• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH PESERTA DIDIK

DI SD NEGERI 72 LEMBANG KECAMATAN ENREKANG

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.) Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

NURUL RASAFIRA NIM 20100119022

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2023

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurul Rasafira

NIM : 20100119022

Tampat, Tanggal Lahir : Lahaddatu, 25 Mei 2000

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Alamat : Samata, Kabupaten Gowa

Judul : Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang.

Menyatakan dengan sebenar-benarnya dan dengan penuh kesadaran bahwa penulisan skripsi ini adalah benar hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa skripsi ini merupakan hasil duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain baik sebagian maupun seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang telah diperoleh karenanya batal demi hukum.

Samata, 02 Maret 2023

Penulis,

Nurul Rasafira

NIM 20100119022

(3)

iii

(4)

iv

KATA PENGANTAR ﷽

Puji syukur panjatkan atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi besar Muhammad saw beserta para keluarga, sahabat, dan pengikutnya.

Karya tulis ilmiah yang membahas tentang ‚Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang‛. Penulis menyadari bahwa mulai dari persiapan penelitian hingga pada proses penyusunan hasil penelitian terdapat banyak hambatan yang dilalui, namun berkat keridhaan dari Allah swt dan restu dari kedua orangtua, maka hambatan yang ada mampu diatasi dengan baik. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada ibunda saya Irma binti Asse dan ayah saya Sakka bin Damma, mereka yang telah bersusah payah dengan penuh kesabaran memberikan dukungan, nasihat dan materi, sehingga penulis mampu mencapai tahap ini, serta bimbingan dari berbagai belah pihak pula, Oleh karena itu melalui tulisan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Drs. H. Hamdan Juhanis, M.A., Ph.D., sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., sebagai Wakil Rektor I, Prof. Dr. H.

Wahyuddin, M.Hum., sebagai Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Darussalam Syamsuddin, M.Ag., sebagai Wakil Rektor III, Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.Ag., sebagai Wakil Rektor IV yang telah membina dan memimpin UIN Alauddin Makassar, sehingga menjadi tempat bagi penulis untuk menimbah ilmu dari segi akademik.

(5)

v

2. Dr. H. A. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Alauddin Makassar Dr. M. Shabir U., M.Ag., sebagai Wakil Dekan I., Dr. M. Rusdi, M.Ag., sebagai Wakil Dekan II, dan Dr. H. Ilyas, M.Pd., M.Si., sebagai Wakil Dekan III, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimbah ilmu di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A., dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I, sebagai ketua dan sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Alauddin Makassar yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan motivasi selama penulis menempuh pendidikan di bangku kuliah berupa ilmu dan nasihat, sehingga penulis mampu sampai pada tahap ini.

4. Dr. H. Muzakkir, M.Pd.I. dan Dr. Rosdiana, M.Pd.I. selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah bersedia dan sabar meluangkan waktunya untuk membimbing penulis, memberikan masukan dan saran, koreksi dan arahan, serta pengetahuan yang baru dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini.

5. Dr. La Ode Ismail Ahmad, M.Th.I. dan alm. Dr. Kamsinah, M.Pd.I yang digantikan oleh Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A., selaku penguji I dan Penguji II yang telah banyak memberikan memberikan masukan dan saran, koreksi dan arahan, serta pengetahuan yang baru dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini.

6. Kepada para dosen, karyawan/karyawati Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.

7. Kepada kepala sekolah SD Negeri 72 Lembang yaitu bapak Suryamsyah, S.Pd. dan ibu Satriani R., S.Pd.I. sebagai guru mata pelajaran Pendidikan

(6)

vi

Agama Islam dan Budi Pekerti di SD Negeri 72 Lembang, serta seluruh guru-guru dan staf yang ada di SD Negeri 72 Lembang yang telah memberikan kemudahan kepada penulis sehingga mampu mengumpulkan informasi yang penulis butuhkan dalam menyelesaian penyusunan skripsi ini.

8. Kepada saudara-saudara sekandung saya yang tidak kurang pula semangatnya dalam proses penyusunan skripsi ini.

9. Serta kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan teman-teman sejurusan PAI angkatan 2019 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih kepada kalian semua yang telah memberikan bantuan kepada penulis baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih kepada semua belah pihak yang ikhlas membantu selama ini. Semoga skripsi ini juga dapat memberikan manfaatkan kepada khalayak ramai dan dapat pula dijadikan sebagai bahan referensi untuk masa yang akan datang.

Samata, 02 Maret 2023

Penulis,

Nurul Rasafira

NIM 20100119022

(7)

vii DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix

ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 5

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Kajian Pustaka ... 6

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 11

A. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ... 11

B. Pembentukan Akhlakul Karimah Peserta Didik ... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 36

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 36

B. Pendekatan Penelitian ... 37

C. Sumber Data ... 38

D. Metode Pengumpulan Data ... 39

E. Instrument Penelitian ... 40

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 41

G. Pengujian Keabsahan Data ... 43

BAB IV Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang ... 45

A. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang ... 46

B. Akhlak Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang .... 52

C. Faktor Penghambat dan faktor Pendukung Pembentukan Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang ... 54

BAB V PENUTUP ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Implikasi Penelitian ... 59

KEPUSTAKAAN ... 61

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 65

RIWAYAT HIDUP... 86

(8)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 5

(9)

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI A. Transliterasi Arab-Latin

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:

1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

ا alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب ba b Be

ث ta t Te

ث ṡa ṡ es (dengan titik di atas)

ج jim j Je

ح ḥa ḥ ha (dengan titik di bawah)

خ kha kh ka dan ha

د dal d De

ذ żal ż zet (dengan titik di atas)

ز ra r Er

ش zai z Zet

ض sin s Es

ش syin sy es dan ye

ص ṣad ṣ es (dengan titik di bawah)

ض ḍad ḍ de (dengan titik di bawah)

ط ṭa ṭ te (dengan titik di bawah)

ظ ẓa ẓ zet (dengan titik di

bawah)

ع ‘ain ‘ apostrof terbalik

غ gain g Ge

(10)

x

ف fa f Ef

ق qaf q Qi

ك kaf k Ka

ل lam l El

م mim m Em

ى nun n En

و wau w We

ھ ha h Ha

ء hamzah ʼ Apostrof

ً ya y Ye

Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (ʼ) apostrof.

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Tanda Nama Huruf Latin Nama

fatḥah a A

ﹻ Kasrah i I

ḍammah u U

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Tanda Nama Huruf Latin Nama

..َ.ًْ fatḥah dan yāʼ ai a dan i

(11)

xi

..َ. ْو fatḥah dan wau au a dan u

Contoh:

- ََفْيَك : kaifa - ََل َْوَح : haula 3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Harakat dan Huruf

Nama Huruf dan

Tanda

Nama

..َ.ى..َ.ا fatḥah dan alif atau yāʼ ā a dan daris di atas ..ِ.ى Kasrah dan yāʼ ī i dan garis di atas ..ُ.و ḍammah dan wau ū u dan garis di atas Contoh:

- ََلاَق : qāla - يَه َز : ramā - ََلْيِق : qīla - َُلْوُقَي : yaqūlu 4. Tā’marbūṭah

Transliterasi untuk tā’marbūṭah ada dua, yaitu: tā’marbūṭah yang hidup atau mendapat harakat fatḥah, Kasrah, dan ḍammah, transliterasinya adalah [t], sedangkan tā’marbūṭah yang mati atau yang mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].

Kalau pada kata yang berakhiran dengan tā’marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu berpisah, maka tā’marbūṭah itu ditransliterikan dengan ha [h].

Contoh:

- َِلاَفْطَلأاَُتَض ْؤ َز : raudah al-atfāl/raudahtul atfāl

- َُةَز َّوَنُوْلاَُتَنْيِدَوْلا : al-madīnah al-munawwarah/al-madīnatul munawwarah - َْتَحْلَط : talhah

(12)

xii 5. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid (ﹼ ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberikan tanda syaddah.

Contoh:

- ََل َّصَن : nazzala - َ سِبلا : al-birr

Jika huruf (ً ) ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf Kasrah ( ﹻ ), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi [ ī ].

6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf ( لا) yaitu, alif ma’arifah. Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar ( - ).

Contoh:

- َُلُج َّسلا : ar-rajulu - َُنَلَقْلا : al-qalamu - َُطْوَّشلا : asy-syamsu - َُلَلاَجْلا : al-jalālu 7. Hamzah

Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof ( ʼ ) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.

Contoh:

- َُرُخْأَت : ta’khużu - َ ئيَش : syai’un - َُء ْوَّنلا : an-nau’u - ََّىِإ : inna

(13)

xiii

8. Penulisan Kata Arab yang lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari pembendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata al-Qur’an (dari al-Qur’ān), alhamdulillah dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditransliterasi secara utuh.

Contoh:

Fī Ẓilāl al-Qur’ān

Al-Sunnah qabl al-tadwīn 9. Lafẓ al-Jalālah ( ﷲ )

kata ‚Allah‛ yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mudāf ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.

Contoh:

- : dinullāh - : billāh

Adapun tā’marbūṭah di akhir kata yang disandarkan kepada lafẓ al- jalālah, ditransliterasi dengan huruf [t].

Contoh:

- : hum fi rahmatillāh 10. Huruf Kapital

Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (all caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenal ketentuan tentang penggunaan huruf

(14)

xiv

kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila mana diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR).

Contoh:

Wa mā Muhammadun illā rasūl

Inna awwala baitin wudi’a linnāsi lallażī bi Bakkata mubārakan Syahru Ramadhān al-lażī unzila fih al-Qur’ān

Naṣīr al-Dīn al- Ṭūsī Abū Naṣr al-Farābī Al-Gazālī

Al-Munqiż min al-Dalāl

Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abū (bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka referensi.

Contoh:

Abū al-Walid Muhamma ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abū al- Walid Muhammad (bukan: Rusyd, Abū al-Walid Muhammad Ibnu).

Naṣr Hāmid Abū Zaid, ditulis menjadi: Abū Zaid, Naṣr Hāmid (bukan: zaid, Naṣr Hāmid Abū.

B. Daftar Singkatan

Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:

swt = subḥānahū wa ta’ālā

(15)

xv saw = ṣallalāhu ‘alaihi wa sallam a.s = ‘alaihi al-salām

H = Hijrah

M = Masehi

SM = Sebelum Masehi

l = Lahir Tahun (untuk orang yang hidup saja)

w = Wafat tahun

QS.../...: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau Āli ‘Imrān/3: 4

HR = Hadis Riwayat

(16)

xvi ABSTRAK Nama : Nurul Rasafira

NIM : 20100119022

Judul : Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang

Skripsi tentang ‚Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang‛ bertujuan untuk, 1) Mendeskripsikan strategi guru pendidikan Agama Islam dan budi pekerti dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang, 2) Mendeteksi akhlak peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang, 3) Menemukan faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang.

Jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif deskriptif secara observasi participan yang menghasilkan data dan informasi berupa kata atau kalimat yang berasal dari objek pengamatan, menggunakan pendekatan pedagogik dan psikologi serta memiliki sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yaitu metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, juga disertai dengan instrumen pengumpulan data, yaitu pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data serta menggunakan teknik triangulasi sebagai pengujian keabsahan data baik itu triangulasi teknik, waktu, dan sumber.

Hasil penelitian, yaitu: 1) Strategi guru pendidikan Agama Islam dan budi pekerti dalam membentukan akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang, melalui uswah (keteladanan), ta’lim (pengajaran), ta’wid (pembiasaan), targhib atau reward (pemberian hadiah) dan tarhib (hukuman). 2) Akhlak peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang, mengalami perubahan secara signifikan berdasarkan penerapan strategi oleh guru pendidikan Agama Islam dan budi pekerti. 3) Faktor pendukung dan faktor penghambat, yaitu: a).Faktor pendukung, yaitu kurikulum sekolah, tenaga pendidik guru, dan strategi yang digunakan oleh guru PAI. b) Faktor penghambat yaitu anak/peserta didik, pengaruh media elektronik, dan kurang tegasnya reward dan punishment dari orang dewasa,

Implikasi penelitian, kepada para pendidik dan tenaga kependidikan agar lebih bersungguh-sungguh lagi dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik dan diharapkan skripsi ini mampu menjadi sebuah masukan dan referensi untuk penelitian dengan tema yang sama kedepannya.

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah bidang studi yang dimasukkan ke dalam setiap kurikulum formal, mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar hingga ke jenjang perguruan tinggi. Pendidikan Agama Islam juga merupakan suatu sistem pendidikan yang mendidik atau melatih peserta didik dalam bersikap atau bertindak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan yang diketahui telah banyak memuat nilai-nilai spritual yang terdapat dalam etika Islam khususnya. Sebagaimana pula diketahui bahwa agama juga memiliki peran penting dalam membentuk akhlak peserta didik dan hal ini sejalan dengan Undang-undang RI N0. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijelaskan sebagai berikut:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1

Pendidikan Agama Islam juga merupakan proses menumbuh kembangkan setiap potensi yang ada pada diri peserta didik melalui keteladanan, pengajaran, pembiasaan, adanya reward dan punishment, sehingga terwujudlah manusia yang seutuhnya. Artinya manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan serta pengetahuan yang mencerminkan akhlak mulia yang dimiliki.2

Pendidikan Agama Islam tidak hanya terfokus pada proses kegiatan belajar mengajar atau kefasihan interaksi antara pendidik dengan peserta didik,

1Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta:

Kementerian Pendidikan Nasional, 2003), h.93.

2Wahyu Lenggono, “Manusia dan Pendidikan”, Jurnal Mahasantri 1, no. 2 (2021): h.

187.

(18)

namun peserta didik juga hendaklah mendapatkan transfer kognitif, psikomotorik, dan terlebih lagi afektif.3 Melalui pendidikan, pendidik tidak hanya dituntut untuk memberikan ilmu pengetahuan demi mencerdaskan peserta didik, tetapi juga dituntut untuk membentuk akhlak peserta didik yang sesuai dengan nilai dan dasar dalam ajaran Agama Islam.

Adapun dasar-dasar pendidikan menurut Ibn Khaldun yang dikutip oleh T. Saiful Akbar, yaitu beranjak dari sikap keagamaan yang berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.4 Kemudian, menurut Rosdiana,

Upaya para praktisi pendidikan untuk selalu menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan pendidikan yang hanya berkonsentrasi dari sisi formal dan mengabaikan sisi moralnya.5

Berdasarkan daripada itu, selain kognitif dan psikomotorik, afektif atau akhlak peserta didik juga sangat perlu untuk diperhatikan yang di mana hal ini sejalan dengan pendapat Imam al-Ghazali yang dikutip oleh Yunahar Ilyas, yang mengemukakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.6 Dengan demikian dapat diketahui bahwa akhlak merupakan suatu sifat yang ditanamkan dalam jiwa tiap-tiap manusia, yang di mana sifat itu akan muncul secara spontan tanpa perlu melakukan suatu pertimbangan terlebih dahulu yang diakibat dari suatu pembiasaan baik atau buruk secara terus-menerus.

3T. Saiful Akbar, “Manusia dan Pendidikan Menurut Pemikiran Ibn Khaldun dan John Dewey”, Jurnal Ilmiah Didaktika 15, no. 2 (2015): h. 223.

4T. Saiful Akbar, “Manusia dan Pendidikan Menurut Pemikiran Ibn Khaldun dan John Dewey”, Jurnal Ilmiah Didaktika, h. 238.

5Rosdiana, “Prinsip Dasar Pendidikan Anak Menurut Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Idaarah vol. 1, no. 1 (2017): h. 105-106.

6Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPSI-UAD, 1999), h. 2.

(19)

3

Akhlakul karimah ialah tata krama yang muncul dari dalam diri baik itu yang menyenangkan ataupun yang kurang menyenangkan, hal itu juga sangat mempengaruhi lingkungan di sekitar peserta didik, serta mempunyai nilai tersendiri dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara serta agama untuk ke depannya.7

Ironisnya, di zaman sekarang banyak terjadi peristiwa yang dapat merusak akhlak peserta didik. Hal ini tentu disebabkan oleh kurang atau rendahnya pengetahuan mengenai akhlak yang didapatkan oleh peserta didik itu sendiri. Apatah lagi jika mereka berada pada lingkungan yang kurang mendukung, sehingga tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan perbuatan atau tindakan yang menurut mereka itu sah-sah saja, namun tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Menurut Tato Suharto yang dikutip oleh M. Ramli, mengemukakan bahwa peserta didik ialah, orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan.8 Peserta didik adalah anak yang belum memasuki usia matang secara pemikiran atau dewasa, namun memiliki banyak potensi yang dapat dibentuk oleh lingkungannya, karena peserta didik dapat diibaratkan sebagai perekam, sebab mereka mampu meniru apa saja yang ada di lingkungannya.

Berdasarkan observasi peneliti, terhadap peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang pada tahun 2021 yang lalu, masih ada di antara mereka yang belum mencerminkan akhlak yang baik di lingkungan sekolah.

Peneliti melihat kenyataan, bahwa hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan yang disalahartikan dan faktor teknologi yang disalahgunakan,

7Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Cet. I; Jakarta: Amzah, 2016), h.j1.

8M. Ramli, “Hakikat Pendidik Dan Peserta Didik”, Tarbiyah Islamiyah 5, no. 1, Januari- Juni (2015): h.l68.

(20)

sehingga peserta didik yang berada di jenjang pendidikan sekolah dasar, belum mampu memilih dan memilah antara akhlak yang terpuji dan akhlak yang tercela, jadi pendidik/guru mempunyai tanggung jawab yang berat dalam membiasakan dan membentuk akhlak yang baik bagi peserta didik tentunya, agar kelak menjadi suatu pembiasaan yang baik pula.

Selama observasi, ada kesenjangan di antara ekspektasi dengan realita, kemudian informasi yang peneliti dapatkan dari responden (Guru PAI), mengemukakan bahwa peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang, ada yang mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya mereka katakan, mengambil barang milik teman mereka dengan maksud meminjam tanpa permisi dan sering kali berperilaku tidak jujur.

Hal ini yang menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian, sebab membiasakan dan membentuk akhlak peserta didik agar berakhlak yang baik sebagai generasi penerus bangsa, sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, yang di mana hal ini juga sejalan dengan tujuan pendidikan karakter yang diharapkan oleh Kementerian Pendidikan nasional, yang dikutip oleh Rosdiana, dkk., yaitu mengembangkan potensi qalbu, nurani, dan afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.8

Membentuk akhlak pada peserta didik, juga merupakan upaya perbaikan terhadap krisis moral yang terjadi di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Peneliti menyakini bahwa akhlakul karimah itu dapat ditanamkan kepada peserta didik melalui beberapa strategi yang mendukung dari guru pendidikan Agama Islam dan budi pekerti, agar kelak mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan

8Rosdiana, dkk., Pembentukan Karakter (Ditinjau dari Metode Kisah Pembelajaran PAI) (Cet. I; Jogyakarta: Art Bumi Intaran (Anggota IKAPI), 2022), h. 143.

(21)

5

kepribadian yang baik, namun jika permasalahan terus didiamkan tanpa mengambil tindakan lebih lanjut, maka peserta didik akan tumbuh dan berkembang dengan seadanya.

Maksudnya, mereka akan mengikuti perkembangkan lingkungan yang seringkali tidak terkontol dengan baik, karena akhlak bukanlah sifat yang dibawa sebelum lahir melainkan suatu sifat yang dibiasakan setelah lahir, oleh karena itu melalui strategi guru pendidikan Agama Islam dan budi pekerti diharapkan mampu menghasilkan solusi untuk perbaikan dalam membentuk akhlak peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Fokus penelitian merupakan titik tuju yang menjadi susunan permasalahan dalam sebuah penelitian dan menjadi pusat perhatian, sehingga mampu memudahkan peneliti dalam menemukan dan mengumpulkan data dan informasi yang terkait dengan fokus penelitian tersebut. Adapun fokus penelitian, sebagai berikut:

Tabel 1.1 Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Fokus Penelitian Deskripsi Fokus

1. Strategi guru pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Meliputi:

a. Uswah (keteladanan).

b. Ta’lim (pengajaran).

c. Ta’wid (pembiasaan)

d. Targhib/Reward (pemberian hadiah).

e. Tarhib/Punishment (pemberian hukuman).

2. Pembentukan akhlakul karimah peserta didik.

Meliputi:

a. Siddiq (Jujur)

b. Tabliq (Menyampaikan)

(22)

c. Amanah (Dapat dipercaya) d. Fathonah (Cerdas)

e. Disiplin Waktu C. Rumusan Masalah

Berfokus pada penjabaran di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut, meliputi:

1. Bagaimana strategi guru pendidikan agama Islam dan budi pekerti dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang?

2. Bagaimana akhlak peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang?

3. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membentukan akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan bahan bacaan atau kumpulan tulisan yang berkaitan dengan tema skripsi yang menjadi bahan perbandingan, sehingga data dan informasi yang akan dikaji menjadi lebih jelas.

Hingga saat ini tema yang diangkat oleh peneliti sangat familiar yaitu mengenai akhlakul karimah, disebabkan karena rasa ingin tahu peneliti tentang strategi guru pendidikan agama Islam dan budi pekerti dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik, maka peneliti mencobanya di SD Negeri 72 Lembang, Kecamatan Enrekang. Adapun beberapa penelitian yang telah dilakukan, yakni:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Alif Surya Pratama pada tahun 2021 dengan judul ‚Pembinaan Akhlak Peserta Didik Pada Masa Pembelajaran Daring di

(23)

7

SMP Yapia Ciputat Kota Tanggerang Selatan‛. Hasil dari penelitian ini membahas tentang pembinaan akhlak peserta didik pada masa pembelajaran daring.9 Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Alif surya Pratama dan rencana penelitian saya adalah sama-sama membahas tentang akhlak peserta didik. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Alif Surya Pratama yaitu pembinaan akhlak peserta didik pada masa pembelajaran daring.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ayu Safitri pada tahun 2021 dengan judul

‚Penanaman Nilai-nilai Akhlakul Karimah Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 22 Kota Bengkulu‛. Hasil dari penelitian ini membahas tentang salah satunya yaitu solusi yang dilakukan oleh guru dalam penanaman nilai-nilai akhlakul karimah, yaitu guru memberikan nasehat serta masukan yang baik secara terus menerus kepada siswa tentang hal-hal yang kurang baik.10 Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Ayu Safitri dan rencana penelitian saya adalah sama-sama membahas tentang akhlakul karimah. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ayu Safitri yaitu salah satunya di sekolah menengah pertama.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Fiqra R. Paputungan pada tahun 2021 dengan judul ‚Pembinaan Akhlakul Karimah Remaja di Kota Kotamobagu (Studi Kasus Yayasan Nurul Khairat Kota Kotamobagu)‛. Hasil penelitian ini membahas tentang metode pembinaan, bentuk-bentuk kegiatan

9Alif Surya Pratama, “Pembinaan Akhlak Peserta Didik Pada Masa Pembelajaran Daring di SMP Yapia Ciputat Kota Tanggerang Selatan” Skripsi (Palembang: Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2021), h. 80.

10Ayu Safitri, “ Penanaman Nilai-nilai Akhlakul Karimah Siswa di Sekolah menengah Pertama Negeri 22 Kota Bengkulu”, Skripsi (Jakarta: Fak. Ilmu Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu, 2021), h. 124.

(24)

pembinaan dan faktor penghambat pembinaan.11 Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Fiqra R. Paputungan dan rencana penelitian saya adalah sama-sama tentang akhlakul karimah. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Fiqra R. Paputungan yaitu tentang studi kasus di yayasan Nurul Khairat.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Hendi Sugianto dan Mawardi Djamaluddin pada tahun 2021 dengan judul ‚Pembinaan Al-Akhlaq Al-Karimah Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia‛. Penelitian ini, membahas tentang upaya yang dilakukan guru PAI dalam pembinaan akhlak siswa melalui pembelajaran PAI.12 Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Hendi Sugianto dan Mawardi Djamaluddin dengan rencana penelitian saya adalah sama-sama membahas tentang akhlakul karimah.

Sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hendi Sugianto dan Mawardi Djamaluddin yaitu salah satunya yaitu tempat penelitian tersebut dilakukan.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Nada Shofa Lubis pada tahun 2022 dengan judul ‚Pembentukan Akhlak Siswa di Madrasah: Kontribusi Lingkungan Sekolah, Kompetensi Guru, dan Mutu Pendidikan‛. Hasil penelitian ini yaitu lingkungan sekolah berkontribusi positif terhadap pembentukan akhlak siswa, selain itu kompetensi guru dan mutu pendidikan juga

11Fiqra R. Paputungan, “Pembinaan Akhlakul Karimah Remaja di Kota Kotamobagu (Studi Kasus Yayasan Nurul Khairat Kota Kotamobagu)”, Skripsi (Manado: Fak. Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, 2021), h. 100.

12 Hendi Sugianto dan Mawardi Djamaluddin, “Pembinaan Al-Akhlaq Al-Karimah Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia”, Dayah: Journal of Islamic Educatoin vol. 4, no. 87-111 (2021), h. 109

(25)

9

mempengaruhi.13 Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Nada Shofa Lubis dan rencana penelitian saya adalah sama-sama membahas tentang pembentukan akhlak peserta didik. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh Nada Shofa Lubis yaitu pada jenis penelitian, yang di mana jenis penelitian beliau adalah kuantitatif sedangkan penelitian saya kualitatif.

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mendeskripsikan strategi guru pendidikan agama Islam dan budi pekerti dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang.

b. Untuk mendeteksi akhlak peserta didik di SD Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang.

c. Untuk menemukan faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membentuk akhlakul karimah peserta didik di SD Negeri 72 Lembang kecamatan Enrekang.

2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Ilmiah

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada pembaca serta membantu dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan strategi pembentukan akhlakul karimah peserta didik.

b. Kegunaan praktis 1) Bagi Peneliti

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan atau

13Nada Shofa Lubis, “Pembentukan Akhlak Siswa di Madrasah: Kontribusi Lingkungan Sekolah, Kompetensi Guru dan Mutu Pendidikan”, Al-Thariqah vol. 17, no. 1 (2022), h. 154.

(26)

pengetahuan tambahan bagi penulis tentang strategi yang seharusnya dan yang tepat digunakan dalam usaha membentuk akhlakul karimah peserta didik, serta menambah pengalaman belajar penulis dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama di bangku perkuliahan.

2) Bagi Lembaga UIN Alauddin Makkasar

Hasil dari penelitian, diharapkan mampu menjadi tambahan khazanah kepustakaan bagi kampus tempat penulis menimbah ilmu pengetahuan di jenjang perguruan tinggi, agar mampu menjadi sebuah bahan referensi dalam melakukan kegiatan penelitian selanjutnya.

3) Bagi Sekolah Dasar Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang

Hasil dari penelitian diharapkan mampu menjadi bahan referensi dan solusi bagi Sekolah Dasar Negeri 72 Lembang Kecamatan Enrekang dalam melakukan upaya pembentukan akhlakul karimah terhadap peserta didik melalui strategi yang diterapkan oleh guru pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

(27)

11 BAB II

TINJAUAN TEORETIS A. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

1. Pengertian Strategi

Kata strategi berasal dari bahasa Latin, yaitu strategia yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan.1 Kata strategi juga berasal dari bahasa Yunani yaitu, strategos atau strategus yang berarti jendral atau perwira.2

Dikatakan demikian karena tugas mereka itu membuat atau menciptakan dan merencanakan sebuah cara atau metode yang akan digunakan untuk menghadapi musuh. Strategi juga merupakan sebuah rencana yang cermat dan sistematis tentang suatu kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. 3

Pada mulanya strategi digunakan dalam menyusun rencana di dunia kemiliteran yang diartikan sebagai sebuah cara yang menggunakan seluruh kekuatan militer, agar mampu memenangkan suatu peperangan di medan pertempuran. Strategi juga digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau sebuah keberhasilan untuk tujuan yang telah direncanakan.4

Selain itu, strategi merupakan sebuah perencanaan jangka panjang yang disusun untuk mengantarkan kepada sebuah pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Strategi merupakan sebuah rangkaian kegiatan atau aktivitas

1Wahyudin Nur Nasution, Strategi Pembelajaran (cet; lI, Medan: Perdana Publishing, 2017), h. 1.

2Mulyani Sumantri dan Johari Permana, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Depdikbud Dirjen. PT. Proyek Pendidikan Guru SD, 1999), h. 40.

3Novita Eka Anggreani, “strategi Pembelajaran Dengan Model Pendekatan Pada Peserta Didik Agar Tercapainya Tujuan Pendidikan Di Era Globalisasi”, Science Edu 2, no. 1 (2019): h.

72.

4Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:

Kencana, 2009), h. 125-126.

(28)

yang disusun atau dirancang untuk mancapai tujuan pendidikan. Menurut Haitami dan Syamsul,

Strategi adalah metode atau segala cara atau daya yang digunakan untuk menghadapi suatu sasaran dalam kondisi tertentu untuk mendapat hasil yang diimpikan serta berjalan dengan maksimal.5

Secara umum, strategi juga disebut dengan istilah cara-cara yang dipilih atau yang digunakan untuk menyampaikan atau menyalurkan materi pelajaran dalam lingkungan sekolah, dengan harapan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai dengan baik.6

Menurut Beckman, yang dikutip oleh Wahyudin Nur Nasution, strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas. Sedangkan menurut dua pakar ahli strategi yaitu Hamel dan Prahalad, yang mengangkat kompetensi inti sebagai hal penting. Kemudian mereka berdua mendefinisikan strategi yang terjemahannya sebagai berikut, yaitu strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang menjadi harapan di masa depan.7 Selain itu, dijelaskan pula bahwa strategi/metode merupakan jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang agar mencapai tujuan tertentu baik dalam lingkungan, perusahaan, maupun kepuasan ilmu pengetahuan lainnya. Jadi, strategi merupakan metode atau sebuah cara kerja yang tersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan.

5Haitami dan Syamsul, Studi Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2012), h. 201.

6Pupu Syaiful Rahmat, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Scopindo Media Pustaka, 2019), h. 5-6.

7Sesra Budio, “Strategi Manajemen Sekolah”, Jurnal Menata 2, No. 2 (Juli-Desember 2019): h. 59.

(29)

13

2. Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Guru merupakan tenaga pengajar dan tenaga pendidik yang memiliki tugas

utama yaitu memberikan ilmu pengetahuan dan mendidik peserta didik sehingga menjadi peserta didik yang terpelajar dan peserta didik yang terdidik, di samping itu pula, mampu menghasilkan peserta didik yang mampu mengembangkan ranah cipta, rasa, dan karya sebagai implementasi dari konsep ideal mengajar dan mendidik.

Pendidikan Agama Islam adalah sebuah upaya sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlakul karimah, dan mengamalkan ajaran Agama Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, pelatihan, serta penggunaan pengalaman.8

Pendidikan akhlak menurut Kuanaepi yang dikutip oleh Zida Haniyyah dan Nurul Indana merupakan penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi pengetahuan, kemauan, kesadaran, serta tindakan, dalam pembentukkan akhlak peserta didik tentu tidak terlepas dari peranan seorang guru, terlebih lagi guru pendidikan Agama Islam.9

Guru merupakan suri teladan terhadap peserta didik di sekolah, dengan memberikan contoh yang baik dan sesuai dengan ajaran Agama Islam, sehingga mampu menghasilkan dan membentuk peserta didik yang berakhlakul karimah baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan luar sekolah. Oleh sebab itu, dari jerih payah seorang guru yang mampu menciptakan peserta didik yang berkualitas baik dari segi kognitif, psikomotorik, dan akfektifnya.

8Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), h. 21.

9Zida Haniyyah dan Nurul Indana, “Peran Guru PAI dalam Pembentukkan Karakter Islami Siswa di SMPN 03 Jombang, Jurnal Studi Kemahasiswaan vol. 1, no. 1 (April 2021), h. 76.

(30)

Guru pendidikan Agama Islam, merupakan guru yang mengajarkan tentang ajaran Agama Islam di sekolah, di samping melaksanakan tugasnya untuk memberikan pengetahuan tentang ajaran Agama Islam, guru pendidikan Agama Islam juga melaksanakan tugasnya untuk mendidik dan membina peserta didik, membantu kepribadian dan membentuk akhlak, serta menumbuh kembangkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik terhadap sang pencipta.10

Beberapa di antara tugas seorang guru adalah membentuk dan juga membimbing peserta didik agar mampu berperilaku islami atau berakhlakul karimah dan mampu mencegah serta menghindari segala perbuatan yang yang tercela, sebagaimana di sebutkan dalam QS Ali-Imran/3:104



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ



َ

َ



َ

َ



َ

َ



َ



ََ

َ Terjemahnya:

‚dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar merekalah orang-orang yang beruntung‛11

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa pentingnya peranan seorang guru terutama guru pendidikan Agama Islam dalam pembentukkan akhlakul karimah peserta didik, selain itu guru pendidikan Agama Islam merupakan seorang pengajar dan pendidik yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam pembentukan dan pengembangan jasmani dan rohani untuk menciptakan peserta didik yang berakhlakul karimah sesuai dengan ajaran Agama Islam, serta peserta didik mampu mencapai tingkat kedewasaan dalam terbentuknya kepribadian muslim yang ideal, berakhlakul karimah, mampu

10N. A. Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Iman dan Taqwa, (Yogyakarta: Teras, 2012), h. 100.

11Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Al-karim dan Terjemahya (Bogor:

Halim, 2007), h. 50.

(31)

15

memahami, menghayati, dan mengamalkan pembelajaran yang didapatkan baik di sekolah maupun di luar sekolah dan ajaran Agama Islam tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman serta petunjuk untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

3. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Pada pembentukkan akhlak peserta didik, tentu memerlukan beberapa rangkaian strategi untuk memudahkan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Strategi pembentukan ahklak, tidak cukup hanya dengan sekedar diajarkan tanpa ada upaya didikan untuk membentuk pribadi peserta didik yang berakhlakul karimah. Pribadi yang memiliki akhlak yang mulia juga memerlukan usaha dalam membentuknya. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan belajar, memahami, dan membiasakan akhlak yang mulia. Adapun menurut Samsul Munir Amin,

Terdapat beberapa proses yang ditempuh dalam membentuk akhlak pada diri seseorang yaitu, sebagai berikut:

a. Uswah (keteladanan) b. Ta’lim (pengajaran) c. Ta’wid (pembiasaan)

d. Targhib/Reward (pemberian hadiah)

e. Tarhib/Punishmen (pemberian ancaman/hukuman)12

Adapun strategi yang dapat dilakukan untuk membentuk dan membina akhlak peserta didik yang baik dan berbudi pekerti luhur menurut Abuddin Nata, ada beberapa cara dalam mengajarkan pengetahuan agama, yaitu:

a. Melalui Uswah (Keteladanan)

Metode keteladanan ini, kita memposisikan diri kita sebagai sahabat bagi peserta didik atau anak ketika usia mereka memasuki 7 tahun ketiga dengan dengan banyak memberikan contoh dan teladan yang baik, karena pada masa ini peserta didik mulai memasuki akil baliqh.13

12Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 27-29.

13Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia , h. 141.

(32)

b. Melalui Ta’lim (Pengajaran)

Ta’lim merupakan proses pengajaran yang menekankan pada pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Menurut Abrasyi, yang dikutip oleh Muhammad yahdi dan Alwan Suban, mengatakan bahwa ta’lim hanya merupakan bagian dari tarbiyah sebab hanya menyangkut sisi kognitif.

Menurut Al-Attas yang dikutip oleh Muhammad Yahdi dan Alwan Suban, mengemukakan bahwa kata ta’lim lebih dekat kepada pengajaran atau pengalihan ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik, bahkan jangkauan aspek akfektifnya tidak memberikan porsi pengenalan secara mendasar.14

c. Melalui Ta’wid (Pembiasaan)

Lakukan metode pembiasaan ini pada anak berusia 7 tahun pertama.

Karena pada usia ini anak sudah banyak melihat dan meniru tingkah laku yang ada di sekitarnya dan pada masa ini pula akan menentukan sikap tertentu pada anak berdasarkan apa yang mereka dapat dari lingkungan sekitarnya.

d. Melalui Targhib (Pemberian Hadiah)

Secara etimologi, targhib merupakan bentuk masdar dari kata raggahaba- yuragghibu-targhiiban yang didasari dari tiga huruf (ز ), ( غ ), dan (ب ), yang memiliki arti mencintai atau menyukai.15 Menurut Abdurrahman An-Nahlawi,

Targhib merupakan janji yang disertai dengan bujukan yang membuat ketertarikan suatu kebaikan, kenikmatan, atau kesenangan akhirat yang pasti lebih baik, serta terbebas dari segala bentuk keburukan dan melakukan amal shaleh dan menjauhi segala rayuan dunia yang mengandung bahaya atau perbuatan buruk. Hal ini tidak lain hanya untuk

14Muhammad Yahdi dan Alwan Suban, Pendidikan Islam dan Moderasi Beragama Kajian Histori (Makassar: Alauddin University Press, 2020), h. 29.

15Aulia Ayu Rohayah, “Implementasi Pendidikan Akhlak Melalui Meode Targhib dan Tarhib (Studi Kasus Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Putri Bekasi)” Skripsi (Jakarta: Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2020), h. 34.

(33)

17

menggapai keridhan Allah swt yang merupakan rahmat Allah swt bagi hamba-Nya.16

Menurut Abdul Mujib, menjelaskan bahwa,

Targhib mengandung harapan serta janji yang diberikan kepada peserta didik yang bersifat menyenangkan dan merupakan kenikmatan karena dapat penghargaan.17

Jadi dapat disimpulkan bahwa, targhib merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk membentuk akhlak pesrta didik dengan cara membahagiakan atau menyenangkan peserta didik ketika telah mencapai tujuan yang ditetapkan.

e. Melalui Tarhib (Hukuman)

Secara etimologi, kata tarhib, merupakan bentuk masdar dari kata rohhaba-yurohhibu-tarhiiban yang didasari dari tiga huruf yaitu ( ز ), ( ھ ), dan (ب), yang memiliki arti ancaman. Sedangkan secara terminologi, menurut Abdurrahman An-Nahlawi, tarhib adalah ancaman atau intimidasi yang disertai dengan hukuman akibat dosa dan kesalahan yang dilakukan yang di mana perbuatan tersebut dilarang oleh Allah swt dengan adanya tarhib atau ancaman ini akan membuat manusia berhati-hati dalam bertutur kata maupun bertindak.18

Hal ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu untuk dibina dan dibentuk, dan dari pembinaan ini banyak menghasilkan pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah swt dan rasul-Nya, hormat ibu bapak, dan lain sebagainya. Sebagaimana dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad saw yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam riwayat salah satu hadis beliau bersabda:

16Abdurrahman An-Nahlawi, Usul At-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Aslibuha (t.t: Daar al- Fikr, 2015), h. 204.

17Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: fajar Interpratama mandiri, 2014), h. 205.

18Abdurrahman An-Nahlawi, Usul At-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Aslibuha, h. 204.

(34)

Artinya:

‚Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak‛ [HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah r.a].19

Pada masa ini, strategi pembentukan akhlak semakin diperlukan, terutama pada generasi yang di mana saat ini banyak menghadapi tantangan dan godaan sebagai bentuk kemajuan dari bidang teknologi dan informasi. Dari penjelasan ini dapat kita pahami bahwa akhlak juga memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dalam membentuknya sehingga menjadi suatu kebiasaan, dengan menggunakan berbagai sarana dan prasarana pendidikan dan pembinaan yang telah terprogram dengan baik dan konsisten.20

B. Pembentukan Akhlakul Karimah

Pembentukan akhlakul karimah dalam Islam merupakan sebuah usaha pembiasaan suatu hal yang dipandang baik bagi diri sendiri dan masyarakat yang ada di sekitar kita, sehingga membentuk hasil yang secara langsung diamalkan tanpa merugikan diri sendiri maupun masyarakat sekitar. Adapun penjelasan lebih lanjut yaitu sebagai berikut:

1. Pengertian Akhlak

Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa Arab, yang merupakan jamak dari kata khuluq, yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, dan muru’ah. Dengan demikian akhlak dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak, dan tabiat. Kemudian dalam bahasa Inggris, istilah akhlak diterjemahkan sebagai character.21

Karakter dalam bahasa agama disebut dengan akhlak. Sebagaimana menurut Akramullah Syed yang dikutip oleh Rosdiana, ddk., mengemukakan bahwa akhlak merupakan istilah bahasa Arab yang merujuk pada praktik-praktik kebaikan, moralitas, dan perilaku yang baik. Istilah akhlak sering diterjemahkan

19Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 20.

20Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia , h. 135.

21Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Cet. I; Jakarta: Amzah, 2016), h. 1.

(35)

19

dengan perilaku islami (Islamic Behavior), sifat atau watak (Disposition), perilaku baik (Good Conduct), kodrat atau sifat dasar (Nature), perangai (Tempe), etika atau tata susila (Ethics), moral dan karakter. Semua kata tersebut merujuk pada karakter yang dapat dijadikan sebagai suri teladan setiap manusia.22

Secara terminologi, akhlak menurut para ulama sebagai berikut:

a. Ibnu Maskawaih

Menurut pendapat Ibnu Maskawaih, yang dikutip oleh Oemar Hamalik, akhlak merupakan suatu keadaan jiwa seseorang yang mampu memberikan dorong dari dala dirinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui proses pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Keadaan ini terbagi menjadi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, dan ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan secara terus-menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.23

b. Imam Al-Ghazali

Menurut pendapat Imam al-Ghazali, yang dikutip oleh Yunar Ilyas, mengemukakan bahwa akhlak ialah hay’at atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran, maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, ia dinamakan akhlak yang baik, tetapi jika ia menimbulkan tindakan yang jahat, maka ia dinamakan akhlak yang buruk.24

22Rosdiana, dkk., Pembentukan Karakter (Ditinjau dari Metode Kisah Pembelajaran PAI) (Cet. I; Jogyakarta: Art Bumi Intaran (Anggota IKAPI), 2022), h. 139.

23Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 57.

24Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2006), h. 2.

(36)

c. Abdullah Dirroz

Menurut pandangan Abdullah Dirroz yang dikutip oleh Akmal Hawi menyatakan bahwa, akhlak merupakan suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak yang berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal yang baik) atau pihak yang salah (dalam hal yang buruk).25

d. Ibrahim Anis

Menurut sudut pandang dari Ibrahim Anis yang dikutip oleh Amirulloh Syarbini dan Akhmad Khusaeri menyatakan bahwa, akhlak merupakan sikap yang telah tertanam di dalam jiwa seseorang serta mampu melahirkan bermacam- macam perbuatan, mau itu perbuatan baik ataupun perbuatan yang buruk, serta tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.26

e. Ahmad Amin

Menurut Ahmad Amin yang dikutip oleh Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, akhlak ialah kehendak yang dibiasakan, maksudnya kehendak itu bilamana membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.27

f. Al-Quthuby

Menurut Al-Quthuby yang dikutip oleh Mahjuddin, akhlak merupakan suatu perbuatan manusia yang bersumber pada kesopanannya yang disebut dengan akhlak, karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk dari bagian kejadian.28

25Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2014), h. 99.

26Amirulloh Syarbini dan Akhmad Khusaeri, Metode Islam dalam Membina Akhlak Remaja (Jakarta: PT. Alex Media Komputindo, 2012), h. 34.

27Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 4.

28Mahjuddin, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Kalam Mulia: 1991), h. 3.

(37)

21

g. Barmawi Umaril

Akhlak merupakan ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perbuatan dan perkataan manusia secara lahir maupun batin.29

Kata akhlak yang dikutip oleh Zainuddin Ali, mengandung arti budi pekerti dan secara kebahasan menjelaskan bahwa akhlak artinya kelakuan, namun pada hakikatnya akhlak itu bisa berupa perilaku baik maupun perilaku yang buruk tergantung pada tata nilai yang digunakan sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak mempunyai konotasi yang dipandang baik oleh semua orang.30

Akhlak adalah suatu sifat yang ada di dalam jiwa manusia yang lahir secara spontan tanpa harus dipertimbangkan. Menurut Yatimi Abdullah,

Akhlakul karimah diartikan sebagai perilaku manusia yang mulia, sesuai fitrahnya, sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. yang berpedoman pada al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah swt.31

Berdasarkan pada riwayat dari Aisyah ra, ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab:

Artinya:

‚Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an‛ [HR Ahmad].32

Berarti segala yang terkait tentang tindakan dan perkataan dalam kehidupan Rasulullah saw merupakan manifestasi yang nyata dari al Quran, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa akhlak beliau adalah, ‘al-Quran berjalan’.

29Barmawi Umari, Materi Akhlak (Solo: Ramadhani, 1976), h. 1.

30Zainuddin Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 29.

31Yatimi Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an (Jakarta: Hamzah, 2007), h.

12.

32Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 39.

(38)

Oleh sebab itu, Allah swt telah mengutus seorang Rasul yaitu Nabi Muhamaad saw ke muka bumi dalam rangka memperbaiki dan juga menyempurnakan akhlak setiap ummatnya, sebagaimana telah disebutkan dalam QS al-Qalam/68:4



َ



َ



َ



َ

ََ

َ Terjemahnya:

‚Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung‛.34

Berdasarkan penjelasan ini, maka akhlak merupakan suatu ilmu yang telah menjelaskan secara terperinci mengenai arti akhlak itu sendri, yaitu baik dan buruk, menerangkan tentang apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada manusia lainnya, menyatakan tujuan yang juga seharusnya dituju oleh manusia dalam berbuat dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang juga seharusnya mereka perbuat.

Akhlak dalam pandangan penulis yaitu suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi suatu tabiat yang secara spontan diperlihatkan tanpa ada pertimbangan.

Adapun kata karimah itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah baik atau terpuji.35 Kata karimah ini digunakan untuk menunjukkan kepada suatu perbuatan akhlak yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari atau akhlakul karimah ialah suatu keadaan batin yang baik.

Terdapat sejumlah ciri-ciri yang dapat menunjukkan akhlak yang mulia, menurut Iman Abdul Mukmin Sa’addudin dalam bukunya berjudul ‚Meneladani Akhlak Nabi saw‛, yakni;

34Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya (Bogor: Halim, 2007), h. 564.

35Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam http//kbbi.web.id.

(39)

23

ciri-ciri tersebut bersifat universal, selalu releven, rasional, bertanggung jawab secara kolektif, dan segala perbuatan pasti akan mendapatkan ganjaran.35

2. Dasar Hukum Akhlak

Penilaian terhadap akhlakul karimah atau tingkah laku bergantung pada batasan-batasan pengertian baik buruknya yang ada di dalam masyarakat atau yang lebih dikenal dengan istilah norma. Sehingga norma tersebutlah yang menjadi suatu sumber hukum akhlak seseorang. Namun sumber akhlak yang dimaksud di sini adalah yang didasari pada norma-norma yang bersumber dari Allah swt dan Rasul-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an dan pelaksanaannya yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Standar atau dasar yang menjadi pengukur dalam menyatakan akhlak seseorang itu baik atau buruk ialah bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah dari Rasulullah saw dan inilah yang menjadi pengangan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pun sebaliknya apa yang buruk hendaklah dijauhi.36 Jadi, sumber akhlak yang dimaksud di sini ialah yang berasal dari syariat ajaran agama Islam, sebagaimana Allah swt berfirman dalam QS al-Ahzab/33: 21



َ



َ



َ

َ



َ

َ



َ



َ



َ



َ



َ

َ



َ



َ



َ

َ



َ



Terjemahnya:

‚Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.‛37

35Iman Mukmin Sa’addudin, Meneladani Akhlak Nabi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), h. 27.

36Roshidin Anwar, Akidah Akhlak (Bandung: Pustaka Setia), h. 208.

37Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya (Bogor: Halim, 2007), h. 672.

(40)

Berdasarkan beberapa redaksi yang berkaitan dengan QS al-Ahzab ayat 21, dapat dijabarkan dengan jelas bahwa, QS al-Ahzab ini merupakan golongan surah yang diturunkan di kota Madinah atau dengan istilah lain yaitu Madaniyyah, surah ini turun setelah diturunkannya surah as-Sajadah dengan urutan surah ke-33 di dalam kitab suci al-Qur’an, dengan jumlah ayatnya yaitu 73 ayat. Adapun penamaan surah al-Ahzab ini mengartikan tentang ‚golongan orang-orang yang bersekutu‛. Dalam kaitan ini, menurut Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya, beliau mengemukakan bahwa,

Surah al-Ahzab merupakan surah Madaniyyah, sehingga para ulama muwafaqah tentang hal itu, karena surah ini diturunkan tepatnya pada akhir tahun ke-4 Hijriayah, yakni tahun terjadinya perang al-Ahzan atau Gazwat.

Selain itu, ada juga yang menamakannya dengan perang Khandaq, hal ini berdasarkan adanya usulan dari salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Salman Al-Farisi, bersama juga dengan sahabat nabi lainnya beliau menggali parit (Khandaq) menuju ke arah utara kota Madinah, yang di mana tempat tersebut besar kemungkinannya menjadi arah serangan yang dilakukan oleh musuh (kaum Musyrikin), yang di mana peristiwa peperangan ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 Hijriyyah.38

Dalam redaksi lain pula, Muhammad Quraish Shihab menerangkan bahwa,

Kasus pemilihan lokasi dalam peristiwa perang badar merupakan salah satu contoh yang sering diketengahkan walaupun hadistnya zhaif, yaitu ketika para sabahat Nabi saw al-Kubbab Ibnu al-Munzir, mengusulkan kepada Nabi saw agar memilih lokasi selain yang beliau tetapkan, setelah sahabat tadi mengetahui dari Nabi saw sendiri bahwa pemilihan tempat tersebut berdasarkan pertimbangan nalar beliau dan strategi perang. Usulan tersebut diterima dengan baik oleh Nabi saw karena memang ternyata lebih benar.39

Tujuan diturunkannya surah al-Ahzab ayat 21 ini, adalah untuk memberikan kabar gembira dan hiburan kepada Rasulullah saw beserta kaum mu’minin ketika menghadapi berbagai rintangan, siksaan, dan celaan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah swt di mana ujian tersebut tidak hanya

38M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Jakarta:

Lentera Hati, 2002), h. 213.

39Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, h. 214..

(41)

25

mereka yang merasakan, namun dirasakan juga oleh para Rasul dan nabi Allah swt sebelum mereka. Surah ini juga diturunkan untuk menjadi peneguh dan memperkuat dalil kebenaran risalah yang dibawahkan oleh Rasulullah saw.40

Surah al-Ahzab ayat 21, mengandung petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Apabila umat manusia menafikannya dan tidak mau mengamalkan isi yang terkandung dalamnya berarti umat manusia itu sendiri yang mengundang kehancuran dalam kehidupannya.

Adapun beberapa aspek kandungan dalam surah al-Ahzab ayat 21 adalah pertama, aspek pendidikan akhlak yang di mana akhlak merupakan budi pekerti atau tabiat terpuji yang diwujudkan oleh seseorang dalam kehidupannya. Karena akhlak memiliki peran yang sangat penting, karena dengan akhlak seseorang itu dapat mencapai derajat yang tinggi baik disisi Allah swt maupun di hadapan manusia. Kedua yaitu aspek keteladanan, karena keteladanan adalah perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang dapat dicontoh oleh orang lain. Ketiga yaitu mengharap rahmat dari Allah swt. dan yang keempat yaitu selalu berzikir menyebut asma Allah swt.41

Penjelasan lain yang di kemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya yaitu ‚berdialog dengan al-Qur’an‛ menyatakan bahwa,

Ketika umat Islam menjauhi al-Qur’an, atau sekedar menjadikan al-Qur’an hanya sebagai bacaan keagamaan maka sudah pasti al-Qur’an akan kehilangan relevensinya terhadap realitas-realitas alam semesta, nyatanya orang-orang di luar Islamlah yang giat mengkaji realitas alam semesta, sehingga mereka dengan mudah dapat mengungguli bangsa-bangsa lain, padahal umat Islamlah yang seharusnya memengang semangat al-Qur’an.42

40Nurdin, “Implementasi aspek Pendidikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab 21 bagi Pendidik era Milenial”, Substantia 21, no. 1 (2019): h.49.

41Alwisrar Imam Zaidillah, 100 Khutbah Jum’at kontemporer (Cet. IV; Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 264.

42Muhammad al-Ghazali, Berdialog dengan Al-Qur’an ( Cet. IV; Bandung: Mizan, 1999), h. 21.

Referensi

Dokumen terkait

Pondok Pesantren Panggung Tulungagung. Untuk mengetahui kompetensi sosial guru agama Islam dalam. membentuk akhlakul karimah siswa Madrasah Aliyah

perilaku siswa yang lebih baik dan bagi guru pendidikan agama islam adalah. telah berhasil membentuk akhlakul karimah siswa dengan strategi

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 01

Strategi Guru Akidah Akhlak dalam Membina Akhlakul Karimah Tawadhu’ ... Strategi Guru Akidah Akhlak dalam Membina Akhlakul Karimah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang ada di SMPN 1 Kediri dan SMPN 3 Kediri berdasar temuan lintas situs

ANGKET PENELITIAN PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG MAPEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI

peserta didik memiliki akhlak baik (akhlakul karimah) yang

Temuan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa Upaya Guru Akidah Akhlak di MTs Ar Rahmah Ujung Krawang dalam meningkatkan Akhlakul Karimah peserta didik adalah dengan memberi salam