• Tidak ada hasil yang ditemukan

T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Penggunaan Media Kampanye Politik: Studi Kasus Pemilihan Pilkada Kota Salatiga 2017 T1 BAB V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Penggunaan Media Kampanye Politik: Studi Kasus Pemilihan Pilkada Kota Salatiga 2017 T1 BAB V"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

38 BAB V

EVALUASI PENGGUNAAN MEDIA KAMPANYE POLITIK PASANGAN CALON NO URUT 1 DAN PASANGAN CALON

NO URUT 2 DI SALATIGA

5.1 Kampanye Pasangan calon nomor urut 1 dan 2 melalui media konvensional dan media sosial

Pilkada tidak jauh dengan yang dilakukannya kampanye, yang melakukan

hal tersebut tentunya adalah pasangan calon itu sendiri dan tim sukses dengan

tujuan untuk memperoleh simpati masyarakat. Kampanye menggunakan media

konvensional dan menggunakan media sosial sangat perlu dilakukan selain untuk

memperoleh simpati dari masyarakat juga untuk menjadi pemenang kompetisi

ketika pemilihan. Hal tersebut dilakukan ketika sebelum pemilihan berlangsung dan

dilakukan di tempat-tempat strategis. Contohnya jika media konvensional yang

dilakukan oleh pasangan calon no urut 1 adalah media cetak dan yang di lakukan

dengan mem-branding pasangan calon untuk mengetahui bahwa dia mencalonkan

dirinya dengan menempel baliho, bilboard, dll di pinggir-pinggir jalan, adapun

menggunakan SPG yang membagibagikan bunga mawar di pusat kota Salatiga. Dan

jika media konvensional yang dilakukan oleh pasangan calon no urut 2 juga

membranding pasangan calon dengan media cetak tetapi lebih menonjolkan yang

sifatnya kampanye terbuka seperti mengadakan karnaval di kota Salatiga dan

sebagainya. Kemudian kedua pasangan calon juga menggunakan media sosial,

dimana media tersebut terdapat Facebook, instagram, dll.

Media berbicara mengenai media sifatnya adalah powerfull begitupun

berkampanye menggunakan media. Media menjadi salah satu strategi kampanye,

dari kedua pasangan calon calon memiliki cara yang berbeda agar tepat sasaran.

Pasangan calon yang pertama melakukan media kampanye dengan lebih

mengandalkan media konvensional contoh dari penggunaan media promosi yang

digunakan adalah media cetak seperti spanduk, baliho, mmt, bilboard, stiker, dan

(2)

39

sosial walaupun mereka tetap melakukan beberapa media konvensional karena itu

sudah menjadi syarat dari KPU.

“Sering menggunakan Media sosial mas, jelas itu. Dan itu sa nga t efisien. Ka la u media -media la in ga efektif, ya a da ba nner, ba liho, itu cuma bua t persya ra tan KPU. Dan hanya di ta ruh di titik2 stra tegis ya ng suda h di a tur oleh KPU dan keputusan panwas (pengawas pemilu).”1

Media konvensional juga sangat penting dan berpengaruh tetapi kita tidak

terus memukul rata harus menggunakan media konvensioal terus menerus. Karena

di zaman modern ini masyarakat di tuntut untuk melek media dimana semua

kalangan sudah mengenal apa yang namanya gadget. Mau tidak mau kita harus

mengikuti perkembangan tersebut.

Masalah-masalah yang sering terjadi dalam kampanye adalah money politic

penggunaan uang sebagai alat untuk membeli dukungan, suara maupun suap baik

pada pemilih maupun pada penyelenggara pemilu yang dapat memberi keuntungan

atau merugikan kandidat tertentu (Pasal 187A, UU 10/2016). Dimana uang tersebut

digunakan untuk keperluan mempengaruhi pilihan pada masyarakat. Black

campaign biasannya Pilkada akan diwarnai dengan kampanye terselubung dan

informasi palsu, sesat dan negatif yang memanfaatkan jaringan online seperti blog,

web, maupun medsos yang memiliki jangkauan luas, intens, dll.2 Adapun masalah

lain yaitu golput (golongan putih) dimana masyarakat dengan sengaja tidak

menoblos ketika pemilu. Mungkin saja mereka memang tidak ada pilihan untuk

mencoblos paslon. Alangkah lebih baik jika kita ingin golput jadilah golput yang

aktif, bisa dikatakan demikian dengan datang ke tps dan tetap melakukan suara

tidak sah mencoblos semua paslon misalnya, itu lebih baik daripada suara yang

kosong malah bisa jadi disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab

untuk kepentingan seseorang.

Maka dari itu teori efek yang kuat sangat berperan penting dalam penulisan

ini, dimana P owerfull effect theory (Teori efek yang kuat) menurut Harold Laswell

1 Hasil wawancara penulis dengan Saiful Salah satu Tim Sukses no urut 2

2 Dilansir dari

(3)

40

dalam Vivian (2008 : 470) mengatakan bahwa menggunakan teori efek dalam

model komunikasi massanya yang terkenal: siapa yang mengatakan, Apa yang

dikatakannya, Lewat saluran mana, Kepada siapa, dan Apa efeknya. Pada titik

ekstrem, teori powerful effects mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkan

informasi, ide, dan bahkan propaganda ke publik. Teori ini dijelaskan dalam istilah

model jarum suntik atau model peluru. Para sarjana pendukung teori ini

mengatakan bahwa liputan koran dan dukungan pada kandidat politik akan ikut

menentukan hasil pemilu.

Di bagian ini peneliti peneliti memiliki temuan jika paslon no urut 2 sudah

melakukan. Dimana timses dari paslon no urut 2 merangkul khalayak seperti

mengadakan kopdar (kopi darat) dengan remaja-remaja di Salatiga segmennya

adalah komunitas-komunitas yang ada di Salatiga dan juga masyarakat yang

memiliki keseninan drumblek juga di rangkul.

“Kita pilih segmen ya ng pemilih pemula disa na ba nya k komunita s contohnya komunita s ska teboa rd, terus komunita s seped motor itu, trs kita a da ka n kopda r disitu . Ba nya k komunita s ya ng kita ra ngkul teruta ma drumblek menca pa i 70% ketika a da kegia ta n Ya ris pasti mengundang drumblek3

5.2 Strategi Kampanye Pasangan Calon

Di dalam strategi kampanye pasangan calon penulis menggunakan metode

POST (P eople, Objectives, Strategy, Technology).

P eople : Kenali terlebih dulu siapa kita dan siapa konstituen/pendukung

kita. Identifikasi juga stakeholder dan influencer kita. Apa yang akan kita tawarkan

untuk mereka? Pesan apa yang ingin di bangun dan di sampaikan? Siapa

kompetitor dan apa saja yang telah mereka lakukan di sosial media?

(4)

41

Menurut hasil wawancaara dengan beberapa tim sukses yang telah

dilakukan, penulis menemukan beberapa temuan diantarannya mengenai sasaran

pendukung, apa yang ditawarkan oleh khalayak.

J a di begini, kema rin itu 4 sa sa ra n ja di usia rema ja pemula 17-25, kemudia n dewa sa usia 30 -40, trs ma nula , da n tera khir pemilih cerda s. Ka la u pemilih cerda s itu tida k usa h seheboh ya ng la in ma s, tida k perlu di follow up ka ya k pemilih rema ja yng ma sih pemula , misa lnya usia 17-25 ta di ya ng ma sih seneng ga ul-ga ul ja di ka mi juga menyesua ika n da n tim krea tif ya ng mengema s.4

Dapat dikatakan jika timses paslon nomer urut 2 lebih paham tentang

segmentasi atau sasaran yang akan di sasar. Berbeda dengan paslon nomer urut 1

yang mengatakan sasaran mereka semua elemen.

Semua elemen, seba b media sosia l itu sa nga t powerfull.5

Objectives : Tetapkan tujuan-tujuan dan target yang ingin dicapai melalui

sosial media. Misalnya untuk penggalangan dana, mencari relawan dan kontributor,

mendorong pemilih, dan sebagainya. Namun, perlu diingat bahwa tujuan utama

membangun kehadiran sosial media adalah untuk menjangkau dan membangun

hubungan lebih baik dengan para konstituen dan pendukung. Dan hubungan yang

baik tidak bisa diraih dalam sekejap, tapi membutuhkan proses.

J a di sempa t kema rin itu na ma Ya ris dijadikan Sedulur Ya ris ja di sedulur ya ris itu di ba gi da la m berba ga i kelompok untuk penetra si ke ba wa h. Artinya mengka mpa nyeka n ca lon ja di misa l ya ng ba gia n ka wula muda , ba pa k2, ibu2, ka la u ya ng muda 2 itu kegia ta nnya di medsos (media sosia l).6

Jika dari sudut pandang pakar komunikasi politik mengenai objectives yang

ingin dicapai menggunakan sosial media.

Sederha na nnya bla ck ca mpa ign itu ma nipula si dia tida k begitu dika ta ka n seperti itu, ka la u nega tif

4 Hasil wawancara penulis dengan Daris Salah satu Tim Sukses no urut 2 5 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1

(5)

42 ca mpa ign sa ya ta u fa kta ya ng buruk tentang dia. Jadi

media sosia l sa nga t efektif untuk mela kuka n negatif ca mpa ign.7

Strategy : Strategi di sini berfungsi untuk menyusun langkah-langkah yang

akan dilakukan selama kampanye. Bagaimana cara terlibat dengan konstituen dan

pendukung kita? Bagaimana strategi kontennya? Seberapa sering konten akan

di-update dan siapa yang akan bertanggung jawab membuat konten, membagi dan

merespon? Banyaknya fan di Facebook, follower di Twitter atau visitor di

website/blog bukan parameter keberhasilan kampanye. Hal terpenting dalam

strategi adalah bagaimana memberdayakan para pendukung online menjadi

relawan-relawan nyata dan melakukan tindakan-tindakan nyata yang mendukung

suksesnya kampanye.

Kita ha nya a da 2, ya ng perta ma membua t ora ng mengerti dulu ba ga ima na ka ndida t kita la lu membua t ora ng tersentuh diha ti ba ru setela h tersentuh ka n pa sti memilih.8

J a di kita sifa tnya ya pa sti semua menga ja k ya, kita jua la n produk bia r konsumen beli produk kita , misa lnya di grup sedulur ya ris kita pilih segmen ya ng pemilih pemula disa na ba nya k komunita s contohnya komunita s ska teboa rd, terus komunitas sepeda motor itu, trs kita a da ka n kopdar disitu. Jadi pa slon ha nya ha dir ya ng melakukan kegiatan itu EO (event orga nizer) denga n tujua n perkena la n.9

Menurut hasil wawancara dengan Sri Hastjarjo pakar komunikasi politik

jika ingin melakukan kampanye yang baik di media sosial ada beberapa tahap.

Bia sa nya ikla n politik itu a da tahap tahapnya, tahap perta ma untuk memperkena lka n diri, ta ha p berikutnya ini lho progra m sa ya , ta hap ketiga mulai menyera ng ora ng la in. Ka la u di media sosial kalau ingin mela kuka n ka mpa nye ya ng ba ik ka la u bisa mela kuka n ta ha p-ta ha p tersebut.10

7 Hasil wawancara penulis dengan Sri Hastjarjo pakar komunikasi politik UNS 8 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1

(6)

43

Technology : Langkah terakhir yang perlu dipersiapkan yaitu memilih

saluran atau platform apa saja yang akan digunakan serta peralatan untuk

memonitor dan mengukurnya. Misalnya Facebook, Twitter, YouTube, Blog, dan

sebagainya. Ingat, tidak semua platform sosial media sesuai untuk kampanye kita.

Pilih platform dimana konstituen dan pendukung Anda paling banyak

menggunakan dan secara aktif berpartisipasi.

J a di gini ma s, semua itu ha rus ba la nce /seimba ng ja di ga bisa sa tu-sa tu, seca ra otoma tis ja di tuga s ma sing2 tim sukses itu, a pa ya na ma nya beba renga n. J a di ka ya k ya ng media sosia l itu a da la h menu seha ri-ha ri ja di wa ktu itu memang tiap ha ri kita teka nka n untuk mengena lka n Ya ris..11

Media sosia l itu jela s, terus soa lnya itu sa nga t efisien. Persya ra ta n di Kpu ha rus a da media cetak ta pi menurut sa ya tida k efektif. Ka la u media sosial ya tida k terkontrol.12

Bia sa nya ka n a da grup WA, keba nya ka n sih di Fa cebook. Ya ng di sa sa r semua elemen masyarakat ya ng punya fa cebook.13

Begitupula dengan hasil wawancara dengan pakar komunikasi politik mengatakan jika media harus dipakai semua karena memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Dua -dua nya , kita tida k bisa murni ha nya denga n sa tu media , semua media ha rus dipa ka i. Tida k mungkin ha nya mengguna ka n media sosia l sa ja tida k mungkin ka rena itu tida k cukup, setiap media mempunya i ka ra kter da n punya keterba ta sa n sendiri-sendiri14

5.3 Evaluasi Kampanye Pasangan Calon Nomor Urut 1 dan Nomor Urut 2 Melalui Media Konvensional dan Media Sosial

11 Hasil wawancara penulis dengan Daris Salah satu Tim Sukses no urut 2 12 Hasil wawancara penulis dengan Saiful Salah satu Tim Sukses no urut 2 13 Hasil wawancara penulis dengan Alfred Tim Sukses no urut 1

(7)

44 5.3.1 Tingkatan Kampanye

Pada level ini kita ingin mengetahui apakah khalayak sasaran

terterpa kegiatan kampanye yang dilakukan atau tidak? Pertanyaanya

adalah apakah kampanye yang dilakukan telah menjangkau khalayak

yang telah ditetapkan? Apakah khalayak memberi perhatian pada

kampanye tersebut?

Menurut penulis sasaran dari kegiatan kampanye yang telah

dilakukan oleh kedua pasangan calon belum teterpa sepenuhnya ke

masyarakat. Beberapa masyarakat hanya tau tetapi tidak lebih dalam

mengetahui strategi kampanye-kampanye yang telah dilakukan untuk

mempersuasif mereka memilih paslon tersebut.

Sa ya kura ng memberi perha tia n kepa da kampanye pa slon ya ng sa ya pilih15

Sa ya memberi perha tia n denga n menonton karnaval ketika paslon yang sa ya pilih menda fta r di kpu.16 Ya , sa ya memberi perha tia n teta pi tida k ba nya k kepa da pa sa nga n ya ng sa ya pilih, ka rena sa ya ka gum denga n ca ra dia berpromosi ya ng tida k ta nggung-ta nggung.17

Ya , sa ya memberi perha tia n.18

Dari kutipan di atas dapat di simpulkan jika masyarakat terterpa

dengan media konvensional kampanye yang dilakukan oleh masing-masing

calon sudah ada yang menjangkau khalayak dan belum menjangkau

khalayak. Pada kampanye terebut masyarakat belum sepenuhnya memberi

perhatian.

5.3.2 Tingkatan Sikap

Pada tingkatan sikap evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan

metode survei atau uji sederhana. Metode survei untuk penggunaan

(8)

45

sample berjumlah besar, sedangkan uji sederhana digunakan untuk

kelompok sasaran yang terbatas, dan juga sangat populer untuk

mengukur pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh seseorang

sebagai akibat diselenggarakannya kampanye. Terdapat empat aspek :

a) Kognitif (Pengetahuan, kesadaran, kepercayaan)

Sa ya mengeta hui da ri wa likota sebelumya ya ng terpilih, media ya ng sa ya keta hui ba nner sa ma mmt a ja sih, kura ng jela s. Sa ya kura ng ta u jika paslon yang saya pilih berka mpa nye mengguna ka n sosia l media .19

Sa ya mengeta hui da ri ba liho, iklan radio, ikla n ceta k da n sura t ka ba r. pesa nnya sa nga t jela s ka rena mereka mempersuasif da n mennunjukka n ikon coblos brengose denga n tujua n mencoblos mereka .20 Untuk media sa nga t ba nya k, mula i da ri poster, terus ba liho, terus brosur, selemba ra n kecil2, da n MMT Nampaknya sosia l media a da , teta pi tida k sa mpa i ke sa ya . Ka la u da ri media ceta k isi / pesa nnya sih Ada sa tu ka lima t a ta u copy writing seingat saya “ora neko-neko”.21 Sa ya ta u pa slon ya ng sa ya pilih da ri pera ga ka mpa nye da n deba t ketika di BU UKSW. Media ceta k, fa cebook insta gra m.22

b) Afektif (Kesukaan, simpati, penghargaan dukungan)

Sa ya tida k memiiki kedeka ta n, ka rena sblmya belia u suda h menja ba t ja di wa likota da n sa ya suka denga n ga ya kepemimpina nnya.23

(9)

46 sa ya tida k memiliki kedeka ta n, sa ya ingin

ga ya kepemimpina n ya ng ba ru.24

tida k memiliki kedeka ta n Cuma lingkungan sa ya keba nya ka n ora ng -ora ng PDI. Saya ingin a da nya peruba ha n. 25

tida k memiliki kedeta ka n seca ra emosiona l, teta pi sa ya ingin meliha t ba ga ima na kota Sa la tiga jika di pimpin ora ng ya ng ba ru.26

c) Konatif (Komitmen untuk bertindak)

Ya , ya ng pa ling sa ya sa ya liha t ya media ceta k ba nner da n MMT. Sa ya memilih pa slon no 2 ka rena ingin melihat kelanjutn progra m sebelumnya .27

Media ceta k ba liho, mmt, sura t kabar, dan media sosia l. Iya sa ya memilih ka rena media ya ng mereka pa ka i da n juga menurut sa ya da ri segi presta sinya sih, ka la u Rudi itu ma nta n Sekda da n pegawai negri juga pa sti suda h ta u seluk beluk Sa la tiga da n menja di seora ng pemimpin ya ng ba ik.28

Sa ya sa nga t sering meliha t media pa slon ya ng sa ya pilih. Pa ling jela s ya media ceta knya , ya ng sering sa ya lihat Poster dan Ba liho. Sa la h sa tu a la sa n sa ya memilih pa slon ya da ri media nya la lu a da a la sa n la in ya itu Sa ya ta u ka la u ca lon nomer 2 ya itu Yulia nto sblmnya perna h terjera t ka sus korupsi ja la n lingka r, wa la upun ya ng di penja ra a da la h istrinya tapi paling tida k itu suda h mencoreng na ma ba ik dia seba ga i wa likota sblmnya . Ma ka nya saya memilih pa sa nga n ca lon ya ng sa tunya ka rena blm perna h mendenga r ka sus2 tertentu.29

(10)

47 Perna h sa ya ikut grupnya yang di fb dan ig,

skg sih udh ga a ktif soa lnya kalah itu. Yang sering sa ya liha t Insta gra m, ka la u fa cebook pa ling seminggu seka li sa mpe seminggu dua ka li buka nya . Ingin melihat beda nya dima na jika visi misi pa k Rudi meenja la nka n sa la tiga , tp sayangnya kalah ya ga ja di.30

d) Aspek keterampilan atau skill, Aspek keterampilan

ditambahkan dengan mempertimbangkan bahwa

keterampilan adalah sesuatu yang harus dikuasai bila kita

menghendaki adanya perubahan perilaku.

Ka la u kegia ta n ya ng sa ya la kuka n ketika menja di timses no urut 2 a da la h kebetula n untuk pengenda lia n ma ssa ma s, ja di bukan untuk kegia ta n-kegia ta n itu tida k. Lebih tepa tnya penca ri sua ra da n mengkondisika n.31

Kegia ta n ya ng sa ya la kuka n ketika menjadi timses no urut 2 a da la h pa ling sosialisasi ke ma sya ra ka t, memberi informa si jika a da kema tia n. J ujur sa ya membentuk tim untuk memberika n informa si2 tersebut.32

Ka la u kegia ta n ketika menja di pa slon no urut 1, sa ya lebih menja di mengkoordinir pengurus, bisa dika ta ka n gera k di la pa nga n.33

5.3.3 Tingkatan Perilaku

Para ahli kampanye memandang tingkatan perilaku sebagai level

yang paling penting dalam kebanyakan evaluasi kampanye. Untuk

memperoleh data yang akurat tentang perubahan perilaku para ahli

30 Hasil wawancara penulis dengan Bagus Masyarakat Salatiga yang memilih paslon no urut 1 31 Hasil wawancara penulis dengan Daris Sal ah satu Tim Sukses no urut 2

(11)

48

kampanye menyarankan agar dilakukan observasi dan melihat secara

langsung perilaku tersebut secara apa adanya dalam situasi yang normal.

Ya menurut sa ya priba di ketika paslon yang sa ya pilih mena ng itu ba ngga , da n untuk pa sa nga n ya ng ka la h mungkin bisa menca lonkan la gi di pilka da menda ta ng.34 Ya ga k gima na 2 sih, Cuma ya ka la u ka lah ya ka la h a ja na ma nya juga politik itu kera s.35

Sa ya bingung ka rena ya ng perta ma jela s kedua pa slon tsb da pa t terliha t jela s mana ya ng mengguna ka n media ikla n mana yang tida k, a pa la gi di lingkunga n sa ya sa nga t ba nyak seka li bra ndingnya ya ng kumis.36 Bia sa a ja sih ma s, ka rena gini pa k rudi ka la h itu wa ja r ka rena komunika si politiknya ga ba gus, seca ra tertulis sih ba gus da ri a -z, setela h dia menyampaikan di publik tida k tersa mpa ika n semua ya ng di tulis ta di justru pa k Da nce yang lebih bagus komunika si politiknya , ka la u pa k Yuli mema ng pinter omong da n pinter mencuri ha ti konstituen.37

5.3.4 Tingkatan Masalah

Level evaluasi adalah tingkatan masalah. Pada tingkat ini evaluasi

bisa di dapat dilakukan secara mudah atau sebaliknya sangat sulit dan

memakan waktu lama. Problem atau masalah disini diartikan sebagai

kesenjangan antara kenyataan dengan harapan atau yang seharusnya terjadi.

Terkait dengan hasil.

Sesua i,ka rena menurut sa ya cslon terpilih ini seja k a wa l suda h sa ya prediksi ba ka l mena ng sua ra ka rena ma sih banyak pihak2 ya ng ba ka l memilih belia u kemba li38

(12)

49 Tida k sepenuhnya sesua i, ka rena sebagian

ha nya ja nji pa lsu.39

Tentu sa ya sedikit ka get, ka rena ketika mela kuka n kompa ra si a ta u perba ndingan seca ra tersira t a nta ra bra nding pa slon 1 da n pa son 2 terliha t sa nga t jelas mana yang mema ng bernia t untuk membra nding dirinya da n ma na ya ng tida k. Terlihat jelas dr kua ntita s ikla n ya ng diseba r, da n konten2ya . Na mun kenya ta a nnya , justru ya ng menurut sa ya lebih tida k nia tlah yang ma la ha n mena ng.40

Sesua i, dika rena ka n Pa k Yuli ma ssa nya lebih kua t da n lebih bisa di terima di ka la nga n menenga h kebawah, dan juga pak Yuli ora ng ya ng sa ntun denga n masyarakat kecil.41

5.4 Refleksi mengenai efektif dan tidak efektif penggunaan media kampanye politik

Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa peggunaan media kampanye politik di Salatiga masih belum efektif, terutama media sosial. Dan yang lebih efektif sebenarnya menggunakan media konvensional yaitu media cetak karena masyarakat lebih mengerti dan lebih mengenal dengan pasangan calon yang menggunakan alat-alat peraga seperti itu, tetapi masyarakat hanya sekedar tau tetapi tidak menutup kemungkinan tidak memilih dikarenakan masyarakat hanya sekedar tau saja. Kemudian media kampanye secara langsung yang sifatnya terbuka itu sangat berpengaruh, contohnya mengadakan karnaval budaya/kesenian, interaksi langsung dengan masyarakat lebih efektif.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini sampel yang diambil penulis adalah dengan.. menggunakan “convenian sampling” yaitu pengambilan

Terjadinya pemusatan kekuasaan di tangan presiden menimbulkan penyimpangan dan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang puncaknya terjadi perebutan kekuasaan oleh PKI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR8. MATEMATIKA PESERTADIDIK KELAS IV SDN 03 KEBONAGUNG

Untuk mendukung rencana ini, kontribusi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) perlu dikaji secara mendalam karena

pengawasan yang ketat serta membutuhkan alat-alatsebagai teknologi dalam melakukan penyidikan.. Keengganan masyarakat untuk memberi informasi kepada penegak hukum

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Number Heads Together (Nht) Terhadap Minat Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII Pada Materi Prisma Dan Limas Di MTsN

Distribusi frekuensi merupakan salah satu cara untuk meringkas serta menyusun sekelompok data mentah (raw data) yang diperoleh dari penelitian dengan didasarkan pada

[r]