Perbandingan Komponen Minyak Atsiri antara Daun Muda dan Daun Dewasa pada Hyptis Suaveolens (L.)poit
Teks penuh
(2) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. mm dan mahkota (corolla) yang berwarna biru, zigomorf dan bilabiate dengan panjang lebih kurang 8 mm (Raizada, 2006).Perkembangbiakan dapat terjadi secara vegetatif dan generatif (Aluri and Reddi, 1996).Di Indonesia, tumbuhan tersebut diangggap sebagai gulma dan tidak begitu dimanfaatkan. Tumbuhan dari familia Labiatae banyak yang mempunyai trikoma glandularsebagai derivat dari jaringan epidermis dan merupakan struktur sekresi minyak atsiri.(Werker et al., 1993), salah satunya adalahHyptis suaveolens (L.) Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa negara lain, minyak atsiri dari H.suaveolens (L.) Poit telah dimanfaatkan sebagai antimikroba, karena dapat menghambat aktifitas beberapa strain dari isolat bakteri dan jamur penyebab penyakit kulit pada manusia (Okonogi et al., 2005).).Minyak atsiri dari H.suaveolenjuga dapat menghambat pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae, Fusarium moniliforme dan Mucor sp. (Malele,et al. 2003), Aspergillus plavus danA.ochraceus (Moreira,et.al. 2010 dan Sharma,et al. 2007), A.niger (Mandal,et al. 2007 dan Mbatchou, et al. 2010), A. parasiticus dan A. fumigatus (Moreira,et.al. 2010), Candida albicans, Cryptococcus dan Fusarium (Mbatchou, et al. 2010), Micrococcus luteus (Mandal, et al. 2007), Fusarium oxysporum f.sp. gladioli(Tripathi, et al. 2008). Selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai repellan dan insektisida terhadap Callosobruchus maculates, Rhyzopertha dominica, Sitophilus oryzae dan Tribolium castaneum (Tripathi and Upadhyay 2009) serta anti nyamuk Aedes aegipty, Anopheles stephensi dan Culex quinquefasciatus (Arivoli and Tennyson, 2011).. Minyak atsiri merupakan suatu hasil kegiatan seluler dari tumbuhan yang tergolong pada substansi nonprotoplasma bersifat cair dan biasanya terdapat dalam vakuola dari suatu struktur sekresi (Evert, 2006). Minyak atsiri (essential oil) juga disebut dengan minyak terbang (volatile oil) atau etheric oil (Koul et al., 2008; Can Baser and Demirci, 2007), dihasilkan oleh tumbuhan aromatik sebagai metabolit sekunder, beberapa minyak atsiri juga ditemukan pada hewan dan mikroorganisme (Bhargava et al., 2013). Minyak atsiri merupakan senyawa bahan alam, mudah menguap, dan sangat kompleks dan dicirikan dengan bau yang keras (Bakkaliet al., 2008). Sebagian besarbau minyakberasal dari campurandari komponen sehingga memberikanprofilbausecara keseluruhan, tetapi beberapaminyak atsiri baunyadidominasi olehkomponentunggal, seperticitral dalam minyaksereh (Hunter, 2009). Minyak tersebut mudah teroksidasi, larut dalam alkohol,kloroform, eter, aseton, karbon disulfide dan tidak larut dalam air (Bhargavaet al., 2013).Secara umum, minyak atsiri mempunyai bau yang enak, sehingga banyak digunakan dalam berbagai industri, terutama parfum (Chamorro et al., 2012). Minyak atsiri merupakan campuran senyawa yang sangat heterogen (Zouari, 2013). Komponen minyak atsiri dapat mencapai 100 senyawa (Bohlmann and Keeling, 2008; Carson and Hammer, 2011), tetapi umumnya mengandung 2060 komponen pada konsentrasi yang berbeda (Bakkaliet al., 2008). Senyawa tersebut dicirikan dengan dua atau tiga komponen utama pada konsentrasi yang agak tinggi (20-70 %) dibandingkan dengan komponen lainnya (Bakkali, 2008; Morcia, et al., 2013).Komponen. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 2.
(3) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. tersebut berasal dari kelompok yang berbeda, kelompok terpen merupakan yang paling dominan.Diperkirakan lebih dari 1000 struktur monoterpen dan 3.000 struktur sesquiterpen yang terlibat dalam penyusunan minyak atsiri (Svoboda and Hampson, 1999), tetapi fenilpropanoid dan senyawa lainnya juga dapat ditemukan dalam persentase yang sedikit (Carson and Harmer, 2011). Secara garis besar, berdasarkan kuantitasnya, komponen minyak atsiri dapat dibagi atas tiga kelompok berdasarkan kuantitasnya, yaitu komponen utama (mayor), komponen minor dan komponen tambahan (Hunter, 2009). Minyak atsiri disusun oleh komponen-komponen dari senyawa yang kompleks. Berdasarkan kualitasnya, komponen tersebut terbagi atas dua kelompok utama, yaitu senyawa terpen (dengan derivatnya) dan senyawa aromatik atau juga hidrokarbon dan senyawa teroksidasi. Terpen merupakan senyawa hidrokarbon yang terdiri dari molekul hidrogen dan karbon dengan rumus (C5H8)n. Hidrokarbon ini dapat berbentuk asiklis, monosiklis, bisiklis atau trisiklis. Senyawa teroksidasi dapat berupa alkohol, aldehid, keton, fenol, oksida, lakton, eter dan ester (Svoboda and Hampson, 1999. Pada jenis tumbuhan yang sama, komposisi dan komponen kimia minyak atsiri dapat bervariasi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari luar maupun dari dalam tumbuhan itu sendiri (Zouari, 2013).Faktor tersebut antara lain adalah letak geografis alam, perbedaan musim,periode sebelum atau sesudah berbunga, waktu tanam atau waktu panen,tahap pertumbuhan (Viljoen et al., 2005, Marzouki et al., 2009, Arraiza et al., 2012, (Inan et al., 2011dan Nemeth, 2005). Selain itu, faktor-faktor. lingkungan seperti cahaya, temperatur dan kelembaban juga dapat mengakibatkan perubahan biokimia dan perubahan fisiologis pada tumbuhan sehingga merobah kuantitas dan kualitas minyak atsiri (Gershenzon et al., 2000; Prins et al., 2010). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan komponen minyak atsiri yang terdapat pada daun muda dan daun dewasa dari H.suaveolens (L.)Poit. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dari bulan Februari 2012 sampai bulan September 2013. di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas Padang. Bahan yang diambil adalah daun H.suaveolens (L.)Poit.yang masih dalam fase pertumbuhan vegetatif. Daun dibedakan antara daun muda dan daun dewasa. Daun muda merupakan daun yang masih dalam keadaan meristem dan belum sempurna perkembangannya, sedangkan daun dewasa merupakan daun yang telah sempurna perkembangannya. Daun-daun yang telah dipisahkan dihidrodestilasi dengan menggunakan Clevenger-type apparatus. Analisis minyak atsiri dilakukan dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GS-MS ULTRA SHIMADZU) dengan kolom DB-5 MS, panjang 30 m dan diameter 0,25 mm. Kondisi kolom diatur dengan suhu awal 60 C, waktu awal 2 menit. Kenaikan suhu sebesar 3 C/menit dan suhu akhir adalah 230 C. Sampel diinjeksikan sebanyak (0,5 µl) dengan split ratio diatur menjadi 1 : 20. Jenis detector adalah MS dengan temperatur injector adalah 250 C. Gas pembawa Helium (He) dengan kecepatan aliran 125. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 3.
(4) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. ml/menit dan tekanan 230 kPa.fragmentasi senyawanya. Identifikasi dilakukan berdasarkan Retensi Waktu/Retention Time (RT).Setiap puncak yang muncul dalam kromatogram memiliki waktu retensi yang berbeda. Identifikasi komponen minyak atsiri dilakukan dengan menggunakan Library: WILEY7 dan NIST27. .HASIL DAN PEMBAHASAN Minyak atsiri yang diperoleh dari daun H.suaveolens (L.)Poit.dengan. metoda hidrodestilasi menggunakan Clevenger-type apparatus merupakan cairan yang berwarna kuning muda dengan bau yang agak menyengat. Untuk mengisolasi komponen minyak atsiri yang diperoleh dari daun muda dan daun dewasa.dilakukan dengan menggunakan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectroscopy). Hasil identifikasi dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 2 serta spektrum GC-MS (Gambar 3 dan 4).. Table 1.Komponen Kimia dan Persentase Relatif Minyak Atsiri Daun Muda dan Daun Dewasa dari H. suaveolens(L.)Poit. % relatif Komponen α-pinene Sabinene β-pinene α-phellandrene Benzenacetaldehid α-terpinene P-cymene 1,8 cineole D-limonen γ-terpineol Fenchone α-terpinolene L-linalool Camphor Terpinen-4-ol α-cubenene α-copaene β-bourbonene β-cubenene β-elemene β-caryophyllene γ-cadinene α-bergamotene α-humulene. Daun Muda. Daun Dewasa. 0,12 1,39 0,31 0,87 0,06 0,08 0,15 4,02 0,35 0,24 1,17 0,08 0,07 0,05 0,98 1,01 5,94 0,90 0,47 1,62 34,65 0,21 6,56 2,28. 0,03 0,17 6,53 23,53 3,84 0,44. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 4.
(5) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. alloaromadendrene β-farnesene Germacrene-D β-selinene Epi-bicyclosesquiphellandrene zingiberenol α-selinene α-muurolene Germacrene A Torreyol Cadinene Caryophyllene oxide Juniper camphor Calarene Globulol Bergamotol α-phellandrene Benzene Rimuene phenanthrene Kaurene Thumbergol podocarpene Retinol accetate Cholest-14-en-3-ol 4-epidehydroabietol 3,5-dimethylethylbenzene Trans-linalooloxide Kamfanoon/Formosa camphor Borneol α-citronellol Trans-geraniol 1,3 cyclopentadien 3-methoxy-4-aminoquinoline Calyculone E Aromadendrene oxide Z-valerenylacetate β-cendreoxide α-santalol Hexamethyl-pyranoindane Hexanonitril menthadiene Pentadecansaeure abietatriene. 1,03 0,16 10,32 1,57 0,18 0,22 1,59 0,20 1,06 0,63 1,23 0,65 0,21 0,40 1,03 1,13 0,27 0,23 6,46 0,74 0,76 1,61 0,08 1,12 4,10 0,34 -. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. 9,52 4,19 0,10 4,93 0,35 13,19 3,45 1,01 0,03 0,03 0,78 0,10 0,24 0,09 2,53 2,94 3,30 0,83 0,96 0,60 1,34 0,24 0,63 1,28 4,19. Hal 5.
(6) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. tricyclo[20.8.0.0E7,16]triacontan, 1(22),7(16)-diepoxy Isochiapin B 3,7,11,15-tetrameithyl-hexadeca1,6,10,14-tetraen-3-ol Neophytadiene aristolenepoxide β- ocimene Total Pada Tabel1, terlihat pada daun muda ditemukan 50 komponen, sedangkan pada daun daun dewasa hanya 37 komponen. Komponen utama pada daun muda adalah β-caryophyllene (34,65%), germacrene-D (10,32%), αbergamotene (6,56%), α-copaene (5,94%), β-elemene (1,62%), rimuene (6,46%), sedangkan komponen utama pada daun dewasa adalah β-caryophyllene (23,53%), germacrene-D (9,52%), βelemene (6,53%) dan rimuene (13,13%). Pada daun dewasa tidak ditemukan komponen α-bergamotene dan α-copaene. Komponen yang sama-sama teridentifikasi pada daun muda dan pada daun dewasa juga terlihat adanya perbedaan komposisi. Seperti pada komponen β-caryophyllene dan germacrene-D yang mengalami penurunan persentase relatif pada daun dewasa. Pada daun muda, βcaryophyllene teridentifikasi sebanyak 34,65%, sedangkan pada daun dewasa hanya 23,53%. Begitu juga dengan germacrene-D, persentasenya lebih tinggi pada daun muda (10,32%) daripada daun dewasa (9,52%). Sebaliknya, persentase β-elemene terjadi peningkatan dari daun muda (1,62%) ke daun dewasa (6,53%),. -. 1,80. -. 0,69 0,81. 1,04 0,14 1,11 100 % 100 % begitu juga dengan rimuene, persentase pada daun dewasa (13,13%) lebih tinggi daripada daun muda (6,46%). Terjadinya perobahan jumlah komponen dan komposisi minyak atsiri dari daun muda ke daun dewasa berkemungkinan karena belum tercapainya kestabilan dari struktur komponen minyak atsiri tersebut. Figueredo et al. (2008) menjelaskan, karena struktur komponen dalam kelompok kimia yang sama, komponen minyak atsiri mudah berobah kekomponen lain dengancara oksidasi, isomerisasi, siklisasiatau reaksidehidrogenasi, yang terjadisecara enzimatisatau kimiawi. Setelahkestabilan minyak atsiri tercapai, komposisi kimiamungkin dapatberobah dari komposisi sebelumnya. Hal ini dapatdipengaruhi olehkesuburan tanaman, tahap pertumbuhantanaman, iklim,habitatserta waktupanen. Zat pengatur tumbuh (Prins et al.,2010) dan teknik pembudidayaan tanaman (Moro et a.l., 2011) juga dapat mempengaruhi komponen dan komposisi dari minyak atsiri. Grafik komponen utama pada daun muda dan daun dewasa dari H. suaveolens (L.) Poit.at dilihat pada Gambar 2 berikut :. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 6.
(7) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. 34.65. 35. Persentase Relatif. 30 23.53. 25. β-caryophyllene germacrene-D. 20 15 10 5. 13.13. 10.32. 9.52. 6.56 5.94. 6.53. 6.46. 1.62. α-bergamotene α-copaene β-elemene rimuene. 0 0. 0 daun muda. daun dewasa. Gambar 2. Grafik komponen utama minyak atsiri H.suaveolens (L.) Poit.pada daun muda dan daun dewasa. Perbedaan komposisi dari komponen minyak atsiri dapat terjadi pada tahap pertumbuhan yang berbeda walapun pada tumbuhan yang sama. Menurut Figueiredo et al.(2008), tahap perkembangan dari organ tumbuhan (daun, bunga dan buah) dapat menentukan komposisi dari minyak atsiri. Lacusic et al. ( 2013) melaporkan bahwa jumlah dan komposisi minyak atsiri Salvia officinalis tergantung berdasarkan perkembangan daun (daun muda dan daun dewasa). Pada daun muda, didapatkan persentase yang tinggi pada α-humulene, viridifloroldanmanool, sedangkan pada camphor dan cis-thujone dengan persentase yang rendah. Selanjutnya pada pengamatan daun dewasa, persentase α-humulene, viridifloroldanmanool secara signifikan. menurun, sebaliknya persentase camphor dan cis-thujone menujukkan peningkatan.Hal yang sama terjadi pada minyak atsiri dari Ocimum sanctum (Dey and Choudhuri, 1983), persentase dari komponen utama minyak atsiri tumbuhan tersebut yaitu eugenol dan methyleugenol secara berangsur-angsur menurun tetapi caryophyllene meningkat terus sesuai dengan tahap perkembangan daun. Pada dua strain lemongrass (Cymbopogon), juga terjadi perobahan komposisi citral, geraniol dan geranyl acetate berdasarkan tahap perkembangan daun (Wen et al., 2012. Hasil identifikasi komponen yang terdapat pada daun muda dan daun dewasa dengan menggunakan GC-MS dapat juga dilihat pada Gambar 3 dan 4.. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 7.
(8) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. Gambar 2.Chromatogram Minyak Atsiri Daun Muda H. suaveolens (L.)Poit.. Gambar 3. . Chromatogram Minyak Atsiri Daun DewasaH. suaveolens (L.)Poit. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan identifikasi komponen minyak atsiri pada daun muda dan daun dewasa dari H. suaveolens (L.) Poit, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Komponen kimia dari minyak atsiriH. suaveolens (L.) Poit pada daun muda lebih banyak daripada daun dewasa. Pada daun muda terdapat 50 komponen, sedangkan daun dewasa hanya terdapat 37 komponen. 2. Komponen utama pada daun muda adalah β-caryophyllene (34,65%),. germacrene-D (10,32%), αbergamotene (6,56%), rimuene (6,46%), dan α-copaene (5,94%), sedangkan komponen utama pada daun dewasa adalah β-caryophyllene (23,53%), germacrene-D (9,52%), βelemene (6,53%) dan rimuene (13,13). DAFTAR PUSTAKA Arraiza M P., C Arrabal and J V Lopez. 2012. Seasonal variation of essential oil yield and composition. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 8.
(9) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. sage (Salvia officinalis L.) grown in Castilla – La Mancha (Central Spain). Arivoli. S and S Tennyson.2011. Mosquitocidal Activity of Hyptis suaveolens (L.) Pot (Lamiaceae) Extracts against Aedes aegypti, Anopheles stephensi and Culex quinquefasciatus (Diptera:Culicidae). International Journal of Recent Scientific Research. 2 (5): 143-149.. Backer, C.A and R.C.B Van de Brink. 1965. Flora of Java. Vol. II. N.V.P Noordhoff-Graningen. Netherlands. Bakkali, F., S.Averbeck, D Averbeck and M Idaomar. 2008. Biological Effects of Essential Oil- A review. Food Chem Toxicol 46 (2); 44675. Barbosa, L.C.A., F.T Martins, R.R Teixera, M Polo and R.M Montanari. 2013. Chemical Variability and Biological Activities of Volatile Oils from Hyptis suaveolens (L.) Poit (Review Article).Agriculturae Conspectus Scientifus. Vol. 78, No.1: 1-10. Baser, K H C and F Demirci. 2007. Chemistry of Essential Oils in Flavours and Fragrances, Chemistry, Bioprocessing and Sustainability.R. G. Berger (Ed.). Springer.Berlin Heidelberg New York. Bhargava, V.V., S C Patel and K.D Desai. 2013. Importance of. terpenoid and essential oils in chemotaxonomic approach. International Journal of Herbal Medicine, Vol. 1 (2), 14-21.. Bohlmann, J. and C.I Keeling. 2008. Terpenoid Biomaterial (Harnessing Plant Biomass for Biofuels and Biomaterial).The Plant Journal 54: 656-669. Carson, C.F and K A Hammer. 2011. Chemistry and Bioactivity of Essential Oils in Lipids and Essential Oils as Antimicrobial Agents (Thormar H., Eds). John Wiley & Sons.Ltd. New Delhi. Chamorro, E.R., S.N Zambon and W.G Morales. 2012. Study of chemical composition of essential oils by gas chromatography (Gas Chromatography in Plants Science, Wine Technology, Toxicology and Some Specific Application). (Salih B and O. Celikbicak, Eds.)In Tech, 358 pp. Dey and Choudhuri. 1983. Effect of leaf development stage on change in essential oil of Ocimum sanctum L. Biochem.Physiol.Pflanzen 178, 331-336. Evert, R.F . 2006. Esau’s Plant Anatomy. Meristems, Cells and Tissue of the Plant Body : their Structure, Function and Development. 3nd.ed.John Wiley & Sons, Inc. New Jersay : 447-472. Figueiredo, A C, J G Barroso, L G Pedro and J J C Scheffer. 2008. Factor affecting secondary metabolite production in plants: volatile components and essential oils.. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 9.
(10) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. Flavour and Fragrance Journal, 23, 213-226.. Potential and Constraints. Biopestic. Int. 4(1): 63-84.. Gershenzon, J., M.E McConkey and R.B Croteau. 2000. Regulation of monoterpenes accumulation in leaves of peppermint. Plant Physiol 122: 205-213.. Lacusic B S., M S Ristic, V N Slavkkovskka, D L Stojanovic and D V Lakusic. 2013. Variation in essential oil yields and compositition of Salvia officinalis (Lamiaceae) at different developmental stage. Botanica Serbic,37 (2): 127-139.. Hunter,M. 2009. Essential Oils; Agriculture, Science, Industry and Entrepreneurship (A Focus on The Asia-Pasifik Region). Nova Science Publishers, Inc. New York. 773 pp. Henderson.1959. Malayan Wild Flowers (Dicotyledons). Tien Wah Press ltd., Singapore Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia.Jilid 3.Badan Penelitian dan Pengembangan kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.pp 1698. Mbatchou V.C., S Abdullatif and R Glover. 2010. Phytochemical Screning of Solfent Extracts from Hyptis suaveolens LAM for Fungal Growth Inhibitation. Pakistan Journal of Nutrition 9 (4): 358-361. Inan, M., M. Kirpik, D.A Kaya and S. Kirici. 2011. Effect of harvest time on essential oil composition of Thymbra spicata L. growing in flora of Adiyaman. Advance in Environmental Biology, 5 (2): 356-358. Koul, O., S. Walia and G.S Dhaliwal. 2008. Essential oils as pesticides:. Malele, R.S., C.K Mutayabarya, J.W Mwangi, G.N Thoithi, A.G Lopez, F.I Lucini and J.A Zigadlo.2003. Essential Oil of Hyptis suaveolens (L.)Poit. From Tanzania: Composition and Antifungal Actifity. Journal of Essential Oil Research 15:438-440. Mandal, S.M., K.C Mondal, S.Dey and B.R Pati. 2007. Antimicrobial Activity of The Leaf Extracts of Hyptis suaveolens (L.) Poit.Short Communication. 69 (4): 568-569. Marzouki H., A Elaissi, A Khaldi, D Falconieri, B Marongiu, A Piras and S Porcedda. 2009. Seasonal and geographical variation of Laurus nobilis L. essential oil from Tunisia. The Open Natural Products Journal, 2: 86-91. Morcia, C., G.Tumino and V. Terzi. 2013. Plant Bioactive Metabolites for Cereal Protection Againts Fungal Pathogens. In Antifungal Metabolites from Plants (M.Razzaghi-Abyaneh and M.Rai, Eds.). Springer Heidelberg, New York.. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 10.
(11) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. Moreira, A.C.P., E de Oliveira Lima., P.A Wanderley., E.S Carmo and E.L de Souza.2010. Chemical Composition and Antifungal Activity of Hyptis suaveolens(L.)Poit Leaves Essential Oil Againts Aspergillus Species. Brazilian Journal of Microbiology 41:28-33. Moro, A., A. Zalacain, J.H Mendoza and M Carmona. 2011. Effects od agronomic practices on volatile composition of Hyssopus officinalis L. essential oils. Molecules, 16: 4131-4139.. Nemeth, E. 2005. Changes in Essential Oil Quantity and Quality Influenced by Ontogenetic Factors.Proc. WOCMAP III, Vol. 1: Bioprospecting & Ethnopharmacology. Eds. J. Bernath, Nemeth, L.E. Craker and Z.E.Gardner. Acta Hort 675, ISHS: 159-165. Okonogi, S., S. Chansakaow, S. Vejabhikul, P. Tharavichitkul, J. Lerphokanont, A. Nakano and F. Ikegami. 2005. Antimicrobial activity and pharmaceutical development of essential oil from Hyptis suaveolens. Proc. WOCMAP III. Vol. 4; Targeted Screening of MAPs, Economics & Law Eds. C. Franz, A. Mathe, L.E Craker and Z.E Gardner. Acta Hort.678, ISHS : 163-169. Prins, C.L., I.J.V Vieira, S P Freitas. 2010. Growth regulators and essential oil production. Braz.J.Plant Physiol., 22(2): 91102.. Raizada, P. 2006. Ecological and vegetative characteristics of a potent invader, Hyptis suaveolens Poit.from India. Lyonia (A Journal of Ecology and Application). Vol. 11 (2): 115-120. Sharma N., U.K Verma and A..Tripathi. 2007. Bioactivity of Essential Oil from Hyptis suaveolens against Storage Mycoflora.Donahaye E.J., Navarro S., Bell C., Jayas D., Noyes R., Phillips T.W (Eds.). Proc.Int.Conf.Controlled Atmosphere and Fumigation in Stored Product, Gold-Coast Australia. 8-13th August 2004. FTIC Ltd.Publishing, Israel.pp. 99-116. Steenis, 2006.Flora untuk Sekolah di Indonesia.PT Pradya Paramita. Jakarta. Svoboda, K. P and J. B Hampson,. 1999, Bioactivity of essential oils of selected temperature aromatic plants: antibacterial, antioxidant, anti-inflammatory and other related pharmacological activities. Procceedings NAHA, 25-28 september, St. Louis Missouri, USA: 105-127. Tripathi, P., N.K Dubey and A.K Shukla. 2008. Use of some essential oils as post-harvest botanical fungisides in the management of grey mould of grapes caused by Botrytis cinerea. World J Microbiol Biotechnol, 24: 39-46. Tripathi, A.K and S. Upadhyay. 2009. Repellent and Insectisidal Activities of Hyptis suaveolen. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 11.
(12) Eksakta Vol. 18 No. 2 Oktober 2017 E-ISSN : 2549-7464, P-ISSN : 1411-3724. (Lamiaceae) Leaf Essential Oil Against Four Stored-Grain Coleopteran Pest. International Journal of Tripical Insect Science.29:219-228.. Viljoen, A.M., S. Subramoney, S.F van Vuuren, K.H.C Baser and B. Demirci. 2005. The composition, geographical variation and antimicrobial activity of Lippia javanica (Verbenaceae) leaf essential oils. Journal of Ethnopharmacology, 96 : 271277. Wen, H.I., N. Aoki and R. Ohsugi. 2012. Variation in essential oil content. and composition during leaf development and growth of lemongrass. Trop.Agr. Develop. 56(1) : 14-24.. Werker E., E Putievsky, U Ravid, N Duda and I Katziri.1993.Glandular Hairs and Essential Oil in Developing Leaves of Ocimum basilicum L. (Lamiaceae).Annals of Botany 71: 43-50. Zouari,. N .2013 Essential Oils Chemotypes: A Less Known Side. Med. Aromat.Plants , Vol. 2 (2). e145. doi:10.4172/21670412.1000e145.. Moralita Chatri, Mansyurdin, Amri Bakhtiar, dan Perri Adnadi. Hal 12.
(13)
Dokumen terkait
Atas dasar uraian yang telah dikemukakan diatas, dalam penelitian ini dilakukan isolasi dan analisis komponen kimia minyak atsiri dari tumbuhan Binara ( Artemisia vulgaris L. )
Sedangkan ekstrak etanol dengan menggunakan alat Sokhlet berasal dari hasil sisa isolasi daun sirih hutan, dan uji potensi minyak atsiri sebagai pestisida nabati dengan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengidentifikasi komponen kimia minyak atsiri serta melakukan uji pestisida nabati dari hasil
Produksi metabolit sekunder dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tempat tumbuh.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan minyak atsiri pada daun
ANALISA KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAN UJI PESTISIDA NABATI HASIL ISOLASI DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L) PADA LARVA LALAT.. BUAH ( Bactrocera carambolae)
Daun Sirih Hutan didestilasi selama ± 4-5 jam menghasilkan minyak atsiri sebanyak 0,52% (b/b) dan 7,61% (b/b) ekstrak etanol dengan alat Sokhlet.. Uji pestisida nabati ekstrak
Berdasarkan uraian yang telah dikemukan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengidentifikasi komponen kimia minyak atsiri serta melakukan uji pestisida nabati dari hasil
Pembuatan Konsentrasi Minyak Atsiri Pembuatan Konsentrasi Ekstrak Etanol.. Pembuatan Konsentrasi Wadah