• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

GSBC – 13 = TATA CARA PENGADAAN BARANG

DAN JASA

PELATIHAN

KEPALA PROYEK

BANGUNAN GEDUNG

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

KATA PENGANTAR

Usaha dibidang Jasa Konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas pelayanannya. Pada kenyataannya saat ini bahwa mutu produk, ketepatan waktu penyelesaian, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya relatif masih rendah dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan tenaga ahli / trampil dan penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan serta penguasaan teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti perencanaan baik untuk bidang pekerjaan jalan dan jembatan, pekerjaan sumber daya air maupun untuk pekerjaan dibidang bangunan gedung.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Kepala Proyek Pekerjaan Bangunan Gedung

(Project Manager) ini terdiri dari 13 (Tiga Belas) modul yang merupakan satu kesatuan

yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga kerja yang menggeluti Kepala Proyek

Pekerjaan Bangunan Gedung (Project Manager).

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan khususnya untuk modul Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa pekerjaan konstruksi Bangunan Gedung.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan masukkan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Jakarta, Desember 2005 Tim Penyusun

(3)

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : MANAJER / KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG (General Superintendent of Building Construction)

TUJUAN UMUM PELATIHAN

Mampu mengelola Pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Gedung sesuai ketentuan yang tertuang dalam dokumen kontrak dan administrasi proyek.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN

Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu :

1. Melaksanakan UUJK, Etika Profesi dan Etos Kerja 2. Melaksanakan Manajerial Pelaksanaan Konstruksi 3. Melaksanakan Sistem Manajemen Mutu

4. Melaksanakan Sistem Manajemen K3

5. Melaksanakan Sistem Manajemen Lingkungan 6. Melaksanakan Administrasi Proyek

7. Melaksanakan Dokumen Kontrak

8. Melaksanakan Investigasi dan Rekayasa Lapangan

9. Melaksanakan Tahapan dan Metoda Kerja Pelaksanaan Bangunan Gedung 10. Melaksanakan Perencanaan dan Pengorganisasian Pelaksanaan Proyek 11. Melaksanakan Mobilisasi dan Demobilisasi Sumber Daya

12. Melaksanakan Pengendalian Mutu, Waktu dan Biaya 13. Melaksanakan Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa

(4)

NOMOR DAN JUDUL MODUL: GSBC-13 : TATA CARA PENGADAAN BARANG DAN JASA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah mempelajari modul, peserta mampu menjelaskan tata cara pengadaan barang dan jasa baik untuk kontrak-kontrak dengan sistem nasional maupun internasional, mengacu kepada Keppres 80 tahun 2003.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Pada akhir pelatihan peserta mampu :

1. Menjelaskan mengenai prinsip-prinsip dasar pengadaan barang dan jasa 2. Menjelaskan mengenai persiapan pengadaan jasa pemborongan

3. Menjelaskan mengenai prakualifikasi dan pasca kualifikasi 4. Menjelaskan mengenai pelelangan

5. Menjelaskan mengenai pemilihan dan penunjukan langsung 6. Menjelaskan mengenai pengalihan pekerjaan

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i LEMBAR TUJUAN ...ii DAFTAR ISI ... iii DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN

GENERAL SUPERINTENDENT OF BUILDING CONSTRUCTION ... vi DAFTAR MODUL ... vii PANDUAN PEMBELAJARAN ... viii

BAB 1 PRINSIP DASAR PENGADAAN BARANG DAN JASA ... 1-1

1.1 Pendahuluan ... 1-1 1.2 Filosofi Pengadaan Barang dan Jasa ... 1-2 1.3 Etika, Norma dan Prinsip Dasar ... 1-3 1.3.1 Etika Pengadaan Barang dan Jasa ... 1-3 1.3.2 Norma Pengadaan Barang dan Jasa ... 1-5 1.3.3 Prinsip, Pengadaan Barang dan Jasa ... 1-6

BAB 2 PERSIAPAN PENGADAAN JASA PEMBORONGAN ... 2-1

2.1 Perencanaan dan Penyiapan Dokumen Pengadaan ... 2-1 2.2 Dokumen Prakualifikasi / Pasca Kualifikasi ... 2-1 2.2.1 Penyusunan Dokumen Prakualifikasi / Pascakualifikasi ... 2-2 2.2.2 Isi Dokumen Prakualifikasi / Pascakualifikasi ... 2-3 2.3 Dokumen Pengadaan ... 2-5 2.3.1 Penyusunan Dokumen Pengadaan ... 2-5 2.3.2 Surat Undangan ... 2-6 2.3.3 Instruksi Umum ... 2-7 2.3.4 Instruksi Khusus ... 2-7 2.3.5 Syarat-syarat Umum Kontrak ... 2-8 2.3.6 Syarat-syarat Khusus Kontrak ... 2-8 2.3.7 Daftar Kuantitas dan Harga ... 2-9 2.3.8 Rekapitulasi Daftar Kuantitas dan Harga ... 2-9 2.3.9 Spesifikasi dan Gambar Rencana ... 2-10 2.3.10 Jaminan Penawaran, Jaminan Uang Muka dan

Jaminan Pelaksanaan ... 2-10 2.3.11 Sistem Penyampulan dan Penyampaian Dokumenh Penawaran ... 2-11 2.3.12 Sistem Evaluasi ... 2-12

(6)

2.3.13 Naskah Kontrak ... 2-14 2.4 Harga Perkiraan Sendiri (HPS) ... 2-14 2.5 Jadwal Pengadaan ... 2-16 2.5.1 Penyusunan Jadwal Pengadaan ... 2-16 2.5.2 Tahap dan Kegiatan Pengadaan ... 2-17 2.5.3 Alokasi Waktu ... 2-18

BAB 3 PRAKUALIFIKASI DAN PASCA KUALIFIKASI ... 3-1

3.1 Kegiatan Pelaksanaan Prakuaifikasi ... 3-2 3.2 Pengumuman Prakualifikasi ... 3-3 3.2.1 Isi Pengumuman ... 3-5 3.2.2 Pelaksanaan Pengumuman ... 3-5 3.3 Pengambilan Dokumen Prakualifikasi ... 3-5 3.4 Pengisian Dokumen Kualifikasi ... 3-6 3.5 Evaluasi Dokumen Kualifikasi ... 3-8 3.5.1 Tata cara Evaluasi ... 3-9 3.5.2 Evaluasi Dokumen Kelengkapan Administrasi ... 3-9 3.5.3 Evaluasi Kemampuan ... 3-10 3.6 Daftar Calon Peserta Pengadaan ... 3-11 3.6.1 Pengumuman dan Protes Hasil Prakualifikasi ... 3-12 3.6.2 Penetapan Calon Peserta Pengadaan ... 3-13

BAB 4 PELELANGAN ... 4-1

4.1 Undangan Lelang ... 4-1 4.2 Penjelasan Dokumen Lelang ... 4-2 4.3 Adendum Dokumen Lelang ... 4-3 4.4 Penyusunan Dokumen Penawaran ... 4-3 4.5 Penyampaian Dokumen Penawaran ... 4-5 4.6 Pembukaan Dokumen Penawaran ... 4-6 4.7 Evaluasi Penawaran ... 4-8 4.7.1 Evaluasi Administrasi ... 4-8 4.7.2 Evaluasi Teknis ... 4-9 4.7.3 Evaluasi Kewajaran Harga ... 4-10 4.8 Penetapan Pemenang Lelang ... 4-15 4.9 Pengumuman Pemenang Lelang ... 4-17 4.10 Sanggahan Peserta Lelang ... 4-17 4.11 Penunjukkan Pemenang Lelang ... 4-19

(7)

4.12 Pelelangan Gagal dan Pelelangan Ulang ... 4-20 4.13 Penandatangan Kontrak ... 4-22

4.13.1 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum

Penandatanganan Kotran ... 4-23 4.13.2 Penandatangan Kontrak ... 4-23

BAB 5 PEMILIHAN DAN PENUNJUKKAN LANGSUNG ... 5-1

5.1 Pengertian ... 5-1 5.2 Kriteria Pemilihan Langsung ... 5-1 5.3 Proses Pemilihan Langsung ... 5-2 5.4 Penunjukkan Langsung ... 5-4 5.4.1 Pengertian ... 5-4 5.4.2 Proses Penunjukan Langsung ... 5-4

BAB 6 PENGALIHAN PEKERJAAN ... 6-1

6.1 Umum ... 6-1 6.2 Pengalihan Pekerjaan ... 6-1 6.2 Kontraktor lain dan Suplier Lain ... 6-3

RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT

(8)

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN

MANAJER / KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG

(General Superintendent of Building Construction)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Kepala Proyek Pekerjaan Bangunan Gedung dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria unjuk kerja, sehingga dalam Pelatihan Kepala Proyek Pekerjaan Bangunan Gedung, unit-unit kompetensi tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan. 2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit

Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) dibawah ini yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Manajer / Kepala Proyek Pekerjaan Bangunan Gedung.

(9)

DAFTAR MODUL

NO. KODE JUDUL MODUL

1. GSBC – 01 UUJK, Etika Profesi dan Etos Kerja 2. GSBC – 02 Manajemen Pelaksanaan Konstruksi 3. GSBC – 03 Sistem Manajemen Mutu

4. GSBC – 04 Sistem Manajemen K3

5. GSBC – 05 Sistem Manajemen Lingkungan 6. GSBC – 06 Administrasi Proyek

7. GSBC – 07 Dokumen Kontrak

8. GSBC – 08 Investigasi dan Rekayasa Lapangan

9. GSBC – 09 Tahapan dan Metoda Kerja Pelaksanaan Bangunan Gedung

10. GSBC – 10 Perencanaan dan Pengorganisasian Pelaksanaan Proyek 11. GSBC – 11 Mobilisasi dan Demobilisasi Sumber Daya

12. GSBC – 12 Pengendalian Mutu, Waktu dan Biaya

(10)

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN :

MANAJER / KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG (General Superintendent of Building

Construction)

KODE MODUL : GSBC – 13

JUDUL MODUL : TATA CARA PENGADAAN BARANG DAN JASA

DESKRIPSI : Pengadaan barang dan jasa adalah upaya untuk mendapatkan barang dan jasa yang diinginkan yang dilakukan atas dasar pemikiran yang logis dan sistematis, mengikuti norma dan etika yang berlaku, berdasarkan metode dan proses pengadaan yang baku.

Pedoman pengadaan yang baku untuk tahun 2004 menggunakan dasar hukum Keppres 80 tahun 2003, tentang : Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, dimana didalam Keppres tersebut mengatur secara jelas dan rinci tentang pengadaan barang dan jasa.

TEMPAT KEGIATAN : Di dalam ruang kelas, lengkap dengan fasilitasnya.

WAKTU PEMBELAJARAN : 2 jam pelajaran (1 JP = 45 menit)

atau sampai tercapainya minimal kompetensi yang telah ditentukan (khususnya domain kognitif)

(11)

B. RENCANA PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah : Pembukaan  Penjelasan tentang

pentingnya mengikuti tata cara pengadaan

berdasarkan Keppres 80 tahun 2003.

 Penjelasan TIU dan TIK Waktu = 10 menit

 Menguikuti penjelasan TIU & TIK dengan tekun dan aktif

 Mengajukan pertanyan apabila kurang jelas

OHT1

2. Ceramah : Bab 1 Prinsip Dasar  Filosofi pengadaan barang

dan jasa

 Etika, norma dan prinsip dasar

Waktu = 10 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

OHT2

3. Ceramah : Bab 2 Persiapan pengadaan jasa pemborongan  Perencanaan dan penyiapan dokumen pengadaan  Dokumen prakualifikasi / pasca kualifikasi  Dokumen pengadaan  Harga Perkiraan Sendiri

(HPS)

 Jadwal pengadaan Waktu = 15 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

OHT3

4. Ceramah : Bab 3 Prakualifikasi dan pasca kualifikasi

 Kegiatan prakualifikasi  Pengumuman prakualifikasi  Pengambilan dokumen  Pengisian dokumen  Evaluasi dokumen  Daftar calon peserta Waktu = 20 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

OHT4

5. Ceramah : Bab 4 Pelelangan  Undangan pelelangan  Penjelasan lelang

 Addendum dokumen lelang  Penyusunan dokumen

penawaran

 Penyampaian dokumen penawaran

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

(12)

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung  Pembukaan dokumen penawaran  Evaluasi penawaran  Penetapan pemenang  Pengumuman pemenang  Sanggahan peserta lelang  Penunjukan pemenang

lelang

 Pelelangan gagal dan pelelangan ulang

 Penandatanganan kontrak Waktu : 25 menit

6. Ceramah : Bab 5 Pemilihan dan penunjukkan langsung  Pengertian

 Kriteria pemilihan langsung  Proses pemilihan langsung  Penunjukkan langsung

Waktu = 10 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

OHT6

7. Penutup : Review

pembelajaran dan diskusi umum

Waktu = 10 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mencatat hal-hal yang perlu  Mengajukan pertanyaan bila

perlu

(13)
(14)

BAB I

PRINSIP DASAR PENGADAAN BARANG DAN JASA

1.1. PENDAHULUAN

Pengadaan barang dan jasa dimulai sejak adanya pasar dimana orang dapat membeli dan atau menjual barang. Cara atau metoda yang digunakan dalam jual beli barang di pasar adalah dengan cara tawar menawar secara langsung antara pihak pembeli atau pihak pengguna dengan pihak penjual atau pihak penyedia barang. Apabila dalam proses tawar-menawar telah tercapai kesepakatan harga, maka dilanjutkan dengan transaksi jual beli, yaitu pihak penyedia barang menyerahkan barang kepada pihak pengguna dan pihak pengguna membayar berdasarkan harga yang disepakati kepada pihak penyedia barang. Proses tawar menawar dan proses transaksi jual beli dilakukan secara langsung tanpa didukung dengan dokumen pembelian maupun dokumen pembayaran dan penerimaan barang.

Apabila barang yang akan dibeli, jumlah dan jenisnya banyak, dan setiap jenis barang tersebut dilakukan tawar menawar, maka akan memakan waktu. Untuk menghemat waktu, pengguna menyusun secara tertulis jenis dan jumlah barang yang akan dibeli, selanjutnya diberikan kepada penyedia barang untuk mengajukan penawaran secara tertulis pula. Daftar barang yang disusun secara tertulis tersebut kiranya yang menjadi asal-usul dokumen pembelian. Sedangkan penawaran harga yang dibuat secara tertulis merupakan asal usul dokumen penawaran.

Perkembangan selanjutnya pihak pengguna menyampaikan daftar barang yang akan dibeli tidak hanya kepada satu tetapi kepada beberapa penyedia barang. Dengan meminta penawaran kepada beberapa penyedia barang, pengguna dapat memilih harga penawaran yang paling murah dari setiap jenis barang yang akan dibeli. Cara tersebut kiranya yang menjadi cikal-bakal pengadaan barang dengan cara lelang.

Cara pembelian barang berkembang tidak terbatas pada pembelian barang yang telah ada di pasar saja tetapi juga pembelian barang yang belum tersedia di pasar. Pembelian barang yang belum ada di pasar dilakukan dengan cara pesanan. Agar barang yang dipesan dapat dibuat seperti yang diinginkan, maka pihak pemesan menyusun nama, jenis, jumlah barang yang dipesan beserta spesifikasinya secara

(15)

tertulis dan menyerahkannya kepada pihak penyedia barang. Dokumen tertulis tersebut dinamakan dokumen pemesanan barang yang kiranya menjadi asal-usul dari dokumen lelang.

Pengadaan barang dengan cara pemesanan tidak terbatas pesanan barang yang bergerak tetapi juga barang tidak bergerak seperti rumah, gedung, jembatan, bendungan dan lain-lainnya. Untuk pemesanan barang berupa bangunan, pihak pengguna biasanya menyediakan gambar rencana atau gambar teknis dari bangunan yang dipesan. Pemesanan atau pengadaan barang berupa bangunan tersebut merupakan asal-usul pengadaan pekerjaan pemborongan yang kemudian disebut pengadaan jasa pemborongan.

Sekarang pengadaan barang tidak terbatas pada barang yang berwujud tetapi juga barang yang tidak berwujud. Barang tidak berwujud umumnya adalah jasa. Misalnya jasa pelayanan kesehatan, jasa pelayanan pendidikan, jasa konsultansi, jasa supervisi, jasa manajemen, dan lain-lainnya. Pengadaan barang tak berwujud yang umumnya berupa jasa tersebut merupakan asal usul pengadaan jasa konsultansi dan jasa lainnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong terjadinya perubahan dan kemajuan dalam semua bidang kegiatan, termasuk kegiatan pengadaan barang dan jasa. Apabila pada tahap awal pengadaan barang dan jasa merupakan kegiatan jual beli langsung di suatu tempat (pasar), sekarang pengadaan barang dan jasa dapat dilakukan secara tidak secara langsung. Yang sekarang sedang berkembang pengadaan barang melalui media teknologi informasi (misalnya : melalui internet) dan dapat dilakukan dan berlaku dimana saja. Pengadaan barang dan jasa yang pada awalnya merupakan kegiatan praktis, sekarang sudah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diajarkan.

1.2. FILOSOFI PENGADAAN BARANG DAN JASA

Pengadaan barang dan jasa pada hakekatnya adalah upaya pihak pengguna untuk mendapat atau mewujudkan barang dan jasa yang diinginkan dengan menggunakan metoda dan proses tertentu untuk dicapai kesepakatan harga, waktu, dan kesepakatan lainnya.

Agar hakekat atau esensi pengadaan barang dan jasa tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, maka kedua belah pihak yaitu pihak pengguna dan penyedia

(16)

haruslah selalu berpatokan kepada filosofi pengadaan barang dan jasa, tunduk kepada etika dan norma pengadaan barang dan jasa yang berlaku, mengikuti prinsip-prinsip, metoda dan proses pengadaan barang dan jasa yang baku.

Berdasarkan uraian dan pengertian tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa filosofi pengadaan barang dan jasa adalah upaya untuk mendapatkan barang dan jasa yang diinginkan yang dilakukan atas dasar pemikiran yang logis dan sistimatis (the

system of thought), mengikuti norma dan etika yang berlaku, berdasarkan metoda

dan proses pengadaan yang baku.

1.3. ETIKA, NORMA DAN PRINSIP DASAR

Pengadaan barang dan jasa pada dasarnya melibatkan dua pihak yaitu pihak pengguna dan pihak penyedia yang mempunyai kehendak atau kepentingan berbeda bahkan dapat dikatakan bertentangan. Pihak pengguna menghendaki memperoleh barang dan jasa dengan harga semurah-murahnya, sedang pihak penyedia ingin mendapatkan keuntungan yang setinggi-tingginya. Dua kehendak atau keinginan yang bertentangan tersebut akan sulit dipertemukan kalau tidak ada saling pengertian dan kemauan untuk mencapai kesepakatan. Untuk itu perlu adanya etika dan norma yang disepakati dan dipatuhi bersama.

1.3.1. Etika Pengadaan Barang dan Jasa

Etika dalam pengadaan barang dan jasa adalah perilaku yang baik dari semua pihak yang terlibat dalam proses pengadaan. Yang dimaksud perilaku yang baik adalah perilaku untuk saling menghormati terhadap tugas dan fungsi masing-masing pihak, bertindak secara profesional, dan tidak saling mempengaruhi untuk maksud tercela atau untuk kepentingan/keuntungan pribadi dan atau kelompok dengan merugikan pihak lain. Perbuatan yang tidak patut dilakukan dan sangat bertentangan dengan etika pengadaan adalah apabila salah satu pihak atau secara bersama-sama melakukan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

(17)

Disarikan dari laporan Konsultan ADB TA No. 3608-INO tentang : Tool Kit Anti Korupsi Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Pengadaan barang dan jasa dapat menjadi titik rawan terjadinya praktek KKN, oleh karena itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Upaya tersebut diantaranya dapat dilakukan melalui penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengadaan, meningkatkan profesionalisme para pelaku pengadaan, meningkatkan pengawasan serta penegakan hukum.

Dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 terdapat ketentuan yang menyatakan walaupun telah terjadi ikatan kontrak, apabila ternyata dalam proses barang dan jasa terbukti terdapat KKN, kontrak dapat dibatalkan / diputus. Dalam peraturan pengadaan barang dan jasa yang dikeluarkan oleh IBRD dan ADB terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa apabila diketahui atau diduga terjadi praktek KKN maka kedua lembaga tersebut tidak akan membayar kontrak yang telah ada.

Pasal 5 Keppres 80/2003 memuat ketentuan mengenai etika pengadaan sebagai berikut : Etika Pengadaan Pasal 5 Penyuapan Bribery Penggelapan Emblezzlement Komisi Commission Pemerasan Extortion Pilih kasih Favoritism Penyalahgunaan Wewenang Abuse of Discretion Pemalsuan Fraud Sumbangan Ilegal Illegal Contribution Nepotisme Nepotism

Bagaimana & darimana Uang-Barang-Fasilitas hasil korupsi diperoleh ?

(18)

Pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa, dan para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut :

a. melakukan tugas secara tertib disertai rasa tanggungjawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa;

b. bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan jasa yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa;

c. tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat;

d. menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak;

e. menghindaridan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan barang/jasa (conflict of interset);

f. menghindari dan mnencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa;

g. menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;

h. tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui ataun patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.

1.3.2. Norma Pengadaan Barang dan Jasa

Agar tujuan pengadaan barang dan jasa dapat tercapai dengan baik, maka semua pihak yang terlibat dalam proses pengadaan harus mengikuti norma yang berlaku.

Sebagaimana norma lain yang berlaku, norma pengadaan barang dan jasa terdiri dari norma yang tidak tertulis dan norma yang tertulis. Norma yang tidak tertulis pada umumnya adalah norma yang bersifat ideal, sedangkan yang tertulis pada umumnya adalah norma yang bersifat operasional. Norma ideal pengadaan barang dan jasa antara lain yang tersirat atau pengertian tentang hakekat, filosofi, etika, profesionalisme dalam bidang

(19)

!

pengadaan barang dan jasa. Sedangkan norma pengadaan barang dan jasa yang sifatnya operasional pada umumnya telah dirumuskan dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yaitu berupa undang-undang, peraturan, pedoman, petunjuk dan bentuk produk statuter lainnya.

1.3.3. Prinsip Pengadaan Barang dan Jasa

Pengadaan barang dan jasa harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip pengadaan yang dipraktekkan secara internasional yaitu prinsip efisiensi, efektifitas, persaingan sehat, keterbukaan, transparansi, tidak diskriminasi, dan akuntabilitas.

a. Efisien

Yang dimaksud dengan prinsip efisiensi dalam pengadaan barang dan jasa adalah dengan menggunakan sumber daya yang tersedia diperoleh barang dan jasa dalam jumlah, kualitas yang diharapkan, dan diperoleh dalam waktu yang optimal.

b. Efektif

Yang dimaksud dengan prinsip efektif dalam pengadaan barang dan jasa adalah dengan sumber daya yang tersedia diperoleh barang dan jasa yang mempunyai nilai manfaat setinggi-tingginya.

c. Persaingan Sehat

Yang dimaksud dengan prinsip persaingan yang sehat dalam pengadaan barang dan jasa adalah adanya persaingan antar calon penyedia barang dan jasa berdasarkan etika dan norma pengadaan yang berlaku, tidak terjadi kecurangan dan praktek KKN. Persaingan sehat Efektif Akuntabel Efisien Terbuka Transparan Tidak diskriminatif

(20)

d. Terbuka

Yang dimaksud dengan prinsip terbuka dalam pengadaan barang dan jasa adalah memberikan kesempatan kepada semua penyedia barang dan jasa yang kompeten untuk mengikuti pengadaan.

e. Transparansi

Yang dimaksud dengan transparansi dalam pengadaan barang dan jasa adalah pemberian informasi yang lengkap tentang aturan main pelaksanaan pengadaan barang dan jasa kepada semua calon penyedia barang dan jasa yang berminat dan masyarakat.

f. Tidak Diskriminatif

Yang dimaksud dengan tidak diskriminitatif dalam pengadaaan barang dan jasa adalah pemberian perlakuan yang sama kepada semua calon penyedia barang dan jasa yang berminat mengikuti pengadaan barang dan jasa.

g. Akuntabilitas

Yang dimaksud dengan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa adalah pertanggungjawaban pelaksanaan pengadaan barang dan jasa kepada para pihak yang terkait dan masyarakat berdasarkan etika, norma, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(21)

BAB II

PERSIAPAN PENGADAAN JASA PEMBORONGAN

2.1. PERENCANAAN DAN PENYIAPAN DOKUMEN PENGADAAN

Perencanaan pengadaan merupakan rangkaian kegiatan untuk mempersiapkan pengadaan barang dan jasa yang meliputi kegiatan: pengumpulan dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, menyusun paket dan jadwal pengadaan, menyusun spesifikasi teknis/ kerangka acuan kerja, menyusun petunjuk pelaksanaan pengadaan dan menyiapkan biaya pengadaan.

Penyiapan dokumen pengadaan barang dan jasa adalah kegiatan yang bertujuan menghasilkan dokumen-dokumen yang akan digunakan sebagai acuan bagi pengguna/panitia dalam melaksanakan pengadaan dan bagi calon penyedia barang dan jasa dalam menyusun dokumen unjuk kemampuan dan dokumen penawaran/ Usulan.

Dokumen pengadaan yang dipersiapkan adalah dokumen prakualifikasi/ pascakualifikasi dan dokumen lelang untuk pengadaan barang dan jasa dan dokumen permintaan usulan untuk pengadaan jasa konsultansi.

Oleh karena itu dokumen pengadaan akan menjadi dasar hukum bagi pihak pengguna dan penyedia barang/jasa maka dokumen pengadaan harus disusun secara cermat, lengkap dan rinci, dengan bahasa yang sederhana dan lugas.

2.2. DOKUMEN PRAKUALIFIKASI/PASCA KUALIFIKASI

Dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi adalah dokumen yang ketentuan-ketentuan, persyaratan, petunjuk dan informasi mengenai pelaksanaan prakualifikasi/ pascakualifikasi berikut formulir-formulir isian tentang data administrasi, keuangan, personil, peralatana, dan pengalaman kerja yang harus diisi/dilengkapi oleh calon penyedia jasa pemborongan.

Berdasarkan hasil prakualifikasi/pascakualifikasi disusun daftar calon penyedia jasa pemborongan yang dinilai mampu melaksanakan paket pengadaan jasa pemborongan yang akan dilaksanakan.

Dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi biasanya disusun dalam bentuk uraian tentang latar belakang, maksud, tujuan diadakannya prakualifikasi/pascakualifikasi dan format (formulir isian) beserta petunjuk pengisian formulir tersebut. Formulir

(22)

isian adalah formulir yang harus diisi oleh para calon penyedia jasa pemborongan yang ikut dalam prakualifikasi/pascakualifikasi. Maksudnya adalah untuk memudahkan panitia dalam mengevaluasi dokumen unjuk kemampuan (permodalan, peralatan, dan sumber daya manusia) yang diajukan oleh calon penyedia jasa pemborongan.

Dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi pada umumnya terdiri dari:  Pedoman prakualifikasi/pascakualifikasi;

 Formulir-formulir isian.

2.2.1. Penyusunan Dokumen Prakualifikasi/Pascakualifikasi

Dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi disusun dan akan disampaikan kepada calon penyedia jasa pemborongan yang mengikuti prakualifikasi oleh panitia pengadaan pada waktu pelaksanaan prakualifikasi/pascakualifikasi jasa pemborongan dilaksanakan.

Bagi panitia dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi akan digunakan sebagai dasar dan acuan dalam melaksanakan proses prakualifikasi/pascakualifikasi serta dalam mengevaluasi dokumen unjuk kemampuan masing-masing penyedia jasa pemborongan yang mengikuti prakualifikasi/pascakualifikasi Sedang bagi penyedia jasa pemborongan dokumen tersebut akan digunakan sebagai dasar dan acuan dalam menyusun dokumen isian prakualifikasi/pascakualifikasi serta penyampaiannya kepada panitia.

Dasar penyusunan dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi adalah dokumen Spesifikasi Teknis dan Gambar Rencana dan dokumen perencanaan proyek. Dari dokumen tersebut dapat diidentifikasikan klasifikasi bidang jasa pemborongan yang diperlukan, pengalaman penyedia jasa pemborongan yang diperlukan, kemampuan penyedia jasa pemborongan dalam menyediakan tenaga ahli, serta sumber daya lain yang dibutuhkan. Hasil identifikasi dan analisa hal-hal tersebut dipergunakan panitia dalam merumuskan dan menyusun dokumen prakualifikasi termasuk rumusan dan menetapkan ketentuan tatacara evaluasi dan penyusunan daftar calon penyedia pemborongan.

Dalam merumuskan dan menetapkan tata cara evaluasi kualifikasi, harus memperhatikan unsur-unsur dokumen unjuk kemampuan yang dievaluasi. Biasanya unsur-unsur dokumen unjuk kemampuan yang dievaluasi adalah sebagai berikut :

 Persyaratan kelengkapan data dokumen administrasi dan legalitas;  Pengalaman perusahaan dalam melaksanakan layanan jasa

(23)

 Kemampuan dalam menyediakan peralatan dan tenaga;

 Kemampuan dalam menyediakan sumber daya lainnya yang disyaratkan. Sedangkan dalam merumuskan dan menentukan cara evaluasi prakualifikasi perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 Evaluasi biasanya dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama mengevaluasi kelengkapan data/dokumen administrasi dan legalitas. Evaluasi data administrasi biasanya bersifat menggugurkan. Maksudnya kalau persyaratan administrasi dan legalitas ada yang tidak dipenuhi, maka penyedia jasa bersangkutan gugur sehingga tidak diikut sertakan pada proses evaluasi berikutnya, yaitu evaluasi teknis.

 Evaluasi teknis adalah evaluasi terhadap pengalaman dan kemampuan serta sumber daya yang dimiliki termasuk kemampuan finansial oleh calon penyedia jasa pemborongan.

Nilai yang didapat dari evaluasi tersebut dipergunakan untuk menyusun daftar pendek penyedia jasa pemborongan yang akan diundang untuk mengikuti lelang (untuk pelelangan umum dengan prakualifikasi), atau untuk menentukan 3 (tiga) penawaran terendah responsif (untuk pelelangan umum dengan pascakualifikasi).

2.2.2. Isi Dokumen Prakualifikasi/Pascakualifikasi

Isi dokumen prakualifikasi pada umumnya terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian pertama berisi uraian, bagian kedua berisi formulir isian dan bagian ketiga petunjuk pengisian formulir isian.

 Bagian Pertama

Bagian pertama dari dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi berisi uraian tentang :

- Maksud, tujuan prakualifikasi/pascakualifikasi pengadaan jasa pemborongan;

- Kualifikasi bidang jasa pemborongan yang dipersyaratkan;

- Uraian tentang data, informasi dan copy dokumen yang diminta (Akte pendirian perusahaan, Susunan pemilik dan pengurus perusahaan, Surat ijin usaha, Sertifikasi registrasi perusahaan, Nomor pokok wajib pajak dan lain-lainnya yang diperlukan);

- Cara dan waktu menyampaikan dokumen unjuk kemampuan (Formulir isian yang telah diisi oleh penyedia jasa pemborongan);

- Cara evaluasi dan tatacara penyusunan daftar calon penyedia jasa pemborongan.

(24)

 Bagian Kedua

Bagian kedua dari dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi adalah, format dan formulir isian, terdiri dari:

- Format surat pengantar dan surat pernyataan mengikuti prakualifikasi/pascakualifikasi;

- Daftar data kelengkapan administrasi yang diminta;

Data administrasi adalah data mengenai perusahaan yang ada hubungannya dengan administrasi/legalitas perusahaan yaitu antara lain: nama perusahaan, akte pendirian perusahaan/akte perubahan terakhir, alamat perusahaan yang jelas dan benar, status perusahaan (pusat atau cabang), nama dan alamat pengurus perusahaan, nama dan alamat pemilik perusahaan, dan bagi perusahaan cabang disertai akte notaris pembentukannya serta surat kuasa pengelolaan perusahaan cabang dari kantor pusatnya, kemudian rekanan surat ijin usaha dan persyaratan lain yang dianggap perlu.

- Formulir data pengalaman

Data pengalaman perusahaan adalah data tentang pengalaman pekerjaan yang sama atau sejenis dengan paket pekerjaan yang akan dikontrakkan, yang pernah dilaksanakan oleh perusahaan, untuk jangka waktu tertentu (misalnya 7 tahun) yang antara lain memuat: jenis pekerjaan yang pernah dilaksanakan, lokasi, pemberi tugas, nomor dan tanggal kontrak, nilai kontrak dan tanggal penyerahan pekerjaan.

- Formulir daftar personalia

Data personalia adalah data personil inti perusahaan yang akan ditempatkan pada paket pekerjaan yang akan dikontrakkan, antara lain: nama tenaga inti serta bidang keahliannya, riwayat pekerjaan dan pendidikan tenaga pimpinan, riwayat pekerjaan dan pendidikan tenaga teknis/ahli.

- Formulir daftar peralatan

Data peralatan adalah data tentang peralatan yang akan digunakan oleh perusahaan untuk menyelesaikan paket pekerjaan yang akan dikontrakkan, antara lain: jenis, tipe, kapasitas, merk, tahun pembuatan, keadaan, lokasi dan harga peralatan sekarang.

- Formulir data keuangan

Data keuangan adalah data yang berkaitan dengan keuangan/permodalan perusahaan, antara lain: Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), susunan pemilik saham dan modal usaha, kekayaan bersih perusahaan, referensi bank dan neraca perusahaan terakhir. - Formulir lainnya yang dipandang perlu

(25)

 Bagian Ketiga

Bagian ketiga dari dokumen prakualifikasi/pascakualifikasi adalah uraian cara mengisi formulir tersebut.

2.3. DOKUMEN PENGADAAN

Dokumen pengadaan adalah suatu dokumen yang memuat persyaratan-persyaratan, ketentuan-ketentuan, dan keterangan/informasi yang harus diikuti serta dipenuhi baik oleh pengguna jasa maupun penyedia jasa pemborongan dalam rangka memilih calon penyedia jasa pemborongan yang akan ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan jasa pemborongan yang akan dilaksanakan.

Dokumen pengadaan merupakan dokumen yang sangat penting dalam proses pengadaan jasa pemborongan. Dokumen tersebut akan menjadi dasar hukum bagi para pihak dalam proses pengadaan yaitu pihak pengguna jasa termasuk panitia pengadaan dan pihak penyedia jasa pemborongan. Bagi pengguna jasa/panitia lelang dalam hal ini adalah panitia pengadaan, dokumen lelang tersebut akan menjadi dasar dan acuan dalam melaksanakan pengadaan dan mengevaluasi dokumen penawaran. Bagi calon penyedia jasa pemborongan akan menjadi dasar dan acuan dalam menyusun, menyampul dan menyampaikan dokumen penawaran kepada panitia pengadaan.

2.3.1. Penyusunan Dokumen Pengadaan

Dokumen pengadaan disusun oleh panitia pengadaan jasa pemborongan dan akan disampaikan kepada penyedia jasa pemborongan yang lulus prakualifikasi atau yang dipilih atau yang ditunjuk.

Bagi panitia, dokumen pengadaan akan digunakan sebagai dasar dan acuan dalam melaksanakan lelang/pemilihan langsung/penunjukan langsung serta dalam mengevaluasi dokumen penawaran dari calon penyedia jasa pemborongan. Sedangkan bagi calon penyedia jasa pemborongan dokumen tersebut akan digunakan sebagai dasar dan acuan dalam menyusun dokumen penawaran.

Sebagai dasar untuk menyusun dokumen pengadaan adalah dokumen perencanaan proyek khususnya dokumen spesifikasi teknis dan gambar rencana, dokumen paket dan jadwal pengadaan dan dokumen petunjuk pelaksanaan pengadaan.

Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut panitia mengidentifikasikan tentang klasifikasi bidang jasa pemborongan yang akan diadakan,

(26)

pengalaman penyedia jasa pemborongan yang diperlukan, kemampuan penyedia jasa pemborongan dalam menyediakan peralatan yang yang diharapkan, serta kemampuan menyediakan sumber daya yang diperlukan. Hasil identifikasi dan analisa hal-hal tersebut digunakan oleh panitia pengadaan dalam merumuskan dan menyusun dokumen pengadaan termasuk dalam merumuskan dan menetapkan ketentuan tentang sistem dan tatacara evaluasinya.

Isi dokumen pengadaan pada umumnya terdiri dari : Surat Undangan, Instruksi Umum, Instruksi Khusus, syarat Umum kontrak, Syarat-syarat Khusus kontrak, Daftar Kuantitas dan Harga, Rekapitulasi Daftar Kuantitas dan Harga, Spesifikasi dan Gambar Rencana, Format-format Surat Penawaran, Jaminan Penawaran, Jaminan Uang Muka dan Jaminan Pelaksanaan, dan Naskah Kontrak.

2.3.2. Surat Undangan

Surat undangan adalah surat dari panitia kepada calon penyedia barang yang diundang untuk menyampaikan penawaran.

Isi dokumen undangan pengadaan pada umumnya adalah sebagai berikut:  No dan tanggal surat;

 Nama dan alamat calon penyedia jasa pemborongan yang diundang;  Nama atau judul pekerjaan pengadaan barang lainnya;

 Jumlah dan nama lampiran surat;

 Petugas dan alamat petugas yang dapat dimintakan informasi;

 Tempat dan waktu pengambilan dokumen lelang, rapat penjelasan dan waktu penyampaian /pemasukan dokumen penawaran;

 Permintaan masa berlakunya dokumen penawaran;

 Permintaan konfirmasi kesediaan mengikuti pengadaan barang lainnya;  Tempat, tanggal, hari, dan waktu untuk memperoleh dokumen

pengadaan dan keterangan lainnya;

 Tempat, tanggal, hari, dan waktu pemberian penjelasan mengenai dokumen pengadaan dan keterangan lainnya;

 Tempat, tanggal, hari, dan waktu penyampaian dokumen penawaran;  Alamat tujuan pengiriman dokumen penawaran;

 Jadwal pelaksanaan pengadaan jasa pemborongan sampai dengan penetapan penyedia jasa pemborongan dan penandatangan kontrak.

(27)

2.3.3. Instruksi Umum

Instruksi Umum kepada peserta pengadaan adalah ketentuan-ketentuan, persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon penyedia barang serta informasi lainnya yang perlu dipahaminya.

Instruksi Umum kepada peserta pengadaan isinya antara lain:

 Uraian tentang latar belakang, maksud dan tujuan serta lingkup pekerjaan jasa pemborongan, sumber dana, kualifikasi peserta pengadaan jasa pemborongan dan peninjauan lokasi;

 Isi dokumen pengadaan, penjelasan isi dokumen pengadaan, dan perubahan isi dokumen pengadaan;

 Persyaratan bahasa yang digunakan dalam penawaran, penulisan harga penawaran, mata uang penawaran dan cara pembayaran, masa berlaku penawaran, surat jaminan penawaran, usulan penawaran alternatif oleh peserta pengadaan jasa pemborongan, bentuk penawaran, dan penandatanganan surat penawaran;

 Cara penyampaian dan penandaan sampul penawaran, batas akhir waktu penawaran, perlakuan terhadap penawaran yang terlambat, serta larangan untuk perubahan dan penarikan penawaran yang telah masuk;  Prosedur pembukaan penawaran, kerahasiaan dan larangan, klarifikasi

dokumen penawaran, koreksi aritmatik, konversi ke dalam mata uang tunggal, sistem evaluasi penawaran meliputi kriteria, formula dan tata cara evaluasi, serta penilaian preferensi harga (bila ada);

 Penilaian pascakualifikasi (bila dipersyaratkan), kriteria penetapan pemenang pengadaan jasa pemborongan, hak dan kewajiban pengguna jasa pemborongan menerima dan menolak salah satu atau semua penawaran, syarat penandatanganan kontrak dan syarat jaminan pelaksanaan.

2.3.4. Instruksi Khusus

Instruksi Khusus kepada peserta pengadaan merupakan pelengkap terhadap instruksi umum kepada peserta pengadaan, yaitu memuat hal-hal yang khusus yang berbeda dengan instruksi pada umumnya karena kondisi dan situasi tertentu.

Disamping itu memuat pula data lelang yang spesifik untuk setiap paket pekerjaan. Isi Instruksi Khusus adalah sebagai berikut:

 Nama instansi/proyek yang melakukan pelelangan;  Kriteria evaluasi;

(28)

 Penyesuaian harga dan rincian rumusnya;  Mata uang yang digunakan;

 Masa berlaku surat penawaran;

 Besarnya dan masa berlaku jaminan penawaran;  Penawaran alternatif;

 Identifikasi dokumen penawaran;  Penulisan sampul luar;

 Batas akhir pemasukan penawaran;

 Format standar untuk jaminan pelaksanaan;  Besarnya uang muka;

 Adjudicator yang diusulkan oleh pengguna barang/jasa.

2.3.5. Syarat-syarat Umum Kontrak

Syarat-syarat umum kontrak adalah syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang umum ada pada kontrak pekerjaan pengadaan jasa pemborongan, bertujuan untuk memberi pengertian, pedoman, dan batasan-batasan bagi pengguna dan penyedia jasa pemborongan dalam pelaksanaan kontrak. Isi syarat-syarat umum kontrak antara lain:

 Peristilahan yang digunakan;

 Hak, kewajiban dan tanggung jawab;  Sanksi;

 Penyelesaian perselisihan;

 Peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2.3.6. Syarat-syarat Khusus Kontrak

Syarat-syarat khusus kontrak adalah perubahan atau tambahan atau tambahan data-data dari syarat-syarat umum kontrak, karena keadaan/hal-hal tertentu perlu disesuaikan dengan kontrak pekerjaan yang bersangkutan. Syarat khusus berisi yang antara lain hal-hal sebagai berikut:

 Nama pengguna jasa pemborongan dan direksi pekerjaan;  Nomor kontrak;

 Besarnya pekerjaan yang disubkontrakkan;  Daftar tenaga kerja utama;

 Laporan penyelidikan dan kondisi lapangan;  Hal-hal yang bertalian dengan asuransi;  Rencana penyelesaian pekerjaan;  Penyerahaan lapangan;

 Revisi program penyelesaian pekerjaan;  Waktu pemeliharaan;

(29)

 Penyesuaian harga/eskalasi;  Index mata uang rupiah;  Denda;

 Bonus;  Uang muka;

 Bentuk standar jaminan pelaksanaan;  Manual pemeliharaan;

 Prosentase untuk nilai pekerjaan yang belum selesai.

2.3.7. Daftar Kuantitas dan Harga

Daftar kuantitas dan harga adalah suatu daftar yang memuat jenis-jenis pekerjaan serta volume dan harga satuan masing-masing jenis pekerjaan, sekaligus untuk mengetahui besarnya total harga (nilai) kontrak suatu paket pekerjaan. Biasanya isi daftar kuantitas dan harga antara lain sebagai berikut:

 Nomor mata pembayaran;

 Jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan;  Volume pekerjaan dan satuannya;

 Harga satuan;

 Jumlah harga setiap jenis pekerjaan;  Harga total pekerjaan.

2.3.8. Rekapitulasi Daftar Kuantitas dan Harga

Rekapitulasi daftar kuantitas dan harga adalah ringkasan dari daftar kuantitas dan harga dari masing-masing jenis pekerjaan ke dalam suatu kelompok pekerjaan.

Harga atau nilai tiap kelompok pekerjaan merupakan penjumlahan masing-masing harga jenis pekerjaan dari kelompok yang bersangkutan.

Unsur-unsur dari rekapitulasi daftar kuantitas dan harga adalah sebagai berikut:

 No paket pekerjaan;  Nama paket pekerjaan;  Lokasi ;

 Kontraktor;

 Tabel rekapitulasi berisi: Nomor kelompok pekerjaan, jenis pekerjaan, jumlah harga masing-masing kelompok pekerjaan, jumlah seluruh harga

(30)

kelompok pekerjaan, pajak Pertambahan Nilai (PPN), total harga penawaran.

2.3.9. Spesifikasi dan Gambar Rencana

Spesifikasi dan gambar rencana adalah persyaratan teknis minimum yang harus dipenuhi dari setiap jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan serta gambar rencana dari pekerjaan yang akan dilaksanakan tersebut. Biasanya spesifikasi terdiri dari:

 Spesifikasi umum adalah standar-standar umum yang digunakan, antara lain: peraturan perundang undangan terkait, standar-standar, survei, hari kerja dan jam kerja, standar-standar ukuran, standar konstruksi, standar gangguan dan keadaan darurat, serta penyingkiran material berlebih;  Spesifikasi khusus adalah spesifikasi dari pekerjaan pemborongan yang

tidak standar, antara lain: lapangan, bangunan/desain/pengerjaan spesifik, bangunan-bangunan umum dan fasilitas-fasilitas publik, perancah, pengaturan lalu lintas dan pengendalian lingkungan;

 Spesifikasi untuk masing-masing jenis pekerjaan.

2.3.10. Jaminan Penawaran, Jaminan Uang Muka, dan Jaminan Pelaksanaan

Pada dokumen lelang dimasukkan ketentuan tentang jaminan penawaran, jaminan uang muka dan jaminan pelaksanaan. Surat jaminan tersebut mencantumkan sejumlah uang yang dipertanggungkan untuk menjamin penawaran, uang muka dan pelaksanaan. Surat jaminan tersebut dapat dikeluarkan oleh bank atau perusahaan asuransi yang mempunyai program

surety bond. Pada umumnya surat jaminan memuat hal-hal sebagai berikut:

 Nama dan alamat pengguna jasa pemborongan, penyedia jasa pemborongan, dan pihak penjamin;

 Nama paket pekerjaan yang dilelangkan;

 Besar jumlah jaminan penawaran dalam angka dan huruf;

 Pernyataan pihak penjamin bahwa jaminan penawaran dapat dicairkan dengan segera sesuai ketentuan dalam jaminan penawaran;

 Mengacu kepada Kitab Undang-undang Hukum Perdata, khususnya Pasal 1831 dan 1832;

 Tandatangan penjamin;

 Masa berlaku surat jaminan penawaran;

 Batas akhir waktu pengajuan tuntutan pencairan surat jaminan penawaran oleh pengguna jasa pemborongan kepada pinjaman;

(31)

Apabila jaminan dilakukan oleh bank, maka dalam surat jaminan mencantumkan ketentuan berlakunya Pasal 1832 dengan mengabaikan Pasal 1831 KUH Perdata.

2.3.11. Sistem Penyampulan dan Penyampaian Dokumen

Yang dimaksud dengan penyampulan disini adalah pemasukan dokumen penawaran ke dalam sampul. Sedangkan yang dimaksud penyampaian adalah cara menyampaikan dokumen penawaran dari calon penyedia jasa pemborongan kepada panitia pengadaan.

Di dalam dokumen lelang harus sudah ditentukan sistem penyampulan dan penyampaian dokumen lelang. Dalam menentukan sistem penyampulan mengacu kepada metode lelang dan sistem evaluasi yang akan digunakan. Sistem penyampulan dokumen penawaran terdiri dari sistem satu sampul, dua sampul dan dua tahap.

 Sistem Satu Sampul

Sistem satu sampul yaitu seluruh dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan data administrasi, teknis dan perhitungan harga dimasukkan ke dalam 1 (satu) sampul penutup dan disampaikan kepada panitia pengadaan. Pada sampul penutup dicantumkan alamat pengguna barang/jasa dan kata-kata dokumen penawaran pengadaan barang/jasa : jenis pekerjaan, tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam pemasukan.

 Sistem Dua Sampul

Sistem dua sampul yaitu persyaratan/data adaministrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul penutup I dan ditulis data administrasi dan perhitungan harga/data keuangan dimasukkan dalam sampul penutup II dan ditulis data keuangan. Selanjutnya sampul penutup I dan II dimasukkan ke dalam 1 (satu) sampul (sampul penutup III) dan disampaikan kepada panitia pengadaan. Pada sampul penutup III dicantumkan alamat pengguna barang/jasa dan kata-kata dokumen penawaran pengadaan barang/jasa : jenis pekerjaan, tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam pemasukan.

 Sistem Dua Tahap

Sistem dua tahap yaitu persyaratan/ data administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul penutup I, sedangkan perhitungan harga/data keuangan dimasukkan ke dalam sampul penutup II, yang penyampaiannya dilakukan dalam 2 (dua) tahap secara terpisah dan

(32)

dalam waktu yang berbeda. Pada sampul penutup I dicantumkan alamat pengguna barang/jasa dan kata-kata dokumen penawaran pengadaan barang/jasa : jenis pekerjaan, tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam pemasukan. Sedangkan sampul penutup II disampaikan apabila persyaratan/ data administrasi dan teknis telah dinyatakan lulus oleh panitia pengadaan.

Panitia pengadaan dapat memilih salah satu dari tiga sistem pemasukan dokumen penawaran, dan panitia sebaiknya mencatumkan dengan jelas pada dokumen pengadaan dan dijelaskan kepada peserta pengadaan pada waktu pemberian penjelasan dokumen pengadaan.

Cara penyampaian dokumen lelang ada dua pilihan yang dapat digunakan oleh calon penyedia jasa pemborongan yaitu:

- Dengan cara menyampaikannya langsung kepada panitia; atau - Dengan cara menggunakan jasa pengiriman (jasa pengiriman pos

dan jasa pengiriman lainnya).

2.3.12. Sistem Evaluasi

Sistem evaluasi pengadaan jasa pemborongan adalah rangkaian kegiatan untuk meneliti kelengkapan, kebenaran dan keabsahan dokumen administrasi serta menganalisa dan menilai dokumen usulan teknis dan dokumen penawaran.

 Penyusunan Sistem Evaluasi

Sistem evaluasi disusun oleh panitia pengadaan. Dalam menyusun sistem evaluasi mengacu kepada spesifikasi dan gambar rencana, paket pengadaan jasa pemborongan, petunjuk pelaksanaan dan dokumen perencanaan proyek.

Berdasarkan kajian terhadap dokumen-dokumen tersebut panitia pengadaan dapat menentukan sistem evaluasi pengadaan barang yang cocok dan menyusun ketentuan Unsur dokumen penawaran yang dievaluasi serta sistem evaluasi yang digunakannya.

Sistem evaluasi yang umum dalam pengadaan jasa pemborongan adalah sistem gugur, sistem nilai dan sistem penilaian biaya selama umur ekonomis.

(33)

- Sistem Gugur

Sistem gugur adalah sistem penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan serta urutan proses penilaian dilakukan dengan mengevaluasi persyaratan administrasi, persyaratan teknis dan evaluasi kewajaran harga. Sistem gugur pada umumnya digunakan pada evaluasi penawaran jasa pemborongan.

- Sistem Nilai

Sistem nilai adalah sistem penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan, kemudian mebandingkan jumlah dari setiap penawaran peserta dengan peserta lainnya. Sistem nilai ini, pada umumnya digunakan pada evaluasi penawaran jasa konsultan.

- Sistem Penilaian Biaya Selama Umur Ekonomis

Sistem penilaian biaya selama umur ekonomis adalah sistem penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur-unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang yang ditawarkan berdasarkan kriteria dan nilai yang ditetapkan di dalam dokumen pengadaan, kemudian nilai unsur-unsur tersebut dikonversikan ke dalam satuan mata uang tertentu, dan dibandingkan dengan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. Sistem penilaian penawaran ini digunakan khusus untuk mengevaluasi pengadaan barang yang kompleks.

 Tata Cara Evaluasi

Tatacara evaluasi menguraikan urutan tahap dan proses evaluasi yang digunakan. Dalam ketentuan evaluasi pada masing-masing tahap dicantumkan pula hal-hal yang dapat menggugurkan penawaran.

Kriteria dan cara penilaian sebaiknya dinyatakan secara kuantitatif, sehingga mudah mengukurnya.

 Ketentuan Evaluasi lainnya

Selain memuat ketentuan keharusan dan ketentuan tentang hal yang dapat menggugurkan, harus dicantumkan pula ketentuan yang menegaskan bahwa dalam pelaksanaan lelang pengadaan barang dan

jasa lainnya tidak ada ketentuan lain yang dapat digunakan selain ketentuan yang telah tercantum didalam dokumen lelang.

(34)

2.3.13. Naskah Kontrak

Pada dokumen lelang berisi naskah draft kontrak yang akan dijadikan dasar dalam menyusun dokumen kontrak.

Maksud adanya naskah draft kontrak adalah untuk dipahami oleh peserta lelang. Apabila ada klausal pada dokumen naskah konsep kontrak yang tidak disetujui, peserta lelang dapat menyampaikan usulan perbaikan / perubahannya pada waktu aanwijzing atau dalam dokumen penawaran. Pemuatan naskah draft kontrak ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang kontrak yang akan digunakan apabila peserta menang.

Catatan :

Dalam Pengadaan jasa pemborongan yang volumenya besar atau yang bersifat komplek, dilaksanakan dengan metode lelang melalui proses prakualifikasi. Sedangkan untuk pengadaan jasa pemborongan yang volumenya tidak besar dan sifatnya tidak kompleks dilakukan metode lelang dengan pasca kualifikasi. Isi dokumen lelang dengan prakualifikasi dan pasca kualifikasi digambarkan pada tabel berikut :

Prakualifikasi Pasca Kualifikasi

- Surat Undangan,

- Instruksi kepada penawar, - Syarat-syarat umum kontrak, - Syarat-syarat khusus kontrak, - Daftar Kuantitas dan Harga, - Spesifikasi Teknis,

- Bentuk Surat Penawaran, - Bentuk Kontrak,

- Bentuk Surat Jaminan Penawaran, - Bentuk Surat Jaminan Uang Muka, - Bentuk Surat Jaminan Pelaksanaan; - Naskah Draft Kontrak

- Pengumuman Lelang,

- Surat Undangan (bila dilakukan Pendaftaran),

- Instruksi kepada penawar, - Syarat-syarat umum kontrak, - Syarat-syarat khusus kontrak, - Daftar Kuantitas dan Harga, - Spesifikasi Teknis,

- Bentuk Surat Penawaran, - Bentuk Kontrak,

- Bentuk Surat Jaminan Penawaran, - Bentuk Surat Jaminan Uang Muka, - Bentuk Surat Jaminan

Pelaksanaan;

- Naskah Draft kontrak.

2.4. HARGA PERKIRAAN SENDIRI (HPS)

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atau Owner's Estimate (OE) adalah perhitungan biaya pekerjaan pengadaan jasa pemborongan sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan di dalam dokumen pengadaan. Syarat-syarat dimaksud antara lain adalah spesifikasi teknis dan gambar rencana yang ada dalam dokumen lelang. HPS disusun secara keahlian oleh panita pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna jasa yang dipakai sebagai alat untuk menilai kewajaran harga penawaran termasuk

(35)

rinciannya dan untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah dari calon penyedia.

Dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 dinyatakan bahwa :

HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran harga barang/jasa yang ditawarkan dan HPS merupakan salah satu acuan dalam menentukan tambahana jaminan.

HPS dibuat atau disusun menjelang pelaksanaan pengadaan. Untuk menyusun HPS perlu mempelajari secara seksama Spesifikasi Teknis dan Gambar Rencana. Dari Spesifikasi Teknis dan Gambar Rencana tersebut dapat diidentifikasikan jenis volume dari pekerjaan yang akan dilaksanakan dan jenis dan volume pekerjaan-pekerjaan pendukung.

Berdasarkan hasil identifikasi tersebut dapat disusun daftar jenis pekerjaan serta volumenya. Untuk menghitung biaya diperlukan data harga satuan dari masing-masing jenis pekerjaan berdasarkan harga pasar daripada bahan, tenaga, dan peralatan.

Dalam menyusun HPS perlu menggunakan dan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

 Harga pasar setempat pada saat HPS akan disusun;

 Harga kontrak untuk pekerjaan pemborongan sejenis setempat yang pernah dilaksanakan;

 Analisa harga satuan berdasarkan harga pasar pada saat HPS akan disusun;  Perkiraan perhitungan biaya yang pernah dilakukan pada waktu perencanaan

proyek;

 Informasi harga satuan yang dipublikasikan oleh instansi yang berwenang (Biro Pusat Statistik (BPS);

 Daftar harga standar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang;  Daftar harga barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrik/agen tunggal;  Preferensi harga untuk penggunaan produksi dalam negeri;

 Pajak pertambahan nilai (PPN) dan bea masuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

 Keuntungan yang wajar bagi penyedia;

 Tidak memasukkan biaya pajak penghasilan rekanan (PPh)

Dalam Keppres No. 80 Tahun 20003 mengenai HPS:

1. Nilai HPS terbuka dan tidak bersifat rahasia dan diumumkan sejak rapat penjelasan lelang, sedangkan rincian HPS tidak boleh dibuka dan bersifat rahasia 2. HPS merupakan salah satu acuan dalam evaluasi penawaran.

(36)

R a p a t P a n i t i a J a d w a l p e n g a d a a n d i b u a t s e s u a i p r o g r a m P i m p r o d a n k e t e n t u a n y a n g a d a 2.5. JADWAL PENGADAAN

Yang dimaksud dengan Jadwal pengadaan adalah Jadwal dari seluruh kegiatan pada proses pengadaan suatu paket jasa pemborongan yang telah ditentukan dalam dokumen lelang.

Jadwal pengadaan perlu disusun agar pengadaan jasa bersangkutan dapat dilaksanakan secara sistematis dalam waktu yang seefisien mungkin.

2.5.1. Penyusunan Jadwal Pengadaan

Jadwal pengadaan disusun oleh panitia pengadaan berdasarkan dokumen Spesifikasi teknis dan Gambar Rencana serta dokumen lain yang berkaitan dengan pengadaan dan kalender. Jadwal pengadaan penting untuk dasar dan acuan panitia dalam melaksanakan pengadaan, sebagai alat bagi pengguna dalam memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan pengadaan, serta acuan bagi penyedia jasa pemborongan dalam mendaftar, mengambil dokumen pengadaan, menyusun dan menyampaikan dokumen unjuk kemampuan dan dokumen penawaran.

Untuk menyusun Jadwal pengadaan panitia perlu menyusun seluruh kegiatan pada proses pengadaan serta menentukan alokasi waktu untuk setiap kegiatan tersebut. Alokasi waktu dinyatakan dalam satuan hari. Lamanya waktu yang dialokasikan untuk masing-masing tahapan proses tergantung dari sifat dan jenis pekerjaan jasa pemborongan yang akan dilaksanakan.

Pada dasarnya dalam mengalokasikan waktu, harus mempertimbangkan pemberian waktu yang cukup bagi panitia dalam mempersiapkan dan menyusun semua dokumen pengadaan serta waktu yang cukup untuk melakukan evaluasi baik untuk mengevaluasi dokumen unjuk kemampuan maupun dokumen penawaran. Bagi peserta diberi waktu yang cukup untuk mempersiapkan dokumen unjuk kemampuan dan dokumen penawarannya. Dalam memberikan alokasi waktu untuk setiap kegiatan perlu pertimbangan tingkat kesulitan dari masing-masing kegiatan. Untuk pekerjaan yang sulit dialokasikan waktu yang lebih lama dari kegiatan yang tidak sulit.

(37)

2.5.2. Tahap dan Kegiatan Pengadaan

Pengadaan jasa pemborongan pada umumnya dibagi dalam 2 tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.

 Tahap Persiapan

Dalam hal pengadaan jasa pemborongan dilakukan dengan metode seleksi dengan persaingan, maka kegiatan pengadaan pada tahap persiapan pelaksanaan pengadaan adalah sebagai berikut :

- Menyiapkan/mendapatkan spesifikasi teknis dan gambar rencana - Menyusun dokumen kualifikasi

- Menyusun dokumen permintaan penawaran - Menyusun harga perhitungan sendiri

- Mengumumkan pengadaan jasa pemborongan pada media masa dan papan pengumuman

- Mendaftar dan memberikan dokumen prakualifikasi kepada penyedia jasa pemborongan yang berminat (bila dengan sistem prakualifikasi)

- Memberi waktu kepada penyedia jasa pemborongan yang berminat untuk menyiapkan/menyusun dokumen unjuk kemampuan (bila dengan sistem prakualifikasi)

- Menerima dan mengevaluasi dokumen unjuk kemampuan (bila dengan sistem prakualifikasi)

- Menyusun daftar penyedia jasa pemborongan yang lulus evaluasi (bila dengan sistem prakualifikasi)

Susunan kegiatan tahap pelaksanaan tergantung kepada metode pengadaan dan sistem evaluasi yang digunakan. Berikut adalah rangkaian pengadaan jasa pemborongan dengan metode lelang, dengan sistem dua sampul.

- Mengundang penyedia jasa pemborongan yang lulus prakualifikasi (bila dengan sistem prakualifikasi);

- Menyampaikan dokumen lelang kepada calon penyedia jasa pemborongan;

- Menjelaskan dokumen lelang kepada calon penyedia jasa pemborongan;

- Memberikan waktu kepada calon penyedia jasa pemborongan untuk menyusun dan menyampaikan dokumen penawaran;

- Membuka dan mengevaluasi dokumen persyaratan administrasi; - Mengevaluasi dokumen teknis dan penawaran harga;

- Menentukan 3 calon terbaik yang telah memenuhi nilai ambang batas;

(38)

- Membuka dan mengevaluasi usulan biaya;

- Menentukan peringkat terakhir 3 calon penyedia jasa pemborongan berdasarkan hasil penilaian usulan teknis dan biaya;

- Mengevaluasi kualifikasi (bila dengan sistem pascakualifikasi); - Mengumumkan 3 calon penawar terbaik;

- Memberikan waktu sanggah;

- Menetapkan penyedia jasa pemborongan yang ditunjuk; - Menyusun dokumen kontrak;

- Penandatanganan kontrak;

Tahap persiapan terdiri dari kegiatan sebagai berikut: - Perencanaan pengadaan;

- Pembentukan panitia pengadaan;

- Penyiapan dokumen prakualifikasi dan dokumen pengadaan.

Tahap pelaksanaan terdiri dari kegiatan sebagai berikut : - Pengumuman dan pelaksanaan prakualifikasi

- Penyusunan daftar calon kontraktor/penyedia jasa pemborongan yang akan diundang;

- Pelaksanaan pengadaan jasa pemborongan; - Penyusunan dan penandatanganan kontrak;

2.5.3. Alokasi Waktu

Dalam menentukan alokasi waktu mempertimbangkan dan menghitung secara cermat yang dilandasi prinsip memberikan waktu yang memadai untuk setiap kegiatan yang telah disusun.

Karena sifat dan jenis pekerjaan jasa pemborongan amat beragam, yang tingkat kesulitannya juga berbeda-beda, maka alokasi waktu untuk setiap kegiatan dari masing-masing paket pengadaan jasa pemborongan mestinya juga bisa berbeda.

Sebagai acuan dalam mengalokasikan waktu untuk kegiatan pengadaan pemborongan, Keppres 80/2003 memberikan batasan minimal dan maksimal untuk setiap kegiatan pada proses pengadaan jasa pemborongan dengan ketentuan secepat-cepatnya atau selambat-lambatnya.

Sesuai ketentuan Keppres 80/2003, alokasi waktu dalam penyusunan jadwal adalah : a. Pelelangan umum dengan prakualifikasi :

1) Penayangan pengumuman prakualifikasi sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja.

(39)

2) Pengambilan dokumen prakualifikasi dimulai sejak tanggal pengumuman sampai dengan satu hari sebelum batas akhir pemasukan dokumen prakualifikasi.

3) Batas akhir pemasukan dokumen prakualifikasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja setelah berakhirnya penayangan pengumuman prakualifikasi.

4) Tenggang waktu antara hari pengumuman dengan batas akhir pengambilan dokumen prakualifikasi sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja.

5) Pengambilan dokumen penawaran dilakukan satu hari setelah dikeluarkannya undangan lelang sampai dengan satu hari sebelum pemasukan dokumen penawaran.

6) Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal pengumuman.

7) Pemasukan dokumen penawaran dimulai satu hari setelah penjelasan (aanwijzing)

b. Pelelangan umum dengan pascakualifikasi :

1) Penayangan pengumuman prakualifikasi sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja.

2) Pengambilan dokumen penawaran dilakukan satu hari setelah tanggal pengumuman sampai dengan satu hari sebelum batas akhir pemasukan dokumen penawaran

3) Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal pengumuman.

4) Pemasukan dokumen penawaran dimulai satu hari setelah penjelasan (aanwijzing).

c. Pelelangan terbatas

1) Penayangan pengumuman pelelangan terbatas sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja.

1) Pengambilan dokumen penawaran dilakukan 1 (satu) hari setelah pengumuman sampai dengan 1 (satu) hari sebelum batas akhir pemasukan dokumen penawaran.

2) Penjelasan (aanwijzing) dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal pengumuman.

3) Pemasukan dokumen dimulai 1 (satu) hari setelah penjelasan (aanwijzing).

Batas akhir pemasukan dokumen penawaran sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penjelasan.

(40)

BAB III

PRAKUALIFIKASI DAN PASCAKUALIFIKASI

Prakualifikasi/pascakualifikasi tersebut harus dilakukan secara adil, transparan, dan mendorong terciptanya persaingan yang sehat dengan mengikutsertakan sebanyak-banyaknya penyedia barang/jasa.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 14 Keppres 80/2003 yang dimaksud dengan Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemajuan usaha serta pemenuhan persayaratan lainnya dari penyedia barang/jasa sebelum memasukkan penawarana, dan Pascakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan lainnya dari penyedia barang/jasa setelah memasukkan penawaran. Pascakualifikasi wajib dilakukan pada proses pelelangan umum.

Adapun rangkaian kegiatan pelaksanaan prakualifikasi adalah sebagai berikut :

 Panitia mengumumkan melalui berbagai cara, yang menyatakan bahwa ada paket pekerjaan jasa pemborongan yang akan diserahkan kepada pihak penyedia jasa pemborongan yang memenuhi syarat untuk melaksanakan;

 Dalam jangka waktu seperti yang ditentukan dalam pengumuman panitia pengadaan akan mencatat penyedia jasa pemborongan yang berminat/mendaftar dan memberikan dokumen prakualifikasi kepada penyedia jasa pemborongan yang memenuhi syarat sebagai dasar menyusun dokumen unjuk kemampuan;

 Berdasarkan dokumen prakualifikasi, penyedia jasa pemborongan menyusun dokumen unjuk kemampuan dan menyampaikannya kepada panitia pengadaan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan dalam dokumen prakualifikasi;

 Dokumen unjuk kemampuan tersebut selanjutnya dievaluasi oleh panitia pengadaan. Bagi yang lulus namanya disusun dan dicantumkan dalam Daftar Calon Penyedia

Jasa pemborongan;

 Panitia akan mengumumkan daftar calon penyedia jas pemborongan tersebut agar diketahui oleh masyarakat, dan untuk memberikan kesempatan menyanggah kepada penyedia jasa pemborongan yang merasa dirugikan. Apabila ada yang ternyata benar adanya, maka panitia akan memperbaiki daftar panjang yang telah diumumkan tersebut, tanpa mengulangi proses prakualifikasi yang telah dilakukan;

 Daftar calon penyedia jasa pemborongan tersebut oleh panitia disampaikan kepada pengguna jasa untuk mendapat persetujuan dan pengesahannya. Dalam hal pengguna jasa dengan alasan yang kuat tidak setuju terhadap Daftar calon penyedia jasa pemborongan yang diusulkan tersebut, maka panitia akan memperbaiki atau mengulang proses prakualifikasi;

 Daftar calon penyedia jasa pemborongan yang telah disetujui akan dipergunakan oleh panitia untuk mengundang atau memintanya memasukkan dokumen penawaran.

(41)

3.1 KEGIATAN PELAKSANAAN PRAKUALIFIKASI

Berdasarkan uraian tata urutan kegiatan prakualifikasi dapat digambarkan bagan alirnya sebagai berikut :

PRAKUALIFIKASI CALON PENYEDIA JASA PEMBORONGAN

ya Lulus >=3 peserta? Ada sanggahan? Tidak (1x)

Daftar Penyedia jasa pemborongan Daftar Penyedia jasa pemborongan

Evaluasi DUK Penyusunan Dokumen Prakualifikasi Pengumuman Prakualifikasi

Pemasukan Dokumen Unjuk Kemampuan (DUK)

Pendaftaran dan Penyampaian Dok. Pra.

Undang Peserta Lain Untuk diumumkan kembali

Bila sanggahan benar

Penetapan Daftar Penyedia jasa pemborongan Tidak atau sanggahan tidak benar Tidak (2X) Seleksi Langsung Pengumuman

Referensi

Dokumen terkait

Acara Penjelasan Pekerjaan/Aanwyjzing (Lelang Ulang) dilakukan secara Online melalui website http://lpse.bekasikota.go.id oleh para peserta lelang dan Panitia

Acara Penjelasan Pekerjaan/Aanwyjzing (Lelang Ulang) dilakukan secara Online melalui website http://lpse.bekasikota.go.id oleh para peserta lelang dan Panitia

Penjelasan (Aanwejzing), Panitia memberikan Penjelasan secara rinci kepada peserta lelang tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai Dokumen

Apabila Pemenang Lelang yang ditetapkan sebagai penyedia jasa mengundurkan diri, maka Panitia Pengadaan dapat menetapkan Pemenang Cadangan sebagai Penyedia Jasa. Sanggahan

Panitia Pengadaan Jasa Konstruksi Kodam IM mengundang penyedia jasa konstruksi untuk mengikuti Pelelangan Ulang dengan metode pascakualifikasi, yang dibiayai dengan

Panitia Pengadaan Bar ang dan Jasa pada Satuan Ker ja LLAJ Papua Bar at akan melaksanakan Pelelangan Umum (LELANG ULANG) dengan Pascakualifikasi untuk paket peker

Panitia Pengadaan Bar ang dan Jasa pada Satuan Ker ja LLAJ Papua Bar at akan melaksanakan Pelelangan Umum (LELANG ULANG) dengan Pascakualifikasi untuk paket peker

dapat mengajukan sanggahan secar a ter tulis kepada Panitia Pengadaan Bar ang/ Jasa Kantor Otor itas Bandar Udar a Wilayah X Papua.. Sesuai dengan Per atur an Pr esiden