7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Ghia (2014), Pengaruh struktur aktiva dan profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan makanan dan minuman. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur aktiva tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal, sedangkan profitabilitas memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2007-2009.
Penelitian yang dilakukan oleh Islan (2014) dengan objek penelitian pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014. Hasil peneltian Economic Value Added (EVA) kondisi keuangan PT. Delta Djakarta Tbk menunjukkan nilai positif tetapi terjadi fluktuasi, PT.
Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk mengalami peningkatan dan nilai yang positif sedangkan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT. Mayora Indah Tbk kondisi kinerja keuangan perusahaan mengalami nilai negatif setiap tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Jhoni Kurniawan (2017), Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015. Hasil penelitian yang pertama menunjukan bahwa penilaian kinerja terhadap rasio likuiditas current ratio secara keseluruhan rata-rata ditujukan untuk PT. Delta Djakarta Tbk dari tahun 2011-2015 dikatakan likuid dan Quick ratio yang ditunjukan pada PT. Delta Djakarta Tbk dari tahun 2011-2015 dikatakan likuid.
Pada penilaian kinerja rasio solvabilitas yaitu Debt To Assets Ratio secara keseluruhan yang ditunjukan oleh PT Multi Bintang Indonedia Tbk dari tahun 2011- 2015 dikatakan solvable dan Debt to equity ratio yang ditunjukan PT Ultra Milk Industry & Tranding Company Tbk dari tahun 2011-2015 dikatakan solvable, sedangkan penilaian kinerja terhadap rasio profitabilitas yaitu net profit margin yang ditunjukan oleh PT Delta Djakarta Tbk dari tahun 2011-2015 dikatakan efisien, dan return on equity yang ditunjukan untuk PT Multi Bintang Indonesia Tbk dari tahun 2011-2015 dikatakan tidak efisien atau tidak sehat.
B. Tinjauan Teori
1. Tujuan Kinerja Keuangan
Menurut Munawir (2012:31) menyatakan bahwa tujuan dari kinerja keuangan perusahaan adalah
a. Mengetahui tingkat likuiditas
Likuiditas menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.
b. Mengetahui tingkat solvabilitas
Solvabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apalbila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
c. Mengetahi tingkat rentabilitas
Rentabilitas atau sering disebut dengan profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
d. Mengetahui tingkat stabilitas
Stabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar bunga atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja keuangan memberikan penilaian atas pengelolaan asset perusahaan oleh manajemen dan manajemen perusahaan dituntut untuk melakukan evaluasi dan tindakan perbaikan atas kinerja keuangan perusahaan yang tidak sehat.
2. Analisis Laporan Keuangan
Harahap (2011:190) mengungkapkan analisis laporan keuangan berarti menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungan yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non- kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat. Tujuan analisis laporan keuangan mempunyai maksud untuk menegaskan apa yang diinginkan atau diperoleh dari analisis yang dilakukan, dengan adanya tujuan, analisis selanjutnya akan dapat terarah, memilihi batasan dan hasil yang ingin dicapai.
3. Kinerja Keuangan
Menurut Martono (2005:52) kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat bagi berbagai pihak (stakeholders) seperti investor, kreditur, analisis, konsultan keuangan, pialang, pemerintah, dan pihak manajemen sendiri. Laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi dari suatu perusahaan, bila disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu. Keadaan inilah yang akan digunakan untuk menilai kinerja perusahaan.
Menurut Harmono (2009:46) kinerja perusahaan umumnya diukur berdasarkan penghasilan bersih (laba) atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan per saham (earning per share). Unsur yang berkaitan langsung dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah penghasilan dan beban. Pengakuan dan pengukuran penghasilan dan beban tergantung sebagian konsep modal dan pemeliharaan modal yang digunakan perusahaan dalam menyusun laporan keuangan.
Menurut Fahmi (2011:2) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
Penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Ada 5 (lima) tahapan dalam menganalisi kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum yaitu:
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review disini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
b. Melakukan perhitungan
Penerapan metode perhitungan disini adalah disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh Dari hasil hitungan yang sesuai diperoleh tersebut kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya.
Metode yang paling umum dipergunakan untuk perbandingan ada dua yaitu:
1). Time series analysis, yaitu membandingkan secara antara waktu atau antara periode, maka akan terlihat perbandingan secara grafik.
2).Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis dan dilakukan secara bersamaan.
Dari hasil penggunaan metode ini diharapkan nantinya akan dapat dibuat suatu kesimpulan yang menyatakan posisi perusahaan tersebut berada dalam kondisi sangat baik, baik, sedang/normal, tidak baik, dan sangat tidak baik.
d. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahaan yang ditemukan.
Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang dialami perusahaan tersebut.
e. Mencari dan memberikan pemecahaan masalah (solution) terhadap permasalahan yang ditemukan.
Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi maka dicarikan solusi guna memberikan suatu input atau masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan ini dapat terselesaikan.
4. Rasio Keuangan
Menurut Kasmir (2010:104), Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada diantara laporan keuangan.
Tujuan dari analisis rasio adalah untuk dapat menentukan tingkat likuiditas, solvabilitas, keefektifan operasi serta derajat keuntungan suatu perusahaan (profitability perusahaan). Kasmir (2010:68) mengungkapkan ada beberapa tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan, yaitu:
a. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.
b. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.
c. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.
d. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.
e. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.
Menurut Kasmir (2010), terdapat beberapa rasio keuangan yang digunakan dalam menganalisis laporan keuangan perusahaan, yaitu:
1). Rasio Likuiditas, merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek.
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendeknya, baik kewajiban dalam membiayai proses produksi maupun kewajiban keluar perusahaan. Weston dalam kasmir juga menyebutkan bahwa rasio
likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban utang jangka pendek.
Jenis rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah current ratio (rasio lancar) dan cash ratio (rasio kas).
Current Ratio = 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟𝑋 100%
Rasio ini menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Menurut Martono (2005:55) current ratio yang tinggi memberikan indikasi jaminan yang baik bagi kreditor jangka pendek dalam arti setiap saat perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban financial jangka pendeknya.
Cash Ratio = 𝐾𝑎𝑠
𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟𝑋 100%
2). Rasio Solvabilitas atau leverage ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.
Menurut Kasmir (2010) rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang seperti diketahui dalam mendanai usahanya, perusahaan memiliki beberapa sumber dan. Sumber-sumber dana yang dapat diperoleh adalah dari sumber pinjaman modal sendiri.
Jenis rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah debt to asset ratio (perbandingan total hutang terhadap total asset) dan debt to equity ratio (perbandingan total hutang terhadap modal sendiri).
Debt to asset ratio (perbandingan total hutang terhadap total asset) yaitu
rasio total kewajiban terhadap asset. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan menunjukan presentase aktiva perusahaan yang didukung oleh hutang.
Rasio ini juga menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mengadaptasikan kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi pembayaran bunga pada kreditur. Nilai rasio yang tinggi menunjukan peningkatan dari resiko pada kreditur berupa ketidakmampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya dari pihak pemegang saham, rasio yang tinggi akan mengakibatkan pembayaran bunga yang tinggi yang pada akhirnya akan mengurangi pembayaran deviden,
Rumusnya adalah
Debt To Asset Ratio = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑋 100%
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menilai rasio ini adalah stabilitas laba perusahaan. Pada perusahaan yang memiliki catatan laba yang stabil peningkatan dalam hutang lebih bisa ditoleransi dari pada perushaan yang memiliki catatan laba tidak stabil, sedangkan Debt to equity ratio (perbandingan total hutang terhadap modal sendiri) Rasio ini menunjukan presentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman.
Semakin tinggi rasio semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari prespektif kemampuan membayar
kewajiban jangka panjang rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang. Menurut Kasmir (2010:158) rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk jaminan utang dan biasanya rasio ini dinyatakan dalam presentase.
Rumusnya adalah
Debt to equity ratio= 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠𝑋 100%
3). Rasio Aktivitas, merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya.
Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembeliaan dan kegiatan lainnya.
Jenis rasio aktivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah total asset turn over dan inventory turn over. Total asset turn over menunjukan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan.
Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
Total Asset Turn Over = 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎𝑋 100%
Sedangkan Rasio Inventory Turn Over menunjukan seberapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa penjualan berjalan cepat.
Rumusnya adalah
Inventory Turnover Ratio = 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑋 100%
4). Rasio Profitabilitas, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.
Menurut Harmono (2009:73) rasio profitabilitas menggambarkan kinerja fundamental perusahaan ditinjau dari tingkat efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan dalam memperoleh laba.
Jenis rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah return on investment (rasio laba bersih dan aktiva) dan return on equity (rasio laba bersih dan modal).
Return on investment (rasio laba bersih dan aktiva) Merupakan rasio terhadap laba setelah pajak dengan total aktiva.
Rumusnya adalah
ROI = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑋 100%
Rasio ini menunjukan beberapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dengan nilai aktiva.
Menurut Kasmir (2010) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan
dan pendapatan investasi. Intinya bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.
Return On Equity merupakan rasio terhadap laba setelah pajak dengan modal.
Rumusnya adalah
Return On Equity = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑋 100%
Menurut Kasmir (2010) semakin tinggi rasio ini semakin baik.
Artinya, posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya. Rasio ini menunjukan berapa persen yang diperoleh laba bersih bila diukur dari modal.
5. Kelebihan dan Kekurangan Analisis Rasio Keuangan Kelebihan analsisi rasio menurut Harahap (2011) yaitu:
a. Mudah dibaca dan diinterprestasikan.
b. Mengetahui posisi kinerja perusahaan dibandingkan industry sejenis.
c. Sebagai dasar analisis pihak kreditur dan investor.
d. Dapat membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain secara berkala atau time series.
e. Lebih mudah untuk melihat tren kinerja perusahaan dan membuat proyeksi masa mendatang.
f. Memberikan sajian analisis lebih sederhana dan informatif
Kekurangan analisis rasio menurut Teuku Mirza dan Imbuh S (1999) yaitu:
a. Perbedaan standard akuntansi dapat menimbulkan distorsi dalam penilaian rasio.
b. Rasio keuangan tidak bisa berdiri sendiri/independen.
c. Subjektifitas dalam penilian rasio keuangan cukup tinggi.
d. Laporan keuangan yang memiliki sejumlah divisi dan diferensiasi produk dari industry yang berlainan, lebih sulit dibandingkan dengan perusahaan yang fokus pada lebih sedikit diferensiasi/lini produk.
e. Sulit membandingkan analisis rasio, jika data yang tersedia tidak sinkron.
f. Praktik window dressing yang bisa membuat laporan keuangan terlihat bagus.
C. Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir penelitian digunakan untuk menggambarkan aktivitas penelitian yang dilakukan untuk memudahkan dalam memahami proses dalam penelitian.
Kerangka pikir penelitian digambarkan dalam Gambar 1.1 Penelitian dilakukan untuk menganalisa kinerja keuangan perusahaan pada PT Moya Kasri Wira Jatim 2015- 2019.
Kinerja Keuangan
Rasio Keuangan
Gambar 1. 1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan Gambar 1.1 Penelitan ini dilakukan untuk mengetahui tujuan manajemen keuangan perusahaan, karena tujuan manajemen keuangan perusahaan berpengaruh pada kinerja keuangan perusahan. Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dilakukan evaluasi dengan metode Rasio Keuangan dengan menggunakan teknik analisis Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas. Hasil penelian dari evaluasi menggunakan metode rasio keuangan akan mempengaruhi operasi perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan.
D. Hipotesis
Hipotesis dirumuskan berdasarkan kerangka pikir dan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya dan akan dijawab pada sesi pembahasan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu PT Moya Kasri Wira Jatim memiliki kinerja keuangan dengan menggunakan rasio keuangan yaitu rasio likuditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas dengan menggunakan pendekatan time series untuk
Rasio Likuiditas Rasio
Solvabilitas Rasio Aktivitas Rasio
Profitabilitas
mengetahui kinerja perusahaan. Penggunaan metode tersebut digunakan untuk mengetahui serta menganalisis kinerja keuangan perusahaan dalam keadaan sehat atau tidak sehat.