• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK KESULITAN BELAJAR DI KELAS RENDAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK KESULITAN BELAJAR DI KELAS RENDAH"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS

PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP MEMBACA

PERMULAAN PADA ANAK KESULITAN BELAJAR DI KELAS RENDAH

Diajukan kepada Universitas Negeri Surabaya

untuk Memenuhi Persyaratan Penyelesaian

Program Sarjana Pendidikan Luar Biasa

Oleh:

Oleh :

EDY TAMA KURNIAWAN

NIM: 12010044207

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

(2)

PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF TERHADAP MEMBACA

PERMULAAN PADA ANAK KESULITAN BELAJAR DI KELAS RENDAH

Edy Tama Kurniawan dan Asri Wijiastuti

Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya, ta5_kurniawan@yahoo.co.id

Abstract

Beginning reading ability was one of the basic aspects in reading which had to be mastered by every child. Beginning reading ability to the difficulty learning children could be developed using interactive multimedia. An interactive multimedia was learning media which could stimulate the user to be active through the sense organs by involving optimally the children’s ability about the material in reading.

The purpose of this research was to prove the influence of interactive multimedia toward beginning reading to difficulty learning children in SDN Banjaranyar II Kras Kediri. The subject of this research was difficulty learning children of class I numbering 6 children. This research used quantitative method with pre-experiment design arrangement and one group pre-test post-test design kind. The data was collected by test technique. The technique of data analysis used statistic non parametric with wilcoxon match pair test.

The research result indicated that there was influence of interactive multimedia toward beginning reading to difficulty learning children in low class. It was seen from the research result which indicated that zh = 2,20 > zt = 1,96 which meant that “there was significant influence of interactive multimedia toward beginning reading to difficulty learning children in low class”.

Keywords: Beginning reading, interactive multimedia

PENDAHULUAN

Membaca merupakan pintu gerbang pengetahuan. Dengan membaca maka akan dapat mengetahui perkembangan dunia, karena berbagai informasi bisa didapat melalui membaca.

Adanya perkembangan informasi yang begitu pesat maka kita dapat mengusai berbagai bidang, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa membaca merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Menurut Abdurrahman (2010:157) menyatakan bahwa membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh semua anak karena melaui membaca anak dapat belajar banyak tentang berbagai bidang studi. Perkembangan teknologi di era globalisasi dan modern seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang sangat pesat dibergagai bidang yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi menuntut individu terus meningkatkan keterampilan membaca. Sebagaimana dalam Farida Rahim (2008:1) menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar membaca.

Oleh karna itu, membaca merupakan kemampuan yang harus diajarkan sejak anak masuk SD bahkan pra sekolah dan bagi anak yang mengalami kesulitan belajar harus secepatnya diatasi. Kesulitan dalam proses membaca dapat mengakibatkan anak mengalami hambatan dalam penerimaan informasi. selain hal itu ketidakmampuan dalam proses membaca dapat dikatakan anak mengalami kesulitan belajar. Selanjutnya

ketidak mampuan dalam proses membaca permulaan dapat mengakibatkan anak mengalami hambatan dalam menerima informasi. Selain itu ketidakmampuan dalam proses kegiatan membaca dapat dikatakan anak kesulitan belajar. Dan jika ada anak mengalami kesulitan belajar maka akan sangat berpengaruh terhadap hasil tercapainya prestasi akademik anak tersebut. Hal itu tidak hanya berdampak pada kognitif anak, tapi juga akan berpengaruh pada psikologi anak. Akibatnya anak menjadi minder dan ketakutan ketika anak diberikan perintah yang berkaitan dengan membaca.

Anak kesulitan belajar membaca menunjukan karakteristik yang mencolok dibandingkan dengan anak pada umumnya. Abdurrahman (2012:162) anak kesulitan belajar membaca sering memperlihatkan kebiasaan membaca yang tidak sewajarnya, seperti sering memperlihatkan adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan, menunjukkan adanya perasaan tidak nyaman ditandai dengan prilaku menolak untuk membaca, menangis atau bahkan tidak mau belajar dan memilih keluar.

Berdasarkan pengamatan dan observasi awal di SDN Banjaranyar II Kras Kediri pada tanggal 21 Juli 2016, terdapat pada anak kelas rendah yang mengalami permasalahan membaca permulaan, dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya model pembelejaran yang inovatif atau penggunaan media pembelajaran yang menarik dan cocok untuk membantu anak dalam menunjang kegiatan belajar membaca. Media yang digunakan yaitu animasi multimedia interaktif. Konsep dari interaktif dalam pembelajaran paling erat kaitannya dengan media berbasis komputer. Lebih lanjut Munir

(3)

(2012:338) menyatakan bahwa gaya eksekusi pesan dalam multimedia yang sangat populer sekarang ini adalah animasi. Untuk menanggapi permasalahan dilapangan yang ditemukan maka diperlukan sebuah model, metode, atau pendekatan dengan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca anak kesulitan belajar.

Karena media pembelajaran yang berbasis animasi komputer menonjolkan unsur visualisasi atau gambar dan unsur audio atau suara. Hal ini menjadi penguat bagi anak kesulitan belajar, apa yang didengar anak akan dikuatkan oleh media visual (penglihatan), dan apa yang dilihat siswa dikuatkan oleh media audio (pendengaran). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitihan tentang pengaruh Multimedia Interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah. Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak melebar dari lingkup permasalahan yang dimaksud, maka diberikan batasan sebagai berikut: (1) Subjek pada penelitiaan ini adalah anak kesulitan belajar di kelas rendah dengan jumlah 6 anak yang mengalami kesulitan belajar. (2) Waktu penelitian ini terbatas pada 1 kali pre test, 10 Perlakuan dan 1 kali post test dan bertempat di SDN Banjaranyar II Kras Kediri. (3) Anak sudah mengenal huruf vocal dan sedikit huruf konsonan. (4) Materi dalam penelitian ini adalah membaca kata, membaca suku kata dan membaca kalimat sederhana. (5) Media pembelajaran dalam penelitian ini terbatas pada media pembelajaran berupa animasi multimedia interaktif (6) Penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan.

Manfaat secara teoritis dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan sumber informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan sumber informasi, bahwa permainan animasi dapat digunakan sebagai media yang dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak kesulitan belajar membaca. Manfaat Secara praktis penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan masukan dan bahan acuan bagi para guru dikelas rendah terutama dan bagi guru-guru yang lain untuk berkreasi dalam menggunakan animasi multimedia interaktif untuk meningkatkan membaca permulaan bagi anak kesulitan belajar di kelas rendah.

Asumsi merupakan anggapan dasar tentang satu hal yang dijadikan pijakan berfikir atau bertindak dalam permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mengasumsikan : (1) Anak kesulitan belajar mengalami gangguan dan hambatan dalam membaca terutama mengenal dan mengucapkan suku kata, kata maupun kalimat. (2) Multimedia interaktif yang digunakan adalah media Lexipal dan video interaktif yang artinya suatu permainan animasi edukatif yang merangsang dalam mengambangkan kemampuan membaca permulaan. (3) Anak kesulitan belajar meskipun mengalami hambatan dalam kemampuan membaca tetapi tetap harus dikembangkan kemampuan lain yang dimilikinya.

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan pre-eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-posttest design. Analisis menggunakan rumus

Wilcoxon Match Pairs Test. Subyek dalam penelitian ini adalah anak kesulitan belajar di SDN Banjaranyar II Kras Kediri dengan jumlah sampel 6 anak yang mengalami hambatan dalam membaca.

Tabel 3.1 sampel penelitian NO Nama Jenis Kelamin Hambatan 1. DAF L Mengalami hambatan dalam membaca 2. SW L Mengalami hambatan dalam membaca 3. MK L Mengalami hambatan dalam membaca 4. RAN L Mengalami hambatan dalam membaca 5. ZAD L Mengalami hambatan dalam membaca 6. RMM L Mengalami hambatan dalam membaca

Dalam penelitian ini terdapat variabel bebas yaitu Multimedia interaktif dan variabel terikat yaitu membaca permulaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang relevan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu (1) tes (2) Observasi (3) Dokumentasi. Oleh karena itu dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat dengan menggunakan lembar observasi.

Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data kuantitatif tersebut adalah: (1) Multimedia interaktif tentang pengenalan suku kata, pengenalan kata, dan pengenalan kalimat sederhana. (2) Materi pelajaran bahasa indonesia. (3) Soal pre test dan post test. (4) Kunci jawaban soal pre tes dan pos tes

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data statistik nonparametric. Dengan menggunakan analisis statistik dengan rumus Wilcoxon Match Pairs Test.

Rumus Wilcoxon Match Pairs Test (Sugiyono, 2013:136

(4)

Keterangan :

Z : Nilai hasil pengujian statistik Wilcoxon match pairs test

T : Jumlah jenjang/rangking yang kecil T : Mean (nilai rata-rata) =

T : Standar deviasi =

n : Jumlah sampel HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Multimedia Interaktif berpengaruh terhdap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah. Hal ini terlihat pada saat anak diperintah melakukan kegiatan membaca (membaca suku kata, membaca kata, dan membaca kalimat sederhana) menjadi lebih baik.

Hasil Pre Tes atau hasil sebelum anak diberikan perlakuan, yang bertujuan untuk menilai sampai dimana kemampuan anak tersebut.

Tabel 4.1. Hasil pre tes Membaca permulaan Anak Kesulitan Belajar di SDN Banjaranyar II kras Kediri N o. Nam a Mem baca suku kata Mem baca Kata Membaca Kalimat Sederhana Nilai 1. DAF 12 11 9 66,6 2. SW 11 9 7 56,2 3. MK 10 8 6 50 4. RAN 10 11 8 60,4 5. ZAD 12 10 9 64,5 6. RMM 11 10 9 62,5

Rata-rata jumlah nilai pretest 60,03 Keterangan:

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata pre tes 60,03 dengan nilai terendah 50. Kategori penilaian ini menentukan membaca anak berkembang atau tidak berdasarkan pada analisis menggunakan uji wilcoxon dan skala berdasarkan pendapat Purwanto (2004:112) adalah sebagai berikut: nilai < 60 dikatakan kurang sekali, 60-69 dikatakan kurang, 70-79 dikatakan cukup, 80-90 dikatakan baik, 90-100 dikatakan baik sekali. Jadi hasil membaca permulaan anak kesulitan belajar sebelum penerapan multimedia interaktif termasuk kategori kurang.

Hasil Pos Tes atau hasil setelah anak diberikan perlakuan, yang bertujuan untuk menilai sampai dimana kemampuan anak tersebut.

Tabel 4.2. Hasil post tes membaca permulaan pada anak Kesulitan belajar di SDN

Banjaranyar II Kras Kediri

No Nama Mem baca suku kata Mem baca Kata Membaca Kalimat Sederhana Nilai 1 DAF 16 14 12 87,5 2 SW 12 10 8 62,5 3 MK 11 9 8 58,3 4 RAN 13 12 9 70,8 5 ZAD 15 12 11 79,1 6 RMM 15 12 12 81,2

Rata-rata jumlah nilai pos tes 73,23 Keterangan:

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa rata-rata nilai pos tes 73,23. Kategori penilaian ini menentukan membaca anak berkembang atau tidak berdasarkan pada analisis menggunakan uji

wilcoxon dan skala berdasarkan pendapat Purwanto (2004:112) adalah sebagai berikut: nilai < 60 dikatakan kurang sekali, 60-69 dikatakan kurang, 70-79 dikatakan cukup, 80-90 dikatakan baik, 90-100 dikatakan baik sekali. Jadi hasil membaca permulaan anak kesulitan belajar sebelum penerapan multimedia interaktif termasuk kategori cukup. Rekapitulasi Hasil Pre Tes dan Hasil Pos Tes. Rekapitulasi ini dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan tingkat membaca permulaan sebelum diberikan perlakuan dan sesudah diberikan perlakuan. Sehingga dapat diketahui ada atau tidak pengaruh multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar dikelas rendah. Berdasarkan hasil tes, maka diperoleh rekapitulasi hasil pre tes-pos tes sebagai berikut :

Tabel 4.3. Rekapitulasi hasil pre tes dan pos tes membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di SDN Banjaranyar II Kras Kediri No Nama Sampel Pre Tes Pos Tes

1 DAF 66,6 87,5 2 SW 56,2 62,5 3 MK 50 58,3 4 RAN 60,4 70,8 5 ZAD 64,5 79,1 6 RMM 62,5 81,2 Rata-rata 60,03 73,23 Keterangan:

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil sebelum menggunakan multimedia interaktif diperoleh rata-rata nilai pre tes 60,03 dan setelah menggunakan

(5)

multimedia interaktif diperoleh nilai rata-rata pos tes 73,23.Hasil perbedaan nilai tersebut dapat digambarkan

pada grafik sebagai

berikut: 0 20 40 60 80 100

DAF SW MK RAN ZAD RMM

Pre tes Post tes

Hasil Analisis Data tentang Membaca Permulaan. Pada tahap ini peneliti memganalisis secara cermat data yang telah terkumpul dengan tujuan untuk menjawab permasalahan sekaligus menguji hipotesis. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik non parametrik dengan rumus Wilcoxon Match Pairs Test.

(1)Membuat tabel kerja perubahan nilai hasil membaca permulaan pada ank kesulitan belajar dikelas rendah. Adapun perubahan nilai dapat dilihat dalam tabel dibawah

Tabel 4.4. Tabel Penolong Perubahan Nilai Pre Tes dan Pos Tes Membaca Pada Anak kesulitan belajar di SDN Banjaranyar II Kras Kediri

N

o XA1 XB2

Beda Tanda Jenjang XB2 – XA1 Jenjang + - 1. 66,6 87,5 +20,9 6,0 6,0 0 2. 56,2 62,5 +6,3 1,0 1,0 0 3. 50 58,3 +8,3 2,0 2,0 0 4. 60,4 70,8 +10,4 3,0 3,0 0 5. 64,5 79,1 +14,6 4,0 4,0 0 6. 62,5 81,2 +18,7 5,0 5,0 0 Jumlah T = 21 0

(b) Perhitungan statistik dengan rumus yang digunakan untuk menganalisis adalah statistik non parametrik jenis

Wilcoxon Match Pairs TestData-data hasil penelitian yang berupa nilai pretest dan posttest yang telah dimasukkan di dalam tabel kerja analisis data diatas, kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus

Wilcoxon Match Pairs Test:

Keterangan:

Z: Nilai hasil pengujian statistik Wilcoxon match pairs test

T: Jumlah tanda terkecil

X: Jumlah jenjang/rangking yang kecil μT: Mean (nilai rata-rata) = n (n+1)

4

T: Simpangan baku =

n: Jumlah sampel

Adapun perolehan analisis data sebagai berikut: Diketahui n = 6 dan taraf kesalahan 5%, adalah sebagai berikut:

1.Mencari jumlah jenjang. (lihat tabel 4.4) Jadi T = 0 2. Mencari nilai μT = n (n+1 4 = 6 (6+1) 4 = 42 4 = 10,5 3. Mencari nilai T = = = = = = 4,77

4.Setelah mendapatkan hasil mean dan simpangan baku maka hasil tersebut dimasukkan dalam rumus

z = T - μT

T

z = 0 – 10,5 4,77 z = - 2,20

Perhitungan hasil analisis dengan wilcoxon dengan nilai kritis 5% pengambilan keputusan menggunakan pengujian dua sisi α 5%=1,96 adalah:

Ha diterima apabila Zhitung > Ztabel 1,96 Ho diterima jika Zhitung < Ztabel 1,96

(6)

Interpretasi Data

Hasil analisis data yang digunakan peneliti adalah statistic non parametric dengan menggunakan rumus uji

Wilcoxon Match Pairs Test, karena datanya bersifat kuantitatif yaitu dalam bentuk angka dan berbentuk oridinal, serta jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian relative kecil yaitu <30 sampel. Untuk membuktikan hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi “ada pengaruh multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah” tersebut diterima atau ditolak, maka hasil penelitian perlu dibandingkan dengan nilai kritis. Caranya yaitu membandingkan nilai tabel dengan nilai hitung yang terdapat pada kurva pengujian dua sisi. Taraf nilai kritis untuk α = 5% dengan ketentuan nilai kritis = ± Z ½ α = ± 1,96. Berikut perbandingan kurva pengujian dua sisi dengan nilai tabel dan nilai hitung:

Hasil analisis data di atas menunjukan Zh = 2,20 (nilai (-) tidak diperhitungkan karena harga mutlak) lebih besar dari nilai Z tabel dengan nilai kritis 5% (untuk pengujian dua sisi) =1,96 suatu kenyataan bahwa nilai Z yang diperoleh dalam hitungan adalah 2,20 lebih besar dari pada nilai kritis Z tabel 5% yaitu 1,96 (Zh > Zt) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti ”ada pengaruh multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar dikelas rendah”.

B. Pembahasan

Hasil penelitian mengenai kemampuan membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah berkembang cukup baik, hal ini dapat dilihat perbedaan hasil kemampuan anak sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberikan perlakuan menggunakan multimedia interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menggunakan multimedia interaktif dalam membaca permulaan diperoleh peningkatan nilai dari 60,03 menjadi 73,23. Berdasarkan hasil penelitian dengan memberikan multimedia interaktif dapat diperoleh Zh = 2,20 dan Zt = 1,96. Hasil analisis perhitungan Zh=2,20 lebih besar dari Z table, artinya post tes dengan menggunakan multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Berdasarkan hal tersebut di atas membuktikan bahwa terdapat pengaruh multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah. Selain itu membuktikan bahwa melalui multimedia interaktif dalam pembelajaran anak dapat mendapatkan pengalaman belajar yang mengasyikkan,

dengan menemukan hal-hal baru yang dapat meningkatkan kemampuan anak yang lainnya khususnya pada kemampuan dalam membaca permulaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Munawir (2005:168) Multimedia merupakan suatu media pengajaran multisensoris, Oleh sebab itu ada juga yang mengenalnya sebagai pendekatan multisensoris karena pengajarannya melibatkan banyak sensori.

Multimedia interaktif bisa diterapkan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah guna mengembangkan kemampuan membaca, karena multimedia interaktif ini dapat menstimulus kecenderungan gaya belajar yang di miliki anak kesulitan belajar yaitu penglihatan (visual), pendengaran (auditory), gerakan (kinestetik) dan perabaan (taktil) sehingga memudahkan anak dalam menangkap pembelajaran membaca yang diberikan dengan modalitas yang dimiliki.

Anak kesulitan belajar mengalami gangguan dalam membaca permulaan dan akan berakibat pada proses tahapan selanjutnya, pada SDN Banjaranyar II Kras Kediri terdapat enam anak yang mengalami gangguan dalam proses membaca permulaan yang berakibat pada ketercapaian proses akademik dibidang yang lain. Misalnya DAF yang paling signifikan dalam pengaruhnya yaitu sebelum perlakuan sudah dapat mengenal beberapa huruf atau mendapat nilai rata-rata 66,6 dan setelah penerapan menggunakan multimedia interaktif DAF mengalami perkembangan yang signifikan yaitu dengan mendapatkan niali 87,65. Pada saat setelah diberikan multimedia interaktif anak mampu melakukan instruksi yang diberikan dengan baik ketika mengoprasikan media tersebut, anak lebih bersemangat dan tertarik dengan pembelajaran yang diberikan. Dengan media yang telah dilakukan, membaca anak kesulitan belajar yang mencakup (membaca huruf, kata, membaca kalimat sederhana) menjadi lebih baik.

Sedangkan yang paling lambat perkembangan membacanya yaitu MK karena nilai rata-ratanya selalu terendah, nilai rata-rata sebelum perlakuan 50 dan setelah perlakuan 58,3. Selain itu mempunyai latar belakang pernah tidak naik kelas sekali. Sesuai dengan pendapat Burton (1952) (dalam Nursalim dkk(2007:155-156)) mengidentifikasi bahwa siswa dapat dianggap mengalami kesulitan belajar jika bersangkutan mengalami kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya.

PENUTUP Simpulan

Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa multimedia interaktif berpengaruh terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah tepatnya di SDN Banjaranyar II Kras Kediri. Dapat ditunjukkan bahwa +1,96 +2,20

Ho Diterima

(7)

Zh=2,20 lebih besar dari Zt 5% yaitu 1,96 (Zh > Zt), pada taraf kesalahan 5% yang artinya ada pengaruh yang signifikan multimedia interaktif terhadap membaca permulaan pada anak kesulitan belajar di kelas rendah. Saran

Saran bagi guru yaitu multimedia interaktif dapat bermanfaat, dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar dan menstimulus modalitas belajar yang dimiliki anak. Oleh karena itu, guru sebaiknya dapat mengembangkan berbagai metode dan media yang lebih kreatif lagi untuk mengembangkan kemampuan anak kesulitan belajar tidak pada bidang keterampilan membaca saja. Saran bagi Pada peneliti lain sebaiknya jika ingin mengadakan penelitian sejenis atau lanjutan, disarankan agar lebih diperdalam dan diperluas dari segi media serta metode yang akan diterapkan agar dapat melengkapi kekurangan dalam penelitian ini. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan potensi anak kesulitan belajar yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2012. Anak Kesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Arsyad, 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja

Grafindo Persada.

Bektiarso, Singgih. 2015. Strategi Pembelajaran.

Yogyakarta: LaksBang PRESSindo.

Faizi, Mastur. 2013. Ragam metode mengajarkan eksakta pada murid. Yogyakarta: DIVA Press Hamdayana, Jumanta. 2014. Model dan Metode

Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.

Huda, Miftahul. 2013. Model-model dan metode pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kelompok Guru Pembimbing Khusus dan Helen Keller

Internasional Indonesia. 2009. Asesmen Bahasa Indonesia dan Matematika untuk Anak dengan Kesulitan Belajar. Jakarta : USAID INDONESIA

Kewley, Geoff dan Latham, Pauline. 2010. 100 Ide Membimbing Anak ADHD. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Rahim, Farida.2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT.Bumi Aksara.

Rose, Colin dan Nicholl, Malcolm J. 1997. Accelerated Learning for the 21 Century: Cara Belajar Cepat Abad XXI. Terjemahan oleh Dedy Ahimsa. 2011. Bandung Nuansa.

Shodiq, M. 1995. Pendidikan Bagi Anak Disleksia. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Somantri, Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa.

Bandung: PT.Refika Aditama.

Sugiharto, Hendy. 2016. Pengaruh metode VAKT terhadap keterampilan membaca anak kesulitan belajar di SDN Masangan Kulon Sukodono Sidoarjo. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya

Sugiyono, 2010. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : ALFABETA.

Sunardi, dkk.2007. Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

Thomson, Moira. 2008. Supporting Students with dyslexia in secondary school. USA. CPI Antony Rowe

Tim Penyusun UNESA. 2014. Pedoman Penulisan Skripsi Universitas Negeri Surabaya. Surabaya: UNESA University Press.

Wulandari, Siti. 2015. Penggunaan Pendekatan Multisensori untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelompok B TK Putra Jaya Kecamatan Seampir Surabaya. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya

Gambar

Tabel 3.1 sampel penelitian  NO  Nama  Jenis  Kelamin  Hambatan  1.  DAF  L  Mengalami  hambatan dalam  membaca  2
Tabel  4.2.  Hasil  post  tes  membaca  permulaan  pada  anak Kesulitan belajar di SDN
Tabel 4.4. Tabel Penolong Perubahan Nilai Pre Tes  dan  Pos  Tes  Membaca  Pada  Anak  kesulitan  belajar  di  SDN  Banjaranyar  II  Kras Kediri

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis hasil maka kesimpulan yang didapat pada penelitian ini yaitu pemborosan yang terjadi di lantai produksi dalam bentuk cacat (defect) terjadi

Skripsi yang berjudul “Penggunaan Ragam Sapaan di Kalangan Remaja Desa Lorjurang RT 06 RW X Kelurahan Pulisen Kecamatan Boyolali” disusun guna memenuhi sebagian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe TGT terhadap motivasi belajar siswa kelas X SMAN 1 Panggul dalam pembelajaran

Berdasarkan kandungan Total Fosfor Danau Rawa Pening dalam kondisi mesotropik, tapi berdasarkan kandungan Total Nitrogen dan kecerahan perairan yang kurang dari 2 meter

Ini mengindikasikan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari tidak hanya tertuju pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik dan guru, namun juga keasamaan

Lembaga pendidikan, khususnya guru, perlu merespon kecenderungan masyarakat dalam penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan, yaitu yang dikenal dengan istilah

Metode ini adalah fungsi yang beroprasi di kelas, relevan terhadap kelas, tidak beroprasi pada suatu objek tertentu dari kelas. Contoh metode ini adalah

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari ketiga variabel bebas berupa tinggi dukungan rendah pengarahan, partisipasi bawahan, dan kepemimpinan dilakukan dengan