• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DI KELAS VIII SMP AL HIDAYAH MEDAN TAHUN AJARAN 2014/2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DI KELAS VIII SMP AL HIDAYAH MEDAN TAHUN AJARAN 2014/2015."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

RIWAYAT HIDUP

(3)

PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE

LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DI KELAS VIII SMP AL HIDAYAH

MEDAN T.A 2014/2015

Eva Satria (NIM. 4102111003)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa pada materi fungsi di kelas VIII SMP Al Hidayah Medan T.A 2014/2015 dan untuk mengetahui apakah siswa yang memiliki kepercayaan diri dan memiliki hasil belajar baik.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Al Hidayah MedanT.A 2014/2015 yang berjumlah 22 orang dan objek penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together untuk meningkatkan kepercayaan diri dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Al Hidayah Medan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes, observasi, angket dan wawancara. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran, lembar observasi dan angket digunakan untuk melihat kepercayaan diri siswa dan wawancara digunakan untuk mendukung penggunaan model Cooperative Learning Tipe NHT. Sedangkan analisis data yang dilakukan di dalam penelitian adalah teknik/metode analisis.

Penelitian ini dibagi atas 2 siklus, masing-masing terdiri dari 2 pertemuan. Setiap pertemuan dilakukan observasi terhadap kepercayaan diri siswa dan observasi pembelajaran serta di akhir dari siklus diberikan tes hasil belajar. Dari siklus I diperoleh skor pengamatan kepercayaan diri siswa dalam kategori kurang baik begitu juga hasil angket yang menunjukkan belum adanya siswa di kategori tinggi sehingga belum memenuhi target peneliti, sedangkan di siklus II diperoleh skor pengamatan kepercayaan diri siswa dalam kategori baik serta angket juga menunjukkan hasil sudah ada siswa di kategori tinggi dan terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil observasi menunjukkan bahwa proses pembelajaran berlangsung dengan baik yaitu dari hasil observasi di siklus I mencapai 69,11% dengan kategori cukup dan mengalami peningkatan di siklus II menjadi 80,2% dengan kategori baik. Pada tes hasil belajar I dari 22 orang siswa sebanyak 10 siswa (45,5%) telah mencapai ketuntasan belajar sedangkan 12 siswa lainnya (54,5%) belum tuntas. Pada tes hasil belajar II, sebanyak 19 orang (86,4% ) telah mencapai ketuntasan belajar dan 3 orang siswa lainnya (13,6%) tidak tuntas. Karena hasil pengamatan kepercayaan diri siswa serta angket mengalami peningkatan dan ketuntasan belajar klasikal telah tercapai maka pelaksanaan tindakan berhenti di siklus II.

(4)

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan i

Riwayat Hidup ii

Abstrak iii

Kata Pengantar iv

Daftar Isi vi

Daftar Gambar viii

Daftar Tabel ix

Daftar Lampiran

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Identifikasi Masalah 8

1.3 Batasan Masalah 8

1.4 Rumusan Masalah 9

1.5 Tujuan Penelitian 9

1.6 Manfaat Penelitian 9

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Kerangka Teoritis 11

2.1.1 Pendidikan Karakter 11

2.1.2 Kepercayaan Diri 12

2.1.2.1 Pengertian Kepercayaan Diri 12

2.1.2.2 Ciri-Ciri Percaya Diri 15

2.1.2.3 Aspek-Aspek Kepercayaan Diri 16

2.1.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi 16

Terbentuknya Kepercayaan Diri

2.1.2.5 Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri 18

2.1.2.6 Kepercayaan Diri Dalam Belajar Matematika 20

2.1.3 Hasil Belajar 21

2.1.4 Model Pembelajaran 22

2.1.5 Model Pembelajaran Cooperative Learning 23

2.1.6 Cooperative Learning Bermuatan Pendidikan Karakter 25 2.1.6.1 Prosedur Penggunaan Strategi Cooperatif Learning

Bermuatan Karakter ke dalam Pembelajaran 25

2.1.7 Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) 26

2.1.8 Materi Fungsi 31

2.1.8.1 Relasi 31

2.1.8.2 Fungsi 34

(5)

2.1.8.4 Rumus Suatu Fungsi 35

2.1.8.5 Grafik Fungsi 36

2.1.8.6 Nilai Fungsi 37

2.1.8.7 Penerapan Relasi dan Fungsi 39

2.2 Penelitian Yang Relevan 41

2.3 Kerangka Konseptual 41

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 43

3.2 Subjek dan Objek Penelitian 43

3.2.1 Subjek Penelitian 43

3.2.2. Objek Penelitian 43

3.3 Jenis Penelitian 43

3.4 Prosedur Penelitian 44

3.5 Alat Pengumpulan Data 54

3.6. Teknik Analisis Data 58

3.6.1 Reduksi data 58

3.6.2 Paparan data 62

3.6.3 Interpretasi Data 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Siklus I 64

4.1.1 Permasalahan I 64

4.1.2 Tahap Perencanaan Tindakan I (Alternatif Pemecahan I) 64

4.1.3 Pelaksanaan Tindakan I 65

4.1.3.1 Pertemuan Ke-1 senin, 01 Desember 2014 65

4.1.3.2 Pertemuan Ke-2 Selasa, 02 Desember 2014 66

4.1.3.3 Pertemuan Ke-3 kamis, 04 Desember 2014 69

4.1.3.4 Pertemuan Ke-4 Jumat, 05 Desember 2014 72

4.1.4 Observasi I 73

4.1.5 Analisis Data Hasil Penelitian Siklus I 74

4.1.5.1 Angket Kepercayaan Diri I 74

4.1.5.2 Observasi I 76

4.1.5.3 Tes I 79

4.1.5.4 Wawancara I 80

4.1.6 Refleksi I 82

4.2 Siklus II 84

4.2.1 Permasalahan II 84

4.2.2 Tahap Perencanaan Tindakan II 84

4.2.3 Pelaksanaan Tindakan II 85

4.2.3.1 Pertemuan Ke-1 Senin, 08 Desember 2014 85

(6)

4.2.3.3 Pertemuan ke-3 Kamis, 11 Desember 2014 89

4.2.3.4 Pertemuan Ke-4 Jum’at, 12 Desember 2014 91

4.2.4 Observasi II 92

4.2.5 Analisis Data Hasil Penelitian Siklus II 93

4.2.5.1 Angket Kepercayaan Diri Belajar II 93

4.2.5.2 Observasi II 94

4.2.5.3 Tes II 97

4.2.5.4 Wawancara II 98

4.2.6 Refleksi II 99

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian 100

4.3.1 Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dalam Belajar

Matematika Dan Hasil Belajar Siswa 101

4.4 Keterbatasan Penelitian 102

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 110

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif tipe

Numbered Head Together (NHT) 28

Tabel 2.2 Tabel fungsi 36

Tabel 3.1 Kisi–Kisi Angket Kepercayaan Diri 56

Tabel 3.2 Nama-Nama Validator 56

Tabel 3.3 Hasil Validasi Tes Awal 57

Tabel 3.4 Hasil Validasi Tes Hasil Belajar I 57

Tabel 3.5 Hasil Validasi Tes Hasil Belajar II 57

Tabel 3.6 Kriteria Rata-Rata Penilaian Observasi 59

Tabel 3.7 Kategori Jawaban Angket 59

Tabel 3.8 Kategori Skor Kepercayaan Diri 60

Tabel 3.9 Tingkat Penguasaan Siswa 61

Tabel 4.1 Tingkat Ketuntasan Siswa pada Tes Awal 64

Tabel 4.2 Hasil Angket Kepercayaan Diri Tiap Siswa

Pada Siklus I 74

Tabel 4.3 Pengkategorian Hasil Angket Kepercayaan

Diri Siswa Pada Siklus I 75

Tabel 4.4 Hasil Lembar Observasi Kepercayaan Diri Tiap

Siswa Pada Siklus I 76

Tabel 4.5 Hasil Lembar Observasi Kepercayaan Diri Siswa

Pada Siklus I 77

Tabel 4.6 Deskripsi Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran

Model NHT Siklus I 78

Tabel 4.7 Tingkat Kemampuan Penguasaan Siswa Pada Siklus I 79

Tabel 4.8 Tingkat Ketuntasan Tes Siklus I 80

Tabel 4.9 Hasil Angket Kepercayaan Diri Tiap Siswa Pada Siklus II 93 Tabel 4.10 Pengkategorian Hasil Angket Kepercayaan Diri Siswa

Pada Siklus II 94

Tabel 4.11 Hasil Lembar Observasi Kepercayaan Diri Tiap Siswa

Pada Siklus II 94

Tabel 4.12 Hasil lembar observasi kepercayaan diri siswa pada siklus II 95 Tabel 4.13 Deskripsi Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Model

NHT Siklus II 97

Tabel 4.14 Tingkat Kemampuan Penguasaan Siswa Pada Siklus II 97

Tabel 4.15 Tingkat Ketuntasan Tes Siklus II 98

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tahap-Tahap Pembelajaran Numbered

Head Together 29

Gambar 2.2 Relasi “Menyukai” Dari Himpunan A Ke B 33

Gambar 2.3 Diagram Panah Relasi “Menyukai” 33

Gambar 2.4 Diagram Cartesius relasi “Menyukai” 33

Gambar 2.5 Diagram Panah Contoh 2 34

Gambar 2.6 Diagram Panah Relasi“Beribukota” 35

Gambar 2.7 Grafik Fungsi 36

Gambar 2.8 Diagram Panah Contoh 5 40

Gambar 3.1. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas 54

Gambar 4.1 Siswa Pada Tahap Penomoran 67

Gambar 4.2 Siswa Ketika Sedang Berdiskusi 68

Gambar 4.3 S1Saat Bertanya Pada Peneliti 71

Gambar 4.4 S11Gelisah Saat Mengerjakan Tes Dan

Melihat Jawaban Teman 73

Gambar 4.5. Siswa Sedang Menuliskan Jawaban Dari

Hasil Diskusi Dengan Kelompoknya 87

Gambar 4.7 Salah Satu Siswa Sedang Mempresentasikan

Hasil Diskusi Kelompoknya 90

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 ( Siklus I) 113 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 ( Siklus I) 118 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 ( Siklus II) 122 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 ( Siklus II) 126

Lampiran 5 Lembar Aktivitas Siswa 1 131

Lampiran 6 Lembar Aktivitas Siswa 2 134

Lampiran 7 Lembar Aktivitas Siswa 3 137

Lampiran 8 Lembar Aktivitas Siswa 4 141

Lampiran 9 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Awal 144

Lampiran 10 Tes Kemampuan Awal 145

Lampiran 11 Alternatif Penyelesaian Tes Kemampuan Awal 147

Lampiran 12 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Awal 151

Lampiran 13 Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe

NumberedHead Together (NHT) 157

Lampiran 14 Hasil Lembar Observasi Pelaksanaan Model

Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together

Siklus I 165

Lampiran 15 Hasil Lembar Observasi Pelaksanaan Model

Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together

Siklus II 166

Lampiran 16 Lembar Observasi Kepercayaan Diri Siswa 167

Lampiran 17 Deskripsi Hasil Observasi Kepercayaan Diri Siswa

Siklus I Dan Siklus II 175

Lampiran 18 Kisi–Kisi Angket Kepercayaan Diri 176

Lampiran 19 Angket Kepercayaan Diri Siswa 177

Lampiran 20 Lembar Validasi Angket Kepercayaan Diri 180

Lampiran 21 Hasil Validasi Angket Kepercayaan Diri 183

Lampiran 22 Perhitungan Pengkategorian Angket Kepercayaan Diri

Dalam Belajar Matematika 184

Lampiran 23 Deskripsi Hasil Angket Kepercayaan Diri Dan

(10)

Lampiran 24 Deskripsi Hasil Angket Kepercayaan Diri Dan

Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II 186

Lampiran 25 Kisi–Kisi Tes Hasil Belajar I 187

Lampiran 26 Tes Hasil Belajar 1 188

Lampiran 27 Lembar Validasi Tes Hasil Belajar I 190

Lampiran 28 Alternatif Penyelesaian Tes Hasil Belajar 1 193

Lampiran 29 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar I 195

Lampiran 30 Kisi–Kisi Tes Hasil Belajar II 197

Lampiran 31 Tes Hasil Belajar II 198

Lampiran 32 Lembar Validitas Tes Hasil Belajar II 199

Lampiran 33 Alternatif Penyelesaian Tes Hasil Belajar II 202

Lampiran 34 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar II 204

Lampiran 35 Deskripsi Tingkat Penguasaan Siswa Siklus I 206 Lampiran 36 Deskripsi Tingkat Penguasaan Siswa Siklus II 207 Lampiran 37 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I 208 Lampiran 38 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II 209 Lampiran 39 Daftar Nama Siswa Kelas Viii-1 Smp Al-Hidayah

Medan T.A 2014/2015 210

Lampiran 40 Pembagian Kelompok Belajar Siswa

Kelas VIII SMP Al Hidayah Medan T.A 2014/2015 211

Lampiran 41 Kutipan Hasil Wawancara Sebelum Tindakan 212

(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari, terutama di sekolah-sekolah formal. Mengingat begitu pentingnya peran matematika dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, maka matematika perlu dipahami dan dikuasai oleh segenap lapisan masyarakat. Terlepas dari itu, matematika banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran di sekolah, matematika merupakan salah satu pelajaran yang merupakan pelajaran dasardan sarana berpikir ilmiah yang sangat diperlukan olehsiswa untuk mengembangkan kemampuan logisnya. Pendidikan matematika di sekolah bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik yang dapat menggunakan matematika secara fungsional untuk memecahkan masalah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun menghadapi ilmu pengetahuan lain. Masalahma tematika yang dihadapi terstruktur, sistematis dan logis sehingga dapat diimplementasikan siswa dalam kehidupannya untuk mengatasi masalah yang timbul secara mandiri.

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai oleh siswa, karena matematika tidak bisa dilepaskan dari mata pelajaran lain. Dengan melihat pentingnya matematika maka pelajaran matematika perlu diberikan kepada peserta didik mulai dari pendidikan dasar. Cockroft (dalam Abdurrahman, 2009) mengemukakanalasanpentingnyasiswabelajarmatematika:

(1) selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, (2) semua bidang studimemerlukan keterampilan matematika yang sesuai, (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas, (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara, (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan, dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.

Tetapi hal ini tidak disadari oleh para siswa karena kurangnya informasi tentang fungsi dan peranan matematika itu sendiri. Sebagian siswa hanya tahu belajar matematika dengan menghapal rumus lalu menyelesaikan soal dengan menggunakan rumus yang sudah dihapal melalui operasi hitungan dengan

(12)

2

bilangan (angka), huruf dan simbol tetapi tidak bermakna sehingga tidak melekat dibenak siswa.

Sekarang ini, masalah karakter merupakan salah satu masalah utama dalam duniapendidikan. Pertanyaan dalam dunia pendidikan adalah “apakah pendidikan saat ini mampu membentuk karakter siswa atau hanya sekedar proses belajar yang hanya ingin mendapatkan nilai dan masuk kesekolah atau universitas yang diinginkan, menggapai cita-cita, dan duduk sebagai pemimpin tanpa adany akarakter yang tertanam dalam dirinya?”. Menurut beberapa penelitian, tingginya inteligensi hanya sedikit mempengaruhi keberhasilan dalam mencapai kesuksesan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana karakter yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Karakter yang baik akan lebih banyak menumbuhkan kesuksesan pada seseorang.

Bung Karno pernah mengatakan Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter, karena inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat. Berbagai fenomena dapat terjadi jika kita tidak waspada, tentu apa yang telah dikhawatirkan oleh Mahatma Gandi tentang tujuh dosa yang mematikan benar-benar bisa menjadi kenyataan di negari ini. Yakni bertumbuh kembangnya nilai-nilai dan perilaku seperti: (1) kekayaan tanpa bekerja, (2) kesenangan tanpa hati nurani, (3) pengetahuan tanpa karakter, (4) bisnis tanpa moralitas, (5) ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, (6) agama tanpa pengorbanan, (7) politik tanpa prinsip (Abidinsyah, 2011).

Karakter merupakan daya juang yang berisikan nilai kebaikan, akhlak dan moral yang terpatri dalam diri manusia. Tata nilai itu merupakan perpaduan dari aktualisasi potensi dalam diri manusia serta internalisasi nilai-nilai akhlak dan moral dari luar yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku. Karakter tidak dibangun dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk dan ditumbuh kembangkan melalui pendidikan.

(13)

3

dimensi pendidikan,untuk membangun karakter bangsa ke depan adalah dengan membangun karakter siswa sejak dini.

Unsur atau bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada kepentingan kependidikan dan perkembangan IPTEK oleh Soedjadi disebut Matematika Sekolah (Soedjadi,2000:37). Selanjutnya diterangkan bahwa matematika sekolah tidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu karena adanya perbedaan dalam hal penyajian, pola pikir, keterbatasan semesta, dan tingkat keabstrakannya.

Pendidikan adalah upaya terencana dalam proses pembinaan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia (UU No.20 tahun 2003).Pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia menjadi lebih baik dan bermartabat antara lain melalui program pendidikan yang bermutu yang dicerminkan melalui proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: siswa,kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan.

Seperti yang ditegaskan dalam dalam UU RI No.20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentangSistemPendidikanNasional:

“ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan danmem bentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kretif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokrati sserta bertanggungjawab.”

(14)

4

dalam arti dapat berdirisendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakan yang menurut pilihannya sendiri (Pidarta, 2009).

Dengan demikian, dalam membangun karakter bangsa, pendidikan memegang peranan penting. Jika kualitas sektor pendidikan rendah maka sektor lain tidak berarti, sebaliknya tingginya kualitas pendidikan turut mendorong sektor lain untuk maju. Pendidikan dikatakan berhasil apabila siswa setelah dididik mampu menggunakan pengetahuannya dan keterampilannya untuk melayani kebutuhannya sendiri dan masyarakat secara baik. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi mengandung arti yang lebih luas lagi yaitu membentuk serta mengembangkan seluruh kepribadian siswa dengan sebaik-baiknya sehingga siswa sanggup untuk hidup mandiri dan lebih percaya diri menghadapi tantangan dan inimerupakan indicator keberhasilan proses pembelajaran.

Untuk mencapai hasil belajar yang optimal bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi bukan tidak bias diwujudkan, memang banyak hal yang mempengaruhinya, yang mengharuskan semua pihak yang terlibat di dalam pendidikan berada dalam satu tekad dan satu kemauan untuk meraihnya. Menurut Slameto, (2010) ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu : (1) faktor internal/factor dalam diri siswa, yakni keadaan kecerdasan atau inteligensi, cacat tubuh, bakat, minat, persepsi, dan motivasi, (2) factor eksternal/factor diluar siswa, antara lain faktor keluarga dan faktor sekolah, dimana salah satu faktor sekolah yang mempengaruhi belajar siswa adalah metode mengajar. Selanjutnya Dimyati,(2009) mengemukakan ada sepuluh faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu: (1) Sikap terhadap belajar, (2) Motivasi belajar, (3) Konsentrasi belajar, (4) Mengolah bahan belajar, (5) Menyimpan perolehan belajar, (6) Menggali hasil belajar, (7) Kemampuan berprestasi, (8) Rasa percaya diri siswa, (9) Intelegensi dan keberhasilan belajar, dan (10) Kebiasaan belajar.

(15)

5

mencapai hasil belajar siswa yang tinggi adalah keyakinan akan kemampuan diri atau yang disebut dengan kepercayaan diri.

Sampai saat ini masih saja ada siswa yang menganggap mata pelajaran matematika sukar untuk dipelajari, mungkin hal ini disebabkan siswa kurang memiliki keterampilan matematika yang memadai dan kurang menguasai konsep dasar matematika. Hal ini didukung oleh pernyataan Ruseffendi, (1990) bahwa matematika bagi anak-anak merupakan pelajaran yang tidak disenangi, kalau bukan yang paling dibenci. Tidak seharusnya matematika itu dibenci, karena matematika itu dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari.

Hal seperti ini sesuai dengan keadaan yang tampak pada siswa, tidak semua mereka dapat memanfaatkan kemampuannya seperti yang diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah selalu ditemukan sikap siswa yang selalu acuh tak acuh, kurang senang dan kurang berminat untuk belajar, terutama dalam pelajaran matematika, karena mata pelajaran ini dianggap suatu mata pelajaran yang sulit, sehingga hasil belajar siswa rendah. Upaya meningkatkan mutu belajar matematika telah banyak diusahakan disemua jenjang pendidikan. Salah satunya adalah optimalisasi faktor-faktor psikologis serta mengembangkan karakter siswa itu sendiri sebagi komponen dalam pendidikan.

Dalam Permen Diknas No 23 tahun 2006 ada 20 nilai utama dalam pendidikan karakter diiantaranya yang dapat diterapkan adalah nilai karakter yang hubungannya dengan diri sendiri yaitu : 1) Jujur, 2) Bertanggung Jawab, 3) Bergaya hidup sehat, 4) Disiplin, 5) Kerja Keras, 6) Percaya Diri, dan 7) Berjiwa Kewirausahaan.

(16)

6

mempengaruhi aktivitas oleh murid. Murid yang percaya dirinya tinggi mau mengerjakan tugas dan tekun berusaha.

Namun kenyataannya, banyak diantara siswa yang kurang yakin akan kemampuan yang dimilikinya. Siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah dalam kehidupan pribadinya diliputi dengan keragu-raguan untuk menentukan suatu tindakan, mudah cemas, selalu tidak yakin, dan mudah patah semangat. Dalam bidang belajar remaja yang kurang percaya diri tampak dengan menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajar, menyontek yang merupakan gambaran kurangnya percaya diri pada kemampuannya, tidak adanya keberanian untuk bertanya dan menanggapi penjelasan guru serta grogi kalau disuruh maju ke depan kelas (Mastur, 2012).

Banyak masalah yang timbul karena seseorang tidak percaya pada dirinya sendiri. Siswa yang menjumlahkan sederetan angka-angka namun pada akhirnya mencari kalkulator untuk menyakinkan apakah penjumlahannya telah benar. Gejala ini menunjukkan kurang adanya kepercayaan diri pada siswa yang bersangkutan.

Dari observasi yang dilakukan pada tanggal 15 September 2014, diperoleh data hasil belajar siswa pada pelajaran matematika masih tergolong rendah. Dari hasil ulangan yang diperoleh pada materi relasi dan fungsi siswa kelas VIII T.A 2014/2015, terdapat 14 siswa dari 22 siswa yang harus diberikan remedial karena belum memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan guru yaitu sebesar 65. Banyak siswa yang tidak mengerti dengan materi relasi dan fungsi meskipun sudah pernah di singgung di kelas VII. Siswa tidak tahu apa pengertian relasi dan pengertian fungsi sehingga siswa kurang mampu menyelesaikan tes yang diberikan.

Untuk mengatasi masalah yang di hadapi siswa, guru menjelaskan kembali apa itu pengertian relasi dan fungsi. Guru juga memotivasi siswa supaya lebih aktif belajar, baik di kelas maupun di luar lingkungan sekolah. Mencari sumber-sumber yang mendukung pembelajaran serta membentk kelompok belajar antar sesama temannya.

(17)

7

kemampuan diri. Kepercayaan diri dapat distimulus dari luar diri siswa, seperti melalui pemberian penghargaan kepada siswa yang berhasil dalam belajar atau menghargai setiap usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Hal ini didukung dengan pernyataan, Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui guru dan rekan sejawat siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin meningkat (Dimyati, 2009).

Selain itu peran guru di sekolah sangatlah penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri anak karena gurulah yang sangat berpengaruh dalam proses belajar dan pembelajaran. Oleh karena itu, peran guru di sekolah sangat dibutuhkan untuk memahami kesulitan dan hambatan dalam membangun kepercayaan diri siswa. Untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa diperlukan pendekatan proses pembelajaran. Adapun pendekatan pembelajaran matematika yang dapat digunakan antaralain adalah pembelajaran Cooperative Learning (Somakin, 2011). Salah satu bagian dari pendekatan pembelajaran Cooperative Learning adalah model pembelajaran NHT (Numbered Head Together).

NHT (Numbered Head Together) atau penomoran berpikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional (Trianto, 2007). Model pembelajaran NHT menggunakan konsep berpikir bersama dalam kelompok tetapi tiap siswa akan diberikan nomor yang akan diberikan pertanyaan oleh guru. Kemudian siswa diminta untuk berdiskusi menyatukan jawaban dan guru akan memanggil nomor anggota untuk memberikan jawaban. Dari tahap pemanggilan nomor akan melatih sikap percaya diri siswa, dimana siswa diminta untuk menyampaikan hasil yang diperoleh didepan kelas dan berhak menerima apresiasi dari guru maupun teman-teman lainnya.

(18)

8

Selama pembelajaran siswa dilibatkan secara langsung sehingga masing- masing siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajarnya.Dalam proses pembelajaran kooperatif tipe NHT, siswa aktif bekerja dalam kelompok dan bertanggungjawab penuh terhadap soal yang diberikan.

Model pembelajaran NHT diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri belajar siswa, karena dengan teknik ini siswa dapat belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya mengingat kepercayaan diri tidak berarti harus terlepas samasekali dengan pihak lain. Selain itu NHT memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa seperti hasil penelitiannya yang dikemukakan Haydon, Maheady, dan Hunter (dalam Pratiwi,2012).

Berdasarkan latar belakang diatas, penting dilakukan penelitian tentang kepercayaan diri siswa dalam kaitannya dengan hasil belajar dengan judul

“Peningkatan Kepercayaan Diri Dan Hasil Belajar Siswa Melalui

Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together di

Kelas VIII Al Hidayah Medan T.A 2014/2015”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, dapat diidentifikasi masalah pada penelitian ini adalah:

1. Banyak siswa yang menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit.

2. Adanya rasa tidak kepercayaan diri siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah.

3. Siswa merasa ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru.

4. Kegiatan pembelajaran yang kurang menyenangkan dan cara yang digunakan guru dalam mengajar yang kurang bervariasi.

5. Rendahnya hasil belajar siswa pada materi fungsi. 1.3 Batasan Masalah

(19)

9

cooperative Learning tipe Numbered Head Together untuk meningkatkan

Kepercayaan diri dan hasil belajar siswa 1.4 Rumusan Masalah

Ada pun permasalahan pada penelitian ini adalah

1. Apakah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa pada materi fungsi

di Kelas VIII Al Hidayah Medan T.A 2014/2015?

2. Apakah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi di

Kelas VIII Al Hidayah Medan T.A 2014/2015? 1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa pada materi fungsi di Kelas VIII Al Hidayah Medan T.A 2014/2015 dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together . 2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi di Kelas VIII

Al Hidayah Medan T.A 2014/2015 dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together. 1.6 Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa

Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam proses belajar mengajar dan meningkatkan hasil belajar siswa seiring dengan meningkatnya rasa percaya diri siswa dalam belajar.

2. Bagi peneliti

Untuk menambah pengalaman dalam menggunakan model pembelajaran dan untuk memenuhi tugas akhir.

3. Bagi guru

Sebagai informasi untuk dapat menggunakan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together sehingga menumbuhkan

(20)

10

(21)

112

DAFTAR PUSTAKA

Abidinsyah,(2011), Urgensi Pendidikan Karakter Dalam Membangun Peradaban Bangsa Yang Bermartabat, Socioscientia, Banjarmasin.

Afifi, John, (2014), 1 Menit Mengatasi Rasa Percaya Diri Anda, Flashbooks, Yogyakarta.

Arends, Richard I., (2007), Learning To Teach: Belajar untuk Mengajar, Diterjemahkan oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto, (2008), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Arikunto, S, (2009), Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta.

Azwar, Saifuddin, (2008), Penyusunan Skala Psikologi Cet.11, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Dimyati &Mudjiono, (2009), Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan,

(2012), Buku Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, FMIPA Unimed, Medan.

Hakim, T, (2002), Mengatasi Rasa percaya Diri, Puspa Suara, Jakarta. Hamdani,(2011), Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung.

Hill, (2012), http://modelpembelajarankooperatif.blogspot.com/ 14 September 2014.

Hudojo, H., (2005), Pengembangan Kurikulum dan Pengembangan Matematika. IKIP Malang, Malang.

Krismanto, Al, (2008), Pembelajaran Trigonometri SMA, P4TK, Yogyakarta. Nazir, Moh, (2011), Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor.

Nurcakana, (2009), Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta. Pidarta, Made, (2009), Landasan Kependidikan, Rineka Cipta, Jakarta.

Prawiro, Mulyono D, (2010), Menumbuhkan Kepercayaan Diri dan Menghapus Malu. Gemari, Artikel.

Rhidwan, Edward, (2011), The Power Of Pretending, tersedia pada http://www.referensisukses.com, diakses 23 desember 2013.

Rini, Jacinta, Memupuk Rasa Percaya Diri, Tersedia online : http: www.e-psikologi.com, diakses 14 September 2014.

Ruseffendi, E.T., (1990), Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini, Tarsito, Bandung.

Rusman, (2011), Model-Model Pembelajaran:Mengembangkan Profesionalisme Guru, Rajawali Pers, Jakarta.

(22)

113

Sagala, Syaiful, (2005), Konsep Dan Makna Pembelajaran, CV Alfabeta, Bandung.

Sakina, elsa, (2008), Berpikir Benar, Berpikir Positif, Tersedia Online : http://inspirasi-motivasi.blogspot.com, diakses 23 Desember 2013. Sanjaya,Wina, (2011), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Santrock, John W, (2011), Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Kencana, Jakarta. Setiawan, (2008), Prinsip-Prinsip Penilaian Pembelajaran Matematika SMA,

P4TK, Yogyakarta.

Setiawan, (2009), Strategi Pembelajaran Matematika SMA,P4TK, Yogyakarta. Shadiq, Fadjar, (2009), Model-Model Pembelajaran Matematika SMP, P4TK,

Yogyakarta.

Slavin, Robert E, (2008), Cooperative Learning : Teori, Riset, dan Praktik, Nusa Media, Bandung.

Slameto, (2010), Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Somakin, (2011), Mengembangkan Self-Efficacy Siswa Melalui Pembelajaran Matematika.

Sudjana, Nana, (2005), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Sugiono,(2009), Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta, Bandung.

Sukino, (2013), Matematika Untuk SMA/MA Kelas VIIISemester 1, Erlangga, Jakarta.

Suyadi, (2012), Menerapkan Pendidikan Karakter Di sekolah, Mentari Pustaka, Yogyakarta.

Taylor, Ros, (2009), Worklife Mengembangkan Kepercayaan Diri, Erlangga, Jakarta.

Tim Proyek PGSM, (1999), Penelitian Tindakan Kelas, Depdikbud, Jakarta. Trianto, (2007), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kencana

Prenada Media Group, Jakarta.

Wojowasito, (1991), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hasta, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

pengajuan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan

Saya akan berperan lebih banyak selama belajar matematika dalam kelompok pada hari-hari yang akan datang dan saya yakin hal itu bisa saya lakukan. Berdoalah sebelum

(2) Di KJA Gundil Situbondo prevalensi ektoparasit pada ikan Kerapu Cantang yaitu Benedenia sebesar 100% dan Dactylogyrus sebesar 0% serta intensitas ektoparasit

Analisis data yang digunakan adalah hubungan antara panjang usus dan panjang total tubuh ikan, serta jenis makanan yang ada dalam usus ikan untuk

Disamping itu juga dibutuhkan kerjasama antara guru, orang tua, masyarakat sekolah, dan siswa agar saling membantu dalam proses pembelajaran, agar setiap individu dapat diterima

Therefore, the researcher tries to analyze naturalness characteristics in the Indonesian translation in a famous novel The Devil and Miss Prym is written by

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31, 32, 33 dan 34 Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional dan Pasal 467 ayat (3)

Untuk menguji apakah matriks korelasi sederhana bukan merupakan suatu matriks identitas, maka digunakan uji Bartlett dengan pendekatan statistik chi square. Berikut ini