38 BAB V
EVALUASI PENGGUNAAN MEDIA KAMPANYE POLITIK PASANGAN CALON NO URUT 1 DAN PASANGAN CALON
NO URUT 2 DI SALATIGA
5.1 Kampanye Pasangan calon nomor urut 1 dan 2 melalui media konvensional dan media sosial
Pilkada tidak jauh dengan yang dilakukannya kampanye, yang melakukan
hal tersebut tentunya adalah pasangan calon itu sendiri dan tim sukses dengan
tujuan untuk memperoleh simpati masyarakat. Kampanye menggunakan media
konvensional dan menggunakan media sosial sangat perlu dilakukan selain untuk
memperoleh simpati dari masyarakat juga untuk menjadi pemenang kompetisi
ketika pemilihan. Hal tersebut dilakukan ketika sebelum pemilihan berlangsung dan
dilakukan di tempat-tempat strategis. Contohnya jika media konvensional yang
dilakukan oleh pasangan calon no urut 1 adalah media cetak dan yang di lakukan
dengan mem-branding pasangan calon untuk mengetahui bahwa dia mencalonkan
dirinya dengan menempel baliho, bilboard, dll di pinggir-pinggir jalan, adapun
menggunakan SPG yang membagibagikan bunga mawar di pusat kota Salatiga. Dan
jika media konvensional yang dilakukan oleh pasangan calon no urut 2 juga
membranding pasangan calon dengan media cetak tetapi lebih menonjolkan yang
sifatnya kampanye terbuka seperti mengadakan karnaval di kota Salatiga dan
sebagainya. Kemudian kedua pasangan calon juga menggunakan media sosial,
dimana media tersebut terdapat Facebook, instagram, dll.
Media berbicara mengenai media sifatnya adalah powerfull begitupun
berkampanye menggunakan media. Media menjadi salah satu strategi kampanye,
dari kedua pasangan calon calon memiliki cara yang berbeda agar tepat sasaran.
Pasangan calon yang pertama melakukan media kampanye dengan lebih
mengandalkan media konvensional contoh dari penggunaan media promosi yang
digunakan adalah media cetak seperti spanduk, baliho, mmt, bilboard, stiker, dan
39
sosial walaupun mereka tetap melakukan beberapa media konvensional karena itu
sudah menjadi syarat dari KPU.
“Sering menggunakan Media sosial mas, jelas itu. Dan itu sa nga t efisien. Ka la u media -media la in ga efektif, ya a da ba nner, ba liho, itu cuma bua t persya ra tan KPU. Dan hanya di ta ruh di titik2 stra tegis ya ng suda h di a tur oleh KPU dan keputusan panwas (pengawas pemilu).”1
Media konvensional juga sangat penting dan berpengaruh tetapi kita tidak
terus memukul rata harus menggunakan media konvensioal terus menerus. Karena
di zaman modern ini masyarakat di tuntut untuk melek media dimana semua
kalangan sudah mengenal apa yang namanya gadget. Mau tidak mau kita harus
mengikuti perkembangan tersebut.
Masalah-masalah yang sering terjadi dalam kampanye adalah money politic
penggunaan uang sebagai alat untuk membeli dukungan, suara maupun suap baik
pada pemilih maupun pada penyelenggara pemilu yang dapat memberi keuntungan
atau merugikan kandidat tertentu (Pasal 187A, UU 10/2016). Dimana uang tersebut
digunakan untuk keperluan mempengaruhi pilihan pada masyarakat. Black
campaign biasannya Pilkada akan diwarnai dengan kampanye terselubung dan
informasi palsu, sesat dan negatif yang memanfaatkan jaringan online seperti blog,
web, maupun medsos yang memiliki jangkauan luas, intens, dll.2 Adapun masalah
lain yaitu golput (golongan putih) dimana masyarakat dengan sengaja tidak
menoblos ketika pemilu. Mungkin saja mereka memang tidak ada pilihan untuk
mencoblos paslon. Alangkah lebih baik jika kita ingin golput jadilah golput yang
aktif, bisa dikatakan demikian dengan datang ke tps dan tetap melakukan suara
tidak sah mencoblos semua paslon misalnya, itu lebih baik daripada suara yang
kosong malah bisa jadi disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab
untuk kepentingan seseorang.
Maka dari itu teori efek yang kuat sangat berperan penting dalam penulisan
ini, dimana P owerfull effect theory (Teori efek yang kuat) menurut Harold Laswell
1 Hasil wawancara penulis dengan Saiful Salah satu Tim Sukses no urut 2
2 Dilansir dari
40
dalam Vivian (2008 : 470) mengatakan bahwa menggunakan teori efek dalam
model komunikasi massanya yang terkenal: siapa yang mengatakan, Apa yang
dikatakannya, Lewat saluran mana, Kepada siapa, dan Apa efeknya. Pada titik
ekstrem, teori powerful effects mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkan
informasi, ide, dan bahkan propaganda ke publik. Teori ini dijelaskan dalam istilah
model jarum suntik atau model peluru. Para sarjana pendukung teori ini
mengatakan bahwa liputan koran dan dukungan pada kandidat politik akan ikut
menentukan hasil pemilu.
Di bagian ini peneliti peneliti memiliki temuan jika paslon no urut 2 sudah
melakukan. Dimana timses dari paslon no urut 2 merangkul khalayak seperti
mengadakan kopdar (kopi darat) dengan remaja-remaja di Salatiga segmennya
adalah komunitas-komunitas yang ada di Salatiga dan juga masyarakat yang
memiliki keseninan drumblek juga di rangkul.
“Kita pilih segmen ya ng pemilih pemula disa na ba nya k komunita s contohnya komunita s ska teboa rd, terus komunita s seped motor itu, trs kita a da ka n kopda r disitu . Ba nya k komunita s ya ng kita ra ngkul teruta ma drumblek menca pa i 70% ketika a da kegia ta n Ya ris pasti mengundang drumblek”3
5.2 Strategi Kampanye Pasangan Calon
Di dalam strategi kampanye pasangan calon penulis menggunakan metode
POST (P eople, Objectives, Strategy, Technology).
P eople : Kenali terlebih dulu siapa kita dan siapa konstituen/pendukung
kita. Identifikasi juga stakeholder dan influencer kita. Apa yang akan kita tawarkan
untuk mereka? Pesan apa yang ingin di bangun dan di sampaikan? Siapa
kompetitor dan apa saja yang telah mereka lakukan di sosial media?
41
Menurut hasil wawancaara dengan beberapa tim sukses yang telah
dilakukan, penulis menemukan beberapa temuan diantarannya mengenai sasaran
pendukung, apa yang ditawarkan oleh khalayak.
J a di begini, kema rin itu 4 sa sa ra n ja di usia rema ja pemula 17-25, kemudia n dewa sa usia 30 -40, trs ma nula , da n tera khir pemilih cerda s. Ka la u pemilih cerda s itu tida k usa h seheboh ya ng la in ma s, tida k perlu di follow up ka ya k pemilih rema ja yng ma sih pemula , misa lnya usia 17-25 ta di ya ng ma sih seneng ga ul-ga ul ja di ka mi juga menyesua ika n da n tim krea tif ya ng mengema s.4
Dapat dikatakan jika timses paslon nomer urut 2 lebih paham tentang
segmentasi atau sasaran yang akan di sasar. Berbeda dengan paslon nomer urut 1
yang mengatakan sasaran mereka semua elemen.
Semua elemen, seba b media sosia l itu sa nga t powerfull.5
Objectives : Tetapkan tujuan-tujuan dan target yang ingin dicapai melalui
sosial media. Misalnya untuk penggalangan dana, mencari relawan dan kontributor,
mendorong pemilih, dan sebagainya. Namun, perlu diingat bahwa tujuan utama
membangun kehadiran sosial media adalah untuk menjangkau dan membangun
hubungan lebih baik dengan para konstituen dan pendukung. Dan hubungan yang
baik tidak bisa diraih dalam sekejap, tapi membutuhkan proses.
J a di sempa t kema rin itu na ma Ya ris dijadikan Sedulur Ya ris ja di sedulur ya ris itu di ba gi da la m berba ga i kelompok untuk penetra si ke ba wa h. Artinya mengka mpa nyeka n ca lon ja di misa l ya ng ba gia n ka wula muda , ba pa k2, ibu2, ka la u ya ng muda 2 itu kegia ta nnya di medsos (media sosia l).6
Jika dari sudut pandang pakar komunikasi politik mengenai objectives yang
ingin dicapai menggunakan sosial media.
Sederha na nnya bla ck ca mpa ign itu ma nipula si dia tida k begitu dika ta ka n seperti itu, ka la u nega tif
4 Hasil wawancara penulis dengan Daris Salah satu Tim Sukses no urut 2 5 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1
42 ca mpa ign sa ya ta u fa kta ya ng buruk tentang dia. Jadi
media sosia l sa nga t efektif untuk mela kuka n negatif ca mpa ign.7
Strategy : Strategi di sini berfungsi untuk menyusun langkah-langkah yang
akan dilakukan selama kampanye. Bagaimana cara terlibat dengan konstituen dan
pendukung kita? Bagaimana strategi kontennya? Seberapa sering konten akan
di-update dan siapa yang akan bertanggung jawab membuat konten, membagi dan
merespon? Banyaknya fan di Facebook, follower di Twitter atau visitor di
website/blog bukan parameter keberhasilan kampanye. Hal terpenting dalam
strategi adalah bagaimana memberdayakan para pendukung online menjadi
relawan-relawan nyata dan melakukan tindakan-tindakan nyata yang mendukung
suksesnya kampanye.
Kita ha nya a da 2, ya ng perta ma membua t ora ng mengerti dulu ba ga ima na ka ndida t kita la lu membua t ora ng tersentuh diha ti ba ru setela h tersentuh ka n pa sti memilih.8
J a di kita sifa tnya ya pa sti semua menga ja k ya, kita jua la n produk bia r konsumen beli produk kita , misa lnya di grup sedulur ya ris kita pilih segmen ya ng pemilih pemula disa na ba nya k komunita s contohnya komunita s ska teboa rd, terus komunitas sepeda motor itu, trs kita a da ka n kopdar disitu. Jadi pa slon ha nya ha dir ya ng melakukan kegiatan itu EO (event orga nizer) denga n tujua n perkena la n.9
Menurut hasil wawancara dengan Sri Hastjarjo pakar komunikasi politik
jika ingin melakukan kampanye yang baik di media sosial ada beberapa tahap.
Bia sa nya ikla n politik itu a da tahap tahapnya, tahap perta ma untuk memperkena lka n diri, ta ha p berikutnya ini lho progra m sa ya , ta hap ketiga mulai menyera ng ora ng la in. Ka la u di media sosial kalau ingin mela kuka n ka mpa nye ya ng ba ik ka la u bisa mela kuka n ta ha p-ta ha p tersebut.10
7 Hasil wawancara penulis dengan Sri Hastjarjo pakar komunikasi politik UNS 8 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1
43
Technology : Langkah terakhir yang perlu dipersiapkan yaitu memilih
saluran atau platform apa saja yang akan digunakan serta peralatan untuk
memonitor dan mengukurnya. Misalnya Facebook, Twitter, YouTube, Blog, dan
sebagainya. Ingat, tidak semua platform sosial media sesuai untuk kampanye kita.
Pilih platform dimana konstituen dan pendukung Anda paling banyak
menggunakan dan secara aktif berpartisipasi.
J a di gini ma s, semua itu ha rus ba la nce /seimba ng ja di ga bisa sa tu-sa tu, seca ra otoma tis ja di tuga s ma sing2 tim sukses itu, a pa ya na ma nya beba renga n. J a di ka ya k ya ng media sosia l itu a da la h menu seha ri-ha ri ja di wa ktu itu memang tiap ha ri kita teka nka n untuk mengena lka n Ya ris..11
Media sosia l itu jela s, terus soa lnya itu sa nga t efisien. Persya ra ta n di Kpu ha rus a da media cetak ta pi menurut sa ya tida k efektif. Ka la u media sosial ya tida k terkontrol.12
Bia sa nya ka n a da grup WA, keba nya ka n sih di Fa cebook. Ya ng di sa sa r semua elemen masyarakat ya ng punya fa cebook.13
Begitupula dengan hasil wawancara dengan pakar komunikasi politik mengatakan jika media harus dipakai semua karena memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Dua -dua nya , kita tida k bisa murni ha nya denga n sa tu media , semua media ha rus dipa ka i. Tida k mungkin ha nya mengguna ka n media sosia l sa ja tida k mungkin ka rena itu tida k cukup, setiap media mempunya i ka ra kter da n punya keterba ta sa n sendiri-sendiri14
5.3 Evaluasi Kampanye Pasangan Calon Nomor Urut 1 dan Nomor Urut 2 Melalui Media Konvensional dan Media Sosial
11 Hasil wawancara penulis dengan Daris Salah satu Tim Sukses no urut 2 12 Hasil wawancara penulis dengan Saiful Salah satu Tim Sukses no urut 2 13 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1
44 5.3.1 Tingkatan Kampanye
Pada level ini kita ingin mengetahui apakah khalayak sasaran
terterpa kegiatan kampanye yang dilakukan atau tidak? Pertanyaanya
adalah apakah kampanye yang dilakukan telah menjangkau khalayak
yang telah ditetapkan? Apakah khalayak memberi perhatian pada
kampanye tersebut?
Menurut penulis sasaran dari kegiatan kampanye yang telah
dilakukan oleh kedua pasangan calon belum teterpa sepenuhnya ke
masyarakat. Beberapa masyarakat hanya tau tetapi tidak lebih dalam
mengetahui strategi kampanye-kampanye yang telah dilakukan untuk
mempersuasif mereka memilih paslon tersebut.
Sa ya kura ng memberi perha tia n kepa da kampanye pa slon ya ng sa ya pilih15
Sa ya memberi perha tia n denga n menonton karnaval ketika paslon yang sa ya pilih menda fta r di kpu.16 Ya , sa ya memberi perha tia n teta pi tida k ba nya k kepa da pa sa nga n ya ng sa ya pilih, ka rena sa ya ka gum denga n ca ra dia berpromosi ya ng tida k ta nggung-ta nggung.17
Ya , sa ya memberi perha tia n.18
Dari kutipan di atas dapat di simpulkan jika masyarakat terterpa
dengan media konvensional kampanye yang dilakukan oleh masing-masing
calon sudah ada yang menjangkau khalayak dan belum menjangkau
khalayak. Pada kampanye terebut masyarakat belum sepenuhnya memberi
perhatian.
5.3.2 Tingkatan Sikap
Pada tingkatan sikap evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan
metode survei atau uji sederhana. Metode survei untuk penggunaan
45
sample berjumlah besar, sedangkan uji sederhana digunakan untuk
kelompok sasaran yang terbatas, dan juga sangat populer untuk
mengukur pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh seseorang
sebagai akibat diselenggarakannya kampanye. Terdapat empat aspek :
a) Kognitif (Pengetahuan, kesadaran, kepercayaan)
Sa ya mengeta hui da ri wa likota sebelumya ya ng terpilih, media ya ng sa ya keta hui ba nner sa ma mmt a ja sih, kura ng jela s. Sa ya kura ng ta u jika paslon yang saya pilih berka mpa nye mengguna ka n sosia l media .19
Sa ya mengeta hui da ri ba liho, iklan radio, ikla n ceta k da n sura t ka ba r. pesa nnya sa nga t jela s ka rena mereka mempersuasif da n mennunjukka n ikon coblos brengose denga n tujua n mencoblos mereka .20 Untuk media sa nga t ba nya k, mula i da ri poster, terus ba liho, terus brosur, selemba ra n kecil2, da n MMT Nampaknya sosia l media a da , teta pi tida k sa mpa i ke sa ya . Ka la u da ri media ceta k isi / pesa nnya sih Ada sa tu ka lima t a ta u copy writing seingat saya “ora neko-neko”.21 Sa ya ta u pa slon ya ng sa ya pilih da ri pera ga ka mpa nye da n deba t ketika di BU UKSW. Media ceta k, fa cebook insta gra m.22
b) Afektif (Kesukaan, simpati, penghargaan dukungan)
Sa ya tida k memiiki kedeka ta n, ka rena sblmya belia u suda h menja ba t ja di wa likota da n sa ya suka denga n ga ya kepemimpina nnya.23
46 sa ya tida k memiliki kedeka ta n, sa ya ingin
ga ya kepemimpina n ya ng ba ru.24
tida k memiliki kedeka ta n Cuma lingkungan sa ya keba nya ka n ora ng -ora ng PDI. Saya ingin a da nya peruba ha n. 25
tida k memiliki kedeta ka n seca ra emosiona l, teta pi sa ya ingin meliha t ba ga ima na kota Sa la tiga jika di pimpin ora ng ya ng ba ru.26
c) Konatif (Komitmen untuk bertindak)
Ya , ya ng pa ling sa ya sa ya liha t ya media ceta k ba nner da n MMT. Sa ya memilih pa slon no 2 ka rena ingin melihat kelanjutn progra m sebelumnya .27
Media ceta k ba liho, mmt, sura t kabar, dan media sosia l. Iya sa ya memilih ka rena media ya ng mereka pa ka i da n juga menurut sa ya da ri segi presta sinya sih, ka la u Rudi itu ma nta n Sekda da n pegawai negri juga pa sti suda h ta u seluk beluk Sa la tiga da n menja di seora ng pemimpin ya ng ba ik.28
Sa ya sa nga t sering meliha t media pa slon ya ng sa ya pilih. Pa ling jela s ya media ceta knya , ya ng sering sa ya lihat Poster dan Ba liho. Sa la h sa tu a la sa n sa ya memilih pa slon ya da ri media nya la lu a da a la sa n la in ya itu Sa ya ta u ka la u ca lon nomer 2 ya itu Yulia nto sblmnya perna h terjera t ka sus korupsi ja la n lingka r, wa la upun ya ng di penja ra a da la h istrinya tapi paling tida k itu suda h mencoreng na ma ba ik dia seba ga i wa likota sblmnya . Ma ka nya saya memilih pa sa nga n ca lon ya ng sa tunya ka rena blm perna h mendenga r ka sus2 tertentu.29
47 Perna h sa ya ikut grupnya yang di fb dan ig,
skg sih udh ga a ktif soa lnya kalah itu. Yang sering sa ya liha t Insta gra m, ka la u fa cebook pa ling seminggu seka li sa mpe seminggu dua ka li buka nya . Ingin melihat beda nya dima na jika visi misi pa k Rudi meenja la nka n sa la tiga , tp sayangnya kalah ya ga ja di.30
d) Aspek keterampilan atau skill, Aspek keterampilan
ditambahkan dengan mempertimbangkan bahwa
keterampilan adalah sesuatu yang harus dikuasai bila kita
menghendaki adanya perubahan perilaku.
Ka la u kegia ta n ya ng sa ya la kuka n ketika menja di timses no urut 2 a da la h kebetula n untuk pengenda lia n ma ssa ma s, ja di bukan untuk kegia ta n-kegia ta n itu tida k. Lebih tepa tnya penca ri sua ra da n mengkondisika n.31
Kegia ta n ya ng sa ya la kuka n ketika menjadi timses no urut 2 a da la h pa ling sosialisasi ke ma sya ra ka t, memberi informa si jika a da kema tia n. J ujur sa ya membentuk tim untuk memberika n informa si2 tersebut.32
Ka la u kegia ta n ketika menja di pa slon no urut 1, sa ya lebih menja di mengkoordinir pengurus, bisa dika ta ka n gera k di la pa nga n.33
5.3.3 Tingkatan Perilaku
Para ahli kampanye memandang tingkatan perilaku sebagai level
yang paling penting dalam kebanyakan evaluasi kampanye. Untuk
memperoleh data yang akurat tentang perubahan perilaku para ahli
30 Hasil wawancara penulis dengan Bagus Masyarakat Salatiga yang memilih paslon no urut 1 31 Hasil wawancara penulis dengan Daris Sal ah satu Tim Sukses no urut 2
48
kampanye menyarankan agar dilakukan observasi dan melihat secara
langsung perilaku tersebut secara apa adanya dalam situasi yang normal.
Ya menurut sa ya priba di ketika paslon yang sa ya pilih mena ng itu ba ngga , da n untuk pa sa nga n ya ng ka la h mungkin bisa menca lonkan la gi di pilka da menda ta ng.34 Ya ga k gima na 2 sih, Cuma ya ka la u ka lah ya ka la h a ja na ma nya juga politik itu kera s.35
Sa ya bingung ka rena ya ng perta ma jela s kedua pa slon tsb da pa t terliha t jela s mana ya ng mengguna ka n media ikla n mana yang tida k, a pa la gi di lingkunga n sa ya sa nga t ba nyak seka li bra ndingnya ya ng kumis.36 Bia sa a ja sih ma s, ka rena gini pa k rudi ka la h itu wa ja r ka rena komunika si politiknya ga ba gus, seca ra tertulis sih ba gus da ri a -z, setela h dia menyampaikan di publik tida k tersa mpa ika n semua ya ng di tulis ta di justru pa k Da nce yang lebih bagus komunika si politiknya , ka la u pa k Yuli mema ng pinter omong da n pinter mencuri ha ti konstituen.37
5.3.4 Tingkatan Masalah
Level evaluasi adalah tingkatan masalah. Pada tingkat ini evaluasi
bisa di dapat dilakukan secara mudah atau sebaliknya sangat sulit dan
memakan waktu lama. Problem atau masalah disini diartikan sebagai
kesenjangan antara kenyataan dengan harapan atau yang seharusnya terjadi.
Terkait dengan hasil.
Sesua i,ka rena menurut sa ya cslon terpilih ini seja k a wa l suda h sa ya prediksi ba ka l mena ng sua ra ka rena ma sih banyak pihak2 ya ng ba ka l memilih belia u kemba li38
49 Tida k sepenuhnya sesua i, ka rena sebagian
ha nya ja nji pa lsu.39
Tentu sa ya sedikit ka get, ka rena ketika mela kuka n kompa ra si a ta u perba ndingan seca ra tersira t a nta ra bra nding pa slon 1 da n pa son 2 terliha t sa nga t jelas mana yang mema ng bernia t untuk membra nding dirinya da n ma na ya ng tida k. Terlihat jelas dr kua ntita s ikla n ya ng diseba r, da n konten2ya . Na mun kenya ta a nnya , justru ya ng menurut sa ya lebih tida k nia tlah yang ma la ha n mena ng.40
Sesua i, dika rena ka n Pa k Yuli ma ssa nya lebih kua t da n lebih bisa di terima di ka la nga n menenga h kebawah, dan juga pak Yuli ora ng ya ng sa ntun denga n masyarakat kecil.41
5.4 Refleksi mengenai efektif dan tidak efektif penggunaan media kampanye politik
Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa peggunaan media kampanye politik di Salatiga masih belum efektif, terutama media sosial. Dan yang lebih efektif sebenarnya menggunakan media konvensional yaitu media cetak karena masyarakat lebih mengerti dan lebih mengenal dengan pasangan calon yang menggunakan alat-alat peraga seperti itu, tetapi masyarakat hanya sekedar tau tetapi tidak menutup kemungkinan tidak memilih dikarenakan masyarakat hanya sekedar tau saja. Kemudian media kampanye secara langsung yang sifatnya terbuka itu sangat berpengaruh, contohnya mengadakan karnaval budaya/kesenian, interaksi langsung dengan masyarakat lebih efektif.