POLA KOMUNIKASI ISTRI YANG BEKERJA SUAMI MENGANGGUR (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Istri yang Bekerja Suami Menganggur dalam Pengasuhan Anak).

92 

Teks penuh

(1)

Menganggur dalam Pengasuhan Anak)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagai per syar atan memper oleh Gelar Sar jana

pada FISIP UPN “Veter an” J awa Timur

Oleh :

DUWI NOVITASARI

NPM.0843010080

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

SURABAYA

(2)

Disusun Oleh :

DUWI NOVITASARI NPM. 0843010080

Telah disetujui untuk mengikuti ujian skr ipsi

Menyetujui,

Pembimbing Utama

Dr s.Syaifuddin Zuhr i MSi. NPT. 3 7006 94 0035 1

Mengetahui

DEKAN

(3)

Disusun Oleh :

DUWI NOVITASARI

NPM. 0843010080

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi

Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur

Pada tanggal 14 Juni 2012

Pembimbing Utama

Dr s, Saifudin Zuhr i.Msi NPT. 3 7006 94 0035 1

Tim Penguji :

1. Ketua

J uwito, S.Sos, M.Si NPT. 3 6704 95 0036 1

2. Sekr etar is

Dr s. Saifudin Zuhr i, M.si NPT. 3 700694 0035 1

3. Anggota

Dr s. Kusnar to, M.Si NIP. 195808011984021001

Mengetahui, DEKAN

(4)

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

,

atas berkat dan limpahan Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

laporan skripsi dengan judul ”POLA KOMUNIKASI ISTRI YANG

BEKERJ A SUAMI MENGANGGUR” dapat penulis susun dan

selesai sebagai wujud pertanggung jawaban atas terlaksananya kegiatan

perkuliahan penulis.

Maka pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih

kepada Bapak Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya

untuk memberikan bimbingan, nasehat serta motivasi kepada penulis.

Dan penulis juga banyak menerima bantuan dari berbagai pihak, baik itu

berupa moril, spiritual, maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Hj. Suparwati,Msi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur.

2. Bapak Juwito, S.Sos, Msi selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, Msi selaku Sekertaris Jurusan

Program Studi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

(5)

dengan sabar dan membantu memberikan bimbingan untuk

menyelesaikan penyusunan laporan proposal skripsi ini.

5. Dosen – dosen Jurusan Ilmu Komunikasi yang telah banyak

memberikan ilmu dan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Dosen penguji Bapak Drs. Kusnarto, Msi, Bapak Juwito, S.Sos,

Msi, Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, Msi, terima kasih atas saran dan

arahannya kepada peneliti.

7. Pak Totok selaku Staf Pengadilan Agama, yang sudah membantu

peneliti memberika data-data yang peneliti perlukan.

8. Orang tua tercinta, terima kasih atas perjuangan, doa serta dukungan

yang diberikan setiap hari baik berupa moril dan materil.

9. Kakak yang ikut ngerecokin waktu ngerjain skripsi tapi juga

menghibur dengan celetukan-celetukan lucunya.

10. My luphly puppy squidy terima kasih udah menemaniku selama ini

dari awal aku masuk ospek sampe sekarang aku udah nyelesaiin

skripsi, nganterin kemana-mana, ikut nungguin aku ngerjain skripsi,

love you pi J

11. Mbak Indah, Indri, Devi, Bagus, Tika, makasih udah ikut bantuin

skripsinya, hhoo, Caca, makasih buat infonya tentang skripsi dan

recommend DP-nya :p

12. Estika, Mario, Mas Yopi, Mas Maul (yang sama-sama berjuang

(6)

Penulis menyadari bahwa Laporan Skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun

sangatlah dibutuhkan guna memperbaiki kekurangan yang ada. Akhir

kata semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,

khususnya untuk teman – teman di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Surabaya, Juni 2012

(7)

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAKSI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 10

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 10

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 10

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Landasan Teori ... 11

2.1.1 Teori Atribusi ... 11

2.1.2 Komunikasi Interpersonal ... 12

2.1.3 Pola Komunikasi ... 15

2.1.4 Pernikahan ... 18

(8)

2.1.8.1Budaya Jawa ... 23

2.1.9 Pengertian Keluarga ... 24

2.1.9.1 Fungsi Keluarga ... 25

2.1.9.2 Komunikasi Keluarga ... 27

2.1.10 Kualitas Komunikasi Interpersonal dalam Keluarga.. 29

2.1.11 Aspek-Aspek Kualitas Komunikasi Interpersonal dalam Keluarga ... 32

2.1.12 Pola Komunikasi Keluarga ... 35

2.1.13 Penyebab Suami Tidak Bekerja ... 36

2.1.14 Penyebab Istri Bekerja ... 37

2.1.15 Dampak Istri Bekerja ... 39

2.2 Kerangka Berfikir ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

3.1 Definisi Operasional ... 42

3.2 Konsep Operasional ... 43

3.2.1 Pola Komunikasi Keluarga(suami-istri) ... 45

3.3 Lokasi Penelitian ... 46

3.4 Subjek dan Informan Peneliti ... 46

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 48

(9)

4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 50

4.1.2 Penyajian Data ... 52

4.1.3 Identitas Informan ... 56

4.2 Analisis Data... 57

4.2.1 Pola Komunikasi Istri yang Bekerja Suami Menganggur dalam Pengasuhan Anak ... 57

4.2.1.1 Analisis Keluarga Informan I ... 57

4.2.1.2 Analisis Keluarga Informan II ... 64

4.2.1.3 Analisis Keluarga Informan III ... 70

4.3 Pembahasan ... 77

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 79

5.1 Kesimpulan ... 79

5.2 Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(10)

Komunikasi adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari

kehidupan manusia. Sejak manusia itu dilahirkan manusia sudah melakukan

kegiatan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak

dapat hidup sendiri, manusia hidup dengan manusia lainnya yang satu dengan

yang lain saling membutuhkan untuk tetap melaksanakan kehidupannya.

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal

dari kata latin communis yang berarti “sama”. Communico, communication

atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common) (Dedy

Mulyana, 2002:41).

Komunikasi merupakan kunci utama apabila kita ingin berhubungan

dengan orang lain. Bila dua orang terlibat dalam komunikasi, melalui

percakapan maka komunikasi akan berjalan selama ada kesamaan makna

mengenai apa yang diucapkan. Kesamaan kata yang digunakan dalam

percakapan belum tentu dapat dimengerti, sehingga kita perlu tahu apa makna

dari kata-kata tersebut.

Hakekat sebuah perkawinan menurut undang-undang pokok

perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dalam pasal 30, adalah ikatan lahir batin

antara pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk

keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

(11)

memerlukan perlindungan dari suaminya, dan suami memerlukan kasih

sayang dari istrinya. Disini mengandung arti bahwa dalam sebuah perkawinan

terjadi saling ketergantungan antara suami maupun istri terhadap pasangannya

(Suciptawati,n,d).

Selain ketergantungan, dalam sebuah hubungan juga memerlukan

adanya keseimbangan dalam hubungan. Menurut DeVito dalam equity theory

atau teori keseimbangan, dalam sebuah hubungan, keseimbangan sangat

diperlukan untuk mempertahankan hubungan. Keseimbangan disini tidak

selalu berupa materi, dapat berupa perhatian, pengorbanan dan pembagian

tugas dalam hubungan. Jika keseimbangan tidak tercapai, maka keutuhan

hubungan dapat terancam (DeVito,2007 p.244).

Salah satu masalah utama yang sering dialami dalam sebuah

hubungan yakni tidak adanya keseimbangan dari sisi keuangan. Parahnya,

hampir semuanya menempatkan masalah ini sebagai masalah yang besar.

Salah satu bentuk permasalahan yang terjadi adanya suami yang tidak bekerja

(menganggur) dan istri yang bekerja mencari nafkah. Dalam kasus hubungan

perkawinan yang hanya istri yang bekerja dan suami menganggur, konflik

akan lebih sering muncul. Tak jarang hal ini turut memicu adanya

ketidaknyamanan yang dirasakan oleh istri (Elfarid, 2007).

Sedangkan, didalam hubungan perkawinan seorang suami yang

seharusnya wajib untuk memberikan nafkah kepada istri dan istri tidak wajib

untuk bekerja. Khususnya pada masyarakat yang memiliki budaya Jawa, yang

(12)

juga suami. Seorang istri yang harus berada di rumah dan mengurus

anak-anaknya dan keperluan rumah tangga pada umumnya. Namun seiring

perkembangan zaman, sekarang banyak para ibu yang bekerja dan tidak lagi

hanya mengurusi anak di rumah, tak jarang seorang istri lebih mempunyai

karir yang cemerlang dibandingkan suaminya.

Ketika istri memutuskan untuk bekerja, hal tersebut bukanlah suatu

hal yang mudah untuk diputuskan, sebab banyak pertimbangan yang harus

dipikirkan. Ketakutan akan adanya waktu yang akan dihabiskan istri diluar

rumah akan dapat berdampak pada pola komunikasi suami-istri yang dapat

mengancam hubungan perkawinan. Ancaman selanjutnya, ada kemungkinan

istri akan menjadi jenuh karena merasa suami tidak melaksanakan kewajiban

sebagai seorang kepala keluarga yaitu memberi nafkah. Kondisi ini, tak jarang

turut memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga, karena dapat mendorong

munculnya dominasi seorang istri dan suami menjadi tidak dianggap dalam

pengambilan keputusan dalam keluarga.

Sedangkan, sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan Bab VI

tentang hak dan kewajiban suami-istri, disebutkan pada pasal 34 ayat 1

menyatakan “Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala

sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.”

Banyak pula ayat Al-Qur`an salah satunya surat an-Nisâ` yang telah

menetapkan, bahwa kewajiban memberi nafkah keluarga itu berada di atas

pundak seorang suami atau ayah, dan bukan orang lain. Di antaranya: "Kaum

(13)

sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena

mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka".

[an-Nisâ`/4:34].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkhutbah di depan para

sahabat dengan bersabda:

ا ﻮ ُﻘ ﱠﺗ ﺎ َﻓ َ ﱠﻠ ﻟ ا ﻲ ِﻓ ِء ﺎ َﺴ ﱢﻨ ﻟ ا ْﻢ ُﻜ ﱠﻧ ِﺈ َﻓ ﱠﻦ ُª ﻮ ُﻤ ُﺗ ْﺬ َﺧ َأ ِن ﺎ َﻣ َﺄ ِﺑ ِ ﱠﻠ ﻟ ا ... ﱠﻦ ُ َﻟ َو ْﻢ ُﻜ ْ َﻠ َﻋ ﱠﻦ ُ ُﻗ ْز ِر ﱠﻦ ُ ُﺗ َﻮ ْﺴ ِﻛ َو ِف و ُﺮ ْﻌ َﻤ ْﻟ ﺎ ِﺑ

"Bertakwalah kalian kepada Allah terhadap istri-istri kalian. Sesungguhnya

kalian telah mengambil mereka dengan perlindungan dari Allah . . . Dan hak

mereka (yang menjadi kewajiban) atas kalian adalah (memberi) makan dan

pakaian dengan cara yang baik". [HR Muslim, no. 1218]. (almanhaj.or.id)

Akibat masalah keuangan dalam status pernikahan juga dapat memicu

adanya tindakan perselingkuhan. Hal ini seperti disebutkan Safron dan Hill,

dari 10 besar alasan individu meninggalkan hubungan pernikahan dan memilih

untuk berselingkuh, persoalan keuangan menjadi salah satu penyebabnya

(Safron, 1979 dan Hill et al., 1976 dalam Guerero dan Andersen dan Afifi,

2007: 333).

Salah satu pasangan baik pihak suami maupun pihak istri atau bahkan

dari pihak keduanya melakukan perselingkuhan dari akibat ketidak adanya

kesepahaman dalam mengambil sikap untuk menyelesaikan permasalahan

yang sedang dihadapi dalam rumah tanggannya, terutama jika sudah

menyangkut masalah perekonomian (keuangan). Mereka akan mencari

kepuasan lain diluar untuk menghibur diri dari ketidak cocokan pola pikir

(14)

kemungkinan jika istri yang bekerja akan merasa lebih berhak untuk

mengambil segala keputusan didalam rumah tangganya tanpa

mendiskusikannya terlebih dahulu dengan suami, sehingga suami merasa

posisinya sebagai kepala rumah tangga kurang di hargai oleh istri.

Dalam waktu yang telah dilalui dalam hubungan perkawinan, akan

timbul kesenjangan yang terjadi akibat dari penghasilan yang hanya diperoleh

dari istri. Kesenjangan tersebut muncul ketika ditengah-tengah masa

perkawinan mulai terjadi sedikit penurunan hubungan. Hal tersebut sebagai

akibat dari tidak adanya komunikasi yang efektif untuk mencari solusi dari

timbulnya konflik yang nantinya bisa berkepanjangan.

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Surabaya selama tahun

2011, terdapat 3945 kasus yang berakhir perceraian. Kasus tersebut dibagi

beberapa aspek yang menjadi pemicu munculnya perceraian, seperti faktor

moral, meninggalkan kewajiban, menyakiti jasmani, dan terus-menerus

berselisih. Faktor meninggalkan kewajiban dibagi lagi menjadi tiga kategori,

yaitu kawin paksa, ekonomi, dan tidak ada tanggung jawab. Dari data tersebut,

sebanyak 660 perkara perceraian dipicu masalah ekonomi. Dan sebanyak 893

perkara perceraian dipicu masalah tidak ada tanggung jawab. Tidak ada

tanggung jawab disini mengacu pada masalah suami yang meninggalkan

kewajibannya terhadap istri. Sedangkan masalah ketidak harmonisan dalam

rumah tangga mencapai 911 perkara. Ketidak harmonisan dalam rumah tangga

(15)

rumah tangga disini salah satunya disebabkan karena adanya gangguan pihak

ketiga ataupun kembali lagi ke masalah ekonomi.

Pada tahun 2011 sebagian besar permohonan gugatan cerai dilakukan

istri. Banyak faktor yang menyebabkan pihak istri menggugat cerai, yaitu

dikarenakan cemburu, ekonomi, tidak ada tanggung jawab, kekerasan dalam

rumah tangga (KDRT) atau ketidak harmonisan rumah tangga. Perceraian

karena suami meninggalkan kewajibannya untuk menafkahi keluarga sendiri

menurut Panmud Hukum Pengadilan Agama Surabaya, dikategorikan kedalam

faktor ekonomi, karena pemicu utamanya adalah konflik yang ditimbulkan

dari dalam individu pasangan suami-istri tersebut sendiri tanpa campur tangan

pihak lain yang dapat mengakibatkan ketidak harmonisan dalam rumah

tangga. Kurang efektifnya komunikasi yang terjadi pada pasutri menjadi

pemicu munculnya masalah-masalah tersebut diatas.

Komunikasi interpersonal menjadi ujung tombak dalam penyelesaian

konflik rumah tangga, karena dengan adanya komunikasi tersebut maka setiap

pasangan suami-istri dapat lebih terbuka dengan pasangan masing-masing

dalam penyampaian maupun penyelesaian masalah. Komunikasi interpersonal

atau yang lebih dikenal dengan komunikasi antara orang-orang secara tatap

muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain

secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal (Mulyana,2000). Dari

data yang peneliti peroleh dari Panmud Hukum tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa kasus perceraian karena faktor ekonomi cukup tinggi

(16)

lain, peneliti akan mengungkapkan sebuah contoh kasus perceraian yang

disebabkan oleh faktor ekonomi.

MN (penggugat) menikah dengan MA (tergugat) pada 07 Maret 2002. Setelah menikah, pasangan tersebut masih tinggal di rumah orang tua MA selama 2 tahun. Pasangan ini telah dikaruniai seorang putri pada Desember 2002. Semula kehidupan pasangan ini harmonis, sampai akhirnya pada awal 2008, sering terjadi perselisihan yang sulit diselesaikan. Penyebab dari perselisihan itu adalah MA tidak mempunyai pekerjaan tetap dan lebih sering memanfaatkan uang dari hasil kerja MN. Akibatnya, MA tidak dapat mencukupi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari penggugat dan anaknya. Perselisihan tersebut semakin lama semakin serius, hingga akhirnya awal 2011, mereka pisah rumah, dengan MN tinggal di rumah orang tuanya. September 2011, MN mengajukan gugatan cerai dengan alasan rumah tangganya tidak bisa dipertahankan lagi. MA juga tidak berusaha mencari pekerjaan yang layak agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

(contoh Putusan Pengadilan Agama tahun 2011)

Pernyataan diatas peneliti kutip dari putusan Pengadilan Agama. Dari

kutipan diatas dapat memberi informasi tentang fakta yang ada bahwa

banyaknya kasus perceraian yang disebabkan oleh faktor ekonomi yang dapat

memicu ketidak harmonisan dalam rumah tangga.

Menurunnya hubungan adalah perusakan dan kemungkinan terjadi

pemutusan hubungan (Duck, 1982). Ini akibat melemahnya ikatan yang

mempertalikan hubungan perkawinan, dan dapat terjadi secara berangsur atau

mendadak, sedikit demi sedikit atau ekstrim. Jika dikaitkan dengan

permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti, hal ini sebagai akibat dari tidak

adanya komunikasi yang efektif antara suami-istri.

Meskipun pernyataan diatas juga pada akhirnya berujung pada sebuah

(17)

setiap pasangan yang mempunyai masalah ekonomi yaitu istri yang bekerja

dan suami tidak bekerja (menganggur) berakhir pada sebuah perceraian, pada

beberapa pasangan ternyata bisa langgeng dan dapat mengatasi masalah

tersebut dalam rumah tangganya. Berdasarkan pra penelitian yang dilakukan,

peneliti menjumpai pasangan yang memiliki masalah ekonomi yang sama

yaitu istri yang bekerja suami menganggur namun kehidupan rumah tangga

mereka sampai saat ini tetap baik-baik saja. Berikut data salah satu pasangan

yang hingga saat ini kehidupan rumah tangganya tetap harmonis :

AI (istri) menikah dengan EO (suami) pada 15 Desember 1985. Selama menjalani kehidupan rumah tangga lebih dari 20 tahun, pasangan ini telah dikaruniai 2 orang anak. Istri memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi dari suami yaitu Sarjana sedangkan suami SMU. Dalam hal pekerjaan, istri memiliki pekerjaan tetap yaitu sebagai Pegawai Negeri sedangkan suami tidak memiliki pekerjaan tetap. Dalam kehidupan sehari-hari istri lebih sering memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Namun, masalah tersebut, tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang dan menimbulkan perselisihan diantara mereka. Kehidupan rumah tangga mereka tetap harmonis sampai sekarang, dikarenakan adanya pola komunikasi yang efektif diantara pasangan ini.

Berdasarkan data dari pra penelitian tersebut, peneliti ingin

mengetahui bagaimana pola komunikasi pasutri yang istrinya bekerja dan

suami tidak bekerja (menganggur) dapat meredam segala masalah yang

terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka, sehingga rumah tangga

mereka dapat langgeng dan tidak berujung pada perceraian.

Untuk menjaga dan memperbaiki hubungan yang sudah tampak dan

akan timbul suatu konflik, maka sebuah komunikasi efektif dapat dilakukan

(18)

hubungan yang menyenangkan. Pasangan suami-istri tersebut mempunyai

cara dan mengkomunikasikannya dengan baik agar hubungan mereka bisa

bervariasi dan tidak monoton, sehingga akan tampak lebih menyenangkan,

terlebih tidak mudah bagi pasangan tersebut untuk mengabaikan mengenai

masalah tidak terpenuhinya kewajiban suami yaitu istri yang bekerja dan

suami yang menganggur.

Komunikasi yang baik menjadi hal yang sangat penting yang harus

dilakukan dalam sebuah hubungan, untuk menghindari terjadinya kesalah

pahaman antara kedua belah pihak. Sedikit terjadinya kesalah pahaman yang

dilalui, akan mengurangi rasa ketidaknyamanan dalam suatu hubungan

tersebut. Untuk itu, masalah tidak terpenuhinya kewajiban suami ini dapat

dicari jalan keluarnya dengan cara berkomunikasi yang efektif dan mencari

jalan keluar dalam pembagian tugas dan mengurus rumah tangga. Untuk itu

dalam sebuah hubungan juga diperlukan adanya saling keterbukaan.

Pola komunikasi dalam mengatasi masalah ekonomi, terutama istri

yang bekerja, mau tidak mau yang mengasuh anak adalah suami. Dimana

yang seharusnya suami yang memenuhi kebutuhan rumah tangga namun

dengan adanya satu dan lain hal sehingga membuat situasi menjadi terbalik

yaitu istri yang bekerja dan mencari nafkah sedangkan suami tidak bekerja

(menganggur) namun mereka masih tetap bisa harmonis dan bertahan sampai

sekarang.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penelitian ini

(19)

anak pada pasangan yang istrinya bekerja, sedangkan suaminya menganggur,

,namun rumah tangganya tetap harmonis dan tidak berujung pada perceraian.

1.2Per umusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka rumusan masalah

dari penelitian ini adalah bagaimana pola komunikasi suami istri dalam

mengasuh anak yang istrinya bekerja suami yang menganggur dalam

pengasuhan anak.

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimanakah pola komunikasi istri yang bekerja suami

yang menganggur dalam pengasuhan anak.

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teor itis

Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan

kontribusi berkaitan dengan pola komunikasi interpersonal suami dengan

istri.

1.4.2 Kegunaan Pr aktis

a. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan pada suami istri untuk

mempertahankan keluarga melalui pola komunikasi dalam keluarga.

b. Memberikan gambaran bagi pembaca, khususnya masyarakat umum

tentang pola komunikasi antara istri yang bekerja dan suami yang tidak

(20)

2.1.1 Teor i Atr ibusi

Teori ini diperkenalkan oleh Heider pada tahun 1958 melalui

bukunya yang berjudul “The Psychology Interpersonal Relation”. Heider

mengemukakan, jika anda melihat perilaku orang lain, maka anda juga

harus melihat sebab tindakan orang lain. Dengan demikian anda sebagai

pihak yang memulai komunikasi harus mempunyai kemampuan untuk

memprediksi perilaku yang tampak didepan anda. Heider yang seperti

dikutip Rahmat (1998), mengungkapkan ada 2 (dua) atribusi, yaitu atribusi

kausalitas dan atribusi kejujuran. (Liliweri, 1997:52)

Contoh, jika anda mengamati perilaku seseorang pertama anda

harus bisa menentukan dahulu apa yang menyebabkan perilaku itu terjadi,

apakah faktor situasional dan faktor personal. Dalam teori atribusi lazim

disebut kualitas eksternal dan kualitas internal. Intinya hanya

mempertanyakan perilaku orang lain tersebut dipengaruhi oleh faktor

eksternal atau faktor personal. Itulah “atribusi kausalitas”.

Kedua yaitu atribusi kejujuran, Robert A.Baron dan Don Byrne

yang dikutip Rahmat (1998) mengemukakan, ketika seseorang

memperlihatkan atribusi kejujuran maka ada dua hal yang harus diamati: (1)

(21)

sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari anda akibat pernyataan

anda. Makin besar jarak antara pribadi dengan pendapat umum maka kita

makin percaya bahwa dia jujur.

2.1.2 Komunikasi Inter per sonal

Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua

atau beberapa orang, yaitu pengirim dapat menyampaikan pesan secara

langsung dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara

langsung pula (Hardjana, 2003:85)

Dalam komunikasi interpersonal, komunikator relatif cukup

mengenal komunikan, dan sebaliknya pesan dikirim dan diterima secara

simultan dan spontan, relatif kurang terstruktur. Demikian pula halnya

dengan umpan balik yang dapat diterima dengan segera. Dalam tataran antar

pribadi komunikasi berlangsung secara sirkuler, peran komunikator dan

komunikan relatif setara (Vardiansah, 2004:30-31).

Dalam komunikasi antar pribadi dapat dilihat adanya umpan balik

seketika karena proses komunikasinya dilakukan dengan bertatap muka,

sehingga dalam komunikasi antar pribadi ini juga harus diperhatikan

mengenai umpan balik yang akan terjadi, seperti yang telah dijelaskan

dalam teori Atribusi bahwa pihak yang memulai komunikasi antar pribadi

harus mempunyai kemampuan untuk memprediksi perilaku atau umpan

(22)

bagaimana proses yang terjadi dapat menimbulkan umpan balik yang positif

atau juga dapat juga disebut dalam istilah “how to communicate”.

Komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh dalam kegiatan

mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku komunikan. Karena

komunikasi antarpribadi umumnya berlangsung secara tatap muka (face to

face). Dengan kata lain bahwa anda dengan komunikan bertatap muka,

maka terjadilah kontak pribadi (personal contact) pribadi anda menyentuh

pribadi komunikan. Ketika anda menyampaikan pesan maka umpan balik

berlangsung seketika (immediate feedback), anda mengetahui pada saat

tanggapan komunikan terhadap pesan yang anda lontarkan, ekspresi wajah

dan gaya bicara anda. Apabila umpan baliknya positif, artinya tanggapan

komunikan anda menyenangkan maka sudah tentu akan mempertahankan

gaya komunikasi anda. Jika tanggapan komunikan negatif maka anda harus

mengubah gaya komunikasi sampai komunikasi berhasil (Effendy,

2003;62).

Komunikasi antarpribadi didefinisikan oleh Joseph A. DeVito

dalam bukunya “The Inter-Personal Communication Book” (DeVito,

1999:5) sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan antar dua orang

atau diantara sekelompok orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa

umpan balik seketika.

Berdasarkan definisi Devito itu, komunikasi antarpribadi dapat

(23)

suami-istri yang sedang bercakap-cakap. Pentingnya situasi komunikasi

antarpribadi karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis.

Dialog adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang menunjukkan terjadinya

interaksi. Mereka yang terlibat dalam komunikasi bentuk ini berfungsi

ganda, masing-masing menjadi pembicara dan pendengar secara bergantian.

Dalam proses komunikasi dialogis, nampak adanya upaya dari para pelaku

komunikasi untuk terjadinya rasa saling menghormati bukan disebabkan

status sosial ekonomi, melainkan didasarkan pada anggapan bahwa

masing-masing adalah manusia yang wajib, berhak, pantas dan wajar dihargai dan

dihormati sebagai manusia (Effendy, 2003:59-60).

Joseph A. Devito dalam bukunya Human Communication (1994)

menjelaskan definisi komunikasi antarpribadi dari tiga perspektif:

1. Perspektif Konvensional

Perspektif ini mendefinisikan komunikasi antar pribadi berdasarkan pada

unsur-unsur atau komponennya yaitu merupakan proses pengiriman dan

penerimaan pesan diantara dua orang ataupun sekelompok kecil orang,

dengan berbagai efek dan umpan balik.

2. Perspektif Rasional

Menurut perspektif ini, komunikasi antar pribadi didefinisikan sebagai

komunikasi yang terjadi diantara dua orang yang mempunyai hubungan

jelas diantara mereka. Misalnya komunikasi antar pribadi yang mencakup

(24)

3. Perspektif Pengembangan

Komunikasi antar pribadi adalah suatu proses yang berkembang, yaitu

dari komunikasi yang bersifat interpersonal meningkat menjadi

komunikasi yang sangat pribadi atau intim. Artinya ada peningkatan

hubungan diantara para peserta komunikasi (Suyanto dan Cahyani,

1996;196-200).

2.1.3 Pola Komunikasi

Pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua

orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan cara yang tepat

sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah, 2004:1)

Dimensi pola komunikasi terdiri dari dua macam, yaitu pola yang

berorientasi pada konsep dan pola yang berorientasi pada sosial yang

mempunyai arah hubungan yang berlainan (Sunarto, 2006:1)

Tubbs dan Moss mengatakan bahwa pola komunikasi atau

hubungan itu dapat dicirikan oleh : komplementaris atau simetris. Dalam

hubungan komplementer satu bentuk perilaku dominan dari satu partisipan

mendatangkan perilaku tunduk dan lainnya. Dalam simetri, tingkatan sejauh

mana orang berinteraksi atas dasar kesamaan. Dominasi bertemu dengan

dominasi atau kepatuhan dengan kepatuhan (Tubbs, Moss, 2006:26). Di sini

kita melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur sistem.

Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan

(25)

Dari pengertian diatas maka suatu pola komunikasi adalah bentuk

atau pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman

dan penerimaan pesan yang dikaitkan dua komponen, yaitu gambaran atau

rencana yang meliputi langkah-langkah pada suatu aktifitas dengan

komponen-komponen yang merupakan bagian penting atas terjadinya

hubungan komunikasi antar manusia atau kelompok dan organisasi.

Terdapat empat pola komunikasi antar suami dan istri menurut

Joseph A. Devito (2007:277-278) diantaranya :

1. Pola keseimbangan

Pola keseimbangan ini lebih terlihat pada teori dari pada prakteknya,

tetapi ini merupakan awal yang bagus untuk melihat komunikasi pada

hubungan yang penting. Komunikasi yang terjalin antara suami istri

sangat terbuka, jujur, langsung dan bebas. Tidak ada pemimpin ataupun

yang dipimpin, karena semua anggota kedudukannya sama.

2. Pola keseimbangan terbalik

Dalam pola keseimbangan terbalik, masing-masing anggota keluarga

(suami-istri) mempunyai orientasi diatas daerah atau wewenang yang

berbeda. Masing-masing suami istri adalah sebagai pembuat keputusan

konflik yang terjadi antara keduanya (suami-istri), dianggap bukan

ancaman oleh si suami atau istri karena keduanya memiliki keahlian

sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.

Dalam pola ini, suami dan istri memiliki keahlian masing-masing,

(26)

saling meminta bantuan kepada pasangannya karena mereka mengerti

akan kemampuan dan keahlian pasangannya dalam menyelesaikan

konflik.

3. Pola pemisah tidak seimbang

Pola pemisah tidak seimbang, satu orang dalam keluarga (si suami atau

istri) mendominasi. Maka dari itu, satu orang ini secara teratur

mengendalikan hubungan dan hampir tidak pernah meminta pendapat

antara kedua belah pihak (si suami atau istri). Sedangkan anggota

keluarga (si suami atau istri) yang dikendalikan membiarkannya untuk

memenangkan argumentasi ataupun membuat keputusan.

Antara suami dan istri, ada salah satu pihak yang mendominasi, akan

tetapi antara suami dan istri tidak memonopoli proses komunikasi yang

terjadi. Mendominasi akan tetapi tetap memberikan kesempatan bagi

pasangannya untuk membuat keputusan. Dalam pola ini, kesenjangan

antara suami dan istri masih bisa diatasi, karena pasangan suami istri

masih menghormati dan menghargai pasangannya.

4. Pola monopoli

Pola komunikasi keluarga monopoli ini, salah satu anggota keluarga

(bisa istri ataupun suami) tampak sebagai pemilik otoritas. Dalam

keluarga, hanya akan muncul sedikit argumen atau opini, karena semua

anggota keluarga tahu siapa yang memimpin dan siapa yang akan

menang argumennya. Konflik akan semakin pahit karena anggota

(27)

2.1.4 Pernikahan

Pernikahan menurut Nowan, adalah ungkapan iman, yaitu terjadi

persatuan dua tubuh dan pribadi yang berbeda, di dalamnya seseorang

menaruh makna dan kebahagiaan hidupnya di dalam diri seseorang lainnya

(Nowan, 2007:105).

Menurut Blood (1969), pernikahan itu sendiri merupakan sebuah

kesatuan peran elemen yang terikat di dalamnya saling berinteraksi dan

saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jika salah satu mengalami

hambatan atau tidak melaksanakan perannya maka akan terjadi ketimpangan

sehingga terkadang elemen lainnya harus menggantikan untuk menjalankan

peran tersebut. Jika istri sedang sakit, maka terkadang suami harus

menggantikannya mengurus anak, mencuci piring, dan lain sebagainya.

Ketika suami istri berikrar untuk menikah, berarti masing-masing

mengikatkan diri pada pasangan hidup. Kebebasan sebagai individu

dikorbankan, pernikahan bukan sebuah titik akhir, tetapi sebuah perjalanan

panjang untuk mencapai tujuan yang disepakati berdua. Tiap pasangan

harus belajar mengenai kehidupan bersama dan harus menyiapkan mental

untuk menerima kelebihan sekaligus kekeurangan pasangannya dengan

kontrol diri yang baik.

Suami istri adalah dua insan yang berbeda dalam hampir segala

sifatnya. Sifat-sifat berbeda diantar keduanya sulit dipersatukan kecuali ada

(28)

ketidakcocokan dalam keluarga khususnya suami istri disebabkan karena

adanya perbedaan pendapat yang memicu timbulnya konflik.

2.1.5 Penger tian Suami-Istr i

Suami dapat diibaratkan sebagai tiang dalam keluarga karena suami

yang bertanggung jawab penuh kepada keluarga terutama istri. Suami harus

menghormati dan menghargai istrinya begitu juga sebaliknya. Sebagai

seorang suami, sudah seharusnya menjadi pendorong utama terhadap istri

dalam beribadah dan beragama. Seorang istri sejatinya menjadi pasangan

sumber kekuatan bagi suaminya untuk melaksanakan ibadah dan ritual yang

diajarkan agamanya.

Istri adalah perempuan yang harus menjadi pendamping dan

mendampingi suami dalam bahtera rumah tangganya. Istri harus mampu

menjadi sahabat dan kawan dalam suka maupun duka bagi suaminya.

Kewajiban dan tugas seorang istri adalah menjadi “psikologis” bagi

suaminya yang sedang resah, stress dan depresi dalam persaingan dan

kompetisi bisnis dan pekerjaan kantor. Begitu pentingnya fungsi istri

sebagai pendamping kebahagiaan suami ( Mohammad Monib dan Ahmad

Nurcholis, 2008:193-194).

2.1.6 Penger tian Anak

Anak merupakan satu individu yang berusia 6-12 tahun, yang masih

tinggal dengan orangtua yang masih lengkap ataupun salah satunya (ayah

(29)

darah secara langsung masih butuh perhatian lebih dari orangtua, karena pada

usia tersebut anak mengalami perubahan dalam hal berpikir, berperilaku, juga

meniru apa yang mereka lihat. Harus disadari bahwa pemikiran anak berbeda

dengan pemikiran orang dewasa. Untuk menjelaskan bagaimana anak tumbuh

berkembang dalam berpikir, berinteraksi dengan lingkungan fisik dan

sosialnya. Perkembangan anak dibagi dalam 3 tahap yaitu :

1. Tahap Sensorimotor (dari lahir hingga usia 2 tahun)

2. Tahap Pre-operational (usia 2-7 tahun)

3. Tahap Concrete Operation (usia 12 tahun)

Uraian singkat perkembangan anak diantaranya mengatakan bahwa

seiring bertambahnya usia, kemampuan berpikir dan daya imajinasi anak

akan semakin menonjol. Anak-anak semakin tidak mudah terpaku pada kesan

yang nampak, dan mampu mengkoordinasikan berbagai dimensi dan

fenomena. Perkembangan anak menurut psikologi perkembangan

dikategorikan dalam 2 tahap yaitu masa kanak-kanak (2-6 tahun) dan akhir

masa kanak-kanak (6-12 tahun). Pada masa akhir anak-anak mempunyai sifat

sebagai berikut:

1. Sepanjang akhir anak-anak penambahan kosakata umum terjadi tidak

teratur. Dari berbagai pelajaran sekolah, bacaan, pembicaraan dengan

anak-anak dan usahanya melalui media massa.

2. Kesalahan kata-kata sedikit.

(30)

4. Anak-anak dapat berbicara mengenai apa saja, tetapi pokok-pokok

pembicaraan yang digemari bila bercakap-cakap dengan temannya

mengenai pengalaman sendiri, keluarga dan permainan.

5. Pembicaraan yang terjadi lebih terkendali dan terseleksi.

6. Menggunakan televisi pada saat tidak bersama kelompoknya, pada hari

libur, dan malam hari.

2.1.7 Per anan Suami-Istr i

Suami istri secara ideal tidak terpisah tetapi bahu membahu dalam

suatu keluarga. “Apakah peranan masing-masing” menurut (Dagun,

1990:46)

a. Peranan Suami :

1. Sumber kekuasaan dasar identifikasi

2. Penghubung dengan dunia luar

3. Pelindung terhadap ancaman dari luar

4. Pendidik segi rasional

b. Peranan Istri :

1. Pemberi aman dan sumber kasih sayang

2. Tempat mencurahkan isi hati

3. Pengatur kehidupan rumah tangga

4. Pembimbing kehidupan rumah tangga

5. Pendidik segi emosional

(31)

2.1.8 Penger tian Budaya

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar,

berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut

budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi,

tindakan-tindakan sosial, kegiatan ekonomi, politik dan teknologi, semua itu

berdasarkan pola-pola budaya. Ada yang berbicara bahasa Sunda, memakan

ular, menghindari minuman keras terbuat dari anggur, menguburkan orang

mati, berbicara melalui telepon atau meluncurkan roket ke bulan. Ini semua

karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya dibesarkan dalam

suatu budaya yang mengandung unsur-unsur tersebut. Apa yang mereka

lakukan, bagaimana mereka bertindak merupakan respon terhadap

fungsi-fungsi budayanya. Porter & Samovar dalam (Mulyana dan Rahmat, 2006)

Budaya adalah suatu konsep membangkitkan minat. Secara formal

budaya didefiniskan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,

kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwaruskan dari generasi ke generasi

melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan diri dalam

pola-pola bahasa dan bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku; gaya

berkomunikasi; objek materi, seperti rumah, alat dan mesin yang digunakan

dalam industri pertanian, jenis transportasi dan alat-alat perang.

Budaya berkesinambungan dan hadir dimana-mana; budaya juga

berkenaan dengan bentuk fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi

hidup kita. Budaya kita, secara pasti mempengaruhi kita sejak dalam

(32)

cara-cara yang sesuai dengan budaya kita. Budaya dipelajari tidak

diwariskan secara genetis, budaya juga berubah ketika orang-orang

berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

Artinya, budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, oleh

karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara siapa, tentang apa, dan

bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi budaya juga turut menentukan

orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan

kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan, dan menafsirkan pesan.

Sebenarnya, seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat tergantung pada

budaya kita dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan

komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beragam pula

praktik-praktik komunikasi (Ahmad Sihabudin, 2011, 19).

2.1.8.1Budaya jawa

Pada masyarakat Jawa sebagai kelanjutan dari adanya peristiwa

perkawinan, tmbul keluarga-batih atau kulawarga. Keluarga-batih dalam

masyarakat Jawa merupakan suatu kelompok sosial yang berdiri sendiri,

serta memegang peranan dalam proses sosialisasi anak-anak yang menjadi

anggotanya. Adapun kepala kulawarga disebut kepala somah. Ia bisa

seorang laki-laki, tetapi bisa juga seorang wanita, ialah kalau si suami

meninggal dunia. Bilamana ibu tidak ada lagi, maka diangkatnya sebagai

kepala somah baru dari salah seorang anak atas persetujuan lainnya. Untuk

hal ini diutamakan anak laiki-laki tertua. Bentuk kulawarga sempurna

(33)

kurang dari itu adalah kulawarga yang tak lengkap (Koentjaraningrat,

2004:341).

2.1.9 Penger tian Keluar ga

Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu terdiri dari

suami,istri dan anak. Pengertian keluarga dapat ditinjau dari dimensi

hubungan darah dan hubungan sosial. Dalam dimensi hubungan darah,

merupakan kesatuan yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan

lainnya. Keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan keluarga

kecil.

Sedangkan dalam dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan

satu kesatuan yang diikat adanya saling berhubungan atau interaksi dan

saling mempengaruhi, walaupun diantara mereka tidak terdapat hubungan

darah (Djamarah, 2004;16).

Menurut Soelaeman, secara psikologis keluarga adalah sekumpulan

orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan

masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling

mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri

(Djamarah, 2004;17).

Menurut Mulyono (1984,26) keluarga merupakan wadah

pembentukan pribadi anggota keluarga terutama untuk anak-anak yang

sedang mengalami pertumbuhan fisik dan rohani. Dengan demikian

(34)

bagi pendidikan seseorang. Lingkungan keluarga, secara potensial dapat

membentuk pribadi anak atau seseorang untuk hidup secara lebih

bertanggung jawab (Mulyono, 1984;26).

2.1.9.1 Fungsi Keluarga

Setelah sebuah keluarga terbentuk, anggota yang ada didalamnya

memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang harus dilakukan

dalam kehidupan keluarga inilah yang disebut fungsi. Jadi fungsi keluarga

adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau diluar

keluarga. Adapun fungsi-fungsi pokok dalam keluarga antara lain

(Khairudin, 2002:48) :

1. Fungsi Biologik

Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi biologik

orang tua adalah melahirkan anak, fungsi ini merupakan kelangsungan

hidup masyarakat. Namun fungsi ini pun juga mengalami perubahan,

karena keluarga sekarang cenderung kepada jumlah anak yang sedikit.

Kecenderungan kepada jumlah anak yang lebih sedikit ini dipengaruhi

oleh faktor-faktor:

a. Perubahan tempat tinggal keluarga dari desa ke kota.

b. Makin sulitnya fasilitas perumahan.

c. Banyaknya anak dipandang sebagai hambatan untuk mencapai sukses

(35)

d. Banyaknya anak dipandang sebagai hambatan untuk tercapainya

kemesraan keluarga.

e. Meningkatnya taraf pendidikan perempuan berakibat berkurangnya

fertilitanya.

f. Berubahnya dorongan dari agama agar keluarga mempunyai banyak

anak.

g. Makin banyaknya ibu-ibu yang bekerja diluar rumah.

h. Makin meluasnya pengetahuan dan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

2. Fungsi Afeksi

Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan

kemesraan dan afeksi. Hubungan afeksi ini tumbuh sebagai akibat

hubungan cinta kasih sayang yang menjadi dasar perkawinan. Dari

hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan,

kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar

cinta kasih dan hubungan afeksi ini merupakan faktor penting bagi

perkembangan pribadi anak. Dalam masyarakat yang makin impersonal,

sekuler, dan asing, pribadi sangat membutuhkan hubungan afeksi seperti

yang terdapat didalam keluarga, suasana afeksi itu tidak terdapat dalam

institusi sosial yang lain.

3. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosial ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk

(36)

mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan

nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya.

Sedangkan Mac Iver and Page mengatakan “The Primary

Function” dari keluarga modern adalah sebagai berikut:

a.Prokreasi dan memperhatikan serta membesarkan anak.

b.Kepuasan yang lebih stabil dari kebutuhan seks masing-masing

pasangan.

c.Bagian dari rumah tangga, dengan gabungan materialnya, kebudayaan

dan kasih sayang.

2.1.9.2 Komunikasi Keluar ga

Komunikasi keluarga adalah salah satu kegiatan yang pasti terjadi

dalam kehidupan suami-istri dalam berkeluarga. Tanpa komunikasi

keharmoniasan akan hilang. Akibatnya kerawanan hubungan antara

suami-istri, orang tua dan anak perlu dibangun dengan baik dan harmonis dalam

rangka membangun hubungan baik dalam keluarga (Djamarah, 2004:38)

Komunikasi interpersonal sering dilakukan dalam keluarga,

kapanpun dan dimanapun, komunikasi interpersonal merupakan komunikasi

keluarga yang berlangsung silih berganti dan timbal balik, baik itu antara

suami dan istri maupun orang tua dan anak.

Komunikasi antara suami dan istri yang baik merupakan kunci dari

keadaan keluarga. Karena peran suami-istri sebagai orang tua sangat

(37)

suami-istri, agar kelak anak dapat mengambil contoh untuk bisa berkomunikasi

dengan baik.

Menurut Galvin (1991:218), komunikasi yang efektif dibutuhkan

untuk membentuk keluarga yang harmonis, selain faktor keterbukaan,

otoritas, menghargai kebebasan dan privasi antar anggota keluarga. Tidak

benar anggapan orang bahwa semakin sering suami-istri melakukan

komunikasi interpersonal, maka makin baik hubungan mereka.

Persoalannya bukan berapa sering komunikasi dilakukan, tapi bagaimana

komunikasi itu dilakukan. Hal ini berarti bahwa dalam komunikasi yang

diutamakan adalah bukan kuantitas dari komunikasi, melainkan kualitas dari

komunikasi yang dilakukan suami-istri. (Rakhmat, 2002:129).

Masalah pasangan yang terjadi pada istri pekerja dan suami

pengangguran, menjadi problem dari salah satu masalah yang timbul di

dalam rumah tangga. Dikarenakan masalah keuangan merupakan salah satu

penyebab konflik yang terjadi di dalam pernikahan. Dengan demikian,

tujuan dari komunikasi keluarga bukanlah sekedar menyampaikan informasi

melainkan membentuk hubungan dengan orang lain. Sebab itu, kualitas dari

hubungan tersebut tergantung kepada kesanggupan seseorang untuk

menyatakan diri kepada orang lain. Mereka yang tidak dapat berkomunikasi

secara konstruktif, jujur, dan terbuka, akan menemui kesulitan untuk hidup

bersama dalam suatu keluarga. Dengan kata lain, kecakapan komunikasi

dalam rumah tangga memegang peranan penting dalam menentukan

(38)

Komunikasi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk

menanamkan nilai-nilai. Bila hubungan yang dikembangkan oleh orang tua

tidak harmonis misalnya ketidaktepatan orang tua dalam memilih pola

asuhan, pola komunikasi yang tidak dialogis dan adanya permusuhan serta

pertentangan dalam keluarga maka akan terjadi hubungan yang tegang.

Komunikasi dalam keluarga terbentuk bila hubungan timbal balik selalu

terjalin antara ayah, ibu, dan anak (Gunarsa dan Gunarsa, 2001:205).

Komunikasi yang diharapkan adalah komunikasi yang efektif dapat

menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang

makin baik dan tindakan. Maka tak dapat dipungkiri, hubungan yang

menjadi kepedulian kebanyakan orang adalah hubungan dalam keluarga.

Keluarga mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus (Moss,

Tubbs, 2000:214).

2.1.10 Kualiatas Komunikasi Inter per sonal dalam Keluar ga

Dalam komunikasi dikenal dengan istilah Interpersonal

Communication atau komunikasi antarpersonal, adalah suatu proses

pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau diantara

sekelompok kecil dengan beberapa efek dan umpan balik seketika.

Komunikasi ini dianggap efektif dalam hal upaya untuk mengubah sikap,

pendapat, atau perilaku seseorang karena sifatnya dialogis, berlangsung

secara tatap muka (face to face) dan menunjukkan suatu interaksi sehingga

terjadi kontak pribadi atau personal contact (Effendy,2002; 8). Dengan

(39)

pembicara dan pendengar. Nampaknya ada upaya untuk terjadinya

pengertian bersama dan empati. Disini terjadi rasa saling menghormati

berdasarkan anggapan bahwa masing-masing adalah manusia utuh yang

wajib, berhak dan pantas untuk dihargai dan dihormati sebagai manusia.

Dalam proses komunikasi interpersonal, ketika pesan disampaikan,

umpan balik pun terjadi saat itu juga (immediated feedback) sehingga

komunikator tau bagaimana reaksi komunikan terhadap pesan yang

disampaikannya (Effendy,2003; 15).

Umpan balik itu sendiri memainkan peranan dalam proses

komunikasi, sebab ia memainkan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya

komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator, selain itu umpan balik

dapat memberikan komunikator bahan informasi bahwa

sumbangan-sumbangan pesan mereka yang disampaikan menarik atau tidak bagi

komunikan (Effendy,2003; 14). Umpan balik dapat bersifat positif dan dapat

pula bersifat negatif. Umpan balik dikatakan bersifat negatif apabila respon

dari komunikan tidak menyenangkan komunikator sehingga komunikator

enggan untuk melanjutkan komunikasi tersebut. Seperti halnya perselisihan

yang terjadi diantara suami dan istri, umpan baliknya bersifat negatif

sehingga komunikan tidak menyenangkan komunikator.

Selain pengelompokkan diatas, umpan balik dapat pula dinyatakan

(40)

Umpan balik verbal adalah tanggapan dari komunikan yang tidak

dinyatakan dengan kata-kata, melainkan hanya berupa isyarat tertentu.

Bentuk khusus dari komunikasi interpersonal adalah komunikasi

diadik (diadik communication) yaitu komunikasi antara dua orang yang

keduanya saling berhubungan dan komunikasi ini bertujuan untuk belajar,

mengadakan relasi, mempengaruhi dan membantu antar individu (DeVito,

1989). Oleh karena itu komunikasi merupakan hal paling penting dalam

kehidupan manusia. Demikian dalam keluarga, perlu dibina dan

dikembangkan komunikasi antara suami dan istri dengan baik, karena

pasangan suami dan istri merupakan faktor terpenting dalam terbentuknya

keluarga (Fuhrman,1990; 213).

Komunikasi yang efektif juga dibutuhkan untuk membentuk

keluarga yang harmonis, selain faktor keterbukaan, otoritas, kemampuan,

bernegosiasi, menghargai kebebasan dan privasi antar anggota keluarga

(Fuhrman, 1990;218).

Tidak benar anggapan orang bahwa semakin sering seseorang

melakukan komunikasi antarpersonal semakin baik hubungan mereka.

Persoalannya adalah bukan beberapa kali komunikasi dilakukan, tetapi

bagaimana komunikasi itu dilakukan (Rakhmat, 2002;129). Hal ini berarti

bahwa dalam komunikasi yang diutamakan adalah bukan kuantitas dari

(41)

2.1.11 Aspek-Aspek Kualitas Komunikasi Interper sonal dalam Keluar ga

Komukasi yang efektif perlu dibangun dan dikembangkan dalam

keluarga. Beberapa faktor penting untuk menentukan jelas tidaknya

informasi yang dikomunikasikan didalam keluarga sehingga dapat

mengarahkan pada komunikasi yang efektif, yaitu :

1. Konsistensi

Informasi yang disampaikan secara konsisten akan dapat dipercaya dan

relatif lebih jelas. Dibandingkan dengan informasi yang selalu berubah,

ketidak konsistenan yang membuat seseorang bingung dalam

menafsirkan informasi tersebut (Irwanto dan Yatim Irwanto, 1991:85).

2. Ketegasan

Ketegasan bukan berarti otoriter, ketegasan membantu meyakinkan

anggota keluarga yang lain bahwa komunikator benar-benar meyakini

nilai atau sikapnya (Irwanto dan Yatim Irwanto, 1991:85-86).

3. Percaya

Faktor percaya adalah yang paling utama, karena percaya menemukan

efektifitas komunikasi, meningkatkan komunikasi antarpersonal karena

membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan

informasi, serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai

maksudnya, hilangnya kepercayaan pada orang lain akan menghambat

perkembangan hubungan interpersonal yang akrab (Rakhmat, 2002;130).

Ada tiga faktor yang berhubungan dengan sikap percaya (Rakhmat,

(42)

a. Menerima

Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa

menilai dan berusaha mengendalikan sikap yang melibatkan orang

lain atau rela menganggung akibat-akibat perilakunya.

b. Empati

Empati dianggap sebagai memahami orang lain dan membayangkan

diri pada kejadian yang menimpa orang lain, melihat seperti orang lain

melihat, merasakan pada apa yang orang lain rasakan.

c. Kejujuran

Manusia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain yang tidak

jujur atau sering menyembunyikan pikiran dan pendapatnya.

Kejujuran dapat menyebabkan perilaku seseorang dapat diduga. Ini

mendorong untuk percaya antara satu dengan yang lain.

4. Sikap Sportif

Sikap sportif adalah sikap mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.

Sikap defensif akan menyebabkan komunikasi antarpersonal gagal,

karena lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya

dalam situasi komunikasi daripada pesan orang lain.

Perilaku yang dapat menimbulkan iklin defensif dan sportif antara lain:

a. Deskripsi

Deskripsi artinya penyampaian perasaan atau persepsi tanpa menilai.

(43)

b. Orientasi Masalah

Orientasi masalah artinya adalah mengkomunikasikan untuk bekerja

sama mencari pemecahan masalah dengan tidak mendikte pemecahan,

mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan

memutuskan cara mencapainya.

c. Spontanitas

Spontanitas artinya sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif

yang terpendam.

d. Persamaan

Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horisontal

dan demokratis. Artinya tidak mempertegas perbedaan dan tidak

menggurui, tapi berbincang pada tingkat yang sama dan

mengkomunikasikan penghargaan serta rasa hormat pada perbedaan

dan keyakinan.

e. Provosionalisme

Provosionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat

seseorang.

5. Sikap Terbuka

Sikap terbuka mendorong terbukanya saling pengertian, saling

(44)

6. Bersikap Positif

Bersikap secara positif mencakup adanya perhatian atas pandangan

positif terhadap diri orang, perasaan positif untuk berkomunikasi dan

“menyerang” seseorang yang diajak berinteraksi. Perilaku “menyerang”

dapat dilakukan secara verbal. Sedangkan perilaku “menyerang” yang

bersifat nonverbal berupa senyuman, pelukan bahkan pukulan. Perilaku

“menyerang” dapat bersifat positif yang merupakan bentuk

penghormatan atau pujian dan mengandung perilaku yang diharapkan

dan dihargai. “menyerang” negatif bersifat menentang atau menghukum

hati seseorang secara fisik maupun psikologis (Devito, 1997:59).

2.1.12 Pola Komunikasi Keluar ga

Keluarga adalah sistem sosial yang terkecil, namun berperan vital

dalam pembentukan karakter seorang anak. Keluarga mewakili suatu

konstelasi hubungan yang sangat khusus, dengan pola-pola komunikasi

yang berbeda antara keluarga yang satu dengan yang lain.Pola Komunikasi

Baru Menurut sosiolog Sarjono Jatiman, dalam kehidupan keluarga adalah

modern dan demokratis, dituntut adanya pola komunikasi baru sebagai

sarana interaksi antara suami dan istri, orang tua dan anak. Setiap keluarga

dapat memanfaatkan situasi yang unik, baik di meja makan, ketika

menonton televisi, atau suasana lain yang bisa dikembangkan, agar terjadi

komunikasi dua arah yang menyenangkan antara anggota

(45)

Pola komunikasi keluarga sendiri bisa diartikan model komunikasi

atau cara-cara komunikasi yang terjadi dalam suatu keluarga, yaitu antara

ayah dan anak, ibu dan anak, ayah dan ibu juga anak dan anak itu sendiri.Isu

permasalahan keluarga muncul dari ketidak harmonisan hubungan

suami-istri, kenakalan anak-anak, sampai pada tindakan yang lebih parah

terjadinya perceraian, anak-anak terlibat pergaulan bebas, terjadinya

kekerasan dan lain sebagainya. Sebagaian besar diakibatkan karena pola

komunikasi yang kurang tepat atau komunikasi yang tidak efektif didalam

keluarga (www.anneahira.com).

Setiap keluarga mempunyai aturan, pedoman dan kebiasaan dalam

kegiatannya, dan segala hal yang berbau tindakan yang berbeda. Perbedaan

pola komunikasi dalam keluarga bisa disebabkan karena faktor budaya

dimana mereka tinggal atau lahir, kebiasaan orang tua yang diterima oleh

orang tuanya, dan lain sebagainya.Pola komunikasi yang dibangun akan

mempengaruhi perkembangan jiwa dan pola pikir anak, serta mempengaruhi

kondisi kejiwaan anak, secara langsung dan tak langsung

(www.anneahira.com).

2.1.13 Penyebab Suami Tidak Beker ja

Semua orang tentunya tidak ada yang ingin menjadi seorang

pengangguran (tidak mempunyai pekerjaan), apalagi seorang suami yang

(46)

mencari nafkah bagi keluarganya. Beberapa alasan yang dikemukakan bagi

laki-laki yang tidak bekerja antara lain :

1. Terjadinya PHK didalam pekerjaannya, hal ini bisa menyebabkan suami

menjadi pengangguran karena sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi.

2. Ada yang tidak mau bekerja selama belum memperoleh pekerjaan yang

diidamkannya. Dalam kasus ini bisa saja ia dulunya bekerja namun

kemudian kehilangan pekerjaannya. Ia menolak untuk melakukan

pekerjaan lainnya sebab ia merasa tidak cocok.

3. Ada yang tidak mau bekerja karena merasa kecewa atau sakit hati dengan

pekerjaannya. Mungkin ia diberhentikan dengan cara yang tidak adil atau

ia diperlakukan secara buruk.

4. Ada yang tidak mau bekerja karena sukar berelasi dengan orang. Hal ini

bisa terjadi ketika suami terlalu berteguh dengan prinsipnya sendiri tanpa

memperdulikan pendapat orang lain.

5. Ada yang tidak mau bekerja karena memang ia seorang yang malas. Ia

mau hidup enak tanpa mengeluarkan keringat dan merasa tidak apa-apa

memanfaatkan istri (www.telaga.com).

2.1.14 Penyebab Istr i Beker ja

Dewasa ini banyak perempuan disamping melakukan pekerjaan

rumah tangga juga melakukan kerja mencari nafkah. Beberapa alasan yang

(47)

1. Menambah pendapatan keluarga (family income) terutama jika

pendapatan suami relatif kecil.

2. Memanfaatkan berbagai keunggulan (pendidikan, ketrampilan, modal,

dan relasi) yang dimilikinya yang diharapkan oleh keluarganya.

3. Menunjukkan eksistensinya sebagai manusia (aktualisasi diri) bahwa ia

mampu berprestasi dalam kehidupan masyarakat.

4. Untuk memperoleh status atau kekuasaan lebih besar didalam

keluarganya.

Dengan bekerjanya perempuan pada berbagai sektor kehidupan

sebagai pegawai negeri, buruh pabrik, dan karyawan sebuah perusahaan,

perempuan kini memiliki peran ganda (bagi yang berumah tangga), yaitu peran

domestik (mengurus rumah tangga) dan peran publik (bekerja mencari nafkah).

Disamping itu pula ada tiga alasan perempuan bekerja, yaitu :

1) Uang, merupakan alasan terbesar bagi perempuan untuk bekerja diluar

rumah. Perempuan pedesaan bekerja karena memang harus bekerja supaya

dapat bertahan hidup, sedang perempuan kota bekerja untuk “membayar”

tingkat kemahalan hidup di kota.

2) Peranana sosial, alasan peranan sosial dengan keinginan untuk

memanfaatkan ketrampilan bagi kepentingan masyarakat, hidup yang

berorientasi kegiatan, serta kebutuhan akan pergaulan sosial.

3) Alasan pengembangan pribadi, berkaitan dengan kebutuhan untuk

berprestasi, cita-cita mendapatkan status lebih tinggi dan dorongan untuk

(48)

frustasi dan kebosanan dalam lingkungan rumah serta kebutuhan untuk

bertemu dengan orang lain (tumoutou.net).

2.1.15 Dampak Istr i Beker ja

Apapun alasan ibu/istri untuk bekerja, dengan sendirinya keputusan

tersebut akan mempunyai dampak terhadap keluarganya, suami, anak-anak,

maupun terhadap urusan rumah tangganya. Dampak tersebut dapat bersifat

negatif atau positif. Kita tidak dapat mengabaikan bahwa soal istri/ibu bekerja

atau menjadi perempuan karier ada kemungkinan mempunyai dampak negatif

tertentu terhadap keluarganya, antara lain :

a. Bahwa istri/ibu tidak selalu ada pada saat-saat yang penting dimana ia

sangat dibutuhkan, misalnya jika anaknya mendadak sakit, jatuh, kecelakaan

dan sebagainya.

b. Bahwa tidak semua kebutuhan anggota keluarganya dapat dipenuhi,

misalnya suami yang menginginkan masakan istrinya sendiri, anak pulang

sekolah dan ingin menceritakan pengalamannya pada ibu dan sebagainya.

c. Apabila istri/ibu karena bekerja menjadi terlau capek, sehingga pulang kerja

ia tidak mempunyai energi lain untuk bermain dengan anaknya, memenuhi

suaminya dalam kegiatan-kegiatan tertentu (www.unisosdem.org).

2.2 Ker angka Ber fikir

Satu hal yang sering dilupakan dalam mencari rahasia kebahagiaan

rumah tangga ialah peranan komunikasi dalam rumah tangga. Tanpa

(49)

manusia tidak mungkin dapat dihindarkan (Drs. Mu’tamar, Analisa 19 Juli

1993). Demikian juga halnya dalam rumah tangga. Komunikasi sangat

penting untuk hubungan dalam keluarga, sebab tanpa komunikasi

hubungan-hubungan yang akrab tidak dapat dijalin atau tetap hidup.

Masalah akan semakin berkembang ketika istri menjadi seorang

wanita bekerja dengan berdalih membantu perekonomian keluarga ataupun

berambisi menjadi seorang wanita karir namun tidak diimbangi dengan

kewajibannya mengurus anak dan rumah tangga. Banyak ditemukan istri

menjadi seorang super woman yang bekerja dua puluh empat jam sehari

tanpa henti, barangkali waktu istirahat si ibu hanyalah beberapa jam dalam

sehari. Itu pun jika istri mampu dengan cerdas mengelola waktu bekerja di

luar rumah dan bekerja di rumah tangganya.

Kecenderungan yang terjadi, keluarga menjadi pecah dan tidak

jelas keberadaannya. Ketika suami dan istri sudah tidak dapat

berkomunikasi dengan baik karena keegoisan masing-masing, maka mereka

memilih untuk bercerai. Oleh karena itu, keduanya tidak punya waktu untuk

berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa,

sehingga pada akhirnya anak lah yang menjadi korban.

Komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh dalam kegiatan

mengubah sikap, kepercayaan opini dan perilaku komunikan. Karena

komunikasi antarpribadi umumnya berlangsung secara tatap muka.

(50)

harmonis, selain faktor keterbukaan, otoritas, menghargai kebebasan dan

privasi antar anggota keluarga. Tidak benar anggapan orang bahwa semakin

sering suami istri melakukan komunikasi interpersonal, maka makin baik

hubungan mereka. Persoalannya bukan berapa sering komunikasi dilakukan,

tapi bagaimana komunikasi itu dilakukan (Rakhmat, 2002:129).

Berdasarkan beberapa konsep yang telah dijelaskan tersebut, maka

peneliti berusaha mendeksripsikan pola komunikasi yang dipakai oleh

pasangan suami istri yang masih terikat hubungan pernikahan, seorang istri

yang bekerja dan suami yang pengangguran dalam mengatur pengasuhan

anaknya. Melalui penelitian ini, peneliti ingin melihat dan mengetahui

bagaimana pola komunikasi suami istri yang hanya istrinya yang bekerja

dan suami yang menganggur dalam mengasuh anak dan mempertahankan

(51)

3.1 Definisi Oper asional

Pada penelitian ini peneliti tidak membicarakan hubungan antara

variabel sehingga tidak ada pengukuran variabel bebas dan variabel terikat.

Penelitian ini difokuskan pada pola komunikasi pasangan suami istri yang

istrinya bekerja dan suaminya menganggur dalam mengasuh anak di

Surabaya, sehingga tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah tipe penelitian deskriptif dan menggunakan analisis kualitatif.

Tipe penelitian deskriptif bertujuan membuat gambaran/deskripsi

secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat

populasi atau objek tertentu. Peneliti sudah mempunyai konsep (biasanya

satu konsep) dan kerangka konseptual. Melalui kerangka konseptual

(landasan teori), peneliti melakukan operasionalisasi konsep yang akan

menghasilkan variabel beserta indikatornya. Penelitian ini menggambarkan

realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antara variabel

(Rachmat, 2006: 09).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif.

Metode kualitatif adalah suatu metode yang tidak menggunakan statistik

atau angka-angka tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan

teknik wawancara mendalam untuk memperoleh jawaban dari narasumber.

(52)

langsung antara peneliti dan informan, jawaban yang didapat akan lebih

murni, tidak dapat dimanipulasi, sebab dalam wawancara langsung bahasa

yang muncul tidak hanya bahasa verbal namun bahasa non verbal pun akan

tampak. (Kriyantono, 2005:98).

Dengan berpedoman pada interview guide yang dibuat berdasarkan

adanya kenyataan dalam sebuah rumah tangga, yang terkadang terdapat

pihak mendominasi, maupun kenyataan setiap pasangan suami istri akan

membuat satu komitmen bersama dalam pernikahannya dengan latar

belakang berbeda. Dari beberapa kenyataan yang ditemui, peneliti

menyusun interview guide yang terdiri dari beberapa pertanyaan untuk

mencari dan menggali informasi dari para responden.

Pendekatan kualitatif dipilih dengan pertimbangan lebih mudah

apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, menyajikan secara langsung

hakekat hubungan antara penulis dengan informan, lebih peka dan lebih

dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan

terhadap pola-pola nilai yang dihadapi, meskipun mempunyai bahasa bias

peneliti. (Kriyantono, 2005:98).

3.2 Konsep Operasional

Dalam proses penelitian kualitatif yang peneliti lakukan, peneliti

berpegang pada empat dasar pola komunikasi suami-istri menurut Devito

untuk menjadi konsep dasar penelitian yang akan diperkenalkan dan tiap

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...