HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN CEREBRO VASCULAR ACCIDENT (CVA) PADA USIA PRODUKTIF
DI POLI SARAF RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG
Almira Kumala Ayu,
Dr.Ns.Ratna Hidayati,S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat., dan Dina Zakiyyatul Fuadah, S.Kep.Ns.,M.Kep
Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Stikes Karya Husada Kediri Jl. Soekarno Hatta No 7, Kode Pos 153 Pare Kediri
Email : [email protected]
ABSTRAK
Cerebro Vascula r Accident (CVA) merupakan masalah kesehatan utama bagi masyarakat modern saat ini terutama di Indonesia, karena jumlah penderita CVA di Indonesia terbanyak di Asia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian CVA usia produktif di poli saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Metode yang digunakan adalah korelasi dengan pendekatan retrospektif. Tekhnik sampel dengan total sampling sejumlah 30 orang. Alat ukur pada variabel independen adalah kuisioner dan variebel dependen rekam medis, dan selanjutnya dianalisis dengan uji statistik Spearman Rho. Berdasarkan tabulasi silang didapatkan hampir seluruhnya (83,3%) memiliki pola makan tidak sehat, untuk kejadian CVA sebagian besar (66,7%) terjadi pada dewasa akhir. Hasil uji statistik didapatkan p-value= 0,046≤ α= 0,05, dengan r= -0,343. Berarti ada hubungan pola makan dengan kejadian CVA pada usia produktif. Karena makanan yang dikonsumsi setiap hari sangat berkontribusi pada kesehatan. CVA usia produktif dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi jenis kelamin, pekerjaan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, olahraga, diabetes, hiperkolesterol, obesitas dan hipertensi. Semakin sehat pola makan, maka resiko kejadian CVA usia produktif semakin rendah, oleh sebab itu dianjurkan untuk mengubah pola makan dengan melakukan perencanaan makanan yang seimbang antara frekuensi, jenis, jumlah serta mengontrol makanan yang dikonsumsi untuk menurunkan resiko CVA usia produktif.
Kata Kunci: Cerebro Vascular Accident (CVA), Pola Makan, Usia Produktif.
ABSTRACT
Cerebro Vascular Accident (CVA) is a main healthy problem of todays modern society especially in Indonesia, because Indonesia is claimed as a nation who has the most CVA sufferers in Asia. The purpose of this research is to detect the relationship between eating pattern with CVA incident of productive age at nerve clinical room of RSUD Dr. Iskak Tulungagung. The method used is correlative with retrospektive approach. Technique sampel by total sampling is 30 people. Measuring instruments of independent variable and dependent varieble are questionnaire and medical historical note respectively, the result is then analyzed using statistical test Spearman Rho. Based on cross-tabulation it is found that most the samples (83,3%) has unhealthy eating pattern, and for CVA most of it (66,7%) occurs at end maturation age. From the statistical test it is resulted that p-value= 0,046 < α = 0,05, with r= -0,343. It means that there is a relationship between eating pattern with CVA incident at productive age. It is because any foods consumed each day contributes highly to health. CVA at productive age is influenced by several factors including sex, job, smoking habit, alcohol consumption, exercise, diabetes, high cholesterol, obesity, and high blood pressure. The healthier the aeting pattern, the risk of CVA incident at productive age is lower. Therefore it is suggested to change eating pattern using a balance eating planning between frequency, type of food and control the food consumed to lower the risk of CVA at productive age.
LATAR BELAKANG
Cerebro Vasculer Accident atau lebih dikenal dengan stroke merupakan suatu kondisi gangguan fungsi otak, atau gangguan sistem neurologis yang timbul mendadak akibat gangguan aliran darah ke otak (Black JM, 2005). CVA menjadi masalah kesehatan utama yang dialami masyarakat dewasa ini. CVA menjadi masalah serius yang dihadapi hampir di seluruh dunia (Handayani, 2013). Hal tersebut dikarenakan serangan CVA dapat mengakibatkan kematian, kacacatan fisik dan mental (Junaidi, 201:7). Seseorang menderita CVA karena memiliki perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko CVA (Stroke Organizations World, 2013).
Sebelumnya CVA banyak ditemukan pada orang lanjut usia, namun seiring dengan perubahan gaya hidup terutama masyarakat di kota besar, CVA cenderung mulai menyerang kelompok usia produktif (Sitorus, 2008). Usia produktif merupakan usia dimana manusia sudah matang secara fisik dan biologis (Hurlock, 2005). Pada usia inilah manusia sedang berapa pada puncak aktifitasnya (Sitorus, 2008).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di poli saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung, terdapat pasien CVA pada usia 26-35 sebanyak 7 orang, sedangkan usia 36-44 sebanyak 23 orang.
Usia muda merupakan populasi terbesar di dunia yaitu sebesar 1,2 milyar. Di Indonesia juga didominasi oleh usia muda, adapun proporsi penduduk usia muda yaitu sebesar 37,42% dari jumlah penduduk Indonesia. Sehingga harus mendapatkan perhatian khusus, karena usia produktif merupakan aset negara dan generasi penerus bangsa.
Kejadian CVA pada usia muda berhubungan dengan gaya hidup yang kurang sehat. Senang mengkonsumsi makanan dengan tinggi kalori dan rendah
serat sehingga akan menumpuk lemak jahat di dalam tubuh, makanan dengan kolesterol tinggi inilah yang apabila dibiarkan terus menumpuk akan menyebabkan aterosklerosis pada pembuluh darah arteri, menimbulkan plak pada dinding-dinding pembuluh darah otak yang akan mengganggu suplai darah ke otak (Debette et.al, 2011).
Pola makan dengan banyak mengkonsumsi fast food yang mengandung kadar garam yang tinggi sehingga meningkatkan resiko hipertensi, apabila tekanan darah terus meningkat, maka pembuluh darah akan semakin menipis dan mengecil yang akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah otak (Bustan, 2007). Apabila seseorang sudah terkena CVA maka tidak mungkin kembali bekerja seperti pada saat sebelum serangan.
Melihat pada generasi muda sekarang ini yang menerapkan gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tinggi lemak yang beresiko tinggi menyebabkan CVA, maka harus menyeimbangkan antara frekuensi, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi agar tidak menumpuk menjadi lemak dengan mengurangi berat badan yang berlebihan, mengatur pola makan 3 kali sehari dengan mengurangi makanan yang tinggi lemak dan kolesterol, dan mengurangi konsumsi garam (Sitorus, 2008), mengganti cara memasak dengan mengukus atau merebus dan memodifikasi menu makanan.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan umum
Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi pola makan pada pasien CVA usia produktif di Poli Saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung.
2. Mengidentifikasi kejadian CVA pada usia produktif di Poli Saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung.
3. Menganalisis hubungan antara pola makan dengan kejadian CVA usia produktif di Poli Saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung.
METODE
Jenis penelitian ini adalah korelasi
dengan desain case-control study
pendekatan retrospektif. Artinya bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif dan efeknya ditentukan berdasarkan perjalanan waktu ke belakang (Hidayat, 2007).
SAMPEL dalam penelitian menggunakan
total sampling dengan pasien CVA usia produktif di poli saraf RSUD Dr.Iskak Tulungagung sejumlah 30 orang.
PROSES PENGUMPULAN DATA 1. Melakukan pendekatan dan
menyerahkan lembar persetujuan kepada responden (informed consent).
2. Menjelaskan kepada responden tentang penilaian dari kuisioner yang diberikan. 3. Menjelaskan kepada responden tentang
cara pengisian kuisioner.
4. Membagian kuisioner kepada responden yang ditemui, dan memintanya untuk mengisi kuisioner.
PROSES ANALISA DATA untuk
mencari hubungan antara variable independen dan dependen digunakan uji korelasi Spearman Rho dengan taraf signifikansi 0,05 menggunakan komputerisasi. Sehingga jika p-value ≤ α (0,05) maka H1 diterima.
HASIL
Tabel 1. Distribusi Data Umum
Variabel Jumlah Prosentase
Jenis kelamin
Laki - laki 16 53,33%
Perempuan 14 46,66%
Pekerjaan
IRT 8 26,66%
PNS 7 23,33%
Kantor/Swasta 11 36,66% Pekerjaan lain 4 13,33% Kebiasaan Merokok
Tidak pernah 14 46,66%
Selalu 16 53,33%
Kebiasaan Minum Alkohol
Tidak pernah 26 86,66% Kadang-kadang 4 13,33%
Kebiasaan Olahraga
Tidak pernah 17 56,66% Kadang-kadang 13 43,33% Kejadian Diabetes
Normal 12 40%
Pra DM 14 46,7%
DM 4 13,3%
Kejadian Hiperkolesterol
Normal 10 26,7%
Diwaspadai 8 33,3%
Tinggi 12 40%
Kejadian Obesitas
Normal 19 63,3%
Kegemukan 7 23,3%
Obesitas 4 13,3%
Kejadian Hipertensi
Normal 12 40%
Normal-tinggi 13 40,3% Hipertensi ringan 5 16,7%
Tabel 2. Distribusi Data Khusus
Pola makan Jumlah Prosentase
Sehat 5 16,7%
Tidak sehat 25 83,3%
Total 30 100,0%
CVA usia produktif
Jumlah Prosentase
Dewasa awal 10 33,3%
Dewasa akhir 20 66,7%
Tabel 3. Analisa Hubungan Pola Makan Dengan CVA Usia Produktif
Kejadian CVA sebagian besar (53,3%) berjenis kelamin laki-laki. Hampir setengah dari responden (36,7%) bekerja sebagai pekerja swasta. Sebagian besar dari responden (53,3%) selalu merokok. Hampir seluruhnya dari responden (86,7%) memiliki kebiasaan tidak pernah minum alkohol. Sebagian besar dari responden (56,7%) memiliki kebiasaan tidak pernah olahraga. Hampir setengah dari responden (46,7%) mengalami kejadian pra diabetes. Hampir setengah dari responden (40%) mengalami kejadian kolesterol tinggi. Sebagian besar dari responden (63,3%) tidak mengalami obesitas, melainkan normal. Hampir setengah responden (43,3%) mengalami tekananan darah yang normal namun cenderung tinggi.
Berdasarkan tabel 2 tentang distribusi data khusus diketahui data bahwa hampir seluruhnya dari responden (83,3%) memiliki pola makan tidak sehat. Untuk kejadian CVA sebagian besar responden (66,7%) terjadi CVA pada dewasa akhir usia 36-44 tahun.
Berdasarkan tabel 3 tentang tabulasi silang diketahui bahwa hampir seluruhnya dari responden (83,3%) memiliki pola makan
yang tidak sehat, dan paling banyak mengalami kejadian CVA pada dewasa akhir. Selanjutnya setelah dilakukan analisis uji spearman rho diketahui nilai p-value = 0,046 pada taraf signifikansi α=
0,05, bahwa ada hubungan pola makan dengan kejadian CVA pada usia produktif DISKUSI
1. Mengidentifikasi Pola Makan
Orang yang tertekan atau stress terkadang makanannya cenderung manis dan berlemak karena pengaruh hormon kortisol yang dikeluarkan berlebih saat stress (Junaidi, 2011).
Berdasarkan kebiasaan merokok didapatkan sebagian besar (53,3%) selalu merokok. Merokok dapat menyebabkan meningkatnya akumulasi lemak pusat, selain itu seorang perokok memiliki penurunan nafsu makan karena efek nikotin jangka pendek dapat menekan bahkan mengurangi nafsu makan, namun ketika tidak merokok nafsu makannya akan lebih tinggi (Lipska et.al, 2007). Merokok juga menurunkan jumlah HDL dan menurunkan kemampuan HDL dalam mengurangi kolesterol LDL yang berlebihan, serta meningkatkan oksidasi lemak yang berperan dalam perkembangan aterosklerosis (Junaidi, 2011).
Alkohol merupakan racun, pada tingkatan yang tinggi dapat menyebabkan otak berhenti berfungsi (Mutmainna 2013). Organ hati memfokuskan kerjanya untuk menyingkirkan racun, akibatnya bahan lain yang masuk ke dalam tubuh seperti karbohidrat dan lemak yang bersirkulasi dalam darah harus menunggu giliran sampai proses pembuangan alkohol pada kadar normal selesai dilakukan walaupun kita mengkonsumsi makanan dalam jumlah normal tapi tidak bisa diolah maka seolah-olah tubuh kelebihan makanan, karena tidak dimetabolisme sehingga beresiko terkena penyakit CVA (Junaidi, 2011). Berbeda dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan kebiasaan minum alkohol hampir seluruhnya tidak mengkonsumsi alkohol (86,7%). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth (2013) yang menyebutkan tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian CVA usia produktif. Berdasarkan kejadian diabetes hampir setengah dari responden (46,7%) mengalami kejadian pra diabetes. Dari
hasil tersebut dapat diketahui bahwa penderita diabetes pada usia produktif masih kurang didapatkan kejadian diabetes melitus sebagai faktor utamanya. Diabetes menyebabkan kadar lemak darah meningkat karena konversi lemak tubuh yang terganggu, sehingga diabetes mempercepat terjadinya aterosklerosis pada pembuluh darah (Muhammad, 2008). Pada usia produktif memiliki kebiasaan yang kurang sehat, seperti banyak mengkonsumsi makanan yang manis, makanan siap saji minuman manis, kurang konsumsi air putih dan cenderung malas bergerak. Diabetes lebih lazim di negara-negara maju, namun modernisasi dan perubahan pola makan cenderung menyebabkan diabetes pada negara-negara berkembang. Jika hal ini tidak segera diatasi tentu akan memberikan dampak yang negatif bagi kesehatan masyarakat khususnya.
Berdasarkan kejadian kolesterol hampir setengah dari responden (40%) mengalami kolesterol tinggi. Kolesterol merupakan zat di dalam aliran darah dimana makin tinggi kolesterol semakin besar kemungkinan tertimbun pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan saluran saluran pembuluh darah menjadi lebih sempit dan mengganggu suplai darah ke otak (Corwin EJ, 2009). Selain itu tubuh bisa dibanjiri kolesterol jika mengkonsumsi makanan berbasis hewani, dan berlemak, sehingga kolesterol inilah yang menempel pada permukaan sebelah dalam pada dinding pembuluh darah yang mirip dengan karat yang makin menebal dan dapat menyebabkan penyempitan dinding pembuluh darah yang disebut aterosklerosis. Bila yang tersumbat adalah pembuluh darah otak maka terjadilah CVA.
aterosklerosis. Obesitas juga dapat menyebabkan CVA melalui efek snoring
dan sleep apneu karena terhentinya suplai oksigen secara mendadak di otak (Junaidi, 2011). Seseorang terkena CVA karena memiliki perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko CVA. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rico (2008) yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian CVA usia muda.
2. Mengidentifikasi Kejadian CVA
mendapatkan hasil sebagian besar responden (66,7%) terjadi CVA pada usia produktif di dewasa akhir (36-44 tahun). Pada usia ini seseorang menuju ke usia pralansia, sehingga mengalami penurunan fungsi organ tubuh. Sedikit demi sedikit semakin bertambahnya usia, perubahan fisik, dan menurunnya fungsi tubuh akan mempengaruhi metabolisme dan penyerapan nutrisi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan
Dari pekerjaan pasien yang diteliti hampir setengahnya (36,7%) bekerja sebagai pegawai kantoran/swasta. Tekanan di kantor saat bekerja memicu timbulnya stess pekerjaan. Stress jika tidak dikontrol dengan baik akan menimbulkan kesan bagi tubuh adanya keadaan bahaya sehingga direspon oleh tubuh secara berlebihan dengan mengeluarkan hormon-hormon yang membuat tubuh waspada yang akan berefek pada peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, apabila terlalu keras akan merusak dinding pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan CVA menyerang usia produktif (Junaidi, 2011). Sebuah riset yang dilakukan oleh Journal of Occupatonal and Enviromental Medicine menunjukan bahwa stress psikologis akibat pekerjaan bisa meningkatkan resiko CVA 1,4 kali dibanding orang yang tidak stress karena pekerjaan (Kompas 2011).
Sebagian besar reponden laki-laki (53,3%) selalu merokok. Orang-orang yang merokok memiliki kadar fibrinogen darah yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak merokok (Viveca et.al, 2008). Peningkatan kadar fibrinogen ini dapat menyebabkan terjadinya penggumpalan darah pada dinding arteri yang meningkatkan resiko pmbentukan plak atau trombus sehingga menyebabkan gangguan aliran darah (Mutmainna, 2013). Sehingga lebih banyak laki-laki usia produktif yang merokok memiliki resiko lebih besar terkena CVA usia produktif. Berdasarkan kebiasaan olahraga didapatkan sebagian besar (56,7%) responden tidak pernah melakukan olahraga. Tidak berolahraga menyebabkan kekakuan otot dan pembuluh darah, selain itu memiliki resiko mengalami kejadian CVA usia produktif dibanding orang yang melakukan olahraga secara teratur (Dourman, 2013). Olahraga yang dimaksud adalah aerobik yang tujuan utamanya melatih jantung dan pembuluh darah arteriyang dilakukan lebih dari 3 kali seminggu selama 30 menit ( Junaidi, 2011). Dengan olahraga rutin selain dapat membentuk kemampuan sistem kardiovaskular, menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol LDL, dan menurunkan berat badan, namun juga dapat membantu mengurangi stess akibat pekerjaan baik fisik atau psikis yang sering terjadi pada usia produktif (Muhammad 2009).
(Mutmainna, 2013). Pada usia produktif yang biasanya dengan aktivitas yang tinggi karena tuntutan pekerjaan yang dapat memicu timbulnya stress pekerjaan baik fisik maupun psikis, selain itu emosi yang tidak terkontrol juga bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah. Sehingga membuat tubuh meningkatkan produksi adrenalin yang berefek pada peningkatan denyut jantung dan tekanan darah yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah sehingga mengakibatkan terjadinya CVA usia produktif.
3. Menganalisa Hubungan Pola Makan
Dengan Kejadian CVA Pada Usia Produktif
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hampir seluruh responden (83,3%) memiliki pola makan yang tidak sehat, dan sebagian besar (66,7%) paling banyak terkena CVA pada usia dewasa akhir. Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji spearman rho
didapatkan ρ-value= 0,046 dengan α=
0,05, sehingga ρ-value ≤ α berarti H1
diterima (r= -0,343).
Salah satu penyebab CVA pada usia produktif adalah pola makan, karena pada generasi muda sekarang memiliki gaya hidup yang kurang sehat sehingga menjadi penyebab berbagai penyakit yang menyerang usia produktif sehingga tubuh menjadi rentan terhadap penyakit (Debette
et.al, 2011). Karena pola makan dapat mempengaruhi resiko CVA melalui efeknya pada tekanan darah, hiperkolesterol, berat badan dan aterosklerosis, sehingga menunjukan ada keterkaitan antara pola makan dengan kejadian CVA usia produktif.
Pola makan yang tidak sehat meliputi frekuensi makan yang tidak teratur, jenis makanan yang berlemak, jumlah mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Apabila kebiasaan seperti ini berlangsung lama dan dikonsumsi secara berlebihan maka dapat mempengaruhi konsentrasi
lipid dalam tubuh. Jika konsentrasi lemak berlebih maka akan menumpuk di dalam tubuh dan mengalir pada dinding pembuluh darah, memicu timbulnya plak yang menyebabkan ateroskeloris, lama kelamaan plak akan semakin menumpuk dan menebal pada dinding pembuluh darah, jika terletak di otak, pembuluh darah akan menyempit dan mengganggu suplai darah ke otak yang membawa oksigen dan nutrisi sehingga menyebabkan terjadinya CVA pada usia produktif. Sehingga kita perlu mengontrol apa yang sebaiknya dikonsumsi oleh tubuh kita. Pola makan seseorang memiliki peran penting dalam menentukan tingkat kesehatan seseorang baik laki-laki maupun perempuan sehingga sama-sama memiliki resiko terkena CVA pada usia produktif, karena makanan yang dikonsumsi setiap hari sangat berkontribusi dalam kesehatan. Hal ini didukung pendapat Shanty, 2011 yang menyatakan untuk mendapatkan kesehatan yang prima jalan terbaik adalah merubah gaya hidup yakni pola makan yang terlihat dari aktifitas dengan menjaga kesehatan.
KESIMPULAN
Hasil Penelitian Ini Menunjukkan: 1. Hampir seluruhnya responden CVA
usia produktif di poli saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung memiliki pola makan yang tidak sehat.
2. Sebagian besar responden di poli saraf RSUD Dr. Iskak Tulungagung
mengalami kejadian CVA pada usia produktif di dewasa akhir antara usia 36-44 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia. (2008). Gaya Hidup Dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Kanisius. Baliwati,Y Farida; Khomsan, Ali;
Dwiriani, C Meti. (2005). Pengantar Pangan Dan Gizi Jakarta:. Penebar Swadaya.
Bhat, et. al. (2008). Dose Response Relationship Between Cigarrette Smoking and Risk of Ischemic Stroke Young Women. Journal of The American Stroke Association. 2008;39:2439-2443.
Black JM, Hawks JH. (2005). Medical Surgical Nursing. Clinical Management For Positive Outcomes.
Bustan, M.N. (2007). Epidemologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Debette Stephanie et. al. (2011).
Association of Vasculer Risk Factor With Cervical Artery Dissection and Ischemic Stroke in
Young Adults.
(http://circ.ahajournals.org/conten t/123/14/1537). Diakses tanggal 29 oktober 2015.
Hidayat, A Aziz Alimul. (2007).
Metodologi Penelitian Kebidanan Dan Tekhnik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.
Hurlock, B Elizabeth. (2005). Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Junaidi, Iskandar. (2011). Stroke Waspada i Ancaman. Yogyakarta: Andi. Lipska, K et. al. (2007). Risk Factors For
Acute Ischemic Stroke In Young Adults In South India. J Neurol
Neurosurg Psychiatry 2007; 78: 958-963.
Muhammad, As’adi. (2009). Waspada i
Kolesterol Tinggi. Jogjakarta: Buku Biru.
Mutmainna B; Wahidduddin; Jumriani. (2013). Faktor Resiko Kejadian Stroke Pada Dewasa Awal (18-40) Di Kota Makassar Tahun 2010-2012.
Shanty. (2011). Hubungan Pola maka n dengan Kejadian Stroke Non Hemoragik Di RSUD DR. RD Kandau Manado tahun 2005.
Sitorus, J Rico et al. (2008). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Stroke pada Usia Muda Kurang Dari 40 Tahun. Jurnal Epidemologi. 2008:1-13.
Stroke Organization World. (2013). Faktor Resiko Penyebab Meningkatnya Kejadian Stroke Pada Usia Remaja Dan Usia Produktif.
Jurnal Profesi Volume 10/ September 2013- Februari 2014. Viveca, M, Bhat, MD. et. al. (2008).
Dose-Response Relationship Between Cigarette Smoking and Risk of Ischemic Stroke in Young Women.
Journal Of The American Stroke Association.