PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH
SPO
No. dokumen No. Revisi Tanggal Terbit Halaman PuskesmasLubuk Basung Ttd .Kepala Puskesmas
PENGERTIAN
Pemeriksaan golongan darah adalah merupakan cara menetapkan golongan darah dengan mengunakan kaca objek dan menetapkan jenis aglutinogen yang ada dalam sel sehingga akan di capai aglutinasi.
TUJUAN Untuk mengetahui golongan darah seseorang
KEBIJAKAN SK Kepala Puskesmas No 001/HC LBS/XI/2015
REFERENSI Penuntun Lab Klinik PT. Dian Rakyat / R. Ganda Soebrata
ALAT DAN BAHAN
A. Alat :
- Kaca objek - Lancet
- Kapas alkohol / tissue B. Reagen :
- Serum anti A, anti B, anti AB, anti O C. Bahan :
- Darah
Gol. Darah B/+
LANGKAH-LANGKAH
1. Petugas mencuci tangan 2. Petugas memakai jas lab /
sarung tangan dan masker
3. Mempersiapkan alat reagen sesuai pemeriksaan
4. Memberikan penjelasan kepada pasien / keluarga
5. Sampling darah kapiler
Cara kerja :
a. Bersihkan dengan kapas alcohol 70% bagian yang akan ditusuk, biarkan kering dengan sendirinya.
b. Bagian jari yang akan ditusuk dipegang agar tidak bergerak dan jangan diremas.
c. Tusuk dengan cepat memakai lancet steril dengan posisi lancet tegak lurus.
d. Tetes darah pertama dilap dengan tissue, tetes berikutnya diperlukan sebagian sampel sesuai keperluan pemeriksaan e. Setelah selesai diambil darahnya, bekas tusukan tutup dengan kapas kering
6. Cara kerja pemeriksaan golongan darah
a. Teteskan darah pada kartu golongan darah sesuai kolomnya yang 4 bagian. b. Teteskan 1 tetes serum anti A. c. Teteskan 1 tetes serum anti B. d. Teteskan 1 tetes serum anti
AB.
e. Teteskan 1 tetes serum anti O. f. Campur dengan ujung lidi
(satu lidi untuk satu macam campuran).
g. Goyangkan kartu golongan darah dengan gerakan melingkar selama 4 menit. h. Lihat hasil aglutinasinya i. Penilaian hasil untuk
menetapkan golongan darah GOL. DARAH A
- Anti A ada aqlutinasi - Anti B tidak ada aqlutinasi - Anti AB ada aqlutinasi - Anti O ada aqlutinasi
GOL. DARAH B
- Anti A tidak aqlutinasi - Anti B ada aqlutinasi
BAGAN ALIR
Intrepetasi hasil pemeriksaan dan menetapkan golongan darah
sesuai nilai baku
Memakai jas lab+sarung tgn+masker Cuci Tangan
Lihat hasil aglutinasi
Memberi penjelasan ttg cara pengambilan sampel
Melakukan pemeriksaan darah dengan menggunakan sistem ABO
Pengambilan sampel darah secukupnya pada bagian ujung jari dan kemudian menutup jari dengan kapas kering
Mempersiapkan alat & reagen
- Anti AB ada aqlutinasi - Anti O ada aqlutinasi GOL. DARAH AB
- Anti A ada aqlutinasi - Anti B a ada aqlutinasi - Anti AB ada aqlutinasi - Anti O ada aqlutinasi GOL. DARAH O
- Anti A tidak ada aqlutinasi - Anti B tidak tidak ada
aqlutinasi
- Anti AB tidak ada aqlutinasi - Anti O tidak ada aglutinasi
7.Memberi tahu pasien tentang hasil pemeriksaan 8.Membuang sampah medis 9.mencatat di buku register laboratorium
10.Mencatat di blanko hasil dan memberikannya kepada pasien
11.Merapikan alat dan bahan 12. Mencuci tangan Unit terkait Poli Umum Poli KIA UGD Rawat Inap Puskesmas Pembantu
Dokumen terkait 1.Blanko permintaan pemeriksaan laboratorium2.Buku register laboratorium
3.Rekam medis
Mencatat hasil pada buku register
Mencuci/ Merapikan alat dan bahan
Membuang sampah medis pd tempatnya Memberi tahu hasil ke Pasien
Cuci Tangan kembali Mencatat hasil pada blanko
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PEMERIKSAAN TEST KEHAMILAN
No. Dokumen No. Revisi
0
Halaman 1/1
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Pemeriksaan test kehamilan
TUJUAN Untuk mengetahui hasil urine negatif atau positif
RUANG LINGKUP Pasien
KEBIJAKAN Seluruh Analis (Petugas Lab)
DOKUMEN TERKAIT PROSEDUR Persiapan A. Alat : - Wadah urine B. Bahan : - Urine Penatalaksanaan
1. Memakai jas lab / sarung tangan dan masker 2. Mempersiapkan alat reagen sesuai pemeriksaan 3. Memberikan penjelasan kepada pasien / keluarga 4. Cara kerja pemeriksaan
a. Ditampung sejumlah urine dalam pot urine (wadah). b. Celupkan test kehaliman.
c. Tunggu 5 detik, perhatikan timbulnya garis. d. Jika garis I menunjukkan hasil negatif. e. Jika garis II menunjukkan hasil positif.
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PEMERIKSAAN ANALISIS URINE
No. Dokumen No. Revisi
0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Pemeriksaan analisis urine
TUJUAN Untuk mengetahui bau, warna, kekeruhan, keasaman, dan berat jenisdan mencari unsur-unsur sedimen urine.
RUANG LINGKUP Pasien
KEBIJAKAN Analisis (Petugas Lab)
DOKUMEN TERKAIT PROSEDUR Persiapan A. Alat : - Pot urine - Centrifuga - Tabung centrifuga - Mikroskop
- Kaca objek dan penutupnya
- Tissue B. Bahan : - Urine C. Reagen : - Strip combu 10prm Penatalaksanaan
1. Memakai jas lab / sarung tangan dan masker 2. Mempersiapkan alat reagen sesuai pemeriksaan 3. Memberikan penjelasan kepada pasien / keluarga 4. Cara kerja pemeriksaan urine
a. Ditampung sejumlah urine dalam pot urine (wadah) jumlah minimal 10ml.
b. Warna dan kejernihan dilihat secara visual.
c. Urine dikocok kemudian dituangkan ± 50ml kedalam tabung sentifuga,.
d. Dicelup reagen strip combur 10 parameter kedalam tabung sentrifuga yang berisi urine tersebut sampai seluruh darah reagen tercelup.
e. Reagen strip segera diangkap, tiriskan pada kertas tissue dengan posisi vertikal.
f. Dibaca reagent paper dengan membandingkan warnanya dengan warna yang ada pada kemasan botol secara horizontal.
g. Diputar tabung yang berisi urine tersebut dengan kecepatan 3000-4000rpm selama 10 menit.
h. Dibuat cairan superatannya sisakan, kemudian dikocok sampai homogen dan ditetesan pada kaca objek serta tutup dengan kaca penutup (deck glass).
i. Diperiksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa 0 objektif 10x (untuk silinder ephitel dan kristal) objektif 40x (untuk leukosit dan eritrosit).
j. Makroskopis urine
Warna dilaporkan sesuai dengan warna urine (kuning, merah, kuning tua, dll) sedangkan kejernihan dilaporkan dalam (jernih, agak keruh, keruh).
k. Kimia urine
Protein, elukosa, blirubin, urobilinogen, keton nitrit. l. Mikroskop urine (sidimen)
Leukosit, eritrosit dihitung jumlah rata-rata pada 5 lapangan pandang besar (LPB) ephitel, kristal, selinder dihitung jumlah rata-rata pada 5 lapangan pandang kecil (PKK) dan disebut jenisnya, dilaporkan (-), (+) atau (++).
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
TATA LAKSANA LUKA BAKAR
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/4
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan
tubuh dengan benda – benda yang menghasilkan panas (misal : api, air panas, listrik) atau zat- zat yang bersifat membakar ( misal : asam kuat,basa kuat)
Pemeriksaan fisik
Tentukan luas dan dalamnya luka bakar
Nilai ada / tidaknya trauma lain
Timbang pasiennya
Kedalaman luka bakar/derajat luka bakar
1. Tanda-tanda luka bakar superfisial = derajat 1
Seperti luka bakar karena matahari
Kerusakan jaringan minimal,terbatas pada epidermis
Eritema yang ringan
Nyeri yang hilang dalam 48-72 jam
Epidermis mengelupas dan tidak ada parut 2. Sebagian ketebalan kulit = derajat 2
Mengenai seluruh epidermis & berbagai ketebalan dermis,terdiri dari :
Superfisial : nyeri,oedema ,pink bula.sembuh spontan <2-3 minggu
Dalam : merah/bercak merah & putih,seringkali kering,tusukan jarum lebih dirasakan sebagai tekanan daripada nyeri,bula. Penyembuhan lama tanpa eksisi dan tandur,biasanya terbentuk parut.
3. Seluruh ketebalan = derajat 3
Seluruh epidermis dan dermis rusak
Relatif tak nyeri
Seperti kulit lilin,terbakar dan hitam
Kadang tampak pembuluh darah yang mengalami trombosis
Tidak akan sembuh tanpa eksisi dan tandur
TUJUAN Sebagai acuan dalam pengobatan luka bakar
RUANG LINGKUP Pasien yang mengalami luka bakar
KEBIJAKAN Perawat yang terampil
DOKUMEN TERKAIT
Kepustakaan Literature
Alamat web/ internet
PROSEDUR Persiapan alat steril
1. Pinset anatomis 2. Pinset cirurgis 3. Gunting 4. Bengkok 5. Kom kecil 6. Kassa 7. Handscoen 8. Spuit 9. NaCl Pelaksanaan
1. Memberitahu pasien dan keluarga 2. Perawat cuci tangan
3. Mengatur posisi (perwat memakai handscoen) 4. Perawat membersihkan luka bakar
Pengelolaan inisial luka bakar
Cuci dengan NaCl 0,9 %
Buang semua kulit yang lepas
Obat topikal hanya diberikan bila ada keterlambatan dalam rujukan,karena membersihkan obat ini di rumah sakit rujukan membuang waktu
Tutup luka bakar dengan pembalut steril kering
Pencegahan tetanus
Obat topikal
Silver sulfadiazin 1% cream . merupakan obat topikal spektrum luas,bakteriostatik,tidak nyeri,dan biasanya memberi rasa nyaman,anti jamur
Mafenide acetat cream at sol 5% . menembus eskar,bersifat nyeri
Bacitrasin ointment
Luka bakar sirkumferensial pada ekstremitas
Buka semua perhiasan
Periksa sirkulasi distal,apakah ada sianosis,capillary refiling,parestesi
Perawatan luka
Luka bakar derajat 2 : atasi nyeri
Tutup luka dengan linen bersih
Jangan pecahkan bula
Jangan diberikan kompres dingin karena dapat menyebabkan hipotermi
Antibiotika hanya untuk terapi infeksi
Pencegahan tetanus Pengelolaan luka bakar listrik
Airway-breathing
Circulatio : kateter iv pada ekstremitas yang sehat,monitor EKG dan kateter urine
Fibrilasi ventrikel berikan lidokain Penanganan Luka bakar kimia
Buka pakaian
Sapu bubuk bahan kimia
Irigasi dengan air hangat yang mengalir
Menetralisir zat kimia adalah kontra indikasi
KRITERIA RUJUKAN LUKA BAKAR
Luka bakar derajat 2 dan 3 > 10% luas penampang tubuh pada pasien berumur < 10 tahun atau > 50 tahun
Luka bakar derajat 2 dan 3 > 20% luas penampang tubuh pada golongan unur lainnya
Luka bakar derajat 2 dan 3 yang mengenai wajah,mata telinga,tangan,kaki genital,perineum atau yang mengenai kulit diatas sendi-sendi besar
Luka bakar derajat 3 >5% luas penampang tubuh pada tiap golongan umur
Luka bakar listrik yang bermakna,termasuk karena kilat
Trauma inhalasi
Luka bakar pada pasien yang sudah mempunyaipenyakit sebelumnya yang dapat menyulitkan
pengelolaan,memperlambat penyembuhan & mempengaruhi mortalitas
Setiap pasien luka bakar yang disertai trauma lain yang mempunyai resiko morbiditas atau mortalitas yang meningkat
Anak-anak dengan luka bakar yang di rawat di rumah sakit tanpa personil ataualat yang tidak memadai
Luka bakar pada pasien yang memerlukan bantuan sosial dan emosional khusus atau memerlukan rehabilitasi dalam waktu yang lama,seperti kekerasan pada anak atau anak yang di telantarkan
Kebijakan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
TATA LAKSANA LUKA TUSUK PAKU
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit
KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Tatacara mengobati luka tusuk paku
TUJUAN 1. Memberi rasa aman
2. Mencegah komplikasi dan infeksi nosokomial
RUANG LINGKUP Pasien yang tertusuk paku
KEBIJAKAN Perawat yang terampil
DOKUMEN TERKAIT
a. Kepustakaan b. Literature
PROSEDUR Persiapan alat steril 1. Pinset anatomis 2. Pinset chirurgis 3. Gunting 4. Bengkok 5. Kom kecil 6. Kassa 7. Kapas 8. Hand scoen 9. Spuit NaCl
Baki berisi alat non steril 1. Gunting balutan 2. Plester
3. Verban
4. Obat desinfektan dalam tempatnya (bethadine) 5. Tempat sampah
6. Lidokain injeksi sebagai anasthesi PELAKSANAAN
1. Memberitahu pasien dan keluarga 2. Perawat cuci tangan
3. Mengatur posisi (perawat memakai hand scoen) 4. Perawat membersihkan luka
5. Mendesinfektan luka dan sekitarnya dengan NaCl 6. Memberikan diclor ethil atau lidokain
7. Membuat luka tusuk paku pada luka/ cross incisi
8. Dikeluarkan darahnya dan di bersihkan dengan bethadine 9. Tutup luka dengan kasa steril
10. Berikan ATS
11. Mencatat kegiatan dan hasil observasi 12. Klien di rapikan
13. Alat dibereskan dan di bersihkan 14. Perawat cuci tangan
15. Kebijakan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
NEBULIZER
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Nebulizer adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk
mengencerkan dahak dan melonggarkan jalan nafas
TUJUAN Sebagai acuan tindakan nebulizer
RUANG LINGKUP Pasien yang memerlukan tindakan nebulizer
KEBIJAKAN Petugas kesehatan yang terampil dan di bawah pengawasan
dokter
DOKUMEN TERKAIT
1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR Persiapan alat 1. Tabung O2
2. Obat untuk bronchodilator antara lain : Ventolin,NaCl,dexamethason
3. Masker oksigen 4. Nebulizer Persiapan pasien
1. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan
2. Pasien di atur sesuai kebutuhan Pelaksanaan
1. Perawat cuci tangan
2. Mengisi ventolin pada nebulizer
3. Mengisi pada tempat humidifaier dengan bronchodilator 4. Memasang masker pada pasien
5. Nebulizer dinyalakan 6. Observasi pasien
7. Selesai dilakukan tindakan pasien di rapikan 8. Alat-alat dibereskan dan dikembalikan 9. Perawat cuci tangan
10. Kebijakan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
SYOK DAN PENANGANANNYA
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Syok adalah sindroma klinis akibat disfungsi system
kardiovaskuler yang menyebabkan ketidakmampuan sistem sirkulasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen sel sehingga suplai aliran darah ke jaringan inadekuat dan kebutuhan nutrient tidak terpenuhi mengakibatkan hasil metabolisme tidak dapat dikeluarkan
Kriteria diagnosis syok hemoragik Klasifikasi syok
1. Klas 1 : kehilangan volume darah < 15% 2. Klas II : kehilangan volume darah 15-30% 3. Klas III : kehilangan volume darah 30-40% 4. Klas IV : kehilangan volume darah >40% Type syok
1. Syok hipovolemik 2. Syok obstruktif 3. Syok vasogenik Gejala dan tanda syok
1. Ansietas
2. Penurunan kesadaran 3. Hipotensi
4. Oliguri Syok hipovolemik
Ekstremitas dingin & pucat
Takikardi dan takipnu
‘ capillary refill’ jelek
Tekanan nadi turun
Syok obstruktif
Yang bisa disebabkan oleh tamponade jantung,kontusio jantung,dan tension pneumothorax
Tekanan nadi sempit
Diaforesis
Distensi v.jugularis
Ekstremitas dingin dan pucat
Rales Syok vasogenik
Yang bisa disebabkan oleh karena proses infeksi yang berlanjut
Flushing
Tekanan nadi lebar
Sepsis
Syok anafilaktik
Neurogenik
TUJUAN Sebagai acuan bagi petugas kesehatan di puskesmas dalam
penanganan syok
RUANG LINGKUP Pasien yang mengalami syok
KEBIJAKAN Seluruh petugas kesehatan yang terampil pada puskesmas di
bawah tanggung jawab UGD
DOKUMEN TERKAIT
1. Kepustakaan 2. Literature
3. Alamat web/ internet
PROSEDUR Persiapan alat
Tensimeter
Stetoskop
Tabung oksigen
Adrenalin 1 : 1000 Out put ; gejala syok teratasi Penatalaksanaan
Baringkan pasien dengan kaki lebih tinggi dari kepala
Longgarkan pakaian
Usahakan pasien nafas lega
Suntikkan adrenalin 1 : 1000 sebanyak 0,25 – 0,40 ml IM Dapat di ulang setiap 10 menit. Bila tekanan darah sistolik belum sampai 90-100 mmHg atau frekuensi jantung belum sampai 90 x /menit
Kebijakan
UNIT TERKAIT UGD , rawat inap,dan rawat jalan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PEMASANGAN KATETER URINE
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit
KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Tata cara melakukan pemasangan kateter urine untuk
mengeluarkan air kencing
TUJUAN Sebagai acuan pelaksanaan pemasangan kateter untuk mengeluarkan air
kencing
RUANG LINGKUP Pasien yang tidak dapat mengeluarkan air kencing
KEBIJAKAN Seluruh perawat yang terampil di puskesmas di bawah tanggung
jawab UGD
DOKUMEN TERKAIT
1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR Persiapan alat 1. slang kateter 2. aqua jelly 3. sarung tangan 4. aquadest dalam kom 5. spuit 5 cc
6. plester 7. gunting
8. kasa dalam tempatnya 9. betadine 10. urobag 11. urinal 12. pinset 13. bengkok 14. perlak Penatalaksanaan ;
1. memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien 2. mendekatkan peralatan di samping pasien
3. memasang perlak dan petugas mencuci tangan 4. memakai sarung tangan
5. mengatur posisi pasien 6. Kebijakan
Pada laki-laki :
mengolesi slang kateter dengan aqua jelly
tangan kiri dengan kasa memegang penis sampai tegak ± 600
3. tangan kanan memasukkan ujung kateter dan mendorong secara pelan-pelan sampai urine keluar
Pada wanita
1. jari tangan kiri dengan kapas cebok membuka labia 2. tangan kanan memasukkan ujung kateter dan mendorong
secara pelan-pelan sampai urine keluar
3. bila urine telah keluar, pangkal kateter dihubungkan dengan urine bak
4. kunci kateter dengan larutan aqua/NS 20-30 cc 5. mengobservasi respon pasien
6. menggantungkan urobag di sisi tempat tidur pasien 7. memfiksasi kateter dengan plester pada paha bagian atas 8. klien di rapihkan
9. alat-alat dibersihkan dan dibereskan 10. perawat cuci tangan
11. mencatat kegiatan respon pasien
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PEMASANGAN NGT
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Memasukkan NGT melali hidung ke lambung
- memberikan makanan dan obat-obatan - membilas atau mengumbah lambung
TUJUAN Sebagai acuan untuk melakukan tindakan NGT
RUANG LINGKUP Pasien yang memerlukan tindakan NGT
KEBIJAKAN Perawat yang terampil dan tersedia alat yang lengkap
DOKUMEN
TERKAIT 1. Kepustakaan2. Literature
3. Alamat web/ internet
PROSEDUR Persiapan alat
- NGT - Plester - Gunting - Bengkok
- Sarung tangan aqua jelly - Perlak+pengalas
- Alat tulis - Stetoscope - Spuit 10 cc
- Aquades dalam kom
- Obat-obatan atau makanan yang akan dimasukkan - Corong
- Kassa - Spatel
Penatalaksanaan
1. Menjelaskan tujuan pemasangan NGT pada keluarga pasien 2. Membawa alat-alat ke dekat pasien
3. Mengatur posisi pasien sesuai dengan keadaan pasien 4. Memasang perlak dan pengalas pada daerah dada 5. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
6. Mengukur dan memberi tanda pada NGT yang akan di pasang lebih kurang 40-45 cm (diukur mulai dari dahi s/d proc. Xypoideus)
7. Mengolesi NGT dengan aqua jelly sepanjang 15 cm dari ujung NGT
8. Memasukkan NGT melalui lubang hidung dan pasien dianjurkan untuk menelan ( jika pasien tidak sadar tekan lidah pasien dengan spatel) masukkan NGT sampai pada batas yang sudah ditentukan sambil perhatikan keadaan umum pasien
9. Cek posisi NGT apakah masuk lambung atau paru-paru dengan cara
- Aspirasi cairan lambung dengan spuit 10 cc,jika cairan bercampur isi lambung berarti sudah masuk lambung - Memasukkan ujung NGT yang di hidung ke dalam air
dalam kom bila ada gelembung berarti NGT dalam paru-paru
- Petugas memasukkan gelembung udara melalui spuit bersamaan dilakukan pengecekan perut dengan stetoskop untuk mendengarkan gelembung udara di lambung
- Memasang corong ( yang sudah di bilas dengan air hangat),kemudian masukkan obat-obatan atau makanan - Melepas corong,menutup NGT dengan spuit 10 cc
- Merapikan alat-alat dan pasien kemudian sarung tangan di lepas
- Mendokumentasikan 10. Kebijakan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PENGAMBILAN CORPUS ALIENUM DI
TELINGA DAN HIDUNG
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Memberikan tindakan pertolongan akibat adanya benda padat
atau binatang yang masuk kedalam telinga atau hidung
TUJUAN 1. Agar luka tidak terjadi infeksi lanjut
2. Mengembalikan fungsi indera
RUANG LINGKUP Pasien yang telinga atau hidung terdapat corpus alianum
KEBIJAKAN Petugas kesehatan yang terampil di puskesmas
DOKUMEN TERKAIT
1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR Persiapan alat
Steril
Bak instument,berisi spuit irigasi 50 cc,pinset anatomis,pinset cirurgis,arteri klem
THT set
Kassa dan depres dalam tromol
Handscoen
Neerbeken
Lampu kepala
Kom kecil/sedang
Tetes telinga
Cairan pencuci luka dan desinfektan (cairan NS) Non steril
Schort/gown
Perlak+ alas perlak
Handscoen
Tirai
Neerbeken
Penatalaksanaan
1. Perawat memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga menandatangani informed concern
2. Perawat menyiapkan alat dan di dekatkan ke pasien.Perawat memeriksa lokasi corpus alienum ditelinga baik langsung atau memakai lampu kepala
3. Perawat menentukan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan letak dan jenis benda yang masuk antara lain : Benda padat atau binatang
a) Perawat memakai alat sonde telinga/hidung b) Perawat memasukkan sonde ke dalam
telinga/hidung
c) Setelah sonde masuk ke dalam telinga/hidung posisi sonde sudah lebih dalam dari posisi benda padat/binatang
d) Bila benda / binatang padat belum keluar dilakukan pengulangan mulai dari awal
4. Kebijakan
Puskesmas Sitiung i Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
DEMAM BERDARAH DENGUE
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/3
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Pengertian ;Suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan virus
dengue yang termasuk famili flaviviridae dan diketahui terbagi atas 4 serotipe yaitu DEN-1,DEN-2,DEN-3,DEN 4.
Menurut WHO SEARO 2011 manifestasi infeksi virus dengue terbagi atas
1. Asimptomatik 2. Simptomatik
Undifferentiated fever (viral syndrome)
Demam dengue . tanpa perdarahan
. dengan perdarahan tidak lazim
Demam berdarah dengue (DBD) . DBD tanpa syok
. DBD dengan syok (DSS)
Expanded dengue syndrome/isolated organopathy (unusual manifestation)
Manifestasi klinik
1. Demam : onset akut,tinggi dan kontinua,berlangsung 2-7 hari
2. Manifestasi perdarahan termasuk tes torniquet positif, petekie, purpura, ekimosis,perdarahan gusi,dan hematemesis dan /atau melena
3. Hepatomegali yang di jumpai pada 90-98 % kasus anak 4. Shock,dimanifestasikan oleh takikardi,perburukan perfusi
jaringan dengan nadi yang lemah dan tekanan nadi menyempit (20 mmHg atau kurang)atau hipotensi di tandai dengan kulit yang dingin,lembab dan/atau lemah.
Temuan laboratorium
1. Tombositopenia (100000/mm atau kurang)
2. Hemokonsentrasi : kenaikan hematokrit >20% dari baseline atau populasi seusia
DIAGNOSIS 1. Demam dengue - Kasus probable
Demam akut disertai dua atau lebih hal berikut Nyeri kepala,nyeri retroorbital,mialgia,nyeri tulang,ruam,manifestasi perdarahan,lekopeni
(<5000/mm),trombositopenia (<150000/mm),kenaikan hematokrit 5-10%
2. Demam Berdarah Dengue
Semua hal berikut ditemukan yaitu - Demam akut selama 2-7 hari
- Manifestasi perdarahan,ditunjukkan oleh salah satu dari uji torniqut positif,petekie,ekimosis,atau perdarahan mukosa GIT
- Hitung trombosit <100.000/mm
- Bukti kebocoran plasma seperti kenaikan hematokrit,efusi pleura,asites,hipoalbuminemia 3. Syndrome Syok Dengue (DSS)
Kriteria untuk DBD di atas terpenuhi disertai tanda syok termasuk
- Takikardi,ekstremitas dingin,capillary refill melambat,nadi lemh,letargi,lelah
- Tekanan nadi <20 mmHg dengan peningkatan tekanan diastolik
- Hipotensi sesuai usia
TUJUAN Memberikan kemudahan atau sebagai acuan bagi tenaga
kesehatan dalam penanganan demam dengue
RUANG LINGKUP Pasien demam yang diduga menderita virus dengue
KEBIJAKAN Petugas kesehatan yang terampil di puskesmas
DOKUMEN TERKAIT
1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR Persiapan alat
Tensimeter
Termometer
Infus set,cairan kristaloid isotonik Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : pemeriksaan hematokrit serial
Penatalaksanaan
Terapi cairan intravena pada penderita DBD adalah :
Cairan kristaloid isotonik harus diberikan selama fase kritis berlangsung kecuali pada bayi < 6 bulan dapat dipergunakan NaCl 0,45%
Cairan koloid hiperonkotik
Cairan sebanyak kebutuhan rumatan ditambah jumlah cairan
Terapi cairan intravena pada penderita syok tidak lebih lama dari24-48 jam.sedangkan pada yang tanpa syok dapat sampai 60-72 jam
Pada penderita obesitas,pergunakan berat badan ideal untuk perhitungan cairan.
Kebijakan
Puskesmas Sitiung I Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PEMBERIAN TABLET BESI
PADA IBU HAMIL
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN - Pemberian Tablet Zat Besi Pada Ibu Hamil
TUJUAN
Sebagai acuan dalam melakukan pemberian tablet zat besi pada ibu hamil dan anemia pada kehamilan untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung.
RUANG LINGKUP
Semua Ibu hamil yang berkunjung ke unit pelayanan Kesehatan Ibu dan Rumah Bersalin UPT Puskesmas Sitiung I meliputi pasien baru, ibu hamil 28 minggu dan pasien – pasien yang anemis.
KEBIJAKAN 1. Bidan terlatih. 2. Dokter DOKUMEN TERKAIT 1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR
Alat dan Bahan
1 . Alat : Alat tulis, Form Pemeriksaan Laboratorium
2. Bahan: Tablet Zat besi, vitamin C
Instruksi Kerja
1. Periksa konjungtiva pasien, untuk menentukan
pasien anemis atau tidak.
2 .Catat hasil pemeriksaan dalam kartu status dan
KMS ibu hamil.
3 . Isi form pemeriksaan laboratorium.
4 . Jelaskan pada pasien tujuan dari pemeriksaan.
5 . Jelaskan pada pasiensetelah selesai pemeriksaan
membawa hasil pemeriksaan kembali ke poli KIA. 6. Rujuk ke unit pelayanan gizi, jika hasil pemeriksaan
Hb < 11 gr %
7. Beri tablet zat besi pada semua ibu hamil,
sedikitnya 1 tablet / hari, selama 30 hari berturut-turut untuk pasien hamil pada trimester I, sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia diberikan tablet zat besi dan vitamin C tiga kali satu tablet perhari ( 3 X 1 ) , hal ini sangat tergantung dengan persediaan obat yang ada
8 .Jika tablet zat besi persediaan habis, maka akan
diberikan resep luar
9 . Beri penyuluhan gizi pada semua ibu hamil disetiap
kunjungan ANC, tentang perlunya minum tablet zat besi dan vitamin C, serta menghindari minum teh /kopi / susu dalam 1 jam sebelum / sesudah makan, karena dapat mengganggu penyerapan zat besi.
Puskesmas Sitiung I Jorong KotoAgung Kiri, Nagari Sei Duo
Kecamatan Sitiung Dharmasraya
( 0754 ) 581150 Kode Pos. 27578
PENGISIAN KARTU ANAK
No. Dokumen No. Revisi 0
Halaman 1/2
PROSEDUR TETAP
Tanggal Terbit KEPALA PUSKESMAS SITIUNG I
Dr. Dwinanda Emira
NIP. 197907242007012004
PENGERTIAN Pengisian Kartu Anak
TUJUAN
Sebagai acuan dalam pengisian kartu status anak secara lengkap dan benar.
RUANG LINGKUP Kartu Anak untuk anak yang datang ke unit pelayanan
KIA KEBIJAKAN 1. Bidan 2. Petugas terlatih DOKUMEN TERKAIT 1. Kepustakaan 2. Literature
PROSEDUR Alat
1. Ballpoint
2. Kartu status anak
3. Timbangan berat badan
Instruksi Kerja
1. Tulis dengan ballpoint warna hitam dengan rapih dan
jelas
2. Tulis nomor register pasien pada kolom bagian kanan
atas.
3. Tulis nama Puskesmas/ Pustu tempat pelayanan
pada sudut kiri atas
4. Tulis identitas pasien di halaman depan pada kolom
yang tersedia
Nama anak
Tanggal lahir, jenis kelamin, tempat lahir
Berat badan waktu lahir (dalam gram) 5. Tulis identitas orang tua
Nama dan ibu, pekerjaan ayah
Umur ayah dan ibu, pendidikan ayah dan ibu
Alamat anak
6. Isi tanggal pemberian imunisasi pada kolom
pelayanan imunisasi bayi.Tanggal pemberian imunisasi hepatitis B I/II/III, BCG, DPT I/II/III, Polio I/II/III/IV dan Campak sesuai tanggal pemberian.
7. Isi pada kolom pelayanan Vit. A dosis tinggi . Tanggal
pemberian Vit. A dosis tinggi sesuai tanggal
8. Isi kolom Deteksi Dini Perkembangan anak. Tulis
hasil pemeriksaan aspek perkembangan motorik kasar, motorik halus, gangguan bicara, gangguan sosialisasi dan
kemandirian, pendengaran dan penglihatan ( ditulis normal atau tidak normal) pada kolom sesuai umur kunjungan. 9. Isi dan tulis pada halaman pemeriksaan kesehatan
anak
Tanggal, umur, berat badan/status gizi, pertumbuhan
gigi/ makanan anak, keluhan anak, diagnosa medis/keperawatan, pengobatan /tindakan /rujukan, tanda tangan petugas.
SOP Penentuan Faktor Resti Untuk Ibu Hamil
Nama Pekerjaan
Faktor Resti Untuk Ibu Hamil 1. Tujuan
Sebagai acuan dalam menentukan factor resiko dan resiko tinggi pada ibu hamil
2. Ruang Lingkup
Semua ibu hamil yang datang berobat ke UPTD Puskesmas Kendal Kerep 3. Ketrampilan Petugas
Dokter
Bidan
5. Alat dan bahan
5.1 Alat
Timbangan Berat badan
Pita pengukur lingkar lengan
Pengukur Tinggi Badan
Tensi Meter
Buku KIA ( Score Poedji Rochjati)
5.2 Bahan
6. Instruksi Kerja
Faktor Resiko Ibu Hamil diantaranya
.Primi muda, hamil ke-1 umur kurang dari 16 tahun
.Primi tua, hamil ke-1 umur lebih dari 35 tahun, atau terlalu lambat hamil ke-1 kawin lebih dari 4 tahun.
Terlalu lama hamil lagi, lebih dari 10 tahun.
Terlalu cepat hamil lagi, kurang dari 2 tahun
Terlalu banyak anak, Anak lebih dari 4
Terlalu tua, umur lebih dari 35 tahun
Tinggi badan kurang dari 145 cm
Pernah gagal kehamilan
Pernah melahirkan dengan tarikan tang / vakum
Pernah melahirkan dengan Uri dirogoh
Pernah melahirkan dengan diberi infuse/transfusi.
Pernah operasi seksio
Adanya penyakit pada ibu hamil : kurang darah, Malaria, TBC paru, Payah jantung, kencing manis dan penyakit menular seksual.
Adanya bengkak pada muka/tungkai dan tekanan darah tinggi.
Hamil kembar 2 atau lebih.
Hamil kembar air (Hydramnion)
Bayi mati dalam kandungan.
Kehamilan lebih bulan.
Hamil letak sungsang.
Hamil letak lintang.
Hamil dengan perdarahan.
Pre eklamsi berat (kejang)
Kriteria Faktor Resiko Tinggi Ibu Hamil diantaranya
HB kurang dari 8 gr %
Tekanan darah tinggi (Sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg)
Eklampsia
Oedema yang nyata
Perdarahan pervaginam
Ketuban pecah dini
Letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu
Letak sungsang pada primigravida
Infeksi berat / sepsis
Persalinan premature
Kehamilan ganda
Janin yang besar
Penyakit kronis pada ibu ; Jantung, paru, ginjal, dll
Penatalaksanaan sesuai kelompok Resiko :
1. Jumlah skor 2, termasuk kelompok Bumil resiko rendah (KRR), pemeriksaan kehamilan bisa dilakukan bidan, tidak perlu dirujuk, tempat persalinan bisa di polindes, penolong bisa bidan.
2. Jumlah skor 6-10, termasuk kelompok Bumil resiko Tinggi (KRT), pemeriksaan kehamilan dilakukan bidan atau dokter, rujukan ke bidan dan puskesmas, penolong persalinan bidan atau dokter.
3. Jumlah skor lebih dari 12, termasuk kelompok Resiko Sangat Tinggi (KRST), pemeriksaan kehamilan harus oleh dokter, penolong harus dokter
7 Indikator Kinerja
Faktor resti dapat diidentifikasi sedini mungkin sehingga dapat mengatasi akibat dari resti itu sendiri dan menurunkan angka kematian ibu.
8 Catatan mutu
Register Kohort Ibu Hamil
Register KIA
Status Ibu
Buku KIA
SOP ASUHAN ANTENATAL / PEMERIKSAAN KEHAMILAN
1.Nama Pekerjaan
Pemeriksaan Antenatal Care pada Ibu Hamil
2. Tujuan
Sebagai acuan dalam melakukan pemeriksaan Ante Natal Care ( ANC ), sehingga dapat menyelesaikannya dengan baik, melahirkan bayi yang sehat dan memperoleh kesehatan yang optimal pada masa nifas serta dapat menyusui dengan baik dan benar.
3. Ruang lingkup
Pemeriksaan Ibu hamil di unit pelayanan KIA dan RB
4. Uraian Umum
4.1 ANC adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada ibu hamil dan selama kehamilannya.
4.2 Mempersiapkan ibu agar memahami pentingnya pemeliharaan kesehatan selama hamil, bersalin dan nifas.
4.3 Mendeteksi dini faktor resiko dan menangani masalah tersebut secara dini.
5. Ketrampilan petugas
5.1 Bidan terlatih. 5.2 Dokter
6. Alat dan Bahan 6.1 Alat
6.1.1 Leanec
6.1.2 Doppler / spekulum corong
6.1.3 Meteran kain pengukur tinggi fundus uteri 6.1.4 Meteran pengukur LILA
6.1.5 Selimut
6.1.6 Reflex Hammer
6.1.7 Jarum suntik disposibel 2,5 ml 6.1.8 Air hangat
6.1.9 Timbangan Berat Badan dewasa 6.1.10 Tensimeter Air Raksa
6.1.11 Stetoscope 6.1.12 Bed Obstetric 6.1.13 Spekulum gynec
6.1.14 Lampu halogen / senter 6.1.15 Kalender kehamilan
6.2 Bahan
6.2.1 Sarung tangan 6.2.2 Kapas steril
6.2.3 Kassa ste6.2.4 Alkohol 70 % 6.2.5 Jelly
6.2.6 Sabun antiseptik
6.2.7 Wastafel dengan air mengalir 6.2.8 Vaksin TT
7. Instruksi Kerja
7.1 PERSIAPAN.
7.1.1.Mempersiapkan alat dan bahan medis yang diperlukan. 7.1.2.Mempersiapkan Bumil mengosongkan kandung kemih.
7.1.3.Petugas mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan bilas dengan air mengalir dan keringkan.
7.2 PELAKSANAAN: 7.2.1 Anamnesa:
7.2.1.1 Riwayat perkawinan.
7.2.1.2 Riwayat penyakit ibu dan keluarga. 7.2.1.3 Status wayat Haid, HPHT.
7.2.1.4 Riwayat imunisasi Ibu saat ini 7.2.1.5 Kebiasaan ibu.
7.2.1.6 Riwayat persalinan terdahulu
Dari anamnesa haid tersebut, tentukan Usia kehamilan dan buat taksiran persalinan.
7.2.2 Pemeriksaan
7.2.2.1 Pemeriksaan Umum. Keadaan umum Bumil Ukur TB, BB, Lila.
Tanda vital : tensi, Nadi, RR, HR
Pemeriksaan fisik menyeluruh ( dari kepala sampai ekstremitas).
Mata : conjungtiva, ikterus ; Gigi , Kaki :Oedema kaki , dst.
7.2.2.2 Pemeriksaan khusus.
UMUR KEHAMILAN <20 mgg : a). Inspeksi.
1. Tinggi fundus
2. Hyperpigmentasi (pada areola mammae, Linea nigra). 3. Striae.
b) Palpasi.
1. Tinggi fundus uteri 2. Keadaan perut c) Auskultasi.
UMUR KEHAMILAN > 20 mgg: a). Inspeksi.
1. Tinggi fundus uteri
2. Hypergigmentasi dan striae 3. Keadaan dinding perut
b). Palpasi.
Lakukan pemeriksaan Leopold dan intruksi kerjanya sbb :
Pemeriksa berada disisi kanan bumil, menghadap bagian lateral kanan.
a. Leopold 1.
1. Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus. Perhatikan agar jari tersebut tidak mendorong uterus kebawah (jika diperlukan, fiksasi uterus basah dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dibagian lateral depan kanan dan kiri, setinggi tepi atas simfisis)
b) Palpasi.
1. Tinggi fundus uteri 2. Keadaan perut c) Auskultasi.
UMUR KEHAMILAN > 20 mgg: a). Inspeksi.
1. Tinggi fundus uteri
2. Hypergigmentasi dan striae 3. Keadaan dinding perut b). Palpasi.
Lakukan pemeriksaan Leopold dan intruksi kerjanya sbb :
Pemeriksa berada disisi kanan bumil, menghadap bagian lateral kanan.
a. Leopold 1.
1. Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus. Perhatikan agar jari tersebut tidak mendorong uterus kebawah (jika diperlukan, fiksasi uterus basah dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dibagian lateral depan kanan dan kiri, setinggi tepi atas simfisis)
2 Angkat jari telunjuk kiri (dan jari-jari yang memfiksasi uterus bawah) kemudian atur posisi pemeriksa sehingga menghadap kebagian kepala ibu.
3. Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan rasakan bagian bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian
1. Letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu sejajar dan pada ketinggian yang sama.
2. Mulai dari bagian atas, tekan secara bergantian atau bersamaan telapak tangan kiri dan kanan kemudian geser kearah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata dan memenjang (punggung) atau bagaian yang kecil (ekstremitas).
c. Leopold 3.
1. Atur posisi pemeriksa pada sisi kanan dan menghadap kebagian kaki ibu.
2. Letakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah, telapak tangan kanan pada dinding lateral kanan bawah perut ibu, tekan secara lembut bersamaan atau bergantian untuk menentukan bagian bawah bayi (bagian keras, bulat dan hampir homogen adalah kepala, sedangkan tonjolan yang lunak dan kurang simetris adalah bokong).
d. Leopold 4.
1. Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada dinding lateral kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada pada tepi atas simfisis.
2. Temukan kedua jari kiri dan kanan, kemudian rapatkan semua jari-jari tangan kanan yang meraba dinding bawah uterus. 3. Perhatikan sudut yang dibentuk oleh jari-jari kiri dan kanan
(konvergen/divergen)
4. Pindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi (bila presentasi kepala, upayakan memegang bagian kepala didekat leher dan bila presentasi bokong, upayakan untuk memegang pinggang bayi)
5. Fiksasi bagian tersebut kearah pintu atas panggul, kemudian letakkan jari0jari tangan kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas panggul.
c). Auskultasi.
- Pemeriksaan bunyi dan frekuensi jantung janin. d). Pemeriksaan Tambahan.
- USG
7.2.3 Akhir pemeriksaan :
7.2.3.1 . Buat kesimpulan hasil pemeriksaan
7.2.3.2 . Buat prognosa dan rencana penatalaksanaan.
7.2.3.3 . Catat hasil pemeriksaan pada buku KIA dan status pasien. 7.2.3.4 . Jelaskan hasil pemeriksaan kepada bumil yang meliputi :
usia kehamilan, letak janin, posisi janin, Tafsiran persalinan, Resiko yang ditemukan atau adanya penyakit lain.
7.2.3.5 . Jelaskan untuk melakukan kunjungan ulang.
7.2.3.6 Jelaskan rencananasuhan ANCberkaitan dengan hasil pemeriksaan
7.2.3.7 . Jelaskan pentingnya imunisasi
7.2.3.8 . Jelaskan menjadi akseptor KB setelah melahirkan 7.2.3.9 . Beri alasan bila pasien dirujuk ke Rumash Sakit
8. Indikator Kinerja
8.1 Kehamilan terutama kesehatan ibu dan janin dapat dipantau
9. Catatan Mutu
9.1 Kartu status ibu hamil
9.2 Buku register kohort ibu hamil 9.3 Buku register ibu hamil
9.4 Buku KIA
10. KONTRA INDIKASI
Tidak ada
11. REFERENSI
Buku Kesehatan Maternal dan Neonatus, Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 2002.