BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.
A. Latar belakangLatar belakang
Dalam pembahasan sebelumnya, sudah diterangkan mengenai perintah untuk Dalam pembahasan sebelumnya, sudah diterangkan mengenai perintah untuk mentaati Allah dan rasulnya, menegakkan hukum sesuai perintah Allah, berlaku adil mentaati Allah dan rasulnya, menegakkan hukum sesuai perintah Allah, berlaku adil terhadap seluruh manusia baik itu orang yang yang dikasihi maupun yang dibenci, terhadap seluruh manusia baik itu orang yang yang dikasihi maupun yang dibenci, larangan berhukum dengan thaghut, serta perintah supaya memberikan amanat kepada larangan berhukum dengan thaghut, serta perintah supaya memberikan amanat kepada orang yang berkompeten.
orang yang berkompeten.
Pada pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai larangan melakukan pembelaan Pada pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai larangan melakukan pembelaan terhadap orang yang salah dan berkhianat yang terdapat dalam surah an-nisa ayat 105, terhadap orang yang salah dan berkhianat yang terdapat dalam surah an-nisa ayat 105, 107, dan 108, serta surah al-anfal ayat 58. Secara khusus, khianat yang dimaksud di sini 107, dan 108, serta surah al-anfal ayat 58. Secara khusus, khianat yang dimaksud di sini adalah pelanggaran terhadap kesepakatan dan perjanjian yang diadakan antara kaum adalah pelanggaran terhadap kesepakatan dan perjanjian yang diadakan antara kaum mu’minin dan kaum kafir.
mu’minin dan kaum kafir.11
Oleh karena itu, kami tim pemakalah akan berusaha memaparkan penjelasan terkait Oleh karena itu, kami tim pemakalah akan berusaha memaparkan penjelasan terkait tafsir dari ayat-ayat tersebut.
tafsir dari ayat-ayat tersebut. B.
B. Rumusan masalahRumusan masalah 1.
1. Apa redaksi dan terjemahan ayat yang menjadi dasar larangan melakukanApa redaksi dan terjemahan ayat yang menjadi dasar larangan melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang berkhianat?
pembelaan terhadap orang-orang yang berkhianat? 2.
2. Bagaimana asbabun nuzul ayat terkait larangan tersebut?Bagaimana asbabun nuzul ayat terkait larangan tersebut? 3.
3. Bagaimana korelasi ayat tersebut dengan ayat lainnya?Bagaimana korelasi ayat tersebut dengan ayat lainnya? 4.
4. Bagaimana penjelasan ayat tersebut?Bagaimana penjelasan ayat tersebut? 5.
5. Bagaimana relevansi ayat tersebut dengan konteks bangsa indonesia saat ini?Bagaimana relevansi ayat tersebut dengan konteks bangsa indonesia saat ini?
1
1 Imam al Jalil al Hafizh ibn Katsir, Imam al Jalil al Hafizh ibn Katsir, Tafsir al Quran al ‘Azhim,Tafsir al Quran al ‘Azhim,(Kairo: Maktabah Aulad asy Syaikh(Kairo: Maktabah Aulad asy Syaikh Litturats, 2000), juz 7, hl 107
BAB II PEMBAHASAN 1) LARANGAN MEMBELA ORANG YANG SALAH A. Al quran surah An Nisa ayat 105-108
1. Redaksi dan terjemahan ayat
“sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.(105) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungghunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(106) dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.(107) mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmuNya) terhadap apa yang
mereka kerjakan”
2. Tafsir mufradat
sendiri, seperti melakukan pencurian, melemparkan kesalahan pada orang lain, dan lain sebagainya.
itu terhapus dari orang yang dibelanya.
yang sungguh-sungguh, sehingga menimbulkan kontroversi.
2 Wahbah Zuhaili,Tafsir Al Munir, (Damaskus: Dar al Fikr, 2009), juz 3, hl 265
: dengan apa-apa yang telah diajarkan dan diwahyukan oleh Allah kepadamu.2
: yaitu orang-orang yang berkhianat terhadap orang lain maupun dirinya
: yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap orang yang salah, agar kesalahan : dan janganlah kamu berdebat. Berasal dari kata
yang berarti pembelaanDikatakan mengkhianati diri sendiri karena akibat dari perbuatan itu kembali pada diri mereka sendiri.
dalam berbuat dosa.
dimaksud di sini adalah Thu’mah dan kaumnya.
: yaitu ketika mereka memutuskan suatu rencana secara rahasia
yang melakukan pencurian, dan melemparkan tuduhan kepada orang yahudi.
3. Asbabun nuzul
Keseluruhan ayat di atas turun mengenai satu kisah, yaitu seorang lelaki anshar
yang bernama Thu’mah bin Ubairiq, yang mencuri baju perang milik tetangganya yang
bernama Qatadah bin Nu’man. Baju perang itu terletak di dalam karung dan bercampur dengan tepung. Karung tersebut robek, dan tepung itu pun berceceran dari tempat karung yang robek tadi, hingga ia sampai di rumahnya. Menyadari adanya ceceran tepung, ia menyembunyikan baju perang tersebut di rumah seorang yahudi bernama Zaid bin Samin.
Si pemilik baju pun mencari barangnya yang hilang dengan mengikuti jejak
ceceran tepung hingga ia sampai di rumah Thu’man. Sesampainya disana, mereka tidak
menemukan baju perang tersebut. Thu’man pun bersumpah dengan nama Allah bahwa ia
tidak mengambil barang tersebut dan tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Mereka pun
meninggalkan Thu’man dan mengikuti jejak tepung, lalu akhirnya sampai dirumah seorang yahudi, yaitu Zaid bin Samin. Di sana, mereka mendapati baju perang yang
3 Wahbah Zuhaili,Tafsir Al Munir,
…hl 265
: yaitu mengkhianati diri sendiri dengan melakukan perbuatan maksiat.
: yaitu orang yang sudah seringkali melakukan pengkhianatan.
: sifat mubalaghah bagi orang yang berdosa. Artinya, orang yang sudah keterlaluan
: mereka bersembunyi dari manusia dikarenakan perasaan malu dan takut. Yang
: yaitu ketika mereka berencana untuk bersumpah bahwa bukan merekahilang, lalu mengambilnya. Zaid pun mengatakan bahwa baju tersebut adalah titipan dari Thu’man, dan hal itu disaksikan oleh beberapa orang yahudi.4
Kemudian Banu Zhafar yang merupakan kaum dari Thu’man meminta orang -orang yahudi itu untuk ikut mereka menghadap nabi. Mereka pun meminta nabi untuk membela keluarga mereka yaitu Thu’man dan membersihkan nama baik keluarga mereka, meskipun mereka tahu bahwa keluarga merekalah yang sebenarnya bersalah. Lalu nabi berdiri dihadapan orang-orang untuk membebaskannya dan membersihkan nama baiknya, dan hampir saja nabi menjatuhkan keputusan yang salah, maka Allah menurunkan firmannya:
“sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran,
supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat. dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungghunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.”
Kemudian Allah berfirman kepada orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan menyembunyikan kedustaan serta membela pengkhianat:5
“mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan
rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmuNya) terhadap
apa yang mereka kerjakan”
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Thu’man tersebut kemudian murtad dan bergabung dengan musyrik mekkah. Ia meninggal ketika tertimpa dinding rumah saat
melakukan pencurian.6
4 Imam Abi Hasan Ali, Asbab Nuzul Al quran,(Beirut: Dar al Kitab al Ilmiyyah, 1991), hl 183 5 Imam al Jalil al Hafizh ibn Katsir, Tafsir al Quran al ‘Azhim,(Kairo: Maktabah Aulad asy Syaikh
Litturats, 2000), juz 4, hl 261
4. Munasabah ayat
Ayat ini mengandung perintah bagi orang mukmin agar senantiasa berhati-hati terhadap orang-orang munafik, dan selalu bersiaga dalam memerangi mereka.
Dalam ayat berikutnya yaitu ayat 109 Allah mengatakan:
“beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?”
Ayat di atas mengingatkan bahwa kalaupun seandainya ada yang mampu membela orang-orang yang berkhianat dalam kehidupan dunia ini, tetapi tidak akan ada siapa pun yang mampu membelanya kelak di hari kemudian.
Selanjutnya dalam ayat 112:
“dan barangsiapa yang melakukan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata”
Kata
disengaja., tetapi karena redaksi ayat menggunakan kata yang berarti melakukan, maka hal ini mengisyaratkan bahwa kesalahan itu dilakukan karena adanya kecerobohan atau kurangnya perhatian dan tanggung jawab pelakunya.7
Selain itu makna umum surah An Nisa ini juga berkaitan dengan surah Al Anfal ayat 27:
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
6 Zamakhsyari, Al Kasysyaf,(Riyadh: Maktabah al Abikan, 1998), juz 2, hl 148 7 Quraish Shihab,Tafsir al Misbah,(Jakarta: Lentera Hati, 2002), vol 2, hl 709
pada ayat di atas biasanya diartikan dengan kesalahan yang tidak
Larangan berkhianat ayat di atas mempunyai makna untuk tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasulnya, serta menjaga amanat yang diberikan oleh orang lain.8
5. Syarah ayat
Ayat ini kembali kepada persoalan semula yang berbicara tentang orang-orang munafik, yang diselingi dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan mereka, sampai pada uraian tentang kewajiban menindak tegas, bahkan memerangi mereka yang terang-terangan keluar dari islam, hingga ancaman bagi mereka yang berdalih tertindas karena enggan berhijrah dan berjihad.
Al Biqa’i juga menilai ayat ini dan ayat-ayat sesudahnya sebagai awal dari satu kelompok ayat dan kelanjutan dari uraian sebelumnya. Menurutnya, uraian kelompok ayat ini adalah menggambarkan keanehan orang-orang yang telah diberi kitab suci, yang sesat dan menyesatkan orang lain, keimanan mereka terhadap al jibt, setan, dan berhala, dilanjutkan dengan uraian tentang sikap mereka yang mengaku percaya kepada kitab yang diturunkan oleh Allah, tetapi mencari hakim selain-Nya.
Al Biqa’i menjelaskan bahwa Allah telah menurunkan kitab suci sambil menjelaskan fungsinya, yang ditolak oleh para pembangkang yang dibicarakan oleh ayat-ayat sebelumnya. Karena itu menurutnya, ayat-ayat ini menegaskan bahwa Allah melalui perantara malaikat jibril secara khusus telah menurunkan kitab yang amat sempurna,
yang haq. mengandung tuntunan yang sesuai dalam segala aspeknya supaya engkau mengadili antara manusia siapapun mereka, dengan apa yang telah diwahyukan oleh Allah, yakni melalui apa yang telah diperlihatkan kepadamu dan atau Allah ilhamkan melalui nalarmu, dan janganlah engkau menjadi penantang orang yang tidak bersalah karena membela para pengkhianat.
Karena dalam benak nabi sempat terlintas niat untuk membela orang-orang yang khianat, walaupun akibat ketidaktahuan dan sangka baik beliau kepada sesama muslim, Allah menurunkan ayat yang memerintahkan nabi:9
“dan mohon ampunlah kepada Allah, sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
2) CARA MENGHADAPI PENGHIANAT B. Al Quran surah Al Anfal ayat 58
1. Redaksi dan terjemahan ayat
“dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yangberkhianat”
2. Tafsir mufradat
kecurangan dalam perjanjian, dengan adanya tanda-tanda yang jelas. Yang dimaksud dalam ayat adalah Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.10
melanggar perjanjian, yaitu dengan cara memberitahukan kepada mereka tentang pelanggaran tersebut, supaya mereka tidak menuduhmu berbuat khianat jika kamu
melakukan tindakan.11 3. Asbabun nuzul
Sa’id bin jubair berkata bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan enam kabilah
yahudi. Di antaranya ada yang bernama ibnu tabut. Sementara mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat adalah yahudi madinah yang dipimpin oleh Ka’ab bin
Asyraf. Kemudian Allah menurunkan perintah mengenai sikap yang harus dilakukan
9 Quraish Shihab,Tafsir al Misbah,
…hl 700
10 Shiddiq bin Hasan, Fathul Bayan,
…hl 198
11 Wahbah Zuhaili,Tafsir Al Munir,
…hl 385
: jika dikhawatirkan suatu kaum akan melakukan pengkhianatan atau
: yaitu lemparkanlah perjanjian itu pada mereka, dan perangilah merekaterhadap pengkhianatan yang mereka lakukan, dan mengatakan bahwa Rasulullah akan selalu terpelihara dari segala tipu daya yang mereka rencanakan.12
Pada tahun pertama hijriah, Rasulullah telah membuat suatu perjanjian dengan orang-orang yahudi di Madinah, yang terdiri dari Bani Quraizhah dan Bani Nadir. Mereka lalu mengkhianati perjanjian itu dan kemudian memberi bantuan kepada kafir quraisy dengan cara sembunyi-sembunyi untuk memerangi nabi Muhammad di waktu terjadinya perang uhud.
Setelah selesainya peperangan, turunlah ayat
lemparkanlah dan batalkanlah perjanjian yang telah dibuat dengan mereka itu dengan cara terus terang, jujur, dengan cara yang sama seperti membuat perjanjian dahulu. Tegasnya, janganlah mereka itu diperangi sebelum diberitahukan terlebih dahulu kepada mereka mengenai pembatalan perjanjian tersebut., agar umat islam tidak dituduh melanggar perjanjian.
Menurut zhahir ayat, pembatalan perjanjian itu diperintahkan terlebih dahulu supaya diberitahukan kepada pihak yang berjanji, sebelum mereka diserang,13 dan perintah ini tidak hanya khusus untuk nabi Muhammad saja, melainkan bermakna umum
untuk setiap perjanjian yang dikhawatirkan akan terjadi pelanggaran.14
4. Munasabah ayat
Setelah Allah menjelaskan tentang keadan kafir Quraisy yang memerangi nabi
dan kaum mu’minin di perang badar, selanjutnya Allah menyebutkan tentang keadaan kelompok lain yang memerangi nabi, yaitu yahudi Hijaz.15
Sebelum Allah menyuruh kaum muslimin untuk membatalkan perjanjian dengan kaum yahudi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 58 ini, pada ayat sebelumnya yaitu ayat 55, 56 dan 57 Allah telah menerangkan:
12 Ahmad Musthafa al Maraghi, Tafsir al Maraghi,(Kairo, Musthafa al Babi al Halabi, 1946) juz 10,
hl 19
13 Abdul Halim Hasan Binjai, Tafsir al Ahkam,(Jakarta: Kencana, 2011), hl 461 14 Shiddiq bin Hasan, Fathul Bayan,
…hl 199
15 Wahbah Zuhaili,Tafsir Al Munir,
…hl 386
“sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah adalah orang -orang kafir, karena mereka itu tidak beriman (55). (yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janji itu pada setiap kali, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya) (56). Jika kamu menemui mereka
dalam peperangan, maka cerai beraikanlah mereka dengan (menumpas) mereka, supaya
mereka mengambil pelajaran (57)”
Kelompok ayat tersebut, dan ayat-ayat sesudahnya berbicara tentang perjanjian. Karena perjanjian pertama yang dilakukan oleh nabi adalah dengan non-muslim, yakni ketika beliau tiba di Madinah, dan karena yang pertama serta paling sering mengkhianati perjanjian adalah orang yahudi.
Kata
tidak memiliki sedikit pun rasa taqwa/takut, dan hal tersebut sudah begitu mantap dalam diri mereka. Ketakwaan yang dimaksud mencakup segala jenisnya seperti integritas
pribadi, muru’ah, rasa takut kepada siksa Allah di dunia dan di akhirat.
Ayat 57 menyatakan bahwa dalam menghadapi mereka yang terus menerus mengingkari perjanjian, harus ditindak dengan keras. Karena dengan tindakan itu, siapa saja yang akan berbuat serupa atau bermaksud jahat akan mengambil pelajaran dari tindakan keras terhadap pengkhianat tersebut.16
5. Syarah ayat
Setelah ayat sebelumnya memberikan petunjuk tentang bagaimana
memperlakukan siapa yang telah terbukti melanggar perjanjian, ayat ini memberi petunjuk mengenai langkah yang harus diambil bila pengingkaran perjanjian itu belum
terbukti dengan jelas.
Ayat ini mengandung pesan larangan memerangi suatu masyarakat dalam keadaan mereka menduga berlakunya perjanjian damai. Sehingga peperangan tidak boleh dimulai kecuali dalam keadaan masing-masing pihak menyadari bahwa mereka dalam situasi perang. Hal ini juga menunjukkan bahwa pengkhianatan walaupun terhadap
16 Quraish Shihab,Tafsir al Misbah,
….. hl 580-583
musuh sekalipun sama sekali tidak dibenarkan. Memang, semua mengetahui bahwa peperangan itu adalah tipu daya, namun siasat dan tipu muslihat yang terjadi dalam situasi perang tidak sama dengan khianat yang dilarang ini karena ketika itu masing-masing pihak sudah mengetahui bahwa ciri peperangan adalah tipu muslihat.
Ayat ini juga membenarkan pembatalan perjanjian walaupun pengkhianatan belum terjadi. Cukup dengan adanya bukti-bukti yang kuat, karena dalam hal keamanan
dan peperangan, menanti terjadinya pengkhianatan dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap masyarakat.17
C. RELEVANSI AYAT TERHADAP KONDISI BANGSA INDONESIA
Salah satu contoh yang berkaitan erat dengan keterangan ayat yang telah dijelakan sebelumnya adalah mengenai kuasa hukum. Saat ini di Indonesia, seringkali kita jumpai kasus-kasus hukum dimana masing-masing pihak yang tersangkut kasus menggandeng seseorang sebagai penolongnya, yang biasa kita kenal dengan istilah pengacara. Sebagaimana yang kita lihat di media massa, para pengacara itu berusaha membela kliennya mati-matian hingga nantinya berujung pada kemenangan si klien atas kasus tersebut. Tak heran jika para pengacara itu memiliki bayaran yang cukup tinggi.
Pengacara itu sendiri bukanlah sesuatu yang baru dalam islam. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya pembahasan mengenai kuasa hukum dalam peradilan islam dalam kitab fiqh klasik, misalnya “bab tentang pengacara dan kewajiban mereka” dalam kitab Raudhah al Qudhat wa Thariq an Najah karangan Abu al Qasim as Sumnani. Di sana juga dikatakan bahwa seseorang tidk boleh menjadi kuasa hukum dari orang yang sudah jelas diketahui kesalahannya.18
Dengan begitu, seorang pengacara harus menafikan fungsi pembelaannya pada klien ketika ia tahu bahwa si klien jelas bersalah. Jika tidak, selain kebenaran yang terkalahkan, hal seperti itu akan merugikan pihak lain. Misalnya kasus korupsi yang sudah mewabah di Indonesia. Di antara pejabat-pejabat yang terjerat kasus tersebut tidak sedikit yang terbebas dari kesalahannya dikarenakan pengacara yang ahli dalam rekayasa
17 Quraish Shihab,Tafsir al Misbah ...hl 584-585
18 Abu Qasim as Sumnani, Raudhah al Qudhat wa Thariq an Najah,(Beirut: Muasasah ar Risalah, 1984), juz 1, hl 122
hukum. Hal tersebut tentu saja menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi rakyat Indonesia.
Contoh lain juga dapat kita lihat dalam kasus-kasus lain, dimana pengadilan cenderung memberikan putusan hukum yang tidak berimbang dan proporsional. Sehingga wajar saja jika rakyat merasa bahwa hukum yang ada di Indonesia ini ”tumpul ke atas dan tajam ke bawah.”
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tentang surah An Nisa ayat 105, 107, 108, dan surah Al Anfal ayat 58 sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan:
1. Islam melarang berbagai bentuk sikap pengkhianatan.
2. Dalam masalah penyelesaian perkara, hakim tidak diperkenankan untuk membela orang yang bersalah/pengkhianat. Bahkan nabi pun ditegur oleh Allah meskipun beliau belum sempat menjatuhkan putusan ketika keluarga Thu’mah meminta pembelaan.
3. Adanya perintah untuk melakukan pembatalan perjanjian jika ditemukan bukti- bukti kuat yang menunjukkan bahwa pihak lain berpotensi hendak melakukan pengkhianatan. Pembatalan di sini harus diberitahukan secara jujur dan terang-terangan agar umat islam tidak dituduh sebagai pihak yang pertama kali melakukan pengkhianatan. Sehingga selanjutnya dapat mengambil sebuah tindakan tegas.
B. Saran
Inilah makalah sederhana yang dapat pemakalah buat pada kesempatan kali ini. Pemakalah mohon maaf atas kekurangan yang terdapat dalam pembuatan makalah ini, yang tidak lain berasal dari keterbatasan ilmu pemakalah. Dan semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari makalah ini.
Akhir kata perbanyak maaf, wabilllahi taufiq wal hidayah, wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Jalil Hafizh ibn Katsir, Tafsir al Quran al ‘Azhim, (Kairo: Maktabah Aulad asy Syaikh Litturats, 2000)
Wahbah Zuhaili,Tafsir Al Munir, (Damaskus: Dar al Fikr, 2009)
Imam Abi Hasan Ali, Asbab Nuzul Al quran,(Beirut: Dar al Kitab al Ilmiyyah, 1991) Abu Qasim Mahmud, Al Kasysyaf,(Riyadh: Maktabah al Abikan, 1998)
Quraish Shihab, Tafsir al Misbah,(Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Shiddiq bin Hasan, Fathul Bayan, (Beirut: Maktabah al Ashriyah, 1992)
Ahmad Musthafa Maraghi, Tafsir al Maraghi,(Kairo, Musthafa al Babi al Halabi, 1946) Abdul Halim Hasan Binjai,Tafsir al Ahkam,(Jakarta: Kencana, 2011)
Abu Qasim Sumnani, Raudhah al Qudhat wa Thariq an Najah, (Beirut: Muasasah ar Risalah, 1984)