BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perceraian (Divorce) 2.1.1 Definisi Perceraian
Perceraian didahului periode-periode panjang konflik-konflik baik terbuka maupun tertutup di mana kedekatan emosi diantara pasangan juga memburuk (Fisher, 1974).
Selain itu perceraian adalah suatu respon terhadap hubungan perkawinan yang tidak berhasil, di mana pasangan saling menolak satu sama lain (Spainer & Thompson, 1984). Jadi perceraian tidak hanya pernyataan tentang kelangsungan kehidupan perkawinan atau tentang keseimbangan keluarga namun juga realisasi kesalahan pemilihan pasangan, kurangnya komitmen personal, kekecewaan terhadap pasangan, atau masalah personal dan sosial lain yang melingkupi hubungan. Orang yang dalam proses perceraian biasanya mereka menyebutkan sudah tidak lagi saling mencintai, telah berpisah dan sudah tidak lagi tinggal bersama.
Morrison & Cherlin (dalam Papalia, 2001) menyatakan perceraian bukanlah suatu peristiwa tunggal yang berdiri sendiri, melainkan serangkaian pengalaman yang potensial dengan stress, dimulai sebelum perpisahan secara fisik dan berlanjut setelahnya.
Menurut Strong & Devault (1995) perceraian adalah berakhirnya pernikahan secara hukum, dalam arti pasangan baru dapat bercerai bila telah mendapat pengesahaan secara hukum melalui pengadilan.
2.1.2 Tahapan Perceraian
Enam tahapan perceraian menurut Bahanan (dalam Lauer & Lauer, 2000) yang menyebut perceraian sebagai suatu proses adalah :
a. Emotional Divorce
Dalam tahap ini partner yang merasakan ketidakpuasaan dalam perkawinan mengupayakan perubahan, saling menghadapi satu sama lain dan akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan. Emotional divorce melibatkan hilangya rasa kepercayaan, rasa saling menghormati, dan kasih sayang satu sama lain.
b. The Legal Divorce
Partner saling berpisah secara fisik dan menghubungi pengacara untuk secara hukum mengakhiri pernikahan dan kemudian pengadilan secara resmi mengakhiri pernikahan. Ini adalah satu-satunya dari ke enam tahap yang memberikan keuntungan nyata bagi kedua pihak yaitu bebas dari tanggung jawab hukum dan dapat menikah lagi.
c. The Economic Divorce
Partner melengkapi peraturan keuangan dan membagi harta yang dimiliki selama pernikahan.
d. The Caparental Divorce
Dialami oleh pasangan yang memiliki anak. Kedua partner mengasosiasikan dan memutuskan perceraian, hak pengasuh atas anak, hak berkunjung dan meneruskan tanggung jawab setiap orang tua.
e. The Community Divorce
Berarti setiap pasangan meninggalkan suatu komunitas teman dan relasi, dan memasuki komunitas yang lain. Pengalaman individual yang berubah dalam pertalian kekeluargaan, jaringan relasi, mengeksplorasi minat dan aktivitas baru. Proses perubahan dari satu komunitas hubungan yang lain adalah yang tersulit dan sering menbuat individu merasa sepi dan terisolasi untuk suatu periode tertentu.
f. The Physic Divorce
Pada tahap ini pusat perpisahan terjadi karena individu harus menerima kekacauan hubungan dan mencoba memperoleh lagi sense of identity dan anatomy sebagai individu dari bagian pasangan intim. Tahap ini, individu setelah terpisah secara emosional dan bebas dari mantan pasangan.
Namun demikian bahwa setiap orang tidak selalu maju mengikuti tahapan tersebut dalam perceraian, kadangkala mundur, melalui suatu tahap lebih dari satu kali atau melalui beberapa tahap secara bersamaan.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Perceraian
Lauer & Lauer (2000) menemukan tidak hanya yang dilakukan pasangan dapat mempengaruhi kegagalan pernikahan namum juga status sosioekonomi, ras, agama, dan faktor sosiodomografi turut berperan.
a. Status Sosioekonomi
Menurut Ono (dalam Lauer & Lauer, 2000) ada hubungan terbalik antara status sosioekonomi dan perceraian, yaitu semakin tinggi status (pendapatan yang tinggi), semakin kecil kemungkinan perceraian. Tidak diragukan lagi, tekanan masalah keuangan pada pasangan dengan pendapatan rendah menambah ketidakstabilan perkawinan.
b. Usia Pasangan Saat Menikah
Semakin muda usia pasangan pada saat menikah semakin besar kemungkinan perceraian khususnya pasca usia lima tahun pertama pernikahan (Booth dalam Lauer & Lauer, 2000)
c. Integrasi Sosial
Integrasi sosial yaitu keadaan yang relatif harmonis dan kohesif dalam suatu komunitas. Pasangan yang merupakan suatu anggota dalam kelompok yang kohesif memiliki sumber dukungan yang penting untuk mengatasi stress dan meminimkan tingkat perceraian. Contohnya kelompok agama, karena agama memiliki peran penting dalam keluarga, besar kemungkinan orang yang religius menghindari perceraian.
d. Peran Pasangan dan Norma yang Berubah
Perubahan peran wanita dalam keluarga diasosiasikan dengan tingginya tingkat perceraian. Wanita yang dahulu hanya sebagai ibu rumah tangga, kini juga berperan sebagai peran ganda yakni ibu ruamh tangga dan wanita pekerja.
e. Faktor Interpersonal 1) Komplain
Dalam studinya Kitson (dalam Lauer & Lauer, 2000) menemukan bahwa penyebab ketidakbahagiaan rumah tangga adalah ketidaksetiaan, masalah keperibadian dan keuangan, dan masalah interpersonal seperti kurangnya komunikasi, perasaan tidak dicintai, terlalu sedikit waktu yang dihabiskan dan konflik peran.
2) Konflik
Beberapa pernikahan dicirikan oleh konflik yang intens. Konflik ini meresap, pasangan beradu argumen hampir dalam setiap hal.
3) Perubahan Perasaan dan Sudut Pandang
Pernikahan berakhir karena perasaan berubah, pasangan tak lagi saling mencintai, tidak lagi saling menghormati dan tidak merasa nyaman saat bersama. Satu lagi alasan yang mungkin mengikis pernikahan secara perlahan namun pasti dan tanpa kondisi konflik adalah perubahan sudut pandang. Mereka sudah tidak nyaman lagi melakukan segala hal bersama seperti saat awal pernikahan, mereka bukan lagi pasangan yang sama pada saat pernikahan dulu, dan mereka tidak menyukai perubahan yang terjadi pada pasangannya.
4) Masalah Emosi
Masalah emosi dapat menyebabkan memperburuk pernikahan. Menurut Fisher (1974) penyebab perceraian adalah :
a. Kesalahan dalam keputusan untuk memilih pasangan hidup, yang tanpa berpikiran matang dan naïf. Pasangan dulu hanya berkencan dan sedikit berpikir tentang realitas perkawinan sesungguhnya, sehingga mereka menemukan perbedaan yang tajam antara harapan dan kenyataan pada saat mereka menikah.
b. Rasa bosan dalam perkawinan. Pasangan tidak memberikan diri seutuhnya dalam hubungan perkawinan atau saling menerima satu sama lain. Banyak pasangan yang tidak mampu mentolerir kekecewaan dan rasa bosan lalu mencari jalan dengan perceraian.
c. Peran pria, wanita, suami dan istri yang berubah. Peran didefinisikan sebagai tindakan yang diharapkan masyarakat dilakukan individu dalam situasi tertentu. Ketika konsep ini dibawa kedalam perkawinan, ada sumber konflik potensial bila nilai-nilai pasangan saling berbeda dalam tingkat yang besar. Suami akan merasa istrinya tidak menyesuaikan diri dengan baik dalam perkawinan karena ia mendefinisikan peran istri sebagai ibu rumah tangga, sedangkan istrinya lebih berkosentrasi pada pekerjaan dan persahabatan.
d. Berkurangnya komitmen, kesetiaan dan tanggung jawab satu sama lain, orang yang masih muda saat menikah dan membawa perasaan jika
pernikahnnya tidak berjalan lancar ia akan bercerai, tidak memiiki komitmen yang dibutuhkan.
e. Kurangnya memperhatikan kebutuhan pasangan dan memperhatikan anggota keluarga intinya dapat mengguncang keseimbangan keluarga menuju perceraian.
2.1.4 Dampak Perceraian
Menurut Rice (1999) dampak setelah perceraian yang membutuhkan penyesuaian diri dapat dikelompokkan ke sejumlah kategori, yaitu :
a. Berhadapan dengan Sikap Masyarakat
Bagian dari trauma perceraian dialami karena sikap masyarakat perceraian dan orang yang bercerai. Di mata beberapa orang, perceraian menggambarkan sebuah kegagalan moral atau bukti kekurangan personal. Dibutuhkan keberanian yang besar untuk memberitahukan pada masyarakat bahwa seseorang telah mengalami kegagalan dan bercerai. b. Keuangan
Menurut Pett & Vaughan (dalam Rice,1999), diperkirakan wanita yang mengalami perceraian dan tidak menikah lagi mengalami 50% penurunan pada pendapatan rumah tangga. Ironisnya perceraian menurunkan standar kehidupan baik ibu dan anak, tapi meningkat secara tipikal pada pihak bapak. Beberapa ibu hanya menerima sedikit atau tunjangan yang tidak teratur dari mantan suami mereka. Sebagai dampak dari kondisi ini,
kebanyakan ibu yang bercerai harus berkerja meski pendapatan mereka tidak memadai.
2.1.5 Wanita Dewasa Muda yang Mengalami Perceraian
Dari kamus besar bahasa Indonesia diperoleh pengertian bahwa wanita yang mengalami perceraian atau lazim disebut janda yaitu:
Janda adalah wanita yang tidak bersuami lagi, baik karena bercerai maupun karena ditinggal mati.
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989) Menurut Erikson (dalam Papalia,2001), tugas perkembangan yang penting pada tahap dewasa muda adalah membangun hubungan yang intim. Intimacy adalah pengalaman komunikatif yang hangat dan dekat baik mencakup kontak seksual maupun tidak (Rosenbluth & Steil dalam Papalia, 2001). Salah satu elemen penting dari intimacy adalah penyingkapan diri atau self-disclosure : menyatakan informasi penting tentang diri pada orang lain. Orang menjadi intim dan tetap bertahan dalam situasi intim apabila saling menghormati satu sama lainnya (Harvey dalam Papalia, 2001). Menurut Papalia (2001) intimacy juga mengandung sense of belonging atau rasa memiliki : kebutuhan untuk memiliki seseorang, untuk membentuk hubungan yang memperhatikan, dekat, stabil dan kuat.
Menurut Erikson (dalam Papalia, 2001), jika individu tidak dapat membangun komitmen personal yang mendalam dengan orang lain, mereka akan mengalami isolasi dan terfokus pada dirinya sendiri.
Mengacu pada teori Erikson diatas, wanita dewasa muda yang telah membangun hubungan yang mendalam dan komitmen personal dengan orang lain melalui pernikahan dan gagal mempertahankannya, mengakhiri pernikahannya dan bercerai akan mengalami isolasi dan terfokus pada dirinya sendiri. Menurut Baruch (1983) kebanyakan wanita bila diwawancarai secara singkat setelah perceraian menunjukan stress dan kecemasan yang cukup besar. Bagi wanita yang mengalami perceraian, menikah kembali adalah sesuatu yang kurang menarik dan mengkhawatirkan.
Lebih lanjut lagi Baruch (1983) menambahkan keuntungan bagi wanita yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan tinggi, baginya bila pernikahan berakhir di pengadilan, ia memiliki kesempatan untuk menghindari diri dari stress akibat perceraian.
2.2 Stress
2.2.1 Definisi Stress
Stress dapat didefinisikan sebagai tuntutan penyesuaian yang
membutuhkan respon adaptif dari individu dan umumnya dipersepsikan sebagai suatu yang eksternal (Atwater, 1983). Menurut Emiry & Oltmanns (2000) stress merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang menuntut seseorang untuk melakukan adaptasi secara fisiologis, kognitif, dan perilaku. Sedangkan menurut Gatchel; Baum & Krantz (1989) stress adalah suatu proses di mana peristiwa lingkungan mengancam atau menentang kesejahteraan individu dan juga proses di mana individu tersebut merespon terhadap ancaman tersebut.
Stress sebagai reaksi menurut Sarafino (1998) sebagai reaksi individu terhadap stimulus lingkungan yang merupakan stressor. Pandangan terakhir mendefinisikan stress sebagai proses, di mana stress merupakan konsekuensi dari proses penilaian individu mengenai apakah sumber daya yang dimilikinya cukup atau tidak untuk menghadapi tutuntutan lingkungan (Sarafino, 1998). Menurutnya pula, apabila individu mempersepsikan bahwa sumber daya yang dimilikinya cukup banyak untuk menghadapi stressor, maka ia hanya mengalami stress ringan saja. Sementara apabila ia mempersepsikan sumber daya yang dimilikinya tidak cukup untuk menghadapi stressor, maka ia akan mengalami stress yang berat. Menurut pendekatan ini, stress tidak hanya merupakan stimulus dan respon, melainkan suatu proses di mana antara individu dan sumber stress saling mempengaruhi.
Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa stress adalah suatu kondisi di mana individu mempersepsikan adanya tuntutan lingkungan yang mengancam atau menggangu secara fisik, psikis, emosi, dan perilaku.
2.2.2 Gejala-gejala Stress
Menurut Fontana, Cover & Davinsom (dalam Meisia, 1998) ada 4 macam gejala-gejala stress sebagai berikut :
a. Gejala Fisik :
1) Berkurangnya nafsu makan.
2) Nafsu makan sangat tinggi apabila berada di bawah tekanan. 3) Konstipasi dan diare.
4) Insomnia.
5) Kecenderungan untuk berkeringat terus menerus. 6) Kecenderungan untuk mengigit kuku.
7) Sakit kepala atau cepat merasa pusing. 8) Selalu gelisah, sulit untuk duduk diam saja. b. Gejala Kognitif
1) Konsentrasi menurun atau sulit memusatkan pikiran pada sesuatu. 2) Mudah merasa terganggu.
3) Kemampuan mengamati atau mengobservasi menurun.
4) Menurunnya fungsi ingatan jangka pendek dan janga panjang. 5) Kecepatan berespon menjadi tidak pasti atau berubah-ubah.
6) Kemampuan mengorganisasi dan membuat rencana jangka panjang menurun.
7) Terjadinya delusi dan gangguan pikiran. c. Gejala Emosional atau Mental
1) Ketegangan fisik dan psikologis meningkat.
2) Terjadi perubahan pada kepribadian, contohnya sesorang yang rapi menjadi berantakan, seorang peduli menjadi cuek dan sebagainya. 3) Kegelisahan yang sudah ada, sifat menyerang, sifat
mempertahankan diri dan mudah tersinggung, semuanya dapat menjadi lebih buruk.
4) Munculnya depresi dan perasaan tidak berdaya. 5) Menurunnya harga diri secara drastic.
6) Adanya rasa marah dan terus menerus terhadap orang lain. 7) Berkurangnya minat terhadap kehidupan.
d. Gejala Behavioral atau Tingkah Laku :
1) Timbulnya masalah-masalah dalam bicara, seperti gagap dan ragu-ragu dalam berbicara.
2) Menurunya minat dan antuiasme.
3) Meningkatnya absenteeisme seperti sering terlambat atau tidak hadir pada acara-acara yang sudah dijanjikan dengan alasan-alasan yang dibuat-buat.
4) Meningkatnya penyalahgunaan obat-obatan 5) Berubah pola tidur.
6) Meningkatnya sinisme terhadap orang lain. 7) Mengabaikan informasi-informasi baru.
2.2.3 Jenis-jenis Stress
Umumnya kita mengetahui bahwa stress dapat terjadi ketika seseorang berhadapan dengan tuntutan dari kondisi yang tidak menyenangkan. Hal ini tidak sepenuhnya benar, banyak dari kondisi yang menyenangkan juga dapat membuat stress. Stress juga tidak harus selalu mengakibatnkan kegagalan atau sesuatu yang bersifat buruk atau negatif. Sebaliknya stress juga dapat menghasilkan sesuatu yang bersifat positif. Bernard (dalam Atwater, 1983) menjelaskan ada dua jenis stress yaitu :
a. Eustress
Eustress adalah stress yang memiliki dampak positif bagi individu. Menurut Sheridan & Radmacher (1992) Stressor yang negatif sekalipun dapat memberikan dampak positif. Efek positif dari stress ini dapat memberikan motivasi seseorang untuk intropeksi diri dan berbuat lebih atau membuat seseorang bersemangat untuk berusaha memenuhi tuntutan yang ada.
b. Distress
Distress adalah stress yang memiliki dampak negatif bagi individu. Dampak negatif dari stress bagi individu dapat meliputi aspek biologis dan psikososial (Sarafino, 1998) seperti berikut ini :
1) Aspek Biologis dari Stress
Selye (dalam Sarafino, 1998) mengobservasikan orang-orang yang mengalami stress. Berdasarkan pengamatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa reaksi fisiologis dari stress meliputi tiga tingkatan yang bergabung dalam General Adaptation Syndrome sebagai berikut : a) Tahap Alarm Reaction
Tahap awal ini berfungsi untuk memobilisasikan sumber-sumber yang ada dalam tubuh. Reaksi yang akan timbul berupa penurunan tekanan darah untuk sementara dan kemudian secara tepat meningkatkan di atas normal.
b) Tahap Resistance
Apabila stressor yang dialami individu tidak menyebabkan kematian bagi individu akan mengalami reaksi berikutnya, aprousal tetap tinggi, tubuh berusaha untuk bertahan dan beradaptasi terhadap stressor. Selye (dalam Sarafino, 1998) menambahkan bahwa biasanya pada tahap ini individu lebih rentan terhadap penyakit. Misalnya tekanan darah tinggi, asma atau ginjal. c) Tahap Exhaustion
Pada tahap ini kemampuan untuk beradaptasi terhadap stress semakin menurun. Penyakit dan kerusakan fisiologis semakin meningkat dalam bentuk sulit berkonsentrasi, cepat marah, hilangnya kontak dengan realitas dan dapat menyebabkan kematian (Feldman , 1990).
2) Aspek Psikososial dari Stress
Atwater (1983) menjelaskan bahwa stress dapat berpengaruh terhadap aspek kognitif, emosional dan sosial individu. Sarafino (1998) menambahkan bahwa anger dapat menyebabkan individu melakukan perilaku agresif. Selain itu menurut Powel (1983) individu yang mengalami stress cenderung terhanyut dalam usaha untuk mengatasi stress yang dialaminya sehingga pekerjaan dan hubungan sosial menjadi terganggu.
2.2.4 Sumber-Sumber Stress
Atwater (1983) mengemukakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari sumber stress dalam bersifat fisik maupun psikologis. Sumber stress yang bersifat fisik dapat berupa keadaan cuaca yang tidak menyenangkan atau menderita penyakit tertentu. Sedangkan secara psikologis terdapat empat macam sumber stress yaitu tekanan, frustasi, konflik dan kecemasan. Walaupun demikian baik sumber stress yang bersifat fisik maupun psikologis akan saling mempengaruhi. Sumber stress yang bersifat fisik akhirnya dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, demikian pula sumber stress yang bersifat psikologis dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang.
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa secara psikologis terdapat emapat macam sumber stress, yaitu :
a. Tekanan
Tekanan berasal dalam diri individu maupun dari luar yaitu lingkungannya, atau merupakan gabungan dari keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari di mana seorang individu berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain seperti keluarga, teman kerja juga akan dapat menimbulkan tekanan bagi individu tersebut.
b. Frustasi
Frustasi dapat timbul dikarenakan adanya hambatan pada individu dalam memenuhi motivasi ataupun memenuhi tujuan. Sumber frustasi yang berasal dari diri individu antara lain adalah ketidakmampuan, kurangnya komitmen,
rasa percaya diri yang rendah atau kurangnya tanggung jawab. Frustasi dapat diakibatkan pula oleh tidak adanya subjek atau objek yang diinginkan.
c. Konflik
Keadaan konflik terjadi bila kita berada dalam tekanan untuk memilih dua atau lebih pilihan. Berikut ini merupakan beberapa situasi konflik yang mungkin terjadi yaitu :
1) Approachs conflict
Konflik ini terjadi apabila individu harus memilih dan pilihan yang sama-sama menyenangkan. Konflik ini biasanya dapat dipecahkan secara mudah dan cepat apabila pilihan yang dihadapi bukanlah suatu hal yang terlalu penting, seperti misalnya konflik dalam membeli pakaian, maka penyelesaiannya mudah. Lain halnya bila yang dihadapi merupakan suatu hal yang penting, misalnya konflik dalam memilih dua tawaran pekerjaan yang sama-sama baik dan memiliki prospek cerah, maka hal ini tertentunya dapat menjadi masalah dan menjadi sumber stress bagi individu.
2) Avoidances conflict
Konflik ini dapat terjadi bila individu berada dalam situasi di mana ia harus memilih diantara pilihan yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, ibu yang merasa malu mengajak anaknya yang down syndrome pergi keluar rumah. Tetapi apabila anaknya itu tidak diajak pergi, si ibu yang merasa anaknya nanti tidak akan berkembang dengan baik. Konflik jenis
ini lebih sulit di atas dibandingkan approach conflict. Kadangkala dibutuhkan banyak waktu dan energi untuk mengatasinya.
3) Approachs conflict
Dapat terjadi ketika terdapat dua kemungkinan, menyenangkan dan tidak menyenangkan.
4) Double approachs conflict
Apabila seseorang harus memilih antara dua pilihan yang masing-masing memiliki sisi positif dan negatif. Hal ini dapat menimbulkan stress bagi orang tersebut.
d. Kecemasan
Kecemasan sangat berhubungan dengan perasaan aman. Dalam jumlah normal, kecemasan dapat membantu kita untuk lebih menyadari akan situasi bahaya tertentu. Tetapi apabila berada dalam jumlah berlebihan, maka kecemasan akan dapat memperburuk tingkah laku individu. Atwater (1983) juga menambahkan bahwa kecemasan memiliki sifat kumulatif, artinya rasa cemas dapat terus bertambah sehingga menutupi kesadaran dan memperburuk tingkah laku seseorang.
2.3 Coping
2.3.1 Definisi Coping
Dampak emosi dan fisiologis yang timbul akibat situasi yang menekan merupakan situasi yang tidak nyaman bagi seseorang. Ketidaknyamanan itulah yang memotivasi seseorang melakukan sesuatu uantuk menghilangkannya. Proses
di mana seseorang berusaha untuk mengelola tuntutan yang stressful ini disebut sebagai coping (Atkinson & Atkinson ; Smith & Bem, 1993).
Coping didefinisikan sebagai perilaku proses yang mencakup tindakan berupa perilaku dan kognitif (Lazarus dalam Krohne, 1986) dan berfokus pada tuntutan eksternal maupaun internal (Krohne, 1986) melalui cara yang dapat mengurangi stress (Bootzin & Bower, Crocker & Hall, 1991) dengan mengontrol, mengurangi maupun mempelajari bagaimana mentoleransi ancaman yang menimbulkan stress (Feldman, 1992).
Coping juga merupakan perilaku yang dipelajari yang memberi kontribusi pada kelangsungan hidup seseorang dalam menghadapi bahaya ancaman kehidupan (Folkman & Lazarus, 1988). Penekanan pada coping itu sendiri terletak pada proses yang dilakukan, bukan tujuannya (Lazarus & Folkman dalam Krohne, 1986). Sementara tujuan tindakan coping itu sendiri adalah menghilangkan pengalaman yang membuat keseimbangan antara tuntutan dan kapasitas (Krohne, 1986).
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa coping merupakan suatu proses yang dipelajari, baik berupa perilaku maupun kognititf, ditujukan kepada stimulus eksternal maupun internal yang dirasakan mengancam dengan tujuan untuk menyeimbangkan tuntutan dan kapasitas yang dimilikinya.
2.3.2 Jenis-jenis Coping
Lazarus (1976) membedakan dua jenis perilaku coping yaitu :
a. Coping yang terpusat pada masalah (Problem-Focused Coping) yaitu perikalu coping yang bertujuan untuk memecahkan masalah, atau melakukan sesuatu untuk mengubah sumber stress.
b. Coping yang terpusat pada emosi (Emotion-Focused Coping), yaitu prilaku coping yang bertujuan untuk menangani stress emosional yang berhubungan atau yang dihasilkan oleh situasi menekan.
Walaupun hampir semua stressor mendatangkan kedua jenis coping di atas, problem focused coping cenderung mendominasi bila mana orang merasa bahwa ia dapat melakukan sesuatu yang konstruktif dalam menangani stressor, sedangkan emotional focused coping cenderung mendominasi bila orang merasa bahwa stressor merupakan sesuatu yang harus ditahan (dalam Carver, 1989).
Carver (1989) mengajukan satu lagi jenis coping yaitu coping maladaptif, yaitu kecendrungan coping yang kurang berguna atau kurang efektif.
Carver (1989) memberikan tiga belas strategi coping termasuk dalam tiga jenis coping tersebut, yaitu :
a. Strategi Coping yang termasuk dalam Problem Focused Coping 1) Active Coping
Proses pengambilan langkah untuk mencoba memindahkan atau menyiasati stressor atau mengurangi efeknya. Active Coping termasuk mengambil tindakan langsung, meningkatkan usaha seseorang, dan mencoba untuk melakukan usaha coping langkah demi langkah.
2) Planning
Memikirkan bagaimana menangani stressor. Planning meliputi merencanakan strategi dan langkah apa yang akan diambil dan bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah. Planning terjadi selama secondary aparisial, sedangkan Active Coping terjadi selama masa coping.
3) Seeking Sosial Support for Instrumental Reasons
Mencari saran atau nasihat, bantuan atau dukungan, atau informasi. 4) Suppression of Competing Activities
Mengesampingkan kegiatan lain, menghindari gangguan dari situasi lain dengan tujuan untuk menangani stressor.
5) Restrain Coping
Menunggu sampai ada kesempatan yang tepat untuk bertindak, menahan, dan tidak bertindak terlalu dini. Ini merupakan strategi coping aktif dalam hal perilaku individu di fokuskan pada menangani stressor secara efektif, namun juga merupakan strategi pasif dalam hal bahwa melakukan penundaan berarti tidak bertindak.
b. Strategi Coping yang Termasuk Dalam Emotional Focused Coping 1) Seeking Sosial Support for Emotional Reasons
Mencari dukungan moral, simpati dan pengertian. Secara konseptual, dukungan sosial ini berbeda pada dukungan sosial problem focused coping, namun pada prakteknya keduanya sering terjadi bersamaan. Kecendrungan untuk mencari dukungan sosial emosional ini merupakan pedang bermata dua. Satu pihak, tindakan tersebut nampaknya efektif.
Orang-orang yang tidak merasa aman dengan stress yang dialaminya dapat ditenangkan dengan dukungan sosial emosinal yang diterimanya. Pihak lain, sumber-sumber dukungan simpati biasanya lebih digunakan sebagai tempat untuk mengeluarkan perasaan-perasaan saja. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan dukungan sosial tidak terlalu adaptif.
2) Positive Reinterpretation and Growth
Coping lebih ditunjukan untuk menata distress emotional dari pada untuk menangani stressor. Sebenarnya manfaat coping ini tidak hanya terbatas pada pengurangan distress. Dengan memandang kejadian-kejadian yang membuat stress sebagai suatu yang positif (favorable), secara intrinsik dapat membawa seorang kepada problem focused coping secara aktif.
3) Denial
Usaha untuk menolak kenyataan atau kejadian-kejadian yang membuat stresss.
4) Acceptance
Menerima kenyataan bahwa kejadian-kejadian yang membuat stress memang ada dan nyata. Dapat dibuktikan bahwa acceptance ini merupakan perilaku coping yang efektif.
5) Turning to Religion
Meningkatkan keterlibatan pada kegiatan-kegiatan yang religius. Seseorang dapat beralih pada kegiatan-kegiatan yang religius pada saat ia mengalami stress karena berbagai alasan. Agama dapat menjadi sumber
dukungan emosional, sebagai alat ukur untuk membantu emosi distress, atau sebagai suatu siasat untuk melakukan coping aktif terhadap stressor. c. Strategi Coping yang Termasuk Coping Maladaptif
1) Focussing on and Venting of Emotion
Kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal seseorang sebagai distress, dan kemudian melepaskan perasaan-perasaan tersebut. 2) Behavioral Disengagement
Mengurangi usaha untuk melawan stressor, tidak ingin lagi berusaha untuk mencapai objek atau kejadian di mana stressor menganggu. Behavioral Disengagement digambarkan melalui gejala perilaku yang disebut “Helplessness”.
3) Mental Disengagement
Merupakan variasi dari Behavioral Disengagement, munculnya apabila ada keadaan yang menghalangi Behavioral Disengagement. Mental Disengagement muncul melalui berbagai macam kegiatan yang bertujuan untuk menghalangi seseorang memikirkan stressor, misalnya dengan menghayal, tidur, menonton TV, dan lain-lain.
2.3.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Coping
Individu yang mengalami stress akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri dan dari luar dirinya (Lahey & Cinimero, 1980).
a. Faktor Internal
Faktor-faktor internal yang dimaksud meliputi tiga hal yaitu kontrol personal, karakteristik individu dan kehadiran stress lain.
b. Faktor Eksternal
Salah satu faktor yang mempengaruhi individu dalam menghadapi stress adalah adanya dukungan sosial. Individu sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari jaringan sosial. Ia berada di tempat yang memungkingkan individu tersebut untuk berinteraksi sosial dengan yang lain. Dalam hal ini jaringan sosial menyediakan salah satu faktornya yaitu dukungan sosial.
Jadi seseorang individu dalam menghadapi stressnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor Internal dan Eksternal. Faktor Internal berasal dari dalam diri individu itu sendiri seperti pengalaman hidup, pengetahuan yang dimiliki dan kepribadian individu sendiri. Sedangkan faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu misalnya keluarga, saudara dan teman. Kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap penerimaan individu dalam menghadapi stress yang dialaminya.