POLA DIET, PENGETAHUAN, SOSIAL EKONOMI DAN METODE DUKUNGAN VISUAL TERHADAP KEMAJUAN POSITIF ANAK AUTIS

Teks penuh

(1)

POLA DIET, PENGETAHUAN, SOSIAL EKONOMI DAN METODE DUKUNGAN

VISUAL TERHADAP KEMAJUAN POSITIF ANAK AUTIS

Daniah1 , Yossi Fitria Damayanti2

1,2

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Ria Husada Alamat Korespondensi

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Ria Husada

Jln. Karya Bhakti No.3 Cibubur, Jakarta Timur 13720,Tlp (021) 8775-0551, email : 1r2ddaniah,info@mrh.ac.id

ABSTRAK

Autis merupakan salah satu penyakit gangguan perkembangan pervasif (GPP) yang akhir – akhir ini banyak dibicarakan. Autis merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi, sosial, dan adanya keterbatasan tingkah laku dan perhatian. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola diet protein (gluten dan kasein) terhadap kemajuan anak autis di Rumah Autis tahun 2014.

Penelitian ini dilakukan secara cross sectional dengan pengumpulan data primer yaitu dengan melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner pada orang tua atau orang terdekat dengan anak autis dan 24 hour recall dan FFQ untuk melihat pola makan anak autis. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara Total sampling yaitu berjumlah 40 orang dengan seluruh total Populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah anak autis berusia kurang dari 18 tahun yang terdaftar Rumah Autis Bekasi serta orang tua.

Hasil penelitian dan Hasil analisis diketahui sebagian besar anak autis mengalami kemajuan positif yang baik yaitu 30 anak (75%), pengetahuan dengan kemajuan positif anak autis diketahui pada kelompok anak yang orang tuanya memiliki pengetahuan yang kurang ada sebanyak 8 anak (42,1%) yang mengalami kemajuan positifnya kurang sedangkan yang orang tuanya memiliki pengetahuan baik hanya ada 2 anak (9,5%) yang kemajuan positifnya kurang, sosial ekonomi dengan kemajuan positif anak autis diketahui pada kelompok anak yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah ada sebanyak 3 anak (27,3%) yang mengalami kemajuan positifnya kurang dan anak yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi tinggi ada sebanyak 7 anak (24,1%).

Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kemajuan anak autisme, tidak ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan kemajuan positif anak autis, ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi protein dengan kemajuan positif anak autis, tidak ada hubungan yang signifikan antara metode visual dengan kemajuan positif anak autis.

PENDAHULUAN

Autis merupakan salah satu penyakit gangguan perkembangan pervasif (GPP) yang akhir – akhir ini banyak dibicarakan. Autis merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi, sosial, dan adanya ketebatasan tingkah laku dan perhatian (Farad, 2003 dalam Febby Andyca, 2012). Edi (2003), menyatakan istilah Autis pertama kali dikenalkan oleh Leo Kanner seorang psikiatri dari Harvard pada tahun 1943. Gejala anak autis mudah dilihat dari perkembangan bahasa yang terlambat, gerakan berulang atau stereotipik, takut dan cemas akan perubahan tertentu, dan kadang memiliki hubungan buruk dengan orang lain juga dapat dialami oleh anak autis (Edi, 2003).

Kasus autis belakangan ini bukan hanya terjadi di negara-negara maju seperti Inggris, Australia, Jerman dan Amerika, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi autis di dunia saat ini mencapai 15-20 kasus per 10.000 anak atau 0,15 - 0,15-20%. Apabila angka kelahiran di Indonesia enam juta per tahun, maka jumlah penyandang autis di Indonesia, bertambah 0,15% atau 6.900 anak pertahun. Jumlah anak laki-laki penyandang autis dapat mencapai tiga sampai empat kali lebih besar daripada anak perempuan (Mashabi NA. & Tajudin NR. 2009). Jumlah anak penderita autis di Indonesia diperkirakan mencapai 150.000-200.000 anak. Autis bisa disebabkan oleh asupan gizi atau pola Diet.

Diet yang paling sering diberikan adalah diet Gluten Free Casein Free (GFCF). Gluten dan kasein tidak diperbolehkan untuk anak autis karena gluten dan kasein termasuk protein yang tidak mudah dicerna. Enzim pencernaan pada anak autis sangat kurang hingga membuat makanan tidak dicerna dengan sempurna. Gluten dan kasein dapat mempengaruhi fungsi susunan syaraf pusat, menimbulkan keluhan diare dan meningkatkan hiperaktivitas, yang tidak hanya berupa gerakan tetapi juga emosinya seperti marah-marah, mengamuk atau mengalami gangguan tidur (Suryana 2004). Hasil penelitian Latifah pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 68,42% anak autis di Kota Bogor yang menerima diet GFCF menunjukkan adanya perbaikan perilaku terutama dalam hal hiperaktivitas.

(2)

Menurut DCD (Centeres Disease Control) tahun 2000 di Amerika 1 diantara 150 anak terkena autis. Berdasarkan sensus yang dilakukan oleh Biro Sensus Amerika diperkirakan jumlah autis di Indonesia pada tahun 2004 sebanyak 475.000 (Septiono, 2010). Indonesia merupakan negara berkembang dan memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak. Data dari survei yang dilakukan Lembaga Survey Gizi dan Kesehatan Nasional (NHANES III) pada periode 1988-1994 dan 1999-2000 menunjukan prevalensi kelebihan berat badan pada kelompok usia 6-11 tahun prevalensinya meningkat dari 11% menjadi 15% (Brown,2005). Di Klinik Intervensi Biologi Medis terdapat 1200 anak autis yang terdaftar sebagai pasien yang melalukan pengobatan, namun hanya 500 anak autis yang secara aktif yang melakukan pengobatan secara berkala.

Seorang ibu harus bersikap lebih selektif dalam mengatur pola makan bagi anaknya. Ibu dapat dengan tegas melarang atau memperbolehkan anak untuk mengonsumsi jenis makanan tertentu. Oleh karena itu, ibu harus memiliki pengetahuan yang baik tentang pilihan makanan untuk anak autis. Berdasarkan hasil penelitian Mashabi NA dan Tajudin NR pada tahun 2009, diketahui bahwa tinggi rendahnya pengetahuan ibu akan mempengaruhi pola makan anak autis. Penelitian Kusumayanti et al. tahun 2005 menyebutkan bahwa sebagian besar anak penyandang autis yang di terapi di RS Sanglah Denpasar belum dapat melaksanakan diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Salah satu alasan yang dikemukan ibu dari penyandang autis adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang diet GFCF (Gluten Free Casein Free) bagi anak autis.

Dalam perkembangan anak semua aspek yang dimiliki orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan dimana sosial ekonomi orang tua mempengaruhi perkembangan anak 20,4%, pekerjaan orang tua 23,3%, dan pola asuh orang tua 36,7% dan sisanya besar dipengaruhi faktor lingkungan. Orang tua merupakan tokoh sentral dalam perkembangan anak.

Untuk mengetahui hubungan pola diit protein (gluten dan kasein), pengetahuan, sosial ekonomi, metode dukungan visual terhadap kemajuan anak autis di Rumah Autis, Jln. Roda XVII Blok A8/61, Jatikramat, Jati Asih Kota Bekasi Bekasi.

METODE

Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional, yaitu penelitian obervasional yang mempelajari hubungan antara faktor-faktor resiko (variabel independen) dengan efek tertentu (variabel dependen). Variabel dependen dan independen diamati dan diukur pada saat yang bersamaan. Variabel independen meliputi pola diit protein (glikogen dan kasein) pada anak autis, karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan, pendapatan dan besar keluarga), dan pengetahuan ibu (akses terhadap informasi) sedangkan variabel dependen yaitu kemajuan positif pada anak autis di Rumah Autis. Jln. Roda XVII Blok A8/61, Jatikramat, Jati Asih Kota Bekasi. Ada beberapa aspek yang dinilai dalam kemajuan anak autis dilihat dari

berkomunikasi, perilaku, sosialisasi dan intregasi sensorik. Pada anak autis sulit sekali untuk berkomunikasi 2 arah, bahkan susah diarahkan, dikarenakan lebih asik bermain sendiri atau lebih tinggi tingkat emosionalnya. Untuk menentukan bagaimana cara melihat bahwa anak autis adanya perubahan dilihat saat diajak komunikasi sudah mau memperhatikan, perilakunya lebih bisa dikontrol, dan sudah mau bermain dengan lingkungannya, dibarengin dengan tingkat emosi yang mulai bisa terkontrol, Jika semuanya bisa diarahkan dengan instruksi guru dari aspek tersebut, itu menandakan adanya kemajuan positif pada anak autis. Semua kemajuan didukung dari kebiasaan pola diit, pengetahuan orang tua dan sosial ekonomi.

Dari populasi penelitian, kriteria responden yang menjadi sampel penelitian autis berusia kurang dari 18 tahun yang terdaftar di Rumah Autis Bekasi serta orang tua anak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Sedangkan kriteria responden yang dikeluarkan dari sampel penelitian ini adalah orang tua yang kurang kooperatif. Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini seluruh total populasi (Total Sampling) yaitu 40 orang.

Uji Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas meliputi pola diit protein (glikogen dan kasein) pada anak autis, karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan, pendapatan dan besar keluarga), pengetahuan ibu (akses terhadap informasi) dan kemajuan positif diketahui sebagian besar anak autis mengalami kemajuan positif yang baik yaitu 30 anak (75%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kemajuan Positif Anak Autis

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan, Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga, Pola

(3)

Diketahui sebagian besar orang tua dari anak autis memiliki pengetahuan yang baik yaitu 21 orang (52,5%). Serta sebagian besar berasal dari sosial ekonomi tinggi yaitu sebanyak 29 orang (72,5). Berdasarkan pola konsumsi protein sebagian besar anak autis mendapatkan konsumsi protein yaitu sebanyak 28 anak (70%), dan sebagian besar menggunakan bahasa tubuh sebagai media visual dalam berkomunikasi.

Kemanjuan positif pada autis

Menunjukkan bahwa sebagian besar anak autis mengalami kemajuan positif yang baik yaitu 30 anak (75%). Sejalan dengan penelitian Aida Minropo tahun 2013 mengatakan 57% mengalami kemajuan positif pada anak autis setelah diberikan therapi, dan 27 % berada pada derajat autis berat. Menurut Wenar (1994) Autisme berkembang pada 30 bulan pertama dalam hidup, saat dimensi dasar dari keterkaitan antara manusia dibangun, karenanya priode perkembangan yang akan dibahas akan menjadi masa infant dan toddler dan masa pra sekolah dan kanak-kanak tengah. Banyak pakar autis yang menyebutkan penyakit ini sebagian besar terjadi karena faktor keturunan. Selain itu, faktor lainnya seperti stres, infeksi, usia ibu, dan obat – obatan saat kehamilan juga dapat mempengaruhi anak. Peneliti menemukan resiko yang lebih tinggi jika ibu mengkonsumsi anti depresan selama kehamilan, terutama pada tiga bulan pertama. Ada pula yang mengatakan ibu yang merokok selama hamil pun dapat menyebabkan sang anak autis. Perlu diketahui bahwa setiap anak autis memiliki kemampuan serta hambatan yang berbeda-beda. Ada anak autis yang mampu berbaur dengan anak-anak ’normal’ lainnya di dalam kelas reguler dan menghabiskan hanya sedikit waktu berada dalam kelas khusus namun ada pula anak autis yang disarankan untuk selalu berada dalam kelas khusus yang terstruktur untuk dirinya. Anak-anak yang dapat belajar dalam kelas reguler tersebut biasanya mereka memiliki kemampuan berkomunikasi, kognitif dan bantu diri yang memadai. Sedangkan yang masih membutuhkan kelas khusus biasanya anak autis dimasukkan dalam kelas terpadu, yaitu kelas perkenalan dan persiapan bagi anak autis untuk dapat masuk ke sekolah umum biasa dengan kurikulum umum namun tetap dalam tata belajar anak autis, yaitu kelas kecil dengan jumlah guru besar, dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten, dsb). Metode belajar yang tepat bagi anak autis disesuaikan dengan usia anak serta, kemampuan serta hambatan yang dimiliki anak saat belajar, dan gaya belajar atau learning style masing-masing anak autis. Metode yang digunakan biasanya bersifat kombinasi beberapa metode. Banyak, walaupun tidak semuanya, anak autis yang berespon sangat baik terhadap stimulus visual sehingga metode belajar yang banyak menggunakan stimulus visual diutamakan bagi mereka. Pembelajaran yang menggunakan alat bantu sebagai media pengajarannya menjadi pilihan. Alat Bantu dapat berupa gambar, poster-poster, bola, mainan balok, dll. Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autis

didampingi oleh seorang terapis yang berfungsi sebagai guru pembimbing khusus.

Pengajar yang dibutuhkan bagi anak autis adalah orang-orang yang selain memilii kompetensi yang memadai untuk berhadapan dengan anak autis tentunya juga harus memiliki minat atau ketertarikan untuk terlibat dalam kehidupan anak autis, memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, dan kecenderungan untuk selalu belajar sesuatu yang baru karena bidang autisma ini adalah bidang baru yang selalu berkembang. Tergantung dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing anak autis. Ada anak autis yang mencapai hasil yang lebih baik bila dibaurkan dengan anak-anak lain, baik itu anak ’normal’ maupun anak-anak dengan kebutuhan khusus lainnya. Ada anak autis yang lebih baik bila ditempatkan pada suasana belajar yang tenang, tidak banyak gangguan atau stimulus suara, warna, atau hal-hal lain yang berpotensi mengalihkan perhatian.

Tabel 3. Distribusi Frekunsi Kemajuan Positif Anak Autis Menurut Pengetahuan, Sosial Ekonomi, Pola

Konsumsi Protein, dan Metode Visual dalam Berkomunikasi.

Hubungan pola diit Protein dengan kejadian positif pada anak autis

Hasil uji statistik menunjukan ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi protein dengan kemajuan positif anak autis dimana nilai P yang diperoleh sebesar

0,003 lebih kecil dari nilai α (0,05). Sedangkan menurut

penelitian febby tahun 2012 66,1 % pada anak autis dilakukan pola diit dengan protein daging lebih sedikit dibandingkan dengan protein ayam 95%, dan dengan banyaknya mengkonsumsi potein maka semakin cepat kemajuan positif pada anak Autis.

(4)

narkoba, jika mendadak dihentikan konsumsi narkobanya, bisa mengalami kondisi sakaw atau ketagihan. Pada anak autis, jika kedua protein ini tiba-tiba dihentikan, justru bisa memperburuk kondisi anak. Kontak mata yang sudah tercipta, misalnya, akan hilang lagi. Bahkan kadang ia memukuli kepalanya sendiri dan hiperaktif. Baru setelah 2-3 minggu, kondisi anak akan membaik kembali. Peradangan pada usus biasanya disebabkan oleh kepekaan terhadap makanan, dan tingginya jumlah kuman dalam usus. Gangguan pencernaan menyebabkan penderita kekurangan gizi dan mengalami gangguan fungsi sel, yang termanifestasikan pada kurangnya fungsi otak, dan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Ketika makanan tidak dipecah dengan baik pada sistem pencernaan, seperti halnya kepekaan terhadap makanan, akan berpengaruh kepada pemikiran, ketidakpekaan rasa sakit, fikiran yang kalut, dan menjadi mudah tersinggung. Ada bukti yang berkembang bahwa terapi nutrisi bisa membuat perbedaan yang besar untuk anak-anak dengan autisme. Banyak yang sangat terganggu pada pencernaan, sehingga terapi gizi untuk mengembalikan keseimbangan di dalam usus merupakan fokus yang utama. Juga penting untuk menyeimbangkan gula darah, memeriksa polusi logam berat pada otak, tidak memasukkan bahan pangan tambahan, mengidentifikasi makanan alergen, memeriksa kemungkinan kekurangan gizi, dan memastikan asupan lemak esensial. Gejala gastro intestinal dan peradangan juga sangat umum terjadi pada orang dengan masalah ini, termasuk diare, sembelit, kembung dan nyeri gastro intestinal.

Pola diit yang dianjurkan pada anak autis : Menghilangkan makanan alergen

Penyebab alergi makanan paling banyak adalah gluten, kasein, dan kedelai. Gejala fisik umum lainnya adalah sering terkena infeksi, kesulitan tidur, kekalutan, dan peradangan. Gejala-gejala ini khas menunjukkan adanya pertumbuhan ragi dan racun yang berlebihan. Ada keterkaitan yang jelas antara otak dan usus. Mendukung gejala fisik melalui diet akan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, serta mengurangi keparahan.

Makanan mengandung asam lemak omega 3.

Dalam rangka untuk mengatasi masalah pencernaan di usus, penting untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung sifat anti-inflamasi, seperti asam lemak omega 3 yang banyak ditemukan dalam ikan berlemak seperti salmon dan sarden, serta minyak ikan, biji rami, dan kacang kenari untuk mengurangi peradangan usus yang terjadi. Kekurangan lemak esensial juga umum pada anak dengan autisme. Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa anak-anak dengan autis memiliki cacat enzimatik, yaitu yang menghilangkan lemak esensial dari membran sel otak lebih cepat dari yang seharusnya. Hal ini berarti bahwa anak autis lebih cenderung membutuhkan asupan lemak esensial lebih tinggi daripada rata-rata. Dan juga telah ditemukan bahwa suplementasi EPA dapat memperlambat aktivitas enzim

yang rusak, secara klinis diketahui meningkatkan perilaku, mood, imajinasi, berbicara spontan, pola tidur, dan fokus pada anak-anak autis.

Makanan mengandung probiotik. Probiotik dan pra-antibiotik juga bermanfaat untuk mengurangi peradangan pada usus, serta meningkatkan jumlah bakteri usus yang sehat. Probiotik bisa ditemukan dalam makanan fermentasi seperti kefir, yoghurt, dan minyak ikan cod fermentasi. Makanan tinggi pra-antibiotik dan tinggi serat larut juga bermanfaat, seperti pisang, asparagus, kacang-kacangan, bawang putih, daun bawang, bawang, dan kacang polong. Asam butirat juga bisa membantu menjaga lapisan usus yang ditemukan dalam lemak susu. Asam butirat serta omega 3 banyak ditemukan dalam mentega dari sapi organik.

Jauhkan makanan yang bisa memperburuk gejala fisik.

Makanan yang mengandung ragi akan menyebabkan pertumbuhan bakteri berbahaya dalam usus yang berlebih, dan harus dihindari jika tidak bisa benar-benar dihilangkan. Makanan ini adalah yang mengandung tinggi gula (termasuk gula alami dalam buah-buahan), roti, plum, anggur, cuka, daging dan keju. Karbohidrat olahan, kentang, dan biji-bijian yang bebas gluten juga diketahui merupakan makanan ragi. Ada timpang tindih antara autis dan ADHD, jadi untuk anak autis yang menunjukkan gejala hiperaktif sangat penting meningkatkan keseimbangan gula darah

Unsur Makanan yang harus ada pada Anak Autis yaitu : Air, protenin, lemak , karbohidrat dan makanan berserat, kalsium, vitamin dan mineral.

Hubungan Pengetahuan dengan kejadian positif pada anak autis

Hasil uji statistik menunjukan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kemajuan positif anak autis dimana nilai P yang diperoleh sebesar 0,028

lebih kecil dari nilai α (0,05). Selain itu, diketahui juga

kelompok anak yang pengetahuan orang tuanya baik memiliki peluang untuk mengalami kemajuan positif yang baik sebesar 6,909 kali lebih besar dibanding kelompok anak autis yang orang tuanya memiliki pengetahuan kurang.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irma dari 30 responden, 22 responden atau 73,29 % mempunyai pengetahuan tentang autis rendah. Sesuai dengen teori pengetahuan adalah mengenal, mengingat, dan memproduksi bahan pengetahuan yang pernah diberikan (Bloom dalam S.C.Utami Munandar 1999).

Pengetahuan adalah manusia sebagai ciptaaan tuhan yang sempurna, dalam memahami alam sekitarnya terjadi proses yang bertingkat dari pengetahuan (sebagai hasil dari tahu manusia), ilmu dan filsafat. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang

sekedar menjawab pertanyaaan “what” misalnya apa air,

apa manusia, apa alam dan sebagaianya. Sedangkan ilmu

(5)

mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernafas, dan sebagainya. Perlu dibedakan disini antara pengetahuan dan keyakinan, walaupun keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman. Pengetahuan juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku, dan surat kabar (Tjitarsa IB 1992). Pengetahuan didefinisikan secara sederhana sebagai informasi yang disimpan dalam ingatan. Pengetahuan gizi adalah pemahaman seseorang tentang ilmu gizi, zat gizi, serta interaksi antara zat gizi terhadap status gizi dan kesehatan. Pengetahuan gizi yang baik dapat menghindarkan seseorang dari konsumsi pangan yang salah dan buruk. Banyak orang tua yang memilih terapi atau melakukan tindakan untuk menangani anaknya dengan dasar yang kurang kuat. Hal ini disebabkan mereka tindak memiliki dasar yang kuat dalam pemilihan terapi dengan kata lain mereka tidak memahami tentang autis seperti apa, kenapa, dan bagimana penanganannya, oleh karena itu orang tua harus memperkaya pengetahuannya mengenai autisme

Hubungan Sosial Ekonomi dengan kejadian positif pada anak autis

Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan kemajuan positif anak autis dimana nilai P yang diperoleh sebesar

1,000 lebih besar dari nilai α (0,05).

Keluarga yang berpenghasilan cukup atau tinggi lebih mudah dalam menentukan pemilihan bahan pangan sesuai dengan syarat mutu yang baik. Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan daya beli sehingga keluarga mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan dan akhirnya berdampak positif terhadap status gizi.

Tingkat pendidikan orang tua mempunyai korelasi positif dengan cara mendidik dan mengasuh anak. Tingkat pendidikan baik langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola komunikasi antar anggota keluarga. Pendidikan akan sangat mempengaruhi cara, pola, kerangka berpikir, persepsi, pemahaman dan keperibadian yang nantinya merupakan bekal dalam berkomunikasi (Gunarsa & Gunarsa 1995).

sosial ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, antara lain sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan penghasilan. Hal ini disesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan.

Hubungan Metode Visual dengan Kemajuan Positif pada anak Autis

Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara metode visual dengan kemajuan positif anak autis dimana nilai P yang diperoleh sebesar

1,000 lebih besar dari nilai α (0,05).

Menurut Hayes dkk (2010) dukungan visual adalah hal yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari untuk

mendukung komunikasi, seperti bahasa tubuh atau isyarat didalam lingkungan. Mreka juga dapat menjadi media yang diciptakan untuk mendukung individu yang mungkin mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu.

Dukungan Visual meliputi :

Body language meliputi : ekspresi muka, orientasi tubuh dan jarak, sikap tubuh, pergerakan badan, menggapai menunjuk, menyentuh, kontak mata, dan pergerakan mata. Kemampuan dalam mengerti dan menggunakan bahasa tubuh yang alami perpengaruh terhadap efektivitas menyampaikan pesan dalam berkomunikasi. Natural Environmental cues lingkungan yang secara alami berisikan banyak dukungan visual, meliputi penataan furniture, lokasi dan pergerakan manusia, benda, materi yang dicetak seperti tanda, sinyal, logo, label, harga, pesan tertulis, instruksi, pilihan, menu. Sangat penting untuk komunikasi, mengetahui dan memahami lingkungan sekitar mereka

Traditional tools for organization and giving information. Banyak orang mengembangkan dan menggunakan dukungan visual.

Pemodelan Multivariat

Tabel 4. Pemodelan Multivariat

pValue Variabel Independen

Setelah dilakukan analisa multivariat tahap awal langkah selanjutnya adalah mengeluarkan variabel-variabel yang memiliki p value > 0,05 satu persatu mulai dari variabel dengan pValue terbesar. Dari tabel 4.6 (tahap awal) terlihat variabel yang memiliki pValue terbesar adalah variabel pengetahuan (0,243) sehingga variabel tersebut harus dikeluarkan dari pemodelan. Berikut adalah hasilnya :

Hasil Analisis Multivariat Tahap Awal

Tabel 5. Pemodelan Multivariat Tahap Awal

Variabel OR P

(6)

Hasil Analisis Multivariabel Tanpa Variabel Pengetahuan

Tabel 6. Pemodelan Multivariat tanpa Variabel Pengetahuan

Setelah variabel pengetahuan dikeluarkan selanjutnya diperhatikan perubahan OR pada variabel

pola konsumsi protein jika terjadi perubahan OR ≥ 10%

sebelum dan sesudah variabel pengetahuan dikeluarkan maka variabel pengetahuan tersebut harus dimasukan kembali dalam pemodelan multivariabel. Berikut adalah perubahan OR yang terjadi pada variabel pola konsumsi protein :

Perubahan Nilai OR Sebelum dan Sesudah Variabel Pengetahuan Dikeluarkan

Tabel 7. Perubahan Nilai OR

Variabel Independen Utama OR Sebelum antara sebelum dan sesudah variabel pengetahuan dikeluarkan sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pengetahuan harus dimasukan kembali kemodel. Dengan demikian diperoleh model akhir sebagai berikut :

Tabel 8. Model Akhir Analisis Multivariat

Diketahui model akhir dari analisa multivariat dimana variabel yang paling dominan memiliki pengaruh terhadap kemajuan positif anak autis adalah variabel pola konsumsi protein dengan nilai OR 7,317 artinya pada kelompok anak autis yang mendapatkan konsumsi protein memiliki peluang mengalami kemajuan positif yang baik 7,3 kali lebih besar dibandingkan anak yang tidak mendapat konsumsi protein setelah dikontrol oleh variabel pengetahuan. Kemudian diketahui juga variabel pengetahuan merupakan variabel confounding.

KESIMPULAN

Setelah dilakukan penelitian mengenai pola diit glutein, pengetahuan, sosial ekonomi, metode visual dengan kemajuan anak autis di Rumah Autis Bekasi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dari hasil uji bivariat ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kemajuan anak utisme di Rumah Autis Bekasi. Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan kemajuan positif anak autis. Hasil uji statistik menunjukan ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi protein dengan kemajuan positif anak autis. Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara metode visual dengan kemajuan positif anak autis

Saran dalam penelitian ini ; Menginformasikan pentingnya asupan diit protein terhadap kemajuan anak autis terhadap orang tua. Mengadakan diskusi dengan orang tua tentang pengetahuan menghadapi anak autis

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 2012,Survey demografi kesehatan Indonesia 2012. Jakarta.BPS.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, 2008, Profil Kesehatan Kabupaten Bogor.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, 2009, Profil Kesehatan Kabupaten Bogor.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, 2010, Profil Kesehatan Kabupaten Bogor.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006,Materi ajar penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir, Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia,2010, Pedoman pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak (PWS-KIA). Jakarta, Departemen Kesehatan RI.

Green L. 1980, Health education planning, a diagnostic approach. The John Hopkins University: Mayfield Publishing Co.

Hadi, Abdul.2008, Implementasi Manajemen Aktif Kala III oleh Bidan Bersertifikasi Asuhan Persalinan Normal di Kodya Medan.

Ikatan Bidan Indonesia. 2003, 50 tahun IBI menyongsong masa depan. Jakarta. PP IBI.

Muchtar, Asmuyeni, 2012, On the job mentoring to strengthen skill midwives to do the AMTSL, MCHIP research dokumen.

JNPK, 2012, Asuhan Persalinan Normal.

Notoatmodjo S. 2010, Ilmu perilaku kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Notoatmodjo S. 2003, Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Notoatmodjo S. 2010, Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Nettietalia br brahmana.2011, Pelaksanaan Manajemen Aktif Kala III Pada BPS Bidan Delima Dan Non Bidan Delima.

Saifuddin AB, Adriaansz G, Wiknjosastro GH. 2001, Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.Edisi pertama. Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

Tugiyarti, Urip. 2007, Hubungan tingkat pengetahuan bidan tentang manajemen aktif kala iii dengan pelaksanaan manajemen aktif kala III pasca

(7)

pelatihan asuhan persalinan normal di kabupaten Blora.

Figur

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kemajuan
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kemajuan . View in document p.2
Tabel 3. Distribusi Frekunsi  Kemajuan Positif Anak Autis Menurut Pengetahuan, Sosial Ekonomi, Pola Konsumsi Protein, dan Metode Visual dalam Berkomunikasi
Tabel 3 Distribusi Frekunsi Kemajuan Positif Anak Autis Menurut Pengetahuan Sosial Ekonomi Pola Konsumsi Protein dan Metode Visual dalam Berkomunikasi. View in document p.3
Tabel 4. Pemodelan Multivariat
Tabel 4 Pemodelan Multivariat . View in document p.5
Tabel 5. Pemodelan Multivariat Tahap Awal
Tabel 5 Pemodelan Multivariat Tahap Awal . View in document p.5
Tabel 6. Pemodelan Multivariat tanpa Variabel Pengetahuan
Tabel 6 Pemodelan Multivariat tanpa Variabel Pengetahuan . View in document p.6
Tabel 8. Model Akhir Analisis Multivariat
Tabel 8 Model Akhir Analisis Multivariat . View in document p.6

Referensi

Memperbarui...