yakni Reformasi birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih dan melayani dengan program unggulannya Aceh Peumulia. Oleh sebab itu Badan Pengelolaan Keuangan Aceh telah berupaya seoptimal mungkin mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai tuntutan dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Aceh untuk menyukseskan penyelenggaraan reformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah Aceh merupakan prioritas utama yang dilakukan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Secara keseluruhan, upaya yang dilakukan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Aceh tahun 2017 telah menunjukkan hasil kinerja yang positif. Terbukti dengan berhasilnya Pemerintah Aceh menerima predikat WTP untuk kedua kalinya.
Pada Tahun Anggaran 2017, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh menetapkan 4(empat) sasaran strategis dan 10(sepuluh) indikator kinerja, sebagaimana tertuang dalam perjanjian kinerja antara Gubernur Aceh dengan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh. Dari perhitungan rata-rata kinerja atau akumulatif kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun Anggaran 2017 mencapai persentase 77,06%, dengan rata-rata realisasi keuangan sebesar 63,58%.
Hal yang menjadi perhatian bersama untuk menjadi acuan bagi peningkatan kinerja di tahun-tahun mendatang dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Pengelolaan Keuangan Aceh, antara lain:
1. Meningkatkan komitmen atas seluruh kebijakan untuk melaksanakan tugas dan fungsi secara konsisten dan konsekuen, dengan pemantapan koordinasi atas penetapan tujuan dan sasaran untuk mendukung tercapainya visi dan misi;
2. Keberhasilan yang dicapai Badan Pengelolaan Keuangan Aceh bukan semata-mata karena kapabilitas dan kompetensi ataupun keunggulan aparatur, tetapi juga karena adanya konsistensi dari jajaran pimpinan dalam melakukan manajeman dan kontrol yang baik serta kerjasama tim work yang dibangun dengan dasar saling mendukung dan percaya.
pelaksanaan tugas dapat segera diselesaikan.
Pencapaian kinerja yang demikian hendaknya terus dan ditingkatkan dengan mengakomodasikan seluruh aspirasi dan kepentingan pada stakeholders.
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya sehingga Laporan Kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun 2017 telah selesai disusun. Laporan Kinerja ini disusun sebagai upaya memenuhi amanah Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang dirancang untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data, pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja instansi pemerintah.
Penyusunan Laporan Kinerja ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban formal atas seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan guna mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian sasaran yang berkaitan dengan tujuan yang telah ditetapkan Satuan Kerja Perangkat Aceh di dalam Perjanjian Kinerja antara Kepala Daerah dengan Kepala SKPA.
Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Aceh Nomor 101 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Anggaran Aceh, Perbendaharaan, Akuntansi, Pembinaan dan Evaluasi Anggaran Kabupaten/Kota, Asset, Pendapatan dan UPTD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penyusunan Laporan Kinerja Tahun 2017 merupakan gambaran realisasi kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun 2017 sekaligus sebagai tolak ukur dan bahan untuk melakukan perbaikan atau peningkatan kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh secara berkesinambungan.
ii
Demikian Laporan Kinerja ini dibuat, mudah-mudahan bisa menjadi bahan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam menilai kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh.
Akhir kata kami berharap semoga laporan ini dapat digunakan sebagai masukan dan acuan untuk peningkatan kinerja pengelolaan keuangan secara menyeluruh dalam rangka mewujudkan tata kelola birokrasi yang adil, bersih dan melayani.
Banda Aceh, Februari 2018 KEPALA BADAN PENGELOLAAN
KEUANGAN ACEH
JAMALUDDIN, SE, M.Si.Ak PEMBINA UTAMA MUDA
iii DAFTAR ISI
Halaman IKHTISAR EKSEKUTIF
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 2
1.2 Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi ... 3
1.3 Isu Strategis ... 4
1.4 Struktur Organisasi ... 5
1.5 Permasalahan yang dihadapi ... 8
BAB II RENCANA STRATEGIK DAN RENCANA KINERJA 2.1 Rencana Strategis ... 10
2.2 Visi dan Misi ... 10
2.2.1 Visi ... 10
2.2.2 Misi ... 11
2.3 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ... 11
2.3.1 Tujuan Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ... 11
2.3.2. Sasaran Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ... 12
iv
2.4 Strategi dan Kebijakan... 12
2.4.1 Strategi ... 12
2.4.2 Kebijakan ... 13
2.5 Indikator Kinerja Utama 2017-2022... 14
2.6 Perjanjian Kinerja Tahun 2017 ... 15
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1 Capaian Kinerja Organisasi ... 16
3.1.1 Persentase SKPA Yang Menyampaikan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sesuai dengan SOP ... 19
3.1.2 Persentase Kontribusi Pajak Aceh terhadap Pendapatan Asli Aceh ... 23
3.1.3 Persentase Kontribusi Pendapatan Asli Aceh terhadap Pendapatan dan Belanja Aceh ... 24
3.1.4 Jumlah Inovasi Pelayanan Samsat ... 25
3.1.5 Persentase Penilaian Kembali Aset Pemerintah Aceh yang Belum Memiliki Nilai ... 26
3.1.6 Persentase Penghapusan dan Pemindahtanganan Aset Pemerintah Aceh ... 27
3.1.7 Persentase Peningkatan Pemanfaatan/Penggunaan Aset Idle ... 27
3.1.8 Persentase Pengamanan Aset Pemerintah Aceh ... 28
3.1.9 Persentase Digitalisasi Dokumen Kepemilikan BMA ... 28
v
3.1.10 Terlaksananya Implementasi Regional SIKD kepada
Kabupaten/Kota... 29
3.2 Realisasi Anggaran ... 30
3.2.1 Sasaran Strategis 1 ... 31
3.2.2 Sasaran Strategis 2 ... 31
3.2.2 Sasaran Strategis 3 ... 32
3.2.2 Sasaran Strategis 4 ... 32
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 34
4.2 Upaya dimasa mendatang……….. ... 36 LAMPIRAN
1. Perjanjian Kinerja ………
2. Rencana Aksi ………...
3. Pengukuran Kinerja………..
2017
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH
LAPORAN
KINERJA
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 2 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA) dibentuk dengan Qanun Aceh Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Aceh dan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 101 Tahun 2016 tentang susunan organisasi, tugas, fungsi dan tata kerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh. Pembentukan Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Dinas tersebut merupakan implementasi dari Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Badan Pengelolaan Keuangan Aceh merupakan penggabungan dari 2(dua) Dinas yaitu Dinas Keuangan Aceh dan Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh.
Menurut Qanun tersebut, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh merupakan unsur pendukung Pemerintah Aceh yang melaksanakan urusan pemerintahan dan pembangunan di bidang pengelolaan keuangan daerah yang dipimpin oleh seorang kepala badan serta berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah.
Secara umum tugas, fungsi dan kewenangan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh berhubungan dengan pengelolaan keuangan daerah dan organisasi pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat. Karena itu, Badan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 3 Pengelolaan Keuangan Aceh mempunyai peranan yang vital dalam mendukung peran strategik Pemerintah Aceh untuk mewujudkan visi dan misinya.
Laporan Kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Siklus Laporan Kinerja diawali dengan penyusunan rencana strategik yang mendefinisikan tujuan, sasaran serta program Badan Pengelolaan Keuangan Aceh, yang kemudian pada setiap tahunnya ditetapkan dalam bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan visi, misi, tujuan serta sasaran Badan yang telah ditetapkan. Setelah itu, pada setiap akhir periode pengukuran kinerja dilaksanakan untuk menilai sejauh mana pencapaian kinerja dari pelaksanaan program dan kegiatan yang telah dilaksanakan. Capaian kinerja yang berhasil diperoleh itu dikomunikasikan kepada para stakeholder dalam wujud Laporan Kinerja yang dapat digunakan sebagai alat untuk membuat kebijakan dan keputusan oleh para stakeholder dalam pelaksanaan program dan kegiatan di masa yang akan datang.
1.2 Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 101 Tahun 2016, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh melaksanakan tugas umum pemerintahan di bidang pengelolaan keuangan dan kekayaan Aceh sesuai dengan perundang-undangan.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 4 Untuk melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas Badan Pengelolaan Keuangan Aceh mempunyai fungsi:
a. pelaksanaan penyiapan bahan kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBA;
b. pelaksanaan pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran;
c. pengendalian pelaksanaan APBA;
d. pelaksanaan dan pengkoordinasian penyusunan petunjuk teknis tentang sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah;
e. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBA oleh BANK dan atau lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk;
f. pelaksanaan dan pengkoordinasian terhadap pengaturan dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBA;
g. pelaksanaan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi;
h. pelaksanaan dan pengkoordinasian pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran;
i. pelaksanaan dan pengendalian sistem akuntansi dan pelaporan keuangan aceh;
j. pelaksanaan penyajian informasi keuangan aceh;
k. pelaksanaan penatausahaan asset Aceh; dan
1. pelaksanaan koordinasi dengan instansi dan/atau lembaga terkait lainnya di bidang pengelolaan keuangan Aceh.
1.3 Isu Strategis
Permasalahan utama yang dihadapi Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dalam melaksanakan tugas dan fungsinya antara lain :
1. Meningkatnya sarana dan prasarana pelayanan dan penunjang pelaksanaan tugas perkantoran
2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM aparatur 3. Penguatan kelembagaan
4. Membentuk payung hukum sesuai dengan pelaksanaan tugas dan fungsi
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 5 5. Meningkatkan kemandirian daerah
1.4 Struktur Organisasi
Struktur organisasi Badan Pengelolaan Keuangan Aceh terdiri dari:
1. Kepala Badan
2. Sekretariat, yang membawahi :
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;
b. Sub Bagian Penyusunan Program; dan c. Sub Bagian Keuangan
3. Bidang Anggaran Aceh, yang membawahi : a. Sub Bidang Penyusunan Anggaran;
b. Sub Bidang Pengendalian Anggaran; dan
c. Sub Bidang Anggaran Badan Layanan Umum Daerah.
4. Bidang Perbendaharaan, yang membawahi : a. Sub Bidang Belanja Tidak Langsung;
b. Sub Bidang Belanja Langsung; dan c. Sub Bidang Pembinaan Perbendaharaan.
5. Bidang Akuntansi, yang membawahi : a. Sub Bidang Akuntasi Pendapatan;
b. Sub Bidang Akuntansi Belanja; dan c. Sub Bidang Penyajian Laporan Keuangan.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 6 6. Bidang Pembinaan dan Evaluasi Anggaran Kabupaten/Kota, yang
membawahi :
a. Sub Bidang Wilayah I;
b. Sub Bidang Wilayah II; dan c. Sub Bidang Wilayah III.
7. Bidang Asset, yang membawahi : a. Sub Bidang Penatausahaan Asset;
b. Sub Bidang Legalitas dan Pengamanan Asset; dan c. Sub bidang Pemindahtanganan Asset.
8. Bidang Pendapatan, yang membawahi : a. Sub Bidang Pendapatan Asli Aceh;
b. Sub Bidang Dana Perimbangan dan Lain Pendapatan Yang Sah; dan c. Sub Bidang Pengembangan Pendapatan Asli Aceh.
9. Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD)
Masing-masing Jabatan tersebut dipimpin oleh Eselon II, Eselon III, dan Eselon IV, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada atasan langsung secara berjenjang. Jumlah pegawai tersebut di atas yang termasuk dalam pemangku jabatan struktural sebanyak 33 posisi. Untuk saat ini, jumlah pegawai di Badan Pengelolaan Keuangan Aceh per 31 Desember 2017 berjumlah 369 orang dengan rincian dapat dilihat berikut ini:
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 7 Tabel 1.1
Komposisi Pegawai Berdasarkan Pangkat/Gol. dan Pendidikan
No. JABATAN Pangkat/Gol.
I II III IV JLH
1. Kepala Dinas - - - 1 1
2. Sekretariat - 12 46 5 63
3. Bid. Anggaran Aceh - 1 12 1 14
4. Bid. Perbendaharaan - 7 22 3 32
5. Bid. Akuntansi - 4 16 2 22
6. Bid. Pembinaan dan Evaluasi Anggaran Kab/Kota
- 1 16 2 19
7. Bid. Asset - 3 26 3 32
8. Bid. Pendapatan - 5 23 5 33
9. UPTB/Samsat 3 37 109 4 153
TOTAL 3 70 270 26 369
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 8 Tabel 1.2
Komposisi Pegawai Menurut Jenis kelamin
No. Jabatan/Bidang Jumlah Gender
Orang Pria Persentase Wanita Persentase
1. Kepala Dinas 1 1 0.27 - -
2. Sekretariat 63 36 9.76 27 7.32
3. Bid. Anggaran Aceh 14 10 2.71 4 1.08
4. Bid. Perbendaharaan 32 9 2.44 23 6.23
5. Bid. Akuntansi 22 11 2.98 11 2.98
6. Bid. Pembinaan dan Evaluasi Anggaran Kab/Kota 19 14 3.79 5 1.36
7. Bid. Asset 32 21 5.69 11 2.98
8. Bid. Pendapatan 33 17 4.61 16 4.34
9. UPTB/Samsat 153 120 41.46 33 8.94
TOTAL 369 65 51.59 61 48.42
1.5 Permasalahan Yang Dihadapi a. Sarana dan Prasarana
- Terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan dan penunjang pelaksanaan tugas seperti komputer, printer, gedung samsat yang kurang layak, gudang arsip, lahan untuk pembangunan sarana perkantoran serta sarana lain yang menyangkut dengan pelayanan kepada masyarakat.
b. SDM
- Lemahnya kualitas SDM aparatur di bidang pengelolaan keuangan baik pada sektor kesamsatan, perencanaan, pelaporan, aset, pendapatan dan penganggaran.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 9 - Jumlah pegawai yang tersedia masih kurang terutama yang terdapat
pada samsat.
c. Kelembagaan
- Struktur organisasi BPKA yang di tetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 101 Tahun 2016 belum mampu mengakomodir tugas dan fungsi BPKA terutama tugas kesamsatan, aset, pendapatan, informasi tekhnologi dan bidang anggaran terutama setelah dikeluarkannya Permendagri Nomor 5 Tahun 2017.
d. Regulasi
- Banyaknya regulasi baru yang dikeluarkan pemerintah pusat mengakibatkan pemerintah daerah harus terus menyesuaikan diri - Belum adanya payung hukum dalam pelaksanaan tugas seperti SOP
dan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan
e. Kemandirian Daerah
- Pendapatan Aceh belum mampu memberikan kontribusi besar terhadap jumlah belanja yang setiap tahunnya, sehingga Aceh masih sangat bergantung pada pendapatan transfer
- Masih banyaknya potensi pajak yang lost terutama pajak kendaraan bermotor
- Diperlukan objek baru pada sektor pendapatan demi mempersiapkan diri dari ketergantungan daerah pada pendapatan yang bersumber dari otsus
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 10 BAB II
PERENCANAAN KINERJA
2.1 Rencana Strategis
Rencana Strategis adalah Dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun yang memuat tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Renstra BPKA berpedoman kepada dokumen RPJM dan bersifat indikatif, tidak kaku dan dapat berubah sesuai dengan kondisi keuangan dan kebijakan daerah. Diharapkan dengan adanya rencana strategis ini, pelaksanaan tugas, fungsi dan kewenangan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dapat dilakukan secara lebih terarah dan terkendali serta dapat diekspresikan membantu pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran Pemerintah Aceh sebagai wujud pertanggungjawaban dari komitmen Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dalam pengelolaan keuangan yang bersifat tertib, taat peraturan perundang-undangan, efektif, efesien dan transparan.
2.2 Visi dan Misi 2.2.1 Visi
Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi juga merupakan suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang ingin diwujudkan dengan dukungan semua elemen terkait, masukan dari semua pihak.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 11 Salah satu tujuan dari pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Pengelolaan Keuangan Aceh adalah mensukseskan visi Gubernur Aceh.
2.2.2 Misi
Misi adalah “what be believe we can do” yaitu sesuatu yang harus dilaksanakan oleh instansi pemerintah sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan.
Misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh instansi agar tujuan instansi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Dengan pernyataan misi tersebut, diharapkan seluruh pegawai dan pihak yang berkepentingan dapat mengenal instansi dan mengetahui peran dan fungsinya untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan dari misi dan program unggulan yang telah ditetapkan Gubernur Aceh, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ditugaskan mendukung dan mensukseskan misi ke 1 yakni Reformasi birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih dan melayani dengan program unggulannya Aceh Peumulia.
2.3 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan Aceh
2.3.1 Tujuan Jangka Menengah Badan Pengelolaan Keuangan Aceh
1. Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan masyarakat
2. Terpenuhinya kebutuhan kuantitas dan kualitas Sumber daya aparatur dalam pengelolaan keuangan
3. Struktur organisasi BPKA ke depan diharapkan dibentuk sesuai dengan pembebanan tugas dan fungsi
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 12 4. Adanya payung hukum dalam pelaksanaan semua tugas dan fungsi 5. Meningkatnya potensi pendapatan Aceh baik dari sektor pajak, retribusi
dan pendapatan aceh lainnya.
6. Terwujudnya tertib administrasi bukti kepemilikan aset Pemerintah Daerah.
7. Terwujudnya pengamanan aset secara administrasi dan fisik asset milik Pemerintah Daerah.
2.3.2 Sasaran Jangka Menengah BPKA
Sasaran merupakan suatu kondisi ideal yang hendak dicapai dalam rangka pengelolaan pendapatan, keuangan dan asset daerah. Sasaran yang ingin dicapai tersebut antara lain:
1. Terselengaranya tugas dan fungsi kedinasan serta pelayanan kepada masyarakat
2. Lahirnya aparatur sipil negara yang handal dalam pengelolaan keuangan 3. Struktur organisasi harus mampu mengakomodir tugas dan fungsi 4. Kepastian hukum dalam pelaksanaan tugas
5. Terwujudnya kemandirian daerah
6. Meningkatnya tertib administrasi penataan aset millik Pemerintah daerah
2.4 Strategi dan Kebijakan 2.4.1 Strategi
1. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas dan pelayanan
2. Peningkatan kuantitas dan kualitas aparatur
3. Restrukturisasi kelembagaan sesuai dengan tugas dan fungsi
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 13 4. Membuat peraturan sebagai landasan pelaksanaan tugas
5. Memberlakukan pajak progresif 6. Menggali potensi baru pendapatan aceh 7. Penagihan pajak secara langsung
8. Terdatanya asset pemerintah aceh terutama tanah dan bangunan 9. Tersertifikat asset tanah pemerintah aceh dan melakukan pengamanan
terhadap asset lainnya
2.4.2 Kebijakan
Arahan kebijakan yang dirumuskan dalam menentukan program dan kegiatan adalah:
1. Memprioritaskan pemenuhan sarana dan prasarana
2. Melakukan pembinaan SDM dengan cara mengikuti diklat, bimtek dan pembinaan lainnya
3. Melakukan restrukturisasi kembali kelembagaan BPKA
4. Membuat produk hukum yang bisa menjadi landasan dalam pelaksanaan tugas
5. Memperkaya inovasi dalam pemungutan pajak daerah seperti samsat keliling, samsat drive thru, samsat jempol, atm samsat dan samsat pojok 6. Mendata potensi pajak baik potensi pajak baru maupun potensi yang lost
pajak
7. Mencari dan mendata asset pemerintah aceh
8. Asset yang telah ditemukan dan didsata dibuat sertifikatnya
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 14 2.5 Indikator Kinerja Utama 2017-2022
Indikator Kinerja Utama merupakan acuan ukuran kinerja yang digunakan untuk menetapkan Rencana Kerja Anggaran, menyusun Dokumen Penetapan Kinerja, menyusun Laporan Kinerja serta melakukan evaluasi pencapaian kinerja sesuai dengan Dokumen Rencana Strategis Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun 2017-2022.
Tabel 2.1
Indikator Kinerja Utama 2017-2022
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA
FORMULA/CARA
PENGUKURAN PENJELASAN SUMBER DATA
1 Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan daerah secara tertib, efektif dan efisien sesuai peraturan perundang-undangan
Persentase SKPA Yang Menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan Tepat Waktu
Perbandingan antara jumlah SKPA yang menyampaikan laporan keuangan tahunan tepat waktu dengan jumlah keseluruhan SKPA
Permendagri No.
13 Tahun 2006
Bidang Akuntansi
2 Meningkatnya Pendapatan Asli Aceh
Persentase peningkatan realisasi Pendapatan Asli Aceh dibandingkan dengan tahun sebelumya
Perolehan nilai jumlah realisasi Pendapatan Asli Aceh
dibandingkan dengan Pendapatan Asli Aceh tahun lalu
PP Nomor 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah
Bidang Pendapatan
3 Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan Kab/Kota
Jumlah Dokumen APBK dan pertanggungjawaban APBK yang dievaluasi Tepat Waktu
Penetapan hasil evaluasi APBD dan pertanggungjawaban maksimal 15 hari kerja
Permendagri No.
13 Tahun 2006
Bidang Pembinaan dan Evaluasi
Anggaran Kabupaten/Kota
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 15 2.6 Perjanjian Kinerja Tahun 2017
Dalam dokumen perjanjian kinerja Badan Pengelolaan Aceh Tahun Anggaran 2017 telah ditetapkan beberapa indikator kinerja dan target yang harus dicapai.
Perumusan penetapan kinerja tersebut diikuti dengan program dan kegiatan serta anggaran yang dibutuhkan untuk mewujudkan sasaran, indikator kinerja dan target yang telah ditentukan.
Tabel 2.2
Perjanjian Kinerja Tahun 2017
No. SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET
(1) (2) (3) (4)
1 Tersusunnya Laporan Keuangan tepat waktu
Persentase SKPA Yang Menyampaikan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sesuai dengan SOP
100%
2 Optimalisasi Potensi dan Realisasi Pendapatan Aceh
1. Persentase Kontribusi Pajak Aceh terhadap Pendapatan Asli Aceh
60%
2. Persentase Kontribusi Pendapatan Asli Aceh terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
15%
3. Jumlah Inovasi Pelayanan Samsat 2 jenis
3 Tertib Administrasi Pengelolaan Aset
1. Persentase Penilaian Kembali Aset Pemerintah Aceh yang Belum Memiliki Nilai
20%
2. Persentase Penghapusan dan Pemindahtanganan Aset Pemerintah Aceh
30%
3. Persentase Peningkatan Pemanfaatan/Penggunaan Aset Idle
20%
4. Persentase Pengamanan Aset Pemerintah Aceh 60%
5. Persentase terdigitalisasinya dokumen kepemilikan BMA
60%
4 Terintegrasinya data keuangan kab/kota
Terlaksananya Implementasi Regional SIKD kepada Kabupaten/Kota
23 Kab/Kota
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 16 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 Capaian Kinerja Organisasi
Pengukuran kinerja adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan instansi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara target rencana kinerja dengan realisasi kinerja yang telah dicapai.
Pengukuran kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh meliputi pencapaian target indikator kinerja utama yang ditetapkan dalam penetapan kinerja tahunan. Dari hasil Pengukuran Indikator Kinerja Utama Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun 2017 kita dapat melihat sejauh mana realisasi pencapaian IKU tersebut seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1
Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Utama
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA REALISASI 2017 Meningkatnya kualitas pengelolaan
keuangan daerah secara tertib, efektif dan efisien sesuai peraturan perundang- undangan
Persentase SKPA Yang
Menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan Tepat Waktu
97,96%
Meningkatnya Pendapatan Asli Aceh Persentase peningkatan realisasi Pendapatan Asli Aceh dibandingkan dengan tahun sebelumya
1,63%
Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan Kab/Kota
Jumlah Dokumen APBK dan pertanggungjawaban APBK yang dievaluasi Tepat Waktu
23 Kab/Kota
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 17 Dari hasil pengukuran kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh tahun 2017 dapat diketahui sejauh mana keberhasilan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dari pencapaian terhadap 4 (empat) sasaran strategis dan 10 (sepuluh) indikator kinerja, yaitu:
Sasaran Strategis 1 : Tersusunnya Laporan Keuangan tepat waktu Adapun pencapaian kinerja dari indikator kinerja ini pada sasaran strategis ini sebagai berikut:
Tabel 3.2
Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis 1
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PERSENTASE TINGKAT
CAPAIAN (%) Persentase SKPA Yang
Menyampaikan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sesuai dengan SOP
100% 97,96% 97,96%
RATA-RATA PERSENTASE TINGKAT CAPAIAN 97,96%
Sasaran Strategis 2 : Optimalisasi Potensi dan Realisasi Pendapatan Aceh
Adapun pencapaian kinerja dari indikator kinerja pada sasaran strategis ini sebagai berikut:
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 18 Tabel 3.3
Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis 2
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PERSENTASE TINGKAT
CAPAIAN (%) Persentase Kontribusi Pajak
Aceh terhadap Pendapatan Asli Aceh
Persentase Kontribusi Pendapatan Asli Aceh terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
Jumlah Inovasi Pelayanan Samsat
60%
15%
2 Jenis
60,65%
14,04%
3 Jenis
103,46%
93,61%
150%
RATA-RATA PERSENTASE TINGKAT CAPAIAN 114,90%
Sasaran Strategis 3 : Tertib Administrasi Pengelolaan Aset
Adapun pencapaian kinerja dari indikator kinerja pada sasaran strategis ini sebagai berikut:
Tabel 3.4
Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis 3
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PERSENTASE TINGKAT
CAPAIAN (%) Persentase Penilaian Kembali
Aset Pemerintah Aceh yang Belum Memiliki Nilai Persentase Penghapusan dan Pemindahtanganan Aset Pemerintah Aceh Persentase Peningkatan Pemanfaatan/Penggunaan Aset Idle
Persentase Pengamanan Aset Pemerintah Aceh
Persentase terdigitalisasinya dokumen kepemilikan BMA
20%
30%
20%
60%
60%
25%
1,94%
0%
31,26%
78,83%
125%
6,47%
0%
52,10%
131,38%
RATA-RATA PERSENTASE TINGKAT CAPAIAN 62,99%
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 19
Sasaran Strategis 4 : Terintegrasinya data keuangan kab/kota
Adapun pencapaian kinerja dari indikator kinerja pada sasaran strategis ini sebagai berikut:
Tabel 3.5
Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis 4
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PERSENTASE TINGKAT
CAPAIAN (%) Terlaksananya
Implementasi Regional SIKD kepada
Kabupaten/Kota
23 Kab/Kota 3 Kab/Kota 13,04%
RATA-RATA PERSENTASE TINGKAT CAPAIAN 13,04%
3.1.1 Persentase SKPA Yang Menyampaikan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2016 sesuai dengan SOP
Badan Pengelolaan Keuangan Aceh selain berperan sebagai SKPA juga mempunyai peran sebagai Pejabat Pengelola Keuangan Aceh (PPKA) dan berpedoman kepada amanat Pasal 294 Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, mewajibkan seluruh kepala SKPA menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPA kepada PPKA untuk dijadikan dasar penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir (pasal 295 Permendagri 13 Tahun 2006).
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 20 Laporan Keuangan SKPA yang disampaikan kepada Badan Pengelolaan Keuangan Aceh selaku PPKA seluruhnya dapat disampaikan tepat waktu hanya 1 (satu) SKPA yang tidak dapat menyampaikan secara tepat waktu yaitu Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh namun hal ini tidak mengganggu kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Aceh, terbukti dengan berhasilnya Pemerintah Aceh menerima predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Daftar serah terima laporan keuangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.4
Laporan Keuangan SKPA Tepat Waktu
NO KODE
SKPA NAMA SKPA TANGGAL NOMOR BERITA
ACARA 1 1.20.07 Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta 11 Januari 2017 001/I/AKT/2017
2 1.13.01 Dinas Sosial 12 Januari 2017 002/I/AKT/2017
3 1.22.01 Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) 17 Januari 2017 003/I/AKT/2017 4 1.17.03 Keurukonan Katibul Wali/Sekretariat Lembaga
Wali Nanggroe Aceh
18 Januari 2017 004/I/AKT/2017 5 1.01.03 Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah 19 Januari 2017 005/I/AKT/2017 6 1.01.02 Badan Pembinaan Pendidikan Dayah 23 Januari 2017 006/I/AKT/2017
7 1.02.04 Rumah Sakit Ibu dan Anak 24 Januari 2017 007/I/AKT/2017
8 1.20.04 Sekretariat DPRA 30 Januari 2017 008/I/AKT/2017
9 1.20.06 Inspektorat Aceh 31 Januari 2017 009/I/AKT/2017
10 1.06.01 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 31 Januari 2017 010/I/AKT/2017 11 1.17.02 Sekretariat Majelis Adat Aceh 31 Januari 2017 011/I/AKT/2017
12 1.20.09 Dinas Syariat Aceh 31 Januari 2017 012/I/AKT/2017
13 1.10.01 Dinas Registrasi Kependudukan Aceh 01 Februari 2017 013/I/AKT/2017 14 1.24.01 Badan Arsip dan Perpustakaan 01 Februari 2017 014/I/AKT/2017 15 2.07.01 Dinas Perindustrian dan Perdagangan 01 Februari 2017 015/I/AKT/2017
16 1.02.03 Rumah Sakit Jiwa 01 Februari 2017 016/I/AKT/2017
17 1.15.01 Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 01 Februari 2017 017/I/AKT/2017
18 1.20.05 Dinas Keuangan Aceh 01 Februari 2017 018/I/AKT/2017
19 1.02.01 Dinas Kesehatan 01 Februari 2017 019/I/AKT/2017
20 2.03.01 Dinas Pertambangan dan Energi 02 Februari 2017 020/I/AKT/2017
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 21
21 1.08.01 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan 03 Februari 2017 021/I/AKT/2017
22 1.01.01 Dinas Pendidikan 06 Februari 2017 022/I/AKT/2017
23 1.03.02 Dinas Pengairan 06 Februari 2017 023/I/AKT/ 2017
24 1.20.12 Badan Penanggulangan Bencana Aceh 06 Februari 2017 024/I/AKT/2017 25 1.20.11 Sekretariat Baitul Maal 06 Februari 2017 025/I/AKT/2017 26 2.01.02 Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan 07 Februari 2017 026/I/AKT/2017
27 1.03.01 Dinas Bina Marga 07 Februari 2017 027/I/AKT/2017
28 2.01.01 Dinas Petanian Tanaman Pangan 07 Februari 2017 028/I/AKT/2017 29 1.20.08 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan 07 Februari 2017 029/I/AKT/2017 30 1.16.01 Badan Investasi dan Promosi 07 Februari 2017 030/I/AKT/2017 31 1.02.02 Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin 08 Februari 2017 031/I/AKT/2017
32 1.03.03 Dinas Cipta Karya 08 Februari 2017 032/I/AKT/2017
33 1.17.01 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 08 Februari 2017 033/I/AKT/2017 34 1.14.01 Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk 10 Februari 2017 034/I/AKT/2017 35 1.21.01 Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan 10 Februari 2017 035/I/AKT/2017 36 2.05.01 Dinas Kelautan dan Perikanan 10 Februari 2017 036/I/AKT/2017 37 1.20.14 Sekretariat DPP KORPRI Aceh 10 Februari 2017 037/I/AKT/2017 38 1.20.10 Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama 13 Februari 2017 038/I/AKT/2017 39 1.19.01 Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan
Masyarakat
13 Februari 2017 039/I/AKT/2017
40 1.11.01 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 14 Februari 2017 040/I/AKT/2017
41 2.02.01 Dinas Kehutanan 14 Februari 2017 041/I/AKT/2017
42 1.19.02 Satuan Polisi Pamong Prajadan Wilayatul Hisbah 14 Februari 2017 042/I/AKT/2017 43 1.07.01 Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan
Telematika
14 Februari 2017 043/I/AKT/2017 44 1.20.13 Badan Pelayanan Perizinan 17 Februari 10`7 044/I/AKT/2017
45 2.01.03 Dinas Perkebunan 21 Februari 2017 045/I/AKT/2017
46 1.20.02 Sekretariat Daerah 23 Februari 2017 046/I/AKT/2017
47 1.20.03 Kepala Daerah & Wakil Kepala Daerah 23 Februari 2017 047/I/AKT/2017 48 1.18.01 Dinas Pemuda dan Olahraga 28 Februari 2017 048/I/AKT/2017 49 1.20.15 Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh 01 Maret 2017 049/I/AKT/2017
Ketaatan SKPA dalam menyampaikan laporan keuangan kepada PPKA sangat membantu PPKA dalam menyiapkan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh tepat pada waktunya dan hal ini adalah salah satu prestasi yang dicapai oleh pemerintah Aceh.
Keberhasilan ini dapat dicapai karena komitmen dan kerja keras tim Badan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 22 Pengelolaan Keuangan Aceh yang tidak lelah dan bosan terus menerus melakukan pembinaan dan bimbingan kepada seluruh pengelola laporan keuangan SKPA setiap tahunnya. Terlebih dengan eksisnya klinik akutansi yang telah ada sejak tahun 2015 yang memudahkan bidang akuntansi dalam mengkonsolidasi laporan keuangan SKPA. Dengan adanya klinik akuntansi diharapkan permasalahan SKPA dalam hal laporan keuangan dapat terdekteksi sejak awal sehingga laporan keuangan SKPA dapat selesai tepat waktu dan seterusnya dikonsolidasikan menjadi Laporan Pemerintah Aceh juga dapat selesai tepat waktu sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.
Banyak cara yang telah dilakukan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh demi tercapainya prestasi ini, seperti dilakukannya sosialisasi Bimtek Akuntansi Aset Tetap, Bimtek Non Tunai, Akuntansi Aset Tetap, Akuntansi Aset Tak Terwujud serta Akuntansi Hibah dan Akuntansi Bantuan Sosial, Bimtek Akuntansi Penyusutan Aset Tetap, Aset Tetap Renovasi serta Akuntansi Hibah dan Akuntansi Bantuan Sosial, serta Bimtek Persiapan Penyusunan Lap. Keu. SKPA TA. 2017.
Gambar 3.1. Bimbingan Teknis Non Tunai, Akuntansi Aset Tetap, Akuntansi Aset Tak Berwujud serta Akuntansi Hibah dan Akuntansi Bantuan Sosial
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 23 Selain kegiatan di atas juga ada kegiatan lain yang dilakukan untuk membantu lancarnya proses penyusunan laporan keuangan akhir tahun seperti bimtek Tatacara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya, sosialisasi gerakan nasioanal non tunai dan langkah-langkah menghadapi akhir tahun 2017 dan sosialisasi penatausahaan keuangan dalam rangka rekonsiliasi data belanja pegawai pengalihan PNSD.
Dalam pencapaian target perjanjian kinerja, sumber daya aparatur yang terlibat sangat efesien hal ini dibuktikan dengan 22 pegawai Bidang Akuntansi yang secara langsung terlibat dalam proses ini (laporan keuangan SKPA).
Hasil dari kerja keras Badan Pengelolaan Keuangan Aceh tidak berhenti sampai perjanjian kinerja saja, hal ini terbukti dengan berhasilnya Pemerinta Aceh untuk kedua kalinya menerima predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) di Tahun 2017 ini.
3.1.2. Persentase Kontribusi Pajak Aceh terhadap Pendapatan Asli Aceh
Seperti yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah. Adapun jenis-jenis pajak Aceh menurut Qanun Nomor 2 Tahun 2012, adalah :
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 24 a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Air Permukaan;
e. Pajak Rokok.
Untuk tahun 2017 realisasi Pendapatan Pajak Aceh sebanyak Rp.
1.269.929.108.404,- dari pagu sebesar Rp. 1.299.742.665.000,- atau 97,71%. Dan realisasi Pendapatan Asli Aceh sebesar Rp. 2.093.814.395.825,- dari pagu sebesar Rp. 2.247.274.970.755,- atau 93,17%. Jadi persentase kontribusi pajak Aceh terhadap Pendapatan Asli Aceh sebesar 60,65%.
3.1.3. Persentase Kontribusi Pendapatan Asli Aceh terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
Pendapatan Asli Aceh terdiri dari pendapatan pajak aceh, pendapatan retribusi daerah, pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang sah. Pada tahun 2017 Pemerintah Aceh menganggarkan Pendapatan Asli Aceh sebesar Rp. 2.247.274.970.755,- dengan realisasi sebesar 93,17%.
Belanja Aceh sesuai Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2017 sebesar Rp.
14.911.632.809.908,- mengalami kenaikan sebesar 15,82% dibandingkan tahun yang lalu. Dengan persentase kontribusi Pendapatan Asli Aceh terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh sebesar 14,04%. Angka tersebut berada dibawah target 15%, hal ini disebabkan karena pada tahun 2017 Pemerintah Aceh melaksanakan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 25 Pembebasan/Keringanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Pembebasan/Keringanan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Kedua untuk Kendaraan Bermotor Nomor Polisi Aceh (BL) dan Luar Aceh (Non BL) sesuai dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 23 dan 24 Tahun 2017.
3.1.4. Jumlah Inovasi Pelayanan Samsat
Dalam rangka memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dekat dan tanpa biaya tambahan maka Badan Pengelolaan Keuangan Aceh pada tahun 2017 ini melakukan beberapa inovasi dalam pelayanan kesamsatan, diantaranya adalah :
1. Mobil Samsat Keliling
Samsat keliling adalah mobil yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa menjalankan fungsi sebagai wadah bagi masyarakat dalam membayar pajak. Samsat keliling bertujuan mendekatkan pelayanan kepada wajib pajak yang berada di lokasi keramaian atau akses yang mudah dijangkau, sehingga wajib pajak tidak selalu harus pergi ke kantor samsat untuk membayar pajak. Pada tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh mengoperasikan 2 unit samsat keliling yang berlokasi di Banda Aceh dan Pidie-Pidie Jaya, dan akan terus ditingkatkan jumlahnya untuk dioperasikan pada kabupaten/kota lain.
2. Membangun Samsat Drive Thru
Samsat ini diperuntukkan kepada wajib pajak yang sedang dalam perjalanan dan tidak lagi merasa khawatir dengan pajaknya yang mati.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 26 3. Samsat Gampong
Samsat gampong adalah salah satu inovasi terbaru yang dilakukan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dengan targetnya adalah wajib pajak yang berada di gampong/desa.
Dalam perjanjian kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh menargetkan untuk melahirkan 2 jenis inovasi pada tahun 2017, namun sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2017 jumlah inovasi yang telah dilakukan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh berjumlah 3 jenis inovasi maka tingkat capaianan hasil indikator kinerja ini sebesar 150%.
Dalam pencapaian target perjanjian kinerja pada sasaran strategis 2 ini, sumber daya aparatur yang terlibat sebanyak 33 orang pegawai Bidang Pendapatan serta 20 orang pegawai UPTD/Samsat yang tersebar di Kabupaten/Kota.
3.1.5. Persentase Penilaian Kembali Aset Pemerintah Aceh yang Belum Memiliki Nilai
Sampai dengan awal tahun 2017, Pemerintah Aceh melalui Bidang Aset telah berhasil menetapkan sejumlah 823 aset yang belum memiliki nilai atau bernilai 1(satu). Untuk tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh melalui Bidang Aset menargetkan akan melakukan penilaian kembali sebanyak 20% dari jumlah aset yang belum memiliki nilai tersebut. Proses penilaian kembali ini melibatkan lintas sektoral yaitu Badan Pengelolaan Keuangan Aceh selaku pengelola aset, SKPA terkait selaku pengurus aset dan KJPP selaku tim penilai aset yang independen.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 27 Proses yang dilaksanakan sampai dengan akhir Desember 2017 telah berhasil melakukan penilaian kembali sebanyak 206 aset atau 25% dari jumlah aset yang belum memiliki nilai.
3.1.6. Persentase Penghapusan dan Pemindahtanganan Aset Pemerintah Aceh Setelah dilakukan kegiatan sensus aset maka didapatilah beberapa item aset yang sebenarnya berada dan dikuasai oleh pihak lain diluar Pemerintah Aceh seperti Pemerintah Kabupate/Kota dan instansi lain dengan nilai aset sebesar Rp.
2.033.263.844.596,-. Namun pencatatan aset tersebut masih berada di Pemerintah Aceh yang tersebar di beberapa SKPA. Sesuai dengan aturan yang berlaku aset-aset tersebut harus dilakukan proses penghapusan dan pemindahtanganan kepada penguasa/pengguna aset tersebut.
Pada tahun anggaran 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh menargetkan akan melakukan proses penghapusan dan pemindahtanganan sebesar 30% dari nilai aset tersebut, akan tetapi sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh hanya mampu merealisasikan sebesar Rp.
39.517.196.927,- atau 1,94%. Banyak kendala dalam pelaksanaan penghapusan dan pemindahtanganan ini karena Badan Pengelola Keuangan Aceh selaku pengelola aset sangat bergantung pada usulan SKPA dan tidak semua SKPA tertib baik dari segi administrasi maupun ketepatan waktu. Sehingga untuk tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan tidak berhasil mencapai target yang telah ditetapkan.
3.1.7. Persentase Peningkatan Pemanfaatan/Penggunaan Aset Idle
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 28 Aset idle adalah aset milik pemerintah Aceh yang tidak memiliki nilai atau menganggur. Tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dalam perjanjian kinerjanya menargetkan untuk memanfaatkan/menggunakan 20% dari aset idle. Aset idle baru bisa dimanfaatkan/digunakan jika seluruh proses penilaian telah selesai dilakukan. Adapun yang menjadi target Badan Pengelolaan Keuangan Aceh adalah Bandara Sultan Iskandar Muda dan Rumah Sakit Malahayati.
Dalam pelaksanaanya banyak kendala yang terjadi dilapangan seperti yang telah terjadi pada Bandara SIM yang belum tersedianya seluruh dokumen legalitas tanah bandara SIM yang merupakan faktor utama kegagalan dalam memanfaatkannya. Dari 14 persil tanah yang ada baru 7 persil yang bersertifikat dan sisanya masih dalam proses di BPN. Sedangkan untuk RS. Malahayati, proses penilaian sudah selesai dilakukan, tapi belum adanya kata sepakat antara Pemerintah Aceh dengan pihak RS. Malahayati besaran nilai yang harus dibayarkan menjadi hambatan utama pihak RS. Malahayati untuk memanfaatankan aset Pemerintah Aceh tersebut sehingga di tahun 2017 tidak ada aset idle yang dapat dimanfaatkan/digunakan.
3.1.8. Persentase Pengamanan Aset Pemerintah Aceh
Pada indikator kinerja ini Badan Pengelolaan Keuangan Aceh membatasi dokumen pengamanan aset hanya pada proses scanning terhadap sertifikat tanah saja.
Untuk mengamanan aset Pemerintah Aceh, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh melakukan scanning terhadap seluruh sertifikat tanah milik Pemerintah Aceh. Pada tahun 2017 dari 947 jumlah aset tanah milik Pemerintah Aceh yang selesai
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 29 discanning sebanyak 296 atau 31,26%. Dengan target 60% pada perjanjian kinerja maka persentase capaian realisasi 52,10%.
3.1.9. Persentase terdigitalisasinya dokumen kepemilikan BMA
Dalam tergitalisasinya dokumen kepemilikan Barang Milik Aceh (BMA), tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh melakukan scanning terhadap BPKB kendaraan bermotor. Dari total 5.504 BPKB baik roda 6, roda 4 dan roda 2, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh berhasil mendigitalisasi sebanyak 4.339 BPKB atau 78,83% dengan rincian 77 BPKB roda 6, 586 BPKB roda 4 dan 3676 BPKB roda 2.
Sehingga dengan target 60% pada perjanjian kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh berhasil memperoleh persentase capaian sebesar 131,38%.
Dalam pencapaian target perjanjian kinerja pada sasaran strategis 3 ini, sumber daya aparatur yang terlibat sebanyak 32 orang pegawai Bidang Aset.
3.1.10. Terlaksananya Implementasi Regional SIKD kepada Kabupaten/Kota Regional Sistem Informasi Keuangan Daerah (Reg-SIKD) merupakan suatu sistem yang berbasis tehnologi informasi yang dapat mendokumentasikan, mengadministrasikan dan mengolah data pengelolaan keuangan daerah dan data terkait lainnya menjadi informasi yang disajikan dalam bentuk tabel maupun grafik.
Reg-SIKD berguna untuk membantu Kepala Daerah untuk menyusun anggaran daerah, menyusun laporan pengelolaan keuangan daerah dan merumuskan kebijakan keuangan daerah serta evaluasi kinerja keuangan daerah, menyediakan kebutuhan statistik keuangan daerah, menyajikan informasi keuangan daerah secara terbuka
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 30 kepada publik serta mendukung penyediaan informasi keuangan daerah yang dibutuhkan secara nasional. Disamping itu penyelenggaraan Reg-SIKD juga dapat membantu Gubernur selaku wakil pemerintah dalam memperoleh informasi dan laporan keuangan daerah kabupaten/kota dalam rangka pembinaan pemerintah kabupaten/kota terutama pembinaan pengelolaan keuangan daerah kabupaten/kota.
Untuk tahun 2017 Badan Pengelolaan Keuangan Aceh menargetkan akan melakukan implementasi Regional SIKD pada 23 Kabupaten/Kota namun sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2017 baru dapat mengintegrasikan secara penuh Reg-SIKD dengan pengelola keuangan Kab/Kota sebanyak 3 Kab/Kota yaitu Pemerintah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Pemerintah Kota Banda Aceh.Sedangkan untuk 20 Kab/Kota lainnya baru melaksanakan penyediaan infrastruktur (perangkat sistem) dan persiapan implementasi Reg-SIKD perangkat keras berupa PC mini pada 20 kabupaten/kota tersebut untuk instalasi agen Reg-SIKD dan 1 (satu) unit server pada Pemerintah Aceh untuk instalasi master Reg- SIKD.
Dalam pencapaian target perjanjian kinerja tersebut, sumber daya aparatur yang terlibat sebanyak 19 pegawai Bidang Pembinaan dan Evaluasi Anggaran Kabupaten/Kota.
3.2 Realisasi Anggaran
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 31 Untuk mencapai suatu hasil yang maksimal tidak dapat terlepas dari jumlah anggaran yang harus dikeluarkan. Pada tahun anggaran 2017 realisasi anggaran yang digunakan untuk mencapai target pada Perjanjian Kinerja yang diperjanjikan antara Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh dengan Gubernur Aceh adalah sebagai berikut :
Tabel 3.7 Realisasi Anggaran
No. SASARAN STRATEGIS
PAGU ANGGARAN TAHUN 2017
REALISASI ANGGARAN TAHUN 2017
PERSENTASE
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Tersusunnya Laporan Keuangan tepat waktu
1.900.384.400
1.655.244.250 87,10%
2 Optimalisasi Potensi dan Realisasi Pendapatan Aceh
16.602.518.500
10.999.132.070 66,25%
3 Tertib Administrasi Pengelolaan Aset
4.501.841.400
1.991.542.703 44,24%
4 Terintegrasinya data keuangan kab/kota
665.208.000
403.151.950 60,61%
3.2.1 Sasaran Strategis 1
Pada sasaran tersusunnya laporan keuangan tepat waktu, secara keseluruhan penggunaan anggaran untuk mencapai indikator ini sebesar 87,10% atau sebesar Rp.1.655.244.250,- dari Rp.1.900.384.400,- yang berarti telah terjadi efisiensi anggaran dari pagu yang direncanakan sebesar Rp. 245.140.150,-.
Pada indikator ini terdapat 2 (dua) kegiatan yang mendukung terealisasinya indikator kinerja pada sasaran strategis ini.
Adapun program/kegiatan yang mendukung sasaran strategis ini adalah :
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 32 - Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD
- Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD
3.2.2 Sasaran Strategis 2
Pada sasaran optimalisasi potensi dan realisasi pendapatan Aceh, secara keseluruhan penggunaan anggaran untuk mencapai indikator ini sebesar 66,25% atau sebesar Rp. 10.999.132.070,- dari Rp. 16.602.518.500,- yang berarti telah terjadi efisiensi anggaran dari pagu yang direncanakan sebesar Rp.
5.603.386.430.-. Pada indikator ini terdapat 3 (tiga) kegiatan yang mendukung terealisasinya indikator kinerja pada sasaran strategis ini.
Adapun program/kegiatan yang mendukung sasaran strategis 2 ini adalah : - Intensifikasi dan Ekstensifikasi Sumber-Sumber Pendapatan Aceh - Koordinasi dan sinkronisasi penerimaan dana desentralisasi - Pemeliharaan basis data objek pajak dan subjek pajak
3.2.3 Sasaran Strategis 3
Pada sasaran tertib administrasi pengelolaan aset, secara keseluruhan penggunaan anggaran untuk mencapai indikator ini sebesar 44,24% atau sebesar Rp. 1.991.542.703,- dari Rp. 4.501.841.400,- yang berarti telah terjadi efisiensi anggaran dari pagu yang direncanakan sebesar Rp. 2.510.298.697.-.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 33 Pada indikator ini terdapat 4 (empat) kegiatan yang mendukung terealisasinya indikator kinerja pada sasaran strategis ini.
Adapun program/kegiatan yang mendukung sasaran strategis 3 ini adalah : - Penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKABMD) dan
Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD) - Evaluasi, Penilaian dan Pemanfaatan Serta Pelaporan Aset
- Pengendalian, Pengamanan dan Pemeliharaan Barang Milik Daerah - Pembinaan Pengelolaan Barang Milik Daerah
3.2.4 Sasaran Strategis 4
Pada sasaran terintegrasinya data keuangan kab/kota, secara keseluruhan penggunaan anggaran untuk mencapai indikator ini sebesar 60,61% atau sebesar Rp. 403.151.950,- dari Rp. 665.208.000,- yang berarti telah terjadi efisiensi anggaran dari pagu yang direncanakan sebesar Rp. 262.056.050.-.
Pada indikator ini terdapat 1 (satu) kegiatan yang mendukung terealisasinya indikator kinerja pada sasaran strategis ini.
Adapun program/kegiatan yang mendukung sasaran strategis 4 ini adalah kegiatan Implementasi Regional SIKD.
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 34 BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Untuk mencapai akuntabilitas kinerja yang maksimal, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh terus berusaha melaksanakan tugas dan fungsi sebaik mungkin dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan Aceh secara optimal melalui pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan evaluasi kinerja Tahun 2017, dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta kewenangannya terdapat 4(empat) sasaran strategis dan 10 (sepuluh) indikator kinerja yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja, walaupun belum semua dapat terealisasi dengan maksimal.
Pada sasaran strategis pertama yang terdiri dari 1(satu) indikator kinerja, sampai dengan akhir tahun anggaran 2017 merealisasikan anggaran sebesar 87,10%
dengan realisasi kinerja sebesar 97,96% yang berarti terjadi penghematan anggaran sebesar 12,90%. Dengan 2(dua) kegiatan yang mendukung sasaran strategis ini.
Untuk sasaran strategis kedua yang terdiri dari 3(tiga) indikator kinerja sampai dengan akhir tahun anggaran 2017 merealisasikan anggaran sebesar 66,25% dengan rata-rata persentase capaian sebesar 114,90%, yang berarti pada sasaran strategis kedua ini Badan Pengelolaan Keuangan Aceh telah melakukan efisiensi anggaran sebesar 33,75% dengan 3(tiga) kegiatan yang menunjang keberhasilan sasaran strategis ini. Sasaran strategis ketiga yang terdiri dari 5(lima) indikator kinerja sampai dengan akhir tahun anggaran 2017 dengan realisasi anggaran sebesar 44,24% dan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 35 rata-rata persentase capaian sebesar 62,99%, yang berarti pada sasaran strategis ketiga ini efisiensi anggaran sebesar 55,76%. Ada 4(empat) kegiatan yang mendukung sasaran strategis ini. Dan sasaran strategis keempat yang terdiri dari 1(satu) indikator kinerja dengan realisasi anggaran sebesar 60,61% dan rata-rata persentase capaian sebesar 13,04%, sehingga terjadi efisiensi anggaran sebesar 39,39% dengan 1(satu) kegiatan yang mendukung.
Secara keseluruhan rata-rata realisasi kinerja Badan Pengelolaan Keuangan Aceh Tahun Anggaran 2017 mencapai 77,06% dengan rata-rata realisasi keuangan sebesar 63,58% yang berarti terjadi efisiensi sebesar 36,42%.
Pencapaian kinerja yang ada mungkin belum memuaskan semua pihak, namun demikian kinerja tersebut adalah kinerja terbaik yang dapat kami berikan dengan segala keterbatasan yang ada mengingat ini adalah tahun pertama untuk Badan Pengelolaan Keuangan Aceh. Capaian kinerja tahun ini akan menjadi perhatian dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dimasa yang akan datang dan juga dijadikan sebagai bahan evaluasi kinerja untuk terus menyempurnakan dan meningkatkan kualitas pelayanan.
Keberhasilan pelaksanaan seluruh program tidak terlepas dari pengaruh keadaan, dukungan dan peran serta seluruh pihak yang berkepentingan dan tugas Badan Pengelolaan Keuangan Aceh ke depan adalah meningkatkan kinerja yang ada menjadi semakin baik ini serta terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan, peningkatan pendapatan Aceh dengan inovasi-inovasi terkini dan semakin tertibnya penataan aset-aset daerah guna memaksimalkan pelayanan publik. Umpan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 36 balik (feed back) atas segala yang kami sajikan dan saran-saran sangat kami harapkan guna peningkatan akuntabilitas kinerja yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu, kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan fungsi dan tugas Badan Pengelolaan Keuangan Aceh kami ucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya.
4.2 Upaya dimasa mendatang
Pencapaian yang telah dilakukan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh tahun 2017 sudah berjalan dengan cukup baik dan diharapkan kedepannya dapat lebih ditingkatkan mengingat ada beberapa indikator kinerja dengan hasil yang kurang memuaskan, seperti persentase penghapusan dan pemindahtanganan aset Pemerintah Aceh yang hanya terealisasi sebesar 1,94%, persentase peningkatan pemanfaatan/penggunaan aset idle yang belum ada realisasinya dari target yang 20%
pada perjanjian kinerja, persentase pengamanan aset pemerintah Aceh yang hasilnya 31,26% dari 60% yang dijanjikan, dan terlaksananya implementasi Reg-SIKD kepada Kabupaten/Kota yang realisasinya hanya 13,04%.
Upaya-upaya perbaikan dan peningkatan akan terus dilakukan kedepan antara lain terus melakukan sosialisasi, pembinaan dan pendampingan terhadap aturan- aturan pengelola keuangan daerah yang baik serta terus memberikan motivasi baik terhadap SKPA agar penyampaian laporan keuangannya dapat tepat waktu, mengoptimalkan penerimaan pendapatan Aceh dengan dengan mengembangkan inovasi-inovasi baru, menggali potensi-potensi penerimaan baru serta penagihan
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN ACEH 37 pajak progresif. Dari segi pengelolaan aset diusahakan kedepannya lebih banyak penghapusan dan pemindahtanganan aset Pemerintah Aceh dan aset idle yang dapat gunakan sehingga memberi manfaat bagi masyarakat maupun Pemerintah Aceh dan lebih banyak lagi aset pemerintah Aceh yang dapat bersertifikat.