EFEKTIFITAS PENGGUNAAN POSTER DAN VIDEO DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI WUDHU BAGI SISWA KELAS II SD NEGERI KASEPUHAN 05 BATANG TAHUN PELAJARAN
2010/2011
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
dalam Ilmu Pendidikan Islam
Oleh :
SURIP
NIM : 093111432
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Surip
NIM : 093111432
Program studi : Program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S.1) Bagi Guru MI Dan PAI Melalui Dual Mode System
menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.
Semarang, Juni 2011 Saya yang menyatakan,
Surip
INSTITU Alamat: Jl.Prof.Dr.Ha Naskah skripsi Judul : Nama : S NIM : telah diujikan diterima sebaga Pendidikan Isla Ketu Dr.H.Ahmad Is NIP:1967020 Pengu Dr.H.Mustaq NIP:1959040
KEMENTERIAN AGAMA R.I. TITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
FAKULTAS TARBIYAH
.Dr.Hamka (Kampus II) Ngaliyan Telp.024-601295Fax
PENGESAHAN
kripsi dengan:
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN POSTER DALAM MENINGKATKAN PRESTAS PADA MATA PELAJARAN PENDIDIK ISLAM PADA MATERI WUDHU BAGI S II SD NEGERI KASEPUHAN 05 BATA PELAJARAN 2010/2011
: Surip : 093111432
jikan dalam sidang munaqasah oleh Dewan Pen sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarja an Islam. Semarang,16 Septemb Dewan Penguji Ketua, ad Ismail M.A,M.Hum 6702081997031001 Penguji I, ustaqim,M.Pd 5904021983031003 Sekretaris Drs.Ikhrom, NIP:1965032 Penguji II Fahrur Rozi NIP:1969122 Pembimbing, Drs.Ahmad Sudja’i,M.Ag NIP:195110051976121001 NGO SEMARANG 95Fax.7615387Semarang
TER DAN VIDEO STASI BELAJAR
IDIKAN AGAMA GI SISWA KELAS BATANG TAHUN
n Penguji dan dapat sarjana dalam Ilmu
ptember 2011 retaris, hrom,M.Ag 650329199431002 guji II, r Rozi,M.Ag 6912201995031001
NOTA PEMBIMBING
NOTA DINAS Semarang, Juni 2011
Kepada :
Yth.Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Di Semarang
Assalamu’alaikum wr.wb
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi naskah skripsi dengan:
Judul :EFEKTIFITAS PENGGUNAAN POSTER DAN VIDEO DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MATERI WUDHU BAGI SISWA KELAS II SD NEGERI KASEPUHAN 05 BATANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Nama : Surip
NIM : 093111432
Progam Studi : Program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S.1) Bagi Guru MI Dan PAI Melalui Dual Mode System
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang untuk diujikan dalam Sidang Munaqasah.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Pembimbing,
Drs.Ahmad Sudja’i,M.Ag NIP. 195110051976121001
ABSTRAK
Judul : Efektifitas Penggunaan Poster Dan Video Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Materi Wudhu Bagi Siswa Kelas II SD Negeri Kasepuhan 05 Batang Tahun Pelajaran 2010/2011
Penulis : Surip NIM : 093111432
Skripsi ini membahas efektifitas penggunaan media pembelajaran dalam meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran pendidikan agama islam. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan (1) Apakah rataan nilai mata pelajaran pendidikan agama islam siswa kelas II SD Negeri Kasepuhan 05 Batang 75? (2) Apakah model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran menghasilkan prestasi belajar pendidikan agama islam yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi wudhu? (3) Apakah model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional pada materi wudhu?. Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan yang dilaksanakan di SD Negeri Kasepuhan 05 Batang. Manfaat yang diperoleh yaitu mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran dalam pelaksanaan proses pembelajaran, menambah wawasan tentang ketepatan penggunaan media pembelajaran, serta memperjelas dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi wudhu.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran pada materi wudhu menghasilkan rataan nilai mata pelajaran pendidikan agama islam siswa kelas II SD Negeri Kasepuhan 05 Batang 75. (2) Model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran menghasilkan prestasi belajar pendidikan agama islam yang sama baik dengan model pembelajaran konvensional pada materi wudhu. (3) Model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran sama efektifnya dengan model pembelajaran konvensional pada materi wudhu. Dengan F0bs = -27.94 < 4.30 = Ftab. F0bs adalah bukan anggota dari daerah kritik, sehingga diambil keputusan uji H0 diterima.
Mengacu dari hasil penelitian tersebut peneliti dapat mengajukan saran yaitu hendaknya guru pendidikan agama islam mempertimbangkan pelakasanaan proses pembelajaran pada materi wudhu dengan menggunakan media pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi optimal.
TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Penulisan transliterasi huruf-huruf Arab-Latin dalam skripsi ini berpedoman pada SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158/1987 dan Nomor: 0543b/U/1987. Penyimpangan penulisan kata sandang [al-] disengaja secara konsisten supaya sesuai teks arabnya.
ا a ط t ب b ظ L ت t ع ‘ ث ś غ g ج j ف f ح h ق q خ kh ك k د d ل l ذ Ŝ م m ر r ن n ز z و w س s d h ش sy ء ’ ص L ي y ض L
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, saran, dukungan, dan dorongan dari berbagai pihak yang sangat membantu. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada segenap pihak antara lain:
1. Drs.Ahmad Suja’i,M.Ag sebagai Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, kepercayaan, dukungan, saran, dan kemudahan yang sangat membantu dalam penulisan skripsi ini.
2. Kepada pendamping terpenting dalam hidupku yang telah menjadi pengingat dikala lupa datang, menjadi penyemangat dimasa kelesuan mendera, menjadi pendorong disaat diri melambat, serta pelengkap hidupku yaitu istriku tercinta, Suci Sugiarti, serta kedua mutiara hatiku Chairul Ummatullah dan Ummu Dinul Qoyimah.
3. Keponakanku, Merry, atas semangat, motivasi dan inspirasi yang diberikan. 4. Teman-teman mahasiswa Program Peningkatan Kualifikasi Sarjana (S.1)
Bagi Guru MI Dan PAI Melalui Dual Mode System atas kebersamaan dan persahabatan yang telah terjalin.
Semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan memberikan sedikit kontribusi serta masukan bagi dunia pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Batang, Agustus 2011
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL...i PERNYATAAN KEASLIAN...ii PENGESAHAN...iii NOTA PEMBIMBING...iv ABSTRAK...v TRANSLITERASI ARAB-LATIN...vi KATA PENGANTAR...vii DAFTAR ISI...viii DAFTAR TABEL...x BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1 B. Pembatasan Masalah...5 C. Rumusan Masalah...6 D. Manfaat Penelitian...6
BAB II : LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka...7
B. Kerangka Teoritik...32
C. Rumusan Hipotesis...33
BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian...35
B. Tempat dan Waktu penelitian...35
C. Populasi Penelitian...36
D. Variabel dan Indikator Penelitian...36
E. Pengumpulan Data penelitian...37
F. Instrumen penelitian...37
BAB IV : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data...43 B. Data Pengujian Hipotesis...45 C. Pembahasan Hasil Analisis Data ...47
BAB V : PENUTUP
A. Simpulan...50 B. Saran...50
DAFTAR PUSTAKA RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Ringkasan Konsistensi Internal Soal Uji Coba Tabel 4.2 Data Skor Kemampuan Praktik Wudhu
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam menempati posisi strategis dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Hal ini secara tegas tercantum pada rumusan sila pertama dasar negara Indonesia yang bernuansa agamis. Pada Undang-undang Dasar 1945 dan setiap rumusan pasal dalam Peraturan Pemerintah juga selalu diawali dengan penyebutan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Tujuan pendidikan agama islam di sekolah atau madrasah dalam kurikulum PAI (Pendidikan Agama Islam) yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.1 Dengan adanya pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah, diharapkan peserta didik dapat memiliki pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan yang cukup tentang moralitas agama yang selanjutnya diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Rendahnya kualitas Pendidikan Agama Islam di kabupaten Batang dapat dilihat dari hasil USSN (Ujian Sekolah Standar Nasional) SD baik ujian tertulis atau pun praktik. Berdasarkan hasil penjaringan data tersebut untuk kemudian dilakukan analisis ternyata bahwa secara umum penguasaan pendidikan agama Islam siswa SD khususnya jenjang pendidikan negeri, mengalami kemerosotan atau dapat dikatakan bahwa nilai capaian daya serap USSN dari tahun 2008 sampai tahun 2009 di kabupaten Batang menurun sebesar (2,3%). Nilai capaian pendidikan agam Islam tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2009, meskipun demikian keduanya masih berada pada kategori diatas cukup.2
1
Abdul Majid dan Dian andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Kompetensi Kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm.135
2
Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran pendidikan agama islam belum berhasil. Masih banyak anak yang tidak lulus ujian pendidikan agama islam pada saat Ujian Nasional. Hal ini menunjukkan pemahaman siswa pada materi pendidikan agama islam masih rendah. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa ada dua yaitu faktor internal (dalam diri siswa) dan faktor eksternal (luar diri siswa). Faktor dari luar diri siswa mungkin karena media pembelajaran yang digunakan guru kurang tepat.
Materi pelajaran pendidikan agama islam syarat dengan nilai-nilai bagi pembentukan pribadi muslim, namun apabila materi itu disajikan dengan cara yang kurang tepat, tidak mustahil akan timbul pada diri siswa rasa tidak senang terhadap pelajaran pendidikan agama islam dan bahkan juga terhadap gurunya. Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media pembelajaran secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Pada materi wudhu merupakan materi yang banyak menggunakan konsep dan merupakan materi hafalan, sehingga apabila siswa belum menguasai konsep materi ini, siswa akan kesulitan dalam mempelajari materi selanjutnya dan ada keterkaitan dengan materi berikutnya. Selama ini, proses pembelajaran pendidikan agama Islam pada materi wudhu seringkali masih menggunakan metode konvensional atau tradisional dan ternyata masih banyak siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi dan akibatnya mereka memiliki prestasi belajar yang rendah.
Sangat untung bahwa sejak awal mula pendidikan senantiasa bersikap terbuka terhadap penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi. Hal ini mempunyai maksud bahwa sistem pendidikan yang tidak mau dan kurang bisa menyelaraskan diri dengan kemajuan teknologi tersebut, maka sistem pendidikan tentu akan ketinggalan zaman. Sistem pendidikan tentu tidak lagi relevan dan integral dengan kemajuan yang telah diperoleh dunia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan harus lebih banyak dilakukan pengajar dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik. Salah satu upaya untuk peningkatan proses
pembelajaran adalah penggunaan media secara efektif mempertinggi kualitas yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar.
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas yang dilaksakannya. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar karena memang siswalah subyek utama dalam proses pembelajaran. Guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan perlu dibantu dengan media pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif. Hal ini disebabkan karena pekerjaan guru adalah pekerjaan professional yang membutuhkan kemampuan dan kewenangan. Kemampuan guru dalam menjalankan perannya sebagai pengajar, administrator dan pembina ilmu dapat dilihat dari sejauh manakah guru dapat menguasai metodologi media pendidikan di sekolah untuk kepentingan anak didiknya.
Untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam memberikan materi pembelajaran. Khususnya bagi guru pendidikan agama islam, dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih menunjukkan kekurangan dan keterbatasan. Terutama dalam kualitas proses belajar mengajar yang dikembangkannya yang selanjutnya berakibat langsung kepada rendah dan tidak meratanya kualitas hasil yang dicapai oleh para siswa. Kondisi semacam ini akan terus terjadi selama guru pendidikan agama islam masih menganggap bahwa dirinya merupakan sumber belajar bagi siswa dan mengabaikan peran media pembelajaran.
Sebagai guru pendidikan agama islam tampaknya dalam mempengaruhi siswa untuk dapat mempelajari dan memahami ajaran agama islam sesuai dengan kemampuan nalar manusia terhadap wahyu Allah dan Rasul-Nya perlu dibantu dengan media pembelajaran. Cara-cara mengajarkan materi pendidikan agama islam secara tradisional dengan menitikberatkan pada metode ceramah tampaknya tidak memadai lagi, sebab para siswa telah mulai kritis. Gulo menyatakan bahwa, “metode ceramah murni hanya efektif untuk sekitar 15 menit yang pertama untuk
selanjutnya daya serap siswa terhadap ceramah mulai menurun”. 3 Berdasarkan pendapat tersebut, untuk melibatkan sebanyak mungkin alat indra siswa dalam proses belajar mengajar maka metode ceramah perlu divariasikan dengan media. Pemanfaatan media dalam proses belajar mengajar dimungkinkan dapat membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya, dan memahami materi, serta mendapatkan hasil belajar yang optimal.
Dengan melihat fenomena para pelaku pendidikan yang berada di lingkungan pendidikan, di sekolah-sekolah dasar, dan yang berada di wilayah pedesaan, dalam mengemban tugas sehari-hari, selaku pendidik masih banyak melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan gaya-gaya atau model mengajar tradisional seperti “saya bicara, kalian mendengarkan” guru menerangkan, anak atau siswa disuruh diam, padahal diamnya anak belum tentu mereka senang dan paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena alat-alat yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi sudah sedemikian majunya, tidaklah pada tempatnya lagi jika penyampaian pesan-pesan pendidikan masih secara verbalitas atau dengan kata-kata belaka. Pendidikan harus sejalan dengan kemajuan cara manusia menggunakan semua alat yang ada untuk proses pembelajaran di sekolah menjadi efektif.
Menurut paham konstruktivistik, belajar merupakan hasil Konstruksi sendiri (pebelajar) sebagai hasil interaksinya terhadap lingkungan belajar. Pengkonstruksian pemahaman dalam ivent belajar dapat melalui proses asimilasi atau akomodasi. Berdasarkan paradigma konstruktivisme tentang belajar tersebut, maka prinsip media (mediated instruction) menempati posisi cukup strategis dalam rangka mewujudkan ivent belajar secara optimal. Ivent belajar yang optimal merupakan salah satu indikator untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik yang optimal pula. Hasil belajar yang optimal juga merupakan salah satu cerminan hasil pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas memerlukan sumber daya guru yang mampu dan siap berperan secara profesional dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.4
3
Gulo.W, Strategi Belajar Mengajar,(Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002) hlm.142.
4
Santyasa, Landasan Konseptual Media Pembelajaran, (Bandung: Universitas Pendidikan Ganesha, 2007), hlm2.
Dalam era perkembangan IPTEK yang begitu pesat dewasa ini, berdasarkan paham konstruktivistik di atas, profesionalisme guru tidak cukup hanya dengan kemampuan membelajarkan siswa, tetapi juga harus mampu mengelola informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa. Konsep lingkungan meliputi tempat belajar, metode, media, sistem penilaian, serta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengemas pembelajaran dan mengatur bimbingan belajar sehingga memudahkan siswa belajar.
Menurut Santyasa, “dampak perkembangan IPTEK terhadap proses pembelajaran adalah diperkayanya sumber dan media pembelajaran, seperti buku teks, modul, over head transparansi, film, video, televisi, slide, hypertext, web, dan sebagainya”.5 Berdasarkan pendapat tersebut, guru profesional dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang ada di sekitarnya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Efektifitas Penggunaan Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Materi Wudhu Bagi Siswa Kelas II SD Negeri Kasepuhan 05 Batang Tahun Pelajaran 2010/2011”
B. Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang timbul dari topik kajian maka pembatasan masalah perlu dilakukan guna memperoleh kedalaman kajian dan menghindari perluasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam hal ini adalah:
1. Prestasi belajar siswa dalam penelitian ini adalah hasil yang optimal yang berupa skor tes prestasi belajar pada kegiatan belajar siswa setelah menerima pengalaman belajar pada materi wudhu.
5
2. Media pembelajaran dalam penelitian ini adalah poster dan video yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi wudhu kelas II di SD Negeri Kasepuhan 05 Batang tahun pelajaran 2010/2011.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1. Apakah rataan nilai mata pelajaran pendidikan agama islam siswa kelas II SD Negeri Kasepuhan 05 Batang 75?
2. Apakah model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran menghasilkan prestasi belajar pendidikan agama islam yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi wudhu?
3. Apakah model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional pada materi wudhu?
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilaksanakan diharapkan bermanfaat antara lain: 1. Bagi guru Pendidikan Agama Islam supaya dapat mengefektifkan media
pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran.
2. Bagi peneliti dapat menambah wawasan tentang ketepatan penggunaan media pembelajaran.
3. Bagi siswa diharapkan dapat memperjelas dan mempermudah pemahaman terhadap materi wudhu.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Efektifitas
Dalam kamus bahasa Indonesia, efektifitas berasal dari kata dasar efektif, kata efektif mempunyai arti mempunyai efek, pengaruh atau akibat. Maka efektifitas bisa diartikan seberapa tingkat besar keberhasilan yang dapat diraih (dicapai) dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Menurut kamus ensiklopedia Indonesia1 “efektifitas" adalah menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan, dapat membuahkan hasil. Suatu usaha dikatakan efektif apabila usaha itu telah mencapai tujuannya.
Efektifitas merupakan pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan mengenai efektifitas adalah suatu usaha, sejauh mana usaha dalam pembelajaran dengan menggunakan alat bantu (media) dalam pencapaian suatu tujuan yang telah direncanakan. Sebagai tolak ukur dalam pembelajaran ini adalah kefahaman siswa dalam menerima materi pelajaran.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
1
Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gita Media Press, 2005) hlm.240.
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara hafal berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah alat yang digunakan untuk menyimpan dan menyampaikan informasi atau data. Selain itu media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima. Media yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.2
Pengertian media secara lebih luas dapat diartikan yaitu: manusia, benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa memungkinkan memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap.3 Dengan adanya media akan membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan ketrampilan yang mereka miliki serta membentuk sikap sebagai hasil belajar.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi yaitu: guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.4
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam pengertian lebih luas media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas.
2
Listiyono, Bahan Perkuliahan Media Pembelajaran PAI, (Semarang: Kementerian Agama IAIN Walisongo, 2010), hlm.2.
3
Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta:Ciputat Pers,
2002), hlm.127. 4
b. Tujuan Media Pembelajaran
Dalam penjelasannya Listiyono, menyebutkan bahwa tujuan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Mendorong motivasi belajar
2) Memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak 3) Mempertinggi daya serap atau retensi belajar.5
Sedangkan Hujair Sanaki menyebutkan bahwa tujuan media pembelajaran yaitu:
1) Mempermudah proses pembelajaran di kelas 2) Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
3) Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, dan 4) Membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran.6
Berdasarkan dua penjelasan tentang tujuan media pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan media pembelajaran antara lain: mendorong motivasi belajar, mempermudah proses pembelajaran dan mempertinggi retensi belajar, menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar, membantu konsentrasi pebelajar dalam proses pembelajaran. Tujuan media pembelajaran ini akan membantu proses pembelajaran yang terstruktur sehingga membantu guru sebagai fasilitator dan mempermudah pemahaman siswa.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran.
5
Listiyono, Op.Cit., hlm.3 6
Menurut Nana Sudjana, ada enam fungsi pokok media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, antara lain:
1) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2) Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh seorang guru.
3) Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan pelajaran.
4) Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik.
5) Diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disamapaikan oleh guru.
6) Penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.7
Pengembangan media pembelajaran hendaknya diupayakan untuk memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan berusaha menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran. Secara rinci, fungsi media dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain, siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang benda/peristiwa sejarah.
2) Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh, berbahaya, atau terlarang. Misalnya, video tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan sebagainya.
3) Memperoleh gambaran yang jelas tentang benda atau hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan paket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan kompleks pembangkit listrik, dengan slide dan film siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba, dan sebagainya.
4) Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya, rekaman suara denyut jantung dan sebagainya.
7
Nana Sudjana, dan Ahmad Rival, Media Pengajaran, (Bandung: CV. Sinar, 1998), hlm.99-100
5) Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau berbahaya untuk didekati. Dengan slide, film, atau video siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus.
6) Dengan mudah membandingkan sesuatu. Dengan bantuan gambar, model atau foto siswa dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat ukuran, warna, dan sebagainya.
7) Mengamati gerakan-gerakan mesin atau alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film atau video dapat dengan mudah siswa mengamati jalannya mesin 4 tak, 2 tak,dan sebagainya.
8) Melihat bagian-bagian yang tersembunyi dari sutau alat. Dengan diagram, bagan, model, siswa dapat mengamati bagian mesin yang sukar diamati secara langsung.
9) Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pengajaran berprogram, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan kecepatan masing-masing.8
Berdasarkan fungsi media dalam proses pembelajaran yang telah dijelaskan di atas, secara umum fungsi media dalam proses pembelajaran antara lain: media sebagai alat bantu untuk mewujudkan suasana belajar yang efektif, media sebagai sarana untuk mengamati benda atau memperoleh gambaran yang jelas dari benda yang sukar diamati, media pengajaran bukan sebagai alat hiburan akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing, diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disamapaikan oleh guru, penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.
d. Manfaat Media Pembelajaran
Dalam penjelasan Listiyono, manfaat atau nilai praktis dari media yaitu: 1) Memvisualkan yang abstrak (animasi peredaran darah)
2) Membawa objek yang sukar didapat (binatang buas/berbahaya) 3) Membawa objek terlalu besar (gunung,pasar)
4) Menampilkan objek yang tidak dapat diamati oleh mata (mikroorganisme)
8
5) Mengamati gerakan terlalu cepat (jalannya peluru) 6) Memungkinkan berinteraksi dengan lingkungannya 7) Memungkinkan keseragaman pengalaman
8) Mengurangi resiko apabila objek berbahaya
9) Menyajikan informasi yang konsisten dan diulang sesuai dengan kebutuhan
10) Membangkitkan motivasi belajar
11) Dapat disajikan dengan menarik dan variatif 12) Mengontrol arah maupun kecepatan peserta didik
13) Menyajikan informasi belajar secara serempak dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
14) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.9
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rival, manfaat media pembelajaran yaitu:
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memamerkan dan lain-lain.10
Berdasarkan uraian manfaat media pembelajaran di atas dapat disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran sebagai berikut: pertama, media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Kedua, media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri. Ketiga, media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan
9
Listiyono, Op.Cit., hlm.3. 10
waktu. Keempat, media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat dan lingkungannya misalnya dengan karya wisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
e. Pola Media Pembelajaran
Menurut Omar Hamalik menyebutkan beberapa pola media pembelajaran, yaitu:
1) Bahan-bahan cetakan atau bacaan (supplementary materials). Berupa bahan bacaan seperti: buku, komik, koran, majalah, bulletin, folder, periodical (berkala) pamlet, dan lain-lain. Bahan-bahan ini lebih mengutamakan kegiatan membaca atau penggunaan simbol-simbol kata dan visual.
2) Alat-alat audio-visual, alat-alat yang tergolong ke dalam katagori ini terdiri atas:
a) Media tanpa proyeksi seperti papan tulis, papan tempel, papan panel, bagan, diagram, grafik, poster, kartun, komik, gambar. b) Media tiga dimensi. Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori
ini terdiri dari model, benda asli. Contoh, benda tiruan, diaroma, boneka topeng, peta, globe, pameran dan museum sekolah.
c) Media yang menggunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini antara lai, slide dan film strip, film rekaman, radio, televise, laboratorium elektronik, perkakas otoinstruktif, ruang kelas otomatis, sistem interkomunikasi dan komputer.
3) Sumber-sumber masyarakat. Berupa obyek-obyek peninggalan sejarah, dokumentasi, bahan-bahan, masalah dan sebagainya. Dari berbagai bidang meliputi daerah, penduduk, sejarah, jenis kehidupan, mata pencaharian, industri, perbankan, pemerintahan, kebudayaan dan politik dan lain-lain. Untuk mempelajari hal tersebut diperlukan metode, yakni karyawisata, manusia sumber, survei, berkemah, pengambilan sosial, kerja pengalaman dan lain-lain.
4) Kumpulan benda-benda (material collections). Berupa benda-benda atau barang-barang yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, seperti potongan kaca, potongan sendok, daun, benih, bibit, bahan kimia dan lain-lain.
5) Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru. Meliputi semua contoh kelakuan yang dipertunjukkan oleh guru sewaktu mengajar, misalnya dengan tangan, dengan kaki, gerakan badan, mimik dan lain-lain. Peragaan yang tergolong ke dalam kategori ini tak mungkin kita sebutkan satu persatu karena sangat banyak macamnya dan sangat
tergantung kepada kreasi dan inisiatif pribadi guru sendiri, tetapi pada pokoknya jenis media ini hanya dapat dilihat, didengar, dan ditiru oleh siswa.11
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola media pembelajaran antara lain: bahan-bahan cetakan atau bacaan, alat-alat audio visual, obyek-obyek peninggalan sejarah, material collections, dan contoh perilaku.
f. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Dalam penjelasan Listiyono perlunya pemilihan media antara lain : 1) Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan. 2) Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. 3) Dipilih dan digunakan dengan benar.
4) Tidak satupun media dapat mencapai belajar.
Sedangkan kriteria pemilihan media pembelajaran ada tujuh faktor yaitu:
1) Tujuan
a) Penggunaan media (instruksional, informasi, hiburan) b) Kategori pembelajaran yang ingin dicapai:
(1) Kognitif : berdasarkan pengetahuan faktual yang empiris (pengalaman).
(2) Afektif : melibatkan perasaan dan emosi. (3) Psikomotor : hubungan dengan aktivitas fisik. 2) Sasaran (karakter, jumlah, latarbelakang, motivasi). 3) Waktu (pembuatan, penyajian).
4) Ketersediaan (pengembangan, peralatan). 5) Biaya.
6) Karakteristik media (kelebihan dan kelemahan). 7) Mutu teknis (visual, audio).12
Adapun prosedur pemilihan media pembelajaran antara lain : 1) Kegunaan materi
2) Kemenarikan
3) Mengena langsung dengan tujuan khusus
11
Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1987), hlm.36-37.
12
4) Format sajian
5) Mutakhir atau keotentikan materi 6) Konsep fakta terjamin kecermatannya 7) Memenuhi standar selera
8) Keseimbangan kotroversial 9) Tidak mengandung propaganda
10) Standar kualitas (gambar, narasi, efek, warna, dan sebagainya) 11) Struktur materi direncana dengan baik
12) Proses uji coba atau validasi (tingakat keberhasilan).13
Berdasarkan penjelasan kriteria pemilihan media pembelajaran di atas dapat disimpulkan kriteria pemilihan media pembelajaran antara lain: pertama, media pembelajaran dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Kedua, pertimbangan waktu, ketersedian dan biaya. ketiga, media pembelajaran dipilih dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangannya, serta mutu teknis (audio, visual). Seorang guru harus memperhatikan kriteria pemilihan media pembelajaran ketika akan menggunakan suatu media dalam proses pembelajaran. Dengan kriteria pemilihan media yang tepat, akan membantu guru dan siswa ketika proses pembelajaran.
g. Klasifikasi Media Pembelajaran
Media pembelajaran apabila dilihat dari sudut pandang yang luas, tidak hanya terbatas pada alat-alat audio, visual, audio-visual saja. Melainkan sampai pada kondisi pribadi pebelajar dan tingkah laku pengajar. Media pembelajaran diklasifikasi berdasarkan tujuan pemakaian dan karakteristik jenis media. Terdapat lima model klasifikasi, yaitu menurut:
1) Wilbur Schramm, 2) Gagne,
3) Allen,
4) Gerlach dan Ely, dan 5) Ibrahim.
13
Menurut Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu:
1) Liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan faxemile.
2) Liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape.
3) Media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan komputer dan telpon.14
Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar. Sedangkan menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi. Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi, media tanpa proyeksi tiga dimensi, media audio, media proyeksi, televisi, video, komputer.15
Berdasarkan klasifikasi media pembelajaran menurut Gagne, dari ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh prilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.
Sedangkan klasifikasi media menurut Alen, mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dari penjelasan Allen terlihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain, dan dapat disimpulkan terdapat enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap.
14
Santyasa, Op.Cit., hlm.8. 15
Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar yaitu: tinggi, sedang, dan rendah.
Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran tersebut, akan mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan karakteristik pebelajar, akan sangat menunjang efisiensi dan efektivitas proses dan hasil pembelajaran.
h. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Beberapa jenis media yang sering digunakan, yaitu: 1) Media cetak
Media cetak adalah jenis media yang paling banyak digunakan dalam proses belajar. Jenis media ini memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari buku, brosur, leaflet, studi guide, jurnal dan majalah ilmiah. Buku adalah media yang bersifat fleksibel dan biaya pengadaannya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pengadaan media lain. Penggunaan media cetak dalam proses pembelajaran dapat dikombinasikan sebagai informasi utama atau bahkan suplemen informasi terhadap penggunaan media lain.
2) Media pameran
Jenis media yang memiliki bentuk dua atau tiga dimensi. Informasi yang dapat dipamerkan dalam media ini, berupa benda-benda sesungguhnya (realia) atau benda reproduksi atau tiruan dari benda-benda asli. Media yang dapat diklasifikasikan ke dalam jenis media pameran yaitu poster, grafis (graphic materials), realia (benda nyata yang dapat dihadirkan di ruang kuliah untuk keperluan proses pembelajaran), dan model (benda tiruan yang digunakan untuk mempresentasikan realitas).16
3) Media yang diproyeksikan, media yang diproyeksikan juga memiliki bentuk fisik yang bervariasi, yaitu over head transparansi, slide suara, dan
16
film strip. Over head transparansi dapat dianggap sebagai projected medium (media yang diproyeksikan) yang paling banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Sampai saat ini media slide suara, dan film strip sudah tidak digunakan lagi untuk keperluan pembelajaran.
4) Rekaman radio
Rekaman radio adalah jenis medium yang sangat tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa asing, al-Qur’an dan latihan-latihan yang bersifat verbal. Pembelajaran tentang cara pengucapan (pronounciation) dan ketrampilan mendengar (listening skill) akan sangat efektif jika menggunakan media ini. Media audio yang disiarkan sebagai program radio telah lama digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran pada beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di seluruh dunia.
5) Video dan VCD
Gambar bergerak yang disertai dengan unsur suara dapat ditayangkan melalui media video dan video compact disk (VCD). Sama seperti media audio, program video yang disiarkan (broadcasted) sering digunakan oleh lembaga pendidikan jarak jauh sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran. Video dan televisi mampu menayangkan proses pembelajaran secara realistik.
Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dapat digunakan sebagai alternatif pemilihan media pembelajaran pendidikan agama islam yang cukup mudah dilaksanakan. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
6) Komputer
Komputer bukan lagi sesuatu yang baru, karena komputer telah banyak digunakan baik oleh pengajar, pembelajar, perkantoran, lembaga-lembaga latihan kerja, warnet, maupun masyarakat pada umumnya. Sebagai media
pembelajaran, komputer mampu membuat proses belajar menjadi interaktif.
Pada penelitian ini jenis media yang digunakan yaitu video dan komputer, karena video mampu menayangkan materi pembelajaran dengan harapan siswa dapat melihat, mendengarkan, dan memahami materi serta dapat mempraktekkan wudhu sesuai dengan konsep materi yang diajarkan. Selain itu pemanfaatan komputer bukan hal yang asing bagi siswa. Dengan perkembangan teknologi mutakhir, siswa diarahkan membangun pengetahuannya melalui pemanfaatan media berupa komputer.
3. Prestasi
Pada akhir proses pembelajaran, siswa selalu dituntut untuk memberikan prestasi-prestasi tertentu yang menampakkan hasil belajar secara nyata dan relevan tehadap kompetensi dasar. Sehingga prestasi diperlukan untuk mengetahui apakah kompetensi dasar tersebut telah tercapai.
Ada beberapa pendapat tentang pengertian prestasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata prestasi mempunyai arti bahwa “prestasi” adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).17 Sedangkan Zainal Arifin18 mengemukakan bahwa “prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal”.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah bukti nyata atau hasil yang telah dicapai dari kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
4. Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok pada proses pendidikan di sekolah. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
17
Tim Prima Pena, Op. Cit., hlm.626. 18
banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Cronbach memberikan definisi: “Learning is shown by a change in behaviour as a result of experience” (belajar adalah menunjukkan perubahan pada tingkah laku sebagai hasil pengalaman ).
2) Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe, to read, to imitate to try something themselves, to listen, follow direction” ( belajar adalah mengamati, membaca, mengimajinasikan berusaha melakukan sesuatu, mendengarkan, mengikuti perintah).
3) Geoch mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice” (belajar adalah mengubah tingkah laku sebagai hasil dari latihan).19
Dari ketiga definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Menurut Sardiman, belajar akan lebih baik kalau pebelajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.20 Dari pendapat sardiman tersebut ketika pembelajaran siswa berperan aktif, mengalami, dan melakukan, serta mengkonstruksi pengetahuanya sendiri, peran serta guru hanya sebagai fasilitator dan mediator bagi siswa.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.21 Jadi belajar lebih menekankan pada perubahan tingkah-laku seseorang dalam belajar sebagai hasil pengalaman dan latihan.
Belajar juga boleh dikatakan sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta,
19
Sardiman.A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo,
2001), hlm.20. 20
Ibid.,hlm.20. 21
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta:Rieneka Karya, .1995), hlm.5.
konsep atau pun teori. Proses interaksi itu sendiri meliputi dua hal, yaitu: proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri pebelajar, dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan.
Proses internalisasi dan keaktifan pebelajar dengan segenap panca indera perlu ada pengembangannya yakni melalui proses yang disebut dengan sosialisasi yaitu menginteraksikan atau menularkan ke pihak lain. Dalam proses sosialisasi, karena berinteraksi dengan pihak lain tentu akan melahirkan suatu pengalaman. Dari pengalaman satu ke pengalaman lain inilah yang nantinya akan menyebabkan perubahan pada diri seseorang. Proses belajar yang terjadi merupakan proses aktif dimana individu menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Proses belajar bukan semata-mata terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon tetapi lebih merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Proses belajar yang terjadi bercirikan antara lain sebagai berikut:
1) Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh pebelajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
2) Konstruksi arti itu adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
4) Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu seseorang dalam keraguan.
5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pebelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.22
Jadi, setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja melainkan harus dibangun oleh individu itu sendiri melalui interaksi dengan obyek, pengalaman dan
22
Paul Suparno, Filsafat Kontruktivisme Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm.61.
lingkungan mereka. Dengan demikian setiap pebelajar harus aktif mengkonstruksi, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci dan lengkap.
Dalam arti luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.23
Dalam belajar akan menghasilkan suatu perubahan, tetapi tidak berlaku sebaliknya, karena perubahan yang terjadi dalam diri manusia banyak sekali jenisnya dan tidak setiap perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan dan pertumbuhan tidak termasuk dalam pengertian belajar.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku di dalam proses belajar adalah sebagai berikut:
1) Perubahan yang terjadi secara sadar
Ini berarti bahwa individu dalam belajar, akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang tejadi dalam diri individu berlangsung terus-menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi menyebabkan perubahan berikutnya dan berguna dalam proses belajar berikutnya.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Perubahan ini bersifat aktif artinya bahwa perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya dan perubahan tersebut bertujuan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.
4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang bersifat sementara terjadi hanya untuk beberapa saat saja, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar. 5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan berarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi
23
perubahan keseluruhan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, ketrampilan, pengetahuan dan sebagainya.24
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang baru dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
5. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Untuk membahas pengertian pendidikan agama islam, kita perlu mengerti tentang pengertian pendidikan. Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhnnya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat.25 Pengertian pendidikan agama islam terdapat beberapa pendapat para ahli diantaranya sebagai berikut:
1) Pendidikan agama islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik atau murid agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam serta menjadikannya sebagai way of live (jalan kehidupan).26
2) Dalam kurikulum PAI , menyebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlaq mulia dalam mengamalkan agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadist. Melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam
24
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rineka Karya, 2002), hlm.15-16. 25
Ngalim Purwanto, Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), hlm.10.
26
Abd.Rachman Saleh, Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Petunjuk
hubungannya dengan kerukunan antar umat dalam masyarakat sehingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
3) Menurut Zakiyah Drajat,
“pendidikan agama islam adalah pendidikan melalui ajaran-ajaran islam yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama islam sebagai pandangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.”27
4) Tayar Yusuf dalam buku Abdul Majid mengartikan “agama islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalirkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah SWT”.28
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diartikan bahwa agam islam merupakan agama yang diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda agar menjadi manusia bertakwa kepada Allah SWT.
5) Pengertian lain “pendidikan agama islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik supaya mereka hidup dengan ajaran islam”.29
Dengan memperhatikan beberapa pengertian Pendidikan Agama Islamtersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar dan terencana dari seseorang pendidik dalam menyiapkanpeserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlaq mulia sehingga dapat mengamalkan ajaran Islam dalam perilaku kehidupan sehari-hari, juga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berdasar utamanya kitab Al Qur’an dan Al Hadits melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan serta pengalaman-pengalamannya.
27
Zakiah Drajat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm.86. 28
Abdul Majid dan Dian Andayani., Op.Cit., hlm.130. 29
Zuhairini, dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Usaha nasional, 1983), hlm.27.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, bangsa dan Negara.30
Tujuan pendidikan agama islam adalah :
1) Agar anak didik dapat memahami ajaran agama islam secara elementer (sederhana) dan bersifat menyeluruh sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup dan amal perbuatannya, baik dalam hubungan dirinya dengan Allah SWT, hubungan dirinya dengan masyarakat maupun hubungan dirinya dengan alam sekitar.
2) Membentuk pribadi yang berakhlak mulia.31
Dalam kurikulum PAI tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.32
Dengan memperhatikan dua pengertian tujuan Pendidikan Agama Islam dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Pendidikan Agama Islam khususnya Pendidikan Agama Islam di SD adalah agar anak didik dapat memahami ajaran agama Islam secara sederhana dalam rangka untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pembinaan dan pemupukan berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dapat berkembang dalam hal keimanannya serta berakhlak mulia, selanjutnya dapat tercerminkan dalam bentuk tingkah laku kepribadiannya.
30
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm.78.
31
Abd.Racman Saleh, Op.Cit., hlm.13. 32
Kementerian Pendidikan Nasional, Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar dan
c. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Fungsi Pendidikan Agama Islam menurut Abdul Majid dan Dian Andayani, antara lain:
1) Pengembangan yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya yang pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga.
2) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
3) Penyesuaian mental yaitu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam. 4) Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata), sistem dan fungsionalnya.
7) Penyaluran yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.33
Pendapat lain dikemukakan oleh Abd.Rachman Shaleh bahwa fungsi pendidikan agama islam adalah:
1) Menumbuhkan habit forming (pembentukan kebiasaan) dalam melakukan amal ibadah serta akhlak yang mulia.
2) Mendorong tumbuhnya iman yang kuat.
3) Mendorong tumbuhnya semangat untuk mengelola alam sekitar sebagai anugerah Allah SWT kepada manusia.34
Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan agama islam adalah menyalurkan bakat-bakat peserta didik
33
Abdul Majid dan Dian Andayani, Op.Cit., hlm.134. 34
yang telah dimiliki khususnya pendidikan agama islam sehingga bakat tersebut dapat berkembang secara optimal dan dapat diwujudkan dalam perilakunya, sehingga dapat memperkuat iman dan memiliki akhlaq yang mulia.
d. Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah mempunyai dasar-dasar yang kuat, ditinjau dari berbagai segi, yaitu:
1) Dasar Yuridis atau Hukum
Dasar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah secara formal. Dasar yuridis formal tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu:
a) Dasar ideal, yaitu dasar falsafal negara pancasila, sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
b) Dasar struktural atau konstitusional, yaitu UUD’45 dalam Bab XI pasal 29 ayat 1dan 2 yang berbunyi:
(1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.
2) Segi Religius
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar yang bersumber dari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam, pendidikan agama adalah perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah Kepada-Nya. Dalam Al Qur’an banyak ayat yang menunjukkan perintah tersebut, antara lain:
a) Q.S. Al Ashr: 3: ÎAāωÎ) tÏ%©!$# (#θãΖtΒ#u (#θè=Ïϑtãuρ ÏM≈ysÎ=≈¢Á9$# (#öθ|¹#uθs?uρ Èd,ysø9$$Î/ (#öθ|¹#uθs?uρ Îö9¢Á9$$Î/ ∩⊂∪
“orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”(Q.S.Al-Ashr/103:3) b) Q.S. Al Imron: 104: ä3tFø9uρ öΝä3ΨÏiΒ ×π¨Βé& tβθããô‰tƒ ’n<Î) Îösƒø:$# tβρããΒù'tƒuρ Å∃ρã÷èpRùQ$$Î/ tβöθyγ÷Ζtƒuρ Çtã Ìs3Ψßϑø9$# 4 ... ∩⊇⊃⊆∪
“dan hendaklah diantara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar…. ” (Q.S.Al-Imron/3:104) 3) Aspek Psikologis
Psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa dalam hidupnya, manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pasangan hidup. Manusia membutuhkan adanya pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya zat Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung dan tempat mereka memohon pertolongan-Nya. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitif maupun masyarakat modern. Mereka merasa tenang dan tentram kalau mereka dapat mendekat dan mengabdi kepada zat Yang Maha kuasa.35
Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Ro’du ayat 28 yaitu:
...
3 Ÿωr& Ìò2É‹Î/ «!$# ’È⌡yϑôÜs? Ü>θè=à)ø9$# ∩⊄∇∪“...ingatlah, hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Q.S.Ar-Ro’du/13:28)
6. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam merupakan hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang dicapai siswa dalam proses belajar atau tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agam Islam yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru.
7. Efektifitas Penggunaan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
35
Berdasarkan pengertian efektifitas, media pembelajaran, dan pendidikan agam islam, dapat disimpulkan bahwa efektifitas penggunaan media pembelajaran pendidikan agama islam adalah suatu usaha pembelajaran pada materi pendidikan agama islam dengan menggunakan alat bantu (media) baik yang berupa alat yang dapat diperagakan maupun tehnik atau metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dan tidak bertentangan dengan agama islam. Sebagai tolak ukur dalam pembelajaran ini adalah kepahaman siswa dalam menerima materi wudhu.
Dengan memperhatikan pengertian media pembelajaran pendidikan agama islam di atas, dapat ditarik kesimpulan antara lain:
a. Penggunaan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama serta tindakan atau perbuatan Rasulullah SAW.
b. Pemilihan media pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran pendidikan agama islam itu sendiri, materi pembelajaran yang akan disampaikan, ketersediaan alat, minat dan kemampuan siswa dan situasi pembelajaran yang akan berlangsung.
8. Materi Wudhu a. Pengertian Wudhu
Wudhu dalam buku-buku fiqih termasuk ke dalam thahara’hukmiyya’ (bersuci dari hadats, seperti keluar mani, kentut dsb), yaitu kebersihan diri dari sesuatu yang dihukumi sebagai najis, yang disebut dengan istilah hadas.36 Dari pengertian wudhu tersebut dapat disimpulkan bahwa wudhu adalah membasuh sebagian anggota badan tertentu dan dengan cara-cara tertentu pula. Tujuan kita berwudhu adalah untuk menghilangkan hadas kecil. Berwudhu diwajibkan bagi orang yang akan melakukan salat dan
36
Ahmad Rofi’i, Pembelajaran Fiqih (Jakarta : Direktorat Jendral pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, 2009), hlm.61.
disunahkan bagi orang yang akan membaca Al-qu’an dan akan melakukan apa saja yang baik, disunahkan juga untuk berwudhu. Berwudhu harus menggunakan air yang bersih, suci dan mensucikan seperti:
1) Air hujan 2) Air laut 3) Air sumur 4) Air dari mata air 5) Air lereng 6) Air embun.
Dari beberapa jenis air yang dapat digunakan untuk berwudhu di atas, dapat disimpulkan bahwa berwudhu dapat menggunakan jenis air apapun dengan ketentuan air tersebut bersih, suci dan mensucikan.
b. Rukun Wudhu dan Syarat Wudhu
Rukun wudhu antara lain : 1) Niat wudhu
2) Membasuh muka 3x
3) Membasuh tangan sampai siku 3 x (dahulukan yang kanan) 4) Mengusap sebagian kepala atau rambut 3 x
5) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki 3 x (dahulukan yang kanan) 6) Tertip atau berurutan.
Sedangkan syarat-syarat wudhu antara lain: 1) Islam.
2) Tamyiz, yakin dapat membedakan baik buruknya sesuatu pekerjaan. 3) Tidak berhadas besar.
4) Dengan air suci lagi mensucikan.
5) Tidak ada sesuatu yang menghalangi air sampai ke anggota wudhu, misalnya getah, cat dan sebagainya.
6) Mengetahui mana yang wajib (fardlu) dan mana yang sunah.37
Berdasarkan rukun wudhu di atas, rukun wudhu dilakukan pertama dengan niat kemudian membasuh muka, membasuh tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala atau rambut, membasuh kedua kaki sampai mata kaki, dan tertib. Semua gerakan wudhu dilakukan mula-mula dari anggota badan sebelah kanan, dan dilakukan sebanyak tiga kali untuk
37
masing-masing gerakan, serta untuk kesempurnaan dari rukun wudhu hendaknya melakukan wudhu dengan tertib atau berurutan.
Berdasarkan syarat-syarat wudhu di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika berwudu seseorang harus memenuhi syarat dari sahnya wudhu. Syarat yang paling utama yaitu islam, kemudian orang tersebut berakal, tidak berhadas besar, berwudhu dengan air suci lagi mensucikan, tidak ada sesuatu yang menghalangi air sampai ke anggota wudhu, dan mengetahui mana yang wajib (fardlu) dan mana yang sunah.
c. Sunah-sunah wudhu
Sunah dalam wudhu yaitu:
1) Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) pada permulaan berwudhu
2) Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan. 3) Berkumur-kumur.
4) Membasuh lubang hidung sebelum berniat. 5) Menyapu seluruh kepala dengan air.
6) Mendahulukan anggota kanan dari pada kiri. 7) Menyapu kedua telinga luar dan dalam. 8) Meniga kalikan membasuh.
9) Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki. 10) Membaca do’a sesudah wudhu.38
d. Hal-hal yang membatalkan Wudhu hal-hal yang membatalkan wudhu yaitu:
1) Keluar sesuatu dari dua pintu atau salah satunya kubul atau dubur 2) Hilang akal, baik karena mabuk atau gila pingsan karena minuom
obat sedikit atau banyak tidak ada bedanya
3) Bersentuh antara kulit laki-laki dengan kulit perempuan.
4) Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan, baik kemaluan sendiri atau kemaluan orang lain. 39
9. Penelitian Yang Relevan
Dari penelusuran yang dilakukan terhadap hasil-hasil kajian yang telah ada, nampaknya penelitian ini bukan pertama kali dilakukan, tetapi telah
38
Ibid.hlm.61. 39
Ali Hasan dan Syafi’i, Pendidikan Pengalaman Ibadah, (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 1998),hlm.17.