TANGGUNG JAWAB HUKUM PENGELOLA JALAN TOL ATAS KERUGIAN KONSUMEN TOL YANG MENJADI KORBAN
KECELAKAAN LALU LINTAS
(STUDI PADA PT JASA MARGA (PERSERO) TBK DALAM PENGELOLAAN RUAS JALAN MEDAN-BELAWAN-TANJUNG
MORAWA) SKRIPSI
Disusun dan Diajukan untuk melengkapi Persyaratan Memperoleh gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH :
ARIEL ABIGAIL PARULIAN PASARIBU NIM : 140200307
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
Pengelolaan Ruas Jalan Tol-Medan-Belawan-Tanjung Morawa) SKRIPSI
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh :
Ariel Abigail Parulian Pasaribu NIM : 140200307
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
DISETUJUI OLEH :
KETUA DEPERTEMEN HUKUM EKONOMI
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H.,M.H NIP. 195603291986011001
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H Dr. Mahmul Siregar, SH., M.Hum NIP. 195603291986011001 NIP. 197302202002121001
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Ariel Abigail Parulian Pasaribu NIM : 140200307
Departemen : Hukum Ekonomi
Judul Skripsi : TANGGUNG JAWAB HUKUM PENGELOLA JALAN TOL ATAS KERUGIAN KONSUMEN TOL YANG MENJADI KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS (STUDI PADA PT.
JASA MARGA (PERSERO) TBK DALAM PENGELOLAAN RUAS JALAN TOL MEDAN-BELAWAN- TANJUNG MORAWA)
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil penelitian saya sendiri.
Saya bersedia menanggung segala konsekuensi yang ditimbulkan apabila skripsi ini telah terbukti mejiplak hasil karya orang lain, maupun dibuat oleh orang lain.
Medan, 31 Agustus 2020 Penulis,
Ariel Abigail Parulian Pasaribu
dan karunia yang diberikanNya, sehingga penulis dapat mengerjakan skripsi ini dari awal hingga selesainya skripsi ini.
Penulisan skripsi ini berawal dari keingintahuan penulis tentang bagaimana penyelesaian secara perspektif hukum bila terjadi penjualan barang – barang palsu yang dilakukan di layanan jual beli online. Di Indonesia sendiri diatur mengenai ketentuan hak kekayaan intelektual, yang dimana penjualan barang – barang palsu tersebut sudah jelas – jelas melanggar ketentuan hukum yang berlaku.
Dalam penulisan skripsi ini, mulai saat memulai penulisan hingga selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada :
1. Yang terhormat dan amat terpelajar, Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H. M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk dapat mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Yang terhormat dan amat terpelajar, Prof. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk dapat mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Yang terhormat dan amat terpelajar, Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing I, atas arahan, bimbingan, dan bantuan kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Yang terhormat dan amat terpelajar Ibu Tri Murti Lubis, S.H., M.H, selaku Sekretaris sekaligus Dosen Departemen Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara, atas arahan, bimbingan, dan bantuan dengan penuh kesabaran kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H. M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II, atas arahan, bimbingan, dan bantuan dengan penuh kesabaran kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Yang terhomat dan amat terpelajar Ibu Syarifah Lisa Andriati, S.H., Dosen Pembimbing Akademis, atas arahan, bimbingan, dan bantuan dengan penuh kesabaran kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Yang terhormat dan amat terpelajar, seluruh bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bekal pengetahuan yang amat berharga kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Yang terhormat, seluruh staf pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan banyak bantuan kepada penulis selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Yang terhomat, rekan – rekan mahasiswa Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bantuan moril dan senantiasa bekerja sama dalam perkuliahan, berbagi informasi yang berguna untuk penulisan skripsi ini.
Permohonan maaf yang sebesar-besarnya sekaligus ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada banyak pihak yang memberikan andil mulai dari proses studi hingga rampungnya skripsi ini, karena segala keterbatasan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih ada banyak kekurangan, karena segala keterbatasan pengetahuan, pengalaman serta referensi yang penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan saran – saran dan kritik demi perbaikan di masa mendatang.
Medan, 31 Agustus 2020 Penulis,
Ariel Abigail Parulian Pasaribu
Ariel Abigail Parulian Pasaribu*
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H**
Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.H***
Jalan tol adalah jalan yang benar-benar bebas hambatan dan memungkinkan pengguna jalan untuk melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sesingkat mungkin. Jalan tol membantu baik pengguna jalan yang merupakan masyarakat biasa atau pengusaha atau produsen atau pejabat dalam melakukan mobilisasi sehari-hari. Meskipun demikian, jalan tol bukan sarana yang bebas masalah. Ada banyak masalah dalam pengelolaan tol mulai dari kecelakaan pada jalan tol, rusaknya infrastruktur jalan tol, perbaikan atau penambahan infrastruktur jalan tol yang dapat mengganggu pengguna jalan tol, sampai pelemparan batu terhadap pengguna jalan tol. Masalah tersebut merupakan masalah vital yang seharusnya tidak terjadi karena tol merupakan jalan yang bebas hambatan.
Jasa Marga sebagai pihak pengelola jalan tol harus memastikan bahwa jalan tol yang dipergunakan oleh masyarakat sebagai konsumen merasa aman dan nyaman dalam menggunakan jalan tol.
Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah Penelitian Hukum Normatif dan Penelitian Hukum Empiris. Sifat penelitian yang digunakan adalah Penelitian Deskriptif. Jenis dan sumber datanya adalah Data Primer dan Data Sekunder, Teknik dan alat pengumpulan data berupa Studi Pustaka dan Studi Lapangan serta Studi Pustakan dan Wawancara. Analisis data yang digunakan adalah Metode Analisisi Kualitatif.
PT Jasa Marga (Persero) Tbk mempunyai peran mengelola jalan tol. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk berada di bawah Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 serta terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol sebagai regulator industri jalan tol di Indonesia. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai yang mengelola dan menyelenggarakan jalan tol suatu standar untuk melaksanakan pengelolaan dan penyelenggaraan jalan tol yaitu Standar Pelayanan Minimal yang diatur di dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 tahun 2014. Tanggungjawab Badan Usaha Jalan Tol mengenai ganti kerugian pengguna jalan tol di Indonesia diatur dalam Pasal 87 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang jalan tol.
Pemberian ganti kerugian yang diberikan PT. Jasa Marga (Persero) berupa pengembalian uang sesuai dengan besarnya kerugian yang diderita oleh pengguna jalan tol harus dengan persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan.
Kata kunci : tanggung jawab, jalan tol, kecelakaan, jasa marga.
* Mahasiswa
** Dosen Pembimbing I
*** Dosen Pembimbing II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Keaslian Penelitian ... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 9
F. Metode Penelitian ... 14
G. Sistematika Penulisan ... 19
BAB II : PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENGGUNA JALAN TOL... 21
A. Pengertian Konsumen dan Perlindungan Konsumen ... 21
B. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen ... 24
C. Hak dan Kewajiban Konsumen ... 26
D. Pengguna Jalan Tol Sebagai Konsumen ... 33
BAB III: PERANAN PT. JASA MARGA (PERSERO) TBK DALAM PENGELOLAAN JASA JALAN TOL DAN PEMBERIAN PERLINDUNGAN KONSUMEN ... 41
A. Sejarah Terbentuknya PT. Jasa Marga (Persero) ... 41
B. Dasar Hukum, Fungsi Dan Tujuan Serta Kegiatan Usaha PT. Jasa Marga (Persero) Tbk ... 43
C. Peran PT. Jasa Marga (Persero) Tbk Dalam Pengelolaan Jalan Tol ... 49
D. Peran PT. Jasa Marga (Persero) Tbk dalam Melindungi Konsumen Pengguna Jalan Tol ... 52 BAB IV : TANGGUNG JAWAB PT. JASA MARGA (PERSERO) TBK
DALAM PENGELOLAAN JALAN TOL BELAWAN-
MEDAN-TANJUNG MORAWA (BELMERTA) TERHADAP
A. Pengelolaan Jalan Tol Belmera oleh PT. Jasa Marga (Persero)
Tbk ... 57
B. Prosedur dan Strategi Penanganan Konsumen Korban Kecelakaan Jalan Tol di Jalan Tol Belmera ... 64
C. Tanggung Jawab Hukum PT. Jasa Marga (Persero) Tbk Terhadap Pengguna Jalan Tol yang Mengalami Kecelakaan di Jalan Tol... 70
D. Pelaksanaan Tanggungjawab PT. Jasa Marga (Persero) Tbk Terhadap Pengguna Jalan Tol yang Mengalami Kecelakaan di Jalan Tol Belmera ... 78
BAB V : PENUTUP ... 82
A. Kesimpulan ... 82
B. Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA... 86
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 90
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jalan tol adalah salah satu sarana yang vital pada jaman sekarang. Karena, jalan tol adalah jalan yang benar-benar bebas hambatan dan memungkinkan pengguna jalan untuk melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sesingkat mungkin. Jalan tol ini membantu baik pengguna jalan yang merupakan masyarakat biasa atau pengusaha atau produsen atau pejabat dalam melakukan mobilisasi sehari-hari. Pentingnya peran jalan tol mendorong pemerintahan Joko Widodo menambah ruas jalan tol sepanjang 398 Km.1
Penyelenggaraan jalan tol dimaksudkan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta keseimbangan dalam pengembangan wilayah dengan memperhatikan keadilan, yang dapat dicapai dengan membina jaringan jalan yang dananya berasal dari pengguna jalan.2 Penyelenggaraan jalan tol bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama di wilayah yang sudah tinggi tingkat perkembangannya.
Namun, seiring dengan semakin berkembangnya pembanguna serta perkembangan perekonomian terhadap berbagai kemajuan yang terjadi pada bidang teknologi, indusitri, ekonomi, perdagangan, maupun pembangunan infrastruktur
1 Sugeng Harianto, “Panjang Tol yang Dibuka Jokowi Kini Sudah 398 Km” diakses dari https://finance.detik.com/infrastruktur/d-3943558/panjang-tol-yang-dibuka-jokowi-kini-sudah-398- km, diakese pada tanggal 22 Juli 2020
2 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, Pasal 2 ayat (1)
negara mengakibatkan semakin banyak permasalahan yang terjadi, khususnya adalah permasalahan mengenai perlindungan hukum dalam bidang pembangunan infrastruktur negara itu sendiri misalnya saja dalam pelayanan fasilitas publik jalan tol.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol dijelaskan dan telah diatur hak-hak pengguna jalan tol. Pasal 87 menyatakan bahwa pengguna jalan tol berhak menuntut ganti kerugian kepada Badan Usaha atas kerugian yang merupakan akibat kesalahan dari Badan Usaha dalam pengusahaan jalan tol dan dalam Pasal 88 dijelaskan bahwa pengguna jalan tol berhak mendapatkan pelayanan jalan tol sesuai dengan standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Standar pelayanan minimal jalan tol berdasarkan Pasal 8 tersebut adalah:3
(1) Standar pelayanan minimal jalan tol mencakup kondisi jalan tol, kecepatan tempuh rata-rata, aksesibilitas, mobilitas, dan keselamatan.
(2) Standar pelayanan minimal jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan ukuran yang harus dicapai dalam pelaksanaan penyelenggaraan jalan tol.
(3) Besaran ukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dievaluasi secara berkala berdasarkan hasil pengawasan fungsi dan manfaat.
(4) Ketentuan lebih lanjur mengenai standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan Menteri.
Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol juga menjelasan mengenai kewajiban Badan Usaha Jalan Tol. Pasal 90 ayat (1) menyatakan bahwa pada setiap ruas jalan tol, Badan Usaha wajib menyediakan unit ambulan, unit pertolongan penyelamatan pada kecelakaan, unit penderek, serta unit- unit bantuan dan pelayanan lainnya sebagaimana sarana penyelematan di jalan tol.
3 Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol
3 Kemudian pada ayat (2) dijelaskan bahwa Badan Usaha wajib menyediakan unsur pengaman dan penegakan hukum lalu lintas jalan tol bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selanjutnya dalam pasal 91 dijelaskan bahwa Badan Usaha wajib mengusahakan agar jalan tol selalu memenuhi syarat kelayakan untuk dioperasikan. Pasal 92 dijelaskan bahwa Badan Usaha wajib mengganti kerugian yang diderita oleh pengguna jalan tol sebagai akibat kesalahan dari Badan Usaha dalam pengusahaan jalan tol.4
Meskipun demikian, jalan tol bukan sarana yang bebas masalah. Ada banyak masalah dalam pengelolaan tol itu sendiri. Mulai dari kecelakaan pada jalan tol, rusaknya infrastruktur jalan tol, perbaikan atau penambahan infrastruktur jalan tol yang dapat mengganggu pengguna jalan tol, sampai yang baru terjadi tempo lalu adalah pelemparan batu terhadap pengguna jalan tol. Masalah terebut merupakan masalah vital yang seharusnya tidak terjadi karena tol merupakan jalan yang bebas hambatan. Jasa Marga sebagai pihak pengelola jalan tol harus memastikan bahwa jalan tol yang dipergunakan oleh masyarakat sebagai konsumen merasa aman dan nyaman dalam menggunakan jalan tol.
Perlindungan konsumen telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Pasal 2 UU tersebut menyatakan bahwa perlindungan Konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum.”5
Salah satu cara menjalankan kewajiban pelaku usaha dalam hal keaman dan keselamatan konsumen yaitu dengan mengalihkan resiko kepada pihak lain, yaitu
4 Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol
5 Pasal 2 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
kepada lembaga atau perusahaan yang mempunyai kemampuan untuk mengambil alih resiko tersebut. Lembaga atau perusahaan ini disebut lembaga asuransi yang memberikan jaminan ganti rugi kepada pihak lain dengan membayar sejumlah uang.
Dalam perjanjian asuransi, resiko adalah suatu objek yang sesungguhnya menjadi inti dari perjanjian pertanggungan tersebut, resiko adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena tidak seorang pun dapat bebas dari suatu resiko.
Masyarakat sebagai salah satu pengguna fasilitas pemerintah harus ikut serta berparitisipasi dalam pembangunan fasilitas umum terutama jalan karena pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan akan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antara pemerintah dan warga, pemerintah sebagai lembaga superior harus dengan tulus membuka ruang dan kesempatan bagi warga untuk ikut dalam penentuan kebijakan sehingga akan terjadi keharmonisasian antara pemerintah dan masyarakat. Jalan sebagai salah satu akses untuk pencapaian tujuan harus lebih diperhatikan oleh pemerintah karena jalan yang rusak akan lebih membahayakan penggunanya, seringkali terjadi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan jalan yang rusak hal ini tidak lepas dari fasilitas yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya terutama jalan tidak layak atau rusak, berlubang dan tidak segera diperbaiki sehingga membahayakan penggunanya atau masyarakat, bahkan jalan yang berlubang cukup dalam yang apabila terjadi hujan dan tertutup genangan air akan tidak nampak dan membahayakan bagi pengguna jalan.
Perlindungan hukum bagi konsumen sangat dibutuhkan oleh sebagain besar dikalangan masyarakat, khususnya adalah para konsumen karena di dalam pergaulan hidup sehari-hari masih sangat banyak ditemukan permasalahan tentang sengketa
5 konsumen, dimana konsumen masih merasa dirugikan oleh produsen karena produk barang dan/atau jasa yang dikonsumsinya, Hal itulah yang menjadikan alasan konsumen kemudian menuntut ganti kerugian kepada pelaku usaha, akan tetapi para konsumen tersebut belum mendapatkan perlindungan hukum yang tepat, dikarenakan masih lemahnya perlindungan hukum yang diberikan oleh pelaku usaha terhadap konsumen yang menderita kerugian tersebut.6 Oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan.
Upaya untuk meningkatkan harkat martabat konsumen yaitu meningkatkan kesadara, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab, diperlukan ketentuan hukum atau perangkat peraturan perundang-undangan yang memadai untuk mewujudkan keseimbangan antara kepentingan konsumen dengan pelaku usaha.
Jika pihak konsumen pengguna jalan tol merasa dirugikan akibat ketidakamanan dan ketidaknyamanan jalan tol maka pihak pengelola harus bertanggung jawab kepada konsumen pengguna jalan tol. Salah satu pihak yang bertanggung jawab atas hal tersebut adalah Jasa Marga. Namun, pihak Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol harus mensiasati ke depannya agar beberapa kejadian yang dialami oleh konsumen jalan tol tidak terjadi lagi di kemudian waktu.
Oleh karena itu, akan dibahas lebih lanjut mengenai perlindungan konsumen terhadap pengguna jalan tol, peranan Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol, dan tentang bagaimanakah tanggung jawab Jasa Marga jika konsumen mengalami kerugian yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
6 Eli Wuria Dewi, Hukum Perlindungan Kosumen, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 5
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tanggung Jawab Hukum Pengelola Jalan Tol Atas Kerugian Konsumen Tol Yang Menjadi Korban Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Pada PT. Jasa Marga (Persero) Tbk dalam Pengelolaan Ruas Jalan Tol Medan- Belawan-Tanjung Morawa)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut”
1. Bagaimana perlindungan konsumen terhadap pengguna jalan tol?
2. Bagaimana peranan PT. Jasa Marga (Persero) dalam pengelolaan jasa jalan tol dan pemberian perlindungan konsumen?
3. Bagaimana tanggung jawab PT. Jasa Marga (Persero) jika konsumen mengalami kerugian yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas?
C. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah yang ada di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan perlindungan konsumen terhadap pengguna jalan tol.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan peranan PT. Jasa Marga (Persero) dalam pengelolaan jasa jalan tol dan pemberian perlindungan konsumen.
7 3. Untuk mengetahui tanggung jawab PT. Jasa Marga (Persero) jika konsumen mengalami kerugian yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
Sedangkan manfaat dari penilitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan bagi ilmu pengetahuan hukum, terutama yang berkaitan dengan perlindungan konsumen pengguna jalan tol yang mungkin belum terlalu populer untuk diangkat menjadi sebuah penelitian. Juga sebagai bahan perbaningan dan penelitian lanjutan serta salah satu sumber penelitian dan informasi bagi siapa saja yang tertarik dengan perlindugan konsumen dan hukum ekonomi pada umumnya.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tulisan yang membukakan wawasan dan pemikiran bagi praktisi dan akademisi hukum dalam perkembangan perlidungan konsumen di jaman sekarang. Juga sebagai informasi yang nantinya akan mengubah pola berpikir masyarakat tentang pengguna jalan tol harus mendapatkan perlindungan dari pihak pengelola jalan tol.
D. Keaslian Penelitian
Untuk menghindari terjadinya duplikasi dan plagiat terhadap penelitian ini, maka peneliti telah melakukan penelusuran dan pemeriksaan terhadap judul yang sama dengan judul “Tanggung Jawab Hukum Pengelola Jalan Tol Atas Kerugian
Konsumen Tol Yang Menjadi Korban Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Pada PT. Jasa Marga (Persero) Tbk dalam Pengelolaan Ruas Jalan Tol Medan-Belawan Tanjung Morawa)”. Ditemukan beberapa penelitian skripsi mengenai perlindungan konsumen jalan tol yang sudah dilakukan di berbagai universitas yang ada di Indonesia.
Diantaranya “Perlindungan Hukum Bagi Pengguna Layanan Jalan Tol Oleh PT. Jasa Marga (Persero) TBK Di Jakarta” yang diteliti oleh Nova Gamayanti Putri Akhmad mahasiswa fakultas hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan “Tanggung Jawab Badan Usaha Jalan Tol Atas Kerugian Pengguna Jalan Tol Akibat Kesalahan Dalam Pengoperasian Ruas Jalan Tol di PT. Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Jakarta-Tanggerang” oleh Feisya Amalia Ghaisani mahasiswa fakultas hukum Universitas Diponegoro.
Penelitian skripsi ini berbeda dengan skripsi yang ditulis oleh Nova Gamayanti Putri Akhmad mahasiswa Fakultas Hukum Univeristas Islam Indonesia Yogyakarta serta Feisya Amalia Ghaisani mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro adalah lokasi penelitian yang dilakukan oleh penulis berada di jalan tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera).
Berdasarkan hasil penelusuran dan pemeriksaan judul yang berkenaan dengan judul di atas di Perpustakaan Program Studi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, ternyata judul dan rumusan masalah dalam penelitian ini belum pernah dilakukan. Dengan demikian, maka penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian yang asli dan jauh dari unsur plagiat.
Dengan kata lain, penelitian ini sesuai dengan asas-asas keilmuan dan menjunjung tinggi kejujuran, rasional, objektif, dan terbuka. Hal ini sesuai dengan
9 implikasi etis dan proses menemukan kebenaran ilmiah sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah pula.
E. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Konsumen
Istilah konsumen berasal dan alih Bahasa dari kata consumer, secara harfiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orangyang menggunakan barang. Begitu pula Kamus Bahasa Inggris-Indonesia yang memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen. Kamus Umum Bahasa Indonesia mendefinisikan konsumen sebagai lawan produsen, yakni pemakai barang-barang hasil industri, bahan makanan, dan sebagainya.7
Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (yang selajutnya disingkat UUPK), yang dimaksud dengan konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.8
Berdasarkan pengertian diatas, maka pada umumnya pengguna jalan tol merupakan konsumen yang menggunakan jalan tol. Yaitu, sebuah jasa berupa jalan yang bebas dari berbagai macam hambatan yang sekiranya dapat membantu kemudahan terhadap penggunanya untuk mobilitas.
2. Pengertian Jalan Tol
7 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2016), hlm. 15
8 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Pengertian Jalan Tol ditemukan pada PP No. 15 tahun 2005 pasal 1 ayat 2 tentang jalan tol yang mendefenisikan jalan tol sebagai jalan umum yang merupakan bagian system jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol. Dan tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk pengguna jalan tol.9
Jalan tol adalah jalan umum yang kepada pemakaiannya dikenakan kewajiban membayar tol dan merupakan jalan alternatif lintas jalan umum yang telah ada. Jalan tol diselenggarakan dengan maksud untuk mempercepat pewujudan jaringan jalan dengan Sebagian atau seluruh pendanaan berasal dari pengguna jalan untuk meringankan beban pemerintah.10
Jalan tol diatur oleh Badan Pengatur Jalan Tol yang selanjutnya disebut BPJT. BPJT ini merupakan badan yang dibentuk oleh Menteri, ada di bawah, dan bertanggungjawab kepada Menteri. Badan usaha di bidang jalan tol yang selanjutnya disebut Badan Usaha, adalah badan hukum yang bergerak di bidang pengusahaan jalan tol salah satunya adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Tugas utama Jasa Marga adalah merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara jalan tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas hambatan yang memberikan manfaat lebih tinggi daripada jalan umum bukan tol.11
Jalan tol diselenggarakan dengan maksud untuk mempercepat perwujudan jaringan jalan dengan sebagian atau seluruh pendanaan berasal dari pengguna jalan untuk meringankan beban pemerintah. Jalan tol diselenggarakan dengan tujuan
9 PP No. 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol
10http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/22937/Chapter%20II.pdf;jsessionid
=23A820A23647EFF1BDFC34CE4D57E483?sequence=4 diakses pada tanggal 22 Juli 2020
11 https://www.jasamarga.com/public/id/infoperusahaan/ProfilPerusahaan/Overview.aspx diakses pada tanggal 22 Juli 2020
11 meningkatkan efisien pelayanan jasa distribusi guna menunjukkan pertumbuhan ekonomi dengna perkembangan wilayah dengan memperhatikan rencana induk jaringan jalan.
3. PT. Jasa Marga (Persero)
Melalui Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1978 pada tanggal 1 Maret 1978 Pemerintah mendirikan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.12 PT Jasa Marga (Persero) TBK adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak di bidang penyelenggara jasa jalan tol. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 1978 setelah jalan tol pertama, yang menghubungkan Jakarta-Bogor selesai dibangun. Sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 32 tahun dalam membangun dan mengoprasikan jalan tol, saat ini Jasa Marga adalah pimpinan dalam industrinya dengan mengelola lebih dari 532 km jalan tol atau 76% dari total jalan tol di Indonesia.13
Tugas utama Jasa Marga adalah merencanakan, membangun, mengoprasikan dan memelihara jalan tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas hambayan yang memberikan manfaat lebih tinggi daripada jalan umum bukan tol.
4. Kecelakaan Lalu Lintas
12 http://jasamarga.com/public/id/infoperusahaan/ProfilPerusahaan/VisiMisi.aspx diakses pada tanggal 22 Juli 2020
13https://www.jasamarga.com/public/id/hubunganinvestor/faq.aspx#:~:text=Jasa%20Marga%
20merupakan%20leader%20dalam,melewati%20ruas%20tol%20Jasa%20Marga).&text=Sejak%20tah un%202009%2C%20Jasa%20Marga%20mulai%20memasuki%20masa%20ekspansi. diakses pada tanggal 20 Juli 2020
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda. Pasal 229 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menentukan sebagai berikut:
1. Kecelakaan lalu lintas digolongkan atas:
a. Kecelakaan lalu lintas ringan;
b. Kecelakaan lalu lintas sedang; atau c. Kecelakaan lalu lintas berat
2. Kecelakaan lalu lintas ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan kendaraan dan/atau barang.
3. Kecelakaan lalu lintas sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.
4. Kecelakaan lalu lintas berat sebagaimanan dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.
13 5. Kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dimaksud pada ayat (1) dapat disebabkan oleh kelalaian pengguna jalan, ketidaklayakan kendaraan, serta ketidakalayakan jalan dan/atau lingkungan.
5. Tanggung Jawab
Pada umumnya dikenal pertanggungjawaban seseorang atas segala perbuatan, akibat-akibat dari perbuatannya, tidak berbuat, kelalalaian atau kurang hati-hatinya pada orang atau pihak lain. Tanggung jawab itu tergantung pada apakah pada peristiwa (yang menimbulkan kerugian pada orang lain itu) terdapat kesalahan orang tersebut sehingga ia harus membayar ganti rugi (tanggung jawab berdasarkan kesalahan). Dalam hal ini terkenal asas “presumption of innonce” (setiap orang dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya itu dihadapan pengadilan yang berwenang atasnya).14
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdapat prinsip tangggung jawab hukum adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Tanggungjawab Berdasarkan Adanya Unsur Kesalahan (liability based on fault)
Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan, didasarkan pada perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365, 1366, dan 1367 KUHPerdata. Prinsip ini menyatakan bahwa seseorang atau pihak lain yang berada dalam pengawasannya baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahan. Unsur
14 Az. Nasution, Konsumen dan Hukum, (Jakarta : Muliasari, 1995), hlm. 171
kesalahan berupa perbuatan melawan hukum, adanya kesalahan, terdapat kerugian, dan adanya hubungan kausal antara kesalahan dan kerugian.
2. Prinsip Tanggungjawab Berdasarkan Tidak Adanya Kesalahan (liability based no fault atau strict liability)
Prinsip tanggungjawab berdasarkan tidak adanya kesalahan (strict liability) adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan. Hal tersebut ada pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggungjawab, misalnya keadaan force majeure.
Menurut Bin Cheng bahwa strict liability terhadap hubungan kausalitas antara orang yang bertanggungjawab dengan kerugian, dan hal-hal yang biasanya dapat membebaskan tanggung jawab tetap diakui kecuali pada pernyataan tidak bersalah karena kesalahan tidak lagi diperlukan.15
F. Metode Penelitian
Metode Penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode- metode yang ilmiah dan menggunakan pemikirian tertentu, serta menganisis. Maka diadakan juga pemeriksaan mendalam terhadap suatu pemecahan atas segala permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkuta. Adapun metode penelitian hukum yang digunakan dalam mengerjakan skripsi ini meliputi 1. Jenis dan sifat penelitian
15 https://jurnal.ugm.ac.id/jmh/article/viewFile/16054/10600 diakses pada tangggal 22 Juli 2020
15 Jenis peneltian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dan peneltian hukum empiris. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder, yang mungkin mencakup bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Pada peneltian hukum normatif yang sepenuhnya mempergunakan data sekunder, maka penyusunan kerangka teoritis yang bersifat tentatif dapat ditinggalkan.16 Dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk menganisis data sekunder guna mendapatkan kejelasan tentang norma, asas- asas hukum dan doktrin-doktrin hukum berkenaan dengan kedudukan pengguna jalan tol sebagai konsumen yang berhak mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan jalan tol.
Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang diteliti pada awalnya adalah data sekunder untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer dilapangan, atau terhadap masyarakat. Dalam hal ini penelitian hukum empiris hendak mengadakan pengukuran terhadap peraturan perundang-undangan tertentu mengenai efektivitasnya.17 Dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk mendapatkan dan menganalisa data primer berkenaan dengan pengelola jalan tol dalam hal operasional pengelolaan jalan tol tersebut.
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang analisis data tidak keluar dari lingkup sample. Bersifat deduktif, berdasarkan teori atau konsep yang bersifat umum
16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 1984), hlm. 52-53
17 Ibid
diaplikasikan untuk menjelaskan tentang seperangkat data, atau menunjukkan komparasi atau hubungan seperangkat data dengan seperangkat data yang lain.18 3. Jenis data dan sumber data
Data yang dipergunakan dalam penulisan ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama, yakni perilaku warga masyarakat, melalui penelitian.19 Dengan kata lain bagaimana perlindungan pengguna jalan tol yaitu masyarkat. Berupa hasil wawancara terstuktur.
b. Data Sekunder, antara lain, mencakup dokumen-dokumen resmi, buku- buku, hasil-hasil peneltian yang berwujud laporan, buku harian, dan seterusnya.20
1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, terdiri dari:21 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 Tentang Jalan Tol, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Indonesia Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol,
18 Bambang SunggonoMetodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Pers Jakarta, 1996), hlm . 37-38
19 Soerjono Soekanto, Op.Cit., hlm. 12
20 Ibid, hlm. 12
21 Ibid., hlm 52
17 serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2015 Tentang Badan Pengatur Jalan Tol.
2. Bahan Hukum Sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer,22 seperti misalnya: buku, hasil-hasil penelitian
dan yang relevan dengan skripsi ini.
3. Bahan Hukum Tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder.23 Antara lain: kamus, ensikopledia, indeks kumulatif, internet dan seterusnya.
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
a. Teknik Pengumpulan Data
1. Studi pustaka (library research). Dalam studi pustaka dikumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan data sekunder. Yang berupa bahan-bahan tertulis berupa bahan hukum yang mengikat, dalam hal ini berbagai undang- undang yang berkaitan dengan perlindungan konsumen dan jalan tol.
Kemudian ada berbagai buku, hasil penelitian dan jurnal ilmiah tentang perlindungan konsumen dan jalan tol sebagai pendukung. Juga yang ada dalam kamus, ensiklopedia, dan internet sebagai penunjang
22 Soekanto, Loc. Cit
23 Soekanto, Loc. Cit
2. Studi lapangan (field research). Dalam studi lapangan, data dikumpulkan lewat interaksi langsung dengan responden yang berada di masyarakat yang berkaitan dengan masalah yang ada di dalam skripsi.
b. Alat Pengumpul Data
1. Studi pustaka dan studi dokumen
Dalam studi pustaka dan studi dokumen, alat yang digunakan berupa berbagai sumber pustaka dan dokumen berupa undang-undang, peraturan- peraturan dan hukum, buku, penelitian, jurnal, kamus, ensiklopedia, dan artikel internet yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi.
2. Wawancara
Dalam wawancara, yang mana wawancara terstruktur yang terkait dengan pertanyaan terhadap pihak-pihak yang mengelola jalan tol. Pihak yang dimaksud adalah PT. Jasa Marga (Persero) yang mengelola ruas jalan tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa.
5. Analisis Data
Secara umum ada 2 (dua) metode analisis data yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode analisis kualitatif.
Metode Analisis Kualitatif merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan, dan perilaku nyata.24
24 Soekanto, Op. Cit., hlm. 32
19 Analisis tersebut dilaukan dengan cara mengolah dan menganalisis data serta mendeskripsikannya dengan kata-kata sehingga diperoleh bahasan atau paparan dalam bentuk kalimat yang sistematis dan dapat dimengerti serta dapat ditarik suatu kesimpulan.
Tujuan analasis data kualitatif adalah mencari makna dibalik data yang melalui pengakuan subyek pelaku. Peneliti dihadapkan kepada berbagai objek penelitian yang semuanya menghasilkan data yang membutuhkan analisis. Data yang didapat dari objek memilik kaitan yang masih belum jelas. Oleh karenanya, analisis diperlukan untuk mengungkapkan kaitan tersebut secara jelas sehingga menjadi pemahaman umum.
Meskipun analisis kualitatif ini tidak menggunakan teori secara pasti, akan tetapi keabsahan dan kevalidan temuannya juga diauki sejauh peneliti masih menggunakan kaidah-kaidah penelitian.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini dibuat secara terperinci dan sistematis, agar memberikan kemudahan bagi pembaca dalam memahami makna dari penulisan skripsi ini.
Keseluruhan sistematika itu merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.
Bab I akan membahas tentang latar belakang, perumusan masalah, keaslian penulisan, manfaat penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan yang terakhir sistematika penulisan.
Bab II akan membahas mengenai Konsumen dan Perlindungan Konsumen, Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen, Hak dan Kewajiban Konsumen, serta Pengguna Jalan Tol sebagai Konsumen.
Bab III akan membahas mengenai Sejarah, Dasar Hukum, Tujuan dan Fungsi Lembaga Jasa Marga, Peran PT. Jasa Marga dalam pengelolaan Jalan Tol, serta Peran PT. Jasa Marga dalam Melindungi Konsumen Pengguna Jalan Tol.
Bab IV akan membahas mengenai bagaimana pengelolaan jalan tol Belmera oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Prosedur dan strategi Penanganan Konsumen Korban Kecelakaan Jalan Tol di Jalan Tol Belmera, Tanggung Jawab Hukum PT.
Jasa Marga (Persero) Tbk Terhadap Pengguna Jalan Tol yang Mengalami Kecelakaan di Jalan Tol, serta Pelaksanaan Tanggungjawab PT. Jasa Marga (Persero) Tbk Terhadap Pengguna Jalan Tol yang Mengalami Kecelakaan di Jalan Tol Belmera.
Bab V merupakan bab penutup yang membahas tentang kesimpulan dan saran. Merupakan ringkasan dari bab-bab yang berisi kesimpulan terhadap penelitian ini dan saran dari penulis terhadap permasalahan yang ada dalam penelitian ini.
BAB II
PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENGGUNA JALAN TOL
A. Pengertian Konsumen dan Perlindungan Konsumen
Pengertian konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.25 Subyek yang disebut sebagai konsumen berarti setiap orang berstatus sebagai pemakai barang dan/atau ajas. Istilah “orang”
sebetulnya menimbulkan keraguan, apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke person atau termasuk juga badan hukum (rechtspersoon). Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam pasal 1 angka (3), yang secara eksplisit membedakan kedua pengertian person di atas, dengan menyebutkan kata-kata: “orang perseorangan atau badan usaha”. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian konsumen itu sebatas pada orang perseorangan.
Namun, konsumen harus mencakup juga badan usaha, dengan makna lebih luas daripada badan hukum.26
Di dalam kepustakaan ekonomi dikenal istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk
25 Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
26 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia (Jakarta: PT Grasindo, 2000), hlm. 4- 5.
sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Pengertian Konsumen dalam undang-undang ini adalah konsumen akhir.
Istilah Konsumen berasal dari alih bahsa dari kata consumer, secara harfiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Beggitu pula Kamus Bahasa Inggris-Indonesia yang memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen.27 Inosentius Samsul menyebutkan konsumen adalah pengguna atau pemakai akhir suatu produk, baik sebagai pembeli maupun diperoleh melalui cara lain, seperti pemberian, hadiah, dan undangan.
Mariam Darus Badrul Zaman mendefinisikan konsumen dengan cara mengambil alih pengertian yang digunakan oleh kepustakaan Belanda, yaitu: “Semua individu yang menggunakan barang dan jasa secara konkret dan riil”. Kendatipun Anderson dan Krumpt menyatakan kesulitannya untuk merumuskan definisi konsumen, namun para ahli hukum pada umumnya sepakat bahwa arti konsumen adalah pemakai akhir dari benda dan/atau jasa (uiteindelijke gebruiker ven goederen en diensten) yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha (ondernemer).28
Keinginan yang hendak dicapai dalam perlindungan konsumen adalah menciptakan rasa aman bagi konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidup. Terbukti bahwa semua norma perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen memiliki sanksi pidana. Singkatnya, bahwa segala upaya yang dimaksudkan dalam perlindungan konsumen tersebut tidak saja terhadap tindakan preventif, akan tetapi juga tindakan represif dalam semua bidang perlindungan ynag
27 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), hlm. 15
28 Ibid hlm. 16
23 diberikan kepada konsumen, maka pengaturan perlindungan konsumen dilakukan dengan:29
1. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses informasi, serta menjamin kepastian hukum.
2. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku usaha.
3. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa.
4. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktik usaha yang menipu dan menyesatkan.
5. Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang-bidang perlindungan bidang-bidang lainnya.
Perlindungan konsumen mempunyai cakupan yang luas, meliputi perlindungan konsumen terhadap barang dan jasa, yang berawal dari tahap kegiatan untuk mendapatkan barang dan jasa hingga sampai akibat-akibat dari pemakaian barang dan atau jasa tersebut. Cakupan perlindungan konsumen itu dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu:30
a. Perlindungan terhadap kemungkinan barang yang diserahkan kepada konsumen tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati.
b. Perlindungan terhadap diberlakukannya syarat-syarat yang tidak adil kepada konsumen.
29 Ibid hlm. 22-23
30 Ibid hlm. 22
Hukum perlindungan konsumen adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah- kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan produk konsumen atara penyedia dan penggunaannya, dalam kehidupan bermasyarakat. Tegasnya, hukum perlindungan konsumen merupakan keseluruhan peraturan perundang-undangan, baik undang-undang maupun peraturan perundang-undangan lainnya serta putusan-putusan hakim yang substansinya mengatur mengenai kepentingan konsumen.31
B. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Asas-asas dalam Hukum Perlindungan Konsumen terdapat dalam Pasal 2 UUPK yaitu berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.32 Penjelasan dari Pasal 2 UUPK, menyatakan bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima) asas yang relevan dalam pembangunan nasional yaitu:33
a. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besaranya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
b. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksakan kewajibannya secara adil.
c. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.
d. Asas keaman dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
31 Ibid hal 23-24.
32 Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.
33 M. Sadar, Moh. Taufik Makarao, Habloel Hawadi, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, (Jakarta : Akademia, 2012), hlm. 19-20
25 e. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
Dengan memperhatikan kepentingan dan keperluan konsumen di berbagai negara, khususnya di negara-negara sedang berkembang, harus diakui bahwa konsumen mengalami kondisi ketidakseimbangan ekonomi, tingkat pendidikan, daya tawar menawar; dan dengam memperhatikan bahwa pada dasarnya konsumen mempunyai hak terhadap produk yang tidak berbahaya, juga mempunyai hak untuk memajukan pembangunan sosial ekonomi dan perlindungan lingkungan secara adil dan berkesinambungan, maka rambu-rambu perlindungan konsumen mempunyai tujuan sebagai berikut:34
a. Membantu pemerintah mencapai dan mempertahankan perlindungan yang memadai bagi masyarakat sebagai kosumen;
b. Memfasilitasi pola produksi dan distribusi yang responsif terhadap kebutuhan konsumen;
c. Membuat kode etik produksi dan distribusi barang dan jasa kepada konsumen;
d. Membantu pemerintah mencegah praktik bisnis yang kotor dari seluruh pelaku usaha secara nasional dan internasional yang berdampak pada konsumen;
e. Memfasilitasi pembuat lembaga konsumen independen;
f. Mewujudkan kerja sama internasional dalam bidang perlindungan konsumen;
g. Membangun kondisi pasar yang memberikan kesempatan kepada konsumen dengan pilihan yang luas dengan harga yang murah;
h. Meningkatkan konsumsi yang berkelanjutan.
Pasal 3 UUPK mengemukakan, Perlindungan konsumen bertujuan:35
a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
34 Ibid, hal. 21-22
35 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenati pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
f. meningkatkan kulitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produsksi barang dan/atau jasa, kesahatan, kenyaman, keamanan, dan keselamatan konsumen.
C. Hak dan Kewajiban Konsumen
Kesimbangan perlindungan konsumen dengan produsen atau pemberi jasa dapat dicapai dengan meningkatkan perlindungan terhadap konsumen, karena posisi produsen yang selama ini lebih kuat daripada konsumen. Salah satu cara yang paling utama dalam mencapai keseimbangan antara perlindungan konsumen dengan perlindungan produsen adalah dengan menegakkan hak-hak konsumen. Hak-hak yang merupakan hak dasar konsumen, untuk pertama kali dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy di depan kongres pada 15 Maret 1962, yaitu terdiri atas:36
a. hak memperoleh keamanan;
b. hak memilih;
c. hak mendapat informasi;
d. hak untuk didengar.
36 Ahmadi Miru, Prinsip-prinsp Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2011), hlm. 102
27 Keempat hak tersebut di atas merupakan bagian dari Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB pada 10 Desember 1948, masing-masing pada Pasal 3, 8, 19, 21, 26 yang oleh Organisasi Konsumen Sedunia (Internasional Organization of Consumers Union- IOCU) ditambahkan empat hak dasar konsumen lainnya, yaitu:37
a. hak untuk memperoleh kebutuhan hidup;
b. hak untuk memperoleh ganti rugi;
c. hak untuk memperoleh pendidikan konsumen;
d. hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Di samping itu, Masyarakat Ekonomi Eropa (Europese Ekonomische Gemeenscha atau EEG) juga telah menyepekati lima hak dasar konsumen sebagai berikut:38
a. hak perlindungan kesehatan dan keamanan (recht op berscherming van zjin gezendheid en veiligheid);
b. hak perlindungan kepentingan ekonomi (recht op bescherming van zjin economische belangen);
c. hak mendapat ganti rugi (recht op schaadevergoeding);
Dalam pasal 4 UUPK mengenai hak konsumen terdiri dari:39
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih dan mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atau barang dan/atau jasa yang digunakan;
37 Ibid, hlm. 103
38 Ibid, hlm. 103
39 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Memperhatikan hak-hak yang disebutkan di atas, maka secara keseluruhan pada dasarnya dikenal sepuluh macam hak konsumen, yaitu sebagai berikut:40
a. Hak atas keamanan dan kesalamatan
Hak atas keamanan dan keselamatan dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang atau jasa yang diperolehnya, sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugiaan (fisik maupun psikis) apabila mengonsumsi suatu produk.
b. Hak untuk memperoleh informasi
Hak atas informasi sangat penting, karena tidak memadainya informasi yang disampaikan kepada konsumen dapat juga merupakan salah satu bentuk cacat produk, yaitu yang dikenal dengan cacat instruksi atau cacat karena informasi yang tidak memadai. Hak atas informasi yang jelas dan benar dimaksudkan agar konsumen dapat memperoleh gambaran yang benar tentang suatu produk, karena dengan informasi tersebut konsumen dapat memilih produk yang diinginkan/sesuai kebutuhannya serta terhindar dari kerugian akibat kesalahan dalam penggunaan produk.
40 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta :PT.
Rajagrafindo Persada, 2004), hlm. 40
29 c. Hak untuk memilih
Hak untuk memilih dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih proiduk-produk tertentu sesuai dengan kebutuhannya, tanpa ada tekanan dari pihak luar. Berdasarkan hak untuk memilih konsumen berhak memutuskan untuk membeli atau tidak terhadap suatu produk, demikian pula keputusan untuk memilih baik kualitas maupun kualitas jenis produk yang dipilihnya.
d. Hak untuk didengar
Hak untuk didengar ini merupakan hak dari konsumen agar tidak dirugikan lebih lanjut, atau hak untuk menghindarkan dari dari kerugian. Hak ini dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukan berupa pengaduan atas adanya kerugian yang telah dialami akibar penggunaan suatu produk, atau berupa pernyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen.
e. Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup
Hak ini merupakan hakyang sangat mendasar, karena menyangkut hak untuk hidup. Dengan demikian, setiap orang (konsumen) berhak untuk memperoleh kebutuhan dasar (barang atau jasa) untuk mempertahankan hidupnya (secara layak).
Hak-hak ini terutama yang berupa ha katas pangan, sandang, papan, serta hak-hak lainnya yang berupa hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
f. Hak untuk memperoleh ganti kerugian
Hak atas ganti kerugian dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak (tidak seimbang) akibat adanya penggunaan barang atau jasa yang tidak memenuhi harapa konsumen. Hak ini sangat terkait dengan penggunaan produk yang telah merugikan konsumen, baik yang berupa kerugian materi, maupun kerugian yang menyangkut diri (sakit, cacat, bahkan kematian) konsumen.
g. Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen
Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan agar dapat terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk, karena dengan pendidikan konsumen, konsumen akan dapat menjadi lebih kritis dan teliti dalam memilih suatu produk yang dibutuhkan.
h. Hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat;
Hak atas lingkungan yang bersih dan sehat ini sangat penting bagi konsumen dan lingkungan. Hak untuk memperoleh lingkungan bersih dan sehat serta hak untuk memperoleh informasi tentang lingkungan diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
i. Hak untuk mendapatkan barang sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya
Hak ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari kerugian akibat permainan harga secara tidak wajar. Dalam keadaan tertentu konsumen dapat saja membayar harga suatu barang yang jauh lebih tinggi daripada kegunaan atau kualitas dan kuantitas barang atau jasa yang diperolehnya. Penegakan hak konsumen ini
31 didukung pula oleh ketentuan dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
j. Hak untuk mendapatkan upaya penyelesaian hukum yang patut.
Hak ini tentu saja dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat penggunaan produk, dengan melalui jalur hukum.
Bagaimanapun ragamnya rumusan hak-hak konsumen yang telah dikemukakan, namum secara garis besar dapat dibagi dalam tiga hak yang menjadi prinsip dasar, yaitu:41
1. hak yang dimaksudkan untuk mencegah konsumen dari kerugian, baik kerugian personal, maupun kerugian harta kekayaan;
2. hak untuk memperoleh barang dan/atau jasa dengan harga yang wajar; dan
3. hak untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhadap permasalahan yang dihadapi.
Kewajiban konsumen diatur dalam pasal 5 UUPK terdiri:42
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
41 Ibid, hlm. 47
42 Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen
Adanya kewajiban konsumen membaca atau mengikuti petujunk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa dmei keamanan dan keselamatan, merupakan hal penting mendapat pengaturan. Adapaun pentingnya kewajiban ini karena sering pelaku usaha telah menyampaikan peringatan secara jelas pada label suatu produk, namun konsumen tidak membaca peringatan yang telah disampaikan kepadanya. Dengan pengaturan kewajiban ini, memberikan konsekuensi yang bersangkutan menderita kerugian akibat mengabaikan kewajiban tersebut.
Menyangkut kewajiban konsumen beritikad baik hanya tertuju pada transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Hal ini tentu saja dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen. Berbeda dengan pelaku usaha kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha).43
Kewajiban konsumen membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati dengan pelaku usaha, adalah hal yang sudah biasa dan sudah semestinya demikian.
Kewajiban lain yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut adalah kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. Kewajiban ini dianggap sebagai hal baru, sebab sebelum diundangkannya UUPK hampir tidak dirasakan adanya kewajiban secara khusus seperti ini dalam perkara perdata sementara dalam kasus pidana tersangka/terdakwa lebih banyak dikendalikan oleh aparat kepolisian dan/atau kejaksaan.
43 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, op.cit, hlm. 49
33 Adanya kewajiban seperti ini diatur dalam UUPK dianggap tepat, sebab kewajiban ini adalah untuk mengimbangi hak konsumen untuk mendapatkan upaya penyelesesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Hak ini akan menjadi lebih mudah diperoleh jika konsumen mengikuti upaya penyelesaian sengketa secara patut.
D. Pengguna Jalan Tol Sebagai Konsumen
Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.44 Tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol.45 Penyelenggaraan jalan tol dimaksudkan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta keseimbangan dalam pengembangan wilayah dengan memperhatiakn keadian, yang dapat dicapai dengan membinan jaringan jalan yang dananya berasal dari pengguna jalan.46 Penyelenggaraan jalan tol bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama di wilayah yang sudah tinggi tingkat perkembangannya.47
Pembangunan jalan tol harus memenuhi dua syarat tertentu yaitu syarat umum dan syarat teknis. Syarat umum jalan tol adalah:48
a. Jalan tol merupakan lintas alternatif dari ruas jalan umum yang ada.
44 Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.
45 Pasal 1 angka 6 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.
46 Pasal 2 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.
47 Pasal 2 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.
48 Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.
b. Jalan tol dapat tidak merupakan lintas alternatif apabila pada Kawasan yang bersangkutan belum ada jalan umum dan diperlukan untuk mengembangkan suatu Kawasan tertentu.
c. Ruas jalan umum sebagaimanan dimaksud sekurang-kurangnya mempunyai fungsi arteri atau kolektor.
d. Dalam hal jalan tol bukan merupakan lintas alternatif sebagaimana dimaksud, jalan tol hanya dapat dihubungkan ke dalam jaringan jalan umum pada ruas yang sekurang-kurangnya mempunya fungsi kolektor.
Syarat teknis jalan tol antara lain:49
a. Jalan tol mempunyai tingkat pelayanan keamanan dan kenyamanan yang lebih tinggi dari jalan umum yang ada dan dapat melayani arus lalu-lintas jarak jauh dengan mobilitas tinggi.
b. Jalan tol yang digunakan untuk lalu-lintas antarkota didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 80 (delapan puluh) kilometer per jam, dan untuk jalan tol di wilayah perkotaan didesain dengan kecepatan rencana paling rendah 60 (enam puluh) kilometer per jam.
c. Jalan tol didesain untuk mampu menahan muatan sumbu terberat (MST) paling rendah 8 (delapan) ton.
d. Setiap ruas jalan tol harus dilakukan pemagaran, dan dilengkapi dengan fasilitas penyeberangan jalan dalam bentuk jembatan atau terowongan.
49 Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol.