• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Kerangka Teori 2.1 Coaching 2.1.1 Pengertian Coaching - Pengaruh Coaching Dan Training (Pelatihan) Terhadap Kinerja Karyawan Bank Syariah Mandiri Cabang Rantau Prapat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II Kerangka Teori 2.1 Coaching 2.1.1 Pengertian Coaching - Pengaruh Coaching Dan Training (Pelatihan) Terhadap Kinerja Karyawan Bank Syariah Mandiri Cabang Rantau Prapat"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

Kerangka Teori

2.1 Coaching

2.1.1 Pengertian Coaching

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki sumber daya

manusia yang berkualitas dan handal dalam memajukan perusahaan dan mencapai

tujuan perusahaan. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas,

maka perusahaan harus melatih atau membimbing karyawan melalui

program-program pelatihan karyawan,salah satunya melalui coaching.

Menurut Whitmore (2008:14) di dalam bukunya yang berjudul

Performance Coaching,menyatakan bahwa Coaching adalah

pembinaanyangmembuka potensiseseoranguntuk memaksimalkankinerja mereka

sendiri,yang membantu merekauntuk belajardaripadamengajar mereka.

Menurutnya, coachingberarti:

1. Mengaksespotensial

2. Memfasilitasiindividuuntuk membuat perubahan yangdiperlukan

3. Memaksimalkankinerja

4. Membantu orangmemperoleh keterampilandan mengembangkan

5. Menggunakanteknik komunikasikhusus

Menurut Stone (2007:11) Coachingadalah proses dimana individu

mendapatkan keterampilan,kemampuan,dan pengetahuan yang mereka butuhkan

(2)

pekerjaan mereka. Ketika individu mendapatkan coaching dari atasan, mereka

dapat meningkatkan kinerja mereka baik dalam saat ini, dan juga meningkatkan

potensi mereka untuk berbuat lebih banyak di masa depan.

MenurutSalim (2014:2)Coaching adalah bagaimana membantu seseorang

menemukan apa yang diinginkan dari posisi dimana dia sekarang,dengan

menggali sumber daya apa saja yang dibutuhkan,sikap mental yang harus

dibangun dan teknik-teknik yang cocok dalam mengimplementasikannya.

Menurut Morrison (1971:65) Coaching adalah Sesuatu yang harus dilakukan

supervisor dalam waktu yang lama, yang menindaklanjuti perkembangan individu

dalam hubungan nya dengan pekerjaan mereka.

Jaques dan Clement (1994:195) menyatakan definisi coaching adalah

“percakapanterstruktur yangmenggunakan informasi tentang kinerja yangnyata

antara seorang atasan dengan seorangindividu (atau tim) yang menghasilkan

kinerja yanglebih tinggi.” Merujuk pada definisi tersebut di atas, bentuk dari

coachingadalah percakapan dan membantu orang yang dibimbinguntuk

meningkatkan kinerjanya. Coaching juga dapatdilakukan dimanapun apakah di

kantor atau di lapangan,formal ataupun tidak formal.

Menurut Jaques, coaching terhadap karyawan/bawahan harus merupakan

bagian dari aktivitasharian seorang atasan. Coaching bisa dalambentuk berbagi

pengetahuan, keterampilan danpengalaman yang berkaitan dengan

(3)

Tujuan coaching adalah sebagai berikut :

1. Membantu karyawan untuk memahami peluang penuh dalam jabatannya

yaitu jangkauan tipe penugasan yang tersedia bagi karyawan sesuai

dengan jabatannya dan memberikangambaran mengenai manfaat apa saja

yang dapat dia ambil dari peluang penugasan tersebut.

2. Membantu karyawan dalam belajar pengetahuanbaru misalnya metode,

teknologi danprosedur.

3. Membawa nilai karyawan lebih sejalan dengannilai dan filosofi

perusahaan.

4. Membantu karyawan mengembangkankebijaksanaannya, misalnya

denganpengalaman yang dimiliki oleh atasannya diamampu

menyelesaikan masalah yang serupa.

5. Membantu karyawan memperbaiki perilakuperilakuyang yang tidak sesuai

denganjabatannya.

Coaching tidak akan mengubah kepribadian yangbukan merupakan bagian

dari akuntabilitas atasan.Jika ada masalah yang berkaitan dengan perilaku

karyawan atau perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima untuk jabatan

karyawan,atasan harusmenyampaikannya kepada karyawan danmenjelaskan apa

konsekuensi dari perilakutersebut. Dalam hal ini seorang atasan juga

harusmenawarkan bantuan kepada karyawan untukmemperbaiki perilakunya.

Dalam melaksanakan coaching, seorang atasanharus cermat untuk

menghindari pengambilalihanpekerjaan karyawan. Atasan dapat sajamenunjukkan

teknik atau prosedur pelaksanaansuatu penugasan, tapi karyawan harus tetap

(4)

menunjukkan bahwa atasan pedulidengan kinerja karyawan

meskipunpelaksanaannya bisa memakan waktu. Perancoaching sangat penting

dalam membentuk rasapercaya diri, loyalitas dan semangat kerja tim yangdimiliki

karyawan.

2.1.2 Jenis-jenis Coaching

Para supervisor biasanya mengerjakan tigajenis coaching : coaching untuk

sukses,coaching untuk perbaikan kinerja danmengelola berbagai masalah kinerja.

Coachinguntuk sukses biasanya dikerjakan secara proaktif di lakukan sebelum

orangmenangani suatu situasi ataupun tugas, atauketika mereka baru pertama

kalimelakukannya. Coaching untuk perbaikankinerja dan mengelola berbagai masalahkinerja dilakukan sebagai reaksi untukmemperbaiki masalah-masalah

yangberhubungan dengankinerja.

Berikut iniadalah definisi dari setiap jenis coaching:

1. Coaching untuk sukses

Coaching yang diberikan kepada orang agar suksesmenangani suatu situasi

baru atau situasiyang menantang.

Misalnya:

a. Mendapatkan tanggung jawab baru, seperti menyiapkan perkiraan biaya,

dan jadwal kerja.

b. Mempelajari keterampilan, tugas, dan fungsi pekerjaan yang baru, seperti

menggunakan peralatan atau program komputer baru.

(5)

d. Menangani situasi yang baru atau sulit, seperti melakukan presentasi atau

memimpin pertemuan yang sulit.

2. Coaching untuk perbaikan kinerja

Coaching yang diberikan kepada oranguntuk memperbaiki kinerja atau

kebiasaankerjanya yang tidak efektif. Misalnya:

a. Pekerjaan yang selalu tidak selesai, selalu datang terlambat, terlalu banyak

mengobrol atau menggunakan Internet untuk keperluan di luar pekerjaan.

b. Tidak efektif dalam melakukan rapat, tidak sabar dan tidak man bekerja

lama dengan rekan kerja lainnya.

c. Selalu melewati batas waktu yang telah ditetapkan, tidak mencapai target

penjualan atau selalu melebihi perkiraan biaya yang telah direncanakan.

d. Mendapat penilaian bunik dari pelanggan atau terlalu banyak melakukan

kesalahan.

3. Coaching untuk mengelola berbagai masalah kinerja

Coaching yang ditujukan untuk menangani masalahkinerja, kebiasaan kerja,

atau kelalaian yangserius. Misalnya:

a. Terus menerus tidak mencapai sasaran penjualan atau produksi.

b. Berulangkali datang terlambat atau tidak datang dengan alasan sakit,

melanggar peraturan yang penting.

(6)

Langkah-Langkah dalam melaksanakan Coaching menurut Salim (2014:61)

adalah sebagai berikut :

1. Building Trust (Membangun Kepercayaan)

Membangun Kepercayaan dapat dilakukan dengan cepat dan

sederhana,melalui komunikasi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui

untuk membangun sebuah hubungan yang baik secara efektif, yakni

dengan 3 perangkat komunikasi yaitu Content (Kata-kata),Body Posture

and Facial Expression (Bahasa Tubuh),Voice Pitch and Volume (Intonasi

Suara).

2. Active Listening (Mendengarkan Secara Aktif)

Dengan menjadi pendengar yang aktif,kita dapat dengan mudah

mempengaruhi,bernegosiasi,dan berkomunikasi.Selain itu,kita dapat

menghindari kesalahpahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi.

3. Clarifying (Mengklarifikasikan untuk kejelasan pembicaraan)

Mengklarifikasi bertujuan untuk membantu menemukan permasalahan

yang sesungguhnya. Clarifying juga dapat menghindarkan terciptanya

makna ganda (ambigu) yang sering kali membingungkan dan membuat

orang salah mengerti.

4. Asking the Right Questions (Menanyakan pertanyaan yang tepat)

Menanyakan pertanyaan yang tepat dapat membantu menemukan

permasalahan yang sesungguhnya,serta dapat membantu untuk menjawab

(7)

5. Giving Feedback (Memberikan umpan balik)

Memberikan jawaban dari permasalahan yang dihadapi,serta mengarahkan

karyawan untuk bertindak selanjutnya.

2.2 Training (Pelatihan)

2.2.1 Pengertian Training (Pelatihan)

Menurut Salim (2014:7) Training adalah pelatihan dalam rangka

memberikan ilmu dan pengetahuan mengenai hal-hal tertentu yang dibawakan

oleh seorang trainer yang menguasai materi tersebut.

Menurut Hamalik (2007:10)Training adalah suatu fungsi manajemen yang

perlu dilaksanakan terus-menerus dalam rangka pembinaan ketenagaan dalam

suatu organisasi yang dilaksanakann secara berkesinambungan, bertahap dan

terpadu untuk mencapai tujuan tertentu terkait dengan upaya pencapaian tujuan

organisasi.

Menurut Handoko (2001:104), Pelatihan adalah setiap usaha untuk

memperbaiki performasi pekerjaan pada suatupekerjaan tertentu yang sedang

menjadi jawabnya atau suatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaan

supaya efektif. Pelatihan biasanya harus mencakup pengalaman belajar,

aktifitas-aktifitas yang terencana dan desain sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan

yang berhasil diidentifikasikan. Pelatihan dimaksudkan untuk memperbaiki

penguasaan berbagai ketrampilan dan teknik pelaksanaan pekerjaan tertentu,

terperinci dan rutin.

Menurut Siagian (1988 : 175) pelatihan adalah proses belajar mengajar

(8)

dimaksudkan untuk mmeningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja

seseorang atau sekelompok orang.

Menurut Moekijat (1991:4) Pelatihan adalah suatu proses yang diperlukan untuk

membantu pegawai menambah kecakapan dan pengetahuan yang berhubungan

erat dengan pekerjaan di mana karyawan tersebut bekerja.

2.2.2 Tujuan Training (Pelatihan)

Secara umum, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan dan membina

tenaga kerja,baik struktural maupun fungsional,yang memiliki kemampuan dalam

profesinya,kemampuan melaksanakan loyalitas,kemampuan melaksanakan

dedikasi dan kemampuan berdisiplin yang baik. Kemampuan profesional

mengandung aspek kemampuan keahlian dalam pekerjaan,kemasyarakatan,dan

kepribadian agar lebih berdaya guna dan berhasil guna (Hamalik,2007:16).

Secara Khusus, pelatihan bertujuan untuk :

a. Mendidik,melatih serta membina tenaga kerja yang memiliki keterampilan

produktif dalam rangka pelaksanaan program organisasi di lapangan.

b. Mendidik,melatih serta membina unsur-unsur ketenagakerjaan yang

memiliki kemampuan dan hasrat belajar terus untuk meningkatkan dirinya

sebagai tenaga kerja yang tangguh,mandiri,beretos kerja yang tinggi dan

produktif.

c. Mendidik, melatih serta membina tenaga kerja sesuai dengan

bakat,minat,nilai dan pengalamannya masing-masing (individual).

d. Mendidik dan melatih tenaga kerja yang dimiliki derajat relevansi yang

(9)

Jenis pelatihan dapat ditentukan berdasarkan jenis pekerjaan,dan

masing-masing memiliki tujuan tertentu. Tujuan pelatihan berdasarkan jenis pelatihan

adalah sebagai berikut :

a. Pelatihan induksi

Bertujuan untuk membantu tenaga kerja baru untuk melaksanakan

pekerjaannya,kepadanya diberikan informasi selengkapnya tentang seluk

beluk organisasi bersangkutan.

b. Pelatihan kerja

Bertujuan untuk memberikan instruksi khusus dalam rangka pelaksanaan

tugas-tugas sesuai dengan jawatan dan jenis pekerjaanya.

c. Pelatihan Pengawas

Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenai

pemeriksaan,pengawasan,dan pelatihan tenaga lainnya.

d. Pelatihan manajemen

Bertujuan untuk memberikan latian yang diperlukan dalam jabatan

manajemen puncak (Top Management)

e. Pengembangan Pemimpin

Bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memimpin bagi tenaga

unsur pimpinan dalam suatu organisasi/lembaga.

(10)

Menurut Hamalik (2007:20) Model pelatihan adalah suatu bentuk pelaksanaan

pelatihan yang di dalamnya terdapat program pelatihan dan tata cara

pelaksanaannya. Berdasarkan kategori dan jenis pelatihan dapat ditentukan suatu

model pelatihan.

Menurut Hamalik (2007:20) Terdapat 9 model pelatihan. Masing-masing model

memiliki tujuan dan prosedur penyelenggaraan yang berbeda-beda. Secara

keseluruhan penting dilaksanakan berdasarkan kebutuhan organisasi/lembaga.

Model-model pelatihan tersebut adalah :

1. Public Vacational Training (Rrefreshing Course)

Memberikan latihan kepada calon tenaga kerja. Pelatihan dikaitkan dengan

kebutuhan organisasi,dan diselenggarakan di luar organisasi/perusahaan.

2. Apprentice Training

Untuk memenuhi kebutuhan arus pegawai baru yang tetap dan serba bisa.

Prosedur latihan dalam kelas. Praktik kerja lapangan berlangsung dalam

jangka waktu lama,dengan pengawasan terus menerus.

3. Vestibule Training (Off the job Training)

Latihan diselenggarakan dalam suatu ruangan khusus yang berada di luar

tempat kerja biasa,yang meniru kondisi-kondisi kerja sesungguhnya.

Tujuannya yaitu untuk melatih tenaga kerja secara tepat,misalnya karena

perluasan pekerjaan. Materi latihan dititikberatkan pada metode kerja

teknik produksi dan kebiasaan kerja.

(11)

Untuk memberikan kecakapan yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu

sesuai dengan tuntutan kemampuan bagi pekerjaan tersebut,dan sebagai

alat untuk kenaikan jabatan. Kegiatannya terdiri dari membaca

materi,praktek rotasi,kursus khusus,,penugasan,dan lain-lain.

5. Pre employment Training (Pelatihan sebelum penempatan)

Mempersiapkan tenaga kerja sebelum ditempatkan/ditugaskan pada suatu

organisasi untuk memberikan latar belakang intelektual,mengembangkan

seni berfikir dan menggunakan akal. Materi lebih luas dan bersifat teoritik.

Pelatihan diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luar organisasi

perusahaan.

6. Induction Training (Latihan Penempatan)

Untuk melengkapi tenaga baru dengan keterangan-keterangan yang

diperlukan agar memiliki pengetahuan,tentang praktek dan prosedur yang

berlaku di lingkungan organisasi/lembaga tersebut,seperti:

Kebijakan,peraturan,kesejahteaan sosial,dan hal-hal yang diharapkan oleh

atasan dan rekan sekerja.

7. Supervisory Training (Latihan Pengawas)

Mengembangkan keterampilan sebagai pengawas. Kepada peserta

diberikan informasi tentang teori dan penerapan praktis mengenai

teknik-teknik pengawasan serta latihan tenaga kerja lainnya.

(12)

Untuk menyiapkan tenaga kerja yang cakap dalam jenis pekerjaan tertentu

dengan cara bekerja langsung dalam pekerjaan bersangkutan,memberikan

pelayanan sebagai seorang asisten/pembantu.

9. Sistem Kemagangan (Internship Training)

Menyiapkan tenaga yang terdidik dan terlatih dengan cara menempatkan

tenaga yang sedang disiapkan sebagai tenaga kerja pada suatu

lembaga/perusahaan selama jangka waktu tertentu dengan bimbingan

tenaga ahli dari balai latihan dan staff para organisasi/perusahaan tersebut.

Model Pelatihan yang dipilih dan diselenggarakan ditentukan oleh fungsi

pelatihan,kebijakan ketenagaan,permasalahan dalam organisasi,kategori

ketenagaan,dana dan waktu yang tersedia (Hamalik,2007:22).

2.2.4 Proses Training (Pelatihan)

Menurut Sunarto (2007:109), Mengelola proses pelatihan dapat melangkah

jauh menuju meningkatkan efektivitasnya.Jika program pelatihan disusun dan

dilaksanakan dengan baik,baik organisasi maupun karyawannya akan memperoleh

manfaat. Mengikuti proses yang lengkap membantu manajer memenuhi tujuan

program pelatihan.

(13)

Sumber : Sunarto,2007

Langkah pertama dalam proses pelatihan adalah menentukan kebutuhan

yang diperlukan karyawan dalam mendukung pekerjaannya. Misalnya jika

karyawan tidak tahu cara mengoperasikan mesin untuk melakukan pekerjaan

mereka,program pelatihan mengoperasikan mesin jelas diperlukan. Ketika

kelompok pekerja kantor berkinerja buruk,masalahnya dapat berupa

motivasi,rancangan pekerjaan yang tidak efisien,atau kurangnya keahlian dan

pengetahuan. Penyebab terakhir dapat diatasi dengan pelatihan. Ketika program

pelatihan dikembangkan,manajer seharusnya merancang tujuan spesifik yang

merinci partisipan mana yang ikut serta dalam pelatihan. Manajer seharusnya

Mengukur kebutuhan pelatihan: -Siapa yang dilatih?

-Apa yang perlu mereka ketahui? -Apa yang sudah mereka ketahui?

Menetapkan tujuan pelatihan -Spesifik -Dapat diukur

Merencanakan evaluasi pelatihan: -Apakah orang yang dilatih menyukai pelatihan?

-Dapatkah mereka memenuhi tujuan pelatihan? -Apakah mereka berkinerja lebih baik?

Mengembangkan prog pelatihan: -isi

(14)

merencanakan untuk mengevaluasi program pelatihan setelah karyawan

menyelesaikannya.

2.3 Kinerja Karyawan

2.3.1 Pengertian Kinerja Karyawan

Kinerja pada dasarnya adalah apa yangdilakukan atau tidak dilakukan

karyawan.Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhiseberapa banyak mereka

memberi kontribusikepada organisasi. Perbaikan kinerja baik untukindividu

maupun kelompok menjadi pusatperhatian dalam upaya meningkatkan

kinerjaorganisasi (Mathis dan Jackson, 2002 :78)

Suyadi Prawirosentono (2008: 2) menyatakan Kinerja karyawan adalah

hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu

organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam

rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal tidak

melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

Roziqin(2010: 41) mendefinisikan “Kinerja merupakan keseluruhan proses

bekerja dari individu yang hasilnya dapat digunakan landasan untuk menentukan

apakah pekerjaan individu tersebut baik atau sebaliknya”. Kinerja juga merupakan

keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator suatu pekerjaan atau

suatu profesi dalam waktu tertentu (Wirawan,2009: 5).

Menurut Simamora (2003:45) kinerja adalah ukuran keberhasilan

organisasi dalam mencapai misinya. Sementara menurut Hasibuan(2011:94),

Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan

tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan

(15)

gabungan dari tiga faktor penting, yaitu kemampuan dan minat seorang

pekerja,kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas,serta peran

dan tingkat motivasi seorang pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor di atas,semakin

besarlah kinerja karyawan yang bersangkutan.

Menurut Jimoh (2008:31) Kinerja karyawan adalah tindakan, perilaku, dan

hasil yang dapat diukur di mana karyawan terikat atau yang dilakukan karyawan

yang berhubungan dengan tujuan organisasi dan berkontribusi pada tujuan

organisasi.

Faktor-faktor Kinerja Karyawan yang mempengaruhi Kinerja Karyawan yaitu:

a. faktor internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan sifat-sifat

seseorang meliputi sikap, sifat kepribadian, sifat fisik, motivasi, umur,

jenis kelamin, pendidikan, pengalaman kinerja, latar belakang budaya, dan

variabel personal lainnya.

b. faktor eksternal.

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

karyawan yang berasal dari lingkungan meliputi kebijakan organisasi,

kepemimpinan, tindakan-tindakan rekan kerja, pengawasan, sistem upah,

dan lingkungan sosial.

Menurut Sulistyani (2003:228) ada lima hal yang dapat dijadikan indikator

(16)

1. Kualitas

Menyangkut kesesuaian hasil dengan yang diinginkan.

2. Kuantitas

Yaitu jumlah yang dihasilkan baik dalam nilai uang,jumlah unit atau jumlah

lingkaran aktivitas.

3. Ketepatan Waktu

Sesuai dengan standar yang ditetapkan organisasi pelaksanaan kerja dapat

diselesaikan dalam waktu yang ditentukan.

4. Kehadiran

Jumlah kegiatan yang dihadiri pegawai dalam masa kerja organisasi.

5. Dampak interpersonal

Menyangkut peningkatan harga diri, hubungan baik dan kerja sama di antara

teman kerja,maupun kepada bawahan dan atasan.

2.3.2 Proses Manajemen Kinerja

Dalam mengelola kinerja karyawan, diperlukan adanya manajamen kinerja

dalam sebuah perusahaan,karena untuk bisa mencapai hasil dalam

perusahaan,manajer harus memanajemeni kinerja departemen atau timnya. Dalam

menjalankan tanggung jawabnya mengelola kinerja,manajer berkontribusi pada

peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan dengan mendapatkan hasil

yang lebih baik dari timnya. Manajemen kinerja harus dipandang sebagai suatu

proses yang berkelanjutan dan juga merupakan proses yang bersifat siklus seperti

gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 Siklus Manajemen Kinerja

(17)

Sumber : Sunarto (2005:122)

Siklus manajemen kinerja terdiri atas beberapa aktivitas yang dijalankan secara

bersama-sama oleh manajer dan karyawan sebagai berikut :

1. Rencanakan

Sepakati sasaran,target,berikut kebutuhan pengembanngan kompetensi

atau kemampuan serta siapkan rencana untuk mencapai

sasaran,memperbaiki kinerja dan mengembangkan kemampuan.

2. Bertindak

Implementasikan rencana dalam pekerjaan sehari-hari dan melalui

program khusus peningkatan dan pengembangan.

3. Ukur

Pantaulah kinerja berpatokan pada ukuran kinerja,yaitu membandingkan

apa yang telah dicapai dengan apa yang seharusnya dicapai.

4. Evaluasi

Untuk mengevaluasi pencapaian,lakukan wawancara dan bandingkan

dengan rencana berdasarkan ukuran kinerja yang telah disepakatin. Pada

Bertindak Evaluasi

(18)

tahap evaluasi, dapat dilihat bagaimana kemaampuan individu

berkembang dan bagaimana penerapannya dalam pekerjaan.

2.3.3 Evaluasi Kinerja

Menurut Sunarto (2005:135), untuk mengevaluasi kinerja karyawan,

manajer dan anggota tim perlu bertemu secara periodik untuk mengevaluasi

kinerja mereka selama ini,menyepakati imbalan atas pencapaian sasran dan

membuat rencana baru berdasarkan hasil evaluasi atau perubahan keadaan.

Dalam melakukan evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan beberapa

cara,diantarannya :

1. Pertemuan Empat Mata

Pertemuan evaluasi kinerja yang paling umum dilakukan antara manajer

atau pemimpin tim dengan anak buahnya adalah pertemuan empat mata.

Dalam pertemuan empat mata evaluasi kinerja, karyawan akan menanalisis

kinerja dan kebutuhan pengembangannya sendiri dan manajer memberi

umpan balik. Kemudian bersama-sama menyepakati rencana tindakan

pengembangan.

2. Penilaian atau Umpan Balik ke Atas

Dalam evaluasi kinerja,karyawan bisa dan harus diberi peluang

menyampaikan pandangannya selama ini. Umpan balik ini bertujuan

mengidentifikasi hal-hal yang bisa manajer lakukan untuk memperbaiki

kinerjanya. Dalam beberapa organisasi, penilaian ke atas dilakukan dengan

cara membagikan kuesioner kepada karyawan dan karyawan diminta

(19)

3. Penilaian oleh rekan kerja

Masing-masing karyawan akan menilai rekan kerjanya dan dinilai oleh

rekan kerjanya dalam hal kontribusinya terhadap tim dan kinerjanya

sebagai anggota tim. Hal-hal yang dinilai misalnya kerjasama dengan

rekan yang lain, komunikasi dan fleksibilitasnya.

4. Umpan balik 360 Derajat

Umpan balik atau penilaian 360 derajat mengkombinasikan penilaian

manajer, atasan langsung atau atasan tidak langsung,rekan kerja sesama

anggota tim, dan pelanggan internal atau eksternal.

2.4 Kerangka Konseptual

Kerangka Konseptual merupakan penjelasan ilmiah mengenai preposisi

antarkonsep / antar konstruk atau pertautan / hubungan antarvariabel penelitian

(Juliandi dan irfan, 2013:114). Kerangka Konseptual bertujuan untuk

mengemukakan objek penelitian secara umum dalam bentuk kerangka variabel

yang akan diteliti. Untuk lebih memperjelas arah dari penelitian yang

menunjukkan bahwa ada pengaruh antara coachingdan training (pelatihan)

terhadap kinerja karyawan maka dalam penelitian ini dapat diambil suatu jalur

pemikiran yang diterjemahkan dalam diagram struktur seperti pada gambar 2.1.

Gambar 2.3 : Kerangka Konseptual

Coaching (X1)

Indikatornya:

1. Mengakses Potensial 2. Memfasilitasi

(20)

2.5 Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pernyataan yang ada pada

perumusan masalah penelitian (Juliandi dan irfan, 2013:45).

Berdasarkan masalah yang diteliti, maka penulis membuat hipotesis

sebagai berikut :

1. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Coaching

dengan Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri Cabang

Rantau Prapat.

Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Coaching dengan

Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri Cabang Rantau

Prapat.

Kinerja Karyawan (Y)

Indikatornya:

1. Kualitas 2. Kuantitas 3. Ketepatan waktu 4. Efektivitas

Training (Pelatihan) (X2)

Indikatornya:

(21)

2. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara

Trainingdengan Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri

Cabang Rantau Prapat.

Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Training dengan

Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri Cabang Rantau

Prapat.

3. H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Coaching dan

Training dengan Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri

Cabang Rantau Prapat.

Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Coaching dan

Training dengan Kinerja Karyawan pada Bank Syariah Mandiri

Cabang Rantau Prapat.

2.6 Peneliti Terdahulu

Ada beberapa penelitian terdahulu yang telah melakukan penelitian

berhubungan dengan Coaching, Training,dan kinerja karyawan. Beberapa

penelitian terdahulu yang memiliki hubungan dengan penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Tabel 2.4

(22)

No Peneliti Tahun Judul Hasil Penelitian

1 Eko Nugroho 2012 “Pengaruh Coaching

terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Individual (Studi Kasus pada Karyawan Bagian Support Services Departemen Production Services PT.International Nikel Indonesia, Tbk)

(1) coaching berpengaruh secara langsung, posiitif dan signifikan terhadap kinerja karyawan;(2) coaching berpengaruh secara langsung, posiitif dan signifikan terhadap motivasi kerja; (3)

motivasi kerja berpengaruh secara langsung, posiitif dansignifikan terhadap kinerja karyawan; dan

(4) coaching berpengaruh secara tidak langsung, posiitif dan signifikan terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja

2 Ninin Non

Ayu Salmah

2012 “Pengaruh Program

Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

terhadap Kompetensi Karyawan pada PT. Muba Electric Power Sekayu

1)secara simultan, PT. Muba Electric Power 2)secara parsial, variabel pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kompetensi karyawan PT. Muba Electric Power, karyawan PT. Muba

3 Khairul

Akhir Lubis

2008 Pengaruh Pelatihan dan

Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT Perkebunan Nusantara IV

1.pelatihan yang diterima karyawan PT.

(23)

(Persero) Medan selama ini ternyata mampu meningkatkan kinerja, disamping itu, motivasi yang diberikan oleh pimpinan atau perusahaan juga memiliki peran yang

penting untuk meningkatkan semangat

kerja dan komitmen karyawan terhadap perusahaan yang akhirnya juga berhasil meningkatkan kinerja karyawan.

4 Yerri

Suryoadi

2012 Pengaruh Pelatihan dan

Keputusan Kompensasi terhadap Kinerja Karyawan Pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Semarang

Pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di Kantor Bank Muamalat Indonesia Cabang Semarang. Selain itu, Kepuasan kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di Kantor Bank Muamalat Cabang Semarang.

5 Ade Imas

Fitriansyah

2012 Pengaruh Motivasi dan

Pelatihan Kerja terhadap Kinerja Karyawan Pada Bank BRI Syariah Cabang Cirebon

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa rotasi pekerjaan.. berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan melalui motivasi. Sehingga hipotesis ke

Motivasi kerja, lingkungan kerja, dan budaya organisasi dan kinerja karyawan secara parsial maupun secara simultan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja Bank Aceh

langsung karakteristik pemimpin terhadap kinerja melalui motivasi kerja menunjukkan bahwa karakte- ristik pemimpin tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja

International, dan secara simultan pelatihan kerja dan motivasi kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan PT. PCI Elektronik

Persepsi pemanfaatan sistem informasi akuntansi dan motivasi kerja secara. simultan berpengaruh signifikan terhadap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan pengalaman kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada kantor Direksi PDAM Tirta Wampu

Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikannya.”.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1 pelatihan secara langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja, 2 motivasi kerja secara langsung berpengaruh positif