STRUKTUR TEGAKAN DAN KOMPOSISI JENIS
HUTAN ALAM BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TENGAH
(Stand structure and species composition of logged-over natural forest in Central Kalimantan)
Oleh/by: Haruni Krisnawati
SUMMARY
Stand structure and species composition are two stand characteristics that have to be assessed. Studying the stand dynamics and its characteristics is a basic prerequisite to the sustainable forest management since it is essential to know how the forest will respond to occasional disturbances or silvicultural treatments. The study mainly focuses on the logged-over natural forest based on six plots of 1 ha each, totaling 6 ha. The aim of this research is to present the main characteristics of the stand structure and species composition of the logged-over natural forest in Central Kalimantan. The average of tree density and basal area are 431 trees per ha and 21,70 m2 per ha respectively. The dipterocarps represented about 18 % of the total tree density and 35 % of the stand basal area. The forest of the logged-over area is dominated by the families of Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Lauraceae, Anacardiaceae and Myristicaceae, which comprised 56 % of the total tree density and 72 % of the stand basal area. The number of tree species found in six plots is 116 species comprising 33 families, where 57 species per ha in mean. The species richness of the logged-over forest is lower than that commonly found in primary forest in other parts of Kalimantan which is generally more than 150 species per ha. The variations of the species richness could be correlated with climate variation, edaphic and topography condition of the area; besides the dynamics and condition of the logged-over forest is different from that of the primary forest.
I. PENDAHULUAN
Struktur tegakan dan komposisi jenis merupakan dua hal yang harus diketahui
dalam memahami dinamika suatu hutan (Shugart dan West, 1981 dalam Favrichon,
1998). Keduanya merupakan data karakteristik tegakan yang harus diketahui
sehubungan dengan langkah kebijaksanaan yang harus ditempuh dalam operasional
kegiatan pengelolaan hutan, baik dalam pemungutan hasil maupun pembinaan
tegakan. Menurut Nguyen-The et al.(1998), mempelajari dinamika suatu hutan dan
karakteristiknya merupakan prasyarat dasar dalam mengelola hutan secara lestari;
oleh karena informasi ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana hutan akan
memberikan respon terhadap gangguan-gangguan alam maupun terhadap
perlakuan-perlakuan silvikultur.
Kajian tentang struktur tegakan dan komposisi jenis merupakan dasar bagi
komponen penelitian-penelitian lain, seperti dinamika struktur tegakan hutan,
pertumbuhan & hasil (growth & yield) dan permudaan alam. Pemahaman yang lebih
baik akan ekologi jenis pohon, akan mendorong pada pengelolaan hutan dan
penerapan teknik silvikultur yang lebih baik.
Beberapa studi menunjukkan bahwa keragaman jenis di hutan hujan tropis
berhubungan dengan interaksi kompleks dari faktor-faktor fisik (variasi iklim, kondisi
edafis dan topografi) dan faktor-faktor biologis (dinamika tegakan hutan dan
persyaratan tumbuh jenis). Studi tentang ekologi hutan Dipterocarpaceae telah
banyak dilakukan di bagian utara Kalimantan, seperti di Serawak (Ashton dan Hall,
1992) dan di Brunei (Davies dan Becker, 1996). Untuk hutan di bagian Kepulauan
Indonesia, studi ekologi hutan Dipterocarpaceae campuran telah dilakukan oleh
Kartawinata et al. (1981), Riswan (1987), dan Suselo dan Riswan (1987); dimana
lokasi penelitian ketiganya di areal hutan primer di Kalimantan Timur.
Saat ini sebagian besar areal hutan alam di Indonesia berupa hutan bekas
tebangan (logged-over forest). Struktur tegakan dan komposisi jenis hutan bekas
tebangan sangat berbeda dengan struktur tegakan dan komposisi jenis hutan primer
(virgin forest). Oleh karena itu, penelitian mengenai struktur tegakan dan komposisi
jenis di hutan alam bekas tebangan penting dilakukan.
Pemilihan hutan Kalimantan sebagai areal penelitian dengan pertimbangan
kaya akan jenis-jenis flora, termasuk jenis-jenis endemik. Bahkan, hutan Kalimantan
telah dikenal secara luas sebagai salah satu pusat keragaman flora yang paling
penting di dunia selain sebagai pusat penyebaran dan keragaman jenis untuk sejumlah
suku dan marga (Whitmore, 1984).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik utama dari struktur
tegakan hutan dan komposisi jenis pohon dari hutan alam bekas tebangan di
Kalimantan Tengah.
II. RISALAH OBYEK PENELITIAN
Penelitian dilakukan di areal hutan Sei Kalek-Nahiang, yang termasuk dalam
wilayah kerja HPH PT. Sarmiento Parakantja Timber. Secara geografis lokasi
tersebut terletak di antara 11200’ – 112029’ Bujur Timur dan 1023’ – 2026’ Lintang
Selatan.
Menurut pembagian wilayah administrasi pemerintahan, lokasi penelitian
termasuk dalam Desa Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten
Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan menurut pembagian
wilayah administrasi kehutanan, termasuk dalam wilayah Resort Polisi Hutan (RPH)
Gunung Santui, Sub Dinas Kehutanan (SDK) atau Bagian Kesatuan Pemangkuan
Hutan (BKPH) Mentaya Hulu, Dinas Kehutanan Dati II Kotawaringin Timur, Dinas
Kehutanan Dati I Kalimantan Tengah.
Areal penelitian merupakan hutan alam tanah kering dengan topografi yang
bervariasi dari datar sampai berbukit. Ketinggian tempat berada antara 190 sampai
225 m dari permukaan laut.
Iklim setempat menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951) termasuk
dalam tipe iklim A dengan nilai Q = 8 % dan kelembaban udara berkisar antara 74
sampai 85,6 %. Curah hujan rata-rata tahunan 3520 mm dengan jumlah hari hujan
rata-rata 159 hari.
Vegetasi di lokasi penelitian sebagian besar didominasi oleh jenis-jenis dari
suku Dipterocarpaceae, seperti meranti (Shorea spp); sedangkan dari suku-suku
non-Dipterocarpaceae didominasi oleh jenis nyatoh (Dehaasia caesia), keramu (Parishia
umum dijumpai adalah jenis-jenis tumbuhan hias, tumbuhan obat, anggrek, serta
berbagai jenis herba dan liana.
III. METODE PENELITIAN
A. Pengumpulan Data
Areal yang dijadikan lokasi penelitian adalah satu buah Seri Petak Ukur
Permanen (PUP) seluas 24 ha yang dibangun di areal bekas tebangan berumur 6
tahun sejak dilakukan penebangan. Pada Seri PUP tersebut ditempatkan 6 buah PUP
yang saling berimpit dengan jarak masing-masing 200 m x 200 m. Petak pengamatan
dibuat dalam tiap PUP berukuran jarak datar 100 m x 100 m (1 hektar). Setiap petak
pengamatan dibagi menjadi 100 buah plot berukuran jarak datar 10 m x 10 m.
Semua pohon dalam petak pengamatan 100 m x 100 m yang memiliki keliling
setinggi dada ≥ 31,4 cm atau diameter setinggi dada (diameter at breast height atau
dbh ≥ 10 cm) dilakukan pengukuran keliling pada ketinggian 130 cm dari atas tanah
atau 20 cm di atas banir, penandaan (pemoletan) dan pencacahan, serta dilakukan
identifikasi jenis berdasarkan spesimen herbariumnya.
B. Analisis Data
Perhitungan jumlah (kerapatan) pohon dan bidang dasar tegakan menurut kelas
diameter dilakukan untuk melihat struktur tegakan horizontal.
Penyebaran jenis dalam tegakan ditentukan dengan Indeks Nilai Penting (INP).
Besarnya INP dari setiap jenis dihitung dengan mengikuti cara Bray dan Curtis
(1957). INP pada umumnya dihitung dari hasil penjumlahan Kerapatan relatif (Kr),
Dominasi relatif (Dr) dan Frekuensi relatif (Fr) setiap jenis. Dalam penelitan ini,
hanya Kr dan Dr yang digunakan untuk menghitung INP*, sehingga total INP* untuk
semua jenis = 200. Adapun cara perhitungan INP* adalah sebagai berikut:
( )
contoh areal
luas
jenis suatu individu jumlah
K Kerapatanjenis =
x100 K
K (%) Kr
jenis seluruh
contoh
Keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan indeks keragaman dari
Shannon – Wiener (Magurran, 1988), yaitu:
⎟
N = total jumlah individu dalam contoh
S = jumlah jenis
Indeks keragaman jenis maksimum (H’max’) dan indeks kesamarataan jenis
(Equitability = E) dihitung dengan cara (Ludwig dan Reynolds, 1988; Krebs, 1989):
( )
SA. Struktur Tegakan Hutan
Struktur tegakan hutan secara umum dicirikan oleh kerapatan pohon, penutupan
atau luas bidang dasar tegakan, penyebaran kelas diameter maupun penyebaran jenis
dalam ruang.
Berdasarkan hasil penarikan contoh pada enam petak pengamatan dengan luas
masing-masing petak 1 hektar di hutan alam bekas tebangan Sei Kalek-Nahiang
Kalimantan Tengah tercatat bahwa kerapatan pohon berkisar antara 309 pohon per
hektar sampai dengan 600 pohon per hektar atau rata-rata 431 pohon per hektar
per hektar sampai dengan 30,64 m2 per hektar atau rata-rata 21,70 m2 per hektar
(Tabel 2).
Tabel (Table) 1. Kerapatan pohon (N/ha) dari semua jenis dan jenis-jenis Dipterocarpaceae menurut kelas diameter dari 6 petak di hutan bekas tebangan (Tree density (N/ha) of all species and dipterocarps only according to the diameter classes in the six plots of logged-over forest)
Kelas diameter (Diameter class) - cm -
Tabel (Table) 2. Bidang dasar tegakan (m2/ha) dari semua jenis dan jenis-jenis Dipterocarpaceae menurut kelas diameter dari 6 petak di hutan bekas tebangan (Stand basal area (m2/ha) of all species and dipterocarps only according to the diameter classes in the six plots of logged-over natural forest)
Seperti dapat dilihat pada Tabel 1, sekitar 62,3 % dari rata-rata 431 pohon yang
ada berdiameter antara 10 – 19 cm, 33,4 % berdiameter antara 20 – 49 cm, dan hanya
4,3 % berdiameter lebih besar dari 50 cm. Tersirat bahwa struktur horizontal hutan
ini tersusun oleh pohon-pohon berdiameter kecil yang relatif banyak dan hanya
sedikit pohon-pohon berdiameter besar. Penyebaran jumlah pohon seperti ini
mengikuti pola eksponensial negatif seperti yang umum ditemukan di hutan alam
hujan tropis, yaitu jumlah pohon semakin berkurang dengan bertambahnya kelas
diameter.
Dari Tabel 1 dan Tabel 2 terlihat pula bahwa penyebaran jumlah pohon dan
bidang dasar tegakan menurut kelas diameter menunjukkan bahwa jenis-jenis dari
suku Dipterocarpaceae menyusun sekitar 18 % dari total kerapatan pohon (rata-rata
77 pohon/ha) atau 35 % dari total bidang dasar tegakan (rata-rata 7,54 m2/ha).
Berdasarkan penyebaran jumlah pohon menurut suku seperti disajikan pada
Tabel 3 terlihat bahwa jenis-jenis dari suku Myrtaceae paling banyak ditemukan di
areal hutan alam bekas tebangan di Kalimantan Tengah, dengan total jumlah pohon
617 pohon dari 6 petak pengamatan atau sekitar 24 % dari total kerapatan pohon.
Pada umumnya jenis-jenis dari suku Myrtaceae yang banyak ditemukan di areal ini
adalah jenis Acmena acuminatissima dan Eugenia sp.
Suku Dipterocarpaceae merupakan suku yang melimpah kedua, dengan total
jumlah pohon yang ditemukan di 6 petak pengamatan tercatat 462 pohon atau sekitar
18 % dari total kerapatan pohon. Apabila dilihat dari penyebaran bidang dasar
tegakan terlihat bahwa jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae menempati ruang
paling besar atau sekitar 35 % dari total bidang dasar tegakan, yaitu lebih dari dua
kali bidang dasar tegakan dari suku Myrtaceae yang hanya mencapai 15,44 %. Hal
ini terjadi karena jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae mendominasi kelas-kelas
diameter besar sehingga sangat menentukan dalam perhitungan bidang dasar tegakan
total. Dari Tabel 2 tercatat bahwa bidang dasar 1 pohon jenis Dipterocarpaceae
berdiameter di atas 100 cm setara dengan 79 pohon berdiameter 10 – 19 cm. Itulah
sebabnya meskipun kerapatan pohon dari suku Myrtaceae lebih besar, akan tetapi
bidang dasar tegakan kurang dari separuh dari bidang dasar tegakan suku
Dipterocarpaceae, karena pohon-pohon dari suku Myrtaceae lebih banyak ditemukan
Tabel (Table) 3. Kerapatan pohon kumulatif dari setiap suku menurut kelas diameter dari 6 petak di hutan bekas tebangan (Cumulated tree density of each family according to the diameter classes in six plots of logged-over forest)
Kelas diameter(Diameter class) - cm - Suku Seperti dapat dilihat pada Gambar 1, suku Dipterocarpaceae menempati porsi
terbesar, yaitu sekitar 60 % dari pohon-pohon berdiameter 50 cm ke atas ditempati
oleh suku Dipterocarpaceae. Bahkan, pada kelas diameter 70 cm ke atas, hampir 90
% dari kelas diameter ini ditempati oleh suku Dipterocarpaceae. Jenis-jenis yang pada
umumnya ditemukan pada kelas diameter ini adalah jenis-jenis dari marga Shorea
dan Dipterocarpus. Sedangkan jenis-jenis dari marga Vatica, Dryobalanops dan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
10-19 20-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-99 100 up
Kelas diameter (cm) (Diam eter class) Proporsi Dipterocarpaceae (%) (Proportion of Dipterocarps)
N BA
Gambar (Figure) 1. Proporsi kerapatan (N) dan bidang dasar (BA) Dipterocarpaceae pada setiap kelas diameter (Proportion of tree density and basal area of Dipterocarps species in each diameter class)
B. Suku (Family) Pohon
Berdasarkan penyebaran suku menurut kelas diameter seperti disajikan pada
Tabel 3 di muka, terlihat bahwa dari 6 petak pengamatan 84 % dari total kerapatan
pohon ditempati oleh 8 suku, yaitu Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Lauraceae,
Anacardiaceae, Myristicaceae, Flacourtiaceae, Annonaceae dan Meliaceae. Hal ini
dicerminkan dari jumlah pohon yang ditemukan pada masing-masing suku ini cukup
banyak (lebih dari 100 pohon). Dari 8 suku ini, 20 jenis diantaranya ditemukan di
setiap petak pengamatan. Daftar jenis-jenis pohon yang ditemukan di setiap petak
pengamatan secara lengkap disajikan pada Lampiran 1.
Pada umumnya penyebaran suku menurut kelas diameter pohon dapat
dibedakan menjadi 4 kelompok utama, yaitu: 1) kelompok pohon-pohon pengisi
kanopi dan pohon-pohon emergent, 2) kelompok pohon-pohon ukuran sedang (sub
kanopi), 3) kelompok pohon kecil (lapisan bawah), dan 4) kelompok
Kalimantan Tengah, kelompok pertama didominasi oleh pohon-pohon berukuran
besar (diameter 70 cm ke atas) dari suku Dipterocarpaceae. Kelompok kedua
didominasi oleh pohon-pohon berukuran sedang yang diameternya secara umum
tidak lebih dari 70 cm. Di areal penelitian, kelompok ini terdiri dari suku Myrtaceae
(seperti jenis Acmena acuminatissima dan Eugenia sp), Lauraceae (seperti jenis
Dehaasia caesia), dan beberapa dari suku Caesalpiniaceae (seperti jenis Koompassia
malacensis). Kelompok ketiga terdiri dari pohon-pohon berukuran kecil (diameter
kurang dari 50 cm) yang utamanya terdiri dari suku Anacardiaceae (seperti jenis
Parishia maingayi dan Gluta renghas), Myristicaceae (seperti jenis Knema furfurea
dan Myristica iners), Flacourtiaceae (seperti jenis Hydnocarpus woodii), Annonaceae
(seperti jenis Mezzettia sp dan Polyalthia sp) dan beberapa dari suku Meliaceae
(seperti jenis Amoora sp). Kelompok keempat meliputi jenis-jenis pionir yang
tumbuh cepat akibat terbukanya lahan karena aktivitas penebangan, seperti jenis
Macaranga conifera (Euphorbiaceae).
C. Komposisi dan Kekayaan Jenis
Komposisi jenis merupakan suatu variasi jenis tumbuhan penyusun suatu
komunitas. Dari komposisi jenis ini dapat diketahui jenis-jenis tumbuhan utama
penyusun suatu tegakan maupun jenis-jenis yang jarang ditemukan.
Berdasarkan hasil identifikasi jenis pohon (dbh ≥ 10 cm), diketahui bahwa
jumlah jenis yang ditemukan di 6 petak pengamatan di hutan bekas tebangan
Kalimantan Tengah tercatat 116 jenis yang terbagi kedalam 33 suku. Dari total 116
jenis, 65 jenis dapat diidentifikasi sampai ke tingkat jenis (2099 pohon atau 81,1 %
dari total pohon), 47 jenis dapat diidentifikasi sampai ke tingkat marga (484 pohon
atau 18,7 % dari total pohon), dan hanya 4 jenis yang tidak dapat diidentifikasi
sehingga dikategorikan ke dalam jenis-jenis yang tidak dikenal atau unknown species
(5 pohon atau 0,2 % dari total pohon). Besarnya INP* dari setiap jenis disajikan pada
Lampiran 2.
Suku-suku yang paling umum dijumpai dengan INP* tertinggi berturut-turut
adalah: Dipterocarpaceae (INP* = 52,63), Myrtaceae (INP* = 39,29), Lauraceae (INP*
= 17,68), Anacardiaceae (INP* = 16,35), dan Myristicaceae (INP* = 12,24). Kelima
suku ini mendominasi 56 % dari total kerapatan pohon dan 72 % dari bidang dasar
hutan alam bekas tebangan di Kalimantan Tengah adalah jenis Acmena
acuminatissima dari suku Myrtaceae (INP* = 33,3), yang meliputi 21 % dari total
kerapatan pohon. Jenis yang dominan berikutnya dengan INP* lebih dari 10
berturut-turut adalah jenis Shorea parvifolia dari suku Dipterocarpaceae (INPP
*
= 12,32),
Parishia maingayi dari suku Anacardiaceae (INP*P = 10,98) dan Dehaasia caesia dari
suku Lauraceae (INP* = 10,39).
Indeks keragaman jenis (H’) untuk keenam petak adalah 3,5 dan indeks
kesamarataan jenis (E) = 0,74 (Hmax= 4,75). Apabila dihitung untuk setiap petak
(Tabel 4), terlihat bahwa nilai H’ dan E antar petak hampir sama (H’ berkisar antara
3,07 sampai 3,58; E berkisar antara 0,78 sampai 0,84). Sekitar 75 % dari jenis-jenis
yang ditemukan merupakan jenis-jenis yang jarang (kurang dari 3 pohon per hektar),
bahkan sekitar 59 % dari jenis-jenis tersebut memiliki kerapatan jenis yang lebih
rendah atau sama dengan 1 pohon per hektar, tetapi pola kerapatan jenis yang lebih
rendah ini umum dijumpai di hutan hujan tropis (Whitmore, 1984). Meskipun
sebagian besar jenis ditemukan dengan kerapatan yang rendah, akan tetapi kondisi
hutan bekas tebangan di areal penelitian masih dapat dikatakan stabil, karena nilai H’
masih di atas 3,0. Menurut Odum (1971), keadaan hutan dikatakan stabil apabila
mempunyai indeks keragaman ≥ 3,0 dan bila indeks keragaman < 3,0 keadaan hutan dapat dikatakan tidak stabil.
Tabel (Table) 4. Indeks keragaman dan kesamarataan jenis dari setiap petak (Species diversity and equitability index of each plot)
Petak (plot) H’ H’max E
1 3,3404 4,1431 0,8062
2 3,1425 3,8067 0,8255
3 3,1313 3,9890 0,7850
4 3,5860 4,2905 0,8358
5 3,1954 3,9512 0,8087
6 3,0667 3,9318 0,7800
Semua (all) 3,4951 4,7536 0,7353
Ditinjau dari kekayaan jenis, kerapatan jenis di areal penelitian berkisar antara
45 jenis per hektar sampai 73 jenis per hektar dengan rata-rata 57 jenis per hektarnya.
Dibandingkan dengan di areal hutan primer, kerapatan jenis yang ditemukan di areal
hutan bekas tebangan ini jauh lebih rendah. Dampak dari kegiatan penebangan akan
selama 6 tahun setelah penebangan, terjadi persaingan dalam vegetasi, akibatnya
sebagian jenis ada yang mati. Jenis-jenis yang membutuhkan cahaya penuh dalam
pertumbuhannya (intolerant) akan bertahan dan berkembang dengan baik dengan
terbukanya kanopi akibat penebangan, sebaliknya jenis-jenis yang membutuhkan
naungan (tolerant) kemungkinan tidak mampu bertahan dan mati. Namun demikian,
jumlah jenis yang ditemukan di areal penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan
dengan hasil penelitian Heriyanto (2001) di hutan bekas tebangan Maluku Tengah,
dimana jumlah jenis yang ditemukan hanya sekitar 38 sampai 55 jenis dalam areal
seluas 2 hektar. Beberapa studi yang dilakukan di areal hutan primer di Kalimantan
Timur (Sist dan Saridan, 1998; Kartawinata et al., 1981) menunjukkan bahwa
rata-rata kerapatan jenis per hektar lebih dari 150 jenis. Variasi kekayaan jenis ini
mungkin ada hubungannya dengan variasi iklim, tempat tumbuh dan topografi; selain
kondisi dan dinamika hutan bekas tebangan yang sangat berbeda dengan kondisi dan
dinamika hutan primer. Meskipun demikian, suku Dipterocarpaceae di lokasi
penelitian masih merupakan suku yang terkaya (meliputi 21 jenis), dimana jenis-jenis
Shorea, yang merupakan salah satu jenis kayu komersial yang paling banyak diminta,
masih cukup mendominasi tegakan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Jumlah jenis yang ditemukan di 6 petak pengamatan di hutan alam bekas
tebangan Kalimantan Tengah tercatat 116 jenis yang terbagi kedalam 33 suku.
2. Jenis yang paling mendominasi tegakan adalah jenis Acmena acuminatissima dari
suku Myrtaceae (INP* = 33,3), yang meliputi 21 % dari total kerapatan pohon.
3. Dilihat dari penyebaran jumlah pohon, suku Myrtaceae paling banyak ditemukan
di areal hutan alam bekas tebangan di Kalimantan Tengah.
4. Dilihat dari penyebaran bidang dasar tegakan, suku Dipterocarpaceae menempati
ruang paling besar karena jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae mendominasi
kelas-kelas diameter besar.
5. Kondisi hutan bekas tebangan di areal penelitian masih dapat dikatakan stabil
B. Saran
Penelitian ini perlu diperluas pada berbagai umur setelah penebangan untuk
melihat dinamika atau perubahan tegakan hutan dalam komposisi jenis dan struktur
tegakan dari waktu ke waktu. Selain itu perlu dilakukan analisis terhadap kondisi
tanah, iklim dan topografi pada berbagai areal bekas tebangan untuk melihat adanya
variasi struktur dan komposisi jenis.
DAFTAR PUSTAKA
Ashton, P.S and P. Hall. 1992. Comparison of structure among mixed dipterocarp forests of north-western Borneo. Journal of Ecology 80: 459 – 481.
Bray, J.R. and J.T. Curtis. 1957. An ordination of the upland forest communities of Southern Wisconsin. Ecology 27: 325 – 349.
Davies, S.J. and P. Becker. 1996. Floristic composition and stand structure of mixed dipterocarp and heath forests in Brunei Darussalam. Journal of Tropical Forest Science 8 (4): 542 – 569.
Favrichon, V. 1998. Modelling the dynamics and species composition of a tropical mixed-species uneven-aged natural forest: effect of alternative cutting regimes. For. Sci. 44(1): 113 – 124.
Heriyanto, N.M. 2001. Komposisi dan penyebaran jenis tumbuhan di hutan bekas tebangan dan hutan primer, Maluku Tengah. Bul. Pen. Hut. 629: 31 – 42.
Kartawinata, K., A. Rochadi and J. Partomihardjo. 1981. Composition and structure of a lowland dipterocarp forest at Wanariset, East Kalimantan (Indonesia). Malayan Forester 44, 2/3: 397 – 406.
Krebs, C.J. 1989. Ecological Methodology. Harper & Row, Publisher, Inc., New York, 654 p.
Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology: A primer on methods and computing. John Wiley & Sons. New York, 337 p.
Magurran, A.E. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton University Press, Princeton, NJ, 179 p.
Bertault, J-G and K. Kadir (Editiors). 1998. Silvicultural research in a lowland mixed dipterocarp forest of East Kalimantan, The Contribution of STREK project, CIRAD-forêt, FORDA, and PT. INHUTANI I. CIRAD-forêt Publication
Odum, E.P. 1971. Forest Ecology. 3rd edition. W.B. Saunders, Coy, Philadelphia, London, Toronto.
Riswan, S. 1987. Structure and floristic composition of mixed dipterocarp forest at Lempake, East Kalimantan. Pp. 435 – 457. In: Kostermanns, A.J.G.H (Editor). Proceedings of the Third International Round Table Conference on Dipterocarps. UNESCO, Jakarta, Indonesia.
Schmidt, F.H. and J.H.A. Fergusson. 1951. Rainfall types based on wet and dry period rations for Indonesia with Western New Guinea. Verhand No. 42. Kementerian Perhubungan, Djawatan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.
Sist, P. and A. Saridan. 1998. Description of the primary lowland forest of Berau. Pp. 51 – 93. In: Bertault, J-G and K. Kadir (Editiors). 1998. Silvicultural research in a lowland mixed dipterocarp forest of East Kalimantan, The Contribution of STREK project, CIRAD-forêt, FORDA, and PT. INHUTANI I. CIRAD-forêt Publication.
Suselo, T.B. and S. Riswan. 1987. Compositional and structural pattern of lowland mixed dipterocarp forest in the Kutai National Park, east Kalimantan. Pp. 459 – 470. In Kostermanns, A.J.G.H (Ed.). Proceedings of The Third International Round Table Conference on Dipterocarps. UNESCO, Jakarta, Indonesia.
Lampiran (Appendix) 1. Penyebaran jenis dari setiap petak pengamatan di hutan bekas tebangan, Kalimantan Tengah (Species distribution of each observation plot in logged-over forest, Central Kalimantan)
Lampiran (Appendix) 1. Lanjutan (Continuation)
Petak (plot) Jenis
(Species)
Suku
(Family) 1 2 3 4 5 6 Jumlah (Total)
Shorea ovalisBl. Dipt. 1 11 5 6 2 25
Shorea parvifoliaDyer Dipt. 15 32 15 20 5 9 96
Shorea paucifloraKing Dipt. 3 3 1 7
Shorea rugosaHeim Dipt. 1 2 1 3 2 7 16
Shorea smithiana Sym. Dipt. 7 16 10 6 4 8 51
Shorea sp.1 Dipt. 1 1 2
Shoreasp.2 Dipt. 1 1
Shoreasp.3 Dipt. 1 1
Shoreasp.4 Dipt. 3 3
Shoreasp.5 Dipt. 1 1
Shoreasp.6 Dipt. 2 1 2 5
Sindora coriaceaKing. Caes. 1 1
Sindora leiocarpa deWit Caes. 4 1 5
Trigonopleura malayana Hook. f. Euph. 1 3 2 2 8
Unknown1 Unknown 1 1
Unknown2 Unknown 2 2
Unknown3 Unknown 1 1
Unknown4 Unknown 1 1
Vatica bancana Scheff. Dipt. 21 11 20 3 1 21 77
Xylopiasp. Annon. 1 1
Zizyphus angustifolius Rhamn. 15 15
Lampiran (Appendix) 2. Kerapatan relatif (Kr), Dominansi relatif (Dr) dan Indeks Nilai Penting (INP*) dari jenis-jenis yang ditemukan di 6 petak pengamatan hutan bekas tebangan, Kalimantan Tengah (relative Density (rD), relative Dominancy (rD) and Importance Value Index (IVI8) of species found in the six observation plots of logged-over natural forest, Central Kalimantan)
Jenis
Mezettia parvifolia 0,23 0,23 0,46
Mezzettia sp.1 1,55 0,70 2,24
Mezzettia sp.2 0,04 0,05 0,09
Mitrephora sp. 0,54 0,15 0,69
Polyalthia glauca Boerl 4,13 2,08 6,22
Polyalthia lateriflora King 0,19 0,10 0,29
Xylopia sp. 0,04 0,02 0,05
Dialium platysepalum Baker 0,50 0,35 0,86
Dialium sp. 0,08 0,03 0,11
Koompassia malaccensis Maing. ex Benth. 0,89 1,73 2,62
Lampiran (Appendix) 2. Lanjutan (Continuation)
Dipterocarpus gracilis Blume 0,66 2,02 2,68
Dipterocarpus sp. 0,04 0,10 0,14
Shorea macrobalanos Ashton 0,31 1,47 1,78
Shorea ovalis Bl. 0,97 1,20 2,16
Shorea parvifolia Dyer 3,71 8,61 12,32
Shorea pauciflora King 0,27 0,99 1,27
Chaetocarpus castanocarpus 0,27 0,14 0,41
Cleistanthus sp. 0,93 1,00 1,93
Macaranga conifera 0,04 0,02 0,06
Macaranga sp. 0,04 0,04 0,08
Trigonopleura malayana Hook. f. 0,31 0,19 0,50
2,06 1,55 3,61
Fagaceae
Castanopsis argentea (Blume) A.DC. 0,12 0,28 0,40
Lithocarpus sp. 0,81 1,26 2,07
Calophyllum soulattri Burm.F. 0,39 0,47 0,85
Cratoxylum formosum (Jack) Dyer 0,08 0,05 0,13
Lampiran (Appendix) 2. Lanjutan (Continuation)
Alseodaphne umbelliflora Bl. 0,46 0,27 0,74
Dehaasia caesia Blume 5,45 4,94 10,39
Dehaasia sp. 0,19 0,14 0,33
Eusideroxylon zwageri T.et.B. 1,74 4,48 6,22
7,84 9,83 17,68
Artocarpus anisophyllus Miq. 0,15 0,08 0,24
Artocarpus rigidus Bl. 0,08 0,02 0,09
Acmena acuminatissima M. 20,87 12,43 33,30
Lampiran (Appendix) 2. Lanjutan (Continuation)
Ochanostachys amentacea Mast. 2,28 2,34 4,62 Scorodocarpus borneensis Becc. 0,35 0,08 0,43
2,63 2,42 5,05
Zizyphus angustifolius 0,58 0,25 0,83
Zizyphus sp. 0,04 0,01 0,05
Palaquium calophyllum Piere. 0,35 0,29 0,64
Palaquium quercifolium Burk. 0,19 0,09 0,28
Palaquium sp. 0,15 0,04 0,19
Elaeocarpus sphaericus K.Schum 0,19 1,62 1,82