• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH AGNES ESTEFAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH AGNES ESTEFAN"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

i KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA

EFEK INDONESIA PERIODE 2017 - 2020

OLEH

AGNES ESTEFAN 180503134

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2022

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN

Telah diuji pada

Tanggal 04 Februari 2022

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua Penguji : Risanty, SE., M.Si., Ak.

Penguji : Drs. Hotmal Ja’far, MM., Ak.

Pembanding : Yeti Meliany Lubis, SE., M.Si., Ak., CA

(5)

i PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2017 – 2020” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi Program Strata-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, 14 Maret 2022 Yang membuat pernyataan,

Agnes Estefan NIM : 180503134

(6)

ii MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI BARANG

KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

2017 - 2020

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari konsentrasi kepemilikan, komisaris independen, chief risk officer, risk management committee, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2017-2020.

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari annual report perusahaan yang dapat diakses melalui website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Populasi penelitian ini terdiri dari 53 perusahaan. Metode pengambilan data yang digunakan adalah dengan metode purposive sampling dan diperoleh 28 perusahaan sampel untuk 4 periode pengamatan (2017-2020) dengan total sebanyak 112 total amatan penelitian. Pengolahan data menggunakan software E-Views 10 dan analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Hasil yang terdapat dalam penelitian ini adalah konsentrasi kepemilikan, komisaris independen, chief risk officer, risk management committee, dan ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management. Secara simultan, konsentrasi kepemilikan, komisaris independen, chief risk officer, risk management committee, dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2020.

Kata Kunci: Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, Ukuran Perusahaan, Pengungkapan Enterprise Risk Management

(7)

iii MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN

INDONESIA STOCK EXCHANGE PERIOD 2017-2020

This study aims to determine the effect of ownership concentration, independent commissioner, chief risk officer, risk management committee, and firm size on Enterprise Risk Management disclosure in consumer goods industrial manufacturing companies listed in the Indonesia Stock Exchange for the 2017-2020 period.

The type of data in this study is secondary data derived from the company's annual report which can be accessed through the Indonesia Stock Exchange website (www.idx.co.id). The population in this study consisted of 53 companies.

The sample selection method is purposive sampling method and obtained 28 sample companies for 4 observation periods (2017-2020) with a total of 112 total research observations. Data processing using E-Views 10 software and the analysis used is multiple linear regression analysis.

The results contained in this study are ownership concentration, independent commissioner, chief risk officer, risk management committee, and firm size partially positive and has a significant effect on Enterprise Risk Management disclosure. Simultaneously, ownership concentration, independent commissioner, chief risk officer, risk management committee, and firm size have a significant effect on Enterprise Risk Management disclosure in consumer goods industrial manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2017- 2020 period.

Keywords: Ownership Concentration, Independent Commissioner, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, Firm Size, Enterprise Risk Management Disclosure

(8)

iv KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis diberikan kesehatan, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk dapat menyelesaikan Skripsi dengan baik dan tepat waktu.

Adapun skripsi ini berjudul “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI Periode 2017- 2020”. Penulis sangat bersyukur atas penyelesain skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk memenuhi penyelesaian pendidikan pada Program Studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan, saran, dukungan, motivasi, dan doa dari berbagai pihak dalam proses penyusunan.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Fadli SE., M.Si., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Rina Br. Bukit, SE., M.Si., Ph.D., Ak., CA., selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sumatera Utara.

3. Ibu Risanty, SE., M.Si., Ak. selaku Ketua Penguji yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam proses penyusunan skripsi, Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM., Ak. selaku Penguji dan Ibu Yeti Meliany Lubis, SE.,

(9)

v M.Si., Ak., CA selaku Pembanding penulis, yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun selama proses penyusunan skripsi ini.

4. Kepada kedua orang tua penulis, Alm. Sudarmin Tjendera dan Farida Veronica, serta kakak penulis, Angel Capricia, atas dukungan dan doa yang telah diberikan selama proses penyusunan skripsi.

5. Kepada Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, yang sudah memberikan banyak ilmu pengetahuan, bimbingan dan keterampilan selama penulis berkuliah.

6. Kepada seluruh teman teman mahasiswa S1 Akuntansi stambuk 2018 yang telah membantu dan menemani serta memberikan warna kehidupan bagi penulis selama perkuliahan, serta selalu memberikan dukungan, doa, dan semangat dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, akan tetapi penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak, memberi ilmu bagi yang membaca, dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih.

Medan, 20 Januari 2022 Penulis,

Agnes Estefan

NIM. 180503134

(10)

vi Halaman

PERNYATAAN………..i

ABSTRAK………...ii

ABSTRACT………..iii

KATA PENGANTAR………....iv

DAFTAR ISI………...vi

DAFTAR TABEL...ix

DAFTAR GAMBAR ………..x

DAFTAR LAMPIRAN………...xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 13

1.4 Manfaat Penelitian ... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 16

2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory) ... 16

2.1.2 Risiko (Risk) ... 18

2.1.3 Enterprise Risk Management ... 19

2.1.4 Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 21

2.1.5 Konsentrasi Kepemilikan ... 22

2.1.6 Komisaris Independen ... 23

2.1.7 Chief Risk Officer ... 24

2.1.8 Risk Management Committee ... 24

2.1.9 Ukuran Perusahaan ... 25

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 26

2.3 Kerangka Konseptual ... 33

2.4 Hipotesis Penelitian ... 34

2.4.1 Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 34

2.4.2 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 35

2.4.3 Pengaruh Chief Risk Officer terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 36

2.4.4 Pengaruh Risk Management Committee terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 37

2.4.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 38

2.4.6 Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 39

(11)

vii

3.4.1 Variabel Terikat (Dependent Variable) ... 43

3.4.2 Variabel Bebas (Independent Variable) ... 44

3.4.2.1 Konsentrasi Kepemilikan ... 44

3.4.2.2 Komisaris Independen ... 45

3.4.2.3 Chief Risk Officer ... 46

3.4.2.4 Risk Management Committee ... 46

3.4.2.5 Ukuran Perusahaan ... 47

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 49

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 51

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 51

3.8 Teknik Analisis Data ... 51

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 51

3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 52

3.8.2.1 Uji Normalitas ... 52

3.8.2.2 Uji Multikolinearitas ... 53

3.8.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 53

3.8.2.4 Uji Autokorelasi ... 53

3.8.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 54

3.8.4 Uji Hipotesis ... 55

3.8.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)... 55

3.8.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 56

3.8.4.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 56

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum ... 58

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 58

4.3 Uji Asumsi Klasik ... 61

4.3.1 Uji Normalitas ... 61

4.3.2 Uji Multikolinearitas ... 63

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 64

4.3.4 Uji Autokorelasi ... 65

4.4 Analisis Persamaan Regresi Linear Berganda ... 67

4.5 Uji Hipotesis ... 69

4.5.1 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 70

4.5.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 71

4.5.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 71

4.6 Pembahasan Hasil Penelitian ... 74

4.6.1 Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan (X1) terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management (Y) ... 74

4.6.2 Pengaruh Komisaris Independen (X2) terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management (Y) ... 75

4.6.3 Pengaruh Chief Risk Officer (X3) terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management (Y) ... 76

(12)

viii Independen (X2), Chief Risk Officer (X3), Risk Management Committee (X4), dan Ukuran Perusahaan (X5) terhadap

Pengungkapan Enterprise Risk Management (Y) ... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 81

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 83

5.3 Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

LAMPIRAN ... 88

(13)

ix

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Research Gap Enterprise Risk Management ... 9

1.2 Daftar KAP yang Terlibat ... 11

2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 26

3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 48

3.2 Kriteria Pemilihan Sampel ... 50

4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 59

4.2 Hasil Uji Multikolinearitas ... 63

4.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 64

4.4 Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson ... 66

4.5 Hasil Analisis Persamaan Regresi Linear Berganda ... 67

(14)

x DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 34 4.1 Hasil Uji Statistik Normalitas ... 62

(15)

xi

1 Dimensi Pengungkapan Enterprise Risk Management ... 88

2 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ... 93

3 Data Sampel yang Memenuhi Kriteria ... 95

4 Data Variabel Penelitian ... 96

5 Hasil Pengolahan E-Views 10 ... 99

6 Tabel Durbin-Watson (DW), α = 5% ... 102

7 F tabel, α = 5% ... 104

8 t tabel, α = 5% ... 105

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Setiap entitas atau perusahaan yang melakukan aktivitas bisnis tidak akan terlepas dari risiko. Risiko adalah suatu keadaan ketidakpastian yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan kerugian. Perkembangan operasional suatu perusahaan tentu diikuti oleh peluang usaha dan risiko yang harus dihadapi oleh perusahaan tersebut. Risiko yang dihadapi berbagai macam baik risiko finansial maupun risiko non finansial. Perusahaan selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa jika perusahaan ingin mencapai hasil yang besar, ia juga menghadapi risiko yang lebih besar. Jika risiko yang timbul tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan perusahaan. Untuk mengantisipasi risiko yang terjadi di masa mendatang, diperlukan manajemen risiko yang dapat membantu perusahaan untuk mengendalikan kegiatan manajemen dan untuk menghindari, meminimalkan bahkan menghilangkan risiko yang dihadapi perusahaan.

Kompleksitas aktivitas dunia usaha yang semakin berkembang akan memunculkan risiko bisnis yang dihadapi perusahaan, dan tantangan yang dialami perusahaan untuk mengelola risikonya juga semakin tinggi dengan adanya perubahan teknologi, globalisasi, dan perkembangan transaksi bisnis seperti hedging dan derivative (Beasley, Pagach, and Warr, 2008). Semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis menekan entitas untuk lebih mengungkapkan dan

(17)

2 menangani risiko serta manajemen risiko dengan baik agar perusahaan dan investor dapat terhindar dari kerugian (Prayoga dan Almilia, 2013). Pengambilan keputusan oleh stakeholder dapat mudah dilakukan dengan adanya pengungkapan risiko dan pengungkapan risiko ini juga menjadi media perusahaan untuk berkomunikasi dengan para stakeholder. Pihak luar dapat mengetahui informasi perusahaan baik finansial maupun nonfinansial tentang profil risiko melalui pengungkapan Enterprise Risk Management. Hal ini karena adanya kecenderungan kesulitan dari pihak luar dalam mengetahui peluang dan risiko keuangan yang dialami perusahaan (Hoyt and Liebenberg, 2011).

Skandal akuntansi yang melingkupi perusahaan energi terbesar Amerika Serikat, Enron, yang ditemukan pada tahun 2001 sangat terkenal karena berhubungan dengan salah satu KAP ternama di dunia, yaitu KAP Arthur Andersen.

KAP Arthur Andersen menyembunyikan hutang perusahaan senilai lebih dari 1 miliar dolar dan memanipulasi laporan keuangan Enron menjadi laba sebesar US

$600 juta dari yang seharusnya mengalami kerugian sebesar US $1,2 miliar (Topan, 2015). Terjadinya kasus kecurangan pada laporan keuangan di Enron disebabkan karena adanya kerja sama antara Enron dengan KAP Arthur Andersen yang menyebabkan pengungkapan Enterprise Risk Management tidak terungkap.

Banyaknya informasi risiko yang tidak diungkapkan menyebabkan kurangnya kepercayaan publik dan investor terhadap perusahaan.

Kurangnya kepercayaan publik karena praktik kecurangan dalam laporan keuangan memberikan tekanan kepada manajemen perusahaan untuk meningkatkan tanggung jawabnya. Untuk meminimalkan terjadinya kecurangan

(18)

3 dalam laporan keuangan, pengungkapan Enterprise Risk Management menjadi solusi untuk mengembalikan kepercayaan publik dan membantu mengendalikan kegiatan manajemen. Jika diterapkan secara efektif, pengungkapan Enterprise Risk Management dapat menjadi kekuatan bagi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Meizaroh and Lucyanda, 2011).

Di Indonesia kasus lemahnya pengungkapan Enterprise Risk Management di perusahaan juga ditemukan, salah satunya PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). PT Tiga Pilar Sejahtera Food diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan. Pada tahun 2017 ditemukan penggelembungan dana oleh perusahaan tersebut sebesar Rp 4 triliun. Pada tahun 2019, ditemukan juga adanya penggelembungan pendapatan dan laba masing- masing sebesar Rp 662 miliar dan Rp 329 miliar. Hal ini karena adanya kerja sama antara PT Tiga Pilar Sejahtera dengan KAP Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar &

Rekan dalam memanipulasi laporan keuangan perusahaan sehingga pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan tidak terungkap. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak mencerminkan prinsip transparansi, sehingga pengungkapan Enterprise Risk Management masih kurang baik.

Kasus lemahnya pengungkapan Enterprise Risk Management juga ditemukan di PT Garuda Indonesia Tbk. Pada tahun 2018, PT Garuda Indonesia mencatat laba bersih US$809,85 ribu atau Rp11,33 miliar. Laba tersebut ditopang salah satunya oleh kerja sama antara Garuda dan PT Mahata Aero Teknologi dimana kerja sama tersebut nilainya mencapai US$239,94 juta atau Rp2,98 triliun.

Dana tersebut masih bersifat piutang tetapi PT Garuda sudah mengakuinya sebagai

(19)

4 pendapatan. PT Garuda Indonesia memasukkan keuntungan dari PT Mahata Aero Teknologi dan mengakui sebagai pendapatan, padahal dari nilai kontrak sebesar US$239,94 juta, Mahata ternyata baru membayar $6,8 juta AS dan sisanya masih sebagai piutang lain-lain. Terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan perusahaan dikarenakan PT Garuda bekerja sama dengan Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan KAP yang mengaudit perusahaan tersebut yaitu KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan, sehingga pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan tidak terungkap karena tidak dapat terbaca oleh pihak luar. Oleh karena itu, pengungkapan Enterprise Risk Management pada PT Garuda Indonesia masih kurang baik.

Enterprise Risk Management telah menarik perhatian banyak kalangan sebagai salah satu cara dalam mewujudkan good corporate governance dalam perusahaan. Badan regulator di Indonesia dan luar negeri telah didorong untuk memberlakukan peraturan di mana mewajibkan entitas mengungkapkan risiko dalam annual reportnya. Hal ini seiring dengan teori sinyal yang menuntut dilakukannya pengungkapan Enterprise Risk Management secara luas dalam annual report untuk memberikan sinyal positif kepada publik.

Enterprise Risk Management adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh manajemen, board of directors, dan personel lain dari suatu organisasi, diterapkan dalam strategi dan mencakup organisasi secara keseluruhan, didesain untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang mempengaruhi suatu organisasi, mengelola risiko dalam toleransi suatu organisasi, untuk memberikan jaminan yang cukup pantas berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi (COSO ERM, 2004).

(20)

5 Beberapa faktor yang mungkin dapat mempengaruhi pengungkapan Enterprise Risk Management suatu perusahaan yaitu konsentrasi kepemilikan, komisaris independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan ukuran perusahaan.

Konsentrasi kepemilikan adalah shareholder yang memiliki kepemilikan saham paling besar dalam entitas. Kepemilikan yang terkonsentrasi akan memperkuat proses pengawasan dalam perusahaan dan memberikan tekanan kepada perusahaan untuk mengidentifikasi risiko yang dihadapinya, karena pemegang saham mayoritas memiliki pengaruh yang kuat terhadap pengendalian manajemen perusahaan tempat ia menanamkan sahamnya (Desender, 2007).

Perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi memiliki tingkat pengungkapan Enterprise Risk Management yang lebih tinggi.

Variabel konsentrasi kepemilikan yang diteliti oleh Meizaroh and Lucyanda (2011) menemukan bahwa adanya hubungan positif antara konsentrasi kepemilikan dan pengungkapan Enterprise Risk Management. Penelitian ini sejalan dengan Rustiarini (2012) yang menemukan adanya hubungan positif antar kedua variabel tersebut karena semakin tinggi konsentrasi kepemilikan, perusahaan semakin dituntut untuk meningkatkan kualitas pengawasan terhadap manajemen risiko.

Selain itu, pemegang saham kepemilikan terkonsentrasi memiliki kuasa untuk mengendalikan manajemen dan menuntut perusahaan dalam mengidentifikasi risiko dalam perusahaan, dengan tujuan untuk melindungi dirinya dari risiko investasi. Berbeda dengan hasil Wiona, D. dan Nurbaiti A. (2020) yang menemukan

(21)

6 bahwa tidak adanya pengaruh antara konsentrasi kepemilikan dan pengungkapan Enterprise Risk Management.

Komisaris independen adalah organ dewan komisaris yang tidak mempunyai ikatan bisnis atau keluarga dalam perusahaan, tidak mempunyai hubungan dengan pemegang saham mayoritas, direktur, dan komisaris lain. Dewan komisaris independen diharapkan dapat mendukung manajemen risiko yang lebih luas baik internal maupun eksternal dalam rangka kinerja fungsinya sebagai pemantau. (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006)

Variabel komisaris independen yang diteliti oleh Desender (2007) menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara komisaris independen dengan pengungkapan Enterprise Risk Management karena semakin besar jumlah komisaris independen, peluang untuk bertukar serta berbagi informasi dan keahlian tentang pengungkapan Enterprise Risk Management perusahaan juga semakin besar. Hal ini akan meningkatkan pengungkapan Enterprise Risk Management yang dilakukan perusahaan. Berbeda dengan hasil Sari (2013), yang mengatakan bahwa tidak ada pengaruh antara komisaris independen dan pengungkapan Enterprise Risk Management karena perilaku oportunistik manajer belum mampu untuk dicegah dan dideteksi oleh komisaris independen. Hal ini sejalan dengan yang diteliti oleh Meizaroh dan Lucyanda (2011).

Variabel independen selanjutnya yaitu Chief Risk Officer. Chief Risk Officer adalah kepala departemen risiko di mana ia bertugas dalam membentuk manajemen risiko yang efisien serta memberi kontribusi kepada manajer lain dalam memberi penjelasan di seluruh perusahaan mengenai risiko yang terjadi (COSO ERM, 2004).

(22)

7 Chief Risk Officer (CRO) bertanggung jawab atas penerapan dan koordinasi Enterprise Risk Management dalam suatu perusahaan. Syifa’ (2013) menjelaskan bahwa perusahaan yang mempunyai Chief Risk Officer memiliki pengendalian risiko yang lebih baik dibanding perusahaan lain yang tidak memiliki Chief Risk Officer, dan keberadaan Chief Risk Officer dalam perusahaan menandakan bahwa perusahaan telah berusaha menerapkan dan melaksanakan manajemen risiko dengan baik.

Variabel independen Chief Risk Officer dalam penelitian Razali, dkk (2011) menunjukkan bahwa Chief Risk Officer memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management, karena Chief Risk Officer memiliki tanggung jawab untuk mengelola secara efektif dan efisien risiko dalam perusahaan.

Syifa’ (2013) menunjukkan bahwa perusahaan dengan Chief Risk Officer dapat membantu perusahaan menghasilkan informasi tentang manajemen risiko terintegrasi. Adanya Chief Risk Officer dalam suatu perusahaan dapat berarti perusahaan tersebut telah mengungkapkan Enterprise Risk Management. Hasil ini juga bertepatan dengan Desender (2007). Berbeda dengan hasil Asmoro, dkk (2016) yang menemukan bahwa tidak adanya pengaruh antara Chief Risk Officer dan pengungkapan Enterprise Risk Management, karena Chief Risk Officer hanya bertanggung jawab untuk mengatur regulasi mengenai risiko yang digunakan di perusahaan.

Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi pengungkapan Enterprise Risk Management adalah Risk Management Committee. Seiring dengan meningkatnya tanggung jawab dan tugas komite audit, perusahaan berinisiatif untuk membentuk

(23)

8 komite lain yang independen dari komite audit dan menjalankan manajemen risiko perusahaan atau yang disebut Risk Management Committee (RMC) (Andarini dan Januarti, 2010). Komite Nasional Kebijakan Governance (2011) menunjuk Risk Management Committee sebagai badan yang mengawasi dan memantau pelaksanaan manajemen di perusahaan. Risk Management Committee dibentuk untuk menjalankan fungsi pengawasan dan pemantauan serta menetapkan pedoman strategis untuk mendukung direksi dalam mengkaji sistem manajemen risiko yang ditetapkan oleh direksi dan mengevaluasi risiko suatu perusahaan. Keberadaan Risk Management Committee dapat meningkatkan penilaian dan pemantauan risiko perusahaan serta memberikan dorongan untuk pengungkapan risiko.

Variabel independen Risk Management Committee yang diteliti oleh Rustiarini (2012) menemukan adanya hubungan positif antara Risk Management Committee dan Enterprise Risk Management karena perusahaan yang mempunyai Risk Management Committee memiliki kemungkinan untuk mengevaluasi semua pengendalian internal dan mengelola risiko yang muncul serta mendorong perusahaan melakukan pengungkapan atas risiko. Hal tersebut sejalan dengan penemuan Sari (2013). Akan tetapi, Asmoro, dkk (2016) mengemukakan hal yang berbeda bahwa tidak adanya pengaruh antara Risk Management Committee dan Enterprise Risk Management karena komite audit dapat menjalankan tugas Risk Management Committee.

Ukuran perusahaan adalah ukuran besar atau kecil suatu perusahaan yang dilihat dari jumlah aktiva perusahaan tersebut. Perusahaan yang berukuran besar akan mempunyai aktivitas bisnis yang lebih kompleks sehingga akan membawa

(24)

9 pengaruh terhadap publik. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengungkapan Enterprise Risk Management sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan ke publik (Kumalasari, 2014).

Variabel ukuran perusahaan yang diteliti oleh Syifa’ (2013) menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan Enterprise Risk Management, karena perusahaan yang berukuran besar akan menghadapi ketidakpastian yang relatif lebih tinggi. Penemuan ini sejalan dengan Desender (2007) yang menunjukkan bahwa pihak manajemen dapat dikendalikan dan dikontrol dengan semakin besarnya ukuran suatu perusahaan. Akan tetapi, hasil penelitian Kumalasari (2014) menunjukkan hal yang berbeda bahwa tidak adanya pengaruh antara ukuran perusahaan dan pengungkapan Enterprise Risk Management.

Secara ringkas, rangkuman kelima faktor yang mempengaruhi pengungkapan Enterprise Risk Management menurut penelitian sebelumnya dapat dilihat dalam tabel 1.1 di bawah ini.

Tabel 1.1

Research Gap Enterprise Risk Management

Variabel Dependen (Y)

Variabel Independen

(X)

Hasil Penelitian Peneliti Pengungkapan

Enterprise Risk

Management

Konsentrasi Kepemilikan

Berpengaruh positif Meizaroh dan Lucyanda (2011)

Berpengaruh positif Rustiarini (2012)

Berpengaruh negatif Wiona, D. dan Nurbaiti A.

(2020) Komisaris

Independen

Berpengaruh positif Desender (2007) Tidak berpengaruh Sari (2013)

Tidak berpengaruh Meizaroh dan Lucyanda (2011)

Berpengaruh positif Razali, dkk (2011)

(25)

10 Chief Risk

Officer

Berpengaruh positif Syifa’ (2013) Berpengaruh positif Desender (2007) Tidak berpengaruh Asmoro, dkk (2016) Risk

Management Committee

Berpengaruh positif Rustiarini (2012) Tidak berpengaruh Sari (2013)

Tidak berpengaruh Asmoro, dkk (2016) Ukuran

Perusahaan

Berpengaruh positif Syifa’ (2013) Berpengaruh positif Desender (2007) Tidak berpengaruh Kumalasari (2014) Sumber: Data olahan peneliti (2022)

Bukti-bukti empiris ini menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor yang memengaruhi pengungkapan Enterprise Risk Management dan hasil-hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakkonsistenan sehingga peneliti terdorong untuk membahas lebih lanjut mengenai pengungkapan Enterprise Risk Management. Dalam penelitian ini faktor-faktor tersebut ditinjau dalam kurun waktu yang tidak pernah ditempuh sebelumnya, sehingga penelitian ini akan memberikan hasil empiris yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggabungkan variabel – variabel dari beberapa penelitian sebelumnya terkait pengungkapan Enterprise Risk Management. Penelitian ini mencoba menguji pengaruh konsentrasi kepemilikan, komisaris independen, chief risk officer, risk management committee, dan ukuran perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Analisis ini menggunakan sektor Industri Barang Konsumsi selama 4 periode dari tahun 2017 - 2020 sebagai objek penelitian.

Daftar mengenai KAP yang terlibat bekerja sama dengan perusahaan industri barang konsumsi dalam melakukan kecurangan sehingga pengungkapan Enterprise Risk Management tidak terungkap dapat dilihat pada tabel 1.2 berikut ini.

(26)

11 Tabel 1.2

Daftar KAP yang Terlibat

No Perusahaan KAP Penjelasan

1. PT Kimia Farma Tbk

KAP Hans

Tuanakotta &

Mustofa

Pada tahun 2001, PT Kimia Farma bekerja sama dengan KAP Hans Tuanakotta & Mustofa melaporkan laba bersih sebesar Rp132 miliar yang seharusnya hanya sebesar Rp99,56 miliar, lebih rendah Rp32,6 miliar atau berkurang 24,7% dari laba awal yang dilaporkan.

2. PT

Indofarma Tbk

KAP

Hendrawinata Eddy Siddharta &

Tanzil

Pada tahun 2001, PT Indofarma bekerja sama dengan KAP Hendrawinata Eddy Siddharta &

Tanzil melakukan kecurangan laporan keuangan dengan menyajikan barang dalam proses lebih tinggi pada tahun buku 2001 sebesar Rp28,87 miliar sehingga menyebabkan penyajian persediaan yang terlalu tinggi (overstated), HPP disajikan terlalu rendah (understated), dan laba bersih disajikan terlalu tinggi (overstated).

3. PT Tiga Pilar

Sejahtera Food Tbk

KAP Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan

Adanya kerja sama antara PT Tiga Pilar Sejahtera dengan KAP Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar &

Rekan dalam memanipulasi laporan keuangan perusahaan dimana pada

tahun 2017 ditemukan

penggelembungan dana oleh perusahaan tersebut sebesar Rp 4 triliun, dan pada tahun 2019,

ditemukan juga adanya

penggelembungan pendapatan dan laba masing-masing sebesar Rp 662 miliar dan Rp 329 miliar.

4. PT Garuda Indonesia Tbk

Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan

PT Garuda bekerja sama dengan Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan melakukan kecurangan dalam laporan keuangan perusahaan dimana pada tahun 2018, PT Garuda Indonesia memasukkan keuntungan dari PT

(27)

12 Mahata Aero Teknologi dan mengakui sebagai pendapatan, padahal dari nilai kontrak sebesar US$239,94 juta, Mahata ternyata baru membayar $6,8 juta AS dan sisanya masih sebagai piutang lain-lain.

Sumber : Data olahan peneliti (2022)

Dari tabel 1.2 dapat dilihat bahwa banyaknya kasus pengungkapan Enterprise Risk Management yang tidak terungkap di perusahaan industri barang konsumsi dikarenakan adanya kerja sama antara perusahaan dengan KAP dalam melakukan kecurangan laporan keuangan, sehingga tidak dapat terbaca oleh pihak luar. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengungkapan Enterprise Risk Management di perusahaan industri barang konsumsi pada saat ini dengan kurun waktu 4 tahun dari tahun 2017-2020.

Dari paparan latar belakang di atas, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di BEI Periode 2017-2020.”

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah Konsentrasi Kepemilikan berpengaruh terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 - 2020?

(28)

13 2. Apakah Komisaris Independen berpengaruh terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 - 2020?

3. Apakah Chief Risk Officer berpengaruh terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 - 2020?

4. Apakah Risk Management Committee berpengaruh terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 - 2020?

5. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 – 2020?

6. Apakah Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017 - 2020?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh Konsentrasi Kepemilikan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

(29)

14 2. Untuk mengetahui pengaruh Komisaris Independen terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

3. Untuk mengetahui pengaruh Chief Risk Officer terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

4. Untuk mengetahui pengaruh Risk Management Committee terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

5. Untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

6. Untuk mengetahui pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Komisaris Independen, Chief Risk Officer, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2017-2020.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan khususnya di bidang manajemen risiko dan dapat menjadi ide serta referensi untuk penelitian yang berhubungan dengan pengungkapan manajemen risiko perusahaan menjadi lebih baik.

(30)

15 2. Bagi Manajemen Perusahaan

Dengan adanya penelitian ini diharapkan manajemen perusahaan lebih transparan dalam mengungkapkan informasi mengenai perusahaan dan pertimbangan bagi perusahaan untuk dapat menilai pengelolaan risiko melalui pengungkapan Enterprise Risk Management.

3. Bagi Investor dan Kreditur

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi investor pada saat ingin menanamkan saham dan memberikan kredit dengan menilai pengelolaan risiko melalui pengungkapan Enterprise Risk Management.

4. Bagi pemerintah

Diharapkan penelitian ini menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan dan ketentuan yang berkenaan dengan praktik pengungkapan manajemen risiko bagi perusahaan di Indonesia.

(31)

16 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory)

Menurut Spence (1973) dalam signaling theory, perusahaan akan melakukan pengungkapan laporan keuangan untuk memberikan sinyal positif kepada penanam modal. Spence (1973) mengemukakan bahwa pihak pengirim (pemilik informasi) berupaya memberikan informasi relevan yang diproses oleh pihak penerima. Kemudian pihak penerima akan mengambil keputusan sesuai pemahamannya dengan sinyal tersebut.

Signaling theory menjelaskan bahwa laporan keuangan yang baik memberikan sinyal bahwa perusahaan telah berjalan dengan baik, di mana manajer bertanggung jawab memberikan informasi tentang perusahaan dengan memberikan sinyal kepada pemilik. Permasalahan asimetri informasi antara manajemen dan pihak luar di mana pihak manajemen lebih banyak mengetahui informasi perusahaan dibandingkan pihak luar menyebabkan munculnya teori sinyal ini yang mewajibkan perusahaan mengungkapkan informasi yang dimilikinya, baik finansial maupun non-finansial (Spence, 1973).

Kualitas perusahaan yang baik dapat tercipta dengan menggunakan teori sinyal dalam penerapan Enterprise Risk Management. Pengungkapan informasi tentang risiko perusahaan menunjukkan perusahaan tersebut bersifat terbuka kepada pihak luar dan lebih unggul dibandingkan perusahaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah memberikan sinyal baik bahwa perusahaan

(32)

17 telah menerapkan manajemen risiko dengan baik. Sedangkan perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan informasi tentang risiko perusahaan akan memberi sinyal buruk karena tidak transparannya perusahaan tersebut dan tidak berjalan dengan baiknya manajemen risiko perusahaan (Prayoga dan Almilia, 2013).

Rustiarini (2012) menjelaskan bahwa penerapan pengungkapan Enterprise Risk Management menunjukkan perusahaan telah memberikan sinyal dalam arti perusahaan telah melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik.

Perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi memiliki tingkat pengungkapan yang lebih tinggi dalam manajemen risiko perusahaan. Hal ini akan mendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan terhadap Enterprise Risk Management sehingga akan memberikan sinyal baik kepada pihak luar. Komisaris independen juga akan memberikan sinyal baik dengan membantu pengungkapan Enterprise Risk Management sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada pihak luar. Keberadaan Chief Risk Officer dalam perusahaan menandakan bahwa perusahaan telah berusaha menerapkan dan melaksanakan manajemen risiko dengan baik yang akan memberikan sinyal baik bahwa perusahaan telah melakukan pengungkapan Enterpise Risk Management. Keberadaan Risk Management Committee dapat meningkatkan penilaian dan pemantauan risiko perusahaan dan memberikan dorongan untuk pengungkapan risiko. Hal ini akan memberikan sinyal baik kepada pihak luar karena telah melakukan pengungkapan Enterprise Risk Management. Perusahaan yang berukuran besar perlu melakukan pengungkapan Enterprise Risk Management sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan ke publik di mana hal ini juga akan memberikan sinyal positif kepada pihak luar.

(33)

18 2.1.2 Risiko (Risk)

Risiko adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi tujuan organisasi (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2011). Kegiatan perusahaan selalu terkait dengan risiko yang dihadapi. Risiko adalah suatu peristiwa ketidakpastian yang dapat membawa dampak kepada perusahaan. Pengetahuan terhadap risiko penting untuk menentukan strategi dalam mencapai misi dan tujuan perusahaan (Syifa’, 2013).

Untuk mengantisipasi risiko yang akan terjadi dimasa yang akan datang, perlu adanya manajemen risiko yang dapat membantu perusahaan untuk mengendalikan aktivitas manajemen, menghindari, meminimalisir serta menghapus risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan. Manajemen risiko adalah bagian terpadu dari proses organisasi, maka proses manajemen risiko merupakan bagian yang tak terpisahkan dari manajemen (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2011). Perusahaan menerapkan manajemen risiko untuk merespon risiko yang timbul. Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses berikut ini (Hanafi, 2004) :

1. Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko dilakukan untuk mengetahui risiko apa saja yang dihadapi oleh organisasi. Risiko yang muncul dalam organisasi sangat banyak, seperti risiko penyelewengan oleh karyawan, risiko operasional, dan lain-lain.

2. Evaluasi dan Pengukuran Risiko

Evaluasi risiko dilakukan untuk mengerti lebih baik tentang risiko perusahaan sehingga akan lebih mudah untuk melakukan pengawasan dan pengendalian. Evaluasi yang lebih analitis dilakukan untuk mengukur risiko tersebut.

3. Pengelolaan Risiko

Perusahaan harus mengelola risiko yang dihadapi. Pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi atau ditransfer ke pihak lainnya.

(34)

19 Amran, dkk (2009) menjelaskan jenis-jenis risiko perusahaan diantaranya : 1. Risiko keuangan (financial risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan finansial perusahaan, seperti risiko pasar, risiko kredit, dan risiko likuiditas.

2. Risiko operasi (operation risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan, pengembangan produk, pencarian sumber daya, dan kegagalan produk.

3. Risiko kekuasaan (empowerment risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan sumber daya manusia dan kinerja para karyawan.

4. Risiko teknologi dan pengolahan informasi (information and technology risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan infrastruktur teknologi dan informasi yang dimiliki perusahaan.

5. Risiko integritas (integrity risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan kecurangan manajemen dan karyawan, tindakan ilegal, dan reputasi.

6.

Risiko strategi (strategic risk) merupakan risiko yang berhubungan dengan pengamatan lingkungan, industri, portofolio bisnis, pesaing, peraturan, politik, dan kekuasaan.

2.1.3 Enterprise Risk Management

COSO ERM (2004) mendefiniskan Enterprise Risk Management sebagai proses yang dipengaruhi oleh manajemen, board of directors, dan personel lain dari suatu organisasi, diterapkan dalam strategi dan mencakup organisasi secara keseluruhan, didesain untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang mempengaruhi suatu organisasi, mengelola risiko dalam toleransi suatu organisasi, untuk memberikan jaminan yang cukup pantas berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi.

Forum Kustodian Sentral Efek Indonesia (2008) menjelaskan bahwa Enterprise Risk Management diterapkan untuk mengontrol dan mengendalikan risko yang dihadapi perusahaan, mengurangi bahaya yang ada dan bertujuan menambah nilai entitas. Enterprise Risk Management menggunakan kerangka kerja

(35)

20 manajemen risiko untuk mengetahui risiko apa yang dihadapi perusahaan dan mengelola risiko tersebut.

Entreprise Risk Management (ERM) digunakan untuk meminimalisir dan mengendalikan risiko perusahaan yang mungkin muncul. Enterprise Risk Management Framework COSO (2004) mempunyai empat kategori tujuan yaitu:

1. Strategis : dilakukan untuk mencapai tujuan, dan sejalan dengan misinya.

2. Operasi : pemanfaatan secara efektif dan efisien pada sumber daya.

3. Pelaporan : laporan keuangan yang dapat dipercaya.

4. Kepatuhan : menaati prinsip dan asas perundang-undangan.

COSO ERM (2004) menguraikan bahwa Enterprise Risk Management terdiri dari 8 komponen. Kedelapan komponen ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan perusahaan, Delapan komponen Enterprise Risk Management diuraikan sebagai berikut :

1. Lingkungan internal (Internal Environment) – Lingkungan internal menjadi penentu organisasi, dan menjadi dasar bagaimana risiko dipandang dan diperlakukan oleh orang-orang dalam perusahaan, serta menjadi pandangan dalam menangani ketidakpastian.

2. Penentuan Tujuan (Objective Setting) – Perusahaan harus menentukan tujuannya dan ERM harus meyakinkan bahwa tujuan perusahaan dapat terwujud dan tercapai.

3. Identifikasi Kejadian (Event Identification) – Harus ditentukan terlebih dahulu ketidakpastian dan kesempatan yang terdapat dalam lingkungan internal dan eksternal yang dapat memberi dampak terhadap misi yang telah ditetapkan.

4. Penilaian Risiko (Risk Assesment) – Menganalisis risiko dengan memperkirakan dan mengantisipasi peluang terjadinya risiko untuk menentukan cara pengelolaan risiko.

5. Respons Risiko (Risk Response) – Respons risiko dapat dilakukan dengan melakukan penghindaran, menerima, mengurangi, atau mentransfer risiko.

6. Kegiatan Pengendalian (Control Activities) – Proses dan strategi diterapkan untuk meyakinkan berjalannya respons risiko secara efektif.

7. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication) – Mengidentifikasi dan mengkomunikasikan informasi yang mengharuskan setiap unit menjalankan tugasnya.

(36)

21 8. Pengawasan (Monitoring) – Melakukan pengawasan dan mengontrol proses Enterprise Risk Management dengan mengawasi aktivitas manajemen dan melakukan perbaikan jika diperlukan.

2.1.4 Pengungkapan Enterprise Risk Management

Pengungkapan Enterprise Risk Management adalah pengungkapan atas bagaimana perusahaan dalam mengendalikan risiko yang berkaitan di masa mendatang yang berpotensi memberi manfaat untuk para analisis, investor, dan stakeholders (Amran dkk, 2009). Pengungkapan Enterprise Risk Management dalam laporan tahunan perlu dilakukan oleh setiap entitas publik untuk memberi informasi tentang perusahaan kepada pihak luar. Pihak manajemen membuat laporan tahunan perusahaan yang memuat informasi finansial dan non-finansial yang bermanfaat bagi pihak luar untuk mengetahui keadaan perusahaan.

Peraturan mengenai pengungkapan Enterprise Risk Management di Indonesia tertuang dalam PSAK No. 60 (revisi 2016) (IAI, 2016) dan Keputusan Ketua BAPEPAM dan LK Nomor : KEP-134/BL/2006 yang menyatakan bahwa pengungkapan menitikberatkan pada risiko dan pengelolaan risiko. PSAK No. 60 (revisi 2016) (IAI, 2016) tentang pengungkapan instrumen keuangan menyatakan mengenai kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten dan perusahaan publik. Pengungkapan Enterprise Risk Management bertujuan memberi informasi yang dapat membantu pihak luar sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. PSAK No. 60 (revisi 2016) (IAI, 2016) mewajibkan entitas untuk mengungkapkan informasi tentang risiko sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi pihak luar.

(37)

22 Dalam pengungkapan Enterprise Risk Management, manajemen risiko dimasukkan ke dalam kerangka kerja manajemen risiko yang mengatur setiap aktivitas manajemen di tingkatan perusahaan. Menurut COSO ERM (2004), pengungkapan Entreprise Risk Management terdiri dari 108 pengungkapan yang meliputi delapan komponen, yaitu lingkungan internal, penetapan tujuan, identifikasi kejadian, penilaian risiko, respons risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. Uraian mengenai 108 item pengungkapan Enterprise Risk Management dapat dilihat pada Lampiran 1.

2.1.5 Konsentrasi Kepemilikan

Konsentrasi kepemilikan adalah shareholder yang memiliki kepemilikan saham paling besar dalam entitas (Desender, 2007). Pemegang saham perusahaan dapat meliputi individu, keluarga, perusahaan, bank, investor, institusi, atau perusahaan non-finansial (Nuryaman, 2009).

Menurut Nuryaman (2009), struktur kepemilikan saham menggambarkan otoritas dan dominasi pemegang saham atas aktivitas perusahaan. Kepemilikan saham digolongkan terkonsentrasi jika pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang dominan dibandingkan pemegang saham lainnya. Pemegang kepemilikan saham terkonsentrasi dapat melakukan monitoring secara langsung terhadap manajemen perusahaan (Rini dan Aida, 2006).

Pemegang saham kepemilikan terkonsentrasi dapat langsung melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap manajemen serta dapat mengetahui informasi perusahaan. Kepemilikan pemegang saham digolongkan sebagai

(38)

23 kepemilikan terkonsentrasi apabila mempunyai saham lebih dari 50% dari total saham perusahaan. (Shleifer dan Vishny, 1986).

2.1.6 Komisaris Independen

Komisaris independen adalah organ dewan komisaris yang tidak mempunyai ikatan bisnis atau keluarga dalam perusahaan, tidak mempunyai hubungan dengan pemegang saham mayoritas, direktur, dan komisaris lain (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006). Komisaris independen mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan direksi dan memberi masukan jika diperlukan.

Salah satu fungsi pengelolaan perusahaan menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006) adalah manajemen risiko dan pengendalian internal yang digunakan untuk memyempurnakan manajemen risiko. Sistem pengendalian internal yang efektif akan meningkat dengan adanya pengendalian risiko yang efektif pula. Keputusan Direksi PT BEJ No: Kep-305/BEJ/07-2004 menjelaskan bahwa jumlah komisaris independen dalam suatu perusahaan minimal 30% (tiga puluh persen) dari jumlah keseluruhan anggota dewan komisaris dalam perusahaan.

Karena komisaris independen bergerak secara independen, hal ini memudahkannya dalam mengungkapkan informasi terkait risiko kepada pihak luar. Selain itu, pihak luar seperti pemegang saham memerlukan sosok seperti komisaris independen di dalam perusahaan untuk melindungi mereka dari timbulnya risiko investasi.

(39)

24 2.1.7 Chief Risk Officer

Chief Risk Officer bertanggung jawab untuk menerapkan dan menjalankan Enterprise Risk Management di seluruh tingkatan perusahaan (Daud dkk, 2010).

Chief Risk Officer adalah kepala departemen risiko di mana ia bertugas dalam membentuk manajemen risiko yang efisien serta memberi kontribusi kepada manajer lain dalam memberi penjelasan di seluruh perusahaan mengenai risiko yang terjadi (COSO ERM, 2004). Enterprise Risk Management dalam perusahaan akan berjalan efektif jika perusahaan membentuk adanya Chief Risk Officer.

Keberadaan Chief Risk Officer dalam perusahaan menandakan bahwa perusahaan telah berusaha menerapkan program Enterprise Risk Management (Hoyt dan Liebenberg, 2011).

2.1.8 Risk Management Committee

Andarini dan Januarti (2010) menjelaskan bahwa perusahaan berinisiatif untuk membentuk komite lain yang independen dari komite audit dan menjalankan manajemen risiko perusahaan seiring dengan meningkatnya tanggung jawab dan tugas komite audit, yang disebut dengan Risk Management Committee (RMC).

Komite Nasional Kebijakan Governance (2011) menjelaskan Risk Management Committee sebagai badan yang mengawasi dan memantau pelaksanaan manajemen di perusahaan. Risk Management Committee dibentuk untuk menjalankan fungsi pengawasan dan pemantauan serta menetapkan pedoman strategis untuk mendukung direksi dalam mengkaji sistem manajemen risiko yang ditetapkan oleh direksi dan mengevaluasi risiko suatu perusahaan. Keberadaan Risk Management

(40)

25 Committee dapat meningkatkan penilaian dan pemantauan risiko perusahaan serta memberikan dorongan untuk pengungkapan risiko.

Dalam proses menata pembentukan Risk Management Committee, Risk Management dapat tergabung dengan komite audit atau dapat pula menjadi komite yang terpisah dan berdiri sendiri. Risk Management Committee yang tidak tergabung dalam komite audit dipandang dapat menjadi metode yang efisien untuk melakukan pemantauan dan pengelolaan risiko serta mendukung dewan komisaris melengkapi tugas dan tanggung jawabnya (Subramaniam dkk, 2009). Risk Management Committee yang terpisah dari komite audit lebih dapat menyalurkan usaha untuk melakukan penilaian pengendalian secara menyeluruh dengan menghimpun seluruh risiko yang dialami perusahaan (Subramaniam dkk, 2009).

2.1.9 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah ukuran besar atau kecil suatu perusahaan yang dilihat dari jumlah aktiva perusahaan tersebut. Perusahaan yang berukuran besar akan mempunyai aktivitas bisnis yang lebih kompleks sehingga akan membawa pengaruh lebih besar terhadap publik. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengungkapan informasi yang lebih untuk menunjukkan pertanggungjawaban perusahaan kepada publik (Kumalasari, 2014).

Pada umumnya, perusahaan terdiri dari 3 bagian, yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium firm), dan perusahaan kecil (small firm). Perusahaan besar tentu akan mempunyai jumlah stakeholder yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil (Syifa’, 2013). Selain itu, perusahaan yang berukuran besar lebih cenderung mengungkapkan informasinya kepada publik

(41)

26 dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan yang sering melakukan pengungkapan Enterprise Risk Management akan meningkatkan peluangnya untuk lebih dapat menghindari risiko yang timbul (Sari, 2013).

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian mengenai pengungkapan Enterprise Risk Management yang telah dilakukan dapat diiuraikan sebagai berikut:

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Rustiarini

(2012)

Variabel Independen :

Komisaris Independen, Reputasi Auditor, Risk Management

Committee, Leverage, dan Ukuran Perusahaan Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Terdapat hubungan positif antara variabel independen Reputasi auditor serta Leverage terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat hubungan antara variabel independen Komisaris Independen, Risk Management Committee, dan Ukuran

Perusahaan terhadap

pengungkapan Enterprise Risk Management.

2. Sari (2013) Variabel Independen :

Komisaris Independen, Reputasi Auditor, Risk Management

Committee, Konsentrasi

Kepemilikan, dan Ukuran Perusahaan Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Secara simultan, terdapat pengaruh antara variabel independen Komisaris Independen, Reputasi Auditor, Risk Management Committee, Konsentrasi Kepemilikan dan Ukuran Perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Terdapat hubungan positif antara variabel independen Reputasi Auditor, Risk Management Committee, Konsentrasi Kepemilikan, dan Ukuran

(42)

27

Perusahaan terhadap

pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel Komisaris Independen terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

3. Asmoro (2016)

Variabel Independen :

Risk Management Committee, Ukuran Dewan Komisaris, Chief Risk Officer, dan Kepemilikan

Institusional

Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Secara simultan, terdapat pengaruh antara variabel independen Risk Management Committee, ukuran dewan komisaris, chief risk officer, dan kepemilikan institusional terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Secara parsial, terdapat hubungan positif antara variabel independen Risk Management Committee terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen Chief Risk Officer, ukuran dewan komisaris, dan kepemilikan institusional terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

4. Syifa’

(2013)

Variabel Independen :

Ukuran Perusahaan, Leverage, Konsentrasi Kepemilikan, Reputasi Auditor, Chief Risk Officer

Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Terdapat hubungan positif antara variabel independen Ukuran Perusahaan, Leverage, Konsentrasi Kepemilikan, Reputasi Auditor, dan Chief Risk Officer terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen Leverage terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

5. Meizaroh dan Lucyanda (2011)

Variabel Independen :

Komisaris Independen, Reputasi Auditor, Risk

Terdapat hubungan positif antara variabel independen Reputasi auditor, Risk Management Committee, dan ukuran

(43)

28 Management

Committee, dan Ukuran Perusahaan

Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

perusahaan terhadap

pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel komisaris independen terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

6. Handayani dan Yanto (2013)

Variabel Independen :

Ukuran Perusahaan, Risk Management Committee, Reputasi

Auditor, dan

Konsentrasi Kepemilikan

Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Terdapat hubungan positif antara variabel Ukuran perusahaan, Risk Management Committee, Reputasi Auditor, dan Konsentrasi Kepemilikan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

7. Wiona, D.

dan Nurbaiti A. (2020)

Variabel Independen :

Ukuran Perusahaan, Konsentrasi

Kepemilikan, Reputasi Auditor, dan Risk Management

Committee

Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Secara simultan, terdapat pengaruh antara variabel independen ukuran perusahaan, konsentrasi kepemilikan, reputasi auditor, dan Risk Management

Committee terhadap

pengungkapan Enterprise Risk Management.

Secara parsial, terdapat hubungan positif antara ukuran perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan terdapat hubungan negatif antara variabel independen konsentrasi kepemilikan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Selain itu, tidak terdapat pengaruh antara variabel independen Reputasi auditor dan Risk Management Committee terhadap

(44)

29 pengungkapan Enterprise Risk Management.

8. Kumalasari (2014)

Variabel Independen :

Leverage, Ukuran Perusahaan,

Profitabilitas, dan Reputasi Auditor Variabel Dependen : Pengungkapan

Enterprise Risk Management

Terdapat hubungan positif antara variabel independen Leverage dan profitabilitas terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen ukuran perusahaan dan reputasi auditor terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sumber : Data olahan peneliti (2022)

Tabel 2.1 memaparkan uraian penelitian sebelumnya mengenai Pengungkapan Enterprise Risk Management. Rustiarini (2012) meneliti pengungkapan Enterprise Risk Management dengan variabel independen yaitu komisaris independen, reputasi auditor, risk management committee, leverage, dan ukuran perusahaan. Sampel perusahaan yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 27 perusahaan yang terdaftar di indeks LQ45 pada periode 2016-2018 dan memberikan hasil bahwa terdapat hubungan positif antara variabel independen reputasi auditor dan leverage terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management, sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen komisaris independen, Risk Management Committee, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) yaitu pengungkapan Enterprise Risk Management dengan variabel independen yang digunakan adalah komisaris independen, reputasi auditor, risk management committee, konsentrasi kepemilikan, dan ukuran perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah sebanyak

(45)

30 90 perusahaan manufakatur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2010-2011 dan memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh secara simultan antara variabel komisaris independen, reputasi auditor, risk management committee, konsentrasi kepemilikan, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management, serta terdapat hubungan positif secara parsial antara variabel independen reputasi auditor, risk management committee, konsentrasi kepemilikan, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management. Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen komisaris independen terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Asmoro (2016) meneliti tentang Pengaruh Risk Management Committee, Ukuran Dewan Komisaris, Chief Risk Officer, dan Kepemilikan Institusional terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 17 perusahaan yang terdaftar dalam IDX30 di Bursa Efek Indonesia pada periode 2012-2014 dan hasil menemukan bahwa terdapat pengaruh secara simultan antara variabel independen Risk Management Committee, ukuran dewan komisaris, chief risk officer, dan kepemilikan institusional terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management serta terdapat hubungan positif secara parsial antara variabel independen Risk Management Committee terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management. Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen Chief Risk Officer, ukuran dewan komisaris, dan kepemilikan institusional terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Syifa’ (2013) meneliti tentang Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Konsentrasi Kepemilikan, Reputasi Auditor, Chief Risk Officer terhadap

(46)

31 Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 94 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2010- 2011 dan hasil menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel independen ukuran perusahaan, leverage, konsentrasi kepemilikan, reputasi auditor, dan Chief Risk Officer terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel independen leverage terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management.

Meizaroh dan Lucyanda (2011) meneliti tentang Pengaruh Komisaris Independen, Reputasi Auditor, Risk Management Committee, dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 32 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2012-2014 dan hasil menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel independen reputasi auditor, Risk Management Committee, dan ukuran perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management.

Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel komisaris independen terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management.

Handayani dan Yanto (2013) meneliti tentang Pengaruh Ukuran Perusahaan, Risk Management Committee, Reputasi Auditor, Konsentrasi Kepemilikan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 90 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2011-2012 dan hasil menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel independen ukuran perusahaan, Risk Management Committee, reputasi

(47)

32 auditor, dan konsentrasi kepemilikan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management.

Wiona, D. dan Nurbaiti A. (2020) meneliti tentang Pengaruh Ukuran Perusahaan, Konsentrasi Kepemilikan, Reputasi Auditor, dan Risk Management Committee terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 41 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2015-2018 dan hasil menemukan bahwa secara simultan terdapat pengaruh antara variabel independen ukuran perusahaan, konsentrasi kepemilikan, reputasi auditor, dan Risk Management Committee terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management, dan secara parsial variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif dan konsentrasi kepemilikan berpengaruh negatif terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management. Sedangkan, tidak terdapat pengaruh antara variabel reputasi auditor dan Risk Management Committee terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Kumalasari (2014) meneliti tentang Pengaruh Leverage, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Reputasi Auditor terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management. Sampel yang digunakan sebanyak 22 perusahaan hotel, restoran, dan pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2010-2012 dan hasil menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel independen leverage dan profitabilitas terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management. Sedangkan tidak terdapat pengaruh antara variabel ukuran perusahaan dan reputasi auditor terhadap pengungkapan Enterprise Risk Management.

Referensi

Dokumen terkait

This paper uses lagged loans, deposits, capital, non-performing loans, and bank size as determinant variables on lending behavior of Indonesian banks.. The

Aplikasi Laboratorium Kimia Virtual dapat membantu mahasiswa supaya lebih memahami Kimia dari beberapa fitur yang ada dan diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam mata kuliah

Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan. perencanaan, keuangan, kepegawaian,

Doolklan aaka pcnotapan lnl dianbil dldalan ddang pomu- eyatsaratan pada harl Rabu, tanggal 3 Aguotus 1977 oloh kanl, J0NA8TI SH» Ilakln, dongan dlhadllrl oleh Hy, M# Soomarto, Panl

[r]

Perangkat lunak yang dapat membantu untuk meminimalisir waktu dalam hal pembelajaran tebak gambar dan pengenalan pakaian adat di indonesia adalah perangkat lunak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan penggunaan lahan di kawasan transmigrasi Kecamatan Rio Pakava tahun 1991 hingga tahun 2017 yaitu

Hasil uji F pada penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan struktur modal, pertumbuhan aset dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja