SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi

124 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh : Tyas Ayu Puspita

038114132

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2007

(2)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh : Tyas Ayu Puspita

038114132

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2007

(3)

NATRIUM BIKARBONAT SEBAGAI EKSIPIEN DALAM PEMBUATAN GRANUL EFFERVESCENT EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK

(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SECARA GRANULASI BASAH DENGAN METODE DESAIN FAKTORIAL

Yang diajukan oleh : Tyas Ayu Puspita

038114132

Telah disetujui oleh

Pembimbing

Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. Tanggal ...

(4)

GRANUL EFFERVESCENT EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SECARA GRANULASI BASAH

DENGAN METODE DESAIN FAKTORIAL Oleh :

Tyas Ayu Puspita NIM : 038114132

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma pada tanggal : 17 Februari 2007

Mengetahui

Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma

Dekan

Rita Suhadi, M.Si., Apt. Pembimbing:

(Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt.)

Panitia Penguji:

1. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. ...

2. Rini Dwi Astuti, S.Farm., Apt. ...

3. Christine Patramurti, M.Si, Apt. ...

(5)

Kupersembahkan karya ini untuk:

Tuhan Yesus

yang selalu menyertaiku

Bapak dan Mama yang tak henti

mendukung setiap langkah hidupku

De’ Nares dan Danu

yang selalu menyayangiku

Seseorang yang

selalu ada menemaniku

Teman dan Sahabat yang

mewarnai hidupku

Almamaterku

Pengetahuan yang sejati adalah...

Ketika itu didasarkan pada takut akan Tuhan..

Ketika itu dapat membawa kemuliaan bagi DIA..

Ketika itu dapat berguna untuk memulihkan dunia..

Ketika itu dapat berguna untuk menolong sesama..

Segala pengetahuan di bumi suatu saat akan berlalu

Namun satu hal yang pasti

Selagi hal itu ada, ku tak kan henti tuk

mengusahakannya

Supaya lewat pengetahuan yang ada padaku

Dunia boleh melihat kebesaran-Nya

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi

kekuatan kepadaku

Filipi 4 : 13

(6)

sehingga skripsi berjudul Optimasi Campuran Natrium sitrat–Asam Fumarat dan Natrium Bikarbonat Sebagai Eksipien Dalam Pembuatan Granul Effervescent Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Secara Granulasi Basah Dengan Metode Desain Faktorial dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.), Program Studi Ilmu Farmasi.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, khususnya kepada:

1. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., Selaku dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing dan penguji yang telah banyak membantu dan mendampingi dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir.

3. Ibu Rini Dwi Astuti, S.Farm., Apt., selaku dosen penguji yang telah banyak memberi masukan, kritik, dan saran sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna.

4. Ibu Christine Patramurti, M.Si, Apt., selaku dosen penguji yang telah banyak memberi masukan, kritik, dan saran sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna.

(7)

6. Dr. Sudibyo Martono, M.S., selaku dosen yang telah membantu dalam penyediaan bahan berupa kurkumin baku sintesis.

7. Bapak Ign. Y. Kristio Budiasmoro, M.Si. dan Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., Apt. yang telah banyak membantu dan memberi masukan selama pengerjaan skripsi ini.

8. Made Dwi Rantiasih dan Lucia Esti Purwandari yang telah menjadi rekan sekerja dalam pengerjaan skripsi ini dari awal sampai akhir sekaligus sebagai teman dan sahabat yang selalu mendukung dan memberikan banyak masukan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

9. Para laboran: Bapak Musrifin, Bapak Iswandi, Mas Agung, Mas Otok, Mas Wagiran, Mas Sigit, dan Mas Andri, serta Bapak Kiran, laboran Laboratorium Galenika Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, yang telah banyak membantu dalam penyediaan sarana dan prasarana selama penelitian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan yang masih harus diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga skripsi ini menjadi lebih sempurna.

Penulis

(8)

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, ...

Penulis

Tyas Ayu Puspita

(9)

sebagai eksipien dalam granul effervescent ekstrak rimpang temulawak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek natrium sitrat–asam fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksinya yang dominan dalam menentukan sifat fisik granul

effervescent ekstrak rimpang temulawak. Sifat fisik granul effervescent yang diuji

meliputi kecepatan alir, waktu larut, dan kandungan lembab. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan area komposisi formula granul effervescent ekstrak rimpang temulawak yang optimum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni menggunakan desain faktorial dengan dua faktor dan dua level.

Hasil pengolahan data dengan desain faktorial menunjukkan hasil bahwa natrium bikarbonat merupakan faktor yang diprediksi dominan dalam menentukan kecepatan alir granul effervescent. Waktu larut granul effervescent diprediksi dominan dipengaruhi oleh faktor interaksi antara campuran asam dan natrium bikarbonat. Sedangkan campuran asam antara natrium sitrat dan asam fumarat diprediksi berpengaruh dominan dalam menentukan kandungan lembab granul

effervescent. Dari contour plot super imposed ditemukan area optimum kombinasi

campuran asam dan natrium bikarbonat dengan sifat fisik granul effervescent yang dikehendaki dalam pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

Kata kunci : natrium sitrat, asam fumarat, natrium bikarbonat, ekstrak rimpang temulawak, granul effervescent, desain faktorial.

(10)

effervescent of tumeric extract. The aims of this research were to observe which effect of sodium citrate–fumaric acid, sodium bicarbonate, or their interaction that was dominant in determining physical properties of effervescent granules of tumeric extract. They were effervescent granules’s flow rate, dissolution time, and moisture content. This research was also aimed to find out the optimum composition area of effervescent granules of tumeric extract. This research was pure experimental research using design factorial method with two factors and two levels.

The result of calculation data with design factorial shown that natrium bicarbonate was predicted as the dominant factor in determining effervescent granules’s flow rate. Dissolution time of effervescent granules predicted dominantly determined by interaction factor between acid combination and sodium bicarbonate. Acid combination between sodium citrate and fumaric acid was predicted dominantly determined effervescent granules’s moisture content. It was found out the optimum composition area from acid combination and sodium bicarbonate with desired physical properties in effervescent granules of tumeric extract.

Key words: sodium citrate, fumaric acid, sodium bicarbonate, tumeric extract, effervescent granules, factorial design.

(11)

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PRAKATA... vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... viii

INTISARI... ix

ABSTRACT... x

DAFTAR ISI... xi

DAFTAR TABEL... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN... xx BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 1. Permasalahan ... 3 2. Keaslian Penelitian... 4 3. Manfaat Penelitian ... 4 B. Tujuan Penelitian ... 5

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA... 6

A. Temulawak... 6

1. Nama tanaman... 6

(12)

B. Maserasi ... 8

C. Ekstrak ... 9

D. Kurkumin ... 10

E. Granul Effervescent... 11

F. Bahan-bahan Pembuatan Granul Effervescent ... 14

1. Sumber asam ... 14

2. Sumber karbonat ... 15

3. Bahan pengisi ... 15

4. Bahan pengikat... 15

G. Pemerian Bahan ... 16

1. Natrium sitrat anhidrat ... 16

2. Asam fumarat ... 16

3. Natrium bikarbonat ... 16

4. Laktosa ... 17

5. Aspartam ... 18

6. Polivinilpirolidon (PVP) ... 18

H. Sifat Fisik Granul ... 19

1. Sifat alir... 19

2. Kandungan lembab ... 19

3. Waktu larut... 19

(13)

L. Hipotesis... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 26

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 26

B. Variabel dan Definisi Variabel... 26

C. Definisi Operasional ... 27

D. Bahan Penelitian... 29

E. Alat Penelitian... 29

F. Skema Kerja Penelitian ... 30

G. Tata Cara Penelitian ... 31

1. Determinasi tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) ... 31

2. Pengumpulan dan penyiapan simplisia rimpang temulawak ... 31

3. Pembuatan serbuk rimpang temulawak ... 31

4. Pembuatan ekstrak rimpang temulawak ... 32

5. Uji standarisasi ekstrak rimpang temulawak... 32

6. Penentuan dosis ekstrak rimpang temulawak ... 35

7. Penentuan level rendah dan level tinggi natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat ... 35

8. Formulasi dan pembuatan granul effervescent... 37

9. Pencampuran bahan ... 37

10. Pembuatan granul effervescent... 37

(14)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Hasil Determinasi Simplisia Temulawak... 40

B. Penyiapan dan Pembuatan Serbuk Simplisia rimpang Temulawak... 40

C. Hasil Pembuatan Ekstrak Rimpang Temulawak... 42

D. Hasil Standarisasi Ekstrak Rimpang Temulawak ... 44

1. Pemeriksaan organoleptis ... 45

2. Uji daya lekat ... 45

3. Uji viskositas... 46

4. Uji kandungan lembab ... 46

5. Uji kualitatif menggunakan KLT densitometri ... 48

6. Uji kuantitatif menggunakan KLT densitometri ... 51

E. Formulasi dan Pembuatan Granul Effervescent ... 54

F. Uji Sifat Fisik Granul Effervescent ... 58

1. Kecepatan alir ... 59

2. Waktu larut... 62

3. Kandungan lembab ... 65

G. Optimasi Formula Granul Effervescent... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran... 74

(15)
(16)

untuk masing-masing formula granul effervescent ... 36

III. Formula granul effervescent ekstrak rimpang temulawak ... 37

IV. Hasil uji standarisasi ekstrak rimpang temulawak ... 44

V. Hasil pemeriksaan organoleptis ekstrak rimpang temulawak ... 45

VI. Nilai Rf dan warna bercak hasil KLT densitometri ... 51

VII. Hubungan kadar kurkumin baku dengan area kromatogram untuk pembuatan kurva baku ... 52

VIII. Hasil perolehan kembali dan koefisien variasi kurkumin ... 53

IX. Hasil uji sifat fisik granul effervescent... 59

X. Hasil perhitungan efek terhadap sifat fisik granul effervescent ... 59

XI. Hasil perhitungan perolehan kembali dan koefisien variasi kurkumin... 81

XII. Data uji viskositas ekstrak rimpang temulawak... 82

XIII. Data uji daya lekat ekstrak rimpang temulawak ... 83

XIV. Data uji kandungan lembab ekstrak rimpang temulawak ... 83

XV. Kadar kurkumin dalam sampel ... 84

XVI. Data uji kecepatan alir granul effervescent ... 91

XVII. Nilai respon kecepatan alir masing-masing formula... 91

XVIII. Nilai efek terhadap kecepatan alir granul effervescent ... 92

(17)

XXI. Nilai respon waktu larut masing-masing formula... 95

XXII. Nilai efek terhadap waktu larut granul effervescent... 95

XXIII. Nilai b grafik hubungan peningkatan level campuran asam dan natrium bikarbonat terhadap waktu larut... 96

XXIV. Data uji kandungan lembab granul effervescent ... 98

XXV. Nilai respon kandungan lembab masing-masing formula... 98

XXVI. Nilai efek terhadap kandungan lembab granul effervescent ... 99

XXVII. Nilai b grafik hubungan peningkatan level campuran asam dan natrium bikarbonat terhadap kandungan lembab ... 99

(18)

2. Skema kerja penelitian ... 30

3. Foto hasil KLT ekstrak rimpang temulawak dengan pendeteksi sinar UV 254 nm ... 49

4. Foto hasil KLT ekstrak rimpang temulawak dengan pendeteksi sinar UV 365 nm ... 50

5. Gugus kromofor dan auksokrom kurkumin ... 52

6. Kurva hubungan kadar kurkumin baku dengan area kromatogram untuk pembuatan kurva baku ... 53

7. Grafik hubungan pengaruh peningkatan level campuran asam dan natrium bikarbonat terhadap kecepatan alir granul effervescent ... 60

8. Grafik hubungan pengaruh peningkatan level campuran asam dan natrium bikarbonat terhadap waktu larut granul effervescent ... 64

9. Grafik hubungan pengaruh peningkatan level campuran asam dan natrium bikarbonat terhadap kandungan lembab granul effervescent ... 66

10. Contour plot kecepatan alir granul effervescent... 70

11. Contour plot waktu larut granul effervescent... 71

12. Contour plot kandungan lembab granul effervescent... 72

(19)

16. Kromatogram kurva baku ... 80

17. Foto ekstrak rimpang temulawak ... 82

18. Kromatogram sampel ... 85

19. Granul effervescent ekstrak rimpang temulawak ... 102

20. Contoh hasil larutan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak ... 102

(20)

3. Data perhitungan nilai recovery dan koefisien variasi... 81 4. Uji standarisasi ekstrak rimpang temulawak... 82 5. Penentuan dosis ekstrak rimpang temulawak ... 86 6. Perhitungan level natrium sitrat-asam fumarat dan natrium bikarbonat .... 87 7. Uji sifat fisik granul effervescent ekstrak rimpang temulawak ... 91 8. Surat pengesahan determinasi ... 103

(21)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan obat tradisional di masyarakat bukan merupakan hal yang baru. Obat tradisional mulai muncul dan berkembang sejak jaman nenek moyang. Obat tradisional merupakan potensi dalam perkembangan dunia kefarmasian khususnya di Indonesia, namun sampai saat ini penggunaan obat tradisional masih terbatas khususnya dalam bidang bentuk sediaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang formulasi obat mendorong pengembangan obat tradisional dalam hal bentuk sediaan. Pengembangan formulasi obat dari bahan alam dapat menghasilkan suatu bentuk sediaan obat yang aman, berkhasiat, dan mudah diterima oleh masyarakat.

Penelitian tentang pengembangan bentuk sediaan obat tradisional telah banyak dilakukan. Natalia (2006) telah melakukan penelitian tentang Optimasi Natrium Sitrat dan Asam Fumarat Dalam Pembuatan Granul Effervescent Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Secara Granulasi Basah. Dalam penelitian tersebut, dilakukan pengembangan formulasi ekstrak rimpang temulawak menjadi suatu bentuk sediaan granul effervescent karena hal ini dirasa penting mengingat temulawak memiliki khasiat dan kegunaan yang sangat beragam, salah satunya yaitu merangsang penciutan volume kandung empedu. Pemilihan bentuk sediaan effervescent didasarkan pada kelebihan bentuk sediaan ini. Penggunaan sediaan effervescent memungkinkan penyiapan larutan dalam

(22)

waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat, selain itu rasa menyegarkan akibat CO2 yang dihasilkan dari reaksi effervescent merupakan keunggulan sediaan ini. Dalam penelitian tersebut telah dilakukan optimasi terhadap kombinasi sumber asam yaitu natrium sitrat dan asam fumarat sebagai eksipien granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

Kandungan asam dan basa karbonat dalam sediaan effervescent sangatlah penting mengingat fungsinya yang terkait dengan kecepatan larut sediaan

effervescent sebelum dikonsumsi. Asam dan basa karbonat dalam sediaan

effervescent dengan adanya air akan bereaksi menghasilkan gas CO2 yang

berfungsi dalam disintegrasi. Mengingat pentingnya kedua jenis eksipien tersebut, bukan hanya sumber asam saja namun juga sumber karbonat, maka perlu dilakukan optimasi terhadap campuran sumber asam dan sumber karbonat dalam pembuatan granul effervescent. Komposisi sumber asam dan sumber karbonat yang optimum akan menghasilkan granul effervescent dengan kualitas yang dikehendaki. Granul effervescent yang dihasilkan diharapkan memenuhi persyaratan uji sifat fisik seperti kecepatan alir, waktu larut, dan kandungan lembab granul effervescent.

Dalam penelitian ini optimasi dilakukan terhadap campuran natrium sitrat-asam fumarat dan natrium bikarbonat sebagai eksipien dalam pembuatan granul

effervescent. Sumber asam yang digunakan dalam penelitian merupakan

kombinasi dari natrium sitrat dan asam fumarat karena dalam pembuatan granul

effervescent dengan menggunakan satu jenis asam saja akan menimbulkan

(23)

campuran yang lekat dan sukar menjadi granul. Selain itu granul effervescent yang dihasilkan tidak akan stabil karena mudah terjadi reaksi effervescent dini. Hal ini disebabkan sifat higroskopis dari natrium sitrat. Oleh karena itu dengan kombinasi kedua sumber asam ini diharapkan dapat dihasilkan granul effervescent yang stabil dan mudah larut dalam air. Sumber karbonat yang dipilih dalam penelitian ini adalah natrium bikarbonat karena merupakan sumber karbondioksida utama dalam sistem effervescent (Mohrle, 1980).

Optimasi formula dilakukan dengan metode desain faktorial dengan dua faktor dan dua level. Area komposisi formula granul effervescent yang optimum dapat diketahui lewat contour plot super imposed. Selain itu juga dapat diketahui efek yang dominan antara natrium sitrat–asam fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksi keduanya yang menentukan sifat fisik granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

1. Permasalahan

Permasalahan yang akan diteliti adalah:

a. efek manakah yang diprediksi dominan dalam menentukan sifat fisik granul

effervescent ekstrak rimpang temulawak, campuran natrium sitrat–asam

fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksi keduanya?

b. apakah ditemukan area komposisi formula campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat yang optimum dengan sifat fisik granul yang dikehendaki pada contour plot super imposed dalam pembuatan granul

(24)

2. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang penggunaan ekstrak rimpang temulawak dalam granul

effervescent telah dilakukan. Natalia (2006) telah melakukan penelitian tentang

Optimasi Natrium Sitrat dan Asam Fumarat Dalam Pembuatan Granul

Effervescent Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Secara Granulasi

Basah. Penelitian lain terkait penggunaan ekstrak rimpang temulawak dalam sediaan effervescent juga telah dilakukan oleh Anggraeni (2005) mengenai Optimasi Formula Tablet Effervescent Ekstrak Temulawak (Curcuma

xanthorrhiza Roxb.) Dengan Kombinasi Natrium Sitrat dan Asam Fumarat Secara

Granulasi Basah: Aplikasi Desain Faktorial. Optimasi Campuran Natrium Sitrat– Asam Fumarat dan Natrium Bikarbonat Sebagai Eksipien Dalam Pembuatan Granul Effervescent Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Secara Granulasi Basah Dengan Metode Desain Faktorial belum pernah dilakukan.

3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis

Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang penggunaan campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat sebagai eksipien dalam pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

b. Manfaat Praktis

Menghasilkan sediaan berupa granul effervescent ekstrak rimpang temulawak yang berkhasiat, mudah digunakan, praktis, dan dapat diterima oleh masyarakat.

(25)

B. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. mengetahui efek natrium sitrat–asam fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksi keduanya yang diprediksi dominan dalam menentukan sifat fisik granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

b. menentukan area komposisi formula campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat yang optimum pada contour plot super imposed dalam pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

(26)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Temulawak 1. Nama tanaman

a. Nama tanaman: Curcuma xanthorrhiza Roxb. b. Sinonim: C. zerumbed majus Rumph.

c. Nama daerah: temulawak (Sumatera); koneng gede, temu raya, temu besar, aci koneng, koneng tegel, temulawak (Jawa); temolabak (Madura); tommo (Bali); tommon (Sulawesi Selatan); karbanga (Ternate).

d. Nama asing: Kiang huang (China), harida, haldi (IP), halud (Bengali), kurkum (Arab), zardcchobacch (Persia), menjal (Tanil), kunong-huyung (Indochina). e. Nama simplisia: Curcumae Rhizoma (rimpang temulawak) (Dalimartha,

2000).

2. Uraian tanaman

Terna tahunan (perennial) ini tumbuh merumpun dengan batang semu yang tumbuh dari rimpangnya. Batang semu berasal dari pelepah-pelepah daun yang saling menutup membentuk batang. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 2 m. Tiap tanaman berdaun 2-9 helai, berbentuk bulat memanjang atau lanset, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, berwarna hijau, pada sisi kiri dan kanan ibu tulang daun terdapat semacam pita memanjang berwarna merah keunguan. Perbungaan termasuk tipe exantha, yaitu jenis temu yang bunganya keluar langsung dari rimpang yang panjangnya mencapai 40-60 cm. Bunga majemuk berbentuk bulir,

(27)

bulat panjang, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm. Bunga muncul secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar dan beraneka ragam dalam warna dan ukurannya. Mahkota bunga berwarna merah. Bunga mekar pada pagi hari dan berangsur-angsur layu pada sore hari. Sejauh ini, temulawak belum pernah dilaporkan menghasilkan buah atau biji. Rimpang dibedakan atas rimpang induk (empu) dan rimpang cabang. Rimpang induk bentuknya jorong atau gelondong, berwarna kuning tua atau cokelat kemerahan, bagian dalam berwarna jingga cokelat. Rimpang cabang keluar dari rimpang induk, ukurannya lebih kecil, tumbuhnya ke arah samping, bentuknya bermacam-macam, dan warnanya lebih muda. Akar-akar di bagian ujung membengkak, membentuk umbi yang kecil (Dalimartha, 2000).

3. Khasiat

Temulawak mempunyai khasiat laktagoga, kolagoga, antiinflamasi, tonikum, dan diuretik. Minyak atsiri temulawak, juga berkhasiat fungistatik pada beberapa jenis jamur dan bakteriostatik. Rimpang temulawak digunakan juga digunakan untuk pengobatan radang hati (hepatitis), sakit kuning (jaundice), radang ginjal, radang kronis kandung empedu (kolesistitis kronik), meningkatkan aliran empedu ke saluran cerna, perut kembung, tidak nafsu makan (anoreksia) akibat kekurangan cairan empedu, demam, pegal linu, rematik, memulihkan kesehatan setelah melahirkan, sembelit, diare, batu empedu (kolelitiasis), kolesterol darah tinggi (hiperkolesterolemia), haid tidak lancar, flek hitam di wajah, jerawat, wasir, dan produksi ASI sedikit (Dalimartha, 2000).

(28)

4. Kandungan kimia

Temulawak mengandung fraksi pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri (3-12%). Fraksi pati merupakan kandungan terbesar, jumlah bervariasi antara 48-54% tergantung dari ketinggian tempat tumbuh. Makin tinggi tempat tumbuh maka kadar patinya semakin rendah dan kadar minyak atsirinya semakin tinggi (Dalimartha, 2000). Kurkuminoid dalam temulawak terdiri dari kurkumin dan desmetoksikurkumin (Afifah, 2003). Rimpang temulawak mengandung 1,6-2,2% kurkumin (Karden, 2003).

B. Maserasi

Istilah maserasi berasal dari bahasa Latin macerare, yang artinya ”merendam” (Ansel, 1989). Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar (Anonim, 1986).

Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian.

(29)

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan (Anonim, 1986). Proses perkolasi memerlukan keterampilan operator yang lebih banyak daripada proses maserasi dan dari kedua proses, perkolasi mungkin lebih mahal dalam pelaksanaannya, karena memerlukan peralatan yang khusus dan waktu yang lebih banyak diperlukan oleh operator (Ansel, 1989). Maserasi merupakan metode ekstraksi yang paling banyak digunakan. Keuntungan maserasi dibandingkan dengan perkolasi dan ekstraksi countercurrent adalah sampel yang kecil dapat disiapkan dengan cara yang sama dengan batch produksi dan teknis. Namun kerugian metode ini yaitu bahwa proses ini tidak sepenuhnya dapat mengekstraksi senyawa (List dan Schmidt, 1989).

C. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Anonim, 1979). Pada ekstrak tumbuhan jika bahan pengekstraksinya sebagian atau seluruhnya diuapkan, maka diperoleh ekstrak, yang dikelompokkan menurut sifat-sifatnya menjadi:

1. ekstrak encer (extractum tenue): sediaan ini memiliki konsistensi seperti madu dan dapat dituang.

2. ekstrak kental (extractum spissum): sediaan ini liat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang. Kandungan airnya berjumlah sekitar 30%.

(30)

3. ekstrak kering (extractum siccum): sediaan ini memiliki konsistensi kering dan mudah digosokkan. Melalui penguapan cairan pengekstraksi dan pengeringan sisanya terbentuk suatu produk, yang sebaiknya menunjukkan kandungan lembab tidak lebih dari 5%.

4. ekstrak cair (extractum fluidum): sediaan ini dibuat sedemikian hingga 1 bagian simplisia sesuai dengan 2 bagian ekstrak cair (Voigt, 1994).

D. Kurkumin

Salah satu kandungan dalam rimpang temulawak yaitu kurkuminoid yang termasuk dalam golongan diarilheptanoid (Tonnesen dan Karlsen, 1985). Kurkuminoid dalam rimpang temulawak terdiri dari kurkumin dan desmetoksikurkumin (Afifah, 2003). Kurkuminoid dalam rimpang temulawak sebesar 8000-20.000 ppm, sedangkan kurkumin sebesar 100-10.000 ppm (Duke, 1992). O O HO H3CO OCH3 OH Gambar 1. 1,7-Bis-(4-hydroxy-3-methoxy-phenyl)-hepta-1,6-diene-3,5-dione atau kurkumin

Kurkumin berupa serbuk kristal berwarna orange kekuningan dan memiliki titik lebur 183oC. Kurkumin larut dalam alkohol dan asam asetat glasial (Anonim, 1976). Kelarutan kurkumin dalam air yaitu sebesar 0,1 g/l (Anonim, 2006). Warna larutan kurkumin tidak selalu konstan, terkait dengan degradasi

(31)

kurkumin atau perubahan kurkumin dalam pelarut. Pada suasana asam, warna larutan kurkumin adalah kuning namun warnanya berubah menjadi orange kemerahan dalam suasana basa (Tonnesen dan Karlsen, 1985). Pada suasana basa, kurkumin akan terdegradasi menjadi asam ferulat dan asam vanilat (Majeed, Vladimir, Uma, Rajendran, 1995). Kurkumin juga dapat terdegradasi dengan adanya cahaya (Tonnesen, Henegouwen, dan Karlsen, 1986).

E. Granul Effervescent

Granul effervescent merupakan granul atau serbuk kasar sampai kasar sekali dan mengandung unsur obat dalam campuran kering, bila ditambah dengan air asam dan basanya bereaksi membebaskan karbondioksida sehingga menghasilkan buih (Ansel, 1989). Granul effervescent dapat dibuat dengan dua metode yaitu metode basah dan metode kering (Aulton, 2002). Metode basah yang dimaksud yaitu metode granulasi basah, sedangkan metode kering yaitu granulasi kering (Linberg, Engfors, Ericsson, 1992). Pada prinsipnya, proses granulasi dalam pembuatan granul effervescent sama dengan granul konvensional (Mohrle, 1980).

Teknik granulasi basah meliputi pencampuran bahan kering dengan cairan penggranul untuk menghasilkan massa yang dapat digranul. Massa tersebut diperkecil ukuran partikelnya sehingga memiliki distribusi ukuran partikel yang optimum kemudian dikeringkan untuk menghasilkan granul yang kompresibel. Granulasi basah dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu dengan

(32)

menggunakan panas, menggunakan cairan nonreaktif, dan dengan cairan reaktif (Mohrle, 1980).

1. Granulasi basah

Teknik granulasi basah meliputi pencampuran bahan kering dengan cairan penggranul untuk menghasilkan massa yang dapat digranul. Massa tersebut yang mungkin secara alami plastis dan kohesif, diperkecil ukuran partikelnya sampai mencapai distribusi ukuran partikel yang optimum dan kemudian dikeringkan untuk menghasilkan granul yang kompresibel. Cara lain yaitu dengan mengeringkan massa granul yang terbentuk baru kemudian diperkecil ukuran partikelnya (Mohrle, 1980). Metode granulasi basah dapat dilakukan dengan 3 macam cara:

a. dengan panas

Metode klasik dalam pembuatan granul effervescent meliputi penghilangan air dari bahan hidrat pada suhu yang rendah untuk membentuk massa granul. Proses ini sulit dikontrol untuk mencapai hasil yang reprodusibel (Mohrle, 1980). b. dengan cairan nonreaktif

Pada metode granulasi basah dengan menggunakan cairan nonreaktif, cairan penggranul yang biasa digunakan seperti etanol dan isopropanol. Cairan ini ditambahkan pada bahan-bahan yang telah dicampur sebelumnya sampai cairan terdistribusi merata pada campuran. Bahan pengikat larut alkohol yang biasa digunakan seperti PVP dapat dilarutkan dalam cairan penggranul sebelum ditambahkan pada serbuk (Mohrle, 1980).

(33)

Keuntungan dari metode granulasi basah dengan menggunakan cairan nonreaktif adalah tidak semua bahan dalam formulasi perlu kontak dengan cairan penggranul atau panas pada proses pengeringan. Pada beberapa formulasi, dilakukan granulasi terpisah antara komponen asam dan basa untuk menghindari berbagai reaksi. Salah satu kerugian dari cara ini yaitu masih diperlukannya beberapa proses setelah granul dikeringkan. Kerugian lain yaitu uap dari cairan penggranul seringkali berbahaya sehingga harus dihilangkan dan dikumpulkan (Mohrle, 1980).

c. dengan cairan reaktif

Granulating agent yang paling efektif untuk campuran effervescent adalah

air. Dalam proses ini air digunakan sebagai pengikat. Air selalu ditambahkan dalam bentuk semprotan halus pada bahan-bahan yang dipilih dalam formulasi ketika dilakukan pencampuran pada ribbon blender. Bahan-bahan tersebut harus lebih dapat melepaskan air yang diserap daripada menyerap dan mengikatnya. Salah satu kerugian dalam proses ini adalah bahwa formula yang mengandung bahan yang rentan terhadap air dan atau panas dapat terdegradasi dengan proses ini (Mohrle, 1980).

2. Granulasi kering

Granulasi kering dapat dilakukan dengan peralatan khusus seperti roller

compactor atau chilsonator. Prosedur lain dalam granulasi basah yaitu dengan slugging, dimana slug atau tablet besar dikempa menggunakan peralatan tablet

khusus kemudian dibuat granul dengan karakteristik yang diinginkan (Mohrle, 1980).

(34)

F. Bahan-bahan Pembuatan Granul Effervescent

Pemilihan bahan dalam pembuatan granul effervescent lebih rumit dibandingkan dengan bahan dalam pembuatan granul konvensional. Hal ini terkait dengan kandungan lembab. Sumber asam dan sumber karbonat dalam granul

effervescent dengan adanya air akan bereaksi membebaskan CO2, hal ini akan

menyebabkan granul hancur. Reaksi ini dapat berlangsung dengan adanya sejumlah kecil air yang terikat atau diserap oleh bahan penyusun granul. Jika hal ini terjadi setelah pembuatan granul, akan menyebabkan produk menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, bahan penyusun granul dipilih dalam bentuk anhidrat yang sedikit atau tidak menyerap lembab atau bentuk hidrat (mengikat air dalam molekulnya) yang stabil. Kelarutan bahan merupakan sifat lain yang penting dalam pembuatan granul effervescent. Jika bahan tidak larut, maka reaksi

effervescent tidak akan terjadi dan granul tidak akan hancur secara cepat (Mohrle,

1980).

1. Sumber asam

Keasaman yang diperlukan untuk reaksi effervescent dapat diperoleh dari tiga sumber utama, yaitu food acid, asam anhidrat, dan garam asam. Beberapa garam asam tertentu seperti natrium dihidrogen fosfat, dinatrium dihidrogen pirofosfat, garam asam sitrat, dan natrium asam sulfit digunakan dalam produk

effervescent (Mohrle, 1980).

Bentuk asam anhidrat dapat digunakan dalam produk effervescent. Ketika dicampur dengan air, asam anhidrat akan terhidrolisis menjadi bentuk asam yang bersesuaian, yang kemudian dapat bereaksi dengan sumber karbonat untuk

(35)

menghasilkan reaksi effervescent. Air tidak boleh digunakan dalam proses produksi yang melibatkan bentuk anhidrat karena anhidrat akan terlebih dahulu berubah menjadi bentuk asam yang bersesuaian sebelum produk digunakan (Mohrle, 1980).

2. Sumber karbonat

Sumber karbonat digunakan sebagai bahan penghancur dan sumber timbulnya gas karbondioksida pada produk effervescent. Sumber karbonat yang biasa digunakan dalam produk effervescent adalah natrium bikarbonat (NaHCO3) dan natrium karbonat (Na2CO3) (Mohrle, 1980).

3. Bahan pengisi

Pada peracikan obat dalam jumlah yang sangat kecil diperlukan bahan pengisi, untuk memungkinkan suatu pengempaan. Bahan pengisi ini menjamin granul memiliki ukuran atau massa yang dibutuhkan (Voigt, 1994). Pengisi juga dapat ditambahkan untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran (Banker dan Anderson, 1986).

4. Bahan pengikat

Pengikat yaitu bahan yang dapat membantu untuk mengikat bahan-bahan lain menjadi satu. Beberapa bahan memerlukan pengikat untuk membantu menghasilkan granul. Sifat bahan pengikat yang digunakan untuk granul

effervescent adalah memiliki kelarutan yang baik dalam air (water soluble),

contohnya adalah polyvinylpyrrolidone atau polyvinylpyrrolidone-poly (vinyl

(36)

G. Pemerian Bahan 1. Natrium sitrat anhidrat

Natrium sitrat berbentuk anhidrat, mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C6H5Na2O7 dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian berupa hablur, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih. Kelarutan dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam etanol (Anonim, 1995).

2. Asam fumarat

Meskipun keasamannya kuat namun asam fumarat tidak umum digunakan dalam sediaan effervescent karena kelarutannya yang rendah dalam air. Asam fumarat tidak higroskopis dan paling ekonomis diantara food acid (Mohrle, 1980). Asam fumarat merupakan sumber asam yang memiliki sifat kompresi yang paling baik (Mohrle, 1980).

Asam fumarat berwarna putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau, berupa serbuk kristal. Kelarutan dalam air yaitu 4,5 g/L dan dalam etanol (100%) adalah 36 g/L pada suhu 20 oC (Linberg, et. al, 1992).

3. Natrium bikarbonat

Natrium bikarbonat merupakan sumber karbondioksida utama dalam sistem effervescent. Natrium bikarbonat larut dalam air, tidak higroskopis, murah, dan banyak tersedia. Natrium bikarbonat merupakan sumber karbonat yang memiliki sifat kompresi yang paling baik (Mohrle, 1980).

Natrium bikarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% NaHCO3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian, berupa

(37)

serbuk hablur, putih. Stabil di udara kering, tetapi dalam udara lembab secara perlahan-lahan terurai. Kelarutan, larut dalam air, tidak larut dalam etanol (Anonim, 1995).

4. Laktosa

Laktosa adalah gula yang diperoleh dari susu. Laktosa memiliki rumus molekul C12H22O11. Pemerian berupa serbuk atau massa hablur, keras, putih atau putih krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara namun mudah menyerap bau. Kelarutan, mudah larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter (Anonim, 1995).

Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat maupun anhidrat. Laktosa bentuk anhidrat dapat menyerap lembab bila terkena udara sehingga meningkatkan kelembaban sediaan. Sediaan seperti itu harus dikemas secara hati-hati untuk mencegah terkena udara lembab (Banker dan Anderson, 1986).

5. Aspartam

Aspartam merupakan dipeptida metil ester yang terdiri dari dua asam amino, yaitu fenilalanin dan asam aspartat. Senyawa ini mudah larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol dan tidak larut lemak atau minyak yang berfungsi sebagai pemanis (cit., Anggraeni, 2005). Aspartam merupakan pemanis non kalori, yang memiliki tingkat kemanisan 200 kali sukrosa dan banyak digunakan.

(38)

Aspartam stabil ketika kering namun dapat terhidrolisis dengan adanya lembab (Allen, 2002).

Penggunaan aspartam sebagai pemanis buatan masih diijinkan di Indonesia berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, namun wajib mencantumkan peringatan fenilketonuria: mengandung fenilalanin, yang ditulis dan terlihat jelas pada label jika makanan atau minuman atau sediaan menggunakan pemanis buatan aspartam (Anonim, 2004). Batas penggunaan aspartam sebagai bahan pemanis tambahan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No: 208/Men.Kes./PER/IV/1985 tentang Pemanis Buatan adalah 0-40 mg/kg BB/hari (Anonim, 1985).

6. Polivinilpirolidon (PVP)

PVP adalah hasil polimerisasi 1-vinilpirolid-2-on. Dalam berbagai bentuk polimer dengan rumus molekul (C6H9NO)n, bobot molekul berkisar antara 10.000 hingga 700.000. Pemerian, berupa serbuk putih atau putih kekuningan, berbau lemah atau tidak berbau, dan higroskopis. Kelarutan, mudah larut dalam air, dalam etanol P, dalam kloroform P, kelarutan tergantung dari bobot molekul rata-rata, praktis tidak larut dalam eter P (Anonim, 1979).

PVP merupakan bahan pengikat pada granul effervescent yang efektif. Bahan ini biasanya ditambahkan pada serbuk untuk digranulasi baik kering dan kemudian dibasahi dengan cairan penggranul, atau dalam larutan dengan air, alkohol, atau hidroalkoholik (Mohrle, 1980).

(39)

H. Sifat Fisik Granul 1. Sifat alir

Metode yang paling sederhana untuk menentukan sifat alir secara langsung yaitu dengan mengukur kecepatan dimana serbuk keluar melalui hopper. Hopper harus dipilih untuk menghasilkan model yang baik untuk pengukuran sifat alir (Staniforth, 2002). Menurut Guyot, apabila waktu yang diperlukan oleh 100 gram granul untuk mengalir lebih lama dari 10 detik (T > 10 detik) dapat dikatakan bahwa dalam fabrikasi pada skala industri akan dijumpai kesulitan dalam hal regularitas berat sediaan (cit., Fudholi, 1983).

2. Kandungan lembab

Kandungan lembab dapat mempengaruhi sifat fisika kimia sediaan padat. Keseimbangan kandungan lembab dapat mempengaruhi aliran dan karakteristik kompresi serbuk, kekerasan granul dan tablet, serta stabilitas obat (Wedke, Serajudin, dan Jacobson, 1989). Persyaratan kandungan lembab untuk granul

effervescent antara 0,4%-0,7 % (Fausett, Gayser, dan Dash, 2000).

3. Waktu larut

Granul effervescent yang baik diharapkan terlarut dalam waktu sampai 1 atau 2 menit membentuk larutan yang jernih. Dengan kata lain residu yang tidak larut harus seminimal mungkin (Mohrle, 1980).

I. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Densitometri

Kromatografi lapis tipis (KLT) densitometri merupakan metode penetapan kadar suatu senyawa dengan mengukur kerapatan noda senyawa yang

(40)

bersangkutan, yang terlebih dahulu dipisahkan dengan cara kromatografi lapis tipis. Penetapan kadar suatu senyawa menggunakan KLT densitometri ada dua cara. Cara yang pertama yaitu penotolan dilakukan bersamaan antara senyawa baku dan senyawa yang bersangkutan, kemudian dielusi. Kadar senyawa bersangkutan ditentukan dengan membandingkan harga AUC (area under curve) terhadap senyawa baku. Cara yang kedua yaitu dengan membuat kurva baku hubungan antara jumlah zat baku dengan AUC (Wardani, 2003).

Alat TLC Scanner memiliki sumber sinar yang dapat digerakkan di atas bercak-bercak pada lempeng KLT atau lempeng KLT dapat digerakkan menyusuri berkas sinar yang berasal dari sumber sinar. Teknik pengukurannya dapat didasarkan atas sinar yang diserap (absorbansi), sinar yang dipantulkan (reflaktansi), atau sinar yang difluoresensikan (fluoresensi). Sinar yang datang sebagian diserap dan sebagian lagi dipantulkan. Banyaknya sinar yang diserap sebanding dengan jumlah zat pada bercak yang terkena sinar tersebut.

Penelusuran bercak dapat pula dilakukan secara horisontal maupun vertikal (scanning horizontal atau scanning vertical). Penelusuran bercak secara horisontal dapat dilakukan satu per satu atau apabila bercak yang diperoleh pada pelat segaris, dapat dilakukan penelusuran semua bercak sekaligus.

Berdasarkan jalannya sinar, penelusuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penelusuran lurus dan zig-zag (naik turun). Pada penelusuran lurus, sinar yang mengenai bercak berjalan lurus dari kiri ke kanan. Pada penelusuran zig-zag, sinar mengenai bercak berjalan zig-zag dari kiri ke kanan. Penelusuran bercak

(41)

akan mendapatkan hasil yang baik apabila dilakukan pada panjang gelombang maksimum (Wardani, 2003).

Dalam penetapan kadar kurkumin yang terdapat sebagai kurkuminoid, harus dipilih metode penetapan yang dapat memisahkan kurkumin dari turunan desmetoksinya. Metode penetapan kadar kurkumin dalam kurkuminoid secara KLT densitometri memiliki selektivitas, sensitivitas, dan ketelitian yang cukup tinggi, pengerjaannya mudah dan cepat, serta biaya yang dibutuhkan relatif murah (Martono, 1996).

J. Desain Faktorial

Desain faktorial adalah desain yang dipilih untuk menentukan pengaruh secara simultan dari beberapa faktor dan interaksinya. Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik untuk memberikan model hubungan antara variabel respon dengan satu atau lebih variabel bebas (Bolton, 1990).

Dalam desain faktorial terdapat beberapa istilah seperti faktor, level, efek, dan interaksi. Faktor adalah variabel yang menentukan variabel lain. Level adalah nilai atau tetapan untuk faktor. Efek adalah perubahan respon yang disebabkan variasi level dari faktor. Efek faktor atau interaksi adalah rata-rata respon pada level tinggi dikurangi rata-rata respon pada level rendah. Respon merupakan sifat atau hasil percobaan yang diamati. Respon yang ingin diukur harus dapat dikuantitatifkan (Bolton, 1990).

(42)

Tabel I. Notasi Formula Desain Faktorial

Formula Faktor A Faktor B Interaksi

1 - - +

a + - -

b - + -

ab + + +

Pada desain faktorial dua level dan dua faktor (A dan B) diperlukan 4 percobaan (2n = 4, dengan 2 menunjukkan level dan n menunjukkan faktor). Keempat percobaan tersebut yaitu, (1) A dan B masing-masing pada level rendah, (a) A pada level tinggi dan B pada level rendah, (b) A pada level rendah dan B pada level tinggi, (ab) A dan B masing-masing pada level tinggi.

Persamaan umum dari desain faktorial adalah sebagai berikut: Y = b0 + b1 XA + b2 XB + b12 XA XB Y = respon hasil atau sifat yang diamati XA, XB = level bagian A dan B

b0, b1, b2, b12 = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

Besarnya efek dapat dihitung dengan mengurangkan rata-rata respon pada level tinggi dengan rata-rata respon pada level rendah (Bolton, 1990). Konsep perhitungan efek adalah sebagai berikut:

Efek faktor A =

{

} {

}

2 (1) b a ab+ − + Efek faktor B =

{

} {

}

2 (1) a b ab+ − +

Efek faktor interaksi =

{

} {

}

2

b a ab (1)+ − +

(43)

Interaksi dapat diketahui dari grafik hubungan respon dan level faktor. Jika kurva menunjukan garis sejajar, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada interaksi antar eksipien dalam menentukan respon. Jika kurva menunjukkan garis yang tidak sejajar, maka dapat dikatakan bahwa ada interaksi antar eksipien dalam menentukan respon (Bolton, 1990).

Desain faktorial memiliki beberapa keuntungan yaitu mempunyai efisiensi yang maksimal dalam memperkirakan efek yang dominan dalam menentukan respon. Keuntungan utamanya yaitu dapat mengidentifikasi efek masing-masing faktor, maupun efek interaksi antar faktor. Metode ini ekonomis dalam arti dapat mengurangi jumlah penelitian jika dibandingkan dengan meneliti dua efek faktor secara terpisah (Muth, 1999).

K. Landasan Teori

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mempunyai khasiat laktagoga, kolagoga, antiinflamasi, tonikum, dan diuretik. Rimpang temulawak mengandung zat kuning kurkumin, minyak atsiri, pati, protein, lemak (fixed oil), selulosa, dan mineral. Rimpang temulawak mengandung 1,6-2,2% kurkumin. Salah satu khasiat kurkumin dalam rimpang temulawak yaitu berperan dalam penciutan kandung empedu manusia.

Ekstrak rimpang temulawak diperoleh dengan cara ekstraksi serbuk rimpang temulawak. Salah satu metode ekstraksi yang paling sederhana adalah maserasi. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Zat-zat yang larut dalam cairan penyari akan tersari sebagai ekstrak.

(44)

Granul effervescent merupakan granul yang mengandung asam dan karbonat atau bikarbonat yang bereaksi dengan cepat pada penambahan air dengan melepaskan gas CO2. Keuntungan granul effervescent sebagai bentuk sediaan obat adalah kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika, yang mengandung dosis obat yang tepat. Kerugian dalam granul effervescent ialah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia. Sistem

effervescent tidak stabil dengan adanya lembab.

Salah satu metode yang digunakan dalam pembuatan granul effervescent adalah metode granulasi basah dengan menggunakan cairan non reaktif. Keuntungan dari metode ini adalah tidak semua bahan dalam formulasi perlu kontak dengan cairan penggranul atau panas pada proses pengeringan. Namun kerugiannya yaitu masih diperlukannya beberapa proses setelah granul dikeringkan. Selain itu uap dari cairan penggranul, biasanya etanol atau isopropanol, seringkali berbahaya sehingga harus dihilangkan dan dikumpulkan.

Sumber asam dan sumber karbonat dalam granul effervescent dengan adanya air akan bereaksi membebaskan CO2, hal ini akan menyebabkan granul hancur. Garam-garam effervescent biasanya diolah dari suatu kombinasi 2 jenis asam. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang ditimbulkan ketika hanya digunakan satu jenis asam saja. Dalam hal ini dipilih kombinasi natrium sitrat dan asam fumarat. Natrium sitrat mudah larut dalam air namun di sisi lain sangat higroskopis. Asam fumarat memiliki sifat tidak higroskopis. Sehingga kombinasi sumber asam yang dipilih diharapkan dapat memperbaiki sifat dari campuran

(45)

asam secara keseluruhan. Sumber basa karbonat yang paling umum digunakan dalam sediaan effervescent yaitu natrium bikarbonat.

Metode desain faktorial digunakan dalam optimasi formula granul

effervescent dengan campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium

bikarbonat. Dengan campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat pada konsentrasi tertentu, diharapkan dapat dihasilkan granul

effervescent yang memenuhi persyaratan uji sifat fisik seperti kecepatan alir, kandungan lembab, dan waktu larut granul effervescent. Hasil uji diolah berdasarkan rumus desain faktorial, Y = b0 + b1 XA + b2 XB + b12 XA XB. Area komposisi formula granul effervescent yang optimum dapat ditentukan lewat

contour plot super imposed. Selain itu dapat diketahui pula efek yang dominan

antara natrium sitrat–asam fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksi keduanya dalam menentukan sifat fisik granul effervescent.

L. Hipotesis

Diduga terdapat efek yang dominan antara natrium sitrat–asam fumarat, natrium bikarbonat, atau interaksi keduanya dalam menentukan sifat fisik granul

effervescent ekstrak rimpang temulawak. Selain itu diduga ditemukan area

komposisi formula campuran natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat yang optimum dalam menghasilkan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak dengan sifat-sifat fisik yang dikehendaki.

(46)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan termasuk dalam jenis penelitian eksperimental murni menggunakan desain faktorial dengan dua faktor dan dua level.

B. Variabel Penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. variabel bebas:

a. natrium sitrat-asam fumarat

Level tinggi: 960 mg (natrium sitrat 640 mg dan asam fumarat 320 mg) Level rendah: 600 mg (natrium sitrat 400 mg dan asam fumarat 200 mg) b. natrium bikarbonat, level rendah 357 mg dan level tinggi 571 mg. 2. variabel tergantung

Sifat fisik granul, meliputi kecepatan alir, waktu larut, dan kandungan lembab. 3. variabel pengacau terkendali

Umur tanaman temulawak, sifat fisik ekstrak, RH lingkungan, dan suhu ruangan.

4. variabel pengacau tak terkendali

Kandungan lembab awal bahan-bahan tambahan pembuatan granul

effervescent.

(47)

C. Definisi Operasional

1. Granul effervescent merupakan granul atau serbuk kasar sampai kasar sekali yang mengandung ekstrak rimpang temulawak sebagai bahan obat dengan natrium sitrat dan asam fumarat sebagai sumber asam dan natrium bikarbonat sebagai sumber basa yang bereaksi cepat pada penambahan air dengan menghasilkan gas CO2.

2. Ekstrak rimpang temulawak adalah ekstrak yang diperoleh dari serbuk rimpang temulawak yang diekstraksi dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 96%.

3. Eksipien adalah bahan tambahan dalam pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak yang berupa sumber asam (natrium sitrat–asam fumarat), sumber karbonat (natrium bikarbonat), dan bahan-bahan tambahan lain yang digunakan dalam pembuatan granul tersebut.

4. Sifat fisik granul effervescent adalah parameter yang menentukan bahwa granul yang dihasilkan memenuhi persyaratan, meliputi kecepatan alir > 10 gram/detik, kandungan lembab 0,4%-0,7%, dan waktu larut ≤ 120 detik.

5. Level adalah nilai atau tetapan untuk faktor. Penelitian ini menggunakan 2 level yaitu level tinggi dan level rendah, level tinggi campuran asam adalah 960 mg (natrium sitrat 640 mg dan asam fumarat 320 mg) dan level rendah campuran asam adalah 600 mg (natrium sitrat 400 mg dan asam fumarat 200 mg) sedangkan untuk natrium bikarbonat sebesar 357 mg dan 571 mg.

(48)

6. Faktor adalah besaran yang memberikan pengaruh terhadap respon. Penelitian ini menggunakan dua faktor yaitu natrium sitrat–asam fumarat sebagai faktor pertama dan natrium bikarbonat sebagai faktor kedua.

7. Respon adalah sifat atau hasil percobaan yang diamati. Dalam penelitian ini terdapat 3 respon yaitu kecepatan alir, kandungan lembab dan waktu larut. 8. Interaksi berarti bahwa efek faktor 1 yang diukur saat pada level rendah faktor

2 berbeda dengan efek faktor 1 ketika diukur pada level tinggi faktor 2, demikian juga sebaliknya.

9. Kecepatan alir adalah kecepatan granul dengan bobot 100 gram untuk mengalir melewati corong Hopper. Kandungan lembab adalah jumlah lembab yang terdapat dalam granul effervescent. Waktu larut adalah waktu yang dibutuhkan granul untuk larut dalam 200 ml air dengan pengadukan sebanyak 10 kali.

10. Komposisi optimum adalah komposisi natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat yang menghasilkan granul effervescent dengan kecepatan alir > 10 gram/detik, kandungan lembab 0,4%-0,7%, dan waktu larut ≤ 120 detik.

11. Contour plot adalah grafik yang memuat nilai respon sifat fisik granul

effervescent berdasarkan persamaan desain faktorial.

12. Contour plot super imposed adalah grafik yang merupakan gabungan masing-masing contour plot sifat fisik granul effervescent yang digunakan untuk menentukan area komposisi optimum campuran asam (natrium sitrat-asam fumarat) dan natrium bikarbonat.

(49)

D. Bahan Penelitian 1. Bahan pembuatan ekstrak

Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dari Samigaluh, Kulon Progo dengan umur tanaman 2 tahun, etanol 96% (kualitas teknis), aquadest, dan heksan (kualitas teknis).

2. Bahan pembuatan granul effervescent

Ekstrak rimpang temulawak, laktosa (kualitas farmasi), asam fumarat (kualitas farmasi), natrium sitrat anhidrat (kualitas farmasi), natrium bikarbonat (kualitas farmasi), aspartam (kualitas farmasi), PVP (kualitas farmasi), dan etanol 70%.

3. Bahan untuk KLT Densitometri

Kloroform (pro analisis), etanol (pro analisis), aquadest, kurkumin baku hasil sintesis Curcumin Research Center Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, TLC Aluminium sheets precoated silica gel 60 F254 (20 x 20 cm) tebal 0,2 mm (E. Merck).

E. Alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (Pyrex), bejana stainless, neraca elektrik (Mettler Toledo GB 3002), alat pengukur waktu alir (Laboratoriun FTS Padat USD), alat penguji kekentalan (Viscotester VT-04 RION), stopwatch digital (Illuminator, Casio), pengayak granul (Laboratory Sieve, IML), oven (Laboratorium Teknologi Sediaan Padat USD),

(50)

(Refrigerator, Toshiba), Dual Wavelength Chromatoscanner Shimadzu CS-930 digabungkan dengan data recorder Shimadzu DR-2, Direct Reading Microbalance

Shimadzu Type LM-20 (Readability 0,001 mg).

F. Skema Kerja Penelitian

Pengumpulan bahan

Pembuatan sebuk rimpang temulawak

Pembuatan ekstrak rimpang temulawak

Pembuatan granul

Pembuatan granul asam Pembuatan granul basa Uji standarisasi ekstrak rimpang temulawak

Pencampuran granul asam dan basa

Uji sifat fisik granul effervescent

Analisis data

Kesimpulan

(51)

G. Tata Cara Penelitian

1. Determinasi tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Determinasi tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menggunakan buku acuan Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2 (Dalimartha, 2000) untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar Curcuma xanthorrhiza Roxb.

2. Pengumpulan dan penyiapan simplisia rimpang temulawak

Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) diperoleh dari Samigaluh, Kulon Progo. Rimpang dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran kemudian dilakukan sortasi basah untuk memisahkan rimpang temulawak dari kemungkinan adanya campuran rimpang lain atau dari bagian tanaman lain. Rimpang dikupas kulitnya lalu diiris tipis-tipis (± 3mm). Pengeringan rimpang temulawak dilakukan di bawah sinar matahari dengan ditutup kain hitam sampai kering ditandai dengan mudah dipatahkan atau hancur bila diremas. Setelah simplisia kering, dilakukan sortasi kering untuk memisahkan kemungkinan pengotor yang masih tertinggal dan simplisia yang rusak. Untuk menyempurnakan pengeringan maka dilakukan pengeringan dengan oven sebelum simplisia diserbuk, menggunakan suhu 50oC sampai simplisia kering ditandai dengan mudah dipatahkan atau hancur bila diremas.

3. Pembuatan serbuk rimpang temulawak

Simplisia yang sudah kering diserbuk dengan mesin penyerbuk kemudian diayak dengan derajat kehalusan (8/24) (Anonim, 1986).

(52)

4. Pembuatan ekstrak rimpang temulawak

Ekstrak diperoleh dengan proses maserasi serbuk rimpang temulawak dengan cairan penyari berupa etanol 96%. Maserasi dilakukan dengan membasahi serbuk temulawak dengan cairan penyari dengan perbandingan serbuk dan cairan penyari yaitu 1:5 (Ansel, 1989) selama 4 hari (Voigt, 1994). Serbuk rimpang temulawak sejumlah 12 kg dibasahi dengan 60 l etanol 96%. Setelah 4 hari, sari diserkai dengan kain dan diambil cairan ekstraknya. Cuci sisa serbuk rimpang temulawak yang telah diperas dengan pelarut dan serkai kembali dengan kain sehingga volume total maserat yang diperoleh mencapai volume awal yaitu 60 l. Untuk memisahkan amilum, ekstrak yang diperoleh dibiarkan selama 2 hari di tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya, kemudian endapan yang terbentuk (amilum) dipisahkan (Anonim, 1979). Ekstrak yang diperoleh dimurnikan dengan heksan dengan perbandingan volume 1:1 untuk menghilangkan resin dengan cara ekstraksi pelarut. Fase etanol diambil dan dilakukan penguapan menggunakan waterbath dengan suhu 50–60oC sampai tersisa 1/9 bagian dari bobot awal serbuk yang diekstraksi.

5. Uji standarisasi ekstrak rimpang temulawak a. Pemeriksaan organoleptis

Pemeriksaan organoleptis meliputi: warna, bau, rasa, dan konsistensi ekstrak.

b. Uji daya lekat

Uji daya lekat dilakukan menggunakan dua buah gelas objek seluas 2,5 x 2,5 cm, kemudian dicari titik tengahnya. Kurang lebih 50 mg ekstrak diletakkan

(53)

pada titik tengah tersebut, kemudian ditutup dengan gelas objek yang lain dan ditekan dengan beban seberat 1 kg selama 5 menit. Kedua gelas objek yang saling berlekatan dipasang pada alat uji dengan beban seberat 80 gram. Dicatat waktu yang diperlukan sampai kedua gelas objek terpisah (Voigt, 1994).

c. Uji kandungan lembab

Uji kandungan lembab dilakukan menggunakan metode gravimetri. Kurang lebih 10 g ekstrak yang telah ditimbang seksama, dipanaskan pada suhu 105 oC selama 5 jam kemudian ditimbang. Pemanasan dilanjutkan dan timbang setiap 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25% (Anonim, 1995).

d. Uji viskositas

Uji ini dilakukan menggunakan viscotester electric. Ekstrak dimasukkan ke dalam bejana stainless steel dan dipilih rotor yang sesuai dengan konsistensi ekstrak. Rotor dipasang pada alat uji dan diatur sehingga rotor tercelup dalam ekstrak dan alat uji kemudian dihidupkan. Dicatat skala yang ditunjukkan oleh jarum sesuai nomor rotor yang dipakai.

e. Uji kualitatif menggunakan KLT densitometri

Timbang seksama lebih kurang 25 mg ekstrak rimpang temulawak kemudian larutkan dalam 10,0 ml etanol p.a. Lakukan pemisahan secara kromatografi lapis tipis diikuti deteksi bercak menggunakan sinar UV 254 nm dan 365 nm. Hitung nilai Rf kurkumin sampel kemudian bandingkan dengan nilai Rf kurkumin baku (Martono, 1996).

(cm) an pengembang Jarak (cm) bercak rambatan Jarak Rf =

(54)

f. Uji kuantitatif menggunakan KLT densitometri

1). Penyiapan larutan baku kurkumin, perolehan kembali (recovery) dan koefisien variasi (CV)

Timbang kurkumin sintesis seksama lebih kurang 25 mg, larutkan dalam etanol p.a. ad 25,0 ml (larutan induk = 1,0 g/l). Buat pengenceran larutan induk dengan etanol hingga diperoleh seri larutan baku yang mengandung kurkumin 0,12; 0,14; 0,18; 0,23; dan 0,35 μg/μl (masing-masing 4 kali) dengan cara mengambil 1,2; 1,4; 1,8; 2,3; dan 3,5 ml larutan induk kemudian diencerkan dengan etanol p.a. ad 10,0 ml. Semua larutan baku harus terlindung dari cahaya. Larutan ditotolkan sebanyak 1μl pada lempeng silica-gel 60 F254 kemudian segera dikembangkan dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhi dengan campuran kloroform:etanol:aquadest (25:0,96:0,04). Pengembangan dilakukan setinggi 6,5 cm. Segera keluarkan lempeng silica-gel, dikeringkan dan secepatnya discanning dengan densitometer pada λ 420 nm. Hitung persamaan garis regresi linier untuk digunakan sebagai kurva baku. Kemudian dihitung kadar kurkumin (yang diperoleh kembali) dengan menggunakan persamaan garis regresi kurva baku hasil perhitungan. Selanjutnya dihitung nilai perolehan kembali dan koefisien variasinya.

2). Penetapan kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang temulawak

Hasil pemisahan sampel ekstrak rimpang temulawak yang telah dipisahkan secara kromatografi lapis tipis di-scanning densitometri seperti pada larutan baku. Kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang temulawak dihitung berdasarkan kromatogram yang memiliki Rf sama dengan Rf kurkumin baku menggunakan

(55)

persamaan regresi linier dari kurkumin baku. Selanjutnya dihitung kadar rata-rata dan standar deviasinya (SD) (Martono, 1996).

6. Penentuan dosis ekstrak rimpang temulawak

Dosis kurkumin dalam ekstrak rimpang temulawak sebagai perangsang penciutan volume kandung empedu dalam penelitian “Efek Kurkumin Pada Kandung Empedu Manusia” adalah 20 mg untuk sekali minum (Lelo, 1998). Dosis kurkumin dihitung berdasarkan kadar kurkumin dalam ekstrak yang ditetapkan secara KLT densitometri. Dosis ekstrak rimpang temulawak dihitung sebagai dosis kurkumin dalam ekstrak.

Kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang temulawak = 6.11 %. Maka berat ekstrak rimpang temulawak yang digunakan adalah:

mg 327,33 mg 100 mg 6,11 mg 20 = x

6. Penentuan level rendah dan level tinggi natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat

Berdasarkan desain faktorial dengan dua faktor (natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat) dan dua level. Dari penelitian sebelumnya diperoleh level rendah untuk natrium sitrat sebesar 200 mg, asam fumarat 200 mg, sedangkan level tinggi untuk natrium sitrat sebesar 1000 mg, asam fumarat 1000 mg (Natalia, 2006). Dari contour plot super imposed respon kecepatan alir dan waktu larut granul pada penelitian tersebut dapat ditemukan area optimum. Selanjutnya, dari area tersebut dapat diambil satu titik yang kemudian digunakan untuk menentukan level tinggi dan level rendah penelitian ini. Titik yang diambil untuk menentukan level campuran natrium sitrat dan asam fumarat yaitu titik

(56)

x1 : x2 = 915 : 457,5 (x1 adalah faktor natrium sitrat dan x2 adalah faktor asam fumarat).

Menurut Wehling dan Fred, 2004, komposisi asam yang paling baik dalam sediaan effervescent adalah 25-40% dari bobot total. Bobot granul total yang ditentukan yaitu 2400 mg. Jadi jumlah campuran asam yang digunakan yaitu 600-960 mg. Dengan demikian dapat ditentukan campuran natrium sitrat dan asam fumarat yang digunakan pada level rendah adalah 600 mg, sedangkan untuk level tinggi sebesar 960 mg.

Dengan perbandingan antara natrium sitrat dan asam fumarat yang diperoleh dari titik yang diambil dari contour plot super imposed respon kecepatan alir dan waktu larut granul pada penelitian Natalia (2006), dapat ditentukan masing-masing jumlah natrium sitrat dan asam fumarat untuk tiap level campuran asam. Sedangkan jumlah natrium bikarbonat yang digunakan untuk level tinggi dan rendah dapat dihitung secara stoikiometri terhadap jumlah campuran natrium sitrat dan asam fumarat pada masing-masing level. Jumlah natrium sitrat, asam fumarat, dan natrium bikarbonat hasil perhitungan untuk tiap formula adalah sebagai berikut:

Tabel II. Jumlah natrium sitrat, asam fumarat, dan natrium bikarbonat untuk masing-masing formula granul effervescent

Formula Natrium sitrat (mg) Asam fumarat (mg) Natrium bikarbonat (mg) 1 400 200 357 a 640 320 357 b 400 200 571 ab 640 320 571

(57)

7. Formulasi dan pembuatan granul effervescent

Pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak dibuat dalam 4 formula dengan variasi sumber asam dan basa.

Tabel III. Formula granul effervescent ekstrak rimpang temulawak Bahan (mg) Formula 1 Formula a Formula b Formula ab Ekstrak rimpang temulawak 327 327 327 327 Natrium sitrat 400 640 400 640 Asam fumarat 200 320 200 320 Natrium bikarbonat 357 357 571 571 Aspartam 50 50 50 50 Laktosa 1061 1061 1061 1061 PVP 21 21 21 21 8. Pencampuran bahan

Bahan-bahan dicampur sesuai dengan formula masing-masing dan dibuat dalam bentuk granul. Pencampuran bahan dan seluruh proses granulasi dilakukan pada ruangan tertutup dengan suhu 25oCdankelembaban relatif 50-53%.

9. Pembuatan granul effervescent

Granul yang dibuat ada 2 macam yaitu granul asam dan granul basa. Granul asam dibuat dengan campuran ekstrak rimpang temulawak, sumber asam (natrium sitrat–asam fumarat), laktosa, dan PVP (dalam etanol 70% dengan konsentrasi 3%) sebagai cairan pengikat. Granul basa dibuat dengan campuran sumber basa (natrium bikarbonat), laktosa, aspartam, dan larutan PVP sebagai pengikat. Massa granul basah diayak dengan ayakan ukuran mesh no. 12, lalu granul dikeringkan. Granul asam dan granul basa dikeringkan dengan oven dengan suhu 45oC selama 3 hari sampai bobot konstan. Setelah kering, granul

(58)

diayak dengan ayakan 30/40 kemudian dilakukan pencampuran antara granul asam dan granul basa. Granul yang diperoleh kemudian diuji sifat fisiknya.

10. Pemeriksaan sifat fisik granul effervescent a. Kecepatan alir

Granul ditimbang seberat 100 gram kemudian dituang secara perlahan-lahan ke dalam corong pengukur lewat tepi corong. Buka tutup corong, biarkan granul mengalir keluar. Dicatat waktu yang dibutuhkan granul sampai semua granul mengalir keluar dengan menggunakan stopwatch (Voigt, 1994).

b. Waktu larut

Penentuan waktu larut granul effervescent dilakukan dengan cara melarutkan sejumlah granul sesuai dengan bobot formula masing-masing ke dalam 200 ml air (Wehling, 2004), kemudian dicatat waktu mulai dimasukkan kedalam air sampai semua granul habis terlarut. Syarat waktu larut granul adalah ≤ 120 detik (Mohrle, 1980).

c. Uji kandungan lembab

Penentuan kandungan lembab granul dilakukan menggunakan oven. Oven dipanaskan pada suhu 105oC selama 5 menit. Ditimbang granul sejumlah 5 gram untuk masing-masing formula kemudian dimasukkan ke dalam oven. Atur waktu pengeringan hingga selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,25% (Ansel, 1989). Persen kandungan lembab yang ditunjukkan merupakan hasil bagi antara selisih bobot granul dengan bobot granul akhir dikalikan 100% (Voigt, 1994).

% 100 x akhir bobot akhir bobot -awal bobot granul lembab Kandungan =

(59)

11. Penentuan rumus dan contour plot sifat fisik granul effervescent

Penentuan rumus sifat fisik granul effervescent dilakukan dengan metode desain faktorial dengan menggunakan rumus:

Y = b0 + b1 XA + b2 XB + b12 XA XB Y = respon hasil atau sifat yang diamati XA, XB = level bagian A dan B

b0, b1, b2, b12 = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

Dari persamaan yang diperoleh, maka dapat dibuat contour plot sifat fisik granul

effervescent serta contour plot super imposed untuk menentukan area optimum.

H. Analisis Hasil

Berdasarkan rumus Y = bo + b1XA + b2XB + b12XAXB dapat dibuat contour

plot sifat fisik granul effervescent. Dari contour plot tersebut kemudian

digabungkan menjadi contour plot super imposed untuk mengetahui komposisi optimum kombinasi antara natrium sitrat–asam fumarat dan natrium bikarbonat.

(60)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Determinasi Simplisia Temulawak

Determinasi simplisia temulawak bertujuan untuk memastikan kebenaran rimpang yang digunakan dalam penelitian. Kesalahan penggunaan tanaman dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Determinasi dilakukan dengan pembuatan herbarium basah tanaman temulawak yang kemudian akan dicocokkan dengan buku acuan ”Atlas Tumbuhan Obat Indonesia” (Dalimartha, 2000). Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian adalah benar-benar tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).

B. Penyiapan dan Pembuatan Serbuk Simplisia rimpang Temulawak Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) diperoleh dari Samigaluh, Kulon Progo. Pencucian rimpang temulawak dengan air mengalir dimaksudkan untuk menghilangkan tanah atau kotoran lain yang menempel pada rimpang. Sortasi basah dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan rimpang temulawak dari kemungkinan adanya campuran rimpang lain atau dari bagian tanaman lain yang tidak diinginkan.

Rimpang yang telah dikupas kulitnya kemudian diiris tipis-tipis (± 3mm). Pengirisan ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengeringan,

Figur

Memperbarui...

Related subjects :