9 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Teori Keagenan
Teori Keagenan adalah hubungan antara prinsipal (pemilik dan pemegang saham) dan agen (manajemen). Hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara prinsipal dan agen (Jensen & Meckling, 1976). Inti dari hubungan keagenan adalah terdapat pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Prinsipal akan menyediakan fasilitas dan dana untuk menjalankan perusahaan serta mendelegasikan kebijakan pembuatan keputusan kepada agen. Prinsipal memiliki harapan bahwa agen akan menghasilkan retur dari uang yang mereka investasikan. Di lain pihak, agen memiliki kewajiban untuk mengelola perusahaan sesuai dengan keinginan prinsipal. Sebagai wujud dari akuntabilitas manajemen kepada pemilik, setiap periode manajemen memberikan laporan mengenai informasi perusahaan kepada pemiliknya.
Pengertian teori agensi menurut beberapa ahli :
1. Menurut Brigham, Eugene, Houston, & Joel, (2006), pengertian Agency theory adalah para manajer diberi kekuasaan oleh para pemilik perusahaan, yaitu pemegang saham, untuk membuat keputusan, di mana hal ini menciptakan potensi konflik kepentingan yang dikenal sebagai teori keagenan (agency theory). Konflik yang sering timbul antara manajemen dengan pemegang saham biasanya berkaitan dengan pembuatan keputusan aktivitas pencairan dana dan bagaimana untuk menginvestasikan dana yang diperoleh.
10
2. Menurut Anthony, Robert, & Vijay (2001), teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.
Dalam teori agensi, diasumsikan bahwa masing-masing individu cenderung untuk mementingkan diri sendiri. Hal ini menimbulkan adanya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Prinsipal memiliki kepentingan untuk memaksimalkan keuntungan mereka sedangkan agen memiliki kepentingan untukmemaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya. Konflik akan terus meningkat karena prinsipal tidak dapat mengawasi aktivitas agen sehari-hari untuk memastikan bahwa agen telah bekerja sesuai dengan keinginan dari prinsipal (Jensen & Meckling, 1976).
Dalam konteks keagenan, dibutuhkan peran pihak ketiga yang independen sebagai mediator antara principal dan agent. Pihak ketiga ini berfungsi memonitor perilaku manajer sebagai agen dan memastikan agen sudah bertindak sesuai dengan kepentingan principal. Auditor adalah pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan pihak principal dengan pihak manajer sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak manajer kepada pihak principal. Tugas auditor adalah memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan yang diberikan pihak manajer yang keandalannya dapat dilihat dari kualitas audit yang dihasilkan oleh auditor (Panjaitan, 2014).
11 2.2Kualitas Audit
2.2.1 Pengertian Kualitas Audit
Kualitas audit merupakan segala kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran pada sistem akuntansi klien (De Angelo, 1981). Kualitas audit berhubungan dengan seberapa baik sebuah pekerjaan diselesaikan dibanding dengan kriteria yang telah ditetapkan (Mutmainnah & Wardhani, 2013). Untuk auditor, kualitas audit yang dihasilkan dinilai dari seberapa banyak respon yang benar dari setiap pekerjaan yang diselesaikan. Kualitas audit merupakan hal penting yang harus dipertahankan oleh para auditor dalam proses pengauditan.
Akuntan publik atau auditor independen dalam menjalankan tugasnya harus memegang prinsip-prinsip profesi. Menurut Simamora (2002) ada 8 prinsip yang harus dipatuhi akuntan publik yaitu:
a. Tanggung jawab profesi
Setiap anggota harus menggunakan pertimbangan moral dan professional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
b. Kepentingan publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
12 c. Integritas
Setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
d. Objektivitas
Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
e. Kompetensi dan kehati-hatian professional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan hati-hati, kompetensi dan ketekunan serta keterampilan professional.
f. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa professional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan.
g. Perilaku professional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. h. Standar teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan standar teknis dan standar professional yang relevan.
2.2.2 Pengukuran Kualitas Audit
Beberapa penelitian menggunakan pengukuran berbeda dalam mengukur kualitas audit. Bafqi (2013) dan Nindita & Siregar(2013) menggunakan proksi akrual diskresioner untuk mengukur kualitas audit. Lalu, Hussein & Hanefah
13
(2013) menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif untuk mengukur kualitas audit, dan Febriyanti & Mertha (2014) menggunakan variabel dummy dengan uji regresi logistik untuk mengukur kualitas audit.
Sesuai penelitian Bafqi (2013) dan Nindita & Siregar (2013), dalam penelitian ini menggunakan proksi akrual diskresioner untuk mengukur kualitas audit. Kualitas audit diukur dengan menggunakan model Modifien Jones yang juga digunakan dalam penelitian Bafqi (2013).
Francis & Yu (2009) dalam Nindita dan Siregar (2012) menggunakan total akrual diskresioner sebagai ukuran dari kualitas akrual yang dijadikan proksi dari kualitas audit. Akrual diskresioner mengindikasikan perilaku manajemen laba yang juga mengukur kualitas akrual. Rendahnya kualitas akrual menunjukkan bahwa auditor tidak mampu dalam membatasi pengaturan akrual diskresioner oleh manajemen, yang menunjukkan kualitas audit yang rendah.
Pengukuran kualitas audit adalah sebagai berikut : a. Total Accruals
Untuk menghitung total akrual perusahaan digunakan persamaan sebagai berikut
TACit = NIit - COFit………(3.1)
Keterangan:
TACit : Total akrual perusahaan i pada tahun ke t.
NIit : Laba bersih setelah pajak perusahaan i pada tahun ke t.
14
Nilai Total Accruals (TA) yang diestimasi dari parameter spesifik perusahaan α1, α2, α3 diperoleh melalui model analisis regresi OSL (Ordinary Least Square). Banyaknya perusahaan yang akan dihitung dengan model regresi OLS adalah sesuai dengan jumlah sampel perusahaan yang digunakan. Nilai estimasi adalah model analisis regresi OSL (Ordinary Least Square) berikut ini:
TACit/Ait-1= β1 (1/Ait-1)+ β2 (ΔREVt/ Ait-1)+β3 (PPEt/Ait-1) + e ...(3.2)
Keterangan :
TACit : Total acrual perusahaan i pada periode t.
Ait-1 : Total aktiva sampel perusahaan i pada akhir tahun t-1.
ΔREVit: Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t.
PPEit : Aktiva tetap (property, plan and equipment) perusahaan tahun t.
e : Sampel error perusahaan pada tahun t.
Variabel aktiva tetap dan perubahan pendapatan digunakan untuk mengontrol perusahaan NDA terjadi karena perubahan kondisi ekonomi. TA memasukkan workingcapital yang ditunjukkan pada tingkat perubahan revenue. Variabel aktiva tetap (PPE) menunjukkan pada biaya depresiasi non-discretionary. Model ini memasukkan besarnya PPE, bukan perubahan rekening tersebut, karena total biaya depresiasi termasuk dalam TA. Semua variabel dideflasi dengan total aktiva tahun sebelumnya.
b. Non-discretionary Accrual
Model Modified Jones mengasumsikan bahwa komponen non-discretionary accruals (NDA) adalah konstan. Model tersebut mengontrol efek perubahan
15
perputaran ekonomi perusahaan terhadap non-discretionary accruals. Untuk menghitung non-discrectionary accrualdigunakan persamaan berikut:
NDAit=β1(1/ Ait-1)+ β2(ΔREVit/Ait-1-ΔRECt/Ait-1) + β3 (PPEit/Ait-1) ...(3.3)
NDAit : Nilai Non-Discretionary Accruals pada perusahaan i periode t
Ait-1 : Total aktiva perusahaan i pada tahun t-1.
β1 β2 β3: Estimated intercept perusahaan i periode t.
ΔREVit: Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t.
ΔRECt : Perubahan piutang perusahaan i pada periode t.
PPEit : Aktiva Tetap (Gross, Property Plant and Equipment) perusahaan i pada
tahun t.
c. DiscreationaryAccrual
Tahap terakhir menghitung discrectionary accrual adalah sebagai berikut: DACit = TAit/Ait-1- NDAit………..…………...(3.4)
DACit : Discretionary Accruals i pada tahun ke t.
Tait : Total accrual pada tahun ke t.
Ait-1 : Total Aktiva Perusahaan i pada periode ke t-1.
NDAit : Non-Discretionary Acrrual.
2.3 Ukuran KAP
Arens,etal (2003) dalam Nabila (2011) menyebutkan bahwa ukuran KAP merupakan ukuran yang digunakan untuk menentukan besar kecilnya suatu Kantor Akuntan Publik. Ukuran Kantor Akuntan Publik dapat dikatakan besar jika KAP tersebut berafiliasi dengan Big 4, mempunyai cabang dan liennya perusahaan-perusahaan besar serta mempunyai tenaga profesional diatas 25 orang.
16
Sedangkan ukuran Kantor Akuntan Publik dikatakan kecil jika tidak berafiliasi dengan Big 4, tidak mempunyai cabang dan kliennya perusahaan kecil serta jumlah profesionalnya kurang dari 25 orang.
Menurut Wibowo & Rossieta (2006) KAP besar mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam melakukan audit dibandingkan KAP kecil, sehingga mampu menghasilkan kualitas audit yang lebih tinggi. Perusahaan akan lebih memilih KAP dengan kualitas yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan dan reputasi perusahaan di mata pengguna laporan keuangan. KAP yang besar biasanya mempunyai reputasi tinggi dalam lingkungan bisnisnya, sehingga mereka selalu berusaha mempertahankan independensi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perusahaan lebih memilih KAP besar yang dianggap lebih berkualitas dibandingkan KAP kecil. Oleh karena itu, perusahaan yang telah menggunakan jasa KAP besar akan menghasilkan audit yang lebih baik.
2.4 Audit Tenure
Kualitas audit juga dapat dilihat dari lamanya audit tenure antara auditor dengan klien, tenure yang panjang dapat dianggap auditor sebagai pendapatan, namun tenure yang panjang dapat menimbulkan adanya hubungan emosional antara auditor dengan klien,sehingga dapat menurunkan independensi auditor. Oleh karena itu, diberlakukan adanya rotasi yang bersifat mandatory supaya mengurangi hubungan spesial yang terjalin antara klien dengan auditor (Kurniasih & Rohman, 2014).
17
Audit tenure adalah masa jabatan dari Kantor Akuntan Publik (KAP) dalam memberikan jasa audit terhadap kliennya. Ketentuan mengenai audit tenure telah dijelaskan dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 359/KMK.06/2003 pasal 2 yaitu masa jabatan untuk KAP paling lama 5 tahun berturut-turut.
2.5 Teori Corporate Governance
2.5.1 Pengertian Good Corporate Governance
Menurut Daniri (2005), pengertian Good Corporate Governance (GCG) adalah suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku. Pedoman umum good corporate governance Indonesia tahun 2006 diatur oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).
Corporate Governancemenurut Sutedi (2011) adalah “Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan (Pemegang Saham/Pemilik Modal, Komisaris/Dewan Pengawas dan Direksi) untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.
18 2.5.2 Prinsip-Prinsip Corporate Governance
Asas-asas dalam pedoman umum good corporate governance Indonesia tahun 2006 menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah bahwa setiap proses serta hasil-hasil pekerjaan yang dilaksanakan dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan. Perusahaan harus menyediakan informasi yang penting dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.
2. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah bahwa setiap pekerjaan dilakukan sesuai fungsi dan kompetensi yang dimiliki secara optimal serta bertanggung jawab atas proses dan hasil pekerjaannya. Perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.
3. Responsibilitas(Responsibility)
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
4. Independent (independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan asas good corporate governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing
19
organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
2.5.3 Mekanisme Corporate Governance
Mekanisme CG merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan control, pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme CG diarahkan untuk menjamin dan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi. Berdasarkan peraturan dan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) diperoleh sebanyak 16 point item yang terdiri dari pemegang saham; dewan komisaris; dewan direksi; komite audit; komite nominasi dan remunerasi; komite manajemen risiko; komite-komite lain yang dimiliki perusahaan; sekretaris perusahaan; pelaksanaan pengawasan dan pengendalian internal; manajemen risiko perusahaan; perkara penting yang dihadapi oleh perusahaan, anggota dewan direksi, dan anggota dewan komisaris; akses informasi dan data perusahaan; etika perusahaan; tanggung jawab sosial; pernyataan penerapan good corporate governance; dan informasi penting lainnya yang berkaitan dengan penerapan good corporate governance. Dan dari peraturan dan pedoman tersebut mekanisme CG dibagi dua, yaitu internal mechanism (mekanisme internal), seperti komposisi
20
dewan direksi/komisaris, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif. Lalu mekanisme yang kedua adalah external mechanism (mekanisme eksternal), seperti pengendalian oleh pasar dan level debt financing. Beberapa point item yang akan diteliti antara lain :
1. Dewan Komisaris independen
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dan bukan berasal dari pihak yang terafiliasi. Yang dimaksud dengan terafiliasi adalah pihak yang memiliki hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham, anggota direksi, dewan komisaris lain dan perusahaan itu sendiri. Keberadaan dewan komisaris independen di Indonesia telah diatur dengan berbagai peraturan. Menurut peraturan Pencatatan Nomor IA tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek bersifat Ekuitas di bursa yaitu jumlah komisaris independen minimum 30%. Lebih lanjut dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang jumlahnya proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris. 2. Ukuran Komite Audit
Komite audit sesuai dengan Kep. 29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite audit merupakan komponen baru dalam sistem pengendalian
21
perusahaan. Selain itu komite audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen dalam menangani masalah pengendalian. Anggota komite audit antara lain dapat berasal dari dewan direksi, dewan komisaris, dan pihak eksternal perusahaan. Seperti diatur dalam Kep-29/PM/2004 yang merupakan peraturan yang mewajibkan perusahaan membentuk komite audit, tugas komite audit antara lain :
a) Melakukan penelahaan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan, seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya.
b) Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan.
c) Melakukan penelahaan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor.
d) Melaporkan kepada komisaris berbagai resiko yang dihadapi perusahaan dan pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi.
e) Melakukan penelahaan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten.
f) Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan rahasia perusahaan. 3. Kepemilikan manajerial
Kepemilikan manajerial dapat diartikan sebagai pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (Direktur dan Komisaris). Kepemilikan manajerial juga dapat diartikan sebagai persentase saham yang dimiliki oleh manajer dan direktur
22
perusahaan pada akhir tahun untuk masing-masing periode pengamatan. Variabel ini digunakan untuk mengetahui manfaat kepemilikan dalam mekanisme mengurangi konflik keagenan, sehingga masalah keagenan diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer juga sekaligus sebagai seorang pemilik.
Shelter dan Vishny (1986) dalam Siregar & Utama (2005) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis, jika kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya prilaku oportunistik manajer akan meningkat. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen. Sehingga masalah keagenan diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik.
4. Kepemilikan instistusi
Struktur kepemilikan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya. Struktur kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Agency problem dapat dikurangi dengan adanya struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham. Kepemilikan institusional adalah persentase hak suara yang dimiliki oleh institusi. Melalui proses monitoring secara efektif, kepemilikan institutional mampu untuk mengendalikan pihak manajemen
23
sehingga dapat meningkatkan kualitas audit. Dengan adanya kepemilikan oleh investor intitusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen, oleh karena itu kepemilikan institutional sangat berperan dalam mengawasi perilaku manajer sehingga integritas laporan keuangan terjaga dengan baik karena dengan adanya pengawasan ini manajer akan lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan.
Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen.
2.6 Pengembangan Hipotesis
2.6.1 Pengaruh Ukuran KAP Terhadap Kualitas Audit
Konflik keagenan juga memiliki peran sebagai penggerak kualitas audit. Di dalam teori keagenan disampaikan bahwa fungsi pengauditan adalah salah satu mekanisme untuk mengurangi konflik keagenan antara manajer dengan pemilik perusahaan. Kedua pihak membutuhkan auditor untuk mengurangi ketidaksimetrisan informasi antara pemilik dengan auditor. Semakin besar konflik keagenan, semakin tinggi biaya keagenan, dan semakin tinggi permintaan untuk auditor yang berkualitas.
Auditor berkualitas tercermin dari ukuran KAP. Ukuran KAP dalam penelitian ini merupakan besar kecilnya KAP yang dibedakan dalam dua kelompok, yaitu KAP yang berafiliasi dengan Big 4 dan KAP yang tidak
24
berafiliasi dengan Big 4 (Panjaitan, 2014). KAP besar (Big 4) dianggap cenderung memberikan kualitas audit yang lebih baik dari KAP yang berukuran kecil (Non Big 4). KAP besar mempunyai tanggung jawab untuk mengaudit lebih akurat karena mereka memiliki lebih banyak hubungan spesifik dengan klien yang akan hilang jika mereka memberikan laporan yang tidak akurat. Kekayaan atau aset yang besar dimiliki oleh KAP besar sehingga menurunkan ketergantungan ekonomi terhadap klien juga dipercaya menjadi salah satu faktor yang menjadikan kualitas audit yang dihasilkan lebih baik daripada KAP kecil.
Penelitian (Wibowo & Rossieta, 2006) membuktikan bahwa ukuran KAP berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama penelitian ini adalah :
H1 : Ukuran KAP berpengaruh positif terhadap kualitas audit. 2.6.2 Pengaruh Tenure Audit Terhadap Kualitas Audit
Gavious (2007) mengatakan bahwa masalah keagenan auditor bersumber pada mekanisme kelembagaan antara auditor dan manajemen. Disatu pihak, auditor ditunjuk oleh manajemen untuk melakukan audit bagi kepentingan pemegang saham, namun dilain pihak, jasa audit dibayar dan ditanggung oleh manajemen. Hal ini menciptakan benturan kepentingan yang tidak dapat dihindari oleh auditor. Mekanisme kelembagaan ini menimbulkan ketergantungan auditor kepada kliennya, sehingga auditor merasa kehilangan independensinya dan harus mengakomodasi berbagai keinginan klien, dengan harapan agar perikatan auditnya dimasa depan tidak terputus.
25
De Angelo (1981) melakukan penelitian terkait dengan kualitas audit berdasarkan teori permintaan dan penawaran kualitas jasa audit. Argumen utamanya adalah permintaan (dan penawaran) kualitas jasa audit dapat terpenuhi dengan semakin panjangnya masa penugasan auditor (auditor tenure), karena auditor dapat terus menggunakan teknologi dan pengetahuan audit yang telah diperoleh selama menjalankan audit pada periode sebelumnya dan memberikan jasa secara konsisten. Menurut De Angelo (1981), dengan panjangnya jangka waktu dan kesinambungan penugasan audit, konsumen jasa audit (seperti pemegang saham, pemegang obligasi, manajer, karyawan, agen-agen pemerintah dan pengguna lainnya) mendapatkan manfaat karena mereka dapat menghemat biaya yang berkaitan dengan evaluasi kualitas audit. Walaupun De Angelo (1981) tidak secara eksplisit menyatakan bahwa kualitas audit berkorelasi dengan jangka waktu tertentu sebagai masa optimal penugasan audit, namun dia berargumen bahwa berbagai manfaat akan hilang jika masa penugasan auditor hanya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
Penelitian (Hussein & Hanefah, 2013) membuktikan bahwa audit tenure berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis kedua penelitian ini adalah :
H2 : Audit tenure berpengaruh positif terhadap kualitas audit. 2.2.3 Pengaruh Corporate Governance Terhadap Kualitas Audit
2.2.3.1 Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kualitas Audit Dalam konteks keagenan tersebut, dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai mediator antara prinsipal dan agen. Pihak ketiga ini berfungsi memonitor
26
perilaku manajer sebagai agen dan memastikan bahwa agen bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Salah satu mekanisme internal yang digunakan untuk memonitor pengawasan perusahaan adalah dewan komisaris independen.
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan (KNKG, 2006).
Berdasarkan keputusan Direksi BEJ (sekarang BEI) nomor: KEP-399/BEJ/07-2001, komisaris independen bertanggung jawab untuk mengawasi kebijakan dan tindakan direksi, dan memberikan nasihat kepada direksi jika diperlukan. Ujiyantho & Pramuka (2007) menyatakan bahwa komisaris independen dapat bertindak sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi diantarapara manajer internal dan mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang GCG.
Tingkat efektifitas fungsi pengawasan komisaris independen ini dapat dilihat dari jumlah yang proporsional sebanding dengan jumlah seluruh dewan komisaris dalam perusahaan. Apabila jumlah dewan komisaris besar, sedangkan jumlah komisaris independen sedikit atau kecil, maka pengawasan akan dinilai kurang. Jumlah dewan komisaris independen yang lebih besar daripada jumlah dewan komisaris non independen dapat mengurangi munculnya praktik
27
manajemen laba. Diharapkan bila jumlah dewan komisaris independen besar (yang berarti semakin proporsional perbandingan komisaris independen dengan jumlah dewan komisaris) maka kegiatan monitoring akan semakin baik sehingga dapat meningkatkan kualitas audit. Apabila jumlah dewan komisaris besar, sedangkan jumlah komisarisindependen sedikit atau kecil, maka pengawasan akan dinilai kurang, karena jumlah dewan komisaris internal lebih besar sehingga dapat memungkinkan meningkatkan kualitas audit.
Hasil penelitian Beisland, Mersland, & Øystein (2013), Gajevszky (2014) membuktikan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis ketiga penelitian ini adalah : H3 : Komisaris independen berpengaruh positif terhadap kualitas audit. 2.2.3.3 Pengaruh Ukuran Komite Audit Terhadap Kualitas Audit
Komite audit merupakan komponen baru dalam sistem pengendalian perusahaan. Sesuai dengan Kep. 29/PM/2004, komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Komite audit bertanggung jawab untuk mengawasi proses penyusunan laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal (termasuk audit internal). Berdasarkan surat Edaran BEJ, SE-008/BEJ/12-2001, keanggotaan komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya tiga orang termasuk ketua komite audit. Anggota komite ini berasal dari komisaris hanya sebanyak satu orang, anggota komite yang berasal dari komisaris tersebut merupakan komisaris independen perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua
28
komite audit. Anggota lain yang bukan merupakan komisaris independen harus berasal dari pihak eksternal yang independen.
Keberadaan komite audit pada saat ini telah diterima sebagai suatu bagian dari organisasi perusahaan. Bahkan untuk menilai pelaksanaan GCG di perusahaan, adanya komite audit yang efektif merupakan salah satu aspek dalam kriteria penilaian. Laporan keuangan yang telah diaudit oleh komite audit dapat dipercaya jika komite audit memiliki transparansi dan independensi. Diharapkan dengan pelaksanaan audit ini, dapat mengurangi perilaku para manajer seperti manajemen laba, namun bila komite audit tidak memiliki transparansi dan independensi maka kualitas audit akan menurun.
Hasil penelitian Gajevsky (2014) membuktikan bahwa komite audit berpengaruh terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis keempat penelitian ini adalah :
H4 : Ukuran komite audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit. 2.2.3.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kualitas Audit
Kepemilikan manajerial adalah pemegang saham dari pihak manajemen dalam hal ini adalah komisaris dan direktur yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan. Kepemilikan manajerial diukur sebagai persentase saham yang dimiliki oleh komisaris dan direkturperusahaan pada akhir tahun untuk masing-masing periode pengamatan.
Kepemilikan saham manajerial bertugas untuk menyelaraskan kepentingan manajer dengan pemegang saham, semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial akan semakin baik kinerja perusahaan (Jensen
29
dan Meckling, 1976). Penelitian Jensen and Meckling (1976) menemukan bahwa kepentingan manajer dengan pemegang saham eksternal dapat disatukan jika kepemilikan saham oleh manajer diperbesar sehingga manajer tidak akan memanipulasi laba untuk kepentingannya.
Kepemilikan manajerial dianggap sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap manajemen laba yang dilakukan manajer. Jika manajer mempunyai kepemilikan pada perusahaan maka manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham karena manajer juga mempunyai kepentingan di dalamnya. Besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan adanya kesamaan (congruence) kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham.
Hasil penelitian Gajevsky (2014) membuktikan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah :
H5 : Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kualitas audit. 2.2.3.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kualitas Audit.
Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase hak suara yang dimiliki oleh institusi. Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan oleh institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan investment banking. Institusi yang dimaksud dalam hal ini misalnya lembaga swadaya masyarakat, pemerintah maupun perusahaan swasta.
Kepemilikan institusional bertanggung jawab untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses pengawasan. Persentase saham tertentu yang dimiliki
30
oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat penyusunan laporan keuangan yang sesuai kepentingan pihak manajemen. Kepemilikan institusional yang semakin besar akan mengakibatkan kontrol eksternal yang lebih besar di dalam suatu perusahaan.
Institusi adalah pengambil keputusan profesional yang mengetahui bagaimana mengukur kinerja perusahaan dan cara untuk mengawasi pihak manajemen. Semakin besar kontrol eksternal akan menyebabkan kebijakan yang diambil akan cenderung mengikuti kebijakan dari institusi eksternal. Cornet et al., (2006) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyimpulkan bahwa tindakan pengawasan perusahaan oleh pihak investor institusional dapat mendorong manajer untuk lebih memfokuskan perhatiannya terhadap kinerja perusahaan sehingga akan mengurangi perilaku mementingkan diri sendiri.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Gajevsky (2014) membuktikan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas audit. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis keempat penelitian ini adalah :
H6 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas audit. 2.7 Kerangka Pemikiran
Dari pengembangan hipotesis diatas, maka dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut :
31
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian H1 (+) H2 (+) H3 (+) H4 (+) H5 (+) H6(+) Ukuran KAP Audit tenure Kualitas Audit Komisaris Independen Komite audit Kepemilikan manajerial Kepemilikan institusional