RAJ, 3 (1) 2023 : 66-76, http://journal.yrpipku.com/index.php/raj |
Copyright © 2019 THE AUTHOR(S). This article is distributed under a a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International license.
ANALYSIS OPTIMAL PORTFOLIO WITH SINGLE INDEX MODEL APPROACH IN BANKING COMPANIES LISTED ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE 2019-2020
ANALISIS PORTOFOLIO OPTIMAL DENGAN PENDEKATAN MODEL INDEKS TUNGGAL PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2019-2020
Nadila Ramadhania Putri1 Novianti Arnas Putri2 Nur El Hikmah Shoumi3 Ratih Fauziah4
Mentari Dwi Aristi5
Universitas Muhammadiyah Riau1,2,3,4,5 [email protected]
ABSTRACT
This research purpose to determine the optimal portfolio process by using a single index model calculation in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange. This research is descriptive quantitative with data collection techniques are literature study by studying journals, books and literature that have relevance to the research. The sample from this study was obtained using a purposive sampling technique with criteria that have been considered by the researcher, there are 16 sample companies with the research period 2019-2020, the companies were BBRI, BBCA, BNII, BBKP, BMRI, BRIS, PNBS, MCOR, BNLI, BNGA, PNBN, NISP, AGRO, INPC, BSIM and BBNI. The type of data used is secondary data. Of the 16 companies that were used as research samples, it was found that 7 companies included in the optimal portfolio category, namely Bank Permata Tbk (BNLI) with the recommended share proportion to investors is 23.53%, Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) is 13.87%, Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) is 26.54%, Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) is 9.13%, Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) is 6.88%, Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) is 10.48% and the last one is Bank Central Asia Tbk (BBCA) with a proportion 9 ,58%. The optimal expected return for the portfolio is 0.05929 while the risk return is 0.19355.
Keywords : Optimal Portfolio, Single Index Model, Banking
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan portofolio optimal dengan menggunakan perhitungan model index tunggal pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan Teknik pengumpulan data bersifat studi pustaka dengan mempelajari jurnal – jurnal, buku – buku dan literatur yang memiliki keterkaitan dengan penelitian. Sampel dari penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria yang telah dipertimbangkan oleh peneliti sehingga diperoleh 16 perusahaan sampell dengan periode penelitian 2019-2020, perusahaan tersebut adalah BBRI, BBCA, BNII, BBKP, BMRI, BRIS, PNBS, MCOR, BNLI, BNGA, PNBN, NISP, AGRO, INPC, BSIM dan BBNI . Jenis data yang digunakan yaitu data sekunder. Dari 16 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian didapati 7 perusahaan yang termasuk dalam kategori portofolio optimal yaitu Bank Permata Tbk (BNLI) dengan proporsi saham yang disarankan kepada investor sebesar 23,53%, Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar 13,87%, Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) sebesar 26,54% , Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) sebesar 9,13%, Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) sebesar 6,88%, Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) sebesar 10,48% dan yang terakhir adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan proporsi lembar sebesar 9,58%. Expected return portofolio optimal adalah 0.05929 sedangkan Risk return sebesar 0.19355.
Kata Kunci : Portofolio Optimal, Model Indeks Tunggal, Perbankan
67 1. Pendahuluan
Pada era globalisasi ini, semakin beragam pilihan investasi bagi masyarakat, salah satunya adalah investasi di pasar modal. Pasar modal Indonesia menjadi pusat perhatian bagi masyarakat ramai dikarenakan maraknya trend jual beli saham atau bahkan untuk investasi investasi jangka panjang.
Tujuan berinvestasi dalam saham adalah untuk memperoleh imbal hasil (return). Return adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya (Jayati dkk, 2017). Segala keputusan investasi pasti mengandung suatu risiko, semakin tinggi return yang diharapkan, maka semakin tinggi pula risiko yang akan dihadapi, karena return dan risiko saling berkaitan satu sama lain.
Portofolio menjadi salah satu sarana terbaik bagi investor yang ingin memperkecil atau mendiversifikasikan risiko (Prasetyo & Suarjaya, 2020). Dengan adanya portofolio, dapat membuat investor berpotensi memproleh keuntungan yang lebih besar daripada kemungkinan risiko yang akan di peroleh di masa yang akan datang. Pembentukan portofolio merupakan suatu penanaman modal berupa kombinasi dari beberapa surat yang dilakukan pada beberapa kelas asset sehingga memperoleh return atau pengembalian yang optimal dengan risiko yang seminimal mungkin (Meman, 2015).
Dalam pembentukan portofolio optimal, terdapat beberapa model pendekatan portofolio, yaitu Model Indeks Tunggal dan Markowitz. Markowitz merupakan model penentuan portofolio yang menekankan pada hubungan return dan risiko investasinya, Markowitz didasarkan atas pendekatan mean (rata-rata) dan variance (varian), dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian merupakan pengukuran tingkat risiko (Afriyanti dkk, 2021), sedangkan Model Indeks Tunggal menganalisis atas sekuritas dilakukan dengan membandingkan excess return to beta (ERB) dengan cut-off rate-nya (Ci) dari masing – masing saham (Firdaus dkk, 2018).
Setelah didapati hasil, saham yang memiliki ERB lebih besar dari Ci dapat dijadikan kandidat portofolio, begitu juga sebaliknya, apabila Ci lebih besar daripada ERB-nya, maka tidak layak dimasukkan ke dalam portofolio. Model indeks tunggal adalah metode sederhana yang meminimalisir variabel yang dihitung. Dengan menggunakan sampel yang banyak serta periode yang diuji lebih lama, maka akan didapati hasil yang lebih akurat dan dapat membantu dalam mempertimbangkan ketidakpastian atas investasi saham.
Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk menilai portofolio saham yang optimal dengan menggunakan model indeks tunggal pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Tinjauan Pustaka 2.1 Teori Keagenan
Teori keagenan menjelaskan hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai prinsip dan manajemen sebagai agen. Manajemen adalah orang yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manajemen harus mempertanggungjawabkan semua urusannya kepada pemegang saham.
(Jensen dan Meckling,1998).
2.2 Harga Saham
Harga saham adalah nilai sekarang dari arus kas yang akan didapatkan oleh pemilik saham dikemudian hari. Harga saham meupakan uang yang dikeluarkan agar memperoleh bukti penyertaan atau pemilikan suatu perusahaan dan harga saham merupakan harga yang ditentukan secara lelang kontinu (Anoraga, 2006:100). Harga saham menggambarkan seberapa baik manajemen melakukan tugasnya atas nama para pemegang saham. Menurut Sartono (2007:70) harga pasar saham terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal. Pemegang saham yang menerima kinerja perusahaan dapat menjual saham yang mereka miliki dengan cara menginvestasikan uangnya di tempat lain. Tindakan tersebut apabila
68
dilasanakan oleh para pemegang saham akan memberikan dampak turunnya harga saham dipasar, karena pada dasarnya tinggi atau rendah harga saham lebih banyak disebabkan oleh pertimbangan pembeli dan penjual tenang kondisi internal dan eksternal perusahaan.
2.3 Return Saham
Saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Jika perusahaa memperoleh keuntungan, maka setiap pemegang saham berhak atas bagian laba yang dibagikan dalam bentuk dividen sesuai dengan proporsi kepemilikannya. Return saham terdiri dari capital gain dan dividend yield. Capital gain merupakan selisih antara harga jual dengan harga beli saham per lembar dibagi dengan harga beli. Dividend yield merupakan dividen per lembar dibagi dengan harga saham per lembar. Trisnawati (2009:68) mendefinisikan Return sebagai total laba atau rugi yang diperoleh investor dalam periode tertentu dengan pendapatan investasi awal.
Return sebagai total laba dan rugi dari suatu investasi selama periode tertentu dihitung dengan cara membagi distribusi aset secara tunai selama satu periode ditambah dengan perubahan nilai investasi di awal periode.
2.4 Risiko Saham
Risiko didefinisikan sebagai perbedaan antara hasil yang diharapkan (expected return) dengan realisasinya. Makin besar penyimpangannya, makin tinggi risikonya. Teori portofolio modern membagi risiko menjadi dua, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko Sistematis adalah risiko yang dipengaruhi oleh kondisi eksternal perusahaan seperti ekonomi, politik dan faktor makro lain yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan atau industri tertentu dan risiko ini diturunkan dengan melakukan diversivikasi atas aset yang kita miliki (Brigham and Daves, 2004). Semakin banyak saham yang dimasukkan dalam portofolio berarti semakin tersebar risikonya.
2.5 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menurut Sunariyah (2006) indeks harga saham gabungan seluruh saham menggambarkan suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan seluruh saham, sampai pada tanggal tertentu. IHSG sumber yang bisa dipercaya dalam melihat kondisi pasar saham di indonesia. IHSG dimanfaat berbagai pihak seperti investor yang memerlukan informasi untuk pengambilan keputusan. Dimana Investor yang ingin berinvestasi pada salah satu saham yang terdaftar pada BEI, investor dapat melihat pergerakkan IHSG tersebut, karena investor tidak akan menanamkan modalnya pada saham perusahaan terdaftar pada BEI ketika kondisi ekonomi sedang menurun.
2.6 Model Indeks Tunggal
Model Indeks Tunggal merupakan metode yang relative sederhana karena dapat mengurangi variable yang dihitung, namun tetap dengan perhitungan periode yang lebih lama dan sampel yang lebih banyak, sehingga akan diperoleh hasil yang lebih akurat dan dapat menjawab masalah atas ketidakpastian investasi saham di pasar modal. Asumsi yang dipakai dalam Model indeks tunggal adalah bahwa sekuritas akan berkorelasi hanya jika sekuritas- sekuritas tersebut mempunyai respon yang sama terhadap return pasar (Tandelilin, 2001).
Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan Excess Return to Beta (ERB) dengan cut off point (Ci) dari masing-masing saham. Menurut metode ini, Excess Return to Beta (ERB) dijadikan sebagai dasar pemilihan saham yang akan dimasukkan dalam portofolio optimal, sedangkan cut off point merupakan nilai batas yang digunakan untuk menentukan nilai tertinggi dari Excess Return to Beta (ERB). ERB menggambarkan hubungan antar faktor penentu yaitu investasi dan risiko, ERB dapat dirumuskan sebagai berikut :
E R Bi = E Ri / βi
69
Sedangkan untuk mengitung Expected Return Portofolio Optimal dapat di lakukan dengan rumus berikut :
E (Rp) =
α
p + βp x E (Rm) 3. Metode PenelitianJenis Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif. Penelitian deskripsi yaitu penelitian dengan tujuan menjelaskan suatu objek yang mana dalam penelitian tersebut terdapat beberapa variabel, tanpa menghubungkan satu variabel ke variabel lainnya (Setyawati & Sudiartha, 2019).
Teknik pengumpulan data bersifat studi pustaka dengan mempelajari jurnal – jurnal, buku – buku dan literatur yang memiliki keterkaitan dengan penelitian.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan pada sektor keuangan perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama tahun 2019 – 2020, dengan sampel 16 Perusahaan Perbankan. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang didasarkan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2014). Pertimbangan tertentu yang dimaksud oleh peneliti adalah :
1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari 1 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020 secara berturut – turut.
2. Perusahaan tergolong dalam papan pencatatan Utama.
3. Jumlah saham beredar minimal 15.000.000.000 lembar saham.
4. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan dalam satuan mata uang Rupiah.
Tabel 1 – Daftar Perusahaan Yang Menjadi Sampel Penelitian.
Sumber : Bursa Efek Indonesia
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan Model Indeks Tunggal yang dihitung menggunakan Microsoft Excel, data yang dianalisis adalah (1) return saham (2) risk free yang didapati dari BI Rate (3) excess return (4) expected return (5) Var. P, α, β, Unsystematic risk (σei²) dan ERB (6) Cut off rate (Ci) & cut off point (C*) serta menentukan portofolio optimal dan (7) expected return dan tingkat risiko portofolio optimal.
No Kode / Nama
Perusahaan Nama Perusahaan Tanggal
Pencatatan Saham Papan
Pencatatan Mata Uang 1 BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero 10 Nov 2003 150.043.411.587 Utama Rupiah
2 BBCA Bank Central Asia Tbk. 31-May-00 122.042.299.500 Utama Rupiah
3 BNII Bank Maybank Indonesia Tbk. 21 Nov 1989 75.357.433.911 Utama Rupiah
4 BBKP Bank KB Bukopin Tbk. 10-Jul-06 67.019.885.160 Utama Rupiah
5 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk. 14-Jul-03 46.199.999.998 Utama Rupiah
6 BRIS Bank Syariah Indonesia Tbk. 09-May-18 40.717.924.372 Utama Rupiah
7 PNBS Bank Panin Dubai Syariah Tbk. 15-Jan-14 38.425.504.906 Utama Rupiah 8 MCOR Bank China Construction Bank Indonesia 03-Jul-07 37.540.533.209 Utama Rupiah
9 BNLI Bank Permata Tbk. 15-Jan-90 35.819.545.925 Utama Rupiah
10 BNGA Bank CIMB Niaga Tbk. 29 Nov 1989 24.880.290.775 Utama Rupiah
11 PNBN Bank Pan Indonesia Tbk 29-Dec-82 23.837.645.998 Utama Rupiah
12 NISP Bank OCBC NISP Tbk. 20-Oct-94 22.715.776.032 Utama Rupiah
13 AGRO Bank Raya Indonesia Tbk. 08 Ags 2003 22.520.054.593 Utama Rupiah
14 INPC Bank Artha Graha Internasional 23 Ags 1990 20.021.178.779 Utama Rupiah
15 BSIM Bank Sinarmas Tbk. 13-Dec-10 19.517.921.842 Utama Rupiah
16 BBNI Bank Negara Indonesia (Persero 25 Nov 1996 18.462.169.893 Utama Rupiah
70 4. Hasil dan Pembahasan
Setelah dilakukan analisis portofolio optimal dengan pendekatan model indeks tunggal pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2020 didapati hasil sebagai berikut :
4.1 Analisis Return Saham (Ri)
Return saham atau keuntungan dari diperoleh dari sampel penelitian, return saham didapati dengan cara mengurangkan harga saham periode saat ini dengan harga periode sebelumnya dan menggunakan close price sebagai acuan pengurangan, dari analisis return saham didapati hasil sebagai berikut :
Tabel 2 – Posisi Return Saham Emiten
Sumber : Data Diolah Peneliti
Berdasarkan tabel diatas, didapati BBKP dengan return tertinggi pada bulan Desember 2020 sebesar 1.11397 selama periode penelitian, sedangkan BBNI mengalami return terendah selama periode penelitian dengan return sebesar -0.45623 pada Maret 2020.
4.2 Analisis Risk Market (Rm)
Return market merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan dari pasar, yang didapati dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam periode penelitian IHSG tertinggi terjadi pada bulan November 2020 dengan angka 0.09442 dan terendah pada bulan Maret 2020 dengan angka -0.16758, rata – rata dari Risk Market selama periode penelitian adalah 0.00014.
4.3 Analisis Risk Free (Rf)
Risk free merupakan tingkat pengembalian bebas risiko, risk free berguna sebagai acuan untuk memastikan bahwa investor tidaka kan menerima tambahan risiko jika investasi tidak memberikan return yang lebih tinggi atas investasi tersebut. Berikut rate risk free selama periode penelitian :
BULAN Ri BULAN Ri
BBRI Nov-20 0,21726 Mar-20 -0,27924 BBCA Jun-20 0,09730 Sep-20 -0,13625 BNII Dec-20 0,50435 Mar-20 -0,18824 BBKP Dec-20 1,11397 Mar-20 -0,39636 BMRI Jul-20 0,17172 Mar-20 -0,35670 BRIS Aug-20 0,78704 Feb-20 -0,29032 PNBS Nov-20 0,38000 Mar-19 -0,13889 MCOR Apr-20 0,40789 Feb-20 -0,29752 BNLI Oct-20 0,76724 Nov-19 -0,22097 BNGA Jan-19 0,20765 Mar-20 -0,18000 PNBN Nov-20 0,26115 Mar-20 -0,36406 NISP Nov-20 0,11724 Apr-20 -0,07500 AGRO Dec-20 0,91667 Nov-19 -0,34579 INPC Jan-19 0,30645 Nov-19 -0,11594 BSIM Jun-20 0,14496 Jan-20 -0,14530 BBNI Nov-20 0,26582 Mar-20 -0,45623 Emiten TERTINGGI TERENDAH
71
Tabel 3 – Risk Free BI Rate
Sumber : Data Diolah Peneliti
4.4 Analisis Excess Return
Excess return adalah kelebihan return dari return normal. Excess return merupakan selisih dari return yang diharapkan dari return yang didapatkan. Excess return dapat bernilai positif maupun negatif. Excess return dapat digunakan untuk menguji investasi bebas resiko dan kinerja pasar terhadap fenomena yang sedang terjadi.
Tabel 4 – Posisi Excess Return Emiten
Sumber : Data Diolah Peneliti
Berdasarkan tabel diatas, didapati BBKP dengan return tertinggi pada bulan Desember 2020 sebesar 1.11085 selama periode penelitian, sedangkan BBNI mengalami return terendah selama periode penelitian dengan return sebesar -0.45998 pada Maret 2020.
4.5 Expected Return
Expected return adalah keuntungan yang diharapkan oleh investor dalam investasinya, expected return dapat diformulasikan dengan cara membagi return saham dengan periode penelitian atau dengan menghitung rata – rata dari return saham tersebut. Berikut expected return yang didapat dalam penelitian :
Bulan Rf Bulan Rf
Jan-19 0,00500 Jan-20 0,00417 Feb-19 0,00500 Feb-20 0,00396 Mar-19 0,00500 Mar-20 0,00375 Apr-19 0,00500 Apr-20 0,00375 May-19 0,00500 May-20 0,00375 Jun-19 0,00500 Jun-20 0,00354 Jul-19 0,00479 Jul-20 0,00333 Aug-19 0,00458 Aug-20 0,00333 Sep-19 0,00438 Sep-20 0,00333 Oct-19 0,00417 Oct-20 0,00333 Nov-19 0,00417 Nov-20 0,00313 Dec-19 0,00417 Dec-20 0,00313
BULAN Excess Return BULAN Excess Return
BBRI Nov-20 0,21414 Mar-20 -0,28299
BBCA Jun-20 0,09376 Sep-20 -0,13959
BNII Dec-20 0,50122 Mar-20 -0,19199
BBKP Dec-20 1,11085 Mar-20 -0,40011
BMRI Jul-20 0,16838 Mar-20 -0,36045
BRIS Aug-20 0,78370 Feb-20 -0,29428
PNBS Nov-20 0,37688 Mar-19 -0,14389
MCOR Apr-20 0,40414 Feb-20 -0,30148
BNLI Oct-20 0,76391 Nov-19 -0,22514
BNGA Jan-19 0,20265 Mar-20 -0,18375
PNBN Nov-20 0,25802 Mar-20 -0,36781
NISP Nov-20 0,11412 Apr-20 -0,07875
AGRO Dec-20 0,91354 Nov-19 -0,34996
INPC Jan-19 0,30145 Nov-19 -0,12011
BSIM Jun-20 0,14142 Jan-20 -0,14947
BBNI Nov-20 0,26270 Mar-20 -0,45998
TERENDAH
Emiten TERTINGGI
72
Tabel 5 – Expected Return
Sumber : Data Diolah Peneliti
Tabel diatas menunjukkan bahwa expected return tertinggi berada pada BRIS sebesar 0.09873, yang mana menunjukkan bahwa besar harapan investor untuk memperoleh return pada investasi atas BRIS. Sedangkan expected return terendah berada pada BBNI dengan angka -0.00420, hal ini mewakili bahwa rendahnya harapan masyarakat terhadap expected return pada BBNI.
4.6 Analisis Var. P, α, β, Unsystematic risk (σei²) dan ERB
Tabel 6 – Var. P, α, β, Unsystematic risk (σei²) dan ERB
Sumber : Data Diolah Peneliti
Berdasarkan tabel di atas kolom 1 mewakili nilai dari Var.P, yang mana Var. P ini menggambarkan seluruh nilai dari sampel dan varian nilai tertinggi di wakili oleh AGRO dengan nilai 0.11107 dan yang terendah oleh NISP dengan nilai 0.00208. Kolom α menunjukkan nilai
BBRI 0,01027
BBCA 0,01295
BNII 0,03180
BBKP 0,06777
BMRI -0,00010
BRIS 0,09873
PNBS 0,02674
MCOR 0,00791
BNLI 0,08758
BNGA 0,00887
PNBN 0,00583
NISP -0,00073
AGRO 0,09488
INPC 0,00802
BSIM -0,00179 BBNI -0,00420 E(Ri) Emiten
BNLI 0,04961 0,08728 2,25628 0,06530 0,03699
BRIS 0,09299 0,09833 2,98807 0,12051 0,03166
PNBS 0,01218 0,02662 0,83392 0,01432 0,02713
AGRO 0,11107 0,09436 3,88053 0,15748 0,02339
BBKP 0,09196 0,06731 3,46339 0,12893 0,01838
BNII 0,02235 0,03156 1,79467 0,03228 0,01543
BBCA 0,00372 0,01283 0,87665 0,00608 0,01008
BBRI 0,00903 0,01008 1,38832 0,01497 0,00443
INPC 0,00785 0,00790 0,88598 0,01027 0,00440
BNGA 0,01082 0,00866 1,53650 0,01809 0,00309
MCOR 0,01812 0,00771 1,50949 0,02515 0,00252
PNBN 0,01650 0,00557 1,91046 0,02774 0,00090
BMRI 0,01100 -0,00031 1,53107 0,01823 -0,00275 BBNI 0,01754 -0,00447 2,00167 0,02989 -0,00415 NISP 0,00208 -0,00078 0,36186 0,00249 -0,01338 BSIM 0,00352 -0,00183 0,27490 0,00375 -0,02149
Var. P
Emiten α β ERB
73
yang bervariasi, ada yang positif bahkan hingga negative, nilai α terbesar diwakili oleh BRIS sebesar 0.9833 dengan yang terendah adalah BBNI dengan angka -0.00447. Selanjutnya kolom β, fungsi beta adalah sebagai nilai matematis yang dapat mengukur sensitifitas dari suatu return saham terhadap dari return pasar, nilai tersebut dapat di interpretasikan dengan semakin tinggi nilai beta maka akan semakin tinggi tingkat risiko yang teridentifikasi dan semakin tinggi pula tingkat return yang diharapkan, namun apabila semakin rendah nilai beta, maka akan semakin rendah pula tingkat risiko yang teridentifikasi dan rendah juga tingkat returnya, pada kolom β perusahaan yang memiliki tingkat beta yang tinggi adalah AGRO dengan angka 3.88053, dan BSIM berada di paling terendah dengan nilai 0.27490. Pada kolom terakhir terdapat kolom ERB yaitu excess return to beta, yang mana pada kolom ini menunjukkan tingkat imbal hasil yang melampaui tingkat imbal hasil bebas risiko , pada penelitian ini ERB diurutkan dari yang tertinggi hingga yang terendah, sehingga dapat diketahui mana saja perusahaan – perusahaan yang dapat melampaui tingkat imbal hasil bebas risiko. Risk return dari IHSG rata – rata sebesar 0.00308.
4.7 Cut off rate (Ci) , cut off point (C*) dan Analisis Portofolio Optimal
Cut off rate (Ci) adalah hasil bagi atas varian pasar dan return premium terhadap varian error saham dengan varian pasar terhadap sensistivitas saham individu pada varian error saham.
Sedangkan cut off point (C*) merupakan suatu nilai batas dalam penentuan apakah saham tersebut dapat dikategorikan ke dalam portofolio optimal atau tidak, output dari C* ini didapati dari nilai maksimal pada Ci .
Tabel 7 – Cut off rate (Ci) & cut off point (C*)
Sumber : Data Diolah Peneliti
Berdasarkan tabel di atas didapati nilai C* paling maksimal oleh saham BNLI sebesar 0.00717, nilai ini yang akan menjadi batas penentuan apakah saham yang di teliti tergolong dalam portofolio optimal atau tidak.
Dari 16 sampel perusahaan yang diteliti didapati sebanyak 7 perusahaan yang tergolong kedalam portofolio optimal, yaitu adalah Bank Permata Tbk (BNLI) dengan meraih tingkat ERB paling besar yaitu 0.03699, pada posisi kedua yaitu Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan nilai ERB 0.03166, ketiga Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) dengan nilai ERB 0.02713, ke empat Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) dengan nilai ERB 0.02339, ke lima Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dengan nilai ERB 0.01838, ke enam Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) dengan nilai ERB 0.01543 dan yang terakhir adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai ERB 0.01008. BBCA
BNLI 0,03699 0,00717 0,00717 Optimal BRIS 0,03166 0,00589 0,00717 Optimal PNBS 0,02713 0,00353 0,00717 Optimal AGRO 0,02339 0,00532 0,00717 Optimal BBKP 0,01838 0,00410 0,00717 Optimal BNII 0,01543 0,00363 0,00717 Optimal BBCA 0,01008 0,00282 0,00717 Optimal
BBRI 0,00443 0,00126 0,00717 - INPC 0,00440 0,00084 0,00717 - BNGA 0,00309 0,00089 0,00717 - MCOR 0,00252 0,00055 0,00717 - PNBN 0,00090 0,00026 0,00717 - BMRI -0,00275 -0,00078 0,00717 - BBNI -0,00415 -0,00121 0,00717 - NISP -0,01338 -0,00187 0,00717 - BSIM -0,02149 -0,00126 0,00717 -
C* Keputusan
Emiten ERB Ci
74
merupakan perusahaan terakhir yang termasuk dalam kategori portofolio optimal, sedangkan 9 perusahaan lainnya belum memenuhi kategori portofolio optimal dikarenakan nilai ERB dari perusahaan tersebut masih berada dibawah nilai C*.
4.8 Expected Return Portofolio Optimal dan Risk Return
Setelah didapati 7 perusahaan yang tergolong dalam portofolio optimal, maka perlu dilakukan perhitungan atas expected return dari portofolio optimal tersebut, agar investor mendapatkan return sesuai dengan perhitungan diatas. Berikut tabel serta perhitungan espected return dari portofolio optimal :
Tabel 8 – Expected Return Portofolio Optimal
Sumber : Data Diolah Peneliti
Untuk mengetahui expected return dari portofolio optimal diatas, dapat dicari dengan rumus : E (Rp) = αp + βp x E (Rm)
E (Rp) = 0.05901 + 2.03100 x 0.00014 E (Rp) = 0.05929
Untuk mengetahui risk return dari portofolio optimal diatas, dapat dicari dengan rumus : σ²p = βp2
x
σ²m + σei²σ²p = 2.031002 x 0.00308 + 0.18084 σ²p =0.19355
Berdasarkan perhitungan diatas, didapati hasil expected return portofolio optimal sebesar 0.05929, angka ini merupakan tingkat return yang diharapkan dari ke 7 perusahaan yang tergolong dalam portofolio optimal pada penelitian ini, sedangkan untuk tingkat risiko nya sebesar 0.19355.
Nilai Wi merupakan rasio yang menentukan seberapa besar persentase dana yang dapat digunakan untuk membeli 7 saham yang termasuk kedalam portolio optimal tersebut, agar investor mendapatkan Expected Return sesuai dengan analisis perhitungan portofolio optimal yang telah dilakukan, maka berdasarkan tabel diatas, didapat rasio proporsi dana yang bisa dipertimbangkan oleh investor untuk berinvestasi kepada BNLI sebesar 23,53%, selanjutnya BRIS sebesar 13,87%, PNBS sebesar 26,54%, AGRO sebesar 9,13%, BBKP sebesar 6,88%, BNII sebesar 10,48% dan untuk BBCA sebesar 9,58%.
BNLI 1,03056 0,23528 0,02053 0,53085 0,03467 BRIS 0,60743 0,13868 0,01364 0,41437 0,04994 PNBS 1,16232 0,26536 0,00706 0,22129 0,00317 AGRO 0,39976 0,09126 0,00861 0,35415 0,05577 BBKP 0,30124 0,06877 0,00463 0,23819 0,03071 BNII 0,45922 0,10484 0,00331 0,18815 0,00607 BBCA 0,41968 0,09581 0,00123 0,08399 0,00051 TOTAL 4,38021 1,00000 0,05901 2,03100 0,18084
Emiten Zi Wi αp βp
75 5. Penutup
Model Indeks Tunggal merupakan metode yang menanalisis saham dari emiten dengan cara membandingkan antar ERB dengan Cut off rate sehingga akan dihasilkan suatu klasifikasi apakah saham emiten tersebut tergolong optimal atau tidak.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari penentuan portofolio optimal dengan model indeks tunggal pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019 sampai dengan 2020, maka didapati nilai C*sebesar 0.00717, sehingga terdapat tujuh perusahaan yang komposisinya sesuai dengan pembentukan portofolio optimal saham dengan model Index Tunggal. Tujuh perusahaan tersebut yaitu Bank Permata Tbk (BNLI) dengan tingkat ERB paling besar yaitu 0.03699, kedua yaitu Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan nilai ERB 0.03166, ketiga Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) dengan nilai ERB 0.02713, ke empat Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) dengan nilai ERB 0.02339, ke lima Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dengan nilai ERB 0.01838, ke enam Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) dengan nilai ERB 0.01543 dan yang terakhir adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai ERB 0.01008.
Tingkat expected return pada 7 perusahaan yang tergolong dalam portofolio optimal adalah sebesar 0.05929 sedangkan risiko nya sebesar 0.19355.
Pembentukan portofolio optimal bertujuan agar investor memperoleh return yang tinggi dengan risiko yang kecil, sehingga untuk memaksimalkan portofolio investor atas investasi terhadap 7 saham optimal yang didapat diperlukan proporsi dana yang tepat untuk masing – masing saham sehingga dapat memaksimalkan return yang akan di peroleh oleh investor.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah dari perusahaan pada sektor keuangan perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia selama tahun 2019 – 2020, hanya 16 perusahaan saja yang dijadikan sampel dikarenakan adanya beberapa pertimbangan yang telah disampaikan oleh peneliti pada bagian metode penelitian.
Daftar Pustaka
Afni, N., & Darman, D. (2021). ANALISIS FAKTOR FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR. Jurnal Ilmu Manajemen Universitas Tadulako (JIMUT), 7(4), 345-354.
Firdaus, I, Anah & Fitri Nadira.2018.Analisis Pembentukan Portofolio Optimal Menggunakan Model Indeks Tunggal (Tudi Kasus : Saham LQ 45 Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2012- 2016).Jurnal Ekonomi/Volume XXIII, No.2
Jayati,N.,Handayani, S.R & Zahro Z.A. (2017). Analisis Metode Single Index Model Dalam Pembentukan Portofolio Optimal Untuk Menurunkan Resiko Investasi (Studi Pada Perusahaan yang terdaftar dalam Index IDX30 periode Afustus 2013-Juli 2016)
Lestari, R. (2018). Optimasi Portofolio Dengan Single Index Model.Jurnal Ilmiah Bisnis, Pasar Modal dan UMKM,1 (2), 44-53.
Nugraha, Y. (2019). Pengaruh Net Profit Margin dan Debt To Equity Ratio Terhadap Return Saham (Penelitian Pada PT Astra Internasional Tbk.) (Doctoral dissertation, Universitas Siliwangi).
Prasetyo,F.I., Suarjaya,A.A.G. (2020.) Pembentukan Portofolio Optimal Dengan Menggunakan Model Indeks Tunggal.E-Jurnal Manajemen, Vol.9, No. 2
76
Pratama, L. (2019). Analisis Pembentukan Portofolio Saham Optimal Menggunakan Metode Single Index Model (Studi Empiris pada Saham Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia). Jurnal Ilmu Manajemen, 16(1), 48-60.
Septiana. 2020. Efektifitas Kebijakan OJK Terkait Buyback Saham Terhadap Perubahan IHSG di Masa Pndemi Covid-19. Aghniya Jurnal Ekonomi Islam Vol. 2 No. 2.
Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi kelima, UPP, Yogyakarta
Trisnawati, Ita. 2009. Pengaruh Economic Value Added, Arus Kas Operasi, Residual Income, Earnings, Operating Leverage dan Market Value Added Terhadap Return Saham. STIE Trisakti. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 11, No.1, April 2009, Hlm. 65 – 78.