BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KEPUASAN KERJAA. Pengertian
Kepuasan kerja merupakan salah satu elemen yang cukup penting dalam organisasi. Hal ini disebabkan kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja seperti malas, rajin, produktif, dan lain-lain, atau mempunyai hubungan dengan beberapa jenis perilaku yang sangat penting dalam organisasi.
Handoko (1992), mengemukakan kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atai tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang pekerjaan mereka.
Tiffin (1958), mengemukakan kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaan sendiri, situasi kerja, kerja sama antara pimpinan dengan karyawan.
Mengenai definisi kepuasan kerja belum ada keseragaman. Walaupun demikian, sebenarnya tidaklah terdapat perbedaan yang prinsip daripadanya. Menurut Yulk dan Wexley (1977), kepuasan kerja sebagai perasaan seseorang terhadap pekerjaannya.
B. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan kerja
banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan. Faktor-faktor itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan bergantung pada pribadi masing-masing karyawan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja antara lain:
1. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan keterampilan.
2. Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial antar karyawan maupun karyawan dengan atasan.
3. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur, dan sebagainya.
C. Dampak kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja
Dampak perilaku kepuasan dan ketidakpuasan kerja telah banyak diteliti dan diuji. Beberapa hasil penelitian tentang dampak kepuasan kerja antara lain:
1. produktifitas
2.2 STRES
A. Pengertian
Stres adalah situasi ketegangan / tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang.
Stres karyawan timbul akibat kepuasan kerja tidak terwujud dari pekerjaannya. Stres menjadi masalah yang penting karena situasi itu dapat mempengaruhi kepuasaan kerja dan produktifitas kerja, sehingga perlu penanganan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.untuk dapat menangani stres yang dialami pegawai, para manajer dituntut memiliki pemahaman yang baik mengenai stres, sumber-sumber stres, dan hubungan stres dengan produktivitas. Salah satu cara mengurangi stres yang disfungsional adalah dengan bimbingan dan konseling.
B. Sumber-sumber stres
Sumber stres yang disebut dengan stressor yang perlu dipahami oleh para manajer adalah bahwa pada dasarnya stres bisa bersumber dari pekerjaan dan lingkungan kerja itu sendiri, dan bisa juga dari sumber dari luar pekerjaan.
1. Bersumber dari pekerjaan dan lingkungan kerja
- Beban kerja yang sulit dan berlebihan
- Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar
- Waktu dan peralatan kerja yang kurang memadai
- Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja
- Ketidakjelasan tugas
- Balas jasa yang terlalu rendah 2. Bersumber dari luar pekerjaan
- Kematian suami atau istri
- Perceraian
- Kenakalan anak-anak. Dll
stres tingkat tinggi dan rendah dapat menurunkan prestasi kerja. Jadi, stres harus diatasi sedini mungkin.
C. Gejala stres
2.3 DISIPLIN
A. Pengertian disiplin pegawai
Kedisiplinan adalah fungsi operatif keenam dari Manajemen sumber daya manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif MSDM yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimal.
Singodimedjo (2002), mengatakan disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya.
Menurut Terry (dalam Tohardi, 2002), disiplin merupakan alat penggerak karyawan agar tiap pekerjaan dapat berjalan dengan lancar, maka harus diusahakan agar ada disiplin yang baik. Terry kurang setuju jika disiplin hanya dihubungkan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan (hukuman), karena sebenarnya hukuman merupakan alat paling akhir untuk menegakkan disiplin.
Latainer (dalam Soediono, 1995), mengartikan disiplin sebagai suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh karyawan dan menyebabkan karyawan dapat menyesuaikan diri dengan sukarela pada keputusan, peraturan, dan nilai-nilai tinggi dari pekerjaan dan perilaku.
B. Pentingnya disiplin kerja