• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

GSBC – 09 = TAHAPAN DAN METODA KERJA

PELAKSANAAN BANGUNAN GEDUNG

PELATIHAN

KEPALA PROYEK

BANGUNAN GEDUNG

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 UMUM

Modul ini menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan tahapan dan metode konstruksi (metode pelaksanaan konstruksi) untuk pekerjaan Bangunan Gedung, yang sering dipakai pada pelaksanaan pekerjaan Bangunan Gedung .

Modul ini berisi prosedur dan pedoman yang perlu diikuti dan dikembangkan dalam pelaksanaan pembangunan gedung. Penggunaan metode konstruksi atau metode pelaksanaan yang sesuai akan menyakinkan bahwa pelaksanaan pekerjaan akan terselesaikan dalam batas waktu dan dana yang tersedia serta mutu yang tercantum di dalam spesifikasi. Peningkatan mutu proses pelaksanaan pekerjaan akan mengurangi pekerjaan perbaikan atau rework yang jelas menambah biaya dan waktu penyelesaiannya.

Metode konstruksi pada hakekatnya adalah penjabaran tata cara dan teknik-teknik pelaksanan pekerjaan, merupakan inti dari seluruh kegiatan dalam sistem manajemen konstruksi. Metode pelaksanaan konstruksi merupakan kunci untuk dapat mewujudkan seluruh perencanaan menjadi bentuk bangunan fisik. Pada dasarnya metode konstruksi merupakan penerapan konsep rekayasa berpijak pada keterkaitan antara persyarataan dalam dokumen pelelangan, keadaan teknis dan ekonomis yang ada dilapangan dan seluruh sumber daya termasuk pengalaman kontraktor. Kombinasi dan keterkaitan ketiga elemen secara interaktif membentuk kerangka gagasan dan konsep metode optimal yang diterapkan dalam pelaksanaan konstruksi. dalam bentuk bagan diberikan pada Gambar 1.1. konsep metode pelaksanaan mencakup pemilihan dan penetapan yang berkaitan dengan keseluruhan segi pekerjaan termasuk pemilihan dan penetapan sarana dan prasarana yang bersifat sementara sekalipun.

(3)

Gambar 1.1

Adapun lingkup pakerjaan bangunan gedung adalah pekerjaan yang umum dilaksanakan yang meliputi tahapan dan metode konstruksi (metode pelaksanaan ) untuk pekerjaan sebagai berikut :

1. Pekerjaan pengukuran dan pematokan 2. Pekerjaan Tanah dan pondasi

3. Pekerjaan struktur cetakan dan perancah 4. Pekerjaan arsitektur

5. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal 6. Pekerjaan perpipaan dan sanitasi 7. Dan lain-lainnya

1.2 PENYUSUNAN RENCANA KERJA

Pada tahap persiapan pelaksanaan proyek maka harus disiapkan sarana dan prasarana yang meliputi pembuatan dokumen rencana pelaksanaan proyek dan rencana persiapan fisik dilapangan untuk mendukung dimulainya pelaksanaan proyek menjadi lebih lancar.

Rencana pelaksanaan proyek menjadi sangat penting dan menjadi standar atau pedoman untuk kesuksesan pelaksanaan dilapangan demi tercapainya pengendalian biaya, mutu dan waktu sesuai target yang direncanakan

Dengan dibuatnya rencana pelaksanaan dan pada tahap operasional proyek dilakukan kontrol atas pengendalian pada setiap pekerjaan sesuai bidanganya masing-masing, maka kegiatan operasional tersebut akan terarah, terukur dan terorganisasi dengan baik

(4)

Rencana pelaksanaan proyek terdiri dari : 1. Organisasi proyek dan jobdescription

2. Jadwal pelaksanaan proyek dan jadwal pengadaan sumber daya. 3. Rencana mutu kontrak

4. Metode pelaksanaan (Construction Method) 5. Survei lapangan

6. Mobilisasi dan site plan

7. Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) dan cashflow 8. Rencana K3 proyek

9. Rencana kelola lingkungan (RKL) dan rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Jelas bahwa metode pelaksanaan atau metode konstruksi (Construction Method) dapat bermanfaat di dalam memberikan arahan dan pedoman yang jelas atas urutan dan fasilitas penyelesaian pekerjaan dan merupakan kesatuan dokumen prosedur pelaksanaan proyek.

1.2.1 Penyusunan Kebutuhan Sumber Daya

Manajemen dalam penyelenggaran proyek tergantung dari 2 faktor utama yaitu sumberdaya dan fungsi-fungsi manajemen. Fungsi-fungsi manajemen sebagaimana diketahui antara lain dirumuskan sebagai POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Sedangkan Sumber Daya biasanya diuraikan sebagai 4M yaitu Man (Manusia, Tenaga Kerja) Money (Uang), Methode (Metoda), Material (Bahan) dan Machine (Peralatan). Tetapi ada suatu pendapat dimana Sumber Daya bisa dikembangkan lagi menjadi 5 M, dimana ada tambahan satu M lagi yaitu Method. Dengan Method atau metode konstruksi yang baik, memenuhi syarat teknis, aman dilaksanakan, memenuhi syarat ekonomis (bisa termurah dan efisien) dan merupakan alternative/ pilihan terbaik sesuai kondisi lapangan akan merupakan sumber daya yang sangat menentukan didalam mensukseskan pelaksanaan proyek.

Untuk menyusun metode konstruksi yang lengkap diperlukan data dan analisa kebutuhan sumber daya tenaga kerja, bahan yang akan dipakai dan paling penting adalah daftar kebutuhan peralatan.

1.2.2 Kebutuhan Tenaga Kerja

Didalam menganalisa dan menyusun kebutuhan tenaga kerja, penentuan produktivitas pekerja sulit karena hal itu sangat bervariasi dari kontraktor yang satu dengan kontraktor yang lain dan dari satu cabang keahlian ke cabang

(5)

keahlian lainnya. Namun demikian dengan diskusi dengan pihak kontraktor dan survei kebutuhan proyek didaerah tersebut, akan dapat juga memberikan manfaat.

Memperkirakan biaya konstruksi dalam daerah dimana diberikan toleransi terhadap jam istirahat, minum kopi, jam makan yang lama, penghentian saat kerja lebih dini, dan lain-lain akan sangat berlainan dengan pekerjaan yang sama dengan kontraktor yang mempunyai pengendalian yang cukup ketat terhadap tenaga kerja.

Juga penentuan ketersediaan tenaga kerja adalah penting. Adalah perlu untuk selalu “memegang” mandor-mandor yang cakap dan mempunyai jaringan-jaringan pekerja dengan jumlah yang cukup besar dengan keahlian yang cukup baik. Apabila kontraktor mendapat proyek tertentu, mandor-mandor langganan selalu harus dipanggil, dengan demikian ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan jumlahnya mencukupi akan selalu tersedia.

Setelah kita mendapatkan jumlah pekerja untuk menyelesaikan suatu detail item pekerjaan maka kita harus membuat jadwal kebutuhan tenaga kerja. Jadwal tersebut antara lain:

- rincian item pekerjaan secara detail - rencana waktu pelaksanaan proyek

- rincian waktu pelaksanaan pekerjaan per item pekerjaan

- rincian jumlah pekerja (mandor dan tenaga terampil) untuk melaksanakan suatu item pekerjaan pada waktu tertentu

1.2.3 Kebutuhan Bahan

Sebelum kita menghitung kebutuhan bahan, setelah kita mempelajarii spesifikasi dan metode yang dipakai, maka kita perlu mengadakan survey dan penelitian bahan lokal yang cocok untuk dipergunakan. Bila didalam perencanaan, kondisi setempat belum dipahami secara mendalam, adalah sangat mungkin kita mendapat bahan yang jauh lebih murah yang sesuai dengan spesifikasi dan metode yang akan dipakai.

Juga yang sangat penting adalah waktu pengadaan bahan. Berdasarkan pengalaman yang ada, meskipun bahan local volumenya berlimpah tetapi karena banyaknya proyek pembangunan di daerah tersebut menyebabkan waktu pengadaan bahan menjadi tersendat bahkan bisa terlambat dari jadwal.

(6)

Setelah kita mendapatkan jumlah bahan untuk menyelesaikan suatu item pekerjaan dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus membuat jadwal kebutuhan bahan.

Jadwal tersebut berisi antara lain: - Rincian item pekerjaan secara detail - Rencana waktu pelaksanaan proyek

- Rencana waktu pelaksanaan per item pekerjaan

- Rincian jumlah/ volume bahan dengan spesifikasi tertentu untuk melaksanakan item pekerjaan tersebut pada waktu tertentu.

1.2.4 Kebutuhan Peralatan

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, hampir semua proyek menengah sampai besar merupakan proyek padat modal dan padat alat. Dengan menggunakan peralatan berat maka sasaran pekerjaan dapat dicapai dalam waktu relatif cepat.

Didalam pembuatan Dokumen Metoda Konstruksi, pertama kali kita harus menetapkan dan menghitung Construction Plant atas kebutuhan peralatan berat yang dipakai pada suatu item pekerjaan berdasarkan jangka waktu tertentu sesuai jadwal pelaksanaan pekerjaan, tentu saja sesuai dengan metode konstruksi yang paling efisien dan efektif.

Untuk perhitungan kebutuhan peralatan proyek adalah sebagai berikut: 1. Menghitung produksi alat per jam (hourly production of equipment)

2. Menghitung waktu operasi tiap jenis peralatan didalam menyelesaikan suatu jenis item pekerjaan. Dengan dibandingkan produksi alat per satuan volume/ luas maka dapat dihitung jumlah alat yang diperlukan didalam menyelesaikan satu jenis item pekerjaan sesuai jadwal waktu yang tersedia.

1.3 PRINSIP PEMBUATAN METODA PELAKSANAAN KONSTRUKSI 1.3.1 Umum

Metode pekerjaan atau yang biasa disebut ’CM’ (construction method) merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis dan teknik sehubungan dengan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan dalam kondisi medan kerja, guna memperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan efisien.

(7)

Metode pelaksanaan pekerjaan tersebut, sebenarnya telah dibuat oleh kontraktor yang bersangkutan pada waktu membuat ataupun mengajukan penawaran pekerjaan. Dengan demikian ’CM’ tersebut telah teruji saat melakukan klarifikasi atas dokumen tendernya terutama construction methodnya, namun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa pada waktu menjelang pelaksanaan atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan, CM perlu atau harus dirubah.

Metode pelaksanaan yang ditampilkan dan diterapkan merupakan cerminan dari profesionalitas dari tim pelaksana proyek, yaitu manajer proyek dan perusahaan yang bersangkutan. Karena itu dalampenilaian untuk menentukan pemenang tender, penyajian metode pelaksanaan mempunyai bobot penilaian yang tinggi. Yang diperhatikan bukan rendahnya nilai penawaran harga, meskipun kita akui bahwa rendahnya nilai penawaran merupakan jalan untuk memperoleh peluang ditunjuk menjadi pemenang tender/ pelelangan.

Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan terdiri dari:  Project plan

 Denah fasilitas proyek(jalan kerja, bangunan fasilitas dan lain-lain)  Lokasi pekerjaan

 Jarak angkut

 Komposisi alat (singkat/produktivitas alatnya)

 Kata-kata singkat (bukan kalimat panjang), dan jelas mengenai urutan pelaksanaan

 Sket atau gambar bantu penjelasan pelaksanaan pekerjaan.  Uraian pelaksanaan pekerjaan.

 Urutan pelaksanaan seluruh pekerjaan dalam rangka penyelesaian proyek (urutan secara global)

 Urutan pelaksanaan per pekerjaan atau per kelompok pekerjaan yang perlu penjelasan lebih detail. Biasanya yang ditampilkan adalah pekerjaan penting atau pekerjaan yang jarang ada, atau pekerjaan yang mempunyai nilai besar, pekerjaan dominan (volume kerja besar). Pekerjaan ringan atau umum dilaksanakan biasanya cukup diberi uraian singkat mengenai cara pelaksanaannya saja tanpa perhitungan kebutuhan alat dan tanpa gambar/sket penjelasan cara pelaksanaan pekerjaan

(8)

 Perhitungan kebutuhan peralatan konstruksi dan jadwal kebutuhan peralatan konstruksi dan jadwal kebutuhan peralatan

 Perhitungan kebutuhan tenaga kerja dan jadwal kebutuhan tenaga kerja (tukang dan pekerja)

 Perhitungan kebutuhan material dan jadwal kebutuhan material

 Dokumen lainnya sebagai penjelasan dan pendukung perhitungan dan kelengkapan yang diperlukan

1.3.2 Metode Pelaksanaan Pekerjaan Yang Baik

 Memenuhi syarat teknis

 Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan lengkap dan jelas memenuhi informasi yang dibutuhkan

 Bisa dilaksanakan dan efektif  Aman untuk dilaksanakan

- Terhadap bangunan yang akan dibangun

- Terhadap para pekerja yang melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan

- Terhadap bangunan lainnya - Terhadap lingkungan sekitarnya

 Memenuhi standar tertentu yang ditetapkan atau disetujui tenaga teknik yang berkompeten pada proyek tersebut, misalnya memenuhi tonase tertentu, memenuhi mutu tegangan ijin tertentu dan telah memenuhi hasil testing tertentu.

 Memenuhi syarat ekonomis  Biaya murah

 wajar dan efisien

 Memenuhi pertimbangan non teknis lainya

 Dimungkinkan untuk diterapkan pada lokasi proyek dan disetujui oleh lingkungan setempat

 Rekomendasi dan policy dari pemilik proyek

 Disetujui oleh sponsor proyek atau direksi perusahaan apabila hal itu merupakan alternatif pelaksanaan pelaksanan yang istimewa dan riskan

 Merupakan alternatif terbaik dari beberapa alternatif yang telah diperhitungkan dan dipertimbangkan. Masalah metode pelaksanaan pekerjaan banyak sekali variasinya, sebab tidak ada keputusan ’engineering’ yang sama persis dari dua ahli teknik. Jadi pilihan yang

(9)

terbaik yang merupakan tanggungjawab manajemen dengan tetap mempertimbangkan engineering economies.

 Manfaat positif construction method

 Memberikan arahan dan pedoman yang jelas atas urutan dan fasilitas penyelesaian pekerjaan.

 Merupakan acuan/ dasar pola pelaksanaan pekerjaan danmenjadi satu kesatuan dokumen prosedur pelaksanaan di proyek.

(10)

BAB II

PENGUKURAN DAN PEMATOKAN

2.1 UMUM

Pekerjaan konstruksi hakekatnya adalah pekerjaan untuk mewujudkan suatu bangun bangunan seperti gedung, jalan, jembatan, bendung, saluran irigasi dan lain-lain pada suatu lokasi berdasarkan gambar yang telah ditentukan.

Bila kita datang ke lokasi dimana bangunan tersebut akan dibangun, lokasi tersebut dapat berupa tanah kosong (dalam arti belum ada bangunan), tetapi bisa juga di lokasi itu tersebut sudah ada bangunan lainnya baik dikiri maupun di kanannya.

Lokasi dimana bangunan itu harus dibangun kadang-kadang letaknya terpencil di puncak gunung atau ditengah-tengah hutan. Contoh bangunan gedung, irigasi, jalan penghubung ke daerah terpencil, jalan rintisan dan lain-lain.

Pekerjaan pengukuran dan pematokan mempunyai peran yang penting. Kesalahan pada pekerjaan pengukuran dan pematokan dapat berakibat fatal apalagi dalam pekerjaan jembatan. Salah mengukur atau menetapkan patok dapat mengakibatkan pekerjaan tidak berfungsi. Dalam hal ini seperti ini kontraktor akan rugi besar, karena harus membongkar dan memperbaikinya.

Pekerjaan pengukuran dan pematokan pada pekerjaan konstruksi hakekatnya pekerjaan memindahkan titik-titik pada gambar ke lapangan. Di samping itu di lapangan tidak mudah untuk membuat satu titik, membuat sudut, siku-siku atau membuat garis sejajar seperti di atas kertas.

Tujuan pengukuran dan pematokan pada pekerjaan konstruksi adalah untuk mengetahui atau menetapkan posisi satu titik-titik lain terhadap titik tetap.

Titik-titik tetap dan titik lainnya yang telah ditetapkan ditandai dengan patok-patok. Dengan telah adanya titik-titik tersebut maka dapat diperoleh bentuk profil/ relief dari permukaan tanah dimana akan didirikan bangunan.

2.2 PEMATOKAN UITSET/ SETTING OUT

Pekerjaan pematokan atau uitzet / setting out adalah pekerjaan menetapkan/menentukan lokasi bangunan di lapangan. Patok-patok ini sangat penting untuk pelaksanaan pekerjaan sebenarnya, oleh karenanya penempatan

(11)

patok-patok tersebut harus dilaksanakan dengan ketelitian dan ketepatan yang tinggi.

2.2.1 Uitzet As (Centre Line)

As bangunan dan tata ruang diukur dan ditandai (uitzet) dengan patok-patok dan yang perlu diperhatikan oleh pelaksana lapangan adalah sebagai berikut:

1. As pada umumnya ditunjukkan dengan paku 25 mm yang ditancapkan pada patok kayu dan disisakan 5 mm untuk supaya tidak menjadi bengkok akibat benturan atau gangguan lainnya.

2. As untuk suatu konstruksi yang waktu pelaksanaannya cukup lama, harus ditandai dengan patok kayu yang dilindungi dengan beton. Harus diperhatikan agar patok tersebut tidak berpindah/berubah sewaktu pengecoran beton.

Beton di cor sekeliling patok, Batang baja

Gb. 2.1 Patok Tetap

3. As untuk konstruksi berskala besar misalnya bendung dan jembatan, harus diukur (uitset) permanen dengan tanda as dibuat dari pelat kuningan berukuan 100x100x5 mm yang dipasang pada bagian atas balok beton.

4. Patok harus dikelilingi dengan pagar pengaman untuk melindungi dari kerusakan yang tidak disengaja oleh gangguan truk, mesin pemindah tanah manusia dan hewan.

(12)

Gb. 2.2 Pagar Pengaman Patok

5. Patok atau tugu beton yang menandai titik referensi harus sering diperiksa, karena bisa rusak di tempat pekerjaan yang sempit/sesak. Mengganti satu patok adalah mudah, tetapi jika tidak segera dilaksanakan dan menunggu sampai beberapa patok rusak atau hilang, akan menghadapi saat krisis karena sebagian besar titik kontrol telah hilang dan pekerjaan terpaksa harus dihentikan untuk memasang kembali patok tersebut.

2.2.2 Uitzet sumbu (koordinat)

Semua ukuran pekerjaan harus dihubungkan terhadap dua sumbu yaitu sumbu x dan y. Apabila gambar tidak menunjukkan sumbu-sumbu tersebut, maka harus dipilih dengan cara yang logis.

As pada pekerjaan jalan, saluran dan bangunan pada umumnya digunakan sebagai sumbu utama dengan sumbu pembantu lainnya apabila diperlukan biasanya tegak lurus terhadap sumbu utama dan dapat juga bersudut runcing.

Titik potong dan arah sumbu menjadi dasar untuk pekerjaan dan uitset. Patok-patok dipasang di tempat yang menunjukkan kedua ujung sumbu. Tanda-tanda ini harus dipasang kuat dan selalu dapat dilihat selama masa pelaksanaan. Patok-patok atau jalan dipasang ditempat yang menunjukkan kedua ujung sumbu. Patok-patok penunjuk ini harus ditempatkan diluar batas pekerjaan, sehingga tidak terganggu dan menghindarkan perlunya penempatan ulang.

2.2.3 Uitset Garis Kisi-kisi (Grid Lines)

Untuk konstruksi atau bangunan yang besar, harus dibuat uitset garis kisi-Warna :

Biru untuk patok Merah dan Putih untuk pagar Pengaman

(13)

Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan uitset kisi-kisi :

1. Pada proyek-proyek besar patok-patok referensi yang terdapat dalam gambar pada umumnya mempunyai koordinat yang telah dikaitkan pada sistem jaringan triangulasi.

2. Apabila tidak ditunjukkan patok-patok yang menandai as pada gambar kontrak, pelaksana lapangan harus membuat kisi-kisi yang diperlukan. 3. Pada proyek-proyek yang kecil, garis tengah suatu jalan, ujung pagar

halaman atau bangunan-bangunan atau garis-garis yang berhubungan dengan benda tetap diatas tanah dapat digunakan sebagai as.

4. Untuk proyek besar, sedikitnya harus dibuat 3 buah patok referensi, bila dibutuhkan untuk memenuhi kondisi sebagai as.

5. Patok-patok uitset kisi-kisi harus tahan lama, karena akan selalu dibutuhkan selama masa kontrak pekerjaan.

6. Patok-patok sementara dapat berupa paku pada patok kayu

7. Patok-patok yang sifatnya lebih permanen harus dari paku baja atau pelat dengan tanda yang ditanam dalam beton.

8. Dasar beton harus kokoh dan sebaiknya dasarnya digali dalam tanah dan di cor sampai pada elevasi patok atau permukaan paku.

9. Dibuat pagar pengaman mengelilingi patok untuk mencegah kerusakan 10. Dari patok-patok uitset kisi-kisi tertentu, sudut-sudut dan jarak-jarak

dapat diambil terhadap benda-benda yang ada dan diperiksa untuk memastikan kebenaran tempatnya sehubungan dengan tempat pekerjaan.

(14)

2.2.4 Uitset Untuk Timbunan dan Galian

Dalam pelaksanaan uitset timbunan dan galian ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

1. Memberi tanda patok pada as untuk tiap interval 20 m.

2. Disebelah luar dari patok tersebut dan tegak lurus pada as, dipancangkan patok lain.

3. Apabila sulit menempatkan patok karena keadaan tanah, patok tersebut ditempatkan lebih dekat pada as sedemikian rupa, lalu dipasang paku pada titik perpotongan talud dan patok tersebut.

Paku yang ditancapkan

Kemirin gan ak

hir dar i timbun

an

Gb. 2.4 Tanda Kemiringan Akhir Timbunan dengan paku

4. Menggunakan kayu untuk menetapkan profil permukaan untuk timbunan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Profil kayu didirikan setelah bahan timbunan cukup untuk bisa memancang bagian atas patok kayu.

Kayu profil

Paku dipakukan disisi ketinggian akhir dari timbunan

Gb. 2.5 Tanda Kemiringan akhir timbunan dengan kayu

5. Setelah semua patok sisi dipancang, maka patok as dapat dibongkar 6. Patok-patok batas lebar kemudian diikat pada patok petunjuk yang

dipasang di luar batas, sehingga tidak terganggu dan untuk menghindarkan keharusan penempatan ulang.

(15)

7. Dalam hal timbunan yang besar dan pembangunannya akan memakan waktu beberapa tahun, dibuat patok-patok beton dengan jarak tertentu diluar patok-patok batas lebar, sehingga patok-patok dapat dipasang ulang secara teliti pada waktu diperlukan untuk membentuk talud.

8. Cara semacam itu dapat digunakan sama untuk pekerjaan galian, hanya bedanya bahwa patok batas lebar harus dibuat di luar tempat munculnya talud dari tanah.

12 m Patok

+ 13.000 + 1.000

Gb. 2.6 Patok Batas Timbunan

12 m Patok Talud ½ + 11.000 + 3.000

Gb. 2.7 Patok Batas Galian

2.2.5 Uitset Untuk Pemasangan Batu dan Bangunan

Cara yang baik sebelum memulai pekerjaan uitset adalah membuat skets uitset terlebih dahulu untuk tiap-tiap konstruksi yang akan dilaksanakan. 1. Detail-detail yang harus dicantumkan pada skets tersebut adalah sebagai

berikut : a. As

b. Uitset sumbu (koordinat) atau garis kisi-kisi c. Titik referensi

d. Elevasi referensi sementara

e. Ukuran konstruksi keseluruhan termasuk gailan

f. Bentuk dan ukuran berbagai komponen / bagian konstruksi g. Urutan-urutan melakukan uitset

2. Hal-hal yang penting untuk diingat pada waktu menyiapkan skets : a. Skets harus jelas dan sebanding dengan skala

(16)

c. Skets dibuat sebesar mungkin memenuhi lembaran kertas.

d. Jika konstruksi luas, skets dapat melebihi satu lembaran kertas, maka sebanyak mungkin titik-titik dipindahkan kedalam lembaran kertas berikutnya untuk meneruskan ukurannya.

e. Bagian-bagian yang rumit harus dibuat skets tersendiri dengan skala lebih besar.

3. Persiapan Sebelum Uitset

Dimisalkan bahwa as telah lengkap dan elevasi referensi sementara telah dibuat sebelum pemasangan patok-patok dari tiap-tiap bagian bangunan dan garis-garis konstruksinya di pasang pada lokasi pekerjaan.

Maka hal yang penting yang harus diperhatikan untuk uitset suatu konstruksi adalah :

a. Pada semua titik penting atau referensi, mula-mula sebuah patok harus dipancang dan ditancapkan sebuah paku pada patok tesebut sebagai tanda letak titik yang tepat.

b. Tergantung dari besarnya dan sifatnya, konstruksi, posisinya harus tepat dari garis kisi-kisi dan patok-patok. Hubungan dengan as dan lain-lain dapat diperoleh dengan menggunakan :

1) Waterpass 3) Mistar segitiga

2) Teodolit (untuk uitset yang cermat) 4) Pita ukur baja 4. Titik Uitset Tetap

Biasanya garis-garis uitset dan patok sering terganggu pada waktu mengerjakan galian dan konstruksi. Maka perlu ada titik yang tetap dibuat agak jauh dari titik aslinya, sehingga tidak terganggu oleh mesin-mesin atau para pekerja dan lain-lainnya. Selama pekerjaan berlangsung, uitset dapat diulang berkali-kali dan hal ini dilakukan dengan mengukur dari titik-titik tetap.

Titik tetap pada papan acuan konstruksi/bouwplank lazimnya dipasang dengan cara seperti berikut :

a. Bouwplank dibuat dari papan kayu mendatar ukuran 10cm x 2cm (panjang sesuai keperluan). Ditopang dengan tiang-tiang tegak (ukuran 5 x 5 cm).

b. Bouwplank dipasang 2 sampai 3 m diluar batas konstruksi jika penggalian dilakukan dengan mesin dan 1,0 sampai 1,5 m dari lokasi

(17)

diluar batas konstruksi jika penggalian oleh tenaga kerja. Hal ini dimaksudkan agar bouwplank tidak rusak/terganggu.

c. Uitset yang penting diberi tanda pada papan horizontal dengan paku atau irisan gergaji

d. Bagian atas dari papan menunjukkan elevasi, elevasi terkontrol ini ditulis pada papan horizontal tersebut.

e. Tanda dengan warna sering digunakan untuk menunjukkan jenis dan ukuran konstruksi pada bouwplank.

Gb. 2.8 Papan Acuan Bangunan (bouwplank)

5. Uitset Galian untuk Bangunan

Apabila patok uitset telah dipasang dan diperiksa, maka ditarik benang melalui patok-patok untuk menunjukkan garis konstruksi yang penting. Garis-garis as ditandai dengan menaburkan bubuk kapur atau pasir kering pada tali benang, sehingga terbentuk garis-garis lurus pada tanah. Benang dilepas dan penggalian dapat dilaksanakan. Benang dapat dipasang kembali untuk memeriksa penggalian selama pekerjaan berlangsung.

Garis sumbu dapat dialihkan lebih rendah dengan bantuan unting-unting atau water pass.

Untuk garis konstruksi yang tetap dapat dipasang paku baja sebagai titik tetap dan ditarik tali benang.

Kedalaman galian harus di uitset dengan cermat dari elevasi referensi sementara terdekat.

(18)

Gb. 2.9 Benang Sebagai Garis Konstruksi pada Profil

Gb. 2.10 Benang Sebagai Garis Konstruksi pada Papan Acuan (bouwplank)

Dua macam teknik yang umum digunakan untuk uitset kedalaman penggalian adalah :

a. Papan Bidik

Papan bidik digunakan untuk memeriksa pekerjan penggalian, sama seperti pada pekerjaan timbunan.

b. Patok-patok Elevasi

Patok elevasi pada umumnya dipasang dengan menggunakan alat sipat datar dan diikat pada elevasi referensi sementara yang ditetapkan/disetujui. Patok-patok elevasi dipancang ke tanah atau dipasang pada konstruksinya sendiri untuk menunjukkan elevasi tahapan konstruksi.

Ketinggian yang tepat ditunjukkan pada bagian as patok atau pada paku diatas patok tersebut.

(19)

Metode yang digunakan untuk mengalihkan elevasi dari patok uitset tergantung dari pada jenis konstruksi dan harus selalu diperiksa kembali dengan alat sipat datar secara cermat.

Untuk konstruksi kecil, pekerja yang berpengalaman akan dapat memindahkan elevasi dengan slang plastik dari patok.

6. Ketepatan Uitset

Harus diperhatikan benar-benar pada ketepatan uitset atau pembuatan alat-alat bantu tersebut diatas. Suatu kesalahan dalam hal ini akan terlihat pada hasil pekerjaan.

2.2.6 Uitset untuk Konstruksi Beton

Konstruksi beton memerlukan pengawasan yang lebih ketat daripada pekerjaan lain. Pada konstruksi beton diizinkan toleransi minimal atau sama sekali tidak ada toleransi. Dan sangat penting agar ukuran dan elevasi benar-benar tepat. Perbaikan kesalahan pada konstruksi beton mengakibatkan pembengkakan biaya yang tidak sedikit dan akan membuang waktu.

2.3 PENGKLAPINGAN

Pengkaplingan tanah adalah membagi luas tanah yang akan dipakai untuk pemukiman, menjadi beberapa petak tanah atau pekarangan. Tentu saja dalam membagi petak-petak tanah ini perlu diperhatikan adanya sarana umum seperti jalan, saluran air, taman dan sebagainya.

2.3.1 Pengukuran Situasi

Sebelum membuat rencana pengkaplingan, daerah yang akan dijadikan tempat pemukiman harus diukur terlebih dahulu untuk mengetahui batas-batasnya, luasnya, topografinya maupun detail lainnya yang diperlukan untuk kemudian digambarkan petanya.

1. Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan ada beberapa macam, tergantung luas daerah dan keperluannya. Jika daerahnya kecil cukup menggunakan alat ukur sederhana. Tetapi jika daerahnya cukup luas, harus menggunakan alat ukur optis. Hal ini untuk memudahkan pekerjaan dan hasil yang lebih teliti.

(20)

Adapun alat ukur yang biasa dipergunakan adalah : a. Pesawat theodolit dengan kelengkapannya

b. Pesawat waterpass atau pesawat penyipat datar (PPD) dengan kelengkapannya

c. Pita ukur panjang 30 m, 50 m atau 100 m. d. Rol meter panjang 3 m atau 5 m.

2. Cara Pengukuran

Jika daerahnya cukup luas pengukuran yang perlu dikerjakan adalah : a. Kerangka peta yang diukur dengan cara poligon

b. Batas-batas tanah atau daerah c. Detail situasi

3. Langkah kerja pengukuran

a. Buat sket lapangan yang Jelas

b. Tentukan titik ikat pengukuran Po yang diketahui koordinat dan ketinggiannya (jika tidak ada dapat ditentukan sendiri)

c. Pasang patok kerangka P1 dan gambar dalam skets lapangan

d. Pasang pesawat pada titik Po kemudian pasang kompas theodolit pada pesawat

e. Arahkan teropong ke utara magnit, kemudian kunci gerak mendatarnya

f. Stel bacaan sudut mendatarnya pada posisi 0 0’ 0’’, kemudian kunci piringan bacaan sudut mendatarnya.

g. Buka pengunci gerak mendatar teropong dan arahkan teropong ke titik P1 kemudian baca dan catat sudut datarnya sebagai azimut awal di Po lalu ukur jaraknya Po ke P1

h. Pasang patok kerangka P2 dan gambar dalam sket lapangan

i. Pasang pesawat pada titik P1, lalu arahkan teropong pada titik Po kemudian baca dan catat sudut datarnya sebagai bacaan ke belakang.

j. Putar teropong searah jarum jam ke titik P2 kemudian baca dan catat sudut datarnya sebagai bacaan ke muka lalu ukur jaraknya P1 ke P2. k. Pasang titik-titik detail a, b, c yang diperlukan dan gambar dalam sket

lapangan kemudian dengan cara yang sama baca dan catat sudut datarnya lalu ukur jaraknya.

l. Ukur sudut datar dan jaraknya pada titik-titik kerangka poligon dan detail lainnya dengan cara yang sama seperti tersebut diatas.

(21)

Apabila daerahnya tidak rata, perlu diukur ketinggian titik-titiknya untuk menggambarkan keadaan topografinya.

Gb. 2.11 Sket untuk Pengukuran

2.3.2 Perhitungan Data Hasil Pengukuran

Hasil pengukuran sudut datar dan jarak titik-titik kerangka maupun detail adalah sebagai berikut :

Tabel 1 : Hasil Pengukuran Sudut Datar dan Titik-titik kerangka No. TTK Sudut β Jarak D P0 69,354 P1 3310 46’ 52,8“ 68,154 a 1990 55’ 1,77“ 29,964 b 2940 55’ 49” 13,892 c 3410 12’ 45,3” 40,025 P2 1040 28’ 56,6” 86,833 a 3090 57’ 5,15” 19,925 b 540 25’ 52,58” 9,434 c 980 0’ 18,42” 36,168 P3 1070 15’ 12,2” 61,814 a 1330 15’ 16,9” 29,411 b 2160 0’ 57,48” 17,000 P4 860 2’ 45,3” 64,281 a 1230 57’ 15,7” 23,345 b 2040 22’ 48,5” 18,028 c 3310 30’ 39,8” 24,352 P5 a 2020 43’ 0,05” 17,000 Azimut awal αP0 = 50 47’ 34,07”

(22)

2.3.3 Penggambaran Peta

Setelah koordinat titik-titik yang diukur didapat kemudian digambarkan peta situasinya dengan langkah kerja penggambaran seperti berikut :

1. Siapkan kertas millimeter

2. Gambarkan sumbu x dan sumbu y dengan skala pada kertas illimeter dengan terlebih dahulu menghitung selisih jarak x maksimum dengan x minimum dan y maksimum dengan y minimum.

3. Gambarkan koordinat titik-titik kerangka poligon, kemudian hubungkan titik-titiknya.

4. Gambarkan koordinat titik-titik detailnya

5. Hubungkan titik-titik batas lokasi pengukuran dengan mencocokkan sket lapangan

6. Gambarkan rencana pengaplingan pada peta situasi.

Gb. 2.12 Peta Situasi

2.3.4 Stake Out / Pematokan

Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan patok-patok di lapangan dengan letak titik-titik yang ada dalam gambar rencana.

Sebelum pematokan dilaksanakan perlu dihitung terlebih dahulu berapa besar sudut arahnya (β) dan jarak dari titik-titik patok yang sudah ada di lapangan.

(23)

Misalkan akan memasang patok pada titik A (lihat gambar pada peta situasi) Patok titik Po dan P1 diketahui di lapangan

Koordinat titik Po = (100;100) Koordinat titik P1 = (107;169)

Koordinat titik A dapat dibaca / dilihat pada peta rencana pengaplingan ; hasilnya A = (119;153).

1. Perhitungan Sudut Arah Po P1 A (β)

Sudut jurusan Po-P1 = 50 47’ 34,07” Sudut jurusan P1-A dapat dihitung

14 12 167 153 107 119 1 1 ) 1 (             yP y xP x y x A P Tan A A

1 1 tan ) 1 ( yP y xP x Arc A P A a    

857142857 , 0 14 12    Tan Arc " 66 , 4 ' 36 40 ) 1 (PA  0

Karena terletak pada kwadran II, maka : Sudut jurusan P1-A=1800-400 36’ 4,66“

" 3 , 55 ' 23 139 1A 0 P

Sudut arah PoP1 A (β) = sudut jurusan (P1-A)-sudut Jurusan (Po-P1) + 1800.

= (1390 23’ 55,3” - 50 47’ 34,7”) + 1800 maka ditambah 1800

β = 1330 36’ 21,11”+1800 36’ 21,2”

2. Perhitungan Jarak

Jarak P1-A dapat dihitung sebagai berikut : a. Rumus Pitagoras

Jarak P1-A = y2

= 12 2 142

=

144 

196

(24)

b. Dengan mesin hitung / kalkulator :

Jarak P1-A = x y

12 14 =

= 18,439 m

3. Langkah Kerja Pematokan

a. Pasang pesawat theodolit diatas titik P1, kemudian distel b. Putar pesawat searah jarum jam ke titik Po

c. Stel sudut datarnya pada bacaan 00 0’ 0”, kemudian kunci piringan sudut mendatarnya

d. Buka pengunci gerak mendatar teropong, kemudian putar searah jarum jam sampai mendapatkan bacaan sudut mendatar sebesar 3130 36’ 21,2” lalu kunci gerak mendatarnya

e. Ukur jarak dari P1 kearah bidikan teropong sepanjang 18,439 m, kemudian pasang patoknya (patok titik A)

f. Untuk titik-titik yang lain dapat dikerjakan dengan cara yang sama seperti tersebut diatas

313 36’ 0 21,2” U Po 18 ,439 P1 A

Gb. 2.13 Langkah Kerja Pematokan

INV R-P

R-P INV

(25)

BAB III

PEMBUKAAN TANAH

3.1 PEMBUKAAN LAHAN

3.1.1 Pembersihan Semak dan Pohon 1. Pembersihan Semak

Semak dan belukar ditebang (dibabat) oleh manusia atau oleh bulldozer. Penebangan dengan bulldozer lebih menguntungkan jika semak dan belukarnya lebat dan banyak pohon-pohon kecil. Semak yang telah ditebang biasanya dibakar.

Gambar 3.1. Penumpukan semak dengan menggunakan bulldozer

2. Pembersihan Semak Belukar Lebat

Urutan pembersihan semak lebat dengan bulldozer adalah seperti berikut : Bulldozer maju dan membersihkan semak sedikit demi sedikit. Asisten operator berjalan disekitar bulldozer untuk memeriksa apakah ada lubang disamping, kiri dan kanan atau di depan bulldozer lubang dielakkan bulldozer.

(26)

Gambar 3.2. Pembersihan semak lebat dengan bulldozer

3. Penebangan Pohon

a. Penebangan dengan tenaga manusia

Penebangan pohon dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara seperti diperlihatkan pada gambar

(27)

Hal-hal yang dapat terjadi pada waktu menebang pohon, pohon patah sendiri dibeberapa tempat.

Gambar 3.4. Pohon patan pada beberapa tempat

b. Penebangan dengan bulldozer

Untuk penebangan pohin bulldozer karena dilengkapi blade khusus (blade).

4. Pencabutan tunggul dan akar-akarnya

Pencabutan tunggul dan akarnya bisa dilakukan dengan backot, shavel dozer atau rantai dengan cara seperti diperlihatkan pada gambar.

Gambar 3.5. Pencabutan tunggul dan akarnya dengan backhoe

5. Penyingkiran Batu Besar

(28)

3.2 PENYIAPAN DAN PERATAAN TANAH 3.2.1 Persiapan Perataan Tanah

1. Pengertian Kontur

Gambar 3.6 Penyingkiran batu besar dengan bulldozer

Pada dasarnya menarik garis kontur adalah menentukan titik-titik pada peta yang mempunyai ketinggian sama. Ketinggian suatu titik diukur dari permukaan laut.

2. Peta Topography

Dari hasil pengukuran didapatkan peta topography yaitu peta contour yang menggambarkan tinggi rendahnya permukaan tanah. Pada pekerjaan tanah, peta ini dibutuhkan untuk menduga beberapa besar tanah yang harus dipindahkan dan diurus sehingga didapatkan ketinggian permukaan yang diinginkan.

(29)

3. Perhitungan Volume Tanah Gali dan Urug

a. Volume dari titik-titik pengukuran

Gambar 3.8 Volume Penggalian

Volume tinggi rata-rata x luas

Contoh : Tinggi rata-rata = (1.0 + 3.0 + 2.0 + 2.0) : 4 = 4.0 m

Grid Station Tinggi di atas 90.0 m Banyak dipakai Hasil A B C D E F G H I 10 30 40 20 20 30 30 10 20 1 2 1 2 4 2 1 2 1 10 30 40 40 80 60 30 20 20 Jumlah 16 360

Tinggi rata-rata penggalian = 360 : 16 m = 22.5 m

Tabel 3.1 Tinggi rata-rata Penggalian b. Volume dari kontur

(30)

Volume tanah antara ketinggian 110 s/d 130 adalah 2h

Volume = (A1 + 4A2 + A3) 6

Volume tanah antara ketinggian 130 s/d 150 adalah 2h

Volume = (A3+ 4A4+ A5) 6

Volume tanah antara ketinggian 110 s/d 150 adalah 2h

Volume = (A3+ 4A4+ A5) 6

2h

+ (A3+ 4A4+ A5) 6

h

= [(A1+ 4A5+ 2A3) 3

+ 4(A2+ 4A4)]

4. Pematokan Untuk Penggalian

(31)

Gambar 3.11 Pematokan untuk galian

3.2.2 Perataan Tanah dengan Bulldozer

1. Perataan tanah (Permukaan miring)

(32)

2. Perataan Tanah (teras)

Gambar 3.13 Perataan Tanah (Teras)

3. Perataan Tanah Bukit

Gambar 3.14 Perataan Tanah Bukit

4. Perataan Tanah Miring

(33)

3.3 PEKERJAAN GALIAN

Pekerjaan galian tanah pada pekerjaan konstruksi pada umumnya meliputi galian lubang pondasi, parit, saluran, kolam, dan basement gedung bertingkat.

Pelaksanaan pekerjaan bisa dilakukan secara manual ataupun masinal. Alat ini tergantung kepada besar/luasnya proyek.

Berikut adalah pelaksanaan penggalian secara masinal :

3.3.1 Penggalian Parit Dengan Menggunakan Backhoe

(34)

3.3.2 Penggalian Saluran Dengan Camshell

(35)

3.3.3 Penggalian untuk Basement Dengan Back Hoe

(36)

3.4 STABILITAS LERENG 3.4.1 Tanah Longsor

Tanah longsor biasanya terjadi pad lereng-lereng bukit (alam atau buatan) akibat gerusan air terhadap butir tanah.

Gambar berikut menunjukan bermacam-macam bidang galian yang mengakibatkan tanah longsor.

Gambar 3.19 Bidang gelincir pada lereng

Untuk mencegah terjadinya tanah longsor pada lereng perlu dilakukan stabilitas lereng dengan cara :

1. Membuat lereng lebih dasar yaitu mengurangi sudut kemiringan 2. Memperkecil ketinggian lereng

(37)

4. Dengan mengurangi tegangan air pori didalam lereng

5. Dengan memasang tiang atau dengan membuat dinding penahan.

3.4.2 Cara Menstabilkan Lereng

Gambar 3.20 Stabilisan lereng dengan membuat tanah timbunan pada kaki lereng

(38)

BAB IV

PEKERJAAN PONDASI

4.1 UMUM

Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan pondasi bangunan gedung, pertama kali yang harus dipahami adalah tata letak pondasi yang tertuang dalam gambar teknik atau gambar kerja. Terutama posisi dan jarak atau ukuran tata ruang tidak boleh terjadi kekeliruan dalam membacanya, karena kekeliruan membaca tata letak, ukuran dan jarak akan diikuti kekeliruan/ membuat bowplank/ papan acuan profil pembuat pondasi dan beruntun sampai bias terjadi kekeliruan struktur bangunan diatasnya.

Selain tata letak pondasi yang tertuang dalam gambar teknik, perlu di mengerti jenis dan bentuk pondasi yang direncanakan.

Adapun jenis-jenis pondasi menurut Ir. Ign. Benny Puspantoro MSc, dalam bukunya, Konstruksi Bangunan Gedung Bertingkat Rendah, berdasarkan kedalaman letaknya dibagi menjadi dua yaitu :

- Pondasi Dangkal, dan - Pondasi Dalam

4.2 PONDASI DANGKAL

Jenis pondasi ini, pada umumnya adalah pondasi yang dasarnya menopang pada tanah dasar tidak terlalu dalam dari permukaan tanah asli dan masih dapat kerjakan dengan alat sederhana oleh tenaga manusia.

Berdasarkan bentuk pondasi dangkal dibedakan menjadi empat macam yaitu : a. Pondasi menerus b. Pondasi setempat c. Pondasi gabungan d. Pondasi plat Keterangan : a. Pondasi menerus

Pondasi menerus dipasang di bawah seluruh panjang dinding bangunan dengan lebar dasar sama besar. Pondasi ini dipakai kalau kedalaman tanah baik antara 0,80 – 1,20 dari permukaan tanah asli.

Bahan untuk pondasi dapat dipakai pasangan batu kali dengan perekat keras 1 semen : 5 pasir.

(39)

Untuk tanah labil atau tanah lembek, pondasi dapat dibuat dari beton bertulang atau kombinasi beton dengan pasangan batu kali. Diatas pondasi menerus harus dipasang balok sloof sebagai perangkai kaki beton.

Pada pondasi menerus, seluruh beban bangunan diratakan lebih dahulu sepanjang balok sloof, baru kemudian dilimpah ke pondasi di bawahnya secara merata.

b. Pondasi setempat

Bila kedalaman tanah baik lebih dari 1,20 m dari permukaan tanah asli akan sangat mahal bila menggunakan pondasi menerus, karena tanah yang baru digali dengan volumenya sangat banyak dan kebutuhan bahan pasangan menjadi bertambah.

Untuk lebih menghemat biaya pondasi dapat dipakai pondasi setempat. Pondasi setempat dipasang di bawah kolom-kolom utama pendukung bangunan. Seluruh beban bangunan dilimpahkan ke kolom-kolom utama dan diteruskan ke pondasi dibawahnya, jadi meneruskan ke pondasi setempat.

Pondasi setempat mempunyai kedalaman 1,50 m – 4,00 m. Tanah yang digali dalam hanya dibawah kolom-kolom portal pendukung utama bangunan, sedang di bawah balok sloof cukup digali sampai kedalaman 0,60 m – 0,80 m.

1. Pondasi Bentuk dinding (Wall Footing)

Pondasi telapak merupakan pondasi yang umum dan biasanya beban yang diterima relatif kecil. Panjang dinding bawah 2x yang di atas dan alasanya terbuat dari beton slab (concrete slab) atau campuran lainnya :

Gambar 4.1 Pondasi bentuk dinding (Wall Footing)

Kelemahan dari pondasi bentuk dinding (wall footing) ialah kemungkinan pecah pada kedua ujung bagian bawah karena reaksi-reaksi yang terjadi, oleh karena itu bentuk ini jarang dipakai untuk bangunan-bangunan besar.

(40)

Gambar 4.2 Pengaruh reaksi tanah pada alas pondasi

Gambar 4.3 Macam pondasi bentuk dinding (wall footing)

A = Bentuk umur

B = Modifikasi dari bentuk A

C = Bentuk untuk tanah liat (clay) yang sangat lunal

Gambar 4.4 Penulangan pondasi bentuk dinding (wall footing)

(41)

Gambar 4.6 Pondasi bentuk dinding dengan peletakan yang lebar sekali

2. Pondasi setempat (Isolated footing)

Pondasi setempat dipakai apabila kolom dpasang diatasnya, kakinya bisa berbentuk slab atau bertingkat (stepped) atau salah satunya membentuk sudut (slope). Beban yang diterima pondasi jenis ini bisa lebih besar.

Gambar 4.7 Pondasi umum pondasi setempat

3. Pondasi Kombinasi (Conbined footing)

Pondasi kombinasi biasanya dipakai apabila ada 2 atau 3 kolom yang akan dipasang sekaligus. Bentuk dari kaki disesuaikan dengan peletakan beban di atasnya sehingga keseimbangan akan lebih tercapai.

(42)

4. Pondasi Kontilever (Contilever footing)

Pondasi kontilever mempunya kaki eksentris untuk kolom luar dan kaki konsentris untuk kolom dalam dan dihubungkan dengan sebuah sloof atau batang kontilever. Pondasi jenis ini dipakai apabila tidak dimungkinkan untuk membuat pondasi tepat di bawah kolom karena ruangan atau hal-hal lain. (Pembebanan yang eksentris). Beban dari kolom luar diimbangi oleh beban kolom dalam.

Gambar 4.9 Pondasi Kantilever

5. Pondasi Menerus

Beberapa kolom dipasang sebaris pada slab. Pondasi ini sangat baik untuk menahan goncangan gempa, kadang-kadang dipakai balik tambahan diantara colomm untuk menambah kestabilan.

Gambar 4.10 Pondasi Menerus.

6. Pondasi Busur terbalik

Digunakan untuk pondasi jembatan, resevoar tangki-tangki dan lain-lain, terutama untuk tanah-tanah yang lunak dengan kedalaman pondasi yang rendah.

(43)

7. Pondasi Grill (Grillage Foundation)

Pondasi jenis ini dipakai untuk memindahkan beban struktur yang besar dengan daya dukung yang kecil (low bearing capasity)

Gambar 4.12 Pondasi Grill

8. Pondasi Melebar (Ralf Foundation )

Pondasi melebar menggunakan kaki dengan slab yang menerus dan dipakai apabila daya dukung tanah kecil.

Dalam keadaan terpasang kakinya sangat besar sehingga ruangan yang tersedia harus di perhitungkan.

Gambar 4.13 Pondasi Melebar

Pondasi jenis ini gunakan antara lain untuk :

a. Memberikan pembesaran daerah kerja dari pondasi terutama untuk daya dukung tanah yang rendah

(44)

9. Pondasi Tangga (Stepped Foundation)

Pondasi jenis ini dipergunakan apabila tanahnya tidak rata. Bagian yang saling tindih (overlab) antara 2 lapisan kira-kira sama dengan tinggi slab.

Gambar 4.14 Pondasi Tangga

4.3 PONDASI DALAM

Pondasi dalam biasanya mempunyai kedalaman lebih dari 6.00 m dari permukaan tanah asli. Dapat dibuat dua cara yaitu :

1. Pondasi tiang pancang 2. Pondasi sumuran

4.3.1 Pondasi Tiang Pancang

A. Pengertian, Klasifikasi dan Bahan Tiang Pancang 1. Pengertian

Tiang pancang (piles) adalah elemen yang di tancapkan ke dalam tanah secara tegak lurus atau menyudut untuk memindahkan beban ke tanah

2. Klasifikasi

Tiang pancang (piles) bisa diklasifikasikan menjadi dua golongan : a. Tiang yang tidak diperuntukkan menhanan beban (non-load

bearing piles), terdiri dari tiang-tiang baja tipis (steel sheet piles) tiang-tiang beton tipis (concrete sheet piles), tiang kayu lapis (timber sheet piles).

b. Tiang yang diperuntukkan menahan beban baik tiang yang bersifat memikul beban secara langsung (bearing poles) maupun memikulkan beban melalui pengesekan dengan dengan tanah (friction piles).

(45)

Tiang jenis ini bisa dalam bentuk : 1) Tiang besi cor (cast iron piles) 2) Tiang komposit (composite piles) 3) Tiang pasir (sand piles)

4) Tiang kayu (Timber piles) 5) Tiang besi (steel piles)

6) Tiang besi tempa (wrought iron piles) 7) Tiang beton (comment concrete piles) Yang dikelompokkan menjadi :

a) Tiang beton cor di pabrik (pre cast piles) b) Tiang beton cor di tempat (cast in site piles)

Tiang beton cor di tempat (cast in site piles) terdiri dari tiang yang dicor tanpa menggunakan pipa (dinding) penahan (casing piles) seperti : - Simplex piles - Frankie piles - Pedestal piles - Pressure piles - Vibro piles - Under ream piles

Tiang yang dicor dengan menggunakan pipa dinding penahan dikenal dengan istilah-istilah :

- Raymond piles - Monotube piles - Mac arthur piles - Button-button piles

- Cobipbeumatic mandral piles - BSP base driven piles

- Swage piles

3. Bahan Tiang Pancang (piles)

Sesuai dengan jenisnya, bahan tiang pancang terdiri dari : a. Besi Cor (Cast Iron)

b. Beton (Cement Concrete) c. Tanah

(46)

e. Besi kasar (Wrought Iron) f. Campuran

4. Macam-macam ujung Batang Pancang

Pemilihan ujung batang oancang tergantung pada macam tanah dan kondisi bangunan.

Gambar 4.15 Bentuk ujung tiang pancang pada umumnya

(47)

Ujung jenis ini mengakibatkan akan bergeser pada arah tertentu akibat bentuk kaki yang tidak sentris.

B. Bentuk dan Cara mengerjakan 1. Pondasi tiang strauss

(48)

2. Tiang Pondasi Sekrup dari Besi Cor

Gambar 4.18 Bentuk tiang pondasi sekerup

Diameter dalam 20 – 40 cm dan tebal dinding = 20 – 30 mm. panjang pipa + 4 meter. Untuk menanamnya tidak dipergunakan palu karena bahan ini (besi cor) getas (brittle). Menanamkannya ke dalam tanah adalah dengan cara memutar (menyekrupkan).

3. Tiang Pondasi Simplex :

Gambar 4.19 Bentuk tiang pondasi simplex

Pipa baja ditanam ke dalam tanah dengan membuat mata pada ujung pipa, setelah itu campuran beton dituangkan ke dalam pipa. Setelah beton mengeras cetakan diangkat.

(49)

4. Tiang Pondasi Frankie

Gambar 4.20 Bentuk tiang pondasi Frankie

Kekurangan :

a. Pemacangan pipa (tiang) b. Pengecoran beton dalam pipa

c. Pemadatan beton dalam pipa dan pengangkatan pipa d. Tiang pondasi yang sudah mati

Diameter dan Beban

Nominal shaft Diameter Nominal Working load

(mm) (m) (kN) (tons) 330 – 355 355 – 381 406 – 457 457 – 508 508 – 559 584 – 635 13 – 14 14 – 15 16 – 18 18 – 20 20 – 22 23 – 25 350 500 700 900 1100 1400 35 50 70 90 110 140

(50)

5. Tiang Pondasi Terpadat (Pedestal piles)

Tiang pondasi yang didapatkan dari pemadatan beton adalah inti.

Gambar 4.21 Bentuk tiang pondasi terpadat (Pedestal piles)

6. Tiang Pondasi tekan (Pressure Piles)

Pemadatan dilakukan dengan mempergunakan tekanan udara, cetakan (casting) pada akhir proses diangkat kembali.

Gambar 4.22 Bentuk tiang pondasi tekan (Pressure Piles)

(51)

Keterangan :

Pelubangan dilakukan dengan boring, dan mempergunakan tekanan udara pada pemadatan campuran semen dan batuan

7. Tiang Pondasi Goyang (Swage Piles)

Gambar 4.24 Tahap pengerjaan pondasi goyang

8. Tiang Pondasi Pasir (Sand Piles)

Pondasi termasuk kedalam tiang pondasi beton pra-cor, yang menggunakan sistem penulangan sehingga beban yang diterimanya bisa lebih besar. Batu-batuan dan semen dipadatkan dengan mempergunakan penggetar (vibrator)

(52)

9. Tiang Pondasi Getar (Vibro Piles)

Gambar 4.26 Tahap pembuatan tiang pondasi getar

Keterangan :

a. Pemancangan pipa untuk mengecor beton menjadi tiang b. Penuangan beton dalam pipa tiang

c. Pencabutan pipa dengan penggetar

Diameter dan Beban Tiang Pondasi Getar Nominal shaft

Diameter

Nominal maximum working load (mm) (m) (kN) (tons) 330 – 355 355 – 381 406 – 457 457 – 508 508 – 559 584 – 635 13 – 14 14 – 15 16 – 18 18 – 20 20 – 22 23 – 25 350 500 700 900 1100 1400 35 50 70 90 110 140

10. Tiang Pondasi “Underream“

Pondasi jenis ini utamanya dibuat untuk mencegah pergerakan lateral tanah yang dapat menyebabkan bangunan ambruk, biasanya dipakai untuk pondasi-pondasi menara, tiang-tiang transmisi listrik, dan bangunan yang tinggi lainnya, dan juga biasanya dipakai untuk tanah-tanah yang mengandung air yang tinggi (sandy or Clayey soils).

(53)

Gambar 4.27 Bentuk Pondasi “Underream”

11. Tiang Pondasi Mac Arthur

Gambar 4.28 Tahap pembuatan tiang pondasi Mac Arthur

Cetakan dari baja dimasukkan ke tanah dengan inti didalamnya lalu inti tersebut di tarik dan dipasang cangkang bergelombang (corrugated shell), shell tersebut diisi dengan beton, sehingga dihasilkan seperti gambar diatas.

(54)

12. Tiang Pondasi Bentuk Kancing (Button Botton Pile)

Gambar 4.29 Tahap pembuatan tiang pondasi bentuk kancing

Bentuk yang agak membesar pada ujung diperlukan untuk mendapatkan lubang yang agak besar apabila ditanam proses pemasukkan semen dan batuan hampir sama dengan Mac Arthur Pile.

13. Composite

Pondasi Composit menggunakan macam-macam material. Biasanya digunakan kombinasi antara batu dan kayu, karena memiliki keuntungan antara lain :

a. Murah

b. Mudah membuatnya

Gambar 4.30 Bentuk pondasi Composite

14. Tiang Pondasi Beton Tipis (Concrete Sheet Piles)

Penampang segiempat selalu dipakai untuk “bulkhead, dinding pemisah” dinding atas, dinding pemisah, yang terlihat pada gambar adalah penyambungan antara satu tiang pondasi dengan tiang pondasi lainnya

(55)

Gambar 4.31 Sambungan tiang pondasi besar tipis

15. Tiang Pondasi Kayu Tipis (Timber Sheet Piles)

Tiang pondasi jenis ini sangat berguna untuk pekerjaan-pekerjaan sementara (temporary work) seperti untuk menumpu dan lain-lain, metode-metode penyambungan diperlukan apabila tiang agak panjang dan pemakaian metode penyambungan ini ditentukan oleh kondisi dan situasi pekerjaan.

(56)

16. Gaya Friksi Negative

Gambar 4.33 Gaya Friksi

Daya dukung tanah bisa turun karena periode waktu yang lama, arah gaya friksi negatif adalah ke bawah dan gaya ini tidak boleh terjadi karena bisa menyebabkan rusaknya suatu bangunan,

17. Caissons

Biasanya pondasi Caissons dibuat untuk bangunan air dengan beban yang tidak terlalu besar.

Kegunaan pondasi ini adalah :

a. Untuk menahan gaya-gaya yang permanen seperti struktur pada bagian atas angin, gempa dan lain-lain

b. Menahan gaya-gaya luar seperti tekanan air pada waktu mengapung

(57)

C. Konstruksi Sambungan Balok, kolom dengan Pondasi Tiang Pancang

Gambar 4.35 Konstruksi Balok dukung ini diatas pondasi tiang pancang

(58)
(59)

BAB V

PEKERJAAN STRUKTUR, CETAKAN DAN PERANCAH

5.1 STRUKTUR DAN PEMBEBANANNYA 1. Pengertian pekerjaan struktur

Pekerjaan struktur pada bangunan adalah pekerjaan rangka bangunan yang mendapat atau memikul beban berada di atas pekerjaan pondasi dengan bentuk komponen berupa kolom, balok, joint balok dan kolom, lantai plat beton, kerangka atap serta tangga.

Struktur bangunan untuk bangunan bertingkat sederhana (bertingkat rendah) umumnya berupa Struktur Rangka Portal yang terdiri dari kolom dan balok yang merupakan rangkaian yang menjadi satu kesatuan yang kuat.

Gb. 5.1 Struktur Rangka Beton

Kolom portal harus dibuat menerus dari lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai.

(60)

yang didukungnya makin ke atas juga makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapoi lantai, agar pada satu lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama.

Gb. 5.2 Perubahan Dimensi Kolom

Balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari palat-lantai dan meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan Momen, Gaya Vertikal dan Gaya Horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, dibagian pangkal pada pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebal .

Gb. 5.3 Penebalan balok pada pertemuan dengan kolom

Rangka portal harus direncanakan dan diperhitungkan kekuatannya terhadap beban-beban sebagai berikut:

Beban-Mati, dinyatakan dengan lambang : M Beban-Hidup, dinyatakan dengan lambang : H Beban-Angin, dinyatakan dengan lambang : A Beban-Gempa, dinyatakan dengan lambang : G Beban-Khusus, dinyatakan dengan lambang : K

(61)

2. Kombinasi Pembebanan

Pembebanan Tetap : M + H

Pembebanan Sementara : (M + H) + A dipilih pengaruh mana yang lebih besar

atau : (M + H) + G

Pembebanan Khusus : (M + H) + K

atau : (M + H) + A + K

atau : (M + H) + G + K

Untuk merencanakan dan menghitung kekuatan suatu konstruksi bangunan dipakai pembebanan tetap yang terberat. Setelah diperoleh ukuran dari konstruksi portalnya berdasarkan tegangan ijin bahan (σb), langkah-langkah selanjutnya adalah mengadakan hitungan kontrol terhadap beban sementara atau beban khusus, dipilih pengaruh mana yang lebih membahayakan konstruksi. Apabila pada hitungan kontrol ternyata konstruksi tidak aman terhadap beban sementara, maka ukuran konstruksi tersebut harus diperbesar lagi. Jadi suatu konstruksi bangunan harus aman dan mampu mendukung beban tetap, beban sementara dan beban khusus.

3. Pengertian Beban

a. Beban-mati adalah berat dari semua bagian bangunan yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, pekerjaan pelengkap (finishing), serta alat atau mesin yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rangka bangunannya.

b. Beban-hidup adalah berat beban dari penghuni dan atau barang-barang yang dapat berpindah, yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Pada atap, beban-hidup termasuk air hujan yang tergenang.

c. Beban-angin adalah beban yang bekerja pada bangunan atau bagiannya, karena adanya selisih tekanan udara (hembusan angin kencang).

d. Beban-gempa adalah besarnya getaran yang terjadi di dalam struktur rangka bangunan akibat adanya gerakan tanah oleh gempa, dihitung berdasarkan suatu analisa dinamik.

e. Beban-khusus adalah beban kerja yang berasal dari: adanya selisih, suhu, penurunan pondasi, susut bahan, gaya rem dari kran, getaran mesin berat.

(62)

Rangka portal untuk bangunan bertingkat rendah, umumnya dibuat dari bahan konstruksi beton bertulang. Bahan beton merupakan konstruksi yang kuat menahan gaya desak, sedang tulang baja mampu menahan gaya tarik, jadi bahan beton bertulang juga merupakan konstruksi tahan gempa, tahan api, merupakan bahan yang kuat dan awet yang tidak perlu perawatan dan dapat berumur panjang.

5.2 JENIS PEKERJAAN STRUKTUR

Pekerjaan Struktur dibedakan menurut jenis bahan-bahan yang digunakan untuk membuat struktur portal bangunan bertingkat antara lain:

1. Pekerjaan Struktur Baja

Pekerjaan Struktur Baja yaitu dimana komponen-komponennya yang terdiri dari kolom, balok, lantai dan tangga semuanya dari bahan baja dan dibuat secara fabrikasi.

Dimana untuk pekerjaan bangunan bertingkat di Indonesia saat ini belum pernah dilaksanakan mengingat biaya pembangunannya mahal, peralatan berat yang digunakan cukup banyak dan sistem pelaksanaan pekerjaan memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dengan tenaga kerja yang ahli di bidang pekerjaan baja. 2. Pekerjaan Struktur komposit

Pekerjaan Struktur Komposit dimana komponen kolom, balok dan tangga memakai bahan baja sedang lantainya memakai bahan beton bertulang.

Di Indonesia pekerjaan bangunan bertingkat rendah/ sederhana dengan sistem ini belum dapat dilaksanakan mengingat biayanya cukup mahal, peralatan yang dipakai cukup banyak dan sistem pelaksanaan pekerjaan memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi terutama pada sambungan-sambungan (joint).

3. Pekerjaan struktur Beton

Pekerjaan Struktur Beton yaitu dimana komponen-komponennya yang terdiri kolom, balok, lantai, tangga semuanya dibuat dari bahan beton bertulang dan dicetak di tempat serta merupakan satu kesatuan dalam suatu sistem struktur yang seimbang (stabil).

Keuntungan Struktur Beton dalam pembuatan bangunan bertingkat antara lain: a. Bahan relatif murah dibanding baja dan precast

b. Pengerjaannya mudah

c. Bisa dibentuk sesuau dengan desain d. Teknik konstruksi secara konvensional

(63)

5.3 PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN 5.3.1 Pelaksanaan Pekerjaan Beton

1. Bahan-bahan beton a. Semen

Semen merupakan bahan yang terpenting untuk membuat beton. Semen merupakan bahan yang dapat menjadi keras bila diberi air. Dengan demikian maka semen menjadi bahan yang mempersatukan butir-butir pasir dan kerikil menjadi satu kelompok.

Semen yang akan digunakan sebagai bahan pembuat beton bertulang disyaratkan memenuhi ketentuan yang tercantum dalam NI-8.

b. Pasir

Pasil merupakan agregat halus sebagai bahan tambahan untuk pembuatan beton.

Penggunaan pasir untuk beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Pasir harus mempunyai tekanan hancur yang lebih besar daripada tekanan hancur semen yang telah menjadi keras.

2. Tidak mengandung Lumpur lebih dari 5% ditentukan terhadap berat kering.

3. Tidak mengandung bahan-bahan organis.

4. Butiran pasir mempunyai diameter antara 0 mm – 5 mm dan memenuhi analisa saringan (P.B.I. 1971).

c. Kerikil dan Batu Pecah

Kerikil dan batu pecah meruapakan agregat kasar sebagai bahan tambahan untuk pembuat beton.

Penggunaan kerikil dan batu pecah untuk beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori dengan besar butir lebih dari 5 mm.

2. Tidak mengandung lumpur lebih dari 1% ditentukan terhadap berat kering.

3. Tidak mengandung zat yang dapat merusak beton seperti zat-zat yang reaktif alkali.

4. Besar butir beraneka ragam dan memenuhi analisa saringan (PBI 1971).

(64)

d. Air

Air yang digunakan adalah air bersih yang tidak mengandung minyak, kotoran organis, atau/dan bahan-bahan lain yang merusak beton/atau baja.

2. Campuran Beton

a. Perbandingan Campuran Beton

Untuk konstruksi digunakan bermacam-macam campuran beton dengan bermacam-macam perbandingan adukan.

Sifat beton yang dihasilkan harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan; misalnya untuk bangunan tempat air, maka harus dipilih adukan yang memberi jaminan bahwa dinding tidak bocor. Beberapa contoh adukan untuk pekerjaan struktur dengan angka perbandingan antara semen: pasir : kerikil seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.1: Perbandingan campuran beton

No. Perbandingan Air

Semen W Slump (cm) Angka Meleleh Konsistensi dilihat dengan mata Kg. Semen per m3 Tekanan hancur Kg/cm3 Cocok untuk pekerjaan macam I. II. III. 0.65 0.70 0.75 7.0 12.3 15.8 45 49 51 Beton Kental Beton Encer 305 301 292 245 215 180 Konstruksi beton tulang dengan besi renggang IV. V. VI. 0.80 0.85 0.90 17.3 19.2 20.0 57 60 59 Beton Cair 292 308 302 160 155 140 Bertulang dengan besi biasa dan kolom VII. VIII IX. 0.95 1.00 1.10 21.0 22.5 22.0 58 60 59 Beton Amat Cair 306 305 302 125 110 80 Untuk dinding beton yang tipis tidak dapat dipakai untuk konstruksi

b. Kekentalan Adukan Beton

Kekentalan (Konsistensi) adukan beton dipenuhi oleh banyak air. Konsistensi ini penting untuk mengerjakan beton, dan atas dasar ini beton dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam :

1. Beton-kering, mengandung 8 @ 9% air per m3 campuran kering semen-pasir-kerikil.

2. Beton agak encer, mengandung 9 @ 11% air per m3 semen-pasir-kerikil.

3. Beton encer, mengandung 11 @ hingga 14% per m3 campuran kering semen-pasir-kerikil.

(65)

Banyaknya air adukan mempengaruhi kualitas beton.

Tekanan hancur beton tergantung pada angka perbandingan air semen (water-cement factor) WFC.

) ( ) ( kg semen Banyaknya kg air Banyaknya WFC 

WFC = Water Cemen Factor

Tabel di bawah ini memberikan angka-angka tentang jumlah semen minimum dan nilai faktor semen maksimum.

Tabel 5.2: Jumlah semen minimum dan nilai faktor air semen maksimum Jumlah semen Minimum per m3 beton (kg) Nilai faktor air semen maksimum

Beton di dalam ruang bangunan : a. Keadaan keliling non korosif

b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensor uap-uap langsung Beton di luar ruang bangunan :

a. Tidak terlindung dari hujan

b. Terlindung dari hujan dan terik matahari langsung

Beton yang masuk ke dalam tanah : a. Mengalami keadaan basah

b. Mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah

Beton yang kontinu berhubungan dengan air a. Air tawar b. Air laut 275 325 325 275 325 375 275 375 0,60 0,52 0,60 0,60 0,55 0,52 0,57 0,52

c. Mutu pelaksanan dan kekuatan tekan beton karekteristik

1. Beton adalah suatu bahan konstruksi yang mempunyau sifat kekuatan tekan yang khas, yaitu apabila diperiksa dengan sejumlah benda-benda uji, nilainya akan menyebar sekitar suatu nilai rata-rata tertentu. Penyebaran dari nilai-nilai hasil pemeriksan tersebut, jadi ukuran dari mutu pelaksanaanya, adalah deviasi standar.

(66)

Berbagai-bagai mutu pelaksanaan pada berbagai-bagai isi pekerjaan dicantumkan dalam tabel di bawah ini ( PB I – 1971).

Tabel 5.3: Mutu Pelaksanaan Diukur dengan Deviasi Standar

Isi Pekerjaan Divisi Standar s (kg/cm2)

Sebutan Jumlah Beton

(m3) Baik Sekali Baik

Dapat Diterima Kecil Sedang Besar < 1000 1000 – 3000 > 3000 45 < s < 55 35 < s < 45 25 < s < 35 55 < s < 65 45 < s < 55 35 < s < 45 65 < s < 85 55 < s < 75 45 < s < 65

2. Dengan menganggap nilai-nilai dari hasil pemeriksaan benda uji menyebar normal (mengikuti lingkungan dari gause), maka kekuatan tekan beton karakteristik σ1bm dengan 5% kemungkinan adanya kekuatan yang tidak memenuhi syarat-syarat dalam pasal 4.1. ayat 1 (PB I – 1971), ditentukan oleh rumus : σ1bk = σ1bm – 1,64.S

Dimana σ1bk = kekuatan tekan beton karakteristik (kg/cm2) σ1bm = kekuatan tekan beton rata-rata (kg/cm2) S = deviasi standar

3. Kemuatan beton dinyatakan dengan kekuatan tekan karakteristik σ1bk.

Yang dimaksud dengan kekuatan tekan karekateristik ialah kekuatan tekan, dimana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan benda uji, kemungkinan adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5% saja. Kekuatan tekan beton tersebut di atas diperoleh dari pemeriksaan benda uji kubus yang berisi 15 cm pada umur 28 hari.

Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai umur terhadap beton yang berumur 28 hari, dapat diambil menurut tabel 8.

4. Beton untuk konstruksi beton bertulang dibagi dalam mutu dan kelas seperti tercantum dalam tabel di bawah ini.

Gambar

Tabel 1 : Hasil Pengukuran Sudut Datar dan Titik-titik kerangka  No.  TTK  Sudut β  Jarak D   P0  69,354  P1  331 0 46’  52,8“  68,154  a  199 0 55’  1,77“  29,964  b  294 0  55’  49”  13,892  c  341 0 12’  45,3”  40,025  P2  104 0 28’  56,6”  86,833  a  3
Gambar 3.1.  Penumpukan semak dengan menggunakan bulldozer
Gambar 3.3.  Penebangan pohon dengan tenaga manusia
Gambar 3.6  Penyingkiran batu besar dengan bulldozer
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ukuran dalam, lebar dan tempat galian untuk pemasangan pipa dan peralatannya, serta bangunan yang termasuk di dalam pekerjaan ini harus dibuat sesuai gambar rencana.. Patokan

Menggunakan material bekas bangunan lama di lokasi pekerjaan atau dari tempat lain untuk mengurangi penggunaan bahan mentah baru sehingga dapat memperpanjang usia

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau

Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk pondasi plat,pondasi menerus maupun pondasi setempat dan struktur lainnya yang terletak didalam atau diatas tanah, seperti yang

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau

Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau