan responder tersebar dari skor yang sangat rendah sampai skor sangat tinggi.

Jika skor hasil belajar bahasa Indonesia pada Siklus I di kelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor seperti disajikan pada Tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar kemampuan membaca pemahaman wacana argumentasi bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima pada Siklus I

Berdasarkan skor rata-rata hasil belajar siswa yang diperoleh setelah proses belajar mengajar selama siklus I berlangsung yaitu sebesar 65,62 setelah di kategorisasikan berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa tingkat penguasaan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima berada pada kategori

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 54 55 – 64 65 – 79 80 – 89 90 – 100

Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

3 12 13 4 0

9,4 37,5 40,6 12,5 0

Jumlah 32 100

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas .Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa tunagrahita kelas III

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding dan mengevaluasi proses strategi branding yang dilakukan Pemerintah Kota

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VIIIC setelah diterapkan pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X-3 setelah dilakukan tindakan berupa penggunaan media komik dan CD

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas menggunakan suatu tindakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar agar

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di SD Negeri 2 Lesmana ini dilakukan untuk meningkatkan kerja keras dan prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia materi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran matematika siswa kelas

31 Prestasi belajar siswa matematika kelas VIII SMPN 1 Peudawa yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran CTL lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang di ajarkan