KEPADATAN DAN DISTRIBUSI KEPITING BAKAU (Scylla spp)
SERTA HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR FISIK KIMIA
DI PERAIRAN PANTAI LABU
KABUPATEN DELI SERDANG
T E S I S
Oleh
ROSMANIAR
067030020/BIO
S
E K O L A H
P A
S C
A S A R JA
NA
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KEPADATAN DAN DISTRIBUSI KEPITING BAKAU (Scylla spp)
SERTA HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR FISIK KIMIA
DI PERAIRAN PANTAI LABU
KABUPATEN DELI SERDANG
T E S I S
Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Program Studi Biologi
Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
ROSMANIAR
067030020/BIO
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : KEPADATAN DAN DISTRIBUSI KEPITING BAKAU (Scylla spp) SERTA HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR FISIK KIMIA DI PERAIRAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG
Nama Mahasiswa : Rosmaniar Nomor Pokok : 067030020 Program Studi : Biologi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus, MSc) (Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi Direktur
(Dr. Dwi Suryanto, M.S) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)
Telah diuji pada
Tanggal 17 September 2008
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus, M.Sc
ABSTRAK
Penelitian mengenai Kepadatan dan Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp) serta Hubungannya dengan Faktor Fisik Kimia di Perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang telah dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2008. Sampel diambil dari tiga stasiun pengamatan dan setiap stasiun dilakukan 30 kali ulangan. Titik pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Sampel diambil dengan bubu dan indentifikasi dilakukan di Laboratorium Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Hasil penelitian didapatkan kepiting bakau sebanyak 2 spesies yakni Scylla oceanica dan Scylla serrata yang berasal dari 1 genus. Nilai kepadatan tertinggi terdapat pada spesies Scylla serrata sebesar 4,70 ind/m2 (stasiun III) dan terendah sebesar 2,32 ind/m2 (stasiun II).
Nilai indeks keanekaragaman kepiting bakau berkisar antara 0,52 – 0,61 dan keseragaman (ekuitabilitas) (E) berkisar 0,74 – 0,88. Indeks distribusi Scylla oceanica berkelompok dan Scylla serrata berkelompok. Hasil analisis korelasi dengan uji Pearson, antara kepadatan kepiting bakau dengan faktor fisik kimia, orthofosfat, koefisien korelasi searah sangat nyata (+) 1,000**. Sedangkan salinitas berkorelasi berlawanan (-) 0, 995.
Dengan mengacu kepada baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan dengan Surat Keputusan No. 51 Tahun 2004 didapatkan bahwa hasil pengukuran parameter faktor fisika kimia air ini masih berada dalam ambang batas ditolerir dan layak untuk kehidupan kepiting mangrove.
ABSTRACT
The research of “The Density and Distribution of Mangrove Crab’s (Scylla spp) and its correlation to chemical and physic water factors in Pantai Labu Estuary, Deli Serdang District, Pantai Labu Sub district was done on January until March 2008. The sample was taken in three ways research system, each system is holding in 30 times. The taking sample system decided by using Purposive Random Sampling. Sampling was taken by using Crab’s net 30’s and identified in laboratory of Natural and Environmental Resources Management Mathematic and Natural Science Faculty of North Sumatra University.
The result showed by getting two species of mangrove crab found. Those species are: Scylla oceanica and Scylla serrata comes from one gent. Scylla serrata had the highest density in 4,70 ind/m2 and getting in third way system while the lowest density in 2,32 ind/m2 getting in second way system.
The diversity index prints of mangrove crabs between 0,52 – 0,61 and equitabilities (E) is between 0,74-0,88. The final result of correlation analysis of Pearson test between density of Scylla seratta and chemical factor. The comrades of correlation of orthofosfat coefficient is clear (+) 1,000**, while salinity of contrast correlation (-) 0,995.
Dealing to basic quality of water the sea which decided by the minister of environment in decree No. 51/2000. In this statement get the result of parameter measurement of the chemical and physic water factor is still tolerant rate and appropriate for the life of mangrove crabs.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang, atas berkat dan kasih karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Kepadatan dan Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp) serta Hubungannya dengan Faktor Fisik dan Kimia di Perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus, M.Sc sebagai dosen pembimbing I, dan Ibu Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS sebagai dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan selama penulis melaksanakan penelitian sampai selesainya penyusunan hasil penelitian ini:
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc sebagai Ketua Program Studi Magister Biologi Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan dan Dosen Penguji.
2. Prof. Dr. Zulkifli Nasution, M.Sc, Ph.D sebagai Dosen Penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam penyempurnaan hasil penelitian ini. 3. Seluruh Dosen dan Pengajar di Sekolah Pascasarjana Program Studi Biologi
4. Gubernur Sumatera Utara dan Ketua Bappeda Sumatera Utara Medan yang telah memberikan beasiswa kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi S2 pada Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 5. Suami Jonatas Marpaung yang tercinta, dan anak-anak tersayang David Junior,
Bronson, Puji Aprilia dan Tommy Clinton.
6. Ayahanda Lettu Pol (Purn) MB. Siallagan dan Ibunda E. Br Hutapea dan abang Salmon Marpaung SH, Dr. Bolovian Siallagan yang mewakili semua abang dan adik Ipda Pol Agusman Siallagan, Pince Marpaung.
7. Bapak Drs. H. Paimin, Kepala SMA Negeri 19 Medan dan semua guru keluarga besar SMA Negeri 19 Medan yang telah memberikan dorongan kepada penulis. 8. Teman-teman dalam tim penelitian dan adik-adik mahasiswa S1 Departemen
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi kasih-Nya dalam kita mengejar ilmu dan semoga hasil ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih
Medan, Juli 2008 Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Padang Sidimpuan, Sumatera Utara pada tanggal 12 Februari 1961. Adapun riwayat pendidikan penulis adalah sebagai berikut:
1. Sekolah Dasar (SD) Negeri Bangun Bandar Dolok Masihul Kabupaten Deli Serdang dari tahun 1967-1973.
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang dari tahun 1973-1976.
3. Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang, dari tahun 1976-1980.
4. Tingkat Sarjana (S1) Jurusan Biologi IKIP Negeri Medan, dari tahun 1980-1984 (Memperoleh gelar Dra).
5. Tahun 2006 mendapat kesempatan belajar pada Sekolah Pascasarjana USU Program Studi Biologi, dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Medan.
Riwayat pekerjaan adalah sebagai berikut:
1. Dari Tahun 1985-1987 sebagai pengajar di SMP dan SMA Swasta Mariana Medan.
2. Dari tahun 1988-1990 sebagai CPNS/PNS guru pada SMA Negeri Indrapura, Kabupaten Asahan.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp) 6 2.1.1 Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla spp) ... 6
2.1.2 Ciri-ciri Morfologi Kepiting Bakau ... 7
2.1.3 Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp) ... 8
2.1.4 Perbedaan Morfologi Jantan dan Betina Kepiting Bakau (Scylla spp) ... 10
2.2 Habitat dan Perkembangannya Kepiting Bakau ... 11
2.3 Siklus Hidup Kepiting Bakau ... 12
2.4 Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp)... 13
2.5 Makanan dan Kebiasaan Makan ... 14
2.7 Parameter Fisik, Kimia Air dan Substrat terhadap
Perkembangan Kepiting Bakau... 16
III : DESKRIPSI AREA ... 24
3.1 Deskripsi Area... 24
3.2 Deskripsi Stasiun Pengamatan ... 24
IV : BAHAN DAN METODE ... 26
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 26
4.2 Metode Penelitian ... 26
4.3 Pengambilan Sampel... 26
4.4 Pengukuran Parameter Fisik Kimia Perairan dan Substrat... 27
4.5 Analisis Data ... 31
V : HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35
5.1 Analisa Faktor Fisik Kimia Perairan... 35
5.2 Jenis-Jenis Kepiting Hasil Penelitian ... 45
5.3 Nilai Kepadatan Populasi (ind/m2), Kepadatan Relatif (%), dan Frekuensi Kehadiran FK (%) ... 48
5.4. Nilai Kepadatan Relatif (KR%) dan Frekuensi Kehadiran (FK%) ... 50
5.5 Nilai Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman ... 52
5.6 Indeks Similaritas... 53
5.7 Nilai Distribusi Morista ... 54
5.8 Analisis Korelasi antara Beberapa Parameter Abiotik Perairan terhadap Indeks Kepadatan Kepiting Bakau... 55
VI : KESIMPULAN DAN SARAN ... 58
6.1 Kesimpulan ... 58
6.2 Saran ... 59
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1. Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp) ... 10 4.1. Satuan dan Tempat Pengukuran Parameter Fisik Kimia
Perairan ... 31 5.1. Faktor Fisik Kimia Perairan, Rata-rata, Nilai yang Diperoleh
pada Setiap Sasiun Penelitian di Perairan Muara Pantai Labu
Kabupaten Deli Serdang... 35 5.2. Klasifikasi Kepiting Bakau Hasil Penelitian ... 45 5.3. Hasil Penangkapan Kepiting Bakau... 47 5.4. Nilai Kepadatan Populasi (KP ind/m2), Kepadatan Relatif
(KR%) dan Frekuensi Kehadiran (FK%) di Setiap Stasiun
Pengamatan Penelitian ... 48 5.5. Nilai KR dan FK dan Nilai Kepadatan Relatif dan Frekuensi
Kehadiran yang Terdapat pada Masing-masing Stasiun
Penelitian ... 51 5.6. Nilai Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman (E’) pada
Setiap Pengamatan Penelitian ... 52 5.7. Indeks Similaritas (IS) Antar Stasiun Penelitian ... 54 5.8. Nilai Indeks Distribusi Morista pada Seluruh Pengamatan
pada Ketiga Stasiun Penelitian ... 54 5.9. Nilai Analisis Korelasi Pearson antara Kepadatan Populasi
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1. Morfologi Kepiting Bakau (Dilihat dari Dorsal) ... 7
2.2. Morfologi Kepiting Bakau (Dilihar dari Ventral) ... 8
2.3. Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp)... 9
2.4. Perbedaan Kepiting Jantan dan Kepiting Betina... 11
2.5. Siklus Hidup Kepiting Bakau... 12
5.1. Scylla Oceanica... 46
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
A. Peta Lokasi Penelitian ... 65
B. Badan Kerja Metode Winker untuk Pengukuran DO... 66
C. Bagan Kerja Metode untuk Pengukuruan BOD5... 67
D. Prosedur Analisa Sampel Air ... 68
E. Hasil Analisa Laboratorium ... 70
F. Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut Kep.Men. LH. No. 51/2004 ... 71
G. Contoh Sketsa Bubu Kepiting ... 73
H. Stasiun Tempat Penelitian ... 74
I. Gambar Bubu Kepiting ... 75
J. Tabel Hasil Penangkapan pada Ketiga Stasiun Pengamatan... 76
K. Contoh Hasil Perhitungan ... 77
L. Analisis Korelasi Pearson dengan Program SPSS versi 14.00... 79
I. PENDAHULUAN
1.5Latar Belakang
Kawasan Pantai Labu, merupakan daerah estuaria dengan zona transisi antara dua lingkungan perairan, air asin dari laut selat Malaka dan air tawar dari sungai Pantai Labu. Lingkungan muara sungai dari pantai tersebut terdiri dari vegetasi mangrove.
Pada daerah tertentu di muara Pantai Labu didapati areal pemukiman penduduk dan aktivitas perekonomian diantaranya kegiatan perikanan (tangkap dan budidaya), pertanian dan pariwisata. Selain dimanfaatkan untuk perekonomian, wilayah pesisir juga digunakan sebagai tempat membuang limbah dari berbagai aktivitas manusia, baik dari darat maupun di kawasan pesisir itu sendiri. Kegiatan tersebut memberikan dampak yang tidak diharapkan dari kondisi biofisik pesisir yang dikenal sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Namun wilayah pesisir juga kerap mendapat tekanan ekologis berupa pencemaran yang bersumber dari aktivitas manusia. Melimpahnya bahan pencemar tersebut di wilayah pesisir merupakan ancaman yang serius terhadap kelestarian perikanan laut.
air laut secara fisik maupun biologis. Menurut Dahuri (2004) pencemaran dapat berasal dari limbah yang dibuang oleh berbagai kegiatan pembangunan seperti tambak dan pemukiman. Berbagai kegiatan-kegiatan tersebut merupakan sumber pencemaran di Pantai Labu, berakibat pada organisme perairan, terutama bentos diantaranya adalah kepiting atau hewan Arthropoda.
Ditinjau dari sudut pandang ekologi, kawasan pesisir merupakan sebuah ekosistem alami yang terbentuk puluhan tahun yang silam. Di samping fauna juga terdapat berbagai flora seperti bakau (Rhizophora sp), api-api (Avicenna sp), pedada (Sonneratia sp), tanjang (Bruguiera sp), nyirih (Xylocarpus sp), tengar (Ceriops sp), buta-buta (Exoecaria sp) yang umumnya dijumpai di pesisir Indonesia. Adanya tumbuhan mangrove memberi perlindungan dan dukungan bagi kehidupan fauna di dalamnya (Dahuri, 2004).
Fauna mangrove hidup pada substrat dengan cara berendam dalam lubang lumpur, berada di permukaan substrat, ataupun menempel pada perakaran pepohonan. Ketika air surut mereka turun untuk mencari makan. Peristiwa pasang surut membantu terjadinya proses dekomposisi melalui pelapukan.
Ketersediaan berbagai jenis biota laut seperti kepiting, ikan, udang, kerang dan berbagai jenis lainnya terdapat pada ekosistem hutan tropik yang khas, tumbuh di sepanjang pantai atau muara serta dipengaruhi oleh pasang surut dengan variasi lingkungan yang besar dari hutan mangrove. Kawasan hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif dan berpotensi tinggi untuk dimanfaatkan. Telah disadari bahwa kawasan hutan mangrove bukan sekedar penghasil sumberdaya hutan, tetapi juga sangat berperan dalam menunjang sumberdaya perikanan. Nontji (2005) dan Mulya (2000) menyatakan salah satu hasil perikanan pantai bernilai ekonomi tinggi dan mendiami ekosistem mangrove adalah kepiting bakau (Scylla spp).
Kepiting bakau mempunyai nilai ekonomi tinggi karena sangat digemari masyarakat dan termasuk salah satu diantara komoditas perikanan penting di wilayah Indo Pasifik. Hewan ini memiliki daging dan telur dengan kandungan protein yang cukup tinggi (Delman, 1972 dalam Noor et al, 1992).
Penelitian mengenai kepiting bakau masih sedikit dilakukan, informasi mengenai keberadaannya seolah hilang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan informasi dan data-data mengenai aspek ekologis terutama menyangkut kehidupan kepiting bakau yang terkait dengan aspek budidaya di masa depan. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian kepadatan dan distribusi kepiting bakau (Scylla spp) serta hubungannya dengan faktor fisik kimia di perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.
1.6Permasalahan
1. Bagaimana hubungan berbagai aktifitas masyarakat terhadap kepadatan dan distribusi kepiting bakau di perairan Pantai Labu, khususnya di daerah aliran tambak, muara, dan mangrove.
2. Bagaimana hubungan sifat fisik kimia perairan, terhadap kepadatan dan distribusi kepiting bakau khususnya di daerah aliran tambak muara dan mangrove.
1.7Tujuan Penelitian
1.8Manfaat
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Sebagai informasi awal mengenai kepadatan kepiting bakau (Scylla spp) dan distribusinya serta hubungannya dengan faktor fisik dan kimia air di kawasan muara Pantai Labu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1Klasifikasi dan Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp)
Kepiting bakau (Scylla spp) di berbagai daerah dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Jawa mengenalnya dengan nama kepiting saja, sedangkan Sumatera, Singapura dan Malaysia dikenal dengan nama kepiting batu, kepiting cina dan kepiting hijau. Kepiting bakau juga lebih dikenal dengan nama kepiting lumpur (Kasry, 1996).
2.1.1 Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla spp)
Famili Portunidae merupakan famili kepiting bakau yang mempunyai lima pasang kaki. Pasangan kaki kelima berbentuk pipi dan melebar pada ruas terakhir. Klasifikasi kepiting bakau (Scylla spp) menurut (Kasry, 1996) adalah sebagai berikut: Filum : Arthropoda
Kelas : Crustaceae Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
2.1.2 Ciri-ciri Morfologi Kepiting Bakau
Deskripsi kepiting bakau (Scylla spp) menurut Moosa et al. (1985), karapas pipih atau agak cembung berbentuk heksagonal atau agak persegi. Bentuk ukuran bulat telur memanjang atau berbentuk kebulatan, tepi anterolateral bergigi lima sampai sembilan buah. Dahi lebar terpisah dengan jelas dari sudut intra orbital, bergigi dua sampai enam buah, sungut kecil (antennulae) terletak melintang atau menyerong, pasangan kaki terakhir berbentuk pipih menyerupai dayung, terutama dua ruas terakhir, dan mempunyai tiga pasang kaki jalan. Morfologi kepiting bakau dapat dilihat pada Gambar 2.1 dan Gambar 2.2.
Carapace
Sumber: www.hk-fish.net/eng/database.crabs/stovetural-htm
Sumber: www.hk-fish.net/eng/database.crabs/stovetural-htm
Gambar 2.2. Morfologi Kepiting Bakau (Dilihat dari Ventral)
2.1.3 Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp)
Moosa, et al, (1985) membagi genus Scylla spp dalam tiga spesies dan satu varian, antara lain Scylla serrata (First crab), Scylla oceanica (dana), Scylla transquabarica (Fatricius) dan Scylla serrata var paramamosin.
a. Scylla serrata, warna hijau coklat sampai kemerah-merahan seperti karat.
b. Scylla oceanica, warna kehijauan menuju keabu-abuan hampir seluruh bagian tubuh kecuali bagian perut.
c. Scylla transquebarica, berwarna kehijauan buah zaitun agak hitam dengan sedikit garis coklat pada kaki renangnya.
Ketiga spesies dan satu varian dapat dilihat pada Gambar 2.3 sebagai berikut:
Scylla oceanica Scylla serrata
Scylla tranquebarica Scylla serrata var paramamosin
Gambar 2.3. Jenis Kepiting Bakau (Scylla spp)
Tabel 2.1. Morfologi Kepiting Bakau (Scylla spp)
Dalam Dalam Tidak begitu
dalam
Betina Jantan
Sumber: www.hk-fish.net/eng/database.crabs/stovetural-htm
Gambar 2.4. Perbedaan Kepiting Jantan dan Kepiting Betina
2.2Habitat dan Perkembangannya Kepiting Bakau
Menurut Kasry (1996) kepiting bakau dalam menjalani hidupnya beruaya dari perairan pantai keperairan laut, kemudian induk dan anak-anaknya berusaha kembali ke perairan pantai, muara, sungai, atau daerah hutan mangrove untuk berlindung, mencari makan dan membesarkan diri. Arriola (1940) dan Hill (1974) dalam Kasry (1996) menyatakan kepiting bakau melangsungkan perkawinan di perairan bakau dan secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan telurnya yang betina akan beruaya ke laut menjauhi pantai mencari perairan yang kondisinya cocok untuk melakukan pemijahan, sedang kepiting jantan yang melakukan perkawinan atau yang telah dewasa akan tetap berada di perairan bakau, tambak, sela-sela akar bakau atau paling jauh di sekitar perairan pantai yaitu pada bagian-bagian perairan berlumpur yang makanannya berlimpah.
perairan yang dalam dan mengikuti periode bulan, khususnya bulan-bulan yang baru dengan jarak ruaya yang tidak lebih dari satu kilometer dari pantai.
2.3Siklus Hidup Kepiting Bakau
Menurut Budiraharjo, et al. (1991), pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, kepiting dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3-4 tahun. Pada umur 12-14 bulan kepiting sudah dianggap dewasa dan dapat dipijahkan. Sekali memijah kepiting mampu menghasilkan jutaan telur.
Menurut Boer, et al. (1993) kepiting bakau (Scylla spp) terjadi beberapa fase dalam pertumbuhannya, antara lain fase zoea, megalopa, kepiting muda dan selanjutnya kepiting dewasa. Selain itu, jenis kepiting ini juga mengalami beberapa kali proses pergantian kulit (moulting). Setiap proses tubuhnya akan tumbuh menjadi lebih besar. Selama siklus hidupnya kepiting bakau menempati dua macam habitat yaitu air payau masa juvenil (kepiting muda) sampai dewasa, dan air laut masa pemijahan sampai megalova, seperti Gambar 2.5 berikut ini:
Menurut Kasry (1996) berdasarkan daur hidup kepiting bakau dalam menjalani kehidupannya diperkirakan melewati berbagai kondisi perairan. Pada saat pertama kali kepiting ditetaskan, suhu air laut umumnya berkisar 25OC-27OC dan salinitas 290/00-330/00 dan secara gradual salinitas dan suhu air ke arah pantai akan
semakin rendah. Kepiting muda yang baru berganti kulit dari megalova yang memasuki muara sungai dapat mentolerir salinitas air yang rendah (10-240/00).
Tingkat zoea berlangsung lebih kurang 3-4 hari berganti kulit sebelum menjadi tingkat selanjutnya. Tingkat megalova berlangsung selama 11-12 hari pada salinitas 29-33% sebelum berganti kulit menjadi tingkat kepiting pertama. Bila salinitas air lebih rendah (210/00-270/00), periode megalova di alam bergerak ke arah pantai
memasuki perairan payau (brackish water).
2.4Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp)
Menurut Kasry (1996), kepiting bakau tersebar pada perairan berkondisi tropis. Daerah sebarannya meliputi wilayah Indo-Pasifik, mulai dari pantai Selatan dan Timur Afrika Selatan. Mozambik, terus ke Iran, Pakistan, India, Srilanka, Bangladesh, pulau-pulau di Lautan Hindia, negara-negara ASEAN, Kamboja, Vietnam, Cina, Jepang, Taiwan, dan Philipina. Juga ditemukan di Lautan Pasifik mulai dari kepulauan Hawai di Utara sampai ke Selandia Baru dan Australia di Selatan.
crabs (Kordi, 1997). Kepiting bakau merupakan kepiting yang bisa berenang dan
hampir terdapat di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove juga daerah tambak air payau atau muara sungai. Kepiting bakau dalam menjalani kehidupannya beruaya dari perairan pantai ke perairan laut, kemudian induk dari anak-anaknya berusaha kembali ke perairan pantai, muara, sungai, atau daerah hutan mangrove untuk berlindung, mencari makan atau membesarkan diri (Kasry, 1996).
2.5Makanan dan Kebiasaan Makan
Dalam hutan mangrove biasanya kepiting bakau yang lebih besar menyerang kepiting yang lebih kecil, dan melumpuhkannya dengan merusak umbai-umbai, kemudian merusak karapas menjadi potongan-potongan dan mengambil bagian-bagian yang lunak dari mangsanya untuk dimakan. Menurut Arriola (1940) dalam Moosa et al. (1985) kepiting bakau adalah organisme pemakan segala bangkai (omnivorous – scavenger) dan pemakan sesama jenis (cannibal).
tersebut dimasukkan ke mulut dengan menggunakan kedua sapitnya. Waktu makan kepiting bakau tidak tertentu, tetapi malam hari lebih aktif mencari makanan daripada siang hari karena kepiting tergolong hewan nokturnal yang aktif di malam hari.
Sirait (1997) mengatakan larva kepiting lebih bersifat pemakan plankton, khususnya larva tingkat zoea. Makanan terdiri dari berbagai jenis organisme planktonik seperti diatom, chlorella, rotifer, larva echinodermata, larva berbagai moluska dan cacing.
2.6Ekologi Wilayah Pesisir
Menurut Supriharyono (2000) batasan wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia yaitu batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atas batasan terluar dan daerah paparan benua. Ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi oleh erosi aliran air tawar maupun proses kegiatan manusia baik berupa penggundulan hutan dan pencemaran.
Nybakken (1992) mengatakan, perbedaan antara pesisir pantai dengan perairan lepas pantai benar-benar mencolok. Produktivitas perairan pantai sepuluh kali produktivitas perairan lepas pantai. Hal ini disebabkan terutama oleh tingginya kadar zat hara dalam perairan pantai bila dibandingkan perairan lepas pantai.
berbagai hutan mangrove terumbu karang dan rumput laut. Kawasan ini berada diantara daratan dan lautan, karena menunjukkan ciri-ciri berbeda dengan daratan (Ongkosongo, et al. 1990).
Dari sebagian besar garis pesisir pantai Sumatera merupakan hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan nama kolektif untuk vegetasi pohon yang menempati pantai berlumpur. Fauna dalam endapan berlumpur menunjukkan keragaman yang cukup besar. Makhluk yang paling banyak terdapat pada hamparan lumpur adalah kepiting bakau (Mackinnon, et al. 2000).
2.7Parameter Fisik, Kimia Air dan Substrat terhadap Perkembangan Kepiting Bakau
Kepiting bakau di hutan mangrove menempati habitat yang berbeda-beda berdasarkan stadia pertumbuhan dan penyebaran hidupnya. Untuk dapat mengetahui kekhususan habitat kepiting bakau perlu diketahui pertumbuhan kepiting bakau dari parameter fisik kimia air dan substrat dimana organisme itu berada, antara salinitas, suhu (suhu air), derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan kandungan bahan organik (Kasry, 1996).
2.7.1 Salinitas
berpengaruh terhadap setiap fase kehidupan kepiting bakau, terutama pada saat moulting.
Queensland Departement of Primary Industries (1989), melaporkan walaupun
kisaran salinitas ideal untuk pertumbuhan kepiting bakau, belum dapat ditentukan, namun diketahui bahwa larva zoea sangat sensitif dengan kondisi perairan yang bersanilitas rendah. Kasry (1996), mengatakan sebaliknya kepiting bakau dewasa kawin dan mematangkan telurnya pada perairan yang mempunyai salinitas 150/00–
290/00 walaupun belum diketahui pengaruh salinitas terhadap pertumbuhannya.
Queesland Departement of Primary Industries (1989) menyebutkan
perubahan salinitas mempengaruhi sifat fungsional dan struktur organisme kepiting bakau (Scylla spp) dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan salinitas. (Anwar et al. 1984) menyatakan, kepiting bakau akan mengubah konsentrasi cairan tubuhnya
sesuai dengan lingkungannya melalui kombinasi proses osmosis dan difusi. (Soim, 1999) kisaran salinitas yang sesuai bagi kepiting adalah 10-300/00 atau digolongkan ke
dalam air payau.
2.7.2 Derajat Keasaman (pH)
terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Menurut Wahyuni dan Ismail (1987) dalam Sirait (1997) kepiting bakau dapat hidup pada kondisi perairan asam yaitu
daerah yang bersubstrat lumpur dengan pH rata-rata 6,5. Soim (1999) mengatakan pH yang sesuai untuk kepiting berkisar antara 7,2-7,8, sedangkan menurut Kasry (1996), pH yang baik untuk kepiting adalah 7,0-8,0.
2.7.3 Kandungan Oksigen Terlarut atau Disolved Oxygen (DO)
Silih bergantinya masuknya air laut dan air tawar ke dalam perairan estuaria, bersama-sama dengan kedangkalannya, pengadukannya dan pencampurannya oleh angin, biasanya menyebabkan persediaan oksigen cukup di dalam perairan tersebut (Nybakken, 1992). Disolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut ini merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali, dibutuhkan untuk respirasi bagi sebagian besar organisme air. Oleh sebab itu kelarutan oksigen dalam air sangat dipengaruhi oleh suhu. Kelarutan maksimum oksigen dalam air terdapat pada suhu 0oC, yaitu sebesar 14,6 mg/liter O2 (Barus, 2001). Menurut Kordi (1997), kepiting
dapat hidup pada perairan yang memiliki kandungan oksigen terlarut lebih dari 4 mg/liter.
2.7.4 Biochemical Oxygen Demand (BOD)
mencapai kurang lebih 70% (Wardhana, 2001). Karena kebutuhan oksigen biologis adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik yang ada dalam perairan tersebut, maka nilai konsentrasi BOD menunjukkan suatu kualitas perairan yang masih tergolong baik, apabila konsumsi oksigen selama periode lima hari berkisar sampai 5 mg/liter O2. Apabila konsumsi
oksigen berkisar antara 10-20 mg/liter O2 menunjukkan tingkat pencemaran oleh
materi organik tinggi (Bower, et al. 1990).
2.7.5 Chemical Oxygen Demand (COD)
Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan jumlah total oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi semua bahan organik di perairan. Pengukuran COD dilakukan karena dalam bahan sering ditemukan bahan-bahan yang tidak dapat terurai secara biologis dan hanya dapat diuraikan secara kimiawi. Kadar COD yang tinggi dapat mempengaruhi berkurangnya mikroorganisme perairan (Bower, 1990).
2.7.6 Nitrit (NO2 – N)
2.7.7 Nitrat (NO3 – N)
Nitrat adalah zat nutrisi yang merupakan produk akhir dari penguraian mikroorganisme. Mikroorganisme mengoksidasi amonium menjadi nitrit dan akhirnya menjadi nitrat, penguraian ini dikenal sebagai nitrifikasi (Borneff, 1982)
2.7.8 Fosfat
Fosfat merupakan nutrient yang paling penting dalam menentukan produktivitas perairan. Keberadaan fosfat di perairan dengan segera dapat diserap oleh bakteri, fitoplankton dan makrofita (Stickney, 1979).
2.7.9 Suhu
Menurut Nontji (2005), suhu merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian kelautan. Data suhu dimanfaatkan untuk mempelajari gejala-gejala fisik di dalam laut serta kaitannya dengan kehidupan hewan atau tumbuhan. Menurut Hill et al. (1989) dan Queensland Department of Primary Industries (1989), suhu mempengaruhi pertumbuhan, aktivitas dan nafsu makan
et al. (1989) bahwa di Perairan Estuaria St. Lucia Afrika Selatan, kepiting bakau
didapatkan pada kisaran suhu 24oC-28oC, di perairan hutan mangrove ujung Alang, Cilacap kepiting bakau didapatkan pada kisaran suhu 26,5oC-35oC (Hutasoit, 1991).
2.7.10 Kecerahan
Selama periode pasang surut maupun pada periode pasang naik menunjukkan bahwa adanya perbedaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan waktu, di mana pada waktu pasang surut pengaruh daratan lebih dominan sehingga tingkat kecerahannya lebih rendah sedangkan pada waktu pasang naik laut memiliki kecerahan lebih tinggi berpengaruh terhadap kondisi perairan, juga dipengaruhi oleh adanya limbah yang menutupi permukaan perairan sehingga dapat menghalangi penetrasi cahaya (Nontji, 2005).
2.7.11 Pasang Surut
2.7.12 Padatan Terlarut Total atau Total Dissolved Solid (TDS)
Nilai Padatan Terlarut Total mencerminkan banyaknya zat-zat padat yang terlarut dalam suatu contoh air, semakin tinggi jumlah zat padat yang terlarut dalam air maka sifat transparansi air akan berkurang sehingga menurunkan produktivitas air (Levinton,1982). Semakin tinggi zat-zat padat terlarut dalam air akan mengakibatkan kekeruhan. Kekeruhan dapat terjadi karena organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan ekstrak senyawa-senyawa organik, serta tumbuh-tumbuhan (Barus, 1996).
2.7.13 Kadar Minyak dan Lemak
Menurut Miller (1995) tinggi-rendahnya kadar minyak di perairan dipengaruhi oleh arus air laut dan banyaknya pencemaran yang terjadi di sekitar pantai dari hutan mangrove. Bila diperhatikan kadar minyak yang ditemukan baik pada periode pasang surut maupun pada periode pasang naik berfluktuasi.
2.7.14 Kandungan Bahan Organik
III. DISKRIPSI AREA
3.3Deskripsi Area
Kawasan Muara Pantai Labu terletak di Desa Pantai Labu Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara secara geografis berada 30o40,9” LU dan 98o54’30,7” BT. Sebelah Utara Muara Pantai Labu, berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Sergai, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Beringin, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Batang Kuis (Badan Pusat Statistik, 2005).
Penelitian ini dilakukan di kawasan Muara Pantai Labu, sebagian besar di Muara Sungai dan di daerah perairan mangrove di mana sepanjang pantai ditumbuhi vegetasi mangrove. Perairan ini banyak dipergunakan untuk kegiatan masyarakat seperti tempat permukiman, pertambakan, dan tempat pertambatan kapal-kapal nelayan (Peta Lokasi dapat dilihat di Lampiran A).
3.4Diskripsi Stasiun Pengamatan
Titik olah (objek) penelitian ditentukan di kawasan Perairan Pantai Labu. Ditetapkan 3 stasiun pengamatan, antara lain:
2. Stasiun II, berada di sekitar muara Sungai Pantai Labu, tepatnya berada pada sekitar daerah pariwisata, dengan tipe substrat dasarnya berlumpur dan pasir halus.
IV. BAHAN DAN METODE
4.6Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Perairan Pantai Labu Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Maret 2008.
4.7Metode Penelitian
Metode yang digunakan untuk penentuan lokasi dan dalam pengambilan sampel dengan menggunakan Purposive Random Sampling pada tiga stasiun pengamatan antara lain: Stasiun I di daerah aliran tambak dan pemukiman dan penambatan kapal nelayan, Stasiun II di kawasan muara sungai, Stasiun III di kawasan hutan mangrove.
4.8Pengambilan Sampel
dilakukan 9 jam, mulai jam 20.00 WIB sampai jam 05.00 WIB. Sampel yang didapat dikelompokkan menurut ciri-ciri morfologi yang sama dan dihitung jumlah dari masing-masing jenis. Setiap jenis kepiting bakau diambil beberapa ekor sebagai sampel, lalu dimasukkan ke plastik yang berisi larutan formalin 10% sebagai pengawet dan diberi label. Identifikasi dilakukan Laboratorium Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL) Departemen Biologi Fakultas Matematik Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan acuan Watanabe (1996).
4.9Pengukuran Parameter Fisik Kimia Perairan dan Substrat
Setelah diperoleh sampel kepiting bakau (Scylla spp), pengukuran parameter fisik kimia perairan dan substrat dilakukan di lapangan. Untuk fraksi substrat dilakukan dengan cara mengambil sampel substrat, lalu di kering anginkan, dan dibawa ke Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara untuk dianalis berdasarkan persentase ukuran butiran. Pengukuran dilakukan sesuai komposisi penempatan bubu.
1. Suhu
2. Kecerahan
Kecerahan diukur dengan menggunakan keping seechi yang dimasukkan ke dalam badan air sampai keping seechi tidak kelihatan dan diukur panjang talinya yang masuk ke dalam air.
3. Jenis Substrat
Jenis Substrat ditentukan dengan cara mengambil sampel substrat dari dasar perairan, dibawa ke Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara untuk ditentukan fraksi substratnya.
4. pH (Derajat Keasaman)
pH diukur dengan menggunakan pH meter dengan cara memasukkan pH meter ke dalam sampel air yang diambil dari dasar perairan sampai pembacaan pada alat konstan dan dibaca angka yang tertera pada pH meter tersebut.
5. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut (DO) diukur dengan menggunakan metode winkler. Sampel air diambil dari dasar perairan dan dimasukkan ke dalam botol winkler, dilakukan pengukuran oksigen terlarut (Lampiran B).
6. BOD5
Pengukuran BOD5 dilakukan dengan menggunakan metoda winkler. Sampel
air yang diambil dari dasar perairan dimasukkan ke dalam botol winkler. Analisis BOD5 dilakukan di Laboratorium PSDAL Departemen Biologi Universitas
7. Chemical Oxygen Demand (COD)
Pengukuran COD dilakukan dengan metoda refluks di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
8. Kandungan Organik Substrat
Diukur dengan menggunakan metoda analisis abu, substrat diambil, ditimbang sebanyak 100 g dan dimasukkan ke dalam oven suhu 45oC sampai beratnya konstan (2-3 hari). Substrat yang kering digerus di lumpang dan dimasukkan kembali ke dalam oven dan dibiarkan selama 1 jam pada suhu 45oC agar substrat benar-benar kering. Substrat ditimbang 25 g dan diabukan dalam tanur dengan suhu 700oC selama 3,5 jam. Substrat yang tertinggal ditimbang berat akhirnya, dan dihitung kandungan organik substrat dengan rumus:
%
Analisis di Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara. 9. TDS (Total Disolved Solute)
10.Kandungan Amoniak (N-NH3)
Sampel air diambil dari perairan dengan menggunakan botol sampel. Pengukuran amoniak dilakukan dengan metoda spektofotometri di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
11.Kandungan Nitrat (N-NO3)
Sampel air diambil dari perairan dengan menggunakan botol sampel. Pengukuran nitrat dilakukan dengan metoda spektofotometri di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
12.Kandungan Nitrit (N-NO2)
Sampel air diambil dari perairan dengan menggunakan botol sampel. Pengukuran nitrit dilakukan dengan metoda spektofotometri di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
13.Kandungan Klorida (Cl)
Sampel air diambil dari perairan dengan menggunakan botol sampel. Pengukuran klorida dilakukan dengan metoda titrimetri di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
14.Kandungan Minyak dan Lemak
15.Kandungan Fosfat
Sampel air diambil dari perairan dengan menggunakan botol sampel. Kandungan fosfat diukur dengan metoda spektrofotometri di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan.
Satuan dan tempat pengukuran parameter fisik kimia perairan dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Satuan dan Tempat Pengukuran Parameter Fisik Kimia Perairan
Parameter Metode dan Alat Ukur Lokasi
Fisik
1. Kepadatan
3. Frekwensi Kehadiran (FK)
100 4. Indeksi Keanekaragaman Shanon – Wienner (H’)
Dengan : H = Indeks Keanekaragaman Shannon – Wienner
Pi = ni/N (Perbandingan Jumlah Individu suatu Jenis dengan Seluruh Jenis)
Ln = Logaritma Natural
5. Indeks Ekuitabilitas (E)
max H
H E =
Dengan : H1 = Indeks Keanekaragaman Shannon – Wienner (H1) Hmax = Indeks Keanekaragaman Maximum (Odum, 1998)
6. Indeks Similaritas (IS)
% 7. Indeks Distribusi Morista
( )
⎥⎥⎦1 > 0 = Distribusi Spesies tersebut Berkelompok 1 < 0 = Distribusi Spesies tersebut Seragam
Bengen, 1998 dalam Mulya, 2000 8. Analisis Korelasi (r)
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3Analisis Faktor Fisik Kimia Perairan
Hasil yang diperoleh dari data-data penelitian yang telah dilakukan bahwa rata-rata nilai faktor fisik kimia pada setiap stasiun seperti pada Tabel 5.1. berikut: Tabel 5.1. Faktor Fisik Kimia Perairan, Rata-rata, Nilai yang Diperoleh pada
Setiap Stasiun Penelitian di Perairan Muara Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang
16 Tipe Substrat Lumpur Pasir
Lumpur
Lumpur
5.1.1 Suhu
Suhu pada ketiga stasiun berkisar antara 29,6 0c – 32,1 0c. Tingginya suhu pada Stasiun II disebabkan adanya aktivitas penduduk seperti penggunaan kapal bermesin yang digunakan sebagai sarana transportasi, di samping itu di stasiun tersebut terdapat sedikit kanopi sebagai naungan dari vegetasi mangrove, sehingga panas matahari langsung ke badan air. Rendahnya suhu pada Stasiun I disebabkan adanya angin laut dan pasang surut. Perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi biota secara keseluruhan karena berkaitan dengan tingkat kelarutan oksigen. Suhu pada ketiga stasiun penelitian sesuai bagi kehidupan biota pada perairan tersebut. Kisaran suhu ini umumnya berada di daerah tropis. Odum (1994) menyatakan suhu ekosistem aquatik dipengaruhi intensitas matahari, ketinggian geografis dan faktor kanopi (penutup vegetasi) dari pepohon yang tumbuh di sekitarnya.
5.1.2 Kecerahan
5.1.3 Chemical Oxygen Demand (COD)
Nilai COD yang didapatkan pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 52,8 mg/l–122,6 mg/l. Tingginya kadar COD pada Stasiun I dipengaruhi oleh degradasi bahan organik maupun anorganik yang berasal dari aktivitas masyarakat yang berupa buangan domestik dan tambatan kapal nelayan. Limbah yang dihasilkan tersebut tidak terolah dengan baik. Hasil degradasi mikroba yang terakumulasi di perairan akibat COD yang berlebihan pada perairan akan berpengaruh terhadap menurunnya kandungan oksigen terlarut (DO) sehingga akan berpengaruh terhadap menurunnya kualitas air Peavy (1986). Rendahnya nilai COD pada Stasiun III karena jauh dari pemukiman dan masih bersifat alami.
5.1.4 Biochemical Oxygen Demand (BOD5)
Nilai BOD5 yang terdapat pada setiap stasiun penelitian berkisar antara 4,1–
4,4 mg/l . Perbedaan nilai BOD5 tersebut pada setiap stasiun penelitian disebabkan
jumlah bahan organik yang berbeda-beda pada masing-masing stasiun yang berhubungan dengan defisit oksigen, karena oksigen dipakai oleh mikroorganisme dalam proses penguraian bahan organik. Tingginya nilai BOD5 pada Stasiun I
sedikitnya bahan organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Menurut Wardana (1995) peristiwa penguraian bahan buangan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air mengandung oksigen yang cukup. Saeni (1991), menyatakan Kandungan BOD5 yang berlebihan akan berpengaruh terhadap menurunnya oksigen terlarut
di perairan serta berdampak langsung terhadap peningkatan COD.
5.1.5 Amoniak (N–NH3)
N-NH3 hasil pengamatan menunjukkan bahwa amoniak air pada ketiga
produk dari penguraian zat nutrisi lemak terutama protein. Selanjutnya ditegaskan bahwa keberadaan amoniak juga dipengaruhi oleh pH, semakin tinggi pH akan semakin meningkat konsentrasi amoniak yang diketahui bersifat sangat toksik bagi organisma air.
5.1.6 Nitrit (N–NO2)
N-NO2 berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar Nitrit pada
ketiga stasiun penelitian berkisar 0,0423 mg/l–1,656 mg/l. Rendahnya kadar nitrit pada Stasiun III disebabkan karena pada stasiun tersebut ditumbuhi mangrove dan tumbuhan air yang mensuplai oksigen yang cukup bagi mikroorganisme untuk mengoksidasi nitrit menjadi nitrat sehingga pada stasiun ini tidak terjadi akumulasi nitrit. Tingginya kadar Nitrit pada Stasiun I disebabkan oleh adanya akumulasi limbah organik berupa nutrisi lemak terutama protein yang berasal dari sisa-sisa jasad renik dari organisme air baik yang berasal dari aliran tambak, aliran pelabuhan kapal nelayan, aliran sungai, limbah rumah tangga warga yang bermukim menetap di sekitar stasiun tersebut dan pengaruh pH perairan.
5.1.7 Nitrat (N–NO3)
badan air terjadi oksidasi nitrit menjadi nitrat dengan adanya mikroorganisme dan oksigen, peristiwa ini dikenal dengan proses Nitrifikasi. Menurut Rheinheimen et al. (1988) dalam Barus (2004) Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan untuk dapat tumbuh dan berkembang. Rendahnya kadar Nitrat pada Stasiun III disebabkan karena hutan mangrove dan tanaman air yang bertumbuh baik yang dapat menyerap nitrat sebagai zat nutrisi dan perkembangan tumbuhan (hutan mangrove dan tanaman lainnya).
5.1.8 Orthofosfat
5.1.9 Klorida
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar klorida pada ketiga stasiun penelitian berkisar 17,963 mg/l–19,241 mg/l. Tingginya kadar klorida pada Stasiun II tersebut diduga berasal dari atmosfer dan limbah organik yang berasal dari berbagai aktivitas masyarakat di sekitar stasiun pengamatan. Rendahnya kadar klorida pada Stasiun I disebabkan daerah substrat berlumpur. Kadar klorida pada setiap stasiun pengamatan masih dapat ditolerir oleh organisme air bersifat allochton, dan perairan di lokasi penelitian dapat dikatakan belum tercemar. Menurut Barus (2004) konsentrasi klorida dari air yang lebih dari 30 mg/l merupakan indikasi adanya pencemaran.
5.1.10 Minyak dan Lemak
5.1.11 Kandungan Organik Substrat
Nilai kandungan organik substrat yang didapatkan pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 0,8%-12,50%. Tingginya kadar organik pada Stasiun III disebabkan adanya sumber bahan organik dari guguran daun vegetasi mangrove pada stasiun tersebut. Rendahnya kandungan organik substrat pada Stasiun II karena tidak adanya sumber bahan organik, seperti guguran daun vegetasi mangrove di sekitar stasiun tersebut. Di samping itu tidak ada akar mangrove yang menahan bahan organik agar tidak terbawa arus. Menurut Nontji (2005), guguran daun bakau merupakan sumber bahan organik yang penting dalam lingkungan perairan yang bisa mencapai 7 – 8 ton/tahun. Selanjutnya Djaenuddin et al. (1994) menyatakan kriteria tinggi rendahnya kandungan organik substart/tanah berdasarkan persentase adalah sebagai berikut:
< 1% = sangat rendah
1%-2% = rendah
2,01%-3% = sedang
3,01%-5% = tinggi >5% = sangat tinggi
5.1.12 TDS
Rendahnya TDS pada Stasiun II karena adanya pencampuran air tawar dan air laut yang cukup bebas.
Menurut PP No.82 Tahun 2001 kadar tertentu dari TDS akan dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam perairan yang berakibat terhadap menurunnya aktivitas fotosintesis disebabkan faktor jauh atau dekatnya kawasan dengan jenis pantai atau daratan yang mengalami pergolakan arus dasar gelombang laut yang pecah dan mengikis daratan sehingga mempengaruhi kawasan perairan itu berada.
5.1.13 Salinitas
Nilai salinitas pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 280/00-310/00.
5.1.14 pH air
Kisaran pH yang diukur pada stasiun pengamatan antara 7,2–8,1. Dari hasil nilai pH yang didapatkan dari ketiga stasiun penelitian dapat dikatakan bahwa pH perairan masih sesuai kehidupan organisme laut. pH air tertinggi pada Stasiun III (kawasan hutan mangrove) 8,1 disebabkan daerah ini merupakan daerah hutan bakau yang tidak mendapat pengaruh aktivitas manusia sehingga pH air tidak mengalami penurunan dari kondisi awal. Rendahnya pada Stasiun I (kawasan tambak) 7,2 disebabkan adanya penambahan bahan organik yang berasal dari pembuangan limbah organik akibat aktivitas masyarakat di kawasan tersebut. Menurut Barus (2004), nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme laut berkisar antara 6,7–8,2.
5.1.15 Oksigen Terlarut (DO)
5.4Jenis-Jenis Kepiting Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian diperoleh jenis kepiting bakau (Scylla spp) yang digolongkan berdasarkan urutan taksonominya seperti digambarkan pada Tabel 5.2. berikut ini.
Tabel 5.2. Klasifikasi Kepiting Bakau Hasil Penelitian
Filum Kelas Ordo Famili Genus Species
Scylla oceanica
Arthropo da
Crustacea Decapoda Portunidae scylla
Scylla serrata
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dapat 2 species kepiting bakau (Scylla spp) dengan ciri morfologi sebagai berikut:
1. Scylla oceanica
Gambar 5.1. Scylla oceanica
2. Scylla serrata
Kepiting bakau jenis Scylla serrata yang didapati dari hasil penelitian mempunyai bentuk badan bundar dan tebal, berukuran ± 7 – 16 cm. Tubuhnya berwarna coklat tua dan bentuk H karapaks tidak begitu dalam. Tidak memiliki duri pada fingerjoint, seta hanya terdapat pada daerah hepatik dan bentuk gerigi pada karapaks tajam. Kedua bagian atas dan bawah capit berukuran sama besar dan mata tidak menonjol keluar seperti terlihat Gambar 5.2. berikut ini.
Berdasarkan hasil penelitian hanya didapati 2 species kepiting bakau, yakni S. oceanica dan S. serrata hal ini menunjukkan terjadinya penurunan species kepiting
bakau di perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. Karena hasil penelitian Mulya (2000) yang dilakukan di daerah Karang Gading Langkat diperoleh 3 species kepiting bakau yakni S. oceanica, S. serrata dan S. tranquebarica.
Terjadinya penurunan species ini kemungkinan disebabkan kondisi lingkungan di perairan Pantai Labu yang kurang optimal bagi pertumbuhan kepiting bakau yang menyebabkan hanya 2 species kepiting bakau yang dapat bertahan hidup dan berkembang biak di lokasi penelitian. Menurut Kordi (1997) bahwa parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, DO, BOD dan bahan organik memberi pengaruh terhadap kepiting bakau.
Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran J) dalam lingkungan pertambakan, muara sungai dan pada hutan mangrove masih didapat 2 species kepiting bakau yaitu S. serrata dan S. Oceanica Individu ditemukan seperti Tabel 5.3.
Tabel 5.3. Hasil Penangkapan Kepiting Bakau
No Lokasi Spesies Jumlah Individu
1. I (Pertambakan) S. Oceanica 17
S. Serrata 39
2. II (Muara) S. Oceanica 12
S. Serrata 34
3. III (Hutan Mangrove) S. Oceanica 19
5.5 Nilai Kepadatan Populasi (ind/m2), Kepadatan Relatif (%), dan Frekuensi Kehadiran FK (%)
Tabel 5.4. Nilai Kepadatan Populasi (KP ind/m2), Kepadatan Relatif (KR%) dan Frekuensi Kehadiran (FK%) di Setiap Stasiun Pengamatan Penelitian
serrata 2,66 69,63 86,67 2,32 73,89 83,33 4,71 78,37 100
Jumlah 3,82 100 140 3,14 100 113,33 6,01 100 160
Dari data hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Kepadatan Populasi (KP), Kepadatan Relatif (KR) dan Frekuensi kehadiran (FK) yang ditunjukkan pada Tabel 5.4 bahwa pada Stasiun I (kawasan aliran tambak) terdapat 2 species yaitu S.oceanica dan S. serrata. Species yang memiliki nilai tertinggi didapati pada species S. serrata. Tingginya nilai kepadatan populasi dan kepadatan relatif dan frekuansi kehadiran dari species S.serrata pada Stasiun I disebabkan karena stasiun ini memiliki nilai kandungan organik yang cukup tinggi, yaitu sebesar 10,04%, substrat berlumpur, suhu sebesar 29,90c, salinitas perairan 300/00, pH air sebesar 7,4 serta hasil BOD5,
Cole (1983) menyatakan bahwa bahan organik yang terlarut dalam perairan selain merupakan sumber nutrisi yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, kehadiran dan kepadatan hewan bentos dan mempengaruhi habitat alami biota laut, sehingga turut mempengaruhi habitat jumlah kepiting bakau yang ditemukan. Pada Stasiun I kawasan tambak didapati 2 spesies yaitu S. oceanica dan S. serrata. Jenis species oceanica yang memiliki nilai terendah Pada Stasiun II (kawasan muara) hanya didapatkan 2 species yaitu S. oceanica dan S. serrata. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan perairan yang kurang mendukung bagi kehidupan kepiting seperti tipe substrat dasar perairan berupa pasir berlumpur, serta nilai kandungan organik yang sangat rendah yaitu sebesar 0,80% (Tabel 5.4).
terhadap kondisi fisik kimia perairan pada Stasiun II ini bila dibandingkan dengan jenis lainnya.
Pada Stasiun III (kawasan mangrove) didapati 2 species yaitu species S. serrata dan S. oceanica. S. serrata merupakan yang paling banyak bila dibandingkan
dengan Stasiun I dan II.
Dilihat dari hasil pengukuran parameter lingkungan abiotik (fisik kimia), seperti nilai suhu sebesar 30,20C, salinitas 280/00 serta tipe substrat dasarnya
berlumpur, nilai pH air sebesar 8,1 serta kecerahan sebesar 11,6 cm dan BOD5
sebesar 4,2 mg/l, dengan jumlah kandungan organik pada kawasan ini paling tinggi sebesar 12,50% (Tabel 5.4) sehingga sumber makanannya lebih banyak. Oleh karena itu kondisi perairan pada Stasiun III sangat sesuai untuk kehidupan biota laut pada umumnya. Menurut Nontji (2005), hutan mangrove memiliki perairan yang sangat penting di sepanjang pesisir pantai dan dapat menopang kehidupan di sekitarnya. Didapatkannya species S. serrata yang memiliki kepadatan populasi, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran tertinggi pada Stasiun III ini disebabkan karena stasiun memiliki faktor fisik kimia lingkungan yang sesuai untuk kehidupannya. Pada stasiun tersebut, juga memiliki nilai kandungan organik yang sangat tinggi yaitu sebesar 12,50% (Tabel 5.4).
5.6Nilai Kepadatan Relatif (KR%) dan Frekuensi Kehadiran (FK%)
Sedangkan spesies S. serrata mempunyai kepadatan relatif (KR%) >50%, dan frekuensi kehadiran (FK%) >75%. Seperti terlihat pada Tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5. Nilai KR dan FK dan Nilai Kepadatan Relatif dan Frekuensi Kehadiran yang Terdapat pada Masing-masing Stasiun Penelitian
Stasiun
I II III No Species
KR (%) FK (%) KR (%) FK (%) KR (%) FK (%) 1. Scylla
oceanica 30,37 53,33 26,11 30 21,63 60 2. Scylla
serrata 69,63 86,67 73,89 83,33 78,37 100
Tabel 5.5. menunjukkan bahwa S.serrata didapatkan pada ketiga stasiun penelitian dengan nilai KR dan FK yang termasuk besar. Hal ini menunjukkan bahwa S. serrata merupakan kepiting yang memiliki kisaran toleransi yang tinggi terhadap
5.5Nilai Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman
Tabel 5.6. Nilai Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman (E’) pada Setiap Pengamatan Penelitian
Indeks Stasiun
Keanekaragaman (H’) Keseragaman (E’)
I 0,61 0,88
II 0,57 0,83
III 0,52 0,75
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian pada Tabel 5.6. Indeks keanekaragaman pada ketiga stasiun penelitian masih tergolong rendah karena hanya dua spesies yang didapati yaitu kepiting bakau S.oceanica dan S.serrata namun dari ketiga stasiun berbeda-beda indeks keanekaragamannya. Tingginya indeks keanekaragaman pada Stasiun I karena faktor keadaan lingkungan, khususnya salinitas yang sesuai untuk pertumbuhan kepiting bakau dan tidak ada spesies yang mendominasi. Menurut Soim (1999), kisaran salinitas yang sesuai bagi kepiting adalah 100/00-300/00 atau digolongkan ke dalam air payau. Rendahnya indeks
keanekaragaman pada Stasiun III disebabkan karena hanya dua spesies kepiting bakau yang diteliti yaitu species S.oceanica dan spesies S.serrata, dan didapati yang mendominasi kawasan ini lebih banyak spesies S. serrata, hanya sedikit spesies S. oceanica. Menurut Krebs (1985) jika indeks keanekaragaman 0<H<2,302
Menurut Kordi (1997) bahwa parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, DO, BOD, COD dan kandungan organik dapat memberi pengaruh terhadap kehidupan kepiting bakau. Odum (1994) juga menyatakan bahwa nilai Shannon Weener (H’) adalah suatu indeks keanekaragaman biota pada suatu daerah, bila indeksnya semakin tinggi, maka tingkat keanekaragaman tinggi.
Indeks keseragaman (E’) pada ketiga stasiun berkisar antara 0,75-0,88. Menurut Krebs (1985) indeks keseragaman antara 0-1. Jika nilai keseragaman mendekati 0 maka keseragaman rendah dan penyebaran jenis tidak merata serta ada kecenderungan mendominasi suatu jenis. Jika indeks keseragaman mendekati 1 maka keseragaman tinggi yang menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi.
Dari ketiga stasiun tersebut (0,75; 0,82; 0,88) berarti menunjukkan indeks keseragaman tinggi. Berdasarkan indeks keseragaman tersebut lokasi perairan penelitian dikategorikan sebagai ekosistem yang ideal bagi kehidupan berbagai jenis kepiting bakau.
5.6Indeks Similaritas
Tabel 5.7. Indeks Similaritas (IS) Antar Stasiun Penelitian
Stasiun I II III
1 - 100% 100%
2 - - 100%
Dari Tabel 5.7. menunjukkan bahwa indeks similaritas (kesamaan) antara Stasiun I dan II sebesar 100%, Stasiun I dan III 100% dan Stasiun II dan III sebesar 100%. Stasiun yang kemiripannya lebih besar Stasiun I dan III jenis kepiting bakau S.serrata yang didapatkan memiliki kesamaan tergolong tinggi. Menurut Krebs
(1985) Indeks Similaritas digunakan untuk mengetahui seberapa besar kesamaan kepiting bakau yang hidup di dua tempat yang berbeda.
5.7Nilai Distribusi Morista
Tabel 5.8. Nilai Indeks Distribusi Morista pada Seluruh Pengamatan pada Ketiga Stasiun Penelitian
No Species Indeks Distribusi Keterangan
1 Scylla oceanica 0,48 Distribusi genus beraturan
2 Scylla serrata 0,68 Distribusi genus beraturan
Dari Tabel 5.8. menunjukkan bahwa nilai indeks Distribusi Morista (Id) setiap jenis spesies berkisar antara 0,48-0,68. Bengen (1998) menyatakan indeks distribusi genus random, bila Id = 1, dan bila Id>1 distribusi berkelompok, dan bila Id<1 adalah distribusi genus beraturan.
habitat yang paling sesuai di dasar perairan dan mangrove baik sesuai dengan faktor fisik kimia perairan, dan tersedianya makanan yang cukup banyak. Menurut Suin (2002) bahwa faktor fisik kimia yang hampir merata pada suatu habitat serta tersedianya makanan hewan yang hidup di dalamnya sangat menentukan hewan tersebut hidup beraturan.
5.8Analisis Korelasi antara Beberapa Parameter Abiotik Perairan terhadap Indeks Kepadatan Kepiting Bakau
Berdasarkan hasil pengukuran faktor-faktor fisik-kimia yang telah dilakukan pada setiap stasiun penelitian dan selanjutnya dikorelasikan dengan indeks kepadatan kepiting bakau, maka diperoleh nilai indeks korelasi seperti pada Tabel 5.9 berikut ini.
Tabel 5.9. Nilai Analisis Korelasi Pearson antara Kepadatan Populasi Kepiting Bakau dengan Faktor-faktor Lingkungan
Parameter r
Kandungan Organik 0,815
Dari hasil uji korelasi Pearson antara beberapa parameter faktor-faktor fisik kimia lingkungan perairan seperti suhu, salinitas, COD, N-NO2, N-NO3, Minyak dan
Lemak, terhadap indeks kepadatan kepiting bakau didapatkan arah korelasi berlawanan (-), dan arah korelasi searah (+) kecerahan, BOD, Orthofosfat, klorida, kandungan organik, TDS, pH, DO.
Arah korelasi searah (+) menunjukkan terjadinya hubungan yang searah antara nilai faktor fisik kimia dengan nilai kepadatan populasi, artinya semakin tinggi nilai faktor fisik kimia perairan maka nilai kepadatan populasi semakin besar, sedangkan arah korelasi berlawanan (-) menunjukkan terjadinya hubungan yang berbanding terbalik antara nilai faktor fisik kimia perairan dengan nilai kepadatan populasi. Dari Tabel 5.9. tersebut menunjukkan hasil uji korelasi Pearson antara beberapa faktor fisik kimia perairan berbeda tingkat korelasi dan arah korelasinya.
Orthofosfat berkorelasi searah sangat nyata dengan nilai kepadatan populasi kepiting bakau, di mana semakin tinggi nilai orthofosfat maka semakin tinggi nilai kepadatan kepiting bakau. Ortofosfat adalah merupakan nutrisi di dalam perairan. Apabila orthofosfat tinggi, maka phytoplankton dan tumbuhan air lainnya meningkat dan hal ini akan menyebabkan peningkatan populasi organisme konsumen, sehingga ketersediaan nutrisi kepiting meningkat maka kepiting bakau meningkat.
salinitas di luar batas kisaran toleransi kepiting bakau akan menyebabkan populasinya menurun, sedangkan apabila terjadi penurunan nilai salinitas yang masih dalam batas toleransi kepiting bakau maka populasinya meningkat.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.3Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis terhadap penelitian yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara keseluruhan jenis kepiting bakau yang didapatkan dari hasil penelitian sebanyak 2 spesies, yakni: Scylla oceanica dan Scylla serrata dari Filum (Arthropoda), Kelas (Crustacea), Ordo (Decapoda), Famili (Portunadea), Genus (Scylla).
2. Kepadatan populasi kepiting bakau aliran tambak 3,82 ind/m2, muara sungai 3,14 ind/m2, dan hutan mangrove 5,99 ind/m2. Kepadatan relatif Scylla oceanica 30,36% dan Scylla serrata 69,64% pada aliran tambak, dan muara sungai Scylla oceanica 26,11% dan Scylla serrata 73,89%. Kepadatan relatif pada hutan
mangrove species Scylla oceanica 21,53% dan Scylla serrata 78,47%. Frekuensi kehadiran di aliran tambak pada Scylla oceanica 53,33% dan Scylla serrata 86,66%, pada muara sungai Scylla oceanica 30% dan Scylla serrata 83,33%, dan untuk hutan mangrove Scylla oceanica 60% dan Scylla serrata 100%.
4. Indeks distribusi Morista pada Scylla oceanica 0,48 disebut genus distribusi beraturan, dan Scylla serrata 0,68 distribusi genus beraturan.
5. Dari tiga lokasi penelitian didapatkan kesamaan jenis kepiting bakau (Scylla spp) dan Scylla serrata mendominasi di ketiga lokasi penelitian.
6. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa Orthofosfat sangat berpengaruh nyata berkorelasi searah (+) 1.000**. Hal ini memberikan hubungan sangat nyata terhadap kepadatan kepiting bakau.
7. Dari hasil laboratorium faktor fisik kimia didapati bahwa kualitas air laut di perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang masih tergolong baik berdasarkan baku mutu.
6.4Saran
1. Agar dilakukan penelitian yang lebih intensif dengan menggunakan jumlah stasiun pengamatan yang lebih bervariasi sehingga didapatkan hasil yang lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ariola, F.J. 1990. A. Preliminare Study of the Life Histori Larvae Story of Scylla serrata (Forskalk). Phil.J.Sci. 73:43-456.
Allert, C. dan S.S. Santika. 1987. Metode Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya.
Anwar, J., Damanik, S.J. Hisyam, N dan A.J. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera, Yogyakarta: Gadjah Mada. University Press. Hlm. 127-148.
Anonimus. 1998. Surat Keputusan No. 02/MENKLH/I.1998 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut (Budidaya Perikanan). Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta. 4 halaman.
Barus T.A. 1996. Metode Ekologi untuk Menilai Ekologi Suatu Perairan Lotik Medan. Program Studi Biologi FMIPA USU.
Barus, T.A. 2001. Pengantar Limnologi, Studi tentang Ekosistem Sungai dan Danau, Departement Biologi FMIPA USU. Medan.
Barus T.A 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. Program Studi Biologi FMIPA USU. Medan.
Badan Pusat Statistik. 2005. Kecamatan Batang Kuis/Kecamatan Percut Sei Tuan. Baliao, D.D, E.M. Rodrigues and D.D. Gerochi, 1981. Culture of the Mud Crab
Scylla serrata (Forskal) at Different Stocking Densities in Brackish Waterpond SEAF DEC, Quar, Res Repout 5: 10 – 14.
Bengen, B.g. 1998. Sinopsis Analisis Statistik Multi Dimensi, Program Pasca Sarjana IPB Bogor.
Brotowidjoyo, M.D. Joko T. dan Eko M. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budi Daya Air. Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Boer,D.R., Zafran, A. Pareurengi dan T. Ahmad.1993 Studi Pendahuluan Penyabit Kunang-Kunang pada Larva Kepiting Bakau (Scylla serrata). Jurnal Penelitian Budidaya Pantai. Jakarta. Hlm. 40.
Kommision zur Prupung von Lebensmittelzusats – und Inhaltsstoffen. –Verlag – Chemie, Weinheim.
Bower, J.Z Yerrold, C. Von Ende, 1990. Field and Laboratory Methods for General Zoologi : Third Edition. W.M.C. Brown Publiser United States of America. P. Hlm. 160 – 162.
Budiraharjo,R. Basuki & Suwarsono. 1991. Studi tentang Biaya, Penerimaan dan Pemasaran Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) di Sefera Duahan Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. Hlm. 41.
Cole, G.A.1983. Buku Teks Limnologi, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Hlm. 73-78.
Dahuri, R. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu: Cetakan Ketiga Penerbit Pradaya Pramita. Jakarta.
Djaenuddin, D. Basumi, S. Hardjowigeno, H. Subagyo, M. Suharni, IS Mangun, CS, 1994. Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Pertanian dan Tanaman Kehutanan. Jurnal Penelitian Pertanian. Hlm. 35.
Estampador, E.P. 1949. Studies on Scylla (Crustacee: Portunidal) I Devision of Genus. Philippines Journal Science.
Fuseya & Watanabe, S. 1996. Problem In Spesies Inditification of the Mud Crab Genus Scylla (Branchyura: Portunidaer). [03 Juli 2008].
Gunarto, 1987. Pemeliharaan Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Berbagai Tingkat Garam dalam Kondisi Laboratorium. Journal Penelitian Budidaya Pantai Vol 8 No. 4 Jakarta. Hlm. 86.
Hutasoit, B. 1991. Telaah Segi-Segi Ekologi Kepiting Bakau. Fakultas Perikanan IPB Bogor.
Hutching, B. dan P. Sesanger, 1987. Ecology of Mangrove. University of Queenland Press. St. Lucia, London.
Hill, B.J., D.L. Fowler and M.J. Van Den Avyle. 1989. Blue Crab. Fish and Wilkdlife Service. U.S. Army Corps of Engineering Coastal Ecology Group and U.S. Departement of The Interior Washington D.C.18p.
Kasry, A. 1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas. Penerbit Bharata. Jakarta.
Kordi, G.H. 1997. Budidaya Kepiting dan Ikan Bandeng di Tambak Sistim Polikatur. Dahara Press. Semarang.
Krebs, C.J. 1985. Ecology: The Experimental Analisis of Distribution and Abudance. Third Edition, Harper & Row Publisher. New York.
Levinton, J.S. 1982. Merine Ekology: Prentice Hall, Inc. America. P. 235-269.
Macnae, W. 1968. A. General Accound of The Fauna and Flora of Mangrove Swamp and Forest in the Indo West Pacific Region in Marine Biology. Volume 6.1968. Eds SFS. Russel. SM. Yonge Academic Press. London and New York.p. Hlm: 73-270.
Mackinon, K. Hatta, G., Halim, H. 2000. Ekologi Kelautan. Halindu Press. Jakarta. Michael. P. 1984. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium.
Alih Bahasa Yanti R. Koestoer. Universitas Indonesia. Jakarta.
Miller, Connel, D.W.G.J. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Alih Bahasa oleh Y.R. Koestoer. Cetakan Pertama. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Moosa, M.K., I. Aswandy dan A. Karsy. 1985. Kepiting Bakau – Scylla serrata
(Forskal) dari Perairan Indonesia. LON – LIPI. Jakarta.
Mulya, M.B. 2000. Keanekaragaman dan Distribusi Kepiting Bakau (Scylla spp) dan Keterkaitannya dengan Karakteristik Hutan Mangrove di Suaka Margasatwa Karang Gading. Jurnal Penelitian Pertanian. Sumatera Utara.
Nabiel Makarim, 2004. Baku Mutu Air Laut, untuk Biota Laut, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 51 Tahun 2004.
Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Noor, G.R, Khazali, M. Suryadipura, I.N.N. 1992. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI – IP.Bogor.