AKUNTANSI KEPERILAKUAN
The Multidimensional Scope of Management Accounting, Nature of The Control Process, & Linguistic Relativism in
Management Accounting
Dosen Pengampu: R.A. Supriyono, Prof., Dr., S.U., CMA.
oleh:
Fransiscus Nicodemus 15/387013/PEK/20563
Dhika Maha Putri 15/387000/PEK/20550
Pradibto Tri Nugrohoadi 15/387051/PEK/20601
Saiful Anwar 15/391085/PEK/21214
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
BAB 1
The Multidimensional Scope of Management Accounting
BAB II
Nature of The Control Process
Kontrol, seperti perencanaan dan pengorganisasian, merupakan fungsi penting dalam manajemen proses. Dimana tingkat kontrol manajemen lebih lengkap daripada tingkat kontrol akuntansi.
Sifat dari Proses Pengendalian Sifat Pengendalian
Organisasi menerapkan pengendalian untuk mengatur interaksi antar individu, karena pengendalian membawa individu untuk menyesuaikan diri dengan aturan. Awalnya pengendalian dilihat sebagai kekuasaan atau proses mempengaruhi perilaku individu. Oleh karenanya pengendalian membentuk respon emosional yang kuat bagi individu yang terlibat. Disisi lain pengendalian dianggap sebagai kebutuhan untuk melawan gangguan yang muncul dalam organisasi. William Travers Jerome III menawarkan klasifikasi pengendalian berdasarkan tujuan penggunaan sebagai berikut :
1. Pengendalian dipakai sebagai standarisasi kinerja dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya.
2. Pengendalian dipakai sebagai alat untuk melindungi aset perusahaan dari pencurian, pemborosan, atau penyalahgunaan.
3. Pengendalian digunakan untuk menstandarisasi kualitas agar sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan pelanggan maupun perusahaan.
4. Pengendalian digunakan untuk membatasi pendelegasian wewenang yang dapat dilakukan tanpa persetujuan manajemen tingkat atas.
5. Pengendalian dipakai untuk mengukur prestasi kerja.
6. Pengendalian dipakai untuk merencanakan dan memprogram operasi. 7. Pengendalian digunakan manajemen untuk menjaga berbagai macam
rencana dan program perusahan tetap seimbang.
8. Pengendalian deipakai untuk memotivasi individu melakukan usaha terbaik bagi perusahaan.
Dasar dari Pengendalian
Pengendalian didasarkan pada beberapa bentuk kekuasaan yang mana setiap kekuasaan memiliki strategi pengendalian yang berbeda karena setiap bentuk kekuasaan dibedakan berdasarkan kemampuan untuk membatasi pilihan. Enam tipe kekuasaan tersebut adalah sebagai berikut ;
1. Reward Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu atau grup lain mempunyai kemampuan untuk memberikan berbagai macam reward untuk kinerja yang berbeda.
2. Coercive Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu atau grup lain mempunyai kemampuan untuk memberikan hukuman. 3. Legitimate Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu atau grup lain mempunyai hak untuk mempengaruhi tindakan yang dilakukan.
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu atau grup lain seharusnya diidentifikasi dengan meniru tindakan, gaya, dan kepercayaan.
5. Expert Power
Berdasar pada persepsi yang dipegang individu atau grup bahwa individu atau grup lain seharusnya diidentikasi dengan pengetahuan dan keahlian. 6. Integration Power : Penggunaan semua tipe kekuasaan di atas.
Tahap Pengendalian
Proses pengendalian terdiri dari:
1. Penyusunan tujuan untuk kinerja aktivitas ataupun fungsi.
2. Pembuatan standar kinerja untuk setiap tujuan spesifik dari aktivitas ataupun fungsi.
3. Melakukan monitoring atau mengukur kinerja aktual.
4. Melakukan review dan membandingkan rencana dengan kinerja aktual. 5. Perbaikanpenyimpangan dan memberikan reward untuk memotivasi dan
memperkuat kinerja.
Tipe Pengendalian
Beberapa tipe pengendalian: 1. Leonardo Sayles
a. Reassurance to sponsors
Pengendalian di level atas dimana stakeholders dijelaskan mengenai efisiensi dari operasi.
b. Guidance to subordinates from managers
Pengendalian level menengah, dimana bawahan dijelaskan apa fokus yang seharusnya dilakukan.
Pengendalian level menengah dimana manajer dijelaskan tentang pencapaian yang masih kurang dan tindakan manajer yang seharusnya dilakukan mengatasinya.
d. Closing the loop
Pengendalian level bawah dimana manajer dijelaskan bahwa persyaratan teknis dan hukum telah terpenuhi.
2. W.H Newman
a. Steering Controls
Pengendalian yang memberikan manajer tanda yang menunjukan apa yang akan terjadi apabila operasi saat ini dilanjutkan.
b. Yes/No Controls
Pengendalian yang memberikan manajer aturan yang menunjukan kondisi yang harus dipenuhi sebelum pekerjaaan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
c. Postaction Controls
Pengendalian yang memberikan manajer laporan kinerja atau kartu penilaian setelah selesainya operasi yang menunjukan perbedaan rencana dan kinerja aktual.
3. K.A. Merchant a. Result Controls
Pengendalian yang berfokus pada hasil dimana melibatkan individu dan pertanggungjawaban terhadap hasil tertentu atau outcome.
b. Action Controls
Pengendalian yang berfokus pada tindakan dimana digunakan ketika result control tidak layak digunakan.
c. Personnel Controls : Pengendalian yang berfokus pada individu yang dimaksudkan untuk mendorong pengendalian diri dan sosial.
4. W.G Ouchi a. Markets
Pasar adalah mekanisme efisien dari persaingan. Pasar terkait dengan pengendalian melalui kemampuannya untuk mengukur dan menghargai kontribusi individu.
Birokrasi adalah mekanisme pengendalian yang mengandalkan perpaduan evaluasi tertutup, penerimaan yang disosialisasikan dan tujuan umum.
c. Clans
Klan adalah mekanisme pengendalian dalam bentuk struktur sosial informal yang mengandalkan proses sosialisasi untuk menghilangkan ketidaksamaan tujuan antara individu secara efektif.
5. Don Hellriegel dan John Slocum a. Human Input Control
Merupakan cara untuk mengendalikan tindakan individu yang tidak diinginkan antara lain ketidakstabilan, variabilitas, dan spontanitas. b. Reward-Punishment system
Merupakan 3 sistem yang memungkinkan membantu membentuk individu sesuai dengan kebutuhan organisasi. Tiga sistem itu adalah koersif, utilitarian, dan normatif.
c. Formal Structures
Merupakan struktur utama pengendalian yaitu spesifikasi tugas dan tanggung jawab, alur komunikasi, penggunaan unit spesial untuk mendukung audit ataupun unit lainnya, memvariasikan rentang pengendalian.
d. Policies and Rules
Merupakan alat yang digunakan untuk melakukan kontrol. e. Budgets
Merupakan dasar pengendalian.
f. Mechanical Controls or Machine Controls
Merupakan upaya untuk memperluas kemampuan individu tanpa penerapan langsung dari energi manusia, keahlian, intelegensi, atau pengendalian.
Kesalahan dan seringkali variasi adalah hal yang menyebabkan perlunya pengendalian. Beberapa skema diusulkan untuk mengklasifikasi kesalahan atau variasi antara lain,
1. Shahid Ansari
Klasifikasi variasi berdasarkan dimensi alami antara lain seperti variasi yang diharapkan atau tidak diharapkan dan dimensi lingkungan.seperti internal (pusat biaya), eksternal (selain pusat biaya), dan exogenous (faktor diluar organisasi).
2. Joel Demski
Klasifikasi 5 kemungkinan penyebab kesalahan atau variasi, a. Implementation Failure
Kesalahan manusia atau mekanik untuk mendapatkan atau mempertahankan tindakan atau standar.
b. Prediction Error
Kesalahan untuk memprediksi dengan tepat satu dari nilai parameter model keputusan.
c. Measurement Error
Kesalahan menentukan biaya aktual dari operasi yang terjadi karena klasifikasi, pencatatan, dan perhitungan.
d. Model Error Results
Kesalahan dari representasi fungsional yang tidak tepat dalam model keputusan.
e. Random Deviation Results
Kesalahan variasi kecil dalam proses input atau output. Sistem Pengendalian Dasar
1. Sistem Pengendalian Tradisional
Sistem pengendalian tradisional diterapkan dengan menetapkan standar untuk setiap aktivitas operasi pada waktu penetapan anggaran. Pada akhir periode, standar kemudian dibandingkan dengan hasil aktual
menggunakan teknik analisis varian untuk menilai sifat penyimpangan yang terjadi.
2. Sistem Pengendalian Feedback
Sistem Pengendalian Feedback dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sistem pengendalian tradisional yang mana kesalahan dalam sistem menjadi dasar untuk memperbaiki estimasi anggaran. Sistem ini terdiri dari pemeriksaan aktivitas operasional, umpan balik dari kesalahan observasi atau konfirmasi, dan revisi anggaran berdasarkan penyimpangan yang diamati dalam sampel.
3. Sistem Pengendalian Feedforward
Sistem ini terdiri dari pengujian terhadap aktivitas yang berhubungan untuk mengantisipasi kemungkinan penyimpangan antara standar dengan kinerja aktual. Sistem ini mendeteksi kemungkinan terjadinya kesalahan, dan mengambil tindakan kompensasi untuk mempertahankan atau menyesuaikan aktivitas operasi.
BAB III
Linguistic Relativism in Management Accounting ”Karakteristrik linguistik dari akuntansi mendikte proses pembuatan keputusan dalam akuntansi secara umum dan akuntansi manajemen secara khusus.”
Akuntansi sebagai bahasa
Buku teks akuntansi secara rutin mengacu pada akuntansi sebagai bahasa dan sebagai kendaraan utama untuk mengkomunikasikan informasi bisnis. Berbagai macam jenis bisnis pada suatu perusahaan dilaporkan dalam pernyataan akuntansi menggunakan bahasa akuntansi, oleh karenanya
bahasa ini haruslah jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Ada dua komponen utama dalam sebuah bahasa yaitu karakter leksikal dan aturan tatabahasa.
Relativitas Linguistik dalam Akuntansi
a) Hipotesis Sapir-Whorf dalam Relativitas Linguistik
Anthropologist selalu menekankan pembelajaran bahasa didalam pembelajaran budaya. E. Sapir menyebutkan simbol linguistik dari budaya tertentu. Dia melihat bahasa sebagai instrumen pikiran dan komunikasi pikiran. Dalam kata lain, bahasa tertentu mempengaruhi pengguna dalam keyakinan berbeda. Argumen ini digunakan untuk mendemontrasikan relativitas bahasa. dengan menunjukkan bahwa dalam domain tertentu bahasa American Indian lebih superior dibandingkan dengan bahasa Eropa.
Pandangan mendasar dalam Hipotesis Sapir whorf adalah karakteristik dari bahasa memiliki pengaruh menentukan dari proses kognitif. Seseorang yang berbicara dengan satu bahasa kemudian akan sangat berbeda dalam hal struktur, tatabahasa dan karateristik lain. Bahasa lebih dari sebuah kendaraan komunikasi tentang independesi realitas objektif melainkan merepresentasikan realitas obyektif yang digunakan manusia untuk mengatur realitas di sekelilingnya. Skema yang digunakan
oleh penutur bahasa akan berbeda secara drastic. Whorf mengatakan pengamat tidak memiliki pemandangan yang sama dari alam semesta kecuali latar belakang bahasa mereka mirip. Pada posisi yang lebih ekstrem, hipotesis relativitas linguistik mengklaim bahwa bagian kognitif dari sebuah organisasi dibatasi oleh struktur linguistik.
Dalam ringkasan dari Hipotesis Relativitas Linguistik, Roger Brown membedakan menjadai dua hipotesis utama
1) Perbedaan struktural antara sistem bahasa secara umum akan dipararelkan oleh perbedaan kognitif non bahasa dari penutur asli dua bahasa
2) Struktur bahasa asli seseorang sangat mempengaruhi atau sepenuhnya menentukan pandangannya atas dunia yang akan diperoleh sambil belajar bahasa
Paul Kay dan Willet Kempton menambahkan hipotesis ketiga 3) Sistem semantic dari bahasa yang berbeda bervariasi
tanpa kendala
b) Sistematika dalam Hipnotesis Sapir Whorf
Menggunakan dikotomi ganda, Fishman mengklasifikasikan hipotesis Sapir-Whorf. Pendekatan model Fishman memperlihatkan karakteristik dari bahasa baik karakter leksikal dan aturan tatabahasa dan perilaku dari pembicara (baik linguistik data maupun non linguistik data).
a. Cell 1
Mengimplikasikan hubungan sifat leksikal dari sebuah bahasa dan perilaku pembicara. Sebuah fenomena akan dikodifikasi (dibukukan) berbeda dalam setiap bahasa yang menstrukturisasi perilaku verbal mereka. Karena perbedaan ini perilaku dan komunikasi akan berbeda.
b. Cell 2
Berhubungan dengan kodifikasi linguistik dan perilaku yang bersamaan. Hal ini mengimplikasikan hubungan antara properti leksikal dari sebuah bahasa dan perilaku linguistik dari pemakai bahasa. Tingkat kedua menyiratkan bahwa penutur bahasa yang membuat perbedaan leksikal tertentu akan dapat melakukan tugas-tugas non linguistik yang lebih baik dan lebih cepat.
c. Cell 3
Tingkat ketiga mengimplikasikan hubungan antara karakter tatabahasa dan budaya tertentu. Perhatian pada tingkat ini adalah hubungan antara bahasa dan cara pandang dunia. Pembicara dari satu bahasa yang menggunakan aturan tata bahasa tertentu akan memberikan cara pandang dunia yang berbeda dengan pembicara dari bahasa lain.
Tingkat ini mengimplikasikan hubungan karakteristik tatabahasa dan perilaku tertentu.
c) Sistematika Hipotesis Relativitas Lingusitik dalam Akuntansi Sistematisasi hipotesis relativitas linguistik dalam akuntansi dapat dicapai dengan membedakan antara karakteristik bahasa akuntansi dan data yang berbeda dari perilaku kognitif, di mana karakteristik bahasa akuntansi adalah representasi akuntansi simbolik dan aturan manipulasi dan data perilaku kognitif yang mengacu pada perilaku linguistik atau non pengguna data akuntansi.
Ahmed Belkaoui menyarankan 4 hipotesis
1) Pengguna yang membuat perbedaan leksikal tertentu dalam akuntansi dimungkinkan untuk berbicara dan / atau memecahkan masalah yang tidak dapat dengan mudah dipecahkan oleh pengguna yang tidak membuat perbedaan leksikal.
2) Pengguna yang membuat perbedaan leksikal tertentu dalam akuntansi dimungkinkan untuk melakukan tugas (Nonlinguistik) lebih cepat atau lebih benar daripada para pengguna yang tidak membuat perbedaan leksikal.
3) Pengguna yang memiliki peran akuntansi (dalam hal tata bahasa) cenderung untuk memiliki gaya manajerial yang berbeda daripada mereka yang tidak memiliki peran akuntansi.
4) Teknik Akuntansi dapat memfasilitasi atau membuat lebih sulit berbagai perilaku manajerial (nonlinguistik).
Dalam konteks tertentu, hipotesis ini tidak secara eksplisit teruji, berbagai bukti yang ada dalam akuntansi perilaku dan sastra pengolahan manusia kemungkinan dapat menjelaskan hipotesis relativitas linguistik dalam akuntansi secara umum dan empat hipotesis ini pada khususnya. Tesis Sosio Linguistik dalam Akuntansi
Peran dari bahasa dalam sebuah komunitas dan hubungan sosial adalah bagian dari sosiolinguistik. Dengan kata lain, orang belajar peran sosial mereka melalui proses komunikasi.
Kode komunikasi dapat diuraikan atau dibatasi, tergantung pada apakah sulit atau mudah untuk memprediksi alternatif linguistik. Seperti yang dinyatakan oleh Bernstein :
Kita bisa mulai melihat bahwa di daerah di mana sistem peran terbuka , ada motivasi untuk mengeksplorasi dan aktif mencari dan memperluas makna ; sedangkan di mana sistem peran tertutup, ada sedikit induksi motivasi untuk mengeksplorasi dan menciptakan makna baru. Dimana sistem peran terbuka, individu anak belajar untuk mengatasi ambiguitas dan isolasi dalam penciptaan makna secara lisan; dimana sistem peran ditutup, indikator individual atau anak akan menempa pembelajaran tersebut. Sebaliknya, ia belajar untuk menciptakan makna lisan dalam konteks sosial yang ambigu.
Dengan demikian peran sosial akan menentukan kode komunikasi yang digunakan. Situasi akuntansi juga mempengaruhi hubungan peran yang berbeda yang dihasilkan dari sejumlah faktor, termasuk keanggotaan dalam asosiasi profesional yang berbeda, perbedaan tingkat pendidikan, kelancaran dalam akuntansi, dan perbedaan dalam ekonomi dan posisi sosial. Hubungan peran ini pada gilirannya menentukan penjabaran kode komunikasi akuntansi jika sistem peran terbuka atau pembatasan kode komunikasi akuntansi jika sistem tertutup. Pada intinya, tesis sosiolinguistik dalam akuntansi menyiratkan adanya pebedaan repertoar linguistik akibat dari peran sosial yang berbeda. Secara khusus, konsep akuntansi menjadi sasaran analisis menggunakan teknik skala multidimensi untuk mengevaluasi perbedaan persepsi antarkelompok dengan tiga kelompok pengguna. Sebuah konstruk sosiolinguistik digunakan untuk membenarkan kemungkinan kurangnya konsensus tentang makna konsep akuntansi.
Tesis Bilingual dalam Akuntansi
Tes terbaik dari hipotesis Sapir - Whorf dapat disediakan oleh bilinguals karena mereka adalah satu-satunya yang secara pribadi telah mengetes perbedaan cara pandang dunia yang diakibatkan oleh bahasa yang berbeda. Tapi bilingualisme bukan satu-satunya situasi yang dapat mengakibatkan cara pandang
dunia yang berbeda karena bahasa yang berbeda. Diglosia adalah kasus lain. Diglosia terjadi ketika masyarakat menggunakan dua atau lebih bahasa untuk komunikasi. Fishman, membuat pemisahan antara bahasa High ( H ) yang digunakan di konjungsi dengan agama, pendidikan, dan aspek lain dari budaya yang tinggi dan Low ( L ) bahasa yang digunakan di konjungsi dengan aspek sehari-hari masyarakat. Charles A. Ferguson, yang memperkenalkan konsep diglosia sebagai bahasa yang terdisposisi.
Fishman membedakan linguistik bahasa H dan L
1. H adalah klasik dan L adalah bahasa daerah, terkait secara genetik.
2. H adalah klasik dan L adalah bahasa daerah , tidak terkait secara genetik.
3. H ditulis/diucapkan resmi dan L adalah bahasa daerah, terkait satu sama lain.
4. H ditulis/formal dan L adalah bahasa daerah, terkait satu sama lain
Fakta yang sangat penting adalah perbedaan peran sosial dan hubungan sosial mendikte penggunaan bahasa atau dialek yang berbeda yang mengakibatkan perbedaan cara pandang
dunia dan perilaku. Di mana perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang didukung, dan apa yang diekspresikan dalam satu bahasa akan berbeda dengan bahasa lainnya. Bilingualisme dan Diglosia berdampak pada penggunaan bahasa akuntansi. Penutur beberapa bahasa atau dialek yang berbeda akan mengalami pandangan dunia yang berbeda yang mengakibatkan bahasa akuntansi yang berbeda.
Akibatnya, bahasa ditemukan terkait dengan tingkat kreativitas yang lebih tinggi, kelayakan kognitif, pembentukan konsep , intelegensi verbal dan kemampuan psikolingistik. Maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan bahasa pada akhirnya dapat mengakibatkan perbedaan konsep akuntansi.
Model Relativitas Linguistik dalam Akuntansi Manajemen Akuntansi manajemen dapat direpresentasikan sebagai bahasa tertentu dari dua komponen yaitu representasi simbolis dan karakter tata bahasa. Proses pengambilan keputusan dalam akuntansi dipengaruhi oleh bahasa pada perilaku dan sikap sebagai hipotesis relativitas linguistik, hipotesis sosiolingusitik dan tesis bilingual. Pada dasarnya kodifikasi atau struktur bahasa akuntansi dipengaruhi oleh perilaku lingusitik dan nonlinguistik pengguna. Peran sosial yang diciptakan oleh perbedaan keanggotaan professional, kelas sosial dan pendidikan membuat perbedaan kode komunikasi baik yang diuraikan maupun dibatasi
dimana hal itu mempengaruhi konsep formasi, pemahaman, dan pengambilan keputusan dalam akuntansi. Pada akhirnya penggunaan bahasa atau dialek yang berbeda didalam bilingualism atau diglosia membuat fenomena pembicara dengan pemahaman akuntansi yang berbeda sama seperti yang diakibatkan oleh perbedaan kemapuan kognitif.
Kesimpulan
Perbedaan bahasa dan dialek yang mendasari perbedaan persepsi dan cara pandang dunia pada akhirnya dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada akuntansi manajemen.
Lexical characteristics (Accounting Terms)
Grammatical characteristics (Accounting Techniques) Accounting as a Language
(Sapir-Whorf Hypothesis)
Linguistic Condifiability & Cultural Reflections Linguistic Condifiability & Behavioral Concomitants Linguistic Structure & Cultural Concomitants
Linguistic Structural & Behavioral Reflections Linguistic Relativism in Accounting
Social relations & linguistic Repertoires Social Roles and Communication Codes Comunication Codes Restriced Elaborated Role Systems Open Close
Sociolinguistic Thesis in Accounting
Bilingualism & Weltanschauung Diglossia
High language Low language
Bilingual Thesis in Accounting
Linguistic Relativism in Management Accounting
Judgment/Decision
Process in Management Accounting Linguistic Relativism in Accounting: A Model
AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Cultural Relativism in Management Accounting, Cognitive Relativism in Management Accounting, & Contingency
Approaches to the Design of Accounting Systems
Dosen Pengampu: R.A. Supriyono, Prof., Dr., S.U., CMA.
oleh:
Fransiscus Nicodemus 15/387013/PEK/20563
Dhika Maha Putri 15/387000/PEK/20550
Pradibto Tri Nugrohoadi 15/387051/PEK/20601
Saiful Anwar 15/391085/PEK/21214
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2016 BAB IV
Cultural Relativism in Management Accounting Pendahuluan
Relativisme budaya dalam akuntansi manajemen mengisyaratkan bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda membangun dan menggunakan konsep dan praktik akuntansi manajemen yang berbeda. Pada dasarnya, bab ini memaparkan bahwa budaya melalui komponen-komponen, elemen, dan dimensi yang menentukan struktur organisasi yang di adopsi, perilaku mikroorganisasi, akuntansi manajemen dan fungsi kognitif yang dihadapkan pada akuntansi manajemen.
Sejarah Teori Budaya
Pada pertengahan abad kedelapan belas, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan teori-teori perbedaan budaya. Perbedaan budaya kemudian membawa kemajuan intelektual dan moral yang dicapai oleh orang berbeda-beda. Abad kesembilan belas muncul konsep evolusi budaya, yang mengemukakan bahwa budaya bergerak melalui berbagai tahap perkembangan. Auguste Comte, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, dan Lewis Henry Morgan menganut pandangan ini.
Konsep budaya telah mengalami berbagai penafsiran. Bahkan, beberapa antropolog menyatakan bahwa budaya secara abstrak mengacu pada budaya yang spesifik. Antrolopog menggunakan pendekatan khusus dengan tiga cara yang berbeda.
1. Pendekatan Budaya Universal
Pendekatan ini berfokus pada identifikasi semua budaya secara umum, yang tidak memungkinkan pengujian budaya terhadap suatu variable tertentu.
2. Pendekatan sistem nilai
Pendekatan ini berfokus pada mengklasifikasikan budaya sesuai dengan sistem nilai. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui nilai budaya adalah “way of life”.
3. Pendekatan sistem
Pendekatan ini berfokus pada sistem yang membentuk suatu budaya tertentu. P.R Harris dan R. T Moran mengindentifikasi delapan subsistem dalam suatu budaya yaitu; kekerabatan, pendidikan, ekonomi, politik, agama, aossiasi, kesehatan dan rekreasi.
Beberapa antropolog melihat bahwa kebudayaan sebagai informasi yang ada dalam pikiran manusia dan dikeluarkan sebagai bahasa, perilaku, materi, atau dokumen dan akan menjadi sumber budaya bagi setiap individu dan kelompok. Ada juga consensus tentang isu utilitas budaya yang mengartikan bahwa praktik-praktik budaya memiliki fungsi atau
mencerminkan cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya.
Berikut adalah konsep budaya yang ada dalam antropologi yang memengaruhi perbedaan tema penelitian akuntansi.
1. Berdasarkan Fungsionalisme Malinowski, budaya dapat dilihat sebagai instrument yang melayani kebutuhan biologis dan psikologis. Penerapan definisi ini maka penelitian akuntani memengaruhi persepsi akuntansi pada instrument sosial budaya tertentu dalah hal penyelesaian tugas dan analisis akuntansi lintas budaya atau akuntasni komparatif.
2. Mengikuti fungsionalisme structural Radcliffe-Brown, budaya dapat dilihat sebagai mekanisme pengaturan adaptasi yang menyatukan individu dengan structural sosial. Penerapan dari definisi ini untuk penelitian akuntansi adalah pengaruh persepsi akuntansi pada setiap budaya sebagai alat adaptasi terhadap proses pertukaran dengan lingkungan dan analisi budaya akuntansi.
3. Mengikuti Etnosains Goodenough, budaya dapat dilihat sebagai suatu sistem pengetahuan bersama. Pikiran manusia menghasilkan budaya yang dibatasi oleh aturan. Penerapan definisi ini untuk penelitian akuntansi adalah pengaruh akuntansi dapat dilihat sebagai suatu sistem
pengetahuan bagi masing masing individu berbagai tingkay dan analisi dari pengetahua akuntansi.
4. Mengikuti antropolog simbolik Geertz, budaya dapat dilihat sebagai symbol dan makna bersama. Penerapan budaya berdasarkan definisi ini untuk penelitian akuntansi bahwa akuntansi dapat dilihat sebagai pola wacana simbolik atau bahasa dan analisi akuntansi sebagai bahasa.
5. Berdasarkan teori struktualisme Levi-Strauss, budaya dapat dilihat sebagai proyeksi insfrakstruktur pikiran sadar yang umum. Penerapan definisi akuntansi ini dalam penelitian akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi dapat dilihat pada setiap budaya yang berbeda sebagai manifestasi dari proses tidak sadar maupun sadar tentang akuntansi.
Relativisme Budaya dalam Manajemen Akuntansi Model Relativisme Budaya
Edward T. Hall telah menyatakan bahwa “budaya adalah media manusia; tidak ada satu aspek kehidupan manusia yang tidak teanrsentuh dan dirubah oleh budaya”. Hal ini berarti kepribadian, cara berekspresi, cara berpikir, cara bergerak, cara menyelesaikan masalah, cara merencanakan dan melakukan penataan, pengorganisasian fungsi sistem transportasi, serta sistem ekonomi dan fungsi pemerintah.
Hal ini diaplikasikan dalam akuntansi dimana budaya dapat ditunjukkan sebagai akuntabilitas. Budaya pada dasarnya
menentukan penilaian proses/ keputusan dalam akuntansi. Gambar berikut ini menunjukkan budaya melalui komponen-komponennya, elemen, dan dimensi menentukan struktur organisasi yang diadopsi, perilaku mikroorganisasional, dan fungsi kognitif individu. Hal ini akhirnya akan memengaruhi penilaian/proses pengambilan keputusan ketika seseorang dihadapkan pada fenomena akuntansi manajmen.
Operaisonalisai Budaya
Model pada gambar di atas menghindari dua masalah utama operasi dan penggunaan budaya yang telah menimpa sebelumnya; menyamakan budaya antar negara dan penggunaan ad hoc budaya sebagai faktor residual yang belum dapat menjelaskan variasi oleh faktor lainnya. Budaya diapandang sebagai penciptaan mental secara kolektif, yaitu sebagai sistem idiologi yang membentuk latar belakang manusia beraktivitas dan menyedian orang-orang dengan toeri realita. Latar belakang ini terdiri dari unsure-unsur yang berbeda dan termasuk dimensi yang pasti.
Unsur-unsur budaya umumnya dianggap memengaruhi perilaku bisnis internasional; bahasa, agama, nilai, sikap, hukum, pendidikan, kebijakan, teknologi, dan organisasi sosial. Unsure unsure ini diasumsikan dalam model relativisme budaya yang memiliki potensi mendikte struktur organisasi yang diadopsi, fungsi kognitif individu dan perilaku mikro-organisasi yang mampu membentuk proses penilaian/ pengambilan keputusan dalam akuntansi.
Budaya memiliki lima dimensi yaitu variabilitas budaya, Kompleksitas budaya, heterogenitas budaya, persaingan budaya dan interpendensi budaya. Dimana tiga dimensi merujuk pada
kondisi di dalam budaya sementara dua terakhir merujuk pada kondisi di antara budaya yang satu dengan yang lainnya. Dimensi ini dapat dilihat sebagai potensi seumber masalah untuk perusahaan.
1. Variabilitas budaya dapat menghasilakan ketidakpastian karena menyerukan fleksibilitas organisasi dan proses adaptasi.
2. Kompleksitas budaya menimbulkan kesulitan pemahaman karena memerlukan persiapan organisasi dan individu. 3. Persaingan Budaya mengancam pencapaian tujuan andan
kelangsungan hidup karena menuntut pemeliharaan penerimaan sosial.
4. Heterogenitas budaya menghalangi keputusan terpusat dan membuat informasi yang berlebihan, hal ini karena menyerukan desentralisasi budaya.
5. Interindependensi budaya meningkatkan kerentanan suatu organisasi untuk konflik antar kelompok
Model relativisme budaya ini mengasumsikan bahwa perbedaan dalam lima dimensi-dimensi ini menghasilkan lingkungan budaya yang berbeda yang memiliki potensi mendikte struktur organisasi yang diadopsi, fungsi kognitif individu dan perilaku mikro organisasi yang akan membentuk proses pengambilan keputusan dalam akuntansi.
Budaya juga bervariasi dalam empat dimesni yang mencerminkan orientasi budaya suatu negara dan menjelaskan 50 persen perbedaan sistem nilai antar negara, yaitu:
1. Power Distance, mewakili sejauhmana anggota masyarakat menerima distribusi kekuasaan di lembaga dan organisasi. Masyarakat yang memiliki jarak kekuasaan yang lebar ada kecenderungan untuk menerima perintah secara hirarkis sedangkan masyarakat yang memiliki jarak kekuasaan kecil cenderung untuk membenarkan ketidaksetaraan kekuasaan yang ada.
2. Uncertainty-Avoidance, dimensi yang mewakili sejauhmana anggota masyarakat merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas.
3. Individualism-Collectivism, dimensi yang mewakili tingkat integrasi masyarakat yang mempertahankan dirinya sendiri ataupun hubungan antar anggota/individu
4. Masculinity-Femininity, merupakan dimensi yang mewakili sifat dari divisi sosial pera seks. Maskulin menunjukan adanya prestasi, ketegasan dan sejenisnya. Feminim menunjukkan adanya hubungan yang hangat, kerendahan hati, kepedulian dan sejenisnya.
Model relativitas budaya ini mengasumsikan bahwa perbedaan antara empat dimensi akan membuat perbedaan budaya yang memiliki potensi untuk mendikte struktur organisasi
yang diadopsi, fungsi kognitif dan perilaku mikroorganisasional yang dapat membentuk proses penilaian/keputusan dalam akuntansi
Budaya dan Struktur Organisasi
Model relativisme budaya mengasumsikan bahwa budaya melalui komponen, unsure dan dimensinya menentukan jenis struktur organisasi. Ide ini pertama kali dikeumakan oleh J. Child, yang menyatakan bahwa budaya memengaruhi desain struktur organisasi. Pendapat ini mematahkan “budaya bebas” dalam teori Kontigensi tentang strutur organisasi yang diusulkan oleh DJ, Hickson dan rekan rekannya.
Uma Sekaran dan Carol R. Snodgrass memberikan argumen tentang bagaimana dimensi budaya secara spesifik memengaruhi elemen. Secara khusus mencocokkan empat aspek struktural.
1. Organisation-Hierarchy, hal ini merujuk pada bagaimana organisasi mendistribusikan kekuasaan di antara anggota. Aspek ini berhubungan dengan Dimensi Power Distance. 2. Monitoring System, merupakan proses pengumpulan dan
penyebaran informasi tentang kinerja. Aspek ini berhubungan dengan Dimensi Uncertanty Avoidance.
3. Evaluation System, mengacu pada proses menilai efektifitas dan efisiensi kinerja individu dalam organisasi.
Aspek ini berhubungan dengan Dimensi Individualism-Kolektivism.
4. Reward System, mengacu pada proses memberikan penghargaan terhadap kinerja kelompok maupun kinerja individu. Aspek ini berhubungan dengan Dimensi Maskulinism-Feminism.
Perilaku Mikro-organisasi dan Budaya
Penelitian lintas budaya pada perilaku mikroorganisasi telah memeriksa berbagai isi termasuk gaya kognitif, motivasi kerja, kepuasan kerja dan lainnya penting untuk menyoroti perbedaan sikap dan perilaki manajerial. Penelitian terkait gaya kognitif berfokus pada perbedaan budaya dalam aspek structural sistem kognitif individu, Hal ini untuk memahami dampak dari budaya seubjektif dari perilaku individu. Pendapat ini dikenal dengan teori deferensiasi psikologis.
Penelitian tentang sikap dan nilai niali berfokus pada perbedaan budaya. Penelitian tentang motivasi kerja membahas perbedaan motivasi lintas budaya. Penelitian tentang kepuasan kerja berfokus pada perbedaan kepuasan kerja lintas-budaya dengan variable lain yang menarik.
Bagaimana orang belajar dan berfikir merupakan studi tentang kognisi manusia. Perbedaan budaya dalam fungsi kognitif telah menjadi banyak perdebatan. Perdebatan akibat pandangan yang berbeda perlu dilanjutkan dalam penelitian akuntansi untuk menentukan apakah orang-orang dari budaya yang berbeda akan melakukan tugas-tugas yang berbeda sesuai dengan tingkat keterampilan kognitifnya.
Budaya dan Variabel lingkungan akuntansi manajemen
Budaya merupakan variable penting yang memengaruhi lingkungan akuntansi manajemen suatu negara. Pendapat terdahulu menyatakan bahwa akuntansi sebenarnya ditentukan oleh budaya yang diberikan di suatu negara tersebut. Kurangnya konsensus di antara negara-negara yang berbeda tentang sebuah metode akuntansi yang tepat karena disebabkan oleh tujuan dari akuntansi adalah budaya bukan teknis.
Kesimpulan
Inti dari relativisme budaya dalam akuntansi manajemen adalah adanya proses budaya yang diasumsikan memengaruhi proses penilaian/keputusan dalam akuntansi manajemen. Model relativisme budaya dalam bab ini menyatakan bahwa budaya melalui komponen, elemen dan dimensinya menentukan struktur yang diadopsi oleh organisasi, perilaku mikro-organisai,
pengelolaan akuntabilitas lingkungan dan fungsi kognitif individu yang dihadapkan pada fenomena akuntansi manajemen.
BAB V
Bab ini menyajikan model yang berfokus pada proses kognitif pengambil keputusan untuk melakukan penilaian dan membuat keputusan tentang fenomen akuntansi. Pada dasarnya baik penilain dan keputisan adalah produk dari serangkaian operasi sosial kognitif yang meliputi pengamatan fenomena akuntansi dan pemebntukan skema yang memungkinkan pembentukan penilaian dan keputusan.
Skema Psikologi Kognitif
Pemikiran tentang Proses Schema-Guided
Teori Skema yang dikembangkan oleh F.C. Bartlett berperan sebagai stimulans untuk semua teori skema. Seperti yang didefinisikan oleh Bartlett, skema adalah "organisasi yang aktif dari reaksi masa lalu, atau pengalaman masa lalu, yang seharusnya beroperasi di respon organik yang dapat beradaptasi dengan baik”. Schemata adalah pengetahuan di alam bawah sadar yang kompleks, sebagai pengalaman di masa lalu yang terorganisir. Schemata merupakan representasi kognitif yang umum, dalam arti bahwa mereka merupakan suatu proses yang dapat berurusan dengan jumlah tanpa adanya batas kasus baru. Schemata umumnya dianggap sebagai elemen mendasar bagi semua pengolahan informasi yang bergantung. Mereka merupakan teori tentang pengetahuan: bagaimana pengetahuan direpresentasikan, dan bagaimana representasi dapat memfasilitasi penggunaan pengetahuan dalam berbagai cara.
Seperti yang dinyatakan oleh D.E. Rumelhart, "schemata yang diterapkan dalam proses interpretasi data sensorik, dalam mengambil informasi dari memori, dalam mengorganisir aksi, dalam menentukan tujuan dan sub-tujuan, dalam alokasi sumber daya dan umumnya dalam membimbing aliran pengolahan di sistem. Dalam kenyataannya, analisis yang berguna dari skema yang disarankan oleh Rumelhart termasuk drama, teori, prosedur, dan parser. Sifat skema meliputi sebagai berikut :
1. Skema merupakan abstraksi konsep prototipe yang kompleks yang diwakilinya.
2. Skema diinduksi dari pengalaman masa lalu dengan berbagai eksemplar kompleks yang diwakilinya.
3. Skema dapat membimbing informasi organisasi yang masuk ke dalam kelompok pengetahuan yang "instantiations" dari skema itu sendiri.
4. Ketika salah satu dari komponen konsep skema hilang pada input, fitur-fiturnya dapat disimpulkan dari "nilai standar" dalam skema.
Skema versus Kategori
Jean Mandler membuat perbedaan yang tidak biasa antara dua jenis kategori representasi dan skema. Kategori tersebut ditandai dengan verbal atau nonverbal simbol dan diwakili oleh satu set fitur yang berfungsi sebagai dasar untuk menyimpulkan keanggotaan di dalamnya. Skema, di sisi lain, adalah representasi kognitif dimana fitur, kategori yang semisal, diatur menurut spesifik spasial priori, temporal, atau kriteria logis.
Dalam mempertimbangkan pertumbuhan skema dan mengubah bukti mendukung berpengaruh kegigihan dimana skema generik resisten terhadap perubahan bahkan dalam menghadapi bukti sebaliknya. Schemata dikembangkan dari pengalaman dengan contoh dari kategori yang bersangkutan dan menjadi lebih kompleks, lebih abstrak, dan lebih terorganisasi dengan pengalaman. Dengan meningkatnya pengalaman skema menjadi lebih dewasa dan lebih kompleks.
Sumber aktivasi untuk skema
DG Bobrow dan DA Norman membedakan antara dua sumber dasar aktivasi untuk skema: konseptual driven dan pengolahan data-driven. dalam proses konseptual driven, skema yang diaktifkan pada gilirannya mengaktifkan subskema dengan harapan bahwa ini akan menjelaskan beberapa bagian dari input data. Dalam pengolahan data-driven, subschema diaktifkan menyebabkan aktivasi berbagai skema yang merupakan komponen.
Encoding Informasi pada sebuah skema
Pengkodean informasi sebenarnya tunduk pada setidaknya dua interpretasi. Pertama, interpretasi yang diusulkan oleh RS Woodswork dan H. Schlosberg bahwa sekali skema diaktifkan oleh informasi episodik yang masuk membangun struktur yang tidak sesuai dengan implikasi, maka skema ini ditambahkan kepenyajian informasi sebagai "koreksi." konseptualisasi kedua, diusulkan oleh AC Graesser, SE Gordon, dan JD Sawyer bahwa ketika orang menerima informasi yang ditafsirkan dalam hal skema acara prototypic (script),
mereka tidak menyimpan informasi itu sendiri tetapi mempertahankan "pointer" ke skrip umum, bersama dengan indikasi nilai informasi.
Penelitian skema social
Penelitian skema sosial menyelidiki schemata, pribadi schemata, naskah atau hal schemata. Shcemata mengandung generalisasi kognitif tentang diri yang berasal dari pengalaman di masa lalu. Orang umumnya diri skematik pada dimensi yang penting bagi mereka, di mana mereka menganggap diri mereka sebagai ekstrim, dan yang mereka anggap sebaliknya tidak benar.
Pribadi schemata meliputi representasi prototipe dari sifat-sifat seperti ekstraversi dan introversi, serta gagasan-gagasan tentang apa perilaku konsisten dengan tujuan tertentu. Schemata orang dari segala macam bentuk proses persepsi, memori, dan keputusan agar sesuai dengan asumsi umum kita tentang orang lain. Efek dari skema persepsi, memori dan inferensi belum tentu cocok untuk akurasi dalam mengidentifikasi kasus individu. Schemata digunakan oleh pikiran untuk mengelola proses tersebut secara ekonomi, jika tidak akurat.
PENELITIAN SKEMA BERBASIS DI AKUNTANSI
Penelitian kognitif Akuntansi dan Audit
Revolusi kognitif dalam psikologi sosial telah menciptakan minat yang kuat dalam struktur pengetahuan dalam memori secara umum dan bagaimana orang belajar secara khusus. Paradigma penelitian ini juga mempengaruhi akuntansi dan audit. Mengingat bahwa perbedaan antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural adalah setara dengan perbedaan antara pengetahuan
konten dan penggunaan yang pengetahuan atau antara "mengetahui apa" dan "tahu bagaimana”.
Proposisi tentang Struktur Pengetahuan Akuntansi
Gagasan schemata (struktur pengetahuan atau template) yang digunakan oleh Michael Gibbins untuk membuat proposisi umum, corollaries, dan hipotesis tentang operasi psikologis pertimbangan profesional dalam "lingkungan" Pengaturan sehari-hari yang dialami oleh akuntan publik. pertimbangan profesional di akuntansi publik digambarkan sebagai proses lima komponen: (1) schemata atau pengetahuan struktur akumulasi melalui pembelajaran atau pengalaman;
(2) suatu peristiwa yang memicu atau stimulus; (3) lingkungan penilaian;
(4) proses penilaian; (5) keputusan / tindakan
Pandangan Kognitif dari Proses Penilaian/Keputusan dalam Akuntansi Manajemen
Model proses penilaian/keputusan dalam akuntansi diusulkan sebagai latihan dalam persepsi sosial dan kognisi, yang membutuhkan penilaian formal dan implisit. Input utama untuk proses ini adalah masalah atau fenomena akuntansi yang perlu diselesaikan dan membutuhkan penilaian baik preferensi atau keputusan. Model ini terdiri atas langkah-langkah berikut:
a. Pengamatan fenomena akuntansi oleh pengambil keputusan b. Pembentukan Skema atau bangunan dari fenomena akuntansi c. Skema organisasi atau penyimpanan
d. Perhatian dan pengakuan proses dipicu oleh rangsangan
e. Pengambilan informasi yang disimpan diperlukan untuk penilaian keputusan
f. Peninjauan Kembali dan integrasi informasi yang diambil dengan informasi yang baru
Kesimpulan
Inti dari relativism kognitif dalam akuntansi manajemen adalah keberadaan sebuah proses kognitif yang diasumsikan untuk mengarahkan proses keputusan / keputusan. Model dalam bab ini menunjukkan bahwa penilaian dan keputusan dibuat mengenai fenomena akuntansi adalah produk dari serangkaian operasi kognitif sosial yang meliputi pengamatan informasi tentang fenomena akuntansi dan pembentukan skema yang disimpan dalam memori dan kemudian diambil untuk memungkinkan pembentukan penilaian dan / atau keputusan bila diperlukan.
BAB VI
Pendekatan Kontingensi untuk mendesain sistem akuntansi
PENGANTAR
Perbandingan antara kontingensi tertentu dan berbagai karakteristik sistem akuntansi adalah tujuan dari metode teoritis dan penelitian empiris yang umumnya dikenal sebagai pendekatan kontingensi untuk merancang sistem akuntansi. TEORI KONTINGENSI
Pendekatan teori kontingensi untuk merancang sistem akuntansi diasumsikan bahwa tidak ada strategi umum yang berlaku untuk semua organisasi. Hal ini kemudian cocok antara desain sistem akuntansi dan kontingensi khusus yang berada di lingkup teori kontingensi. Formulasi ini mengadopsi kerangka umum yang menghubungkan (1) beberapa variabel kontingen (yaitu, variabel yang tidak dapat dipengaruhi oleh organisasi) ke (2) komponen dari paket kontrol organisasi (yang terdiri dari desain informasi akuntansi, desain informasi manajemen lainnya, desain organisasional, pengaturan pengendalian organisasi). (3) beberapa variabel intervening berhubungan (4) ukuran efektivitas organisasi.
TEORI FORMULASI
Lima formulasi teoritis telah diusulkan dalam literatur, yaitu:
(A) Desain efisiensi dari sistem akuntansi manajemen dan pilihan mekanisme kontrol yang bergantung pada struktur dan konteks organisasi. Variabel kontekstual yang membentuk struktur organisasi diasumsikan menjadi teknologi dan lingkungan.
(B) Gordon dan Miller mengusulkan kerangka kerja kontingensi untuk desain sistem informasi yang memperhitungkan lingkungan akuntansi, atribut organisasi, dan gaya pengambilan keputusan manajerial. Karakteristik lingkungan ditandai dengan tiga dimensi kunci: dinamisme, heterogenitas, dan permusuhan.
Atribut organisasi termasuk desentralisasi, diferensiasi, integrasi, birokratisasi, dan sumber daya. Gaya pengambilan keputusan pihak eksekutif meruapakan karakteristik ditandai dengan enam dimensi berikut: analisis keputusan, keputusan
horizon waktu, multiplexity atas pengambilan keputusan, kemampuan beradaptasi, proaktif dan kesadaran dari strategi.
(C) Macintosh dan Daft meneliti hubungan antara satu karakteristik organisasi dan desain sistem kontrol. Dengan saling ketergantungan berarti sejauh mana departemen bergantung satu sama lain dan pertukaran informasi dan sumber daya untuk menyelesaikan tugas
(D) Macintosh mengusulkan sebuah model kontekstual sistem informasi yang meliputi konsep makroorganisasional konsep teknologi dan konstruk sistem pemprosesan informasi manusia dan gaya keputusan pribadi. Model ini menggabungkan gaya keputusan pribadi, jenis teknologi, dan struktur organisasi untuk mendapatkan gaya sistem informasi. Variabel tersebut dapat diartikan sebagai berikut:
- Driver dan Mock, merupakan model gaya keputusan yang digunakan untuk mengartikan variabel gaya keputusan. Model ini mengasumsikan dua dimensi pengolahan informasi: jumlah informasi yang digunakan (dari minimum ke maksimum) dan tingkat fokus dalam penggunaan data (dari satu solusi untuk beberapa solusi). Kedua-dimensi diskusi-digabungkan untuk memperoleh empat gaya khas: penentu, fleksibel, hierarki, dan integratif.
penentu mengasumsikan penggunaan jumlah minimal data untuk menghasilkan arti yang berbeda pada waktu yang berbeda
fleksibel mengasumsikan penggunaan jumlah minimal data untuk menghasilkan
arti yang berbeda pada waktu yang berbeda.
pendapat perusahaan integrati
f
mengasumsikan penggunaan massa data untuk menghasilkan banyak kemungkinan solusi.
- Kategori perrow atas teknologi. Model ini mengasumsikan dua dimensi teknologi: tugas pengetahuan (dari dianalisis untuk dapat dianalisis) dan tugas berbagai variasi (dari rendah ke tinggi).
Akhirnya, empat gaya informasi dibedakan dalam dua-dimensi diskusi-: jumlah dan ambiguitas. Macintosh didefinisikan mereka dengan cara berikut: sistem informasi ringkas, sistem informasi yang rumit, sistem informasi sepintas, sistem informasi menyebar.
E) Ewusi-Mensah menyelidiki dampak lingkungan organisasi eksternal pada sistem informasi manajemen. Lingkungan organisasi tergolong baik statis atau dinamis, dan terkendali, sebagian terkendali, atau tidak terkendali.
STUDI EMPIRIS PADA TEORI KONTINJENSI
Penggunaan Teknik Anggaran Modal
Penggunaan teknik arus kas diskonto telah disebut-sebut lebih unggul sebagai teknik non diskonto sebagai alat untuk memilih investasi modal. Beberapa studi empiris telah berusaha untuk memastikan tesis bahwa perusahaan tidak harus melakukan lebih baik jika menggunakan teknik naif. Hasilnya, bagaimanapun, telah tercampur. Untuk mengoreksi berbagai teori dan keterbatasan metodologis, Haka, Gordon, dan Pincher menggunakan teori Model, berasal dari teori ekonomi keuangan, yang menunjukkan bahwa peningkatan
kinerja perusahaan (pengukuran data pasar saham) tidak signifikan terkait dengan teknik arus kas diskonto.
Hubungan antara penggunaan teknik penganggaran modal dan kinerja perusahaan jelas dimitigasi oleh kontingen, karakteristik spesifik perusahaan. Menggunakan perspektif tersebut, Haka mengembangkan dan menguji teori kontingensi yang bisa memprediksi perusahaan mana yang paling mungkin untuk mendapatkan keuntungan dari penggunaan teknik penganggaran modal yang canggih. karakteristik eksternal digunakan dalam model adalah (1) strategi perusahaan (2) prediktabilitas lingkungan dan (3) keanekaragaman lingkungan. Karakteristik internal adalah (1) sistem informasi (mendukung atau tidak mendukung), (2) struktur penghargaan, dan (3) tingkat desentralisasi. Hasil dari survei yang menyediakan bukti hubungan positif antara efektivitas teknik penganggaran modal yang canggih dan dapat memprediksi lingkungan, penggunaan sistem penghargaan jangka panjang, dan tingkat proses desentralisasi.
Strategi Bisnis dan Sistem Pengendalian
Strategi bisnis adalah sumber dari kontingensi dalam desain-organisasi dan sistem kontrol. Govindarajan dan Gupta meneliti keterkaitan antara strategi, sistem insentif bonus, dan efektivitas di strategis tingkat unit bisnis dalam perusahaan diversifikasi. Sebuah survei terhadap manajer umum
unit bisnis strategis (SBU) di perusahaan diversifikasi menghasilkan hasil sebagai berikut:
(1) ketergantungan lebih besar pada kriteria jangka panjang serta lebih mengandalkan subjektif (non formula) pendekatan untuk menentukan bonus SBU manajer umum 'kontribusi untuk
efektivitas dalam kasus SBU dibangun tetapi menghambat dalam kasus panen SBU, dan
(2) hubungan antara tingkat ketergantungan sistem bonus pada kriteria jangka pendek dan efektivitas SBU hampir independen dari strategi SBU.
Persepsi Penting dan Penggunaan Kontrol Anggaran
Literatur empiris dalam teori kontingensi berusaha untuk menjelaskan variasi pada persepsi penting dan / atau penggunaan kontrol anggaran di berbagai variabel kontingensi. Khandwalla melaporkan bahwa persepsi manajer atas control anggaran flexible adalah fungsi positif dari kompetisi yang dihadapi oleh organisasi mereka.
Burns dan Waterhouse menemukan bahwa dalam organisasi yang sangat terstruktur cenderung menganggap diri mereka memiliki pengaruh yang lebih, dalam partisipasi perencanaan anggaran, dan mereka tampak puas dengan kegiatan yang berhubungan dengan anggaran.
Akhirnya, Rockness dan Shields menganalisis perbedaan dalam dirasakan dalam kontrol anggaran belanja dalam penelitian dan pengembangan kelompok kerja sesuai konteks organisasi (ukuran organisasi, pengeluaran Ukuran anggaran, sumber dana) dan sistem pengendalian manajemen (pentingnya kontrol sosial,
langkah-langkah dalam proses kontrol). Hasilnya cukup signifikan dan mendukung penelitian sebelumnya, bahwa mereka memberikan bukti tambahan dari hubungan kontingensi antara kontrol anggaran dan konteks organisasi.
Pemilihan control tindakan dan system
Efektivitas organisasi sebagian besar tergantung pada keberhasilan kontrol organisasi dan pemeliharaan integritas keseluruhan organisasi. Belkaoui juga meneliti hubungan antara keterbukaan diri dan sikap pertanggungjawaban akuntansi. Karena sistem akuntansi pertanggungjawaban membutuhkan satu kinerja publik dan menyiratkan kepercayaan implisit antara mereka yang dikendalikan dan manajer mereka, melaporkan pengungkapan diri dapat berhubungan dengan sikap untuk sistem pertanggungjawaban akuntansi.
Pendekatan Kontingensi Penilaian Kinerja
Pendekatan kontingensi untuk penilaian kinerja yang ditunjukkan oleh Penelitian Hayes, Hasilnya menunjukkan bahwa (1) faktor internal adalah penjelasan utama untuk kinerja departemen produksi, dan (2) lingkungan serta variabel yang saling ketergantungan memberikan kontribusi kurang lebih sama untuk menjelasan kinerja oleh departemen pemasaran. Kemudian Govinadarajan Govinadarajan menguji hubungan kontingensi antara ketidakpastian lingkungan dan evaluasi kinerja gaya, hasilnya (1) unit usaha yang unggul ketika menghadapi lingkungan
yang tidak pasti yang lebih tinggi akan menggunakan pendekatan penilaian kinerja lebih subjektif; dan (2) kecocokan antara ketidakpastian lingkungan dan gaya evaluasi kinerja adalah terkait dengan kinerja unit bisnis yang lebih tinggi.
Penentu Sistem Informasi Akuntansi
Teknologi diuji sebagai variabel penjelas utama dari sistem informasi akuntansi yang efektif oleh Daft dan Macintosh
Persepsi ketidakpastian lingkungan dan struktur organisasi juga bagaimana mereka berhubungan dengan sistem informasi oleh Gordon dan Narayanan Pijer menemukan bahwa struktur pengendalian keuangan dari suatu
organisasi tergantung pada kompleksitas tugas yang dihadapinya
Penentu perubahan sistem akuntansi manajemen diselidiki oleh Libby dan Waterhouse.
Efek kontrol manufaktur pada efisiensi kinerja dan efektifitas diperiksa oleh Young et al
Motivasi manajer untuk menerapkan teknik akuntansi manajemen baru seperti just-in-time diperiksa oleh Griffin dan Harrell
Sebuah analisis empiris dari hubungan antara penggunaan sistem
pendukung eksekutif (ESS) dan persepsi daya saing organisasi dilakukan oleh Vander- bosch.
Pengaruh kepentingan diri sendiri dan pertimbangan etis pada evaluasi manajer diperiksa oleh Rutledge dan Karim.
Argumen utama teori kontingensi adalah bahwa kinerja yang efektif dari organisasi tergantung pada pencocokan memadai struktur dan sistem kontrol dengan variabel tekstual
Perilaku disfungsional melibatkan upaya oleh bawahan untuk memanipulasi unsur sistem pengendalian ditetapkan untuk / tujuan nya sendiri. Upaya ini pada aliran informasi strategis manufaktur dan memalsukan informasi telah dicatat dalam perilaku organisasi dan literatur akuntansi keperilakuan.
Jaworski dan Young mengembangkan dan menguji model yang berpendapat bahwa tiga variabel kontekstual (keselarasan tujuan, persepsi perilaku disfungsional, dan asimetri informasi antara atasan dan bawahan) mempengaruhi konflik peran dan tekanan pekerjaan yang dialami oleh bawahan. Hasilnya seperti yang diperkirakan dengan hasil bahwa konflik peran meningkatkan tekanan pekerjaan dan tekanan pekerjaan meningkatkan tingkat perilaku disfungsional. Persepsi Penting dan Penggunaan Kontrol Anggaran
Literatur empiris dalam teori kontingensi berusaha untuk menjelaskan variasi pada persepsi penting dan / atau penggunaan kontrol anggaran di berbagai variabel kontingensi. Khandwalla melaporkan bahwa persepsi manajer atas control anggaran flexible adalah fungsi positif dari kompetisi yang dihadapi oleh organisasi mereka.
Burns dan Waterhouse menemukan bahwa dalam organisasi yang sangat terstruktur cenderung menganggap diri mereka memiliki pengaruh yang lebih, dalam partisipasi perencanaan anggaran, dan mereka tampak puas dengan kegiatan yang berhubungan dengan anggaran.
Akhirnya, Rockness dan Shields menganalisis perbedaan dalam dirasakan dalam kontrol anggaran belanja dalam penelitian dan pengembangan kelompok kerja
sesuai konteks organisasi (ukuran organisasi, pengeluaran Ukuran anggaran, sumber dana) dan sistem pengendalian manajemen (pentingnya kontrol sosial, langkah-langkah dalam proses kontrol). Hasilnya cukup signifikan dan mendukung penelitian sebelumnya, bahwa mereka memberikan bukti tambahan dari hubungan kontingensi antara kontrol anggaran dan konteks organisasi.
Pemilihan control tindakan dan system
Efektivitas organisasi sebagian besar tergantung pada keberhasilan kontrol organisasi dan pemeliharaan integritas keseluruhan organisasi. Belkaoui juga meneliti hubungan antara keterbukaan diri dan sikap pertanggungjawaban akuntansi. Karena sistem akuntansi pertanggungjawaban membutuhkan satu kinerja publik dan menyiratkan kepercayaan implisit antara mereka yang dikendalikan dan manajer mereka, melaporkan pengungkapan diri dapat berhubungan dengan sikap untuk sistem pertanggungjawaban akuntansi.
Pendekatan Kontingensi Penilaian Kinerja
Pendekatan kontingensi untuk penilaian kinerja yang ditunjukkan oleh Penelitian Hayes, Hasilnya menunjukkan bahwa (1) faktor internal adalah penjelasan utama untuk kinerja departemen produksi, dan (2) lingkungan serta variabel yang saling ketergantungan memberikan kontribusi kurang lebih sama untuk menjelasan kinerja oleh departemen pemasaran. Kemudian Govinadarajan Govinadarajan
menguji hubungan kontingensi antara ketidakpastian lingkungan dan evaluasi kinerja gaya, hasilnya (1) unit usaha yang unggul ketika menghadapi lingkungan yang tidak pasti yang lebih tinggi akan menggunakan pendekatan penilaian kinerja lebih subjektif; dan (2) kecocokan antara ketidakpastian lingkungan dan gaya evaluasi kinerja adalah terkait dengan kinerja unit bisnis yang lebih tinggi. Penentu Sistem Informasi Akuntansi
Teknologi diuji sebagai variabel penjelas utama dari sistem informasi akuntansi yang efektif oleh Daft dan Macintosh
Persepsi ketidakpastian lingkungan dan struktur organisasi juga bagaimana mereka berhubungan dengan sistem informasi oleh Gordon dan Narayanan Pijer menemukan bahwa struktur pengendalian keuangan dari suatu
organisasi tergantung pada kompleksitas tugas yang dihadapinya
Penentu perubahan sistem akuntansi manajemen diselidiki oleh Libby dan Waterhouse.
Efek kontrol manufaktur pada efisiensi kinerja dan efektifitas diperiksa oleh Young et al
Motivasi manajer untuk menerapkan teknik akuntansi manajemen baru seperti just-in-time diperiksa oleh Griffin dan Harrell
Sebuah analisis empiris dari hubungan antara penggunaan sistem
pendukung eksekutif (ESS) dan persepsi daya saing organisasi dilakukan oleh Vander- bosch.
Pengaruh kepentingan diri sendiri dan pertimbangan etis pada evaluasi manajer diperiksa oleh Rutledge dan Karim.
Argumen utama teori kontingensi adalah bahwa kinerja yang efektif dari organisasi tergantung pada pencocokan memadai struktur dan sistem kontrol dengan variabel tekstual
Perilaku disfungsional dan control manajemen
Perilaku disfungsional melibatkan upaya oleh bawahan untuk memanipulasi unsur sistem pengendalian ditetapkan untuk / tujuan nya sendiri. Upaya ini pada aliran informasi strategis manufaktur dan memalsukan informasi telah dicatat dalam perilaku organisasi dan literatur akuntansi keperilakuan.
Jaworski dan Young mengembangkan dan menguji model yang berpendapat bahwa tiga variabel kontekstual (keselarasan tujuan, persepsi perilaku disfungsional, dan asimetri informasi antara atasan dan bawahan) mempengaruhi konflik peran dan tekanan pekerjaan yang dialami oleh bawahan. Hasilnya seperti yang diperkirakan dengan hasil bahwa konflik peran meningkatkan tekanan pekerjaan dan tekanan pekerjaan meningkatkan tingkat perilaku disfungsional.
Pengaruh Kontrak Insentif
Secara umum diasumsikan dalam akuntansi manajemen pada umumnya dan manajemen akuntansi khususnya yang kontrak insentif dapat digunakan untuk memotivasi individu untuk mengerahkan usaha dan menggunakan umpan balik untuk meningkatkan kinerja.
The Judgment Effects of Common and Unique Performance Measures
Perusahaan bergantung pada formulasi strategis yang sesuai kemampuan mereka dan peluang investasi yang dapat membantu mereka dalam mewujudkan tujuan mereka. analisis industri merupakan langkah penting dalam proses strategis. Pada umumnya berfokus pada lima variabel: A) pesaing, (b) pendatang potensial di pasar, (c) produk yang setara, listrik (d) tawar pelanggan, serta (e) daya tawar pasokan impor.
tujuan dan ukuran dari balanced scorecard dapat sebagai berikut:
1. Untuk perspektif keuangan, tujuannya mungkin:
Untuk meningkatkan keuntungan pemegang saham kekayaan pemegang saham yang akan diukur oleh a) pendapatan operasional dari keuntungan produktivitas, b) pendapatan operasional dari pertumbuhan dan c) peningkatan pendapatan.
2. Untuk perspektif pelanggan, tujuan mungkin:
• Untuk meningkatkan pangsa pasar untuk diukur dengan pangsa pasar di bagian jaringan komunikasi dan pelanggan baru.
• Untuk meningkatkan kepuasan pelanggan harus diukur dengan survei kepuasan pelanggan.
3. Untuk perspektif proses bisnis internal, tujuan mungkin:
• Untuk meningkatkan kemampuan manufaktur yang akan diukur dengan persentase proses dengan kontrol lanjutan.
• Untuk meningkatkan kualitas produksi dan produktivitas yang akan diukur oleh hasil.
• Untuk mengurangi waktu pengiriman kepada pelanggan untuk diukur dengan waktu pengiriman pesanan.
• Untuk memenuhi tanggal pengiriman yang ditentukan untuk diukur dengan pengiriman tepat waktu.
4. Untuk perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, tujuan mungkin:
• Untuk mengembangkan keterampilan proses yang akan diukur dengan persentase karyawan yang terlatih dalam proses dan kualitas manajemen. • Untuk memberdayakan tenaga kerja yang akan diukur dengan persentase pekerja garis depan diberdayakan untuk mengelola proses.
• Untuk menyelaraskan karyawan dan tujuan organisasi yang akan diukur dengan survei kepuasan karyawan.
• kemampuan Untuk meningkatkan sistem informasi yang akan diukur dengan persentase proses manufaktur dengan umpan balik real-time. • Untuk meningkatkan proses manufaktur.