B-1
DESAIN PENGATURAN BANDWIDTH LEWAT JARINGAN
LOCAL
AREA NETWORKING AD HOC
UNTUK INTEGRASI INFORMASI
SISTEM INFORMASI DAERAH KOTA MATARAM
Husain1, Ronald Ommy Yulyantho2, Abdul Manan3
1,2 ) Staf Pengajar Jurusan Teknik Informatika STMIK Bumigora Mataram, NTB e-mail : [email protected]
Abstrak
Integrasi Informasi dari suatu Sistem diperlukan karena_adanya kebutuhan konstituen untuk bekerja sama antar instansi pemerintah dan terjadinya pengolahan data antar sistem informasi tiap Instansi Pemerintah yang saling terkait, sehingga untuk melengkapi suatu informasi dibutuhkan proses pertukaran data dengan Sistem Informasi yang lain (kominfo,2010). Pemerintah kota Mataram saat ini telah memiliki komponen untuk mendukung proses terjadi integrasi informasi antara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) karena memiliki server Sistem Informasi Daerah (datacenter) di bagian Pengelolaan Data Elektronik dan Informatika (PDEI) Sekretariat Kota Mataram dan infrastruktur jaringan LAN antar SKPD. Pelaksanaan model pengirimanan data yang dapat menjangkau beberapa personil yang ada di masing-masing SKPD sehingga proses pengirimanan data menjadi lebih cepat. Infrastruktur Jaringan LAN dengan menggunakan Teknologi Wireless saat ini dipasang pada SKPD hanyak satu 1 (satu) cleint sebagai penerima sedangkan untuk menjangkau semua personil tersebut dibutukan jaringan local dalam SKPD dengan menggunakan teknologi WIFI ad hoc. Jaringan WiFi Ad hoc adalah mode Jaringan WiFi yang memungkinkan dua atau lebih device (komputer atau router) untuk saling berkomunikasi satu sama lain secara langsung (dikenal dengan istilah peer to peer) tanpa melalui Central Wireless Router atau Acces Point (AP). Hasilnya dari komunikasi dengan menggunakan jaringan ad hoc semua operator yang ada SKPD dapat mengkases Sistem Informasi Daerah Kota Mataram.
Kata Kunci : sistem informasi, LAN, SKPD, WIFI, client, dan integrasi Informasi
1. Pendahuluan
Integrasi Informasi dari suatu Sistem diperlukan karena_adanya kebutuhan konstituen untuk bekerja sama antar instansi pemerintah dan terjadinya pengolahan Data antar sistem informasi tiap Instansi Pemerintah yang saling terkait, sehingga untuk melengkapi suatu informasi dibutuhkan proses pertukaran data dengan Sistem Informasi yang lain (kominfo,2010).
Upaya untuk mendukung terjadinya integrasi informasi maka yang perlu dipersiapkan salah satunya infrastruktur jaringan teknologi informasi. Proses integrasi yang dilakukan adalah mengintegrasikan jaringan lokal dari remote site ke dalam suatu jaringan yang besar. Integrasi ini harus menciptakan suatu situasi yang memungkinkan pengaksesan ke berbagai bagian dari jaringan yang terintegrasi secara transparan. Untuk mencapai hal ini, harus diatasi beberapa masalah, antara lain adalah menentukan alamat IP dan Melakukan routing traffic dari A ke B.
Setiap alamat IP di Internet haruslah unik. Karena hanya itulah cara untuk mengidentifikasi suatu host. Menggunakan alamat yang sama untuk beberapa mesin akan menghasilkan hasil yang tak
dapat diperkirakan. Prinsip address yang harus unik ini hanya berlaku bagi host yang dapat diakses secara langsung dari Internet.
Sebagian alamat yang dimiliki oleh mesin pengguna ditentukan oleh ISP (Internet Service Provider). ISP akan melakukan koneksi ke Internet dan melakukan routing seluruh trafiic dari dan ke alamat IP pengguna. Sehingga alamat IP ini bersifat tetap, dan pengguna dapat menggunakannya alamat yang sama selalu, sehingga hal ini mempermudah konfigurasi.
B-2
dikirim ke satu router, dan alamat IP untuk range tertentu dikirim ke router yang lainnya.Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi sangatlah cepat demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Perkembangan di bidang teknologi jaringan yang belakangan ini menarik perhatian para pemerhati teknologi pada umumnya adalah teknologi wireless (Ramadhan,2011). Perangkat-perangkat elektronik yang diciptakan dan dikembangkan sekarang ini juga turut memicu perkembangan teknologi wireless tersebut. Beberapa contoh perangkat mobile yang umum dipakai termasuk di antaranya PDA (Personal Desktop Assistance), smartphone, laptop, notebook dan sebagainya (Ramadhan,2011).
Pemerintah kota Mataram saat ini telah memiliki komponen untuk mendukung proses terjadi integrasi informasi antara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) karena memiliki server Sistem Informasi Daerah (datacenter) di bagian Pengelolaan Data Elektronik dan Informatika (PDEI) Sekretariat Kota Mataram dan infrastruktur jaringan LAN antar SKPD. Namun dalam pelaksanaannya dibutuhkan model pengirimanan data yang dapat menjangkau beberapa personil yang ada di masing-masing SKPD sehingga proses pengirimanan data menjadi lebih cepat.
Infrastruktur Jaringan LAN dengan menggunakan Teknologi Wireless saat ini dipasang pada SKPD hanyak satu 1 (satu) cleint sebagai penerima sedangkan untuk menjangkau semua personil tersebut dibutukan jaringan local dalam SKPD dengan menggunakan teknologi WIFI ad hoc. Jaringan WiFi Ad hoc adalah mode Jaringan WiFi yang memungkinkan dua atau lebih device (komputer atau router) untuk saling berkomunikasi satu sama lain secara langsung (dikenal dengan istilah peer to peer) tanpa melalui Central Wireless Router atau Acces Point (AP). 1.
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Merancang model integrasi informasi bank data kota Mataram lewat jaringan antar SKPD. 2. Membuat model jaringan adhoc di SKPD
dalam rangka mengakses sistem informasi Sistem Informasi Daerah kota Mataram. 3. Dapat Mengakses sistem informasi Sistem
Informasi Daerah yang berada di server Bagian PDEI Kota Mataram.
4. Membuat sistem informasi Sistem Informasi Daerah kota mataram
Manfaat penelitian ini adalah:
1.
Mempercepat proses pengiriman data
yang berasal dari SKPD
2.
Memberikan Informasi mengenai Sistem
Informasi Daerah di semua SKPD
3.
Dapat melakukan proses penukaran
informasi antara SKPD karena adanya
Sistem Informasi Daerah yang terpusat.
4.
Memperluas jaringan akses di SKPD
lewat jaringan ad hoc
2. Kajian Pustaka
Arti konsep sistem mulai diperkenalkan sekitar dekade 1920-an. Definisi konsep sistem menurut Buckley adalah :” Suatu kebulatan atau totalitas yang berfungsi secara utuh, disebabkan adanya saling ketergantungan di antara bagian-bagiannya dinamakan suatu sistem.”
Definisi konsep sistem menurut H. Kerzner ( 1989 ) adalah :”Sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan atau bukan manusia (nonhuman) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir”.
Fungsi dan efektivitas sistem dalam usaha mencapai tujuannya tergantung dari ketepatan susunan rangkaian atau struktur terhadap tujuan yang telah ditetapkan.
Beberapa sifat yang melekat pada sistem dan masing-masing komponennya, demikian pula hubungan antara satu dengan yang lain adalah sebagai berikut :
1. Bersifat Dinamis : Sistem menunjukkan sifat yang dinamis, dengan perilaku tertentu. Perilaku sistem pada umumnya dapat diamati pada caranya mengkonversikan masukan (input) menjadi hasil (output).
2. Sistem Terpadu Lebih Besar daripada Jumlah Komponen-komponennya Bila elemen-elemen atau bagian-bagian tersebut tersusun dan terorganisir secara benar, maka akan terjalin suatu sistem terpadu yang lebih besar daripada jumlah/besaran bagian-bagiannya.
3. Mempunyai Arti yang Berbeda Satu sistem yang sama bisa jadi dipandang atau diartikan berbeda, tergantung siapa yang mengamatinya dan untuk kepentingan apa.
4. Mempunyai Sasaran yang Jelas Salah satu tanda keberadaan sistem adalah adanya tujuan atau sasaran yang jelas. Mempunyai Keterbatasan Sistem mempunyai keterbatasan yang disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar berupa hambatan dari lingkungkan, sedangkan faktor dalam adalah batasan sumber daya.
B-3
proyek, terutama bagi proyek yang berukuran besar dan kompleks.Pada tahap implementasi, yaitu setelah proyek dinyatakan lulus evaluasi dan seleksi, serta telah tersedia sumber daya, manajemen proyek memusatkan perhatian pada keberhasilan pelaksanaan pekerjaan dengan cara sebagai berikut :
1. Mengelola para peserta proyek (konsultan, kontraktor, rekanan penyandang dana, dan lain-lain) dengan pengertian bahwa mereka adalah subsistem dari suatu sistem (proyek). Mereka harus diarahkan untuk mencapai sasaran bersama, yaitu keberhasilan proyek, meskipun terdapat tujuan yang berlainan. (Pemilik ingin menekan biaya proyek, sedangkan kontraktor atau rekanan ingin meningkatkan laba).
2. Mengelola proyek dengan menyadari bahwa proyek adalah bagian dari siklus sistem yang utuh, jadi mengikuti pola tahap konseptual, desain pendahuluan dan pengembangan, desain terinci, sampai pada konstruksi dan manufaktur, dengan memperhatikan keperluan-keperluan untuk tahap berikutnya (operasi atau produksi dan pemeliharaan).
3. Mengelola proyek dengan memahai siklus proyek dan siklus sistem, sehingga dapat mengikuti dinamika kegiatan dan mengantisipasi kapan, jumlah, dan jenis sumber daya yang harus disediakan.
2.1 Jaringan Komputer 2.2.1 Unsur dan Sifat Sistem
Mobile ad-hoc network (MANET) merupakan sebuah jaringan yang terdiri dari gabungan perangkat-perangkat bergerak (mobile) tanpa infrastruktur, sehingga membentuk jaringan yang bersifat sementara (Ramadhan,2011). Tiap perangkat memiliki antarmuka nirkabel dan saling berkomunikasi melalui gelombang radio, kemudian tiap perangkat tersebut dinamakan node. Beberapa contoh ad-hoc node yaitu laptop dan personal digital assistants (PDA) yang saling berkomunikasi secara langsung satu sama lain (Larsson,1998). Karena peralatan ad-hoc bisa bermacam–macam, maka seperti pada Gambar 1. Diperlihatkan kemungkinan topologi pada jaringan ad-hoc, yaitu terdiri dari perangkat yang berbeda–beda (heterogen) atau sejenis (homogen).
Gambar 2.1. Perangkat MANET
2.2.2 Protokol Routing
Pada umumnya protokol untuk jaringan Ad-Hoc terbagi dua tipe, yaitu proaktif dan reaktif. Protokol routing reaktif bersifat on-demand, artinya membentuk sebuah rute dari satu node sumber ke
node tujuan hanya berdasarkan pada permintaan
node sumber tersebut. Kedua, protokol routing
proaktif bersifat table driven, dimana setiap node
menyimpan tabel yang berisi informasi rute ke setiap node yang diketahuinya. Informasi rute
diperbaharui secara berkala jika terjadi perubahan link.
Pada Gambar 2. ditunjukkan tabel pohon yang menjelaskan beberapa tipe protokol routing
ad-hoc. Beberapa protocol MANET di antaranya adalah AODV, OLSR dan DSDV. Masing-masing protokol memiliki karakteristik yang berbeda. AODV adalah salah satu protokol routing reaktif. Cara kerja protokol ini adalah selama koneksi rute
dari pengirim ke penerima telah valid, AODV tidak melakukan pencarian lagi. AODV memelihara rute
ini selama mereka dibutuhkan (Murthy,2004).
Gambar 2.2. Karakteristik Protokol Routing.
Optimized Link State Protocol (OLSR) adalah sebuah protokol routing proaktif, jadi rutenya selalu secara cepat tersedia ketika dibutuhkan. OLSR adalah sebuah versi optimisasi dari sebuah protokol kondisi link murni (pure link state protocol)[3]. Dan yang ketiga adalah DSDV,
Routing protocol Destination Sequenced Distance Vector (DSDV) adalah salah satu protokol awal yang diusulkan pada jaringan nirkabel ad-hoc. DSDV termasuk salah satu protokol proaktif. DSDV juga merupakan salah satu protokol yang menjaga informasi dari topologi global dalam bentuk tabel pada setiap node. Tabel-tabel ini
di-update secara sering untuk menjaga kekonsistenan dan keakurasian informasi keadaan jaringan (Murthy,2004).
2.2.3 Simulasi MANET Dengan NS-3
B-4
yang ditunjukkan pada Gambar 3. pembuatan salah satu skenario, yaitu mendefinisikan sebuah nodeyang diam berjumlah satu buah, dan node yang bergerak berjumlah 5 buah. Simulasi akan berjalan dengan keadaan semua node, baik yang diam atau yang bergerak, akan berbaris dengan panjang barisan maksimal 10 node dan akan membentuk baris kedua jika node lebih dari 10 dan seterusnya. Jarak antar ode dalam barisan adalah 1 meter s/d 2 meter.
Gambar 2.3. Skenario Jaringan MANET Saat semua node sudah dalam keadaan berbaris, semua node, terkecuali node pertama, akan mulai bergerak dengan arah random dalam ruang lingkup yang ada. Dengan kecepatan konstan 10m/s, node pertama hanya diam di koordinat 0,0. Pada detik ke-satu, tiap node yang bergerak akan mengirimkan paket UDP dengan bitrate konstan
sebesar 1Mbps ke node yang diam. Setelah itu Berdasarkan pada hasil dari skenario di atas, node
uji yang bergerak, akan melakukan pergerakan dalam ruang lingkup sebesar 100 x 100m, dimana ruang lingkup tersebut dirasa sudah cukup besar dan masih dalam jarak ideal dalam pengiriman data untuk dilakukan simulasi (Ramadhan,2011). 3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah:
1. Penelitian dilakukan di 18 SKPD yaitu 6 Kecamatan, Sekretariat Daerah, 6 SKPD Teknis, dan 5 Badan-badan di kota Mataram. 2. Membuat Sistem Integrasi informasi lewat
pemrograman PHP dengan Database MySQL 3. Membuat skenario implementasi MANET 4. Merancang simulasi MANET menggunakan
simulator NS-3
5. Implementasi akan dilakukan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan lalu melakukan pengujian terhadap simulasi jaringan MANET.
6. Menjalankan Sistem Informasi lewat Jaringan SKPD dengan menggunakan Skenario MANET ad hoc
Sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian kualitatif dan sumber data yang akan
digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan analisis dokumen, observasi, kuisioner dan wawancara. Untuk mengumpulkan data dalam kegiatan penelitian diperlukan cara-cara atau teknik pengumpulan data tertentu, sehingga proses penelitian dapat berjalan lancar.
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif pada umumnya menggunakan teknih observasi, wawancara, kuisioner dan studi dokumenter, atas dasar konsep tersebut, maka empat teknik pengumpulan data diatas digunakan dalam penelitian ini.
Wawancara
Wawancara dilakukan dengan nara sumber yang merupakan pimpinan SKPD
Kuisioner
Kuisioner yang digunakan diedarkan pada SKPD
Observasi /Pengamatan
Penulis mengamati prosedur aliran data. Pengamatan dilakukan dari proses pemasukan data, pengolahan data hingga pencetakan dokumen dan pelaporan.
Racangan penelitian adalah :
a. Membuat IP dimasing-masing SKPD
b. Mengedalikan IP Lewat peralatan terpusat dengan memasang Peralatan beberapa Mikrotik dengan mengatur bandwith untuk masing-masing skpd
c. Mendistribusikan bandwith
d. Menguji hasil IP dan bandwith yang telah diatur
e. Mengatur aplikasi yang berjalan dijaringan antar SKPD
Untuk pengujian bandwith yang berjalankan lewat jaringan degan menggunakan aplikasi test bandwith yang diuji dimasing-masing note (titik) yang berada dimasing-masing SKPD.
Rujukan pustaka dalam pembahasan ditandai nama belakang penulis disertai tahun penerbitan dalam kurung. Contoh: Attia & Horacek, P.(2001); Martinez, et al (2001); Sampat, et al (2004). 4. Pembahasan
B-5
4.1. Konsep Jaringan Penerapan AksesIntegrasi Informasi Bank Data
Sistem informasi ini digunakan untuk menyimpan data integrasi dari semua data yang ada di SKPD kota Mataram di pusat data center Bagian Pengolahan Data Elektronik Informatika (PDEI) . model akses sistem ini lewat jaringan anatara SKPD menggunakan model wireless. Peralatan untuk mengkoneksi sistem jaringan antar SKPD dibutuhkan adalah server database, firewall, mikrotik, radio, antena sektoral dan intalasi model adhoc di masing-masing SKPD.
Gambar 4.1. Jaringan antara SKPD
Gambar 4.2. Konfigurasi server dan peralatan
Gambar 4.3. Konfigurasi model entry data secara ad hoc
4.2. Model Sistem Informasi Daerah
Sistem informasi Sistem Informasi Daerah dibuat lewat pemrograman php, java, kemudian sistem tersebut diakses secara entranet lewat jaringan antara SKPD dengan database menggunakan mysql, sql dan ACCESS. Adapun model dari sistem tersebut adalah : berbasis front office dan back office. Front office maksudnya adalah bahwa sistem dapat di akses informasi oleh semua pihak yang terhubung dengan jaringan. Sedangkan back office sistem hanya diakses oleh administrator di masing-masing SKPD untuk mengelolah data.
4.2.1. Menu Tampilan Halaman Web
4.2.2. Informasi Data Dinas
4.2.3. Menu Adminstrator Jalan
4.2.4 Model Pengaturan Bandwith
Pengaturan bandwith menggunakan peralatan mikrotik yang terdiri dari mikrobit ainos, mikrotik router 450G, mikrotik R1100 dan mikrotik 2100. Didalam aplikasi mikrotik yang diperlukan pengaturan IP sesuai jumlah pemakaian dimasing-masing SKPD, pengaturan jumlah bandwith dimasing-masing SKPD dan jadwal waktu penggunaan paket aplikasi dan jaringan internasional (internet).
B-6
5. SimpulanIntegrasi informasi Sistem Informasi Daerah di pemerintah Kota Mataram merupakan proses pengelolaan data yang berasal dari semua SKPD dalam rangka untuk memberikan informasi tentang kinerja dari masing-masing SKPD. Sehingga lewat model jaringan entranet menggunakan jaringan SKPD dan menggunakan model ad hoc untuk mengakses data, maka masyarakat, pimpinan dan operator SKPD dapat membuka informasi mengenai data-data hasil kerja dari pemerintah daerah yang ada di masing-masing SKPD.
Daftar Pustaka:
Az Enterprise Architecture, http://gita.state.az.us/
enterprise_architecture. Diakses pada 27/06/2007.
Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kominfo. 2006. Sosialisasi Pedoman Standard Kompetensi SDM Pengelola e-Government. Departemen Komunikasi dan Informatika. Jakarta
Booz Allen Hamilton, Government On-line, Indonesia Roadmap to e-Government, Proyek IIDP Bank Dunia, Jakarta, 2002.
Chief Information Officer Council. 2001. A Practical Guide to Federal Enterprise Architecture. Federal Architecture Working Group. USA.
Hermawan Kartajaya, M. Hermawan, Yuswohady, Taufik, Sonni, H. Anwar, H.H. Joewono, J. Mussry. 2002. MarkPlus on Strategy. PT Gramedia. Jakarta.
http://www.gnuplot.info, 2005. V. Noumov, G. Thomas, Simulation of Large Ad Hoc Ne http://www.handhelds.org, 2004.
http://www.openxtra.co.uk/support/ethereal-display-filter.php, 2005.
http://dast.nlanr.net/Projects/Iperf/
http://www.linuxguruz.com/iptables/howto/, 2005. R. Jain, The Art of Computer System Performance Evaluation Performance Analysis, John Willey, 1991.
http://kominfo.go.id,2013
Larsson,, T. and Hedman, N. (1998). Routing Protocol In Wireless Ad-hoc Networks A Simulation Study, Master Thesis, Lulea University of Technology, Stockholm.
McGovern, James, Scott W. A., 2003. Practical Guide to Enterprise Architecture, USA: Prentice Hall.
Murthy, C. Siva Ram and Manoj, B. S. (2004). Ad Hoc Wireless Networks Architectures and Protocols, Pearson Education, Inc., USA. Ramadhan, Y., Abdi, M., Mike, R.V. (2011).
Analisa Performa Routing Protokol AODV, OLSR, dan DSDV Menggunakan NS-3 Pada Mobile Ad-Hoc Network. Universitas Bina Nusantara
Sowa, J. F., J. A. Zachman, 1987. Extending and Formalizing the Framework for Information Systems Architecture, IBM Systems Journal, Vol. 31.
The Zachman Institute for Framework Advancement, http://www.zifa.com. Diakses pada 27/06/2007.
Vachon B., Graziani R. (2008) Accessing the WAN :CCNA exploration companion guide. Indianapolis : Cisco Press
B-7
IMPLEMENTASI VIRTUALISASI LABORATORIUM SERVER LINUX
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PRAKTIKUM JARINGAN
KOMPUTER DI MAJEMEN INFORMATIKA POLINEMA
Yuri Ariyanto
Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Manajemen Informatika, Politeknik Negeri Malang [email protected]
Abstrak
Implementasi virtualisasi laboratorium server linux ini merupakan aplikasi virtual mesin yang dirancang untuk membantu mahasiswa dalam mencoba dan menguji server dalam praktikum jarimgan komputer secara mandiri di laboratotium maupun diluar laboratorium, sebelum mahasiswa mengimplementasikan sistem server linux secara rill.
Implementasi virtualisasi laboratorium server linux dibuat dengan menggunakan apliksi NETKIT-2.8 yang merupakan sistem User Mode Linux yang berjalan pada sistem operasi linux.
Uji coba dilakukan dengan pembuatan virtual laboratorium menggunakan NETKIT-2.8 pada sistem operasi Linux Ubuntu, kemudian dibuat laboratorium virtual untuk melakukan percobaan virtualisasi laboratorium peer to peer, ssh dan server static routing. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, semua fungsi yang terdapat pada virtualisasi laboratorium server linux berjalan dengan baik.
Kata kunci : User Mode Linux, NETKIT, Linux Ubuntu.
1. Pendahuluan
Perkuliahan jaringan komputer di Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Malang dilaksanakan pada Laboratorium Jaringan Komputer (L.JK), dengan jumlah mahasiswa 30 orang perkelas yang melakukan praktikum jaringan komputer. Sedangkan pada Lab.JK komputer yang tersedia +- 25 komputer sehingga mengharuskan mahasiswa membawa komputer sendiri (laptop) untuk melakukan praktikum jaringan komputer.
Dalam praktikum jaringan komputer implementasi pembuatan server dengan menggunakan sistem operasi Linux. Untuk melakukan pengujian server minimal membutuhkan sekitar 3-6 komputer untuk mencoba dan mengujinya, kemudian baru diimplementasikan pada sistem yang terintegrasi.
Berdasarkan masalah diatas, untuk mengatasi masalah keterbatasan komputer pada praktikum jaringan komputer diperlukan adanya Virtualisasi Laboratorium Server Linux untuk menunjang kegiatan praktikum jaringan komputer, sehingga mahasiswa dapat mencoba dan mengujinya secara mandiri di komputernya masing-masing baik di laboratorium maupun di luar laboratorium.
Dalam implementasi virtualisasi laboratorium Server Linux digunakan paket User Mode Linux (UML) yang ada pada linux distro debian yang dipaket dalam aplikasi NETKIT-2.8.
2. Kajian Pustaka
2.1.Penelitian Tentang Virtual Server
Virtualisasi server adalah penggunaan perangkat lunak yang memungkinkan satu perangkat keras untuk menjalankan beberapa sistem operasi dan services pada saat yang sama, sedangkan virtual server adalah penggunaan perangkat lunak yang memungkinkan banyak perangkat keras untuk menjalankan satu sistem secara terpadu. Teknologi virtualisasi server ini bertujuan untuk menghindari pemborosan daya proses yang mahal atau dengan kata lain meningkatkan efisiensi serta mengoptimalkan penggunaan processor berinti lebih dari satu. Penghematan lain adalah biaya listrik karena hanya menggunakan satu atau sedikit server saja.
Penelitian yang berkaitan adalah Garnieri (2010), Penelitian ini menargetkan penggunaan
virtualisasi server pada perusahaan besar, yang memfokuskan pada minimalisasi downtime pada saat
maintance perangkat keras server dengan menggunakan aplikasi VMware Infrastructure 3. Selain itu peneliti Ardianto (2011), menjelaskan bagaimana merancang virtualisasi appliances
dengan memanfaatkan metode virtualisasi. 2.2. Sistem Operasi Jaringan
B-8
UNIX digunakan untuk komputer besar seperti mainframe, super komputer, dan sebagainya sedangkan non-UNIX digunakan pada PC.Jaringan komputer adalah berbagai komputer yang dihubungkan satu dengan yang lain untuk dapat saling berkomunikasi serta berbagi informasi dan perangkat komputer. Dalam jaringan komputer terdapat client dan server yang memiliki fungsi tersendiri. Pada dasarnya jaringan komputer terbagi menjadi dua jenis, yaitu client-server dan peer-to-peer.
2.3. User Mode Linux (UML)
Ada berbagai macam aplikasi untuk melakukan virtualisasi, salah satu di antaranya adalah User Mode Linux (UML). Kelebihan dari UML ini adalah dapat mensimulasikan jaringan virtual dan tidak membutuhkan sumber daya yang terlalu besar. Selain itu, bagi yang sudah terbiasa, penggunaannya lebih sederhana. Pada penelitian ini digunakan aplikasi NETKIT yang merupakan salah satu turunan dari UML.
Netkit merupakan sebuah network emulator open source yang dirilis dibawah Lisensi BSD . Netkit memungkinkan untuk membuat virtual network device3 (router,switch,komputer,dll) yang bisa dihubungkan kedalam beberapa jaringan . Untuk mempelajarinya minimal harus mengenal dan memahami Linux dasar , karena netkit hanya bisa dijalankan pada Sistem Operasi Linux.
2.4. NETKIT
Netkit merupakan sebuah network emulator open source yang dirilis dibawah lisensi BSD . Lisensi BSD : kependekan dari Berkeley Software Distribution merupakan sebuah lisensi yang termasuk di dalam keluarga lisensi free software. Netkit sangat cocok untuk digunakan oleh para pemula yang ingin belajar jaringan komputer dan memahami jaringan komputer secara lebih detil dan spesifik, disamping itu, netkit juga bisa digunakan oleh Network Administrator untuk mensimulasikan jaringan yang akan dibuat sebelum benar-benar mengimplematasikan pada dunia nyata.
Netkit memungkinkan kita untuk membuat
virtual network device3 (router,switch,komputer,dll) yang bisa dihubungkan kedalam beberapajaringan . Untuk mempelajarinya minimal kita mengenal dan memahami Linux dasar , karena netkit hanya bisa dijalankan pada Sistem Operasi Linux. Agar mudah memahami Netkit harus mengetahui perintah dasar linux dan konsep TCP/IP terlebih dahulu.
3. Metode Penelitian
3.1.Metode Penelitian Model Waterfall
Pada penelitian ini digunakan User Mode Linux (UML) yaitu NETKIT, untuk melakukan Implementasi Virtualisasi Laboratorium Server
Linux Untuk Menunjang Praktikum Jaringan Komputer Di Manajemen Informatika Polinema adalah SDLC (System Development Life Cycle) dengan model waterfall. Metode Waterfall
menekankan pada sebuah keterurutan dalam proses pengembangan perangkat lunak. Metode ini dipilih karena sangat cocok untuk membangun sebuah sistem dimana sumber daya manusia yang terlibat dalam jumlah terbatas (Rosa A.S. dan Shalahuddin, 2011 : 26-29). Metode peneltian ditunjukkan pada gambar 4.1 dibawah ini:
Gambar 3.1. Metode Penelitian
Gambaran singkat metodologi penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Analisa Kebutuhan
Tahapan ini definisikan sebagai tahapan pengumpulan informasi kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam Implementasi Virtualisasi Laboratorium Server Linux untuk praktikum jaringan komputer. Pada praktikum jaringan komputer mahasiswa masih membutuhkan minimal 3 – 6 komputer untuk mencoba dan mengujinya kemudian diimplementasikan pada sistem yang terintegrasi.
b. Perancangan Sistem
Tahapan ini merupakan tahapan setelah mendapatkan hasil dari proses analisis kebutuhan. Pada proses ini dirancang suatu rancangan sistem dari virtualisasi laboratorium server linux yang sesuai dengan hasil dari proses analisis kebutuhan yang telah dilakukan.
c. Implementasi
Pada proses implementasi ini digunakan aplikasi NETKIT-2.8 yang merupakan salah satu turunan dari UML (User Mode Linux) sebagai software untuk membuat virtualisasi server pada linux.
d. Pengujian
Proses pengujian aplikasi virtualisai laboratorium server linux ini dilakukan di Laboratorium Komputer Jaringan di Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Malang.
B-9
Tahap ini dapat diartikan sebagai tahap penggunaan perangkat lunak virtualisasi laboratorium yang disertai dengan pemeliharaan dan perbaikan. Pemeliharaan dan perbaikan suatu perangkat lunak diperlukan, termasuk di dalamnya adalah pengembangan, karena dalam prakteknya ketika perangkat lunak tersebut digunakan terkadang masih terdapat kekurangan ataupun penambahan fitur-fitur baru yang dirasa perlu.3.2.Instalasi NETKIT
Setelah mengenal netkit maka tahap selanjutnya adalah menginstall netkit sebelum dilakukan pembuatan virtualisasi laboratorium server linux pada jaringan komputer. Dalam menginstall linux digunakan distro linux varian debian. Pada percobaan ini digunakan distro linux ubuntu yang merupakan varian dari distro linux debian.
a. Tahapan Download dan Extrak
Download terlebih dahulu 3 modul netkit yang
terbaru di
http://wiki.netkit.org/index.php/Download_Official , dalam hal ini digunakan:
– netkit-2.8.tar.bz2
– netkit-filesystem-i386-F5.2.tar.bz2 – netkit-kernel-i386-K2.8.tar.bz2
Kemudian dicopikan semua file kedalam direktori /home, pada percobaan ini semua file diletakkan pada direktori /home/yuri/netkit. Dengan cara mengetikkan perintah mkdir /home/yuri/netkit pada mode terminal untuk memudahkan pada proses instalasi, kemudian extrak semua modul tersebut.
yuri@yuri-VirtualBox:~$sudo su
[sudo] password for yuri: (masukkan password, tersus tekan enter) (copykan semua file disini)
root@yuri-VirtualBox:/home/yuri/netkit# ls (ketik ls untuk melihat isi direktori)
netkit-2.8.tar.bz2
netkit-filesystem-i386-F5.2.tar.bz2 netkit-kernel-i386-K2.8.tar.bz2 Kemudian extrak dengan perintah # tar -xjf netkit-2.8.tar.bz2
# tar -xjf netkit-filesystem-i386-F5.2.tar.bz2 # tar -xjf netkit-kernel-i386-K2.8.tar.bz2 #Setelah proses extrak akan terbentuk direktori baru dengan nama netkit. Ketikan cd netkit untuk masuk ke direktori yang baru terbentuk pada proses instalasi.
root@yuri-VirtualBox:/home/yuri/netkit/netkit#
b. Tahapan Konfigurasi
Pada tahap ini dilakukan pengaturan PATH standar yang akan di gunakan pada netkit yaitu pada direktori /home/yuri/netkit/netkit. Untuk itu dilakukan pengeditan pada file bash.bashrc. Pada pengeditan file bash.bashrc bisa digunakan teks editor yang ada di linux sebagai contoh pico. Dengan cara mengetikkan perintah pico pada konsol terminal, dengan sintak #pico /etc/bash.bashrc. Setelah dilakukan proses tersebut maka akan terbuka file /etc/bash.bashrc, jangan dilakukan perubahan apapun. Pada baris paling bawah sendiri pada file bash.bashrc, ditambahkan beberapa sintak nektit sebagai berikut:
[..]
# NETKIT PATH export
NETKIT_HOME=/home/yuri/netkit/netkit (catatan: direktori penyimpanan sesuai dengan path sesuai dengan yang telah dibuat)
export MANPATH=:$NETKIT_HOME/man export PATH=$NETKIT_HOME/bin:$PATH [..]
c. Tahapan Cek Konfigurasi
Setelah konfigurasi tersebut selesai, tutup terminal konsol kemudian buka lagi terminal konsol masuk sebagai user root. Untuk proses pengecekan apakah netkit siap digunakan atau tidak, dengan
menggunakan perintah sintak
./check_configuration.sh. Kemudian akan muncul list konfigurasi NETKIT sampai ada keterangan [READY]. Status [READY] menunjukkan bahwa konfigurai berhasil, jika masih ada status [ERROR] cek konfigurasi PATHnya. Konfigurasi netkit berhasil ditunjukkan pada gambar dibawah ini sebagai berikut:
Gambar 3.2. Cek Konfigurasi NETKIT
d. Cara Penggunaan NETKIT
Setelah installasi netkit selesai , kita sudah dapat memulai menggunakan netkit , namun sebelum menggunakan netkit , hal yang paling penting adalah kita memahami command line yang disediakan oleh netkit .
B-10
mengonfigurasi virtual mesin yaitu 'v' command dan 'l' command, untuk 'v' command , semua command atau perintah dimulai dengan huruf v sedangkan 'l' command , semua dimulai dengan huruf l . Pada dasarnya v merupakan command yang digunakan untuk membuat virtual mesin pada netkit , sedangkan l adalah command yang digunakan untuk membangun lab komputer virtual yang terdiri dari banyak komputer virtual.Command yang termasuk didalam 'v' command seperti : vclean, vconfig, vcrash, vhalt, vlist, vstart sedangkan yang termasuk kedalam 'l' command adalah : lclean, lcrash, lhalt, linfo, lrestart, lstart, ltest.
4. Hasil dan Pembahasan
Setelah pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai analisa dan desain sistem, maka pada bab ini akan dijelaskan mengenai bagaimana cara pengimplementasian virtualisasi laboratorium sistem yang telah dibuat.
Pengujian Implementasi Virtualisasi Laboratorium Server Linux Untuk Menunjang Praktikum Jaringan Komputer Di Program Studi Manajemen Informatika Polinema dilakukan di Laboratorium Jaringan Komputer.
4.1.Spesifikasi Perangkat
Untuk pengimplementasian Virtualisasi Laboratorium Server Linux, digunakan komputer dengan spesifikasi yang ditunjukan pada tabel dibawah ini :
Tabel Spesifikasi Komputer Untuk Pengujian
No Deskripsi Spesifikasi
1 Merk Apple Inc
4.2.Percobaan Virtualisasi Laboratorium Peer To Peer
Sebelum melakukan konfigurasi pada virtual mesin perlu dibuat gambar skema dari pembuatan virtualisasi laboratorium peer to peer. Seperti ditunjukkan pada gambar 4.1. dibawah ini:
Gambar 4.1. Topologi Peer to Peer
Untuk melakukan percobaan pembuatan virtualisasi laboratorium peer to peer berdasarkan gambar 4.1. dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Masuk terminal linux.
2. Login sebagai user root dengan perintah sudo su 3. Masuk ke direktori netktit, dengan perintah #cd
/home/yuri/netkit/netkit
4. Kemudian dalam direktori tersebut buatlah sebuah direktori, misalkan dengan nama netkit-lab_static_routing. Dengan perintah #mkdir netkit_lab_peer_to_peer.
5. Pindah ke direktori tersebut dengan perintah cd 6. Di dalam direktori tersebut buatlah file lab.conf,
dengan perintah #pico lab.conf. Isikan sintak perintah seperti dibawah ini:
LAB_DESCRIPTION="Percobaan Virtualisasi
LAB Peer to Peer" LAB_VERSION=1
7. Kemudian buatlah file berektensi .startup untuk masing-masing virtual mesin yang dibuat. Sehingga jika laboratorium dijalankan konfigurasi secara otomatis akan dijalankan sesuai konfigurasi yang ada di file .startup. Pc1.startup, isikan sintak dibawah ini
ifconfig eth0 192.168.1.1 netmask 255.255.255.0
Pc2.startup, isikan sintak dibawah ini
ifconfig eth0 192.168.1.2 netmask 255.255.255.0
8. Pastikan direktori yang sedang aktif berada pada direktori #cd /home/yuri/netkit/netkit. Kemudian ketik sintak berikut untuk menjalankannya, #lstart –d netkit-lab_peer_to_peer.
9. Maka akan tampil tampilan laboratorium virtual untuk percobaan peer to peer, yang ditunjukkan pada gambar 4.2. sebagai berikut:
Gambar 4.2. Virtualisasi Lab. Peer To Peer 4.3.Percobaan Virtualiasi Laboratorium Remote
Login SSH
B-11
pembuatan virtualisasi laboratorium remote SSH. Seperti ditunjukkan pada gambar 4.3. dibawah ini:Gambar 4.3. Virtualisasi Lab. Remote Login SSH Untuk melakukan percobaan pembuatan virtualisasi laboratorium remote login SSH berdasarkan gambar 4.3. dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Masuk terminal linux.
2. Login sebagai user root dengan perintah sudo su 3. Masuk ke direktori netktit, dengan perintah #cd
/home/yuri/netkit/netkit
4. Kemudian dalam direktori tersebut buatlah sebuah direktori, misalkan dengan nama netkit-lab_static_routing. Dengan perintah #mkdir netkit_lab_ssh.
5. Pindah ke direktori tersebut dengan perintah cd 6. Di dalam direktori tersebut buatlah file lab.conf,
dengan perintah #pico lab.conf. Isikan sintak perintah seperti dibawah ini:
LAB_DESCRIPTION="Percobaan LAB Remote SSH"
LAB_VERSION=1 LAB_AUTHOR="Yuri"
[email protected] LAB_WEB=http://www.netkit.org machines="pc1 pc2"
pc1[0]=A pc2[0]=A
7. Kemudian buatlah file berektensi .startup untuk masing-masing virtual mesin yang dibuat. Sehingga jika laboratorium dijalankan konfigurasi secara otomatis akan dijalankan sesuai konfigurasi yang ada di file .startup. pc1.startup, isikan sintak dibawah ini
Ifconfig eth0 192.168.1.1 netmask 255.255.255.0 /etc/init.d/ssh restart
Pc2.startup, isikan sintak dibawah ini
ifconfig eth0 192.168.1.2 netmask 255.255.255.0
8. Pastikan direktori yang sedang aktif berada pada direktori #cd /home/yuri/netkit/netkit. Kemudian ketik sintak berikut untuk menjalankannya, #lstart –d netkit-lab_ssh.
9. Maka akan tampil tampilan laboratorium virtual untuk percobaan remote login SSH, yang ditunjukkan pada gambar 4.4. sebagai berikut:
Gambar 4.4. Virtualisasi Lab. Remote Login SSH 4.4.Percobaan Virtualisasi Laboratorium Static
Routing
Sebelum melakukan konfigurasi pada virtual mesin perlu dibuat gambar skema dari pembuatan virtualisasi laboratorium static routing. Seperti ditunjukkan pada gambar 4.5. dibawah ini:
Gambar 4.5. Virtualisasi Lab. Static Routing Untuk melakukan percobaan pembuatan virtualisasi laboratorium routing dengan static routing berdasarkan gambar 4.5. dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Masuk terminal linux.
2. Login sebagai user root dengan perintah sudo su 3. Masuk ke direktori netktit, dengan perintah #cd
/home/yuri/netkit/netkit
4. Kemudian dalam direktori tersebut buatlah sebuah direktori, misalkan dengan nama netkit-lab_static_routing. Dengan perintah #mkdir netkit_lab_static-routing.
5. Pindah ke direktori tersebut dengan perintah cd 6. Di dalam direktori tersebut buatlah file lab.conf,
dengan perintah #pico lab.conf. Isikan sintak perintah seperti dibawah ini:
LAB_DESCRIPTION="Percobaan Virtual Lab. Static Routing"
LAB_VERSION=1 LAB_AUTHOR="Yuri"
LAB_WEB=http://www.netkit.org/ machines="r1 r2 pc1 pc2" r1[0]="A"
B-12
7. Kemudian buatlah file berektensi .startup untukmasing-masing virtual mesin yang dibuat. Sehingga jika laboratorium dijalankan konfigurasi secara otomatis akan dijalankan sesuai konfigurasi yang ada di file .startup. pc1.startup, isikan sintak dibawah ini
ifconfig eth0 195.11.14.5 netmask 255.255.255.0 broadcast 195.11.14.255 up
route add default gw 195.11.14.1 dev eth0
pc2.startup, isikan sintak dibawah ini
ifconfig eth0 200.1.1.7 netmask 255.255.255.0 broadcast 200.1.1.255 up
route add default gw 200.1.1.1 dev eth0
r1.startup
ifconfig eth0 195.11.14.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 195.11.14.255 up
ifconfig eth1 100.0.0.9 netmask 255.255.255.252 broadcast 100.0.0.11 up
route add -net 200.1.1.0 netmask 255.255.255.0 gw 100.0.0.10 dev eth1
r2.startup
ifconfig eth0 200.1.1.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 200.1.1.255 up
ifconfig eth1 100.0.0.10 netmask 255.255.255.252 broadcast 100.0.0.11 up
route add -net 195.11.14.0 netmask 255.255.255.0 gw 100.0.0.9 dev eth1
8. Pastikan direktori yang sedang aktif berada pada direktori #cd /home/yuri/netkit/netkit. Kemudian ketik sintak berikut untuk menjalankannya, #lstart –d netkit-lab_static-routing, untuk menjalankan virtualisasi laboratorium.
9. Maka akan tampil tampilan laboratorium virtual untuk percobaan pembuatan server static routing, dengan dibuat 2 komputer sebagai client dengan nama pc1 dan pc2, kemudian ada 2 komputer lagi sebagai server routernya dengan nama r1 dan r2, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.6. sebagai berikut:
Gambar 4.6. Virtualisasi Lab. Static Routing 10. Pembukti koneksi antar pc1 dengan pc2 berjalan
dengan benar lakukan perintah ping dari pc1 ke pc2, dengan mengetikkan sintak: ping 200.1.1.7.
Jika terjadi proses reply maka percobaan berhasil.
5. Simpulan
a) Pada percobaan virtualisasi laboratorium peer to peer, berhasil diuji dengan berjalannya PC1 dengan IP ADDRESS 192.168.1.1/24 dan PC2 dengan IP ADDRESS 192.168.1.2/24, pada pengujian dengan ping berjalan dengan baik.
b) Pada percobaan virtualisasi laboratorium remote login dengan SSH, berhasil diuji denagn berjalannya percobaan remote login dengan PC1 dengan IP ADDRESS 192.168.1.1/24 sebagai server SSH dan PC2 dengan IP ADDRESS 192.168.1.2/2 sebagai client.
c) Pada percobaan virtualisasi laboratorium static routing berhasil diuji dengan berjalannya PC1 client dengan IP ADDRESS 195.11.14.5/24, PC2 client dengan IP ADDRESS 200.1.1.7/24, R1 router dengan eth0 195.11.14.1/24 dan eth1 100.0.0.9/30, R2 router dengan IP ADDRESS eth0 200.1.1.1/24 dan eth1 100.0.0.10/30. Proses pengujian dilakukan dengan perintah ping dari PC1 ke PC2 terjadi proses reply.
Daftar Pustaka:
Gunawan, Johames. 2003. Linux Sistem Operasi Masa Depan. Ilmu Komputer.Com.
Wahyudi, Untung. 2008. Peanfaatan Sistem Operasi dalam Sistem Operasi pada Komputer secara Virtual dengan VMWare. Sekolah Tinggi Manajemen Informatikadan Komputer Jakarta.
Zaman, Aditya. 2011.Perbedaan Dasar Sistem
Operasi Windows, Linux,
dan MacOS.http://hantoro.staff.gunadarma. ac.id/Downloads/files/15597/Sistem+Opera si+Jaringan.ppt
http://user-mode-linux.sourceforge.net/ http://www.netkit.org
Rosa A.S., M.Shalahuddin.2011.MODUL
REKAYASA PERANGKAT LUNAK
(TERSTRUKTUR DAN BERORIENTASI OBJEK).Kota : Bandung. Modula.
B-13
MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN SISTEM MENGGUNAKAN
CAPABILITY MATURITY MODEL
(CMM)
Dwi Purnomo1, Kusrini2, Emha Taufiq Luthfi3
1,2,3 Magister Teknik Informatika, Program Pasca Sarjana, STMIK Amikom Yogyakarta 1 [email protected], 2 [email protected], 3 [email protected]
Abstrak
Tingkat kematangan dapat menggambarkan kemampuan organisasi dalam mengelola dan merencanakan kegiatan pengembangan sebuah sistem. Pada penelitian ini dibahas model kematangan dalam kegiatan pengembangan sistem. Kuesioner sebagai sumber data ditabulasi menggunakan alat bantu software SPSS, tahap selanjutnya CMM beserta Key Process Area yang ada pada CMM diterapkan. Hasil pengukuran akhir adalah tingkat kematangan sistem yang sedang berjalan dan sedang dikembangkan berdasar pada KPA yang ada pada CMM, saran atau masukan yang dihasilkan dari penelitian ini berguna bagi organisasi bila ingin konsisten untuk berada pada tingkatan/level kematangan yang ditetapkan berdasar model CMM, sehingga dapat mencapai tingkat pengukuran yang lebih tinggi dari level yang ada sekarang. Sebuah rekomendasi akan terbentuk dari penelitian ini bagi organisasi yang sedang melakukan kegiatan pengembangan sistem ini.
Kata kunci : CMM, Key Process Area, rekomendasi
1. Pendahuluan
Pada kegiatan Pengembangan Sistem Informasi perlu diadakannya pengukuran atas proses pengembangannya yang telah dilakukan. Dengan pengukuran tersebut akan diketahui sejauh mana tingkat pengelolaan IT, sehingga dapat mengidentifikasi potensi masalah yang mungkin ada agar dapat dilakukan perbaikan dan pengembangan di masa mendatang.
Peneliti melakukan pengukuran pada kegiatan pengembangan dan penerapan yang dilakukan oleh Bappeda Pemerintah Kabupaten X yaitu terhadap sistem informasi A. Kuesioner sebagai sumber data ditabulasi menggunakan alat bantu software SPSS, tahap selanjutnya CMM beserta Key Process Area yang ada pada CMM diterapkan. Hasil pengukuran akhir adalah tingkat kematangan sistem/software
yang sedang berjalan dan sedang dikembangkan berdasar pada KPA pada CMM, saran atau masukan yang dihasilkan dari penelitian ini dapat berguna bagi Bappeda bila ingin konsisten untuk berada pada tingkatan/level kematangan yang ditetapkan berdasar model CMM, sehingga dapat mencapai tingkat pengukuran yang lebih tinggi dari level yang ada sekarang. Sebuah rekomendasi akan terbentuk dari penelitian ini khusus bagi Bappeda yang sedang melakukan kegiatan pengembangan sistem berbasis
Information Technology yaitu sistem informasi A. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan menjadi suatu rumusan masalah pokok
yaitu : (a) Bagaimana melakukan pengukuran tingkat kematangan dalam pengembangan Sistem Informasi A yang berbasis Information Technology
(IT) saat ini di Bappeda Pemkab. X menggunakan Capability Maturity Model (CMM) versi 1.1 ? (b) Bagaimana menyusun sebuah rekomendasi setelah dilakukan pengukuran menggunakan CMM versi 1.1 ?
2. Dasar Teori
2.1 Tingkat kematangan Software
Tingkat kematangan proses software adalah sejauh mana proses tertentu secara eksplisit didefinisikan, dikelola, diukur, dikendalikan, dan efektif. Kematangan menunjukan potensi untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan kesempurnaan, baik proses perangkat lunak organisasi dan konsistensinya dengan yang diterapkan dalam proyek-proyek di seluruh organisasi. Proses perangkat lunak yang diartikan pada seluruh organisasi telah matang, biasanya melalui dokumentasi dan pelatihan, dan proses ini terus-menerus dipantau dan ditingkatkan oleh penggunanya. (Paulk, M.C, dkk., 1993)
2.2 Kerangka Kerja Capability Maturity Model
(CMM)
B-14
(maturity) dari proses rekayasa piranti lunak. Dalam dokumen resminya, dijelaskan bahwa CMM menyediakan pedoman kepada pengembang piranti lunak tentang bagaimana untuk meningkatkan kontrol terhadap proses mereka dalam membangun dan memelihara piranti lunak, dan tentang bagaimana untuk mengembangkan lebih jauh sebuah kultur rekayasa piranti lunak dan majemen yang baik. CMM didesain sebagai pedoman pengembang piranti lunak dalam memilih strategi peningkatan proses, dengan mengukur kematangan proses yang sedang berjalan dan mengidentifikasi beberapa isu yang paling kritikal sehubungan dengan kualitas piranti lunak dan peningkatan proses. (Paulk, M.C, dkk, 1993). Capability Maturity Model terdapat 5 level/skala kematangan yaitu :
Gambar 2.1 CMM level “Paulk, M.C, dkk, 1993” Pada mulanya Capability Maturity Model dikembangkan oleh Software Engineering Institute atas permintaan Departement of Defense (DOD) Amerika Serikat dengan tujuan membuat ujian saringan masuk bagi kontraktor yang mendaftarkan diri untuk menjadi konsultan DOD.
2.2.1 Key Process Area pada CMM
Dalam setiap levelnya, CMM memiliki Key Process Area (KPA) sebagai rincian tentang hal-hal yang harus menjadi perhatian. Setiap KPA tersebut memiliki beberapa tujuan yang harus dicapai. Kecuali untuk Level 1, masing-masing tingkat kematangan yang dipecah menjadi beberapa key process area yang menunjukkan area organisasi harus fokus dalam meningkatkan proses perangkat lunak. Key process area mengidentifikasi isu-isu yang harus diatasi untuk mencapai tingkat kematangan.
Gambar 2.2 Key Process Area pada CMM “Paulk, M.C, dkk.,1993”
3. Metode dan Analisis Data
Pada penelitian ini mengikuti langkah dan tahapan sebagai berikut :
B-15
Questionnaire yang ditetapkan oleh Software Engineering Institute. Masing–masing item kuesioner mempunyai tingkat nilai yang berbobot antara 1 sampai dengan 4.
Priyatno, D. (2011) menyampaikan bahwa Analisis merupakan kegiatan menghitung agar dapat disajikan secara sistematis. SPSS (Statistical Product and Service Solution) adalah salah satu program komputer yang digunakan untuk analisis data statistik. SPSS merupakan program yang paling popular untuk analisis data dan paling banyak digunakan di seluruh dunia, dan banyak digunakan dalam berbagai penelitian.
4. Hasil Dan Pembahasan 4.1 Penyusunan Kuesioner
Dalam menentukan jumlah sampel yang akan dipilih, peneliti menggunakan tingkat kesalahan sebesar 5%, karena dalam setiap penelitian tidak mungkin hasilnya sempurna 100%. Jumlah populasi yang digunakan adalah 150 orang, maka perhitungannya adalah sebagai berikut :
n = 109
Jadi dari anggota populasi yang diambil sebagai sampel adalah sebanyak 109 orang responden. 4.2 Tingkat Kembalian Kuisioner
Proses pengumpulan data dilakukan lebih kurang 1 bulan, jumlah Kuesioner yang disebarkan dan jumlah yang dikembalikan oleh responden di lingkungan pemerintah kabupaten X akan dijelaskan dalam tingkat pengembalian kuesioner. Karena instrument yang digunakan adalah kuesioner yang dikirimkan ke responden, maka masalah yang sering dihadapi adalah tidak kembalinya kuesioner tersebut. Total kuisioner yang dikirim ke 53 SKPD dan 24 Kecamatan di kabupaten X berjumlah 109 buah. Dari jumlah tersebut, kuisioner yang direspon sebanyak 109 buah, sedangkan yang dapat diolah sebanyak 105 buah karena terdapat 4 kuisioner yang 4.3 Analisis Data
Setelah dilakukan pengolahan data, peneliti melakukan analisis data. Analisis data yang dilakukan terdiri dari analisis tingkat kematangan saat ini, tingkat kematangan yang diharapkan dan analisis kesenjangan. Pengolahan dan analisis hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan software
SPSS. Kesulitan dalam pengolahan data ini adalah keseluruhan data mentah akan dimasukkan satu
persatu kedalam software SPSS sesuai item pertanyaan.
4.3.1 Uji validitas instrumen penelitian
Rekapitulasi hasil perhitungan nilai pearson correlation dari tiap-tiap butir pernyataan dalam kuisioner yang diperoleh dengan bantuan softwareSPSS ditunjukkan dalam Tabel 4.1. Berdasarkan rekapitulasi hasil perhitungan nilai pearson correlation dari tiap-tiap butir pertanyaan pada Tabel 3.3 diperoleh hasil yang besarnya di atas 0,3. Hal ini berarti semua butir pernyataan dalam kuisioner tersebut dapat dikatakan valid.
4.3.2 Uji reliabilitas instrumen penelitian
Nilai cronbach alpha instrument penelitian ini adalah sebesar 0,610 untuk Requirements Management, 0,691 untuk variabel Software Project Planning, 0,675 Software Project Tracking Oversight, 0,668 Software Quality Assurance (SQA), 0,840 Software Configuration Management and dan 0,910 untuk Software Subcontract Management. Dari angka cronbach alpha tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel. Hasil uji reliabilitas terhadap masing-masing variabel terdapat dalam Tabel 4.2.
4.3.3 Analisis Tingkat Kematangan Saat ini
Berdasarkan data hasil wawancara dan survei kuesioner terhadap manajemen dan pengguna sistem yang diperoleh peneliti pada saat melakukan analisis tersebut, analisis dilakukan untuk menilai tingkat kematangan penerapan teknologi informasi.
Gambar 4.1 menunjukan salah satu hasil kuesioner pada KPA Requirements Management. Pada pertanyaan apakah proyek mengikuti kebijakan organisasi dalam mengelola kebutuhan sistem perangkat lunak, jawaban responden sebanyak 80 orang menjawab Y (Ya) sedang sisanya TT (Tidak Tahu) dan TD (Tidak Diterapkan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan pengembangan selalu adanya pengelolaan kebutuhan dalam pengembangan sistem mengikuti kebijakan dan peraturan yang berlaku di lingkungan pemerintahan daerah, walaupun beberapa responden memberikan jawaban yang tidak, dikarenakan memang tidak semua responden mengetahui perencanaan setiap kegiatan, hanya beberapa responden saja yang benar-benar mengetahui bahkan bertugas dalam kegiatan tersebut, sedang sisanya hanya mengetahui saja dan beberapa sama sekali tidak mengetahui . Dari hasil observasi dan wawancara ditemukan dokumentasi kebutuhan dalam pengembangan
B-16
proyek sistem informasi A, walaupun tidak secara lengkap dan detil dokumen itu telah ada, salah satunya berupa notulen rapat.Gambar 4.1 Data hasil responden pada pertanyaan 1
pada KPA Requirements Management “Sumber: data diolah”
4.4 Analisis Dan Penyusunan Rekomendasi Penentuan tingkat kematangan (maturity level) bukan hanya menggambarkan pengukuran sejauh mana organisasi telah memenuhi standar proses pengelolaan teknologi informasi yang baik. Lebih jauh lagi, tingkat kedewasaan tersebut seharusnya dapat digunakan untuk peningkatan kesadaran akan kepentingan peningkatan pengelolaan proses teknologi informasi sekaligus pengidentifikasikan prioritas dalam peningkatan yang dilakukan. Tingkat kematangan yang dimaksud merupakan representasi kematangan/kedewasaan proses teknologi informasi yang berlangsung pada organisasi.
Pada bagian ini peneliti akan melakukan analisis hasil rekapitulasi kuesioner terhadap tingkat kematangan teknologi informasi pada kegiatan pengembangan sistem informasi A. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui presentase akhir kuesioner setiap KPA (Key Area Process) sehingga lebih memudahkan nantinya dalam memberikan saran perbaikan mengenai proses mana membutuhkan perbaikan dari manajemen.
Usulan tindakan perbaikan atau rekomendasi dilakukan dengan mempertimbangkan pencapaian kematangan yang telah didefinisikan pada tahapan penelitian. Pendefinisian di sini berupa tindakan apa yang perlu dilakukan pada setiap atribut kematangan CMM sesuai data hasil kuesioner dari responden, bahwa kegiatan dan pengembangan sistem informasi A di pemerintah kabupaten X berada pada tingkat kematangan level 1 CMM. Hasil kuesioner menggambarkan bahwa beberapa poin yang ada pada KPA CMM level 2 yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus jika ingin berada pada tingkat kematangan level ini, sehingga proses kematangan merupakan proses perbaikan dan penyempurnaan yang harus diupayakan terus menerus dan berlanjut pada tingkat kematangan berikutnya dengan syarat setiap tingkatan kematangan harus dilalui dan dipenuhi. Peneliti memberikan kesimpulan yang diperoleh memuat bagaimana kondisi teknologi informasi khususnya sistem informasi A di Bappeda pemerintah
kabupaten X saat ini, kondisi tata kelola teknologi informasi dalam pengembangan sistem informasi yang diharapkan sebagai acuan perbaikan dan strategi perbaikan bagi manjemen untuk mencapai kondisi yang diharapkan. Rekomendasi berguna untuk perbaikan proses di masa yang akan datang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka rekomendasi yang perlu dilakukan guna perbaikan proses tersebut.
Salah satu hasil dan penetapan rekomendasi, pada pertanyaan kuesioner menunjukan dari 5 pertanyaan KPA Requirement Management diperoleh hasil bahwa dengan target 100% hanya 44,6% responden menyatakan Y (Ya) pada setiap pertanyaan yang disampaikan dalam kuesioner, sedangkan sisanya sebanyak 55,4% menjawab selain itu. Jawaban responden atas pertanyaan tersebut juga mengimplikasikan masih perlunya langkah perbaikan dalam sistem pengelolaan manajemen kebutuhan proyek pengembangan.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan sesuai sasaran yang hendak dicapai pada KPA ini yaitu : 1. Mendefinisikan Masalah
Masalah diselesaikan secara tegas, termasuk di dalamnya batasan masalah dan sasaran yang ingin dicapai. Pernyataan masalah ditetapkan dalam sudut pandang pengguna dan pengembang.
a. pernyataan masalah dalam sudut pengguna misalnya : masalah tampilan dan kemudahan dalam melakukan operasional sistem.
b. pernyataan masalah dalam sudut pengembang misalnya : masalah desain sistem dan relasi basisdata.
c.Teknik-teknik yang digunakan untuk mendapatkan informasi kebutuhan pengguna meliputi : wawancara dengan pengguna sistem, pengamatan terhadap tugas yang bermasalah, kinerja sebenarnya dari tugas pengguna.
2. Merancang sebuah strategi sistem.
Sistem harus ekonomis dan dapat diterima secara sosial maupun secara politik.
3. Identifikasi sumber daya yang tersedia. a. Tiga subsistem dalam sistem komputerisasi adalah
: perangkat keras, perangkat lunak, dan personal. Identifikasi juga keterkaitan antar ketiga subsistem tersebut.
b. Subsistem perangkat lunak meliputi perangkat lunak yang akan dikembangkan.
c. Subsistem personal meliputi para operator dan pemelihara sistem.
4. Penetapan sasaran dan persyaratan, baik untuk proses pengembangan maupun produk.
B-17
1. Meningkatkan keterampilan personal2. Sistem harus selesai dalam waktu yang telah di targetkan (missal 4 (empat) bulan).
3. Sistem harus membuat pekerjaan user menjadi mudah serta dapat menyelesaikan masalah. b. Penggunaan browser yang sesuai, pemanfaatan
server dan bandwidth secara maksimal.
c. Sistem harus dapat beroperasi dengan kemampuan maksimal.
1. Tetapkan kriteria penerimaan sebuah sistem, kriteria harus dinyatakan sedemikian rupa sehingga tidak akan menimbulkan perselisihan antara pengembang dan pengguna. Kriteria harus dapat diverifikasi dengan suatu metoda: peninjauan langsung, analisa, atau serangkaian uji terhadap produk yang dihasilkan.
2. Perencanaan Proses Pengembangan
a. Tentukan sebuah model life-cycle dan struktur proyek.
b. Tetapkan perkiraan biaya untuk pengembangan sistem
c. Tetapkan jadwal pengembangan
d. Tetapkan perkiraan susunan personalia proyek e. Tetapkan perkiraan sumber daya sistem
komputerisasi yang diperlukan untuk mengoperasikan, memelihara sistem dan terlatih. 5. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Bappeda pemerintahan kabupaten X telah menerapkan sebagian dari tata kelola teknologi informasi pada pengembangan sistem informasi A di level 1 CMM. Dari hasil pengolahan kuesioner mendapati nilai kematangan yang belum sempurna terhadap KPA yang ada pada level 2, walaupun penerapan sistem informasi A yang berbasis teknologi informasi tersebut termasuk salah satu sistem yang berhasil dan sukses di implementasikan. Pengukuran kematangan sistem yang berbasis teknologi informasi di Bappeda pemerintah kabupaten X pada masa mendatang dapat menggunakan model CMM ataupun model yang lainnya.
Daftar Pustaka:
Ghozali, I, 2006, Aplikasi Analisis Multivarite dengan SPSS, Cetakan Keempat, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
Jamroni, 2012, ANALISIS TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN DI STIKES SURYA
GLOBAL YOGYAKARTA, Jurnal Teknologi Informasi, Juli 2012, No. 20 Manjula, R., Vaideseswaran, J., 2011, Maturity
Model of Software Product with Educational Maturity Model, ISSN 2222-9833 ARPN Journal of Systems and Software. http://www.scientific-journals.org Volume 1 No. 3 (2011) Nasiri, A., Rosidi, A., Arief, R. 2011.
PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN PROSES
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK DI PERGURUAN TINGGI XYZ. Jurnal Teknologi Informasi, Juli 2011, No. 17
Paulk, M.C, Curtis, B., Chrissis, M.B., Weber, C.V.,
Capability Maturity ModelSM for Software, Version 1.1, (Februari), 1993, h. 5
Priyatno, D., 2010, Teknik Mudah Dan Cepat Melakukan Analisis Data Peneletian dengan SPSS
Rao, G.K., Decision Support For e-Governence:a Text Mining Approach. (Online). (www.arxiv.org:1108.6198) International Journal of Managing Information Technology (IJMIT) Vol.3, No.3, August 2011
B-18
Lampiran:Tabel 4.1 Rekapitulasi Uji Validitas
B-19
APLIKASI SIG DALAM PEMETAAN PEMUKIMAN DI TAMAN
NASIONAL KOMODO
Ahmat Adil1, Bambang Krismono Triwijoyo2 1,2 Jurusan Tenik Informatika, STMIK Bumigora Mataram
1Email : [email protected], 2[email protected]
Abstrak
Permukiman merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia (kebutuhan primer) yang harus terpenuhi agar manusia dapat sejahtera dan hidup layak sesuai dengan derajat kemanusiaannya. Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin pesat akan mengakibatkan kebutuhan permukiman semakin besar. Menurut data statistik Kecamatan komodo tahun 2012 ada 4 desa yang terdapat di kawasan TNK yaitu desa Pasir Panjang dengan jumlah 386 kepala keluarga penduduk atau jumlah penduduk 1.557, desa Komodo dengan 397 kepala keluarga dan jumlah penduduk 1.404 orang, desa pasir putih dengan 534 kepala keluarga dan jumlah penduduk mencaai 2.383 jiwa, dan desa papagarang dengan 327 kepala keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 1.256 orang. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Basis data spasial menyediakan struktur untuk penyimpanan analisis data spasial. Spatial Analyst digunakan untuk menemukan dan mengerti lebih baik hubungan spasial dari data, sehingga dapat ditampilkan dan menjalankan query guna menghasilkan suatu aplikasi yang diinginkan
Kata kunci : Sistem Informasi geografis, Pemukiman, Taman Nasional Komodo
1. Pendahuluan
Taman Nasional Komodo (TNK) terletak di kawasan antara 1190 0900 sampai 1190 5500BT dan antara 800 2000LS, di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Luas total taman nasional pada tahun 2000 adalah 1,817 Km2, termasuk 603 Km2 (33%) berupa daratan dan 1,214 Km2 (67%) untuk perairan laut. Taman Nasional Komodo (TNK) telah menarik perhatian dunia, tidak hanya sebagai tempat tinggal bagi kadal terbesar di dunia, Komodo, tetapi juga karena keanekaragaman lautnya yang luar biasa kaya, dengan terumbu yang tersapu arus, dan perairan terbuka yang mengelilinginya. Satwa komodo adalah kadal dan reptil darat terbesar di dunia disebut dengan "Ora" oleh bahasa Manggarai. Komodo dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang sangat kejam dan memegang kedudukan tertinggi pada binatang pemangsa di pulau ini.
Survei komodo di tahun 2000 mencatat jumlah sebanyak 1.009 komodo di Komodo dan 1.001 komodo di Rinca. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan survei yang diadakan tahun sebelumnya dimana populasi yang tercatat berkisar dari 1.062 - 1.772 komodo di Komodo dan 1.110 - 1.344 di Rinca. Penurunan jumlah populasi ini tampaknya terjadi di tingkat hewan muda dan anak. Namun, perbedaan mungkin disebabkan karena
metode survei yang digunakan tidak sama, dan bukan karena populasinya menurun.
Permukiman merupakan kebutuhan perorangan (individu) namun dapat berkembang menjadi kebutuhan bersama jika manusia berkeluarga dan bermasyarakat. Selain sebagai makhluk individu manusia juga sebagai makhluk sosial maka manusia tidak hidup sendiri-sendiri akan tetapi hidup bersama dan membentuk kelompok-kelompok, demikian pula halnya dengan rumah tempat tinggalnya akan dibangun secara bersama-sama sehingga berkelompok atau tersebar dalam suatu wilayah, dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang diperlukan penghuninya, selanjutnya disebut dengan permukiman (settlement). Dalam dimensi permukiman, secara harfiah pola permukiman dapat diartikan sebagai susunan (model) tempat tinggal suatu daerah. Model dari pengertian- pengertian permukiman mencakup didalamnya susunan dari pada persebaran permukiman. Pengertian pola permukiman dan persebaran permukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Persebaran permukiman menekankan pada hal yang terdapat permukiman, dan atau dimana tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah (Sumaatmadja, 1981 dalam Banowati 2006).
B-20
semakin pesat akan mengakibatkan kebutuhan permukiman semakin besar.Menurut Munir (2000), dinamika perubahan kependudukan secara umum disebabkan oleh empat faktor yaitu: Kelahiran, kematian, migrasi keluar dan migrasi datang. Kelahiran dan kematian merupakan faktor alami dalam sistem kependudukan yang akan menyebabkan perubahan jumlah ataupun komposisi kependudukan. Sementara migrasi atau mobilitas penduduk berupa urbanisasi merupakan trend factor yang sesaat tetapi dominan (Henny, 2000).
2. Landasan Teori
Menurut data statistik Kecamatan komodo tahun 2012 ada 4 desa yang terdapat di kawasan TNK yaitu desa Pasir Panjang dengan jumlah 386 kepala keluarga penduduk atau jumlah penduduk 1.557, desa Komodo dengan 397 kepala keluarga dan jumlah penduduk 1.404 orang, desa pasir putih dengan 534 kepala keluarga dan jumlah penduduk mencaai 2.383 jiwa, dan desa papagarang dengan 327 kepala keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 1.256 orang. Jadi secara keseluruhan jumlah kepala keluarga yang mendiami kawasan TNK sebanyak 1644 kepala keluarga dengan total penduduk 6.612 jiwa. Berikut adalah grafik
Populasi Penduduk di kawasan TNK
Gambar 1. jumlah penduduk di TNK 2011-2012 (Sumber : BPS Manggarai barat 2012).
Bertambahnya jumlah penduduk maupun kegiatan penduduk telah menuntut bertambahnya ruang untuk mengakomodasi permukiman maupun bangunan-bangunan yang dapat mewadahi kegiatan tersebut. Dengan adanya variasi topografi yang beragam di kawasan TNK sendiri menjadikan daerah tersebut menarik untuk diteliti. Dengan begitu, pola persebaran permukiman yang terdapat di kawasan penelitian dapat beragam. Karena permukiman sendiri merupakan salah satu wujud adaptasi dari masyarakat sekitar terhadap kondisi fisik lingkungannya.
Sementara disisi lain, survei komodo di tahun 2000 mencatat jumlah sebanyak 1.009 komodo di Komodo dan 1.001 komodo di Rinca. Jumlah
tersebut lebih rendah dibandingkan survei yang diadakan tahun sebelumnya dimana populasi yang tercatat berkisar dari 1.062 - 1.772 komodo di Komodo dan 1.110 - 1.344 di Rinca. Sedangkan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai TNK (2007) mengenai populasi komodo di P. Rinca menyatakan bahwa jumlah populasi komodo diduga sebanyak 1329 individu.
Gambar 2 Populasi Komodo tahun 2000 dan 2007 (sumber : Balai TNK 2007)
Penurunan jumlah populasi ini tampaknya terjadi di tingkat hewan muda dan anak. Namun, perbedaan mungkin disebabkan karena metode survei yang digunakan tidak sama, dan bukan karena populasinya menurun.
Secara harafiah, SIG dapat diartikan sebagai suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis. (Puntadewo A, 2003).
Dengan kata lain Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi bereferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah basis data termasuk juga orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. (Sembiring, 2007)