• Tidak ada hasil yang ditemukan

118299537 Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN 05122011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "118299537 Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN 05122011"

Copied!
270
0
0

Teks penuh

(1)

Berbasis IFRS

(2)
(3)
(4)
(5)

menteri negara badan usaha milik negara

Sambutan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara v

(6)

vi

(7)

Assalamualaikum Wr. Wb Proses konvergensi ke International Financial Reporting S tandards menyebabkan revisi seluruh Standar Akuntansi Keuangan yang ada. Penggun aan nilai wajar dan pertimbangan profesional sangat dibutuhkan dalam penerapan k etentuan akuntansi yang baru. Hal tersebut tentu berdampak terhadap perlakuan ak untansi di BUMN Perkebunan, termasuk hal-hal lain yang terkait dengan pelaporan keuangan, yang menjadi semakin kompleks. Untuk itu dibutuhkan sarana dan infrast ruktur pendukung supaya BUMN Perkebunan mampu menyusun laporan keuangan sesuai d engan ketentuan akuntansi yang baru, salah satunya dalam bentuk Pedoman Akuntans i BUMN Perkebunan ini. Dengan penyusunan revisi pedoman akuntansi ini diharapkan bisa memberikan keseragaman panduan akuntansi sehingga informasi yang dihasilka n oleh laporan keuangan memenuhi tujuannya. Suatu pedoman akuntansi merupakan pe njelasan dari ketentuan dalam Standar Akuntansi Keuangan, regulasi, dan praktik yang ada, sehingga harus ditelaah secara regular untuk memastikan bahwa pengatur annya masih sesuai dengan perkembangan dari faktor tersebut. Pedoman akuntansi b ukan merupakan bagian dari produk yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI). Produk dari DSAK IAI berupa Pernya taan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuang an (ISAK). Sedangkan pedoman akuntansi umumnya dikeluarkan oleh regulator dan as osiasi industri. Untuk itu, Ikatan Akuntan Indonesia menyampaikan penghargaan at as sikap proaktif dan kepedulian Kementerian Negara BUMN yang telah mendorong BU MN Perkebunan untuk melakukan pemutakhiran atas pedoman akuntansi ini. Keberadaa n dari pedoman akuntansi ini diharapkan dapat memperkaya kazanah pelaporan keuan gan di Indonesia, dan sekaligus sebagai kontribusi

Sambutan Ikatan Akuntan Indonesia vii

(8)

kolektif dalam menjawab permasalaan praktik pelaporan keuangan serta untuk menin gkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan. Akhirnya pada kesem patan ini Ikatan Akuntan Indonesia mengucapkan terima kasih dan memberikan pengh argaan kepada tim penyusun dan PT Perkebunan Nusantara I s.d. XIV (persero) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (persero) atas usaha dan kerja samanya dalam pen yusunan pedoman akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat diteruskan lagi di ma sa mendatang. Waalaikumsalam Wr. Wb. Dewan Pengurus Nasional

Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak Ketua viii

(9)

ketua tim koordinasi implementasi iFrs pt perkebunan nusantara i sampai dengan p t pekebunan nusantara XiV dan pt rajawali nusantara indonesia (persero)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Adopsi IFRS bukanlah pilihan bagi Indonesia, tapi keharusan, mengapa? Karena Kon vergensi IFRS adalah salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 forum. Menyikapi hal tersebut, BUMN perkebunan yang terdiri dari PT Perkebu nan Nusantara (PTPN) I sampai dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV ditambah PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sepakat bersinergi mengimplementasikan IF RS dalam pelaporan keuangan yang sudah mulai diberlakukan secara bertahap dalam laporan keuangan tahun 2011, dan akan diberlakukan secara penuh dalam laporan ke uangan tahun 2012. Bagi Indonesia, standar akuntansi yang berlaku umum adalah PS AK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) yang belum mengadopsi penuh standar a kuntansi international (IFRS). Standar akuntansi yang digunakan di Indonesia mas ih mengacu pada US GAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard). Dengan kondisi PSAK sedemikian yang juga berlaku bagi BUMN Perkebunan, akan menj adi penghalang dan hambatan bagi BUMN Perkebunan dalam memasuki pasar global khu susnya bagi BUMN yang akan melakukan listing di Bursa Efek Indonesia karena lapo ran keuangan yang tidak standar dan dapat diinteprestasikan berbeda oleh calon i nvestor.

ix

(10)

Mempertimbangkan hal tersebut, seluruh BUMN Perkebunan bertindak proaktif bekerj a sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melakukan konvergensi PSAK yang mas ih mengacu pada US GAAP menjadi PSAK yang berbasis IFRS. Di mana tujuan dari kon vergensi ini adalah agar informasi keuangan yang dihasilkan dapat diperbandingka n, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif, meningkatkan kualitas Standa r Akuntansi Keuangan (SAK), meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuan gan, meningkatkan transparansi keuangan, menurunkan biaya modal dengan membuka p eluang penghimpunan dana melalui pasar modal serta efisiensi penyusunan laporan keuangan. Dengan keuntungan konvergensi PSAK yang berbasis IFRS, terdapat satu s tandar akuntansi yang sama dan digunakan oleh seluruh negara akan semakin mendor ong investor untuk masuk dalam pasar modal Indonesia, dikarenakan mutu dari lapo ran keuangan yang dihasilkan memiliki kredibilitas tinggi, pengungkapan yang leb ih luas, informasi keuangan yang relevan dan akurat serta dapat diperbandingkan dan yang lebih penting adalah laporan keuangan tersebut dapat diterima secara in ternasional serta mudah untuk dipahami. Walau dalam prosesnya penyusunan Buku Pe doman Akuntansi Perkebunan Berbasis International Financial Reporting Standards (IFRS) terdapat berbagai kendala terutama diversifitas laporan keuangan yang ber beda di setiap BUMN Perkebunan, namun penyusunan buku pedoman tersebut dapat dis elesaikan sebelum batas waktu yang ditetapkan bagi seluruh entitas bisnis dan pe merintah untuk menggunakan IFRS adalah 1 Januari 2012. Buku Pedoman Akuntansi BU MN Perkebunan berbasis IFRS tersebut diharapkan akan meningkatkan posisi BUMN In donesia sebagai BUMN yang bisa dipercaya di Indonesia bahkan dunia dengan tata k elola dan pertanggungjawaban kepada stakeholders-nya yang lebih baik dan konsist en. Atas selesainya buku Buku Pedoman ini, saya selaku Ketua Tim Implementasi IF RS PT Perkebunan Nusantara I sampai dengan PT Pekebunan Nusantara XIV dan PT Raj awali Nusantara Indonesia (Persero) mengucapkan terima kasih dan penghargaan yan g sebesar-besarnya bagi : 1. 2. 3.

x

Menteri Negara BUMN dan Jajarannya yang mendukung penyelesaian Buku Pedoman ini. Seluruh Anggota Badan Musyawarah Direksi BUMN Perkebunan dan PT RNI. Seluruh Ja jaran dan Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia.

(11)

4. 5.

Seluruh anggota Tim Implementasi IFRS PT Perkebunan Nusantara I sampai dengan PT Pekebunan Nusantara XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero). Seluruh pihak yang telah berjasa dan mendukung penyelesaian buku Pedoman ini.

Akhir kata, semoga semua yang telah dilakukan dan dikerjakan oleh kita semua dib erkahi oleh Allah SWT. Amin.

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ketua Tim Koordinasi Implementasi IFRS PT Perkebunan Nusantara I s/d PT Pekebuna n Nusantara XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)

Irwan Makdoerah

Sambutan Tim Koordinasi Implementasi IFRS xi

(12)

xii

(13)

Ketua Tim Ketua Pelaksana Ketua Perumus Irwan Makdoerah ( PT RNI) Dicky Nugraha (PT RNI) M Najib ( PT RNI )

Wakil Ketua Perumus Tanaman Semusim Zainul Muntoha (PTPN XI) Wakil Ketua Perumus Tanaman Tahunan Arih Muli Bangun (PTPN III) Sekretaris Bendahara Pendamping Max million (PT RNI) Silvana Irawati Butar–Butar (PT RNI) Yakub (IAI) Deny Poerhadiyan to (IAI)

Tim Perumus Direksi

H.Dharmansyah Simamora Naif Ali Dahbul Johanes Sitepu Setia Dharma Sebayang Erwa n Pelawi A.Karimuddin Boyke Budiono Ishak Z Soediredja A. Amien Mastur Dolly P P ulungan Soenari Yono Sahala Hutasoit Budi Purnomo Direktur Keuangan PTPN I Direk tur Keuangan PTPN II Direktur Keuangan PTPN III Direktur Keuangan PTPN IV Direkt ur Keuangan PTPN V Direktur Keuangan PTPN VI Direktur Keuangan PTPN VII Direktur Keuangan PTPN VIII Direktur Keuangan PTPN IX Direktur Keuangan PTPN X Direktur Keuangan PTPN XI Direktur Keuangan PTPN XII Direktur Keuangan PTPN XIV

Pelaksana Penyusun Pedoman Akuntansi BUMN xiii

(14)

Anggota Tim Perumus

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 2 3. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.

xiv

H Ruslan Nasution Lidya Suhendri Donny Amril Jarmidi Purba Ali Akbar Budi Susant o Mili Mahardika Ali Musri T. Zaluchu Jesaya Ginting Hotmatua Syawaludin Hasibua n Arfinaldi Eko Galih Pribadi Andy Fauzi Siregar Rizki Prima Lubis Sapta Yoga Ed y Santoso Iyushar Ganda Saputra Dadang Mulyadi Hariyanto Arasuhara Adji Kaniawan Umar Affandi Purdjoko Eriek Kristiono Adiatmo Ega Akhmad Juhri TP Harianja PTPN I PTPN I PTPN II PTPN III PTPN IV PTPN IV PTPN IV PTPN IV PTPN IV PTPN V PT PN V PTPN V PTPN V PTPN VI PTPN VI PTPN VI PTPN VI PTPN VII PTPN VII PTPN VII PT PN VIII PTPN VIII PTPN VIII PTPN VIII PTPN IX PTPN IX PTPN IX PTPN IX PTPN IX PT PN X

(15)

31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55.

Nurul Fanch Aries Sutaringadi Sayogya Putranto Fallen Wicaksono Istighfani Gurit Maharendra Bambang Widjanarko Hadisaroso Didik Kridatama P. Sinambela Edward Pa ngaribuan V.T Moses Situmorang Akhmad Irfanjauhari Marudut P. Simamora Mardiayan to Rudy karim Riswan M Ananto Widodo Widyo Utomo Nugraha Adi Prasetya Agus Sarwo ko Yasir Ismail Yohanes Agung T. Della Christin Hutapea Yenny Agapitasari

PTPN X PTPN X PTPN X PTPN XI PTPN XI PTPN XI PTPN XII PTPN XII PTPN XII PTPN XII I PTPN XIII PTPN XIII PTPN XIII PTPN XIII PTPN XIV PTPN XIV PTPN XIV PT RNI PT R NI PT RNI PT RNI PT RNI PT RNI IAI IAI

Pelaksana Penyusun Pedoman Akuntansi BUMN xv

(16)

xvi

(17)

sambutan menteri negara badan usaha milik negara sambutan ikatan akuntan indones ia sambutan ketua tim koordinasi implementasi iFrs daFtar isi bab i pendahuluan LATAR BELAKANG TUJUAN DAN RUANG LINGKUP REFERENSI PENYUSUNAN KETENTUAN LAIN-LAIN v vii ix xiii 1

1 2 2 3 bab ii

laporan keuangan bumn perkebunan KARAKTERISTIK ENTITAS BUMN PERKEBUNAN

Kegiatan Operasional Bentuk Usaha Kepemilikan 5

5 6 6 6 7 7 8 8 8 9 11 11 13 13 13 14 14 15 18 18 23 24 5

KETENTUAN UMUM LAPORAN KEUANGAN

Tujuan Laporan Keuangan Tanggung Jawab Atas Laporan Keuangan Komponen Laporan Ke uangan Bahasa Laporan Keuangan Mata Uang Pelaporan Kebijakan Akuntansi Penyajian Laporan Keuangan Konsistensi Penyajian Laporan Keuangan Perubahan Akuntansi Mat erialitas dan Agregasi Saling Hapus Periode pelaporan Informasi Komparatif Lapor an Keuangan Interim Laporan Keuangan Konsolidasian Ketentuan Mengenai Pihak-piha k Berelasi Ketentuan Umum Aset Keuangan Ketentuan Umum Liabilitas Keuangan Keten tuan Umum Pengungkapan Instrumen Keuangan

(18)

bab iii

akuntansi aset

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK ASET ASET LANCAR

Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Piutang Lain-lain Piutang Antar Badan Hukum Jan gka Pendek Investasi Jangka Pendek Persediaan Aset Dimiliki untuk Dijual Biaya D ibayar Dimuka Pajak Dibayar Dimuka Aset Lancar Lain

25

28 30 33 36 40 47 53 57 59 61 63 66 69 74 78 83 88 94 101 111 115 119 25 28

ASET TIDAK LANCAR

Piutang Pengembangan Perkebunan Rakyat Piutang Antar Badan Hukum Jangka Panjang Investasi Jangka Panjang Investasi pada Entitas Lain Investasi pada Entitas Asos iasi/Ventura Bersama Properti Investasi Aset Tanaman Semusim Aset Tanaman Tahuna n Aset Tetap Aset Tidak Berwujud Aset/Liabilitas Pajak Tangguhan Aset Tidak Lanc ar Lain

63 bab iV

akuntansi liabilitas dan ekuitas AKUNTANSI LIABILITAS

Pengertian dan Karakteristik Biaya Pinjaman 121

121 124 126 128 130 132 134 136 138 140 143 147 150 156 121 126

LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang Usaha Utang Pajak Biaya yang Masih Harus Dibayar Liabilitas Imbalan Kerja Jangka Pendek Pendapatan Diterima Dimuka Utang Bank Jangka Pendek Liabilitas Jan gka Pendek Lain Utang Antar Badan Hukum Utang Kepada Pemerintah Utang Bank Jangk a Panjang Utang Sewa Pembiayaan Liabilitas Imbalan Kerja Jangka panjang

LIABILITAS JANGKA PANJANG 140

xviii Daftar Isi

(19)

Provisi Liabilitas Jangka Panjang Lain 159 164 166 167 169 171 174 176 178 AKUNTANSI EKUITAS

Pengertian dan Karakteristik Modal Disetor Tambahan Modal Disetor Selisih Kombin asi Bisnis Entitas Sepengendali Pendapatan Komprehensif Lain Saldo Laba Kepentin gan Nonpengendali

166 bab V

laporan laba rugi komprehensiF PENGERTIAN PENGHASILAN BEBAN

Pendapatan Usaha Pendapatan Nonusaha Beban Pokok Penjualan Beban Usaha Beban Non usaha Pajak Penghasilan Pendapatan Komprehensif Lain

181 183 189 193 197 199 201 204 181 181 192 bab Vi perubahan ekuitas

PENGERTIAN DASAR PENGATURAN PENJELASAN 207

207 207 207 bab Vii

laporan arus kas

PENGERTIAN DASAR PENGATURAN PENJELASAN 211

211 212 212 bab Viii

Catatan atas laporan keuangan 217

(20)

PENGERTIAN DASAR PENGATURAN PENJELASAN UNSUR-UNSUR

Kepatuhan terhadap SAK Gambaran Umum Entitas Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Penjel asan atas Pos-pos Laporan Keuangan

222 222 223 224 217 218 219 222 lampiran 229 xx Daftar Isi

(21)

latar belakang

1.1. Usaha di bidang perkebunan mengalami perkembangan yang pesat dan semakin di namis akhir-akhir ini. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut, se perti perkembangan teknologi perkebunan yang semakin maju, meningkatnya perminta an hasil perkebunan, dan munculnya otonomi daerah yang berdampak terhadap pengel olaan usaha perkebunan. 1.2. Selain itu, semakin meningkatnya tuntutan transpara nsi dan akuntabilitas pengelolaan usaha seiring keterbukaan informasi yang difas ilitasi oleh keberadaan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju dan semakin murah. Tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance) meru pakan suatu hal yang tidak terelakkan, apalagi bagi BUMN Perkebunan (untuk selan jutnya disebut “entitas”) yang sahamnya dimiliki oleh negara. 1.3. Saat ini revisi a tas Standar Akuntansi Keuangan terus dilakukan sesuai dengan program konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS), sehingga penyusunan laporan keuangan menjadi lebih kompleks dengan banyak menggunakan konsep nilai w ajar dan pertimbangan profesional. 1.4. Perkembangan dan kondisi di atas mempeng aruhi entitas dalam pelaporan keuangannya supaya lebih sesuai dengan Standar Aku ntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan I ndonesia. Selama ini di antara entitas sering terjadi perbedaan perlakuan akunta nsi untuk transaksi yang sama. Hal ini tentunya menjadi masalah tersendiri bagi para pengguna laporan keuangan pada umumnya, khususnya pemegang saham, dalam men gevaluasi kinerja setiap entitas. Untuk itu dipandang perlu menyempurnakan pedom an akuntansi yang sudah ada.

Bab I: Pendahuluan 1

(22)

1.5. Dalam menghadapi permasalahan tersebut PT. Perkebunan Nusantara I s/d XIV d an PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) bekerja . sama dengan Ikatan Akunta n Indonesia berinisiatif untuk merevisi Pedoman Akuntansi BUMN Perkebunan (untuk selanjutnya disebut “Pedoman”).

tujuan dan ruang lingkup

1. 2. 1.6. Tujuan dari penyusunan Pedoman, antara lain: membantu penyusun dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya; menciptak an keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuanga n. Keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam pedoman ini tidak menghalangi setiap entitas untuk menambah informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuan gan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan; menjadi acuan minimal dalam menyusun la poran keuangan; menjadi referensi bagi pemerhati akuntansi untuk lebih mengenal tentang penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan.

3. 4.

1.7. Ruang lingkup penerapan Pedoman ini adalah sebagai berikut: 1. pedoman ini berlaku untuk laporan keuangan yang disusun dan disajikan oleh BUMN Perkebunan; 2. entitas selain BUMN Perkebunan dapat menggunakan Pedoman ini dalam menyusun l aporan keuangan; 3. hal-hal yang tidak secara khusus diatur dalam Pedoman ini wa jib mengacu kepada Standar Akuntansi Keuangan yang terkait.

reFerensi penYusunan

1.8. Penyusunan Pedoman ini didasarkan pada referensi yang relevan, antara lain: 1. Peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu: a. Undang-Undang nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan T erbatas. b. Undang-Undang nomor 8 tahun 1995 tent ang Pasar Modal.

2

(23)

c. 2.

Undang-Undang nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. d. Undang-Un dang nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan. e. Peraturan Pemerintah nomor 45 ta hun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara. f. Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Pe merintah nomor 14 tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/ Daera h. g. Peraturan Pemerintah nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik N egara/Daerah. h. Anggaran Dasar masing-masing entitas. Standar Akuntansi Keuanga n.

1.9. Jika Standar Akuntansi Keuangan memberikan pilihan atas suatu perlakuan aku ntansi tertentu, maka entitas diwajibkan untuk mengikuti perlakuan akuntansi yan g dipilih dalam Pedoman ini.

ketentuan lain-lain

1.10. Ilustrasi jurnal yang digunakan dalam Pedoman ini hanya merupakan ilustras i dan tidak bersifat mengikat. Entitas dapat mengembangkan metode pencatatan dan pengakuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil yang tidak ber beda. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam Pedoman ini menggambarkan pencatat an akuntansi secara manual. 1.11. Transaksi yang dicantumkan pada Pedoman ini di prioritaskan pada transaksi yang umum terjadi. 1.12. Jika terdapat transaksi khu sus yang dipandang perlu untuk dituangkan dalam buku Pedoman ini, maka hal terse but agar dikaji sebagai bahan masukan dalam penyempurnaan Pedoman ini. 1.13. Ped oman ini secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan usa ha perkebunan, Standar Akuntansi Keuangan, ketentuan Pemerintah, dan ketentuan l ain yang terkait dengan entitas. 1.14. Pedoman ini menetapkan bentuk, isi, dan p ersyaratan dalam penyajian laporan keuangan yang harus dipenuhi oleh entitas unt uk keperluan penyajian kepada pemegang saham maupun pemangku kepentingan lainnya .

(24)

1.15. Pedoman ini merupakan pedoman penyajian laporan keuangan secara umum. Bent uk, isi, dan persyaratan dalam penyajian laporan keuangan mengikuti Standar Akun tansi Keuangan. 1.16. Laporan keuangan dalam Pedoman ini sesuai dengan pengertia n laporan keuangan yang termuat dalam Standar Akuntansi Keuangan, meliputi lapor an posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, l aporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

4

(25)

karakteristik entitas bumn perkebunan Kegiatan Operasional

2.1. Entitas melakukan kegiatan usaha di bidang perkebunan meliputi: 1. kegiatan pengusahaan budidaya tanaman, meliputi pembukaan, persiapan, dan pengelolaan la han, pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta kegiatan-kegiatan lain sehubungan dengan budidaya tanaman tersebut; 2. kegiatan produksi, meliputi pemungutan has il tanaman, dan pengolahan hasil tanaman sendiri atau pihak lain menjadi barang setengah jadi atau barang jadi; 3. kegiatan perdagangan, meliputi kegiatan pemas aran berbagai macam hasil produksi dan kegiatan perdagangan lainnya yang berhubu ngan dengan kegiatan usaha; 4. kegiatan pengembangan usaha di bidang perkebunan, agrowisata, dan agrobisnis; 5. kegiatan usaha lain yang menunjang kegiatan usah a di bidang perkebunan. 2.2. Dalam melakukan usaha di bidang perkebunan, jenis-j enis kegiatan perkebunan yang dilakukan oleh entitas meliputi: 1. budidaya tanam an, melalui perkebunan tanaman kelapa sawit, karet, teh, kopi, tebu, kakao, temb akau, kina, dan lainnya; 2. proses produksi, melalui pabrik kelapa sawit, pabrik pengolahan inti sawit, pabrik fraksionasi yaitu pengolahan minyak sawit, pabrik pengolahan karet, pabrik teh kemasan, pabrik gula, pabrik spirtus/ alkohol, pab rik pengeringan kakao, pengolahan teh dan lainnya;

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 5

(26)

3. 4. 5.

kegiatan perdagangan, melalui penjualan hasil tanaman dan hasil produksi ke pasa r domestik dan luar negeri baik dilakukan sendiri maupun melalui Kantor Pemasara n Bersama, serta mengimpor dan memasarkan beberapa komoditas seperti gula putih dan raw sugar; pengembangan usaha di bidang perkebunan, melalui pendirian pabrik karung goni, pabrik karung plastik, dan lainnya; dalam usaha lain, m i s a l n y a entitas mendirikan rumah sakit, pusat penelitian, bengkel, dan lainnya. Bentuk Usaha

2.3. Bentuk usaha entitas adalah perseroan terbatas (persero) yang dapat memilik i unit usaha, entitas anak, entitas asosiasi, usaha patungan, dan lainnya.

Kepemilikan

2.4. Entitas dimiliki oleh Negara, baik seluruhnya atau sebagian besar. ketentuan umum laporan keuangan

Tujuan Laporan Keuangan

2.5. L aporan keuangan bertujuan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pihak -pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan ekonomi, seperti: 1. peme gang saham; 2. karyawan; 3. pemberi pinjaman; 4. pemasok dan kreditur usaha lain nya; 5. pelanggan; 6. regulator; dan 7. masyarakat.

6

(27)

2.6. Pihak pengguna laporan keuangan entitas mempunyai kepentingan bersama dalam rangka menilai: 1. usaha perkebunan dan usaha lainnya yang dilakukan entitas da n kesinambungan usaha tersebut; 2. kinerja manajemen dalam melaksanakan tugas da n tanggung jawabnya dalam mengelola entitas. 2.7. Laporan keuangan juga merupaka n sarana pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan sumber daya yang dipercay akan kepada mereka. 2.8. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan memberi kan informasi kepada pengguna laporan keuangan mengenai: 1. jumlah dan sifat ase t, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban entitas; 2. pengaruh transaksi, per istiwa, dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat ekuitas; 3. jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam kurun waktu tertentu (satu p eriode) dan hubungan antara keduanya; 4. cara entitas mendapatkan dan membelanja kan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman, dan faktor lainnya yang berp engaruh pada likuiditasnya; 5. hasil usaha perkebunan dan usaha lainnya yang ter kait; 6. kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebaga i pemilik; 7. keuntungan dan kerugian.

Tanggung Jawab Atas Laporan Keuangan

2.9. Manajemen entitas bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan k euangan.

Komponen Laporan Keuangan

1. 2. 3. 4. 5. 2.10. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: Laporan posisi keuangan; Laporan laba rugi komprehensif; Laporan perubahan ekuitas; Laporan aru s kas; Catatan atas laporan keuangan.

7

(28)

Bahasa Laporan Keuangan

2.11. Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika laporan keuang an disusun juga selain dalam bahasa Indonesia, maka laporan keuangan tersebut ha rus memuat informasi dan waktu (tanggal laporan keuangan dan cakupan periode) ya ng sama. 2.12. Jika terdapat perbedaan penafsiran akibat penerjemahan bahasa, ma ka yang digunakan sebagai acuan adalah laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. Mata Uang Pelaporan

2.13. Mata uang pelaporan yang digunakan adalah rupiah. Jika entitas menggunakan mata uang selain rupiah sebagai mata uang pelaporan, maka mata uang tersebut ha rus memenuhi kriteria mata uang fungsional. 2.14. Mata uang fungsional adalah ma ta uang pada lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi. 2.15. Laporan k euangan konsolidasian yang disajikan dalam mata uang fungsional harus mempertimb angkan indikator mata uang fungsional pada entitas induk dan entitas anak. 2.16. Entitas harus menggunakan pengaturan kurs di bawah ini, yaitu: 1. pos moneter m ata uang asing dijabarkan menggunakan kurs penutup; 2. pos nonmoneter yang diuku r dalam biaya historis dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada ta nggal transaksi; dan 3. pos nonmeneter yang diukur pada nilai wajar dalam mata u ang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan .

Kebijakan Akuntansi

2.17. Kebijakan akuntansi harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam Standar Akuntansi Keua ngan yang berlaku.

8

(29)

2.18. Apabila Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang ada belum mengat ur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan suatu transaksi at au peristiwa, maka manajemen entitas harus menetapkan kebijakan akuntansi sehing ga laporan keuangan yang disajikan memuat informasi yang relevan dengan kebutuha n para pengguna laporan. 2.19. Dalam menetapkan kebijakan akuntansi, manajemen e ntitas harus memperhatikan: 1. persyaratan dan pedoman dalam PSAK yang mengatur hal-hal yang serupa dengan masalah terkait; 2. definisi dan kriteria pengakuan d an pengukuran aset, liabilitas, penghasilan, dan beban yang ditetapkan dalam Ker angka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK); 3. pernyataan ya ng dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanj ang konsisten dengan PSAK dan KDPPLK.

Penyajian Laporan Keuangan

2.20. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja ke uangan, dan perubahan posisi keuangan disertai pengungkapan yang diharuskan sesu ai dengan ketentuan yang berlaku. 2.21. Dalam penyajian pada laporan posisi keua ngan, aset diklasifikasikan secara terpisah sebagai aset lancar dan aset tidak l ancar, dan liabilitas sebagai liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka pan jang. 1. 2. 3. 4. 2.22. Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika : entitas memperkirakan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual a tau menggunakannya, dalam siklus operasi normal; entitas memiliki aset untuk tuj uan diperdagangkan; entitas memperkirakan akan merealisasi aset dalam jangka wak tu 12 (dua belas) bulan setelah periode pelaporan; atau kas dan setara kas, kecu ali aset tersebut dibatasi pertukaran atau penggunaannya untuk menyelesaikan lia bilitas sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan setelah periode pelaporan.

2.23. Entitas mengklasifikasikan suatu aset sebagai aset tidak lancar jika tidak memenuhi karakteristik aset lancar seperti yang dijelaskan dalam paragraf 2.22 di atas.

(30)

2.24. Entitas mengklasifikasikan liabilitas sebagai liabilitas jangka pendek jik a: 1. entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya; 2. entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdag angkan; 3. liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah periode pelaporan; 4. entitas tidak memiliki hak t anpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurang-kurangnya 12 ( dua belas) bulan setelah periode pelaporan. 2.25. Entitas mengklasifikasikan sua tu liabilitas sebagai liabilitas jangka panjang jika tidak memenuhi karakteristi k liabilitas jangka pendek seperti yang dijelaskan dalam paragraf 2.24 di atas. 2.26. Laporan laba rugi komprehensif menyajikan seluruh pos penghasilan dan beba n yang diakui dalam bentuk satu format laporan. 2.27. Perubahan ekuitas disajika n berdasarkan urutan waktu terjadinya.

2.28. Laporan arus kas disajikan berdasarkan klasifikasi menurut aktivitas opera si, investasi, dan pendanaan dengan metode langsung. 2.29. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai kompon en utamanya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Infor masi dalam catatan atas laporan keuangan harus berkaitan dengan pos-pos dalam la poran posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas , dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan kualitatif maupun kua ntitatif. 2.30. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan mengguna kan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase. 2.31. Pada setiap halaman lapor an posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, d an laporan arus kas, harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan keuangan”.

10

(31)

Konsistensi Penyajian Laporan Keuangan

2.32. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode har us konsisten, kecuali: 1. telah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau apabila dalam mengkaji ulang atas laporan keuangan, terlih at secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang lain lebih tepat unt uk digunakan; 2. perubahan tersebut diatur oleh SAK. 2.33. Jika penyajian atau k lasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka penyajian periode sebelum nya harus direklasifikasi dan alasannya harus diungkapkan.

Perubahan Akuntansi

Perubahan Kebijakan Akuntansi

2.34. Perubahan kebijakan akuntansi dilakukan karena: 1. disyaratkan oleh SAK, d imana perubahan kebijakan akuntansi tersebut diterapkan sesuai dengan ketentuan transisi yang terdapat dalam SAK. Jika tidak diatur pada ketentuan transisi dala m SAK maka harus dilakukan secara retrospektif; 2. dilakukan secara sukarela ole h manajemen untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat memberikan informasi lebih andal dan relevan. Perubahan kebijakan akuntansi tersebut diterapkan secar a retrospektif. 2.35. Perubahan kebijakan secara retrospektif diterapkan dengan melakukan penyesuaian terhadap: 1. saldo awal setiap komponen ekuitas yang terpe ngaruh untuk periode sajian paling awal; dan 2. jumlah komparatif lainnya diungk apkan untuk setiap periode sajian seolah-olah kebijakan akuntansi tersebut sudah diterapkan sebelumnya. 2.36. Penerapan suatu perubahan kebijakan akuntansi seca ra retrospektif adalah tidak praktis pada saat entitas tidak dapat menerapkan ke bijakan akuntansi baru setelah melakukan seluruh upaya yang rasional.

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 11

(32)

2.37. Penerapan retrospektif atau penyajian kembali retrospektif adalah tidak pr aktis untuk suatu periode lalu tertentu, jika: 1. dampaknya tidak dapat ditentuk an; 2. memerlukan asumsi mengenai maksud manajemen yang ada pada periode lalu te rsebut; 3. memerlukan estimasi jumlah yang signifikan dan tidak mungkin untuk me mbedakan secara objektif informasi mengenai estimasi yang: a. menyediakan bukti atas keadaan yang ada pada tanggal ketika jumlah tersebut diakui, diukur, atau d iungkapkan; dan b. tersedia ketika penyelesaian laporan keuangan periode lalu de ngan informasi lain. 2.38. Jika tidak praktis untuk menentukan dampak spesifik t erhadap suatu periode, maka kebijakan akuntansi baru diterapkan secara prospekti f pada awal periode paling awal ketika menjadi praktis serta membuat penyesuaian saldo ekuitas yang terpengaruh. 2.39. Jika tidak praktis untuk menentukan dampa k kumulatif terhadap periode lalu, maka informasi komparatif disesuaikan secara prospektif sejak tanggal praktis paling awal.

Perubahan Estimasi Akuntansi

2.40. Estimasi akuntansi diubah jika terdapat perubahan jumlah tercatat aset dan liabilitas atau jumlah konsumsi pemanfaatan periodik aset yang berasal dari pen gujian status saat ini dan perkiraan manfaat masa depan dari aset dan liabilitas . 2.41.

Kesalahan

Perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif.

2.42. Kesalahan periode lalu dikoreksi dengan menyajikan kembali secara retrospe ktif: 1. periode sajian komparatif yang lalu ketika kesalahan terjadi; 2. saldo awal pos yang terkait pada periode sajian paling awal, jika kesalahan terjadi se belum periode sajian.

12

(33)

2.43. Ketika tidak praktis untuk menentukan dampak kesalahan secara spesifik ter hadap suatu periode, maka entitas menyajikan kembali saldo pembuka aset, liabili tas, dan ekuitas untuk periode paling awal di saat penyajian kembali retrospekti f adalah praktis. 2.44. Ketika tidak praktis untuk menentukan dampak kesalahan s ecara kumulatif, maka entitas menyajikan kembali informasi komparatif untuk meng oreksi kesalahan secara prospektif dari tanggal praktis paling awal.

Materialitas dan Agregasi

2.45. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas.

2.46. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuanga n, sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat dan fungsi yang sejenis. 2.47. Informasi dianggap material jika kelalaian untuk mencantumkan, atau kesalahan dalam mencatat, informasi tersebut dapat memp engaruhi keputusan yang diambil.

Saling Hapus

2.48. Jumlah aset dan liabilitas yang disajikan tidak boleh disalinghapuskan den gan liabilitas atau aset lain kecuali sesuai dengan SAK dan saling hapus tersebu t mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau liabilitas. 2.49. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan, kecuali pendapatan d an beban yang disajikan secara neto sesuai dengan SAK.

Periode pelaporan

2.50. takwin. Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan

(34)

2.51. Dalam hal entitas baru berdiri, laporan keuangan dapat disajikan untuk per iode yang lebih pendek dari satu takwin. Selain itu, untuk kepentingan pihak lai nnya, entitas dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun t akwin dan periode efektif, dengan mencantumkan: 1. alasan penggunaan periode pel aporan selain periode satu tahunan; 2. fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam d ua periode pelaporan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, la poran perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan tid ak dapat diperbandingkan.

Informasi Komparatif

2.52. Laporan keuangan harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sam a pada tahun sebelumnya. 2.53. Informasi komparatif untuk laporan keuangan bersi fat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. 2.54. La poran keuangan harus disusun secara komparatif untuk 2 (dua) tahun buku terakhir , agar lebih memberikan informasi yang jelas mengenai perkembangan keadaan keuan gan entitas dari waktu ke waktu. 2.55. Entitas harus menyajikan tambahan laporan posisi keuangan untuk posisi awal periode komparatif yang disajikan, jika: 1. m enerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif; 2. membuat penyajian kembali secara retrospektif akibat koreksi kesalahan; atau 3. membuat reklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan.

Laporan Keuangan Interim

2.56. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan lengkap untuk suatu perio de interim yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan. Penyusunan l aporan keuangan interim dapat dilakukan secara triwulanan, semesteran atau perio de lain yang kurang dari satu tahun.

14

(35)

1. 2. 3. 4. 5.

2.57. Laporan keuangan interim lengkap terdiri dari: Laporan posisi keuangan; La poran laba rugi komprehensif; Laporan perubahan ekuitas; Laporan arus kas; dan C atatan atas laporan keuangan.

2.58. Penyajian laporan keuangan interim triwulanan yang berakhir per 30 Septemb er 20X1 adalah sebagai berikut:

Komponen Laporan Keuangan Laporan posisi keuangan Per Laporan laba rugi komprehe nsif Untuk periode 9 bulan Untuk periode 3 bulan Laporan arus kas Untuk periode 9 bulan Laporan perubahan ekuitas Untuk periode 9 bulan Periode Interim 30 Septe mber 20X1 1 Jan s/d 30 Sept 20X1 1 Juli s/d 30 Sept 20X1 1 Jan s/d 30 Sept 20X1 1 Jan s/d 30 Sept 20X1 Periode Komparatif 31 Desember 20X0 1 Jan s/d 30 Sept 20X 0 1 Juli s/d 30 Sept 20X0 1 Jan s/d 30 Sept 20X0 1 Jan s/d 30 Sept 20X0

Laporan Keuangan Konsolidasian

2.59. Entitas harus mengkonsolidasikan suatu entitas jika mempunyai pengendalian atas entitas tersebut (entitas anak dan entitas bertujuan khusus). 2.60. Entita s anak yang bergerak dalam jenis usaha yang berbeda atau tidak ada hubungannya d engan jenis usaha entitas induk, dan memenuhi syarat pengendalian, maka laporan keuangan entitas anak tersebut tetap dimasukkan dalam penyusunan laporan keuanga n konsolidasian.

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 15

(36)

Syarat Konsolidasi

2.61. Entitas memiliki pengendalian terhadap suatu entitas jika: 1. memiliki sec ara langsung dan tidak langsung melalui entitas anak, lebih dari setengah kekuas aan suara (voting power) entitas. 2. memiliki setengah atau kurang voting power entitas, jika memenuhi salah satu dari hal-hal berikut ini: a. memiliki kekuasaa n yang melebihi setengah hak suara (voting right) sesuai perjanjian dengan inves tor lain; b. memiliki kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasiona l entitas berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; c. memiliki kekuasaan untu k menunjuk atau mengganti sebagian besar dewan direksi atau dewan komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui dewan atau organ terseb ut; d. memiliki kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat dewan dire ksi dan dewan komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas mel alui dewan direksi dan dewan komisaris atau organ tersebut; 2.62. Entitas memper timbangkan hak suara potensial dalam menilai keberadaan pengendalian atas entita s lain. 2.63. Hak suara potensial dapat timbul apabila entitas memiliki waran sa ham atau opsi saham, atau instrumen lain yang dapat dikonversikan menjadi saham. Kepemilikan instrumen tersebut memberikan potensi bagi entitas untuk menambah v oting power kepada entitas lain atau mengurangi voting power dari pihak lain. 2. 64. Entitas menilai apakah hak suara potensial berkontribusi terhadap munculnya suatu pengendalian, dengan cara: 1. menguji fakta dan keadaan timbulnya hak suar a potensial; 2. menguji syarat pelaksanaan hak suara potensial; 3. menguji perja njian kontraktual lain, yang dipertimbangkan secara individu maupun kombinasi. 16

(37)

2.65. Tetapi, entitas tidak mempertimbangkan hal berikut dalam menilai hak suara potensial, yaitu: 1. menilai maksud manajemen untuk melaksanakan atau mengkonve rsi hak tersebut; 2. menilai kemampuan keuangan untuk melaksanakan atau mengkonv ersi hak tersebut.

Prosedur Konsolidasi

2.66. Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian, entitas menggabungkan secar a satu per satu dengan menjumlahkan pos-pos sejenis dari aset, liabilitas, ekuit as, penghasilan dan beban dari laporan keuangan entitas anak dan entitas bertuju an khusus. 2.67. Entitas harus dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok usahanya sebagai entitas ekonomi tunggal dalam laporan keuangan konsolidasian. 2.68. Prosedur yang harus dilakukan dalam melakukan laporan konsolidasian adalah sebagai berikut: 1. mengeliminasi jumlah tercatat investasi entitas terhadap en titas anak sebesar porsi entitas atas ekuitas entitas anak; 2. menentukan kepent ingan nonpengendali atas laba atau rugi entitas anak selama periode pelaporan; 3 . menentukan secara terpisah kepentingan nonpengendali dan bagian kepemilikan en titas atas aset neto entitas anak. Kepentingan non pengendali atas aset neto ter diri dari: a. jumlah kepentingan nonpengendali pada tanggal kombinasi bisnis awa l; b. bagian kepentingan nonpengendali atas perubahan ekuitas sejak tanggal komb inasi bisnis awal. 2.69. Untuk tujuan konsolidasian, tanggal laporan keuangan en titas anak harus sama dengan tanggal laporan keuangan entitas. Apabila tanggal l aporan keuangan tersebut berbeda, maka entitas anak harus menyusun laporan keuan gan tambahan dengan tanggal yang sama dengan laporan keuangan entitas. Apabila p enyesuaian tanggal tersebut tidak dapat dilakukan, laporan

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 17

(38)

keuangan konsolidasian per tanggal laporan keuangan entitas masih dapat dilakuka n sepanjang: 1. perbedaan tanggal laporan posisi keuangan tersebut tidak lebih d ari 3 (tiga) bulan; dan 2. peristiwa atau transaksi material yang terjadi di ant ara tanggal laporan posisi keuangan tersebut diungkapkan dalam catatan atas lapo ran keuangan konsolidasian. 2.70. Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk peristiwa dan transaksi yang sej enis antara entitas dengan entitas anak. 2.71. Kepentingan non pengendali disaji kan dalam ekuitas, terpisah dari ekuitas milik entitas.

Ketentuan Mengenai Pihak-pihak Berelasi

2.72. Laporan keuangan entitas harus berisi pengungkapan bahwa posisi keuangan d an laba rugi telah dipengaruhi oleh keberadaan pihak-pihak berelasi, transaksi d an saldo, dan komitmen dengan pihak tersebut. 2.73. Entitas memiliki relasi deng an pemerintah dan entitas lain yang dikendalikan, dikendalikan bersama, atau dip engaruhi secara signifikan oleh pemerintah.

Ketentuan Umum Aset Keuangan Pengertian Aset Keuangan

2.74. Aset keuangan adalah setiap aset yang berbentuk: 1. kas; 2. instrumen ekui tas yang diterbitkan oleh entitas lain, misalnya saham entitas lain; 3. hak kont raktual, yaitu hak yang timbul dari kesepakatan, baik tertulis maupun tidak tert ulis untuk: a. menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain, misaln ya obligasi yang diterbitkan entitas lain dan piutang usaha; b. mempertukarkan a set atau liabilitas keuangan dengan aset atau liabilitas keuangan entitas lain d engan kondisi yang berpotensi menguntungkan.

18

(39)

1. 2. 3. 4.

2.75. Aset keuangan dikategorikan sebagai: diukur pada nilai wajar melalui lapor an laba rugi/Fair Value Through Profit and Loss (FVTPL); dimiliki hingga jatuh t empo/Held-to-Maturity (HTM); pinjaman yang diberikan dan Piutang/Loan and Receiv able (LR); tersedia untuk dijual/Available-for-sale (AFS).

Kategori Aset Keuangan FVTPL

2.76. Persyaratan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori FVTPL adala h: 1. aset keuangan yang diklasifikasikan untuk tujuan diperdagangkan (trading); atau 2. aset keuangan yang pada saat pengakuan awal telah ditetapkan untuk FVTP L (fair value option/FVO). 2.77. Syarat aset keuangan yang termasuk kelompok dip erdagangkan adalah: 1. diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat; 2. merupakan bagian portfolio instrumen keuan gan tertentu yang dikelola dan terdapat bukti mengenai adanya pola untuk mengamb il untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini; 3. deriva tif. 2.78. Pengertian diperdagangkan mencerminkan aktivitas pembelian dan penjua lan yang bersifat aktif dan berulang, dan umumnya digunakan untuk tujuan mempero leh laba dari fluktuasi harga jangka pendek. 2.79. Persyaratan FVO dapat digunak an untuk menghasilkan informasi yang lebih relevan karena untuk mengeliminasi at au mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan suatu pengukuran atau pengaku an yang akan timbul (accounting mismatch).

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 19

(40)

HTM

2.80. Persyaratan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori HTM adalah: 1. aset keuangan nonderivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan; dan 2. entitas mempunyai intensi positif dan k emampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.

LR

2.81. Syarat aset keuangan diklasifikasikan sebagai LR adalah: aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan; dan 2. tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. 1.

AFS

2.82. Syarat aset keuangan sebagai AFS adalah: aset keuangan nonderivatif yang d iklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual; 2. aset keuangan tidak dapat dikl asifikasikan sebagai FVTPL, HTM atau LR. 1.

Ringkasan Perlakuan Akuntansi Aset Keuangan

2.83. Ringkasan perlakuan akuntansi untuk setiap kategori aset keuangan tersaji dalam tabel berikut:

Kategori Jenis Pengakuan Premium, instrumen awal diskonto dan biaya transaksi FV TPL Efek Efek diukur Biaya transaksi ekuitas dan pada biaya diakui sebagai utang perolehan beban dalam dikurangi laporan biaya laba rugi transaksi komprehensif Laporan posisi keuangan Nilai wajar Dampak perubahan nilai wajar Keuntungan atau kerugian diakui dalam laba rugi Penurunan dan pemulihan nilai

20

(41)

Kategori Jenis Pengakuan Premium, instrumen awal diskonto dan biaya transaksi HT M Efek utang Efek diukur Diamortisasi pada biaya dengan suku perolehan bunga efe ktif dan diakui sebagai pendapatan bunga

Laporan posisi keuangan Biaya perolehan yang telah diamortisasi dengan suku bung a efektif

Dampak perubahan nilai wajar -Penurunan dan pemulihan nilai LR

Efek utang

Efek diukur pada biaya perolehan

Diamortisasi dengan suku bunga efektif dan diakui sebagai pendapatan bunga Biaya perolehan yang telah diamortisasi dengan suku bunga efektif

-AFS Efek utang Harga perolehan Efek ekuitas Harga perolehan

Diamortisasi dengan suku bunga efektif dan diakui sebagai pendapatan bunga -Nilai wajar

Kenaikan dan penurunan diakui dalam pendapatan komprehensif lain Nilai wajar

Kenaikan dan penurunan diakui dalam pendapatan komprehensif lain

• Penurunan nilai diakui sebagai kerugian dalam laba rugi • Pemulihan nilai diakui s ebagai keuntungan dalam laba rugi • Nilai tercatat setelah pemulihan tidak boleh m elebihi nilai tercatat seandainya tidak terjadi penurunan nilai pada tanggal pem ulihan tersebut • Penurunan nilai diakui sebagai kerugian dalam laba rugi • Pemuliha n nilai diakui sebagai keuntungan dalam laba rugi • Nilai tercatat setelah pemulih an tidak boleh melebihi nilai tercatat seandainya tidak terjadi penurunan nilai pada tanggal pemulihan tersebut • Penurunan nilai diakui sebagai kerugian dalam la ba rugi • Pemulihan nilai diakui sebagai keuntungan dalam laba rugi • Nilai tercatat setelah pemulihan tidak boleh melebihi nilai tercatat seandainya tidak terjadi penurunan nilai pada tanggal pemulihan tersebut

(42)
(43)

Kategori Jenis Pengakuan Premium, instrumen awal diskonto dan biaya transaksi In strumen Harga ekuitas perolehan yang nilai wajarnya tidak dapat ditentukan secar a andal

Laporan posisi keuangan Harga perolehan Dampak perubahan nilai wajar

-Penurunan dan pemulihan nilai

• Penurunan nilai diakui sebagai kerugian dalam laba rugi • Tidak ada pemulihan nila i

Metode Suku Bunga Efektif

2.84. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung bi aya perolehan yang diamortisasi dari aset keuangan dan metode untuk mengalokasik an pendapatan bunga selama periode yang relevan. 2.85. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa depan selama perkiraan umur dari instrumen keuangan, atau jika lebi h tepat, digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat ne to dari aset keuangan. 2.86. Pada saat menghitung suku bunga efektif, entitas me ngestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dala m instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat, opsi beli dan opsi serupa lainnya), namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa depan. Penurunan Nilai

2.87. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti objektif terjad inya peristiwa yang merugikan yang berdampak pada estimasi arus kas masa datang (indikasi penurunan nilai). 2.88. Indikasi-indikasi penurunan nilai adalah: Kesu litan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam; 2. Pelangga ran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga; 1.

(44)

3. 4. 5. 6.

Pemberian keringanan pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan; Terdapat kemungkinan pihak peminjam akan di nyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya; Hilangnya pasar ak tif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan, misalnya delisting; Data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan estimasi arus kas masa depan dari kelompok aset keuangan, meskipun belum dapat diidentifikasi secara individu al, termasuk; a. memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok; b. kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas as et dalam kelompok.

2.89. Uji penurunan nilai dilakukan secara individual untuk aset keuangan yang s ignifikan yang terdapat indikasi penurunan nilai. Metode pembentukan candangan k erugian penurunan nilai secara individual dengan perhitungan present value dari estimasi arus kas masa depan dibandingkan jumlah tercatat. 2.90. Uji penurunan n ilai dilakukan secara kolektif untuk aset keuangan yang tidak signifikan dan ase t keuangan yang signifikan tetapi tidak memiliki indikasi penurunan nilai berdas arkan data kerugian historis.

Ketentuan Umum Liabilitas Keuangan

2.91. Liabilitas keuangan adalah setiap kewajiban yang berupa kewajiban kontrakt ual: 1. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada entitas lain, mi salnya utang usaha; atau 2. untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas k euangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi merugikan entitas. 2. 92. Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kategori diukur pada harga perole han diamortisasi dengan metode suku bunga efektif (amortized cost).

Bab II: Laporan Keuangan BUMN Perkebunan 23

(45)

Ketentuan Umum Pengungkapan Instrumen Keuangan

2.93. Secara umum untuk aset keuangan dan liabilitas keuangan, hal-hal yang haru s diungkapkan antara lain: 1. ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang ter masuk namun tidak terbatas pada: a. kategorisasi dan dasar pengukuran aset keuan gan dalam penyusunan laporan keuangan; dan b. kebijakan akuntansi lainnya yang r elevan dengan aset keuangan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keua ngan; 2. metode dan teknik penilaian (valuasi) yang digunakan; 3. kategorisasi d an nilai tercatat aset keuangan dan liabilitas keuangan; 4. perubahan nilai waja r atas aset keuangan dalam kategori FVTPL; 5. jumlah aset keuangan yang berpinda h dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut; 6. tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risik o aset keuangan dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada); 7. analisis te rhadap aset keuangan berdasarkan karakteristik ekonomi yang sama; dan 8. jumlah instrumen keuangan yang diterbitkan oleh pihak berelasi.

24

(46)

pengertian dan karakteristik aset

3.1. Aset adalah sumber daya yang dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dimana manfaat ekonomis di masa depan diperkirakan akan dipe roleh oleh entitas. 3.2. Manfaat ekonomis masa depan yang terwujud dalam aset ad alah potensi dari aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, atas arus kas dan setara kas. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktivitas usaha. Mungkin pula b erbentuk sesuatu yang dapat diubah menjadi kas atau setara kas atau berbentuk ke mampuan unt uk mengurangi pengeluaran kas. 3.3. Manfaat ekonomis masa depan yang terwujud dalam aset dapat mengalir dengan beberapa cara, misalnya aset dapat: 1 . digunakan sendiri maupun bersama aset lain dalam produksi barang dan jasa yang dijual oleh entitas; 2. dipertukarkan dengan aset lain; 3. digunakan untuk meny elesaikan liabilitas; atau 4. dibagikan kepada para pemilik. 3.4. Pada umumnya, aset memiliki bentuk fisik. Namun demikian, bentuk fisik tersebut tidak esensial untuk menentukan eksistensi aset. Oleh karena itu, misalnya aset tidak berwujud merupakan aset kalau mendatangkan manfaat ekonomis di masa depan dan dikendalik an oleh entitas. 3.5. Pada umumnya aset dihubungkan dengan hak menurut hukum, te rmasuk hak milik, misalnya piutang dan properti. Namun demikian, eksistensi aset ditentukan bukan semata-mata oleh adanya hak milik tetapi berdasarkan

Bab III: Akuntansi Aset 25

(47)

kemampuan untuk mengendalikan manfaat yang diharapkan dari aset tersebut, misaln ya properti yang diperoleh melalui sewa pembiayaan (finance lease), maka propert i tersebut diakui menjadi aset. Selain itu, suatu barang atau jasa dapat memenuh i definisi aset meskipun tidak dikuasai berdasarkan hukum, misalnya pengetahuan yang diperoleh melalui aktivitas pengembangan dapat memenuhi definisi aset jika, dengan merahasiakan pengetahuan tersebut, maka entitas menikmati manfaat yang d iperkirakan dari pengetahuan tersebut. 3.6. Aset berasal dari transaksi atau per istiwa lain yang terjadi di masa lalu. Aset biasanya diperoleh melalui pembelian , tetapi transaksi atau peristiwa lain juga dapat menghasilkan aset, misalnya pr operti yang diterima dari pemerintah sebagai bagian dari program untuk merangsan g pertumbuhan ekonomi nasional. 3.7. Transaksi atau peristiwa yang diharapkan te rjadi di masa depan tidak dengan sendirinya memunculkan aset, misalnya maksud un tuk membeli persediaan tidak dengan sendirinya memenuhi definisi aset. 3.8. Terd apat hubungan erat antara terjadinya pengeluaran dan timbulnya aset, tetapi kedu a peristiwa ini tidak perlu harus terjadi bersamaan. Apabila entitas melakukan p engeluaran, maka peristiwa ini memberikan bukti bahwa entitas tersebut memperkir akan manfaat ekonomis, tetapi belum merupakan bukti konklusif bahwa suatu barang atau jasa yang memenuhi definisi aset telah diperoleh. Sama halnya dengan tidak adanya pengeluaran tidak mengecualikan suatu barang atau jasa memenuhi definisi aset dan dengan demikian terdapat kemungkinan untuk diakui dalam laporan posisi keuangan, misalnya barang atau jasa yang telah diterima melalui donasi memenuhi definisi aset. 3.9. Aset kontinjensi merupakan aset potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak te rjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas. 3.10. Timbulnya aset kontinjensi biasanya b e r a s a l dari peristiwa tidak terencana atau tidak diperkirakan yang menimbulkan kemungki nan arus masuk manfaat ekonomis.

(48)

3.11. Aset kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan karena dapat menimbul kan pengakuan penghasilan yang mungkin tidak pernah terealisasikan. Akan tetapi, apabila realisasi penghasilan sudah dapat dipastikan, aset tersebut bukan merup akan aset kontinjensi, melainkan diakui sebagai aset. 3.12. Aset kontinjensi har us dikaji ulang secara terus-menerus untuk memastikan bahwa perkembangannya tela h tercermin dengan semestinya dalam laporan keuangan. Jika dapat dipastikan bahw a entitas akan menerima arus masuk manfaat ekonomis, maka diakui sebagai aset da n penghasilan terkait pada periode timbulnya kepastian tersebut. 3.13. Akan teta pi, apabila yang timbul hanya kemungkinan besar (bahwa akan memperoleh arus masu k manfaat ekonomis), maka diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Pengu ngkapan tersebut meliputi uraian singkat mengenai karakteristik aset kontinjensi pada tanggal laporan posisi keuangan dan, apabila praktis, estimasi dampak keua ngannya.

Bab III: Akuntansi Aset 27

(49)

aset lanCar

Kas dan Setara Kas Definisi

3.14. Kas adalah mata uang kertas dan logam baik rupiah maupun mata uang asing y ang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dan rekening giro. 3.15. Seta ra kas adalah investasi yang sangat likuid, berjangka pendek, dan cepat dapat di jadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang s ignifikan.

Dasar Pengaturan 1. 2. 3. 4. 5.

3.16. Dasar pengaturan untuk kas dan setara kas antara lain: PSAK 2: Laporan Aru s Kas; PSAK 23: Pendapatan; PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian; PSAK 55: Ins trumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungk apan.

Penjelasan

3.17. Kas dan setara kas merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kat egori LR. 3.18. Suatu investasi dapat memenuhi syarat sebagai setara kas hanya j ika segera akan jatuh tempo misalnya dalam waktu tiga bulan atau kurang sejak ta nggal perolehannya. 1. 2. 3. 4. 3.19. Kas dan setara kas antara lain terdiri dar i: kas, baik dalam rupiah maupun mata uang asing; giro pada bank; setoran dalam perjalanan; deposit on call.

3.20. Deposit on call adalah simpanan yang hanya dapat ditarik dengan syarat pem beritahuan sebelumnya.

(50)

Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran

3.21. Kas dan setara kas diakui pada saat terjadinya sebesar nilai nominal. Penyajian

3.22.

Kas dan setara kas disajikan dalam kelompok aset lancar. Pengungkapan

1. 2. 3.

3.23. Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: rincian jenis dan jumlah kas d an setara kas; kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya; pengungkapan lain nya.

3.24. Entitas juga harus mengungkapkan hal-hal yang diatur dalam pengungkapan in strumen keuangan secara umum pada Bab II paragraf 2.93.

Ilustrasi Jurnal 1.

Pada saat penerimaan Db. Kas dan setara kas Kr. Pendapatan usaha/piutang/pos ter kait Pada saat penggunaan Db. Utang usaha/beban usaha/pos terkait Kr. Kas dan se tara kas

2.

Bab III: Akuntansi Aset 29

(51)

Piutang Usaha Definisi

3.25. Piutang usaha adalah hak tagih terhadap pihak lain atas kas, barang atau j asa dari kegiatan usaha entitas.

Dasar Pengaturan 1. 2. 3. 4.

3.26. Dasar pengaturan untuk piutang usaha antara lain: PSAK 23: Pendapatan; PSA K 50: Instrumen Keuangan: Penyajian; PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan

3.27. Piutang usaha merupakan tagihan kepada pihak lain atas penjualan barang at au pemberian jasa yang merupakan bagian dari kegiatan usaha sesuai anggaran dasa r. 3.28. Piutang usaha merupakan hak yang muncul dari penyerahan barang atau jas a, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara entitas dan pihak lain, yang mewajibkan pihak lain tersebut untuk melunasi pembayaran atas barang atau jasa y ang telah diterimanya atau utangnya setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. 3.29. Transaksi piutang usaha, antara lain, memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. adanya penyerahan barang atau jasa; 2. persetujuan atau kese pakatan berutang; 3. jangka waktu tertentu. 3.30. Piutang usaha antara lain bera sal dari penjualan produk atau jasa dari aktivitas utama entitas. 3.31. Piutang usaha merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori LR.

(52)

3.32. Tata cara pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai piutang mengacu pa da ketentuan umum aset keuangan pada Bab II paragraf 2.89– 2.90. 3.33. Cadangan pe nurunan nilai (yaitu cadangan penurunan piutang tidak tertagih yang sudah 100% d ari jumlah piutang), tetap disajikan sebagai bagian piutang.

Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran

Pengakuan dan pengukuran awal 3.34. Piutang usaha diakui pada saat barang disera hkan kepada pembeli sesuai dengan perjanjian penjualan barang. 1. FOB shipping p oint diakui pada saat barang diterima entitas pengiriman untuk diserahkan kepada pembeli; 2. FOB destination diakui pada saat barang diterima pembeli. Pengukura n selanjutnya 3.35. Piutang usaha berkurang pada saat pembayaran diterima atau d ihapuskan. 3.36. Penurunan nilai piutang usaha diakui sebagai kerugian pada peri ode terjadinya. 3.37. Pemulihan nilai piutang usaha diakui sebagai keuntungan pa da periode terjadinya. 3.38. Piutang usaha dihentikan pengakuannya pada saat dis elesaikan melalui pelunasan atau dikompensasi dengan liabilitas atau aset lain. 3.39. Apabila terjadi pembayaran setelah piutang dihapusbukukan maka diakui seba gai pendapatan nonusaha.

Penyajian 3.40.

Piutang usaha disajikan dalam kelompok aset lancar. 31

(53)

Pengungkapan 1. 2. 3. 4. 5.

3.41. Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: rincian jenis dan jumlah piuta ng; jumlah piutang dengan pihak-pihak berelasi; metode pembentukan dan jumlah ca dangan kerugian penurunan nilai piutang; jumlah piutang yang dijadikan agunan pi njaman bank; pengungkapan lainnya.

3.42. Entitas juga harus mengungkapkan hal-hal yang diatur dalam pengungkapan in strumen keuangan secara umum pada Bab II paragaraf 2.93.

Ilustrasi Jurnal 1.

Pada saat penjualan barang/jasa Db. Piutang usaha Kr. Penjualan ekspor/lokal Pad a saat menerima pembayaran Db. Kas dan setara kas Kr. Piutang yang terkait Pada saat terjadi penurunan nilai: Db. Beban penurunan nilai piutang Kr. Akumulasi pe nurunan nilai piutang Pada saat hapus buku Db. Akumulasi cadangan penurunan nila i piutang Db. Beban penghapusan piutang Kr. Piutang usaha Pada saat penerimaan p elunasan piutang yang telah dihapusbukukan Db. Kas dan setara kas Kr. Pendapatan nonusaha

2. 3. 4. 5.

(54)

Piutang Lain-lain Definisi

3.43. Piutang lain-lain adalah hak tagih terhadap pihak lain atas kas, barang at au jasa dari kegiatan diluar kegiatan usaha entitas.

Dasar Pengaturan 1. 2. 3. 4.

3.44. Dasar pengaturan untuk piutang lain-lain antara lain: PSAK 23: Pendapatan; PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian; PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan

3.45. Piutang lain-lain adalah piutang selain dari kegiatan usaha atau piutang s elain piutang usaha. 3.46. Piutang lain-lain merupakan hak yang muncul dari peny erahan barang atau jasa diluar kegiatan usaha entitas, berdasarkan persetujuan a tau kesepakatan antara entitas dan pihak lain, yang mewajibkan pihak lain terseb ut untuk melunasi pembayaran atas barang atau jasa yang telah diterimanya atau u tangnya setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. 3.47. Piutang l ain-lain antara lain berasal dari pemberian pinjaman kepada pihak lain, seperti karyawan. 3.48. Piutang lain-lain merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori LR. 3.49. Tata cara pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai piutang mengacu pada ketentuan umum aset keuangan pada Bab II paragraf 2.89– 2.90 . 3.50. Cadangan penurunan nilai (yaitu cadangan penurunan piutang tidak tertagi h yang sudah 100% dari jumlah piutang), tetap disajikan sebagai bagian piutang. Bab III: Akuntansi Aset

(55)

Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran

Pengakuan dan pengukuran awal 3.51. Piutang lain-lain diakui pada saat aset, mis alnya kas, diserahkan kepada pihak lain. Pengukuran selanjutnya 3.52. Piutang be rkurang pada saat pembayaran diterima atau dihapuskan. 3.53. Penurunan nilai piu tang lain-lain diakui sebagai kerugian pada periode terjadinya. 3.54. Pemulihan nilai piutang lain-lain diakui sebagai keuntungan pada periode terjadinya. 3.55. Piutang lain-lain dihentikan pengakuannya pada saat diselesaikan melalui peluna san atau dikompensasi dengan liabilitas atau aset lain. 3.56. Apabila terjadi pe mbayaran setelah piutang dihapusbukukan maka diakui sebagai pendapatan nonusaha. Penyajian

3.57.

Piutang lain-lain disajikan dalam kelompok aset lancar. Pengungkapan

1. 2. 3. 4.

3.58. Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: rincian jenis dan jumlah piut ang; jumlah piutang dengan pihak-pihak yang berelasi; metode pembentukan dan jum lah cadangan kerugian penurunan nilai piutang yang dibentuk; pengungkapan lainny a.

34

(56)

3.59. Entitas juga harus mengungkapkan hal-hal yang diatur dalam pengungkapan in strumen keuangan secara umum pada Bab II paragraf 2.93.

Ilustrasi Jurnal 1.

Pada saat pengakuan awal Db. Piutang lain-lain Kr. Kas dan setara kas Pada saat menerima pembayaran Db. Kas dan setara kas Kr. Piutang lain-lain Pada saat terja di penurunan nilai Db. Beban penurunan nilai piutang Kr. Akumulasi penurunan nil ai piutang Pada saat hapus buku Db. Akumulasi penurunan nilai piutang Db. Beban penghapusan piutang Kr. Piutang lain-lain Pada saat penerimaan pelunasan piutang yang telah dihapusbukukan Db. Kas dan setara kas Kr. Pendapatan nonusaha

2. 3. 4. 5.

Bab III: Akuntansi Aset 35

(57)

Piutang Antar Badan Hukum Jangka Pendek Definisi

3.60. Piutang antar badan hukum jangka pendek adalah piutang yang timbul sebagai akibat dari transaksi nonusaha dengan pihak-pihak yang berelasi, selain untuk p os yang telah ditentukan penyajiannya dan akan diselesaikan dalam satu periode s etelah tanggal laporan posisi keuangan yang diselesaikan dengan menggunakan kas atau aset keuangan lainnya. 3.61. Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas lain yang terkait dengan entitas yang menyiapkan laporan keuangan. 3.62. Transa ksi pihak berelasi adalah suatu pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban anta ra entitas pelapor dengan pihak-pihak berelasi, terlepas apakah ada harga yang d ibebankan.

Dasar Pengaturan

3.63. Dasar pengaturan untuk piutang antar badan hukum jangka pendek antara lain : 1. PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang berelasi; 2. PSAK 50: Instrumen Keuan gan: Penyajian; 3. PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; 4. PSA K 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan.

Penjelasan

3.64. Pihak-pihak berelasi yang dimaksud adalah hubungan antar entitas BUMN perk ebunan. 3.65. Piutang antar badan hukum jangka pendek mencakup piutang yang timb ul dari transaksi nonusaha antara entitas dengan entitas lain, entitas anak, dan entitas asosiasinya yang berelasi, dimana akan diselesaikan dalam satu periode setelah tanggal laporan posisi keuangan. Sedangkan untuk piutang yang timbul dar i transaksi usaha, termasuk dalam bagian piutang usaha.

(58)

3.66. Piutang antar badan hukum terdiri dari antara lain: 1. piutang yang berasa l dari transaksi di luar usaha melalui rekening antar badan hukum yang dilakukan pelunasan piutang secara reguler, misalnya piutang atas pengobatan dan biaya ru mah sakit untuk karyawan. Penyelesaian atas piutang tersebut dapat berupa kas at au aset nonkeuangan lainnya; 2. piutang yang berupa modal kerja. 3.67. Piutang a ntar badan hukum jangka pendek termasuk aset keuangan yang diklasifikasikan dala m kategori LR. 3.68. Untuk piutang antar badan hukum yang akan dilakukan pelunas an secara reguler, tidak perlu dilakukan uji penurunan nilai untuk menentukan ca dangan kerugian penurunan nilai piutang. 3.69. Untuk piutang antar badan hukum y ang berupa modal kerja perlu dilakukan uji penurunan nilai untuk menentukan cada ngan kerugian penurunan nilai piutang. Metode untuk menentukan cadangan kerugian penurunan nilai piutang adalah secara individual. 3.70. Tata cara pembentukan c adangan kerugian penurunan nilai piutang mengacu pada ketentuan umum aset keuang an pada Bab II paragraf 2.89–2.90.

Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran

Pengakuan dan pengukuran awal 3.71. Piutang antar badan hukum jangka pendek diak ui pada saat penyerahan aset sebesar jumlah yang diserahkan. Pengukuran selanjut nya 3.72. Untuk piutang modal kerja, biaya transaksi (jika ada amortisasi atas p remium, diskon atau biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dengan piutang tersebut) diamortisasi dengan suku bunga efektif. 3.73. Penurunan nilai piutang antar badan hukum jangka pendek diakui sebagai kerugian pada periode ter jadinya.

Bab III: Akuntansi Aset 37

(59)

3.74. Pemulihan nilai piutang antar badan hukum jangka pendek diakui sebagai keu ntungan pada periode terjadinya. 3.75. Apabila terjadi pembayaran setelah piutan g dihapusbukukan maka diakui sebagai pendapatan nonusaha. 3.76. Piutang antar ba dan hukum dihentikan pengakuannya pada saat diselesaikan melalui pelunasan atau dikompensasi dengan liabilitas atau aset lain.

Penyajian

3.77. Piutang antar badan hukum jangka pendek disajikan dalam kelompok aset lanc ar.

Pengungkapan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

3.78. Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: rincian piutang antar badan hu kum jangka pendek berdasarkan jenis, umur dan jumlah; kebijakan dan metode akunt ansi yang digunakan, termasuk kriteria pengakuan dan dasar pengukuran yang diter apkan; nama entitas sebagai debitur (yang dikendalikan bersama oleh pemerintah) dan sifat hubungannya dengan entitas; sifat dan jumlah setiap transaksi yang sec ara individual signifikan; untuk transaksi yang signifikan secara kolektif; indi kasi kuantitatif atau kualitatif luasnya transaksi; pengungkapan lainnya.

3.79. Entitas juga harus mengungkapkan hal-hal yang diatur dalam pengungkapan in strumen keuangan secara umum pada Bab II paragraf 2.93.

Ilustrasi Jurnal 1.

Pada saat pengakuan awal Db. Piutang antar badan hukum jangka pendek Kr. Kas dan setara kas

(60)

2.

Pada saat penyelesaian Db. Kas dan setara kas Kr. Piutang antar badan hukum jang ka pendek Pada saat terjadi penurunan nilai Db. Beban kerugian penurunan nilai p iutang Kr. Akumulasi kerugian penurunan nilai piutang Pada saat hapus buku Db. A kumulasi kerugian penurunan nilai piutang Db. Beban penghapusan piutang Kr. Piut ang antar badan hukum jangka pendek Pada saat penerimaan pelunasan piutang antar badan hukum jangka pendek yang telah dihapusbukukan Db. Kas dan setara kas Kr. Pendapatan nonusaha

3. 4. 5.

Bab III: Akuntansi Aset 39

(61)

Investasi Jangka Pendek Definisi

3.80. Investasi jangka pendek adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan d imaksudkan untuk dimiliki selama satu tahun atau kurang, yang berbentuk aset keu angan. 3.81. Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat di lakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian dengan bank.

Dasar Pengaturan 1. 2. 3. 4.

3.82. Dasar pengaturan untuk investasi jangka pendek antara lain: PSAK 23: Penda patan; PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian; PSAK 55: Instrumen Keuangan: Peng akuan dan Pengukuran; PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan;

Penjelasan

3.83. Investasi jangka pendek adalah penanaman dana yang berisiko atau yang seje nis yang dimaksudkan untuk memperoleh pendapatan yang diperkirakan akan direalis asi dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah periode pelaporan. 3.84. Inv estasi jangka pendek yang dimaksud adalah penempatan dana di bank dan surat berh arga (efek), antara lain dalam bentuk: 1. penempatan dana di bank, misalnya depo sito berjangka yang akan jatuh tempo dalam satu tahun setelah tanggal laporan po sisi keuangan; 2. penempatan dana pada efek utang, misalnya obligasi, yang akan jatuh tempo dalam satu tahun setelah tanggal laporan posisi keuangan; 3. penempa tan dana pada efek ekuitas, misalnya saham, yang bersifat jangka pendek. 3.85. I nvestasi jangka pendek merupakan aset keuangan yang dikategorikan menjadi: 1. di ukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL); 2. investasi dimiliki h ingga jatuh tempo (HTM); 3. tersedia untuk dijual (AFS); 4. pinjaman yang diberi

(62)

3.86. Jenis investasi jangka pendek dengan kategori aset keuangan ditunjukkan da lam matrik berikut ini:

No 1. 2. 3. Jenis Investasi Jangka Pendek Deposito berjangka Obligasi Saham FVTP L √ √ HTM √ AFS √ √ LR √

-Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran

Pengakuan dan pengukuran awal 3.87. Penempatan dana sebagai investasi jangka pen dek di bank diakui pada saat dilakukan penyerahan dana sebesar nilai nominal. 3. 88. Penempatan dana sebagai investasi jangka pendek di surat berharga/ efek diak ui pada saat dilakukan penyerahan dana sebesar biaya perolehan. 3.89. Biaya tran saksi kategori FVTPL diakui sebagai beban periode berjalan. 3.90. Biaya transaks i kategori AFS, LR, dan HTM diakui sebagai penambah biaya perolehan. Pengukuran selanjutnya 3.91. Investasi jangka pendek dalam kategori FVTPL dan AFS diukur pa da nilai wajar. 3.92. Investasi jangka pendek dalam kategori HTM dan LR diukur p ada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif (lih at paragraf 2.85). Perubahan nilai wajar 3.93. Untuk investasi jangka pendek dal am kategori FVTPL, kenaikan atau penurunan nilai wajar diakui dalam laba rugi. Bab III: Akuntansi Aset

Referensi

Dokumen terkait

Seorang pedagang sayur keliling dalam mengeluarkan modal bervariatif, disebabkan dari alat yang digunakan pedagang dalam berjualan dengan berbagai cara diantaranya mengendong

Sedangkan tujuan dari penelitian ini merupakan jawaban dari rumusan masalah, yaitu: Mengetahui pengaruh tekanan udara terhadap konsumsi pertalite pada proses

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari citra merek, kualitas produk, harga, dan keragaman produk terhadap kepuasan konsumen dalam membentuk

Disarankan agar suhu sinter lebih tinggi dari 17000C dan atau waktu penahanan suhu puncak lebih besar dai 4 jarfl, sehingga butir yang dihasilkan akan lebih besar

Pada tahun 2013 jumlah usaha pertanian lainnya terbanyak di Subsektor Tanaman Pangan, yaitu sebanyak 230 usaha, diikuti oleh Subsektor Perkebunan yang tercatat memiliki jumlah

pilih tidak terdaftar dalam pemilu terdaftar dalam daftar pemilih

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa semua sampel minyak dalam keadaan cair pada suhu ruang (±27ºC) namun ketika pada suhu rendah (±5ºC) terjadi perubahan fase pada beberapa

Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa