• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat P"

Copied!
184
0
0

Teks penuh

(1)

dan Dusun Ploso Wetan Desa Kediren Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah)

S K R I P S I

Oleh :

HUZER APRI ANSYAH

NI M : F1D0 01 043

DE PARTE ME N PE NDI DI KAN NASIO NAL UNI VE RSITAS JE NDERAL SOE DI RMAN FAKULTAS IL MU SOSIAL DAN I LMU POL ITI K

JURUS AN ILMU POLITI K PURWO KE RTO

(2)

BUDAYA DAN PERILAKU POLITIK

MASYARAKAT PENGIKUT SAMINISME

(Studi Kasus di Dusun Klopo Duwur Desa Klopo Duwur Kecamatan Banjarejo

dan Dusun Ploso Wetan Desa Kediren Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah)

S K R I P S I

Oleh :

HUZER APRI ANSYAH

NI M : F1D0 01 043

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Strata Satu Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Jenderal Soedirman

DE PARTE ME N PE NDI DI KAN NASIO NAL UNI VE RSITAS JE NDERAL SOE DI RMAN FAKULTAS IL MU SOSIAL DAN I LMU POL ITI K

JURUS AN ILMU POLITI K PURWO KE RTO

(3)

SKRIPSI

BUDAYA DAN PERILAKU POLITIK

MASYARAKAT PENGIKUT SAMINISME

(Studi Kasus di Dusun Klopo Duwur Desa Klopo Duwur Kecamatan Banjarejo

dan Dusun Ploso Wetan Desa Kediren Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah)

Oleh :

HUZER APRIANSYAH NIM : F1D001043

Diterima dan disahkan Pada tanggal :………..

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. H. Bambang Suswanto, M.Si Drs. M. Soebiantoro, M.Si NIP. 131809063 NIP. 131771423

Mengetahui

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat Nya yang begitu luar biasa hingga penulisan skripsi berjudul Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat Pengikut Saminisme (Studi Kasus di Dusun Klopo Duwur Desa Klopo Duwur Kecamatan Banjarejo dan Dusun Ploso Wetan Desa Kediren Kecamatan Randublatung Kaqbuapten Blora Jawa Tengah) dapat diselesaikan dengan baik.

Selanjutnya skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada :

1. Drs. Bambang Kuncoro, M.Si selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman yang juga merupakan pembimbing akademik penulis.

2. Drs. H. Bambang Suswanto, M.Si selaku pembimbing pertama dalam penulisan skripsi ini.

3. Drs. M. Soebiantoro, M.Si selaku pembimbing dua dalam penulisan skripsi ini.

4. Drs. Solahuddin Kusumanegara, M.Si selaku outsider dalam skripsi ini. 5. Segenap Staf pengajar di jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal

Soedirman.

(5)

7. DR. Amrih Widodo, selaku tempat bertanya penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga kebaikan, ketulusan dan kesabaran bapak-bapak mendapatkan balasan berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat dari Allah SWT. Amin

Akhirnya sebagai sebuah karya ilmiah tentulah hal-hal yang ada dalam karya ini bersifat tentatif semata, dan tentupula kekurangan masih terdapat banyak. Untuk itu saran, kritik dan masukan dari semua pihak sangat kami butuhkan untuk perbaikan karya ini di masa depan sebagai bentuk karya ilmiah yang lebih sempurna.

Purwokerto, 10 November 2005

(6)

RINGKASAN

Penelitian ini berjudul Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat Pengikut Saminisme (Studi Kasus di Dusun Klopo Duwur Desa Klopo Duwur Kecamatan Banjarejo dan Dusun Ploso Wetan Desa Kediren Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kecendrungan masyarakat pengikut saminisme semakin terpinggirkan karena adanya faktor penghilangan identitas kesaminan yang dilakukan oleh pihak-pihak pemerintah daerah. Selanjutnya, penelitian ini menemukan bahwa orientasi-orientasi politik berupa, orientasi kognitif, afektif dan evauatif sebagai berikut : Orientasi kognitif pengikut Saminisme menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap sistem sistem politik dan hal-hal dasar dalam negara tergolong sedang. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan mereka mengenai dasar negara, kewilayahan dan sistem pemilihan umum yang biasanya bersifat sangat umum dan tidak terperinci. Lalu aspek afektif menunjukkan bahwa mereka memiliki perasaan yang cenderung negatif terhadap sistem politik yang ada saat ini dan pada sisi evaluatif pengikut Saminisme cenderung merasa terpisah dari sistem politik. Dari kecendrungan-kecendrungan tersebut, maka dapat dikatakan tipe budaya politik murni pengikut Saminisme adalah tipe subyek dengan tipe varian gabungan termasuk dalam tipe subyek parokial.

Tipe budaya politik subyek adalah tipe dimana orientasi terahdap sistem politik dan output sistem politik relatif baik tetapi pemahaman individu sebagai partisipan aktif dalam sistem politik relatif rendah. Sedangkan tipe subyek parokial adalah tipe yang menekankan kesetiaan terhadap sistem politik yang lebih kompleks dari model kesukuan tetapi nilai-nilai tradisiona; masih relatif kuat mempengaruhi perilaku politik mereka.

Selanjutnya, perilaku politik dilihat dari partisipasi politik menunjukkan bahwa masyarakat Samin cenderung hanya menganggap pemilu sebagai formalitas yang harus diikuti karena faktor eksternal. Berdasar kategorisasi Milbrath dan Goel yang membagi perilaku politik berdasar partisipasi politik menjadi empat tipe; apatis, spektator, transisional dan gladiator, maka paertisipasi pengikut samin tergolong dalam tipe spektator, yaitu sekedar berpartisipasi dalam pemilu tanpa keinginan untuk terlibat lebih jauh dalam usaha mempengaruhi sistem politik. Sedangkan berdasar pendapat Huntington yang dikerahkan, maka bila partisipasi politik masyarakat pengikut Saminisme termasuk dalam tipe partisipasi yang dikerahkan.

Budaya dan perilaku politik pengikut Saminisme sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor: perasaan keterasingan atau rendah diri karena labelisasi yang negatif terhadap mereka, faktor keyakinan terhadap nilai-nilai leluhur dan kondisi sosial ekonomi mereka.

(7)

SUMMARY

The tittle of this research is Political Culture and Political Behaviour of Saminism Follower (Case Study in Klopu Duwur Sub Village of Klopo Duwur Village of Banjarejo District and Ploso Wetan Sub Residence of Kediren Village of Randublatung District of Blora Residence of Central Java.

This research found the facts are samin society in research location be marginal (periferal) society cause the local goverment try to erased the cultural identity of Saminism. The facts about political orientations of Samin society on cognitive and afection side show to us are inside in high performance but aren’t follow with an active participation to influenced the political system. From the facts of political orientations of Samin society support the political culture of them inside the subject tipe. And, for the category of political culture based on combination of political culture primary tipe the samin society inside the subject – parokial type.

Subject tipe of political culture is the tipe where the orientations of the people about political system especially about output from the political system inside the good level but the individuals perception about political participation on political system inside in poor performance. Also, the subject – parokial varian type is the type with focus on allegiance to political system and ancient value very influenced factor in this type.

After that, political behaviour of Samin Society looking from political participation on 2004 general election show to us the perception of Samin society about general election participation just formality activities for them. From the facts of that, this research conclude the political behaviour of them is the passive type. If using the political behaviour category by Samuel Huntington, the Samin’s political behaviour inside the mobilizied participation type. Mobilizied participation type is participation in political activities influenced by outside factors, like pressure by political actors or goverment. If we are use the category of political behaviour by Milbrath and Goel, the Samin political behaviour inside the spectator type. Spectator type is the type in political participation where the individuals just follow on general elections without other activities to influenced the political system. For the individuals in this type political participation just formality activities not important thing for them.

The influenced factors of political culture and political behaviour of Samin society are : ancient value of Saminism, social and economic condition of them and uncomfort feeling to the political system

(8)

! ! " #$

%

&

(9)

()* ) %!+!,

-.

(

&

)/

0 1

! &

- 2

- 2

&

.

(1 3 % 45 46 - 3 - 3

! - 3 7 ( - 3 '

( 3 8 2

.

9 3 9 3:$ 7 ! 3 - % :

! 8 & : : 93% 7' 2 ;

8 3 ( 93 3( 7

1

1

.

+ 9 % !

)

)< ,

!//

%

3

32

2 &

.

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ii

PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

RINGKASAN ... vi

SUMMARY ... vii

MOTTO ... ix

PERSEMBAHAN ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR BAGAN DAN MATRIK ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Budaya Politik ... 11

2.2. Perilaku dan Partisipasi Politik ... 20

2.2.1. Perilaku Politik ... 20

2.2.1.1. Ruang Lingkup Perilaku Politik ... 22

2.2.1.2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Politik ... 23

2.2.1.3. Pemimpin Politik ... 25

2.2.2. Partisipasi Politik ... 26

2.3. Civil Disobedience (Pembangkangan Warga) ... 30

2.4. Saminisme ... 33

2.5. Studi-Studi Terdahulu ... 37

(11)

III. METODE DAN ANALISIS DATA

3.1. Metode Penelitian

3.1.1. Sasaran Penelitian ... 45

3.1.2. Lokasi Penelitian ... 45

3.1.3. Fokus Penelitian ... 46

3.1.4. Metode Penelitian ... 47

3.1.5. Pendekatan Penelitian ... 48

3.1.6. Pengeumpulan Data ... 49

3.1.7. Sumber Data ... 50

3.1.8. Teknik Pemilihan Informan ... 50

3.1.9. Teknik Analisis Data ... 51

3.1.10. Keabsahan Data ... 56

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN I. Hasil Penelitian ... 58

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 58

B. Kondisi Sosial Ekonomi Pengikut Saminisme ... 72

C. Sejarah dan Perkembangan Saminisme ... 80

D. Ajaran-Ajaran Saminisme ... 87

E. Politik Penghilangan Identitas Saminisme ... 99

F. Orientasi Politik Masyarakat Pengikut Saminisme ... 102

G. Perilaku Memilih Pengikut Saminisme ... 115

II. Pembahasan Penelitian A. Tipe Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat Pengikut Saminisme ... 126

B. Faktor yang Mempengaruhi Budaya dan Perilaku Politik Masyarakat Pengikut Saminisme ... 149

V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 151

(12)

DAFTAR ISTILAH ... 156

CATATAN ... 158

DAFTAR PUSTAKA ... 161

(13)

DAFTAR TABEL

No Tabel Hlm. 1. Hubungan kesamaan dan perbedaan antara audaya dan

struktur politik ... 16

2. Jumlah penduduk dan desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Banjarejo ... 60

3. Jumlah penduduk dan desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Randublatung ... 61

4. Alokasi penggunaan lahan di Desa Klopo Duwur tahun 2005 ... 64

5. Alokasi penggunaan lahan di Desa Kediren tahun 2005 ... 68

6. Alokasi penggunaan lahan di Desa Kediren tahun 1996 ... 69

7. Perbandingan alokasi penggunaan lahan Desa Kediren tahun 1996 dan 2005 ... 69

8. Selisih alokasi lahan Desa Kediren tahun 1996 an 2005 ... 69

9. Perkiraan jumlah keluarga pengikut Saminisme di Dusun Klopo Duwur dan Ploso Wetan ... 75

10. Tingkat Pendidikan anak umur 5 tahun ke atas di Dusun Klopo Duwur dan Ploso Wetan ... 77

11. Tingkat pendidikan informan ... 78

12. Pekerjaan penduduk di Desa Klopo Duwur dan Kediren ... 79

13. Pekerjaan informan ... 80

14. Tingkat partisipasi dalam pemilu legislatif tahun 2004 di Desa Klopo Duwur... 116

15. Tingkat partisipasi dalam pemilu presiden dan wakil tahun 2004 di Desa Klopo Duwur ... 116

16. Tingkat partisipasi dalam pemilu legislatif di Dusun Klopo Duwur .... 117

17. Perolehan suara pemilu presiden putaran I di Desa Klopo Duwur ... 118

18. Perolehan suara pemilu presiden putaran I di Dusun Klopo Duwur ... 119

19. Tingkat partisipasi dalam pemilu legislatif di Desa Kediren 2004 ... 120

(14)

21. Tingkat partisipasi dalam pilkada di Dusun Ploso Wetan tahun 2004 . 121 22. Perolehan suara pemilu legislatif di Desa Kediren tahun 2004 ... 122 23. Perolehan suara pemilu presiden putaran I di Desa Kediren 2004 ... 123 24. Perolehan suara pemilu presiden putaran I di

Dusun Ploso Wetan 2004 ... 124 25. Tingkat kecendrungan pengetahuan informan mengenai

(15)

DAFTAR BAGAN DAN MATRIK

No. Bagan atau Matrik Hlm.

1. Bagan kerangka pemikiran penelitian ... 42

2. Bagan model analisis interaktif ... 56

3. Matrik pengetahuan informan mengenai dasar negara Kewilayahan dan sistem pemilu ... 134

4. Matrik pemahaman informan untuk mempengaruhi Sistem politik ... 136

5. Matrik perasaan informan terhadap sistem politik saat ini ... 137

6. Matrik pandangan informan terhadap kenaikan BBM ... 138

7. Matrik alasan informan berpartisipasi dalam pemilu ... 147

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Hlm.

1. Daftar informan penelitian ... 166

2. Foto-foto penelitian ... 168

3. Repro foto Samin Surosentiko dan tokoh-tokoh pendiri Samin ... 176

4. Peta Desa Klopo Duwur ... 177

5. Peta Desa Kediren ... 178

6. Peta Kecamatan Banjarejo ... 179

7. Peta Kecamatan Randublatung ... 180

8. Peta Kabupaten Blora dalam Peta Jawa Tengah ... 181

9. Lambang Kabupaten Blora ... 182

10.Makna lambang Kabupaten Blora ... 183

11.Model D-1 Pemilu Legislatif DPR Desa Klopo Duwur tahun 2004 .... 184

12.Model D-PWP Pemilu Presiden dan Wapres Putaran I Desa Klopo Duwur tahun 2004 ... 192

13.Model D-1 Pemilu Legislatif DPRD Kabupaten di Klopo Duwur Tahun 2004 ... 193

14.Model D- PWP Pemilu Presiden dan Wapres Putaran II Kecamatan Randublatung tahun 2004 ... 215

15.Model D-PWP Pemilu presiden dan Wapres Putaran I Desa Kediren tahun 2004 ... 222

16.Rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilu Legislatif Kecamatan Randublatung tahun 2004 ... 231

17.Model D1-PWP Pemilu Presiden dan Wapres di Desa Kediren Tahun 2004 ... 239

18.Model D-KWP Pilkada Kab. Blora di Desa Kediren 2005 ... 243

19.Daftar lokasi TPS di Desa Kediren ... 255

20.Daftar Pertanyaan Wawancara ... 256

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Budaya politik adalah fenomena dalam masyarakat yang memiliki pengaruh terhadap struktur dan sistem politik (Sastroatmodjo, 1995 : 35). Sedangkan menurut Walter A. Rosenbaum (1975 : 4) ; The Definition of political culture refers to the collective orientation of people toward the basic elements in

their political system. Terkait dengan budaya politik sebagai fenomena dalam

masyarakat, maka budaya politik tidak dapat dipisahkan dari perilaku politik yang merupakan proses interaksi politik antara berbagai elemen. Seperti masyarakat dengan pemerintah, sesama masyarakat atau pemerintah dengan kelompok kepentingan dan sebagainya (Sastroatmodjo, 1995 : 2).

Studi mengenai budaya dan perilaku politik ini merupakan studi yang penting bagi upaya mengenali dan memahami karakter politik dari sebuah masyarakat. Pada negara yang tengah berada dalam fase demokratisasi, pemahaman yang menyeluruh terhadap karakter budaya dan perilaku politik masyarakatnya merupakan kemutlakan. Pemahaman yang menyeluruh tersebut terkait dengan pembangunan pondasi sistem politik yang baik. Pada konteks inilah studi budaya dan perilaku politik menemukan urgensinya.

(18)

perhatian terhadap kajian budaya politik di Indonesia relatif kecil dan studi yang dilakukan oleh ilmuwan politik Indonesia masih belum optimal (Nazaruddin Syamsudin, 1991 : 6). Mengenai studi perilaku politik telah sangat banyak dilakukan penelitian terutama mengenai partisipasi politik, tapi penelitian yang secara spesifik mengkaji perilaku politik masyarakat marjinal (terpinggirkan) relatif masih kecil. Penelusuran pustaka yang penulis lakukan mencatat publikasi ilmiah mengenai perilaku politik masyarakat marjinal tidak terlalu banyak. Ada sebuah publikasi yang dilakukan J.Hardimin dengan bukunya Demokrasi Indonesia dan Dinamika Politik Arus Bawah (2001), buku ini mengulas perilaku politik masyarakat marjinal di beberapa daerah di sekitar Pantai Utara Jawa (Pantura) serta sebuah publikasi hasil penelitian yang ditulis tim Yayasan Akatiga Tasikmalaya mengenai perilaku politik masyarakat Mikung (2001). Kondisi masih minimnya studi budaya politik dan perilaku politik terutama budaya dan perilaku politik masyarakat marjinal, membuat perlu untuk melakukan kajian dalam bidang tersebut.

(19)

berpengaruh dalam proses pembentukan karakter politik nasional. Budaya dan perilaku politik di Indonesia merupakan hasil persinggungan antara banyak faktor termasuk di dalamnya nilai tradisional-lokal dan juga nilai sosial ekonomi lainnya. Kondisi sistem politik terkini Indonesia juga ikut dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.

Melihat kondisi kehidupan politik di Indonesia terutama dalam aspek budaya politik bila merujuk pada studi yang dilakukan Almond dan Verba, digambarkan bahwa terjadi interaksi antara nilai-nilai dan institusi tradisional dengan nilai-nilai demokrasi baru. Institusi tradisional dalam skala yang sangat kecil terutama di beberapa daerah Jawa (Yogyakarta dan Surakarta) masih ikut memberi kontribusi dalam kancah politik lokal dan ikut menentukan karakter budaya politik setempat. Meskipun institusi lokal relatif kecil, namun nilai-nilai tradisional yang muncul di Indonesia pada era kerajaan-kerajaan ikut memberi warna hingga saat ini. Feodalisme merupakan salah satu warisan nilai yang muncul sampai saat ini, pada titik tertentu nilai tradisional ini sangat mempengaruhi budaya politik di Indonesia. Maka, dalam konteks kajian budaya politik di Indonesia terdapat keunikan-keunikan yang menambah daya tarik kajian.

(20)

(Almond dan Verba, 1990 : 7). Selanjutnya bila kita memperhatikan uraian Almond dan Verba mengenai budaya politik di Inggris, maka kita akan menjumpai bahwa budaya politik Inggris saat ini tak dapat dilepaskan dari proses sejarah perjalanan bangsa tersebut. Maka, bila kita kontekskan dengan kondisi Indonesia yang masing-masing masyarakatnya memiliki akar sejarah lokal yang berbeda-beda, tentu saja akan memunculkan budaya politik yang beraneka ragam. Katakanlah seperti yang diuraikan J.Mardimin ( 2001 : 6-36) antara masyarakat pesisir (pantai utara Jawa) dan masyarakat daerah pegunungan cenderung memiliki perbedaan karakter politik. Di Pesisir masyarakatnya cenderung memiliki iklim politik yang lebih egaliter daripada masyarakat di sekitar pegunungan. Hal ini juga terkait dengan faktor kesejarahan, dimana daerah yang pada masa lalu merupakan daerah sekitar pusat kerajaan dan daerah manca (jauh dari pusat kerajaan) juga memiliki perbedaan budaya politik.

(21)

Perjalanan selanjutnya kembali membawa rakyat Indonesia pada kondisi perilaku politik pasif akibat kuatnya negara, kondisi ini terjadi ketika rezim orde lama mulai menampakkan wajah otoriternya dengan mengangkat Sukarno sebagai presiden seumur hidup. Pada masa orde barupun terjadi pembatasan aktivitas politik. Rakyat dikendalikan secara penuh oleh negara. Instrumen ideologis (pancasila) dan instrumen bersenjata (militer) dijadikan pengendali aktivitas politik warga negara. Barulah ketika terjadi gerakan politik yang dimotori oleh rakyat (kelas menengah) dan mahasiswa pada tahun 1998 terjadi perubahan dalam perilaku politik warga negara.

Secara umum politik nasional telah mengalami pasang surut seiring perjalanan sejarah politik Indonesia yang telah pula memberi pengaruh bagi konstruksi budaya politik dan perilaku politik warga negara. Tetapi gejala-gejala umum tersebut merupakan gejala umum yang terpantau pada permukaan saja. Karena masih banyak aktivitas politik yang dilakukan oleh komunitas tertentu yang biasanya termarjinalkan (terpinggirkan) tidak terekam oleh intelektual Indonesia. Hingga seolah budaya politik yang terbentuk dalam masyarakat tersebut terlepas dari budaya politik Indonesia secara umum. Bagitu pula dengan perilaku politik mereka yang luput dari rekaman sejarah politik Indonesia.

(22)

Sumatera Selatan, masyarakat Tengger di Jawa Timur dan yang juga terkenal adalah masyarakat Samin yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Komunitas adat tersebut di atas memiliki kekhasan dalam berbagai hal. Koentjaraningrat (1981 : 155) menuliskan bahwa dalam batas wilayah sebuah negara nasional seperti Indonesia, antara kelompok-kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan atau kekhasan. Perbedaan dan kekhasan tersebut biasanya disebabkan karena adat istiadat, bahasa serta karena keyakinan religi. Secara teoritis dikenal pula istilah golongan sosial yang muncul karena tiga faktor, sistem norma, rasa identitas sosial dan keberlanjutan sosial (Koentjaraningrat 1981 : 167). Golongan-golongan sosial inilah yang kemudian memberikan pengaruh pada budaya lokal. Koentjaraningrat juga menyebutkan bahwa penggolongan sosial juga dapat terjadi karena persepsi negatif terhadap sebuah kelompok tertentu, dalam konteks ini ia mencontohkan golongan Negro atau blacks di Amerika Serikat. Sebagaimana kita ketahui kelompok di luar Negro memang mempersepsikan masyarakat yang memiliki ras negroid ini sebagai individu yang keras, anarkhis dan tidak taat aturan. Dari persepsi itulah terbentuk penggolongan sosial kepada mereka.

(23)

karena perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Terutama pemikiran yang berbeda dari arus utama pemikiran negara. Negara dalam persepsi kebudayaan nasional sering kali mempersepsikan orang-orang marjinal sebagai sisa-sisa dari masyarakat primitif yang memiliki kecendrungan tidak beradab. Maka, pemerintah harus mengintervensi proses sosial politik masyarakat tersebut. (anna Van Lowenhaupt 1998 : 3 – 48).

Marjinalisasi (peminggiran) terhadap kelompok masyarakat tertentu juga terjadi karena faktor sejarah perlawanan politik masyarakat tertentu. Hal ini terjadi dalam masyarakat Samin yang berkembang di Blora, Pati, Bojenegoro dan Rembang. Samin Surosentiko pengembang ajaran Samin merupakan tokoh lokal yang mengembangkan perlawanan tanpa kekerasan dengan memunculkan karakter nggendeng (Sastroatmodjo, 2003 : 10 –13). Masih menurut Sastroatmodjo (2003 : 11) ada tiga unsur dalam masyarakat Samin ;

(1) Gerakan Samin serupa dengan organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung.

(2) Gerakan samin memiliki sifat yang utopis, tanpa perlawanan fisik yang mencolok.

(3) Gerakan Samin melakukan tantangan terhadap pemerintah yang diperlihatkan dengan prinsip diam, tidak bersedia membayar pajak, dan tidak bersedia menyumbangkan tenaga pada pemerintah.

(24)

November 1991 dalam Basis Nomor 9-10 tahun 2000). Di tengah berbagai upaya yang dilakukan pemerintah orde baru untuk memarjinalisasi masyarakat Samin, namun Samin tetap ada dan memunculkan identitasnya dalam berbagai bentuk, seperti ekonomi, politik dan yang paling menonjol adalah melalui seni lokal.

Masyarakat Samin merupakan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial-politik-budaya yang sangat khas. Kekhasan itu juga muncul dalam bentuk sejarah gerakan perlawanan yang mereka lakukan. Maka seiring perjalanan sejarah Indonesia yang bergerak ke arah kondisi modern termasuk di dalamnya modernisasi politik muncullah beragam pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat Samin mempertahankan eksistensi komunitas mereka. Terutama terkait dengan identitas politik perlawanan mereka, lalu bagaimana mereka bersikap terhadap berbagai rezim politik yang pernah berkuasa di Indonesia. Serta sejauh mana perubahan struktur politik dan pola perilaku politik mereka dari waktu ke waktu. Sketsa di atas dan pertanyaan-pertanyaan di atas telah menarik perhatian penulis untuk mencoba melakukan kajian mendalam mengenai budaya dan perilaku politik masyarakat Samin.

Proses pra penelitian yang dilakukan penyusun dengan penelusuran pustaka, dan mencoba melakukan kajian mengenai kemungkinan-kemungkinan metodologis yang tepat maka penelitian ini sangat mungkin dilakukan dan beragam variasi metodologis juga dapat digunakan dalam penelitian yang mengarah pada etnografi seperti penelitian ini.

(25)

Kompleksitas faktor yang membentuk budaya politik dan perilaku politik tidak hanya terjadi dalam masyarakat modern yang telah memiliki pranata sosial politik yang lengkap, tetapi juga terjadi pada masyarakat tradisional. (Ramlan Surbakti, 1992 : 131-132). Proses interaksi antar faktor-faktor tersebutlah yang perlu dikaji. Kajian antar faktor tersebut tentu akan dapat memberikan gambaran mengenai pola budaya politik dan perilaku politik dalam sebuah masyarakat.

Pola budaya politik dan juga proses perilaku politik masyarakat tradisional juga merupakan faktor yang penting dalam pelembagaan demokrasi, khususnya di negara berkembang (Dahl, 2001 : 109). Terkait dengan hal tersebut penting untuk mendapatkan deskripsi empirik mengenai budaya dan perilaku politik masyarakat yang ada di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara berkembang yang tengah melakukan penguatan demokrasi.

Dalam rangka memberikan gambaran yang menyeluruh dan utuh mengenai budaya dan perilaku politik masyarakat samin, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yang akan dijawab dalam penelitian ini.

1. Bagaimanakah tipe budaya politik dan perilaku politik yang terjadi dalam masyarakat Samin ?

2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi budaya dan perilaku politik masyarakat Samin ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

(26)

2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya dan perilaku politik masyarakat Samin.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan akan dapat menambah khasanah pengetahuan dalam kajian budaya politik dan perilaku politik di Indonesia. Khususnya dalam kajian budaya dan perilaku politik masyarakat tradisional.

2. Manfaat empiris

a. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan gambaran secara deskriptif mengenai budaya politik dan perilaku politik masyarakat Samin.

b. Dari hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan referensi bagi stake holders dalam menyusun kebijakan publik yang berhubungan dengan

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Budaya Politik

Tinjauan teoritis mengenai budaya politik dan beragam aspek yang membentuk budaya politik mutlak dilakukan dalam penelitian ini, dalam rangka menyusun pondasi teoritis dalam penelitian. Lalu dalam tinjauan teoritis mengenai budaya politik yang digunakan adalah pendekatan budaya politik yang ditawarkan oleh Gabriel A. Almond dan Sidney Verba. Mengapa pendakatan Almond dan Verba yang dipilih dalam penelitian ini ? Ada beberapa alasan, antara lain ;

1. Pendekatan kebudayaan politik yang diajukan Almond dan Verba memiliki tingkat kelengkapan unsur yang tinggi bila dibandingkan dengan pendekatan lainnya, seperti yang diajukan Bernard Susser dalam tulisannya The Behavioral Ideology: A Review and a Retrospect (dalam Bernard Susser 1992 : 76-100)

2. Almond dan Verba telah menyusun uraian mengenai bagaimana interaksi antara institusi tradisional serta nilai tradisional dengan nilai-nilai baru yang dibawa oleh ilmu pengetahuan. Maka pendekatan ini sesuai bila ingin diterapkan dalam penelitian budaya politik masyarakat tradisional Indonesia.

(28)

4. Di luar hal-hal di atas sebenarnya ada sebuah faktor yang sangat menentukan mengapa penulis menggunakan pendekatan budaya politik dari Almond dan Verba, yaitu dikarenakan referensi mengenai budaya politik yang paling mudah ditemukan adalah referensi yang ditulis oleh Almond dan Verba dibanding dengan referensi yang ditulis lainnya. Kebudayaan politik bukan merupakan sebuah kebudayaan modern secara mutlak, kebudayaan politik merupakan kombinasi antara kebudayaan modern dengan tradisi (Almond dan Verba, 1990 : 6). Maka konsekuensi dari teori tersebut adalah kajian budaya politik tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya yang mentradisi dan melekat pada kelompok masyarakat tertentu.

Almond dan Verba mendefiniskan budaya politik suatu bangsa merupakan distribusi pola orientasi khusus menuju tujuan politik di antara masyarakat bangsa tersebut (1990 : 16). Selanjutnya Almond merumuskan pola orientasi politik, rumusan ini didasarkan pada rumusan yang diajukan Talcott Parsons dan Edward A. Shils. Berikut tiga orientasi politik tersebut;

1. Orientasi kognitif, pengetahuan tentang sistem politik dan kepercayaan pada sistem politik, peranan dan segala kewajibannya, serta input dan outputnya.

2. Orientasi afektif, perasaan terhadap sistem politik, peranannya dan penampilannya.

(29)

Orientasi-orientasi individual dalam masyarakat terhadap negara, dapat dijadikan arah penentuan tipe kebudayaan politik suatu masyarakat. Untuk menentukan orientasi tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara sistematis (1990 : 19 – 20). Pertama, pengetahuan individu terhadap sistem politik, baik mengenai pengertian sistem politik yang dianut di negaranya, sejarah, sifat-sifat konstitusi dan pengetahuan umum lainnya yang menyangkut sistem politik di negara bersangkutan.

Kedua, pemahaman individu mengenai input sistem politik, seperti

pengetahuan mengenai struktur dan peranan elit politik serta mekanisme pengajuan-pengajuan tuntutan politik atau pengajuan kebijaksanaan politik. Kemudian perasaan-perasaan individu mengenai struktur elite beserta proposal kebijaksanaan yang mereka ajukan ke sistem politik.

Ketiga, pemahaman individu mengenai output sistem politik, seperti

pemahaman mengenai kebijakan-kebijakan publik yang dikeluarkan oleh sistem politik. Juga mengenai mekanisme pemunculan kebijakan-kebijakan tersebut serta mengenai perasaan mereka terhadap dampak yang dirasakan dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sistem politik.

Keempat, partisipasi politik individu. Menyangkut argumentasi individu

mengenai perasaannya sebagai bagian dari sistem politik. Lalu pengetahuan mereka terhadap hak-hak, kewajiban serta strategi-strategi individu untuk melakukan tekanan atau mempengaruhi sistem politik.

(30)

adalah tipe dengan kondisi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang rendah mengenai empat unsur di atas serta pula perasaan yang negatif terhadap sistem politik. Tipe subyek merupakan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang relatif baik untuk unsur pengetahuan umum mengenai sistem politik dan output politik tetapi rendah dalam pengetahuan mengenai input sistem politik serta partisipasi politik yang pasif. Tipe ketiga adalah tipe partisipan, yaitu masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman yang tinggi mengenai semua unsur di atas dan memiliki tingkat partisipasi politik yang aktif. (1990 : 19-20).

Penjelasan secara rinci mengenai ketiga tipe budaya politik di atas adalah sebagai berikut (1990 : 20-22)

a. Kebudayaan politik parokial

Kebudayan politik parokial muncul jika frekuensi orientasi terhadap empat unsur obyek politik di atas mendekati nol. Kondisi ini biasanya terjadi dalam komunitas lokal yang otonom seperti yang ada di suku-suku pedalaman Afrika.

Tidak terdapat peran-peran politik khusus dari individu dalam komunitas, pembagian peran biasanya didasarkan pada faktor politis-ekonomis dan keagamaan. Kemudian orientasi politik tidak terlepas dari orientasi relegius dan sosial yang mereka anut.

(31)

b. Kebudayaan politik subyek

Tipe kebudayaan politik subyek memiliki frekuensi orientasi yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem tersebut. Meski demikian frekuensi orientasi terhadap aspek input sistem politik serta pemahaman terhadap individu sebagai partisipan aktif dalam sistem politik relatif kecil atau mendekati nol.

Masyarakat dengan budaya politik subyek menyadari akan otoritas pemerintah, mereka secara efektif diarahkan pada otoritas tersebut. Orientasi subyek dalam sistem politik yang telah mengembangkan pranata-pranata demokrasi lebih bersifat afektir dan normatif daripada kognitif.

c. Tipe kebudayaan politik partisipan

Budaya partisipan adalah sebuah bentuk budaya dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem sebagai keseluruhan dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif. Masyarakat dengan tipe budaya politik partisipan memiliki ragam aktivitas politik dalam sistem politik. Mereka cenderung menjadi aktivis masyarakat, sekalipun perasaan dan evaluasi mereka terhadap sistem politik bisa dalam bentuk menerima atau menolaknya.

(32)

struktur politik. Budaya parokial sebangun dengan struktur politik tradisional, budaya subyek sebangun dengan struktur otoritarian yang sentralistis, dan budaya partisipan sebangun dengan struktur politik demokratis.

Hubungan kesamaan dan ketidaksamaan antara budaya politik dan struktur politik dirumuskan Almond dan Verba dalam tiga karakter politik, seperti tergambar dalam tabel berikut ini;

Tabel 1. Hubungan kesamaan dan ketidaksamaan antara budaya politik dan struktur politik

Allegiance Apathy Alienation

(kesetiaan) (apatis) (pengasingan)

Orientasi kognitif + + + Orientasi afektif + 0 - Orientasi evaluatif + 0 - Sumber : Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, 1990 hlm.25 Keterangan :

+ : Frekuensi kesadaran yang tinggi, atau perasaan positif ataupun evaluasi terhadap obyek politik.

- : Frekuensi evaluasi dan perasaan negatif yang tinggi 0 : Frekuensi keacuhan tinggi

(33)

Menurut Almond dan Verba (1990 : 26-27) kebudayaan politik parokial, subyek dan partisipan tidak hadir dalam bentuk yang sederhana atau murni, tetapi merupakan sebuah bentuk kompleks. Terjadi interaksi antara ketiga budaya politik tersebut. Maka ada tiga bentuk budaya politik baru yang merupakan campuran antar tipe budaya politik murni, yaitu: Kebudayaan subyek parokial, kebudayaan subyek-partisipan dan kebudayaan parokial-partisipan. Berikut penjelasan yang diberikan Almond dan Verba mengenai tiga tipe kebudayaan politik campuran tersebut. (1990 : 27-32).

a. Kebudayaan subyek-parokial

Kebudayaan subyek parokial merupakan suatu tipe kebudayaan politik dimana sebagian besar masyarakat menolak tuntutan eksklusif masyarakat kesukuan atau desa atau otoritas feodal dan mengembangkan kesetiaan terhadap sistem politik yang lebih kompleks dengan struktur pemerintahan pusat yang bersifat khusus. Kondisi ini biasanya runtutan sejarah peralihan dari model kerajaan menuju pemerintahan yang tersentralisasi.

b. Kebudayaan subyek-partisipan

(34)

bersifat khusus dan serangkaian orientasi pribadi sebagai seorang aktivis. Sementara sisa penduduk lainnya terus diorientasikan ke arah struktur pemerintahan otoritarian dan secara relatif memiliki rangkaian orientasi pribadi yang pasif.

Ketidakstabilan struktural yang sering menyertai kultur subyek partisipan, tumpulnya infrastruktur demokratis dan sistem pemerintahan cenderung menghasilkan tendensi alienatif di antara sebagian penduduk yang berorientasi demokratik. Kebuntuan budaya politik yang bisa terjadi dalam budaya subyek partisipan ini akan cenderung melahirkan sindrom dengan unsur-unsur aspirasi kaum idealis dan keterasingan dari sistem politik, termasuk infrastruktur politik.

Budaya subyek partisipan yang bersifat campuran tersebut, jika berlangsung dalam waktu lama, juga dapat mengubah karakter sub budaya subyek. Selama perselang-selingan demokrasi itu berlangsung, maka kelompok otoritarian yang cenderung masih harus bersaing dengan kelompok demokrat dalam kerja demokrasi formal.

c. Kebudayaan parokial partisipan

(35)

Kadang kala condong ke pemerintahan demokratis tapi kadang kala condong pada pemerintahan yang otoriter.

Mengenai kebudayaan politik dan kontekstualitas fungsi analisanya Almond dan Verba (1990 : 38) menyatakan bahwa

“Hubungan antara sikap-sikap dan motivasi individu yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membentuk sistem-sistem politik dan karakter politik serta penampilan sistem politik dapat dilacak secara sistematis melalui konsep budaya politik. Dengan kata lain budaya politik adalah rantai penghubung antara makro dan mikro politik”

Terkait dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, pendekatan budaya politik Almond dan Verba akan digunakan sebagai acuan dalam memahami orientasi politik individu-individu yang secara historis dan kultural memiliki ikatan dengan komunitas Samin yang dikembangkan oleh Samin Surosentiko. Dalam konteks peran kebudayaan politik sebagai rantai penghubung antara mikro dan makro politik, tentu sangat tepat pijakan teori budaya politik ini digunakan dalam penelitian ini, karena pada titik mikro penelitian ini mencoba memahami perilaku politik dan partisipasi politik masyarakat Samin. Hingga diharapkan akan didapatkan sebuah deskripsi analitis mengenai pola-pola kebudayaan politik yang masyarakat Samin masa kini terkait dengan faktor kesejarahan yang mereka miliki serta faktor kebudayaan lokal yang ada.

(36)

politik Almond dan Verba ini bisa digunakan untuk melihat budaya politik masyarakat Samin. Meskipun pendekatan budaya politik Almond dan Verba ini dijadikan pondasi teoritis dari penelitian yang akan calon peneliti lakukan tetapi penelitian ini juga akan tetap memperhatikan faktor etnografi. Karena seperti dikemukan oleh Spradley bahwa kondisi khusus dalam sebuah komunitas masyarakat tidak hanya bisa dilihat dari permukaan saja tetapi harus memperhatikan kedalaman dan etnografi memberikan jalan kearah hal tersebut

Perilaku dan Partisipasi Politik

2.2.1. Perilaku Politik

Pendapat Ramlan Surbakti (1992 : 131) mengenai perilaku politik menyebutkan bahwa

“Perilaku politik dirumuskan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Yang melakukan kegiatan adalah pemerintah dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu fungsi-fungsi pemerintahan yang dipegang pemerintah dan fungsi politik yang dipegang masyarakat.”

Sedangkan menurut Sastroatmodjo dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perilaku politik memiliki arti yang sangat luas.

“Keluasan arti perilaku politik bukan saja karena perilaku politik itu merupakan perilaku masyarakat termasuk anggotanya yang duduk dalam pemerintahan, melainkan juga karena perilaku politik ini menyangkut bidang lainnya, seperti nilai-nilai, norma-norma dan etika.” (1995 : 225).

(37)

berkenaan dengan tujuan suatu masyarakat, kebijakan untuk mencapai suatu tujuan, serta sistem kekuasaan yang memungkinkan adanya suatu otoritas untuk mengatur kehidupan masyarakat ke arah pencapaian tujuan tersebut. Politik senantiasa berkenaan dengan public goal (tujuan bersama) bukan tujuan orang perorang. (Sastroatmodjo,

1995 : 3).

Perilaku politik berkaitan dengan sikap politik. Antara sikap dan perilaku politik terdapat perbedaan. Menurut Mar’at sikap merupakan kesiapan untuk beraksi terhadap obyek lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. (Dalam Sastroatmodjo, 1995 : 4). Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas melainkan baru bersifat kecendrungan atau pre-disposisi. Sikap politik memiliki tiga komponen yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Beranjak dari pemahaman tersebut di atas Sastroatmodjo mendefiniskan sikap politik sebagai kesiapan untuk beraksi terhadap obyek tertentu yang bersifat politik, sebagai hasil penghayatan terhadap obyek tersebut. Dengan memahami sikap politik tentu dapat digunakan sebagai perkiraan terhadap perilaku politik yang sekiranya akan terjadi. (1995 : 4-5).

(38)

atau individu. Maka terjadilah perdebatan antara penganut paham kelembagaan dan penganut paham behavioral .

Paham kelembagaan merupakan paham yang menempatkan peran lembaga-lembaga politik lebih penting daripada individu-individu aktor politik. (Sastroatmodjo, 1995 : 28) Sedangkan paham tingkah laku menurut David Apter lebih memfokuskan perhatian pada hubungan antara pengetahuan politik dan tindakan politik , bagaimana percakapan politik diperoleh dan bagaimana cara orang menyadari perisitiwa-peristiwa politik (dalam Sastroatmodjo, 1995 : 31).

Gambaran teoritis di ataslah yang kemudian memantapkan penyusun untuk menggunakan pendekatan tingkah laku dalam mengkaji orientasi politik masyarakat Samin. Penelitian ini diarahkan untuk melihat sejauh mana aktivitas politik masyarakat Samin saat ini terkait dengan konteks budaya dan sejarah yang melatarbelakangi kehidupan mereka. Maka, pendekatan tingkah laku yang lebih mengarahkan kajian dengan pendekatan kualitatif yang berarti lebih mengutamakan deskripsi yang holistik (utuh) akan sangat relevan digunakan.

Ruang Lingkup Perilaku Politik

(39)

masyarakat. Maka implikasi dari ini adalah mengenai ruang lingkup kajian ilmu politik. Sastroatmodjo (1995 : 10) menyatakan bahwa “Subyek perilaku politik dapat berupa pemerintah yang melakukan tindakan-tindakan pembuatan keputusan politik dan pelaksanaan keputusan politik. Sedangkan subyek lainnya adalah masyarakat yang melakukan tindakan mempengaruhi proses pembuatan kebijakan politik oleh pemerintah dan tindakan melaksanakan kebijakan politik atau menolaknya.”

Menurut Ramlan Surbakti (1992 : 132) perilaku politik dapat dipilih tiga kemungkinan unit analisis, yaitu individu aktor politik, agregasi politik dan tipologi kepribadian politik. Dalam kategori individu aktor politik meliputi aktor politik (pemimpin), aktivis politik, dan individu warga negara biasa. Agregasi politik yaitu individu aktor politik secara kolektif, seperti kelompok kepentingan, birokrasi, partai politik, lembaga-lembaga pemerintahan dan bangsa. Sedangkan yang dapat dipelajari dalam tipologi kepribadian politik ialah tipe-tipe kepribadian pemimpin otoriter, machiavelist dan demokrat.

Terkait dengan kelembagaan politik terdapat dua macam kelembagaan politik, pertama adalah lembaga politik pemerintahan (suprastruktur politik) dan lembaga politik kemasyarakatan (infrastruktur politik) (Sastroatmodjo, 1995:11). Maka dalam kaitan tersebut ruang lingkup politik juga mencakup dua lembaga politik tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Politik

(40)

tidak bersifat determinan tetapi memberikan pengaruh (Sastroatmodjo, 1995 : 12). Dapatlah dikatakan bahwa dalam memahami perilaku politik penting pula untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik, dan untuk memahami faktor-faktor tersebut tentulah dibutuhkan bantuan dari disiplin ilmu lainnya seperti sosiologi, anthropologi, ekonomi dan sebagainya. Almond dan Verba (1990) menjaskan dalam konteks kompleksitas faktor politik terdapat keterkaitan yang mutlak antara perilaku dan budaya politik Dari hal tersebutlah dalam penelitian ini tidak hanya dilakukan kajian budaya politik semata melainkan juga dilakukan kajian perilaku politik.

Kembali berbicara mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik Sastroatmodjo (1995 : 13) berpendapat bahwa perilaku politik aktor politik seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan penegakan keputusan dipengaruhi oleh berbagai dimensi latar belakang yang merupakan bahan pertimbangan politiknya. Demikian pula dengan perilaku politik dari warga negara dipengaruhi berbagai faktor dan latar belakang.

Ramlan Surbakti (1992:132-133) menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi perilaku politik, yaitu

1. Lingkungan sosial politik tak langsung, seperti sistem politik, sistem ekonomi, sistem budaya dan media massa.

(41)

termasuk norma dan nilai kehidupan bernegara dan pengalaman-pengalaman hidup pada umumnya. Lingkungan langsung ini dipengaruhi oleh lingkungan tak langsung

3. Struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu. Analisis struktur kepribadian perlu dicatat tiga basis fungsional sikap, yaitu kepentingan, eksternalisasi dan penyesuaian diri.

4. Lingkungan sosial politik langsung berupa situasi, yaitu keadaan yang mempengaruhi aktor secara langsung ketika hendak melakukan kegiatan.

Dalam mempengaruhi perilaku politik individu faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan tidak berdiri secara sendiri-sendiri. Sebagai gambaran dari interaksi antar faktor tersebut Ramlan Surbakti (1992 : 133) memberikan penjelasan bahwa faktor lingkungan sosial politik tak langsung mempengaruhi lingkungan sosial politik langsung yang berupa sosialisasi, internalisasi dan politisasi. Selain itu, faktor sosial politik langsung akan ikut mempengaruhi struktur kepribadian (sikap). 2.2.1.3. Pemimpin Politik

(42)

membutuhkan parameter teoritis untuk melihat tipe pemimpin dalam masyarakat Samin.

Dalam uraian mengenai ruang lingkup perilaku politik, telah dijelaskan bahwa pemimpin politik merupakan unit analisis yang penting dalam studi perilaku politik. Maka penelitian ini perlu memiliki landasan teoritis mengenai kepemimpinan politik.

Menurut Ramlan Surbakti (1992 : 134) mengenai kepemimpinan adalah

“Kepemimpinan merupakan bagian dari kekuasaan, tetapi kekuasaan belumlah berarti kepemimpinan. Kepemimpinan politik adalah hubungan antara pihak yang memiliki pengaruh dan pihak yang dipengaruhi, dan juga menyangkut penggunaan sumber pengaruh secara efektif. Kekuasaan cenderung memiliki banyak jenis sumber pengaruh sedangkan kepemimpinan cenderung mengandalkan persuasi untuk mempengaruhi. Di samping itu, kekuasaan politik belum tentu menggunakan pengaruh untuk mencapai kepentingan bersama, sedangkan kepemimpinan politik merupakan upaya melaksanakan suatu tujuan yang menjadi kepentingan bersama antara pemilik pengaruh dan pihak yang dipengaruhi.”

Ramlan Surbakti (1992 : 134) juga menyebutkan bahwa terminologi kepemimpinan politik mengarah pada pemimpin yang ada pada sufrastruktur dan infrastruktur politik.

Partisipasi Politik

(43)

pelaksanaan keputusan politik. Kegiatan warga negara biasa ini pada umumnya dibagi dua, yaitu mempengaruhi isi kebijakan umum dan ikut menentukan pembuat dan pelaksana keputusan politik. Maka dapat dikatakan partisipasi politik merupakan perilaku politik, tetapi perilaku politik belum tentu merupakan partisipasi politik.

Adapun kriteria sebuah perilaku politik termasuk dalam partisipasi politik atau tidak, Surbakti (1992 : 141) menyebutkan beberapa kriteria 1. Partisipasi politik adalah kegiatan atau perilaku luar individu warga

negara biasa yang dapat diamati, bukan perilaku dalam yang berupa sikap atau orientasi.

2. Partisipasi politik merupakan kegiatan atau perilaku politik yang diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksana keputusan politik. Termasuk dalam kategori ini adalah kegiatan mengajukan alternatif kebijakan umum, alternatif pembuat dan pelaksanan keputusna politik, dan kegiatan mendukung atau menolak keputusan politik yang dibuat pemerintah.

3. Kegiatan yang berhasil dalam mempengaruhi pemerintah maupun yang gagal termasuk dalam partisipasi politik.

4. Partisipasi politik dapat berupa kegiatan langsung maupun tidak langsung.

5. Kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan dengan kegiatan yang sesuai prosedur dan tanpa kekerasan ataupun dengan aktivitas yang tidak sesuai posedur dan menggunakan kekerasan.

Partisipasi politik ini menurut Surbakti juga terbagi dalam dua macam. Pertama adalah partisipasi yang muncul karena kesadaran diri (self motion) dan yang kedua adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar

desakan, manipulasi dan paksaan dari pihak lain (mobilisasi).

(44)

yang berlainan dengan kebijakan yang disusun pemerintah. Sedangkan partisipasi pasif adalah kegiatan mentaati pemerintah, menerima dan melaksanakan saja setiap keputusan pemerintah. (Surbakti, 1992 : 142)

Partisipasi aktif cenderung berorientasi pada input (masukan) dan output (keluaran) dari sistem politik, sedangkan partisipasi pasif

cenderung hanya berorientasi pada output semata. Di samping itu juga terdapat golongan masyarakat yang tidak termasuk dalam partisipasi aktif maupun pasif, yaitu mereka yang menganggap sistem politik yang ada telah menyimpang dari apa yang mereka cita-citakan. Kelompok ini disebut kelompok apatis atau golongan putih (Surbakti, 1992 : 143).

Goel dan Olsen (dalam Sastroatmodjo, 1995 : 77) menggunakan tingkat partisipasi politik sebagai stratifikasi sosial dengan membagi enam golongan masyarakat terkait dengan partisipasi politik, yaitu pemimpin politik, aktivis politik, komunikator politik, warga negara marjinal, dan orang-orang yang terisolasi (jarang melakukan partisipasi politik).

Sastroatmodjo juga berpendapat bahwa partisipasi politik bukan hanya terkait dengan apa yang telah dilakukan tetapi pula terkait dengan apa yang mendorong seseorang melakukan partisipasi politik. Terkait dengan motif partisipasi politik ini Sastroatmodjo (1995 : 83) menggunakan pendekatan motivasi Weber, yaitu ;

1. Motif yang rasional-bernilai, yaitu motif yang didasarkan atas penerimaan secara rasional atas nilai-nilai suatu kelompok

(45)

3. Motif yang tradisional, yaitu motif yang didasarkan atas penerimaan norma, tingkah laku individu dari suatu kelompok sosial.

4. Motif yang rasional-bertujuan, yaitu motif yang didasarkan atas kepentingan pribadi.

Milbrath dan Goel dalam Ramlan Surbakti1 membedakan tingkat partisipasi menjadi empat kategori. Apatis, yaitu orang yang menarik diri dari proses politik. Kategori kedua adalah spektator, kategori ini adalah orang yang setidak-tidaknya pernah ikut memilih dalam pemilu. Ketiga adalah tipe transisional, artinya mereka yang tidak secara langsung menjadi aktor politik tetapi memiliki hubungan yang dekat dengan aktor politik dan aktif menghadiri diskusi-diskusi politik. Tipe keempat adalah tipe gladiator, merupakan aktor utama dalam politik, bisa merupakan seorang pemimpin partai politik, calon untuk duduk dalam jabatan politik dan sebagainya yang sifatnya berhubungan langsung dengan kepentingan politik.

Samuel P. Huntington dan Joan Nelson (1994:9) membagi partisipasi politik menjadi dua, yaitu partisipasi yang bersifat otonom (autonomous participation) atau self motion. Tipe lainnya adalah

partisipasi yang dikerahkan (mobilized participation), partisipasi tipe ini disebabkan karena dikerahkan oleh pihak lain.

(46)

partisipasi politik dalam bentuk tantangan politik secara langsung terhadap pemerintah. Samuel Huntington (1994) juga menyebutkan dalam negara berkembang seperti Indonesia kemungkinan partisipasi politik yang terbentuk adalah pseudo participation (partisipasi semu), yaitu partisipasi yang lebih dominan dikarenakan faktor eksternal atau mobilisasi politik.

Civil Disobedience (Pembangkangan Warga)

Masyarakat Samin identik dengan perlawanan politik dan oleh ST. Sularto perlawanan politik masyarakat Samin ini digolongkan dalam bentuk pembangkangan warga atau civil disobedience (Kompas, Senin 5 Agustus 2002). Maka untuk membangun pondasi teoritis dalam penelitian ini, peneliti memasukkan teori-teori mengenai perlawanan sipil dan juga pembangkangan warga atau civil disobedience.

(47)

melibatkan banyak faktor. Termasuk di dalam faktor-faktor tersebut adalah kondisi sosio-kultural masyarakat tersebut di samping juga kondisi sistem politik.

Bila dikontekskan dengan keadaan sosial dan budaya masyarakat Samin yang merupakan masyarakat dengan latar budaya agraris tentu gerakan perlawanan politik masyarakat Samin perlu pula mendapat tinjauan dalam konteks perubahan masyarakat dan juga mengenai karakteristik masyarakat tradisional-agraris.

Dalam masyarakat tradisional legitimasi bertumpu pada pengakuan akan beberapa tokoh, kejadian atau tatanan masa lampau (baik nyata atau simbolik) sebagai fokus identitas kolektif, selaku perancang bidang dan hakikat tatanan kebudayaan serta sosial. Kondisi inilah yang menjadi pemicu utama proses perubahan dalam masyarakat tradisional (Eisenstadt, 1986 : 71). Selanjutnya menurut Eisenstadt dalam masyarakat tradisional seperti masyarakat petani memiliki kecendrungan untuk munculnya pemberontakan otonom dan berlangsung lama (1986 : 73). James C. Scott (dalam edisi Indonesia 2000 : 40) juga menyebutkan bahwa kecendrungan perlawanan kelompok petani (tradisional) lebih menampakkan diri dalam model perlawanan yang normal atau biasa-biasa saja atau dalam istilah Scott adalah perlawanan sehari-hari, perlawanan jarang sekali muncul dalam bentuk yang sporadis dan menggunakan kekerasan.

Marc Bloch dalam bukunya French Rural History seperti dikutip Scott (2000 : 38) menggambarkan perjuangan petani sebagai berikut ;

(48)

yang kuat oleh masyarakat-masyarakat desa selama bertahun-tahun akan lebih banyak mendatangkan hasil daripada percikan-percikan gelora seketika itu.”

Scott berpendapat bahwa perlawanan kaum tani tidak muncul dalam bentuk pembangkangan yang terang-terangan secara kolektif melainkan dengan menggunakan senjata biasa dari kelompok tak berdaya seperti, melakukan pencurian makanan, menipu, berpura-pura patuh, pura-pura bodoh, membakar, melakukan sabotase dan sebagainya (2000 : 40). Bentuk-bentuk perlawanan ini biasanya memiliki karakter tidak memerlukan koordinasi dan perencanaan, lebih merupakan bentuk kerjasama pribadi dan secara cerdas menghindari setiap konfrontasi simbolis langsung dengan pemegang kekuasaan.

(49)

2.4. Saminisme

Saminisme bertama kali disebarkan oleh Samin Surosentiko (Soerjanto Sastroatmodjo, 2003 : 7). Samin Surosentiko dilahirkan pada tahun 1859 dengan nama Raden Kohar di desa Ploso Kedhiren Randublatung Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau yang di kemudian hari dikenal dengan nama Samin Sepuh. Raden Kohar menggunakan nama Samin Surosentiko, menurut Murbandono (dalam Sinar Harapan, 5 Februari 2005) untuk mendekatkan diri dengan rakyat kecil, karena nama Samin adalah nama untuk golongan rakyat kecil.

(50)

lainnya yang berbentuk keharusan membayar pajak dan kerja tanpa upah. (dalam Amrih Widodo).

Pada tahun 1907 tepatnya pada tanggal 8 November, Samin Surosentiko diberi gelar Prabu Panembahan Suryangalam (Raja yang menyinari alam). Pemberian gelar ini menurut Morbandono dapat digunakan untuk melihat bahwa gerakan Saminisme juga memiliki kesamaan dengan beberapa gerakan perlawanan rakyat lainnya di Pulau Jawa, yaitu merupakan gerakan mesianis atau gerakan Ratu Adil.

Selanjutnya, Soerjanto Sastroatmodjo (2003 : 11) menyebutkan ada tiga unsur dalam gerakan Saminisme, yaitu;

1. Gerakan Saminisme ini merupakan gerakan yang mirip dengan organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonialisme dengan kekuatan agraris terselubung.

2. Aktivitas dari Saminisme merupakan aktivitas berkelanjutan, gerakan ini bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok.

3. Tantangan terhadap pemerintah yang ditampakkan oleh Saminisme adalah dengan prinsip “diam”, tidak bersedia membayar pajak dan tidak bersedia menyumbangkan tenaga untuk negera.

Sedangkan dari buku berjudul Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah yang ditulis oleh Titi Mumfangati dan kawan-kawan (2004) merumuskan lima ajaran pokok Saminisme, yaitu;

1. Agama adalah senjata atau pegangan hidup.

2. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan irihati, dan jangan mengambil hak milik orang lain

3. Bersikap sabar dan jangan sombong

4. Manusia harus memahami kehidupannya sebab hidup hanya satu dan akan dibawa abadi selamanya.

(51)

Buku ini nampaknya berupaya menghindari realitas sosial dan politik yang mengitari keberadaan Saminisme, cenderung membahas hal-hal yang sifatnya normatif.

Ada kata-kata yang sangat terkenal yang diucapkan oleh Samin Surosentiko ketika berceramah di tanah lapang di Desa Bapangan Blora, ia mengatakan bahwa tanah Jawa bukan milik Belanda, melainkan milik wong Jowo, maka tidak perlu membayar pajak, justru sang pemiliklah yang harus memanfaatkannya. (Murbandono, Sinar Harapan 5 Februari 2005). Ajaran-ajaran perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas dan tidak adil secara detail ditulis Samin Surosentiko dalam sebuah kitab Serat Jamus Kalimasada. Namun menurut Sastroatmodjo (2003 : 12) serat ini jatuh ke tangan pejabat Belanda dan dimusnahkan, hingga sulit untuk melacak ajaran perlawanan Saminisme, namun sebagian masih dapat ditelusuri dari tembang macapatan dan juga dari salinan serat tersebut yang masih disimpan penduduk.

(52)

Begitupun dengan kehidupan berpolitik masyarakat Samin cenderung masih dimarjinalkan.

Pada masa setelah kemerdekaan keberadaan masyarakat Samin kerapkali mengalami penyangkalan dari pemerintah, terjadi penghilangan identitas yang dilakukan secara sistematis. Hal ini dilakukan untuk mengurangi potensi perlawanan yang mungkin timbul kembali dalam masyarakat Samin (Amrih Widodo dalam Basis nomor 09-10, 2000). Menurut Amrih rasionalisasi dari penghilangan identitas kultural masyarakat Samin dikemukakan dengan alasan bahwa masyarakat Samin telah bertingkah laku secara normal dan mengambil bagian dalam program pemerintah. Padahal sesuai dengan ajaran dasar Saminisme, mereka akan selalu melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak adil dan semena-mena.

(53)

2.5. Studi - Studi Terdahulu

Untuk menambah ketajaman penelitian, maka penulis merasa perlu menjadikan penelitian-penelitian terdahulu sebagai referensi dalam upaya mencapai tujuan penelitian secara baik. Penelitian-penelitian terdahulu yang dijadikan referensi adalah penelitian-penelitian yang membahas mengenai perlawanan politik masyarakat petani, serta dalam kajiannya terfokus pada budaya politik dan atau perilaku politik.

Setelah melakukan penelusuran ada beberapa penelitian terdahulu yang sesuai untuk dijadikan referensi bagi penelitian ini, penelitian-penelitian tersebut yaitu penelitian James C. Scott yang dituliskan dalam buku Weapons of the Weak : Everyday Forms of Peasant Resistence terbit tahun 1985 dan diterjemahkan ke

dalam bahasa Indonesia oleh Zainuddin Rahman, Sajogjo dan Mien Joobhaar pada tahun 2000 dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian perilaku politik dan kehidupan keseharian masyarakat petani yang ada di Kampung Sedaka Malaysia. Scott dalam penelitiannya menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha mendeskripsikan pola-pola perlawanan petani dalam bentuk-bentuknya yang sederhana terhadap para pemilik modal dan juga terhadap negara. Scott juga memaparkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Sedaka dengan merinci tingkat kepemilikan lahan dan pola hubungan antara petani pemilik lahan dan petani penggarap.

(54)

yang sifatnya berusaha mempersulit pemegang kekuasaan. Sebagai contoh Scott memberi gambaran mengenai perlawanan petani Sedaka terhadap kebijakan modernisasi yang dilakukan pemerintah. Rakyat sedaka membangun gerbang desa yang berguna untuk menghalangi datangnya truk dan juga traktor, begitu pula dengan kebijakan-kebijakan untuk mengubah lahan pertanian juga dilawan oleh petani dengan perlawanan yang tidak langsung atau secara terselubung.

Perlawanan politik para petani menurut pengamatan Scott juga muncul dalam percakapan sehari-hari mereka, yang menciptakan istilah-istilah yang berkonotasi negatif terhadap kekuasaan, seperti istilah kedekut (kikir) untuk orang-orang yang berkuasa tetapi tidak memiliki kepedulian pada para petani.

Penelitian yang sama-sama menggunakan pendekatan etnografi juga dilakukan oleh Anna Lowenhaupt Tsing yang melakukan kajian sosial politik terhadap masyarakat Dayak Meratus di Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Laporan penelitian ini didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Di Bawah Bayang-Bayang ratu Intan : Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat terasing. Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1998.

(55)

Meratus juga melakukan interaksi politik dengan pihak luar termasuk dengan pemerintah. Meski pada masa pemerintahan Belanda masyarakat Meratus sama sekali tidak mendapatkan pendidikan tetapi dalam kesadaran mereka mereka mengetahui bahwa Belanda bukanlah pihak yang menguntungkan, hingga mereka melakukan perlawanan ketika dipaksa untuk ikut berkebun karet mereka menolak, begitupun saat masa Orde Lama dan Orde Baru mereka melakukan perlawanan dengan mengabaikan anjuran-anjuran pemerintah termasuk di dalamnya anjuran program keluarga berencana (KB).

Dalam partisipasi politik konvensional mereka juga masih cenderung berusaha menutup diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan politik, seperti pemilihan umum atau upaya membentuk pemerintahan desa. Tetapi perubahan sosial terjadi seiring dengan perkembangan masyarakat yang dipengaruhi oleh proses interaksi dengan pihak luar akibat dari berkembangnya sarana transportasi. Meski demikian, dalam sikap politik mereka, masyarakat Meratus cenderung merasa terpisah dari sistem politik yang ada. Mereka tetap merasakan keterasingan meski telah terjadi interaksi dengan berbagai pihak .

(56)

Penelitian mengenai orientasi dan perilaku politik dengan pendekatan sejarah dilakukan oleh Kuntowijoyo. Penelitian Kuntowijoyo ini mengenai sejarah perlawanan politik masyarakat tradisional di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Penelitian ini tersarikan dalam sebuah artikel berjudul Mitos Politik Dalam Historiografi Tradisional : Kasus Kaliwungu dan Serat Cebolek yang dipublikasikan dalam kumpulan tulisan Kuntowijoyo yang berjudul Radikalisasi Petani diterbitkan oleh Bentang tahun 1994 (cetakan kedua). Penelitian ini menggunakan dokumentasi-dokumentasi sejarah politik di tiga daerah tersebut baik yang ditulis oleh rakyat kecil maupun yang ditulis oleh penguasa. Temuan menarik dalam penelitian ini adalah perlawanan politik masyarakat lokal setempat yang dengan berani menentang keputusan penguasa terkait dengan pemimpin yang diangkat penguasa.

Masyarakat lokal di Brebes menggantikan pejabat daerah yang diangkat pemerintah dan mengangkat seorang tokoh (Kyai Sathori) menjadi pejabat pilihan mereka. Hal serupa juga terjadi di Tegal, rakyat mengangkat Kyai Abu Suja’i sebagai pejabat pilihan mereka. Dalam penelitian ini Kuntowijoyo menemukan hubungan antara faktor agama dan politik. Agama telah menjadi motif yang kuat bagi masyarakat untuk melakukan perlawanan politik terhadap penguasa. Selanjutnya permasalahan agama juga telah menjadi pemicu dari konflik-konflik vertikal di tiga daerah tersebut.

(57)

kuliah di Fakultas Hukum Unair dalam Basis nomor 09-10 tahun 2000). Temuan yang paling menarik dalam kajian ini adalah temuan yang menyatakan bahwa sikap dan perilaku masyarakat Samin adalah pembuktian keaslian dan kelokalan pancasila sekaligus menjadi asal-usul pancasila.

Secara umum penelitian-penelitian terdahulu memiliki persamaan dengan penelitian ini. Namun juga terdapat perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini. Pada umumnya pendekatan heuristik (historis) sangat mempengaruhi penelitian terdahulu, sedangkan pada penelitian ini sangat menekankan aspek kekinian. Selanjutnya penelitian-penelitian terdahulu sangat mengandalkan data dari dokumen sedangkan penelitian ini mengandalkan data primer dari hasil wawancara dan pengamatan lapangan. Pada sisi lain kekhususan penelitian ini adalah penggunaan pendekatan etnografi untuk memahami fenomena politik. Padahal sangat jarang ditemui penelitian dengan pendekatan etnografi untuk menguraikan fenomena politik.

2.6. Kerangka Pemikiran

(58)

Bagan 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Masyarakat Samin

Identitas Sosial, Ekonomi Dan Politik

Tipe budaya dan perilaku politik dan faktor yang mempengaruhi

Penelitian ini memiliki sasaran yaitu masyarakat Samin khususnya yang bermukim di wilayah administratif Kecamatan Randublatung dam Banjarejo Kabupaten Blora. Masyarakat Samin sebagai bentuk kolektivitas tentu memiliki identitas seperti dikemukakan oleh Eisenstadt (edisi Indonesia 1986). Identitas-identitas tersebut antara lain identitas sosial,

(59)

politik dan juga budaya. Identitas-identitas tersebut tidaklah terbentuk secara alamiah melainkan karena ada faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain struktur sosial ekonomi, sistem politik, faktor kesejarahan masyarakat Samin dan juga tatanan budaya.

Masyarakat Samin secara kultural, politik dan sosial memiliki banyak keunikan dibanding masyarakat lainnya. Namun, sebagai manusia tentu masyarakat Samin juga tergolong mahluk sosial dan mahluk politik, karena dari zaman ke zaman mereka melakukan interaksi dengan sistem politik yang ada, baik pada masa kolonial maupun pada masa-masa pasca kolonial. Tentu proses interakasi dengan sistem politik serta struktur politik memunculkan pola-pola perilaku politik khas masyarakat Samin dan juga tipe budaya politik.

(60)

orientasi politik dan sikap politik terdapat perbedaan. Orientasi berisikan pengetahuan dan pandangan politik yang masih bersifat umum sedangkan sikap politik lebih merupakan kecenderungan yang membentuk perilaku politik (lihat penjelasan Almond dan Verba serta Ramlan Surbakti). Sikap Politik masyarakat Samin yang ini diketahui meliputi sikap terhadap sistem politik dan juga terhadap partai politik atau lembaga infrastruktur politik lainnya. Juga akan diuraikan mengenai bagaimana tipe partisipasi politik masyarakat Samin.

Pengumpulan data mengenai orientasi dan sikap politik tidak akan dilepaskan dengan pertautan sejarah politik nasional, yaitu proses perubahan politik secara nasional. Maka, penggalian data akan dikaitkan dengan urutan sejarah politik nasional.

Gambar

Tabel 1. Hubungan kesamaan dan ketidaksamaan antara budaya politik dan struktur politik
Tabel 2 Kelurahan/Desa yang ada di wilayah Kecamatan Banjarejo beserta
Tabel 3. Kelurahan/Desa di wilayah Kecamatan Randublatung beserta perincian jumlah penduduk
Tabel 4 Alokasi penggunaan lahan di Desa Klopo Duwur tahun 2002
+7

Referensi

Dokumen terkait

akan mempengaruhi perilaku politik seseorang dalam kegiatan politiknya.. Keenam , faktor kepribadian seseorang juga mempengaruhi perilaku politik. Perilaku politik itu bergantung

Kecenderungan untuk melakukan perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam berbagai kehidupan sosial ekonomi, sosial politik maupun sosial budaya, terbatas pada

Partisipasi politik merupakan kegiatan seseorang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik yaitu dengan jalan memilih pemimpin negara secara langsung atau

1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologi mempengaruhi perilaku konsumen, hendaknya para pengembang perumahan betul-betul

Berdasarkan penjelasan-penjelasan ter- sebut, nilai budaya siri’na pacce dapat mempengaruhi perilaku korupsi dikarenakan individu akan bekerja secara maksimal

Penelitian ini mendiskusikan tentang perilaku pemilih yang mempengaruhi perubahan suara partai politik pada pemilu legislatif 2009, 2014, dan 2019. Pendalaman partai politik

Intervensi 'pembangu­ nan ekonomi dan pOlitik diperkirakan telah memasuki datar,an, kehidupan para pengikut tarekat, dan bukan mustahil telah menyentuh sendi dasar

Jadi politik etnis dan politik kekeluargaan yang menjadi sumber perilaku politik masyarakat pedesaan di pedalaman Barito Selatan yang berhasil diidentifikasi di sini ialah kekuatan adat