Lapkas trauma telinga

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN Tr

Trauauma ma lilianang g tetelilingnga a umumumumnynya a didisesebababkbkan an ololeh eh kekesasalahlahan an sesewawaktktuu memb

membersihkersihkan an telingtelinga a dengadengan n cottocotton n bud atau bud atau alat pembersih telinga alat pembersih telinga lainnylainnya.a. Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.

Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.

Tr

Trauauma ma papada da memembmbraran n titimpmpanani i didisebsebababkakan n ololeh eh tatampmparaaran, n, leledadakakann (b

(bararototraraumuma)a), , memenynyelaelam m yayang ng teterlrlalalu u dadalamlam, , luluka ka babakakar r atatauaupupun n tetertrtususukuk.. Akibatnya timbul gangguan pendengaran berupa tuli konduktif karena robeknya Akibatnya timbul gangguan pendengaran berupa tuli konduktif karena robeknya me

membmbran ran titimpmpanani i atatau au tetergrgananggggununya ya rarangngkakaiaian n tutulalang ng pependndenengagararan, n, yayangng terkadang disertai tinitus.

terkadang disertai tinitus.

Trauma tulang temporal dan fraktur basis kranium yang terbanyak adalah Trauma tulang temporal dan fraktur basis kranium yang terbanyak adalah dari jenis fraktur yang mempunyai garis fraktur longitudinal. Fraktur jenis ini dari jenis fraktur yang mempunyai garis fraktur longitudinal. Fraktur jenis ini mengenai liang telinga, membran timpani, telinga tengah, tuba eustachius dan mengenai liang telinga, membran timpani, telinga tengah, tuba eustachius dan foramen laserum. Gejalanya berupa perdarahan pada liang telinga, tuli konduktif, foramen laserum. Gejalanya berupa perdarahan pada liang telinga, tuli konduktif, keluarnya cairan serebrospinal dan paresis saraf fasial. Fraktur tulang temporal keluarnya cairan serebrospinal dan paresis saraf fasial. Fraktur tulang temporal  jenis lain adalah fraktur tulang temporal dengan garis fraktur transersal. !iasanya  jenis lain adalah fraktur tulang temporal dengan garis fraktur transersal. !iasanya memberikan gejala yang lebih berat. "apat ditemukan hemotimpanum, keluarnya memberikan gejala yang lebih berat. "apat ditemukan hemotimpanum, keluarnya cairan serebro spinal dari hidung, tuli sensorineural dan sering ditemukan paresis cairan serebro spinal dari hidung, tuli sensorineural dan sering ditemukan paresis saraf fasialis.

saraf fasialis.

# #

(2)

BAB II BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI TELINGA 2.1 ANATOMI TELINGA

Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui $ mengidentifikasi apa yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui $ mengidentifikasi apa ya

yang ng terjterjadi di adi di seksekitaitar r kitkita a tantanpa pa harharus us melmelihaihatnytnya a dendengan gan matmata a kepkepala ala kitkitaa sendiri. %rang yang tidak bisa

sendiri. %rang yang tidak bisa mendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tigamendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tiga  bagian yaitu bagian luar,

 bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.bagian tengah dan bagian dalam.##

Gambar 1. Anatomi telina. Gambar 1. Anatomi telina.22

Telina L!ar Telina L!ar

Telinga luar terdiri atas auricula dan meatus akustikus eksternus. Auricula Telinga luar terdiri atas auricula dan meatus akustikus eksternus. Auricula mem

mempunpunyayai i benbentuk tuk yayang ng khakhas s dan dan berberfunfungsi gsi menmengumgumpulpulkan kan getgetaran aran udaudara,ra, aur

auricuicula la terdterdiri iri atas atas lemlempenpeng g tultulang ang rawrawan an elaselastis tis tiptipis is yayang ng ditditutuutupi pi kulkulit.it. Auricula juga mempunyai otot intrinsic dan ekstrinsik, yang keduanya dipersarafi Auricula juga mempunyai otot intrinsic dan ekstrinsik, yang keduanya dipersarafi oleh &.facialis.

oleh &.facialis.',',

 

(3)

Auricula atau lebih dikenal dengan daun telinga membentuk suatu bentuk  unik yang terdiri dari antiheli* yang membentuk huruf +, dengan bagian cru* superior di sebelah kiri dari fossa triangularis, cru* inferior pada sebelah kanan dari fossa triangularis, antitragus yang berada di bawah tragus, sulcus auricularis yang merupakan sebuah struktur depresif di belakang telinga di dekat kepala, concha berada di dekat saluran pendengaran, angulus conchalis yang merupakan sudut di belakang concha dengan sisi kepala, crus heli* yang berada di atas tragus, cymba conchae merupakan ujung terdekat dari concha, meatus akustikus eksternus yang merupakan pintu masuk dari saluran pendengaran, fossa triangularis yang merupakan struktur depresif di dekat antheli*, heli* yang merupakan bagian terluar dari daun telinga, incisura anterior yang berada di antara tragus dan antitragus, serta lobus yang berada di bagian paling bawah dari daun telinga, dan tragus yang berada di depan meatus akustikus eksternus.

Telina Tena"

Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis temporalis yang dilapisi oleh membrana mukosa. uang ini berisi tulang-tulang  pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membran timpani (gendang

telinga) ke perilympha telinga dalam. aum timpani berbentuk celah sempit yang miring, dengan sumbu panjang terletak lebih kurang sejajar dengan bidang membran timpani. "i depan, ruang ini berhubungan dengan nasopharing melalui tuba auditia dan di belakang dengan antrum mastoid. ',

Telinga tengah mempunyai atap, lantai, dinding anterior, dinding posterior, dinding lateral, dan dinding medial. Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang, yang disebut tegmen timpani, yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis. /empeng ini memisahkan kaum timpani dan meningens dan lobus temporalis otak di dalam fossa kranii media. /antai dibentuk di bawah oleh lempeng tipis tulang, yang mungkin tidak lengkap dan mungkin sebagian diganti oleh jaringan fibrosa. /empeng ini memisahkan kaum timpani dari bulbus superior 0. jugularis interna. !agian bawah dinding anterior dibentuk oleh lem- peng tipis tulang yang memisahkan kaum timpani dari a. carotis interna. 1ada

(4)

 bagian atas dinding anterior terdapat muara dari dua buah saluran. 2aluran yang lebih besar dan terletak lebih ba- wah menuju tuba auditia, dan yang terletak  lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam saluran untuk m. tensor tympani. 2eptum tulang tipis, yang memisahkan saluran-saluran ini diperpanjang ke bela-kang pada dinding medial, yang akan membentuk tonjolan mirip selat. "i bagian atas dinding posterior terdapat sebuah lubang besar yang tidak beraturan, yaitu auditus antrum. "i bawah ini terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit, kecil, disebut pyramis. "ari puncak pyramis ini keluar tendo m. stapedius. 2ebagian besar dinding lateral dibentuk oleh membran timpani. ',

Telina Dalam

Telinga dalam terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis, medial terhadap telinga tengah dan terdiri atas (#) telinga dalam osseus, tersusun dari sejumlah rongga di dalam tulang3 dan () telinga dalam membranaceus, tersusun dari sejumlah saccus dan ductus membranosa di dalam telinga dalam osseus.',

2.2 #ISIOLOGI PENDENGA$AN

1roses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh pinna dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan lurus membran timpani dan tingkap lonjong. 4

5nergi getaran tersebut akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala estibula bergerak. Getaran diteruskan melalui membran eissner yang mendorong endolimfe sehingga akan menimbulkan gerakan relatie antara membran basalis dan membrantektoria.

1roses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi  pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. eadaan ini meimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps

(5)

yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis.4

2.% T$AUMA TELINGA LUA$ 

Trauma pada telinga luar umum terjadi pada semua kelompok usia. Aurikula yang tidak terlindungi berisiko untuk semua jenis trauma termasuk  cedera termal dingin atau panas dan cedera tumpul atau tajam yang mengakibatkan ekimosis, hematoma, laserasi, atau fraktur.#

Hematoma A!ri&!la

6ematoma aurikula biasanya terjadi setelah trauma tumpul dan umum terjadi di antara pegulat dan petinju. 7ekanisme ini biasanya melibatkan gangguan traumatis dari pembuluh darah perikondrial. Akumulasi darah dalam ruang subperikondrial menghasilkan pemisahan perikondrium dari kartilago. 8ika kartilago ini fraktur, darah merembes melalui garis fraktur dan meluas ke bidang subperikondrium pada kedua sisi. 6al ini menciptakan pembengkakan kebiruan,  biasanya melibatkan seluruh aurikula, meskipun mungkin terbatas pada bagian atas. 8ika lesi tidak ditangani sejak dini, darah akan berorganisasi menjadi massa fibrosa, yang menyebabkan nekrosis kartilago karena gangguan sirkulasi. 7assa ini membentuk bekas luka yang bengkok, terutama setelah trauma berulang, menciptakan deformitas dikenal sebagai 9cauliflower ear 9.:,;

Gambar 2. Cauliflower ear'an (i"a)il&an ole" "ematoma a!ri&!la.*

(6)

1engobatan didasarkan pada eakuasi hematoma dan aplikasi tekanan untuk mencegah akumulasi kembali darah. Aspirasi jarum sederhana adalah  pengobatan yang tidak memadai dan sering menyebabkan fibrosis dan organisasi hematoma. 1erawatan yang paling efektif untuk hematoma aurikula adalah insisi yang memadai dan drainase dengan through-and-through suture secured  bolsters.:,;

Gambar %. Oto"ematoma. A+ Hematoma (ari (a!n telina. B+ Hematoma (iin)i)i (an (ie,a&!a)i. -+ !l!nan (ental anterior (ii&at (enan !l!nan (ental o)terior a(a erm!&aan telina. D+ tamilan inir+ men!n/!&&an

baaimanabolster  (iaman&an.*

<nsisi harus ditempatkan dalam scapha, menselaraskan heliks. 1aparan yang cukup harus diperoleh untuk mengeluarkan seluruh hematoma dan untuk  memeriksa rongga. 8ika penundaan telah menghasilkan beberapa bekuan, kuret cincin tajam dapat digunakan untuk menghilangkan bekuan darah. Gulungan dental dipotong dengan ukuran yang tepat, diterapkan pada kedua sisi aurikula, dan diikat dengan jahitan nilon atau sutra through-and-through. 2alep antibiotik 

(7)

diaplikasikan di atas sayatan. Gulungan dental dibiarkan ditempatnya selama ; sampai # hari.:,;

La)era)i

2erinngkali sebagai akibat pasien mengorek-ngorek telinga dengan jari atau suatu alat seperti jepit rambut atau klip kertas. /aserasi dinding kanalis dapat menyebabkan perdarahan sementara yang membuat pasien cemas, sehingga menghubungi dokter. !iasanya tidak memerlukan pengobatan selain menghentikan perdarahan. 1asien diminta untuk datang kembali guna memastikan tidak ada perforasi membrana timpani.=

/aserasi hebat pada aurikula harus dieksplorasi untuk mengetahui apakah ada kerusakan tulang rawan. Tulang rawan perlu diperiksa dengan cermat sebelum dilakukan reparasi plastik pada kulit. /uka seperti ini perlu benar-benar diamati akan kemungkinan infeksi pada perikondrium. !erikan antibiotik profilaktik bila ada kontaminasi nyata pada luka atau bila tulang rawan terpapar.=

/aserasi aurikula dengan atau tanpa kehilangan bagian dari aurikula umum diakibatkan oleh trauma tajam. 6asil yang sangat baik mungkin dapat dicapai jika  prinsip-prinsip bedah diterapkan. 2ebuah usaha harus dilakukan untuk 

memperbaiki, mempertahankan semua jaringan yang iabel yang tersisa. etika aurikula tidak benar-benar terputus, sebagian besar ia dapat disambung.:

Frosbite

Aurikula sangat rentan terhadap frosbite karena lokasinya terbuka dan kurangnya jaringan subkutan atau jaringan adiposa untuk melindungi pembuluh darah. Anestesi yang berkembang di daerah yang terkena dingin yang berat menghalangi pasien dari setiap peringatan ancaman bahaya. Awalnya terdapat asokonstriksi, meninggalkan telinga, terutama ditepi heliks, pucat dan dingin ketika disentuh. 6iperemia dan edema terjadi setelahnya dan disebabkan oleh  peningkatan bermakna dalam permeabilitas kapiler. ristalisasi es dari cairan intraseluler terutama bertanggung jawab untuk kondisi ini, serta nekrosis seluler   pada jaringan sekitarnya. Telinga menjadi bengkak, merah, dan tender , dan bula  bisa terbentuk di bawah kulit, yang menyerupai luka bakar derajat pertama.;

(8)

 Frostbite telinga harus cepat dihangatkan. atun steril basah dengan suhu '> sampai ?@ digunakan sampai telinga menjadi hangat. Telinga harus diperlakukan dengan lembut karena risiko kerusakan lebih lanjut pada jaringan yang sudah mengalami trauma dan melemah. Analgesik dan antibiotik profilaksis mungkin diperlukan. 8aringan nekrotik dibersihkan, yang inhibitor tromboksan topikal dari lidah buaya dipakai, dan obat-obatan antiprostaglandin seperti ibuprofen mungkin berguna.#,:,;

L!&a Ba&ar

/uka bakar secara tradisional diklasifikasikan dalam tiga derajat keparahan eritema (derajat pertama), blistering  (derajat kedua), dan destruksi ketebalan penuh (derajat ketiga). /uka bakar karena cairan panas atau terbakar  sering dengan ketebalan penuh. 8ika tidak diterapi, luka bakar dapat menyebabkan  perikondritis. 1enting untuk menghindari tekanan pada telinga, dan membersihkan dengan lembut dan menggunakan antibiotik topikal. 1enggunaan antibiotik   profilaksis antipseudomonas dianjurkan. Antibiotik dapat diinjeksikan

subperikondrium di beberapa lokasi injeksi yang berbeda di seluruh permukaan anterior dan posterior aurikula. 1enggunaan krim mafenide acetate (2ulfamylon) setelah membersihkan luka dianjurkan. 1ada tahap akhir, debridement   dan skin  grafting mungkin diperlukan. 1erikondritis dan kondritis harus ditangani dengan

iontoforesis antibiotik, debridement  dini, dan grafting .:

2.0 T$AUMA MEMB$AN TIMPANI DAN TELINGA TENGAH

Trauma pada membran timpani dan telinga tengah dapat disebabkan oleh (#) overpressure, () luka bakar termal atau kaustik, (') luka tumpul atau  penetrasi, dan () barotrauma. Overpressure adalah mekanisme trauma yang  paling umum pada membran timpani. 1enyebab utama dari overpressure  yaitu cedera tamparan dan luka ledakan. @edera tamparan sangat umum dan dapat dihasilkan oleh tamparan tangan atau air. @edera tamparan biasanya menghasilkan robekan segitiga atau linear dari membran timpani;.

(9)

Gambar 0. Gambar 'an menil!)tra)i&an erora)i membran timani (i baian anteroinerior (ari drumhead .*

2ebagian besar perforasi tersebut menyebabkan gangguan pendengaran ringan, rasa penuh di telinga, dan tinnitus ringan. @edera ledakan, meskipun kurang umum, berpotensi lebih serius. @edera ledakan mungkin disebabkan oleh ledakan bom, ledakan bensin, dan penyebaran kantung udara dalam kecelakaan mobil. @edera ledakan dari ledakan bom tidak hanya mengganggu membran timpani tetapi juga dapat menyebabkan fraktur tulang temporal, diskontinuitas osikular, atau gangguan pendengaran sensorineural frekuensi tinggi karena cedera koklea. 2elain itu, cedera ledakan dapat menyebabkan fistula perilimfatik (1/F), dengan gangguan pendengaran progresif dan berfluktuasi, ertigo, dan disekuilibrium.>

"alam sebuah laporan oleh 6allmo, audiometri konduksi udara dan tulang dalam rentang frekuensi masing-masing B.#4 sampai #> k6C dan B,4 sampai #: k6C, dilakukan pada '> pasien dengan perforasi membran timpani unilateral traumatik, yang sebagian besar disebabkan oleh cedera overpressure. 1eningkatan ambang konduksi tulang ditemukan pada #: telinga. 1eningkatan ambang konduksi tulang dan tinnitus berkurang seiring dengan waktu, tetapi pada = pasien ia permanen. 1enutupan perforasi membran timpani menghasilkan perbaikan ; sampai B d! dari ambang konduksi udara, sedikit kurang di atas dibandingkan  pada frekuensi yang lebih rendah. Gangguan pendengaran konduktif akhir rata-=

(10)

rata ' d! ditemukan sekitar 4 bulan setelah cedera, mungkin karena bekas luka  pada lokasi bekas perforasi. >

2etelah cederaoverpressure, darah, sekret purulen, dan debris harus secara hati-hati disedot dari kanal telinga, dan ukuran perforasi dan lokasi harus dicatat. <rigasi dan otoskopi pneumatik harus secara spesifik dihindari pada pasien ini. emampuan mendengar bisikan serta tes garpu tala harus didokumentasikan, dan audiogram harus diperoleh segera setelah kondisi pasien memungkinkan. 1emeriksaan neurotologik lengkap juga harus dilakukan pada pasien untuk  mendokumentasikan status dari saraf kranial termasuk saraf fasialis dan saraf  estibular begitu juga dengan sistem saraf pusat. 8ika perforasi membran timpani kering, ia harus diobserasi (yaitu, tetesan tidak diindikasikan). 8ika terdapat drainase yang melalui perforasi membran timpani, klinisi harus menentukan dan memperhatikan apakah drainase sesuai dengan cairan cerebrospinal (@2F). 8ika dicurigai adanya kebocoran @2F, @T scan tulang temporal segera harus diperoleh untuk menyingkirkan fraktur. 8ika drainase tidak sesuai dengan @2F, antibiotik  oral dan ciproflo*acin serta hidrokortison tetes telinga harus diresepkan. iwayat ertigo atau mual dan muntah dan audiogram yang menunjukkan gangguan  pendengaran konduktif lebih dari 'B d! menyarankan terganggunya rantai osikular. Gangguan pendengaran sensorineural yang bermakna juga menandakan kerusakan oval window atau kerusakan koklea.

@edera termal terhadap membran timpani termasuk cedera pengelasan dan cedera petir. @edera pengelasan terjadi ketika arang besi panas memasuki kanal telinga dan melewati membran timpani. 2ebagian besar cedera ini mengakibatkan inflamasi di telinga tengah dengan drainase. 1anosian dan "utcher melaporkan dua pasien dengan paralisis fasialis yang disebabkan oleh arang besi panas di telinga tengah. 2alah satu pasien mereka juga menderita gangguan pendengaran sensorineural. @edera pengelasan sering mengakibatkan perforasi yang tidak  sembuh, baik sebagai akibat dari infeksi atau mungkin karena arang besi membakar atau mendeaskularisasi membran timpani saat melewatinya. 8ika infeksi terjadi, pasien diobati dengan ciproflo*acin dan tetes telinga hidrokortison serta antibiotik oral. 8ika perforasi kering, ia harus diobserasi selama jangka

(11)

waktu # minggu untuk penyembuhan spontan. 8ika drumhead   tidak sembuh-sembuh, timpanoplasti harus dilakukan.

@edera petir dan listrik tidak jarang, dan cedera telinga yang paling sering adalah perforasi dari membran timpani. Gangguan estibular yang paling umum adalah ertigo transien. Temuan klinis lainnya meliputi gangguan pendengaran sensorineural, gangguan pendengaran konduktif, tinnitus, fraktur tulang temporal, aulsi dari prosesus mastoid, luka bakar dari kanal telinga, dan paralisis saraf  fasialis. 8ones dkk melaporkan satu pasien dengan 1/F oval window  bilateral setelah sambaran petir. 7anajemen awal pasien yang tersambar petir terdiri dari langkah-langkah pendukung kehidupan. 2etelah itu, pasien harus menjalani  pemeriksaan audioestibular menyeluruh. 1erforasi membran timpani yang disebabkan oleh cedera petir sering tidak sembuh, mungkin sebagai akibat dari kauterisasi atau deaskularisasi dari membran timpani, seperti cedera pengelasan. @edera ini diterapi seperti yang dijelaskan sebelumnya untuk cedera pengelasan. Timpanoplasti harus ditunda pada pasien ini selama # minggu karena  penyembuhan spontan dapat terjadi selama waktu tersebut.

@edera kaustik pada membran timpani dapat menyebabkan perforasi. "engan kaustik alkali, membran timpani rusak dengan likuefaksi nekrosis, yaitu, kaustik alkali menembus membran timpani, yang menyebabkan oklusi pembuluh darah yang dapat meluas lebih jauh dari perforasi yang terlihat. Akibatnya, ukuran  perforasi dapat tidak sepenuhnya ditentukan sampai semua inflamasi selesai. 2elanjutnya, setelah cedera kaustik, telinga tengah dapat mengembangkan reaksi granulasi yang luas dengan skarifikasi, fiksasi osikular, dan infeksi kronis. /uka kaustik juga dapat menyebabkan penumpulan kanal karena permukaan baku yang mengelilingi kanal membentuk sikatriks, yang mengarah ke penyempitan kanal telinga dan hilangnya permukaan ibrasi membran timpani. "emikian pula, setelah cedera kaustik, miringitis kronis dapat terjadi di permukaan membran timpani, yang menciptakan raw weeping suurface dengan granulasi pada  permukaan drumhead  tersebut. @edera kaustik pada awalnya diterapi dengan ciproflo*acin dan tetes telinga hidrokortison, antibiotik oral, dan analgesik. 1enilaian audiologi dan ealuasi neurotologi lengkap diindikasikan dalam luka ##

(12)

kaustik untuk menentukan sejauh mana cedera. etika telinga telah stabil, dan sebaiknya ketika drainase telah berkurang, telinga tengah dan membran timpani dapat direkonstruksi.

1erforasi membran timpani secara historis memiliki tingkat kesembuhan yang mendekati >BD. Elasan ristensen pada lebih dari 4BB teks mengenai masalah tersebut menemukan bahwa tingkat penyembuhan spontan tampaknya ;>,;D pada ;:B kasus yang dapat diealuasi dari perforasi membran timpani traumatis dari segala sumber yang dilihat dalam waktu # hari setelah cedera. uptur yang diinduksi oleh panas atau korosi, benda asing, dan tekanan air kurang mungkin untuk sembuh, mungkin karena mereka lebih besar atau lebih mungkin terinfeksi. ybak dan 8ohnson juga melaporkan bahwa cedera tamparan air kurang mungkin untuk sembuh sebagai akibat dari infeksi. >

Griffin melaporkan ; perforasi traumatik yang diterapi di prakteknya  pada tahun #=:=-#=;;. "ia menyimpulkan bahwa perforasi yang lebih besar, cedera petir dan pengelasan, dan telinga yang terinfeksi kurang mungkin untuk  sembuh. 6asil pendengaran yang baik ditemukan terlepas dari metode timpanoplasti, meskipun penyembuhan spontan menghasilkan hasil akhir yang terbaik. >

Apapun metode yang digunakan, kesuksesan timpanoplasti membutuhkan  paparan yang memadai, debridement  granulasi telinga tengah dan jaringan parut, de-epitelisasi dari perforasi, dan penempatan graft dengan hati-hati termasuk  dukungan dari graft  hingga penyembuhan terjadi.

Trauma penetrasi pada telinga tengah dapat, tentu saja, menghasilkan  perforasi membran timpani, tetapi tidak seperti overpressure dan cedera termal, kejadian gangguan osikular, saraf fasialis, dan cedera telinga tengah lainnya jauh lebih besar. 1enyebab paling umum yaitu tembakan kecepatan rendah diikuti dengan cedera oleh benda asing seperti tongkat atau instrumen. 8enis cedera ini harus dicurigai pada pasien dengan perforasi membran timpani, darah di telinga tengah atau liang telinga, dan adanya ertigo atau pusing, gangguan pendengaran konduktif lebih besar dari 4 d!, gangguan pendengaran sensorineural, atau  paralisis fasialis. 1ada pasien ini, kanal telinga harus dengan lembut disedot dan

(13)

dibersihkan di bawah penglihatan mikroskopis, dan membran timpani dan telinga tengah harus dengan hati-hati diperiksa. 1emeriksaan neurotologi menyeluruh, termasuk ealuasi saraf fasialis dan pemeriksaan terhadap nistagmus, stabilitas gait, tes fistula, tes omberg, dan tes "i*- 6allpike, harus dilakukan. 1encitraan termasuk @T scan tulang temporal, magnetic resonance imaging  (7<), dan  bahkan arteriografi dapat diindikasikan tergantung pada jenis cedera yang

dicurigai. >

#ra&t!r T!lan Temoral

Fraktur dari tulang temporal disebabkan oleh cedera tumpul, dan tergantung pada gaya dan arah dari pukulan yang diterima, berbagai jenis fraktur  dapat terjadi. Trauma tumpul dapat dihantarkan oleh suatu obyek yang menyerang kepala atau dengan kepala yang dibenturkan terhadap suatu obyek yang padat. 2ecara tradisional, fraktur tulang temporal diklasifikasikan sebagai longitudinal (ekstrakapsular) atau transersal (kapsular) sehubungan dengan aksis panjang dari  bagian petrosa dari tulang temporal. eduanya merupakan fra ktur basis kranii dan

mengakibatkan ekimosis dari kulit postaurikula (tanda !attle). >

Gambar . Gambar 'an men!n/!&&an anatomi (ari ba)i) &ranii. Di baian &iri mer!a&an ra&t!r lonit!(inal ata! e&)tra&a)!lar. Di baian &anan

'ait! ra&t!r tran),er)al ata! &a)!lar. >

(14)

Fraktur longitudinal, sejauh ini, merupakan yang paling sering terjadi, yaitu sekitar ;B-=BD dari fraktur tulang temporal, dan biasanya dihasilkan dari  pukulan lateral langsung pada aspek temporal atau parietal dari kepala. Fraktur 

longitudinal dimulai dari kanal auditori eksternal dan memanjang melalui telinga tengah dan di sepanjang aksis panjang dari piramida petrosa. 2ecara karakteristik, terdapat perdarahan dari kanal telinga akibat laserasi dari kulitnya dan dari darah yang keluar melalui membran timpani yang mengalami perforasi. 1aralisis fasialis terjadi pada #4D, dan gangguan pendengaran sensorineural terjadi pada '4D;.

Fraktur transersal biasanya dihasilkan dari impaksi deselerasi pada area oksipital. Garis fraktur menyeberangi aksis panjang dari bagian petrosa dari tulang temporal dan biasanya memanjang melalui koklea dan kanal fallopi, yang menghasilkan gangguan pendengaran sensorineural dan paralisis fasialis pada kebanyakan kasus. Terdapat perdarahan ke dalam telinga tengah, tetapi membran timpani tetap intak dan menjadi biru kehitaman akibat hemotimpanum;.

(15)

BAB III STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN

 &ama  An. 6&

Emur  ; tahun

8enis elamin  1erempuan

Alamat  8l. "harma !akti, "umai. 2uku !angsa  7elayu

ANAMNESA

eluhan Etama  Telinga kanan dan kiri berdarah

iwayat 1enyakit 2ekarang 

Telinga kanan dan kiri berdarah sejak tadi malam. 1asien tidak merasakan nyeri, demam, batuk pilek. 1asien juga tidak mengeluhkan adanya gangguan  pendengaran. 7enurut pengakuan ibu pasien, sebelumnya An.6 terjatuh dari

sepeda # hari yang lalu.

iwayat 1enyakit "ahulu 

Telinga pernah tertusuk cutton bud dan berdarah. eluhan sudah pernah diobati kedokter dan sembuh.

iwayat 1enyakit eluarga 

-iwayat 1ekerjaan, 2osial, 5konomi dan ebiasaan 

- Anak 6& suka membersihkan telinga sendiri dengancutton bud .

(16)

PEME$IKSAAN #ISIK 

2TATE2 G5&5A/<2

- eadaan umum  tampak sakit ringan

- esadaran  composmentis

- Tekanan darah  #B$>B mm6g

- Frekuensi nadi  :B *$menit

- 2uhu tubuh  ':o@

PEME$IKSAAN SISTEMIK 

epala

7ata  2eklera tidak kuning, konjungtia tidak pucat, refleks pupil $.

6idung  2ekret tidak ada, deiasi septum tidak ada.

7ulut  7ukosa bibir kering (-), sianosis (-), lidah tremor (-), faring

hiperemis (-)

Thoraks a. 1aru-paru

<nspeksi  Gerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga tidak ada.

1alpasi  Fremitus suara $, simetris kanan dan kiri.

1erkusi  2onor kedua lapang paru.

Auskultasi  2uara nafas esikuler, onkhi tidak ada, wheezing  tidak ada.

 b. 8antung

<nspeksi  <ctus cordis tidak terlihat.

1alpasi  <ctus cordis teraba. Thrill  tidak ada.

1erkusi 

- !atas jantung kanan 2<@ <0 linea parasternalis dekstra.

(17)

- !atas jantung kiri 2<@ 0 # jari medio linea midclaicula sinistra.

Auskultasi  !unyi jantung <  <<, reguler, gallop tidak ada, 7urmur tidak ada.

Abdomen

<nspeksi  !entuk datar, ascites tidak ada.

Auskultasi  !ising usus positif, lemah.

1alpasi  Tidak ada pembesaran hepar dan lien, turgor kulit kembali

lambat.

1erkusi  Timpani.

5kstremitas

2uperior  Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada, tidak ada

kelemahan.

<nferior  Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada. Tidak ada

kelemahan kedua tungkai.

STATUS LOKALIS THT TELINGA

Pemeri&)aan Kelainan De&)tra Sini)tra

"aun telinga elainan kongenital -

-Trauma Tampak laserasi

 pada liang telinga Tampak laserasi pada telinga tengah adang - - &yeri tarik -

-/iang telinga /apang$sempit -

-6iperemis  

5dema -

-7assa -

(18)

2ekret$serumen !au -

-Harna 7erah 7erah

8umlah -

-7embran tympani

Etuh Harna bening bening

efleks cahaya  

!ulging -

-etraksi -

-Atrofi -

-1erforasi 8umlah perforasi -

-8enis - -uadran - -!entuk - -Harna mukosa telinga tengah - -7astoid Tanda radang$abses - -Fistel - -2ikatrik - - &yeri tekan - - &yeri ketok -

-Tes garpu tala inne -

-Heber -

-2chwabach -

-"iagnosis  Trauma liang telinga

"iagnosis "iferensial 

(19)

1emeriksaan penunjang 

-TE$API

 &on medikamentosa  edukasi pasien untuk tidak membersihkan telinga

sendiri

7edikamentosa 

-Terapi anjuran 

-1rognosis  dubia ad bonam

BAB I3

ANALISIS KASUS

!erdasarkan kasus diatas diagnosis pasien adalah trauma liang telinga. "iagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. "ari anamnesis ditemukan adanya keluhan keluar darah dari liang telinga kanan dan kiri, kemudian pada pemeriksaan fisik tampak laserasi pada kedua liang telinga kanan dan kiri. 1ada kasus ini sulit memastikan penyebab laserasi pada liang telinga karena pasien anak-anak sehingga kurang kooperatif.

(20)

1enanganan pertama yang dapat dilakukan pada kasus ini adalah menghentikan perdarahan dan memastikan kondisi membran timpani. 1emberian antibiotik profilaksis diberikan berdasarkan luas laserasinya dan bertujuan mencegah infeksi pada liang telinga. 2elain itu, edukasi orangtua pasien agar tidak  membersihkan telinga anak dengan cara yang tidak benar karena dapat menyebabkan laserasi pada liang telinga. @ontohnya membersihkan telinga dengan cutton bud  yang terlalu sering dapat menyebabkan trauma berulang yang dapat menyebabkan laserasi.

DA#TA$ PUSTAKA

#. silesky 05, et al. Ear Trauma: Investigating the Common Concerns. The @anadian 8ournal of "iagnosis. BB'3###-##4

. Gambar anatomi telinga. "iunduh dari 

http$$www.jludwick.com$&otes$7iscellaneous$<nsurance.html . 1ada tanggal B 8uni B#.

'. 7oore,keith /. Anatomi linis "asar.5G@. 8akarta .BB

(21)

. 2nell ichard  Anatomi linik untuk 7ahasiswa edokteran. 5disi :. 1enerbit 5G@. 8akarta BB:.

4. Arsyad 2oepardi, 5fiaty3 &urbaiti <skandar, 8enny !ashiruddin, atna "wi esuti. !uku Ajar <lmu esehatan Telinga 6idung Tenggorokan epala  /eher3 5disi ke-tujuh. !alai 1enerbit FE<. 8akarta. B#.

:. 7enner A/. BB'.  !ocket "uide to the Ear . Thieme 2tuttgart&ew +ork.  pp.;->

;. 2harma , et al. uricular Trauma and Its #anagement . <ndian 8ournal of  %tolaryngology and 6ead and &eck 2urgery, BB:3 4>(')'-''

>. 2chwaber 7. Trauma to the 7iddle 5ar, <nner 5ar, and Temporal !one. <n 2now 8!, !allenger 88. BB'.  $allenger%s Otorhinolar&ngolog& 'ead and   (eck )urger& . #:th edition. !@ "ecker <nc 2pain. 1p. '4-'44.

=. Adams G/., !oies /., 6ighler 1A. !uku Ajar 1enyakit T6T (!oies fundamentals of otolaryngology). 5disi :. 8akarta  5G@, #==;.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :