• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teguh Prakoso dan Venus Khasanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teguh Prakoso dan Venus Khasanah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Teguh Prakoso dan Venus Khasanah

Jurusan Pendidikan Dasar, FKIP, Universitas Terbuka Jakarta

Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe, Tanggerang 15418, Pos-el: [email protected] (Makalah diterima 15 Agustus 2008 – Revisi 30 Maret 2009)

Abstrak

Tujuan artikel ini adalah menjelaskan perang gender yang tercermin dalam novel karya pengarang-pengarang perempuan Indonesia dari generasi Ayu Utami. Perang gender adalah “dendam abadi” pengarang-pengarang perempuan terhadap pengarang laki-laki yang, sampai sekarang, mengeksploitasi tubuh perempuan dengan besar-besaran dan memaksa mereka untuk membaca tubuhnya sendiri dari sudut pandang laki-laki. Melalui teks erotis sebagai bahasa ekspresi, pengarang perempuan mampu menulis tubuh mereka dengan sudut pandangnya sendiri.

Kata kunci: perang gender, pengarang perempuan, generasi Ayu Utami

Abstract

FEMALE LITERARY WORK:

AN INITIAL ANALYSIS OF GENDER STRUGGLE

This paper has the objective of explaining the gender struggle implied in the novels of Indonesian female authors of Ayu Utami generation. The gender struggle is female author’s “eternal enmity” towards male authors who, up till now, have greatly exploited woman’s body and force them to read their own body from the male point of view. Through erotic texts as the language of expression, female authors are able to write their body with their own point of view.

Keywords: gender struggle, female authors, Ayu Utami generation

1. Pengantar

Ayu utami, dengan novelnya Saman dan Larung, merupakan salah satu penulis muda yang identik dengan keberaniannya dalam membahasakan ga-gasannya secara vulgar. Bersama penulis pe-rempuan lainnya, Ayu utami berani mempertanya-kan kemapaman dan membongkar wilayah tabu, misalnya dalam hal seksualitas. Menurut mereka, seks bukanlah milik kaum laki-laki belaka. Seks adalah persoalan milik perempuan juga, tetapi selama ini direpresi. Menurut Siswanti (2003:31), perempuan direpresi untuk tidak mengenal tubuh sendiri, dikonstruksi untuk menganggap organ seks sebagai suatu hal yang kotor dan memalukan sehingga dinamakan kemaluan.

Dalam perkembangannya, pembahasan

(2)

ke-kuatan yang memang mengangggap bahwa karya sastra perempuan, yang “sarat” dengan seks, itu adalah hal yang memiliki kekuatan baru.

Menurut Medy, secara garis besar dan kasar, penulis perempuan yang muda, yang molek dan cantik, akhir-akhir ini sering dipuji dan dikomentari positif, baik oleh pengarang maupun kritikus sastra—seperti yang terdapat dalam anotasi— adalah tidak lebih dari sekadar upaya menonjolkan seksualitas perempuan atas nama feminisme yang salah kaprah dan untuk kepentingan kapitalisme. Bahkan, tentang kapitalisme ini Medy (2003:67—68) menulis bahwa banyak penerbit yang cenderung memanfaatkan penulis wanita dari segi fisik belaka. Tentu saja usaha-usaha yang bersifat komersial dalam sastra tidak salah, misalnya promosi. Karena promosi inilah, salah satu di antaranya, Saman dan Larung, begitu diminati banyak orang. Namun, perlu kiranya tetap dicermati proporsinya yang ideal, sebab apabila aspek komersialnya lebih dipentingkan daripada estetiknya, maka sastra telah dijadikan komoditi perdagangan belaka. Dalam konteks ini, penerbit yang besar tentu akan lebih dominan dalam menguasai pasar daripada penerbit kecil, walaupun karya yang diterbitkannya lebih baik.

Komentar Medy ini mungkin muncul dari rasa kegusarannya terhadap beberapa tulisan pengarang perempuan yang nyata-nyata berada di lokasi sekitar selangkangan beserta stimulus yang berada dalam daerah sekitarnya yang bersinggungan simpul sarafnya. Keprihatinan Medy (juga Taufik Ismail dan para pendidik) seperti diulas Thowik (Media Indonesia, 28/12/03) ini beralasan karena vulgarisme yang dibangun penulis perempuan ini dapat memperkukuh krisis multidimensi dan me-racuni tunas-tunas bangsa. Upaya untuk mendobrak dominasi kaum laki-laki justru terperangkap dalam pengeksploitasian tubuh perempuan itu sendiri. Dengan kata lain, feminisme yang dibangun justru menjadi perangkap bagi kaum perempuan untuk bertelanjang di hadapan kaum Adam.

Terlepas dari mereka yang mengang-gap tulisan Medy berlebihan ataupun yang mengamini pendapat “kritikus” muda ini, penulis ingin memaparkan bahwa dalam kesusastraan modern di Indonesia seks adalah sebuah resiko, sebuah

kelaziman yang akan muncul dalam setiap kehidupan yang akan diungkap seorang pengarang. Suatu hal yang menarik, barangkali, adalah dimunculkannya seks itu justru oleh pe-ngarang perempuan, seorang pepe-ngarang yang oleh Luce Irigaray (dalam Maria Amiruddin, 2004) didefinisikan sebagai pemilik dua bibir, pengarang yang selama ini dianggap tidak “lazim” menampilkan adegan seks secara “liar” dalam karya sastranya. Mungkin, ini di antaranya, yang menyebabkan banyak kritikus sastra memberikan apresiasi positif terhadap sastrawan perempuan seperti Ayu Utami, Clara Ng, dan Jenar Mahesa Ayu, yang secara nyata berani “membuka” pakaian dalam-nya sendiri beserta segenap isinya. Apa yang perlu dipertanyakan dan di-waspadai adalah apakah eksploitasi daerah geni-tal ini sekadar trend ataukah memang diciptakan untuk menambah komersial, ataukah memang inilah era kebangkitan feminisme, mengingat masyarakat sedang mengalami era keterbukaan. Masyarakat perlu waspada karena munculnya pemba-hasan ini, bukan tidak mungkin, justru akan memunculkan keinginan seseorang untuk sekadar menbaca pembahasan tentang adegan yang mestinya hanya untuk konsumsi usia tertentu. Kekhawatiran inipun pernah diungkapkan seorang guru dan penulis puisi bunga rumput liar (dalam Loekito, 2003:75). Menurutnya, ketika kata itu dieksploitasi habis-habisan sebagai ‘sesuatu yang selama ini ditutupi dan sekarang boleh dibuka untuk dinikmati bersama’, rasanya malu sekali. Eksploitasi daerah genital dapat saja dilakukan, tetapi jika membuat hanya itu yang akan dicari oleh pembaca, maka wawasan terhadap teks yang dibaca akan sangat kering, seperti kecurigaan Mona Sylviana (Media Indonesia, 25/1/04)— yang mestinya tidak boleh terjadi—terhadap Medy yang menurutnya hanya mendasarkan analisisnya pada lembaran tiap halaman yang menampilkan adegan pengundang syahwat tersebut dan bukan secara utuh.

2. Pembahasan

2.1 Perang Gender: Dendam Abadi

(3)

Amiruddin, 2004), anatomi adalah takdir dan anatomi perempuan ditakdirkan tidak akan pernah merasakan hastrat seksual dalam hidupnya. Atas dasar inilah barangkali, kaum perempuan berupaya untuk melakukukan semacam dekonstruksi terhadap maskulinitas yang selama ini menjadi pegangan, termasuk yang dilakukan Ayu Utami dan kawan-kawan. Asumsi ini pulalah yang pa-da akhirnya mendorong Ayu Utami untuk membuat semacam morfologi feminim, sejenis ungkapan seksualitas tubuh perempuan, seperti yang diungkapkan dalam teks (1) berikut.

(1) “Sebab vagina adalah sejenis bungan karnivora sebagaimana kantong semar. Namun, ia tidak meng-undang serangga, melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, dan tak bertulang belakang, dengan manipulasi aroma lendir sebaimana yang dilakukan bakung bangkai. Sesungguhnya, bunga karnivora bukan memakan daging, melainkan menghisap cairan dari makluk yang terjebak dalam rongga dibalik kelo-pak-kelopaknya yang hangat. Otot yang kuat, relung dindingnya yang basah akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang hingga bunga ini memperoleh cairan yang ia hauskan. Ni-trogen pada nepenthes. Sperma pada va-gina. Tetapi klitoris bunga ini tau bagaimana menikmati dirinya dengan getaranyang disebabkan angin.”

Meskipun dalam tulisan ini penulis tidak berdiri di salah satu pihak: apakah yang setujuadan tidak setuju, apa yang dihasilkan para pengarang perempuan memang seperti upaya “balas dendam”. Berkaitan dengan hal itu, ada dua pertanyaan besar tentang “balas dendam” ini.

Pertama, bukankah munculnya karya sastra per-empuan, yang oleh Prabasmoro (Media Indone-sia,11 Januari 2004) diidentikkan dengan ‘sastrawangi’, merupakan upaya dendam kaum perempuan yang selama ini sering dipojokkan oleh laki-laki yang mengeksploitasi dirinya? Kedua, apakah hal itu merupakan upaya sistematis para perempuan pengarang untuk balas dendam karena selama ini mereka yang selalu mengeksploitasi daerah sekitar organ genital kaum pria? Soebadio (1994) pernah menulis bahwa pria senang sekali

menceritakan lelucon-lelucon, bukan hanya yang bersuasana erotik, melainkan juga yang bertujuan, mungkin—menyalurkan perasaan dendam juga— pada kaum perempuan.

Dalam perjalanan sastra di Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa penulis laki-laki sebagai massa dominan sastra Indonesia telah dinobatkan menjadi penguasa sastra. Penulis perempuan dapat diandaikan sebagai mendapat lahan hunian berupa sangkar-sangkar emas dalam istana besar pria. Dengan kondisi yang demikian, meskipun pada suatu ketika, penghuni sangkar emas itu mampu memperbudak pemilik istana, ia akan tetap saja dianggap tidak wajar meninggalkan sangkar seorang diri tanpa pemilik istananya (Loekito, 2003: 66). Kekuasaan penulis kaum Adam ka-dang memang seperti tidak terbatas. Hal ini didukung pula oleh lingkungan yang memang meriwayatkan sejarah kebudayaan memosisikan wanita sebagai makhluk beyond. Pada tahap tertentu, hal ini akan menjadi penghambat yang sangat berat bagi beberapa penulis perempuan.

Pada konteks ini, persoalan “balas dendam” pun pada akhirnya menjadi persoalan laki-laki dan perempuan yang kental dengan nuansa persaingan abadi. Hal itu merupakan salah satu alasan mengapa karya sastra perempuan memunculkan banyak tanggapan positif dari para sastra perempuan dan para kritikus. Bahkan, beberapa kritikus besar menganggap karya sastra ini sebagai sebuah postmodernism yang nyata. Harapan penulis, satu karya monumental yang lahir akan diikuti pula dengan karya monumental lainnya sehingga pengarang yang bersangkutan tidak hanya akan dinilai berdasarkan peruntungannya saja yang baik, tetapi karena mampu menampilkan satu karya yang banyak mendapat perhatian masyarakat karena kualitasnya yang andal.

(4)

perempuan diibaratkan seperti sebuah porselin yang sangat mahal, tidak boleh retak apalagi pecah sehingga harus selalu dijaga. Hal ini tentu berbeda dengan keperjakaan laki-laki yang tidak pernah diibaratkan dengan apapun. Dalam Saman, Ayu Utami berupaya membeberkan mitos kesucian tersebut seperti dalam kutipan (2) berikut.

(2) “Ketika umurku sembilan tahun aku tidak perawan. Orang-orang tidak menyebut begitu sebab buah dadaku belum tumbuh. Ibuku berkata aku takkan retak selama aku memelihara keperawananku. Aku terheran, bagaimana kurawat sesuatu yang aku belum punya? Ingin memberi tahu bahwa di antara kedua kakiku ada tiga lubang. Jangan pernah sentuh yang tengah, sebab di situlah ia tersimpan. Kemudian baru kutahu dan aku agak kecewa bahwa ternyata bukan cuma aku saja yang sebenarnya istimewa. Semua anak perempuan sama saja. Mareka mungkin saja teko, cawan, piring, atau sendok sup, tetapi semuanya porselen. Sedangkan laki-laki? Mereka adalah gading: tak ada yang retak. Kelak, ketika dewasa, kutahu mereka juga daging.” (Utami, 1998:124)

Namun, penulis menganggap bahwa dalam karya-karya sastra perempuan memang tersirat nuansa erotis. Erotisme seringkali menimbulkan penafsiran negatif, terutama pada kaum pria sebagaimana dikemukakan Loekito bahwa emansipasi perempuan tidak berarti menghasilkan karya yang justru akan memunculkan pelecehan terhadap kaum perempuan. Perlu dipahami bahwa keerotisan karya-karya sastra perempuan menjadi rumit untuk diperbincangkan karena teori pengkajian yang digunakan menjadi dasarnya pun masih diperdebatkan, seperti teori Irigaray yang dikutip Chris Weedon dalam Feminist Practice and Postructuralist Theory (dalam Hoed, 1994) bahwa seksualitas perempuan ditekan oleh patriarki yang berusaha menteorisasinya dalam parameter maskulin.

2.2 Teks Erotis sebagai Bahasa

Menurut Hoed (1994) erotisme memang tidak memiliki makna dasar “cabul”, melainkan mengarah pada penggambaran perilaku, keadaaan,

atau suasana yang didasari oleh libido dalam arti keinginan seksual. Untuk menjawab persoalan apakah karya-karya sastra perempuan memuncul-kan erotisme, bumemuncul-kan suatu hal yang mudah. Umar Kayam (1969:103) mengemukakan bahwa persoalan seks dan erotisme dalam kaya sastra Indonesia sudah ada sejak lama, seperti dalam

Jalan Tak Ada Ujung yang menceritakan perzinahan antara istri guru yang impoten dengan teman guru tersebut yang kemudian dikritik sebagai karya ynag sarat dengan persoalan seks dan erotisme, atau dalam Babad Tanah Jawi yang menceritakan perseligkuhan antara Raden Pabelan, putra tumenggung Majang di Pajang dengan sekar kedaton putri Sultan Pajang.

Jika pembaca mengkaji teks dalam bahasa, kajian yang dibahas pada umumnya hanya berkutat pada permasalahan makna unsur bahasa atau semantiknya. Untuk memahami semantiknya, antara lain dapat dilihat dari segi sintagmatik. Pan-dangan dari segi sintagmatik, yakni melihat sebuah teks erotis dari segi tempatnya atau distribusinya dalam sebuah struktur. Jean (dalam Hoed,1994:13) menyimpulkan bahwa inti teks erotis adalah timbulnya hasrat. Teks erotis tidak harus secara langsung mengacu pada libido, tetapi pada hasrat yang didasari oleh libido. Berikut ini merupakan teks yang juga dipermasalahkan oleh Medy Loekito.

(3) “Penisku mereka gosok, buah zakarku mereka remas….mereka menuang krim di atasnya dan menjilatinya seperti kanak-kanak yang haus”. (Rahayu, 2002 dalam Loekito, 2003)

(5)

mem-bayang, walaupun timbulnya nafsu seksual pada pembaca tergantung pada bagaiman seorang pembaca menafsirkan sebuah teks. Sebagai pembanding, perhatikan kutipan novel Saman

dalam teks (4) berikut.

(4) “Dan aku menamai keduanya putting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya kelentit karena serupa kontol yang kecil. Namun, liang itu tidak diberinya sebuah nama. Melainkan, dengan ujung jarinya ia merogoh dan dengan penisnya ia menembus (Utami,1998:97)

Tentu paradigma pembaca terhadap teks (4) ini hampir sama dengan teks (3) walaupun, penafsiran terhadap hal yang berkaitan dengan syahwat sangat bergantung pada penafsiran pembaca terhadap penggunaan kalimat dalam teks (4). Pemilihan kata kelentit dan kontol, tentu menimbulkan penafsiran negatif walaupun kedua kata tersebut sudah dirujuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 532,591). Apalagi, kalimat berikutnya yang dimunculkan Ayu Utami adalah “dan dengan penisnya ia menembus” sehingga rangkaian kalimat tersebut menggambar-kan “teknik senggama” yang vulgar. Kasus serupa tampak pula dalam kutipan yang ditulis oleh Helvi Tiana Rosa (2002), yang mengutip teks karya Dinar Rahayu dalam teks (5) berikut.

“Ada seorang lelaki bernama Jonggi. Ia pernah bertahun-tahun menjadi korban sodomi abangnya sendiri. Yang menyedihkan, bukan hanya itu saja. Jonggi juga menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan ibu kandungnya yang kesepian saat ia kecil dan remaja. Ibu kandungnya yang sebenarnya memiliki seling-kuhan dibelakang suaminya hamil oleh Jonggi, tapi kemudian keguguran. Gilanya, Jonggi menikmati hubungan dengan ibunya sendiri. Ia menganggap itu sebagai persembahan bagi orang yang sangat dicintainya. (Rosa,2002)

Ditinjau dari segi gejala budaya yang berkembang pada akhir-akhir ini, trend sastra perempuan yang kini berkembang dan digandrungi memang membanggakan. Akan tetapi, yang perlu

disadari bahwa dengan ditasbihkannya penulisan seks secara gamblang tersebut sebagai karya sastra fenomenal dapat memberikan kecende-rungan bagi penulis, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menggunakan kata-kata penis, vagina, dan organ lainnya yang bersentuhan dengan kata-kata tersebut. Tema erotisme dan keberanian perempuan bercerita tentang seksualitas akan tumbuh seperti jamur di musim hujan karena banyak peminatnya. Medy (2003:70) menyindir bahwa semakin vulgar sebuah tulisan perempuan pengarang, semakin riuh tepuk tangan pembacanya.

3. Simpulan

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa teks yang diprihatinkan oleh Medy jika dianalisis dari segi sintagmatik memang merupakan teks yang berdampak erotis, tetapi bukan teks yang menampilkan suasana atau kegiatan erotis. Apa yang dipaparkan selama ini dapat dimaknai dari dua sisi mengingat penafsiran keerotisan sebuah karya juga bergantung pada penafsiran pembaca. Akan tetapi, munculnya rentetan kalimat yang mengandung hasrat dan memunculkan libido dapat berdampak erotis.

(6)

Indonesia. Kemunculan para perempuan penulis itu menunjukkan adanya perang jender antara kaum perempuan dengan laki-laki.

Kehadiran karya-karya perempuan pengarang yang menyodorkan seksualitas dengan vulgar tidak perlu ditanggapi se-cara berlebihan karena berbagai catatan dalam sejarah sastra telah menjelaskan bahwa tema-tema tentang seks dalam karya sastra Indonesia telah ada sebelumnya. Bahkan, dalam tradisi Jawa, seperti

Serat Centhini lebih vulgar dibandingkan dengan apa yang dihadirkan oleh perempuan pengarang generasi Ayu Utami. Pada tahun 1970-an, N.H. Dini cukup vulgar dalam menggambarkan perselingkuhan tokoh saya dengan Charles Vincent dalam novel Pada Sebuah Kapal. Hal serupa juga dapat dilihat pada kejadian percintaan antara aku dan seorang pelacur dalam cerpen “Lacur” karya Ajib Rosidi (Kayam, 1969:107).

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Mariana. 2004. “Perempuan, Seks dan Teks: Sastra yang Berbicara”. Dalam

Media Indonesia, Minggu, 4 Januari. hlm 8.

Depdiknas.2001. Kamus Besar Bahasa In-donesia. Jakarta: PT Balai Pustaka

Dini, N.H. 1989. Pada Sebuah Kapal. Jakarta: PT Gramedia

Siswanti, Endriani Dwi.2003. “Perempuan di Titik Nol: Perlawanan Perempuan Melawan Tatanan Konservatif”. Dalam Perempuan dalam Seni Sastra. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan.

Tiana Rosa, Helvy. 2002. “Seks dan Penokohan Perempuan dalam Tiga Novel Indonesia” (makalah). Jakarta: TIM.

Hoed, B.H. 1994. “ Erotisme dalam Bahasa: Sebuah Kajian Linguistik dan Semiotik” dalam Lembar Sastra Erotisme dalam Sastra dan Bahasa. No. 23, November 1994. Jakarta: Universitas Indonesia.

Kayam, Umar. 1996. “Pencabulan dalam Kesusastraan” Dalam Antologi Esai Tentang Persoalan-persoalan Sastra. Jakarta: Sinar Kasih.

Loekito, Medy. 2004. “Sastra di Wilayah Seks dan Feminisme” Dalam Media Indonesia. Jakarta: Minggu, 18 Januari 2004 hlm. 8

———. 2003. “Perempuan Sastra Pria” Dalam

Perempuan dalam Seni Sastra. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan .

———. 2003. “Perempuan dan Sastra Seksual” (Makalah). Disampaikan dalam Forum Sastra Kota. Jakarta: TIM.

Magdal, Mer. 2004. “Ketika Seks (lagi-lagi) Menjadi Bumbu Sastra: Mengupas Buku ‘Tujuh Musim Setahun’ Karya Clara NG”. dalam http://www. cybersastra.net

Mohamad, Gunawan.1981. Seks, Sastra, Kita. Jakarta: Sinar Harapan

Prabasmoro, Aquarini. 2004.”Mencium Sastrawangi, Menubuhi Diri”. Dalam Media Indonesia, Minggu, 11 Januari 2004 hlm. 8.

Sylviana, Mona. 2004. “Di balik Ruang Kesadaran Bahasa Perempuan”. Dalam

Media Indonesia, Minggu, 25 Ja-nuari 2004 hlm. 8.

Thowik, AB. 2004. “Membincang Sek-sualitas Penulis Perempuan”. Dalam Media Indone-sia Minggu, 28 Desember 2003 hlm. 8

Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: Kepus-takaan Populer Gramedia

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai pembaca karya sastra, khususnya drama, tugas kita tidaklah habis hanya dengan membaca saja, akan tetapi ada hal-hal yang harus kita ketahui atau kita pelajari,

Presiden Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam tidak saja.. membuat perubahan dalam pola kebijakan di bidang industri, akan tetapi

Akan tetapi, ada satu perbedaan yang membuat teks iklan berbeda dengan pengumuman biasa, Yakni sifatnya yang lebih persuasif agar target pasar mau membeli atau memakai produk yang

Termaksud dengan ketiga lagu yang ada di Anailisis musik penulisan ini, kesimpulan yang penulis uraikan bahwa dalam musik Melayu teks bisa saja berubah- ubah akan tetapi

Gilbert (2003:89) menyatakan bahwa “Promosi dapat saja merangsang konsumen mengunjungi toko, tetapi tampilan atau penataan produk oleh pengecer akan membuat perbedaan pada

Menjadi kesadaran setiap pelukis, untuk melihat realitas sosial budaya seni lukis bukan pada masalah karya seninya saja, akan tetapi bagaimana seorang pelukis membuat karya lukisan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,