• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kini dan Masa Depan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kini dan Masa Depan"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

U

lang tahun PAPDI ke-54 yang jatuh pada 16 November 2011 lalu sangat istimewa. Pasalnya, pada ulang tahun ini pengurus PB PAPDI mendapat “kado” dari sesepuh dan para mantan Ketua Umum PB PAPDI. Para tokoh PAPDI ini meluangkan waktu hadir pada acara sarasehan dan diskusi dalam rangka ulang tahun PAPDI yang diselenggarakan pada 20 November 2011, di Hotel Boroburur.

Sarasehan tersebut mengangkat tema “ PAPDI: Merajut Asa - Kini dan Masa Depan”. Pada kesempatan itu, Ketua Umum PB PAPDI DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP banyak menerima asupan dari para sesepuh. Mereka yang hadir adalah para mantan Ketua Umum PB PAPDI, yaitu Dr. Sjaifoellah Noer, SpPD, K-GEH, FINASIM, Prof. Dr. Slamet Suyono, SpPD, K-EMD, FINASIM, Prof. DR. Dr. Sjamsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI, FINASIM, FACP dan Prof. Dr. A. Aziz Rani, SpPD, K-GEH, FINASIM. Sedangkan Dr. Achmad Dachlan, SpPD, mantan Ketua Umum PB PAPDI periode 1975 - 1978, dan 1978-1981 berhalangan hadir. Di samping itu, hadir pula mantan pengurus lain yang turut membesarkan PAPDI diantaranya Prof. DR. Dr. Jose Roesma, SpPD, K-GH, FINASIM, Prof. DR. Dr. Suhardjono, SpPD, K-GH, FINASIM, Prof. Dr. Herdiman T. Pohan, SpPD, K-PTI, FINASIM, dan Prof. Dr. H.A.M. Akil, SpPD, K-GEH, FINASIM. ”Acara ini menjadi sangat istimewa para sesepuh PAPDI hadir di tengah-tengah kita,” ujar Ketua Umum PB PAPDI DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP saat membuka acara.

Dr. Aru mengatakan PAPDI berkembang seper ti saat ini tak bisa dipisahkan dari proses perjalanan sebelumnya. Para Ketua Umum PB PAPDI sebelumnya telah meletakan anak tangga untuk mencapai puncaknya. “Begitu pula saya, mele-takkan anak tangga untuk pengurusan selanjutnya,” katanya. “Namun dalam menapaki anak tangga, ada kalanya berhen-ti sejenak untuk merenung dan mengevaluasi apa yang telah dicapai.”

Pada sarasehan ini, Dr. Aru mengajak jajaran pengurus “menarik napas” berkontempelasi atas pencapaian – penca-paian selama kepengurusannya. “Telah banyak perubahan yang dilakukan sehingga PAPDI menjadi besar seper ti saat ini. Saya kagum dan memberi apresiasi kepada Dr. Aru dan pengurus lain,” ujar Prof. Dr. Sjaifoellah Noer, SpPD, K-GEH, FINASIM yang juga diikuti oleh keempat mantan ketua dan sesepuh lain. (HI)

Edisi 20

O

Maret 2012

4

7

9

10

15

HUT PAPDI Ke-54:

Kado Dari Sesepuh

Waspadai Raibnya

Pendidikan Subspesialis

UU Pendidikan Kedokteran:

Mesti

Bisa Menjawab Tantangan Global

Prof. Dr. Nuzirwan Acang, SpPD,

K-HOM, FINASIM:

Antara Medis, Musik dan Adat

Lima C Untuk Membuat

Informed Consent

Susunan Redaksi:Penanggung Jawab: DR. Dr. Aru. W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP *Pemimpin Redaksi: Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM *Bidang Materi dan Editing: Dr. lndra Marki, SpPD, FINASIM; Dr. Agasjtya Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM; Dr. Alvin Tagor Harahap, SpPD; Dr. Nadia A. Mulansari, SpPD *Koresponden: Cabang Jakarta Raya, Cabang Jawa Barat, Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumut, Cabang Semarang, Cabang Padang, Cabang Manado, Cabang Sumbagsel, Cabang Makassar, Cabang Bali, Cabang Malang, Cabang Surakarta, Cabang Riau, Cabang Kaltim, Cabang Kalbar, Cabang Nanggroe Aceh Darussalam, Cabang Kalselteng, Cabang Palu, Cabang Banten, Cabang Bogor, Cabang Purwokerto, Cabang Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang Gorontalo, Cabang Cirebon, Cabang Maluku, Cabang Tanah Papua, Cabang Maluku Utara, Cabang Bekasi, Cabang Nusa Tenggara Barat, Cabang Depok, Cabang Bengkulu *Sekretariat: sdr. M. Muchtar, sdr. Husni, sdr. M. Yunus, sdri. Oke Fitia, sdri. Anindya Yustikasari *Alamat: PB PAPDI, Gedung ICB Bumiputera, Ground Floor 2B, Jl. Probolinggo No. 18, Gondangdia, Menteng, Jakarta 10350. Telp. (021) 2300818, Fax. (021) 2300588, 2300755; SMS 085695785909; Email: [email protected]; Website: www.pbpapdi.org

HUT Ke-54 PAPDI:

Merajut Asa –

Kini dan Masa Depan

HUT Ke-54 PAPDI:

Merajut Asa –

(2)

J

umpa lagi dan salam sejahtera para Teman Sejawat yang budiman. Kami dari tim redaksi Halo Internis menyapa kembali para pembaca dengan berita hasil sarasehan dalam rangka HUT PAPDI yang berisi ungkapan, uraian, serta nasehat petuah dari mantan Ketua Umum PB PAPDI periode awal hingga sekarang. Yang mengandung asa ke depan dalam rangka mengembangkan, membesarkan, dan mem-bangun PAPDI, sebagai wadah organisasi profesi yang tidak saja sebagai alat mensejahterakan anggota tetapi juga memperjuangkan aspirasi anggota di arena pelayanan kesehatan di Tanah Air. Serta mem-bantu meningkatkan mutu profesi Penyakit Dalam guna menjawab kebutuhan masyarakat yang makin tinggi. Hal ini dinarasikan oleh sejawat Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM.

Selain itu masalah Pendidikan Subspesialisasi menjadi arena per tarungan kepentingan pihak ter-tentu yang menafikan pendidikan Sp 2 cukup oleh Kolegium Ilmu Penyakit Dalam. Masalahnya pen-gakuan Konsil Kedokteran Indonesia dalam mengeluarkan STR tergantung dari ijazah resmi oleh insti-tusi pendidikan, bukan berdasarkan surat keterangan selesai pendidikan oleh Kolegium Ilmu Penyakit Dalam. Sehinga dikhawatirkan dalam arena CAFTA dan WTO 1 Januari 2015 nanti Indonesia dianggap tidak mempunyai Konsultan Spesialis dan ini akan menjadi lahan praktek dokter asing masuk Indonesia. Hal ini sudah diperjuangkan melalui UU Pendidikan Kedokteran oleh Sejawat Pengurus Besar PAPDI di komisi 10 DPR bersama-sama teman-teman Kolegium lain yang dirugikan oleh adanya aturan itu.

Berita lain yaitu mengenai perjuangan kita meraih kesempatan menjadi tuan rumah WICIM 2016 di Bali nanti, juga berita-berita lain yang merupakan kontribusi Sejawat daerah. Ada juga ulasan sejawat Dr. Bambang Subagyo, SpPD, MM, FINASIM tentang informed consent yang dapat dipakai sebagai acuan pelayanan di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat membaca

SEKAPUR SIRIH

OM INTERNIZ

2

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

BIDANG

HUMAS

PUBLIKASI

DAN

MEDIA

Warna jas boleh sama,

sumpah dokter boleh sama, kok

tentang Pendidikan Sp2 ribut ya...?

(3)

SOROT UTAMA

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

3

6

Juli 2006 di kota Palembang, DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP yang baru saja terpilih menjadi Ketua Umum PB PAPDI perio-de 2006-2009 mengaku was-was menerima jabat-an ini. Pasalnya, dia paham benar, begitu bjabat-anyak hal yang harus dibereskan dalam menakhodai gerbong or-ganisasi ahli penyakit dalam untuk melalui waktu ke de-pan. “Ini merupakan tanggung jawab yang tidak bisa saya elakkan,” katanya, seperti dikutip HI edisi 15 pa-da saat itu.

Dr. Aru, begitu biasa disapa, menyadari, organisasi yang dipimpinnya cukup besar, sehingga hal pertama yang dilakukannya saat itu adalah konsolidasi anggota. Ia sangat ingin menjadikan PAPDI sebagai suatu or-ganisasi yang kuat. Penataan oror-ganisasi adalah hal pertama yang mampir dipikirannya. “Pendataan anggo-ta ini sangat penting. Tanpa daanggo-ta yang lengkap, ba-gaimana bisa menggalang kekuatan,” ujar ahli hema-tologi-onkologi medik ini.

Rencananya berjalan mulus. Tiga tahun duduk se-bagai ketua umum membawa banyak perubahan ke arah lebih baik. Kepemimpinannya tak diragukan. Dr. Aru terpilih kembali menjadi Ketua Umum PB periode 2009-2012 secara aklamasi pada Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (KOPAP-DI) XIV, di Jakarta, Nopember 2009 lalu

Dimasa kepengurusan PB PAPDI Jilid II Dr. Aru menata organisasi PAPDI lebih professional dan lebih berperan aktif baik di tingkat nasional maupun inter-national.

d. Tahun 2008 : Mengikuti World Congress of In-ternal Medicine 2008 di Buenoes Aires, Argen-tina. Bidding per tama menjadi tuan rumah WCIM 2014 tidak diterima dengan alasan kea-manan negara dan fasilitas yang kurang. e. Tahun 2010 : Mengikuti WCIM 2010 di

Mel-bourne, Australia. Dan bidding kedua untuk menjadi tuan rumah WCIM. Berhasil diterima menjadi tuan rumah WCIM 2016, di Bali, Indo-nesia.

6. Tahun 2009: Islah PAPDI-PERKI, menandatangani kesepakatan untuk saling menghargai.

7. Tahun 2009: Dr. Aru terpilih kembali secara akla-masi pada KOPAPDI XIV, Jakar ta.

8. Tahun 2011: Menempati kantor baru di Gedung ICB Bumiputera, Cikini

9. Tahun 2011: Mengikuti Philiphine College of Phy-sicians (PCP), Manila dan mengaktifkan kembali Asean Federation of Internal Medicine (AFIM) da-lam rangka harmonisasi Asean.

10. Tahun 2011: Konferensi Kerja PAPDI XII di Batam 11. Tahun 2011: Peluncuran buku panduan

Emergen-cy in Internal Medicine (EIMED) PAPDI.

Momentum penting dua periode

kepengurusan Dr. Aru

1. Penataan organisasi: membuat ter tib admnistra-si, standar prosedur kerja (SOP), ter tib keuangan, mengurus akte notaris, per tanggungjawaban ke-pada anggota, transparansi pajak, dan pemben-tukan divisi advokasi

2. Tahun 2009 : Roadshow tentang antibiotik, nutri-si klinik, onkologi, lipid dan hiper tennutri-si, UMED dan lain-lain. Di samping per temuan ilmiah, roadshow juga dimanfaatkan konsolidasi anggota PAPDI di cabang-cabang.

3. Pembukaan PAPDI cabang di daerah-daerah 4. PAPDI Store menyediakan merchandise PAPDI 5. Go international

a. Tahun 2007: Aktif mengikuti American College of Physicians (ACP ) 2007

b. Tahun 2007: Mengundang Presiden ISIM pada Per temuan Ilmiah Nasional (PIN) V 2007 di Solo, Jawa Tengah.

c. Tahun 2008 : Dr. Aru mengikuti Konvokasi pa-da ACP, Internal Medicine 2008 di Washing-ton, Amerika Serikat.

PENGUMUMAN

Halo Internis edisi mendatang membuka rubrik baru, yaitu :

O Pojok Tanya Jawab. Rubrik ini ditujukan bagi sejawat yang ingin berkonsultasi tentang kasus-kasus yang ditemui di tempat praktik sejawat

O Surat Pembaca.Kami menerima masukan

beru-pa kritik, saran ser ta tanggaberu-pan lain seputar tabloid ini. Disamping itu, kami juga menerima opini seputar hal-hal yang berkaitan dengan ke-dokteran.

Kirimkan per tanyaan, kritik, saran, tanggapan, atau opini Anda ke:

Kantor PB PAPDI

Gedung ICB Bumiputera, Ground Floor 2B, Jl. Probolinggo No. 18, Gondangdia, Menteng, Jakar ta 10350.

Telp. (021) 2300818;

Fax. (021) 2300688, 2300755 Website: www.pbpapdi.org E-mail: [email protected]

Sesungguhnya PAPDI itu besar

dan tersebar di seluruh

Indo-nesia. Jadi sudah selayaknya

PAPDI dilihat dan didengar.

PAPDI-PERKI menandatangani kesepakatan untuk saling menghargai

Syukuran kantor baru PB PAPDI di Gedung ICB Bumiputera, Cikini, Jakarta

Dr. Ceresna selaku juru bicara PB PAPDI pada saat bidding tuan rumah WCIM 2016 di WCIM 2010, Australia.

President ISIM hadir pada PIN V tahun 2007

Dr. Aru mengikuti konvokasi pada ACP, Internal Medicine 2008 di Washington, Amerika Serikat.

Konker PAPDI XII di Batam

PB PAPDI:

Lima Tahun

yang Menentukan

PAPDI aktif mengikuti ACP pada 2007

FOT

O-FOT

(4)

SOROT UTAMA

4

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

D

i ulang tahun PAPDI ke-54 DR.

Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP beser ta ja-jarannya mendapat “kado” isti-mewa dari sesepuh PAPDI. Ha-diah tersebut bukan berupa materi, na-mun ucapan selamat dan apresiasi yang tinggi dari para senior dan mantan Ketua Umum PB PAPDI atas pencapai-an ypencapai-ang telah diperoleh saat ini. Hal tersebut disampaikan pada acara dis-kusi dan sarasehan PAPDI dalam rang-ka hari ulang tahun PAPDI di Hotel Bo-robudur, 20 Nopember 2011 lalu.

“Saya sangat senang hadir pada acara ini. Apa yang saya pikirkan sela-ma 30 tahun aktif di PAPDI, semuanya sudah terealisasi lima tahun terakhir. Lima tahun ini begitu besar loncatan-nya,” ujar Prof. Dr. Sjaifoellah Noer, SpPD, K-GEH, FINASIM, mantan Ketua Umum PB PAPDI periode 1987-1990 dan 1990 – 1993, bangga.

Prof. Sjaifoellah, begitu biasa ia di-sapa, mengatakan bahkan pencapaian PAPDI saat ini di luar apa yang ada di-benaknya. Dokter yang pernah praktik

di Amerika ini bangga melihat PAPDI di-akui dan aktif di dunia international. Ke depan, ia berharap PAPDI dapat mene-lurkan penelitian-penelitian yang mem-punyai hak paten dan anggota PAPDI ada yang mendapat penghargaan inter-national.”Kalau mungkin dapat Nobel,” kata mantan pengurus yang selalu mendapat peran sebagai sekretaris ini. Hal senada juga disampai Prof. Dr. Slamet Suyono, SpPD, K-EMD, FINASIM yang berbicara setelah Prof. Sjaifoellah pada acara itu. Prof. Sla-met, begitu ia disapa, mengatakan gembira berada ditengah-tengah pen-gurus PB PAPDI. Ia memberikan apre-siasi kepada Dr. Aru beser ta pengurus lain. Ia setuju PAPDI kini telah audit-able dan memiliki NPWP. Ia mengingat-kan meski sudah berkembang, dalam perjalanannya PAPDI mesti merujuk pa-da anggaran pa-dasar pa-dan anggaran ru-mah tangga (AD/RT) PAPDI. Ia pun ber-harap Dr. Aru dapat menyelesaikan

konflik PAPDI-PERKI disisa kepengurus-annya. “Saya appreciate, begitu luas dan banyak yang telah dicapai. Pengu-rus ini yang kerjanya paling berat hing-ga dapat gedung baru,“ kata mantan Ketua Umum PB PAPDI periode 1993 – 1996 dan 1996 – 2000 ini, haru. “Sa-ya jadi maklum, kenapa ia (Dr. Aru-red) belum menjadi professor,” tambahnya berkelakar.

Penghargaan juga disampaikan Prof. DR. Dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI, FINASIM, FACP. Prof. Samsuridjal, sapaan akrabnya, mengatakan meski fasilitas jauh lebih baik, namun periode Dr. Aru merupakan kepengurusan “pe-ngorbanan”. Bukan hanya waktu yang diberikan, kepengurusan saat ini me-nguras tenaga, pikiran dan menurun-nya pendapatan lantaran harus sering meninggalkan praktik. “Apa yang telah dicapai kepengurusan PAPDI sekarang beyond expectations. Bukan sekadar baik, tapi diluar dugaan. Maka hal-hal ini mesti dilanjutkan dan dikembang-kan oleh kepengurusan yang adikembang-kan da-tang,” ungkap mantan Ketua Umum PB

PAPDI periode 2000 – 2003 ini, salut. Kendati demikian, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam ini mengatakan tantangan PAPDI juga tak kalah besar-nya. Tantangan ini, menurutnya, adalah fragmentasi di tubuh penyakit dalam. Ada kekuatan dari luar, di tambah ke-inginan beberapa internis, yang ingin mengotak-kotakan pelayanan kesehat-an di tubuh penyakit dalam. Hal ini mesti diantisipasi, PAPDI harus mem-per tahankan pelayanan kesehatan holistik. “Karena itu, saya rasa kita harus menjawab dengan membuat bu-ku putih melalui sejarah PAPDI dan ka-lau boleh menulis kembali pidato Prof. Slamet supaya dapat dipahami oleh anggota – anggota yang lain dengan baik,” ungkap Prof. Samsuridjal.

Soal fragmentasi ini, lanjutnya, ma-syarakat dan negara akan menanggung tingginya biaya pelayanan kesehatan. Amerika Serikat, misalnya, mengalami fragmentasi namun karena biaya

kese-hatan begitu tinggi, akhirnya mereka kembali ke holistik. “Apakah kita akan mengikuti Amerika? Kita ter fragmen-tasi dulu, kemudian ketika kita sadar tidak mampu melakukan pelayanan ter-kotak-kotak lalu kembali ke holistik,” tegasnya.

Persoalan lain, adalah membina hu-bungan baik dengan profesi lain, ter-utama dokter umum. Menurut Prof. Samsuridjal PAPDI harus dekat dengan dokter umum. Kalau perlu, tambahnya, pada saat KOPAPDI atau PIN PAPDI dokter umum diberi tempat khusus.

Kemudian, PAPDI mesti memberi perhatian lebih pada divisi psikosoma-tik. Bidang ini kurang berkembang di

banding yang lain. Padahal, dari segi konsep, psikosomatik sudah cukup kuat. Prof. Samsuridjal juga meng-ingatkan, dalam kepengurusan PAPDI tetap menjunjung kepemimpinan kole-gial dan cost effectiveness.

Selanjut, Prof. Dr. A. Aziz Rani, SpPD, K-GEH, FINASIM menyampaikan pandangannya. Menurutnya kepengu-rusan saat ini sudah menjalankan PAPDI sangat luar biasa. Periode ini, lanjutnya, telah meletakkan model or-ganisasi yang professional untuk perio-de berikutnya. “Pengurusan saat ini su-dah menjawab tantangan yang ada pa-da masanya. Selamat kepapa-da kepengu-rusan saat ini,” kata mantan Ketua Umum PB PAPDI periode 2003-2006 ini.

Prof. Aziz, begitu biasa disapa, men-dukung rencana Dr. Aru membentuk foundation. Menurutnya foundation me-rupakan perpanjangan tangan dari

or-ganisasi profesi. Dengan begitu ruang gerak PAPDI lebih luas dan dapat lebih dekat dengan masyarakat.

Berkaitan dengan PAPDI Medical Re-lief (PMR), Prof. Aziz mengusulkan agar PMR masuk dalam AD/ART di bawah PB PAPDI. Namun tetap diberi kemandi-rian dalam hal mengelola kelengkapan organisasi. Hal ini terkait dengan suatu lembaga kemanusiaan yang bersifat nirlaba dituntut untuk transparan me-ngatur dana dari donator. ”Silahkan di-jadikan anak atau anak angkat. Karena PMR juga menjalankan misi PAPDI,” tukasnya.

Sesepuh lain, Prof. Dr. A.M. Akil, SpPD, K-GEH, FINASIM, Prof. Dr. Jose

Roesma, SpPD, K-GH, FINASIM, Prof. Dr. Herdiman Pohan, SpPD, K-PTI, FINASIM, Prof. Dr. Suhardjono, SpPD, K-GH, FINASIM juga memberi apresiasi pada pengurus saat ini. Mereka sepen-dapat apa yang dilakukan Dr. Aru ber-sama pengurus lain telah jauh dari apa yang dipikirkan. “Saya sangat bangga pengurus PAPDI saat ini. Dr. Aru sangat luar biasa, setiap saat ia pergi me-ngunjungi daerah-daerah,“ ujar Prof. Akil selaku penasehat PB PAPDI pe-riode ini.

Prof. Akil sependapat dengan Prof. Samsuridjal. Ia menegaskan perlunya pemahaman yang lebih dalam tentang holistik. Konsep ini tetap diper tahan-kan, boleh saja mendalami satu bidang tapi tetap dalam kerangka holistik. “Untuk itu perlu komunikasi lebih inten ke Kemenkes, IDI, dan fakultas-fakul-tas kedokteran,” ujar Prof. Akil.

Sementara Prof. Herdiman T. Pohan senada dengan Prof. Aziz. Ia setuju bentuk yayasan. “Banyak yang bisa di-kelola. Kita akan sukses karena PAPDI punya asset anggota dan scientif po-wer,” ungkapnya. Sedangkan Prof. Su-hardjono menambahkan PAPDI sudah perlu merekrut sekretaris eksekutif agar lebih professional.

Diantara sesepuh PAPDI yang hadir, sayangnya Dr. Achmad Dachlan, SpPD mantan Ketua Umum PB PAPDI periode 1975-1978 dan 1978-1981 berhalang-an hadir karena ada keperluberhalang-an keluar-ga yang sankeluar-gat mendesak. Namun keti-ka ditemui tim Halo Internis di tempat kediamannya di bilangan Cinere, De-pok, ia mengatakan sangat terharu de-ngan kepengurusan sekarang yang se-lalu menjalin komunikasi dan memberi perhatian kepadanya. “Meski kami ku-rang mengikuti perkembangan PAPDI, tapi kami selalu diundang ke acara PAPDI. Terima kasih atas perhatian-nya,” ujar Dr. Achmad Dachlan yang du-duk didampingi istrinya. (HI)

HUT PAPDI ke-54:

Kado Dari Sesepuh

Apa yang telah dicapai kepengurusan PAPDI

sekarang

beyond expectations

. Bukan sekadar

baik, tapi diluar dugaan. Ini mesti dilanjutkan

dan dikembangkan oleh kepengurusan yang

akan datang.

Ketua Umum PB PAPDI, Dr. Aru W. Sudoyo (tengah) bersama mantan ketua PB PAPDI. (kiri-kanan) Prof. Samsuridjal Djauzi, Prof. Slamet Suyono, Prof. Sjaifoellah Noer dan Prof. Aziz Rani.

DOK. P

(5)

SOROT UTAMA

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

5

S

aat ini PAPDI telah memberi kontribusi dan manfaat yang baik bagi anggotanya. Adanya program-program seper ti symposium ilmi-ah, baik dalam skala ke-cil, regional mapun na-sional, mampu memban-tu meng-update penge-tahuan, sesuai tuntutan profesi.

Hal tersebut disam-paikan Dr. H. Amrizal, SpPD, FINASIM. Akan te-tapi kontribusi ini tidak akan maksimal tanpa peran aktif sendiri dari anggotanya. Sejak dires-mikannya PAPDI Cabang Sumatera selatan pada 2007, organisasi ini ti-dak hanya menjadi ajang menjalin komunikasi se-cara kekeluargaan,

per-sonal hingga institusional saja, tapi ju-ga memberi sumbangsih bagi internis di daerah dalam meng-update perkem-bangan dan ilmu pengetahuan.

Memasuki usianya ke-54, PAPDI ju-ga dihadapkan pada tantanju-gan teruta-ma menghadapi era global. “Kami ber-syukur saat ini di UNSRI Palembang te-lah membuka jenjang pendididikan sub-spesialis. Ini adalah bagian dari upaya menghadapi tantangan zaman,” ujar dokter kelahiran Palembang, 25

Okto-E

ra globalisasi yang memungkinkan dokter penyakit dalam asing masuk ke Indonesia. Situasi ini, menurut Dr. Harlinda Haroen, SpPD, K-HOM, FI-NASIM menjadi tantangan bagi PAPDI untuk tetap dapat memper tahankan kompetensinya.

Sebagai organisasi profesi, PAPDI menjadi wadah untuk tukar pikiran dan memperoleh informasi dalam berbagai soal yang menyangkut ilmu penyakit dalam yang sedang dihadapi

masyara-kat Indonesia. Bagi Dr. Harlinda, PAPDI berperan mendorong dan meningkat-kan penelitian dalam bidang penyakit dalam. Kegiatan-kegiatannya merupa-kan salah satu wadah untuk upgrade dan sharing ilmu pengetahuan terkini. Dr. Harlinda menilai, PAPDI sejauh ini telah memiliki kinerja dan peran yang baik. “Penyelenggaraan Kongres Nasio-nal PAPDI yang dilaksanakan setiap 3 tahun merupakan program yang paling baik dan sukses selama ini,” ujar ben-dahara PAPDI Cabang Manado tersebut.

Namun demikian, pihaknya berharap roadshow yang terse-lenggara tidak hanya terpusat terpusat di Jakar ta. “Sebaiknya bi-sa bi-sampai juga ke dae-rah-daerah,” ungkap-nya. Selain itu, untuk kegiatan roadshow, bukan sekadar sharing ilmu namun ia ber-harap dapat menjadi wadah membahas ma-salah organisasi baik di cabang maupun di pusat. Ke depan, ia ingin PAPDI tetap da-pat menjadi induk bagi organisasi-organisasi sub-spesialisasi lain-nya. (HI)

P

erhimpunan Dokter Spesialis Penya-kit Dalam Indonesia (PAPDI) adalah perhimpunan yang menjadi wadah berkumpul dan bersatunya seluruh In-ternis yang berada di Indonesia. Sejak dibentuk tahun 1957, PAPDI saat ini telah memiliki 35 Cabang yang terse-bar mulai dari Nangroe Aceh Darussa-lam hingga dengan Tanah Papua. PAPDI telah memiliki anggota sebanyak 2416 Internis dengan jumlah Konsultan se-banyak 544 pada masing-masing bi-dang Ilmu Penyakit Dalam yang berjum-lah 12 divisi. Selain itu sebanyak 761 Internis sudah memiliki gelar FINASIM (Fellow of The Indonesian Society of Internal Medicine).

Sebagai wadah induk kalangan pro-fesional dokter penyakit dalam di Indo-nesia, sudah menjadi kewajiban PAPDI untuk mampu meningkatkan kualitas anggotanya. Apalagi dalam kancah menghadapi per tarungan global saat ini. Menurut Dr. Nyoman Suarjana, SpPD, K-R anggota PAPDI Cabang Ka-limantan Selatan, melalui berbagai ke-giatan yang dibentuk seper ti lokakar ya, simposium, penerbitan buku ajar mau-pun majalah ilmiah, PAPDI telah cukup banyak ambil peran meningkatkan kua-litas para anggotanya.

“Penerbitan buku EIMED, sangat baik karena bisa menjadi panduan da-lam penatalaksanaan pasien khusus-nya bagi anggota PAPDI yang ada di

daerah,” ujar dokter yang sehari-hari berpraktek di RSUD Ulin Banjarmasin ini. Namun dokter kelahiran Tabanan, 24 Oktober 1965 ini menilai, program Emergency in Internal Medicine sebaik-nya diperuntukkan bagi dokter umum. “Program ini bisa menjadi standar pengetahuan dan ketrampilan kedaru-ratan dibidang ilmu penyakit dalam, yang nantinya dipakai sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki oleh dokter umum, khususnya yang ber tu-gas di rumah sakit/unit gawat daru-rat,” ungkapnya. Menurut Dr. Nyoman, ser tifikat tersebut nantinya bisa diseja-jarkan dengan ACLS maupun ATLS, se-dangkan untuk anggota PAPDI nantinya harus memiliki ser tifikat EIMED. (HI)

“P

APDI sudah 54 tahun! Congratu-lations!,” sapa Prof. Dr. Hans Tandra, SpPD , K-EMD, FINASIM, PhD, FACE mengawali wawancara de-ngan Halo Internis. Menurut dokter ke-lahiran Samarinda 54 tahun silam ini, di era globalisasi PAPDI dituntut lebih berperan aktif, baik nasional maupun international. Pasalnya, ke depan PAP-DI bakal banyak menghadapi tantangan dari segi perkembangan keilmuan, tun-tutan masyarakat atau regulasi global.

”Untuk itu, semua anggota turut berpe-ran aktif,” ujarnya

Prof. Hans mengatakan PAPDI ada-lah organisasi yang dapat menyatukan para internis, dan mampu menjadi pe-lindung dan pengayom mereka. Sudah banyak yang diberikan PAPDI, mulai su-rat edaran, Halo Internis, Acta Medica Indonesiana, ataupun website PAPDI. “Bagi dokter yang gemar membaca apalagi menulis, semua itu pasti akan terasa kurang, sebaliknya bagi yang malas, semua info itu mungkin ti-dak memberikan banyak dam-pak,” kata Prof. Hans.

Prof. Hans menambahkan membaca adalah satu dari se-kian aktivitas wajib yang harus dilakukan oleh seorang dokter. Ia sendiri selalu menyempatkan waktu membaca hal-hal yang berkaitan dengan penambahan kemampuaannya di bidang endo-krin. Hampir setiap hari ia mene-rima email newsletter atau jurnal international.

Kini ia berharap, kelak ada newsletter PAPDI yang mencakup informasi organisasi, berita-beri-ta, ataupun ar tikel ilmiah, yang dapat dikirim langsung via email ke setiap dokter. ”Tapi tentu bu-tuh tenaga khusus untuk ini,” aku Prof. Hans. Semoga harapan ini segera ter wujud. (HI)

ber 1964 ini.

Selain itu dokter yang sehari-hari berpraktek di RSU Kundur Palembang ini juga mengatakan kemajuan teknolo-gi yang kian pesat, menutut PAPDI se-bagai anggota profesi untuk turut mam-pu memaksimalkan akses teknologi yang semakin canggih tersebut. “Bah-kan hal sederhana seper ti grup PAPDI di Blackberr y saja mampu memberi manfaat yang banyak, seper ti yang sa-ya rasakan,” ujarnsa-ya. (HI)

Dr. H. Amrizal, SpPD, FINASIM

Maksimalkan Akses Teknologi

Dr. Harlinda Haroen, SpPD, K-HOM, FINASIM

Roadshow

Lebih Diperbanyak

Dr. Nyoman Suarjana, SpPD, K-R

EIMED Sebaiknya untuk

Dokter Umum

Prof. Dr. Hans Tandra, SpPD, K-EMD, FINASIM, PhD, FACE

Newsletter PAPDI Langsung

Via Email

Dr. H. Amrizal, SpPD, FINASIM

Prof. Dr. Hans Tandra, SpPD, K-EMD, FINASIM, PhD, FACE

Dr. Nyoman Suarjana, SpPD, K-R, FINASIM

Dr. Harlinda Haroen, SpPD, K-HOM, FINASIM

DOK. P APDI DOK. P APDI DOK. P APDI DOK. P APDI

(6)

SOROT UTAMA

6

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

peran strategis perhimpunan dokter dalam menentukan arah sistem kese-hatan. Para sejawat dari organisasi pro-fesi mendapat paparan bagaimana keterlibatan organisasi profesi kedokter-an diskedokter-ana terhadap kebijakkedokter-an kese-hatan di negeri Kangguru ini. Seperti diketahui Australia sendiri adalah salah satu negara yang memiliki sistem kese-hatan yang baik. Di sana organisasi pro-fesi memiliki andil besar dalam menen-tukan kebijakan pelayanan kesehatan. Misalnya: ada beberapa aspek dasar, seperti jumlah dokter, distribusi, pen-dapatan, dan kompotensi dokter diatur oleh pemerintah bersama dengan ko-legium.

Hal lain yang menarik, lanjut Dr. Sally, paparan dari CEO Rural Doctors Asso-ciation of Australia Dr. jenny Jhonson dan Dr. Ian Fraser dari Royal Australia College of Physicians mengenai bagai-mana mengatasi ketimpangan soal dis-tribusi dokter di sana. Persoalan mal distribution dokter juga menjadi kendala di Australia. Dokter-dokter yang meru-pakan warga Australia enggan di tem-patkan dipedesaan. Padahal, pemerin-tah telah menjamin dokter tersebut be-serta keluarganya akan menerima pen-dapatan yang sangat pantas. Untuk me-ngisi tenaga medis pada rural doctor pe-merintah mendatangkan dokter asing yang umumnya dari negara-negara com-monwealth. “Dokter-dokter dari negara persemakmuran Inggris memiliki sistem

S

ecangkir kopi Phoenam menanti di

Makassar, Sulawesi Selatan. Tuan rumah Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Pe-nyakit Dalam Indonesia ke-9, PAPDI ca-bang Sulawesi Selatan menyuguhkan kopi dengan cita rasa tinggi ini bagi se-jawat penyuka kopi. Bila ke Makassar belum lengkap rasanya bila tidak me-nyempatkan ke kedai kopi Phoenam. Alih-alih menyeruput kopi campuran robusta dan arabica ini, Dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM berte-patan dengan PIN IX di Makassar malah bertolak ke Melbourne, Australia. Wakil Sekretaris Jenderal PB PAPDI ini menja-di delegasi PAPDI mengikuti workshop “Perhimpunan Profesi Kedokteran hatan Dalam Memperkuat Sistem Kese-hatan yang Berkeadilan” yang diseleng-garakan pada 12 – 14 Oktober 2011 di Melbourne, Australia.“Saya mendapat tugas dari PB mesti ke Melbourne. Mo-hon maaf kepada tuan rumah PIN, tidak bisa datang ke Makassar. Padahal kopi Phoenam sudah menanti disana.” Ujar Dr. Sally kepada Prof. Dr. H. AM. Akil, SpPD, K-GEH, FINASIM saat sarasehan PB PAPDI.

Dr. Sally hadir atas undangan Pusat Managemen Pelayanan Kesehatan Fa-kultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (PMPK FK UGM) dan Nossal Ins-titute, Melbourne University. Selain PAPDI, ada tiga perhimpunan dokter spesialis lain yang diundang pada aca-ra itu, yaitu IDAI, POGI, dan IDSAI. Dan peser ta lainnya adalah dari induk kedokteran IDI, Konsil Kedokteran In-donesia (KKI) dan Kementerian Kese-hatan. Nossal Institute adalah pusat kajian kesehatan masyarakat yang ba-nyak berkontribusi terhadap sistem kesehatan di Australia. Lembaga ini melakukan kerjasama dengan lembaga serupa di beberapa negara termasuk Indonesia. Sebelumnya, Nossal Insti-tute telah menjalin kerjasama dengan PMPK FK UGM membuat kajian dengan fokus pada sistem kesehatan di In-donesia.

Pada acara itu, menurut Konsultan Kardiovakular ini, banyak membahas

pendidikan kedokteran yang sama sehingga mudah

beradapta-si dengan beradapta-sistem pen-didikan di Austra-lia,” jelas Dr. Sally. K e n d a l a mal distribusi juga terjadi di Indonesia. Dr. Sally, setelah Dr. Ian Fraser, mempresenta-sikan distribusi dokter spesialis de-ngan fokus tentu saja

dokter spesialis penyakit dalam di Indo-nesia. Kondisinya sangat berbeda de-ngan di Australia. Pemerintah Australia telah sukses mengatasi persoalan ter-sebut dengan memberi apresiasi beru-pa kesejahteraan bagi dokter yang be-kerja di pedesaan. Sementara di Indone-sia, penyebaran dokter yang tidak mera-ta bahkan banyak daerah yang belum tersentuh dokter yang telah terjadi lama hingga kini belum ada jalan keluarnya. Program dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang diharapkan dapat menjemba-tani kendala ini tidak berhasil dikarena-kan statusnya yang semula diwajibdikarena-kan bagi calon dokter, kini menjadi sukarela sifatnya. Sedangkan program tugas be-lajar (tubel) yang baru-baru ini digulirkan pemerintah untuk mengisi tenaga medis

di daerah, rentan dengan sistem rekrut-men yang belum jelas lantaran lemah-nya regulasi. “Saya beberapa kali men-dapatkan mahasiswa tubel yang mereka tidak mengenal daerah yang mengutus-nya. Bahkan ada yang baru satu bulan di daerah tersebut langsung dapat tu-bel, sementara dokter yang sudah lama praktik disana belum mendapatkan ke-sempatan. Ini baru yang di penyakit da-lam RSCM/FKUI, hal yang sama juga terjadi di tempat lain. Seleksi mahasis-wa tubel mesti dibenahi dengan ketat untuk menghindari ada penyelewengan. Se-hingga niat mulia peme-rintah saat mencanang-kan program ini dapat tercapai tujuannya,” ka-ta Dr. Sally yang juga salah satu tim penerima-an mahasiswa tubel di Departemen Ilmu Penya-kit Dalam RSCM/FKUI.

Tak jarang kebijakan yang dibuat sulit diaplika-sikan atau kontraproduktif. Pasal-nya, regulasi yang terkait tenaga medis sering diputuskan se-pihak tanpa melibatkan organisasi kedokteran yang memiliki ang-gota tersebar di ber-bagai daerah. “Di Indonesia organisa-si profeorganisa-si belum optimal dilibatkan dalam mengambil kebijakan pemerintah dalam sistem kesehat-an. Banyak kebijakan yang tidak sejalan dengan institusi kedokteran. Ada dua isu penting yang menjadi perhatian yaitu mal distribusi dan soal pendapatan dok-ter.” ungkap Dr. Sally

Dari workshop “Health Care Pro-fessional Association (HCPAs) and Their Role in Achieving MDGs” yang diseleng-garakan di Dhaka, Bangladesh, pada 2008 dijelaskan bahwa organisasi pro-fesi belum memberikan kontribusi yang optimal terhadap peningkatan sistem pelayanan kesehatan secara global, ter-utama yang berkaitan dengan pencapai-an MDGs. Penyebabnya adalah perbe-daan fokus perhatian organisasi profe-si, pengelola organisasi profeprofe-si, dan ku-rangnya integrasi antar-profesi dalam sistem pelayanan kesehatan. Untuk itu, workshop tersebut merekomendasikan meningkatkan keterlibatan organisasi profesi dalam pencapaian MDGs.

Lalonde dan Peron (2006) dalam ma-kalahnya menyatakan bahwa organisasi profesi kebidanan dan kandungan di Ka-nada memberikan peran yang sangat besar dalam perbaikan kesehatan re-produksi di negara berkembang. Kepe-mimpinan dari organisasi ini menjadi motor penggerak sistem pelayanan ke-sehatan. Kedua peneliti tersebut me-nyebutkan langka-langkah yang mesti dilakukan organisasi profesi, diantara-nya penguatan pengelolaan organisasi, peningkatan kapasitas teknis anggota, dan peningkatan kredibilitas serta kemi-traan.(HI)

Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM,

Wakil Sekretaris Jenderal PB PAPDI

Peran Strategis Organisasi Profesi

dalam Menentukan

Sistem Kesehatan

Dua isu penting

yaitu mal distribusi

dan gap pendapatan

yang signifikan.

Organisasi profesi

mem-beri kontribusi dalam

menentukan sistem

kesehatan.

Delegasi Indonesia di Nossal Institute, Australia. Tampak diantaranya Dr. Sally A. Nasution, Wasekjen PB

PAPDI (ketiga dari kiri), dan Ketua Umum PB IDI, Dr. Priyo Sidipratomo, SpRad (paling kanan). Dr. Sally A. Nasution mempr

esentasikan

maldistribution

dokter spesialis di Indonesia.

Dr. Ian Fraser dari Royal Australia College of Physicians mempresentasikan bagaimana mengatasi maldistribusi dokter di Australia.

FOT

O-FOT

O: DOK. P

(7)

7

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

SOROT UTAMA

H

otel Holiday, Batam sore

menje-lang malam. Dr. Pranawa, SpPD, K-GH, FINASIM tampak geram. Ia segera mencetak surat elektronik yang baru sore tadi diterima da-lam perjalanannya dari Jakarta ke Batam untuk menghadiri Konferensi Kerja (KON-KER) PAPDI, Juni 2011 lalu. Dalam hi-tungan menit, malam itu ia memutuskan kembali ke Jakarta. “Ini darurat, ayat tentang pendidikan subspesialis dalam draft Undang-Undang Pendidikan Kedok-teran, hilang. Pak Ketua saya minta izin kembali ke Jakarta,” kata Dr. Pranawa kepada Ketua Umum PB PAPDI, DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP.

Kegalauan Dr. Pranawa cukup ber-alasan. Ketua IDI Jawa Timur ini aktif da-lam penggodokan UU Pendidikan Kedok-teran (UU Dikdok). Ia tahu persis pasal 26 point c tentang Pendidikan Subspe-sialis yang mengundang kontroversi, se-mentara disepakati masuk dalam RUU Dikdok. Namun dalam proses pemba-hasan pasal tersebut masih diwarnai ta-rik-ulur antara pihak yang setuju dima-sukkan dan tidak.”Memang ada pihak yang tidak setuju pendidikan subspesial-is masuk dalam jenjang pendidikan ke-dokteran. Pihak ini cukup kuat. Ini mesti dikawal dengan ketat, kalau itu tidak ma-suk, runtuh apa yang telah dibangun se-lama ini,” tegasnya.

Hilangnya pasal tersebut memicu ba-nyak reaksi dari berbagai pihak, terma-suk Perhimpunan Dokter Spesialis Pe-nyakit Dalam (PAPDI). Pengurus Besar PAPDI menggelar Media Gathering pada awal Februari 2012 lalu untuk menge-laborasi duduk perkaranya. Menurut DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINA-SIM, MMB, FACP dalam RUU Didok pen-didikan kedokteran hanya dibatasi sam-pai jenjang pendidikan spesialis. Sebe-lumnya, UU inisiatif DPR itu mencan-tumkan jenjang pendidikan subspesialis pada pasal 26, kemudian point tersebut dihilangkan oleh salah satu tim panja. Padahal, lanjut Dr. Ari, pendidikan sub-spesialis di beberapa fakultas kedokter-an, termasuk FKUI telah terselenggara lama.

“Ada upaya penghapusan program pendidikan subspesialis. Bila jenjang pendidikan subspesialis ini tidak dimuat dalam UU, maka proses pendidikan sub-spesialis di fakultas kedokteran akan di-hapuskan. Ini berarti menutup

pengem-bangan ilmu kedok-teran. Dampaknya, masyarakat tidak mendapatkan jen-jang pelayanan kese-hatan tersier dari dokter konsultan. Tentu, kondisi akan dimanfaatkan dokter konsultan asing untuk masuk ke Indonesia melakuan praktik subspesialis. Boleh jadi ini adalah pesanan pihak-pihak tertentu. kami akan

berjuang melawan,” tegas Koordinator Bidang Advokasi PB PAPDI ini.

Hal senada disampaikan Ketua Umum PB PAPDI DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP. Hilangnya pasal jenjang pendidikan subspesialis, menurut Dr. Aru, akan merugikan fakul-tas kedokteran. Sebab, seorang subspe-sialis atau konsultan merupakan tenaga pendidik bagi jenjang spe-sialis. Hal ini, tentu akan menghambat pertambahan dokter yang saat ini masih sangat kurang jumlahnya. “Jumlah dokter dan mal distribusi dokter masih menjadi kendala dalam sistem kesehatan,” ujarnya.

Berkaitan “mahalnya” biaya konsul ke subspe-sialis, Dr. Aru mengatakan hal itu bersifat sementara dan bisa diatasi dengan sistem rujukan. Praktik subspesialis adalah layanan kesehatan tersier. Bila sistem pembiayaan kesehatan sudah berbasis asuransi maka sistem rujukan ini akan dapat diselenggarakan dengan baik. Seorang pasien yang telah di-tanggung asuransi, baru akan mendapat layanan subspesialis bila mendapat ru-jukan dari dokter sebelumnya. “Dengan disahkannya UU SJSN dan BPJS, pada 2014 akan berlaku universal coverage, masyarakat akan dijamin pembiayaan kesehatannya dengan asuransi. Ketika itu sistem rujukan dapat terselenggara dengan efektif,” katanya

Dr. Aru mengumpamakan “kalau mau irit, jangan tangan yang diamputasi, me-lainkan sistemnya yang harus diatur. Ja-di jangan karena biaya, ada kemampuan

dan keahlian dibidang kedokteran yang dihilangkan. Ini dua persoalan yang mes-ti dipisahkan.”

Pendapat Dr. Aru diamini mantan Ke-tua Umum PP Ikatan Dokter Spesialis Anak Indonesia (PP IDAI) DR.Dr Sukman T. Putra, SpA(K), FACC, FESC. Dr. Suk-man mengatakan sistem pembiayaan kesehatan belum berbasis asuransi. “Saat ini, sistem kesehatan di negeri ini masih amburadul. Soal mal distribusi, sudah 40 tahun tak beres-beres. Bagi dokter, praktik di kota-kota besar meru-pakan pilihan, dan tak bisa disalahkan lantaran mereka membiayai sendiri stu-dinya. Berbeda di luar negeri, dokter

yang mengambil pendidikan spesialis atau subspesialis tidak membayar, ma-lah mereka mendapat gaji karena mere-ka juga melakumere-kan praktik di rumah sakit pendidikan,” ujar Ketua Program Studi Subspesialis Jantung Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM/FKUI ini.

Untuk itu, lanjut Dr. Sukman, regulasi perlu dibenahi, termasuk mem-buat UU Dikdok. UU ini penting dan mendesak karena dokter, termasuk kon-sultan bekerja harus dapat dipertang-gungjawabkan mutunya. Oleh karenanya, jenjang pendidikan ini hendaknya dise-lenggarakan oleh institusi pendidikan yang terstandar. Dengan demikian, pihak fakultas kedokteran dapat mengelu-arkan bukti kompotensi berupa ijazah kepada peserta didik sebagai pertang-gungjawaban atas kompetensinya.

Sayangnya, tambah Dr. Sukman, pe-serta didik subspesialis hanya meneri-ma sertifikat yang ditandatangani dekan dan ketua kolegium. Sesuai dengan UU

Praktik Kedokteran, sertifikat ini tidak memiliki legalitas untuk mendapat Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Sebab, KKI hanya me-ngeluarkan STR berdasar ijazah, bukan sertifikat dari Dekan.” Indonesia bisa di-anggap belum memiliki subspesialis ka-rena dokter konsultan belum memiliki ijazah sehingga tidak dapat mengurus STR subspesialis. Silahkan saja dokter asing masuk, tapi kenapa kita yang su-dah ada tidak dianggap,” ujar Dr. Suk-man.

Hilangkan Pendidikan

Subspesialis, UU

Dikdok Inkonsisten

Profesi dokter berbeda dengan profe-si lain. Profeprofe-si ini bekerja sarat dengan regulasi dan undang-undang. Semesti-nya antara undang-undang yang satu de-ngan yang lain saling sinergis. Tapi tidak pada UU Dikdok tentang pendidikan sub-spesialis. “Dari undang-undang yang ada, semuanya memuat peran dan pen-tingnya pendidikan konsultan. Oleh kare-na itu pendidikan subspesialis mutlak di-perlukan,” kata mantan Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Prof.Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, FINASIM.

Prof. Zubairi mengatakan dalam sis-tem Kesehatan Nasional (SKN 2009) menyebutkan bahwa pelayanan kese-hatan diselenggarakan secara berjen-jang mulai dari pelayanan primer, sekun-der dan tersier. Setiap jenjang pelayanan ini dipegang oleh tenaga kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan kompe-tensinya. “Kalau mengacu SKN maka pendidikan subspesialis memang diper-lukan dan harus ada,” ungkapnya

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas tahun 2003) le-bih menguatkan peran konsultan dalam institusi pendidikan. UU itu menyebutkan bahwa dalam penyelenggaraan pendidik-an maka pendidikpendidik-an pada satu strata ha-rus dilaksanakan oleh pendidik satu strata di atasnya. Jadi, calon dokter spe-sialis dididik oleh dokter konsultan. De-ngan demikian pendidikan dokter sub-spesialis harus dilaksanakan secara for-mal dan terstruktur.

Sedangkan dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran (UU PK) tahun 2004 menegaskan legalitas pendidikan sub-spesialis. Di UU PK dijelaskan untuk me-laksanakan pelayanan kesehatan diperlu-kan STR untuk mendapatdiperlu-kan Surat Izin Praktik (SIP). Untuk mendapatkan STR di-perlukan surat pernyataan dari profesi dan ijazah dari perguruan tinggi (PT). Dengan demikian pendidikan subspesia-lis juga harus memiliki ijazah dari PT.

Oleh karenanya, Ketua Senat Akade-mik FKUI ini menegaskan dari ketiga hu-kum tersebut maka pendidikan subspe-sialis harus diselenggarakan oleh insti-tusi pendidikan secara formal dan ter-struktur. Nah, aneh bila UU Dikdok tanpa pendidik subspesialis. Atau kalau UU ini dipaksakan maka harus melakukan yudi-sial review terhadap UU yang lebih dulu ada. Ehmm(HI)

Ada upaya

penghapusan program

pendidikan subspesialis. Ini

berarti menutup

pengem-bangan ilmu kedokteran.

Dampaknya, masyarakat tidak

mendapatkan jenjang

pelayanan kesehatan

ter-sier dari dokter

kon-sultan.

Waspadai Raibnya

Pendidikan Subspesialis

DOK. P

APDI

Media Gathering PAPDI tentang RUU Dikdok.

Dari kiri ke kanan: DR. Dr. Sukman T. Putra, SpA; Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, FINASIM; DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP; dengan moderator DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP.

(8)

8

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

beri gelar profesi untuk jenjang per ta-ma, kedua (spesialis) dan ketiga (sub-spesialis). Maka, Dr. Ratna, mengata-kan FKUI telah menyelenggaramengata-kan pen-didikan subspesialis dan telah meng-hasilkan 350 konsultan dari 12 depar-temen. Ini ar tinya FKUI sebagai institu-si sudah menyelenggarakan pendidik-an Sp2 tpendidik-anpa adpendidik-anya kendala-kendala yang signifikan dan mereka yang lulus diterima dimasyarakat dan telah mem-baktikan dirinya dengan baik. “Pendi-dikan subspesialis sudah direncana-kan, bukannya tiba-tiba ada. Ini meru-pakan kebutuhan untuk menjawab tan-tangan saat ini. Perkembangan sub-spesialistik tak bisa ditahan-tahan lagi. Hal ini juga terjadi diseluruh dunia,” ujarnya.

Namun, tambah Dr. Ratna, mesti ada yang dapat menjamin mutu kom-petensi seorang konsultan. Oleh kare-na itu, pendidikan subspesialis harus diselenggarakan secara formal oleh institusi pendidikan yang memiliki kua-lifikasi standar bukan non formal.

Sayangnya, pendidikan subspesialis belum diakui oleh konsil kedokteran In-donesia (KKI). Lulusan pendidikan ini hanya menerima bukti lulus berupa ser-tifikat yang ditandatangi oleh dekan dan KPS nya, bukan ijazah. Padahal, kata Dr. Ratna, “Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam menyelenggara-kan pendidimenyelenggara-kan spesialis dan subspe-silasi. Lalu kenapa institusi pendidikan tidak boleh menyelenggarakan pendi-dikan sp2? Mesti ada jawab yang te-gas” katanya.

Untuk kondisi Indonesia, menurut Dr. Ratna, subspesialis di bawah perguruan tinggi adalah pilihan tepat. Pasalnya,

institusi pendidikan dan rumah sakit berada pada departemen yang berbeda. Sedangkan di John Hopkins Hospital Mayo Clinic, misalnya, yang menganut hospital base. Disana tak ada kendala karena antara perguruan tinggi dan rumah sakit berada satu atap.

Meneropong

Perseteruan

Subspesialis

Tarik ulur pembahasan jenjang pen-didikan subspesialis cukup alot. Se-waktu-waktu pasal tersebut bisa hilang timbul. UU inisiatif Dewan ini melibat-kan Dikti, IDI, KKI dan Komisi X. se-mentara Panja DPR dengan suara bulat menyatakan setuju dimasukan pasal jenjang pendidikan subspesialis. “Dari kami, Panja DPR seluruhnya setuju di-masukan pembahasan tentang jenjang pendidikan subspesialis,” kata Ketua Komisi X Prof. Dr. Mahyuddin NS, SpOG(K).

Suara berseberangan terdengar ke-ras dari Panja Pemerintah. Tapi sayangnya ketika RDPU tak ada per-wakilan dari pemerintah yang memberi alasan kenapa dihilangkan. Bahkan yang terjadi sebaliknya, per wakilan Dikti malah berbalik mendukung pen-didikan subspesialis masuk dalam UU Dikdok. ”Meski Panja Pemerintah men-coret pasal pendidikan subspesialis, tapi dalam batang tubuh tetap ada. Ini jelas inkonsistensi. Saya pribadi berpandangan bahwa psp2 mesti dimasukan dalam pendidikan formal. Karena secara de facto ini sudah berlangsung di fakultas kedokteran.

Dan sistem pendidikan kedokteran harus berpegang pada prinsip tiga tungku, yaitu kolegium, institusi pen-didikan dan rumah sakit. Untuk itu saya menyarankan panja RUU mesti melihat realitas di lapangan,” tegas Prof. Dr. Laksono Triantoro dari Uni-versitas Gajah Mada, Yogyakar ta.

Berkaitan dengan sikap panja peme-rintah, Prof. Mahyuddin menambahkan, pemerintah melalui Perpres telah me-netapkan subspesialis masuk dalam konsep jenjang pendidikan dan posisi-nya stara dengan doktor.

Pendapat berbeda di sampaikan Prof. Dr. Errol Hutagalung, SpB dari IDI. Menurut Ketua MKKI ini pendidikan subspesialis tidak bisa lepas dari in-duk spesialisnya. Spesialis beser ta tu-runannya jangan dipisah-pisahkan da-lam jenjang pendidikannya. “Spesialis beser ta turunannya biar dalam satu ke-ranjang,” ujar Prof. Errol.

Jadi, tambahnya, saat ini yang mesti dilakukan adalah mendapat pengakuan secara de jure. Sementara seorang kon-sultan tetap bisa memberi praktik spe-sialis. Dengan demikian dalam STR nya seorang konsultan tidak tertera sub-spesialisnya tapi hanya sub-spesialisnya.

Sejauh ini, lanjut Prof. Errol, MKKI sudah menyiapkan konsep akademik Sp2 dan melakukan loby-loby ke Dikti dan KKI. Diharapkan konsep ini diteri-ma dan dapat dikeluarkan per Konsil. Diharapkan naskah ini sinergi dengan UU Dikdok.

Pandangan Prof. Errol disanggah DR. Dr Sukman T. Putra, SpA(K), FACC, FESC. Menurut Dr. Sukman, jenjang pe-ndidikan itu mesti melihat tingkat kom-petensinya. Pendidikan subspesialis memiliki kompetensi berbeda dengan spesialis. ”Pendidikan subspesialis berbeda dengan spesialis karena kom-petensi berbeda,” ujarnya.

Pendapat Dr. Sukman didukung Dr. Ratna. Dekan FKUI ini mengatakan pendidikan subspesialis merupakan pendidikan berkelanjutan yang mesti diformalkan agar mutunya terjamin dan melindungi dokternya. “Jadi jangan di-katakan pendidikan subspesialis cuma sekeranjang dari spesialis. Tapi ini ada-lah pendidikan berkelanjutan yang me-mang dibutuhkan. “Meme-mang KKI tidak memiliki faham yang sama dengan fa-kultas,” tandasnya. (HI)

R

aibnya pasal tentang pendidikan

subspesialis membuat geram institusi pendidikan, tak terke-cuali Fakultas Kedokteran Univer-sitas Indonesia. Dekan FKUI Dr. Ratna Sitompul, SpM (K) beser ta jajarannya menyambangi Komisi X DPR untuk melaksanakan Rapat Dengar Pendapat Umum pada 2 Februari 2012.

Pada RDPU itu, selain dari FKUI ha-dir pula dari panja pemerintah yang ter-diri dari Dikti, IDI, dan KKI, dan panja DPR. Rapat yang dipimpin Ketua Komi-si X Prof. Dr. Mahyuddin, SpOG men-dengarkan masukan dan saran dari De-kan FKUI. Dr. Ratna mengataDe-kan jen-jang pendidikan subspesialis harus di-masukan dalam UU Pendidikan Kedok-teran. Pasalnya, hal tersebut merupa-kan amanat yang terdapat dalam bebe-rapa regulasi seper ti UU Praktik Kedok-teran tahun 2004, UU Sisdiknas tahun 2003, sesuai dengan Sistem Kesehat-an Nasional 2009, ser ta beberapa re-gulasi lain. “Dari rere-gulasi sebelumnya pendidikan subspesialis mesti ada dan masuk dalam UU Dikdok,” tegas Dr. Ratna.

Dalam SKN misalnya, Dr. Ratna mencontohkan, disebutkan bahwa pe-layanan kesehatan terselenggara seca-ra berjenjang mulai dari primer, sekun-der dan tersier. Setiap jenjang dilaksa-nakan oleh tenaga medis yang sesuai dengan kemampuan dan kompetensi-nya. Untuk itu, pelayanan tersier hanya dapat dilakukan oleh dokter subspe-sialis.

Dari sisi pendidikan, tenaga subsialis merupakan tenaga pendidik spe-sialis. Hal tersebut telah ter tuang da-lam UU Tentang Guru dan Dosen tahun 2005 dan UU Sisdiknas tahun 2003. Disana dikatakan bahwa lulusan dokter spesialis merupakan tenaga didik un-tuk calon dokter, lulusan dokter sub-spesialis adalah tenaga didik untuk ca-lon dokter spesialis dan subspesialis.

Institusional Base VS

Hospital Base

Sesuai dengan Keputusan Majelis Wali Amanat UI tahun 2009 yang me-nyatakan Universitas Indonesia

mem-Dekan FKUI DR. Dr. Ratna Sitompul, SpM(K):

Pendidikan Subspesialis

Mesti Diformalkan

dan Terstruktur

Prof.Dr. Bambang Supriyanto, SpA(K), DR.Dr.Zulkifli Amin, SpPD, K-P, DR.Dr.Iman Subekti, SpPD,K-EMD, Dekan FKUI DR. Dr. Ratna Sitompul, SpM, Prof.Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, DR.Dr.Siti Setiati, SpPD, K-Ger, DR.Dr. Sukman T. Putra, SpA dan DR.Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH

Rapat dengar pendapat umum RUU Dikdok, FKUI bersama Komisi X DPR dan panja pemerintah di ruang sidang komisi X, Senayan.

SOROT UTAMA

Tarik ulur

pembahas-an jenjpembahas-ang

pendidik-an subspesialis cukup

alot. Meski tidak

di-akui KKI, secara

de

facto

fakultas

kedok-teran telah

menye-lenggarakan

pendi-dikan subspesialis.

Kenapa institusi

pen-didikan tidak boleh

menyelenggarakan

pendidikan

subspe-sialis. Memang KKI

tidak memiliki faham

yang sama dengan

fakultas.

DOK. P

(9)

T

enggat waktu Rancangan Undang-Undang Pendidikan Kedokteran tinggal hitungan hari. RUU Dikdok ini mesti masuk dalam rapat pleno DPR pada 29 Maret 2012. Namun materi yang tersusun masih mengun-dang perdebatan. Menurut Ketua Komi-si X DPR Prof. Dr. Mahyuddin, NS, SpOG dari 540 masalah yang sudah terselesaikan 300 masalah. Masih ada 240 masalah yang masih dalam pem-bicaraan. Diantaranya adalah tentang jenjang pendidikan subspesialis. “Pen-didikan kedokteran berbeda dengan pendidikan profesi lain. Oleh karena itu DPR berinisiatif menggagas UU ini,” ka-ta Prof. Mahyuddin pada Seminar RUU

Pendidikan Kedokteran di aula FKUI, 24 Februari 2012.

Prof. Mahyuddin bersama panja DPR lainnya mendapat asupan soal pendi-dikan dari pakar yang hadir acara itu. Seminar yang diketuai oleh DR. Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid ini mengundang pembicara dari berba-gai institusi kedokteran, seper ti Sekre-taris Jenderal AIPKI DR. Dr. Ratna Si-tompul, SpM, Ketua MPPK IDI Prof.Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, FINA-SIM, Panja Pemerintah Prof. DR. Dr. Ak-mal Taher, SpU, Ketua Pendidikan Sub-spesialis Depar temen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM DR. Dr. Sukman T. Putra, SpA, Dekan FK Unsri Palembang

Dr. H.M Zulkarnain, MMed, ScPKK dan Panja DPR Prof. Mahyuddin, SpOG.

Dr. Ratna mengatakan jenjang pen-didikan subspesialis telah terselengga-ra di bebeterselengga-rapa fakultas kedokteterselengga-ran di Indonesia. Tenaga-tenaga subspesialis ini merupakan kebutuhan fakultas yang akan menjadi pengajar pada jenjang spesialis. Untuk itu, tenaga konsultan ini mesti diatur baik jumlah maupun

mutunya oleh institusi pendidikan. “Penjaminan mutu subspesialis harus dilakukan oleh institusi pendidikan yang telah terstandar,” tegasnya.

Salah satunya adalah FK Universitas Sriwijaya, Palembang yang telah me-nyelenggarakan pendidikan subspesia-lis. Menurut Dr. Zulkarnain, hal terse-but sesuai dengan UU Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang standar pendidikan. “Baik dokter umum, spesialis, subspe-sialis secara berjenjang diselenggara-kan oleh perguruan tinggi agar mutu pendidikannya terjamin,” ujarnya.

Pendapat Dr. Zulkarnain senada de-ngan DR. Dr. Sukman T. Putra, SpA. Menurut DR. Sukman jenjang pendi-dikan subspesialis dapat disetarakan dengan jenjang akademik doktor de-ngan beberapa penambahan bidang studi yang diambil. Oleh karena itu, tambah Dr. Sukman, sejatinya pendi-dikan kedokteran dalam berbagai jen-jang merupakan pendidikan formal, bu-kan non formal.

Dengan demikian, ada penjaminan mutu yang akan berimplikasi pada pe-layanan kesehatan. Menurut Prof. Ak-mal pelayanan yang baik di rumah sakit pendidikan mencerminkan proses pen-didikan yang baik. Oleh karena itu, Prof. Akmal mengusulkan agar dalam UU Pendidikan Kedokteran perlu diinte-grasikan rumah sakit pendidikan de-ngan fakultas kedokteran. “Dari berba-gai penelitian, tidak diragukan lagi inte-grasi antara rumah sakit dengan insti-tusi pendidikan akan membangun sis-tem pelayanan kesehatan yang opti-mal,” ujar Direktur Utama RSCM ini.

Pelayanan kesehatan yang baik di era globalisasi ini merupakan tuntutan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Prof. Zubairi Djoerban mengatakan hendak-nya Undang-Undang Dikdok ini juga memper timbangkan kompetensi-kom-petensi kesehatan global. Dengan begi-tu, mahasiswa kedokteran akan dibe-kali kompetensi tersebut yang nantinya dapat menjawab tantangan di era kese-hatan global ini. (HI)

9

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

Pelayanan yang baik

di rumah sakit

pen-didikan

mencer-minkan proses

pen-didikan yang baik.

Penjaminan mutu

subspesialis harus

dilakukan oleh

insti-tusi pendidikan yang

telah terstandar

Para pembicara pada Seminar RUU Pendidikan Kedokteran di aula FKUI.

SOROT UTAMA

Seminar RUU Pendidikan Kedokteran-FKUI

UU Pendidikan Kedokteran

Mesti Bisa Menjawab

Tantangan Global

Ketua Komisi X DPR Prof. Dr. Mahyuddin, NS, SpOG.

Prof. DR. Dr. Akmal Taher, SpU.

FOT

O-FOT

O: DOK. P

(10)

PROFIL

10

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

T

ahun 2011 lalu, Prof. Dr. Nuzir-wan Acang SpPD, K-HOM, FINA-SIM memasuki usia pensiun. Ta-pi, momen tersebut ternyata ti-dak mampu membuat aktivitas-nya terhenti. Meski telah pensiun, FK Universitas Andalas Padang tetap me-minta Prof. Acang untuk membaktikan tenaga, waktu, dan pikirannya.

Untunglah, fisik dan stamina Prof Acang mampu memanipulasi usianya. Di usia lebih dari 65 tahun, ia masih segar menjalankan kegiatannya. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Program Studi PPDS Konsultan Bagian Penyakit

Dalam FK Unand. Di organisasi, ia adalah penasehat PB PAPDI, Ketua Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia Cabang Padang, Wakil Ketua PMI Wilayah Sumbar, dan Wakil Ketua I PP Perhimpunan Hematologi dan Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia.

Kesibukannya baik di profesi mau-pun organisasi, menurutnya telah bia-sa dilakukan. Dan, Prof. Acang tidak merasa terbebani dengan jadwal yang padat. "Disiplin adalah kuncinya," ujar-nya. Dengan disiplin, ia justru merasa bebas sesibuk apapun.

Hal yang sama berusaha ia tanam-kan di lingkungan kerjanya. Prof. Acang dikenal tegas dalam menjalankan ko-mitmen yang telah ditetapkan bersa-ma. Pernah suatu ketika ada staf yang tidak masuk selama tiga kali ber

turut-turut, maka Prof. Acang tidak segan memberikan teguran hingga sanksi. "Semua untuk kebaikan bersama. Ka-rena jika tetap seper ti itu akan meng-ganggu yang lain, yang sudah disiplin," ujar pria kelahiran 11 Juli 1946 ini.

Di sisi lain, Prof. Acang tidak segan memberikan reward, misalnya dengan mengajak staf ikut ser ta jika Prof Acang harus ke luar kota. "Meski tidak ada dana, saya coba usahakan," ujar-nya. Selain stafnya dapat melihat ritme kerja di tempat lain, ke luar kota, mi-salnya ke Jakar ta, juga akan memberi-kan suasana yang berbeda dengan

ru-tinitas sehari-hari.

Dengan disiplin itu pula ia menjalankan

aktivi-tasnya yang lain, yaitu sebagai Manager PIU Pembangunan University Hospital Universitas Andalas Padang. Project ini merupakan bagian dari proj-ect pemerintah di bawah super visi DIKTI yang pada saat yang sama dia-manatkan kepada FKUI, FK

UNS, dan FK Unand. "Sekarang sedang da-lam tahap pre de-sain," ujarnya. Prof Acang menggambarkan nantinya desain harus

mampu mengakomodasi kebutuhan baik untuk pendidikan maupun peneliti-an disamping untuk pelaypeneliti-anpeneliti-an.

Prof. Acang mengatakan ia tidak kua-sa menolak ketika diminta oleh Rektor

Unand untuk menjalankan amanat seba-gai Manager PIU dalam membangun uni-versity hospital untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian di Unand. Pa-dahal saat itu, Prof Acang sudah hampir memasuki usia pensiun. Menurutnya, untuk urusan pendidikan, ia akan selalu menyediakan waktu dan tenaganya.

Motivasi untuk mengembangkan pendidikan pula yang mendorongnya memasuki depar temen penyakit dalam ketika ia lulus dari Unand tahun 1973. Saat itu, Unand masih sangat kekuran-gan staf pengajar dan bidang ilmu penyakit dalam menarik minatnya. "Begitu lulus, saya langsung mengikuti pendidikan," ujarnya. Selama 8 tahun ia menjalani pendidikan penyakit dalam tidak hanya di Padang, melainkan juga di Jakar ta. "Saya menjalani pendidikan di sub-bagian jantung, metabolik-endokrin dan ginjal di FKUI," katanya.

Usai menyelesaikan pendidikan pe-nyakit dalam, Prof Acang menjalani pendidikan di bidang penyakit tropik infeksi. Namun bidang hematologi saat itu urgent membutuhkan staf, sehingga

Prof. Dr. Nuzirwan Acang SpPD, K-HOM, FINASIM bersama keluarga

usai mendapatkan diploma di bidang penyakit tropik dan infeksi di Bangkok, Thailand pada tahun 1979, Prof. Acang mendalami bidang hematologi.

Untuk lebih menyelami ilmunya, Prof Acang mengambil pendidikan kemotera-pi di Paris Perancis pada 1995 dan Vie-na Austria pada 2005.

Disiplin Sejak Belia

Prof. Acang mengenang, sosok yang mendorongnya untuk memasuki dunia medis adalah ibunda. Sang ibu, adalah seorang bidan di jaman pendudukan Belanda. Prof . Acang yang merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara diminta ibunya untuk menjadi dokter, karena anak per tama lebih ter tarik menekuni teknik.

Dari ibunya pula, pendidikan disiplin itu ditanamkan dalam keluarga Prof. Acang. "Mungkin karena ibu saya hasil didikan Belanda, maka ia mendidik ka-mi dengan cara Belanda juga," ujarnya. Sejak bangun tidur pagi hari, setiap anak harus mengerjakan kewajiban

un-Tak heran jika jiwa seni begitu lekat pada

puteranya. Prof. Acang sewaktu muda,

adalah seorang pemusik. Ia di Kota

Bukittinggi Sumatera Barat bahkan memiliki

grup musik yang kerap diundang saat ada

hajatan di kampung.

Prof. Dr. Nuzirwan Acang SpPD, K-HOM, FINASIM

Antara Medis,

Musik, dan

Adat Minang

Antara Medis,

Musik, dan

Adat Minang

(11)

PROFIL

tuk sekolah maupun pekerjaan rumah. Sang ayah pun tak kalah keras dalam mendidik anak yang menekankan agar bekerja giat, berbuat yang terbaik bukan semata hanya mengharapkan sesuatu. Meski keluarganya tidak kekurangan da-lam sisi materi, sang ayah tidak mento-lerir jika anaknya hidup berleha-leha.

Prof . Acang menjalankan apa yang ditanamkan kedua orang tuanya. Tak heran jika Prof. Acang dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan. Namun ia menekankan, ia tidak pernah mengha-rapkan suatu kedudukan. Bahkan keti-ka ia diminta untuk menjadi Wakil Di-rektur Administrasi dan Keuangan RS Dr. M. Djamil Padang pada 1999, ia sempat menolak. Namun karena direk-tur periode sebelumnya juga direk-turut me-minta Prof. Acang membantu, ia pun tak kuasa menolak.

Disiplin dan kerja keras pula yang ia terapkan pada kedua anaknya, Ikhsan Perdana, Bc. Hon. Music Engineer dan Fikrian Hadi, S.T. Tidak seper ti dirinya yang diminta untuk menekuni dunia medis, Prof. Acang membebaskan put-eranya untuk memilih bidang yang disukai. Dan, tak satupun yang terjun di dunia medis.

Putera kedua Prof Acang telah lulus dari ITB. Dan yang unik, putera per ta-ma justru memilih melanjutkan sekolah musik di Malaysia dan kini menjadi komposer musik di Kuala Lumpur.

Meski awalnya kaget karena putera per tamanya menggeluti hobi bermusik-nya, Prof. Acang dan istri tidak mampu berbuat apa-apa. Sampai suatu ketika, ia dan istri diundang ke Malaysia untuk menonton per tunjukan anaknya. Ter-nyata, istrinya sedemikian terpukau mendengar hasil kar ya anaknya. Usai per tunjukan, istrinya menangis sambil berkata, "Mama rela Pa, mama seka-rang rela ia memilih musik."

Sebenarnya, tak heran jika jiwa seni begitu lekat pada puteranya. Prof. Acang sewaktu muda, adalah seorang pemusik. Ia di Sumatera Barat bahkan

memiliki grup musik yang kerap diun-dang saat ada hajatan di kampung.

Perhatiannya di luar dunia medis, ki-ni tercurahkan pada kampung hala-mannya Koto Gadang. Sekitar 8 tahun lalu, Prof. Acang diangkat sebagai "Da-tuk", tetua di antara kerabat di kam-pungnya. Selain ber tanggung jawab pa-da masalah kemasyarakatan sukunya, ia juga harus menjaga adat istiadat kampungnya. Dan soal adat istiadat ini menjadi titik perhatiannya.

Bicara soal adat, Prof. Acang mengi-sahkan, salah satu upaya agar adat is-tiadat tetap lestari adalah dengan perni-kahan yang kedua mempelai berasal dari daerah yang sama. "Ketika seseo-rang menikah dengan oseseo-rang lain daerah,

kecil kemungkinan ia akan selalu kem-bali ke kampung halaman, termasuk un-tuk melestarikan pusaka adat," ujarnya. Meski demikian, ia tak akan me-maksakan adat Siti Nurbaya pada ke-dua puteranya yang belum menikah. "Sekarang sudah bukan jamannya," ujarnya. Tapi, perkawinan orang tua pa-da jaman pa-dahulu, meski dijodohkan, banyak yang masih langgeng. "Mungkin karena kami tidak banyak menuntut apa-apa dan saling menerima pasang-an kami," ujar Prof. Acpasang-ang. "Istri saya misalnya, menerima saya dengan kesi-bukan saya, dan saya sepenuh hati menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istri saya."

Prof Acang kini tengah membuat

buku mengenai adat istiadat Kotoga-dang termasuk tata cara menjalankan adat, seper ti menyelenggarakan perni-kahan atau upacara kematian. Prof Acang memiliki tim untuk mengumpul-kan data dan riset. Ia sendiri lebih ber-peran sebagai editor. "Sejauh ini sudah rampung 2 buku," ujarnya. Buku terse-but akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. "Malu saya jika sampai mereka tidak paham (adat istiadat)," ujar Prof Acang.

Bagi Prof Acang semua yang dila-kukannya kini lebih merupakan amal ibadah sebagai bekal kehidupan selan-jutnya. "Semuanya Lillahi Ta'ala," ujar Prof Acang. Dan ia tampak menikmati waktu dan kesibukannya. (HI)

11

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

PAPDI Store menyediakan pernak-pernik

dengan berlogokan PAPDI. Merchandise

ini untuk mensosialisasikan logo PAPDI

sebagai suatu merek yang telah

dipaten-kan, di kalangan sejawat, terutama

inter-nis. Dengan begitu

semoga PAPDI lebih

dekat lagi di hati

anggotanya.

Untuk pemesanan

Hubungi

(021) 2300818

PAPDI

Merchandise

Workshop: Penatalaksanaan Nyeri Kanker

No. Cabang Tanggal

1 Sumatera Utara 10 Maret 2 Makassar Tbc 3 Pekanbaru Tbc 4 Denpasar Tbc 5 Palembang 17 Maret 6 Padang 24 Maret 7 Jakarta Raya 31 Maret 8 Semarang 7 April 9 Jawa Barat 14 April 10 Surabaya 21 April 11 Malang 19 Mei 12 Solo 15 Sept. 13 Banten 29 Sept. 14 Bekasi 13 Oktober 15 Pontianak 20 Oktober

Workshop: Comprehensive Management of

Lipid Disorders And Hypertension in Daily

Practice

No Cabang Tanggal 1 Jakarta 10 Maret 2 Medan 14 April 3 Bandung 5 Mei 4 Solo 9 Juni 5 Palu 16 Juni 6 Banjarmasin 7 Juli 7 Bandarlampung 15 Sept 8 Pekanbaru 6 Okt

Workshop: Nutrisi

No. Cabang Tanggal

1 Bogor 31 Maret – 1 April 2 Sumatera Barat 26 – 27 Mei 3 Kupang 20 – 21 Oktober

Workshop: Update on Rheumatology 2012

No Cabang Tanggal 1 Surabaya 5 Mei 2 Denpasar 14 April 3 Makasar 17 Maret 4 Palembang 9 Juni 5 Pekanbaru 14 Juli

Workshop: Controling All Key BP Parameters:

The Next Big Target in Hypertension

No Cabang Tanggal 1 Jakarta 3 Maret 2 Surabaya 18 Maret 3 Medan 28 April 4 Bali 9 Juni 5 Pontianak 19 Mei

Workshop: Comprehensive Management of

Nausea-Vomiting & Acid Related Diseases

No Cabang Tanggal

1 Surabaya 21 April 2 Sumatera Utara 5 Mei 3 Yogyakarta 2 Juni

*Jadwal dapat berubah bila diperlukan

(12)

karena kasus-kasus emergensi di rumah sakit yang merupa-kan kompetensi pe-nyakit dalam besar sekali. EIMED ini se-moga bisa dilaku-kan di daerah-daerah, sehingga internis di daerah dapat meningkatkan kemam-puannya di bidang ini. EIMED yang per-tama di dunia.

Dr. R. Bowo Pramono, SpPD,

K-EMD,

dari PAPDI Cabang

Yogyakarta

EIMED mempermu-dah memahami emergensi penyakit dalam. Modul-mo-dul EIMED dapat diterapkan di

pusat-S

etelah sukses meluncurkan buku

EIMED (Emergency in Internal Me-dicine) PAPDI, PB PAPDI melanjut-kan program kegawatdaruratan pe-nyakit dalam ini dengan mengadakan workshop “Pelatihan Narasumber EI-MED PAPDI” pada 17-19 Februari 2012 di Hotel Harris, Jakarta. Pelatihan ini di-ikuti oleh para tutor dari seluruh cabang PAPDI di Indonesia. “Pada acara ini se-ngaja kita memilih sejawat dari tiap-tiap cabang yang ada, agar nantinya bisa membantu workshop ke daerah-dae-rah,” ujar Koordinator EIMED Dr. Bam-bang Setyohadi, SpPD, K-R.

Program ini, lanjut Dr. Bambang, akan dilanjutkan dengan penerbitan bu-ku jilid dua dan tiga yang disertai de-ngan pelatihan EIMED bagi internis dan dokter umum. “EIMED menjadi standar kegawatdarurutan ilmu penyakit dalam. Kelebihan EIMED materinya telah dise-suaikan dengan kondisi dan kasus-sus yang sering terjadi di Indonesia,” ka-tanya

Dr. Haerani Rasyid, SpPD,

K-GH, FINASIM,

dari PAPDI

Ca-bang Makassar, Sulawesi Selatan

EIMED ini penting sekali karena ka-sus-kasus emer-gensi penyakit da-lam cukup besar, sekitar 40 persen. Seorang internis ha-rus meningkatkan kompetensi ini, se-hingga kasus-kasus emergensi penyakit dalam dapat ditangani oleh internis, bu-kan bidang lain bubu-kan kompetensinya. Workshop seperti ini bermafaat sekali sebaiknya dapat dilakukan berkala, mi-nimal 2 kali setahun.

Dr. Samuel Maripadang

Baso, SpPD, FINASIM,

dari

PAPDI Cabang Tanah Papua

Kegawatdarurutan penyakit dalam su-dah lama dipikirkan. Baru periode Dr. Aru bisa berjalan. Ini merupakan hal penting

DOK. HI

12

Halo Internis

Q

Edisi 20

Q

Maret 2012

pusat pendidikan karena materinya cu-kup up to date dan dibuat oleh ahlinya. EIMED dapat setara dengan ACLS, jadi dokter umum dapat mengambil work-shop ini.

Dr. C. Singgih Wahono, SpPD

dari PAPDI Cabang Malang

EIMED dapat men-jawab kebutuhan kami dalam mena-ngani kasus-kasus emergensi penyakit dalam yang cukup dominan di rumah sakit. Program ini mesti dibuat standarnya dan dilakukan terjadwal terutama ke daerah-daerah. Seorang internis harus memiliki skill ini, ia harus bisa dan lebih bisa menangani pasien-pasien emergensi. (HI)

KABAR PAPDI

I

lmu kedokteran merupakan perpadu-an ilmu pengetahuperpadu-an alam dperpadu-an ilmu pengetahuan sosial. Keputusan me-dis yang didasari ilmu kedokteran berimplikasi terhadap kehidupan pa-sien. Keputusan medis ditetapkan se-cara profesional dengan memperhati-kan kondisi pasien. Bahmemperhati-kan dokter di-tuntut dapat mengambil tindakan me-dis dikala konme-disi emergensi. Tentu ini bukan perkara mudah, mengambil ke-putusan yang tepat di tengah waktu yang sempit. Salah-salah nyawa pasien taruhannya.

Namun seorang internis tak bisa le-pas dari le-pasien gawat darurat. Berkait-an hal tersebut, PB PAPDI mengakomo-dasi kebutuhan internis dengan mener-bitkan buku Emergency in Internal Me-dicine (EIMED) PAPDI sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi ang-gotanya dalam menangani kasus-ka-sus kegawatdaruratan penyakit dalam. “Kami (PAPDI) berharap internis dapat lebih baik memberikan pelayanan emergensi dan tidak menolak pasien

emergensi,” kata Dr. Bambang Setyo-hadi, SpPD, K-R, FINASIM, salah satu editor EIMED PAPDI.

Buku Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI bukan sekadar mem-perkaya khazanah literatur kedokteran di Indonesia, namun juga menjawab kebutuhan para dokter, terutama in-ternis dalam menghadapi kasus-kasus kegawatdaruratan medik. Berbeda den-gan referensi kegawatdaruratan lain, EIMED PAPDI adalah buah karya 50 pakar-pakar ahli penyakit dalam di In-donesia. Kasus-kasus

kegawatdarurat-an penyakit dalam, termasuk kardiologi dan paru, dibahas secara paripurna. Lebih menarik lagi, buku ini bukan saja membekali internis ketika menerima pasien emergensi di rumah sakit, tapi juga memberi penjelasan basic life sup-port seperti resustasi jantung dan paru agar mampu menghadapi kasus emer-gensi di prehospital, termasuk pada kegawatdaruratan saat bencana alam.

Buku terbitan Interna Publishing ini disuguhkan secara sistematis dan

mu-dah dipahami. Dengan begitu, diharap-kan dapat membantu internis meng-ingat kembali materi-materi kegawatda-ruratan yang pernah diperoleh saat menjadi residen. EIMED PAPDI ini diba-gi menjadi tiga jilid. Pada jilid per tama, mengenai EIMED dasar dan kegawat-daruratan penyakit dalam ditinjau dari

gejala-gejala yang dirasakan pasien pa-da waktu pa-datang ke unit gawat pa-darurat. Jilid kedua mengenai kegawatdarurat-an ditinjau dari pendekatkegawatdarurat-an penyakit, dan jilid ketiga membahas prosedur dan tindakan dalam kegawatdaruratan penyakit dalam.

Serupa dengan ACLS atau ATLS, ta-pi EIMED dirancang sebagai panduan untuk mempelajari kegawatdaruratan penyakit dalam. Layaknya suatu buku, EIMED PAPDI mengacu pada standar

prosedur emergensi nan ideal, namun aplikasinya dapat dit-erapkan untuk kondisi di Indonesia. Untuk lebih memahami penerapan kegawatdaruratan, PB PAPDI menga-dakan kursus kegawatdaruratan sela-ma tiga hari. Kursus ini terdiri dari empat modul yang akan mengulas berbagai kasus kegawatdaruratan yang kompleks bersama para pakar dibidan-gnya. “Kita akan mendiskusikan kasus-kasus yang rumit. Dan kita akan mem-buka wawasan internis bagaimana menangani kegawatdaruratan pada prehospital. Bukan hal yang tidak mungkin internis turun dalam prehos-pital atau bencana,” ujar Dr. Bambang. Berkaitan dengan pelatihan EIMED, Dr. Bambang mengatakan PAPDI semen-tara akan menyelenggarakan Training of Tranee (TOT) EIMED, pada 17-19 Fe-bruari 2012.Buku EIMED jilid pertama sudah terbit Oktober 2011 lalu. Jilid per-tama terdiri dari 50 bab yang ditulis oleh 50 pakar. Sementara jilid kedua dan ketiga masih dalam proses penulisan. Seiring dengan perkembangan ilmu ke-dokteran, PAPDI akan selalu memperba-harui isinya. Dan PAPDI terbuka atas sa-ran atau kritik untuk kesempurnaan bu-ku ini. Dengan begitu, diharapkan inter-nis memiliki kompetensi yang lebih baik dalam menangani kasus-kasus emer-gensi yang mengancam keselamatan jiwa pasien di negeri ini. (HI)

Seorang internis dituntut mampu berlomba

dengan waktu dalam menentukan keputusan

medis bagi pasien emergensi. Menghasilkan

keputusan tepat dan cepat di tengah waktu

yang ketat merupakan perkara sulit. PB PAPDI

menjawabnya dengan menerbitkan buku

EIMED dan pelatihan kegawatdaruratan.

Buku Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI:

Bangkitkan

Sense Of

Emergency Internis

Dr. Bambang Setyohadi, SpPD, K-R, FINASIM, salah seorang editor EIMED PAPDI

TOT EIMED PAPDI:

Mengasah Kompetensi Emergensi

Penyakit Dalam

Suasana workshop “Pelatihan Narasumber EIMED PAPDI”.

FOT

O-FOT

Referensi

Dokumen terkait

Setelah organ-organ reproduksi istirahat selama 24 bulan atau selama 2 tahun, maka diharapkan semua organ –organ reproduksi ibu akan kembali seperti sebelum

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Priya, Swati, dan Vilasrao (2013), bila karbon tetraklorida dengan dosis 2,0 mL/kg diberikan secara intraperitonial pada tikus

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhana Wata’ala atas rahmat yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis yang

 Industri otomotif di India mulai berkembang pesat pada tahun 2012 setelah terjadi urbanisasi, pertumbuhan pembangunan infrastruktur jalan, meningkatnya pendapatan,

A. Jika anak diminta menghitung banyaknya roda mobil pada gambar dan dituliskan dalam tahap simbolis bentuk singkat, adalah …. Gambar berikut ini dapat digunakan untuk

Sebuah masyarakat tidak akan lepas dari unsur kebudayaan, baik dari cerminan karakteristik dari masyarakat tersebut ataupun sebagai sebuah

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam menulis cerita fantasi dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran menulis mempunyai potensi yang baik dalam

Modul Kimia berbasis teaching factory pada materi redoks terintegrasi kompetensi keahlian Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur memiliki karakteristik yaitu disusun