T,RNAL
PENEL
T
AN
Safi
nGek
Penerbit:
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab:
Ketua Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta
Redaksi:
Ketua
:
Prof. Dr. SriAtuinSekretaris
:
Retno Arianingrum, M.Si.RedakturAhli :
1.
Dr. Wardan Suyanto, M.A.2.
Dr. dr. BM Wara Kushartanti, M.S. RedakturPelaksana
:
Retno Hidayah, Ph.D.Anggota
Redaktur
:
1.
Heru Kuswanto, Ph.D.2.
Yuli Priyanto, Ph.D.3.
Slamet Widodo, M.T.4.
Agus Budiman, M.Pd., M.T.Tata UsahalPelaksana:
Drs. Endy Fachmi
Setting dan Tata Letak:
Ant.
HediAri
Purwanto, S.lP.Alamat RedaksilTata Usaha:
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta Gg. Guru, Kampus Karangmalang, Yogyakafta 55281
Telepon (0274) 586168 pesawat 242, 262, Fax. (0274) 518617 Website: http://www. u ny.ac. id/penel itian-da n-penga bd ian/lem I it
Email: [email protected]
Jurnal Penelitian Saintek merupakan lanjutan dari Jurnal Penelitian lptek dan Humaniora
Frekuensi terbit: tengah tahunan
Semua tulisan yang ada dalam
Jurnal
Penelitian Saintek
bukanmerupakan cerminan
sikap dan/atau
pendapat Dewan
Redaksi.Tanggung
jawab terhadap
isi dan/atau akibat dari tulisan tetap
terletak
pada penulis.
s.tll
wunrr
I
J
!
(
t
I
(
I
--t
{
F FI
o
.\
*
o
r1
D, CI
Fe
k
-T,RNAL
PENEL
T,^-
Sil nGck
Votume 15, Nomor 2, Oktober
2010
ISSN: 1412-3991DAFTAR
ISIDaftar
Isi
...
I
Ulek Sitotoksik Ekstrak UrnbiTumbuhan Tetnu
Giring
(Curcuma Heltneana) dan Temu beng (curcuma Aeruginosa) terhadap BeberapaSel Kanker
oleh:
s|i
Atr.tn, NtillittaAznctnr, RetnoAriortingrum,
sriNurestri..."'
l-9
Bioclegraclasi Poliuretan Flasil Sintesis dari
Minyak
Kedelai, polioksietilenGlikol,
dan Metilen-4,4'-DifenildiisosianatOlelr:f/i
Rohaeti tlanSenam
10-25Pengaruh Rentelting
Aluminium
terhadap Laju Perambatan Retak Paduan
Oleh:,4ris Budiyono dan Jamasri 26-34
Pengembangan Teknologi Pengawetan
Kulit
Salak untuk Bahan Produk Seni KerajinanOleh:7,uffi HencJri d.an Retno
Arianingrum
35-47Analistr Teknik Urutan Pengelasan pada Pengelasan SMAW
Alur
V
dalarn Upaya Mereduksi DistorsiOleh:
Heri
Wbowo datt Riswan Dwi JatmikoOptirnasi
I(inerja
Lentur Balok Beton Berfr-rlang untuk Meningkatkan Perfonna Struktur Bangunandi
Daerah Rawan GempaOlelr:,,lgrzs Santoso, ,slimet Wiclodo, rlan Nuryadin Eko
Raharjo
58-67pengaruh Kekentalan Pendingin terhadap Keausan pada Pahat
48-57
68-83 Bermata Potong Ganda
H
Jttrnal Penelilian Saintek, Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2010
BIODEGRADASI POLIURETAN
HASIL
SINTESISDARI
MINYAK KEDELAI,
POLIOKSIETILEN GLIKOL,
DANMETILEN-4,4'.DIFENILDIISOSIANAT
Oleh
EIi Rohaeti dan Senam Staf Pengajar FMIPA UNY
Abstract
The obiective of researchwere to synthesize polyurethaneJi'om soybectn oil, PIiG-100 ancl MDI, to delermine the cross linking, and
to
learn the inJluence oJ' incubation timestowarcl degradability of polyurethane. Polyurethane was synthesizcd ,fi'ont soybean oil ancl oxyclatcd soybean oil at room temperalure Jbllowecl b), curing./br l0 hours at 70 ('C,
anri lhan at 100 "C'.fr, 3 hours. The synthesis wqs conclucted v,ith ntats composition
SBO/ OSBO
:
PEG400;
MDI
: L'
2
:
3.
Biodegradation was condttcted by usingnticroorganism
in
an actived sludgeof
rualka meditnnat
37
(t('. Th;
v,triationof
incubation times were 5, 10, 15, 20, 25, and 30 days, respectively with change.s nf media every 5 days. Characterizalions of polyurethqne were /ilnclionctl gt'oups, cross linking, mass loss and biodegradability. The oxydated soybean oil has increased intensity of -OH functional group, hydroxyl number, density, melting and boiling point, otherwise the refraction index has decreased. The synthesized polyurethane
has
characteristic absorption ofurethanefnnctional group and crass link. The increasing ofincubcttion tintecan decrease biodegradability of polyurethane. The mass lo.ss ctf polyurathane .from SBO-PEG400-MD| has the higher. Biodegradation can disappear urethone group crncl
d e cr e qs e crys t al li ni ty of p olyur e thane.
Key words: biodegradation, mass loss, crystal\inity, polyurethane.
PENDAHULUAN
Minyak kedelai dapat diekstraksi dari
biji
kedelai (Glycine ntaxL)
dengan metoderrascrasi. Pelarut yang banyak digunakan
da-lam proses ekstraksi adalah etanol, heksana,
etilen diklorida,
aseton, isopropanol, danmetanol. Pelarut yang digunakan dalarn
pe-nelitian
ini
adalah r-heksana teknis karena kadar minyak dalambiji
kedelai kurang dari25yo,
sehinggacara terbaik
untuk
meng-ekstraksinya
adalah
menggunakan pelarutyang
rnudah
menguapsepefti
n-heksana.Minyak
kedelaidipilih
karena mengandung850% asarn lernak
tidak jenuh
Howard, 2002), terutarna asam lemak linoleat yangl0
r.nengandung
2
ikatarr rangkapC=C
dalant strukturnya. Melalui oksidasi alkena rnenjadi1,2-diol,
satu
ikatarr larrgkap
C=C
asalnlemak linoleat dapat nrcnrbcntult dua gugus
hidroksil.
Proses ol<sidasi minyak kedelai
me-rupakan proses pernecahan ikatan rangkap
C=C
llada asam lemak minyak kedelaide-ngan mengunakan oksidator. Fada penelitian
ini
oksidator yang digunakan adalah kaliurnpermanganat (KMnOa), karena
ion
peflna-nganat
(MnOa-)dalam
suasana basa dandingin (25"C)
dapat mengoksidasi!
Biodegradasi Poliuretan l-lasil Sintesis dari Minyak Kedelai, Polioksietilen Glikol, dan Mefilen-4,4
''
Difenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senam)mempunyai dua gugus hidroksil terikat pada
dua atom karbon berdampingan. Konsentrasi
oksidator KVInO+ dalam penelitian ini adalah
30% (m/v)
karena merupakan konsentrasioptimum untuk
tnengoksidasi asarn lernakpada minyak kedelai (Howard, 2002,).
Poliuretan merupakan bahan polirner
yang
memplrnyaiciri
khas
adanya gugus fungsi uretan (-NHCOO-) dalam rantai utamapolirner (Hepburn, 1982;
Eli
Rohaeti, 2003). Gugus fungsi uretan dihasilkandari
reaksiantara
senyawayang
mengandung gugushidroksil (-OFI)
dengan
senyawa
yangmengandung
gugus
isosianat
(-NCO').Poliuretan merupal.:an potimer termoset yang
terbentuk
dari
reaksi
antara
senyawa diisosianat dengan senyawa polifungsi yangmengandung sejurnlah gugus fungsi hidroksil
(poliol)
(Hartomo,
1993;Hepburn,
1982).Sumber
poliol
yairg
digunakandalam
pe-nelitian
ini
adalah rninyak kedelai sebelum dan sesrrclah dioksidasi (SoybeanOill
SBOdan
OxydutcdSoybc,,,
Oil/
OSBO),
clanpolioksictilen
glikol
massamolckul
400 (PEG400). Senyawa diisosianat yangdiguna-kan pada penelitian
ini
adalahmetilen-4,4'-difenildiisosianat
(MDI)
karenakereaktifan-nya yang tinggi. Senyawa diisosianat
komer-sil
lainnya
yang
dapat
digunakan dalam sintesis poliuretarr adalahheksametilen-1,6-diisosianat
(HMDI)
dan
campurantolilen-2,4-diisosianat dengan tolilen-2,6-diisosianat
(TDI)
(Flepburn, 1982; Eddy Tano, 1997).Poliuretan
memiliki
banyakkeguna-&r,
diantaranya
sekitar
70%
digunakansebagai
busa,
selebihnya sebagai
bahanelastomer, lem dan pelapis. Busa poliuretan
yang
elastis
digunakan sebagai
isolator, termasuk laminat-laminat tekstil untukpakai-an
musim dingin, panel
pelindung
padamobil, kain pelapis, tempat tidur, dan karpet
dasar
spon
sintetis, sedangkan busa yangkeras digunakan dalam panel-panel
konstruk-si
terisolasi,
pengemasan barang-barang lunak danuntuk furnitur
ringan (Hartomo, 1993; Hepburn, 1992;Eli
Rohaeti, 2003).Selain
itu,
poliuretan digunakan
sebagai bahan perekat logam,kayu, karet,
kertas,kain, keramik, plastik polivinilklorida (PVC),
penyambung tangki bahan bakar cryogenic,
pelindung muka,
dan
kantong darah
(EliRohaeti, 2003).
Pcnggunaatr
poliuretan
akan
terusrncningkat nrcngingat kcttnggttlarr
sifat
dan 'pcmakaiannyacukup praktis
(tili
Rohaeti, 2003;2004). Masalah yang tirnbul kernudianakibat
peningkatan pengunaan poliuretanadalah
makin
bertumpuknyalimbah
poli-uretan. Cara penanggulangan yang dianggap
paling
bersahabat dengan lingkungan dantidak
menimbulkan masalahbaru
adalahmelalui
biodegradasi,
yakni
perusakanpoliuretan
dengan
cara
biologis
atau-Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2Al0
metlgunakan
mikroorganisme
tertentu sebagai pengurainya(Eli
Rohaeti,
2004;2004;
Howard,
2002).
Sumber
mikro-organisme yang digunakan dalam penelitianini
berasal
dari
lumpur
aktif
InstalasiPengolalian
air
t,imbah
(lpAL)
Bantul, Yogyakarta. Proses biodegradasi dilakukansclama
5,
10,15,20,25
dan 30 hari dengan temperatur inkubasi 37oC dalam rnedia malkapadat. Selarna proses biodegradasi, setiap 5
hari
sekali
dilakukan
penggantian mediadengan harapan agar mikroorganisme dalam
lumpur
aktif
akan mendapatkan kembalike-adaan
yang kaya nutrisi dan
dapat
me-ningkatkankembali
aktivitasnya, sehingga diharapkan semakin banyakbagian
rantai polimer yang akan terdegradasi. Keberhasil_an
proses
biodegradasipoliuretan
hasil sintesis oleh rnikroorganisme dalam lumpuraktif dapat diketahui dengan membandingkan
karakter poliuretan hasil sintesis sebelum dan
sesudah
dibiodegradasimeliputi
analisis gugus fungsi denganFTIR
dan kristalinitas denganXRD,
kehilangan massadan
lajukehilangan massa (Eli Rohaeti, 2003; ZOO4).
Pada penelitian
ini
poliuretan disinte_ sis terlebih dahulu, kemudian poliuretan hasilsintesis dibiodegradasi menggunakan lumpur
aktif.
Berdasarkan penelitian terdahulu me_nunjukkan
bahwa
biodegradasi
dengan menggunakan lumpuraktif
lebih efektif dari pada dengan Pseudontonas aeruginosa, hal12
ini
karena
pada
lurnpur
aktif
banyakterkandung
mikroorganisrne
yang
dapatmendegradasi poliuretan
(Eli
Rohaeti, 2004; Howard,2002).MIITODII
PITNELITIAN
Alat-alat
yang
t'ligunakarr
dalant penelitianini,
yaitu:
FTII{
800
Shimadzu, refraktorneterAtago,
XIID
merk
DIy'rNO,pemanas
listrik,
inkubator,
tennorneter,corong
pisah, waterbath
EYELA,
rotaryevaporalor, piknometer, neraca
digital, pencatat waktu, oyen, eawan petri, penyaringBuchner, autoklaf, kaca masir, mechanical
stirrer,
pompavakum, laminar
flow,
dan alat-alat gelas lainnya. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitianini,
yaitu:biji
kedelai putilt (Glyci,rc ntax L),larutann-heksana, metilen-4,4'-difenildiisosianat
(E-merck), polioksietilen
gliliol
400 (E-rnercl<),asam asetat anhidrida, etanol,
kloroform
,
piridin, kristal
kaliurrr
pennanganat(KMnOa),
kristal
natrium
hidroksida(NaOH),
kristal
natrium sulfat
anhidrat,kristal kalium
hidoksida
(KOH),
kristalkalium
bromida
(KBr), kristal
Q..lHa)2SOa,
kristal
NazHPO+,kristal
NaHzpOa, kristalMgSO+.71-lzO,
kristal
FeSO+.71-lzO, lumpur aktif,bacto agar, indikator pp, dan akuades.Percobaan
yang dilakukan
rnelipr.rtiisolasi rninyak kedelai
dari
b,ji
kacangBiodegradasi Poliuretan Hasil Sintesis dari Minyak Kedelai, Polioksietilen Glikol, dan Metilen-4,4'-Difenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senam)
minyak kedelai dengan larutan KMnO+ 30%
(m/v), karakterisasr rninyak kedelai sebelum
dan sesudah pksidasi meliputi gugus fungsi,
bilangan hidroksil, lrlassa
jenis,
indeks bias,titik
leleh dantitik
didih minyak. Selanjutnyadilakukan
polirnerisasi poliuretan
denganprosedur sebagai
berikut.
Minyak
kedelai,potioksietilen
glikol
massamolekul
400(PEG 400). dan
rnetilen-4.4'-difenildiisosianat
(MDI)
dimasukkan
kedalam
gelaskimia
dengan massamasing-rnasing
2,
4,
dan6
gram, campuran diaduk dengan batang pengaduk pada temperaturkamar sehingga diperoleh poliuretan precure.
Ken-rudian poliuretan precure dicetak
di
atas cawanpetri.
Lakukan prosescuring
dalamo:,en pada temperatur
70"C
selamal0
jam,kemudian lanjutkan pada temperatur 100oC
selama 3 jam. Langkah polimerisasi yang
sa-rna
juga
dilakukan r,rntLrk komposisi minyakkedelai teroksidasi. PIrG 400, dan MDI.
PoliLrrctan
hasil
sintesissiap
LrntLrkdibiodegradasi. Pembuatan mediurn malka
padat
dan
stcrilisasi poliuretan
dilakukarrterlebih dahulu sebelum proses biodegradasi
ilalarn rnedia malka
padat.
Karakterisasipoliuretan sebelurn dan sesudah biodegradasi
meliputi
arralisis
gugus fungsi
dengan spcl<trolbtometerIII"lR,
penentuan ikatansilang (cross link) melalui
uji pengembungan,kehilangan massa,
bio-degrabi I itas, dan kristalinitas.
HASIL
DANPEMBAHASAN
Pada proses perendaman serbuk
biji
kedelai terjadi proses difusi dari dalam sel ke
luar
sel. L,arutan n-heksana 607o akanme-nembus
dinding
sel
dan
masukke
dalam ronggasel
yang
mengandungminyak
ke-delai. Minyak kedelai akan larut dan karena
adanya perbedaan konsentrasi antara mirryak
kedelai
di
dalam se I dengan yangdi ltrtr
sel.rnaka minyak kedelai
di
dalam sel (lebih pe-kat) akan didesak ke luar sel, sehingga terjadidifusi rninyak kedelai dari dalam sel ke luar
sel.
Peristiwa
tersebutberulang
sehinggaterjadi
keseimbangankonsentrasi
antaralarutan
di
luar dandi
dalam sel. Selanjutnya proses pemurnian rninyak kedelai dilakukandengan
penyaringan menggunakan kertassaring untuk memisahkan ampas serbuk
biji
kedelai yang tersisa dilanjutkan dengan
pro-ses evaporasi pada temperatur 60nC. Minyak
kedelai yang
dihasilkan sebanyak 22,45%odari total
scrbuk bi.li kedelai, berupa cairankental dan
berwarnakuning .ierami.
Se-lanjutnya
minyak
keclelaiyang
dioksidasidengan larutan KMnO+ 30'/o
(nlv)
dalam suasana basa pada temperatur 25"C (OSBO)berupa cairan kental berwarna kuning agak
kecoklatan sebanl'ak 62%.
Untuk membandingkan daerah
serap-an
spektrum SBO dan OSBO rnaka dibuattabel korelasi perbandingan bilangan
[image:7.612.37.558.54.777.2]Jurnal Penelitian Saintek, VoL 15, Nomor 2, Oktober 2010
Tabel
l.
Perbandingan bilangan gelornbang dari spektrurn FTIR SBO dan OSBOBilangan Gelombang (cm-')
Jenis Gugus Fr-rngsi
SBO
OSBO72291
722,47 Bengkokan keluar bidane ='CFI Bengkokan keluar bidang -CI'l C-O EsterRentangan P-O-C I 164.59 I 164.58 C-O Ester
1237,15 Vibrasi rentangan P=O t372,13 1371,53 Benskokan Metil (CHr)
Vibrasi Bidang Guntingan :CH 1458,81 1458,95 Metilen (-CHr)
1653,7 4
1655,79
Rentansan C:C Alkana t'745.72 1145.19 C:O Ester2361,08 2360,09 COz
28s6,s9
2856,96
Rentangan Metilen (-CHz-) 2927,272928,18
Rentangan CH:Alkana3008,70
3008,84 Rentangan =CH Alkena 3473,17 3473,0s O-H AlkoholAdanya trigliserida dalam
minyakkedelai didukung
dengan adanya serapanpada
2855,54
cm-r
dan
diperkuat
oleh serapan pada 1458,81 cm-l yang merupakanrentangan metilen (-CHz-). Munculnya
serap-an metilen pada spektrum
FTIR
SBO selain mernbuktikan adanyastruktur -CH2-
yangterikat
pada atomO
trigliseridajuga
mem-buktikan
adanyametilen
dari
asam lemakyang terikat pada atom C trigliserida. Adanya
serapan C-O ester pada bilangan gelombang
1164,59 cm-l dan serapan C=O ester dalam
trigliserida
terjadi pada
1745,72
cm-'.Dengan demikian
di
dalam SBO
terdapat gugusfungsi
C-O
ester,C=O
ester dan-cHz-
yang
merupakan penyusun struktur trigliserida.Keberadaan asam lemak tidak jr:nuh
dalam
minyak
kedelai dibuktikan
denganadanya serapan
atom
C
berikatan rangkap(C:C)
pada 1653,'14 cm-l, diperkuat adanyaserapan sebelah
kiri
3000cm-r
yaitu
pada3008,7 yang menunjukkan rentangan
:CH-alkena. Adanya serapankuat
pada 2927,27 cm-l menunjukkan adanya gLrgus metil (CH3alkana) yang berada pada bagian ujung dari
struktur trigliserida.
Minyak
kedela;
sebenarnya telahmerniliki sedikit
gugus furrgsi
OH
yangterdapat dalam fosfolipid.
Adlnya
fosfolipiddalam nrinyak
kedelai
hasil
maserasiditunjukkan
oleh
adanya serapan rentanganP:O
pada bilangan gelombang 1237,15 cm-t .Munculnya
serapan
pada
3473,17
cm'l menunjukkan adanya gugus hidroksil dan hal [image:8.612.16.594.25.792.2]-Biodegradasi Poliuretan Hasil Sintesis dari Minyak Kedelai, Polioksietilen Glikol, dan Metilen-4,4
''
Difenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senam)ini
menguatkan keberadaanlipositol
yang merupakan senyawa fosfolipid yang terdapatdalam minyalgkedelai hasil maserasi.
Adanya
gligus-gugus
fungsi
darirninyak kedelai teroksidasi ditunjukkari oleh
serapan
C-O
ester pada
1164,58
cffi-r,serapan
C:O
esterpada
1743,5cm't
danserapan
pada
2856,96c,n-l
menunjukkan rentangan-CHz- (metilen)
yang
diperkLrat dengan serapanpada
1458,95cffi-1,
me-nunjukkan adanya trigliserida yang rnengikat
asam lemak teroksidasi. Keberhasilan proses
oksidasi ditunjukkan oleh absorbansi gugus
OI{
OSBO lebih besar dibandingkan gugtrsOH
SBO dan
diperkuat
dengan serapanvibrasi guntingan
:CFl
pada -1415 cm-r yangtidak
muncul pada spektrumFTIR
OSBO.Masih munculnya serapan C=C pada OSBO
bahwa
menunjukan prosesoksidasi
tidakmemutuskan semlla
ikatan ikatan
rangkap dalam SBO.Hal ini
juga
diperkuat denganintensitas serapan rentangan
:CH
SBO pada -3000 crn'r (sebelah l<iri) yang lebih lemah.Analisis kuantitatif
dari
spektrumFTIR
dilakukan
melalui
Penentuan absorbansi gLtgusOH
dengan menggunakanmetode base
line.
Tujuannya
untuk
IrIe-ngoreksi kesalahan yang
timbul
akibatada-nya
overlap
puncak
absorbansi.
Data absorbansi gugus Ol-{ ditunjukkan oleh TabelZ,
sedangkandata
sifat fisika dan
kimialainnya ditunjukkan oleh Tabel 3.
Tabel2. Absorbansi gugus OH spektrr"rni FTIR SBO dan OSBO
No
JenisMinyak
Bilangan Gelombang Gugus OH (cm- AbsorbansiSBO 3473,17 0,0066
OSBO 3473.05 0.0 r 67
Terjadi peningkatan absorbansi gugus
OI-l
dari
0,0066 pada SBO menjadi 0,0167 pada OS13O rnengindikasikan keberhasilanproses
oksidasi
terhadapminyak
kedelai.Keberhasilan proses oksidasi diperkuat oleh
Tabel 3. Sifat fisika
-
kirnia SBO dan OSBOadanya
peningkatanmassa
jenis,
titik
lelehterjadinya
pcnurunankedelai.
bilangan
hidroksil,dan
titik
didih
sertaindeks
bias
minyakJe nis
Pillng":.
MassaJenis
IndeksTitik
Tirik
vtinvak
',,i'*"rij"
(p),g.mt--'
Bias(D) ",oCi'
,o.r'
I
SBO 120.393 0,907
Leleh
Didih1.476
-r s-
(-s)
10s.7 Hidroksil!
Jurnal Peneiitian Saintek, Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2010
Sifat
fisik
poliuretan
hasil
sintestsdari
SBO/OSBO-MDI-PEG400 ditunjukkanpada Tabel 4. Analisis gugus fungsi
masing-masing poliuretan
hasil
sintesisdari
SBO-PEC400-MDI dan
poliuretanhasil
sintesisdari OSBO-PEC40O-MDI dapat
dilihat
paclaTabel 5.
Tabel 4. Sifat fisik poliuretan hasil sintesis dari SBO/OSBO-MDl-PECi400
No
Pengamatan Poliuretan Sifat FisikPUA
Kuning mudaI
WarnaPUB KLrning kecoklatan
PUA
Keras, sedikit elastic Sifat PadatanPUB
Keras, elastioPermukaan
PUA
Kasar, sedikit rnengkilapPUB
Halus, mengkilapKeterangan: Poliuretan
A
(PUA)
:
SBO-PEG400-MDI, PoliuretanB
(PU
B)
:
OSBO-PEG4OO-MDIKeberhasilan
proses
polimerisasi pembentukan poliuretanA
ditunjukkan oleh serapankarakteristik
adanyagugus
C:O
uretan
pada
1742,15cm-I.
Serapan1000-ll00
cm-r;dan
1100-1200 cm-ryang
me-rupakan serapan C-O uretan. Adanya serapan
amida
sekunderditunjukkan pada
daerah1310,38
cffi-I,
sedangkan serapan amina sekunder terjadi pada3443,82 cm't-Keberhasilan
proses
polimerisasipoliuretan
B
ditunjukkan
dengan adanyaserapan-serapan
karakteristik
gugus C:O
uretan pada 1742,95 cm-l dan
serapan
C-O uretan pada 1000-l 100 cm-r; dan I 100-1200cm-'.
serapan pada 1310,70 cm-' yang*e-rupakan serapan amida sekunder, sedangkan
amina sekunder
terjadi
pada 3451,58 cm-I.Adanya
serapanpada
1459,80cm-'
me-nunlukkan keberadaan guglrs alloflanat pada
poliuretan
A.
Serapanpada
1460,55.,r-'
menuniukkan keberadaart gLrgus allofanat
pada
poliuretan
B.
Poliuretan
A
danpoliuretan B memiliki ikatan silang allofanat.
Keberadaan isosianurat pada poliuretan A
darr
B
hasil
sintcsis dibuktikan
denganadanya
serapan
C=N
dalam
trimerkarboimida (OC:NRN-CO) pada
daerah1231,13
cm-r
dan
1232,90cm-I.
Dengandemikian poliuretan
A
dan poliuretan B hasilsintesis
merniliki
gugus isosianurat. Gugusisosianurat
ini
dapat terbentr.rkdari
reaksi trimerisasi tiga gugLrs isosianat bebas denganadanya pemanasan
l2l.
Proses pel.nanasarldapat
terjadi
pada saat prosescuring
padawaktu
sintesis poliuretan. Rumus strukturisosianurat ditunjukkan c leh Cambar 1 .
[image:10.612.43.588.194.755.2]-Biodegradasi poliuretan Hasil Sintesis clari Minyak Kedelai, Pol.ioksietilen Glikol, dan Metilen-4,4
''
'
Dfenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senam)
O
--^t --N ^ --o
-N --' o
lt
/.k
"-'\N/*\N-ll
o?'t--
*.--c::o
Tatre I 5. Data bilangan gelombang spektrum FTIR poliuretan hasil sintesis
Bilangan Gelombang (cm-r )
Jenis Gugtts Fungsi PU A (SBO
*
PU B (OSBO-PEG4OO
-
MDI)
PEG4OO-
MDI724.3'.1 615,93 Bengkokan Keluar Bidang =CH 1000-l 100 r000-1 100 C-O Uretan
r 100-1200 I 100- 1 200 C-O Uretan
1231,13 1232,90 C:N dalam trimer karboimida
13 10,3 8 13 10,70 Amida Sekunder 1459.80 1460,55 C:O dalam Allofanat
l5 15,l4 I 5 12.85 C=C aromatis 1142,15 1742,95 C=O dalam Uretan 22s0-2300 2250-2300 -NCO
2360,87 2360.65 COz
2855,54 2855,71 Metilen (-CHz-) Sir-netris 2925.90 2925,99 CH: Alkana
3443,82 34s l,58 Ulur N-H Sekunder
tn
I
R
I
N
il C I
o
l(cbcradaarr
gllgtls
isosianat bcbaspada poliuretan
A
dan poliuretanB
ditunjuk-kan oleh munculnya serapan denganintensi-tas
lernah
pada daerah 2250-
2300 crn'r'Hal
ini
menandakan kemungkinan adanya gugLrs ujung isosianat (-NCO) pada struktur poliuretanhasil
sintesis. Keberadaan gugusulung
isosianat
dalam
poliuretan
hasilsintesis dapat bereaksi dengan air di atmosfer
menghasilkan perpanjangan
rantai
melaluiikatan
urea
dengan melepaskangas
COz(Gambar 2), gas CO2
/an$
dihasilkan dalam reaksi tersebut dapat terjebakdalam
poli-uretan
hasil
sintesis.Hal
ini
dibuktikan dengan munculnya CO2 pada daerah 2360,87cm-tdan
236A,65 cm-1.
Gugus-gugus-.Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2010
isosianat dapat bereaksi dengan
air
atmosferuntuk
memberikan perpanjangan
rantai melalui ikatan urea dengan melepaskan gasCO2 (Hepburn, 1982). Pernbentukan ikatan
OCN,\rwNCO
+
tlrOsilang lebih lanjut dapat terjadi rnelalLri reaksi
antara gugus-gugus Llrea dengan isosianat
sisa yang
tidak
bereaksi Incrnbcntuk ikatarrsilang Bitrret (Gambar -:).
o
J]
-t""
OCN'.J-.rNll
C-OII
+
t:l
ocN ^r-v NH2
+
**Tfurtu[lul
t'*
Gambar
2.
Reaksi antara ujung isosianat dengan air atmost-eriko
lt
.\r\r\,NH-C-NHf1n
+'\r\ruNCO
gugus urea gugus isosianat
Untuk memperkuat bahwa poliuretan
berhasil disintesis dari
SBO/OSBO-PEG4O0-MDI
dapat dilakukan
dengancara
mem-bandingkan spektrum
FTIR
poliuretan hasil sintesis dengan spektrumFTIR
poliuretanstandar du Pont. Serapan FTIR PU
A
dan PUB
menunjukkan adanya kemiripan serapandengan serapan
FTIR
poliuretan standar DuPont, terutama serapan pada daerah bilangan
gelombang karakteristik
poliuretan
yaituserapan ulur
N-H
sekunder, isosianat, cincin aromatis, allofanat,C:O
uretandan
C:N
dalam
trimer
karboimida. Sedikit perbedaan puncak-puncak serapan karakteristik antara18
o
ll
-->
1r\r'JNFI, C-N'wvr.
Gambar
3.
Reaksi pembentukan ikatan silang biuretI
C.=O
I
NH^r\r. ikatan silang biurct
poliuretan
hasil
sintesis dengan poliuretanstandar
Du
Pont dimLrngkinkan karena per-bedaan.ienis
ulononrer
yarlg
digunakan dalarn rrensintesis poliureian. Pada penelitianirri digunakau urorloulcr berupa SBO, OSBO,
Pllc.t00
dan Scnyarva cliisosiunat(MDl).
Poliuretan
hasil
sirrtcsis ditentukanikatan
silangnyarnelalui
uji
derajat peng-gembungan. Hasiluji
derajatpenggernbung-an poliuretpenggernbung-an hasil sintesis dapat dilihat pada
Tabel
6.
Semuapoliuretan
hasil
sintesis menggembung ketika direndam dalam-Biodegradasi PoLiuretan Hasil Sintesis dari Minyak Kedelai, Polioksietilen Glikol, dan Metilen-4,4'-Difenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senant)
rnenunjukkan
bahwa
poliuretanA
dan
Brnerniliki ikatan silang. PU
A
memilki derajat penggembungan lebih besar daripada PU B,"*
hal
ini
menunjukkan bahwa PUA
memitiki ikatansilang lebih sedikit
daripadaPU
B.Banyaknya ikatan silang pada
PU
B
jugamenunjukkan
bahawa
struktur
polimertersebut semakin kornpleks,
hal
ini
disebab-kan PUB
berasal dari sumberpoliol
dengangugus hidroksil lebih banyak yang dihasitkan
dari oksidasi SBO sebelumnya.
Tabel 6. Derajat penggernbungan poliuretan hasil sintesis
No
Poliuretan Deraj at Penggembungan (7o)l
PU A (SBO-PEG400-MDI) 2,0832
PU B (OSBO-PEG400-MDI) 0,794Ikatan
uretan dapat berupa
ikatansilang atau uretan yang berikatan silang atau
ikatan silang antara uretan dengan isosianat
bebas menghasilkan allofanat. Gugus uretarl
yang
terbentuk
dalam poliuretan
dapatberikatan
silang
dengan isosianat
bebasmernbentuk
jaringan
allofanat.
Jaringan allofanat terbentuk rnelalui reaksi lebih lanjutantara gugus uretan dengan gugus isosianat
berlebih
(-NCO
sisa yang belum berikatandengan OH membentuk uretan) melalui suatu
reaksi
adisi yang
melibatkan nitrogen darigugus uretan (Floward, 2002). Pembentukan
allofanat dapat terjadi dengan bantuan panas,
terutama panas
pada saat
proses curing. Reaksi pembentukan gugus allofanat dapatdilihat pada Gambar 4.
/P
,.lnruN-C-
O.t,\rrlI
I
O.:C-NH"\,\,\,
ikatan silang allofanat
7,64oh, sedangkan
poliuretan
B
merniliki kehilangan massatotalnya
3,82yo. Persenkehilangan massa
total
poliuretanA
lebihtinggi
dibandingkan pada poliuretanB
yangmembuktikan
bahwa
poliuretan
A
lebih ,o//
n
ruNH,-C-Ovur/
+
O::C:-N^^^,
gugus
uretan
gugus isosiarrat bebasGambar 4. Reaksi pembentukan gugus allofanat
Salah satu
cara untuk menguii
ke-mudahan biodegraclasi poliuretan hasil
sinte-sis oleh mikroorganisrne dengan cara
meng-hitung
kehilangan rnassapoliuretan.
[image:13.612.4.590.37.769.2]-Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 15, Nomor 2, Oktober 2010
mudah terbiodegradasi.
Hal ini,
disebabkankarena pada poliuretan
A
memiliki
jumlah ikatan silang lebih sedikit dibandingkan padapoliuretan
B,
sehingga mikroba lebih mudahuntuk
mendegradasistruktur
utama
poli-uretan
A,
yang dibuktikanjuga
menghilangdan melemahnya intensitas serapan beberapa
gugus
fungsi
spektrumFTIR
poliuretan A.Selain
itu,
karena poliuretanA
memilikiderajat kristalinitas
lebih
rendah daripadapoliuretan
B,
sehingga mikroba lebih mudahmendegradasi poliuretan A.
Berdasarkan
data
perubahan massa [image:14.612.30.589.31.744.2]poliuretan sesudah biodegradasi dapat dibuat
grafik
hubungan antara kehilangan massapoliuretan dengan lama biodegradasi, seperti
terlihat pada Gambar 5. Poliuretan dari
SBO-PEG40O-MDI
(PU
A)
memiliki
persen ke-hilangan massa paling tinggi pada hari ke-20,)
1,8 1,6
1,4
!,2
1
0,8 0,5
0,4 0,2 0
sedangkan poliuretan
dari
OSBO-PEG400-MDI
(PU
B)
rnemiliki
persen kehilangan massapaling
tinggi
paclahari
ke-15.
I'laltersebut dimungkinkan karena
jenis
danaktivitas bakteri dalam lurnpur
aktif
sangatbervariasi seiring waktu inkubasi, selain itr"r
juga
bisa
disebabkanadanya
perbedaanstruktur
dari
kedua
.icnis
poliurctan,poliuretan
B
merliliki
.iumlah ikatan silanglebih
banyak,juga
derajat
kristalinitasnya lebih tinggi, sehingga mikroba dalam lumpuraktif
rnembutuhkan waktulebih
larna untukmendegradasi
poliuretan
B
dibandingkandengan poliuretan
A
yang rnemiliki jurnlahikatan silang lebih sedikit. Banyaknya jurnlah
ikatan silang
dan
tingginya
kristalinitaspoliuretan
B
menyebabkarrrnikroba
lebihsulit
untuk
mendegraCasistruktur
utamapol iuretar-r tersebut.
**^^**"-**%
Keh ila ngan Massa PU 58O246
-**--,-.**-{-%
Kehilangan Mas$aPU 0S80246 N
o o
E
c
G'
ul tr
fi,
€
o
.t
o
ut (u
cl
5 10 15 20 25 30
waktu inkubasi {harii20
-Biodegradasi Poliuretan Hasil Sintesis dari Minyak Kedetai, Polioksietilen Glikol, dan Metilen'4,4 '' Difenitdiisosianat (Eli Rohaeti dan Senant)
[image:15.612.94.536.134.612.2]:,11
Grafik hubungan antara laju
kehilang-an
massa poliuretanhasil
sintesis denganlama biodegradasi dapat dilihat pada Gambar
(
6.
Berdasarkangrafik
hubungan
antara biodegradabilitaspoliuretan
hasil
sintesis dengan larna biodegradasi, dapat diketahuibahwa poliuretan
dari
SBO-PEG400-MDI (PUA)
dan poliuretan dariOSBO-PEG4OO-MDI
(PU
B)
mer-niliki
biodegradabilitaspaling
tinggi
padahari
ke-5
biodegradasi,selanjutnya
kurva
rnengalami
penurunandemikian seterusnya. Biodegradabilitas (laju
kehilangan massa) semakin rendah seiring
dengan bertambahnya
waktu
inkubasi,
inimenjadi petunjuk bahwa semakin lama waktu
inkubasi aktivitas
mikroorganisme dalamproses biodegradasi sernakin rendah.
Hal
ini terlihat pada proses biodegradasi hari ke-30untuk
kedua
poliuretan tersebut
yangmemiliki
nilai
biodegradabilitasnya nol,berarti tidak terjadi aktivitas mikroorganisme
dalam mendegradasi Poliuretan.
-*-
Biodegrabilita s (mg/ha ri)PU S80246
-.il-
Biodegrab il ita s {me/ha ri )PU OSBO246
[image:15.612.107.534.370.604.2]waktu inkubasi {hari}
Gambar 6. Grafik hubungan antara biodegradabilitas (laju kehilangan massa) poliuretan hasil sintesis dengan lama biodegradasi
Analisis gugus fungsi
rnasing-masing
gelombang pada Tabel 7. Derajat kristalinitaspoliuretan tersebut sesudah
dibiodegradasi
keduajenis
poliuretan sebelum dan sesudahditunjukkan dengan tabel korelasi
bilangan
dibiodegradasi seperti terlihat pada Tabel 8.f
r0
b
0,08g
0,065
(0$
o,oa !o
3
0,02
-Jttrnal Penelitian Saintek, Vol. .l5, Nomor 2, Oktober 2010
Jenis Cugus Fungsi Tabel 7. Bilangan gelombang spektrum FTIR poliuretan sesudah dibiodegradasi
Bilangan Gelomba
590,73 592,11 Bengkokan keluar
biclan{r =CH
875,19 874,99
C:O
E,ster dalarnAllofanat
1433,39 1433,77 C=O dalarn
Allofanat
1639.68 t639.69
C:C
AromatisSesudah biodegradasi
terjadi
peng-hilangan puncak serapan
pada
daerah1742,15
cm-l dan
174Z,gScm-l
untuk poliuretanA
dan B yang merupakanciri
khas suatu poliuretan dalamhal
ini
gugus uretan (-NHCOO). Selanjutnya terjadi penghilanganpuncak serapan pada daerah
l13l,l3
cm-l dan 1232,90 cm-l untuk poliuretanA
dan Byang
merupakanciri
khas
adanya gugusfungsi
C=N
dalam
trimer
karboimida,kemudian
terjadi
penghilangan
puncak serapanjuga
pada daerahl3l0,3g
cm-l dan 1310,70cm-r
yang
merupakanciri
khasadanya
gugus
fungsi
amida
sekunder. Hilangnya puncak gugus uretan,C:N
dalamtrimer
karboimida dan amida sekunder padapoliuretan
A
danB
menjadi petunjuk bahwagugus fungsi tersebut telah dihidrolisis dan
menjadi sumber nutrisi bagi mikroorganisme.
Pada daerah 2358,48
cm-l
munculserapan dengan intensitas yang
lebih
lemahdaripada
poliuretan
B
sebelurn
dibio-degradasi.
Hal
ini
disebabkan hilangnya 22sebagian
gugus COz yang
terperangkapdalarn pc,liuretan
B
sesudah dibiodegradasi,sedangkan
untuk
poliuretan
A
terjadi penghilanganpuncak
serapangugus
COzyang
mungkin
terbebas
seiring
denganbertambahnya
waktu
inkubasi
polimer.Menghilangnya
puncak
serapan
gugus isosianat(-NCO)
pada daerah sekitar 2250-2300 cm-r untuk poliuretanA
danB
setelah biodegradasirnenunjukkan
bahwa
gugusfungsi
tersebut merupakan sumber nutrisibagi
mikroorganisme
saat
rnendegradasi polirner. Serapan pada daerah 875,19 cnr-runtuk poliuretan
A
dan serapan pada daerah 874,98 cm-l untuk poliuretan 13 rrienunjukkanrnasih
adanya
gugus
C:O
ester
dalam allofbnat pada keduajenis
poliur.etan setelahdibiodgradasi. Begitu
juga
dengan a<lanya serapanpada daerah
1639,68 cl.n-r
dan1639,69
cll-1,
nrasing-masing
untukpoliuretan
A
dan
B
nrenunjukkan
masihadanya gugLts fungsi
C:C
aromatis (berasal [image:16.612.33.590.84.771.2]-Biodegradasi poliuretan Hasil Sintesis dari Minyak Kertelai, Polioksietilen C.tlfo! dan Metilen-4,4'-Difenildiisosianat (Eli Rohaeti dan Senant)
setelah
dibiodegradasi.Adanya
intensitasserapan
gugus fungsi
C:O
ester
dalam allofanatdan
peningkatan absorbansi C=Caromatis
6pada
kedua
poliuretan
sesudahdibiodegradasi mengindikasikan bahwa telah
terjaCi pemutusan rantai utama pada kedua
polir.rretan tersebut.
Hal
ini
didukung pulaoleh
melebardan
bertambahnya intensitasserapan
ulur
N-H
sekunderpada
daerah3460,70
cm-'
dan
3461,60cm-l
bagi keduajenis
poliuretan
tersebut
setelah dibiodegradasi. Meningkatdan
melebarnya serapanulur
N-H
sekunder menunjukkan bahwaterjadi
pemutusandi
daerah gugus fungsi uretan menjadi gugus amina.Berdasarkan
difraktogram
XRD poliuretanA
cianB
sebelumdan
sesudah dibiodegradasidapat diketahui
pengaruhbiodegradasi terhadap perubahan intensitas
daerah
kristalin
danamorf
poliuretan hasilsintesis, meskipun
kesemua difraktogrammenunjukkan bentuk yang sama, akan tetapi
difraktogram kedua
jenis
poliuretan setelahdibiodegradasi menunjukkan
penurunanintensitas
yang
signifikan
pada
daerahkristalin
dan amorf. PoliuretanB
memiliki nilai derajat kristalinitas lebih tinggi daripadapoliuretan
A, ini
menunjukkan
bahwamolekul
poliuretan
B
memiliki
bagiankristalin
yang
teratur
lebih
banyak dibandingkan dengan molekul poliuretanA'
Semakin tinggi tingkat keteraturan poliuretan
maka semakin
sulit
polimer tersebut untukterbiodegradasi
oleh
mikroorganisrne yangada dalam lumpur aktif.
Tabel 3. Kristalinitas poliuretan hasil sintesis sebelum dan sesudah biodegradasi
Rata-rata kristalinitas (%)
No
PoliuretanSebelum Sesudah
biodesradasi biode
PUA
PEG40O-MDI 33.73 27,68PUB
OSBO.PEG4OO.MDI 35.1 3 28.09Berdasarkan
Tabel
8,
biodegradasi dapat menurunkan kristalinitas kedua jenispoliuretan.
Apabila diamati dan
dilakukanperhitungan kehilangan intensitas
baikdaerah
kistalirr
maupun daerahamorf
me-nunjukkan bahwa setelah proses biodegradasi
nrcngalami pcnurunan intensitas yarrg
signi-fikan. Bagian kristalin mengalami penurunan
intensitas lebih tinggi daripada bagian amorf'
Hal
ini
menjadi bukti bahwa bagian kristalindan amorf diserang oleh mikroorganisme dan
penyerangan mikroorganisme
lebih
banyak terhadapbagian
kristalin.
Hal
ini
dapatdisebabkan
pada
bagian
kristalin
lebiha
.,t:irrnul Penelitian Saintek, Vol. 15, I,,loruor 2, Oktober 2010
ir;;n'r'ak terclapat guglls yang mudah diserang
r-:i*h rrikroorganisrne. Terjadinya penllrunan
lniensitas pada daerah
kristatin dan
arnorfuntuk
kedua
jenis
poliuretan
setelah dibiodegradasi, keadaanini
dapat menjadipetunjuk
lrahrva
beberapa gugLts fungsi,sepelti
*NCO,
-NHCOO, dan
C:N
dalan'rlriurer
karbo in-ritla
berada
pada
daerahll"istalin dan
amorf'
(l-latal<eyarna, 1995).iii:ngun
dernil'ian
mil<roorganisnie akanrllrjnyerang
polinrer
pclliuretarr
yang Liicnganclrrng gr.rqrrsrlretan,
isosianat, dan;iri!.Liri lainnya.,
'uvalaupun
glrglts-gllgusI i.:r'r;e
br;t
nreneurpati
bagiarr
kristalinr).; i batr"rya liri sta I initas pol iuretan rnenurun.
i.'li$in,i
PUI.,Ai\JIlclrjasurl,un
hasil
pcncliliarr
rre-.: u n-l u kl<n
n
l:ahwa
ketrer.hasilail
prosesri.r;itlas;i rninyak kcdclai dibul<tikan ,;leh ltilai rru.iorlransi gLrsLls hidrol<sil
paiia
spektrum ;'l'lR
OSiJ(), L'rilarrgarr hidroksil, nrassa jenis,lriilt
lclt:li
rian iiril<didiit
nrinyail nengalanri,..,-:nirrrll<aiair
scteliih
dioksicjasi serl;lngkan:iriiel;s bias minyak hcde lai seteleh clioksiclasi
l::tngaiauti
penLrrunan.poliur.etan
clapati:sirrtesis
dari
SB() dan
O$BO
cienganpenarnbahan PEG400 clan IVIDI clitrrnjLrkkan ,-,ich serapan
khas poliurctan
pacla daeral-r1'142,15 cnr-r clan I
l,+i',gs
cnr-r. Iroliuretanhasil
sirrtesisclari
SBC-PEC400-MDI danOSBO-PIIG400-N,IDI m erni til<i i karan si lang.
"t 'l
,,5
Poliuretan
dari
OSBC-PtlC400-MDI
me-miliki
ikatan silarrg
lebih
ban1,ak.I(eber-hasilan
biodegraclasiclalanr
lunrpr,rr al<ti1'dibuktikan dengan
berkLrrangnya rnassapolimer
seiring
waktLr inkr-rbasi, meskipundengan biodegradabilitas berl:eda. Polir:retan
hasil
sintesisdari
SIiO-PllC400-MDI
rrc-rniliki total
kehiiangalt nrassii le'oilr tinggi.Poliuretan hasiI sintcsis
sctclrh
proscsbio-degradasi rnen ga lant i petl rr nulilll iirisllr I i n i tas.
I}AFTAR
PUST,,\IiADwi
f)estiau,an. 20fJb,"Pcrrqiinrli
variasi komposisi minyak kedeiai ter:olisiclasi danrr-retilen-4,4'-diitrrikliisosiarrat
(MDl)
terhadap
ikatatr
silang
poliuretan", Skripsi, FM IPA Lll.l Y, Yosvakalta.Eddy Tano,
199'/,
"Pcclor.riiln rlcrnbuatpcrckat sintclis", I).T'.
Iiirrclia
(iip11. .lakarta.Eli
liohaeti, N.l\4.Srrrclia,CS,ntlria I-. I{aclirnantlirn
E.
Ratnanirrgsih,200-i,
"peugarLrlt.jenis
poliol
terlinrlap
pcmtrcntr-rkan poliuretandari
rrronomerIrilCl000
clanMl)1",
PROC'.ll'il
Sains&
.l'ci.:.. vt)lrr:nr: 35, nonror 2, ;tp. L)7-
I 0gI-lli
l{ohaeti,
2003, "Pr:ngarirh varia.si irerat rnoiekLrlpolietiicrr
qlikol
tei.itadap siiitt mel<anik poliLtr.ctan", Jurnai Matctnirlika dan Sains, volul:re8,
nonrcr2,
J,p.63
-66.Eli
Rohaeti,
N.M.
SLr.dia^Cyrrtlria
1,.Ratliman
dan
fi.
Iiatnanirrgsiir, 2003,"Pengaruh
variasi
l<orrposisi
arniiosaterhadap
kenrLrciahan
biodegracleisi--l)ictde,qradasi Politretan
{lasil
Sintesis dari Minyak Keclel,ti, Palioksierilen Gtikol, tlan Aletilcn-4,4,-Dif"enildiisosianat (Eli Rolneti clan Senartt )Eli
Ilolraeti, N.M.Surdia,CynrhiaL.
Radiman darr E. llatnaningsi h, 2AA4, "Biodegradasipoliuretan
hasil
sintesisdari
amilosa-PEG400-MDI menggunakan
lumpural<tif
',
JurnaI
Matematika
dan
Sains,volume 27, nomor
3,pp.235
-241.llli
Roiraeti, N.M.Sr-rrdia,CynthiaL.
Radimandan
E.
Ratnarringsilr,2004,
"Pengaruhdua
lrlacam
perlakuan mikroorganisme terhadap kernudahan degradasi poliuretanhasil
sintesisdari
monomer polietilenglikol
berat molekul 400 dengan metilen-4,4'-difenildiisosianat", PROC.ITB SainS&
Tek., volume .436, nomorl,
pp. 1 - 9.Hartomo,
A.J.,
1993, "Dasar-dasar profesipoliteknik
pemrosesanpolimer
praktis", Andi Offset, Yogyakarta.i{epburn,
C.,
..1982,
"Polyuretharre elastonrcrs",Applied
Science Puhlishcr, Londorr and New York.Howard,
C:'f.,
20A2,
"I3ioclegradatiorr ol' polyurethane:
a
review",
InternationalBiode-
terioration
and
Biodegradatiorr, volunre 49, pp. 245-252.
Hatakeyama,
H.,
S. FIirose,T.
I-latakeyanta,K.
Nakamura,K.
Kobayashi
and
N.Morohoshi,
1995,
"Biodegradabl* Polyurethanesfrom
Plant
Componeil',", Journal Pure Applied Chemistry, voluii:c A32, nomor 4, pp. 743 - 75A.