• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PUSAT INVESTASI DAN PENETAPAN H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVALUASI PUSAT INVESTASI DAN PENETAPAN H"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PUSAT INVESTASI, DAN PENETAPAN HARGA

TRANSFER

Dosen

Dra. Endang Dwi Retnani, MSi, Ak

Nama Kelompok 6 :

Jillyana Rosa Dwi Aryati ( 1510109347 / 09 )

Danik Athul Fitria ( 1510109475 / 18 )

Putri Agustin ( 1510109755 / 43 )

Frida Salsabiela ( 1510109777 / 46 )

AKUNTANSI/IV-SA2/AKUNTANSI MANAJEMEN

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA

SURABAYA

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini yang berjudul “Evaluasi Pusat Invesatasi, dan Penetapan Harga Transfer”.

Makalah ini disusun dengan tujuan utama untuk menyelesaikan tugas mata Pelajaran Akuntansi Manajemen. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah dan Terima kasih juga kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pengalaman dan ilmu yang dimiliki masih terbatas dan terdapat banyak kekurangan sehingga penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.Namun penulis tetap bersyukur karena dengan bimbingan dan bantuan semua pihak, makalah ini dapat diselesaikan.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ...I

Kata Pengantar ...I

Daftar Isi ...II

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...1 1.2 Tujuan Penelitian...1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengukuran Tingkat Kinerja Pusat Investasi...2 2.1.1 Menggunakan ROI

... 2

2.1.2 Menggunakan Laba Residu

... 6

2.1.3 Menggunakan EVA

... 8

2.2 Penentuan Harga Transfer...11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...16

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum, sebuah perusahaan diatur menurut garis-garis pertanggungjawaban. Bagan organisasi tradisional dengan bentuk piramidanya mengilustrasikan garis pertanggungjawaban yang mengalir dari CEO turun melewati wakil direktur menuju manajer madya dan manajer yang lebih rendah.

Dalam suatu perusahaan yang organisasinya telah dibagi-bagi menjadi pusat-pusat laba, transfer barang atau jasa antar pusat laba tersebut menimbulkan masalah penentuan harga transfer, karena masing-masing pusat laba diukur kinerjanya berdasarkan laba, sehingga setiap transfer barang atau jasa antar pusat laba akan berdampak terhadap laba masing-masing pihak yang terkait.

Masalah penentuan harga transfer dijumpai dalam perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat-pusat laba, dan antara pusat laba yang dibentuk terjadi transfer barang atau jasa. Latar belakang timbulnya masalah harga transfer dapat dihubungkan dengan proses diferensiasi bisnis dan perlunya integrasi dalam organisasi yang telah melakukan diferensiasi bisnis.

1.2 Tujuan Masalah

1. Mampu menghitung dan menjelaskan imbal hasil atas investasi (return on investment – ROI), laba residu dan nilali tambah ekonomi (economic value add – EVA ;

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengukuran Tingkat Kinerja Pusat Investasi

Laporan atas kinerja ekonomi unit usaha agak berbeda-beda. Laporan-laporan manajemen dibuat bulanan atau kuartalan sementara laporan kinerja ekonomi biasanya dibuat dengan selang waktu yang tidak tetap, biasanya sekali dalam selang beberapa tahun, dan juga laporan manajemen cenderung menggunakan informasi historis atas biaya aktual yang terjadi, sedangkan laporan-laporan ekonomi menggunakan informasi yang cukup berbeda.

Laporan ekonomi merupakan instrumen diagnostik. Laporan tersebut memberi indikasi apakah strategi unit usaha yang sekarang sudah memuaskan dan jika tidak, keputusan apa yang harus diambil untuk unit usaha tersebut (memperbesar, memperkecil, mengubah arah, atau menjualnya).

Perbedaan yang paling nyata antara kedua jenis laporan tersebut adalah bahwa laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas dimasa depan daripada profitabilitas yang sekarang atau yang lalu. Return on asset, return on equity, dan residual income. Teknik perhitungannya adalah sebagai berikut:

Gross profit margin=Gross profit Sales

Operating profit margin=Operating profit Sales

Net profit margin=Earning after tax

Sales

ROA

=

Earning after tax

Total asset

ROE

=

Earning after tax

Total equity

2.1.1

Pengukuran Kinerja Pusat Investasi Dengan Menggunakan ROI Pengembalian atas Investasi (Imbal hasil atas Investasi)

(6)

ROI = Laba Operasi / Aktiva Operasi Rata-rata

Laba operasi (operation income) mengacu pada laba sebelum bunga dan pajak. Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tanah, gedung, dan peralatan. Gambaran aktiva operasi rata-rata dihitung sebagai berikut.

Aktiva operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buuku bersih akhir)/2

Margin dan Perputaran

Cara kedua untuk mengitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba operasi/aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.

ROI = Margin x perputaran

= Laba operasi x Penjualan _____ Penjualan Aktiva operasi rata-rata

Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini menunjukkan jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Hal ini menyatakan laba operasi yang dihasilkan dari setiap penjualan. Hal ini menyatakan bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba. Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendaptan penjualan dengan aktiva operasi rata-rata. Perputaran menunjukkan jumlah penjualan yang dihasilkan dari setiap dollar yang diinvestasikan dalam aktiva operasi.

Anggaplah, sebagai contoh, Cemilar Company memperoleh laba operasi tahun lalu seperti ditunjukan pada laporan laba ru berikut.

Penjualan $480.000

Beban pokok penjualan 222.000

Margin kotor $258.000

Beban penjualan dan administrasi 210.000

Laba operasi $ 48.000

(7)

Asset operasi rata-rata = ( asset awal + asset akhir ) /2

= ($277.000 + $323.000) /2

= $300.000

Margin = laba operasi / penjualan = $48.000/$480.000 = 0,10 atau 10% Perputaran = penjualan / asset operasi rata-rata = $480.000/$300.000 = 1,6

ROI = margin x perputaran = 0,10 x 1,6 = 0,16 atau 16% Atau ROI = Laba operasi/asset operasi rata-rata = $48.000/$300.000

Meskipun kesua pendekatan menghasilkan ROI yang sama, perhitungan margin dan perputaran mampu memberikan informasi berharga kepada seorang manajer.

Keunggulan ROI

Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI.

1. ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi.

2. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.

3. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi.

Kelemahan Pengukuran ROI

Penekanan yang berlebihan pada ROI dapat menghasilkan pemikiran yang sempit. Berikut dua aspek negative ROI yang sering disebutkan.

1. ROI mengakibatkan focus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan.

2. ROI mendorong para manajer untuk focus pada kepentingan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Contoh latihan 10-7 Margin, Perputaran, ROI, Aktiva operasio Rata-rata Perusahaan seere menyediakan laporan laba rugi berikut untuk tahun lalu,

Penjualan $ 240.000

Dikurangi : beban variable 195.000

Margin konstribusi $ 45.000

Dikurangi : beban tetap 37.800

Laba bersih $ 7.200

Pada awal tahun lalu, seere memiliki $78.650 dalam aktiva operasi. Pada akhir tahun, seere memiliki aktiiva opersi sebesar $81.350.

Diminta :

1. Hitunglah aktiva operasi rata rata!

(8)

Diketahui :

Pada awal tahun lalu, Seere memiliki $78.650 dalam aktiva operasi. Pada akhir tahun, Seere memiliki aktiva operasi sebesar $81.350 .

Jawab :

1. Menghitung Aktiva Operasi Rata-rata

Aktiva Operasi Ratarata=aktiva awal+aktiva akhir 2

= $78.650 + $81.350 = $80.000 2

2. Menghitung Margin, Rasio Perputaran tahun lalu, dan ROI

ROI = Margin x Rasio Perputaran = 0,03 x 3

aktiva operasi ratarata=

(9)

Atau ROI= laba operasi

Aktiva operasi rata rata =

$7.200

$80.000=0,09atau9

2.1.2

Pengukuran Kinerja Pusat Investasi Dengan Menggunakan Laba Residu

Untuk mengatasi kecendurungan ROI untuk menghalangi investasi menguntungkan perusahaan, beberapa perusahaan telah menerapkan alternatif ukuran kinerja seperti laba residu. Nilai tambah ekonomi adalah cara alternatif untuk menghitung laba residu yang saat ini digunakan di sejumlah perusahaan.

Laba Residu

Laba residu adalah perbedaan antara laba operasi dan pengembalian dollar minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.

Laba residu = Laba operasi – (Tingkat pengembalian minimum x aktiva operasi rata – rata)

Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama dengan burdle rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih besar dari nol, divisi memperoleh lebih banyak tingkat tingkat pengembalian minimum. Jika laba residu kurang dari nol, divisi memperoleh lebih sedikit pengembalian minimum. Akhirnya laba residu yang sama dengan nol menunjukkan divisi memperoleh tepat sama dengan tingkat pengembalian minimum.

a. Keunggulan Laba Residu

Menurunkan ROI menyebabkan laba perusahaan terbebani. Laba residu sebagai ukuran kinerja akan mencegah kerugian yang terjadi. Dengan menggunakan perbandingan laba residu divisi menunjukkan perbeadaan antara dua kelompok dan penggunaan laba residu mendorong para manajer untuk menerima proyek apapun yang menghasikan tingkat di atas minimum.

b. Kelemahan Laba Residu

(10)

Contoh Perhitungan Laba Residu : PT Nusa Satu

PT Nusa Satu memiliki total assets Rp 10.000 yang dibiayai dari hutang jangka panjang Rp 6.000 dan dari modal sendiri Rp 4.000. Biaya hutang jangka panjang 20%, biaya modal sendiri 24%, dan pajak perseroan 40%. Perhitungan rugi-laba pada akhir tahun adalah sebagai berikut:

Perhitungan Pusat Laba

Pajak perseroaan (40% X Rp 2.550)

Keterangan tabel di atas: Laba Residu adalah NOPAT dikurangi biaya modal; NOPAT = Laba Operasi x (1 –T) = Rp 3.750 x 0,6 = (Rp 2.250 – Rp 1680) = Rp 570

k adalah biaya modal rata-rata tertimbang:

k = kb(1-T)(B/V) + ks(S/V)

= [0,20(1-0,40)(6.000/10.000)] + 0,24(4.000/10.000)

= 0,072 + 0,096

= 0,168 atau 16,8%

(11)

laba operasi bersih lebih besar daripada biaya modalnya. Perhitungan nilai tambah perusahaan dapat dihitung:

Nilai perusahaan yaitu laba operasi bersih dibagi biaya modal yaitu sebesar (Rp 2.250 / 0,168) = Rp 13.393. Sedangkan nilai assets sebesar Rp 10.000, jadi nilai perusahaan lebih besar dari nilai assetsnya, maka perusahaan mempunyai nilai lebih atau nilai lebihnya positif sebesar Rp 3.393. Besarnya negatif nilai lebih dapat dihitung dari laba residu dibagi biaya modal yaitu (Rp 570 / 0,168) = Rp 3.393.

2.1.3

Pengukuran Kinerja Pusat Investasi Dengan Menggunakan EVA Nilai Tambah Ekonomi

Nilai Tambah ekonomi adalah laba bersih (laba operasi dikurangi pajak) dikurangi total biaya modal tahunan. Pada dasarnya nilai tambah ekonomi (EVA) merupakan laba residu dengan biaya modal sama dengan biaya modal akrual dari perusahaan ( sebagai ganti dari suatu tingkat pengembalian minimum yang diinginkan perusahaan karena alasan lainnya). Jika EVA positif maka perusahaan sedang menciptakan kekayaan. Jika negative maka perusahaan sedang menyia – nyiakan modal.

Sebagai suatu bentuk dari laba residu, EVA adalah suatu bentuk satuan dolar, bukan suatu tingkat persentase pengembalian. Akan tetapi, EVA juga menghasilkan tingkat pengembaliann seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih (pengembalian) dengan modal yang dipakai. Inti EVA adalah penekanan pada laba bersih operasi dan biaya akrual dari modal.

a. Menghitung EVA

EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurang biaya modal yang dipakai. Biaya modal yang dipakai adalah presentase aktual dari biaya modal dikali dengan total modal yang dipakai. Persamaan EVA dinyatakan sbb.

EVA = laba operasi _ presentase biaya x Total modal Setelah pajak modal aktual yang dipakai

(12)

Sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong jenis perilaku yang sesuai dari berbagai divisi dengan menunjukkan menekanan semata-mata pada pendapatan operasi tidaklah mencukupi. Alasan yang mendasarnya adalah EVA mengandalkan biaya modal yang sebenarnya.

Kebaikan Economic Value Added (EVA) :

1. Manajer pusat investasi cenderung menerima investasi yang menurut ROI tidak menguntungkan ROI sehingga tidak diterima walaupun secara perusahaan keseluruhan menguntungkan.

2. Memungkinkan penggunaan cost of capital yang berbeda-beda pada jenis aktiva.

Kelemahan Economic Value Added (EVA)

Economic Value Added kurang informatif karena tidak dinyatakan dalam rasio sehingga sulit digunakan sebagai alat pembanding. Jadi, jika sebuah perusahaan di mana pendapatan dalam satu periode hanya mampu menutupi beban operasional dan beban bunga serta membayar dividen pemegang saham, maka pada periode itu perusahaan gagal menciptakan nilai tambah.

Mengapa perusahaan lebih memilih ROI :

1. ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari rasio ini.

2. ROI mudah dihitung dan mudah dipahami, sangat berarti dalam pengertian absolute.

ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa mempedulikan ukuran dan jenis usahanya.

Contoh 10-9 Biaya Rata-rata Tertimbang atas Modal,EVA

Schipper company memiliki laba operasi setelah pajak tahun lalu sebesar $115.000. Dua sumber pendanaan digunakan oelh perusahaan ; $1,3 juta berapa obligasi hipotek dengan 8% bunga dan $700.000 dalam saham biasa yang dianggap tidak lebih atau kurang berisiko dibanding saham lainnya. Tingkat pengembalian obligasi jangka panjang pemerintah adalah 6%. Perusahaan Schipper membayar suatu tingkat pajak marginal sebesar 30%. Total modal yang dipakai adlah 1,5 juta.

Diminta :

1. Berapa biaya setelah pajak obligasi hipotek? 2. Berapa biaya setelah pajak saham biasa?

3. Berapakah biaya rata-rata tertimbang atas modal bagi schipper? 4. Berapakah biaya dolar atas modal bagi schipper?

(13)
(14)

Jawab :

1. Menghitung biaya setelah pajak obligasi hipotek

Biaya setelah pajak obligasi hipotek = ( 1- tarif pajak )(bunga obligasi hipotek) = (1-0,3)(0,08)

= 0,056 2. Menghitung biaya setelah pajak saham biasa

Biaya setelah pajak saham biasa = 0,06 + 0,06 = 0,12

3. Menghitung biaya rata-rata tertimbang atas modal bagi schipper

Jumlah dollar persentase x Biaya setelah pajak = Biaya tertimbang Obligasi hipotek

Saham biasa $1.300.000$ 700.000 0,650,35 0,0560,120 0,03640,0420

Total $2.000.000 Biaya rata rata tertimbang 0,0784

4. Menghitung biaya dolar atas modal bagi schipper

Biaya modal = total modal x biaya rata rata tertimbang atas modal

= $1.500.000 x 0,0784

= $117.600

5. Menghitung EVA untuk schipper dan mengetahui apakah schipper menciptakan kekayaan atau tidak

Laba operasi setelah pajak $ 115.000 Dikurangi : biaya modal $ 117.600 $ (2.600)

(15)

2.2

Penentuan Harga Transfer

Ketika divisi diperlakukan sebagai pusat pertanggungjawaban, divisi tersebut dievaluasi berdasarkan laba operasi, pengembalian atas investasi dan laba residu atau EVA. Jadi, nilai barang yang ditransfer merupakan pendapatan bagi divisi yang menjual dan biaya bagi divisi yang membeli. Nilai atau harga internal disebut harga transfer. Dengan kata lain harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi penjualan pada divisi pembeli di perusahaan yang sama.

Pada banyak organisasi yang terdesentralisasi, keluaran dari salah satu devisi digunakan sebagai pemasukan pada devisi lainnya. Hal ini menimbulkan persoalan akuntansi. Bagaimana cara menilai barang-barang yang ditransfer? Ketika devisi-devisi diperlakukan sebagi pusat pertanggungjawaban,devisi tsb dievaluasi berdasarkan laba operasi ,imbal hasil atas investasi dan laba residua tau EVA. Jadi, nilai barang yang ditransfer merupakan pendapatan bagi devisi yang menjual dan biaya bagi devisi yang membeli. Nilai ini atau harga internal disebut harga transfer (transfer price). Dengan kata lain, harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh devisi penjual pada devisi pembeli diperusahaan yang sama. Penetapan harga transfer merupakan masalah yang rumit. Dampak dari harga transfer terhadap devisi-devisi dan perusahaan secara keseluruhan,serta metode penetapn harga transfer akan dibahas pada bagian berikut.

1. Dampak Penetapan Harga Transfer terhadap Divisi dan Perusahaan secara Keseluruhan

Ketika suatu divisi menjual pada divisi lain, kedua divisi tersebut dan perusahaan secara keseluruhan mendapat pengaruhnya. Harga yang dikenakan untuk barang yang ditransfer memengaruhi biaya divisi pembeli dan pendapatan divisi penjual. Artinya, laba kedua divisi tersebut, sebagaimana juga evaluasi dan kompensasi para manajer mereka, dipengaruhi oleh harga transfer.

(16)

1. Kebijakan Penetapan Harga Transfer

Perusahaan yang terdesentralisasi memungkinkan lebih banyak wewenang pengambilan keputusan di tingkat manajemen yang lebih rendah. Dalam penyusun sebuah kebijakan penetapan harga transfer, pandangan dari divisi penjualan dan divisi pembelian harus dipertimbangkan. Pendekatan biaya peluang mencapai tujuan tersebut dengan mengidentifikasi harga minimum yang ingin diterima divisi penjualan dan harga maksimum yang ingin dibayar oleh divisi pembeli. Harga maksimum dan minimum tersebut sesuai dengan biaya transfer internal.

Berikut harga yang ditetapkan:

1. Harga transfer minimum adalah harga transfer yang akan membuat keadaan divisi penjual tidak menjadi lebih buruk jika barang dijual pada divisi internal daripada dijual pada pihak luar. Hal ini terkadang disebut “batas bawah (floor)” dari rentang penawaran.

2. Harga transfer maksimum adalah harga transfer yang akan membuat keadaan divisi pembeli tidak menjadi lebih buruk jika suatu input dibeli dari devisi internal daripada jika barang yang sama dibeli secara eksternal. Hal ini terkadang disebut “batas atas (ceiling)” dari rentang penawaran.

Beberapa kebijakan penetapan harga transfer digunakan dalam praktik. Kebijakan penetapan harga transfer ini mencakup harga pasar, harga transfer berdasarkan biaya, dan harga transfer yang dinegosiasikan.

Harga Pasar

Jika tersedia, harga pasar adalah pendekatan terbaik untuk penetapan harga transfer. Karena divisi penjual mampu menjual barangnya pada harga pasar, transfer internal pada harga yang lebih rendah dari harga pasar akan mengakibatkan divisi tersebut merugi. Divisi pembeli yang selalu mampu membeli barang pada harga pasar untuk barang yang ditransfer secara internal.

Harga Transfer Berdasarkan Biaya

(17)

dengan kepadatan tinggi untuk matras dari tempat tidur lipat tersebut dan perusahaan luar tidak memproduksi matras semacam ini dengan ukuran yang sesuai. Jika perusahaan telah menetapkan kebijakan penetapan harga transfer berdasarkan biaya, maka divisi matras akan membebankan biaya penuh mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan bagian dari overhead tetap. Tiga bentuk penetapan harga transfer berdasar biaya:

 biaya penuh meliputi biaya bahan langsung. biaya tenaga kerja langsung. biaya overhead variabel. dan bagian biaya overhead tetap.

 biaya penuh ditambah markup  biaya variabel ditambah biaya tetap.

Keunggulan cara ini adalah kesederhanaan dalam perhitungan. sedang

kelemahannya adalah merusak insentif dan mengubah ukuran kinerja. Keputusan dalam Transfer Pricing :

n Biaya Penuh Standar Variable costing

Harga Activity Based

Costing Transfer

Harga Pasar

Harga Transfer yang Dinegosiasikan

Akhirnya, manajemen tingkat atas nisa mengizinkan manajer divisi pembeli dan penjual untuk menegosiasikan harga transfer. Secara khusus, pendekatan ini berguna saat kondisi pasar tidak sempurna, seperti kemampuan divisi di dalam perusahaan untuk menghindari biaya penjualan dan distribusi. Dalam hal ini, biaya yang dihemat bisa dibagi di antara dua divisi.

Kelemahan harga transfer yang dinegosiasikan :

(18)

 Ukuran-ukuran kinerja mungkin terganggu oleh ketrampilan negosiasi dari para manajer.

 Negosiasi dapat menghabiskan waktu dan sumber daya yang besar. Keunggulan harga transfer yang dinegosiasikan adalah harga transfer yang dinegosiasikan menawarkan harapan untuk melengkapi ketiga kriteria kesesuaian tujuan, otonomi dan akurasi evaluasi kinerja.

Berikut ini akan diberikan kasus singkat yang akan menggambarkan masalah transfer pricing apabila digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja divisi dalam perusahaan.

PT. ABC diasumsikan mempunyai dua divisi yaitu divisi penjual dan divisi pembeli, data-data berikut akan menggambarkan lebih lanjut mengenai aktivitas dari dua divisi :

Divisi penjual akan menghasilkan 3.000 unit dengan harga jual Rp. 1.200 dimana 1.000 unit untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan eksternal perusahaan. Selanjutnya akan dihitung jumlah marjin kontribusi untuk masing-masing divisi.

Produk dijual ke luar oleh divisi penjual

Pendapatan penjualan (2.000 [email protected]/unit) Rp.1.200.000 Biaya Variabel (2.000 [email protected]/unit) (800.000) Marjin kontribusi Rp. 1.600.000

Produk dijual ke dalam oleh divisi penjual

Pendapatan penjualan (1.000 [email protected]/unit) Rp.1.200.000 Biaya Variabel (1.000 [email protected]/unit) (400.000) Marjin kontribusi Rp. 800.000

(19)

Marjin Kontribusi divisi pembeli pada harga transfer Rp. 2.000

Pendapatan penjualan (1.000 [email protected]/unit) Rp.2.600.000 Biaya Variabel (1.000 [email protected]/unit) (800.000) Harga Transfer (1.000 [email protected]/unit) (2.000.000)

Marjin kontribusi Rp. 200.000

(20)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan, banyak perusahaan memilih desentralisasi. Inti desentralisasi adalah kebebasan pengambilan keputusan. Perusahaan yang terdesentralisasi membentuk pusat pertanggung jawaban. Empat pusat pertanggung jawaban adalah pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat rugi. Hasil-hasil aktual dari setiap pusat pertanggung jawaban bisa dibandingkan dengan aktual yang diharapkan.

ROI adalah rasio laba operasi terhadap aktiva operasi rata-rata. Rasio ini dapat dibagi dalam dua komponen: margin (rasio laba operasi terhadap penjualan) dan perputaran (rasio penjualan terhadap aktiva operasi rata-rata). Laba residu adalah perbedaan antara laba dan tingkat pengembalian minimum yang diminta perusahaan dikalikan dengan modal yang dipakai. EVA sangat mirip dengan laba residu, tetapi laba setelah pajak dan presentasi aktual dari biaya modal digunakan dalam perhitungan.

Pengembalian atas investasi adalah ukuran kinerja manajer yang paling lazim pada unit-unit desentralisasi. Pengembalian atas investasi mendorong manajer untuk memperhatikan perbaikan profitabilitas divisinya melalui peningkatan penjualan, pengendalian biaya, dan pemanfaatan aktiva secara efisien. Sayangnya, ukuran kinerja ini juga dapat mendorong manajer meningkatkan ROI dengan mengorbankan manfaat jangka panjang demi manfaat jangka pendek.

(21)

EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurangi total biaya modal tahunan. Jika EVA positif, perusahaan menciptakan kekayaan. Jika negatif, maka perusahaan merusak modalnya. EVA adalah dalam satuan dolar, bukan presentase tingkat pengembalian. Fitur utama dari EVA adalah penekanan pada laba operasi setelah pajak dan biaya modal aktual. Para investor menyukai EVA karena menghubungkan laba dengan jumlah sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapainya.

(22)

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah dalam perancangan “ Pusat Perdagangan dan Komunitas Barang Antik di Surabaya ” ini adalah menciptakan pusat bertemunya seluruh pemegang kepentingan

•Pembangunan jaringan ekstension backbone hingga ke pusat pertumbuhan dan pusat kegiatan utama Konektivitas Antar Koridor Ekonomi. •Memperlancar arus pengiriman barang dan jasa

• Perdagangan barang dan jasa, aliran modal dan dana antar negara  pertukaran mata uang antar negara yang pada akhirnya akan menimbulkan pertukaran mata uang antar negara 

Ketika barang-barang kiriman dari kantor pusat telah terjual kepada pihak eksternal, maka bagian dari laba belum direalisasi yang tercatat pada buku kantor pusat yang berkaitan

Harga Transfer adalah harga barang/jasa yg ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam perusahaan, meliputi semua bentuk alokasi biaya dari divisi ke divisi lain, & harga

Barang atau jasa substitusi merupakan barang atau jasa yang dapat menggantikan produk sejenis. Adanya produk atau jasa pengganti akan membatasi jumlah laba

Apabila barang telah laku dijual oleh cabang, maka laba yang diakui oleh kantor pusat disamping selisih antara harga jual cabang dengan harga dinota, juga

PPMPI Pusat Pengembangan Manajemen Pengadaan Indonesia salah satu LPP Lembaga Pelaksana Pelatihan yang sudah terdaftar di LKPP Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah,